PANASNYA BUNGA MEKAR : 25-03
“Ki Wasi Sambuja,” berkata Akuwu Suwelatama, “apakah kau tidak ingin mencoba sekali lagi dengan cara yang baik. Kau dapat menemui adimas Indrasunu dan memberinya sedikit peringatan, bahwa permainan ini akan dapat membakar dirinya sendiri.”
“Aku sudah mencoba, Pangeran,” jawab Wasi Sambuja, “tetapi ia sama sekali tidak mau mendengarkannya.”
Pangeran Suwelatama mengangguk-angguk. Sulit baginya untuk mengambil satu sikap. Jika ia menunggu, maka kekuasaan keempat Pangeran itu di daerah Pakuwonnya akan menjadi semakin mantap. Agaknya mereka dapat membujuk anak-anak muda yang kurang kuat sikap dan pribadinya dengan janji-janji dan harapan, sehingga anak-anak muda itu terpikat kepada sikap mereka.
Tetapi untuk melawan mereka dengan kekerasan, rasa-rasanya Akuwu Suwelatama masih belum cukup mempunyai kekuatan, sehingga benturan yang akan terjadi, akan sangat merugikannya dan merugikan Pakuwonnya.
Dalam keragu-raguan itu Pangeran Suwelatama mendengar Wasi Sambuja berkata, “Pangeran. Namun demikian, baiklah sekali lagi aku akan mencoba menemui Pangeran Indrasunu. Aku akan menyampaikan segala masalah yang Pangeran hadapi kepadanya, meskipun aku tidak akan justru mendorongnya untuk menyerang Pangeran dalam kedudukan Pangeran sekarang, karena aku mengatakan kelemahan Pangeran.”
“Terima kasih,” jawab Pangeran itu, “mudah-mudahan kau berhasil.”
Wasi Sambuja itu pun kemudian mohon diri untuk pergi ke pusat pemerintahan Pakuwon Kabanaran.
Tetapi perjalanan itu tidak terlalu mudah seperti yang diduganya. Di sepanjang jalan ia menemui berbagai macam kesulitan. Para pengawal dari keempat Pangeran itu ternyata sangat berhati-hati. Mereka dengan keras memeriksa setiap orang yang mendekati kedudukan keempat Pangeran yang didukung oleh guru-guru mereka, kecuali guru Pangeran Indrasunu.
Namun akhirnya Wasi Sambuja itu berhasil juga menemui Pangeran Indrasunu. Ia diterima dengan penuh kecurigaan, sehingga Wasi Sambuja merasa bahwa ia selalu berada di dalam pengawasan yang sangat ketat.
“Orang itu dapat berbuat jahat terhadapku.” berkata Pangeran Indrasunu kepada pengawalnya.
“Jika demikian, apakah sebaiknya orang itu ditangkap saja?” bertanya pengawalnya.
Pangeran Indrasunu merenung sejenak. Namun akhirnya ia menggeleng lemah, “Aku masih mempunyai sedikit hormat kepadanya. Biarlah ia mengatakan maksudnya. Tetapi jika ia bermaksud buruk, aku akan memberikan isyarat kepadamu.”
Pengawal itu tidak menjawab lagi. Tetapi ia mengawasi tamu Pangeran Indrasunu itu dengan sungguh-sungguh.
Dalam pada itu, maka Pangeran Indrasunu telah menerima gurunya di serambi istana Akuwu Suwelatama yang sudah dikuasainya. Di tempat yang terbuka itu, memungkinkan beberapa orang pengawal mengawasinya dari kejauhan.
Setelah duduk sejenak, maka Wasi Sambuja itu pun kemudian mengatakan maksud kedatangannya. Ia berusaha memperingatkan Pangeran Indrasunu, bahwa permainannya itu akan dapat membahayakan dirinya.
“Jika Kediri dan Singasari mengambil sikap yang keras, maka Pangeran tidak akan mampu berbuat apapun juga.” berkata Wasi Sambuja.
“Guru,” berkata Indrasunu, “jika guru tidak mau ikut bersamaku, silahkan. Tetapi guru jangan mengangguku. Sudah aku katakan, bahwa aku tidak akan melangkah surut. Tingkat pemikiran dan perencanaan sudah lewat. Kami tinggal melaksanakannya. Kami sudah menyusun kekuatan yang akan mampu mengimbangi kekuatan Kediri, dan kemudian kekuatan Singasari.”
“Pangeran bermimpi,” desis Wasi Sambuja, “kekuatan yang dapat Pangeran himpun sekarang ini sama sekali belum berarti apa-apa bagi Singasari.”
“Guru keliru. Guru belum melihat kekuatan kami yang sebenarnya. Selain itu, kami telah berhasil menyusun pasukan yang baru, yang terdiri dari mereka yang telah menyadari kebenaran perjuangan kami.”
“Pangeran,” berkata Wasi Sambuja kemudian, “jika aku masih boleh memperingatkan, sebaiknya Pangeran menarik diri. Sebentar lagi kekuatan Pangeran Suwelatama akan pulih, setelah ia selesai dengan tugas kemanusiaannya. Justru pada saat pasukannya sedang melakukan tugas kemanusiaan, Pangeran telah menyerang. Namun sampai hari ini Pangeran Suwelatama masih belum ingin melibatkan pasukan Kediri dan apalagi Singasari.”
“Omong kosong!” geram Pangeran Indrasunu, “Seandainya kakangmas Suwelatama mengadukan hal ini kepada Kediri dan Singasari, maka tidak akan ada seorang pun yang akan menanggapinya. Kediri akan melihat kenyataan bahwa rakyat Kabanaran lebih senang memilih pemerintahan yang kami pimpin daripada kakangmas Suwelatama, sehingga Kediri dan Singasari justru akan mengesahkan kedudukan kami.”
“Satu kesalahan yang besar.” desis Wasi Sambuja.
“Sudahlah. Guru jangan ikut campur.” geram Pangeran Indrasunu. “Namun sebagai seorang murid aku masih ingin bertanya sesuatu kepada guru. Di mana Pangeran Suwelatama sekarang ini bersembunyi?”
Wajah Wasi Sambuja menjadi tegang. Ternyata bahwa Pangeran Indrasunu sudah tidak mau mendengar nasihatnya sama sekali. Pengaruhnya terhadap muridnya yang seorang itu telah pudar dan bahkan padam.
Namun sudah barang tentu bahwa Wasi Sambuja tidak akan bersedia menjawab pertanyaan Pangeran Indrasunu, di mana Akuwu Suwelatama bersembunyi.
Karena itu, maka jawabnya, “Pangeran. Aku tidak tahu, di mana Pangeran Suwelatama untuk sementara menarik pasukannya. Tetapi yang aku ketahui dengan pasti, ia akan kembali bersama pasukannya untuk mengusir Pangeran.”
“Cukup, guru!” potong Pangeran Indrasunu, “Waktu aku berikan bagi guru sudah terlalu panjang.”
“Terima kasih, Pangeran,” jawab Wasi Sambuja, “aku mohon diri. Aku akan kembali ke padepokan untuk menenangkan hati dan berdoa agar Pangeran mendapat terang di hati, sehingga sempat menilai kembali apa yang sedang Pangeran lakukan sekarang.”
“Jangan membuang waktu dan tenaga yang tidak akan berarti apa-apa.” jawab Pangeran Indrasunu. “Doa guru tidak akan terkabul sama sekali.”
Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak ingin memberikan penjelasan lagi. Ia pun minta diri dan meninggalkan istana Akuwu.
Demikian Wasi Sambuja itu hilang di balik regol, maka Pangeran Indrasunu pun segera memanggil dua orang pengawal terpilihnya. Katanya, “ Kau melihat orang tua itu?”
“Ya, Pangeran.” jawab salah seorang dari kedua pengawal itu.
“Aku tahu, kalian berdua adalah orang pilih tanding. Apakah kalian berani mengimbangi kemampuan guruku itu?” bertanya Pangeran itu.
“Apakah Pangeran bermaksud agar aku mengejarnya dan menangkapnya?” bertanya pengawal itu pula.
“Tidak. Bukan menangkapnya. Bagaimanapun juga, ia adalah guruku.” desis Pangeran Indrasunu.
“Jadi?”
“Ikuti orang itu. Aku yakin ia akan pergi ketempat persembunyian Akuwu Suwelatama.” desis Pangeran Indrasunu, “Jika kalian telah menemukan persembunyian itu, laporkan kepadaku. Kita akan datang beramai-ramai. Nah, kau tahu apa yang aku maksud?”
“Mengerti, Pangeran.” jawab pengawal itu, “Mengikuti orang tua itu sampai ke tempat persembunyian Pangeran Suwelatama.”
“Tepat. Lakukan sekarang, mumpung orang itu belum terlalu jauh.”
“Kami dapat mengikuti jejak kaki kudanya, Pangeran. Kawanku ini adalah seorang ahli menilik jejak. Apalagi jejak seekor kuda yang baru saja lewat, sedangkan jejak seseorang pun dapat diikutinya.”
“Bagus, tetapi segeralah berangkat.” perintah Pangeran Indrasunu.
Kedua pengawal itu segera mengambil kudanya. Sejenak kemudian keduanya telah berderap mengikuti jejak kuda Wasi Sambuja.
Sebenarnyalah pengawal itu memiliki ketajaman penglihatan atas jejak yang diikutinya. Ia dengan mudah dapat mengenal jejak yang baru. Sehingga dengan demikian maka kedua pengawal itu pun tahu dengan pasti, kemana Wasi Sambuja pergi.
Dalam pada itu, Wasi Sambuja memang ingin kembali ke tempat persembunyian Akuwu Suwelatama. Namun nalurinya memberinya peringatan, bahwa memang mungkin sekali Pangeran Indrasunu memerintahkan orang-orangnya untuk mengikutinya, karena itu maka Wasi Sambuja telah memilih jalan lain yang tidak langsung menuju ke tempat yang dituju. Seolah-olah ia mengikuti jalur jalan yang arahnya berbeda, meskipun pada suatu saat ia akan berbelok menuju ke tempat yang sebenarnya.
Karena itu maka kedua pengawal yang mengikuti jejaknya pun telah menuju ke tempat yang tidak semakin dekat dengan tempat persembunyian Akuwu Suwelatama.
Namun dalam pada itu, ada juga keragu-raguan di hati kedua pengawal itu. Ketika mereka berbelok memasuki sebuah jalan sempit, salah seorang dari kedua orang itu berkata, “Aku tidak dapat membayangkan, kemana orang tua itu akan pergi.”
“Mungkin Akuwu Suwelatama telah menyeberang perbatasan dan memasuki Pakuwon tetangga. Jalan ini menuju keperbatasan.” sahut yang lain.
Meskipun demikian, keduanya memasuki jalan itu pula. tetapi yang seorang berkata, “Aku tidak akan salah, jejak ini masih sangat jelas.”
“Aku pun dapat melihatnya,” jawab yang lain, “sebaiknya kita percepat sedikit. Mungkin kita akan dapat mengetahui dengan pasti, ke mana orang itu pergi.”
“Jika ia menyeberang perbatasan?” bertanya kawannya.
“Kita akan melihat suasana,” jawab yang lain, “jika perlu kita pun akan menyeberang. Bukankah menjadi rencana Pangeran Indrasunu, bahwa Pakuwon di sekitarnya pun harus tunduk kepadanya sebelum pada suatu saat, Kediri akan dikuasai?”
Keduanya pun kemudian mempercepat kuda mereka. Dengan demikian mereka berharap untuk dapat mengetahui lebih jelas, apa yang akan dilakukan oleh orang tua itu. Agaknya keduanya pun menjadi curiga, bahwa orang tua itu menyadari bahwa ia telah diikuti dan sedang berusaha melepaskan diri dari orang-orang yang mengikutinya itu.
“Jika ia mencapai sebuah sungai dan menelusurinya, kita harus berhati-hati.” desis yang seorang.
Kawannya mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa kita harus berhati-hati?”
“Kita akan mengalami kesulitan untuk menemukan arah. Di dalam air yang keruh, kita sulit untuk melihat jejaknya. Mungkin orang itu berbelok ke kiri. Tetapi mungkin menelusuri sungai itu ke arah kanan.” jawab Kawannya.
Sebenarnyalah bahwa akhirnya Wasi Sambuja itu pun mengetahui bahwa dua orang telah mengikutinya. Ketika ia berada di bulak panjang, maka ia sempat melihat dua orang yang muncul dari mulut lorong. Namun agaknya kedua orang itu tidak melihatnya karena ia sudah berada di padukuhan di seberang bulak. Justru karena getar perasaannya, ia menduga bahwa Pangeran Indrasunu tidak akan bertindak jujur.
“Ternyata dugaanku benar.” berkata Wasi Sambuja kepada diri sendiri. Ketika ia meyakinkan untuk kedua kalinya, ia menjadi yakin bahwa ia benar-benar telah diikuti.
Dalam pada itu, kedua orang yang mengikutinya itu pun berusaha untuk memperpendek jarak. Dengan mempertinggi kecepatannya mereka berharap dapat mengikuti orang itu secara langsung, agar mereka tidak kehilangan.
Ketika pada suatu saat kedua orang itu muncul dari sebuah padukuhan, keduanya menjadi bimbang. Mereka tidak melihat jejak kuda itu lagi. Yang nampak adalah bekas pedati yang lewat menyeret bambu yang ujung-ujungnya menyentuh tanah. Bahkan dedaunan yang agaknya berada di pedati itu pula.
“Kita lihat beberapa puluh langkah ke depan.” berkata yang seorang.
Tetapi bekas pedati itu masih tetap menghapus jejak.
“Gila,” geram orang itu, “apakah orang itu memang sengaja berbuat demikian?”
“Jika benar demikian, maka pedati itu tentu tidak jauh di depan kita.” berkata kawannya.
Kedua orang itu pun berpacu semakin cepat. Mereka ingin menyusul pedati yang telah menghapus jejak itu. Jika pedati itu berada di belakang orang yang mereka ikuti, sementara jalan sebuah pedati tidak lebih cepat dari seekor siput yang merayap, maka pedati itu tentu tidak akan jauh lagi di hadapan mereka.
Demikianlah keduanya berpacu semakin cepat. Ketika keduanya muncul dari sebuah padukuhan kecil, sebenarnyalah mereka melihat sebuah pedati yang ditarik oleh sepasang lembu, berjalan lambat sekali di jalan yang berbatu-batu.
“Tidak ada seekor kuda di belakang pedati itu.” desis yang seorang.
“Aneh,” sahut yang lain, “jika demikian, di mana orang tua itu berhenti?”
“Tentu tidak terlalu jauh. Di jarak antara kita kehilangan jejak itu sampai pada pedati itu. Mungkin ia berbelok.” jawab kawannya.
Kedua orang itu pun kemudian memutar kuda mereka dan menelusuri jalan kembali untuk menemukan jejak yang hilang itu. Mereka mengamati setiap lorong simpangan.
Dalam pada itu, tiba-tiba yang seorang hampir berteriak berkata, “Aku menemukannya. Ia berbelok lewat jalan kecil ini.”
“Kau mengenal jejaknya?” bertanya kawannya.
“Kau lihat jejak ini?”
Kawannya tersenyum. Katanya, “Kau memang seorang ahli meneliti jejak. Marilah, jangan biarkan orang itu lepas. Kita harus menemukan tempat persembunyian Akuwu Suwelatama.”
Keduanya pun segera berbelok pula mengikuti jalan setapak. Tetapi mereka tidak dapat berkuda bersama-sama. Yang seorang berada di depan, yang seorang berada di belakang.
“Agaknya kita tidak akan terlalu jauh lagi mengikutinya,” berkata yang di depan, “nampaknya kita akan sampai ke sebuah hutan perdu. Mungkin ada pedukuhan terpencil di sebelah hutan perdu itu, yang akan dapat menjadi tempat yang baik untuk berlindung.”
“Kamu sudah mengenal daerah ini?” bertanya kawannya.
“Tentu. Meskipun belum begitu akrab. Tetapi naluriku mengatakan, bahwa kita akan sampai ke hutan perdu.” jawab yang lain.
“Kau belum mengenalnya dengan baik.” desis kawannya.
“Memang benar. Tetapi kita akan segera mengenalnya sebaik-baiknya.”
Keduanya pun kemudian berusaha mempercepat kuda mereka. Jalan menjadi semakin sulit. Namun jejak kuda orang yang diikutinya menjadi semakin jelas.
“Nah,” berkata yang di depan, “bukankah di depan kita itu sebuah hutan perdu?”
“Kau benar. Menurut dugaanmu, di belakang hutan perdu itu terdapat padukuhan terpencil, dan Pangeran Suwelatama serta sisa pasukannya berada di padukuhan itu?” bertanya yang di belakang.
“Ya.” jawabnya, “Karena itu kita harus berhati-hati. Jika perlu, kita harus meninggalkan kuda kita di hutan perdu itu. Jika kita sudah yakin, maka kita akan segera melapor. Kita tidak perlu mendekat benar, agar kita tidak diketahui oleh para pengawal Akuwu Suwelatama yang tentu meronda berkeliling di sekitar tempat persembunyiannya.”
Kawannya mengangguk-angguk. Setelah menempuh bulak pendek, maka tanah pun menjadi semakin gersang.
Mereka tidak lagi melihat sawah yang terbentang. Agaknya tanah menjadi sukar digarap karena ketiadaan air. Sehingga yang terbentang di hadapan mereka adalah sebuah hutan perdu.
Dengan hati-hati mereka kemudian memasuki hutan perdu yang di sana-sini ditumbuhi gerumbul-gerumbul liar. Ada yang berduri tetapi ada yang sama sekali tidak berdaun, selain batang dan ranting-rantingnya yang mengering.
Keduanya masih tetap mengikuti jejak kuda orang tua yang menemui Pangeran Indrasunu di Istana Akuwu Suwelatama yang telah terdesak.
Namun tiba-tiba keduanya terkejut. Mereka melihat seekor kuda yang tertambat pada sebatang pohon perdu.
“Gila,” desis yang berada di depan, “itu kuda yang; kita ikuti. Di mana penunggangnya?”
Namun sebelum kawannya menjawab, terdengar suara justru di belakang mereka, “Aku di sini.”
Keduanya dengan serta merta telah berpaling. Mereka melihat orang yang mereka ikuti berada di sebelah semak-semak yang berdaun rimbun.
“Gila!” geram kedua pengawal itu, “Kenapa kau berhenti?”
“Aku memang ingin menemui kalian berdua. He, apakah kepentinganmu, sehingga kau mengikuti aku sampai sedemikian jauh dari istana Akuwu?”
“Kami harus meyakinkan, bahwa kau tidak akan berbuat sesuatu yang dapat merusak tata kehidupan di Pakuwon ini.” jawab salah seorang dari kedua pengawal yang mengikutinya.
Wasi Sambuja yang dengan sengaja menjebak kedua-orang yang mengikutinya itu menarik nafas dalam-dalam. Pengawal itu memang cerdik, mereka dapat mencari dalih, kenapa mereka mengikutinya. Namun demikian Wasi Sambuja itu berkata selanjutnya, “Aku kira bukan itulah yang penting, yang harus kalian lakukan.”
“Apa maksudmu?” bertanya salah seorang pengawal itu.
“Bukankah kalian mendapat tugas mengikuti aku, sehingga dengan demikian kalian akan dapat mengetahui tempat persembunyian Akuwu Suwelatama?” bertanya Wasi Sambuja.
Pertanyaan ini membuat kedua pengawal itu menjadi bingung. Mereka tidak dapat segera menjawab. Bahkan untuk sesaat mereka saling berpandangan.
Dalam pada itu, maka Wasi Sambuja pun berkata, “Ki Sanak. Sebaiknya ki sanak mengurungkan saja niat Ki Sanak. Katakan saja kepada Pangeran Indrasunu, bahwa kalian kehilangan jejak, sehingga kalian tidak dapat mengikuti aku sampai ke tempat yang kalian maksud. “
“Persetan!” geram salah seorang pengawal itu, “Kau harus mengatakan, di mana Akuwu Suwelatama itu bersembunyi. Maksud kami memang tidak ingin melakukan kekerasan. Tetapi karena kau telah membuat satu kesalahan yang besar, maka kau harus menebus kesalahanmu dengan perlakuan yang keras dan memaksa.”
“Jika aku tidak bersedia?” bertanya Wasi Sambuja.
“Kau akan menyesal. Kau akan mengalami satu perlakuan yang barang kali tidak akan pernah kau bayangkan.” jawab pengawal itu.
“Ki Sanak,” berkata Wasi Sambuja kemudian, “aku memang sudah menduga, bahwa Pangeran Indrasunu akan memerintahkan orang-orangnya untuk mengikuti aku. Pangeran itu sudah menanyakan kepadaku, di mana tempat persembunyian Akuwu Suwelatama. Karena itu, aku sengaja mengambil jalan yang lain, yang dapat menyesatkan arah yang seharusnya kalian tempuh.”
“Gila!” geram pengawal itu, “Kau sudah tua. Seharusnya kau sudah tidak perlu lagi melakukan tindakan yang dapat mencelakaimu. Karena itu, sebelum terlambat, tunjukkan, di mana Akuwu itu bersembunyi.”
“Sebaiknya kalian kembali saja, Ki Sanak,” jawab Wasi Sambuja, “barangkali itu lebih baik daripada aku membawa kalian ke tempat persembunyian Akuwu Suwelatama. Jika para pengawal Akuwu itu mengetahui bahwa kalian adalah orang-orang Pangeran Indrasunu yang akan mencari tempat persembunyian itu, maka nasib kalian akan mereka tentukan.”
“Omong kosong,” geram pengawal itu, “kau harus menyebut di mana tempat persembunyian itu. Kemudian aku akan mengikatmu di sini. Jika kau berbohong; maka aku akan datang kembali untuk mengikatmu di belakang kaki kudaku dan menyeretmu di sepanjang hutan perdu ini, sampai kau mengatakan yang sebenarnya. Jika sekali lagi kau berbohong, maka kau akan kami hukum picis di depan istana Akuwu itu.”
“Jangan mengatakan yang mengerikan itu, Ki Sanak,” sahut Wasi Sambuja, “sebaiknya kalian pulang saja. Katakan bahwa kau kehilangan jejak.”
Para pengawal itu menjadi marah. Setelah mereka mengikat kuda mereka di pepohonan perdu, maka mereka pun melangkah mendekati orang tua itu. Seorang dari kedua pengawal itu berkata, “Jangan memaksa kami bertindak kasar, Ki Sanak. Kau sudah tua. Sebaiknya kau pelihara hari-hari tuamu sebaik-baiknya. Jika kau berterus terang, mungkin Akuwu akan memberimu hadiah yang akan dapat membuatmu gembira.”
“Aku sudah merasa gembira bahwa aku tidak menunjukkan tempat persembunyian Akuwu. Karena itu, jangan memaksa aku melakukan yang tidak aku sukai.” jawab Wasi Sambuja. Lalu, “Sekali lagi aku memperingatkanmu. Kembalilah, dan katakan kepada Pangeran Indrasunu, bahwa kalian telah kehilangan jejak.”
“Persetan!” kedua pengawal itu menjadi semakin marah. Yang seorang melangkah semakin dekat sambil berkata, “Jangan banyak bicara. Cepat, katakan di mana Akuwu itu bersembunyi. Baru kemudian kau akan kami ikat. Jika kau berkata sebenarnya, kau akan kami lepaskan kemudian. Tetapi jika kau berbohong, maka kau akan kami cincang hidup-hidup.”
Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah menjawab beberapa kali. Aku mohon kalian dapat mengerti.”
“Jadi kau memaksa kami bertindak kasar?” bertanya salah seorang pengawal itu.
“Bukan maksudku. Aku hanya ingin tetap merahasiakan tempat kedudukan Akuwu itu sekarang. Karena memberitahukannya berarti mengkhianatinya. Dan aku tidak mau berbuat demikian.” jawab Wasi Sambuja.
Para pengawal itu menjadi sangat marah. Agaknya orang tua itu benar-benar tidak dapat diajak berbicara. Ia berkeras untuk tidak mau menunjukkan, di mana Akuwu Suwelatama bersembunyi.
Karena itu, maka seorang dari para pengawal itu berkata, “Nampaknya kau memang keras kepala. Aku akan memaksamu berbicara.”
Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun menganggap bahwa orang-orang itu adalah orang-orang dungu yang tidak tahu diri. Namun sebenarnyalah orang-orang itu tidak sadar dengan siapa mereka berhadapan.
Karena itu, maka salah seorang pengawal itu pun kemudian bergeser selangkah, sementara yang lain berkata, “ Cepat katakan. Apakah kau memang ingin mengalami nasib yang sangat buruk?”
“Aku tidak ingin berkhianat. Itu sudah menjadi tekadku.” jawab Wasi Sambuja.
Seorang dari kedua pengawal itu tidak sabar lagi. Demikian Wasi Sambuja selesai berbicara, maka orang itu pun segera meloncat dengan tangan terayun menghantam kening.
Namun Wasi Sambuja tidak membiarkan keningnya disentuh oleh orang itu. Ia pun segera surut selangkah, sehingga dengan demikian maka tangan pengawal itu tidak menyentuhnya.
Kemarahan telah mendidih di dadanya. Dengan sigapnya ia meloncat memburu. Tangannya pun terjulur lurus mengarah ke dada. Namun sekali lagi pengawal itu tidak berhasil menyentuh tubuh orang tua itu. Tangannya terayun sejengkal dengan dada orang tua yang memiringkan tubuhnya.
“Gila!” kawannya mengumpat. Tiba-tiba saja ia tidak lagi menahan diri. Dengan kakinya ia meluncur dengan cepatnya menghantam lambung.
Tetapi seperti serangan-serangan kawannya, maka kakinya sama sekali tidak mengenai sasarannya.
“Anak Setan,” geram pengawal itu, “jadi kau benar-benar keras kepala? Kau sangka bahwa apa yang kau lakukan itu dapat mendebarkan jantungku. Kami berdua belum berbuat sebenarnya, karena kami masih berharap kau tidak akan menyerahkan lehermu. Jika kau berkata di mana Akuwu, maka kau akan mendapat kebebasan untuk pergi. Tetapi sudah tentu setelah kami meyakinkan kebenaran kata-katamu itu.”
“Jangan kau ulang. Tidak ada gunanya.” jawab Wasi Sambuja.
Kemarahan kedua pengawal itu sudah sampai ke puncak ubun-ubunnya. Karena itu, maka keduanya pun segera bersiap. Mereka benar-benar akan membinasakan orang tua yang tidak tahu diri itu, karena mereka sudah tidak dapat mengharap orang itu berbicara.
Atau mungkin dengan kekerasan, orang itu akan dapat dipaksa untuk membuka mulutnya menyebut tempat yang mereka cari.
Dengan demikian maka kedua orang itu pun segera menyerang dengan serangan beruntun. Mereka masih dipengaruhi oleh anggapan bahwa orang tua itu akan segera dapat mereka kuasai.
Namun sebenarnyalah bahwa anggapan mereka itu salah. Betapapun juga mereka berusaha menyentuhnya, tetapi ternyata bahwa keduanya tidak segera dapat berhasil.
“Anak iblis. Kau kira, kami telah bersungguh-sungguh?” pengawal yang seorang berteriak.
Wasi Sambuja sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia masih saja meloncat menghindari serangan-serangan yang semakin lama menjadi semakin cepat.
Namun akhirnya Wasi Sambuja itu menjadi jemu. Ia tidak mau sekedar menjadi sasaran terus menerus. Karena itu, maka ia pun kemudian mulai membalas serangan-serangan itu dengan serangan pula.
Kedua pengawal itu terkejut, ketika justru serangan orang tua itulah yang telah mengenai dirinya. Pengawal-pengawal itu tidak sempat mengelak ketika tiba-tiba saja serangan orang tua itu menghantam dada mereka.
“Gila!” pengawal itu hampir berteriak. Serangan itu tidak begitu keras. Tetapi bahwa serangan itu telah mengenai dadanya, adalah sangat mengejutkannya.
“Jangan berteriak terlalu keras,” berkata Wasi Sambuja, “jika orang-orang di luar hutan perdu ini mendengar, mereka akan berdatangan. Kalian akan ditangkap sebagai penyamun.”
“Kaulah yang akan ditangkap. Orang-orang padukuhan tidak akan berani menangkap para pengawal Pangeran Indrasunu yang sekarang menguasai Pakuwon ini.” jawab pengawal itu.
“Mereka tidak mengenalmu. Mereka tidak akan tahu apa yang kalian katakan tentang Pakuwon ini.” berkata Wasi Sambuja.
“Persetan. Apapun juga, kau memang harus mati.” geram pengawal itu.
Dengan demikian, maka kedua pengawal itu menjadi semakin berhati-hati menghadapi lawannya. Mereka merasa bahwa mereka harus mempergunakan ilmunya menghadapi orang tua itu. Agaknya orang tua itu bukannya orang kebanyakan.
Karena itulah, maka keduanya mulai berpencar. Keduanya menghadapi Wasi Sambuja dari arah yang berlawanan.
Namun nampaknya Wasi Sambuja masih nampak tenang. Ia tidak menjadi gelisah. Karena sebenarnyalah kedua orang pengawal itu tidak akan dapat berbuat banyak atasnya.
Sejenak kemudian kedua orang pengawal itu mulai menyerangnya. Beruntun dari arah yang berlawanan. Keduanya telah mengerahkan segenap ilmu mereka masing-masing.
Tetapi sebenarnyalah yang mereka hadapi adalah orang tua yang berilmu tinggi. Dalam pertempuran yang semakin cepat, maka tangan orang tua itu semakin sering menyentuh mereka. Nampaknya hanya sentuhan-sentuhan yang tidak bermaksud menyakiti. Namun yang justru paling sakit adalah hati kedua pengawal itu. Seolah-olah orang tua itu telah dengan sengaja mempermainkan mereka berdua.
Karena itu, maka tidak ada pertimbangan lain lagi bagi kedua orang pengawal itu. Karena Wasi Sambuja tidak dapat mereka paksa untuk berbicara, maka satu-satunya kemungkinan yang paling baik dapat mereka lakukan adalah membinasakannya dan melaporkan kepada Pangeran Indrasunu, bahwa orang tua itu telah melawan mereka.
Hampir berbareng kedua orang pengawal itu telah menggenggam pedang. Dengan senjata masing-masing maka keduanya siap untuk benar-benar membunuh orang tua itu.
Sejenak kemudian, maka keduanya telah menyerang dengan ujung senjata. Keduanya sudah tidak mempunyai pertimbangan lain, sehingga karena itu, maka mereka pun telah menyerang dengan dahsyatnya.
Tetapi mereka tidak banyak mempunyai kesempatan. Meskipun mereka berdua, melawan seorang yang sudah kelihatan terlalu tua untuk berkelahi, namun keduanya masih tetap tidak berdaya. Orang tua yang kemudian mengurai seutas tali pada ikat pinggangnya, benar-benar telah membingungkan. Dengan tali yang digantungi dengan bandul kecil di ujungnya, orang tua itu melawan dua buah pedang di tangan dua orang pengawal yang garang.
Namun kedua pengawal itu sama sekali tidak berdaya. Ketika ujung tali itu menyentuh tubuh mereka, terasa betapa perasaan sakit sudah menghentak kulit dan tulang mereka.
“Anak iblis!” geram salah seorang pengawal itu.
“Sudahlah,” desis Wasi Sambuja, “kembalilah. Jangan ikuti aku lagi. Karena betapapun seseorang berusaha menahan diri, namun pada suatu saat, ia akan dapat kehilangan kesabaran. Demikian pula dengan aku. Jika aku sudah kehilangan kesabaran, maka kalian tidak akan dapat kembali kepada anak isteri kalian. Bukan saja kalian tidak dapat melaksanakan tugas kalian dengan baik, tetapi kalian akan mengorbankan nyawa kalian tanpa arti.”
Kedua pengawal itu mengeram. Tetapi, dalam pertempuran selanjutnya, semakin nyata, bahwa kedua pengawal itu tidak dapat berbuat banyak.
Meskipun demikian, kemarahan mereka telah menutup kenyataan yang mereka hadapi itu. Rasa-rasanya keduanya masih saja belum melihat kenyataan, bahwa keduanya tidak akan dapat menghadapi orang tua itu, betapapun mereka mengerahkan segenap kemampuan dan ilmunya.
Bahkan semakin lama mereka menjadi semakin terdesak. Tali lunak yang berada di tangan orang tua itu semakin sering menyentuh tubuh mereka. Sebuah bandul baja yang tidak terlalu besar yang terdapat di ujung tali itu setiap kali terasa menyengat bagaikan memecahkan tulang.
Namun kedua orang pengawal itu masih saja selalu mengumpat-umpat. Pedang mereka menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Namun satu kenyataan tidak akan dapat mereka ingkari, meskipun kemarahan mereka membakar jantung, namun pedang mereka sama sekali tidak dapat menyentuh orang tua itu. Justru bandul kecil di ujung tali orang tua itulah yang telah menyakiti mereka. Sentuhan bandul kecil itu semakin lama terasa semakin sakit di tubuh mereka.
Dengan demikian kedua orang pengawal itu telah menghantakkan sisa kekuatan mereka yang terakhir. Kelelahan mulai mencengkam tubuh mereka, sementara nafas mereka telah memburu di lubang hidung.
Tetapi tidak segores pun ujung pedang mereka dapat melukai orang yang akan mereka bunuh itu. Bahkan ketika bandul kecil itu semakin sering mengenai tubuh mereka, bahkan pundak dan lengan mereka, terasa tangan mereka menjadi seolah-olah semakin lemah. Perasaan sakit yang menyengat tidak lagi dapat mereka abaikan, sehingga akhirnya, kedua orang pengawal itu telah kehilangan sebagian besar dari tenaganya.
“Aku masih memberi kesempatan kepada kalian.” berkata Wasi Sambuja.
Kedua pengawal itu menggeram. Salah seorang dari mereka pun berteriak, “Aku bunuh kau, iblis.”
Namun kata-katanya bagaikan patah di kerongkongan. Bandul baja yang tidak begitu besar itu telah menyambar dadanya, sehingga terdengar orang itu mengeluh tertahan.
“Jangan terlalu sombong, anak-anak,” desis orang tua itu, “aku sudah menahan perasaan sejak aku mengetahui bahwa kalian mengikuti aku. Jika kalian keras kepala, aku pecahkan kepala kalian yang keras itu dengan bandul kecil ini.”
Bagaimanapun juga, peringatan orang tua itu tidak lagi dapat mereka abaikan. Ketika kelelahan telah semakin mencengkam, dan perasaan sakit yang menjalar ke seluruh tubuh. Karena itu, maka semakin lama perlawanan mereka pun menjadi semakin lemah, sehingga akhirnya, bandul kecil yang tidak terelakkan telah sekali lagi menghantam dada salah seorang dari kedua pengawal itu. Demikian kerasnya, sehingga rasa-rasanya nafasnya telah menjadi sesak.
Dengan serta merta, orang itu meloncat surut. Sehingga dengan demikian kawannya pun telah meloncat pula menjauh.
“Apakah kalian merasa belum cukup yakin, bahwa aku akan dapat membunuh kalian jika aku menghendaki?” bertanya Wasi Sambuja.
Kedua pengawal itu menggeram. Tetapi mereka tidak segera menyerang. Bahkan keragu-raguan mulai nampak di wajah mereka.
“Aku memberi kesempatan terakhir,” berkata Wasi Sambuja, “kalian tinggalkan tempat ini, atau aku akan benar-benar membunuh kalian sebagaimana benar-benar akan kalian lakukan atasku. Jika kalian tetap berkeras untuk bertempur, maka aku akan kehilangan pertimbangan untuk memaafkan kalian.”
Kedua orang itu harus benar-benar mempergunakan nalar mereka. Mereka tidak dapat sekedar menuruti perasaan dan barangkali sekedar harga diri. Agaknya nyawa mereka lebih berharga dari sekedar harga diri saja.
Karena itu, maka keduanya tidak segera dapat menjawab.
“Cepat. Ambil keputusan. Pergi dari tempat ini dan selanjutnya tidak mengikuti aku lagi, atau kalian akan mati di padang perdu ini.” geram orang itu.
Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Perasaan sakit di tubuh mereka telah mempertegas sikap mereka. Dengan isyarat salah seorang dari keduanya itu pun mengangguk kecil sehingga dengan demikian, maka kedua orang itu pun telah melangkah surut.
“Jika kalian mengambil keputusan untuk menarik diri, lakukanlah. Salamku kepada Pangeran Indrasunu. Katakan kepadanya, bahwa langkah yang diambilnya adalah langkah yang salah sama sekali.” berkata orang tua itu.
Kedua orang itu pun melangkah semakin jauh. Mereka tidak lagi menghiraukan harga diri mereka. Agaknya keduanya masih belum ingin mati.
Beberapa langkah kemudian, keduanya telah dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu langsung menuju ke kuda mereka. Dengan tergesa-gesa pula mereka pun melepas kuda mereka dan segera keduanya berloncatan naik ke punggung kuda masing-masing.
“Barangkali satu penyelesaian yang paling baik,” berkata orang tua itu, “kembalilah ke Pangeranmu itu.”
Kedua orang pengawal itu pun segera menarik kekang kudanya. Ketika kaki mereka menyentuh perut kuda masing-masing, maka kuda itu pun segera berlari meninggalkan hutan perdu itu.
Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak ingin membunuh kedua orang yang tidak banyak mengerti tentang tingkah laku Pangeran Indrasunu itu. Karena itu, maka keduanya pun telah diberinya kesempatan untuk kembali menghadap Pangeran Indrasunu.
“Jika keduanya dihukum karenanya, maka itu bukan salahku,” berkata Wasi Sambuja, “adalah hakku untuk mempertahankan agar aku tidak mati terlalu cepat.”
Demikianlah, ketika kedua pengawal itu sudah tidak nampak lagi, Wasi Sambuja pun segera mengambil kudanya. Ia pun segera melanjutkan perjalanannya, kembali ke tempat persembunyian Akuwu Suwelatama untuk melaporkan, hasil perjalanannya.
“Pangeran Indrasunu sudah tidak dapat diajak berbicara lagi, Pangeran.” berkata Wasi Sambuja, “Aku sudah berusaha dengan cara apapun juga. Tetapi hatinya sudah mengeras seperti batu. Ia merasa sangat kecewa atas kegagalannya mengambil seorang gadis cantik dari rumah seorang yang bernama Mahendra, kemudian gagal dalam sayembara tanding melawan anak muda yang bernama Mahisa Bungalan. Sementara aku sendiri gagal memperbaiki kekalahan itu, karena aku harus berhadapan dengan seorang yang bernama Witantra, seorang yang pernah berada di Kediri sebagai seorang Senopati Agung yang mewakili kekuasaan Singasari di Kediri.”
Akuwu Suwelatama itu pun mengangguk-angguk. Ternyata bahwa yang dihadapinya bukannya masalah yang dapat dengan mudah dipecahkannya. Ia harus berpikir dengan sungguh-sungguh. Apakah yang harus dilakukannya menghadapi kekuatan Pangeran Indrasunu. Pangeran yang dicengkam oleh kekecewaan pribadi itu telah berhasil mengobarkan api di hati beberapa orang saudara dan para guru mereka, sehingga api benar-benar telah menyala, seolah-olah api itu akan dapat menjadi api pencuci kepincangan yang terdapat di Kediri dan Singasari.
“Wasi Sambuja,” berkata Pangeran Suwelatama, “nampaknya masalah yang aku hadapi memang tidak terlalu mudah. Aku tidak akan dapat menarik dengan segera pasukanku yang menghadapi kekuatan para perampok di perbatasan. Meskipun sudah aku perintahkan agar mereka mempercepat tugas mereka, dengan tidak menunggu lagi, tetapi mereka harus langsung memasuki sarang para penjahat itu, namun sewaktu-waktu aku akan dapat menghadapi kesulitan yang sungguh-sungguh jika Pangeran-pangeran muda itu menemukan tempat persembunyianku.”
“Memang tidak ada jalan lain, Pangeran,” berkata Wasi Sambuja, “agaknya pasukan Kediri atau Singasari memang diperlukan.”
Pangeran Suwelatama menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata, “Bagaimana jika kau hubungi saja lawan Pangeran Indrasunu itu. Mungkin menghadapkan Pangeran Indrasunu dengan orang itu, akan mempunyai pengaruh yang dapat menyentuh hatinya.”
“Tetapi apa arti ia seorang diri?” berkata Wasi Sambuja.
Pangeran Suwelatama mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, apa artinya ia seorang diri.”
“Kecuali jika ia dapat datang dengan sepasukan prajurit Singasari. Meskipun tidak dengan dalih resmi sebagaimana yang terjadi. Dengan demikian, maka pasukan kecil itu belum berarti memerangi sebuah pemberontakan. Mungkin Pangeran dapat minta bantuannya untuk memerangi kejahatan.” berkata Wasi Sambuja.
“Antarkan aku menjumpai salah seorang dari mereka,” berkata Pangeran Suwelatama, “aku ingin menyelesaikan persoalan ini, tetapi tidak dengan semata-mata menjerumuskan adik-adikku itu ke dalam satu hukuman sebagai pengkhianat. Aku masih berusaha untuk menyelamatkan mereka, lahir dan batinnya. Namun aku juga tidak ingin menjadi korban dari kebodohan mereka itu.”
Wasi Sambuja sama sekali tidak berkeberatan untuk mengantarkan Akuwu Suwelatama ke Singasari. Namun yang akan ditemuinya pertama-tama adalah Pangeran Wirapaksi.
“Aku sependapat,” berkata Pangeran Suwelatama, “aku akan berbicara dengan kakangmas Wirapaksi.”
Demikianlah, maka Akuwu Suwelatama telah pergi ke Singasari diantar oleh Wasi Sambuja untuk menemui Pangeran Wirapaksi. Sebagaimana telah terjadi, Pangeran Wirapaksi termasuk salah seorang yang memiliki kebijaksanaan, meskipun persoalannya menyangkut adik iparnya.
Kedatangan Pangeran Suwelatama di Singasari sangat mengejutkan Pangeran Wirapaksi. Karena itu, maka ia pun segera ingin mengetahui, apakah keperluan Akuwu Suwelatama yang datang bersama Wasi Sambuja.
“Kedatanganku ada hubungannya dengan adimas Pangeran Indrasunu.” berkata Pangeran Suwelatama.
Pangeran Wirapaksi mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah adimas Pangeran Indrasunu mengatakan apa yang pernah terjadi di Singasari?”
Pangeran Suwelatama menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ia telah melakukan satu kesalahan yang besar.”
Pangeran Wirapaksi termangu-mangu sejenak. Ia menyangka bahwa Pangeran Suwelatama datang bersama Wasi Sambuja untuk menyatakan keberatannya atas sikapnya terhadap Pangeran Indrasunu. Namun ternyata Pangeran Suwelatama itu telah menceriterakan apa yang telah terjadi, justru bertentangan dengan dugaan Pangeran Wirapaksi.
Pangeran Wirapaksi itu pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Agaknya Pangeran Indrasunu telah terlalu jauh tersesat. Apakah adimas Suwelatama sudah melaporkan hal ini kepada para pemimpin di Kediri?”
Pangeran Suwelatama menggeleng. Jawabnya, “Aku masih berusaha melindungi nama baik keempat Pangeran muda itu. Jika aku melaporkan hal ini kepada para pemimpin di Kediri dan apa lagi Singasari, maka keempat Pangeran itu akan dapat ditindak sebagai pemberontak. Bukankah dengan demikian hari depan keempat orang anak-anak muda itu akan tertutup?”
“Tetapi apa yang telah mereka lakukan benar-benar telah merupakan satu pemberontakan.” desis Pangeran Wirapaksi.
“Kakangmas benar. Tetapi aku masih berusaha dengan cara lain.” jawab Pangeran Suwelatama yang juga menceriterakan kesulitannya karena pasukannya sedang menghadapi para penjahat di daerah perbatasan.
“Aku mengerti,” jawab Pangeran Wirapaksi, “jika pasukan itu tergesa-gesa ditarik, maka rakyat di daerah itu akan mengalami bencana. Penjahat-penjahat itu akan melepaskan dendamnya kepada mereka dan lebih daripada itu, semua kekayaan yang ada tentu akan dirampasnya sampai kering.” Pangeran Wirapaksi berhenti sejenak, lalu, “Memang sebaiknya mereka harus tetap di tempatnya.”
“Benar, kakangmas,” jawab Pangeran Suwelatama, “namun dengan demikian aku tidak dapat mengatasi kesulitanku menghadapi keempat anak-anak muda yang tersesat jalan itu, tanpa menyeret mereka ke dalam tuduhan sebagai seorang pengkhianat.”
Pangeran Wirapaksi mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Jadi apakah maksud adimas datang ke Singasari jika adimas tidak mau melaporkan hal ini kepada para pemimpin pemerintahan yang akan menunjuk beberapa orang Senapati untuk bertindak?”
“Aku memang tidak ingin melaporkan,” berkata Akuwu Suwelatama, “tetapi aku ingin berbicara dengan orang yang telah memenangkan sayembara tanding melawan Pangeran Indrasunu. Jika ia mendengar nama itu, mungkin jiwanya akan terpengaruh. Namun sudah barang tentu, di samping orang itu, aku pun memerlukan kekuatan untuk merebut kembali kota Pakuwon Kabanaran yang telah diduduki adimas Pangeran Indrasunu. Tetapi sekali lagi, yang tidak akan menyeretnya sebagai seorang pengkhianat.”
“Permintaanmu sangat sulit.” jawab Pangeran Wirapaksi, “Tetapi baiklah. Aku akan berusaha. Aku akan mengirimkan sebagian dari pengawal-pengawalku yang tidak banyak jumlahnya. Kemudian paman Mahisa Agni akan dapat mempergunakan pengaruhnya untuk mengirimkan sepasukan kecil prajurit dengan dalih yang mapan. Mungkin untuk menumpas kejahatan yang tersebar di Pakuwon Kabanaran.”
“Tetapi mungkin ada sebuah pertanyaan, kenapa aku tidak pergi ke Kediri?” berkata Pangeran Suwelatama, “Apakah aku dapat berbohong, bahwa pasukan pengawal di Kediri sedang mengalami kesulitan yang sama menghadapi para penjahat yang pada masa terakhir berkembang dengan pesat?”
Pangeran Wirapaksi tersenyum. Katanya, “ Baiklah. Tetapi aku kira paman Mahisa Agni tidak akan bertanya terlalu banyak. Bahkan mungkin kepadanya aku dapat berterus terang apa yang telah terjadi.”
“Apakah ia dapat mengerti?” bertanya Pangeran Suwelatama.
“Ia akan dapat mengerti.” jawab Pangeran Wirapaksi.
Dengan demikian maka Pangeran Suwelatama itu pun telah dibawa menghadap Mahisa Agni bersama Wasi Sambuja. Namun Pangeran Wirapaksi sudah berpesan agar mereka tidak mengatakan hal itu kepada isterinya, kakak perempuan Pangeran Indrasunu.
Ternyata tanggapan Mahisa Agni seperti yang diharapkan. Ia dapat mengerti sepenuhnya. Karena itu, maka tidak ada kesulitan bagi Pangeran Suwelatama untuk mendapatkan sepasukan prajurit Singasari yang justru dipimpin seorang Magang yang akan dicalonkan sebagai seorang Senopati muda.
“Satu pendadaran bagi Mahisa Bungalan.” berkata Mahisa Agni.
Demikianlah, maka sepasukan kecil prajurit Singasari, dipimpin oleh Mahisa Bungalan telah berbenah diri untuk pergi ke pakuwon Kabanaran. Bersama mereka adalah Mahisa Agni sendiri, Witantra dan Pangeran Wirapaksi yang membawa sebagian pengawal pribadinya.
Dalam kegelisahan maka Pangeran Suwelatama mengharap agar ia dapat secepatnya kembali, agar ia dapat berada di antara pasukannya yang tersisih itu.
“Kami pun dapat segera berangkat,” berkata Mahisa Agni, “tetapi sudah tentu bahwa pasukan kami dalam keseluruhan tidak akan dapat secepat mereka yang berkuda. Pasukan yang akan berangkat tidak dapat seluruhnya berkuda.”
“Aku akan menunggu kedatangan pasukan dari Singasari,” jawab Pangeran Suwelatama, “mudah-mudahan adimas Pangeran Indrasunu tidak segera mengetahui tempat persembunyian kami, sehingga pada saatnya pasukan Singasari datang, kami masih tetap berada di tempat kami.”
“Jika terjadi satu perubahan, aku mohon kalian dapat memberitahukan kepada kami.” berkata Mahisa Bungalan, “Bersama Pangeran akan ikut serta sekelompok pasukan berkuda. Mereka akan dapat Pangeran pergunakan sebagai penghubung. Kami akan menempuh jalan yang akan Pangeran lalui. Jika terjadi perubahan keadaan, maka penghubung itu akan dapat menyongsong perjalanan kami.”
Demikianlah, maka Pangeran Suwelatama telah mendahului pasukan Singasari bersama beberapa orang prajurit berkuda dari Singasari. Sementara itu Wasi Sambuja akan berada di antara pasukan kecil itu. Ia akan dapat menunjukkan jalan dan tempat, di mana Pangeran Suwelatama bersembunyi dengan sisa pasukannya yang tidak terlalu kuat.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar