Jumat, 05 Februari 2021

KYAI CILIK SUKMA SEJATI BAGIAN 20

Sebulan menjadi murid tak resmi. Bagian 20



Demak, kota wali, itu julukannya, karena dulu wali songo selalu berkumpul di Kota Demak. Sudah berbulan-bulan berlalu, sejak Hubbaibulloh tinggal di Demak, tapi bukan di Kotanya, tapi di pelosok, di mana airnya payau, orang kalau punya sawah harus mencuci sawahnya dulu, dan mengalirinya dengar air sungai jika ingin menanam padi, dan jika air laut naik masuk ke sawah lagi, maka harus dicuci lagi, karena payahnya pertanian, maka banyak orang akhirnya memilih menggali sawahnya dijadikan tambak udang bago.

Hubbah mengajar di pesantren tahfidzul qur'an, menghafal alqur'an, sanad dari kyai Abdulloh Umar Semarang, kyai Arwani Kudus dan kyai Maksum Lasem,

Mengajar dan diserahi memegang Tafsir Jalalain dan Tafsir Munir, Hubbaibulloh bengong, kedua kitab itu tak pernah ditaskhikhkan, Tafsir Jalalain itu saja cuma pernah mengikuti ngaji cuma beberapa lembar, padahal siapa saja yang menafsiri Alqur'an dengan pendapatnya sendiri, maka disuruh masuk neraka disuruh milih dari pintu mana yang disukai.

"Wah tunggu dulu kyai, saya boleh menjalankan amalan dulu, maksudku mau mengamalkan dulu puasa, biar saya ngajarnya lancar." kata Hubbaibulloh, ketika diminta Kyai Mahrus selaku pemilik pesantren.

"Ya silahkan, tak apa-apa, berapa hari mau menjalankan lelaku?" tanya kyai Mahrus.

"Ya setidaknya empat puluh hari." jawab Hubbaibulloh.

"Iya tak apa-apa."

Maka besoknya Hubbaibulloh menjalankan puasa hanya makan nasi tanpa lauk, dan seteguk air putih, malam digunakan untuk terus meminta petunjuk pada Alloh agar diberi hidayah, inayah, supaya bisa mengajar dengan ridho Alloh, hari demi hari berlalu, sampai di malam ke 41 hari, setengah mimpi dan sadar, ada seseorang yang masuk di kamarnya yang selalu terkunci, orang itu mengaku bernama Haidir, lalu Hubbaibulloh diberi sesuatu agar ditelan.

"Mengajarlah dan selalu berpegang pada yang haq." begitu pesan lelaki bernama Haidir.

Dan Alhamdulillah besoknya mengajar amat lancar, dan pesantren juga berkembang pesat, sampai Habib Riziq sering main ke pesantren itu dengan keluarganya, dan orang kampung sekitar pun antusias, mengikuti pengajian di pesantren, padahal pengajian itu dikhususkan untuk santri. Tapi orang kampung pada datang ikut jiping, ngaji kuping.

Murid dari mana-mana berdatangan, bahkan dari Sumatra dan Kalimantan, sampai ada murid dari oki kumirinh hilir yang oleh Hubbaibulloh di rasa aneh.

Saat itu ada murid bernama Rusli, dia selalu jarang ikut mengaji.

"Rusli kemana kok tak ikut ngaji?" tanya Hubbaibulloh, yang merasa bertanggung jawab, karena sebagai Pemimpin Pesantren Puta Putri.

"Dia pergi kyai." jawab santri bernama Asep.

"Pergi kemana? Bukankah peraturan pesantren di saat ada pengajian dilarang pergi."

"Bukan pergi dengan tubuhnya kok kyai, dia pergi ngeraga sukma." jawab Salim.

"Ngeraga sukma? Apa itu?" tanya Hubbaibulloh yang memang awam soal ilmu seperti itu.

"Ya pergi, yang pergi sukmanya." jelas Asep.

"Wah ndak bener itu, waktu ngaji ya ngaji... apa.. apa ngeraga sukma segala. Mana dia.." kata Hubbaibulloh marah-marah, sambil bangkit dari tempatnya mengajar, menuju kamar Rusli, diikuti para santri.

Sampai di kamar Rusli, pemuda dempal itu sedang tidur lelap, Hubbaibulloh mencoba membangunkan, tapi sia-sia, Rusli seperti kerbau mati.

"Ambil air di ember..!" perintah Hubbaibulloh.

Maka santri cepat mengambil air, dan air oleh Hubbaibulloh disiramkan semua ke tubuh dan wajah Rusli, tapi pemuda itu tetap meleng, sama sekali tak ada tanda-tanda bangun.

Hubbaibulloh jadi heran, diraba dadanya masih naik turun nafasnya, juga hembusan nafas dari hidung pun teratur.

"Coba ambilin bulu ayam.!" perintahnya lagi.

Dan santri pun datang membawa ayam sekalian bulunya.

"Ya bulunya saja diambil,"

"Keok,'! suara ayam, ketika bulunya di cabut.

"Kolokin hidungnya."

Lalu santri memasukkan bulu ayam ke hidung Rusli, tapi tetap saja pemuda itu tak bangun.

"Coba gigit jempol kakinya."

Semua santri berpandangan, tak ada yang beranjak,

"Ya maksudku diapain gitu, biar dia bangun, masak bangunkan santri, harus kyainya yang berusaha, cari inisiatif doong..!"

"Tapi dia lagi ngeraga sukma, kyai.." jelas Asep.

"Jadi kalau ngeraga sukma tak bisa dibangunkan, la kalau ada kebakaran bagaimana?"

"Ya kalau ndak ada yang bangunin dia mati terbakar." jelas Asep.

"Lalu bagaimana baiknya, gini aja, satu orang nungguin, yang lain ngaji, ayo pergi semua, kamu Asep nunggu di sini, nanti kalau Rusli bangun kasih tau aku." kata Hubbaaibulloh tak habis pikir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...