CAHAYA SEJATI bagian 5
Bagus cilik cuma menganggukkan kepala,
"Ya kalau angger Bagus sudah mau, ya silahkan nyai Dewi membawanya." kata Tubagus Qodim.
Dewi Mayang Sari segera mengulurkan tangannya, "Mari ngger ikut Ibu." katanya, dan Bagus Cilik pun keluar dari perahu, lalu digandeng oleh Dewi Mayang Sari.
"Aku pamit dahulu kyai, wasalamualaikum."
"Silahkan Dewi, waalaikum salam." jawab Tubagus Qodim, Dewi Mayang Sari segera membawa Bagus Cilik berjalan ke tengah samudera.
"Semoga Alloh menjadikan Bagus Cilik menjadi pemimpin yang bisa menuntun pemimpin yang lain, di masa negara kisruh dan penuh huru hara." berkata Tubagus dalam do'anya, dan bayangan Dewi Mayang Sari semakin hilang ditelan gulungan ombak.
Semenjak kejadian itu, sudah hampir tiga bulan berlalu, Bagus Cilik, dibawa oleh Dewi Mayangsari, dan belum juga Bagus pulang ke rumahnya, Kyai Sepuh tak pernah mengkhawatirkan kepergian Bagus Cilik, sebab kejadian Bagus Cilik menghilang sudah tak terhitung lagi, kadang ketika pulang jika ditanya Bagus Cilik menjawab diajak oleh Sunan Kalijaga, atau diajak oleh Syaikh Karim, padahal Syaikh Karim itu hidup di jaman Imam Nawawi, dan Sunan Kalijaga itu hidup di jaman kerajaan Demak Bintoro, tapi semakin sering Bagus Cilik menghilang, maka makin aneh saja kelebihan yang dimilikinya, pernah suatu kali Bagus Cilik dzikir muqorobah, yang dzikir itu adalah hak dari orang yang mempunyai hak ahli talkin dan bai'at, dan ketika dzikir itu ketahuan oleh Abuya Dim, maka Abuya Dim memanggil Bagus Cilik.
"Dari mana kau dzikkir muqorobah, itu bukan hakmu, itu hak orang yang mempunyai kedudukan ahli talkin dan ahli bai'at?" tanya Abuya Dim.
"Aku diberi guruku, abah Kairem.." jawab Bagus, yang belum fasih menyebut Karim karena lisannya masih lisan anak kecil.
"Kairem.. kairem siapa? Tidak boleh dzikir muqorobah jika belum tingkatannya, aku sendiri tidak berani dzikir itu, bagaimana kau berani, sedang kau masih kecil." kata Abuya Dim.
"Baik aku akan memanggil guruku." jawab Bagus.
"Bagaimana kau akan memanggilnya?"
"Ya ku panggil dengan wirid." jawab Bagus.
"Bagaimana mungkin kau memanggilnya?"
"Sebentar," kata Bagus lalu duduk dzikir, dan tak lama kemudian pintu terbuka, dan dari pintu keluar orang yang teramat tua, wajahnya penuh cahaya, dan jenggotnya menjuntai sampai dada, dan Abuya Dim amat paham siapa lelaki tua itu, karena fotonya terpampang di deretan ulama' toreqoh qodiriyah wa naqsabandiyah, yang seangkatan dengan syaih Nawawi, juga menjadi imam masjidil haram, maka Abuya Dim insyaf, lalu duduk menunduk.
"Dia muridku, mau mengangkat murid siapa, itu terserah aku, juga siapa saja berhak aku pilih, apa hakmu melarang?" kata syaih Karim sambil mengetuk ketukan tongkatnya di lantai.
Abuya sangat gemetar, bagaimana tidak syaih Karim adalah guru empat tingkat di atas gurunya, dalam toreqoh siapa yang tidak ta'dzim kepada guru, apalagi kakek buyut gurunya, maka bisa jadi ilmu yang dimiliki akan musnah sama sekali, apalagi tidak takdzim kepada Nabi.
"Ampun kakek guru, abdi tidak tau." kata Abuya Dim,
"Sudah ku maafkan, ingat walaupun umurnya kecil, dia itu kakek buyut gurumu," kata syaih Karim memperingatkan, lalu syaih Karim mengelus kepala Bagus dan mengajaknya pergi.
Banyak hal di dunia ini yang kadang tidak masuk di logika kita, tapi kita sebagai manusia sekalipun segala sesuatu itu tidak masuk logika kita, dan sesuatu itu terjadi, maka kita harus percaya, karena sesuatu itu terjadi tidak tergantung pada akal kita yang terbatas, tapi menurut kehendak Alloh, jika akal kita mengatakan rumah kita tidak akan diterjang tsunami, tapi nyatanya air tsunami itu ada di atas rumah, maka kita harus lari, walau akal kita tidak mau terima, sebab jika kita menunggu akal kita menerima dulu, maka sudah pasti kita akan tergulung mati.
Setelah tiga bulan berselang, di desa Cipacung, di sebuah kebun, terdengar anak-anak kecil ramai memperebutkan sesuatu, suasana sangat ramai, sehingga membuat para orang tua ingin tau, apa sebenarnya yang terjadi, sehingga banyak orang tua datang mendekat, dan mereka jadi heran, karena anak-anak kecil itu memperebutkan uang, dan uang itu disebarkan dari tangan Bagus Cilik, yang sekian bulan menghilang, tapi anehnya uang yang disebarkan itu diambil dari segenggam tanah dan pasir yang ada di sekitarnya, yang bila diambil dan disebarkan ke udara, maka tanah dan pasir itu menjadi uang, dan anak-anak pun memperebutkan uang itu, kontan saja para orang tua pun ikut berhamburan memperebutkan uang itu, sehingga suasana jadi ramai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar