Kamis, 04 Februari 2021

CAHAYA SEJATI BAGIAN 1

CAHAYA SEJATI bagian 1



Angin dingin berhembus menggoyangkan daun, matahari belum muncul, dan kabut pekat menghalangi jarak pandang, rumput-rumput yang basah, tapi orang desa Cipacung telah beranjak pergi ke sawah, sarung diikatkan ke leher, dan rokok daun kawung dan tembakau klelet terselip di mulut, sebagai pengusir dingin, atau kebiasaan mengusir dingin dengan menyandarkan pada sesuatu yang sederhana.

Perlahan tapi pasti hari mulai beranjak siang, nampak gunung Putri mulai terlihat puncaknya, dikatakan gunung, sebenarnya lebih mirip sebuah bukit, tapi orang tetap menyebutnya gunung, dan dikatakan gunung Putri karena di atas gunung bila malam akan terdengar suara perempuan menangis, dan dari cerita orang dulu, suara itu adalah suara seorang putri yang menempati gunung itu dulunya, sampai hilang di gunung itu, entahlah cerita itu benar tidaknya, sebab sebuah mitos atau cerita dari mulut ke mulut itu sulit diterima kebenarannya, hanya sampai saat sekarang masih saja suara tangis itu sering terdengar, dan itu sudah menjadi suatu hal yang biasa, tak ada yang mempermasalahkannya, juga tak ada yang mencoba mencari sumber suara.

Di jalan arah sungai, nampak gadis-gadis desa dengan kecantikan alami, membawa keranjang yang isinya cucian, dan hanya dengan penutup kain jarik, sehingga bahunya yang putih bersih terlihat, padahal jika orang luar kampung melihat aliran sungai yang coklat keruh, akan merasa heran bagaimana mungkin orang yang mandi di air sungai sekeruh itu, bisa menjadi bersih, tapi itulah kenyataan, belum tentu yang kelihatannya dari luar itu keruh, ketika dipakai akan menjadikan keruh yang bersentuhan dengan air itu, dan nyatanya semua orang kampung sekitar sungai itu memakai air keruh itu semua, untuk dipakai keperluan sehari-hari.

Di jalan desa nampak pemuda sedang berkumpul, wajah mereka kelihatan tegang, ada dua belasan pemuda yang masing-masing berumur 20 sampai 25 tahun, dan semua kelihatan di wajahnya diliputi kekesalan.

"Kita tidak bisa diremehkan terus oleh pemuda dari Cigandu." kata pemuda berwajah tirus dengan kumis dan jenggot tipis yang sering dipanggil mang Hasan, dia sering dianggap sebagai ketua tidak resmi pemuda kampung, karena watak kepemimpinannya.

"Iya, makanya kita tunjukkan siapa pemuda Cipacung itu," jawab Ruskan, pemuda paling tua umurnya dari yang lain.

"Tapi jika kita mau menyerang pemuda Cigandu, maka kita tunggu dulu si Mun mengambil Bagus Cilik," tambah Ruskan.

"Nah... tuh si Mun dah datang," kata Uben, pemuda kurus ceking yang selalu mengelus elus golok yang dibawanya. Dia menuding pakai goloknya dan serentak semua memandang arah yang ditunjukkan Uben.

Nampak dari jalan tanjakan di antara pohon kopi, si Mun, pemuda gemuk dempal dan bertampang lucu itu jalan tertatih-tatih karena naik tanjakan, sambil menggendong anak kecil seumuran 4 tahun di punggungnya, yang sedang tidur menggelayut, semua menunggu si Mun mendekat, semua mata nampak cerah penuh semangat.

"Gimana Mun, kok lama banget ngambil Bagus Cilik?" tanya Uben.

"Iya mang, aku kan hati-hati ngambil Bagus, takutnya ketahuan kyai Sepuh, ini juga bagus sedang tidur tadi langsung ku gendong." jawab Mun sambil menata nafasnya yang ngos-ngosan.

Lalu tanpa menunggu lama semua pemuda itupun berangkat, dengan golok diselipkan di pinggang, mereka melangkah menyusuri pematang, melewati kebon, dan hilang di gerumbul hutan melinjo.

Sementara hari makin beranjak siang, puncak gunung karang nampak terlihat dari jauh, matahari yang hangat pun nampak bersinar membersihkan kabut dan mengeringkan yang jatuh di atas rumput.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...