07
Mengantar Nenek Catarina
"Seharusnya tidak seperti ini mas? Tuan Taher dan putrinya itu tampak kaget sekali Mas Fahri pamitan.
Seharusnya tunggu beberapa saat sehingga tidak seperti ini? Saya merasa tidak nyaman."
"Aku tahu ini kurang tepat, Bah. Tapi aku harus segera pamit. Jika tidak, mereka akan melihat aku menangis di situ. Aku tidak akan bisa menahan diri, Bah."
"Apa yang terjadi dengan Aisha? Mas Fahri tampak begitu sedih ditanya tentang Aisha? Ceritakanlah padaku, mas. Mungkin ada yang bisa aku bantu. Atau paling tidak dengan bercerita sedikit bisa membuatmu lega."
"Panjang ceritanya. Nanti dirumah saja."
Fahri membawa mobilnya sedikit berputar melewati tengah Kota Musselburgh. Suara dengkur Paman Hulusi mengiringi perjalanan itu. Hari sudah sangat terang ketika Fahri mendekati halte bus di Clayknowes Rd.
Seorang kakek menunggu dengan kursi roda. Sebuah bus datang. Beberapa penumpang
naik. Bus itu bisa sedikit merendahkan diri. Lalu dari pintu keluar tangga seolah menjemput kakek yang berkursi roda. Sang sopir turun membantu mendorong kakek naik.
Fahri sengaja memperlambat mobilnya. Ia menikmati pemandangan yang tidak pernah ia jumpai di Indonesia, juga di Mesir, bahkan
juga di Arab Saudi. Sebuah bus umum yang begitu ramah kepada penumpang yang difabel.
Penumpang yang memerlukan bantuan khusus. Menurutnya, yang baru saja ia lihat itu sangat Islami.
"Kalau Indonesia bisa begitu bagus ya, mas?"
"Iya. Kita tahu konsep agar membantu saudara kita. Di dalam Al-Qur'an dan hadits ada ajaran itu. Tapi dalam praktiknya sistem kita, bahkan sistem di negara-negara Islam belum mendesain segalanya, termasuk sistem transportasinya untuk benar-benar membantu orang lain. Di Mesir, sering kita saksikan ibu-ibu tua mengejar bus, bahkan ada yang terseret. Ada yang jatuh.
Di Indonesia, pejalan kaki harus sangat hati-hati menyeberang jalan kalau tidak ingin nyawanya melayang. Di Eropa dan negara-negara maju, pejalan kaki adalah raja."
"Terkadang saya juga berpikir bagaimana kita mengejar ketertinggalan ini."
"Ini kerja peradaban, Bah. Secara konsep, peradaban Islam tidak ada tandingannya. Masalahnya bahwa umat sudah sedemikian dijauhkan dari ruh Al-Qur‘an dan Sunnah. Apa yang diinginkan William Ewart Gladstone itu kini terjadi."
"Apa yang dikatakan William Ewart Gladstone itu?"
"Dulu, beberapa tahun sebelum Perang Dunia I, perdana menteri Inggris saat itu yaitu William Ewart Gladstone pernah terang-terangan berkata kepada media Inggris, "Selama kaum Muslim memiliki Al-Qur‘an, kita tidak akan bisa menundukkan mereka.
Kita harus mengambilnya dari mereka, menjauhkan mereka dari Al-Qur'an, atau membuat mereka kehilangan rasa cinta kepada Al-Qur‘an."
"Dan ucapan Gladstone itu kini terjadi, Bah. Umat Islam sibuk menjadikan Al-Qur'an sebagai aksesoris saja. Aksesoris untuk hiasan rumahnya. Ayat Al-Qur‘an ditulis dalam kaligrafi dengan tinta emas, dibeli dengan harga mahal, tapi yang punya rumah tidak tahu maknanya, apalagi mengamalkannya.
Al-Qur‘an dijadikan aksesoris sebagai bagian seremonial pembukaan sebuah sekolah, tapi sekolah itu nantinya mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan Al-Qur‘an. Atau peresmian sebuah gedung pertemuan, tapi gedung itu juga dijadikan tempat menggelar musik-musik maksiat."
"Al-Qur‘an begitu fasih dilantunkan seorang biduanita yang sering tampil telanjang. Padahal Al-Qur‘an melarang perempuan membuka auratnya. Ya, inilah realita umat kita di dunia Islam saat ini. Sementara sebagian ulamanya, saya katakan sebagian, berarti bukan semua, jadi katakanlah itu oknum.
Sebagian mereka sibuk menjadikan ayat-ayat Al-Qur‘an untuk mengecam dan mengafirkan saudaranya yang lain. Al-Qur‘an dijadikan sebagai palu untuk memukul saudaranya sendiri."
"Sebagian yang lain, hanya sibuk menganjurkan membaca ayat-ayat tertentu saja untuk penglaris, untuk dapat jodoh dan tujuan-tujuan duniawi lainnya. Sebagian ada yang memilih-milih saja membaca dan mengamalkan Al-Qur'an. Ada yang hanya memilih ayat-ayat tawasul saja. Siang malam itu yang jadi pokok perhatiannya. Sebagian ada yang hanya sibuk bagaimana bisa jadi juara melantunkan Al-Qur‘ an dengan indah. Bahkan ada semacam mafia agar menang maka diatur pindah KTP ke provinsi tertentu supaya bisa bertanding tingkat nasional. Senaif itu tujuannya membaca Al-Qur‘an."
"Karenanya kita tidak akan heran, ketika ada sedikit usaha saja agar Al-Qur‘an diterapkan secara praktik di masyarakat, misalnya ada pemerintah daerah mau membuat peraturan kewajiban berjilbab bagi Muslimah, terjadi penolakan. Mirisnya justru yang pertama kali menentang adalah orang-orang yang ngakunya ngerti agama Islam. Nanti alasannya, tidak toleransi-lah, ayatnya multitafsir, jilbab tidak wajib, ini dan itu, banyak sekali. Padahal itu peraturan hanya untuk penduduk yang beragama Islam."
"Ketika ada sekelompok anak muda membuat gerakan anti minuman keras, aneh sekali ada suara sinis justru datang dari kalangan tokoh Islam. Ini kan sudah diluar kewajaran, Bah. Di negara-negara maju saja, namanya minuman keras itu dibatasi. Tidak dijual di minimarket-minimarket umum. Yang mau beli, dilihat ID card-nya, sudah berumur apa belum? Di negara mayoritas penduduknya Muslim, yang kitab sucinya mengharamkan minuman keras, malah dijual di mana-mana."
"Tapi ada juga sisi busyra-nya, mas. Sisi kabar yang menggembirakan."
"Apa itu?"
"Sekarang banyak ma'had tahfizh di mana-mana. Anak-anak SD sudah banyak yang mulai hafal satu juz, dua juz."
"Alhamdulillah. Itu tentu fenomena yang patut kita syukuri. Namun tidak boleh berhenti disitu. Al-Qur‘an harus dikembalikan lagi ke dada umat. Al-Qur‘an sebagai pedoman hidup. Sebagai petunjuk. Sebagai nasihat dari Allah SWT. Harus dikembalikan lagi seperti ketika Al-Qur‘an bersarang di dada rakyat Aceh tatkala menghadapi Belanda. Ketika ayat-ayat jihad dibaca, itu menggerakkan syaraf-syaraf mereka untuk membela agama Allah, membela nusa dan bangsa. Al-Qur‘an dikembalikan lagi
seperti tatkala Al-Qur‘an bersemayam dalam jiwa Kyai Hasyim Asy‘ari, yang sedikit pun tak mau berdiri dan rukuk menghadap matahari dengan alasan apa pun. Sebab Al-Qur‘an melarang menyembah apa pun selain Allah."
"Al-Qur‘an dikembalikan lagi ke akal pikiran umat ini, seperti Al-Qur‘an menyinari akal dan pikiran Kyai Ahmad Dahlan yang tidak rela melihat ketimpangan sosial di tengah-tengah umat. Karena Al-Qur'an mengajarkan keadilan sosial."
Misbah mengangguk-angguk.
"Kemukjizatan Al-Qur‘an akan dirasakan oleh umat dan akan membuat umat ini terangkat derajatnya di atas umat-umat lain, jika Al-Qur‘an diimani seluruhnya, tidak pilih-pilih. Lalu dipahami, dihayati, dan diamalkan, dengan konsekuen dan istiqamah."
"Benar, mas. Seperti para sahabat itu ya, yang mengatakan 'kami tidak akan berpindah pada ayat berikutnya, sebelum kami memahami dan mengamalkan ayat yang kami baca'."
"Fatahallahu, alaik (1), Bah."
Mobil itu berjalan pelan. Dua puluh kilometer perjam. Menyusuri kawasan Stoneyhill yang asri dan rapi.
Sepasang suami istri tampak asyik jogging di trotoar. Dua orang remaja putri berkejaran dengan sepeda. Seorang kakek-kakek berjalan menuntun anjing mungilnya. Matahari bersinar di ufuk timur namun hanya temaram ditutup kabut.
Dua menit kemudian, Fahri sudah memarkir mobilnya di garasi rumahnya. Ketika keluar dari mobilnya, Fahri melihat Brenda keluar dari rumahnya dengan pakaian rapi.
"Hai, Brenda!"
"Hai !"
"Kerja? Tidak libur?"
"Saya ada shift hari ini. Besok baru saya libur. Hei, nanti malam kau ada acara?" Brenda mendekati Fahri. Sementara Misbah berusaha membangunkan Paman Hulusi yang masih terlelap."
"Ada apa?"
"Saya ajak nonton konser Johnny Reid, mau?"
"Di mana?"
"Sport Hall, Queen Margareth University. Nanti saya beli tiket dua. Johnny Reid sangat fenomenal di Kanada saat ini. Dia asli Skotlandia. Kau harus nonton. Kau bisa terhipnotis. Okay?"
"Terima kasih tawarannya. Maaf, saya sedang ada tamu dari jauh. Maaf."
"Itu tamumu?" Brenda menunjuk Misbah yang telah berhasil membangunkan Paman Hulusi.
"Iya. lni teman saya. Datang dari jauh dari Bangor. Rencana mau pindah kuliah di sini. Saya harus menemani dia."
"Ajak saja dia, sekalian nonton konser. Saya beli tiga tiket tidak masalah."
"Ah maaf, kami sudah punya acara sendiri."
"Baiklah. Kapan-kapan kalau kau punya waktu luang malam hari, beri tahu aku ya?" Fahri hanya tersenyum.
"Bye".
"Sebentar, Brenda."
"Ada apa?"
"Cincin itu sudah balik?"
"Oh ya, belum. Saya malah hampir lupa. Ah, saya ini memang banyak teledornya."
"Saya ingat nomor taksi yang mengantar kamu malam itu. Kamu ada pena dan kertas biar saya tulis?"
"Mmm... ada. Sebentar."
Brenda mengambil pena dan blocknote kecil dari tasnya dan menyerahkan kepada Fahri. Dengan cepat Fahri menuliskan nomor taksi yang ia lihat malam hari di blocknote itu dan menyerahkannya kepada Brenda.
"Kamu yakin tidak salah ya, nomornya?"
"Saya yakin sekali. Ciri-ciri sopirnya tubuhnya gendut. Tidak terlalu tinggi dia. Kira-kira seratus tujuh puluh senti."
"Terima kasih atas informasi berharga ini. Saya akan urus hari ini juga selesai kerja sebelum pergi ke konser."
"Semoga berhasil."
Brenda tersenyum manis lalu melangkah cepat menuju jalan raya. Paman Hulusi sudah berdiri namun masih tampak berusaha menata kesadarannya.
"Masih ngantuk, paman?" tanya Fahri.
"Tidak jadi minum teh di rumah Tuan Taher?"
gumam Paman Hulusi setelah dia benar-benar menyadari bahwa dirinya ada di Stoneyhill Grove.
"Kita sudah minum teh dan makan roti di rumah Tuan Taher, Paman. Ini baru sampai di rumah kita."
"Kenapa saya tidak dibangunkan?"
"Saya kasihan melihat paman sangat pulas. Mendengkurnya juga keras."
"Hoca ini bercanda. Padahal saya ingin merasakan roti Bridie, yang kata Tuan Taher enak itu?"
"Belum rezekinya, paman. Tadi juga katanya mau dibungkuskan ternyata lupa. Lain waktu, insya Allah.
Ayo masuk. Kalau Paman mau tidur lagi, silakan."
"Saya sekali tidur kalau sudah bangun, sudah susah tidur lagi."
Misbah menyahut,
"Kalau sudah tidur, dibangunkan juga susah."
Fahri tertawa.Mereka bertiga masuk rumah dan duduk di ruang tamu.
"Saya buatkan minum ya, Hoca? Di dapur juga masih ada short bread," kata Paman Hulusi.
"Boleh, paman. Nanti agak siang sedikit kita sama-sama pergi ke Resto Agnina."
"Baik, Hoca." Paman Hulusi bangkit ke dapur.
"Jadi kapan mau jumpa supervisormu, Bah?"
"Tadi malam saya sudah email beliau. Saya juga sudah SMS beliau minta waktu, kapan bisa jumpa. Saya menjelaskan secara singkat, saya akan ikut pindah ke Edinburgh dan saya saat ini posisi sedang ada di Edinburgh. Saya sedang menunggu jawaban beliau kapan diberi waktu jumpa beliau."
"lni hari Sabtu. Mungkin beliau memberimu waktu Senin atau Selasa. Itu prediksiku."
"Prediksiku juga begitu."
"Terus apa rencanamu untuk hari ini dan besok?"
"Sebenarnya, rencana saya setelah melihat Edinburgh, saya ingin jalan ke Stirling, lalu Glasgow, terus mengunjungi Loch Lomond. Dari Loch Lomond baru balik arah pulang ke Bangor. Namun lebih dulu saya akan mampir Lancaster, Manchester, dan Liverpool. Itu rencana jalan-jalan saya sebelum pulang ke
Indonesia untuk selamanya. Namun setelah jumpa Mas Fahri, jelas berubah rencana. Hari ini dan besok saya di Edinburgh saja, siapa tahu tiba-tiba supervisor memberi waktu bertemu. Saya juga ingin sedikit merevisi draf terakhir tesis saya. Lebih enak kalau jumpa supervisor sambil membawa hasil. Jadi
tampak kerjanya."
"Kalau kau perlu data di perpustakaan The University of Edinburgh, saya bisa kasih akses."
"Wah, terima kasih banget, mas. Saya mungkin nanti numpang ngeprint."
"Di rumah ini ada printer."
"Alhamdulillah."
Tiba-tiba sayup-sayup dari arah rumah sebelah terdengar suara gesekan biola. Fahri berusaha
mengenyahkan nada-nada itu. Tapi suara nada itu begitu jelas. Fahri memejamkan mata. Dari sudut kedua matanya air matanya merembes.
"Kenapa, mas?"
"Suara biola itu. Itu nada Viva la Vida, yang sering dimainkan Aisha," Fahri menarik nafas.
"Hoca Fahri belum bisa melupakan Aisha Hanem. Beberapa hari ini gadis tetangga sebelah menggesek biola, nadanya persis yang dimainkan Aisha Hanem. Itu selalu membuat Hoca Fahri sedih dan menangis," kata Paman Hulusi sambil meletakkan teh panas dan shortbread di atas meja.
"Jadi, Mas Fahri pisah sama Aisha? Talak?"
Fahri menggeleng.
"Terus, pisah karena apa?"
"Ah, ceritanya panjang, Bah," lirih Fahri serak.
"Hoca, sebaiknya ceritakan saja pada sahabatmu ini. Mungkin cerita itu akan ada gunanya. Mungkin itu bisa sedikit mengurangi kesedihan Hoca. Atau mungkin sahabatmu bisa sedikit memberimu kalimat penglipur kalau pun bukan jalan keluar."
Fahri bangkit dari kursinya dan menatap ke jendela. Ia melihat ke halaman lalu jauh ke depan. Ia melihat beranda rumah nenek Catarina. Pelan-pelan pintu rumah itu terbuka, lalu muncullah nenek tua itu berjalan pelan dan tertatih. Ia menutup pintu rumahnya dan menguncinya. Pelan-pelan ia berjalan
menuruni tangga beranda dan berjalan ke halaman. Tiba-tiba, entah kenapa nenek Catarina terjatuh.
"Inna lillah!" teriak Fahri.
"Ada apa, Hoca?!"
"Nenek Catarina!" kata Fahri sambil berkelebat lari ke halaman. Paman Hulusi dan Misbah mengejar.
Nenek Catarina kesakitan. Ia hendak berdiri tapi kesusahan. Fahri menolong dan membantunya berdiri. Nenek itu bisa berdiri.
"Terima kasih sudah menolong saya."
"Nenek mau ke mana?"
"Mau ke Sinagog, ibadah sabat."
*Nenek sudah tua. Kenapa tidak ibadah sabat di rumah saja?"
"Ibadah sabat di Sinagog itu satu-satunya hiburanku di hari tua. Aku harus ke sana." Nenek Catarina berusaha melangkah tapi langsung mengaduh, "Aow!"
"Saya khawatir ada masalah di kaki nenek. Mari saya antar ke rumah!" bujuk Fahri.
"Tidak. Aku harus tetap ke Sinagog. Tuhan begitu baik padaku. Aku harus memuji Tuhan. Tapi aku tidak bisa jalan ke halte bus. Bisakah aku minta tolong dipanggilkan taksi?"
Fahri berpikir sejenak lalu melihat jam tangannya.
"Paman Hulusi."
"Iya, Hoca."
"Bisakah minta tolong diantarkan nenek Catarina ke Sinagog?" pinta Fahri kepada Paman Hulusi dengan bahasa Turki.
"Ke Sinagog?"
"Iya"
"Maaf, Hoca, tampaknya saya ngantuk. Saya perlu istirahat. Kepala terasa berat, Hoca"
Fahri mengangguk. Tanpa pamit Paman Hulusi kembali ke rumah.
"Bah, kau temani aku mengantar Nenek Catarina ya?"
"Baik, mas."
"Nenek"
"Ya"
"Tidak usah memanggil taksi. Biar saya antar ke Sinagog, ya?"
"Aku tidak mau merepotkan kamu."
"Tidak merepotkan. Nenek saya antar, ya?"
"Senang sekali kalau kamu mau mengantar aku."
"Nenek tunggu di sini. Biar dipegang teman saya."
Misbah mendekat dan memegang tangan Nenek Catarina yang berdiri dengan bertumpu pada satu kaki karena kaki satunya sakit. Fahri masuk ke rumah mengambil kunci mobil lalu membawa mobil kedekat Nenek Catarina berdiri.
"Nenek punya krek untuk jalan?"
"Tidak. Baru kali ini kaki saya bermasalah."
"Apa tidak sebaiknya ke dokter dulu, nek? Atau kaki nenek mau saya pijat dulu?"
"Sudah kubilang, aku mau ke Sinagog!" kata nenek Catarina tegas.
Fahri merasa kemauan nenek itu sangat kuat. Sebenarnya ia hanya merasa kasihan dan khawatir kalau kaki itu benar-benar bermasalah. Tapi ketegasan nenek itu membuat Fahri tidak berdaya kecuali mengantarkan ketempat yang dimauinya.
Dengan dibantu Fahri dan Misbah, Nenek Catarina bisa naik ke dalam mobil. Sementara dari balik jendela, Paman Hulusi melihat kejadian itu dengan muka agak kurang suka. Mobil itu berjalan meninggalkan kompleks Stoneyhill Grove.
"Sinagognya di mana, nek?"
"Salisbury Road, Edinburgh Hebrew Congregation."
"Baik, nek. Nenek Catarina tenang saja. Kira-kira dua puluh menit akan sampai. Saya tahu Salisbury Road."
"Kau tahu namaku?"
"Saya tetangga nenek, rumah kita bersebelahan, tentu saya tahu nama nenek."
"Dari mana kau tahu namaku?"
"Dari nama di dekat pintu rumah nenek."
"Kau benar, ada nama saya tertulis disana. Tapi aku belum tahu namamu dan temanmu. Juga temanmu yang lebih tua itu?"
"Saya Fahri. Ini Misbah. Dan yang tua itu, Hulusi."
"Fa..."
"Fahri."
"Fah...ri."
"Ya. Ini Misbah dan satunya bernama Hulusi."
"Kalau sudah tua, hidup sendiri susah."
"Anak-anak nenek atau cucu-cucu nenek ke mana?"
"Anak yang pertama sudah pergi dari rumah tiga puluh tahun yang lalu dan tidak pernah kembali sejak itu. Mungkin masih di UK ini. Mungkin ikut teman lelakinya dari Hungaria. Atau entah di mana? Anak kedua lelaki, dia memilih tinggal di Tel Aviv sama istrinya. Anak kedua itu anak tiri, jadi seperti bukan anak.
Jadi saya tidak punya siapa-siapa, hanya punya Tuhan saja. Seandainya aku tak merasa punya Tuhan, aku lebih milih mati minum pembersih toilet saja. Hidup ini terasa sepi sejak suamiku meninggal lima tahun lalu. Untung masih ada Tuhan."
Mobil itu melaju dan mulai memasuki pinggir Kota Edinburgh. Fahri langsung mengarahkan ke kawasan Newington. Fahri memilih tidak melewati down town. la memilih jalur di selatan Holyrood Park.
"Berapa umur nenek?"
"Tujuh puluh tiga tahun. Saya lahir tahun seribu sembilan ratus tiga puluh tujuh. Saya lahir di Ulm, Jerman. Tempat yang sama dimana Einstein dilahirkan. Ayah saya seorang Rabi Yahudi. Saya pun menikah dengan seorang rabi. Sayang, saya tidak punya anak yang jadi rabi."
"Waktu perang dunia kedua, nenek juga di Jerman?"
"Nasib saya dan keluarga saya sungguh beruntung. Satu tahun sebelum meletus Perang Dunia Kedua, ayah saya bertugas di St. Louis, Amerika. Saya dan ibu dibawa serta. Karena itulah kami selamat dari kekejaman Nazi. Semoga Elohim tidak mengizinkan ada kekejaman lagi di atas muka bumi ini seperti
yang dilakukan Nazi."
"Tapi, nek, apa yang dilakukan Israel itu seperti... "
"Misbah, uskut ba'ah(2)!" Fahri memotong kata-kata Misbah dengan bahasa Arab logat Mesir.
"Seperti apa?" Nenek Catarina penasaran.
"Kita sudah memasuki Salisbury Road, nek. Gedung depan itu ya, nek?" sahut Fahri.
Nenek Catarina langsung melihat ke arah depan.
"Ya, benar."
Di depan sebelah kanan jalan tampak gedung berbentuk kotak agak besar. Gedung itu tampak kokoh dengan dinding batu bata merah tua, berjendela kaca dalam bingkai alumunium yang dicat putih. Dari susunan jendela, gedung itu terdiri dua lantai. Gedung itu dikelilingi pagar besi hitam dengan tiang-tiang utamanya batu bata merah tua yang senada dengan dinding gedung.
Fahri memarkir mobilnya di jalan dekat gerbang Sinagog. Ia dan Misbah lalu membantu Nenek Catarina keluar dari mobil, lalu menuntunnya pelan-pelan menuju halaman Sinagog. Orang-orang memakai kippah
berdatangan. Sebagian tampak keheranan melihat Nenek Catarina dipapah oleh Fahri
dan Misbah. Namun mereka diam saja.
Seorang lelaki berjenggot panjang memakai jubah hitam dan memakai kippah (3), memberi instruksi kepada beberapa anak muda sambil menunjuk ke arah Nenek Catarina. Instruksi itu dalam bahasa Ibrani. Fahri tidak begitu memahami instruksi itu, tapi ia mendengar satu kata yaitu amalek.
Dua orang pemuda Yahudi langsung bergegas dan menghadang Fahri dan Misbah. Mereka minta biar mereka yang menuntun nenek itu ke Sinagog. Fahri menyerahkan Nenek Catarina kepada mereka.
Nenek Catarina mengucapkan terima kasih. Fahri dan Misbah balik kanan. Fahri mendengar Nenek Catarina seperti berdebat dengan dua pemuda itu dengan bahasa Ibrani.
Tiba-tiba Fahri teringat sesuatu, ia langsung lari mendekati Nenek Catarina.
"Maaf, nek, apakah nanti perlu saya jemput untuk pulang?" tanya Fahri pada Nenek Catarina.
"Tidak perlu, kami nanti akan antar nenek ini ke rumahnya!" kata pemuda Yahudi itu ketus.
Nenek Catarina diam, sepertinya agak bingung harus bagaimana bersikap.
"Anda tidak perlu mengkhawatirkan nenek ini! Selanjutnya nenek ini bukan urusan Anda!" kata pemuda Yahudi satunya. Mendengar hal itu Fahri minta diri dan pergi.
*****
______________________________________________
1.Semoga Allah selalu membuka pikiranmu untuk hidayah dan ilmu. (Doa untuk orang yang mengucapkan sesuatu yang benar).
2.Misbah, tolong diam.
3.Topi berbentuk piring yang biasa dipakai pria yahudi untuk ibadah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar