Minggu, 07 Februari 2021

AYAT-AYAT CINTA JILID 1

DAFTAR ISI
AYAT AYAT CINTA

1. Gadis Mesir Itu Bernama Maria

2. Peristiwa di dalam Metro

3. Keributan Tengah Malam 4. Air Mata Noura

5. Pertemuan di Tahrir

6. Hadiah Perekat Jiwa

7. Di Cleopatra Restaurant 8. Getaran Cinta

9. Merancang Peta Hidup

10. Sepucuk Surat Cinta

11. Dijenguk Sahabat Nabi

12. Siapa Malaikat Itu?

13. Ketika Hati Berdesir-desir

14. Badai Kegelisahan

15. Pertemuan

16. Cobaan

17. Ikatan Suci

18. Saat-saat Indah di Tepi Sungai Nil

19. Rencana-rencana

20. Surat dari Nurul

21. Di San Stefano, Alexandria

22. Penangkapan

23. Dalam Penjara Bawah Tanah

24. Tangis Aisha

25. Persidangan

26. Ayat Ayat Cinta

27. Diary Maria

28. Sidang Penentuan

29. Nyanyian dari surga


Ayat-Ayat Cinta merupakan karya novel Habiburrahman El Shirazy. Novel ini pertama kali terbit sebagai cerita bersambung dalam harian Republika.

Nuansa keislaman sepanjang novel ini membuat pengarangnya, Habiburrahman El Shirazy, disebut-sebut sebagai "Hamka Kecil" karena novelnya mengingatkan kita pada Di Bawah Lindungan Kabah karya Hamka yang sama-sama bermain di Tanah Arab. 

Ayat-Ayat Cinta adalah karya sastra yang berhasil memadukan dakwah, tema cinta, dan latar belakang budaya Islam, dituturkan dengan memakai penceritaan orang pertama 'aku'. Label novel pembangun jiwa pada jilidnya dan predikat sastra islami yang diberikan oleh para pembacanya, tidak membuat novel ini menjadi sebuah pemaksaan dogmatis yang kering. Amanat atau pesan yang disampaikan tidak terasa menggurui. 

Suasana yang dibangun diperkuat dengan penggunaan bahasa Arab formal (fusha) dan informal ('amiyah') hampir dalam setiap paragrafnya. Catatan-catatan kaki yang sudah disediakan menjadi sangat berguna. Ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab pasaran yang digunakan di sana-sini berhasil membawa pembaca ke dalam latar novel yang bernuansa sosial-budaya Timur Tengah. 

Gaya bahasa yang halus ketika melukiskan suasana alam Mesir di musim panas, sudah terasa sejak baris-baris pertama novel. Kota Mesir yang menjadi latar belakang cerita ini dibangun dengan begitu mengesankan karena pengarang mengalami sendiri hari-hari di kota Mesir. Gambaran kehidupan tokoh utama Fahri yang demikian mengesankan membuat kita berkesimpulan bahwa Fahri tidak lain adalah pengarang sendiri. 

Novel ini mengisahkan kehidupan Fahri, tokoh utama, yang diwarnai dengan kisah hubungan lelaki dengan perempuan. Fahri adalah seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Al Azhar, Mesir. Ia selalu berusaha meneladani Rasulullah Saw. Dalam segala tindak tanduknya. Hal itu tercermin dari perilakunya sehari-hari, baik di dalam bertetangga, berinteraksi dengan lawan jenis, maupun dengan sesame muslim dan nonmuslim. 

Dakwah adalah aktivitas kesehariannya. Bagi Fahri, dakwah bisa dilakukan di manapun dan kapanpun. Diceritakan bagaimana ia menjelaskan hukum interaksi laki-laki dengan perempuan yang bukan mahram kepada tetangganya, Maria, yang merupakan pemeluk Kristen Koptik yang taat.

Perasaan Fahri diceritakan dengan baik ketika ia harus menjadi rebutan tiga orang perempuan. Pada bagian cerita bulan madu Fahri dan Aisha digambarkan terjadinya adegan percintaan yang selalu merupakan bagian penting dari satu novel asmara. Di sinilah terlihat kelebihan lain novel ini yang menceritakan hubungan suami-istri, tetapi tidak terjatuh ke dalam kevulgaran. Inti plot adalah kisah cinta segi empat antara Fahri ("aku") dengan Aisha, Maria, dan Noura. Dalam hubungan persahabatan yang diwarnai getar-getar isyarat cinta antara Fahri dengan ketiga gadis itulah plot novel ini berkembang. Pada akhir cerita Fahri menikahi Aisha—sebagai akhir kendali alur cerita dan sumber-sumber ide pencerahan. 

Kehidupan Fahri berubah 180 derajat ketika ia menikah dengan seorang muslimah Turki. Dari seorang mahasiswa miskin yang berangkat ke Mesir dengan menjual sawah warisan keluarga satu-satunya, ia menjadi suami pemilik perusahaan besar yang laba bulanannya berkisar milyaran rupiah. Hidupnya pun menjadi seperti mimpi: tinggal di apartemen yang berada di kawasan elit Kairo, yang juga merupakan tempat tinggal para selebriti kota Mesir, memiliki istri yang salehah, cantik, dan kaya-raya. 

Keimanan dan keikhlasan Fahri diuji ketika ia harus masuk penjara karena difitnah sebagi pemerkosa. Di dalam penjarapun Fahri tetap menjalankan ibadah sunah, seperti salat tahajud. Tak hanya itu, sekalipun di penjara ia tetap menimba ilmu dari seorang Guru Besar Ekonomi yang dipenjara karena kritik-kritik pedasnya. Dari sini Fahri sudah bertindak sebagai santri salaf yang haus ilmu. 

Selain cobaan di dalam penjara, Fahri juga menghadapi godaan berupa tawaran untuk menyuap agar ia bisa dibebaskan. Terbersit juga ide untuk memberikan kesaksian palsu untuk memberi kesan bahwa orang yang dipenjara tidak bersalah. Namun, ia tetap memegang teguh prinsip untuk tetap berjalan berdasarkan tuntunan Alquran. Dalam kasus Fahri, kebenaran tetap tak dapat disembunyikan. Akhirnya ia dapat bebas dari penjara sebelum masa hukuman berakhir, berkat kesaksian yang dibeberkan oleh orang-orang yang tadinya memberikan kesaksian palsu.







1


Gadis Mesir Itu Bernama Maria


TENGAH HARI INI, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir seakan menguapkan bau neraka. Hembusan angin sahara disertai debu yang bergulung gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik. Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat, yang ada dalam apartemen-apartemen berbentuk kubus dengan pintu, jendela, dan tirai tertutup rapat.

Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh lebih nyaman daripada berjalan ke luar rumah, meski sekadar untuk shalat berjamaah di masjid. Panggilan azan Zuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya. Mereka yang memiliki tekad beriba dah sesempurna mungkin dalam segala musim dan cuaca, seperti karang yang tegak berdiri dalam terjangan ombak, terpaan badai, dan sengatan matahari. Ia tiada kenal kesah, tetap teguh berdiri seperti yang dititahkan Tuhan sambil bertasbih siang malam. Atau, seperti matahari yang telah jutaan tahun membakar tubuhnya
untuk memberikan penerangan ke bumi dan seantero mayapada. la tiada pernah mengeluh, tiada pernah mengerang sedetik pun menjalankan titah Tuhan.

Awal-awal Agustus memang puncak musim panas.

Dalam kondisi sangat tidak nyaman seperti ini, aku sendiri sebenarnya sangat malas keluar. Ramalan cuaca mengumumkan: empat puluh satu derajat celcius! Apa tidak gila!? Mahasiswa Asia Tenggara yang tidak tahan panas, biasanya sudah mimisan, hidung nya mengeluarkan darah. Teman satu flat yang langganan mimisan di puncak musim panas adalah Saiful. Tiga hari ini, memasuki pukul sebelas siang sampai pukul tujuh petang, darah selalu mer embes dari hidungnya. Padahal ia tidak keluar flat sama sekali. Ia hanya diam di dalam kamarnya sambil terus menyalakan kipas angin. Sesekali ia kungkum, mendinginkan badan di kamar mandi.

Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen(1) aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi(2) pada Syaikh Utsman Abdul Fattah(3). Pada ulama besar ini aku belajar qiraah sab'ah dan ushul tafsir(4). Beliau adalah murid Syaikh Mahmoud Khushari, ulama legendaris yang mendapat julukan Syaikhul Magari Wal Huffadh Fi Mashr atau Guru Besarnya Para Pembaca dan Penghafal Al-Quran di Mesir.

Jadwalku mengaji pada Syaikh yang terkenal sangat disiplin itu seminggu dua kali. Setiap Ahad dan Rabu. Beliau selalu datang tepat waktu. Tak kenal kata absen. Tak kenal cuaca dan musim. Selama tidak sakit dan tidak ada uzur yang teramat penting, beliau pasti datang. 

Sangat tidak enak jika aku absen hanya karena alasan panasnya suhu udara. Sebab beliau tidak sembarang menerima murid untuk talaqqi qiraah sab'ah. Beliau akan menguji siapa saja yang ingin belajar qiraah sab'ah pada beliau terlebih dahulu. Yang diuji adalah hafalan Al-Quran tiga puluh juz dengan qiraah bebas. Boleh Imam Warasy. Boleh Imam Hafsh, atau lainnya.

Tahun ini, setelah melalui ujian ketat beliau hanya menerima sepuluh orang murid. Aku termasuk sepuluh orang yang berun tung itu. Lebih beruntung lagi, beliau sangat mengenalku. Itu karena sejak tahun pertama kuliah aku sudah menyetorkan hafalan Al-Quran pada beliau di serambi Masjid Al Azhar. Juga karena di antara sepuluh orang yang terpilih itu ternyata hanya diriku seorang yang bukan orang Mesir. Aku satu-satunya orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia. Tak heran jika beliau menganakemaskan diriku. Dan teman-teman dari Mesir tidak ada yang merasa iri dalam masalah ini. Mereka semua simpati padaku.

Itulah sebabnya, jika aku absen pasti akan langsung ditelpon oleh Syaikh Utsman dan teman-teman. Mereka akan bertanya kenapa tidak datang? Apa sakit? Apa ada halangan dan lain se bagainya. Maka aku harus tetap berusaha datang selama masih mampu menempuh perjalanan sampai ke Shubra, meskipun panas membara dan badai debu bergulung-gulung di luar sana. Meskipun jarak yang ditempuh sekitar lima puluh kilo meter lebih jauhnya.

Kuambil mushaf tercinta.

Kucium penuh takzim. Lalu kumasukkan ke dalam saku depan tas cangklong hijau tua. Meskipun butut, ini adalah tas bersejarah yang setia menemani diriku menuntut ilmu sejak di Ma drasah Aliyah sampai saat ini, saat menempuh S.2. di universitas tertua di dunia, di delta Nil ini. Aku mengambil satu botol kecil berisi air putih di kulkas. Kumasukkan dalam plastik hitam lalu kumasukkan dalam tas. Aku selalu membiasakan diri membawa air putih jika bepergian, selain sangat berguna juga merupakan salah satu bentuk penghematan yang penting. Apalagi selama menempuh perjalanan jauh dari Hadayek Helwan sampai Shubra

El-Khaima dengan metro(5), tidak akan ada yang menjual minuman.

Aku sedikit ragu mau membuka pintu. Hatiku ketar-ketir. Angin sahara terdengar mendesau-desau. Keras dan kacau. Tak bisa dibayangkan betapa kacaunya di luar sana. Panas disertai gu lungan debu yang beterbangan. Suasana yang jauh dari nyaman. Namun niat harus dibulatkan. (6)Bismillah tawakkaltu ala Allah, pelan-pelan kubuka pintu apartemen. Dan...

Wuss!

Angin sahara menampar mukaku dengan kasar. Debu bergumpal-gumpal bercampur pasir menari-nari di mana-mana. Ku tutup kembali pintu apartemen. Rasanya aku melupakan sesuatu. "Mas Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buruk. Apa tidak sebaiknya istirahat saja di rumah?" saran Saiful yang baru keluar dari kamar mandi. Darah yang merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.

"Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Jika tidak datang, aku sangat tidak enak pada Syaikh Utsman. Beliau yang sudah berumur tujuh puluh lima tahun saja selalu datang. Tepat waktu lagi. Tak kenal cuaca panas atau dingin. Padahal rumah beliau dari masjid tak kurang dari dua kilo," tukasku sambil bergegas masuk kamar kembali, mengambil topi dan kaca mata hitam.

(7)"Allah yubarik fik, Mas," ujarnya serak. Tangan kanannya mengusapkan sapu tangan pada hidungnya. Mungkin darahnya merembes lagi.

"Wa iyyakum!"(8) balasku sambil memakai kaca mata hitam dan memakai topi menutupi kopiah putih yang telah menempel di kepalaku.

"Sudah bawa air putih, Mas?"

Aku mengangguk.

"Saif, Rudi minta dibangunkan pukul setengah dua. Tadi malam dia lembur bikin makalah. Kelihatannya dia baru tidur jam setengah sepuluh tadi. Terus tolong nanti bilang sama dia untuk beli gula dan minyak goreng. Hari ini dia yang piket belanja. Oh ya, hampir lupa, nanti sore yang piket masak Hamdi. Dia paling suka masak oseng-oseng wortel campur kofta(9). Kebetulan wortel dan koftanya habis. Bilang sama Rudi sekalian."

Sebagai yang dipercaya untuk jadi kepala keluarga-meski pun tanpa seorang ibu rumah tangga—aku harus jeli memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan anggota. Dalam flat ini kami hidup berlima; aku, Saiful, Rudi, Hamdi dan Mishbah. Kebetulan aku yang paling tua, dan paling lama di Mesir. Secara akademis aku juga yang paling tinggi. Aku tinggal menunggu pengumuman untuk menulis tesis master di Al Azhar. Yang lain masih program S.1. Saiful dan Rudi baru tingkat tiga, mau masuk tingkat empat. Sedangkan Misbah dan Hamdi sedang menunggu pengumu man kelulusan untuk memperoleh gelar Lc. atau Licence. Mereka semua telah menempuh ujian akhir tahun pada akhir Mei sampai awal Juni yang lalu. Awal-awal Agustus biasanya pengumuman keluar. Namun sampai hari ini, pengumuman belum juga ada yang ditempel.

Hari ini, kebetulan yang ada di flat hanya tiga orang, yaitu aku, Saiful dan Rudi. Adapun Hamdi sudah dua hari ini punya kegiatan di Dokki, tepatnya di Masjid Indonesia Cairo. Ia diminta memberikan pelatihan kepemimpinan pada remaja masjid yang semuanya adalah putra-putri para pejabat KBRI. Siang ini katanya selesai, dan nanti sore dia pulang. Sedangkan Mishbah tengah be rada di Rab'ah El-Adawea, Nasr City. Katanya ia harus menginap di Wisma Nusantara, di tempatnya Mas Khalid, untuk merancang draft pelatihan ekonomi Islam bersama Profesor Maulana Husein Shahata, pertengahan September depan.

Masing-masing penghuni flat ini punya kesibukan. Aku sendiri yang sudah tidak aktif di organisasi manapun, juga mempunyai jadwal dan kesibukan. Membaca bahan untuk tesis, talaqqi qiraah sab'ah, menerjemah, dan diskusi intern dengan teman-teman mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S.2. dan S.3. di Cairo.

Urusan-urusan kecil seperti belanja, memasak dan membuang sampah, jika tidak diatur dengan bijak dan baik akan menjadi masalah. Dan akan mengganggu keharmonisan. Kami berlima sudah seperti saudara kandung. Saling mencintai, mengasihi dan mengerti. Semua punya hak dan kewajiban yang sama. Tidak ada yang diistimewakan. Semboyan kami, baiti jannati. Rumahku adalah surgaku. Tempat yang kami tinggali ini harus benar-benar menjadi tempat yang menyenangkan. Dan sebagai yang paling tua aku bertanggung jawab untuk membawa mereka pada suasana yang mereka inginkan.

Aku melangkah ke pintu.

"Saif. Jangan lupa pesanku tadi!" kembali aku mengingatkan sebelum membuka pintu.

" Insya Allah, Mas."

Di luar sana angin terdengar mendesau-desau. Benar kata Saiful, cuaca sebetulnya kurang baik.

Ah, kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang Mahsyar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat, bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan am anat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti. Kalau tak ingat, bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat, bahwa tidak semua orang diberi nikmat belajar di bumi para nabi ini. Kalau tidak ingat, bahwa aku belajar di sini dengan menjual satu-satunya sawah warisan dari kakek. Kalau tidak ingat, bahwa aku dilepas dengan linangan airmata dan selaksa doa dari ibu, ayah, dan sanak saudara. Kalau tak ingat bahwa jadwal adalah janji yang harus ditepati.

Kalau tak ingat itu semua, shalat Zuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalakan kipas dan mendengarkan lantunan lagu El-Himl El-Arabi atau El-Hubb El-Haqiqi, atau untaian shala watnya Emad Rami dari Syiria itu, tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi jika diselingi minum ashir(10) mangga yang sudah didin ginkan satu minggu di dalam kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan. Masya Allah, alangkah segarnya.

Kubuka pintu apartemen perlahan.

Wuss!

Angin sahara kembali menerpa wajahku. Aku melangkah keluar lalu menuruni tangga satu per satu. Flat kami ada di tingkat tiga. Gedung apartemen ini hanya enam tingkat dan tidak punya lift. Sampai di halaman apartemen, jilatan panas matahari seakan menembus topi hitam dan kopiah putih yang menempel di kepal aku. Seandainya tidak memakai kaca mata hitam, sinarnya yang benderang akan terasa perih menyilaukan mata.

Kulangkahkan kaki ke jalan.

"Psst..psst...Fahri! Fahri!"

Kuhentikan langkah. Telingaku menangkap ada suara me manggil-manggil namaku dari atas. Suara yang sudah kukenal. Kupicingkan mataku mencari asal suara. Di tingkat empat. Tepat di atas kamarku. Seorang gadis Mesir berwajah bersih membuka jendela kamarnya sambil tersenyum. Matanya yang bening mena tapku penuh binar

"Hei Fahri, panas-panas begini keluar, mau ke mana?" 

"Shubra."

" Talaqqi Al-Quran ya?"

Aku mengangguk.

"Pulangnya kapan?"

"Jam lima, insya Allah."

"Bisa nitip?"

"Nitip apa?"

"Belikan disket. Dua. Aku malas sekali keluar."

"Baik, insya Allah."

Aku membalikkan badan dan melangkah.

"Fahri, istanna suwayya!"!!

"Fi eh kaman?"(12) 

Aku urung melangkah.

"Uangnya."

"Sudah, nanti saja, gampang.

"Syukran Fahri,"(13) 

"Afwan. Maaf, merepotkan."

Aku cepat-cepat melangkah ke jalan menuju masjid untuk shalat Zuhur. Panasnya bukan main. Gadis Mesir itu bernama Maria. Ia juga senang dipanggil Maryam. Dua nama yang menurutnya sama saja. Dia putri sulung Tuan Boutros Rafael Girgis. Berasal dari keluarga besar Girgis. Sebuah keluarga Kristen Koptik yang sangat taat. Bisa dikatakan, keluarga Maria adalah tetangga kami paling akrab. Ya, paling akrab. Flat atau rumah mereka berada tepat di atas flat kami. Indahnya, mereka sangat sopan dan menghormati kami mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Al Azhar.

Maria gadis yang unik.

la seorang Kristen Koptik atau dalam bahasa asli Mesirnya qibthi, namun ia suka pada Al-Quran. Ia bahkan hafal beberapa surat Al-Quran. Di antaranya surat Maryam. Sebuah surat yang membuat dirinya merasa bangga. Aku mengetahui hal itu pada suatu kesempatan berbincang dengannya di dalam metro. Kami tak sengaja berjumpa. Ia pulang kuliah dari Cairo University, sedangkan aku juga pulang kuliah dari Al Azhar University. Kami duduk satu bangku. Suatu kebetulan.

"Hei namamu Fahri, iya 'kan?"

"Benar."

“Kau pasti tahu namaku, iya 'kan?"

"Iya. Aku tahu. Namamu Maria. Putri Tuan Boutros Girgis."

"Kau benar."

“Apa bedanya Maria dengan Maryam?"

"Maria atau Maryam sama saja. Seperti David dengan Daud. Yang jelas namaku tertulis dalam kitab sucimu. Kitab yang paling banyak dibaca umat manusia di dunia sepanjang sejarah. Bahkan jadi nama sebuah surat. Surat kesembilan belas, yaitu surat Maryam. Hebat bukan?"

"Hei, bagaimana kau mengatakan Al-Quran adalah kitab suci paling banyak dibaca umat manusia sepanjang sejarah? Dari mana kamu tahu itu?” selidikku penuh rasa kaget dan penasaran.

"Jangan kaget kalau aku berkata begitu. Ini namanya objektif. Memang kenyataannya demikian. Charles Francis Potter mengatakan seperti itu. Bahkan jujur kukatakan, Al-Quran jauh lebih dimuliakan dan dihargai daripada kitab suci lainnya. Ia lebih dihargai daripada Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Pendeta J. Shillidy dalam bukunya The Lord Jesus in The Koran memberikan kesaksian seperti itu. 

Dan pada kenyataannya tak ada buku atau kitab di dunia ini yang dibaca dan dihafal oleh jutaan manusia setiap detik melebihi Al-Quran. Di Mesir saja ada ribuan Ma'had Al Azhar. Siswanya ratusan ribu bahkan jutaan anak. Mereka semua sedang menghafalkan Al-Quran. Karena mereka tak akan lulus dari Ma'had Al Azhar kecuali harus hafal Al-Quran. Bahkan, aku saja, yang seorang Koptik suka kok menghafal Al-Quran. Bahasanya indah dan enak dilantunkan," cerocosnya santai tanpa ada keraguan.

"Kau juga suka menghafal Al-Quran? Apa aku tidak salah dengar?" heranku.

"Ada yang aneh?"

Aku diam tidak menjawab.

"Aku hafal surat Maryam dan surat Al-Maidah di luar kepala."

"Benarkah?”

"Kau tidak percaya? Coba kausimak baik-baik!"

Maria lalu melantunkan surat Maryam yang ia hafal. Anehnya ia terlebih dahulu membaca ta'awudz(14) dan basmalah. Ia tahu adab dan tata cara membaca Al-Quran. Jadilah perjalanan dari Mahat tah(15) Anwar Sadat Tahrir sampai Tura El-Esmen kuhabiskan untuk menyimak seorang Maria membaca surat Maryam dari awal sampai akhir. Nyaris tak ada satu huruf pun yang ia lupa. Bacaannya cukup baik meskipun tidak sebaik mahasiswi Al Azhar. Dari Tura El-Esmen hingga Hadayek Helwan Maria mengajak berbincang ke mana-mana. Aku tak menghiraukan tatapan orang-orang Mesir yang heran aku akrab dengan Maria.

Itulah Maria, gadis paling aneh yang pernah kukenal. Meski pun aku sudah cukup banyak tahu tentang dirinya, baik melalui ceritanya sendiri saat tak sengaja bertemu di metro, atau melalui cerita ayahnya yang ramah. Tapi aku masih menganggapnya aneh. Bahkan mistrius. Ia gadis yang sangat cerdas. Nilai ujian akhir Sekolah Lanjutan Atasnya adalah terbaik kedua tingkat nasional Mesir. Ia masuk Fakultas Komunikasi, Cairo University. Dan tiap tingkat selalu meraih predikat mumtaz atau cumlaude. Ia selalu terbaik di fakultasnya. Ia pernah ditawari jadi reporter Ahram, koran terkemuka di Mesir. Tapi ia tolak. Ia lebih memilih jadi penulis bebas. Ia memang gadis Koptik yang aneh. Menurut pengakuannya sendiri, ia paling suka dengar suara azan, tapi pergi ke gereja tidak pernah ia tinggalkan. Sekali lagi, ia memang gadis Koptik yang aneh. Aku tidak tahu jalan pikirannya.

Selama ini, aku hanya mendengar dari bibirnya yang tipis itu hal-hal yang positif tentang Islam. Dalam hal etika berbicara dan bergaul ia terkadang lebih Islami daripada gadis-gadis Mesir yang mengaku muslimah. Jarang sekali kudengar ia tertawa cekikikan. Ia lebih suka tersenyum saja. Pakaiannya longgar, sopan dan rapat. Selalu berlengan panjang dengan bawahan panjang sampai tumit. Hanya saja, ia tidak memakai jilbab. Tapi itu jauh lebih sopan ketimbang gadis-gadis Mesir seusianya yang berpakaian ketat dan bercelana ketat, dan tidak jarang bagian perutnya sedikit terbuka. Padahal mereka banyak yang mengaku muslimah. Maria suka pada Al-Quran. Ia sangat mengaguminya, meskipun ia tidak pernah mengaku muslimah. Penghormatannya pada Al-Quran mungkin melebihi beberapa intelektual muslim.

la pernah cerita, suatu kali ia ikut diskusi tentang aspek kebahasaan Al-Quran di Fakultas Sastra Universitas Cairo. Pe makalahnya adalah seorang doktor filsafat jebolan Sorbonne Perancis. Maria merasa risih sekali dengan kepongahan doktor itu yang mengatakan Al-Quran tidak sakral karena dilihat dari aspek kebahasaan ada ketidakberesan. Doktor itu mencontohkan dalam Al-Quran ada rangkaian huruf yang tidak diketahui maknanya. Yaitu, alif laam miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin, thaaha nuun, kaf ha ya ain shaad, dan sejenisnya.

Maria berkata padaku,

"Fahri, aku geli sekali mendengar perkataan doktor dari Sorbonne itu. Dia itu orang Arab, juga muslim, tapi bagaimana bisa mengatakan hal yang stupid begitu. Aku saja yang Koptik bisa merasakan betapa indahnya Al-Quran dengan aliflaam miim-nya. Kurasa rangkaian huruf-huruf seperti alif laam miim, alif laam ra,
haa miim, yaa siin, nuun, kaf ha ya ain shaad adalah rumus-rumus Tuhan yang dahsyat maknanya. Susah diungkapkan maknanya, tapi keagungannya bisa ditangkap oleh mereka yang memiliki cita rasa bahasa Arab yang tinggi. Jika susunan itu dianggap sebagai suatu ketidak beresan, orang-orang kafir Quraisy yang sangat tidak suka pada Al-Quran dan memusuhinya sejak dahulu tentu akan mengambil kesempatan adanya ketidak beresan itu untuk menghancurkan Al-Quran. Dan tentu mereka sudah mencela bahasa Al-Quran habis-habisan sepanjang sejarah.

"Namun kenyataannya, justru sebaliknya. Mereka mengakui keindahan bahasanya yang luar biasa. Mereka menganggap bahasa Al-Quran bukan bahasa manusia biasa tapi bahasa yang datang dari langit. Jadi kukira doktor itu benar-benar stupid. Tidak se mestinya seorang doktor sekelas dia mengatakan hal seperti itu."

Aku lalu menjelaskan kepada Maria segala hal yang berkaitan dengan alif laam miim dalam Al-Quran. Lengkap dengan segala rahasia yang digali oleh para ulama dan ahli tafsir. Maknanya, hikmahnya, dan pengaruhnya dalam jiwa. Juga kuterangkan bahwa pendapat Maria yang mengatakan huruf-huruf itu tak lain adalah rumus-rumus Tuhan yang maha dahsyat maknanya, dan hanya Tuhan yang tahu persis maknanya, ternyata merupakan pendapat yang dicenderungi mayoritas ulama tafsir. Maria girang sekali mendengarnya.

"Wah, yang terlintas begitu saja dalam benak kok bisa sama dengan pendapat mayoritas ulama tafsir ya?" komentarnya sambil tersenyum bangga.

Aku ikut tersenyum.

Di dunia ini memang banyak sekali rahasia Tuhan yang tidak bisa dimengerti oleh manusia lemah seperti diriku. Termasuk kenapa ada gadis seperti Maria. Dan aku pun tidak merasa perlu untuk bertanya padanya kenapa tidak mengikuti ajaran Al-Quran. Pertanyaan itu kurasa sangat tidak tepat ditujukan pada gadis cerdas seperti Maria. Dia pasti punya alasan atas pilihannya. Ini lah yang membuatku menganggap Maria adalah gadis aneh dan mistrius. Di dunia ini banyak sekali hal-hal mistrius. Masalah hidayah dan iman adalah masalah misterius.

Sebab, hanya Allah saja yang berhak menentukan siapa-siapa yang patut diberi hidayah. Abu Thalib adalah paman Nabi yang mati-matian membela dakwah Nabi. Cinta Nabi pada beliau sama dengan cinta Nabi pada ayah kandungnya sendiri. Tapi masalah hidayah hanya Allah yang berhak menentukan. Nabi tidak bisa berbuat apa-apa atas nasib sang paman yang amat dicintainya itu. Juga hidayah untuk Maria. Hanya Allah yang berhak memberikannya.

Mungkin, sejak azan berkumandang Maria telah membuka daun jendela kayunya. Dari balik kaca ia melihat ke bawah, menunggu aku keluar. Begitu aku tampak keluar menuju hala man apartemen, ia membuka jendela kacanya, dan memanggil dengan suara setengah berbisik. Ia tahu persis bahwa aku dua kali tiap dalam satu minggu keluar untuk talaqqi Al-Quran. Tiap hari Ahad dan Rabu. Berangkat setelah azan Zuhur berkumandang dan pulang habis Ashar. Dan ini hari Rabu. Seringkali ia titip sesuatu padaku. Biasanya tidak terlalu merepotkan. Seperti titip membelikan disket, memfotocopykan sesuatu, membelikan tinta print, dan sejenisnya yang mudah kutunaikan. Banyak toko alat tulis, tempat foto copy dan toko perlengkapan komputer di Hadayek Helwan. Jika tidak ada di sana, biasanya di Shubra El-Khaima ada.

SUHU UDARA benar-benar panas. Wajar saja Maria malas keluar. Toko alat tulis yang juga menjual disket hanya berjarak lima puluh meter dari apartemen. Namun ia lebih memilih titip dan menunggu sampai aku pulang nanti. Ini memang puncak musim panas. Laporan cuaca meramalkan akan berlangsung sampai minggu depan, rata-rata 39 sampai 41 derajat celcius. Ini baru di Cairo. Di Mesir bagian selatan dan Sudan entah berapa suhunya. Tentu lebih menggila. Ubun-ubunku terasa mendidih.

Panggilan iqamat (16) terdengar bersahut-sahutan. Panggilan mulia itu terdengar sangat menentramkan hati. Pintu-pintu meraih kebahagiaan dan kesejahteraan masih terbuka lebar-lebar. Kupercepat langkah. Tiga puluh meter di depan adalah Masjid Al-Fath Al-Islami. Masjid kesayangan. Masjid penuh kenangan tak terlupakan. Masjid tempat aku mencurahkan suka dan deritaku selama belajar di negeri Musa ini. Tempat aku menitipkan rahasia kerinduanku yang memuncak, tujuh tahun sudah aku berpisah dengan ayah ibu. Tempat aku mengadu pada Yang Maha Pem beri Rizki saat berada dalam keadaan kritis kehabisan uang. Saat hutang pada teman-teman menumpuk dan belum terbayarkan. Saat uang honor terjemahan terlambat datang. Tempat aku menata hati, merancang strategi, mempertebal azam dan keteguhan jiwa dalam perjuangan panjang.

Begitu masuk masjid...

Wusss!

Hembusan udara sejuk yang dipancarkan lima AC dalam masjid menyambut ramah. Alhamdulillah. Nikmat rasanya jika sudah berada di dalam masjid. Puluhan orang sudah berjajar rapi dalam shaf shalat jamaah. Kuletakkan topi dan tas cangklongku di bawah tiang dekat aku berdiri di barisan shaf kedua. Kedamaian menjalari seluruh syaraf dan gelegak jiwa begitu kuangkat takbir. Udara sejuk yang berhembus terasa mengelus-elus leher dan mukaku. Juga mengusap keringat yang tadi mengalir deras. Aku merasa tenteram dalam elusan kasih sayang Tuhan Yang Maha Penyayang. Dia terasa begitu dekat, lebih dekat dari urat leher, lebih dekat dari jantung yang berdetak.


______________________________________________
1.Rasa malas melakukan sesuatu
2.Belajar langsung face to face dengan seorang syaikh atau ulama 
3.Membaca Al-Quran dengan riwayat tujuh Imam 
4.Ilmu tafsir paling pokok
5.Kereta listrik, disebut juga trem
6.Dengan menyebut nama Allah, aku berserah diri kepada Allah 
7.Semoga Allah melimpahkan berkahn padamu. 
8.Dan semoga Allah juga melimpahkan (berkah-Nya) pada kalian semua. 
9.Daging yang telah dicincang halus dengan mesin
10.juice
11.Tunggu sebentar 
12.Ada apa lagi?
13.Terima kasih
14.Yaitu membaca A'udzubillahi minasy syaithaanir rajiim 
15.Stasiun, terminal
16.Tanda bahwa shalat berjamaah segera didirikan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...