PANASNYA BUNGA MEKAR : 21-02
Sementara itu orang berambut putih itu berkata, “Demikianlah memang yang terjadi di dalam hati kami. Setelah kami mengetahui siapakah tuan-tuan ini, maka kami pun justru telah menyesali perbuatan kami. Kami sama sekali merasa terhina, sementara kewibawaan Akuwu pun tidak tersinggung karenanya. Justru karena yang hadir di sini adalah orang-orang dalam istana Singasari” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “tuan-tuan, jika tuan yang seorang ini telah berada di istana sejak masa pemerintahan Tumapel, bagaimana dengan tuan yang seorang lagi?”
“Aku pun berada di istana sejak masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung” jawab Mahisa Agni.
Namun Witantra telah menambah, “Sama sekali aku beritahukan agar kalian mendapat gambaran yang benar tentang kami bertiga, sehingga tidak akan menyesal bahwa kalian telah melepaskan kami dan tidak menjatuhkan hukuman. Orang ini adalah saudara tua puteri yang menurunkan Maha Prabu di Singasari sekarang ini”
“Jadi?“ orang berambut putih itu terkejut. Demikian juga Akuwu yang masih muda itu.
Meskipun Mahisa Agni menggamitnya, namun Witantra berkata selanjutnya, “Ia adalah saudara tua puteri Ken Dedes”
“Puteri Ken Dedes, isteri Akuwu Tunggul Ametung, yang kemudian menjadi permaisuri di Singasari pada masa pemerintahan Sri Rangga Rajasa Sang Amurwabhumi?” bertanya orang berambut putih itu.
Witantra mengangguk sambil tersenyum. Jawabnya, “Ya Ki Sanak. Tetapi sudahlah, Jangan kau hiraukan. Mungkin ada masalah lagi yang dapat kita bicarakan”
Wajah-wajah nampak menjadi tegang. Orang berambut putih itu pun menjadi tegang, seperti juga Akuwu yang masih muda itu. Beberapa orang Senapati terpenting yang ikut duduk bersama mereka pun menjadi tegang pula dengan jantung yang berdebar-debar.
Hampir setiap orang pernah mendengar tentang Akuwu Tumapel yang terbunuh oleh hambanya yang bernama Kebo Ijo, yang kemudian digantikan oleh seorang anak muda yang disebut sebagai keturunan Dewa Brahma. Yang kemudian berhasil mengalahkan Kediri dan mendirikan Singasari sebagai pusat pemerintahan. Dalam urutan peristiwa itu, tersebut juga seorang puteri yang berpama Ken Dedes.
Dalam pada itu, ternyata kecuali keheranan dan ketegangan yang mencengkam, maka Akuwu, gurunya.dan para Senapati itu pun merasa, adalah satu tindakan yang tergesa-gesa bahwa mereka telah menangkap dan bahkan mengadili orang-orang itu sebelum mereka dengan sungguh-sungguh menelusuri segala peristiwa yang terjadi dan yang telah mereka lakukan.
Tetapi dengan demikian usaha Mahisa Agni teiah berhasil. Bahwa orang-orang yang mengadilinya itu memang harus mencabut keputusannya tanpa mengorbankan wibawanya, karena sebagaimana menjadi satu sikap, bahwa sabda pandita ratu, sekali sudah diucapkan maka tidak akan dapat dicabut lagi.
Namun menghadapi ketiga orang yang ternyata bukan orang kebanyakan itu, mereka tidak dapat berbuat lain, karena mereka tidak ingin berurusan dengan Singasari.
Sementara orang-orang yang keheran-heranan itu masih, termangu-mangu, maka Witantra pun berkata, “Sudahlah. Jangan hiraukan lagi, Kecuali jika masih ada keragu-raguan antara kalian”
“Tidak. Tidak tuan” berkata orang berambut putih itu, “aku percaya bahwa tuan-tuan adalah para pemimpin tertinggi di Singasari. Hal itu ternyata nampak pada kebijaksanaan tuan. Tuan berusaha menghindari benturan kekerasan, karena tuan-tuan tidak ingin membunuh aku. meskipun akan dapat tuan lakukan jika tuan menghendaki. Itu adalah cermin dari satu sikap seorang pemimpin sejati. Justru bukan dengan kekuasan yang ada pada tuan, tetapi dengan sikap yang bijaksana”
“Jangan memuji” jawab Mahisa Agni, “jika kalian mempercayai kami, kami harap bahwa kalian melupakan saja peristiwa yang baru saja terjadi”
“Terima kasih tuan. Jika tuan berkenan memaafkan segala kelancangan kami” jawab orang berambut putih itu.
“Sudahlah” berkata Mahisa Agni, “mungkin ada sesuatu yang lebih penting dibicarakan sekarang ini. Tetapi aku kira, persoalannya terlalu khusus, sehingga aku hanya ingin berbicara dengan Akuwu dan Gurunya”
Akuwu yang masih muda itu menjadi berdebar-debar. Langkahnya yang salah itu memang dapat menggoyahkan kedudukannya. Sementara itu permintaan Mahisa Agni untuk berbicara hanya dengan Akuwu dan gurunya, membuatnya semakin gelisah.
Dalam pada itu, orang berambut putih itu pun minta kepada orang-orang lain yang hadir untuk sementara meninggalkan pertemuan itu, agar mereka dapat berbicara dengan leluasa.
Ketika yang tinggal hanya Akuwu dan orang berambut putih itu, maka Mahisa Agni pun kemudian bertanya, “Ki Sanak. Aku minta maaf. bahwa mungkin sekali pengamatanku keliru. Atau mungkin ada persoalan khusus yang tidak aku ketahui”
Ketika Mahisa Agni berhenti sajenak, Akuwu dan gurunya itu menjadi semakin berdebar-debar.
“Apakah Ki Sanak mengenal atau mengetahui seseorang yang bernama Ki Dukut Pakering?“ bertanya Mahisa Agni kemudian.
Orang berambut putih itu menjadi tegang sejenak. Namun kemudian katanya, “Tuan. Agaknya aku memang tidak pantas untuk berbohong kepada tuan. Karena itu, aku tidak akan ingkar, bahwa aku masih mempunyai hubungan dengan orang yang bernama Ki Dukut Pakering. Bukan maksud kami untuk mengaku justru karena Ki Dukut mempunyai kedudukan yang baik di Kediri, karena kebetulan ia menjadi seorang yang mendapat kepercayaan untuk mengasuh dua orang Pangeran kakak beradik”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih Ki Sanak. Dengan demikian, maka ternyata bahwa Ki Sanak sudah cukup lama tidak bertemu dengan Ki Dukut Pakering dan bahkan tidak mendengar kabar beritanya”
“Kenapa?“ orang berambut putih itu menjadi heran.
“Tetapi apakah Ki Sanak dapat mengatakan hubungan antara Ki Sanak dan orang yang bernama Ki Dukut itu?” bertanya Mahisa Agni.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian. katanya, “Pertanyaan tuan membuat aku menjadi semakin berdehar-debar. Tetapi baiklah. Aku harus memberi penjelasan seperti yang sebenarnya aku mengerti”
“Terima kasih” desis Mahisa Agni.
“Aku memang masih mempunyai sangkut paut dengan Ki Dukut Pakering. Seperti yang aku katakan, bukan karena aku mengaku-aku karena kedudukannya. Tetapi ia memang seorang yang memiliki saluran ilmu seperti yang aku miliki. Ketajaman penglihatan tuan, semakin meyakini aku, bahwa tuan adalah orang yang luar biasa”
“Sudahlah. Jangan memuji. Tetapi bagaimana dengan Ki Dukut itu?“ potong Mahisa Agni.
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tuan. Ki Dukut adalah murid yang terpercaya dari seorang guru yang pilih tanding. Tetapi yang sudah beberapa lama meninggal. Sementara aku adalah murid dari saudara seperguruan dari guru Ki Dukut itu. Karena itu, mungkin tuan melihat beberapa persamaan antara unsur gerak Ki Dukut, karena kami memang bersumber dari perguruan yang sama, Namun dalam perkembangannya, pengaruh pengalaman dan pengamatan setiap murid, maka nampak ada kelainan yang juga semakin berkembang. Sejauh makin jauh hubungan diantara kami maka semakin jauh pula perbedaan-perbedaan yang ada di antara kami”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya apa yang dikatakan oleh orang berambut putih itu. Namun dalam pada itu, Mahisa Agni pun semakin yakin bahwa orang itu tentu sudah lama tidak pernah berhubungan lagi dengan Ki Dukut, sehingga ia tidak mengerti, apa yang telah terjadi atasnya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Agni menganggap perlu untuk memberitahukan hal itu kepada Akuwu dan gurunya segala sesuatu mangenai Ki Dukut Pakering, agar keduanya tidak dapat dibujuknya untuk membantunya melakukan kejahatan lebih jauh lagi.
Ketika Mahisa Agni berbisik ditelinga Witantra, maka Witantra pun mengangguk menyetujuinya.
“Memang ada baiknya” desis Witantra.
Akuwu dan gurunya termangu-mangu sejenak. Mereka melihat Mahisa Agni dan Witantra berbicara.. Justru karena itu mereka tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, maka keduanya menjadi semakin berdebar-debar.
“KI Sanak” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku minta maaf, bahwa aku akan memberikan beberapa keterangan tentang Ki Dukut. Aku tidak akan mengatakan apa-apa jika aku tidak mengetahui bahwa kaliah masih mempunyai sangkut paut dengan Ki Dukut. Namun agaknya keteranganku akan sedikit mengecewakan bagi kalian”
“Kami menjadi berdebar-debar” berkata orang berambut putih itu.
Sejenak kemudian maka Mahisa Agni pun mulai berceritera tentang Ki Dukut. Tentang tingkah lakunya dan tentang ketamakannya. sehingga ia berhasil mangadu kedua Pangeran kakak beradik yang menjadi muridnya itu.
Ternyata berita itu telah mengejutkan. Apalagi ketika Mahisa Agni mengatakan, bahwa Ki Dukut telah menghubungi beberapa pihak, Mula-mula perampok-perampok yang bertebaran di daerah yang jauh dari tangan-tangan para prajurit Singa Sari dan para pengawal di Kediri. Namun usahanya sama sekali tidak berhasil. Kemudian ia telah menghubungi orang-orang dari lingkungan mereka yang berilmu hitam.
“Ki Dukut ternyata telah mempergunakan gelar Rajawali Penakluk” berkata Mahisa Agni kemudian, “agaknya ia ingin menakut-nakuti perampok-perampok yang bertebaran. Namun ternyata ia memang berhasil menghimpunnya”
“Bukan main” desis orang berambut putih itu, “kami sudah pernah mendengar seorang pemimpin perampok yang sangat disegani yang mempergunakan gelar Rajawali Penakluk”
“Itulah Ki Dukut Pakering” desis Mahisa Agni.
“Kami hampir tidak percaya atas berita ini” desis Akuwu, “tetapi seperti yang sudah kami katakan, kami percaya kepada tuan-tuan”
“Karena itu Akuwu” berkata Mahisa Agni, “mungkin Akuwu pernah mendengar kejahatan yang merambah daerah kekuasaan Akuwu yang tidak langsung mempunyai sangkut paut dengan Ki Dukut Pakering”
“Memang mungkin tuan” jawab Akuwu itu.
“Mungkin ia hadir dalam ujud yang berbeda“ berkata Mahisa Agni, Lalu, “Akuwu, sebenarnyalah bahwa perampok yang baru saja ditangkap beramai-ramai itu pun mempunyai hubungan dengan Ki Dukut pada mulanya. Ketika Ki Dukut mencari pendukung dari para perampok-perampok yang tersebar. Namun yang ternyata tidak memenuhi keinginannya”
“Dari mana tuan tahu?“ bertanya orang berambut putih itu.
“Mereka menyebut-nyebut Rajawali Penakluk, meskipun sudah lama orang yang menamakan dirinya Rajawali itu tidak kunjung datang” jawab Mahisa Agni.
Akuwu mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Kami sekarang menjadi semakin gamblang. Kami masih harus mohon maaf berulang-kali”
“Sudahlah, jangan diulang lagi. Yang penting, Akuwu aku monon berhati-hati. Mungkin pada suatu saat Ki Dukut akan datang kemari jika ia sadar, bahwa guru Akuwu masih mempunyai hubungan perguruan” berkata Mahisa Agni kemudian.
“Terima kasih” desis Akuwu itu, “kami sangat berterima kasih atas segala keterangan yang sudah tuan berikan. Kami akan berhati-hati menghadapi segala kemungkinan”
“Ya. Mudah-mudahan orang itu tidak datang lagi kemari“ berkata Mahisa Agni. Tetapi kemudian katanya, “Namun Akuwu, pada suatu masa Ki Dukut pernah juga mohon bantuan beberapa orang pemimpin padepokan. Mungkin satu dua diantara mereka berada didalam wilayah kekuasaan Akuwu. Karena itu, maka agaknya masih perlu bagi Akuwu untuk mengumpulkan keterangan tentang kemungkinan yang tidak diharapkan, mungkin kemarahan Ki Dukut terhadap para pemimpin padepokan yang tidak, bersedia membantunya dengan-sepenuh hati”
Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata, “Kami akan melakukannya”
“Terima kasih“ berkata Mahisa Agni. Lalu, “agaknya keterangan yang aku harapkan tentang Ki Dukut masih belum dapat terpenuhi, karena sebenarnyalah aku. ingin mencarinya dan berbicara dengan orang itu dengan cara apapun juga. Karena itu, maka agaknya masalah-masalah yang timbul pada kami bertiga telah tidak akan berkepanjangan”
“Ya, ya tuan” jawab Akuwu yang masih muda itu, “segalanya sudah jelas, Kami mohon maaf”
“Kami pun mohon maaf” jawab Mahisa Agni. Lalu, “kami akan mohon diri. Kami harap masalah Ki Buyut dan para perampok itu dapat diselesaikan sebaik-baiknya. Salam kami kepada para penghuni Kabuyutan itu”
Orang berambut putih itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kami akan menemui para pemimpin Kabuyutan itu menjelaskan apa yang telah terjadi, dan siapakah tuan-tuan itu sebenarnya”
“Itu tidak perlu” jawab Mahisa Agni.
”Tetapi jika tuan tidak berkeberatan, biarlah mereka pun mengetahui, kenapa kami tidak bertindak lebih jauh atas tuan-tuan, karena sebenarnyalah bahwa kami tidak mempunyai wewenang untuk melakukannya,, “jawab terang berambut putih itu.
Mahisa Agni tersenyum. Karena itu, maka ia tidak menslaknya lagi. Katanya, “Silahkan Ki Sanak. Nampaknya ada juga baiknya bagi Akuwu”
Kemudian sekali lagi Mahisa Agni mohon diri sambil berpesan, bahwa Ki Dukut itu harus dihadapi jika ia memang berada di daerah kekuasaan Akuwu ”Untunglah di sini ada seseorang yang mampu mengimbanginya sehingga karena, itu, maka jika terjadi sesuatu, daerah ini tidak akan terlalu mengalami kecemasan” berkata Mahisa Agni.
“Setidak-tidaknya, kami mempunyai sepasukan pengawal. Betapapun tinggi ilmunya, jika kami serentak menghadapinya, maka ia akan kehilangan kesempatan” jawab orang berambut putih itu.
“Demikianlah, maka Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan itu pun telah meninggalkan Pakuwon itu. Meskipun ada juga kejengkelan di hati Mahisa Bungalan, namun ia harus menerima segalanya yang telah terjadi.
“Sebenarnya aku ingin melihat orang tua itu membentur ilmu paman Mahisa Agni” berkata Mahisa Bungalan di dalam hati, “dengan demikian ia akan yakin, tanpa memberi penjelasan panjang lebar. Dan dengan demikian, orang-orang Pakuwon itu tidak akan dapat menghindari satu penyesalan atas kesombongan mereka”
Tetapi Mahisa Agni ternyata mengambil sikap lain. Ia telah berusaha mencegah benturan yang terjadi, sehingga orang-orang yang berada di seputar arena tidak dapat melihat satu bukti bahwa guru Akuwu muda itu sama sekali tidak berarti bagi Mahisa Agni.
Namun Mahisa Bungalan pun kemudian berdesis di dalam hati, “Mungkin paman Mahisa Agni menjadi cemas, jika orang itu mati”
Meskipun perasaan itu masih saja bergejolak, namun Mahisa Bungalan tidak mengatakannya kepada Mahisa Agni maupun kepada Witantra.
Dalam pada itu, sepeninggal Mahesa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan, maka Akuwu pun menjadi gelisah.
Ia menjadi cemas bahwa sikapnya itu akan dapat mempengaruhi kedudukannya yang masih harus mendapat pengesahan dari Singasari.
“Tetapi nampaknya mereka bukan pendendam” berkata gurunya, “karena itu, mereka tidak akan mempergunakan peristiwa ini sebagai alasan untuk menggagalkan kedudukanmu”
Akuwu yang masih muda itu mengangguk-angguk. Katanya. Mudah-mudahan. Tetapi yang termuda di antara mereka itu nampaknya mempunyai sikap tersendiri”
“Itu hanya karena kemudaannya saja“ jawab gurunya, “tetapi ia pun orang baik seperti juga kedua orang yang lain” gurunya berhenti sejenak, lalu, “sebaiknya kau tidak memikirkannya. Lebih baik kita menyelesaikan masalah Kabuyutan yang telah menjadi ribut itu”
“Aku akan pergi sendiri ke Kabuyutan itu“ berkata Akuwu yang masih muda itu.
“Pergilah. Tetapi jangan tergesa-gesa mengambil satu sikap jika kau belum yakin akan sikap itu. Kau akan melihat bukan saja sekelompok perampok yang tertangkap, tetapi kau akan mengalami persoalan lain. Beberapa-orang yang kebetulan memegang jabatan di Kabuyutan itu, termasuk KI Buyut sendiri, justru adalah orang-orang yang telah mengacaukan Kabuyulun itu”
“Ya guru” jawab Akuwu, “aku akan melihat segalanya”
Demikianlah, maka Akuwu itu pun segera berkemas. Tubuhnya masih terasa nyeri dibeberapa bagian. Tetapi ia merasa bahwa ia telah pulih kembali.
Beberapa orang Senapati dan pengawal telah diperintahkannya untuk mengikutinya, karena mereka akan membawa para perampok itu untuk mendapatkan pengadilan. Tetapi juga para pemimpin Kabuyutan yang telah melakukan kecurangan itu harus mendapatkan hukumannya. Sejenak kemudian, maka kuda pun telah berderap meninggalkan istana Akuwu yang masih muda itu. Diiringi oleh para pengawal lengkap dengan tanda-tanda kebesaran seorang Akuwu, mereka telah menyusuri jalan-jalan menuju Kabuyutan yang sedang diselubungi oleh kabut yang suram itu.
Kedatangan, Akuwu telah mengejutkan beberapa orang di padukuhan itu. Sementara itu mereka baru saja dikejutkan oleh isyarat yang mendebarkan. Justru setelah tiga orang yang telah menolong mereka dibawa oleh seorang Senapati yang mendapat limpahan kekuasaan dari Sang Akuwu.
Dengan hati yang berdebar-debar, maka Ki Demung dan Ki Perapat telah menyambut kedatangan Akuwu yang masih muda itu di rumah Ki Buyut yang justru sedang berada didalam tahanan itu.
Namun mereka menjadi semakin gelisah ketika mereka melihat wajah Akuwu muda itu nampak gelap. Meskipun demikian, Ki Demung telah memberanikan diri untuk mengucapkan selamat datang kepada Akuwu itu.
Tetapi jawaban Akuwu memang mendebarkan. Katanya tanpa menanggapi kata-kata Ki Demung, “Bawa Ki Buyut kemari, aku ingin berbicara”
Ki Demung pun kemudian telah mengambil Ki Buyut dari biliknya dan membawanya menghadap Akuwu yang masih muda itu. Dengan hati berdebar-debar, maka Ki Demung pun kemudian berkata, “Sang Akuwu, inilah Ki Buyut yang tuanku kehendaki menghadap”
Akuwu yang masih muda itu mengangguk-angguk. Kegelisahannya karena sikapnya yang terlanjur atas Mahisa Agni, membuatnya berwajah muram dan bersikap keras terhadap siapapun.
“Kaukah yang telah membuat Kabuyutanmu sendiri menjadi kisruh?“ bertanya Akuwu dengan nada keras pula.
Ki Buyut mengangkat wajahnya. Untuk beberapa saat ia memandang wajah Sang Akuwu yang masih muda itu. Baru kemudian ia menjawab, “Ampun Akuwu. Hambalah Buyut dipadukuhan ini”
Ki Demung dan Ki Perapat pun menjadi gelisah. Beberapa orang lain pun menjadi gelisah pula. Apalagi ketika, pertanyaan Akuwu menurun, “Apakah benar kau telah melakukan suatu perbuatan tercela, seperti yang dilaporkan oleh seorang Senapati yang aku utus datang kemari?”
“Sebenarnyalah, bahwa hamba tidak ingin merusakkan kesejahteraan yang sudah hamba rintis di atas tanah Kabuyutan ini tuanku“ jawab Ki Buyut.
Orang-orang yang ikut hadir itu pun menjadi semakin berdebar ketika mereka mendengar Akuwu bertanya, “Jadi, bagaimana menurut pendapatmu, bahwa beberapa pihak di Kabuyutan ini menganggap bahwa kau telah melakukan kesalahan. Bahkan kau telah bekerja bersama dengan, sekelompok perampok justru untuk merampok orang-orang yang berada di Kabuyutanmu sendiri”
Sekali lagi Ki Buyut menatap mata Akuwu yang masih muda itu. Kemudian sambil tersenyum Ki Buyut berkata, “Sebagaimana penilaian tuanku”
Akuwu itu pun kemudian memandang Ki Demung, Ki Perapat dan beberapa orang lain yang berada di tempat itu. Dengan suara lantang ia bertanya, “He, apakah benar tuduhan kalian tentang Ki Buyut ini he?“
Ki Demung menjadi sangat gelisah. Dengan suara bergetar ia mencoba menjelaskan, “Seorang Senapati tuanku telah datang untuk memeriksa keadaan di Kabuyutan ini. Senapati itu akan dapat menjadi saksi, apa yang telah terjadi”
“Kau sendiri yakin?“ tiba-tiba saja Akuwu itu justru membentak.
Ki Demung menjadi semakin gelisah. Ia mengerti, tatapan mata Ki Buyut itu dapat memberikan pengaruh Kepada orang lain yang tidak menyadari keadaannya, seperti ia sendiri pernah mengalami”
“Jika saja ketiga orang itu masih berada disini” berkata Ki Demung didalam hatinya. Namun ia pun kemudian menjadi berdebar, karena ketiga orang itu telah dibawa oleh Senapati menehadap Akuwu.
Dalam keragu-raguan itu, tiba-tiba saja Akuwu mendesak dengan nada keras, “Apakah kau yakin?
Ki Demung telah terdesak. Tidak ada kesampatan lagi untuk barpikir. Karena itu, ia pun kemudian menjawab, “Ampun Akuwu, hamba yakin bahwa Ki Buyut telah dengan sengaja ingin mengambil keuntungan lagi dirinya sendiri dari Kabuyutan ini, yang bahkan telah sampai hati melakukan tindakan yang paling keji, dengan memberikan kesempatan perampokan di daerah kekuasaannya”
Akuwu mengerutkan keningnya. Sekilas ia memancang wajah Ki Buyut yang memandanginya pula. Lalu tiba-tiba ia bertanya kepada Ki Demung, “Apakah yang kau lakukan itu bukan sekedar karena pengaruh tiga orang yang baru saja berada di Kabuyutan ini?”
Jantung Ki Buyut menjadi semakin berdebar-debar. Namun ia pun menjawab, “Tidak Sang Akuwu. Tetapi mereka memang, telah membantu kami menangkap orang-orang yang kami anggap bersalah”
“Apakah kau berkata sebenarnya?“ desak Akuwu pula.
“Ya. Hamba yakin” akhirnya suara Ki Demung justru menjadi semakin tegas, justru pada saat kecurigaannya atas pengaruh tatapan mata Ki Buyut terhadap Akuwu yang menjadi semakin kuat.
Bahkan Ki Perapat pun akhirnya tidak dapat tinggal diam. Dengan mantap ia pun berkata, “Hamba pun berpendirian demikian tuanku, sebagaimana sikap orang-orang padukuhan ini pada umumnya”
Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang Ki Buyut maka Ki Buyut pun memandanginya pula dengan tajamnya.
Sejenak suasana menjadi tegang. Ki Damung, Ki-Perapat dan orang-orang yang berada ditempat itu banar-banar talah dicengkam oleh kegelisahan. Jika Ki Buyut berhasil mempengaruhi Akuwu dengan tatapan matanya, maka segalanya akan pecah berserakkan.
“Akuwu masih sangat muda” berkata Ki Demung di dalam hatinya, “mungkin sekali ia belum menemukan kepribadiannya dengan mantap, meskipun ia memiliki ilmu yang tinggi”
Namun kemudian Akuwu itu pun mengangguk-angukan kepalanya sambil berkata, “Sekarang aku telah melihat sendiri apa’ yang terjadi. Aku mengerti, dan aku percaya, bahwa Ki Buyut telah melakukan satu kasalahan yang tidak ada taranya, justru bagi satu daerah kekuasaannya sendiri”
“Tuanku“ Ki Buyut itu terkejut. Dengan tajamnya, ia masih saja menatap mata Akuwu yang memandanginya.
Namun tiba-tiba saja Akuwu berkata, “Jangan mencoba berbuat deksura seperti itu. Jangan kau sangka, aku tidak tahu, apa yang kau lakukan selama ini. Kau kira aku adalah anak-anak yang tidak kuasa mencari keseimbangan. Di dalam diriku sendiri dengan tatapan matamu itu? Aku memang ingin mencoba, apakah kau berlaku jujur atau tidak”
“Ampun tuanku” desis Ki Buyut yang kemudian telah menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Akuwu yang masih muda itu memandang Ki Buyut yang tertunduk. Dengan suara lantang ia berkata, “Ki Buyut. Aku sudah berusaha menahan diri. Hampir saja aku meloncat mencekikmu, ketika aku merasa yakin kau mencoba mempengaruhi aku. Tetapi aku bertahan untuk mengetahui betapa beraninya kau menghina aku dihadapan sekian banyak orang”
Ki Buyut semakin manunduk sehingga kepalanya hampir menyentuh lantai. Dangan suara gemetar ia barkata, “Ampun tuanku. Betapa bodohnya hamba yang berani berbuat demikian di hadapan Akuwu”
“Nah, sebaiknya kau katakan, apa yang sudah kau lakukan di sini” berkata Akuwu kemudian.
Ki Buyut menjadi ragu-ragu.
“Katakan dihadapan orang banyak, sebagaimana kau mencoba merendahkan martabatku dihadapan sekian banyak orang dengan usahamu mempengaruhi aku dengan tatapan matamu” tiba-tiba saja Akuwu yang masih muda itu membentak.
Ki Buyut bergesar setapak surut. Ketakutan yang sangat telah mencengkam jantungnya, sehingga ia pun kemudian mengatakan apa yang sebanarnya telah dilakukannya dihadapan Akuwu dan dihadapan beberapa orang bebahu yang hadir di tempat itu.
Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Pengakuanmu sudah cukup. Kau tidak akan terlepas dari hukuman yang berat. Aku sendirilah yang akan mengetrapkan hukuman itu”
“Ampun tuanku, hamba mohon ampun, “suara Ki Buyut itu menjadi semakin gemetar.
Akuwu tidak menghiraukannya, seolah-olah ia tidak mendengarnya. Kemudian diperintahkannya mamanggil pamimpin perampok yang sudah tertawan pula.
“Bawa mereka bersama para perampok yang lain“ perintah-Akuwu, “aku sendiri akan mengadili mereka esok pagi. Tetapi berhati-hatilah. Ki Buyut yang sempat mengacaukan daerah pamerintahannya sendiri itu senang bermain-main dengan ilmu sihir. Ia dapat mempengaruhi dengan tatapan matanya. Asal itu kalian sadari, kalian tidak akan terpengaruh sama sekali”
Ki Buyut tidak dapat ingkar lagi. Maka para Senopati dan pengawal yang mengikuti Akuwu telah melakukan tugas mereka. Mereka telah mempersiapkan pemimpin perampok dan Ki Buyut untuk dibawa ke Pakuwon, sementara beberapa orang pangawal telah mengambil para perampok yang tartawan pula.
Sementara itu, Ki Demung dan Ki merapat telah di panggil menghadap sacara khusus untuk didengar keterangannya tentang Kabuyutan itu dan terutama tentang tiga orang yang baru saja berada di daerah Kabuyutan itu dan telah membantu meraka mengatasi perampokan yang justru mendapat perlindungan dari Ki Buyut.
“Aku telah melakukan satu kesalahan” berkata Akuwu berterus terang. Lalu, “Aku telah terpengaruh oleh sikap Senapti dan jiara pengawal”
Ki Demung dan Ki Perapat mengangguk-angguk. Katika Akuwu itu menceriterakan apa yang telah terjadi, maka Ki Demung dan Ki Perapat itu menarik nafas dalam!.
“Syukurlah jika sagalanya telah dapat diselesaikan dengan baik” berkata Ki Demung, “hamba pun yakin sejak semula, bahwa ketiganya adalah orang-orang yang memang barbuat kebaikan tanpa pamrih”
“Ya. Dan sekarang segalanya terserah kepada-kalian” berkata Akuwu, “Ki Buyut tidak akan mendapat kan kedudukannya kembali, karena aku tidak yakin, hukuman yang betapapun beratnya akan dapat menyembuhkannya. Karana itu, maka kalianlah yang wajib melakukan sagala usaha untuk memperbaiki keadaan padukuhan-padukuhan yang termasuk dalam daerah Kabuyutan ini”
Perintah Akuwu itu sudah tegas. Karana itu, maka Ki Demung dan Ki Perapat merasa mendapat beban tanggung jawab bagi padukuhan-padukuhan yang tergabung dalam satu Kabuyutan.
Setelah memberikan beberapa penjalasan, maka Akuwu yang telah melihat sendiri keadaan di Kabuyutan itu pun sagera minta diri untuk kembali. Perintahnya pun telah dipertegas pula, menyerahkan sagala sesuatunya kepada Ki Demung dan Ki Perapat.
“Siapa yang menentang kebijaksanaan ini. berarti menantang keputusanku” berkata Akuwu yang masih muda itu.
Sapeninggal Akuwu itu, maka Ki Demung dan Ki Perapat telah mengumpulkan orang-orang terpenting untuk membicarakan kemungkinan menentukan sikap mengulasi kekosongan karena Ki Buyut yang terpaksa dibawa oleh para pengawal Sang Akuwu.
Adalah diluar dugaan mareka, bahwa tiba-tiba saja Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan telah singgah di Kabuyutan mereka. Kedatangan ketiga orang itu ternyata telah disambut dengan sikap yang jauh berbeda dengan sikap mereka sebelumnya, meskipun sebelumnya mereka juga menunjukkan sikap yang baik.
“Kami mohon maaf tuanku” berkata Ki Demung, “kami yang bodoh sama sekali tidak mengetahui siapakah tuanku sabenarnya”
Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan justru menjadi enggan untuk tinggal di Kabuyutan itu karena sikap mereka. Karena itulah, maka mereka pun hanya sekedar memberikan beberapa petunjuk saja, kemudian mereka minta diri untuk melanjutkan perjalanan.
”Agaknya Akuwu telah datang kemari dan berceritera tentang kami” berkata Mahisa Agni.
“Ya tuanku” jawab Ki Demung.
“Baiklah. Lakukanlah pesan Akuwu sebaik-baiknya. Kami akan melanjutkan perjalanan. Mudah-mudahan lain kali kami akan dapat singgah lagi” berkata Mahisa Agni.
Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan tidak dapat mereka tahan lagi untuk bermalam barang satu malam. Ketiganya kemudian meninggalkan bukan saja Kabuyutan itu, tetapi mereka telah melintasi batas dari Kabuyutan yang terbentang di dalam daerah Pakuwon. Mereka tidak lagi diganggu di perjalanan setelah ada isyarat bahwa keadaan tatah dapat dikuasai.
Meskipun masih ada bekas-bekas kesiagaan, tetapi tidak ada lagi yang menegur mereka dan apalagi berusaha menahan mereka meski sebagian besar orang-orang di sepanjang jalan tidak mengenal mereka.
Sejak hari itu, maka mereka telah mulai lagi dengan satu pengembaraan. Meskipun mereka telah bertemu dengan orang-orang yang pernah mengenal nama Rajawali Penakluk dan orang yang memiliki sumber ilmu yang sama dengan Ki Dukut, namun mereka sama sekali tidak mendapat keterangan tentang Ki Dukut itu sendiri.
Dalam pada itu, maka mulailah Mahisa Bungalan teringat lagi kepada sebuah padukuhan kecil yang pernah dikunjunginya dalam pengembaraannya seorang diri. Teringatlah ia kepada padepokan Kenanga dan seorang yang bernama Ki Selabajra. Ia pun teringat pula pada seorang gadis yang mempunyai arti tersendiri di dalam hatinya, Ken Padmi. Namun kemudian Mahisa Bungalan itu pun mengerutkan keningnya. Di padepokan itu, atau setidak-tidaknya dekat dari padepokan itu terdapat seseorang yang bernama Marwantaka.
Mahisa Bungalan sama sekali tidak menjadi gentar. karena nama itu. Tetapi jika kehadirannya di padepokan itu telah menumbuhkan persoalan baru, sebagaimana telah pernah terjadi, maka hal itu sama sekali tidak dikehendakinya.
Meskipun demikian, diluar kehendaknya maka mereka telah menelusuri jalan menuju ke padepokan kecil itu. Jalan itu memang panjang, namun rasa-rasanya tidak akan menjadi hambatan. Apalagi Mahisa Agni dan Witantra sama sekali tidak berbicara tentang arah. Mereka menelusuri jalan yang manapun juga sambil mendengarkan orang berbicara tentang keadaan mereka. Barangkali mereka mendengar seseorang menyebut nama Ki Dukut Pakering.
Tetapi rasa-rasanya Mahisa Bungalan seperti orang yang terbangun dari mimpinya ketika tiba-tiba saja ia berada di ujung bulak panjang menghadap ke sebuah padepokan di kejauhan. Seolah-olah ia telah terlempar begitu saja ke sebuah padepokan yang pernah dihuninya meskipun hanya sangat singkat. Watu Kendeng.
Di luar sadarnya pula Mahisa Bungalan telah menarik kandali kudanya, sehingga dengan demikian maka Mahisa Agni dan Witantra pun telah berbuat serupa pula dan berhenti di belakang Mahisa Bungalan.
“Apa yang kau lihat?“ bertanya Mahisa Agni, “apakah kau melihat Ki Dukut berlari-lari di pategalan?”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun menjawab, “Di depan kita adalah padepokan Watu Kendeng”
“Kau mengenal padepokan itu?“ bertanya Mahisa Agni.
“Aku pernah tinggal di padepokan itu dalam satu pengembaraan” jawab Mahisa Bungalan.
“Apakah kita akan singgah?“ bertanya Mahisa Agni.
Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Baru sejenak kemudian ia menjawab, “Apakah ada keuntungannya kita singgah?“
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Terasa pertanyaan itu agak janggal. Meskipun demikian Mahisa Agni menjawabjuga, “Kita telah singgah di banyak padukuhan. Di kedai-kedai atau bahkan kadang-kadang kita berbicara dengan orang-orang yang tidak kita kenal dan justru mencurigai kita. “Tetapi jika kita sudah kenal isi padepokan itu, bukankah kita akan dapat berbicara dengan mereka. Syukur jika mereka pernah mendengar sesuatu tentang Ki Dukut. Tetapi jika tidak, kita dapat mempererat hubungan yang sudah lama kau mulai”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Beberapa padepokan di sekitar daerah ini pernah dikunjungi oleh Ki Dukut. Beberapa di antara mereka kita temui di padepokan Ki Kasang Jati, saat mereka dikelabui oleh keterangan palsu Ki Dukut Pakering”
“Dan kita pernah mencemaskan, bahwa dendam Ki Dukut akan membakar daerah ini” desis Witantra.
“Ya” jawab Mahisa Bungalan.
“Jika demikian, alangkah baiknya jika kita singgah” berkata Wjlantra kemudian.
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam Padepokan itu memberikan satu kenangan tersendiri. Ki Watu Kendeng pernah menganggapnya sebagai anak sendiri.
“Baiklah” berkata Mahisa Bungalan kemudian, “kita akaa singgah di padepokan kecil itu. Mudah-mudahan segalanya belum berubah. Aku sudah lama tidak mengunjunginya”
Demikianlan maka ketiga orang itu pun kemudian berkuda perlahan-lahan melintasi bulak panjang. Sabuah padukuhan yang besar yang terletak beberapa puluh tonggak dari bulak itu nampak sepi. Namun demikian, ada juga satu dua orang yang masih nampak berada di sawah mereka”
“Padepokan itu berada di luar Kabuyutan yang meliputi padukuhan yang cukup besar itu” berkata Mahisa Bungalan.
“Ya. seperti pada umumnya padepokan” desis Witantra, “namun demikian, bukankah selalu ada hubungan timbal balik antara padepokan itu dengan Kabuyutan ini?”
“Ya” jawab Mahisa Bungalan yang menjadi semakin berdebar ketika mereka menjadi samakin mendekati padepokan itu. Padepokan yang dilingkari dengan dinding batu yang cukup tinggi.
Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu pun telah berada di pintu gerbang padepokan yang tertutup meskipun tidak terlalu rapat. Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan kemudian meloncat turun dari kudanya dan perlahah-lahan mendorong pintu gerbang itu.
Tetapi, Mahisa Bungalan terkejut ketika ia melihat beberapa orang cantrik yang telah siap dengan senjata, di tangan. Demikian pintu itu terbuka, maka senjata-senjata itu pun telah teracu kepada Mahisa Bungalan.
Mahisa Bungalan mundur selangkah. Tetapi ia sama sekali tidak menanggapi hulu senjatanya. Apalagi ketika ia melihat seorang di antara para cantrik itu pernah dikenalnya.
Namun agaknya cantrik itu pun telah mengenalnya pula. Karena itu, maka ia pun melangkah ke depan. Senjatanya pun tertunduk ketika ia bertanya, “Apakah aku berhadapan dengan Mahisa Bungalan”
“Ya” jawab Mahisa Bungalan, “kau masih mengenal aku?“
“Tentu, tentu” jawab orang itu. Lalu ”Marilah, masuklah. Dengan siapa kau datang? Dangan ayahmu?“
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun menggeleng sambil menjawab, “Bukan, bukan ayahku. Tatapi keduanya adalah pamanku”
Dengan gembira Ki Watu Kendeng menerima ketiga tamunya.
“Marilah. Kami persilahkan kalian masuk“ cantrik itu mempersilahkan.
Dalam pada itu, cantrik itu pun segera menghadap Ki Watu Kendeng dan melaporkan, siapakah ketiga orang yang telah memasuki regol halaman.
“Mahisa Bungalan. Jadi Mahisa Bungalan benar? telah datang ke padepokan ini” bertanya Ki Watu Kendeng.
“Ya. Bersama kedua orang pamannya” jawab cantrik itu.
Ki Watu Kendeng pun dengan tergesa-gesa telah menyongsong ketiga orang tamunya. Setelah menyerahkan kuda mereka kepada cantrik yang berada di halaman, maka ketiganya pun telah dipersilahkan naik ke pendapa.
Dengan gembira Ki Watu Kendeng menerima ketiga tamunya. Setelah mengucapkan salamat datang dan saling bertanya tentang keselamatan masing-masing, maka Ki Watu Kendeng itu pun berkata, “Aku tidak menyangka, bahwa suara perenjak di halaman samping rumah itu telah menuntun Ki Sanak berdua serta angger Mahisa Bungalan datang ke padepokan yang sangat jauh ini”
“Bukanlah aku pernah barjanji untuk datang“ sahut Mahisa Bungalan.
“Ya. Dan sekarang kau telah memenuhi janji” desis Ki Watu Kendeng.
Sesaat pembicaraan berkisar tentang keadaan padepokan itu selama saat-saat terakhir. Sawah yang semakin subur dan hasil panenan yang terlimpah.
Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun berkata, “Selain kesuburan yang meningkat, nampaknya pengawalan pun telah meningkat pula”
Ki Watu Kendeng mengerutkan keningnya. Katanya, “Ah, agaknya hal itu bukannya satu kebanggaan bagi kami.
“Apa yang telah terjadi?“ bertanya Mahisa Agni.
Ki Watu Kendeng termangu-mangu sejenak. Namun katanya kamudian, “Ah, kalian baru saja datang. Biarlah kalian beristirahat barang satu dua hari. Nanti kalian akan mendengar sendiri, apa telah terjadi di daerah ini”
”Tetapi, alangkah gelisahnya kami selama satu dua hari itu” sahut Mahisa Bungalan, “aku kira lebih baik bagi kami untuk mendengarkannya sakarang. Baik atau buruk, tetapi kami tidak lagi gelisah dan dicengkam oleh perasaan ingin tahu”
Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Tetapi sebaiknya setelah kalian sempat meneguk minuman yang akan dihidangkan.
Ketiga orang tamu itu pun tidak memaksa. Mereka harus bersabar menunggu minuman dan makanan dihidangkan.
Baru kemudian Ki Watu Kendeng berkata, “Adalah diluar keinginan kita semuanya, para penghuni padepokan yang berada di sekitar daerah, ini bahwa harus terjadi perpecahan yang gawat di antara kami”
“Perpecahan yang bagaimana?“ bertanya Witantra.
“Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Bunga itu sedang mekar. Namun rasa-rasanya mekarnya bunga itu telah memanasi udara sekitarnya”
Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Sementara itu, Ki Watu Kendeng dengan serta merta berkata, “Tetapi bukan salahnya bunga itu sendiri”
Tiba-tiba saja diluar sadarnya Mahisa Bungalan berdesis, “Apakah yang Ki Watu Kendeng maksudkan adalah Ken Padmi?“
“Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita yang berada di padepokan ini pun telah merasakan panasnya bunga yang sedang mekar itu”
“Apa yang talah terjadi?“ Mahisa Bungalan mendesak.
“Aku pun tidak ingin menyalahkan ngger. Tetapi jika semuanya telah diselesaikan saat itu, aku kira tidak akan terjadi kesibukan seperti sekarang ini, sehingga padepokan yang sudah tidak bersangkut paut ini pun selalu bersiaga menghadapi segala kemungkinan”
“Ya. Tetapi apa yang telah terjadi?“ desak Mahisa Bungalan yang tidak sabar lagi.
Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah Mahisa Bungalan yang tegang. Kemudian wajah kedua orang yang disebut sebagai pamannya itu.
Mahisa Agni dan Witantra pun menunggu keterangan Ki Watu Kendeng itu dengan berdebar-debar. Serba sedikit keduanya pernah juga mendengar pengakuan Mahissa Bungalan tentang seorang gadis Padepokan yang-bernama Ken Padmi. Keduanya pun mengetahui bahwa pengembaraan Mahisa Bungalan itu ada hubungan dengan sentuhan perasaannya atas gadis itu”
Karena itu, maka seperti Mahisa Bungalan, keduanya pun segera ingin tahu, apa yang telah terjadi.
“Angger Mahisa Bungalan” berkata Ki Watu Kendeng, “sepeninggalmu, ada beberapa orang telah mencoba merebut hati gadis padepokan Kenanga itu. Gemak Werdi tidak dapat bertahan terlalu lama. Kemudian hadir seorang anak muda yang kaya raya, yang tinggal tidak terlalu jauh dari padepokan itu, Seorang anak muda yang gagah dan tampan dihiasai dengan kekayaan yang melimpah. Tetapi anak muda itu nampaknya terlalu kasar sikap dan tingkah lakunya. Dianggapnya gadis padepokan itu dapat diperlakukan dengan sekehendak hatinya dengan uangnya yang melimpah”
“Marwantaka?“ potong Mahisa Bungalan.
“Bukan. Bukan ngger” jawab Ki Watu Kendeng, “Marwantaka datang kemudian. Ia sempat tinggal di padepokan Kenanga. Bahkan masih ada nama-nama lain yang dapat disebut. Tetapi pertentangan yang paling tajam justru terjadi pada Marwantaka dan anak orang kaya raya itu”
“Siapakah namanya?“ bertanya Mahisa Bungalan.
“Wiranata” jawab Ki Watu Kendeng. Lalu persaingan antara kedua anak muda itu telah pemuncak. Marwantaka memang mempunyai kekuatan dengan padepokannya, gurunya dan orang-orang lain yang mempunyai hubungan langsung atau tidak langsung. Sementara Wiranata yang merasa dirinya pernah berguru kepada seseorang yang pilih tanding itu pun telah menghimpun kekuatan pula. Dengan uangnya ia tidak sulit mendapatkan kawan untuk memusuhi Marwantaka”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Lalu apakah hubungannya dengan padepokan ini?”
Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Selabajra menjadi kebingungan. Kedua belah pihak yang sudah menghimpun kekuatan itu telah mengancam padepokan Kenanga. Jika padepokan Kenanga menolak, maka yang akan terjadi adalah pertumpahan darah. Karena kegelisahannya dan pemecahan yang sampai saat ini belum ditemukan, maka Ki Selabajra minta, agar aku dapat membantunya. Setidak-tidaknya untuk ikut serta melindungi padepokan Kenanga dari kemusnahan”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah, “Dengan demikian Watu Kendeng terpaksa berhadapan pula dengan kedua belah pihak yang sedang bermusuhan itu”
Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak dapat ingkar. Meskipun hubungan antara Watu Kendeng. dengan Padepokan Kananga pernah diwarnai dengan sikap keluargaku yang buram, namun aku tidak dapat menolak permintaannya. Aku berusaha untuk membantunya”
“Apa yang akan dilakukan oleh padepokan ini?“ bertanya Mahisa Bungalan.
“Keadaan padepokan Kenanga memang sudah parah. Ada orang-orang lain yang sebenarnya terlibat. Tetapi mereka yang tidak dapat dengan terang-terangan melontarkan kekuasannya karena gadis Padepokan itu menolaknya, telah menyiramkan minyak ke dalam api. Mereka seolah-olah ingin melihat, padepokan Kenanga itu mengalami bencana justru karena gadis itu” berkata Ki Watu Kendeng. Lalu, “Dengan demikian ada dua kemungkinan yang dapat dilakukan. Apakah kami dari Watu Kendeng untuk sementara berada di padepokan Kenanga, atau para penghuni padepokan Kenanga untuk sementara berada di Watu Kendeng”
“Apakah itu satu penyelesaian?“ bertanya Mahisa Bungalan.
“Penyelesaian sementara. Jika pertentangan antara. Marwantaka dan Wiranata mereda, atau salah satu di antara mereka telah menarik niatnya, maka aku kira keadaan akan menjadi tenang kembali” jawab Ki Watu Kendeng.
“Dan Ken Padmi akan menerima salah seorang dari keduanya?“ Mahisa Bungalan bertanya dengan serta merta.
“Aku tidak tahu“ jawab Ki watu Kendeng, “tetapi gadis itu sudah waktunya mengakhiri masa gadisnya. Ia. tidak dapat terus menerus mendekap diri dalam kerinduannya atas satu masa yang tidak akan kunjung datang”
“Apakah maksud Ki Watu Kendeng?“ bertanya Mahisa Bungalan.
Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak dapat mengatakan apa-apa ngger. Tetapi demikianlah keadaan kami sekarang. Kami memang sedang menunggu keputusan terakhir dari Ki Selabajra. Dan kami pun telah bersedia untuk memenuhinya, seandainya Ki Selabajra minta kami datang kepadepokannya untuk melindungi Ken Padmi dan tindakan kekerasan. Dan kami di sini pun telah siap menerima mereka, seandainya mereka merasa lebih tenang berada disini”
Wajah Mahisa Bungalan menjadi tegang. Di luar sadarnya ia berpaling kepada kedua pamannya, seolah-olah minta pertimbangan mereka.
Ki Watu Kendeng pun nampaknya berpengharapan, bahwa kehadiran mereka akan membantu mengatasi keadaan. Namun ia merasa kecewa, bahwa Mahisa Bungalah tidak datang bersama ayahnya.
“Ki Watu Kendeng“ berkata Mahisa Agni kemudian, “apakah keadaan yang gawat itu memang sudah mendesak?”
“Aku kira memang demikian” jawab Ki Watu Kendeng, ”tetapi aku masih menunggu hubungan dengan Ki Selabajra”
Mahisa Bungalan manjadi berdebar-debar. Ternyata ia hadir pada waktu padepokan itu memerlukannya. Akan tetapi ia tidak tahu, bagaimanakah tanggapan yang bernama Ken Padmi itu sendiri. Apakah gadis itu merasa bahwa kehadirannya akan dapat menjernihkan suasana, atau justru sebaliknya.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar