Jumat, 19 Februari 2021

AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 22

22


PESTA KECIL TAK TERDUGA


Siang itu matahari bersinar terang. Musim panas benar-benar terasa. Brenda berangkat kerja dengan pakaian serba minim dan terbuka. Nenek Catarina menggelar tikar dan berjemur di rerumputan di samping rumahnya.

Fahri berdiri di jendela kamarnya mengamati suasana. Ia melepas penat pikiran setelah menulis artikel ilmiah untuk sebuah jurnal ilmiah di Amerika. Dhuhur masih setengah jam lagi. Fahri bersiap hendak turun mengajak paman Hulusi ke Edinburgh Central Mosque sekaligus makan siang. 

Namun ujung matanya menangkap sebuah mobil sedan merah memasuki ujung jalan kawasan Stoneyhill Grove. Ia seperii mengenal mobil itu. Ia mengingat-ingat. Mobil itu berhenti tepat di halaman rumah Fahri. 

Samar-samar dari kaca depan mobil Fahri melihat perempuan muda berjilbab duduk memegang kemudi. Itu Heba. Ya benar, itu mobilnya Heba. Dada Fahri berdenyar ketika melihat gadis berjilbab yang duduk disamping Heba. Ia seperti tidak percaya.

Heba membuka pintu mobilnya dan keluar, diikuti gadis berjilbab di sampingnya. Itu Hulya. Ya, Hulya. 

Heba datang bersama Hulya. Bagaimana mereka bisa secepat itu akrab? Dua gadis berjilbab itu berjalan menuju pintu rumah. Fahri menghela nafas. Dalam hati ia bertanya, ada apa mereka datang siang-siang begini?

Terdengar bel berdenting-denting. Lalu sejurus kemudian pintu berderit dibuka. Suara Paman Hulusi mempersilakan dua gadis itu duduk. Lalu langkah paman Hulusi menaiki tangga yang terbuat dari kayu. 

Pintu kamar kerja Fahri diketuk. Fahri kembali menghela nafas dan mempersilakan Paman Hulusi masuk.

"Hoca, ada nona Heba dan nona Hulya berkunjung?"

"Saya baru saja mau mengajak Paman Hulusi ke masjid untuk shalat dhuhur."

"Jadi bagaimana Hoca?"

"Katakan pada mereka apa mereka berkenan menunggu kita shalat dhuhur di masjid. Mereka bisa shalat dhuhur di rumah."

"Kalau mereka tidak bisa?"

"Tanyakan saja inti mereka datang mau apa, lalu suruh pulang."

"Suruh pulang?"

"Iya."

"Apa itu tidak keterlaluan Hoca?"

"Apa keterlaluannya? Seandainya mereka mengetuk pintu terus tidak kita ijinkan masuk juga tidak apa-apa. Mereka datang di waktu yang kurang tepat. Juga tidak ada janji."

"Apa sebaiknya tidak Hoca temui dulu?"

"Sabina ada?"

"Ada. Minta Sabina siapkan minum dan temani mereka. Paman siap-siap, kita segera keluar untuk shalat dhuhur. Saya mau jadi tuan rumah yang baik memuliakan tamu, semoga mereka bisa jadi tamu yang baik. Sampaikan kepada mereka, waktu shalat dhuhur sebentar lagi datang mereka diminta menunggu, kita mau shalat dhuhur dulu."

"Baik Hoca, saya akan sampaikan."

Paman Hulusi keluar dari kamar itu dan turun ke ruang tamu menyampaikan semua pesan Fahri. Pelan Fahri mendengar suara Heba yang menjelaskan dia bisa mengerti dan bisa menunggu sampai selesai shalat dhuhur, kebetulan ia punya cukup waktu. Fahri mengambil air wudhu lalu berkemas dan turun ke bawah.
Fahri sampai di ruang tamu ketika Sabina menyuguhkan jus orange kepada dua tamu itu. Fahri mempersilakan tamunya untuk minum dan menunggu ditemani Sabina. Ia dan Paman Hulusi akan ke masjid dulu.

"Silakan kami akan menunggu." Jawab Heba sambil tersenyum.

"Kalau mau shalat di sini bisa. Biar Sabina yang siapkan tempatnya." Kata Fahri.

Sabina mengangguk. 

"Ya baik." Jawab Heba lagi.

Fahri dan Paman Hulusi lalu bergegas ke Edinburgh Central Mosque dengan mobil SUV BMW putih. 
Mereka sampai di dalam masjid, tepat ketika imam mengucapkan takbiratul ihram. Selesai shalat Fahri tidak jadi makan siang di kantin masjid.

"Kita langsung pulang Hoca?"

"Iya. Tapi lewat resto dan minimarket Agnina Minimarket. Saya mau bicara dengan Brother Mosa sebentar sekalian pesan makan siang untuk tamu-tamu kita."

"Baik Hoca."

Paman Hulusi mengendari mobil SUV putih itu meninggalkan jantung kota Edinburgh ke arah timur menuju Musselburgh. Sampai di tempat parkir Agnina, Fahri langsung menemui Mosa sementara Paman Hulusi pesan enam bungkus makanan untuk dibawa pulang.

"Perkembangan urusan legal formal Sabina bagaimana. Brother Mosa?"

"Alhamdulillah, lancar tidak ada masalah. Karena jaminan yang kita berikan sangat cukup dan dibantu pengacara-pengacara handal semua urusan lancar. Tiga hari lagi jadwal untuk membawa Sabina untuk wawancara dan pengambilan sidik jari. Nanti seorang pengacara bernama Rebecca Freedman akan 
mendampingi Sabina."

"Alhamdulillah."

"Kalau urusan administrasi sekolah Jason?"

"Semua beres."

"Alhamdulillah."

"Apa kau tidak berniat menikah Brother Mosa?"

"Kenapa kau tanyakan ini, Brother Fahri?"

"Saya lihat Anda pemuda yang berdedikasi, dan sudah saatnya menikah."

"Saya tentu saja ingin menikah, tapi belum berjumpa dengan jodoh yang tepat."

"Kalau ada yang tepat?"

"Dengan senang hati. Anda sendiri bagaimana, Brother Fahri? Apakah akan terus seperti ini? Maaf saya banyak mendapat cerita Anda dari Paman Hulusi. Sungguh saya ikut prihatin."

"Lelaki tua itu memang tidak bisa menjaga mulut."

"Saya rasa Paman Hulusi bukan tidak bisa menjaga mulut, dia hanya perlu teman bicara. Dan saya lihat dia juga pilih-pilih bercerita pada orang, tidak sembarang orang. Di tempat saya apa saja yang diceritakan Paman Hulusi insya Allah aman."

"Terima kasih, Brother Mosa."

"Jadi Anda sendiri bagaimana? Anda belum jawab."

"Saya menunggu takdir terbaik dari Allah."

"Saya doakan, semoga Allah memberikan yang terbaik."

"Amin."

Fahri melihat jam tangannya lalu pamit. Paman Hulusi sudah menunggu di mobil. Sepuluh menit kemudian mobil itu sudah tiba di halaman rumah Fahri. Paman Hulusi mengiringi Fahri masuk rumah sambil menenteng bungkusan makan siang. Dengan cekatan Sabina sadar gerakan, ia meminta 
bungkusan itu dan membawanya ke dapur. Perempuan bersuara serak dan berwajah buruk itu menata makanan di mangkok dan piring dengan rapi lalu menyajikan di atas meja ruang tamu.

"Silakan dimakan seadanya. Paman Hulusi, Sabina, sekalian makan bersama."

Sabina duduk disamping Hulya. Heba menyendok Nasi Biryani dan menumpahkan ke piringnya. Hulya mengikutinya. Mereka pun makan bersama dengan khidmat.

"Jadi apa keperluan kalian kesini?" Tanya Fahri sambil mengunyah makanannya pelan-pelan.

"Saya hanya membantu mengantarkan Hulya. Setelah acara itu saya dan Hulya seperti jadi teman akrab. Hulya tanya saya apa tahu rumah Brother Fahri, saya jawab saya tahu. Dia minta diantar ke sini." Terang Heba dengan tenang.

'Ada yang bisa saya bantu,Hulya?"

"Alhamdulillah, semua urusanku sudah beres. Tempat tinggal juga sudah dapat, saya sudah cocok besok tinggal teken kontrak. Terus terang saya kesini karena penasaran." Jawab Hulya.

"Penasaran?"

"Iya."

"Penasaran apa?

"Penasaran dengan orang yang banyak dibicarakan oleh ayah saya dan kakak saya, Ozan."

"Penasaran dengan saya maksudnya?"

"Iya."

"Penasaran dengan apanya pada diri saya?"

"Penasaran dengan cara hidupnya. Kata kakak saya katanya tidak mau hidup mewah. Luar biasa setianya pada Aisha. Sangat disiplin. Sangat berempati. Dan lain sebagainya dan sebagainya."

"Ozan itu terlalu berlebihan ia salah menilai saya. Hidup saya tidak seperti itu. Saya suka kemewahan. 
Saya tidak bisa disiplin. Saya tidak layak dipenasarani oleh siapapun. Anda sia-sia datang kemari."

"Boleh saya tanya?"

"Silakan."

"Perempuan itu siapa?"

"Sabina."

"Ya saya tahu namanya Sabina. Tapi dia siapa?"

"Dia seorang muslimah."

"Saya tahu itu, maksud saya dia itu sebenarnya siapa? Dia apanya Anda? Saudara kandung Anda atau siapa?"

"Bukan siapa-siapa saya. Dia saudara seiman."

"Kenapa dia Anda bawa kemari?"

"Apa-apaan ini? Kenapa Anda menginterogasi saya?"

"Saya penasaran saja. Kakak saya, Ozan cerita, Anda sangat setia kepada Aisha dan katanya menolak semua tawaran, tapi Anda membawa perempuan ini hidup bersama Anda, meskipun kamarnya ada di basement."

"Biar Paman Hulusi yang menjelaskan."

"Biar saya yang menceritakan." Potong Sabina dengan suara serak.

"Jangan Sabina, biar Paman Hulusi yang menjelaskan. Kau bisa menceritakan tapi tidak akan bisa menjelaskan kenapa kau aku bawa kemari."

"Baik saya jelaskan. Itu berawal dari foto Sabina di halaman utama sebuah surat kabar online. Nona Heba juga tahu itu. Foto Sabina sedang minta-minta, yang oleh sebagian masyarakat muslim di kota ini dianggap tidak layak. Tidak layak seorang muslimah pendatang di sini jadi pengemis. Hoca Fahri sangat perhatian masalah itu. Beliau tidak mau hanya berwacana, tapi harus memberikan solusi riil. Diantara langkah awal adalah mencari Sabina dan menuntaskan permasalahannya."

Paman Hulusi lalu menceritakan panjang lebar proses membawa Sabina sampai kerumah itu. Hulya mengangguk-angguk. Sementara Sabina diam dengan air mata meleleh.

"Kalau Aisha masih ada, dan dia di sini bersamaku, aku sangat yakin dialah yang akan minta untuk menolong Sabina. Aku sangat yakin itu." Gumam Fahri.

"Alhamdulillah proses legal formal Sabina tinggal beberapa langkah lagi. Sabina akan dapat ijin tinggal di kota ini secara legal, jika lama tinggal disini memenuhi kriteria bisa dapat kewarganegaraan sini insya Allah. Tiga hari lagi akan ada sedikit wawancara dan pengambilan sidik jari, Sabina akan 
didampingi seorang pengacara nanti. Jadi begitu, apakah ini sudah cukup?"

"Kalau saya tidak kesini dan bertanya langsung seperti ini, maka saya tidak akan mendapatkan pelajaran seperti ini. Kalau saya jadi Anda pun saya tidak akan berani menanggung resiko mengurusi Sabina sampai memperjuangkan dapat izin tinggal secara legal. Menurut saya sangat berisiko."

"Kalau kita tidak perhatian pada saudara kita, risiko di akhirat lebih berat lagi."

"Kalimat seperti ini sungguh menarik. Ini persis yang diceritakan Ozan, kakak saya. Banyak kalimat menarik tak terduga dari Anda. Saya jadi berpikir sesuatu, itu kalau Anda berkenan."

"Apa itu?"

"Kebetulan saya belum teken kontrak untuk menyewa tempat tinggal. Tiba-tiba saya tertarik untuk tinggal di sini. Boleh tidak saya tinggal di sini bersama Sabina?"

Permintaan Hulya itu membuat Fahri agak kaget. Sabina sedikit mendongakkan kepala mendengar kata-kata Hulya.

"Saya bisa tinggal di bawah bersama Sabina. Tadi saya sudah lihat kamar Sabina, cukup luas. Di belakang ada halaman yang cantik. Bolehkah?"

Fahri diam sesaat. Itu permintaan yang sama sekali tidak pernah ia duga. Sekaligus permintaan yang susah ia jawab. Sebab yang meminta adalah gadis yang gestur tubuh, gerak gerik, dan timbre suaranya sangat mirip Aisha, istrinya. Satu sisi batinnya merasa nyaman dengan timbre suara Hulya. Tapi nurani terdalamnya tidak membenarkannya untuk menerimanya. Bahwa itu bisa menjadi zina telinga, zina mata dan zina-zina anggota badan lainnya jika Hulya tetap bersikeras untuk tinggal. Dan sebab lain adalah Hulya yang sesungguhnya bukan perempuan yang halal baginya.

"Maaf saya tidak bisa." Lirih Fahri.

"Kenapa Sabina bisa tinggal di sini sementara saya tidak bisa?"

Fahri kembali dibuat kaget oleh pertanyaan Hulya yang bernada protes.

"Jangan salah faham, Sabina tinggal di sini karena darurat dan untuk sementara sampai dia dapat izin tinggal yang legal. Selain itu di sini jauh dari kampus The University of Edinburgh. Sangat tidak cocok bagi mahasiswi yang menempuh master seperti Hulya."

"Baik aku bisa mengerti. Oh ya apakah boleh saya pinjam biola yang kemarin itu?"

Fahri menghela nafas,

 "Boleh."

"Terima kasih."

Tiba-tiba terdengar bel berdenting-denting. Paman Hulusi membuka pintu, tampak Keira dan Jason berdiri di depan pintu. Keira berusaha tersenyum.

"Hai."

"Hai."

"Tuan Fahri ada? Boleh saya masuk?"

"Ada. Silakan masuk."

Begitu masuk Keira agak kaget di ruang tamu itu ada Heba, Hulya dan Sabina.

"Oh kalian kumpul di sini, kebetulan sekali. Saya ada perlu dengan kalian semua."

Tidak ada lagi tempat duduk yang kosong. Sabina sadar diri, ia berdiri dari duduknya. Paman Hulusi mempersilakan Keira duduk di tempat Sabina, dan mempersilakan Jason duduk mepet dengannya.

"Eh maaf kalau kedatangan saya mengganggu."

"Tidak. Ada yang bisa kami bantu nona Keira?" Kata Fahri ramah. 

"Eh saya mau minta maaf."

'Minta maaf?" 

Fahri tampak kaget. Fahri menduga-duga, apakah Keira akan minta maaf tentang coretan-coretannya yang menghina Islam itu? Apakah Keira sudah tahu bahwa yang membiayai kursus Keira dan semua program yang disiapkan Nyonya Suzan adalah dirinya? Siapa yang membocorkan?

"Iya, saya datang mau minta maaf."

"Minta maaf apa? Anda rasanya tidak punya salah pada saya?"

"Saya mau minta maaf atas sikap saya kemarin di restoran Bay of Bengal yang kurang bersahabat. Saya sangat menyesal. Saya terlalu tinggi hati. Saya minta maaf kepada Tuan Fahri, juga kepada Nona Hulya dan Nona Heba. Maafkan saya. Sebenarnya setelah dari sini saya akan mencari Nona Hulya dan Nona 
Heba, sungguh senang sekali bisa berjumpa di sini."

"Ah itu hal yang tidak perlu dipermasalahkan. Saya malah tidak merasa ada yang janggal, saya merasa biasa saja." Sahut Fahri.

"Iya itu tidak apa." Tukas Heba.

"Saya senang bisa tampil bersama Anda, Nona Keira. Apa kita bisa tampil bareng lagi?" 

Gumam Hulya dengan senyum mengembang.. 

"Dengan senang hati. Setelah saya menyelesaikan kompetisi di Italia kita bisa rancang tampil bareng."

"Benar?"

"Benar."

"Saya tunggu realisasinya."

Keira, Heba dan Hulya lalu terlibat perbincangan yang hangat. Sabina hanya diam menyimak dengan mata tertunduk.

"Jadi rumah kamu di samping itu?" Tanya Hulya.

"Benar."

"Berarti biolamu ada dirumah."

"Iya."

"Bagaimana kalau kita main biola lagi, duet? Kita main di halaman belakang. Asyik ini, mumpung angin semilir dan matahari bersinar cerah." Kata Hulya.

"Oh dengan senang hati. Saya ambil biola saya dulu. Jason saya boleh pinjam videomu?" Kata Keira.

"Boleh. Ambil saja."

Keira pergi ke rumahnya mengambil biola. Dan siang itu suara biola mengalun dari halaman belakang rumah Fahri. Di bawah hangat sinar mentari dua orang gadis memainkan biola dengan anggun dan indah. Pesta kecil tanpa disengaja tercipta di halaman belakang yang asri itu. Jason tampak bahagia kakak perempuannya telah kembali ceria. Fahri cemburu bahwa biola itu dimainkan oleh Hulya bukan Aisha, tapi ia tidak bisa menolaknya. Sementara Sabina hanya diam menikmati alunan biola itu dengan kedua mata berkaca-kaca.


                            *****


Kereta cepat itu mulai melambat mendekati stasiun Kings Cross, London. Sebagian besar penumpang sudah bersiap untuk turun. Seorang wanita muda berambut pirang berkaca mata tampak mematikan laptopnya dan memasukkan ke dalam tasnya. 

Perempuan itu melihat jam tangannya. Ibu-ibu setengah baya yang duduk di sampingnya sudah menurunkan barang bawaannya yang ia letakkan ditempat bagasi di atas kepala. 

Beberapa orang sudah berjalan ke arah tempat koper dan bersiap menenteng kopernya.
Fahri masih terlelap. Paman Hulusi sengaja membiarkan majikannya tetap terlelap. Tepat pukul 18.24 kereta itu berhenti. Sangat presisi hanya bergeser satu menit lebih lambat dari jadwal yang tertulis di tiket. Orang-orang mulai keluar dari kereta satu persatu. Barulah paman Hulusi membangunkan Fahri.

"Kita sudah sampai London, Hoca. Saatnya turun."

Fahri bangun dari tidurnya. Mengucek kedua matanya. Tak lama seluruh kesadarannya telah pulih. 

Fahri membenahi jas santainya dan meraba kantong jaketnya untuk memastikan bahwa ponselnya ada di tempatnya. Ia lalu berdiri dan melangkah keluar kereta. Paman Hulusi mengikuti sambil menenteng tas bawaan Fahri. Mereka berdua mengikuti arus manusia ke arah pintu keluar salah satu stasiun kereta 
paling terkenal di London itu. 

Sekilas Fahri melihat panorama di dalam stasiun itu. Ia harus mengakui bahwa King Cross salah satu stasiun yang indah di daratan Inggris. Bangunan lama masih dijaga keasliannya ditambah dengan bangunan baru dengan langit-langit yang terkesan modern dan indah. Langit-langit itu disinari lampu biru keunguan yang menawan.

Fahri mempercepat langkah. Ponselnya berbunyi ia lihat. Sebuah pesan masuk. Dari Ozan.

"Saya menunggu di Prezzo Cafe" Pesan Ozan.

Fahri berjalan sambil melihat-lihat deretan cafe dan toko di stasiun yang ada di jantung kota London itu. Akhirnya ketemu. Prezzo Cafe itu ada di lantai atas. Fahri dan paman Hulusi bergegas kesana. 
Ozan tampak duduk sendirian di pojokan cafe sambil menatap layar laptopnya sementara di samping laptopnya tampak secangkir teh dan roti kering.

"Assalamu‘alaikum Ozan." Sapa Fahri.

Pria asli Turki itu mendongak agak kaget dan langsung tersenyum lebar begitu melihat wajah Fahri. 
Ozan menjawab salam lalu berdiri dan memeluk Fahri.

"Mau pesan apa? Sedikit saya selesaikan pekerjaan lalu kita ke Central Mosque London. Dekat. Kira-kira cuma 3 mil saja. Semoga tidak macet."
Fahri dan Paman Hulusi duduk dan pesan teh.

"Kau yakin kita tidak akan terlambat? Bukannya ini jam macet di London?" Tanya Fahri.

"Sudah saya perkirakan termasuk macetnya. Syaikh Utsman dan Paman Eqbal menunggu untuk makan malam di kantin masjid setelah shalat Isya‘. Ini maghrib saja belum. 

Saat ini Syaikh Ustman pasti sedang menyimak orang-orang yang mau ambil sanad qira‘ah dari beliau. Kita sedikit santai."

Fahri mengangguk mendengar penjelasan Ozan. Hampir satu jam mereka rehat sambil berbincang di kafe yang ada ditengah stasiun Kings Cross. Fahri sempat menanyakan apakah kedatangan Hulya ke rumahnya itu atas prakarsa Ozan? Dan Ozan menjawab sama sekali tidak. Ozan justru tampak kaget 
mengetahui Hulya sampai mendatangi Fahri ke rumahnya.

"Saya titip adik saya selama dia ada di Edinburgh. Tolong jaga dia sebagaimana kau menjaga adikmu." Pinta Ozan.

"lnsya Allah." Lirih Fahri.

Ozan melangkah ke tempat parkir mobil diikuti Fahri dan Paman Hulusi. Cita rasa selera Ozan memang cukup tinggi. Ozan memilih SUV mewah Bentayga pabrikan Bentley yang cukup legendaris sebagai produsen mobil mewah. 

Begitu masuk ke mobil Ozan, Paman Hulusi langsung merasakan bahwa mobil SUV yang dipakai Fahri sehari-hari masih kalah jauh dibandingkan mobilnya Ozan. Fahri masih terhitung sederhana. Apalagi Fahri beli juga bukan baru tapi second.

"lni baru mobil." Lirih Paman Hulusi.

Ozan yang mendengar komentar Paman Hulusi itu tersenyum dan menimpal, 

"Majikanmu kalau mau beli yang lebih mewah dan lebih bagus dari ini sangat mudah, tapi ia tidak mau. Itu pakai yang sekarang saja dia dulu mengeluh katanya terlalu mewah. Saya paksa dia pakai yang model itu biar tidak 
diremehkan sama pegawai dan karyawannya."

"Mungkin harus dipaksa lagi agar pakai yang model seperti Tuan Ozan."

"Sudah Paman. Jangan membincangkan hal yang tidak perlu. Ayo kita jalan ke masjid."

Ozan tersenyum mendengar Fahri menegur Paman Hulusi. Pelan-pelan Ozan mengendarai mobil mewah itu meninggalkan Kings Cross. Kakak kandung Hulya itu memilih melewati Prince Albert Road menuju Central Mosque London. 

Jalanan London padat, namun rute yang dipilih Ozan sangat tepat, perjalanan cukup lancar. Lima belas menit menjelang Isya‘ mereka sudah sampai di ruang bawah tanah tempat 
parkir Central Mosque London.

"Kelebihan masjid ini, pertama berada di tengah-tengah kota London. Letaknya boleh dibilang sangat strategis. Tak jauh dari sini ada London Bisnis School yang sangal terkenal dan prestisius. Kedua, memiliki tempat parkir yang luas. Saya kalau ada keperluan ditengah kota London maka masjid ini tempat yang saya tuju pertama kali. Saya parkir mobil di sini. Baru saya jalan kaki kesana kemari. Berapa lama pun kita parkir di sini tetap gratis." Jelas Ozan keluar dari mobil sambil mengajak berjalan menuju tempat wudhu.

Setelah wudhu mereka naik ke atas. Mereka sampai tepat ketika Syaikh Ustman mengakhiri halaqahnya. 

Lalu adzan Isya‘ berkumandang. Setelah adzan orang-orang shalat qabliyah. Beberapa menit kemudian iqamat dikumandangkan. Fahri melangkah ke shaf pertama tepat disamping Syaikh Utsman berdiri. 

Syaikh Ustman kaget sekaligus bahagia mengetahui Fahri ada disampingnya. Imam masjid mempersilakan Syaikh Utsman untuk menjadi imam. Memang selama Syaikh Ustman ada di masjid itu, dia diminta untuk menjadi imam. Sebab sang imam masjidpun, meskipun sudah fasih, sedang ikut program pemberian sanad oleh Syaikh Utsman.

Syaikh Utsman berbisik kepada sang imam masjid agar mengijinkannya untuk meminta Fahri mengimami shalat Isya‘.

"Dia salah satu murid terbaikku. Dia menguasai qira‘ah sab‘ah dengan sangat baik." Bisik Syaikh Utsman pada sang imam. 

Dengan sangat bahagia sang imam menyetujui permintaan Syaikh Ustman. Maka dengan tanpa diduga oleh Fahri sama sekali, Syaikh Ustman mendorong Fahri ke tempat 
pengimaman. Fahri kaget dan tidak bisa menolak. Beruntung bahwa dia pakai jas dan celana yang rapi. 

Dan ia membawa dan mamakai kopiah putih yang ia pakai begitu masuk masjid, sehingga ia tidak terlalu canggung dengan pakaian yang ia kenakan. Sebab Syaikh Ustman dan imam masjid memakai jubah khas orang Arab.

Fahri meluruskan barisan dan sekilas melihat para makmum dibarisan depan. Ia sedikit terkejut ternyata imam muda yang pernah ia ingatkan di masjid Edinburgh juga ada disitu. Sekilas ketika ia melihat wajah imam muda itu, pandangan keduanya bertemu. Fahri menunduk lalu menghadap kiblat dan bersiap untuk takbirotul ihram mengimami shalat.

Fahri mengumandangkan takbiratul ihram. Di rakaat pertama Fahri membaca awal Surat Ghafir sampai ayat 16. Di rakaat kedua melanjutkan sampai 29. Suaranya begitu jernih, fasih dan menyentuh pendengarnya.

Selesai shalat Isya‘ Fahri langsung mundur dan mengajak Paman Hulusi untuk shalat maghrib. Fahri menjama‘ ta‘khir magrib dan Isya‘ dan meletakkan shalat maghrib setelah shalat Isya‘. Seorang jama‘ah yang melihat apa yang dilakukan Fahri mendekati Fahri setelah Fahri salam.

"Anda shalat apa ini? Saya melihatnya aneh?"
Jama‘ah berwajah Asia Selatan itu tampak penasaran.

"Saya menjama' shalat maghrib dan isya‘, jama‘ ta‘khir. Karena jama‘ ta'khir maka boleh maghrib dulu baru isya‘, karena memang begitu urutannya. Boleh juga Isya‘ dulu baru maghrib karena memang ini waktunya milik waktu Isya'. Kalau jama‘ taqdim misalnya saya shalatnya di waktu maghrib maka harus urut maghrib dulu baru lsya‘, tidak boleh Isya‘ dulu. Saya terpaksa jama‘ karena saya dalam perjalanan jauh dari Edinburgh."

Jama‘ah itu tampak mengangguk puas mendengar jawaban Fahri. Setelah dzikir dan shalat sunnah Syaikh Utsman sedikit memberikan ceramah singkat dan menjelaskan bahwa Fahri adalah salah satu murid terbaiknya yang kini mengajar di The University of Edinburgh, bagi yang ingin memperdalam qira'ah sab'ah dan tafsir bisa belajar pada Fahri.

Beberapa orang tampak mendekati Fahri dan minta kartu nama.

"Saya Omar Darwis, saya mengajar di Exeter. Mungkin suatu saat saya ingin mengundang Anda ke kampus saya."
Fahri mengangguk dan memberikan kartu namanya.

"Saya Abu Bakar Khan, saat ini sedang menempuh Ph.D di Oxford. Kalau Anda tahu Nadwatul Ulama India, saya dulu belajar di sana."

"Oh saya tahu. Syaikh Salman An Nadwi masih mengajar?"

"Masih. Anda kenal Syaikh Salman An Nadwi?"

"Saya sempat jumpa dan berbincang dengan beliau di Masjid Al Azhar Cairo saat beliau berkunjung di Mesir di akhir tahun sembilan puluhan. Jika nanti selesai dan pulang ke India saya titip salam buat beliau."

"Insya Allah. Sebentar tadi Syaikh Utsman mengumumkan Anda mengajar di The University of Edinburgh, maaf saya baca sebuah pengumuman di Oxford akan ada debat salah satu cendekiawan muslim yang hadir dalam debat berasal dari Edinburgh. Namanya sepertinya mirip Anda, apakah Anda 
tahu?"

"Ya insya Allah itu saya."

"Oh ya?"

"Insya Allah. Apakah Anda pernah menghadiri langsung pendebatan di Oxford Union itu?"

"Saya anggota Oxford Union dan sering hadir dalam perdebatan di sana."

"Sangat bahagia sekali jika nanti bisa berbincang-bincang dengan Anda, saya rasa saya perlu masukan dari Anda Brother Abu Bakar."

"Dengan senang hati."

Ozan dan Paman Eqbal memberi tahu Syaikh Utsman bahwa menu di kantin masjid sebagian telah habis. Ozan menyarankan makan malam di luar. Syaikh Utsman menyetujui. Ozan mengajak mereka ke 
Al Waha Restaurant, sebuah restaurant Lebanon yang berada di kawasan Paddington Bays water. 

Imam masjid yang ingin menyertai Syaikh Utsman makan malam, setuju pada pilihan Ozan. Mereka turun ke tempat parkir. Fahri dan Paman Hulusi ikut mobil Ozan, sementara Syaikh Utsman dan Paman Eqbal ikut mobil Sang Imam masjid. Ketika semua siap masuk ke dalam mobil, Syaikh Ustman menahan.

"Tunggu sebentar."

"Ada apa Syaikh?" Tanya Paman Eqbal.

"Cucuku. Lupa. Dia kalau shalat sunnah sedikit panjang. Tunggu sebentar."

"Oh iya benar, Yasmin."

Mendengar perbincangan Syaikh Ustman dan Paman Eqbal, Fahri agak berdesir hatinya. Itukan Yasmin yang diceritakan Syaikh Utsman dan ia lihat DVD-nya saat sedang munaqosah S2.nya di Kuliyyatul Banat Al Azhar Mesir?

Tak lama kemudian seorang perempuan muda berjilbab dengan wajah anggun muncul dari pintu arah naik ke masjid. Perempuan berjilbab itu mendekati Syaikh Ustman dan mengatakan dia siap berangkat.

Sekilas Fahri melihat wajah Yasmin dalam sekali pandangan. Hati Fahri berdesir. Sang imam masjid membukakan pintu untuk Syaikh Ustman agar naik dibangku belakang mobil sedannya bersama Yasmin. 

Sementara Paman Eqbal di bangku depan. Imam masjid menyalakan mobilnya dan perlahan-lahan keluar meninggalkan area parkir. Ozan mengikuti mobil sang Imam. Fahri yang duduk di samping Ozan masih berusaha meredam desiran dalam hatinya.

Permintaan Syaikh Ustman agar ia menikahi Yasmin seperti diputar kembali di depan matanya. Dan Yasmin memang boleh dibilang istimewa. 

Namun suara yang lain mengingatkan agar ia setia pada Aisha. Suara yang lain mengingatkan kalau sama-sama memilih kenapa tidak memilih yang paling mirip 
Aisha, yaitu Hulya. Bukankah Ozan sebagai kakak kandung Hulya juga pernah menyinggung hendak menjodohkan Hulya dengannya? Meskipun saat itu ia telah menolak mentah-mentah, tapi itu masih bisa 
diralat.

Di Al Waha Restaurant tanpa di sengaja Fahri duduk tepat dihadapan Syaikh Utsman dan disamping Syaikh Utsman adalah Yasmin. Syaikh Utsman menjelaskan kepada Yasmin bahwa yang ada di hadapannya adalah Fahri, salah satu murid kesayangannya yang luar biasa dari Indonesia. 

Yasmin memandang Fahri sekilas sambil mengangguk lalu menunduk. Fahri juga banyak menunduk. Usai makan malam sambil berjalan menuju mobil Syaikh Utsman mendekati Fahri dan berbisik, 

"Jangan kau jawab malam ini. Aku khawatir kalau kau jawab malam ini itu jawaban yang belum matang. Nanti malam shalatlah istikharah lagi. Besok siang kita jumpa dan aku ingin dengar jawabanmu."

"Iya Syaikh. Insya Allah."

Syaikh Utsman bergegas masuk mobil sang imam masjid diikuti Yasmin. Fahri telah masuk ke mobil Ozan. Dua mobil itu berjalan beriringan.

"Kita ke mana Ozan?"

"Paman Eqbal minta agar kau diinapkan di hotel yang sama dengan Paman Eqbal dan Syaikh Utsman yaitu Landmark London Hotel."

"Jauh dari sini ?"

"Tidak terlalu. Hotel itu dekat dengan Central Mosque London. Hanya sepuluh menit jalan kaki dari sana."

Beberapa menit kemudian dua mobil itu sampai di depan lobby Landmark London Hotel. Syaikh Utsman keluar dari mobil diikuti Yasmin. Fahri juga keluar dari mobil. Yasmin tanpa sengaja memandang kearah Fahri dan pada saat yang sama Fahri sedang memperhatikan Syaikh Utsman yang ada disamping Yasmin. Fahri tak sengaja memandang Yasmin. Kedua pandangan itu bertemu sesaat. Dan Syaikh Ustman tidak tahu akan hal itu.

Fahri beristighfar. Ia merasa memang ia harus istikharah lagi. Ozan ternyata sudah mengurus semuanya. Ketika Syaikh Ustman dan Yasmin ke resepsionis mengambil kunci hotel. Ozan juga mengambil dua kunci hotel dan memberikannya kepada Fahri.

"Perlu saya antar ke kamar?" Tanya Ozan.

"Tidak perlu."

"Mau istirahat, atau masih mau jalan-jalan?"

"Istirahat saja. Besok pagi ikut sarapan di sini ya?"

"Insya Allah."

Fahri dan Ozan berpelukan. Ozan pamit meninggalkan Fahri dan Paman Hulusi. Fahri lalu bergegas menuju lift seraya memberikan satu kunci kepada Paman Hulusi. Paman Hulusi dapat kamar di lantai tiga. Sementara Fahri di lantai lima.

Ternyata Syaikh Ustman, Paman Eqbal dan Yasmin masih menunggu lift yang datang. Tepat ketika Fahri sampai di depan mereka, lift itu terbuka. Mereka bertiga masuk diikuti Fahri dan Paman Hulusi. Paman Eqbal memencet angka empat. Yasmin memencet angka lima. Dan Paman Hulusi memencet angka tiga.

Lift berjalan. Di lantai tiga Paman Hulusi turun. Lalu dilantai empat Paman Eqbal dan Syaikh Utsman turun. Yasmin mencium tangan Syaikh Ustman, kakeknya dan mengatakan besok jumpa saat makan pagi.

Kini tinggal Fahri dan Yasmin di lift itu menuju lantai lima. Keduanya sama-sama menundukkan kepala, dan sama-sama diam seribu bahasa. Hati Fahri sedikit berdesir ketika dari kaca yang ada di dalam lift 
itu ia sedikit melihat wajah Yasmin yang anggun.

"Rabbighfir li!" Lirih Fahri dalam hati.

Ketika pintu lift terbuka, Fahri diam saja. Ternyata Yasmin juga diam. Keduanya seperti 
mempersilakan siapa mau keluar duluan. Karena Yasmin diam, Fahri berpikir ia harus keluar dulu. Maka ia pun melangkah hendak keluar lift. Pada saat yang sama Yasmin berpikir yang sama dan melakukan hal yang sama. Sehingga keduanya nyaris melangkah menuju pintu secara bersamaan. Tak ayal itu 
membuat keduanya kaget dan saling melihat. Fahri mundur dan mempersilakan Yasmin keluar duluan.

Cucu perempuan Syaikh Utsman itu keluar dari lift dan belok ke arah kanan. Fahri melihat nomor yang ada di kartu kunci kamarnya lalu melihat petunjuk arah yang tertulis di tembok. Kamarnya juga ada diarah kanan. Ia pun melangkah ke kanan mengikuti Yasmin.

Yasmin membuka pintu kamarnya. Dan pintu kamar Fahri tepat disamping pintu kamar Yasmin. Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa bukan Syaikh Ustman yang ada disamping kamar Yasmin. Kenapa dirinya? Kenapa kunci kamar yang ia pegang adalah kunci kamar disamping Yasmin. kenapa bukan Paman Hulusi yang di sini. Apakah ini hanya sebuah kebetulan belaka? Ataukah ini semacam pertanda dari Allah?

Fahri masuk ke dalam kamarnya dengan hati diliputi tanda tanya. Tiba-tiba ia seperti tersadar, ia merasa setan berusaha masuk secara halus kedalam syaraf-syaraf dan aliran darahnya. Ia tidak boleh membiarkan setan menghinanya. Ia harus mensucikan dirinya. 

Dan cara terbaik untuk mendapatkan 
keputusan terbaik adalah dengan meminta petunjuk dari Allah, bukan dengan mengira-ngira berdasar keberadaan kamarnya yang ada di samping kamar Yasmin. Itu pasti bukan sebuah kebetulan belaka, pasti sudah Allah atur. Namun itu belum tentu sebuah pertanda khusus. Fahri mencium aroma wangi kamar itu, entah kenapa aroma kamar itu wanginya mirip sekali dengan aroma kamar di hotel San Stefano, Alexandria. Tempat ia dulu berbulan madu dengan Aisha. Bau itu, oh Aisha.



                                  *****



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...