Sabtu, 27 Februari 2021

AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 34

34


PERSIAPAN


Kereta East Coast jurusan London King's Crooss telah siap di Plat 2. Fahri memeluk Ozan dengan hangat. Lalu mencium tangan Paman Akbar. Setelah itu Si kecil Laila ia cium dengan penuh sayang. 

Fahri memberi hormat kepada Bibi Melike dan Claire. Terakhir Fahri memandang Hulya. Calon istrinya itu menunduk malu.

"Kita jumpa di Oxford dua hari lagi, insya Allah." Kata Paman Akbar.

"Insya Allah Paman. Semoga selamat sampai London."

"Amin. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Mereka kemudian berjalan menuju peron Plat 2 dan satu persatu masuk kereta. Fahri menunggu sampai mereka semua masuk kereta. Entah kenapa, Hulya seperti memperlambat langkahnya sehingga ia 
paling akhir masuk kereta. Dan sebelum masuk ia menoleh ke arah Fahri. Pandangan keduanya bertemu sekejap, Hulya lalu menunduk dan masuk ke dalam kereta.

Setelah lamarannya di St. Andrews diterima, Paman Akbar langsung menggelar rapat menentukan hari dan tempat untuk akad nikah dan walimatul 'ursy. Fahri menyerahkan semua konsepnya pada Hulya. la mengikuti apa yang diinginkan adik bungsu Ozan itu. 

Awalnya Paman Akbar mengusulkan akad dan walimah di adakan di Edinburgh Central Mosque, tapi Hulya tidak mau. Ia ingin akad dan walimah pernikahannya diadakan di Oxford.

Ozan langsung mengontak seorang kenalannya yang kini tinggal di Oxford, menanyakan tempat yang bagus untuk pesta pernikahan. 

Dari beberapa nama akhirnya dipilih dua tempat. Yang pertama Central Oxford Mosque, Manzil Way, untuk acara akad nikah. Dan Magdalen College yang berada di dalam area Oxford University untuk pesta pernikahannya. 

Ozan dan Paman Hulusi akan mengatur semuanya. Sedangkan Misbah ia minta untuk mengundang masyarakat Indonesia yang ada di Britania Raya, termasuk orang-orang KBRI. 

Dua hari lagi adalah hari H ia akan melakukan debat di Oxford Union. Paman Akbar Ali dan Ozan akan datang ke Oxford untuk nanti sama-sama melihat Central Oxford Mosque dan Magdalen College. 

Untuk pesta pernikahan, Hulya minta konsepnya terbuka di alam, bukan di dalam gedung. Dan Magdalen College punya taman 
dan spot terbuka yang indah di samping sungai.

Suara peluit berbunyi nyaring. Kereta itu pelan-pelan berangkat. Fahri masih berdiri di stasiun 
Waverley, memandangi kereta itu semakin menjauh hingga tidak kelihatan lagi. Barulah Fahri melangkah keluar menuju mobilnya. 

Begitu ia duduk memegang setir; ponselnya berdering. Dari Nyonya Suzan. Wanita berdarah Irlandia yang ia percaya memegang AFO Boutique di Edinburgh itu meminta waktu berjumpa siang itu. Ada hal yang katanya teramat penting untuk dibicarakan.

"Saya tunggu di Elfalafel jam 14.30 tepat. Kita makan siang di sana."

"Saya bersama Madam Varenka, Tuan Fahri."

" Ya. Nanti saya yang traktir."

"Terima kasih, Tuan !"

Restoran khas Arab itu tak jauh dari kampus the University of Edinburgh. Restoran itu kecil tetapi selalu ramai pengunjung. Beruntung ketika Fahri masuk, ada satu meja kosong. 

Fahri memesan roti 'isy, hummus, chicken tenders, dan tha'miah. Minumnya Fahri memesan jus mangga. Siang itu ia ingin sekali 
makan berbau Mesir. Meskipun khas Arab, tetapi Elfalafel juga menyediakan menu Turki.

Nyonya Suzan dan Madam Varenka datang dengan wajah tidak seperti biasanya. Jika berjumpa dengan Fahri biasanya wajah mereka berdua cerah dan banyak senyum. Fahri tidak ingin meraba apa yang sedang terjadi. Tak lama lagi mereka akan menyampaikan semuanya.

Nyonya Suzan memesan chicken shawarma, sedangkan Madam Varenka memesan donner kebab. 

Minumnya mereka memesan mint tea dan honey tea. Sambil menunggu pesanan datang, Nyonya Suzan menceritakan masalah yang menimpa Madam Varenka.

"Biola itu sangat mahal. Bahkan bagi Madam Varenka sesungguhnya tidak ternilai harganya. Madam Varenka sudah minta kepada seorang ahli untuk menaksir harganya. Itu tidak kurang dari sembilan ratus lima puluh poundsterling. Itu harga paling murahnya. 

Sebab itu biola Stradivarius asli yang di 
dunia ini cuma ada beberapa biji saja. Madam Varenka minta pendapat Tuan. Dia harus bagaimana?"

Kata Nyonya Suzan setelah panjang lebar menceritakan apa yang terjadi pada Keira dan pada biola Madam Varenka.

Fahri langsung teringat Keira yang tampak menangis di stasiun York. Fahri juga ingat bagaimana Keira memarahi dirinya dengan kata-kata pedas setelah Keira dengan tanpa izin memakan kacang almoNdnya. Fahri menghela napas. 

"Apakah biola semahal itu tidak diasuransikan?" Tanya Fahri. 

"Dulu saat saya tinggal di New York biola itu saya asuransikan. Lalu saya pindah kemari. Tiga bulan lalu asuransinya habis dan saya belum mengasuraansikan lagi." Jawab Madam Varenka.

"Sayang sekali. Sungguh, sayang sekali." Gumam Fahri.

"Saya bekerja membimbing Keira di bawah kesepakatan dengan Anda, Tuan Fahri. Saya anggap Keira di bawah tanggung jawab Anda. Apakah mungkin saya minta ganti rugi kepada Anda?"

Kata-kata Madam Varenka itu agak mengejutkan Fahri. Bagaimana mungkin yang berbuat salah Keira, tapi dirinya yang harus bertanggung jawab. 

"Madam, apa yang Anda katakan sepenuhnya benar. Bahwa Anda punya kesepakatan kerja dengan saya. Saya minta Anda melatih Keira dan menghantarkannya meraih kejuaraan pada kompetisi yang akan datang di London. Benar sekali. Dan surat perjanjian yang kita tanda tangani jelas isinya. 

Hak dan kewajiban Anda jelas sekali. Dan tidak ada klausul masalah biola ini sama sekali. 

Saya sekarang tanya, apa saya pernah meminta Anda meminjamkan biola mahal itu kepada Keira? Apakah pernah?" Madam Verenka menggeleng. 

"Bagaimana mungkin saya yang harus bertanggung jawab. Justru Anda yang semestinya bertanggung jawab atas tindakan Anda itu."

"Tapi ini demi Keira. Saya pinjamkan dengan tujuan Keira menyatu dengan biola itu dan saat tanding dia menggunakan biola itu."

"Itu inisiatif Anda dan saya sama sekali tidak bisa bertanggung jawab. Jujur saja, kalau saya yang punya biola semahal itu tidak akan saya pinjamkan kepada orang lain."

Madam Varenka diam, Nyonya Suzan juga diam. Fahri juga diam.

"Saya sudah jelaskan kepada Madam Varenka, secara hukum Madam Varenka tidak akan bisa minta ganti rugi kepada Tuan Fahri. Justru, setelah saya periksa data Keira dengan seksama secara hukum Madam Varenka bisa menuntut Keira. Sebab usia Keira sudah tidak lagi terbilang sebagai usia anak-anak." Kata Nyonya Suzan.

"Tuntut saja Keira secara hukum.Biar dia belajar bertanggung jawab." Sahut Fahri.

"Kalau saya tuntut pun dia tidak akan sanggup membayarnya. Uang dari mana? Rumah yang dia tempati saat ini jika dijual pun tidak cukup untuk membayar harga biola itu."

"Saran saya Anda harus tetap memproses Keira secara hukum. Kedua Anda tetap harus mengantarkan Keira sampai juara di London."

"Saya sudah memutuskan tidak akan lagi membimbing Keira."

"Itu keputusan yang kurang tepat Madam Varenka. Jika Anda berhenti membimbing Keira dan tidak membantunya meraih juara di London, maka Anda tidak akan mendapatkan ganti rugi itu. 

Sebab Keira tidak akan bisa berbuat banyak. Keira bahkan saat ini mungkin sedang setengah putus asa. Tetapi jika Anda bantu, Anda bimbing dia sampai dapat juara pertama di London. Maka Keira akan bisa membuka 
pintu-pintu kesuksesannya lebih luas. Dia akan dapat hadiah lumayan besar. Kemudian dia akan laris diminta konser di Britania Raya ini maupun di dunia. Itu adalah uang. Anda bisa bikin kesepakan dengan dia untuk melunasi harga biola itu."

Madam Varenka mengerutkan kening berpikir.

"Dan satu lagi, jika Keira tidak Anda dekati dan Anda kuatkan, saya khawatir dia akan nekat lagi seperti dulu. Yaitu menjual virginitasnya di internet. Maka usaha kita semua menyelamatkan sifat kemanusiaan seorang manusia telah gagal".

"Menurut saya apa yang dikatakan Tuan Fahri sangat masuk akal, bijak dan sekaligus solusi yang tepat." Sambung Nyonya Suzan.

Makanan dan minuman yang dipesan datang satu persatu. Mereka bertiga kemudian makan. Madam Varenka minta maaf kepada Fahri atas kelancangannya meminta ganti. Ia menyadari itu adalah tindakan bodoh. Itu semata-mata karena pikirannya sedang tidak jernih diselimuti rasa marah, kesal, jengkel dan kecewa kepada Keira. 

Perempuan yang pernah mengajar musik di New York itu akan melaksanakan saran Fahri. 

Langkah pertama ia akan membuat kesepakatan dengan Keira di hadapan notaris tentang tanggung jawab Keira. Selanjutnya, ia akan tetap melatih Keira sampai tampil mengikuti kompetisi di London.

Sebelum meninggalkan restoran itu, Fahri mengundang mereka untuk menghadiri pesta pernikahannya di Magdalen College, Oxford. Undangan itu membuat mereka berdua terkejut bahagia. Dan lebih terkejut lagi ketika Fahri memberi tahu bahwa yang akan ia nikahi adalah Hulya. 

"Hulya sangat cocok mendampingi Anda, Tuan Fahri. Dia gadis yang cerdas dan baik. Anda tidak salah pilih." Puji Madam Varenka yang juga pernah melatih Hulya sebelum ikut kompetisi di Cremona, Italia.


                           *****


Fahri mulai menata kembali rumah yang selama ini ditempatinya di Stoneyhill Grove. Sore itu Fahri datang membawa dua kopor ukuran besar yang baru saja dibelinya. Ia lalu memanggil Sabina. 

Perempuan berwajah buruk itu datang dengan wajah menunduk. 

"Sabina nanti setelah saya menikah dengan Hulya saya akan tetap tinggal di sini. Saya minta Sabina ikut tinggal di sini. Terserah Sabina mau menempati kamar Sabina yang lama di basement, atau menempati kamarnya Paman Hulusi."

"Terus Paman Hulusi?" Tanya Sabina dengan suara serak dan kepala menunduk.

"Paman Hulusi dan Misbah akan tinggal di rumah depan bekas rumah Nenek Catarina."

"Baik Hoca, kalau begitu nanti saya akan bantu-bantu Nona Hulya."

"Terima kasih Sabina. Oh ya mau sedikit minta tolong Sabina."

"Iya Tuan"

"Di kamarku dan di ruang kerjaku ini banyak sekali barang-barang peninggalan istriku Aisha. Selama ini sengaja saya bawa kemari karena saya merasa dia masih hidup. Ada foto-foto dia, ada buku- buku dia, bahkan di almari itu ada tumpukan pakaian dia. 

Aku bawa pakaian dia bukan untuk apa-apa. Selama ini aku masih punya keyakinan bahwa dia akan datang ke rumah ini. Dan ketika dia datang dia langsung menemukan ini rumahnya. 

Barang-barangnya ada di sini. Tetapi ternyata dia tidak juga datang."

Sabina agak kaget mendengar penjelasan Fahri.

"Aku minta tolong barang-barang itu kau tata yang rapi kau masukkan ke dalam dua koper ini. 

Termasuk pakaian Aisha di dalam lemari itu, tolong semuanya masukkan koper. Jika sudah, tolong kau bawa ke basement. 

Simpanlah diltempat yang aman. Aku tidak ingin nanti Hulya cemburu kalau aku terus menyimpan barang-barang Aisha."

"Kenapa Tuan minta tolong kepada saya, kenapa tidak minta tolong kepada Paman Hulusi. Maaf."

"Sebagian barang-barang istri saya itu khas barang-barang milik perempuan. Pakaian khas perempuan. 

Sebenarnya aku ingin dengan kedua tanganku ini aku merapikan barang-barang itu, tapi aku sedang ada kerjaan banyak sekali. Dan aku tidak mau ada lelaki lain yang menyentuh pakaian istriku itu.

Maka aku minta tolong kamu."

"Oh iya Tuan, saya mengerti."

"Saya tinggal, kau bisa mulai bekerja. Saya harus menjumpai kolega di Princess Street."

"lya Tuan."

Fahri meninggalkan kamarnya dan melangkah menuruni tangga menuju ruang tamu, lalu menaiki mobilnya dan membawanya menuju tengah kota Musselburgh. Sabina memasuki kamar Fahri. la belum pernah memasuki kamar tuannya, baru kali ini ia memasuki kamar Fahri. 

Pandangannya tertuju pada jam meja kecil berwarna coklat kayu. Ada foto Fahri sedang memeluk Aisha dengan latar belakang bukit salju. Di belakangnya ada bangunan kecil bertuliskan Mount Tillis. Sabina memungut jam meja itu dan memandangi foto itu dengan kedua mata berkaca-kaca.

Sabina melihat sebuah album. la membukanya halaman demi halaman. Tampaklah foto-foto Fahri dengan Aisha ketika di Mesir, di Indonesia, di Makkah, di Madinah, di Jerman, dan beberapa negara eropa. 

Air mata Sabina menetes pada salah satu halaman album itu. Sabina meneliti barang-barang di kamar itu dengan saksama. Jika ia melihat barang khas perempuan, seperti kipas angin dari kain berwarna pink, sajadah untuk shalat ada bordirannya bertuliskan Aisha, maka ia tata ke dalam koper. la lalu membuka almari yang ditunjukkan Fahri. 

Ada belasan pakaian perempuan tergantung rapi di situ. Baju luar, baju dalam, jaket panjang, abaya dan lain sebagainya. Selain tergantung juga ada yang dilipat rapi. Itu semua adalah pakaian milik Aisha.

Sabina mengambil sebuah abaya dan menciuminya dengan air mata meleleh begitu saja. Di dalam almari itu juga ada beberapa botol parfum perempuan. Sabina menyemprotkan ke udara lalu menghirup aromanya. 

Setelah selesai mengemas barang yang ada di kamar utama, Sabina memasuki kamar yang dijadikan perpustakaan. la membuka buku-buku yang tertata di situ. Setiap kali ada buku yang tertulis nama Aisha di situ, maka ia ambil. la tapisi satu persatu. Belasan buku ia dapatkan dan ia masukkan ke dalam 
koper. 

Sabina lalu membawa koper di basement dan meletakkan koper itu di kamarnya. Sabina duduk di kursi berusaha menenangkan diri. 

Tetapi air matanya mengalir begitu saja. Sesaat lamanya ia terisak- isak, air matanya terus meleleh begitu saja.


                        *****


Dalam bisnis, memiliki orang-orang kepercayaan yang bisa diandalkan adalah separo dari modal penting. Fahri sungguh beruntung. la memiliki orang-orang yang bisa ia percaya sepenuhnya dan bisa ia andalkan. la punya Ozan yang sangat menguasai strategi-strategi besar, dan pandangan ke depan yang 
jernih. Ozan juga mewarisi sifat tanggung jawab dan amanah ayahnya.

Selain Ozan, Fahri juga memiliki Brother Mosa Abdulkerim yang cakap dan amanah. Minamarket dan restoran Agnina sukses besar di bawah kendali Brother Mosa. 

la juga memiliki Nyonya Suzan yang mampu menjaga AFO Boutiqe tetap eksis dan bersaing dengan boutique-boutiqe terkemuka lainnya di Edinburgh. 

Di Jerman, ia memiliki Brother Hans Beiger, seorang mualaf dan bankir yang bisa 
diandalkan. Hans Beiger ia percaya memegang jejaring bisnis di Jerman yang dulu dipegang oleh Aisha.

Malam itu Fahri masih di Agnina, ia baru saja rapat dengan Brother Mosa Abdulkerim. Ia memberi kepercayaan penuh kepada Brother Mosa untuk membuka cabang Agnina minimarket di tiga kota lainnya di Britania Raya. 

Sebagai bentuk apresiasi dan untuk menjaga dedikasi, Fahri memberi dua persen saham kepada Brother Mosa. Lelaki kepercayaan Fahri itu sampai meneteskan air mata diberi 
penghormatan yang sedemikian besar oleh Fahri. 

Selesai rapat Fahri bersiap untuk pulang, Madam Barbara yang bertugas sebagai kasir malam itu melaporkan bahwa Jason ingin bertemu dengan Fahri. Jason di persilakan naik ke atas menemui Fahri di kantor Agnina.

"Saya sedang sangat sedih, Fahri." Suara Jason tercekat.

Tenggorokannya seperti sudah kering. Fahri mengulurkan sebotol kecil air mineral. Jason meneguknya.

"Kenapa sedih?"

"Keluarga saya sepertinya akan berantakan. Baru saja kemarin harmonis sebentar, dan itu aku tahu karena jasamu. Kini di ambang kehancuran. lni semua gara .. gara Keira!"

"Ada apa dengan Keira?"
Fahri pura-pura belum tahu apa yang terjadi dengan Keira.

"Jadi kau belum tahu?"

"Ceritakanlah!"

Jason menceritakan panjang lebar apa yang terjadi pada Keira.

"Dia keras kepala dan ceroboh! Akhirnya kemarin sudah ada kesepakatan dengan Madam Varenka, bahwa Keira harus membeli biola yang patah itu. Harganya disepakati sembllan ratus ribu pounsterling. 

Itu saja kata Madam Varenka, demi Keira ia rela menurunkan harga sampai seratus ribu poundsterling. 

Kesepakatannya rumah yang kami tempati sekarang sudah jadi milik Madam Varenka. 

Rumah itu dihargai dua ratus ribu poundsterling. Masih kurang tujuh ratus ribu akan dibayar Keira dengan cara mencicil. 

Mama sebenarnya tidak ingin rumah itu pindah ke tangan orang lain, tapi mama tidak bisa 
berbuat apa-apa. Mama korbankan rumah itu demi Keira. 

Madam Varenka baik, ia membolehkan kami menempatinya sampai setengah tahun ke depan. Kini mama kembali sering bertengkar dengan Keira. 

Yang saya sedih, Keira mau nekad menjual dirinya lagi. Saya harus bagaimana Fahri. 

Pekan depan saya sudah harus ke London dan tinggal di sana. Saya diminta mulai berlatih di camp pelatihan West Ham Yunior."

"Yang sifatnya membantu materi, saya mohon maaf tidak bisa lagi Jason."

"Saya mengerti itu Fahri. Kau sudah sangat banyak membantu. Termasuk menyelamatkan Keiradan membantu dirinya menang di Cremona."

"Saya hanya bisa memberi saran. Kalian sekeluarga harus tetap saling menyayangi dalam kondisi suka maupun duka. Keira harus dikuatkan, didukung dan dibantu. Jangan jadikan dia semakin tenggelam dalam keputusasaan. Bantu dia bangkit. 

Saya sudah siapkan paket pelatihan dan pendampingan bersama Madam Varenka agar dia menang kompetisi dunia di London. Jika Keira bisa menang maka ia akan sangat mudah membayar hutang-hutangnya. 

Kau harus bantu Keira, kau harus sadarkan mamamu untuk membantu Keira. Dan yang paling penting kau harus sadarkan Keira, jangan sampai dia putus asa terus memakai jalan pintas menjual dirinya. Kau boleh sampaikan jika dia sampai menjual dirinya maka paket pendampingan yang aku siapkan akan aku batalkan. Tapi kau jangan sekali-kali membuka rahasia bahwa aku yang menolong Keira baik kepada Keira maupun kepada mamamu."

"Baik Fahri."

"Di London kau sudah ada tempat?"

"Sudah. Pihak West Ham sangat membantu."

"Kau dikontrak berapa?"

"Hanya tiga puluh lima ribu."

"Sebagai pemain pemula itu sangat bagus. Dari tiga puluh lima ribu itu sebagian berikan kepada ibumu untuk membuatnya tersenyum dan sebagian berikan kepada Keira agar dia merasa masih memiliki saudara, masih memiliki orang yang menyayanginya."


Air mata Jason meleleh mendengar nasihat Fahri. Ia mengangguk pelan.



                              *****



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...