Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 20-02

PANASNYA BUNGA MEKAR : 20-02
Tetapi ia sama sekali tidak berhasil. Lawannya justru dapat bergerak lebih cepat lagi. Mahisa Bungalan selalu dapat memotong serangan-serangannya yang dirasakannya telah dilakukan dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Dengan demikian. maka Ki Jagabaya, orang yang paling terpercaya di samping Ki Buyut sendiri, sama sekali tidak berdaya menghadapi Mahisa Bungalan. Bahkan kadang-kadang rasa-rasanya ia ingin mengumpat sampai ke langit. Anak muda itu seakan-akan hanya sekedar bermain-main saja. Namun dalam pada itu, anak itu telah berhasil melumpuhkannya.

Dibagian lain dari pertempuran itu, Witantra berusaha untuk menguasai arena, sehingga pertempuran itu tidak akan menjadi perang yang mengerikan. Ia berusaha untuk menengahi benturan-benturan yang sudah mendekati pembunuhan. Dalam kesibukan itu, ia masih sempat menyingkirkan beberapa orang yang terluka dan mendesak para pengikut Ki Buyut untuk mundur mendekati pendapa.

“Tidak ada gunanya kalian melawan” berkata Witantra.

Tetapi pertempuran itu berlangsung terus. Bagaimanapun juga, Witantra tidak akan dapat mencegah sama sekali, darah yang mengalir membasahi halaman.

Namun dalam pada itu, segera dapat diketahui. bahwa Ki Buyut dan pengikutnya sudah hampir kehilangan kesempatan sama sekali.

Dalam pada itu, agaknya Mahisa Agni lah yang harus bertindak untuk menghentikan pertempuran itu. Ia sudah melihat beberapa orang terluka. Tetapi ia memang menghendaki, agar para pengikut Ki Buyut mengakui kelebihan Ki Demung, Ki Perapat dan para pengikutnya.

Meskipun ada juga para pengikut Ki Demung yang terluka, tetapi ternyata bahwa hadirnya Witantra di pertempuran itu, ia dapat mengatur, sehingga kekuatan Ki Demung dan pengikut-pengikutnya nampak jauh lebih tinggi dari para pengikut Ki Buyut.

Dalam pada itu, setelah Mahisa Agni menganggap cukup tekanan dan kegelisahan bagi para pengikut Ki Buyut, mulailah ia dengan lebih bersungguh-sungguh menekan Ki Buyut untuk menyerah.

Tetapi ternyata bahwa Ki Buyut benar-benar memiliki hati yang keras. Ia tidak menghiraukan peringatan-peringatan yang diberikan oleh Mahisa Agni. Bahkan setiap kesempatan yang diberikan oleh Mahisa Agni, dirasanya sebagai satu kelemahan. Karena itu, maka Ki Buyut justru bertempur lebih keras lagi.

Namun, akhirnya Mahisa Agni menganggap perlu segera mengakhiri pertempuran. Jika Ki Buyut sudah tidak berdaya, maka para pengikutnya yang telah merasa betapa beratnya tekanan lawannya, akan segera menyerah pula.

Demikianlah, maka Ki Buyut yang mengerahkan segenap kemampuannya, tiba-tiba merasa, serangan Mahisa Agni datang lebih seru. Sejenak ia masih dapat menilai kemampuan lawannya. Namun akhirnya Ki Buyut benar-benar menjadi bingung. Ia tidak mengerti, bagaimana mungkin senjata telah terlepas dari tangannya. Ketika ia berusaha untuk memungutnya, maka terasa sentuhan ujung pedang Mahisa Agni di lambungnya.

“Jangan Ki Buyut. Biarlah senjata itu terletak di situ” berkata Mahisa Agni.

Sejenak Ki Buyut tertegun. Namun tiba-tiba saja ia meloncat memungut senjatanya sambil berkata, “Jika kau ingin membunuh, bunuhlah aku.”

Namun, justru karena itu, Mahisa Agni tidak menekan ujung pedangnya sehingga menghunjam ke lambung. Ki Buyut yang agaknya justru ingin membunuh diri itu. Dibiarkannya Ki Buyut bersiap untuk menghadapinya lagi.

“Kenapa kau tidak membunuhku ketika aku memungut senjataku?” bertanya Ki Buyut.

Tetapi Mahisa Agni justru tertawa: Katanya, “Aku tidak mau melihat kau membunuh diri dengan cara demikian.”

“Persetan” geram Ki Buyut.

“Nah, setelah senjatamu berada di tanganmu lagi, kau mau apa?” bertanya Mahisa Agni.

Ki Buyut memandang wajah Mahisa Agni sejenak. Kemarahan yang tidak tertahankan telah membakar. jantungnya. Karena itu, maka ia pun segera meloncat menyerang dengan garangnya.

Mahisa Agni melangkah surut. Ketika senjata lawannya menebas mendatar, ia menghindar. Namun Ki Buyut tidak mau melepaskannya. Ia pun telah memburu dengan mengacukan senjatanya. Namun tiba-tiba saja terasa senjatanya bagaikan berputar ditangannya, Sehingga senjata itu tiba-tiba saja telah terlempar.

“Gila” geram Ki Buyut.

Namun seperti yang terdahulu, Ki Buyut tidak menghiraukan apapun lagi. Ia sama sekali tidak menghiraukan ancaman senjata Mahisa Agni. Karena itu, maka dengan serta merta, maka ia pun meloncat memungut senjatanya kembali.

Mahisa Agni pun membiarkannya. Namun ketika dengan senjata itu Ki Buyut menyerangnya sekali lagi, maka senjatanya telah terlepas pula dari tangannya.

“Setan. Anak iblis” geram Ki Buyut. Sementara Mahisa Agni tersenyum sambil berkata, “Apakah kau akan mengambil senjatamu lagi? Silahkan Ki Buyut. Aku tidak akan mengancammu lagi.

Ki Buyut benar-benar dibakar oleh kemarahan yang tidak ada taranya. Sekali lagi ia memungut senjatanya. Dan sekali lagi ia menyerang Mahisa Agni.

Tetapi yang terjadi itu telah terulang, dan terulang lagi.

Karena itu, akhirnya Ki Buyut itu menjadi putus asa. Ia sama sekali tidak dapat berbuat apapun juga. Mahisa Agni itu ternyata benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang tiada taranya, sehingga akhirnya Ki Buyut itu pun sadar bahwa Mahisa Agni memang bukan lawannya.

Dengan demikian ketika senjatanya sekali lagi terlepas, maka ia pun tidak berusaha untuk memungutnya lagi. Sambil berdiri tegak dan menengadahkan dadanya ia berkata bunuhlah aku ki sanak.”

Tetapi Mahisa Agni menggeleng. Katanya, “Aku bukan seorang pembunuh. Aku hanya ingin menempatkan persoalan ini pada keadaan yang sewajarnya.”

“Apa yang kau maksud dengan keadaan yang sewajarnya itu?” bertanya Ki Buyut.

“Aku tidak akan mengadilimu. Sebaiknya kau menghadap Sang Akuwu. Aku tidak tahu, apa yang akan dilakukan atasmu” berkata Mahisa Agni.

“Persetan. Aku tidak mau. Lebih baik kau bunuh saja aku di sini” geram Ki Buyut.

“Bukan kewajibanku.” jawab Mahisa Agni, lalu, sekarang aku minta kau menghentikan pertempuran itu. Kau dapat memerintahkan orang-orangmu berhenti melawan.

“Gila. Kenapa bukan, orang-orang Ki Demung yang diperintahkan untuk berhenti bertempur.” geram Ki Buyut.

“Mereka akan berhenti jika orang-orang berhenti melawan” sahut Mahisa Agni.

“Tidak. Aku tidak mau memerintahkan mereka berhenti bertempur. Biarlah orang-orang Ki Demung habis terbunuh” jawab Ki Buyut.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kekerasan hati memancar di wajah Ki Buyut. Agaknya ia sama sekali tidak ingin berbuat sesuatu yang akan dapat membantu mempercepat penyelesaian pertempuran itu.

Oleh karena itu maka Mahisa Agni pun menjawab, “Ki Buyut. Apa bila kau tidak mau memerintahkan orang-orangmu untuk berhenti bertempur, maka yang akan habis bukannya para pengikut Ki Demung dan Ki Perapat. Tetapi yang akan habis adalah pengikut-pengikutmu: Bebahu-bebahu yang kau angkat. yang sebenarnya bukan haknya.”

“Persetan. Bunuhlah semuanya. Aku tidak peduli.” jawab Ki Buyut, “kau dapat membunuh aku juga jika semuanya sudah terbunuh.”

Mahisa Agni menjadi termangu-mangu. Nampaknya Ki Buyut memang sulit untuk mengerti. Karena itu, maka Mahisa Agni itu pun berkata, “Baiklah Ki Buyut. Jika demikian, kita akan membiarkan pertempuran itu berlangsung. Biarlah di antara mereka mati sebanyak-banyaknya. Dan kematian itu nanti akan menjadi, pertimbangan Akuwu, betapa dahsyatnya pertempuran yang terjadi. Dan segala tanggung jawab akan dibebankan kepada Ki Buyut.”

“Persetan” jawab Ki Buyut, “aku sudah mati jika Akuwu itu mendapat laporan apa yang terjadi di Kabuyutan ini.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia menyadari, bahwa hal itu akan dapat terjadi. Ki Buyut itu mungkin sekali akan membunuh dirinya tanpa menghiraukan apapun yang dapat terjadi.

Karena itu, maka Mahisa Agni harus mengambil sikap. Sebelum hal itu terjadi.

Adalah di luar dugaan Ki Buyut, bahwa tiba-tiba saja Mahisa Agni telah meloncat menggapainya. Dengan tangan sebelah, Mahisa, Agni telah menerkam tengkuk Ki Buyut. Satu hentakkan telah menekan urat di pangkal leher Ki Buyut.

Ki Buyut tidak tahu apa yang telah terjadi atas dirinya. Tetapi tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya bagaikan lumpuh. Meskipun ia tidak tertidur, namun rasa-rasanya ia tidak dapat berbuat sesuatu. Bahkan berdiri pun ia tidak sanggup lagi.

Mahisa Agni lah yang kemudian menolong memapahnya dan kemudian meletakkannya di pendapa, duduk sambil bersandar tiang.

“Ki Buyut” desis Mahisa Agni, “aku dapat membuatmu tidur dan tidak menyadari apa yang terjadi dengan satu pijitan yang lain. Tetapi aku pun dapat membuat urat-uratmu tidak bekerja sehingga kau seakan akan menjadi lumpuh. Duduklah, dan jagalah agar kau tidak terjatuh. Jika kau tidak berusaha untuk banyak bergerak, maka kau akan dapat bertahan duduk untuk beberapa lama.”

“Persetan. Licik” geram Ki Buyut.

“Jangan mengumpat begitu. Lebih baik.kau memerintahkan orang-orangmu berhenti bertempur sebelum korban akan jatuh lebih banyak lagi.” sahut Mahisa Agni. Lalu, “Semakin banyak korban yang jatuh, semakin berat tanggung jawabmu.”

“Kau yang harus bertanggung jawab” geram Ki Buyut.

“Aku akan pergi sebelum. Akuwu datang. Ki- Demung dan Ki Perapat lah yang akan menemui Akuwu, atau akan membawa kalian menghadapinya, jika Akuwu menghendaki. Ki Demung lah yang akan menjawab semua pertanyaan Akuwu tentang kalian dan tentang apa saja yang telah kalian lakukan di sini. Terakhir adalah usahamu melepaskan pemimpin perampok itu. Adalah tidak masuk akal jika seorang Buyut melepaskan seorang pemimpin perampok yang telah merampok di salah satu padukuhan yang terletak di dalam lingkungan Kabuyutannya.”

“Persetan. Aku tidak peduli” geram Ki Buyut.

“Baiklah. Dan perhatikan pertempuran itu. Kau lihat, bagaimana anak muda itu bermain main dengan Ki Jagabaya?” bertanya Mahisa Agni.

Ki Buyut tidak menjawab. Tetapi ia pun sempat memperhatikan apa yang terjadi dengan Ki Jagabaya.

Agaknya Mahisa Bungalan dengan sengaja ingin menunjukkan kepada Ki Jagabaya bahwa kesombongannya sama sekali tidak seimbang dengan kemampuannya. Karena itu, maka setiap kali ujung senjata Mahisa Bungalan telah menyentuh kulitnya. Meskipun ujung senjata itu tidak mengoyak kulitnya itu, namun sentuhan itu telah meninggalkan luka betapa tipisnya, sehingga darah pun telah mengembun di luka itu.

Mahisa Bungalan yang masih muda itu, ternyata mampu menahan diri, justru setelah ia melihat keadaan lawannya. Meskipun kesombongan masih. nampak pada sikap dan kata-katanya, tetapi Ki Jagabaya tidak dapat mengelakkan kenyataan, bahwa tubuhnya telah berdarah di beberapa tempat. Lengannya, pundaknya, dadanya dan bahkan punggungnya.

“Menyerahlah” geram Mahisa Bungalan, “lihatlah, Ki Buyut sudah duduk di pendapa. Justru beristirahat dengan tenangnya melihat kau yang semakin banyak menitikkan darah. Kenapa kau tidak berhenti bertempur, menyerah dan beristirahat?”

Ki Jagabaya menggeram. Ia menghentakkan kemampuannya menyerang Mahisa Bungalan. Namun justru senjata anak muda itulah yang menyentuh lambungnya. Segores kecil. Tetapi menyakitkan. Bukan sakit pada luka itu. Tetapi justru sakit di hati Ki Jagabaya: yang sombong itu.

Sementara itu, Witantra lah yang masih sibuk bersama para pengikut Ki Demung. Setiap kali Witantra berusaha untuk menahan agar tidak terjadi pembunuhan-pembunuhan yang tidak perlu. Sementara ia pun sebenarnya menunggu sikap Ki Buyut dan Ki Jagabaya.

“Cepatlah bersikap Ki Buyut” berkata Mahisa Agni.

“Aku tidak peduli” jawab Ki Buyut.

“Baiklah” berkata Mahisa Agni, “aku akan turun ke arena. Ki Jagabaya dan orang-orangmu akan mati di sini. Sementara itu kau akan tetap hidup. Jika Akuwu tidak dapat datang, maka kau dalam keadaanmu akan dibawa menghadap untuk menerima hukuman, yang akan kau jalani dalam keadaanmu sekarang. Tidak seorang pun yang akan dapat mengobati lumpuhmu jika bukan aku sendiri.”

Wajah Ki Buyut menjadi tegang. Tetapi ia masih tetap tidak berdaya untuk berbuat sesuatu. Seakan-akan seluruh tubuhnya memang sudah lumpuh.

“Pikirkanlah” berkata Mahisa Agni, “selebihnya kau harus mengetahui bahwa pada suatu saat kesabaranku akan sampai ke batas. Dan aku akan berbuat sesuatu yang tidak pernah kau duga sebelumnya. Terhadapmu dan juga terhadap orang-orangmu.”

Ki Buyut masih tetap berdiam diri. Sementara Mahisa Agni berkata selanjutnya, “Kau lihat orangmu yang paling kau percaya. Ia tidak berdaya sama sekali menghadapi anak muda itu. Lihatlah dengan seksama. Apakah kau kira anak muda itu benar-benar bertempur. Bukankah ia sedang bermain main? Seperti juga saudaraku yang seorang itu. Ia berada di antara mereka yang bertempur itu sekedar untuk melerai kekerasan-kekerasan yang tidak perlu. Tetapi jika sikapnya berubah, dapat kau bayangkan, apa yang akan terjadi.”

“Aku tidak peduli” Ki Buyut hampir berteriak.

“Baik” Mahisa Agni pun hampir berteriak. Lalu katanya kepada Mahisa Bungalan, “Mahisa Bungalan. Bawa lawanmu kemari dalam keadaan yang tidak diinginkannya sama sekali. Biarlah ia menjadi lumpuh dan tidak dapat berbuat apa-apa. Kemudian kita bertiga akan mengambil sikap terhadap orang-orang padukuhan ini.”

Perintah Mahisa Agni itu ternyata telah’ menggetarkan hati Ki Buyut yang semula telah membatu itu. Ketika Mahisa Bungalan kemudian mendesak Ki Jagabaya dan dengan putaran senjatanya anak muda itu berhasil melemparkan senjata Ki Jagabaya, maka tiba-tiba Ki Buyut pun berdesis perlahan, “Baiklah. Kami menyerah.”

“Bagus” sahut Mahisa Agni, “perintahkan kepada orang-orangmu sebelum mereka tertumpas habis dan semuanya itu akan menjadi tanggung jawabmu.”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika melihat Mahisa Bungalan mengancam Ki Jagabaya dengan senjatanya, maka ia pun kemudian berkata, “Kita menyerah.”

Ki Jagabaya berpaling. Tetapi ia pun tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Sakit hatinya bagaikan meretakkan tulang-tulang di dadanya. Namun ia tidak dapat ingkar dari kenyataan yang dihadapinya. Bahwa -orang-orang yang datang bersama Ki Demung telah memenangkan pertempuran itu. Kemampuan pengaruh sorot mata Ki Buyut tidak lagi dapat menguasai kesadaran pribadi mereka, sementara kepercayaan mereka terhadap senjata mereka pun hampir tidak berarti sama sekali. Meskipun jumlah mereka lebih banyak, tetapi Ki Demung dan orang-orangnya benar-benar telah berhasil menguasai mereka.

Dengan demikian, maka Ki Buyut dan orang-orangnya itu pun telah menyatakan menyerahkan diri. Mereka kemudian berkumpul di pendapa, sementara senjata mereka telah dikumpulkan pula. Mahisa Agni telah membebaskan Ki Buyut dari kelumpuhannya, meskipun ia masih harus mengawasinya, karena dalam keadaan tertentu, jika para pengikut Ki Demung lengah, pengaruh sorot mata Ki Buyut akan dapat menguasai mereka kembali.

Namun dalam pada itu, ternyata pertempuran itu telah mengakibatkan beberapa orang terluka. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang menjadi parah.

Dengan obat-obatan yang ada, Witantra telah berusaha menolong mereka, sehingga penderitaan mereka menjadi agak ringan. Sementara Mahisa Agni berkata, “Hari ini kalian harus memanggil seorang tabib yang paling pandai di daerah ini, sehingga ia akan dapat mengobati mereka yang terluka sebaik-baiknya. Terlebih lebih mereka yang terluka parah dan tidak mampu lagi berbuat sesuatu.”

Sementara itu, Ki Buyut dan Ki Jagabaya duduk dengan kepala tunduk. Mereka seolah-olah sedang mengenang masa-masa lampau mereka. Saat-saat mereka mulai memanjat ke jenjang kekuasaan di Kabuyutan itu.

Namun segalanya telah berakhir.

Ada semacam penyesalan menyelinap di hati Ki Buyut Jika ia puas dengan keberuntungannya, bahwa ia telah berhasil memikat hati anak Ki Buyut. tua dan kemudian menggantikannya. Seandainya ia puas dengan kedudukan itu dan kekuasaan yang diperoleh karena kedudukan itu.

Tetapi segalanya sudah terjadi. Dan ia tidak akan dapat lari dari tanggung jawab; Apalagi tentang pemimpin perampok yang telah dilepaskannya itu.

Ki Demung lah yang kemudian memberikan beberapa keterangan tentang kehadirannya. Katanya, “Aku tidak sempat mengatakannya saat aku datang. Tetapi aku kira kalian semuanya telah mengetahui, kenapa aku datang bersama beberapa orang bersenjata, justru karena di rumah ini ada beberapa orang bersenjata pula.”

Ki Buyut sama sekali tidak menyahut. Bahkan kepalanya menjadi semakin tunduk.

Dalam pada itu, Ki. Demung pun berkata selanjutnya, “Sebenarnya hati-kami telah terbakar oleh kemarahan. Jika di sini tidak ada ketiga orang yang telah menolong kami menyelamatkan Kabuyutan ini, maka keadaan kita tentu sudah menjadi terlalu buruk. Tetapi kehadiran mereka telah berhasil membatasi keadaan.”

Ki Buyut hanya menarik nafas dalam-dalam. Dan Ki Demung pun melanjutkan, “Nah, segalanya terserah kepada kebijaksanaan Akuwu. Kami akan menghadap dan melaporkan apa yang telah terjadi di sini.”

Memang tidak ada pilihan lain. Ki Buyut pun tidak dapat mengelak lagi. Ketika ia bersama beberapa orang dipersilahkan masuk ke gandok dan diselarak dari luar, maka Ki Buyut itu pun kemudian duduk di sudut amben sambil berdesah panjang. Tetapi yang terjadi sudah terjadi.

Ki Demung masih minta agar Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan untuk tinggal beberapa saat lagi di Kabuyutan itu sampai segalanya dapat diselesaikan dengan Akuwu yang tentu akan mengambil sikap terhadap ,seorang Buyut yang telah berbelok dari jalur jalan yang seharusnya ditempuh.

Ketika semuanya telah dikemasi, maka Ki Demung dan Ki Perapat pun segera berangkat menghadap Akuwu untuk melaporkan apa yang telah terjadi di Kabuyutan mereka. sementara Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan masih tetap berada di kabuyutan itu.

Namun dalam pada itu, sambil menunggu Akuwu maka Mahisa Bungalan telah pergi Mengambil pemimpin perampok yang telah tertangkap kembali, sementara orang lain telah berusaha memanggil tabib yang dapat menolong orang-orang yang terluka. Bahkan ada di antara mereka yang terluka berat.

Pemimpin perampok yang telah dibawa ke rumah Ki Buyut itu tidak dimasukkan ke dalam ruang yang sama. Tetapi ia dibawa ke ruang yang lain, sementara Mahisa Agni. Witantra dan Mahisa Bungalan dapat bertanya kepada mereka tentang orang yang disebut Rajawali Penakluk.

“Orang itu sudah lama meninggalkan kami” berkata pemimpin perampok itu.

Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan memang tidak dapat memaksa orang itu untuk dapat mengatakan sesuatu tentang Rajawali Penakluk. Mereka percaya bahwa Ki Dukut memang sudah meninggalkan para perampok yang pernah diharapkan akan dapat membantunya. Namun ia selalu mengalami kegagalan. Bahkan bersama orang-orang yang memiliki kemampuan dengan ilmu hitamnya pun, Ki Dukut tidak pernah dapat berhasil.

Karena itu, maka Mahisa Agni. Witantra-dan Mahisa Bungalan pun tidak memaksanya untuk berbicara lagi. Dibiarkannya pemimpin perampok itu untuk menunggu, apa yang diperintahkan oleh Akuwu.

Jarak antara padukuhan itu dengan Pakuwon tidak terlalu jauh, meskipun ternyata bahwa Ki Demung dan Ki Perapat tidak segera dapat menghadap dan harus bermalam satu malam.

Tetapi Ki Demung dan Ki Perapat tidak mencemaskan keadaan Kabuyutan mereka, karena di Kabuyutan itu masih ada orang-orang yang sebenarnya memang memiliki kemampuan yang luar biasa. Bahkan sulit untuk digambarkan.

Di Kabuyutan, Mahisa Agni telah mengambil sikap tertentu beberapa orang bebahu yang memang tidak terlibat, telah membantu Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan menguasai keadaan di Kabuyutan itu.

Peristiwa yang terjadi di rumah Ki Buyut itu memang tidak dapat dibatasi di dalam dinding halaman saja. Karena dalam waktu yang singkat berita itu telah menjalar sampai ke seluruh daerah Kabuyutan. Berita yang tidak jelas telah menjalar dari mulut ke mulut. Tetapi berita itu telah berkembang dan berubah sesuai dengan orang-orang yang menerus, kan berita itu. Ada yang berpihak kepada Ki Buyut, dan menyiarkan berita, seolah-olah Ki Demung dan Ki Perapat telah merebut kedudukan Ki Buyut dibantu oleh beberapa orang tidak dikenal dan seorang pemimpin perampok yang sakti. Tetapi orang lain mengatakan, bahwa Ki Buyut telah bersekutu dengan sekelompok perampok untuk merampok orang-orang di Kabuyutannya sendiri, sehingga Ki Demung dan Ki Perapat terpaksa bertindak. Sementara orang lain lagi mengatakan bahwa yang terjadi sebenarnya adalah perebutan kedudukan berdasarkan kepada kecurigaan yang tidak mendasar dan dendam yang sebenarnya sudah berakar sejak nenek moyang Ki Demung dengan keluarga Ki Buyut.

Karena itulah, maka para bebahu yang tidak terlibat pun segera memanggil setiap pemimpin padukuhan ke rumah Ki Buyut. Atas nama Ki Demung mereka memberikan panjelasan, apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Jangan membuat tanggapan menurut selera kalian sendiri-sendiri” berkata seorang bebahu yang sudah lanjut usia, “kita harus mendudukkan peristiwa ini pada tempat yang sebenarnya. Ki Buyut harus kalian lihat sesuai dengan apa adanya”

Orang-orang yang memang tidak menyukainya cepat menyesuaikan diri dengan keterangan bebahu itu, sementara yang lain pun kemudian melihat satu kenyataan, bahwa Ki Buyut adalah seorang bekas perampok yang telah memanfaatkan kedudukannya untuk mencari keuntungan.

Namun dengan sungguh-sungguh para bebahu berusaha menenangkan keadaan, sehingga akhirnya kegelisahan orang-orang di seluruh Kabuyutan itu pun dapat diredakan.

Namun dalam pada itu, semalam suntuk hampir semua laki-laki di Kabuyutan itu tidak ada yang sempat tidur. Mereka siap untuk berjaga-jaga di seluruh Kabuyutan. Di padukuhan-padukuhan besar dan kecil gardu-gardu perondan menjadi penuh. Anak-anak muda berkeliaran di mulut-mulut lorong, di gerbang-gerbang padukuhan dan tikungan- tikungan. Bagaimanapun juga mereka mencemaskan, bahwa ada juga beberapa pihak yang akan memancing keuntungan dalam keadaan yang keruh. Mungkin sekelompok perampok yang lain, mungkin orang-orang yang ingin melihat Ki Buyut bebas atau kemungkinan-kemungkinan yang tidak diketahui lainnya.

Sementara itu, Mahisa Agni, Witantra dan. Mahisa Bungalan masih tetap berada di rumah Ki Buyut. Mereka menunggu Ki Demung dan Ki Perapat kembali dengan membawa sikap sesuai dengan keputusan Akuwu.

Di pagi harinya, barulah Ki Demung dan Ki Perapat sempat menghadap Akuwu. Mereka mengatakan apa yang telah terjadi di Kabuyutan mereka dan memberikan beberapa keterangan tentang Ki Buyut dan apa yang telah dilakukannya di saat-saat terakhir.

“Apakah kau tidak berbohong?” bertanya Akuwu.

“Ampun Sang Akuwu. Hamba telah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di Kabuyutan kami” berkata, Ki Demung.

Akuwu yang masih muda itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun memanggil seorang Senapatinya sambil berkata “Bawalah dua orang pengawal. Lihatlah apa apa yang terjadi di Kabuyutan itu. Laporanmu akan menentukan keputusanku”

Ki Demung menarik nafas dalam-dalam. Ternyata masalahnya tidak dapat selesai secepat dugaannya. Namun bahwa Akuwu telah mengirimkan seorang Senapati, tentu akan memberikan gambaran yang sebenarnya.

Demikianlah, maka yang datang ke Kabuyutan itu sama sekali bukan Akuwu sendiri atau memerintahkan orang-orang Kabuyutan itu membawa Ki Buyut menghadap. Tetapi ia masih memerlukan untuk melihat persoalannya lewat seorang Senapatinya.

Namun ternyata Senapati itu telah melakukan tugasnya dengan cermat. Ia telah bertemu dengan Ki Buyut dan para pengikutnya. Berbicara dengan mereka dan berusaha melihat persoalannya dengan sudut pertimbangan seorang Senapati.

Dalam pada itu, Senapati itu masih sempat juga tersenyum sambil berkata kepada Ki Buyut di dalam ruang tertutup, namun yang dapat didengar oleh Mahisa Agni dan beberapa orang lain di luar bilik itu, “Jangan main-main Ki Buyut. Aku tahu, bahwa kau mempunyai kekuatan yang sangat berpengaruh pada tatapan matamu. Tetapi jangan mencoba mempengaruhi aku untuk melepaskanmu, karena dengan demikian akan berarti, bahwa aku akan kau adu dan kau benturkan kepada orang-orang padukuhan ini”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Kepalanyapun kemudian tertunduk lesu. Ia tidak berhasil mempergunakan sorot matanya untuk mempengaruhi Senapati yang memiliki kepribadian yang kuat itu.

Karena itu, maka Senapati itupun justru menjadi lebih berhati-hati menghadapinya.

Setelah semua pertanyaan dijawab oleh Ki Buyut yang merasa tidak mampu mengelak lagi, maka Senapati itu pun telah diantar ke ruang yang lain untuk berbicara dengan pemimpin perampok yang telah berada di rumah Ki Buyut itu pula. Dari pemimpin perampok itu, Senapati itu pun mendapat beberapa penjelasan tentang Ki Buyut, dan apa saja yang pernah dilakukannya sebelumnya.

Dengan demikian, maka bahan laporan Senapati itu menjadi lengkap. Ia telah mengetahui apa yang pernah dilakukan oleh Ki Buyut sebelum ia mendapatkan kedudukan itu dan apa pula yang telah dilakukannya di saat-saat terakhir.

Karena itu, maka Senapati itu merasa, bahwa tidak ada persoalan lagi yang harus dibicarakannya di Kabuyutan itu, sehingga ia merasa perlu untuk segera minta diri.

Tetapi ternyata masih ada yang menarik perhatiannya. Senapati itu melihat, ada tiga orang yang tentu bukan orang dari Kabuyutan itu.

“Kami memang bukan orang-orang Kabuyutan ini” berkata Mahisa Agni.

“Jadi, siapakah kalian dan apakah kepentingan kalian di daerah ini?” bertanya Senapati itu kepada Mahisa Agni.

“Kami adalah pengembara. Kami mengembara dari satu tempat ke tempat lain sekedar untuk melihat-lihat keadaan” jawab Mahisa Agni.

Tetapi kalian tentu mempunyai tujuan. Di Kabuyutan ini kalian telah membantu membuka satu persoalan yang sangat menarik. Namun apakah kalian berbuat seperti ini pula di tempat yang lain? Atau kalian hanya sekedar ingin melihat satu perubahan terjadi di satu tempat?” bertanya Senapati itu.

“Tidak Ki Sanak” jawab Mahisa Agni “kami tidak pernah berbuat sesuatu jika kami tidak disentuh oleh satu peristiwa yang menurut penilaian kami kurang sewajarnya. Di Kabuyutan ini kami telah dicurigai. Namun justru karena itu, kami dapat menduga, bahwa sesuatu telah terjadi di daerah ini. Ternyata bahwa di daerah ini memang menjadi sasaran perampokan, yang justru telah menyangkut nama Ki Buyut itu sendiri”

Senapati itu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja katanya “Kami tidak akan menolak keterangan itu. Meski pun kami dapat mempunyai dugaan yang lain, bahwa kalian adalah orang-orang yang mengembara, yang bertualang dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mendapatkan kepuasan dalam benturan-benturan yang terjadi di tempat-tempat yang kau datangi. Dengan demikian maka kalian akan mendapat kan keuntungan berupa apapun juga, misalnya upah dari mereka yang pernah merasa kau tolong. Dalam hal yang terjadi di Kabuyutan ini, misalnya, kau akan mendapat ucapan terima kasih dari orang-orang di Kabuyutan ini, khususnya dari Ki Demung dan pengikut-pengikutnya”

Witantra telah menggamit Mahisa Bungalan yang bergeser setapak, sehingga anak muda itu telah mengurungkan niatnya untuk menjawab.

Yang menjawab adalah Mahisa Agni, “Ki Sanak. Sudahlah. Jangan berprasangka begitu. Sebaiknya kalian selesaikan tugas kalian di Kabuyutan ini. Setelah segalanya selesai, maka kami pun akan meninggalkan tempat ini. Sebenarnyalah bahwa kami tidak mengharapkan apapun juga dari Ki Demung dan semua orang Kabuyutan ini. Kami berbuat seperti yang kami lakukan, semata-mata karena kami merasa bahwa menjadi kewajiban setiap orang untuk saling membantu dalam keadaan yang pahit terutama. Karena pada suatu saat. akupun tentu memerlukan juga bantuan dari pihak yang sekarang masih belum aku kenal”

Senapati itu mengangguk-angguk. Namun katanya, “Baiklah. Tetapi aku minta kalian bersedia bersama kami menghadap Akuwu. Mungkin Akuwu mempunyai beberapa pertanyaan kepadamu dalam hubungan peristiwa di Kabuyutan ini”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Katanya, “Sudahlah Ki Sanak. Jangan memperpanjang persoalan. Kami merasa bahwa tugas kami sudah selesai. Biarlah kami pergi meninggalkan Kabuyutan ini, dan mungkin kami pun akan segera meninggalkan daerah Pakuwon ini. Seperti yang kami katakan, bahwa kami mengembara tanpa tujuan, semata-mata untuk melihat kehidupan mi dalam segala segi dan ujudnya”

Tetapi Senapati itu tersenyum. Katanya, “Memang menarik sekali. Tetapi sulit untuk dipercaya bahwa kalian telah berbuat sesuatu sehingga kalian mempertaruhkan nyawa kalian”

“Sebaiknya Ki Sanak tidak usah menghiraukan kami” jawab Mahisa Agni pula.

Senapati itu mengangguk-angguk. Tetapi wajahnya sama sekali tidak memberikan kesan keterbukaan hatinya. Sehingga dengan demikian maka Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar.

Dalam pada itu, Ki Demung yang merasakan pertolongan Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan, bukan saja karena mereka telah berhasil mengatasi pengaruh Ki Buyut dan orang-orangnya, juga karena mereka telah membantu menangkap pemimpin perampok yang akan dapat menjadi saksi utama dari persoalan yang sedang mereka hadapi di Kabuyutan itu, berusaha untuk memberikan keterangan “Sebenarnyalah mereka adalah orang-orang yang telah banyak berjasa dalam masalah ini, sehingga segalanya dapat menjadi jelas”

Senapati itupun mengangguk-angguk pula. Tetapi ia kemudian berkata, “Baiklah. Aku percaya bahwa kalian telah melakukan sesuatu yang menguntungkan di Kabuyutan ini. Mungkin orang-orang Kabuyutan ini pun tidak akan mengatakan bahwa mereka telah memberi kalian upah yang tinggi atas jasa-jasa kalian”

“Tidak” sahut Ki Perapat, “kami tidak memberikan ampun juga kepada mereka. Mereka datang tanpa kami minta dan mereka melakukan segalanya atas kehendak mereka sendiri”

Senapati itu tertawa, “Kalian adalah orang-orang Kabuyutan yang masih diselebungi oleh sifat-sifat kalian yang jujur dan tanpa prasangka apapun juga. Karena itu, kalian justru mudah dikelabui orang yang kemudian kalian anggap sebagai Buyut itu, ternyata telah menipu kalian untuk waktu yang cukup lama. Hal ini dapat terjadi karena kalian menanggapi perubahan keadaan dengan tanpa prasangka apapun juga. Dan nampaknya orang lain telah memanfaatkan sifat kalian itu sebaik-baiknya”

Ki Demung dan Ki Perapat mengerutkan keningnya. Sementara Senapati itu berbicara selanjutnya, “Ki Demung. Kalian dan setiap orang di Kabuyutan ini tentu merasa berhutang budi kepada ketiga orang ini. Dengan demikian perasaan itu akan mengikuti kalian seumur hidup kalian. Jika kalian mengupah seseorang, maka demikian upah kalian serahkan, maka persoalannya sudah selesai. Kalian sudah membeli apa yang kalian terima dari pihak lain. Tetapi dengan berhutang budi, maka kalian akan menjadi sumber pemerasan yang tidak ada kering-keringnya. Pada suatu saat mereka bertiga akan datang dan mengeluh karena sesuatu persoalan. Maka aku yakin bahkan pasti, bahwa kalian akan memberikan pertolongan yang berlebih-lebihan. Di saat lain, mereka akan datang pula dengan cara yang sama, sehingga mereka akan menerima pemberian kalian sebagai balas budi. Tetapi yang akan mereka lakukan adalah berulang-ulang dan bahkan berpuluh-puluh kali. Nah, apakah kira-kira yang akan terjadi di Kabuyutan ini”

Ki Demung dan Ki Perapat tidak menjawab. Tetapi mereka benar-benar memikirkan pendapat Senapati itu. Apalagi, ketika Senapati itu berkata, “Karena itu, sebaiknya orang-orang Kabuyutan ini tidak usah memikirkannya. Kami akan membawa ketiga orang ini menghadap Sang Akuwu”

“Tidak mungkin” tiba-tiba saja Mahisa Bungalan telah menjawab.

Tetapi Witantra menggamitnya sekali lagi sambil berdesis, “Biarlah diselesaikan oleh pamanmu Mahisa Agni”

Dalam pada itu, Senapati itupun berkata, “Biarlah Akuwu mengambil keputusan. Jika kalian memang tidak bersalah, maka kalian tentu akan dilepaskan. Tetapi jika penglihatan batin Akuwu yang tajam melihat, bahwa kalian memang bersalah dan apa lagi terbiasa melakukan pemerasan, maka kalian tentu akan menerima hukumannya. Tidak seorang pun yang dapat lolos dari tangannya. Meskipun Akuwu masih muda. tetapi ia memiliki kelebihan dari kebanyakan orang”

Mahisa Bungalan menjadi tegang. Namun ia masih tetap menahan hati. Seperti Witantra, maka ia pun akan menyerahkan semuanya kepada Mahisa Agni.

Dalam pada itu, Mahisa Agni pun berpikir sejenak. Dipandanginya Ki Demung dan Ki Perapat berganti-ganti.

Nampaknya mereka telah terpengaruh oleh kata-kata Senapati itu. Sehingga dengan demikian, mereka telah menjadi berprasangka terhadap Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan.

“Ki Sanak” berkata Senapati itu “jangan membantah lagi. Ikutilah kami menghadap Sang Akuwu”

Mahisa Bungalan terkejut ketika ia mendengar Mahisa Agni menjawab, “Baiklah. Kami tidak akan membantah lagi”

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas kesediaan Ki Sanak. Bersiaplah. Kita akan segera berangkat”

Ketika Mahisa Bungalan beringsut, maka Mahisa Agni pun memberi isyarat kepadanya, agar ia tidak menolak. Betapapun beratnya perasaan Mahisa Bungalan, namun akhirnya ia pun terpaksa mengikuti keputusan yang sudah diambil oleh Mahisa Agni dan yang agaknya akan dilakukan pula oleh Witantra mengikuti Senapati itu menghadap Sang Akuwu”

Dengan demikian, maka Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan pun segera bersiap pula. Mereka membenahi kuda-kuda mereka dan diri mereka sendiri. Sementara Ki Demung dan Ki Perapat hanya memandangi mereka bertiga dengan hati yang gelisah dan penuh kebimbangan.

Dalam pada itu Mahisa Agni pun kemudian mendekatinya sambil tersenyum. Katanya, “Jangan gelisahkan kami. Kami sudah berusaha berbuat sebaik-baiknya bagi kalian. Tetapi ternyata yang kami lakukan itu masih harus diusut oleh Akuwu”

Ki Demung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun bergumam, “Percayalah. Akuwu tentu tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah”

Mahisa Agni mengangguk. Jawabnya, “Tentu. Kami yakin, bahwa Akuwu akan bijaksana”

Namun dalam pada itu. Mahisa Bungalan menjadi semakin gelisah. Ia tidak mengerti sama sekali, kenapa Mahisa Agni menerima keputusan Senapati yang baginya sama sekali tidak bijaksana.

Namun akhirnya, Mahisa Bungalan pun mengerti maksud Mahisa Agni ketika pamannya itu sempat membisikkan sesuatu ditelinganya. Meskipun demikian, ia masih belum dapat menerima sepenuhnya keputusan Mahisa Agni untuk mengikuti Senapati itu menghadap Akuwu.

“Jangan rendahkan wibawa Akuwu dihadapan orang-orang Kabuyutan yang sedang bergejolak itu” berkata Mahisa Agni, “karena itu, biarlah kita mengikutinya. Kita akan dapat memisahkan diri kapan saja kita kehendaki. Senapati dan pengawalnya itu tidak akan dapat mencegah kita lagi. Bahkan kita akan dapat kembali ke Kabuyutan dan minta diri kepada mereka untuk meninggalkan daerah ini”

Witantra mengangguk-angguk, tetapi Mahisa Bungalan hanya menundukkan kepalanya saja. Ia justru ingin menunjukkan kepada orang Kabuyutan, bahwa yang dilakukan oleh Senapati itu kurang adil.

Namun demikian, ia tidak mau membantah pamannya, karena bagaimanapun juga Mahisa Agni mempunyai pengaruh yang kuat sekali terhadap dirinya, sebagaimana ayahnya sendiri.

Demikianlah maka ketiga orang itu pun mengikuti Senapati yang ingin membawanya kepada Akuwu. Senapati itu berkuda justru di belakang, sementara seorang pengawalnya berkuda disampingnya, sedangkan pengawalnya yang seorang lagi berkuda di paling depan, di antara oleh Mehisa Agni, Mahisa Bungalan dan Witantra.

“Jangan berbuat sesuatu yang dapat menyulitkan kalian” berkata Senapati itu setiap kali. Dan setiap kali pula Witantra menggamit Mahisa Bungalan apabila ia berpaling dengan wajah yang tegang.

“Kapan kita melepaskan diri dari keadaan yang menjemukan ini paman” desis Mahisa Bungalan.

Witantra tersenyum. Katanya, “Jangan tergesa-gesa. Waktu masih panjang. Perjalanan ini baru saja kita mulai”

“Tentu kita tidak akan menunggu sampai kita memasuki halaman istana Akuwu” gumam Mahisa Bungalan.

“Tentu tidak. Dihadapan kita itu adalah sebuah bulak panjang” berkata Witantra, “jika pamanmu Mahisa Agni setuju, biarlah kita menyimpang di bulak itu”

Di luar sadarnya Mahisa Bungalan telah berpaling. Justru karena itu, maka sikapnya telah menarik perhatian Senapati itu, sehingga ia pun mendekat sambil berkata, “Anak muda, sikapmu membuat aku curiga. Jangan kau anggap bahwa aku adalah sedungu orang-orang Kabuyutan itu, sehingga kau akan dapat berbuat apa saja yang kau kehendaki. Tetapi aku mengemban perintah Sang Akuwu untuk bertindak terhadap siapa pun yang menolak perintahku. Termasuk kalian, karena tidak ada satu sebab pun yang dapat menolong kalian dengan sikap khusus terhadap kalian”

Yang menjawab adalah Witantra, “Kami tidak akan berbuat apa-apa yang barangkali tidak sesuai dengan kehendakmu Ki Sanak. Kami sudah mengikut kalian sesuai dengan perintah kalian”

Tetapi Senapati itu menjawab, “Sikap kawanmu yang muda itu menyinggung perasaan kami. Ia tidak menerima hal ini dengan ikhlas dan penuh pengertian. Nampaknya ia melakukannya dengan terpaksa karena kalian berdua, yang tua-tua, bersedia melakukan perintahku”

“Apapun yang telah dilakukannya, tetapi kami semuanya telah mematuhi perintah kalian” jawab Mahisa Agni pula.

“Ada dua kemungkinan” berkata Senapati itu, “melakukan perintahku dengan ikhlas dan mengerti artinya, atau dibawah pengaruh kekuasaanku sehingga hal itu dilakukan dengan terpaksa”

“Bagi Ki Sanak, tidak ada bedanya, apakah kami mengikut Ki Sanak karena kami mengerti maksud Ki Sanak atau karena kami menghormati kekuasaan yang ada pada Ki Sanak”

“Ada bedanya Ki Sanak” jawab Senapati itu, “jika kalian melakukan dengan pengertian, maka sebenarnya kami tidak usah mengawasi kalian seperti mengawasi tawanan. Tetapi jika kalian melakukan perintahku karena kekuasaanku, maka kami harus mengawasi kalian yang setiap saat mungkin sekali akan melarikan diri. Sikap itu nampak pada anak muda itu. Nampaknya ia melakukan perintahku karena ia takut melihat kuasaku dan kemampuanku mempergunakan kekuasaanku. Karena itu, anak muda itu perlu diawasi. Mungkin saja ia tiba-tiba memacu kudanya dan melarikan diri, sehingga salah seorang dari kami harus mengejarnya. Tetapi jika demikian, maka nasibnya akan menjadi buruk. Ia akan diperlakukan dengan kasar, seperti kami memperlakukan para perampok”

Mahisa Bungalan menggeram. Namun karena mereka sudah memasuki bulak panjang, maka Mahisa Bungalan itu ternyata tidak lagi dapat menahan hatinya, sehingga iapun menjawab, “Jangan terlalu meremehkan kami”

Jawaban itu benar-benar mengejutkan. Bahkan Mahisa Agni dan Witantra pun telah terkejut. Tetapi kata-kata itu sudah diucapkan oleh Mahisa Bungalan Bahkan katanya kemudian, “Kita sudah berada di bulak panjang”

“Anak muda” berkata Senapati itu dengan nada yang agak keras, “apakah kau mulai akan memberontak?”

“Kau sendirilah yang menggelitik aku untuk melakukan sesuatu” jawab Mahisa Bungalan.

“Diamlah” berkata Senapati itu, “pandanglah ke depan atau tundukkan kepalamu. Jangan membuat aku marah”

“Kau juga jangan membuat aku marah” sahut Mahisa Bungalan.

Pengawal yang berkuda di depan tiba-tiba saja telah berhenti dan memutar kudanya. Wajahnya yang gelap nampak semakin buram. Dengan nada berat ia berkata, “Kau membuat jantungku berdegup semakin cepat. Tetapi aku masih berusaha untuk menahan diri. Tetapi seandainya sekarang juga Senapati memerintahkan, aku akan membungkam mulutmu”

Wajah Mahisa Bungalan pun menjadi marah. Namun dalam pada itu ternyata Mahisa Agni dan Witantra tidak lagi mencegahnya.

Kedua orang tua itu telah membiarkan Mahisa Bungalan menjadi marah karena tingkah laku Senapati itu. Sehingga anak muda itupun berkata, “Senapati. Sudah sampai saatnya aku menentukan sikap. Aku tidak mau kau perlakukan serjerti ini”

“Gila” geram pengawal yang tangannya menjadi gemetar.

Senapati itu pun menjadi marah pula. Dengan suara bergetar ia berkata, “Apakah kau benar-benar akan memberontak? Mintalah pertimbangan kepada dua orang tua-tau ini”

Namun ternyata jawab Mahisa Agni telah mengejutkan Senapati itu pula, “Ki Sanak. Kau pun telah berbuat melampaui batas kesabarannya. Anak itu sudah menahan hati sejak ia mendengar niatmu untuk membawanya menghadap Akuwu. Akulah yang memaksanya agar ia menuruti perintahmu. Bukan karena kami merasa bahwa kami tidak akan dapat melepaskan diri dari kuasamu, tetapi kami masih menghormati kuasa Akuwu di hadapan orang-orang Kabuyutan yang sedang bergejolak itu. Jika kami menolak perintahmu, maka wibawa Akuwu pun akan tercemar. Karena itu, maka kami telah berusaha membantumu mengangkat wibawa Akuwu lewat seorang Senapatinya. Tetapi ternyata kau salah mengerti. Kau anggap kami terlalu tidak berarti, sehingga seperti yang dikatakan oleh anak muda itu, bahwa kau sudah menggelitiknya untuk mengambil sikap”

Wajah Senapati itu telah membara. Dengan suara lantang ia pun kemudian berkata, “Apakah dengan demikian berarti bahwa kalian bertiga melawan kami setelah kami tidak berada di Kabuyutan itu lagi”

Yang menjawab tegas adalah Mahisa Bungalan “Ya”

Senapati itu tidak menahan diri lagi. Dengan serta merta ia memerintahkan kepada pengawal-pengawalnya, “Tangkap mereka bertiga dan perlakukan mereka sebagai tawanan”

Kedua orang pengawal itupun segera menempatkan dirinya. Mereka masing-masing berada di tempat yang berseberangan. Yang seorang mula-mula berjalan di depan dan yang lain bersama Senapati berada di belakang.

Sejenak kemudian kedua orang itu telah berloncatan turun dari kudanya. Agaknya mereka merasa lebih mudah bertindak atas ketiga orang yang dianggapnya akan memberontak itu.

Sikap Senapati itu benar-benar telah menyakitkan hati Mahisa Bungalan. Ia sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia hanya memerintahkan kedua orang pengawalnya untuk menangkap mereka bertiga.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan yang muda itu pun kemudian berkata lantang, “Paman. Silahkan keduanya menunggu. Biarlah aku sendiri melayani kedua orang pengawal yang sombong ini”

Kata-kata itu benar-benar menusuk jantung kedua orang pengawal itu. Salah seorang dari keduanya berkata, “Jika kami membunuhmu, tidak akan ada seorang pun yang dapat menyalahkan kami”

“Tetapi juga sebaliknya” sahut Mahisa Bungalan tidak kalah lantangnya, “tidak seorang pun dapat menangkap kami jika kami membunuh kalian bertiga”

Kemarahan kedua pengawal itu sudah sampai ke puncaknya. Setelah mereka menambatkan kudanya, maka mereka pun segera bersiap untuk bertindak.

Sementara itu Mahisa Bungalan pun lelah turun pula dari kudanya dan menambatkannya pada sebatang perdu di pinggir jalan. Ia pun segera pula mempersiapkan diri menghadapi kedua orang pengawal yang datang dari sebelah menyebelah.

“Apakah kau benar-benar menantang kami berdua?” bertanya pengawal itu.

“Ya” jawab Mahisa Bungalan.

“Anak yang malang” desis pengawal yang lain, “sikapmu telah menjerumuskanmu ke dalam keadaan yang paling parah. Kau sudah pantas dihukum mati”

Mahisa Bungalan sama sekali tidak menjawab. Namun dalam pada itu, Mahisa Agni dan Witantra tidak duduk saja di punggung kudanya. Tetapi mereka pun berloncatan turun pula dan menambatkan kuda mereka masing-masing.....

Bersambung...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...