*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 34-01*
Karya. : SH Mintardja
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Dan ternyata pada akhirnya Ki Buyut dapat juga melihat kesalahan anak-anak muda di padukuhannya. Meskipun ia sangat mengharapkan agar anak-anak muda itu tidak mengalami sesuatu meskipun ia sadar, bahwa tingkah laku mereka yang sesat, namun Ki Buyut pun tidak akan dapat ingkar, bahwa anak-anaknya itu benar-benar sudah melampaui batas hubungan baik antara sesama.
Sejenak kemudian Mahendra pun mohon diri bersama kawan-kawannya meninggalkan banjar itu, setelah sekali lagi mengucapkan terima kasih.
Ternyata Ki Buyut masih sempat minta maaf atas perlakuan anak-anaknya yang tidak terkendali itu. sehingga mereka terpaksa pergi dari Banjar sebelum waktu yang mereka rencanakan.
Dalam perjalanan melintas bulak, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mendapat beberapa keterangan yang lebih banyak tentang sikap dan tingkah laku orang-orang yang sudah terpengaruh oleh Empu Purung. Menurut penilaian Mahendra, maka kegiatan padepokan Empu Purung itu sudah benar-benar merupakan persiapan kekuatan untuk menghadapi Singasari pada saat yang akan mereka tetapkan, mengingat kekuatan lain yang bergerak bersama-sama.
“Kita akan mempercepat sebelum mereka benar-benar bersiap” berkata Ranggawuni kemudian, “aku tidak melihat jalan lain kecuali menyiram api yang sudah mulai menyala dengan air.”
Mahisa Agni, Witantra, Mahendra serta kedua anaknya dapat memahami keterangan itu. Dan mereka pun memang tidak melihat cara lain kecuali menghancurkan kekuatan mereka.
Sementara itu, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka telah menjadi semakin dekat dengan barak para prajurit Singasari. Mahisa Bungalan yang melihat mereka dari kejauhan, menjadi berdebar-debar karenanya. Dengan tergesa-gesa ia menjumpai Senopati Singasari yang memimpin prajurit di barak itu. Dengan singkat ia memberitahukan, bahwa yang datang itu tentu tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
“Apakah benar-benar mereka?” Senopati itu menjadi berdebar.
“Ya. Tetapi jangan kau beritahukan prajurit-prajuritmu lebih dahulu. Mungkin itu tidak dikehendaki oleh tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.” berkata Mahisa Bungalan
“Jadi?”
“Siapkan mereka, terserahlah, apa saja alasanmu. Kita akan menerima mereka di barak ini.”
Senopati itu mengerutkan keningnya.
“Kumpulkan para prajurit. Letakkan mereka di tempat. yang sudah ditentukan. Kau tidak usah memberikan isyarat bagi prajurit-prajuritmu yang tersembunyi, karena kau masih mempunyai waktu memerintahkan dua orang penghubung datang kepada mereka.”
“Dan kau?”
“Aku akan menjemput mereka.”
Senopati itu termenung sejenak. Namun ia pun kemudian mengangguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan mempersiapkan para prajurit tanpa alasan sekalipun”
Mahisa Bungalan pun kemudian meninggalkan Senopati itu dan bergegas menyongsong iring-iringan kecil yang menuju ke Barak itu.
Dalam pada itu, anak-anak muda yang mengalami perlakuan kurang baik dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, telah sampai kepadepokan Empu Purung. Kepada pemimpin kelompok mereka melaporkan apa yang telah mereka alami.
Pemimpin kelompoknya menjadi marah karena penghinaan itu. Apalagi ketika para cantrik mendengarnya pula bahwa dua orang anak muda sudah melukai tujuh orang yang pernah mendapat latihan-latihan olah kanuragan di padepokan mereka.
“Siapakah mereka itu?” bertanya seorang cantrik.
“Pedagang, keliling. Mereka menjual dan membeli benda-benda berharga, pusaka-pusaka dan batu-batu bertuah semacam akik dan sehagainya.”
Cantrik yang mendengar jawaban itu pun termangu-mangu sejenak. Namun terasa darahnya mulai memanas. Sebagai seorang cantrik pada sebuah padepokan yang disegani, maka yang terjadi itu benar-benar merupakan sebuah penghinaan yang tidak dapat dimaafkan.
Dengan wajah yang tegang ia bertanya, “Apakah kalian bertujuh benar-benar tidak berdaya menghadapi kedua orang, anak muda itu. sehingga keduanya dapat berbuat sesuka hatinya atasmu?”
“Mereka benar-benar luar biasa.”
“Bodoh. Bukan mereka yang luar biasa. Kalianlah yang dungu, atau kalian memang sudah menjadi pengecut.”
Ketujuh orang anak muda itu terdiam. Mereka melihat wajah cantrik itu semakin tegang.
“Kita akan menyelesaikan mereka” berkata cantrik itu.
“Mereka tidak hanya berdua. Masih ada beberapa orang kawan mereka yang pada saat itu tidak berbuat apa-apa meskipun kedua kawannya berkelahi melawan tujuh orang.” berkata anak muda yang bertubuh kekar.
“Mereka terlalu yakin akan kemampuan anak-anak muda itu. Karena itu, kita harus berbuat sesuatu, agar tidak menimbulkan salah mengerti, seolah-olah padepokan kita adalah padepokan sarang orang-orang yang lemah dan membiarkan dirinya dihina oleh pedagang-pedagang akik itu.”
Anak muda bertubuh kekar itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia dengan ragu-ragu memperingatkan, “Maksudku, jika dua orang saja di antara mereka tidak dapat kami kalahkan meskipun kami bertujuh, maka jika mereka semuanya melibatkan diri, maka kekuatan mereka perlu dipertimbangkan.”
“Kau benar-benar telah menjadi seorang pengecut” bentak cantrik itu, sehingga anak muda bertubuh kekar itu pun menundukkan wajahnya, sementara cantrik itu melanjutkan, “kalian harus melihat, bahwa aku akan membuat mereka jera.
Tetapi sudah tentu aku tidak akan pergi sendiri.”
Cantrik itu pun kemudian menghubungi beberapa orang kawannya yang dianggapnya mempunyai kemampuan yang seimbang. Dengan dada tengadah ia berkata, “Aku tidak mau membuat keributan di padepokan ini. Biarlah kalian tidak menceriterakan kepada cantrik-cantrik yang lain, sehingga hati mereka pun akan terbakar pula. Kami akan menyelesaikan hal ini dengan diam-diam.”
“Apakah kami akan ikut serta?” bertanda anak muda bertubuh kekar itu.
“Itu tidak perlu” jawab cantrik itu.
Namun tiba-tiba terasa sesuatu menggelitik hati anak-anak muda yang telah menjadi merah biru dan bengkak bengkak di wajahnya itu. Bahkan di antara mereka terdengar seseorang berbisik, “Para cantrik itu agaknya juga mengingini barang-barang yang dibawa oleh pedagang itu, sehingga mereka tidak akan pergi bersama kawan-kawannya yang lain, agar barang-barang itu tidak jatuh ke tangan orang-orang yang terlalu banyak jumlahnya”
Tetapi yang lain menyahut, “Masih harus diperhitungkan, apakah mereka akan berhasil mengalahkan pedagang-pedagang itu.“
Mereka tidak mempercakapkannya lebih lanjut karena cantrik-cantrik itu berkata, “Jangan membuat ribut. Jangan kau ceriterakan kepada orang lain lagi apa yang telah kalian alami. Kamilah yang akan menyelesaikan mereka”
Anak-anak muda itu tidak menyahut, kecuali menganggukkan kepala. Bagaimanapun juga, mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa, karena para cantrik itu mempunyai wewenang jauh lebih banyak dari mereka.
Dalam pada itu, diam-diam beberapa orang cantrik telah pergi ke Banjar. Sebenarnyalah seperti yang diduga oleh anak-anak muda itu, mereka memang ingin membatasi jumlah kawan mereka, agar dengan demikian mereka akan mendapatkan sesuatu yang berharga dari antara barang-barang pedagang yang sudah menghina padepokan mereka itu.
Tetapi mereka menjadi kecewa, ketika di banjar mereka tidak menjumpai seorang pun. Para pedagang itu ternyata sudah pergi.
Dengan wajah yang merah, mereka langsung pergi ke rumah Ki Buyut, karena para cantrik itu telah mendengar, bahwa Ki Buyut ada di banjar, saat ketujuh anak-anak muda yang berada di padepokan itu mengalami perlakukan yang tidak menyenangkan.
Ki Buyut sudah mengira, bahwa tentu akan datang sekelompok orang padepokan mencarinya. Karena itulah, ia sama sekali tidak terkejut ketika beberapa orang cantrik itu datang kepadanya.
“Dimana orang-orang itu kau sembunyikan Ki Buyut?” bertanya seorang cantrik dengan kasarnya.
Ki Buyut menjawab dengan tenang, “Aku tidak menyembunyikan mereka. Mereka sendirilah yang bersembunyi.”
“Ya. Dimana mereka bersembunyi?”
“Mereka pergi ke barak prajurit-prajurit Singasari. Mereka mencoba mencari perlindungan di antara para prajurit itu.”
Wajah para cantrik itu menjadi tegang. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian dengan lantang salah seorang dari mereka berkata, “Apakah kau tidak berbohong? Ki Buyut, kami akan pergi ke barak itu. Jika Ki Buyut berbohong, maka Ki Buyut akan menyesal. Tetapi jika benar-benar mereka ada di barak, kami akan menuntut agar mereka diserahkan kepada kami.”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpikir, apakah para cantrik itu benar-benar berani datang ke barak prajurit-prajurit Singasari dan menuntut agar orang-orang yang berlindung di barak itu diserahkan kepada mereka.
Jika demikian, apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh para prajurit Singasari itu?
Selagi Ki Buyut itu termangu-mangu, maka para cantrik itu pun menjadi tidak sabar. Salah seorang dari mereka membentak “He, kenapa kau termenung? Apakah kau telah membohongi kami?”
“Tidak” sahut Ki Buyut, “aku tidak bohong. Aku berkata sebenarnya bahwa mereka ada di barak.”
Seorang cantrik yang berwajah kasar berkata, “Marilah, kita buktikan, apakah orang-orang itu benar berada di barak. Jika benar, apa salahnya kita minta mereka karena kita mempunyai persoalan dengan mereka.”
“Tetapi jika tidak” desis yang lain, “maka aku tidak akan dapat memaafkan Ki Buyut. Meskipun ia dianggap orang tua di padukuhan ini, namun ia sama sekali tidak pantas untuk dihargai.”
Ki Buyut menjadi tegang. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali
Sejenak kemudian beberapa orang cantrik yang memiliki ilmu cukup dari padepokan Empu Purung itu telah meninggalkan Ki Buyut. Menurut pengamatan Ki Buyut kemudian, mereka benar-benar telah pergi ke barak, untuk menuntut agar para pedagang itu diserahkan kepada mereka.
Seperti yang mereka katakan, maka para cantrik itu memang benar-benar pergi ke barak. Ketika mereka melihat dua orang penjaga bersenjata telanjang dimuka barak itu, salah seorang berkata, “Mereka hanya berdiri untuk menakut-nakuti orang lewat. Tidak ada yang mereka lakukan di sana. Prajurit-prajurit itu kerjanya hanyalah makan, tidur dan bergurau tanpa henti-hentinya. Mereka tidak mempunyai pekerjaan lain. Aku tidak percaya bahwa mereka memiliki keberanian untuk menolak permintaan kita jika benar-benar orang-orang itu ada dibarak.”
Yang lain mengangguk-angguk sambil tertawa. Katanya, “Mereka adalah orang-orang malas yang bodoh. Singasari pun terlalu bodoh untuk mengangkat mereka menjadi prajurit. Mereka hanya menghabiskan makan dan belanja mereka tanpa berbuat apa-apa.”
Yang lain masih tertawa. Seorang cantrik yang kurus menyambung, “Kita akan mengambil semua barang yang mereka bawa. Jika mereka sudah menyembunyikan di barak itu, mereka harus mengambilnya.”
“Tentu. Dan anak-anak padukuhan yang malang itu tentu akan menjadi iri, karena mereka tidak berhasil merampas barang-barang bertuah dari para pedagang itu.”
Para cantrik itu tertawa semakin keras. Mereka sudah membayangkan, betapa wajah anak pedukuhan yang biru bengkak itu akan menjadi merah oleh perasaan iri.
Namun sejenak kemudian langkah mereka mulai tertegun. Mereka melihat sikap prajurit yang bertugas itu agak berbeda dari kebiasaan mereka. Nampaknya keduanya berjaga-jaga dengan sungguh-sungguh. Tidak dengan malas dan seakan-akan tanpa gairah sama sekali.
“Mungkin karena ada beberapa orang yang minta perlindungan kepada mereka” berkata salah seorang dari para cantrik itu.
“Persetan” geram cantrik yang tertua, “aku akan memaksa mereka untuk menyerahkan orang-orang itu.”
Sejenak kemudian mereka telah menjadi semakin dekat Agaknya prajurit yang sedang bertugas dengan senjata telanjang itu telah melihat para cantrik itu mendekat.
Dengan wajah yang, tegang, maka kedua penjaga pintu gerbang halaman barak itu pun kemudian menghentikan mereka sambil bertanya, “Siapakah kalian, dan apakah yang kalian kehendaki?”
Sekelompok kecil para cantrik itu termangu-mangu. Namun orang tertua di antara mereka pun segera melangkah maju sambil bertanya, “Ki Sanak. Apakah ada beberapa orang pedagang yang tadi datang kemari?”
Prajurit-prajurit yang sedang bertugas itu termenung sejenak. Mereka sudah mengetahui serba sedikit persoalan yang sedang dihadapinya. Karena itu, maka salah seorang dari mereka pun menjawab, “Ya. Kami sudah tahu persoalannya. Pedagang-pedagang yang akan dirampok itu memang ada di sini.”
“Dirampok? Siapakah yang akan merampok mereka?”
“Anak-anak muda dari padepokan Empu Purung. Apakah mereka kawan-kawan kalian?”
Para cantrik itu tidak mengira, bahwa prajurit-prajurit itu akan langsung sampai ke pokok persoalannya, sehingga sejenak mereka termangu-mangu.
“Nah, apakah maksud kalian? Minta maaf atau apa?”
Cantrik yang tertua di antara mereka itu pun tergetar hatinya mendengar kata-kata para prajurit yang tidak disangkanya. Mereka mengira prajurit-prajurit itu akan mengangguk-angguk sambil tersenyum-senyum. Mempersilahkan mereka dan bertanya dengan leher berkerut, apakah yang mereka kehendaki.
Meskipun demikian, ia masih mencoba untuk menunjukkan pengaruhnya, “Kami memang mencari pedagang-pedagang itu karena kami memerlukan mereka.”
“Untuk apa? Itulah yang kami tanyakan. Sebab menurut. perhitungan kami akan dapat terjadi dua kemungkinan. Kalian akan minta maaf atas perlakuan kawan-kawan kalian atau justru akan berusaha merampok mereka”
Para cantrik itu menjadi semakin berdebar-debar. Namun mereka masih tetap merasa bahwa prajurit-prajurit itu tidak akan berani melawan pengaruh padepokan Empu Purung. sehingga karena itu, justru cantrik yang tertua itu pun masih juga menjawab dengan lantang, “Apapun yang akan kami lakukan. Atas nama padepokan Empu Purung, serahkanlah orang-orang yang telah menghina kawan-kawan kami.”
“Menghina?” prajurit yang bertugas itu memandang cantrik itu dengar tajamnya, “kenapa pedagang-pedagang itu menghina kawan-kawanmu? Bohong, Kawan-kawanmulah yang akan merampok mereka. Tetapi, tujuh orang di antara kalian tidak dapat berbuat apa-apa, hanya menghadapi dua dari tujuh orang pedagang itu. Untunglah mereka masih tetap berperikemanusiaan. Jika tidak, maka leher ketujuh orang kawanmu itu sudah dipenggalnya sebagaimana ia menghadapi perampok-perampok di sepanjang perjalanan mereka.”
Hati para cantrik itu tergetar. Bukan saja karena sikap prajurit-prajurit Singasari yang tidak diduganya, tetapi juga karena ceritera prajurit-prajurit itu tentang para pedagang yang melarikan diri dari banjar dan mencari perlindungan di barak itu.
Sekilas teringat oleh para cantrik itu, bahwa seorang dari kawannya pernah mencari perkara melawan seorang prajurit muda di pasar. Tetapi kawannya itu sama sekali tidak berdaya.
“Tetapi prajurit-prajurit itu harus menyadari bahwa mereka berhadapan dengan Empu Purung yang dengan jari-jarinya dapat menggugurkan gunung dan mengeringkan lautan” geram cantrik itu di dalam hatinya.
Namun agaknya prajurit-prajurit itu bersikap keras. Karena itulah maka cantrik yang tertua itu mulai mengancam, ”Ki Sanak. Lebih baik Ki Sanak menyerahkan orang-orang itu dari pada kalian harus berhadapan dengan Empu Purung dan pasukannya. Ki Sanak harus mengetahuinya, bahwa kekuatan Empu Purung tentu berlipat ganda dari sejumlah kecil prajurit yang ada di barak ini.”
“Mungkin kau benar. Tetapi adalah menjadi kewajibanku untuk melindungi orang-orang yang merasa dirinya terancam oleh kejahatan seperti para pedagang itu.”
“Tetapi itu berarti bahwa kalian telah mengorbankan diri kalian, karena kalian mendengarkan fitnah orang-orang yang sebelumnya tidak pernah kalian kenal itu.”
Prajurit itu mengerutkan keningnya. Namun yang seorang lagi tiba-tiba- berkata, “Kami tidak berkeberatan jika kalian hanya sekedar ingin bertemu. Tetapi di dalam barak ini dan di bawah saksi prajurit-prajurit Singasari.”
Wajah para cantrik itu menjadi merah. Dengan suara parau cantrik tertua itu bertanya, “Kalian tidak mempercayai kami?”
Dan jawaban prajurit itu pun tegas, “Tidak, kami tidak mempercayai kalian.”
Wajah para cantrik yang merah itu menjadi semakin merah. Apalagi ketika prajurit itu pun kemudian berkata, “Nah sekarang kami persilahkan kalian masuk menjumpai para pedagang itu.”
Namun cantrik yang tertua itu pun mencoba untuk berkata setegas para prajurit, “Tidak. Aku tidak akan memasuki barak prajurit Singasari. Aku memerlukan pedagang-pedagang itu.”
“Masuklah.” prajurit itu mendesak.
“Tidak.”
Namun para cantrik itu terkejut. Beberapa orang prajurit bersenjata tiba-tiba saja telah keluar dari regol sambil berkata, memandang mereka dengan tajamnya. Salah seorang dari mereka berkata lantang, “Masuklah. Kau dengar perintah kami.”
Cantrik yang tertua itu menjadi gemetar menahan marah. Dipandanginya prajurit-prajurit itu dengan nyala di sorot matanya. Dengan suara yang tidak kalah lantangnya ia berkata, “Kalian tidak dapat memaksa kami. Empu Purung akan menjadi marah dan membakar barak kalian dengan sorot matanya.”
“Tidak akan berarti apa-apa” sahut pemimpin sekelompok prajurit itu, “Senopati kami mampu menyiram api yang betapapun besarnya dengan air terlontar dari mulutnya.”
“Gila. Itu tidak mungkin.”
“Kau menggigau juga tentang kemampuan Empu Purung. Sekarang masuklah. Kalian akan bertemu dengan pedagang-pedagang yang kalian cari.”
“Persetan.”
“Cepat” tiba-tiba pemimpin kelompok itu mengacungkan senjatanya, “kami dapat memaksa kalian meskipun kalian murid Empu Purung.”
Cantrik-cantrik itu tidak dapat membantah lagi. Mereka pun dengan segan terpaksa memasuki halaman barak itu dan dengan diiringi oleh sekelompok prajurit mereka langsung dibawa ke halaman belakang.
Beberapa orang agaknya lelah menunggu kedatangan mereka. Di antaranya adalah Mahendra dan kedua anak-anaknya.
“Ha. itulah mereka” tiba-tiba saja Mahisa Murti berteriak.
Para cantrik itu memandang orang-orang itu dengan mata yang menyala. Di luar sadarnya salah seorang bergumam, “Kaliankah pedagang-pedagang gila itu?”
“Ya. Kami telah mencari perlindungan disini. Sekarang, katakan, apa maksud kalian? Menuntut balas atau juga akan merampok kami seperti kawan-kawanmu yang menjadi merah biru itu” jawab Mahisa Pukat.
Wajah para cantrik itu menjadi merah membara. Ingin mereka meloncat dan mencekik kedua anak muda itu. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Di sebelah menyebelah mereka prajurit-prajurit Singasari siap bertindak.
Namun agaknya prajurit Singasari benar-benar telah mendapat keputusan untuk bertindak selelah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka melihat sendiri perkembangan padepokan Empu Purung yang dapat dijadikannya gambaran bagi beberapa padepokan yang lain, yang juga sedang mempersiapkan diri untuk melakukan gerakan serentak dalam kesatuan perintah Empu Baladatu.
Karena itulah, maka tiba-tiba pemimpin kelompok kecil prajurit yang memaksa para cantrik itu masuk maju selangkah. Diluar dugaan para cantrik, tiba-tiba saja ia menangkap lengan salah seorang dari mereka dan menariknya dengan serta merta.
“He” cantrik itu berteriak, “apa maksudmu?”
“Kau menjadi tawanan kami. Bawalah kawan-kawanmu yang akan merampok para pedagang ini. Jika mereka telah datang, barulah yang seorang ini aku lepaskan.”
“Tetapi mereka bertanggung jawab atas perbuatan mereka sendiri” berkata cantrik yang bertubuh kekar.
“Aku tidak peduli. Sekarang kalian boleh pergi. Tetapi untuk melepaskan yang seorang, ini, tujuh orang yang berusaha merampok pedagang-pedagang ini harus kalian serahkan.”
Anak muda bertubuh kekar di antara para cantrik itu mendesak maju. Matanya bagaikan menyala. Kata-katanya gemetar karena marah, “Itu bukan persoalan kami. Kami tidak tahu menahu tentang mereka.”
“Bohong. Kedatangan kalian adalah karena ketujuh orang yang menjadi merah biru itu tentu melaporkan kepada kalian. Semula kami tidak ingin mempersoalkannya lagi, karena mereka sudah cukup mendapat hukuman oleh kekalahan mereka. Tetapi kedatangan kalian membuat kami marah.”
Wajah para cantrik itu menjadi merah padam. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Ternyata sikap para prajurit itu berbeda dengan dugaan mereka. Jika mereka menyebut diri mereka para cantrik dari padepokan Empu Purung, maka semua kata-kata mereka akan dipenuhi dengan wajah yang terang dan senyum di bibir.
Tetapi ternyata bahwa para prajurit Singasari itu telah berbuat lain. Mereka justru menangkap seorang dari antara mereka.
Sejenak para cantrik itu termangu-mangu. Namun kemudian cantrik yang tertua di antara mereka berkata, “Ki Sanak. Kalian jangan bermain-main dengan Empu Purung. Tindakan kalian dapat memancing kemarahannya.”
“Ia tidak akan marah” jawab pemimpin kelompok kecil itu, “apalagi jika kau berkata dengan jujur, bahwa beberapa orang anak muda dari padepokan itu telah berusaha merampok para pedagang batu bertuah.”
Jawaban itu benar-benar telah menggetarkan dada para cantrik itu. Rasa-rasanya dada mereka akan retak. Meskipun demikian mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka berada di-tengah-tengah barak prajurit Singasari. Meskipun nampaknya para prajurit yang lain, yang lalu lalang di halaman itu tidak menghiraukan mereka kecuali yang sedang bertugas, namun mereka tidak akan dapat berbuat sesuatu.
Karena itu, yang dapat dilakukan oleh cantrik yang tertua adalah sekedar mengumpat dan mengancam, “Kalian benar-benar orang yang tidak tahu diri. Kalian berada di daerah kekuasaan Empu Purung. Jika kalian mencoba mengganggu kuasanya, maka kalian tentu akan menyesal. Berapa jumlah prajurit Singasari yang ada disini. Di padepokan Empu Purung tersimpan kekuatan empat lima kali lebih besar dari kekuatan prajurit disini.”
“Aku tidak peduli” jawab pemimpin prajurit itu.
“Dan kalian akan hancurkan lumat karena kekuatan yang tidak terlawan. Janganlah kalian, sedangkan gunung akan runtuh dan lautan akan kering.”
“Sudah berapa kali kau katakan. Dan sudah berapa kali aku katakan, bahwa aku tidak percaya.”
Wajah para cantrik bagaikan terbakar oleh kemarahan. Namun yang dapat mereka lakukan adalah dengan tergesa-gesa meninggalkan halaman barak itu sambil berkata kepada kawannya yang harus tinggal, “Sebentar lagi aku akan datang. Kau akan kami bebaskan, dan para prajurit akan menyesali tingkah lakunya. Sebaiknya mereka tidak mencampuri persoalan kami dengan para pedagang itu.”
Para prajurit itu tidak menjawab. Namun cantrik yang seorang itu pun segera dibawa ke dalam sebuah bilik kecil, di tutup pintunya dan diselarak dari luar.
Dalam pada itu, barak kecil itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka menyadari apa yang telah mereka lakukan. Tetapi itu merupakan suatu isyarat dari kerja yang besar yang akan dilakukan di seluruh Singasari.
Dua orang, prajurit telah berpacu menuju ke Kota Raja. Mereka akan mengalirkan perintah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka sesudah dibicarakan dengan Mahisa Agni dan Witantra serta Senopati prajurit Singasari yang ada di dalam barak itu, bahwa sudah waktunya Singasari mengambil sikap. Sebab semakin lama kekuatan-kekuatan itu tentu akan menjadi semakin besar.
Tetapi, di samping perintah itu, Singasari pun telah mengeluarkan perintah untuk mengamati tingkah laku orang-orang Mahibit dan jalur yang telah mereka pasang pula.
Prajurit yang berpacu ke kota Raja itu telah mendapat perintah pula, bahwa untuk sementara pemerintahan akan di kendalikan langsung lewat perintah-perintah yang akan dikeluarkan oleh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dari tlatah Alas Pandan, berdasarkan atas keterangan yang setiap saat harus disampaikan kepada mereka mengenai perkembangan Singasari. Terutama padepokan-padepokan yang harus segera dihancurkan dan orang-orang Mahibit serta jalur yang sampai kepada beberapa orang Akuwu dan pemimpin pemerintahan yang lain.
Dalam pada itu, seperti yang sudah diperhitungkan, maka para cantrik itu menjadi sangat marah. Mereka menyampaikan persoalan mereka kepada kawan-kawan mereka, sehingga persoalan itu segera didengar oleh setiap orang di dalam padepokan Empu Purung.
“Kita laporkan kepada kakang Putut Sanggawerdi” berkata seorang cantrik.
“Ya. Laporan itu tentu akan sampai kepada Empu Purung” sahut yang lain.
Beberapa orang Cantrik pun segera menemui Putut Sanggawerdi. Dengan membumbui persoalannya di beberapa bagian, mereka berhasil membuat wajah Putut itu menjadi merah padam.
“Tadi seorang kawanmu masih ada di barak itu?” Putut itu bertanya.
“Ya kakang. Kami tidak dapat berbuat apa-apa, karena prajurit Singasari di seluruh barak itu telah mengepung kami” jawab cantrik yang tertua di antara mereka yang pergi ke barak.
“Suatu penghinaan yang tidak pantas. Kita akan membalas penghinaan itu dengan penghinaan yang lebih besar. Bukan saja kepada para pedagang, tetapi kepada seluruh isi barak. Kita akan datang dan membakar barak itu. Menangkap semua prajurit dan mengaraknya di sepanjang jalan ke Singasari. Kita akan menukarkan prajurit-prajurit itu dengan tebusan yang paling berharga bagi kami.” geram Putut Sanggawerdi.
“Ya” sahut beberapa orang cantrik sekaligus, “kita akan berbuat sesuatu yang dapat membersihkan nama kita dari penghinaan itu.”
“Aku akan menghadap Empu Purung” berkata Putut Sanggawerdi.
Para cantrik itu pun berharap, agar Empu Purung dapat mendengarkan keinginan mereka. Prajurit-prajurit di barak itu memang sangat memuakkan. Apalagi cantrik yang pernah dikalahkan oleh Mahisa Bungalan dan cantrik yang telah pergi kebarak itu.
Pulut Sanggawerdi diterima oleh Empu Purung dengan hati yang berdebar-debar. Menilik wajahnya yang tegang dan sorot matanya yang menyala, tentu ada persoalan penting yang akan disampaikannya.
“Duduklah” berkata Empu Purung kepada Putut Sanggawerdi.
“Empu” berkata Putut itu, “ada sesuatu yang penting Terjadi. Mungkin berada di luar persoalan yang sebenarnya di kehendaki oleh Empu Baladatu. Tetapi sudah tentu bahwa persoalan tidak akan kita abaikan.”
“Apakah yang sudah terjadi?” bertanya Empu Purung. Putut itu pun mulai berceritera. Ternyata ceritera yang sudah dibumbui oleh para cantrik itu, masih dibumbui lagi oleh Putut Sanggawerdi agar Empu Purung menjadi marah dan segera mengeluarkan perintah untuk menghancurkan barak itu.
Ternyata usaha Putut itu berhasil. Wajah Empu Purung pun menjadi merah dan sorot matanya bagaikan api yang menyala.
Tetapi Empu Purung ternyata masih mempergunakan nalarnya. Ia tidak seperti anak-anak muda yang mudah terbakar dan melakukan tindakan di luar perhitungan yang matang.
“Tingkah laku para prajurit itu memang sudah memuakkan” berkata Empu Purung.
Putut Sanggawerdi menjadi berdebar-debar. Ia menunggu perintah yang jatuh dari Empu Purung untuk menyerang dan menghancurkan barak kecil itu.
Tetapi ternyata Empu Purung berkata, ”kita harus berbuat sesuatu untuk membebaskan anak kita. Tetapi kita tidak boleh mengorbankan usaha besar dari seluruh Singasari.”
“Apakah yang Empu maksud?”
“Rencana Empu Baladatu dalam keseluruhan.”
“Tetapi penghinaan itu tidak akan dapat kita biarkan. Semakin lama penghinaan itu akan menjadi semakin tajam, sehingga akhirnya datang waktunya, mereka akan memasuki padepokan ini dan membakar semua isinya, sementara kita masih tetap menunggu perintah dari Empu Baladatu.”
“Tetapi kita yang berada di daerah kecil ini harus memperhitungkan semua usaha yang tersebar di daerah yang jauh lebih luas.”
“Empu” berkata Putut Sanggawerdi, “kita akan bertindak secepatnya. Sementara itu kita mengirimkan petugas yang harus menghubungi Empu Baladatu. Kita akan mengatakan selengkapnya tentang penghinaan yang tidak dapat kita biarkan. Sementara itu, Empu Baladatu sebaiknya mengambil keputusan dengan cepat. Yang ada biarlah digerakkan. Singasari yang lengah tidak akan dapat berbuat banyak. Mungkin di setiap daerah terpencil terdapat barak-barak kecil seperti barak prajurit itu. Tetapi seperti barak itu juga maka para Empu di padepokan akan dengan mudah dapat menghancurkan mereka.”
Empu Purung termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah Putut Sanggawerdi dengan tajamnya. Namun dari wajah itu ia hanya dapat melihat dendam dan kebencian yang menyala
Sejenak Empu Purung termenung. Namun kemudian sambil mengangguk ia berkata, “Baiklah. Aku akan mengirimkan dua orang penghubung untuk melaporkan kepada Empu Baladatu bahwa kita disini sudah tidak dapat menunda lagi. Benturan kekuatan sudah terjadi karena penghinaan yang tidak dapat kita maafkan lagi.”
“Demikian penghubung itu berangkat, demikian kita mulai bergerak.”
“Putut Sanggawerdi. Aku pun terbakar mendengar pengaduan itu. Tetapi kita tidak boleh bertindak tergesa-gesa agar langkah kita tidak sesat.”
“Apalagi yang harus dipertimbangkan Empu?” bertanya Putut Sanggawerdi.
“Kita harus mengumpulkan semua kekuatan yang ada. Kita harus membagi diri dan menyusun rencana penyergapan yang serbaik-baiknya. Sebagian akan datang dari bagian depan, yang lain akan menyerang dari arah belakang. Berarti sekelompok dari kita akan naik ke lereng pegunungan kecil dan turun bagaikan batu-batu yang runtuh melanda barak itu.”
“Semuanya akan berjalan lancar jika perintah telah jatuh.”
Empu Purung termangu-mangu. Namun kemudian ia pun memerintahkan Putut Sanggawerdi untuk memanggil dua orang penghubung yang akan pergi kepadepokan Empu Baladatu.
“Katakan, bahwa kita di sini tidak dapat menunggu lagi. Meskipun alasannya agak berbeda dengan yang sebenarnya, tetapi kita harus segera mulai.”
“Apakah kami harus mengatakan bahwa Empu sudah mulai?” bertanya penghubung itu.
“Ya. Karena demikian kau berangkat, maka kami akan menyusun rencana yang akan segera kami lakukan. Hari ini juga.”
Kedua orang penghubung itu mengangguk-angguk. Perjalanan ke padepokan Empu Baladatu bukannya perjalanan yang pendek. Mereka akan sampai lewat dua hari semalam perjalanan berkuda dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Tetapi kedua orang penghubung itu tidak membantah, mereka segera minta diri. Sejenak mereka masih harus mengumpulkan bekal perjalanan. Kemudian mereka pun segera berpacu di atas punggung kuda mereka yang kuat dan tegar menuju kepadepokan Empu Baladatu.
Sementara itu, sepeninggal kedua penghubung itu, Empu Purung pun segera mempersiapkan diri. Dipanggilnya beberapa orang cantrik tertua di samping Putut Sanggawerdi dan Putut yang masih lebih muda, Putut Kuda Widarba.
“Kila sudah disudutkan untuk mulai dengan sebuah perjuangan yang besar” berkata Empu Purung di hadapan orang-orang terpenting dari padepokannya.
Kedua orang Putut dan para cantrik yang paling berpengaruh di padepokannya itu pun mengangguk-angguk. Mereka semuanya sudah mendengar apa yang sudah terjadi. Seorang cantrik telah ditawan oleh para prajurit, yang menurut pengertian mereka tanpa sebab.
“Kita tidak boleh membiarkan penghinaan itu terjadi. Kita harus mulai bergerak di sini. Prajurit-prajurit itu harus kita hancurkan mutlak sehingga tidak seorang pun yang tinggal dan sempat melaporkan kepada pimpinan mereka di Singasari. Dengan demikian, maka jalur gerakan prajurit Singasari akan terhambat. Tanpa laporan dari barak yang akan kita hancurkan, mereka tidak akan mengambil tindakan secepatnya. Sementara itu Empu Baladatu tentu akan menyadari bahwa ia harus bergerak cepat di seluruh daerah yang sudah sepakat untuk bergerak menentang Singasari.”
Kedua orang Putut dan para cantrik yang dianggap tertua di padepokan itu pun mengangguk-angguk.
“Nah, sekarang siapkan seluruh kekuatan kita menjadi dua kelompok besar. Yang sekelompok akan menyerang barak itu dari depan, sedang yang lain akan menyerang dari arah lereng bukit-bukit kecil di belakang barak itu. Di dalam kelompok besar itu akan bergerak kelompok-kelompok kecil dari para cantrik dan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan yang sudah bersedia bergabung dengan kita.”
“Kita akan membunyikan isyarat memanggil setiap laki laki yang berada di bawah pengaruh padepokan ini.” seorang cantrik berkata lantang.
“Bodoh kau” bentak Empu Purung, “isyarat itu akan mengisyaratkan pula kepada para prajurit Singasari untuk bergerak. Jika mereka merasa lemah, mereka akan meninggalkan tempatnya. Jika mereka merasa kuat, mereka akan menyusun pertahanan.”
“Jadi?” bertanya cantrik itu.
“Kalian harus bergerak cepat. Kalian akan memanggil setiap orang. Hubungan itu harus berlangsung cepat dan berantai. Menjelang senja, semuanya harus sudah berkumpul. Kita akan bergerak di malam hari. Besok, ketika fajar menyingsing, kita akan mulai bergerak menyerang barak itu. Yang menyerang dari depan, akan datang lebih dahulu. Yang lain menyusul di saat kekuatan prajurit itu sudah tertumpah pada pertempuran di bagian depan. Kelompok yang turun lereng bukit, akan menghancurkan dinding barak yang lemah di bagian belakang dan menduduki barak itu. Menangkap semua orang yang ada dan membunuhnya sekaligus tanpa ampun. Juga para pedagang yang berlindung di dalam barak itu.”
Para cantrik mengangguk-angguk. Mereka telah memahami apa yang harus mereka lakukan. Karena itulah, maka mereka pun segera berpencar memanggil setiap orang yang akan ikut serta dalam pertempuran yang akan terjadi melawan prajurit Singasari yang telah melindungi para pedagang dan telah menawan seorang cantrik.
Dengan segera panggilan bagi setiap laki-laki yang berada di bawah pengaruh Empu Purung itu pun menjalar ke segenap penjuru. Dari mulut kemulut, maka setiap orang yang berkepentingan pun segera mendengar perintah Empu Purung.
Sepercik kegembiraan telah melanda hati mereka. Telah cukup lama mereka menempa diri dalam olah kanuragan. Tetapi mereka belum pernah mendapat kesempatan untuk mengukur kemampuan mereka.
Tiba-tiba kini datang kesempatan itu. Mereka akan bertempur melawan prajurit-prajurit Singasari yang jumlahnya tidak terlampau banyak.
“Untuk pengalaman pertama, maka tugas ini cukup berat” desis salah seorang dari mereka.
Yang lain mencibirkan sambil berkata, “Hampir tidak ada gunanya. Para cantrik sudah akan berebut dahulu mencincang prajurit-prajurit yang jumlahnya tidak lebih dari jumlah jari sebelah tangan itu.”
“Jangan menganggap mereka semacam patung. Mereka telah mendapat latihan-latihan yang masak untuk bertempur. Mungkin mereka memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dari kita semuanya.” desis salah seorang dari mereka.
Beberapa orang tertawa serentak. Salah seorang berkata, “Kau memang pengecut. Tetapi baiklah. Lebih baik berhati-hati daripada terperosok ke dalam kesulitan. Tetapi kau harus percaya kepada diri sendiri, bahwa prajurit-prajurit Singasari yang ada di barak itu tidak lebih dari pemalas dan pemabuk.”
“Kau telah melupakan apa yang pernah terjadi” orang itu masih berusaha untuk membantah, “seorang dari antara kita telah mengalami nasib buruk di tengah-tengah pasar. Untunglah bahwa ia masih selamat. Kemudian tujuh orang yang datang menjumpai pedagang yang sekarang berada di antara para prajurit itu pula. Mereka menjadi merah biru dan bahkan telah kehilangan hentuk.”
Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Yang dikatakan itu sebenarnyalah telah terjadi.
Namun salah seorang dari mereka menjawab, “Dihadapan para cantrik, terutama dihadapan Putut Sanggawerdi dan Putut Kuda Widarba, mereka tidak akan berarti apa-apa. Terlebih lagi, Empu Purung sendiri akan turun ke medan menghancurkan mereka sehingga lumat menjadi debu.”
Kawan-kawanuya mengangguk-angguk. Jika Empu Purung sendiri turun kemedan, maka prajurit-prajurit Singasari itu memang tidak akan ada artinya.
Karena itulah, maka dengan penuh kepercayaan kepada diri sendiri, pasukan Empu Purung itu pun telah siap pada waktunya. Menjelang senja mereka telah berada di sekitar padepokan.
Putut Sanggawerdi dan Putut Kuda Widarba sibuk membagi mereka dalam kelompok-kelompok yang tidak terlalu besar. Di setiap kelompok terdapat anak-anak muda dari padukuhan di sekitar padepokan dan beberapa orang cantrik. Seorang cantrik yang tertua di antara mereka, akan menjadi pemimpin kelompok dan bertanggung jawab terhadap salah seorang dari kedua Putut yang ada di padepokan itu.
“Kita mempunyai dua belas kelompok” berkata Putut Sanggawerdi.
“Ya” sahut Putut yang lebih muda, “tujuh kelompok akan menyerang dari depan, dan lima kelompok yang lain akan menghancurkan barak itu dari belakang.”
Empu Purung yang mendapat laporan bahwa pasukannya telah siap, segera mengadakan penelitian terakhir, la melihat dengan teliti kedua belas kelompok yang akan berangkat kebarak yang tidak terlalu jauh. Selebihnya dari kedua belas kelompok itu harus berjaga-jaga di padepokan dan mengawasi setiap perkembangan keadaan.
“Rata-rata tiga orang Empu, tetapi ada juga yang hanya dua orang.” jawab Putut Sanggawerdi.
Empu Purung mengerutkan keningnya. Sementara Putut Sanggawerdi melanjutkan, “Tetapi dua kelompok di antara kedua belas kelompok itu terdiri seluruhnya anak-anak muda pilihan dan tiga orang cantrik pilihan pula. Mereka akan berada di paling depan dari kedua arah yang sudah ditentukan.”
Empu Purung mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Salah seorang di belakang. Aku akan ikut serta dalam sergapan dari depan.”
Kedua Putut itu mengangguk-angguk.
“Putut Sanggawerdi yang sudah lebih tua dan mempunyai lebih banyak pengalaman akan berada di dalam pasukan yang akan menyergap dari belakang.”
Pulut Sanggawerdi mengangguk-angguk. Katanya, “Baik Empu Aku akan menyesuaikan diri.”
Empu Purung mengangguk-angguk pula. Nampaknya ia puas dengan pasukannya, sehingga ia pun berkata, “Kita akan segera berangkat. Aku akan menyertai pasukan yang terdiri dari tujuh kelompok. Tetapi kita tidak akan menyergap sebelum langit di Timur berwarna merah.”
Para Putut, Cantrik dan anak-anak muda itu seakan-akan tidak sabar lagi menunggu. Mereka ingin segera menyergap prajurit-prajurit yang menurut pertimbangan mereka tentu sudah tidur nyenyak.
Bahkan para prajurit yang malas itu tidak akan terbangun seandainya mereka mendengar bukit kecil di sebelah barak mereka itu runtuh.
Jantung mereka mulai bergejolak ketika mereka mulai bergerak dari padepokan mereka. Kelompok-kelompok yang terbagi menjadi dua bagian itu pun segera memisahkan diri. Yang di pimpin oleh Empu Purung sendiri bersama Putut Kuda Widarba langsung menuju ke barak itu, sementara yang lain melingkar dan akan turun dari bukit kecil menyerang dari arah belakang.
“Hati-hati. Meskipun mereka pemalas, tetapi jika kebetulan ada di antara mereka yang berkeliaran di malam hari dan melihat pasukan kita, maka mereka tentu akan mempersiapkan diri. Bersiap untuk lari, atau mencoba untuk melawan kekuatan kita yang tentu akan berada di luar kemampuan mereka.” pesan Empu Purung kepada pasukannya, terutama yang akan menyerang dari belakang.
“Kita akan melontarkan isyarat dengan panah-panah api berkata Empu Purung selanjutnya” baru kalian meluncur turun.”
Dengan hati-hati pasukan Empu Purung itu merayap semakin dekat. Tetapi mereka tidak langsung menyerang. Mereka terhenti beberapa puluh langkah dari barak itu dan bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul kecil dan tanaman hijau di sawah.
“Kita menunggu fajar” desis Empu Purung kepada Putut Kuda Widarba, “jika langit menjadi merah, maka kita akan menyerang. Prajurit-prajurit itu tentu masih belum terbangun dari tidur yang paling nyenyak.”
“Tetapi fajar masih lama” desis Putut Kuda Widarba.
“Beristirahatlah. Jika sempat, tidurlah beberapa saat. Aku akan mengawasi barak itu.”
Putut Kuda Widarba pun kemudian memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk membagi orang-orangnya. Mereka yang masih sempat untuk tidur, biarlah mereka tidur. Tetapi di antara mereka di dalam kelompok itu harus ada yang tet jaga dan siap menerima perintah. Terutama pemimpin kelompok.
Waktu yang tidak terlalu lama itu telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh anak-anak muda itu untuk tidur barang sekejap. Tetapi yang dapat mereka lakukan adalah sekedar memejamkan mata. Tetapi kegelisahan dan ketidak sabaran telah mengganggu ketenangan mereka, sehingga jarang di antara mereka yang benar-benar dapat tertidur.
Bahkan beberapa orang di antara mereka, benar-benar telah merasa tertekan oleh perasaan menunggu. Seolah-olah dada mereka menjadi pepat dan sesak.
Namun demikian mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
Dalam pada itu, Empu Purung dengan saksama, memperhatikan barak prajurit Singasari itu dari kejauhan. Tidak nampak tanda-tanda apapun yang dapat mencemaskannya. Obor yang terpasang adalah obor yang menyala seperti biasanya. Obor minyak di depan regol halaman, dan di sudut-sudut dinding kayu yang mengitari halaman barak itu. Bahkan rasa-rasanya barak itu rampak lebih suram dari biasanya. Cahaya lampu minyak yang menyala di dalam barak, nampak redup dan barak kecil itu benar-benar merupakan sasaran yang menyenangkan bagi nafsu membunuh dari orang-orang di padepokan Empu Purung itu.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar