PANASNYA BUNGA MEKAR : 27-02
“Aku terpaksa mengikatmu.” berkata pengawal itu.
“Jangan,” minta pengawal itu, “jika kalian mengikat kau maka yang akan membunuhku bukan dari antara kalian. Tetapi salah seorang kawan dari kawan-kawanku itu tentu akan menyelinap dan kemudian membunuh aku. Tetapi jika aku tidak terikat, mungkin aku sempat menyelamatkan diri.”
“Jangan membohongi kami.” bentak pengawal itu.
“Aku berkata sebenarnya. Tetapi jika kalian berkeras, maka sebaiknya aku tetap kalian lindungi meskipun terikat.” berkata perampok muda itu.
Kedua pengawal itu termangu-mangu. Namun akhirnya mereka berkeputusan untuk mengikat perampok muda itu agar pada saat-saat tertentu, jika keduanya lengah, ia tidak melarikan diri.
Namun demikian, seperti yang diminta oleh perampok muda itu bahwa keduanya akan melindungi perampok muda itu dari kemungkinan pembalasan dendam kawan-kawannya, yang menganggap bahwa ia telah berkhianat.
Dalam pada itu, maka Akuwu Suwelatama tidak mempunyai pilihan lain. Maka ia pun segera menjatuhkan perintah, sehingga para pengawal itu pun telah bergerak dengan senjata di tangan mendekati celah-celah batu padas berkapur itu.
Sementara itu, para perampok pun telah bersiap pula menyambut kedatangan para pengawal itu dengan kemarahan yang meluap.
Demikianlah sejenak kemudian, kedua belah pihak itu pun telah berbenturan. Pasukan pengawal dari Pakuwon Kabanaran berjumlah lebih banyak. Apalagi mereka memiliki kemampuan tempur lebih tinggi dari para perampok yang hanya berbekal keberanian dan sedikit kemampuan bermain senjata.
Karena itu, maka dalam waktu yang pendek, mereka pun telah kehilangan kesempatan untuk mendesak lawannya yang berusaha untuk mengurung mereka pada celah-celah batu padas.
“Mereka tentu menyembunyikan harta benda yang pernah mereka rampas di dalam barak di celah-celah batu padas itu.” berkata Akuwu Suwelatama di dalam hatinya.
Sebenarnyalah, para perampok itu tidak banyak dapat bergerak. Mereka segera terdesak ke barak mereka. Bahkan seolah-olah mereka tidak mempunyai harapan lagi untuk dapat mempertahankan diri.
Sebenarnyalah Akuwu Suwelatama benar-benar ingin menyelesaikan masalah itu dengan tuntas. Karena itu, maka ia pun mendesak terus. Ia memaksa para perampok itu untuk menyerah dan menunjukkan sarangnya yang sebenarnya.
Dalam pada itu, maka perampok itu pun akhirnya merasa bahwa mereka memang tidak akan dapat melawan. Jika para pengawal itu berniat, maka mereka akan dapat membunuh mereka seorang demi seorang dan melemparkan mayat mereka ke dalam rawa-rawa seperti yang dikatakan oleh pemimpin para pengawal itu.
Karena itu, maka tidak ada pilihan lain, bahwa mereka harus menyerah jika mereka tidak mati dan menjadi makanan buaya-buaya yang buas di dalam rawa-rawa.
Demikianlah ketika mereka telah terdesak dan tidak mungkin untuk mengelakkan kematian jika pertempuran itu berlangsung terus, maka orang tertua itu pun telah berteriak nyaring, ”Kami menyerah.”
Akuwu Suwelatama mendengar teriakan itu. Karena itu, maka ia pun segera memberikan isyarat kepada para pengawal untuk menghentikan pertempuran.
Sebenarnyalah para pengawal itu pun berusaha untuk menahan diri. Satu dua di antara mereka telah terluka. Tetapi di antara para perampok pun telah beberapa orang yang mengalirkan darah. Bahkan ada di antara mereka yang terluka parah.
“Kalian menyerah?” Akuwu Suwelatama menegaskan.
“Ya. Kami menyerah.” jawab orang tertua sambil melemparkan senjatanya diikuti oleh kawan-kawannya.
Para pengawal pun kemudian mendesak para perampok itu untuk berdiri berjajar menghadap ke batu karang berkapur itu. Beberapa orang pengawal menjaga mereka dengan senjata terhunus.
Dalam pada itu, Akuwu Suwelatama pun memanggil orang tertua di antara mereka dan bertanya, “Nah, jika kalian telah menyerah, maka kalian akan mengatakan apa saja yang ingin aku ketahui.”
Orang tertua itu menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya ia bertanya, “Apa yang ingin kau ketahui?”
Akuwu Suwelatama termangu-mangu sejenak. Kemudian bersama Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra, ia membawa orang tertua itu ke dalam barak mereka di celah-celah batu kapur itu.
“Apakah tidak ada orang lain lagi?” bertanya Akuwu Suwelatama.
“Tidak ada.” jawab orang tertua itu.
“Baik,” berkata Akuwu itu, “kami akan membawa kalian ke Pakuwon. Kalian adalah tawanan kami.”
“Ya. Kami mengerti.” jawab orang tertua itu.
“Kalian telah mempersulit perjalanan kami. Ada beberapa orang-orangmu yang terluka. Sengaja atau tidak sengaja, senjata di dalam pertempuran kadang-kadang tidak dapat memilih arah.”
“Ya.” jawab orang tertua itu.
“Tetapi, baiklah kalian tunjukkan, di manakah kalian menyimpan barang-barang yang telah kalian kumpulkan selama kalian menjadi perampok.” bertanya Akuwu Suwelatama.
“Barang-barang apa?” bertanya orang tertua itu.
“Jangan mulai berpura-pura. Kau sudah menjawab segala pertanyaanku dengan baik. Tetapi kini kau mulai akan ingkar.” desak Akuwu Suwelatama.
“Aku tidak ingkar. Tetapi aku memang tidak tahu. Aku kira selama aku berada di sini, kami tidak pernah menyimpan sesuatu.” berkata orang tertua itu.
“Kau mulai ingkar,” berkata Akuwu, “bawa perampok muda itu kemari.”
Perampok muda yang telah menunjukkan jalan ke sarang mereka itu pun telah dibawa masuk pula. Demikian orang tertua itu melihat kawannya yang muda itu, maka wajahnya telah menjadi tegang.
“Katakan!” desak Akuwu tanpa bertanya kepada anak muda itu.
Orang tertua itu menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya ia pun menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu. Yang aku ketahui adalah isi barak ini. Tidak lebih dan tidak kurang.”
Akuwu memperhatikan anak muda itu. Kemudian ia pun bertanya, “Kau dapat mengatakan yang sebenarnya.”
“Ya. Memang ada harta benda yang disimpan. Tetapi tidak semua orang boleh tahu.” jawab anak muda itu. Ia nampak bersungguh-sungguh dan jujur.
“Kau tidak mengetahuinya?” bertanya Akuwu.
“Tidak. Tetapi orang tua itu mengetahuinya.” jawab anak muda itu.
“Tutup mulutmu!” bentak orang tua itu, “aku juga tidak tahu di mana barang-barang itu disimpan, jika memang ada barang-barang berharga itu.”
Akuwu Suwelatama mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang tua itu sambil berkata, “Kau sudah kehilangan akalmu. Jika demikian kenapa kau menyerah? Kenapa kau tidak bertempur saja sampai orang terakhir mati?”
Orang tua itu tidak menjawab.
Sementara itu Akuwu Suwelatama telah kehilangan kesabaran. Maka katanya, “Dengar. Kami datang dari jarak yang jauh melalui jalan yang sangat sulit. Karena itu, jangan mencoba mempermainkan kami. Kami mempunyai cara yang khusus untuk memaksamu berbicara.”
Wajah orang tua itu menjadi tegang. Namun Akuwu tidak menghiraukannya lagi. Dengan lantang ia berkata, “Jawab setiap pertanyaanku, atau aku akan memerasmu.”
Orang itu menjadi semakin tegang. Namun mulutnya bagaikan membeku. Sebenarnyalah ia merasa sangat bingung. Para perampok itu mempunyai paugeran tersendiri di dalam hidup mereka.
Ketika Akuwu kemudian berdiri, dan memandang orang tua itu dengan mata yang menyala, maka orang itu pun berkata dengan suara gemetar, “Ki Sanak. Kami bersumpah, bahwa kami tidak akan membuka rahasia kami kepada siapapun juga dalam keadaan apa pun juga. Karena itu, kasihani aku.”
”Kau dapat membatalkan sumpahnya untuk tujuan yang lebih baik. Sumpahmu tidak akan mengutukmu.” bentak akuwu.
“Tetapi aku takut.” desis orang itu.
“Terserahlah kepadamu,” jawab Akuwu, “apakah kau lebih takut terhadap sumpahmu, atau kepadaku.”
“Jangan paksa aku memilih seperti itu.” mohon orang itu.
Akuwu menjadi semakin marah. Dengan lantang ia membentak, “Aku akan memaksamu berbicara. Seorang demi seorang.”
Orang itu gemetar, tetapi mulutnya masih tetap terbungkam.
Sementara itu, selagi Akuwu kehilangan kesabaran dan sudah siap memaksa orang itu berbicara, tiba-tiba terdengar suara gemuruh di sebelah bukit karang berkapur itu. Semua orang terkejut karenanya. Rasa-rasanya tanah pun mulai berguncang.
“Apa?” bertanya Akuwu dengan serta merta. Tetapi orang tertua itu pun merasa ngeri mendengar suara itu. Katanya, “Aku belum pernah mendengarnya sebelumnya.”
“Prahara!” terdengar seseorang berteriak di luar barak yang terdapat di celah-celah batu-batu padas berkapur itu.
Akuwu pun segera meloncat keluar. Sebenarnyalah ia melihat pepohonan hutan bagaikan diguncang oleh prahara. Tetapi tentu bukan prahara. Bukan pula badai dan angin pusaran, karena tidak seluruh hutan itu diguncang.
Baru kemudian seorang di antara mereka berteriak, “Ular raksasa itu!”
Sebenarnyalah, seekor ular raksasa telah mengamuk. Ular raksasa yang mereka jumpai melintas jalan, berwarna hijau kecoklatan.
“Ular itu!” yang lain pun berteriak.
Para pengawal itu pun menjadi ribut. Mereka menarik senjata masing-masing. Namun apakah arti pedang-pedang di tangan mereka. Ular raksasa itu akan mampu menyapu mereka dengan ekor dan membunuh mereka dengan racun yang disemburkan dari mulutnya.
Suara itu semakin lama menjadi semakin jelas. Sementara itu, perampok yang tertua dengan pucat berdiri di belakang Akuwu Suwelatama, “Ki Sanak,” desis perampok tertua itu, “ular itu telah mencium darah. Menurut pendengaranku, bau darah membuatnya menjadi buas. Bukan hanya yang berwarna hijau itu saja, tetapi yang bertanduk itu pun akan berbuat serupa. Mereka selama ini tidak pernah mengganggu kami meskipun kami sering berjumpa. Tetapi agaknya benar kata orang, bau darah dari antara kita yang terluka di peperangan ini.”
Wajah Akuwu menjadi tegang. Setelah ia berhasil melakukan tugasnya yang hampir diselesaikan seluruhnya itu, tiba-tiba telah muncul sesuatu yang tidak masuk dalam perhitungannya. Dan yang tidak termasuk dalam hitungannya itu, tidak akan mungkin dilawannya.
Dalam pada itu, suara yang seperti badai itu menjadi semakin keras. Ketika mereka memperhatikan ular berwarna hijau yang semakin dekat itu, tiba-tiba yang bagaikan badai itu menjadi semakin keras. Pepohonan raksasa di hutan itu pun terguncang semakin dahsyat
Tiba-tiba saja mereka melihat warna yang lain dalam satu pergulatan. Baru kemudian mereka menyadari, dua ekor Uar raksasa itu ternyata sedang bergulat. Ular raksasa yang berwarna hijau kecoklatan dengan ular raksasa yang bertanduk dan berwarna hitam lekam.
Pergulatan antara dua ekor ular itu benar-benar merupakan peristiwa yang sangat dahsyat. Agaknya keduanya benar-benar menjadi liar dan buas ketika mereka mencium bau darah.
Ketika ujung ekor ular yang hitam itu menyapu pepohonan di depan barak itu, terasa betapa sangat mengerikan. Beberapa batang pohon telah tumbang. Sementara itu, kepala kedua ekor ular itu bagaikan saling berbenturan, bergelut dan tubuh-tubuh mereka saling melilit. Suara yang terlontar dari mulut-mulut ular yang menganga itu melampaui suara badai di samodra yang paling garang.
Dalam kecemasan itu, maka Akuwu berteriak, “Kita mencari jalan keluar dari daerah maut ini.”
“Tidak ada jalan,” desis Mahisa Agni, “sebentar lagi semuanya akan digilas sampai lumat.”
Mahisa Agni termangu-mangu. Dipandanginya batu-batu karang yang kokoh itu. Namun ia tidak segera menemukan tempat untuk bersembunyi. Namun demikian, mungkin mereka akan dapat berada di celah-celah batu karang itu.
Memang tidak ada jalan keluar dari tempat itu. Akuwu pun melihat betapa kedua ekor ular itu bertempur dengan dahsyatnya. Semakin lama semakin mendekat batu-batu karang berkapur itu.
“Jika kita mencoba untuk menyingkir, maka kita justru akan menjadi korban. Tetapi bukan berarti bahwa kita akan pasrah untuk disapu oleh tubuh kedua ekor ular raksasa yang sedang berkelahi itu. Mungkin batu-batu karang itu akan dapat memberikan perlindungan.” berkata Mahisa Agni.
Untuk sesaat, para pengawal dan para perampok itu berdiri termangu-mangu. Senjata mereka tidak berarti apa-apa di hadapan dua ekor ular raksasa itu. Apalagi keduanya telah menjadi buas dan liar karena telah mencium bau darah.
Dalam pada itu, tiba-tiba orang tertua di antara para perampok itu berkata, “Aku tahu sebuah lubang yang menghubungkan celah-celah batu karang itu dengan sebuah goa di bawah tanah.”
“Kau berkata sebenarnya?” bertanya Akuwu.
“Ya. Aku berkata sebenarnya. Tetapi dengan demikian aku sudah berkhianat terhadap pemimpinku.” jawab orang itu.
“Pemimpinmu sudah aku tangkap,” bentak Akuwu, “cepat, tunjukkan lubang goa itu.”
Orang tertua itu pun ragu-ragu sejenak. Namun pertempuran yang dahsyat itu menjadi semakin dekat.
Tiba-tiba saja Akuwu menyambar lengan orang itu sambil berkata, “Tunjukkan. Atau kaulah yang pertama-tama aku lemparkan ke tempat pertempuran itu.”
Orang tertua itu pun tidak mempunyai pilihan lain. Ia pun sebenarnya menjadi sangat ngeri melihat perkelahian itu.
Karena itu, maka ia pun telah membawa para pengawal yang diikuti oleh para perampok itu ke belakang barak yang terdapat di celah-celah batu karang itu. Mereka mendapatkan sebuah batu karang yang besar tergolek di antara batu-batu karang yang lebih kecil.
“Kita harus menyingkirkan batu itu.” berkata orang tertua itu.
“Apakah batu itu merupakan pintu masuk ke dalam goa?” bertanya Akuwu.
“Ya.” jawab orang tua itu.
“Cepat. Kita akan memindahkan batu itu.”
Para pengawal pun kemudian mencoba memindahkan batu yang besar itu. Tetapi batu itu hanya beringsut sedikit sekali.
“Bagaimana pemimpinmu membuka pintu ini? Dengan tenaga gaib?” bertanya Akuwu.
“Tidak. Kita bersama-sama. Khususnya orang-orang yang sudah mendapat kepercayaan.” jawab orang tertua itu.
“Demikian beratnya?” desak Akuwu.
“Ya, memang hanya sedikit demi sedikit. Kadang-kadang kita memerlukan waktu yang lama untuk membukanya. Orang-orang yang belum waktunya mengetahui rahasia itu, mendapat perintah untuk melakukan pekerjaan di luar lingkungan barak ini, sementara kami berusaha untuk membuka dan menyimpan barang-barang di dalamnya. Baru setelah pintu itu tertutup, maka orang-orang yang belum mendapat hak untuk mengetahui rahasia itu, boleh memasuki barak.”
Akuwu tidak menjawab lagi. Tetapi bersama-sama dengan para pengawal dan beberapa orang perampok mereka berusaha untuk membuka pintu itu. Namun seperti semula, pintu itu beringsut sedikit demi sedikit.
Sementara itu, debu yang terhambur dari arena perkelahian itu telah memenuhi udara. Tanah dan batu-batu padas yang terlempar telah mengenai mereka. Bahkan kadang-kadang ekor salah satu dari kedua ekor ular raksasa yang bertempur itu bagaikan terayun di atas kepala mereka.
“Cepat!” orang tertua itu mendesak.
Tetapi tenaga mereka sangat terbatas. Mereka tidak dapat berebutan bersama-sama mendorong batu itu, karena tempat yang sempit justru karena batu karang itu berada di celah-celah.
Akhirnya Mahisa Agni tidak telaten, karena bahaya menjadi semakin dekat. Karena itu, maka katanya, ”Minggirlah. Biarlah aku dan Witantra membukanya.”
Witantra mengerutkan keningnya. Namun ia pun mengerti bahwa ia harus menggunakan kekuatan puncaknya.
Akuwu tidak segera mengetahui maksud Mahisa Agni. Meskipun demikian, maka ia pun kemudian memerintahkan orang-orang itu menepi.
Demikianlah, Mahisa Agni dan Witantra berdiri tegak di hadapan sebongkah batu padas yang menyumbat goa itu. Sejenak mereka memusatkan segala kemampuan mereka.
Dengan isyarat, maka Mahisa Agni pun kemudian memberikan aba-aba. Berbareng keduanya meloncat, dan berbareng keduanya menghantam batu padas itu.
Batu padas itu bagaikan meledak. Ternyata kekuatan dua orang itu mampu memecahkan sebongkah batu padas, meskipun batu padas itu menjadi debu. Tetapi hampir separo dari pintu goa itu telah terbuka.
“Masuklah,” berkata Mahisa Agni kemudian, “meskipun dengan merangkak, kalian dapat bersembunyi di dalam goa, jika goa itu cukup besar memuat kalian.”
“Cukup,” kata perampok yang tertua. ”Setelah masuk ke dalam beberapa puluh langkah, maka ada lubang yang turun ke dalam tanah.”
Dalam pada itu, bumi rasanya telah berguncang. Rasa-rasanya mereka yang berjejal-jejal berdiri di celah-celah.
“Cepat!” teriak Akuwu.
Demikianlah seorang demi seorang, mereka merangkak memasuki lubang yang tidak terlalu besar itu.
Lubang goa itu memang sempit. Para pengawal dan perampok itu telah berebut dahulu memasuki lubang itu. Mereka telah melupakan permusuhan yang baru saja mereka lakukan.
Ternyata mereka yang memasuki goa itu memang masih harus merangkak beberapa puluh langkah lagi. Akan tetapi lubang itu semakin lama menjadi semakin besar, sehingga kemudian mereka dapat berdiri tegak.
Dengan demikian maka mereka maju semakin cepat. Namun demikian rasa-rasanya orang-orang yang berada di belakang masih selalu mendesak mereka untuk maju lebih cepat.
Yang berada di paling depan adalah orang tertua di antara para perampok itu. Ia ternyata mengenal jalur goa itu dengan baiknya. Beberapa saat kemudian, mereka telah mencapai tangga dan dalam kegelapan mereka mulai merayap turun, ke ruang di bawah tanah yang luas.
Di mulut goa masih saja para pengawal dan perampok yang tersisa berjejalan. Namun satu persatu mereka berhasil memasuki lubang itu. Yang terakhir dari mereka adalah Akuwu Suwelatama, Mahisa Bungalan, Witantra dan Mahisa Agni.
Hampir saja Mahisa Agni terlambat. Demikian ia hilang di lubang gua itu, maka ekor dari ular raksasa yang berwarna hitam lekam itu menyapu barak di celah-celah batu karang itu. Bahkan segumpal batu karang telah runtuh dan menutup lubang goa yang sempit itu. Namun lubang itu tidak tersumbat seluruhnya, sehingga dari dalam goa masih nampak cahaya udara di luar goa.
“Hampir saja.” desis Witantra.
“Hampir saja,” sahut Mahisa Agni, “melawan ular raksasa itu, aku tidak akan sempat mempergunakan Aji Gundala Sasra. Ular itu bergerak terlalu cepat dan ter- (??? Dari naskah aslinya memang tidak ada sambungannya)
Dalam pada itu, maka para perampok dan para pengawal itu pun telah berada di sebuah ruang yang besar di dalam tanah. Ada beberapa ruang yang tersekat oleh batu batu karang. Nampaknya goa itu tidak dibuat oleh tangan. Tetapi airlah yang telah memahat goa itu dalam waktu beratus-ratus tahun.
Sementara itu, orang tertua dari para perampok itu telah membuat api dari batu thithikan dengan emput serabut aren. Kemudian dengan dibauri oleh sebangsa belereng, maka emput itu dapat menyala.
“Ambil obor itu.” desis orang tertua itu.
Seorang perampok telah mengambil obor yang tersedia. Kemudian obor itu pun dinyalakannya, sehingga ruangan itu menjadi sedikit terang.
Namun demikian obor itu menyala, hampir semua orang yang berada di tempat itu terkejut. Ternyata di sebuah lubang tersendiri di dalam ruangan di bawah tanah itu nampak beberapa buah peti yang tertimbun rapi.
Baik para pengawal, maupun para perampok yang belum pernah mendapat kesempatan untuk memasuki ruangan itu segera mengetahui, bahwa yang berada di dalam peti-peti itu adalah harta benda yang sangat mahal nilainya.
Namun dalam pada itu, orang-orang itu tidak sempat menyatakan keheranannya. Ruang itu pun bagaikan telah diguncang oleh gempa beberapa kali. Sementara itu, desis yang keras telah mendebarkan jantung.
Kedua ekor ular raksasa itu pun masih saja bertempur dengan dahsyatnya. Pepohonan pun menjadi beserakkan. Batu-batu karang telah pecah sebongkah demi sebongkah dan terlempar kian kemari.
“Jika bukit ini pecah, kita akan tertimbun di sini.” berkata Mahisa Bungalan.
Mahisa Agni mengangguk. Katanya, “Tetapi untuk memecahkan batu karang berkapur ini pun tidak mudah. Betapa tinggi kekuatan kedua ekor ular raksasa itu, tetapi agaknya bukit karang ini tidak akan dengan mudah dilumatkan.”
Untuk beberapa saat orang-orang itu tidak sempat memikirkan peti-peti yang terdapat di sebuah lubang di dalam goa itu. Mereka pun tidak sempat memperbincangkan sikap mereka yang telah menyerah. Perhatian mereka sepenuhnya adalah pada gemuruh perkelahian yang mengerikan itu. Guncangan demi guncangan telah membuat mereka semakin tegang. Rasa-rasanya dinding-dinding goa di bawah tanah itu akan runtuh.
Sementara itu, pertarungan antara dua ekor ular raksasa itu menjadi semakin sengit. Keduanya memiliki kelebihannya masing-masing. Meskipun ular berwarna hitam legam itu lebih besar dari ular yang berwarna hijau kecoklat-coklatan, tetapi ternyata kekuatan mereka tidak berselisih.
Dalam pada itu, tiba-tiba saja orang tertua di antara para perampok itu berdesis, “Tiga orang kawan kita terluka. Kita tidak sempat membawa mereka.”
Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Mereka membayangkan peristiwa yang sangat mengerikan telah terjadi. Mungkin mereka tergilas menjadi lumat. Tetapi mungkin pada kesempatan salah seekor ular raksasa itu telah mematuk mereka dan menelannya.
“Tidak sempat.” desis seseorang kepada dirinya sendiri.
Gemuruh itu masih juga belum mereda. Sementara itu, Mahisa Agni mulai memperhatikan keadaan di dalam goa itu. Ruang demi ruang diperhatikannya dengan seksama. Ketika ia mendapatkan lagi sebuah obor, maka obor itu pun dinyalakannya pula.
“Ruangan ini tidak menjadi penuh asap obor.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya. Lalu, “Tentu ada lubang-lubang lain dari lubang yang satu itu. Mungkin lubang-lubang itu kecil, tetapi tidak hanya satu.”
Tetapi Mahisa Agni masih tetap diam. Namun demikian, agaknya Witantra pun sedang memperhatikannya pula.
Dalam pada itu, untuk beberapa saat mereka masih tetap menunggu. Suara gemuruh itu masih belum juga mereda. Bahkan dinding goa di bawah tanah itu kadang-kadang bergetar dan debu pun berhamburan.
“Apakah bukit karang kecil ini akan runtuh?” desis seorang di antara para perampok itu.
Orang tertua di antara mereka itu pun menjadi tegang. Bagaimanapun ia bertahan untuk tidak membuka rahasia, namun akhirnya ia tidak dapat ingkar lagi, justru karena kedua ekor ular raksasa yang sedang bergulat itu.
Ketegangan masih tetap mencengkam. Sementara Mahisa Agni memperhatikan keadaan goa itu dengan teliti. Selain pintu sempit tempat mereka masuk, tentu terdapat lubang-lubang lain yang menghubungkan ruang itu dengan udara di luar.
Meskipun demikian setiap kali Mahisa Agni pun telah menjadi berdebar-debar karena getar dinding goa. Jika goa itu runtuh, maka ruang di bawah lanah itu akan menjadi sebuah kuburan yang besar yang tidak akan pernah diketemukan orang.
Dalam pada itu, selagi orang-orang di dalam goa itu dicengkam oleh kecemasan, maka telah terdengar suara lain dari gemuruhnya ular-ular raksasa yang sedang bertempur itu. Terdengar seolah-olah kuak seekor binatang yang sangat dahsyat. Kemudian terdengar deru yang sangat dahsyat.
Sekali lagi goa itu bergetar. Namun yang mengguncangkan jantung mereka yang ada di dalamnya adalah perubahan suhu udara yang tiba-tiba. Dari beberapa arah seakan-akan telah bertiup udara yang panas dan menyesakkan.
Setiap orang di dalam gua itu menjadi semakin tegang. Mereka berdiri mematung. Ujung jari mereka pun seakan-akan tidak dapat lagi mereka gerakkan.
Sekali lagi terdengar kuak yang mengerikan. Keras sekali dan gemanya terdengar susul menyusul dari dalam goa itu.
“Apalagi yang telah terjadi?” desis Akuwu.
Itu pun mereda. Namun yang terdengar kemudian adalah suara menguak yang berulang-ulang. Kemudian terdengar suara menderu di atas bukit karang itu.
Beberapa bongkah batu padas pun berjatuhan. Akan tbeetapi ternyata bukit karang itu tidak runtuh.
“Ular itu melintas di atas bukit karang berkapur ini.” desis orang tertua di antara para perampok itu.
“Hanya seekor.” berkata yang lain.
“Pertempuran itu sudah selesai.” jawab orang tertua itu.
“Apakah yang lain sudah mati?” bertanya Akuwu.
“Tidak,” jawab orang tertua itu, “suara menguak yang dahsyat itu adalah suara ular yang berwarna merah dengan jamang di telinganya, yang menurut dugaan kami adalah raja dari segala ular meskipun ular itu bukan ular yang terbesar. Kedua ekor ular yang sedang bertempur itu tentu sudah diusirnya.”
“Kedua ekor ular yang lain itu takut terhadap ular berkepala merah itu?” bertanya Akuwu Suwelatama.
“Ya. Dan kini agaknya telah terbukti.” jawab orang tertua itu, “Semula kami hanya mendengar dari beberapa ceritera, dan menduga-duga menilik sifat ular-ular itu. Udara panas itu tentu disebabkan oleh api yang memancar dari mulut ular berkepala merah itu.”
“Kalian pernah melihat api itu?” bertanya Witantra.
“Melihat belum. Tetapi kami pernah melihat bekas-bekasnya. Kami melihat bagian hutan yang menjadi kering akibat api yang tersembur dari mulut ular itu. Binatang-binatang hutan yang kebetulan berada di daerah itu menjadi kering.” berkata orang tertua itu.
Mahisa Agni termangu-mangu. Orang-orang di dalam goa itu masih mendengar beberapa kali ular itu menguak. Namun kemudian sepi, setelah terdengar deru yang semakin lama menjadi semakin jauh.
“Mereka telah pergi.” berkata Mahisa Agni.
“Ya. Mereka telah pergi.” berkata orang tertua itu.
Dengan demikian, maka mereka pun mulai menyadari tentang keadaan mereka. Di antara mereka terdapat para perampok dan para pengawal yang akan menangkap mereka.
Namun dalam pada itu, Akuwu Suwelatama pun kemudian berkata lantang, “Kita sudah terlepas dari amuk ular-ular raksasa itu. Tetapi kita masih tetap dalam keadaan kita. Para perampok telah menyerah. Siapa yang berusaha untuk berbuat yang dapat mengganggu keadaan itu, akan kami tindak dengan tegas.”
Orang tertua di antara para perampok itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi para perampok itu memang tidak akan dapat berbuat apa-apa.
“Berkumpullah.” perintah Akuwu Suwelatama. Para perampok itu pun kemudian berkumpul. Dua pengawallah yang kemudian memegangi obor, sementara Mahisa Agni berkata, “ Kita akan melihat, apakah pintu itu masih tetap terbuka.”
Akuwu pun kemudian memerintahkan dua orang pengawal untuk melihat, apakah mereka masih mungkin keluar dari mulut goa, yang mereka lalui ketika mereka merangkak masuk.
Seperti ketika mereka masuk, maka kedua pengawal itu memang harus merangkak untuk mendekati mulut goa. Namun demikian mereka sampai ke mulut goa, ternyata mulut goa itu sudah tertutup rapat. Nampaknya mulut goa itu telah pecah dan justru karena itu, reruntuhan batu karang itu pun telah menyumbat mulut goa.
“Sulit untuk keluar.” berkata salah seorang dari kedua pengawal itu.
“Kita akan melapor. Mungkin kita memang harus mati di dalam goa ini.” sahut yang lain.
Kedua orang pengawal itu pun kemudian kembali ke tempat kawan-kawannya berkumpul. Mereka telah melaporkan bahwa mulut goa itu telah tersumbat oleh reruntuhan batu-batu karang.
Akuwu Suwelatama menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Apakah reruntuhan itu tidak dapat disingkirkan?”
“Kami tidak tahu, apakah cukup waktu untuk melakukannya.” jawab pengawal itu.
Akuwu itu pun termangu-mangu sejenak. Namun dalam pada itu maka Mahisa Agni pun berkata, ”Kita akan mencari jalan lain.”
“Aku tidak tahu, apakah ada jalan lain untuk keluar dari goa ini.” berkata orang tertua di antara para perampok itu.
Beberapa orang menjadi tegang. Jika mereka tidak dapat keluar dari dalam goa itu, maka akan berarti satu bencana yang sangat dahsyat. Mereka akan mati perlahan-lahan di dalam goa itu. Mungkin karena mereka tidak akan dapat bernafas lagi. Mungkin kelaparan dan kehausan.
Tetapi sementara orang-orang itu kecemasan, Mahisa Agni berkata, “Aku kira ada lubang-lubang lain yang menghubungkan ruang ini dengan udara di luar. Api-api obor itu tetap menyala. Ruang ini tidak menjadi sesak dan penuh dengan asap obor itu.”
“Ya,” tiba-tiba saja Akuwu Suwelatama menyahut, “kita tidak akan berputus asa.”
“Aku melihat cahaya betapa pun lemahnya.” berkata Witantra sambil menunjuk pada sebuah lubang di dinding goa itu.
Bersama Mahisa Agni keduanya mendekati lubang di langit-langit goa di bawah tanah itu. Ternyata mereka memang melihat cahaya yang meskipun sangat lemah, tetapi lebih terang dari kegelapan di dalam goa di bawah tanah itu.
“Marilah kita lihat.” berkata Mahisa Agni.
Witantra pun kemudian bersiap-siap. Mahisa Bungalan yang mendekat pula berkata, “Aku akan memasuki lubang itu.”
Mahisa Bungalan pun kemudian naik ke pundak Mahisa Agni untuk menggapai bibir lubang itu. Ketika tangannya sempat berpegangan pada bibir goa itu, maka ia pun telah mengangkat kedua kakinya dan berusaha untuk memasuki lubang itu.
“Tunggu di situ.” berkata Mahisa Agni.
Witantra kemudian naik pula menyusul Mahisa Bungalan. Sementara itu, Mahisa Agni yang memanggil seorang pengawal untuk alas loncatannya, telah memasuki lubang itu pula.
Bertiga mereka kemudian merangkak menyelusuri lubang itu yang semakin lama menjadi semakin sempit. Namun ternyata mereka menjadi semakin berpengharapan karena cahaya yang mereka lihat itu semakin lama menjadi semakin jelas.
Namun akhirnya lubang itu menjadi sangat sempit. Meskipun demikian, Mahisa Bungalan berhasil menerobos lubang yang nampaknya memang tidak pernah dilalui oleh seseorang.
Batu-batu karang yang runcing telah menghambat gerak mereka. Meskipun demikian, akhirnya mereka benar-benar melihat cahaya.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun bergerak lebih cepat, meskipun ia bukan saja harus merangkak, tetapi bergeser maju sambil menelungkup di atas batu karang yang kadang-kadang terasa tajam.
Akhirnya, Mahisa Bungalan itu pun berhasil keluar dari sebuah lubang di wajah batu karang yang berseberangan dengan celah-celah batu karang saat mereka masuk. Demikian ia keluar dari lubang itu, maka ternyata bahwa beberapa bagian tubuhnya telah berdarah oleh tajamnya batu-batu karang.
“Kita masih berkesempatan untuk menghirup udara.” berkata Mahisa Bungalan, ketika kedua pamannya itu pun telah berada di luar pula.
Namun dalam pada itu, maka mereka pun sempat menyaksikan jejak ular raksasa yang melintas di atas batu karang berkapur itu.
“Bukan main.” desis Mahisa Bungalan.
“Apa yang terjadi di sebelah?” desis Witantra.
Ketiga orang itu pun kemudian memanjat naik ke puncak bukit karang kecil yang agak memanjang itu. Demikian mereka melihat bekas perkelahian antara kedua ular raksasa dan kehadiran ular ketiga itu, maka bulu-bulu tengkuk mereka telah meremang.
Sebagian hutan telah menjadi berserakan. Namun yang lebih mengerikan adalah bekas api yang telah menjilat pepohonan yang agaknya memang sudah tumbang karena pertempuran yang sengit.
Daun-daun telah menjadi abu dan pepohonan pun menjadi arang. Masih nampak asap mengepul dan bara yang menyala.
“Bukain main,” desis Mahisa Agni, “untunglah lubang itu terdapat di sisi yang lain dari batu karang ini. Jika lubang-lubang semacam itu terdapat di sini sebelah menghadap arena pertempuran itu, maka semburan api itu akan dapat membakar udara di dalam goa itu.”
“Kami merasakan udara panas itu.” berkata Mahisa Bungalan.
“Tetapi tidak langsung,” jawab Witantra, “dan beruntung pulalah bahwa lubang tempat kami masuk justru telah tersumbat.”
“Tetapi kita akan mendapat kesulitan jika kita ingin membawa harta benda hasil rampokan itu dan menyerahkannya sebagai kekayaan Pakuwon ini yang akan dipergunakan untuk kepentingan orang banyak.” berkata Mahisa Agni.
“Ya. Maksud itu tentu baik,” desis Witantra, “tetapi aku kira, selagi kita belum menemukan jalan yang lebih baik, setidak-tidaknya lubang tempat kita masuk, kita tidak akan dapat membawa peti-peti itu keluar.”
“Kita akan mencari jalan kemudian,” sahut Mahisa Agni pula, “marilah, kita kembali kepada orang-orang yang mungkin menjadi bingung di ruang itu.”
Dengan hati-hati ketiga orang itu pun kemudian turun pula di lereng sebelah. Ternyata yang mereka lihat, tidak hanya ada satu lubang yang menghubungkan udara di luar dengan ruang di bawah tanah. Mereka melihat lebih dari tiga buah lubang, termasuk lubang-lubang yang lebih kecil yang menyalurkan asap obor keluar dari ruang di bawah tanah itu.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni dan Witantra tidak cemas lagi, bahwa orang-orang yang berada di bawah tanah itu akan menjadi lemas kehabisan udara yang bersih. Dari lubang yang banyak jumlahnya itu, akan dapat mengalir udara yang segar. Meskipun di dalam goa itu gelap gulita. Namun kegelapan itu pun dapat membuat udara rasa-rasanya menjadi sangat pengab.
Dengan hati-hati, maka mereka yang berada di atas bukit karang itu pun memasuki kembali lubang yang telah mereka lalui untuk merangkak keluar. Dalam pada itu, mereka pun sadar, bahwa goresan-goresan karang yang runcing akan menjadi semakin banyak mengoyak kulit mereka sehingga darah pun akan mengembun pula dari luka-luka yang dangkal itu. Namun oleh keringat yang mengalir, luka-luka itu pun terasa menjadi pedih.
Beberapa saat kemudian, maka mereka pun telah memasuki lubang di bawah tanah tempat para pengawal dan para perampok berkumpul. Ternyata obor yang masih menyala tinggal sebuah, karena yang lain sudah kehabisan minyak.
“Tidak ada obor lain?” bertanya Mahisa Agni.
Namun tiba-tiba orang tertua di antara para perampok itu berkata, “Aku menyimpan biji jarak kering.”
“Di mana?” bertanya Mahisa Agni.
Orang tertua itu pun kemudian mengambil biji jarak kering dari sebuah bakul yang diletakkannya di sudut goa itu. Beberapa di antara biji jarak itu sudah dirangkai dengan lidi.
Sebelum obor kedua itu padam, maka orang tertua itu sudah menyalakan biji jarak yang dirangkai cukup panjang sebagai pengganti obor. Bahkan sekaligus tiga orang telah menyalakannya pula.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agni pun memberitahukan kepada Akuwu Suwelatama bahwa mereka masih mungkin untuk keluar meskipun mereka tidak akan dapat membawa barang-barang hasil rampokan itu.
“Baiklah,” berkata Akuwu Suwelatama, “tetapi biarlah aku melihat, apa saja yang telah di simpan di bawah tanah ini.”
Diantar oleh orang tertua di antara para perampok itu, maka Akuwu Suwelatama pun melihat isi peti-peti yang tersusun rapi itu. Ternyata di dalamnya terdapat beberapa jenis perhiasan dari emas, perak dan permata. Bahkan di sebuah peti yang terpisah terdapat beberapa buah pendok emas bertretes berlian.
“Di mana kalian mendapatkan semua ini?” bertanya Akuwu Suwelatama.
“Kami tidak dapat mengingat lagi satu persatu.” berkata orang itu.
Akuwu itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Biarlah barang-barang ini tetap berada di sini.”
Tetapi dalam pada itu, selagi Akuwu akan meninggalkan barang-barang itu langkahnya tertegun. Ia melihat sebuah peti yang ditempatkan di tempat yang terpisah, dibayangi oleh sebongkah batu padas. Karena itu, maka Akuwu itu pun segera mendekatinya.
Ketika di luar sadarnya Akuwu berpaling kepada orang tertua di antara para perampok itu, ia melihat wajah orang itu menjadi tegang. Namun orang tua itu tidak akan dapat mencegah apa yang akan dilakukan oleh Akuwu Suwelatama.
Dengan ragu-ragu Akuwu itu pun kemudian mendekati peti itu. Perlahan-lahan ia menggapai tutup peti itu dan perlahan-lahan pula ia membukanya.
Ketika peti itu terbuka, maka jantung Akuwu itu pun menjadi berdebar-debar. Dalam cahaya obor yang lemah, Akuwu melihat dua buah patung yang berwarna kekuning-kuningan tergolek di dalam peti itu. Patung yang meskipun tidak terlalu besar, tetapi terbuat dari emas.
“Dua buah patung.” desisnya.
Mahisa Agni dan Witantra pun mendekatinya. Mereka pun kemudian mengambil patung itu dan mengamatinya.
“Dari mana kau dapat barang ini?” bertanya Akuwu, “Jangan kau jawab bahwa kau sudah lupa. Untuk barang-barang yang khusus seperti ini, kau tentu tidak akan pernah lupa.”
“Bukan aku yang mendapatkannya.” jawab orang itu.
“Kau memang pandai mengelak. Tetapi siapa pun yang mendapatkannya, kau tentu tahu, darimana asalnya?” desak Akuwu.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun agaknya memang tidak ada gunanya lagi untuk mengelakkan pertanyaan semacam itu. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Aku tidak ikut pada waktu kami mendapatkan barang itu. Tetapi menurut pendengaranku, barang itu didapat pada sebuah iring-iringan kecil dari sebuah padepokan yang jauh menuju ke Kediri. Mereka akan mempersembahkan kedua patung itu kepada Raja di Kediri. Tetapi sepasang patung itu telah kami ambil. Dalam pertempuran yang terjadi, maka kami telah membunuh semua orang yang mengawal patung itu, karena mereka telah mempertahankannya sampai orang terakhir.”
Wajah Akuwu itu menegang. Namun kemudian katanya, “Baik. Aku akan membawa patung ini. Tetapi karena kita mengalami kesulitan untuk keluar, maka kita akan keluar dahulu. Baru kemudian mencari jalan untuk dapat membawa barang-barang ini keluar.”
Demikianlah, maka orang-orang yang berada di dalam goa itu pun bersiap-siap untuk keluar. Tidak ada sepotong barang pun yang akan mereka bawa. Mereka akan sampai di luar lebih dahulu, baru kemudian mereka akan mencari jalan yang lebih baik untuk mengambil barang-barang yang ada di dalam lubang itu. Mungkin justru akan didapatkannya jalan yang lebih baik lagi.
Karena itulah, maka akhirnya seorang demi seorang mereka telah meloncat ke lubang di langit-langit itu untuk kemudian menyelusurinya. Akuwu dan beberapa orang pengawal berada di paling depan. Kemudian beberapa orang perampok yang sudah menyerah itu. Diikuti oleh para pengawal lagi. Yang terakhir dari mereka adalah Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan.
Beberapa saat lamanya mereka berdiri termangu-mangu di atas batu-batu karang berkapur itu. Akuwu Suwelatama masih saja tergetar hatinya melihat sisa-sisa dari pertempuran yang mengerikan itu. Seandainya mereka tidak segera berhasil bersembunyi di dalam lubang di bawah tanah di batu karang itu, maka mereka pun tentu akan lumat disapu oleh tubuh ketiga ekor yang menjadi buas dan liar. Mungkin ular-ular itu tidak sengaja melakukannya. Tetapi mungkin pula ular-ular itu memang sedang berebut tubuh berdarah yang baunya telah membuat mereka gila.
Dalam pada itu, maka mereka pun kemudian dengan hati-hati menuruni tebing. Beberapa orang yang terluka berat yang tidak sempat dibawa masuk ke dalam goa telah lenyap. Mungkin mereka telah dipatuk oleh ular-ular yang menjadi buas, atau dengan tidak sengaja telah tersapu dalam pertempuran yang mengerikan itu.
“Ada di antara kita yang masih berbau darah,” kata Akuwu Suwelatama memperingatkan, “Meskipun tidak banyak, tetapi mungkin masih akan mengundang ular-ular itu lagi.”
Orang-orang yang mendengar keterangan itu menjadi termangu-mangu. Namun orang tertua di antara para perampok itu berkata, “Ular yang berkepala merah itu sudah turut campur. Mungkin mereka tidak akan kembali lagi. Kecuali ular berkepala merah itu sendiri. Tetapi nampaknya ular itu justru tidak begitu tertarik kepada bau darah jika ia datang, adalah karena kedua ekor ular yang lain itu telah berkelahi.”
Akuwu mengangguk-angguk. Orang tertua di antara para perampok itu telah lama berada di tempat yang sering dilalui oleh ular-ular raksasa itu, sehingga orang itu pun tentu lebih mengenalinya daripada dirinya.
“Kita akan melihat-lihat, apakah kita akan dapat menemukan jalan yang lebih baik untuk mengambil barang-barang yang ada di dalam bukit karang itu.” berkata Akuwu Suwelatama.
Mahisa Agni termangu-mangu. Lubang di celah-celah batu karang yang mereka gunakan untuk merangkak masuk itu sudah tertimbun reruntuhan batu-batu karang. Lubang itu agaknya cukup besar untuk membawa beberapa buah peti yang terisi oleh barang-barang berharga hasil rampokan itu. Meskipun mereka harus merangkak, tetapi mereka akan dapat membawanya sebagaimana para perampok itu telah membawanya masuk.....
Bersambung...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar