23
MIMPI BERTEMU AISHA
Malam itu Fahri melawan lelah untuk ibadah. Wirid bacaan Al Qur‘annya hari itu masih kurang satu juz.
Betapa berat untuk istiqamah. Murid Syaikh Utsman itu berdiri tegap memuraja‘ah hafalan Al Qur'annya dalam shalat malam.
Hampir satu jam ia rukuk dan sujud sebelas raka‘at. Setelah berdoa memohonkan ampun untuk diri sendiri dan kedua orang tua, Fahri menutup doanya dengan doa istikharah. Ia ulang tiga kali doa itu. Pada bacaan yang terakhir kedua matanya basah.
Lalu ia rebah. Tak lama kemudian ia terlelap dalam dzikirnya, "Allah, Allah, Allah..."
"Fahri bangun, sudah saatnya berangkat." Ia hafal sekali dengan suara itu. Ia mengerjapkan kedua matanya. Wajah bening itu duduk disamping tempat tidurnya.
"Aisha?"
Wajah itu mengangguk dan tersenyum.
"Ayo bangun, mandi, semua sudah siap. Kita berangkat, Sayang."
"Berangkat ke mana?"
"Oxford."
"Oh iya, astaghfirullah, saya lupa."
"Pakaian gantimu sudah aku siapkan. Selesai mandi dan berkemas jangan lupa shalat Dhuha dulu."
"Iya. Terima kasih, Sayangku."
Ia bangkit dan bergegas ke kamar mandi. Lalu berkemas. Shalat dhuha dan berdoa. Perjalanan waktu terasa begitu cepat. Perjalanan darat memakai SUV BMW dari Edinburgh ke Oxford seperti terasa beberapa menit saja.
Kota pelajar tertua didataran Inggris itu terasa begitu menyihir. Di mana-mana bangunan tua yang indah mempesona. Para pelajar kelas dunia dari pelbagai penjuru dunia bergerak dengan penuh optimis dan dinamis.
Fahri mengarahkan mobilnya melewati Trinity College. Lalu melewati depan Bohemian Library, Perpustakaan terbesar di Oxford. Kemudian belok kiri. Seorang pelajar Indonesia tampak sedang berjalan dengan cepat di trotoar. Fahri kenal baik dengannya. Fahri memperlambat mobilnya, menurunkan kaca jendela mobilnya, mengucapkan salam dan menyapa.
"Rahmat!"
"Eh Mas Fahri, jadi serius ya ngajar di sini?"
"Insya Allah. Bagaimana thesis Ph.D-mu?"
"Sudah bab terakhir Mas, doanya."
"Naik yuk."
"Tak usah. Sebentar lagi sampai, itu. Mas Fahri tinggal di College apa?"
"Saya sementara dapat tempat di Kellog College."
"ltu tak jauh. Tepat di depan tempat saya riset."
"Baik saya ke sana dulu."
"Iya Mas. Kalau ada perlu apa-apa jangan sungkan-sungkan."
"Terima kasih."
Fahri menambah kecepatan laju mobilnya hingga sampai didepan gedung kuno seperti kastil berwarna merah keputihan. Pintu gerbang gedung itu terbuat dari kayu yang kokoh. Pintunya tertutup. Fahri turun dari mobil diikuti Aisha. Ada pintu kecil dipintu besar itu. Seorang mahasiswi bule keluar dari pintu kecil itu. Fahri dan Aisha masuk kedalam Kellog College.
Begitu masuk di dalam, tepat sebelah
kiri terdapat kantor penjaga sekaligus resepsionis college itu. Seorang resepsionis berambut pirang ditemani sekuriti berkulit hitam dengan ramah menerima Fahri. Dengan tenang Fahri menjelaskan kedatangannya.
Resepsionis itu minta beberapa berkas dan Fahri mengambil dari tasnya dan menyerahkannya. Resepsionis itu juga minta paspor Fahri dan Aisha. Tidak menunggu lama, Fahri menerima kunci untuk menginap malam itu. Resepsionis menjelaskan di mana parkir mobil seharusnya.
Setelah memarkir mobil pada tempatnya, Fahri dan Aisha kembali masuk ke Kellog College untuk menginap.
College itu seperti istana raja berbentuk persegi empat. Ditengah-tengahnya tanah lapang dengan rumput hijau menghampar seperti permadani. Fahri menerima tiga kunci. Kunci pertama untuk pintu gerbang paling luar yang terbuat dari kayu yang kokoh tadi. Kunci untuk pintu kecil dalam pintu besar itu. Kunci kedua untuk gerbang besi di dalam College untuk masuk lorong area kamar tempatnya
menginap dan kunci ketiga adalah kunci kamarnya.
Fahri masuk kamar bersama Aisha. Kamar itu begitu rapi dan simpel. Fahri menghirup dalam-dalam bau kamar itu. Bau kamar sebuah college di Oxford. Ia sudah merasakan bau Al Azhar Cairo dan kini merasakan bau Oxford. Lebih dari itu, ia ditemani perempuan paling ia cintai di atas muka bumi ini setelah ibunya, yaitu Aisha, istrinya.
"Lebih bergetar mana memasuki kamar ini, atau kamar hotel San Stefano?" Gumam Aisha sambil tersenyum.
"Sama bergetarnya. Nuansanya beda. Cita rasanya beda. Tapi sama-sama membuncahkan cinta."
"Aisha wudhu dulu ya, nanti Aisha akan bacakan puisi khas itu."
Fahri tersenyum. Ia sangat mengerti maksud Aisha. Perempuan blesteran Turki-Palestina-Jerman itu berjalan memasuki kamar mandi.
Selesai wudhu wajah Aisha tampak lebih bersinar. Kini gantian Fahri yang mengambil air wudhu. Keluar dari kamar mandi, Fahri mendapati lampu kamar itu telah dimatikan. Yang tersisa adalah lampu tidur yang remang-remang.
Aisha duduk di depan meja membelakangi Fahri. Aroma sedap khas parfum Aisha merasuk kedalam hidung dan jiwa Fahri. Fahri
memandangi sosok istrinya dari belakang. Aisha membaca puisinya,
agar dapat melukiskan hasratku, kekasih,
taruh bibirmu seperti bintang di langit kata-katamu.
ciuman dalam malam yang hidup,
dan deras lenganmu memeluk daku
seperti suatu nyala bertanda kemenangan
mimpiku pun berada dalam benderang dan abadi (1)
Fahri mendekati Aisha perlahan. Aisha tahu Fahri hanya beberapa centi dari dirinya. Fahri menjawab puisi itu,
Alangkah manis bidadariku ini
bukan main elok pesonanya
Tiba-tiba Aisha memotong,
"Ssst....! Jangan kau teruskan, kita belum shalat Dhuhur dan shalat Ashar. Kita shalat dulu jama‘ ta‘khir."
"Iya benar. Setiap kali aku mendengar puisimu itu rasanya aku tidak bisa bersabar."
"Kau harus bisa bersabar. Sayang. Ayo kita shalat!"
Aisha membalikkan badannya dan Fahri terkejut ketika melihat wajah perempuan yang ada di hadapannya,
"Hulya! Astaghfirullah!"
"Aku ini Aisha, sayang, istrimu."
"Astaghfirullah, Hulya, kenapa kau bisa di sini? Kenapa bisa begini? Astaghfirullah. ini tidak boleh terjadi. Ini dosa besar Hulya."
"Astaghfirullah suamiku, aku ini istrimu, tidak ada yang salah. Coba kau ingat baik-baik, akulah satu-satunya orang yang tahu puisi spesial itu. Aku, Aisha. Hanya Aisha!"
"Tapi..."
"Ceritanya panjang, ayo shalat dulu!"
Fahri menatap wajah perempuan di hadapannya, wajah Hulya yang anggun. Tetapi itu adalah Aisha. Hanya Aisha yang tahu puisi sangat spesial itu.
"Ayo shalat dulu, Sayang!" Lirih perempuan itu.
Fahri terbangun, ketika telpon di kamarnya berdering kencang. Ia angkat,
"Fahri, ini Eqbal!"
"Oh, Paman Eqbal."
"Aku dan Syaikh Utsman menunggumu di lobby. Lima belas menit lagi shubuh. Ayo kita ke masjid jalan kaki bersama."
"Tunggu sebentar Paman. Terima kasih sudah membangunkan."
"Jangan lama-lama ya."
"Iya Paman."
Fahri duduk di bibir ranjang hotel itu menenangkan pikiran dan menghadirkan seluruh kesadaran.
"Ya Allah, apa makna mimpi yang aku alami? Kenapa Aisha itu berwajah Hulya? Apakah itu maknanya aku harus menolak Yasmin dan menerima Hulya?"
Fahri bersuci, berkemas dan keluar dari kamarnya. Tepat ketika ia menutup pintu kamarnya, beberapa langkah dari tempatnya berdiri Yasmin keluar dari kamarnya. Fahri agak kaget, demikian juga Yasmin.
"Assalamu‘alaikum." Lirih Fahri sambil menunduk.
"Alaikumussalam." Jawab Yasmin juga dengan menunduk.
Fahri berjalan menuju lift, diikuti Yasmin. Fahri banyak menunduk ketika menunggu pintu lift terbuka, demikian juga Yasmin. Mereka berdua memasuki lift, selama di dalam lift keduanya berkomunikasi dengan diam. Fahri masih terbayang-bayang mimpinya. Tak terasa air matanya meleleh.
Yasmin sempat melirik Fahri yang menunduk dengan air mata meleleh. Lift berhenti di lobby. Begitu pintu lift terbuka, Fahri melangkah keluar duluan diikuti Yasmin. Syaikh
Utsman dan Paman Eqbal tampak duduk menunggu di kursi. Begitu melihat Fahri, Syaikh Utsman berdiri dan tersenyum. Fahri menyalami gurunya itu dan mencium tangannya lalu menyalami Paman Eqbal.
Mereka berempat lalu melangkah keluar meninggalkan Landmark London Hotel menuju Central Mosque London.
Sepanjang perjalanan menuju masjid dada Fahri terus terasa deg-degan. Ia merasa ia belum menemukan jawaban yang mantab jika ditanya oleh Syaikh Utsman. Ia tidak tahu apakah harus menerima Yasmin, ataukah menolaknya.
Angin pagi kota London sejuk semilir. Jalanan masih sepi. Hanya beberapa mobil berseliweran. Sangat berbeda ketika matahari sudah terbit, ketika siang, sore hingga menjelang tengah malam, maka jalanan kota London akan terasa padat dan sangat dinamis.
Syaikh Utsman berjalan tenang dengan mulut terus berdzikir. Fahri yang ada di sampingnya mendengar jelas dzikir gurunya itu, 'Ya hayyu ya Qayyum, La ilaaha illa Anta'. Begitu terus, diulang-ulang sambil melangkah berjalan.
Ia jadi ingat bahwa itu adalah yang sama yang dilakukan oleh Romo Kyai Ja‘far Abdur Razaq, gurunya ketika di pesantren dulu. Romo Kyai Ja'far selalu menggumamkan itu di sela-sela beliau membangunkan para santri dari kamar ke kamar, untuk shalat shubuh berjama‘ah. Ya itulah dzikirnya,
"Ya Hayyu ya Qayyum, La ilaaha illa Anta".
Apa keistimewaan dzikir itu? Kenapa Syaikh Utsman dan Kyai Ja‘far bisa melafalkan dzikir yang sama menjelang shalat shubuh. Kenapa dulu ia tidak bertanya kepada Kyai Ja‘far? Dan kenapa tidak terpikirkan untuk mencari teks di dalam kitab-kitab karya ulama tentang keutamaan dzikir dengan kalimat itu. Baru sekarang ia terpikirkan. Pikirannya sedikit teralihkan tentang dzikir itu.
Memang membersamai Syaikh Utsman adalah sebuah kenikmatan. Selalu membangkitkan semangat untuk beramal shalih.
Semangat untuk membaca Al Qur‘an sebanyak-banyaknya. Semangat untuk berdzikir. Semangat untuk tidak lelah berjuang di jalan Allah. Membersamai Syaikh Utsman selalu saja menjadi koreksi bagi dirinya. Betapa malunya akan segala kekurangan ibadahnya selama ini.
Syaikh Utsman sendiri tidak pernah mengoreksi dirinya tentang amal ibadahnya. Tetapi dengan melihat wajah Syaikh Utsman dengan berjalan bersamanya tanpa ada yang meminta ia langsung menjadikan Syaikh
Utsman sebagai cermin. Dan ia selalu malu dalam hati kepada diri sendiri, kepada Allah, dan kepada Syaikh Utsman bahwa ia belum beribadah secara maksimal.
Jika saja Paman Eqbal tidak membangunkan dirinya, mungkin ia masih saja terlelap di kasur. Bahkan tidak mustahil kehilangan shalat shubuh pada waktunya.
Tiba-tiba ia istighfar, ia lupa membangunkan Paman Hulusi. Fahri sedikit menjauh dan melambatkan langkah. Ia merogoh saku jaket tipisnya dan mengambil ponselnya. la memanggil Paman Hulusi. Ia berharap ponsel Paman Hulusi aktif.
Alhamdulillah panggilannya diterima. Sementara Syaikh Utsman, Paman Eqbal dan Yasmin terus berjalan. Central Mosque London sudah ada di hadapan.
"Bangun Paman, shalat shubuh. Saya dan Syaikh Utsman menuju masjid. Jika masih terkejar Paman ke masjid ya, nyusul!"
"Hoca, alhamdulillah saya sudah ada di masjid."
"Kenapa Paman tadi tidak bangunkan saya?"
"Ini saya baru mau telpon Hoca untuk membangunkan Hoca. Tapi Hoca sudah duluan telpon saya."
"Ya sudah."
Fahri mengevaluasi dirinya lagi. Ia mendesah sedih, bahkan ia kalah cepat dengan Paman Hulusi untuk bangun dan pergi ke masjid.
Laa ilaaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin.
Mereka masih sempat shalat sunnah dua rakaat sebelum muadzin mengumandangkan iqamat shalat shubuh. Fahri kembali diminta untuk menjadi imam, tapi Fahri tidak mau, Fahri bilang kepada Syaikh Utsman,
"Sudah bertahun-tahun saya tidak mendengar suara Syaikh membaca Al Qur‘an dalam shalat. Saya rindu mendengarnya."
Syaikh Utsman akhirnya mengimami. Suaranya berwibawa, tartil dan merasuk ke dalam hati. Hampir mirip suara Syaikh Mahmoud Khushari. Fahri begitu menikmati bacaan gurunya itu. Sepanjang shalat itu, masalah Yasmin benar-benar terlupakan. Ia begitu menikmati Syaikh Utsman membaca Surat 'Qaaf' pada rakaat pertama dan 'Iqtarabatis saa'ah" pada rakaat kedua.
Syaikh Utsman membaca dua surat itu dari awal sampai akhir. Agak panjang. Namun tidak terasa panjang karena indahnya suara tartil yang dihadirkan Syaikh Ustman.
Selesai shalat Shubuh, Syaikh Utsman tenggelam dalam dzikirnya. Cukup lama Fahri menunggu Syaikh Utsman. Namun gurunya itu tetap saja tidak beranjak dari duduknya. Ia ingat salah satu kebiasaan Syaikh Utsman adalah setelah shubuh tidak meninggalkan masjid sampai datang waktu dhuha. Ia jadi
tertarik apakah kebiasaan itu juga tetap dilanggengkan gurunya bahkan ketika dalam kondisi safar di luar negeri seperti sekarang ini.
Fahri akhirnya beranjak mengambil tempat agak di pojok. Dosen The University of Edinburgh itu pun mulai membaca dzikir pagi lalu memuraja‘ah hafalan Al Qur‘annya.
Paman Eqbal dan Paman Hulusi pamit duluan pulang ke hotel. Syaikh Ustman masih duduk menghadap kiblat dan Fahri sudah hampir khatam surat Al Shaffat. Fahri mengulang hafalannya dengan memejamkan mata. Sudah empat surat ia baca. Ketika ia mulai membaca surat Shad, ia merasa seseorang menyentuh pundaknya. Ia membuka kedua matanya. Syaikh Utsman telah duduk di hadapannya. Fahri menyempurnakan membaca lima ayat lalu menyudahinya.
"Sudah Dhuha, aku mau bicara denganmu Anakku."
"Iya Syaikh."
"Ini hari terakhirku ada di Inggris ini, besok aku harus balik ke Mesir."
"Iya Syaikh." Jawab Fahri dengan dada bergetar. Ia tidak tahu harus menjawab apa terkait Yasmin.
"Kau bersiap-siaplah sibuk."
"Sibuk apa Syaikh?"
"Sibuk mengajar Al Qur‘an. Kau sedikit dari muridku yang khatam hampir semua pelajaran dariku.
Sanad qira‘ah sab‘ah juga sudah kau miliki. Aku sudah bicara dengan para imam di Inggris Raya ini, terutama yang berasal dari Arab dan Afrika agar yang ingin mengambil qira‘ah sab‘ah bisa mengambil darimu."
"Tapi Syaikh, saya ..."
"Tidak ada kata tapi. Khoirukum man ta'allamal Qur'ana wa 'allamah.(2)
Kau tidak boleh melupakan hadits itu sedetikpun! Aku sudah tua. Umurku sudah masuk delapan puluh tahun. Mungkin tak lama lagi ajal akan menjemputku. Aku ingin ilmu yang kau pelajari dariku tidak berhenti di kepala dan dadamu, tapi harus menyebar.
Aku sudah banyak mendengar tentangmu dari Eqbal. Aku bahagia kau menulis karya ilmiah di jurnal-jurnal internasional. Juga menulis buku.
Teruskanlah! Itu namanya ta'liful kutub. Menyusun kitab. Mencetak buku. Boleh dikatakan kau sudah berhasil. Aku bahkan melihat kau layak mengajar di Oxford. Seperti orang sedang antri kau sudah berada di jalur antrian yang tepat.
Sekarang saatnya kau melakukan ta'lifur rijal. Menyusun generasi! Mencetak generasi! Ilmu yang kau pelajari dari para ulama itu tidak boleh berhenti dalam dirimu saja. Ingat air jika berhenti mengalir maka air itu akan rusak. Air itu sehat jika ia mengalir. Kau harus alirkan ilmumu. Itu wasiatku, wasiat guru yang
sangat mengasihimu!"
Air mata Fahri meleleh mendengar nasehat dan wasiat itu.
"Insya Allah, Syaikh. Saya akan laksanakan semampu saya."
"Berikutnya masalah yang tidak kalah penting. Yang sejak kali pertama sudah aku sampaikan kepadamu dengan berterus terang." Syaikh Utsman menghela nafas.
Fahri sudah tahu kemana arah Syaikh Utsman bicara. Dada Fahri bergetar hebat. Ia ingin menerima Yasmin tapi belum mantap betul. Ia mau menolaknya tapi tidak melihat alasan yang bisa ia gunakan untuk menolaknya. Cucu Syaikh Utsman itu
tidak layak untuk ditolak. Apalah arti dirinya, siapakah dirinya? Dari segi nasab pun ia tidak ada apa-apanya dibandingkan Yasmin.
Bagaimana mungkin ia berani menolaknya. Fahri menunduk, pasrah. Dalam hati ia akan menjawab. bahwa ia menyerahkan keputusannya sepenuhnya pada Syaikh.
"Secara dhahir aku melihatmu sebagai lelaki yang baik, shalih. Secara batin aku mendoakan semoga yang batin jauh lebih baik," lanjut Syaikh Utsman,
"Anakku, aku sangat yakin bahwa kau bisa menerima segala takdir Allah untukmu dengan penuh keikhlasan."
Fahri menunduk dan mengangguk pelan.
"Anakku, aku minta maaf kepadamu jika aku telah mengganggu ketenanganmu. Aku sama sekali tidak ada tujuan meletakkan madharat kepadamu sedikitpun."
Fahri mengangguk. Ia tidak berani menatap mata gurunya.
"Aku tawarkan Yasmin, aku temukan kau dengan Yasmin, tujuanku seperti Umar ketika menawarkan putrinya kepada para sahabat Nabi yang utama. Untuk mencari keridhaan Allah ta‘ala. Namun terkadang kita berikhtiar, dan hasilnya bisa jadi tidak seperti yang kita duga."
Air mata Fahri meleleh, ia seperti tersindir. Ia merasa bahwa Syaikh Utsman seperti melihat
kegundahan dirinya.
"Anakku, tadi di sepertiga malam terakhir, Yasmin datang mengetuk kamarku. la datang dengan menangis. Ia menangis sambil minta maaf kepadaku. Ia mengatakan agar juga dimintakan maaf kepadamu. Ia minta maaf karena ia tidak bisa melanjutkan proses."
Fahri kaget mendengar hal itu. Yasmin minta proses tidak dilanjutkan? Ia kaget karena dua hal. Pertama, ia diam-diam bahagia karena itu berarti ia terlepas dari beban harus memberikan jawaban atas permintaan oleh Syaikh Utsman. Kedua, ia kaget Yasmin meminta proses itu tidak dilanjutkan setelah ia bertemu dengan cucu Syaikh Utsman itu.
Apakah Yasmin menilai dirinya tidak layak untuk dijadikan suami? Apakah Yasmin tidak suka dengan tampang dan wajahnya? Apakah Yasmin melihat sesuatu dalam dirinya yang bertentangan dengan syariat sehingga memutuskan untuk tidak melanjutkan
proses?
Syaikh Utsman seperti mendengar pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam batin Fahri.
"Yasmin mengatakan ini sama sekali tidak terkait dirimu. Kamu tidak ada salah sama sekali. Kamu lelaki yang layak dipilih wanita shalihah. Masalahnya, kata Yasmin, adalah justru ada dalam diri Yasmin. Semalam ia tidak bisa tidur. Dan akhirnya ia memutuskan untuk tidak melanjutkan proses lebih lanjut."
"Jadi masalahnya apa, Syaikh?"
"Yasmin tidak mau menjelaskan."
"Oh begitu."
"Kau tidak kecewa kan Anakku. Sekali lagi maafkan aku."
"Tidak apa-apa Syaikh. Sama sekali aku tidak kecewa. Yang paling penting Syaikh masih terus berkenan mendoakan aku."
"Terima kasih atas pengertianmu, Anakku."
Dialog itu diakhiri dengan doa kafaratul majlis. Syaikh Utsman berdiri untuk shalat Dhuha. Fahri juga melakukan hal yang sama. Guru dan murid itu meninggalkan masjid menuju hotel ketika matahari sudah bersinar terang benderang. Yasmin tidak kelihatan, ternyata ia telah ke hotel duluan.
Hari itu Fahri sibuk membantu Syaikh Ustman mengajar Al Qur‘an di tiga tempat, di East London Mosque, Suleymaniye Mosque, dan London Muslim Centre. Hari berikutnya Fahri turut mengantar Syaikh Utsman ke Heathrow Airport.
Sebelum masuk bandara untuk berpisah, Syaikh Utsman memeluk Fahri lama sekali. Syaikh Utsman memeluk sambil terisak,
"Anakku, kalau ini adalah pertemuan kita yang terakhir maka maafkanlah segala salah dan khilafku. Maafkanlah aku kalau sebagai gurumu aku belum bisa menjadi guru yang
baik. Maafkanlah aku anakku."
Fahri tak kuasa menahan tangisnya. Tangisnya meledak. Ia melepas pelukan gurunya dan menciumi tangan gurunya sambil menangis. Syaikh Utsman juga tampak berkaca-kaca kedua matanya.
Ulama Mesir itu lalu memeluk cucunya, Yasmin. Tidak seperti Fahri, Yasmin justru berusaha tersenyum saat Syaikh Ustman melepas pelukannya dan menatapnya. Yasmin berusaha tersenyum meski pun kedua
matanya berkaca-kaca.
Syaikh Utsman masuk ke dalam bandara. Para pengantar tidak bisa lagi mengikutinya. Fahri berdiri beberapa lama bahkan ketika Syaikh Utsman sudah hilang dari pandangan matanya. Yasmin berdiri tak jauh dari Fahri. Cucu Syaikh Utsman itu menunduk. Paman Eqbal yang juga ada disitu menepuk pundak Fahri, mengajak pergi.
"Kau mau balik ke Edinburgh atau bagaimana?" Tanya Paman Eqbal.
"Saya masih ada urusan bisnis dengan Ozan." Jawab Fahri.
Paman Eqbal mengangguk. Yasmin mendekat,
"Maaf, saya mohon diri, saya harus mengejar kereta ke Durham. Mohon maaf kalau ada tingkah laku saya yang tidak berkenan, dan terima kasih sudah memuliakan kakek saya."
"Hati-hati di jalan, Yasmin. Kalau perlu bantuan apa-apa jangan malu. Ada Fahri, ada Ozan. Mereka semua saudaramu di sini." Sahut Paman Eqbal.
"Apa yang dikatakan Paman Eqbal benar. Kalau perlu bantuan apa-apa jangan segan dan malu. Hati-hati di jalan." Fahri menguatkan.
"Terima kasih. Kalau ada acara di Durham silakan beritahu saya, siapa tahu saya bisa datang. Atau saya bisa membantu. Sekali lagi terima kasih. Assalamu‘alaikum."
"Wa‘alaikumussalam."
Yasmin bergegas meninggalkan Fahri dan Paman Eqbal. Langkahnya tampak terburu. Sesekali ia melihat jam tangannya. Fahri menghela nafas. Hatinya merasakan kelegaan sekaligus sedikit keperihan. Lega karena ia terbebas dari beban harus memilih Yasmin, namun sedikit perih. Yah perih, dari relung hati
paling dalam ia harus mengakui, Yasmin adalah taman bunga yang indah dan suci, baunya harum semerbak, di dalamnya penuh keberkahan, dan ia urung mendapatkannya.
Tragisnya, Yasminlah yang menolaknya. Itu membuat dirinya merasa harus introspeksi. Mungkin, memang ia tidak layak bersanding dengan Yasmin. Tidak sepadan. Tidak kufu.
Yasmin dari keluarga yang silsilah nasabnya sedemikian harum, sementara dirinya hanyalah anak seorang petani dan penjual tape keliling. Kakek Yasmin adalah Syaikh Utsman, ulama besar Mesir, sementara kakeknya hanyalah
petani desa yang lebih taat ibadahnya ketika tiba usia senjanya.
"Sudah jangan disesali. Belum jodoh! Ayo kita kembali ke hotel!" Kata-kata Paman Eqbal menyadarkan perenungannya.
"Tak ada yang saya sesali Paman. Ini mungkin jalan terbaik yang digariskan oleh Allah." Sahut Fahri.
"Syukurlah kalau begitu."
Keduanya melangkah keluar bandara. Mereka lalu berjalan kaki kira-kira sepuluh menit sampai menjumpai sebuah kafe. Ozan duduk di dalam kafe sedang asyik berbincang dengan seseorang.
Ozan ikut mengantar Syaikh Utsman tapi pamit tidak sampai menyertai sampai masuk ke dalam bandara karena ada janji dengan kolega. Ozan memperkenalkan koleganya kepada Fahri dan Paman Eqbal.
Begitu Fahri duduk dan memesan minuman, ponsel Fahri berdering. la lihat di layar, dari Brother Mosa.
"Iya Brother ada apa?"
"lni tentang Sabina, Tuan Fahri."
"Ada apa dengan Sabina."
"Sabina tidak bisa meneruskan proses legal hukumnya, Tuan Fahri."
"Kenapa? Ada masalah apalagi?"
"Dia tidak bisa wawancara dan diambil sidik jarinya."
"Kenapa tidak bisa?".
"Dia mengalami kecelakaan. Sudah saya lihat, kondisinya agak buruk. Terutama kedua tangannya."
"Kecelakaan apa?"
"Kebakaran. Katanya kompornya bermasalah sehingga membakar kedua tangannya dan sedikit wajahnya."
"Innalillah."
"Saya sudah membereskan urusan kompor itu, sudah diperbaiki, Tuan. Sekarang Sabina sedang dirawat disebuah rumah sakit. Karena kedua tangannya terbakar maka tidak bisa diambil sidik jarinya."
"Tapi rumah aman ya? Terus Misbah bagaimana dia tidak apa-apa?"
"Rumah aman Tuan. Tidak terjadi apa-apa. sudah dicek semua."
"Syukurlah. Jadi proses legal hukum Sabina berhenti sementara?"
"Iya Tuan. Mohon maaf, jika kabar ini membuat Tuan tidak nyaman."
"Tidak apa-apa."
Brother Mosa menutup telponnya setelah mengucapkan salam. Dahi Fahri berkerut. Ia berpikir, bagaimana bisa terjadi kompor itu sampai membakar kedua tangan Sabina! la jarang mendengar ada kompor bermasalah di sini? Fahri menghela nafas, ia mencoba menyadari bahwa ia harus bersyukur
rumahnya tidak apa-apa.
Kompor yang bermasalah itu tidak sampai menimbulkan kebakaran. Hanya saja ia merasa kasihan pada Sabina. Karena masalah itu, proses legal hukumnya untuk memiliki status
yang jelas jadi tertunda.
Tidak lama Fahri berada dikafe itu. Begitu urusan Ozan dengan koleganya selesai, ia pun meninggalkan tempat itu. Ozan mengajak dirinya dan Paman Eqbal meninjau butik AFO di London.
Ozan juga mengajak Fahri mengunjungi London Bisnis School dan berjumpa dengan teman-teman Ozan yang sedang mengambil program MBA di salah satu sekolah bisnis terkemuka dunia itu.
Hari berikunya Ozan mengajak Fahri main golf di sebuah padang golf yang indah di pinggiran London.
Untung. waktu di Jerman, Fahri pernah sedikit belajar main golf bersama Aisha. Sambil bermain golf Ozan melakukan komunikasi bisnis dengan beberapa konglomerat lnggris yang tergabung dalam klub golf itu. Jadi bermain golf itu bukan sekedar permainan untuk menunjukkan status sosial, tapi bagian
dari cara komunikasi bisnis.
Setelah semua urusan dirasa selesai, Fahri pamit kembali ke Edinburgh. Sementara Paman Eqbal kembali ke Turki. Begitu sampai di Edinburgh Fahri langsung menjenguk Sabina yang masih dirawat di sebuah klinik. Fahri menanyakan kondisi Sabina kepada dokter ahli.
"Jari-jari kedua tangannya melepuh. Beruntung kulit dan sedikit dagingnya yang melepuh, api tidak sampai matang membakar tulangnya. Kedua tangannya akan sembuh, hanya saja tidak akan sehalus dulu lagi."
Fahri masuk ke ruang dimana Sabina di rawat. Begitu Fahri masuk, Sabina agak kaget. Perempuan berwajah buruk itu menangis minta maaf kepada Fahri. Ia minta maaf telah merepotkan Fahri dan terus merepotkan Fahri.
"Jangan kau pikirkan diriku. Pikirkanlah dirimu Sabina. Bersabarlah. Semoga kau segera sembuh. Tentu saja saya sangat tidak menginginkan kecelakaan seperti itu terjadi, tetapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Yang paling penting kau masih selamat dan rumah juga selamat."
"Maafkan saya yang tidak hati-hati, Tuan."
"Kau tidak salah, tidak ada yang perlu di maafkan."
"Saya mohon ijin untuk tidak lagi tinggal dirumah Tuan. Saya merasa, saya selalu membuat susah."
"Jangan memikirkan hal itu dulu, yang penting kau sembuh dulu."
Sabina menunduk. Kedua matanya berkaca-kaca. Ada rasa perih yang menjalar di dalam dadanya dan hanya dia dan Allah yang tahu apa sebabnya. Dalam hati Sabina berulang kali istighfar minta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
*****
______________________________________________
1. dipetik dari puisi berjudul Kekasih karya Paul Eluard, Penyair Perancis abad ke-19 paling terkemuka dari golongan surealis
2.Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar