05
Perjumpaan tak terduga
"Ada apa Hoca? Apa Hoca dikecewakan Ozan? Saya akan telepon ayahnya kalau itu terjadi."
"Tidak Paman, sama sekali tidak. Ini bukan tentang Ozan.'
"Lalu tentang apa?"
"Tentang Aisha."
"Ya Allah. itu Iagi. Hoca harus mengikhlaskannya."
Fahri menunduk dan memejamkan mata. Air matanya meleleh di pipi.
"Innama asyku batsts wa huzn ilallah." lirihnya. (―Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.(QS. Yusuf:86)).
Paman Hulusi tidak berani berkomentar apa-apa. Sepanjang perjalanan ia diam. Sementara Fahri membayangkan satu waktu bersama Aisha di Freiburg di ujung musim dingin. Itu adalah siang hari yang mendung. Ia sedang mengedit sebuah artikel untuk sebuah jurnal ilmiah di kamar kerjanya. Aisha tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Aku ingin makan ikan panggang di restoran pinggir Danau Titisee di tengah Black Forest. Ayo siap-siap, kita ke sana, Sayang!" pinta Aisha.
"Pukul dua nanti aku ada janji jumpa Profesor Dikinciler."
"Tolonglah, sayang, arguk (aku mohon ), please!" rengek Aisha sambil menciumi tengkuknya.
Maka iapun tidak bisa menolak kemauan istrinya terkasih itu. Siang itu ia batalkan rencana perjumpaannya dengan supervisornya demi Aisha. Setelah makan siang ditepi Danau Titisee, Aisha mengajaknya ke Hotel Alemannenhof. Salah satu hotel legendaris di pinggir Danau Titisee.
Ternyata Aisha telah menyiapkan segalanya dengan rapi. Aisha bahkan memberikan kejutan. Ia telah memesan perlengkapan spa di kamar. Dan siang itu dirinya dilucuti oleh Aisha untuk dipijat dan disegarkan dengan spa hingga dirinya tertidur. Sore hari menjelang Maghrib, pemandangan di teras beranda hotel yang mengarah ke Danau Titisee begitu mempesona. Ia berdiri sambil memeluk Aisha,
dengan mulut menggumamkan dzikir sore. Dan kedua mata menikmati panorama alam yang luar biasa indahnya. Bau khas parfum lembut Aisha menyempurnakan suasana romantis itu. Bagaimana mungkin ia
bisa melupakan Aisha?
Dan malam harinya, di kamar hotel di pinggir Danau Titisee itu, Aisha menjelma menjadi bidadari yang telah membuang segala rasa malunya dihadapan suaminya tercinta dan memberikan yang terbaik saat beribadah bersama suaminya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan Aisha?
Hidup bersama Aisha adalah ibadah penuh cinta dan kemesraan.
"Ya Allah. bagaimana mungkin aku bisa melupakannya. Ampuni hamba-Mu kalau sampai cintaku padanya menutupi cintaku kepada-Mu, ya Allah!" lirih Fahri sambil menyeka air matanya.
"Sepuluh menit lagi kita sampai, Hoca," gumam Paman Hulusi mengingatkan. Fahri mengambil tisu dan membersihkan mukanya.
"La haula wala quwwata illa billah... La haula wala quwwata illa billah ..." Fahri mengulang-ulang dzikirnya.
Mobil SUV itu terus melaju dijalan utama Kota Musselburgh yang menghampar mengikuti garis pantai.
Mendekati Fisherrow Harbour, Paman Hulusi mengurangi kecepatan. Di pojok Newhailes Road, tepat menghadap Harbour Road, tampak bangunan bercat cokelat muda cerah. Itu adalah bangunan Minimarket Agnina, dan Resto Halal Agnina.
Fahri langsung minta izin shalat Ashar disebuah ruangan kecil di lantai tiga, bersebelahan dengan ruang rapat. Usai shalat Fahri memimpin rapat. Minimarket itu memiliki enam karyawan untuk dua shift. Sementara restonya memiliki dua koki dan empat
karyawan untuk dua shift. Mereka semua berada dibawah tanggung jawab harian Mosa Abdelkerim, seorang manajer muda energik dan jujur yang berasal dari Sudan.
Dalam rapat itu, Mosa memberikan laporan dengan sangat detail kepada Fahri. Laba minimarket dan resto meningkat dari pekan sebelumnya.
"Apakah di antara kalian ada yang punya usul untuk meningkatkan laba minimarket dan resto?" tanya Fahri.
Seorang perempuan muda gendut berjilbab modis angkat tangan.
"Silakan, Nona Salma."
" Saya usul untuk minimarket karena saya sehari-hari bekerja di minimarket. Sebelum bekerja di sini saya sudah bekerja di ASDA. Saya kira, kita sepakat untuk minimarket sasaran kita tidak hanya kalangan Muslim, bahkan sasaran paling besar sesungguhnya bukan kalangan Muslim. Sebab mereka
penduduk terbesar kawasan ini. Maka usul saya, bagaimana caranya kita berani memberikan harga lebih murah dari kompetitor, dan berani membuat event-event diskon yang besar. Dengan demikian, ikon Agnina akan menguat dan dalam rentang satu tahun kedepan laba yang didapat akan
berlipat. Jika kita berani memberikan fasilitas khusus, kita bisa buat sistem member get member. Dengan itu, pelanggan lokal bisa kita ikat."
"Usul yang bagus sekali. Brother Mosa, tolong dieksekusi dengan baik."
"Baik," kata Mosa sambil tersenyum dan memberikan jempol kepada Salma.
"Ada yang lain?"
"Saya usul untuk resto," sahut perempuan bule seumuran Salma berbaju lengan panjang tanpa penutup kepala.
"Silakan, Nona Ruth."
"Resto kita menurutku masih terlalu kecil. Lima meja dengan masing-masing empat kursi. Hanya dua puluh kursi. Kalau jam makan siang, sering menolak tamu karena kursi sudah penuh.Ini kerugian. Dan orang-orang bisa antipati, dari rumah mereka sudah mencoret resto ini karena beranggapan tidak akan
dapat kursi. Di basement ada ruang cukup luas. Menurut saya basement itu kita manfaatkan saja.
Gudangnya disewakan saja untuk tempat lain yang lebih murah, sedikit jauh dari sini tidak masalah asal disiapkan alat transportasinya. Saya bukan Muslim, tapi seringkali prihatin jika ada pengunjung yang menanyakan bisa numpang shalat dimana. Karena tidak ada tempat, saya katakan tidak ada. Kalau mau
shalat, harus ke lantai tiga di atas minimarket. Ini merepotkan pelanggan. Basement itu sekalian disiapkan satu ruang untuk shalat. Saya bahkan mengkalkulasi jika seluruh basement itu kita jadikan tempat resto.
Dengan dua toilet dan tempat shalat. Itu kita bisa menambah tiga puluh lima sampai empat puluh kursi. Jadi total kita akan punya lima puluh lima sampai enam puluh kursi.
Keuntungannya, kita bisa proses agar restoran ini layak menerima turis. Kita bisa bekerja sama dengan paket-paket tour Muslim.
Restoran Halal yang bisa menampung grup besar wisatawan Muslim di UK ini, bahkan di Eropa, jarang ada. Itu usul saya."
"Wah cemerlang sekali idenya. Brother Mosa, tolong dicatat baik-baik. Panggil ahli desain interior untuk mewujudkan usul Nona Ruth."
"Itu usul saya yang pertama. Saya masih ada satu usulan."
"Silakan, Nona Ruth. Dengan senang hati kita semua mendengarkan."
"Usul saya yang kedua, kita belum punya layanan delivery. Sudah saatnya membuka pelayanan delivery ketika pelanggan kita mulai banyak. Dan satu lagi, sekalian saja, menu kita terasa Asia Selatan dan Turki. Saya usul, ada tambahan menu Chinese Muslim atau Thailand Muslim, biar lidah Asia Timur lebih masuk."
Fahri mengangguk-angguk.
"Kita tambah menu Chinese Muslim dan Indonesia." ujar Fahri mantab.
"Indonesia Muslim?" tanya Ruth.
"Disebut Indonesia saja sudah menunjukkan Muslimnya, seperti ketika kita menyebut Turki atau Mesir.
Sebab Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Semua yang ikut rapat mangangguk-angguk."
"Untuk usulan, sementara saya rasa cukup. Usulan-usulan dari Nona Salma dan Nona Ruth itu cukup dulu untuk rapat kali ini. Jika bisa kita jalankan dengan konsekuen, akan membuat maju usaha ini. Dan jika usaha ini maju, kalian semua juga akan menikmati buahnya. Setiap target tercapai, saya janjikan
kalian akan mendapatkan bonus yang pantas, insya Allah."
Salma tepuk tangan diikuti yang lain. Suasana rapat benar-benar hangat dan penuh kekeluargaan.
"Apakah masih ada sesuatu yang perlu dibincangkan? Sebelum saya tutup rapat ini," tanya Fahri.
"Saya ingat sesuatu," tukas Mosa.
"Madam Barbara, silakan laporkan apa yang Anda temukan pada rekaman CCTV." ucap Mosa pada perempuan setengah baya yang juga bekerja di Minimarket Agnina.
"Saya coba melihat lebih teliti rekaman CCTV di dalam minimarket. Saya agak terkejut. Saya
menemukan sebuah pencurian kecil. Saya sebut kecil, karena yang dicuri barang yang kecil yaitu beberapa potong cokelat. Dan pelakunya juga anak remaja yang belum dewasa. Yang saya kaget, ia telah melakukan hal itu tiga kali dalam seminggu ini. Apakah kita akan laporkan kepihak kepolisian
atau bagaimana?" tutur Madam Barbara.
"Boleh saya lihat hasil rekamannya?"
"Sebentar, saya ambil." Madam Barbara bergegas mengambil kaset yang telah ia siapkan berikut alatnya.
Sejurus kemudian, Madam Barbara telah memutarnya dan hasil rekaman itu tampak di layar 12 inci. Madam Barbara mendekatkan ke meja Fahri. Fahri mengamati dengan saksama. Tampak anak remaja memasuki minimarket dengan tenang. Ia melihat-lihat barang. Ia Lalu menuju tumpukan cokelat batangan. Ia tampak mengambil tiga batang. Yang dua batang ia masukkan ke dalam saku sweeternya, dan yang satu lagi ia pegang. Ia lalu membayarnya di kasir. Saat membayar, wajah remaja itu sempat mendongak ke atas. Ke arah kamera CCTV. Fahri terhenyak.
"Tolong diputar balik dan di pause saat dia mendongak ! Paman Hulusi kemari. lihat ini!"
Madam Barbara memutar balik dan mempause saat anak remaja itu mendongak ke arah kamera.
"Oh My God, itu Jason!" kata Paman Hulusi agak keras.
"Anak itu memang perlu diberi pelajaran,
Hoca!"
"Ya, dia harus diberi pelajaran, tapi dengan cara saya. Anak itu namanya Jason. Tetangga saya di Stoneyhill Groove. Anak itu, biarkan saya yang urus. Kalian semua pura-pura tidak tahu saja. Awasi dia baik-baik, tapi jangan ambil tindakan apapun kepada anak itu tanpa konsultasi dengan saya. Okay?"
"Okay," semua menjawab hampir bersamaan.
Fahri menutup rapat itu dengan doa kafaratul majlis. Fahri meninggalkan tempat itu setelah shalat Maghrib dan makan malam bersama.
"Kita pulang, Hoca?"
"Tidak, kita kembali ke tengah Kota Edinburgh. Saya mau tengok AFO Boutique kita. Bagaimana perkembangan penjualannya pekan ini."
"Baik, Hoca."
Paman Hulusi mengarahkan mobilnya menuju Portobello, lalu ke kiri memasuki jalan A1140 dan terus ke barat. AFO Boutique itu berada di Queen Street yang terletak beberapa blok di sebelah utara Princess Street Gardens.
Penanggung jawab harian AFO Boutique adalah seorang perempuan bule dari
Irlandia bernama Suzan Brent. Ketika dulu kuliah di Kairo, Fahri sama sekali tidak pernah
membayangkan akan memiliki minimarket, restoran dan butik mahal di daratan Inggris Raya.
Ia tidak pernah membayangkan akan menggaji karyawan-karyawannya yang berasal dari berbagai negara, di antaranya dari lnggris dan Irlandia. Ia tidak bisa mengingkari itu semua terjadi karena ia menikah dengan Aisha.
Nama AFO Boutique sendiri adalah singkatan dari Aisha Fahri & Ozan Boutique. Modal utama pendirian boutique itu berasal dari perusahaan yang diwarisi Aisha dari ibunya. Ozan yang menyelesaikan kuliahnya di London bidang ekonomi dan menikahi teman kuliahnya bernama Claire, tiga tahun lalu mendatangi Aisha di Freiburg dan menawarkan proposal pendirian butik di United Kingdom (UK).
Modal seratus persen dari Aisha, namun yang mengoperasikan adalah Ozan. Pembagian saham enam puluh empat puluh. Enam puluh persen untuk Aisha dan empat puluh persen untuk Ozan. Sebulan setelah melihat proposal dengan detail dan meninjau beberapa tempat yang direncanakan di UK, Aisha setuju.
Sejak itulah AFO Boutique berdiri. Awalnya hanya sebuah di London. Kini sudah punya cabang di Edinburgh, Manchester, Birmingham, dan Nottingham. Dan yang baru saja dibuka adalah cabang Glasgow. Ozan sendiri sudah menetapkan akan membuka cabang di Paris dan Milan dalam waktu tidak lama.
Dua orang gadis bule penjaga AFO Boutique itu langsung menyambut Fahri dengan ramah begitu Fahri datang. Suzan Brent yang duduk di kursi kasir, buru-buru menyambut. Fahri lalu minta laporan singkat.
Tanpa berbelit-belit, Suzan Brent menjelaskan secara detail dan gamblang bahwa pendapatan stagnan, namun itu cukup rasional.
"Kita masih terlalu banyak menjual produk musim dingin. Harusnya sudah banyak diganti dengan produk musim semi dan menyambut musim panas. Sebagian produk yang saya minta, kehabisan stok di pusat. Jadi belum bisa dikirim ke Edinburgh." Fahri mengangguk.
"Dibandingkan dengan cabang yang lain, bagaimana?"
'Kita masih on the track, Tuan."
"Okay, hari ini Tuan Ozan dan istrinya, ada di sini. Tolong kalau bisa kau koordinasi langsung dengan dia. Bicarakan langkah terobosan untuk meningkatkan omzet."
"Baik."
"Kalau kau besok bisa makan pagi dengan mereka, akan lebih bagus. Saya khawatir siangnya mereka sudah balik ke London."
"Baik, Tuan."
Fahri lalu meninggalkan AFO Boutique dan mengajak Paman Hulusi melepas kepenatan dengan berjalan-jalan di jalur The Royal Mile.
"Aku ingin dengar suara bigpipe, paman."
"Baik, Hoca."
Mobil itu melewati stasiun Waverley lalu melintasi Cockburn St. dan akhirnya sampai di jalur The Royal Mile. Fahri minta Paman Hulusi mencari parkir. Mereka berdua lalu berjalan kaki kearah timur. Jalur itu sepertinya tak pernah sepi. Ada saja orang yang berjalan-jalan di jalur utama para bangsawan Skotlandia.
Jalur yang menghubungkan Edinburgh Castle di sebelah barat dan Palace of Holyroodhouse
disebelah timur. Di sepanjang jalur ini, di kiri dan kanan, berdiri bangunan-bangunan penting dan bersejarah.
"La haula wa la quwwata illaabillah... La haula wa la quwwata illaabillah...''
Di depan John Knox House berdekatan dengan Scottish Storytelling Centre, tampak sebuah kerumunan.
Suara bigpipe terdengar nyaring. Rupanya orang-orang sedang mengerumuni seorang lelaki yang memakai pakaian sangat mirip William Wallace yang terkenal dalam film Brave Heart itu. Lengkap dengan kapak menyilang dipinggangnya. Lelaki itu meniup bigpipe dengan penuh penghayatan.
Fahri dan Paman Hulusi ikut membaur dalam kerumunan. Beberapa orang melempar koin ke dalam kotak yang diletakkan tepat di depan lelaki itu. Seorang anak muda berwajah Asia Tenggara maju melempar koin. Anak muda itu tampak menggendong ransel besar. Fahri terhenyak, ia seperti mengenal anak muda itu.
Selesai melempar koin, anak muda itu keluar dari kerumunan dan berjalan ke barat. Fahri penasaran. Ia mengejar anak muda itu diikuti Paman Hulusi. Ia sangat familiar dengan wajah itu. Tapi ia ragu apa betul itu adalah teman satu rumahnya di Hadayek Helwan, Kairo, dulu.
Fahri nekat ia akan panggil nama itu, kalau salah ia hanya tinggal minta maaf salah orang.
"Misbah!"
Anak muda itu memperlambat langkah, seperti ragu.
"Misbah! " panggil Fahri lebih keras.
Anak muda itu menghentikan langkah dan membalikkan badan.
Fahri mendekat. Anak muda itu kaget bukan kepalang.
"Mas Fahri?"
"Misbah! "
"Subhanallah, Mas Fahri. Berapa abad kita nggak ketemu. Tidak menyangka kita akan jumpa disini."
"Subhanallah. Saya juga tidak menyangka. Agak ragu tadi aku mau menyapamu. Antara yakin dan tidak yakin. Tapi aku nekat saja. Sedang apa kau disini, bawa ransel besar sekali."
"Sedang jalan-jalan sebelum pulang ke Indonesia."
"Pulang Indonesia? Jadi kau selama ini di mana?"
"Di Bangor, Wales, mas."
"Pulang, 'ala thul (terus selamanya)?" tanya Fahri dengan bahasa Indonesia campur bahasa amiyah Mesir. Persis saat masih di Kairo dulu.
"Selesai doktor apa master?"
"Ceritanya panjang, mas."
"Ayo cerita kalau begitu. Kamu nginap di mana?"
"Belum ada penginapan. Kebetulan sekali ketemu, Mas Fahri."
"Kau sama siapa jalan-jalan ke sini?"
"Sendirian, mas."
"Sendirian?"
"Iya. !!"
"Subhanallah."
"Bagaimana lagi, masak sudah di UK, cuma taunya London sama Bangor. Kalau harus pulang, ya paling tidak tahu juga Edinburgh dan kota yang lain. Maka aku nekat, mas. Backpackeran.Namanya juga mahasiswa."
"Wah, masih sama kayak di Mesir dulu. Haji atau umrah backpacker-an pakai kapal Wadi Nile pilih yang suthuh (dak paling atas) biar murah."
"Mas Fahri masih ingat saja. Mas Fahri sedang apa di sini? Mana Aisha, mas?"
"Ceritanya panjang. Kau sudah makan?"
"Belum."
"Ayo kita makan. Setelah itu kau nginap di rumahku saja."
"Mas Fahri punya rumah disini?"
"Ceritanya panjang."
"Ah, kok, jawabannya selalu ceritanya panjang terus."
"Lha, kamu yang mulai, he he he."
"Mas Fahri masih sama seperti dulu, nggak berubah."
"Ayo kita cari makan!"
Fahri mengajak Misbah shalat Isya‘ di Edinburgh Central Mosque, lalu makan di The Mosque Kitchen yang ada disamping Masjid. Fahri dan Paman Hulusi hanya memesan teh panas. Sementara, Misbah memesan nasi biryani, lengkap dengan daging domba yang disiram kuah kari, khas Pakistan. Tampaknya
Misbah benar-benar kelaparan. Nasi biryani yang menggunung itu ia babat sampai habis dalam waktu tidak lama. Setelah itu, ia teguk teh panasnya. Kening Misbah tampak berkeringat meskipun udara terasa dingin.
"Jadi ini tahun ketiga, mau masuk tahun ke empat kau kuliah di Bangor University?" tanya Fahri.
"Benar, mas. Dan terpaksa, saya kayaknya akan pulang tanpa membawa gelar Ph.D Ekonomi Islam dari UK. Mau bagaimana lagi? Saya ini diktiers, mas," jawab Misbah setelah ia menyeruput teh panasnya.
"Diktiers itu apa?"
"Orang-orang Indonesia yang bisa kuliah ke luar negeri atas biaya Dikti. Teman-teman menyebutnya Diktiers. Sudah terkenallah di kalangan mahasiswa Indonesia di luar negeri bahwa penerima beasiswa Dikti itu nasibnya untung tidak untung."
"Apa maksudnya untung tidak untung? Ungkapanmu itu agak lucu dan aneh." tanya Fahri sambil mengerutkan kening.
Fahri dan Misbah berbincang menggunakan bahasa Indonesia, sehingga Paman Hulusi hanya diam saja. Ia tidak bisa memahami apa yang dibicarakan dua sahabat lama yang baru
ketemu itu.
"Ya, untung dapat beasiswa Dikti, mas, sehingga bisa kuliah ke luar negeri. Banyak yang mendambakan kuliah ke luar negeri tidak bisa. Tidak untungnya. Kok ya dapatnya Dikti. yang saya rasakan sendiri boleh dibilang paling mengenaskan nasibnya dibandingkan para penerima beasiswa dari lembaga lain.
Dikti sering telat. Saya pernah didenda pihak kampus, gara-gara telat bayar uang SPP karena kiriman dari Dikti terlambat."
"Lha, ini saya tidak bisa selesai tiga tahun tepat. Beasiswanya hanya untuk tiga tahun. Tetapi, saya yakin, satu tahun lagi selesai. Sementara lembaga yang lain beasiswa doktor sampai empat tahun. Saya sudah usaha minta perpanjangan, tapi tidak mendapat respon dari Jakarta, mas. Saya sudah habis-habisan."
"Anak dan istri saya, sudah saya pulangkan setengah tahun yang Lalu. Saya sampai harus jual mobil dan tanah milik istri, demi membawa keluarga ikut ke Bangor. Saya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk membiayai sisa kuliah satu tahun ini. Ditambah supervisor saya yaitu Prof. Dr. Mustafa Adeib pindah
kampus. Pindah ke Heriot-Watt University."
"Pindah ke Edinburgh ini?"
"Iya benar. Profesor Adeib menawarkan saya ikut pindah. Jadi diselesaikan di Heriot-Watt. Profesor menggaransi urusan perpindahan itu tidak masalah.
Namun beliau tidak memberikan beasiswa, jadi beasiswa harus dicari sendiri. Itu yang saya angkat tangan. Dengan adanya proses pindah, mungkin tidak satu tahun akan selesai. Saya prediksi, satu tahun setengah. Jadinya total akan empat tahun setengah. Itu prediksi saya."
"Tambah lagi, Profesor Adeib mensyaratkan dua seminar internasional untuk meraih Ph.D. Saya sudah seminar di UI, dan sebenarnya saya sudah siap untuk presentasi pada sebuah seminar internasional yang di Berkeley. Artikel ilmiahnya sudah diterima oleh panitia seminar.
Tapi biaya tidak ada. Dan bayangan biaya kuliah satu setengah tahun benar-benar gelap. Saya realistis saja. Saya akan pulang. Seorang
teman dari Malaysia, yang jadi dosen di Kuala Lumpur memberi lampu hijau bisa lanjut di sana. Begitu ceritanya, mas."
"Kau dosen di mana, Bah?"
"Di IAIN Raden Intan Lampung, ngajar Ekonomi Islam."
"Kau nikah dengan orang mana?"
"Pujakesuma, mas."
"Apa itu?"
"Putri Jawa Kelahiran Sumatra. Saya menikahi mahasiswi saya sendiri. Berawal dari membimbing skripsi dia. Saya kok,merasa dag-dig-dug setiap kali dia datang konsultasi bimbingan. Saat itu, saya dosen baru, belum menikah. Saya merasa ada tanda-tanda jatuh cinta. Dari pada gawat, saya datangi rumahnya, saya lamar. Saya nikahi tepat satu hari setelah dia sidang munaqasah."
"Pasti dia kamu kasih nilai banyak."
"Ya, iya, pasti. Mahasiswi kesayangan. IP dia saat lulusan 3,91. Terbaik di angkatannya."
"Pinter kamu, Bah."
"Kalau itu sejak dulu, mas"
"Makanya kamu tidak boleh gagal !"
'Aku inginnya begitu, mas. Tapi aku bertemu jalan buntu yang gelap gulita. Térpaksa aku harus pindah arah."
"Selesaikan Ph.D-mu, Bah. Eman-eman, tinggal satu langkah. Akan lebih baik kalau kau bawa Ph.D dari UK. Heriot-Watt University, reputasinya cukup bagus, kok."
"Tapi, dari mana aku dapat..."
"Aku yang tanggung beasiswa kamu. Aku tanggung SPP kamu dan biaya hidup kamu sampai kamu menyelesaikan Ph.D-mu."
"Bener, mas?"
"Insya Allah."
"Sebagai utang ?"
"Bukan. Infak dari seorang sahabat untuk sahabatnya yang sedang berjuang fi sabilillah. Besok, kau temui supervisormu di Heriot-Watt University. Bilang padanya, kau ikut pindah dan minta petunjuk lebih lanjut bagaimana mengurus administrasinya. Paman Hulusi akan antar kamu ke Heriot-Watt University."
"Subhanallah. Matur nuwun, Mas Fahri . Jazakallah khaira. Ya Allah... Allah Maha Pengasih.. Alhamdulillah. Semoga Allah memudahkan segala urusan Mas Fahri," kata Misbah sambil berkaca-kaca.
la meraih tangan Fahri hendak dicium tapi ditarik oleh Fahri.Fahri melihat jamnya.
"Sudah agak malam. Mari pulang. Besok usai shalat Shubuh kita bisa lanjut cerita dan nostalgia sambil minum teh panas."
"Iya, mas. Sekali lagi ma..matur nuwun, mas ..aku tidak menyangka Allah mempertemukan kita. lni sungguh perjumpaan tak terduga, sekaligus jalan keluar tak terduga atas masalah saya. Allah Maha Besar." Misbah masih terisak haru.
"Sudah, jangan cengeng begitu, Bah. Ayo jalan."
Fahri bangkit diikuti Paman Hulusi. Misbah bangkit dari duduknya dan meraih syalnya dan melilitkan ke lehernya, lalu berjalan mengejar Fahri dan Paman Hulusi yang bergerak menuju tempat parkir mobil.
Dua puluh lima menit setelah itu, mereka bertiga telah sampai di kawasan Stoneyhill Grove. Paman Hulusi langsung membawa mobil ke bagasi. Mereka bertiga turun. Fahri mengambil tas kerjanya. Sementara Misbah mengambil tas ransel besarnya yang di letakkan di bagasi mobil. Misbah langsung
mengitarkan pandangan ke kawasan itu dan mengamati dengan saksama rumah Fahri.
"Ini sudah rumah sendiri,mas? Tidak kontrak?"
"Alhamdulillah"
"Subhanallah."
"Aisha ada di rumah, mas?" Fahri menjawab dengan meletakkan jari telunjuknya didepan mulut sambil tersenyum.
Misbah langsung diam. Mereka bertiga berjalan menuju beranda rumah. Paman Hulusi paling depan. Tepat di pintu, Paman Hulusi menemukan kertas HVS tertempel tepat di tengah daun pintu.
"Astaghfirullahl" kata Paman Hulusi setengah berteriak.
"Ada apa, paman?"
"Lihat ini, Hoca. Baca tulisannya!"
Di kertas HVS itu ada tulisan pakai spidol merah tebal yang bunyinya:
MUSLIM = MONSTER!
Fahri dan Misbah membaca istighfar.
Tulisan itu hendak dirobek oleh Paman Hulusi, namun dicegah Fahri.
"Jangan dirobek, paman. Biarkan utuh. Bawa kemari!"
Paman Hulusi mencopot kertas itu dan menyerahkannya kepada Fahri.
"Biar saya simpan. Tulisan ini akan saya jadikan cambuk untuk diri saya. agar saya menjadi Muslim sejati, bukan monster!"
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar