21
AIR MATA SABINA
Acara pertunjukan amal di Royal Mile itu sukses besar. Fahri sendiri tidak menyangka ia bisa menggesek biola cukup baik sore itu. Jika menggesek biola adalah berdosa, semoga Allah mengampuni. Namun Fahri ikut pendapat Ibnu Hazm Al Andalusi yang membolehkan memainkan musik selama tidak untuk
maksiat dan tidak berefek maksiat.
Nada Viva La Vida dan Addiinu Lana bisa ia persembahkan di jantung kota budaya dan festival elit dunia itu dengan baik. Dan beruntunglah bahwa Keira, Madam Varenka, perempuan berjilbab yang ternyata adalah Hulya memainkan biola dengan sangat cantik dan bercita rasa tinggi.
Tak ayal donasi untuk anak-anak Palestina mengalir deras. Kotak-kotak amal yang disiapkan itu sebagian besar penuh. Terutama yang bertuliskan "islam", "Christian" dan "Catholic". Beberapa hari sebelum pertunjukan amal itu, Fahri telah berkoordinasi dengan masjid dan tokoh-tokoh muslim yang ada di Edinburgh, juga beberapa lembaga kemanusiaan yang bergerak untuk anak-anak.
Tuan Taher dan keluarganya ternyata datang menyaksikan aksi pertunjukan penggalangan dana itu. Ju Se juga datang. Orang-orang yang biasa shalat jama'ah di Edinburgh Central Mosque banyak yang datang. Ditambah ratusan bahkan mungkin ribuan turis yang menyaksikan pertunjukan itu, maka acara
itu benar-benar sukses besar.
Dengan kotak-kotak bertuliskan nama-nama agama, ternyata cukup memantik kecemburuan para pemeluknya. Perlombaan kebaikan tercipta. Ketika kotak bertuliskan agama tertentu tampak penuh, pemeluk agama lain tidak mau kalah, ia tidak mau kotaknya tampak merana. Lembar demi lembar, koin demi koin poundsterling mengalir ke kotak-kotak itu.
Ide penulisan nama agama itu memang Fahri yang mencetuskan. Ia teringat kreatifitas seorang pengamen di kota Brussel. Pengamen itu duduk tak jauh dari Manneken Pis, dengan bermodal harmonika kecil dan kaleng-kaleng bertuliskan nama-nama agama, ia memainkan harmonikanya.
Setiap turis yang lewat melempar koin sesuai nama agamanya. Seolah pengamen itu menantang, ayo pemeluk agama mana yang paling dermawan? Dan yang terjadi, strategi pengamen itu sangat jitu. Kaleng-kalengnya penuh koin dan lembaran uang euro.
Paman Hulusi mengemasi panggung. Misbah dam Brother Musa mengamankan kotak-kotak berisi uang.
Mereka berdua diamanahi Fahri untuk menghitung hasil pertunjukan amal itu dan menyalurkannya lewat lembaga kemanusiaan resmi yang telah digandeng. Sementara Fahri mengajak Hulya, Keira, Madam Varenka, Nyonya Suzan, Ju Se dan keluarga Tuan Taher untuk berbincang-bincang di Bay of Bengal Indian Restaurant.
"Saya yang traktir." Kata Fahri.
Mereka memasuki restaurant muslim India itu. Kepada pegawai restaurant Fahri minta tempat duduk untuk delapan orang.
Pegawai restaurant itu dibantu kasir restaurant langsung menyiapkan tempat, tiga meja digabung. Dalam waktu singkat tempat untuk delapan orang pun siap, Fahri mempersilakan
tamu-tamunya untuk duduk. Satu persatu memesan makanan dan minuman.
"Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih Madam Varenka, Nona Keira dan juga Hulya. Pertunjukan yang luar biasa." Kata Fahri.
"Terima kasih, tapi Anda terlalu memuji." Jawab Madam Varenka.
"Tadi itu sungguh pertunjukan yang luar biasa. Jujur. Saya sangat menikmati." Sahut Ju Se.
"Saya terpikir, jika mau, bisa dibuat acara lebih serius. Pertunjukan di gedung konser. Saya tadi seperti menyaksikan tiga malaikat memainkan biola. Sangat layak dijadikan pertunjukan serius di gedung yang prestisius." Sambung Heba, putri Tuan Taher.
"Madam Varenka dan Keira luar biasa. Kalau boleh tahu belajar dimana?" Tanya Hulya.
"Jangan tanya kepada Madam Varenka belajar di mana, tapi lebih tepat mengajar di mana. Madam Varenka ini pernah mengajar di Juilliard School." Pelan Keira dengan nada dingin.
"Juilliard School sekolah musik yang terkenal di Amerika itu?"
"Benar."
"Pantas. Kalau Anda, apa di Juilliard School juga?"
"Saya belajar pada Madam Varenka."
"Keira ini lulusan terbaik St.Mary's Music School, salah satu sekolah musik tertua di Edinburgh ini. Saya hanya membantu dia menemukan sentuhan terbaiknya." Madam Varenka menjelaskan.
Heba, Ju Se dan Tuan Taher tampak mengangguk-angguk.
"Ternyata kalian para pemain biola berkelas bukan pengamen jalanan. Pantas bisa menyihir ribuan orang. Kalau Anda sendiri belajar dimana? Maaf nama Anda tadi siapa?" Heba menatap Hulya. Dua perempuan berjilbab itu saling tatap.
"Saya Hulya."
"Iya Hulya belajar biola darimana?"
"Saya belajar di Ankara. Dulu awalnya belajar dari sepupu saya Aisha, istri Tuan Fahri ini. Saat itu saya berlibur di rumah Aisha di Jerman ketika itu Aisha belum menikah. Ternyata katanya saya berbakat. Pulang dari sana terus saya kursus private di Ankara."
"Iya saya lihat Anda sangat berbakat, tidak kalah dengan Keira." Puji Madam Varenka.
Mendengar kata-kata itu Keira tampak menunjukkan muka tidak senang.
"Ada apa denganmu Keira?" Tanya Nyonya Suzan.
"Ah, tidak apa-apa. Saya hanya merasa perut saya kurang nyaman. Maaf." Keira bangkit dari kursinya dan bergegas ke petugas kasir menanyakan apakah ada toilet. Dengan ramah petugas mengantar Keira ke toilet.
"Bagaimana dengan usul saya? Kita buat pertunjukan yang lebih serius di tempat yang prestisius? Dengan tujuan yang tetap sama yaitu untuk amal kemanusiaan. Untuk anak-anak Palestina, atau anak-anak yang lain yang menderita di dunia ini?" Kata Heba sambil melihat Fahri.
"Jujur kalau saya kelasnya beraninya ya di jalanan. Saya tidak mungkin berani tampil di gedung pertunjukan serius. Lebih tepat yang jawab Madam Varenka dan Keira. Juga Hulya kalau masih akan lama di sini. Mereka bertiga yang layak tampil di pertunjukan bergengsi itu." Jawab Fahri.
"Saya setuju sekali. Syaratnya iklannya harus serius dan maksimal." Sahut Nyonya Suzan.
"Pasti, kita garap secara profesional. Madam Varenka bagaimana?" Tukas Heba.
"Setuju. Tapi sebaiknya jangan dalam waktu dekat. Keira sedang saya siapkan ikut sebuah perlombaan internasional. Sebaiknya setelah perlombaan itu?"
"Setuju. Untuk Keira biar saya yang tangani. Dia urusan saya." Tegas Nyonya Suzan.
"Hulya, bagaimana?" Tanya heba.
"Kalau Tuan Fahri menginginkan saya ikut tampil. Maka saya akan tampil."
"Kenapa tergantung pada saya?"
"Karena saya pasti akan meminjam biola itu lagi. Dan saya tahu itu adalah biola Aisha. Kalau saya tidak diijinkan meminjam biola itu saya lebih baik tidak tampil." Gumam Hulya sambil memandang Fahri sambil tersenyum.
Fahri melihat senyum itu sekilas lalu menunduk. Dada Fahri sedikit bergetar, ia
merasa Aisha ada dalam diri Hulya.
"Aisha akan bahagia jika mengetahui biolanya digunakan untuk amal menyumbang anak-anak Palestina." Lirih Fahri.
Di luar restaurant, Sabina berdiri terpaku memandangi turis yang berlalu lalang. Perempuan berwajah buruk itu ingin sekali bergabung ke dalam restaurant tetapi ia tidak berani untuk melangkahkan kakinya. Ia hanya berdiri sambil mulutnya mengucapkan dzikir, beristighfar sebanyak-banyaknya. Ia berharap dengan istighfar segala beban hidup dan beban sejarah menjadi ringan dan ia bisa
menemukan jalan keluar atas kerumitan hidup yang dideranya.
Awan di langit Edinburgh mulai memerah. Matahari menuju detik-detik tenggelam. Lampu-lampu kota mulai menyala. Turis-turis masih asyik bercengkerama di sepanjang jalur Royal Mile. Ada yang tertawa sambil berjalan. Ada yang sedang menawar souvenir. Ada yang sedang asyik berfoto-foto. Ada yang sedang nongkrong di cafe. Bahkan ada yang nekat berciuman disamping Katedral St. Giles.
Sabina melangkahkan kaki dan sedikit melongok ke arah dalam restaurant Bay of Bengal. Fahri, Heba, Keira, Hulya dan lainnya tampak masih berbincang sambil menikmati hidangan. Sabina menunduk. Air matanya menetes di lantai baru teras restaurant itu. Ia sendiri tidak tahu kenapa air matanya menetes begitu saja. Padahal selama ini ia adalah perempuan yang tidak mudah mengeluh dan menangis dalam luka dan penderitaan yang dirasakannya.
Malam itu, selesai makan di Bay of Bengal, Nyonya Suzan Brent mengajak Keira ke AFO Boutique yang terletak di Queen Street. Di ruang kantor AFO Boutique dengan muka merah padam, perempuan berasal dari Irlandia Utara itu mengungkapkan kekecewaannya kepada Keira. Dengan tanpa basa-basi,
penanggung jawab harian AFO Boutique itu menegur sikap Keira yang kurang bersahabat selama makan bersama di restaurant India itu.
"Saya tidak suka dengan sikap kamu itu Keira? Kenapa kamu tidak bisa senyum dan ramah? Ada apa denganmu?" Cecar Nyonya Suzan pada Keira.
"Lihat, Tuan Fahri begitu ramah, Heba juga ramah, Hulya begitu bersahabat, Madam Varenka juga ramah dan begitu tampak bergembira karena pertunjukan itu sukses besar. Hanya kamu yang aneh sendiri. Kamu seperti tidak mau bersahabat dengan orang lain. Ada apa denganmu?" Keira menunduk diam.
"Kenapa diam saja? Ada apa denganmu Keira? Apa perlu aku minta kepada pihak sponsor agar menghentikan beasiswanya kepadamu? Saya diberi wewenang untuk melanjutkan atau menghentikan program ini. Pihak sponsor ingin kau bisa beretika yang baik. Sebab jika dengan program pembiayaan ini kau bisa memenangkan kejuaraan dunia, kau akan jadi tokoh publik. Dan pihak sponsor ingin kau
jadi tokoh publik yang baik. Tokoh publik yang menginspirasi kebaikan!"
Keira menangis. Melihat Keira menangis Nyonya Suzan tidak pudar sedikitpun rasa kesal dan kecewanya.
"Aku ingin kau menjawab dengan penjelasan yang logis. Bukan dengan tangis, Keira!"
"Nyonya Suzan, kalaulah seandainya kau merasakan apa yang aku rasakan. Kau akan mengerti kenapa aku bersikap seperti itu."
"Jadi itu masih terkait sama Bom London yang merenggut nyawa ayahmu?"
"lya. Aku tidak bisa melupakannya. Rasa sakit dan kebencian itu tak bisa aku enyahkan. Mereka muslim ektrimis itu merenggut ayahku dengan kejam. Entah kenapa aku seperti tidak bisa memaafkannya?"
"Terus kau anggap semua muslim seperti itu? Begitu?"
"Entahlah, tetapi aku selalu merasa tidak nyaman ada didekat mereka."
"Jadi kau menganggap Nona Heba dan ayahnya, Nona Hulya, juga Tuan Fahri itu sebagai tertuduh yang membunuh ayahmu. Kau anggap mereka para pembunuh? Juga muslim-muslim lainnya, begitu?" Tangis Keira meledak.
Nyonya Suzan diam dengan wajah merah padam dan kecewa.
"Dengar Keira, cara berpikirmu itu sangat berbahaya! Kalau kau terus berpikiran stereotip dan negatif pada orang lain seperti itu kau tidak layak jadi publik figur. Kau nanti bisa jadi pengobar kebencian.
Mohon maaf, terpaksa program ini akan saya hentikan. Kau aku batalkan ikut kompetisi internasional di Italia itu!"
Keira tersentak kaget. Gadis itu menggeleng,
"Tolong jangan, demi Yesus jangan lakukan itu Nyonya Suzan. Saya mengaku salah, tapi jangan kau putus harapan saya di tengah jalan. Saya janji akan ikuti semua saranmu. Tolong, Nyonya."
"Dengar Keira sekali lagi dengar, cara berpikirmu itu sangat tidak fair! Kalau karena ulah segelintir orang lalu orang lain harus memikul dosanya sangat berbahaya! Kalau karena ulah Hitler terus dunia menuduh semua kaum kristiani sekejam Hitler maka itu sangat tidak fair! Itu berbahaya!"
"Iya Nyonya, maafkan saya!"
"Saya ingin melihat sikap positifmu. Dalam tiga hari ini kalau tidak ada sikap positif itu maka terpaksa program membiayai kamu saya batalkan. Sekali lagi saya punya wewenang penuh di sini."
"Sikap positif apa yang harus saya tunjukkan?"
"Kau sudah dewasa. Berpikirlah! Silakan kau tinggalkan ruangan ini. Jujur saya sangat tidak nyaman berinteraksi dengan seorang pembenci seperti kamu!"
"Nyonya ..."
"Sudahlah pergilah, kau ada kesempatan tiga hari!"
Keira bangkit dari kursinya, meraih biolanya dan pergi meninggalkan ruangan itu dengan kepala tertunduk. Sebelum meninggalkan pintu gadis itu sempat menengok wajah Nyonya Suzan yang masih tampak kecewa.
Keira keluar dari butik dan berjalan kaki ke arah barat menyusuri Queen Street. Ia lalu belok kiri ke arah Princes Street. Sambil melangkahkan kaki sesekali Keira menyeka air matanya.
Dadanya terasa sesak setiap kali mengingat kematian ayahnya yang tragis. Kenapa ada orang sedemikian jahat. Berita-berita di media yang ia baca tentang ektremis muslim berkelebatan dikepalanya. Ia ingin berteriak
bahwa ia berhak untuk membenci. Apa salahnya membenci ektremis yang kejam? Kalau mereka tampak manis dan tampak bersahabat itu hanya sandiwara saja. Mereka semua sama. Tetapi ia teringat kata-kata Nyonya Suzan, "Dengar Keira, cara berpikirmu itu sangat berbahaya...!"
Keira sampai di halte bus depan Mercure Hotel, Princess Street, yang terletak tak jauh dari Scott Monument. Sebuah bus merah siap berjalan, tapi itu bukan menuju tempat yang ia tuju. Keira melihat jadwal. Bus ke Musselburgh sudah lewat lima belas menit yang lalu dan itu bus terakhir. Berarti ia harus pulang pakai taksi.
Keira berjalan menuju Scott Monument. Gadis itu masuk ke Princess Garden dan duduk dikursi panjang kosong tak jauh dari Scott Monument. Sambil duduk ia berpikir tentang apa yang selama ini telah ia lakukan kepada tetangganya yang muslim. Satu sisi dari pikirannya didukung kelebatan berita-berita di
media seperti bersorak memberikan selamat atas apa yang ia lakukan. Namun kata-kata Nyonya Suzan seperti menyadarkan sisi nuraninya yang lain.
Apa salah tetangganya bernama Fahri itu sampai ia benci sedemikian rupa. Padahal Fahri baru datang beberapa tahun setelah ayahnya meninggal? Fahri tampak terdidik dan ramah. Ia dosen di The University of Edinburgh. Dan selama ini selalu berusaha bersikap akrab dengan semua tetangga. Bahkan bisa sangat akrab dengan nenek Catarina dan Brenda.
Kenapa ia curiga padanya dan melekatkan label ekstrimis dan teroris pada kening tetangganya itu sehingga harus terus ia benci?
Tak terelakkkan bahwa tadi selama pertunjukan fahri memperhatikan penampilan tiga pemain biola itu. Keira, Hulya dam Madam Varenka. Dan tak terelakkan ia terhipnotis oleh penampilan Hulya. Karena satu hal, gestur dan gerak-geriknya yang mirip Aisha.
Ah, bagaimana itu bisa terjadi? Kenapa ada dua orang yang bisa agak mirip seperti itu?Subhanallah.
Fahri jadi teringat cerita Aisha di malam-malam bulan madu yang indah di tepi sungai Nil dulu. Ketika itu Aisha bercerita tentang kehidupan ibu dan ayahnya. Aisha bercerita bagaimana ibunya yang lulusan terbaik Fakultas Kedokteran Universitas Istanbul mengambil beasiswa kuliah di Jerman. Dan di Jerman,sang ibu menerima lamaran konglomerat Jerman yang baru masuk Islam.
Sang ibu menerima lamaran itu meskipun sang konglomerat itu sudah tua. Sang ibu menerima karena alasan ibadah dan dakwah.
Konglomerat itu adalah orang yang nantinya jadi ayah kandung Aisha yaitu Rudolf Greimas Omar.
Ibunda Aisha memiliki adik bungsu yang masih kecil bernama Sarah yang selisih umurnya dengan Aisha tidak begitu jauh. Aisha memanggilnya Bibi Sarah. Aisha cerita bahwa ketika sang ibunda wafat karena kecelakaan, Tuan Greimas, ayah Aisha, sangat terpukul. Beberapa waktu lamanya sang ayah tidak
memiliki gairah hidup. Dan gairah hidup itu lahir kembali ketika sang ayah melihat Sarah yang saat itu sedang mekar-mekarnya menjadi seorang gadis. Sang ayah melihat bahwa Sarah sangat mirip dengan ibunda Aisha yang telah wafat. Sarah adalah ibunda Aisha yang menjelma lagi didunia.
Sang ayah melamar Sarah untuk diperistri tapi ditolak. Itu jadi awal petaka kehidupan ayah Aisha selanjutnya.
Fahri meraba-raba dirinya. Apakah ia sedang mengalami seperti yang dialami Tuan Greimas, ayah Aisha? Fahri berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia sama sekali tidak boleh memiliki rasa tertarik kepada siapapun selain Aisha. Ia harus setia kepada Aisha.
Fahri berusaha meyakinkan dirinya bahwa Hulya bukan Aisha. Ia bahkan seperti menghardik dirinya,
"Jangan kurang ajar kamu, itu bukan Aisha! Hulya bukan Aisha !"
Fahri mengambi air wudhu, lalu tersungkur dalam rukuk dan sujud menangis kepada Allah. Selesai shalat ia berharap dapat istirahat dan tidur nyenyak, namun tiba-tiba sayup-sayup ia mendengar suara biola digesek. Sebuah nada sedih yang menyayat. Suara itu datang dari arah rumah Keira.
Suara nada biola itu kembali mengingatkan gesekan biola Aisha, sekaligus mengingatkan gesekan biola Hulya.
Laa haula wala quwwata illabillah!
Fahri bangkit dari duduknya diatas sajadah, ia ingin hanya mengingat Aisha. Namun Hulya juga datang.
Fahri turun ke ruang tamu. Ia teringat biola itu ada diruang tamu. Mungkin dengan sedikit memainkan nada yang dimainkan Aisha, nada Viva La Vida, ia bisa menepis bayangan Hulya dan hanya menghadirkan Aisha.
Fahri menyalakan lampu ruang tamu. Kamar Paman Hulusi dan kamar Misbah tampak tertutup. Kedunya mungkin sedang terlelap dalam tidurnya. Malam di awal musim panas semakin pendek. Fahri melihat biola yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Fahri membuka wadahnya dan mengeluarkan biola itu. Pelan-pelan ia menggesek biola itu. Ia membayangkan bagaimana dulu Aisha mengajarinya menggesek biola itu. Fahri menjaga agar suara biolanya itu tidak terlalu keras. Fahri memasuki nada Viva La Vida.
Fahri hanyut dalam nada-nada biola yang digeseknya. Air mata Fahri meleleh, ia meratapi dirinya sendiri. Semestinya di keheningan malam itu ia tidak memainkan biola, semestinya ia istirahat atau larut dalam dzikir kepada Allah.
Tapi itulah kenyataan yang dihadapinya. Bayangan Hulya seperti memburunya. Dan ia telah berjuang semampunya untuk mengenyahkan bayangan itu.
Fahri memejamkan kedua matanya. Ia hanyut dalam nada-nada biola yang digeseknya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang telah berdiri tak jauh di tempatnya berdiri. Ketika Fahri selesai memainkan biolanya orang itu mendekat.
"Dia sungguh mirip Aisha Hanem ya Hoca?"
Fahri kaget. Ia melihat ke asal suara.
"Paman Hulusi. Maaf kalau saya mengganggu tidur Paman."
"Tidak apa-apa Hoca. Saya bisa mengerti kalau Hoca tidak bisa tidur. Itu pasti karena dia. Iya kan?"
"Dia siapa?"
"Gadis berjilbab yang memainkan biola Aisha Hanem. Hulya. Saya melihatnya sangat mirip Aisha Hanem, meskipun tidak persis. Tinggi-tingginya. Ramping-rampingnya. Cara jalannya. Binar wajahnya. Mirip Aisha Hanem. Iya kan Hoca."
Fahri mendesah. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa jawaban atas pertanyaan Paman Hulusi itu adalah "iya". Namun mulutnya seperti terkunci untuk menjawabnya.
Rasa malunya yang membuat mulutnya seperti terkunci. Fahri hanya mendesah.
"Apakah nona Hulya akan lama di sini, Hoca? Sama siapa dia ke sini? Untuk apa dia ada di Edinburgh ini?"
"Dia kesini sendiri. Dia sudah ke London menjumpai Ozan, kakaknya. Ozan tidak bisa menemani ke Edinburgh karena dia ada banyak urusan penting. Di restaurant tadi, Hulya cerita dia akan ambil master di The University of Edinburgh."
"Berarti akan lama di sini. Semoga keberadaannya tidak mengganggu ketenangan Hoca yang saya lihat sudah mulai bisa melupakan Aisha Hanem."
"Saya tidak pernah melupakan Aisha, Paman." Desah Fahri.
"Oh maaf, saya salah bicara. Maksud saya, Hoca sudah mulai tenang menata hidup di sini."
"Apakah Hulya sudah punya tempat tinggal tetap Hoca?"
"ltulah Paman. Dia sempat minta tolong dicarikan tempat. Malah sempat bilang kalau boleh ikut tinggal disini, jika memungkinkan juga tidak mengapa katanya."
"Kalau mau dia bisa satu kamar dengan Sabina dibawah. Atau dibuatkan kamar dibawah di samping kamar Sabina."
"Jangan Paman!"
"Kenapa?"
"Jangan, saya khawatir nanti timbul fitnah. Itu yang pertama. Yang kedua, jika dia tinggal dibawah itu terlalu sederhana buat dia. Biar nanti kita bantu mencarikan tempat tinggal yang pas buat dia. Heba mungkin bisa membantu."
Paman Hulusi mengangguk-angguk.
"Sekarang dia tinggal di mana Hoca?"
"Dalam satu pekan ini dia menginap di hotel."
"Saya tiba-tiba terbersit sebuah pemikiran Hoca."
"Apa itu Paman?"
"Tapi sebelumnya Hoca jangan marah ya kalau pemikiran saya tidak berkenan."
"Saya tidak akan marah Paman. Itu kan cuma pemikiran."
"Saya terbersit begini. Itu Hulya kan mirip dengan Aisha Hanem. Bagaimana kalau Hoca lamar saja pada Tuan Ali Akbar? Saya yakin lamaran Hoca tidak akan ditolak."
Fahri tersentak dan berusaha menguasai dirinya agar kekagetannya tidak diketahui Paman Hulusi.
"Pikiranmu ngawur itu Paman. Saya tidak akan menggantikan Aisha dengan siapapun. Sudah jangan berpikir yang macam-macam."
"Maafkan saya, Hoca."
"Masih ada waktu untuk tahajud sebelum shubuh datang. Tolong biolanya dikemasi. Saya naik dulu."
Fahri berdiri dan bergegas naik ke kamarnya. Paman Hulusi memasukkan biola dan busur penggeseknya ke dalam wadahnya lalu meletakkan diatas bufet yang ada di ruang tamu. Setelah itu Paman Hulusi
mengambil air wudhu dan kembali ke kamarnya.
Sementara itu di anak tangga dekat dapur, dalam kegelapan, Sabina mendengar pembicaraan Fahri dan Paman Hulusi dengan air mata meleleh. Tak ada yang tahu perempuan itu menangis dalam kegelapan.
Dan tak ada yang tahu kenapa ia menangis. Hanya Tuhan dan dirinya yang tahu kenapa air matanya berderai dalam isak yang tertahan.
*****
Pagi itu usai shalat shubuh, Fahri berlari-lari kecil mengelilingi komplek Stoneyhill. Ia ingin menghirup udara seger sambil olah raga menjaga kesehatan diri. Jalanan masih sepi.
Pada pagi hari musim panas seperti ini penduduk Edinburgh dan sekitarnya masih banyak yang terlelap dalam mimpi. Bis kota sudah mulai beroperasi, namun tampak kosong. Sepanjang jalan Fahri hanya berpapasan dengan segelintir orang.
Di jalanan mendekati Stoneyhill Grove Fahri berjumpa dengan Jason yang juga sedang olah raga. Jason lari dari arah yang berbeda dengan Fahri. Penampilan Jason kini tampak lebih teratur dan rapi dibandingkan dahulu. Dengan sangat ramah Jason menyapa Fahri dan berlari mensejajari Fahri.
"Bagaimana perkembangan sekolah bolamu, Jason?" Tanya Fahri sambil memperlambat larinya lalu berjalan biasa. Jason mengikuti langkah Fahri.
"Saya sangat menikmati. Disekolah itu saya seperti menemukan siapa diri saya sesungguhnya. Saya sangat berterimakasih atas segala bantuanmu."
"Saya senang mendengarnya. Kau harus serius dan berprestasi. Saya ingin melihatmu tampil di Liga Premier."
"Saya janji kau akan melihatnya. Pekan depan akan ada pemilihan siapa-siapa yang akan masuk di Hibernian FC junior. Saya harus masuk."
"Bagus."
"Saya akan buktikan saya adalah pemain di atas rata-rata. Saya yakin nanti tim pencari bakat dari klub-klub besar Liga Premier akan menemukan saya."
"Saya senang mendengar kamu optimis."
Mereka berdua kemudian lari lagi pelan-pelan. Ketika sampai di belokan menuju Stoneyhill Grove, Fahri bersiap belok kanan. Sementara Jason pamit untuk melanjutkan olah raganya.
"Saya harus lari selama seratus menit. Ini baru tiga puluh menit. Saya harus berlatih keras melebihi teman-teman saya." Kata Jason sambil berlari meninggalkan Fahri.
Jason sedikit mempercepat larinya. Fahri tersenyum melihat semangat Jason, adik Keira, yang sekolah bolanya ia biayai seratus persen.
Jason sesungguhnya sangat tahu bahwa Keira saat ini juga dibiayai oleh Fahri, tapi Jason telah berjanji tidak akan membocorkan hal itu kepada Keira maupun ibunya. Kehidupan mereka bertetangga berjalan alamiah seperti biasanya.
Fahri berlari kecil melewati rumah nenek Catarina yang masih tertutup. Sampai di halaman rumahnya Fahri menghentikan larinya dan berjalan biasa. Ia mendengar suara Paman Hulusi yang keras seperti sedang memarahi seseorang. Fahri penasaran, ada apa dengan Paman Hulusi.
"Dasar perempuan tidak tahu diri! Tidak tahu etika! Perempuan jalanan murahan! Sudah ditolong diberi tempat malah kurang ajar!"
Teriak Paman Hulusi dengan muka merah padam sambil memegang biola.
"Se...seka..li lagi maafkan sa..saya!" Sabina menunduk pasrah.
"Jangan berani-berani lagi menyentuh barang-barang dirumah ini tanpa ijin, ngerti?! Kecuali yang telah diijinkan kau sentuh! Kalau bukan karena baiknya Hoca Fahri, kau sudah aku lempar lagi ke jalanan ! Kau ingat, kau ditemukan Hoca Fahri tergeletak di jalanan sekarat seperti anjing penyakitan. Kau
diobatkan sampai sembuh. Tidak hanya itu Hoca Fahri membawamu ke sini dan sedang menguruskan statusmu agar legal di negara ini. Sudah ditolong seperti itu masih tidak tahu diri! Dasar pengemis jalanan tidak tahu diri!"
Tubuh Sabina bergetar. Perempuan bermuka buruk itu terisak-isak.
"Oh kau bisa menangis juga?! Ayo menangis yang keras! Apa dengan menangis wajahmu akan berubah jadi cantik menawan sehingga aku akan berbelas kasih hah?!"
Sabina menutupi mukanya dan hendak melangkah pergi.
"Diam! Jangan pergi dulu, belum selesai aku marah padamu!" Sabina menghentikan langkahnya.
Fahri membuka pintu tamu. Dan kaget melihat Sabina menangis terisak sambil menutupi mukanya. Sebagian kata-kata Paman Hulusi telah ia dengar.
"Ada apa Paman? Kenapa kau sedemikian marah pada Sabina?"
"Bagaimana tidak marah Hoca? Perempuan jelek ini, dengan tanpa ijin dia membuka tas biola dan memainkan biola kesayangan Aisha Hanem ini. Kurang ajar betul dia. Tidak tahu etika! Lancang!"
"Benar itu Sabina?" Pelan Fahri pada Sabina.
Sabina mengangguk.
"Maafkan kelancangan saya."
Fahri mendesah. "Ya sudah. Jangan diulangi lagi. Ini barang kesayangan istri saya. Tidak boleh sembarangan dipakai orang. Sudah pergi sana, jangan menangis."
Sabina melangkah pergi dengan terisak. Air matanya deras mengalir di pipinya. Fahri melihat langkah Sabina sekilas. Ia paling tidak bisa melihat perempuan menangis.
Meskipun ia tidak suka Sabina lancang memainkan biola kesayangan Aisha tanpa ijin, namun melihat perempuan berwajah buruk itu terisak menangis rasa ibanya terbit juga.
Sampai di kamarnya Sabina menangis terisak-isak. Perempuan berwajah buruk itu menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal di kasurnya. Ia merasakan keperihan tiada tara.
Dan hanya dia yang tahu kenapa ia begitu perih dan merana. Kepada Tuhan ia mengadu agar gelap malam yang panjang dalam batinnya segera terkuat oleh fajar penentram jiwa.
Tasbih Nabi Yunus as. ia batin dalam dada bersamaan dengan isak tangisnya yang mengalir begitu saja.
Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minadhdhaliimiin.
******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar