Minggu, 14 Februari 2021

AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 4

04


Desakan Menikah Lagi


Diiringi Paman Hulusi, Fahri memasuki The Kitchin. Satu dari tiga restoran prestisius di Edinburgh yang meraih tiga bintang Michelin. Siang itu, restoran mewah itu tampak penuh. 

Fahri mengitarkan pandangannya. Di meja agak pojok dekat dengan jendela, seorang gadis berjilbab melambaikan atangannya. Itu adalah gadis Arab yang mengajaknya. Rupanya mereka telah sampai duluan. Fahri mendekat. Gadis itu ditemani oleh dua orang gadis lainnya.

"Bagaimana kalian bisa sampai duluan?" tanya Fahri.

"Saya bawa mobil pribadi dan mengambil jalan pintas. Silakan duduk!" gadis Arab itu tersenyum. 

Fahri dan Hulusi lalu duduk pada dua kursi yang tersisa.

"Sebelumnya, perkenalkan. Saya Heba. Ini Juu Suh. Dan ini Ashley. Kami tinggal satu flat didaerah Arden Street, beberapa menit jalan kaki di sebelah selatan kampus The University of Edinburgh. 

Kami semua senang berkesempatan berjumpa dan berbincang dengan Anda disini," lanjut gadis berparas Arab.

"Saya juga senang bisa memehuhi undangan. Saya Fahri. Lengkapnya Fahri Abdullah. Berasal dari Indonesia. Ini teman karib saya, paman Hulusi berkebangsaan Jerman tetapi aslinya dari Turki. Maaf Anda dari Arab?"

"Ah ya, ibu saya asli Lebanon,ayah saya asli India. Saya lahir di San Fransisco. Juu Suh ini dari Cina. Dan Ashley ini dari Wales."

"Apa yang bisa saya bantu?"

"Silakan pesan menu dulu."

"Baik."

Fahri melihat daftar menu. Paman Hulusi juga melihat daftar menu itu. Fahri memanggil pegawai restoran. Ia lalu memesan menunya. Untuk menu pembuka, Ia minta dihidangkan Sup Asparagus, menu utama ia minta disajikan olahan ikan Cod yang disajikan dengan Broccoli khas The Kitchin. Menu penutupnya StemGinger Ice Cream dan minumnya jus orange. Fahri menekankan kepada pegawai itu 
bahwa ia tidak mau semua menunya tercampuri unsur babi maupun wine. Pegawai restoran mengangguk lalu membaca ulang daftar menu yang dipesan Fahri. Fahri mengiyakan dan menekankan lagi permintaannya. Pegawai itu lalu bertanya kepada Paman Hulusi.

"Ah, saya samakan saja dengan dia. Sama persis ya?" jawabPaman Hulusi.

"Ada pesanan lain lagi di meja ini?" Heba menjawab tidak. Petugas itu lalu hendak pergi.

"Sebentar..!" panggil Heba.

"Tadi saya pesan vegetarianmenu, apakah sudah mulai dimasak?"

"Sedang siap untuk dimasak?"

"Mohon menu saya juga tidak ada unsur wine nya?"

"Baik. Ada yang lain?" tanya pegawai restoran.

"Cukup".

Pegawai restoran pergi. Fahri melihat jam tangannya lalu berkata.

" Jadi apa yang bisa saya bantu? Setengah jam lagi saya benar-benar harus meninggalkan tempat ini. Sebab saya punya janji bertemu seseorang satu jam lagi. Semoga makanan cepat disajikan."

Hmm begini, sebetulnya saya hanya main menduga saja. Karena Anda bisa mengingatkan imam yang salah membaca ayat Al-Qur‘an, saya merasa Anda cukup menguasai Al-Qur‘an. Entah kenapa saya agak segan bertanya dengan imam yang itu, saya merasa agak kurang cocok dengannya. Ini dua teman saya dari Cina dan Wales sangat tertarik kepada Islam. Terkadang ada pertanyaan mereka berdua yang saya merasa kurang bisa menjawab dengan baik dan memuaskan. Saya ingin mereka berdua langsung bertanya kepada Anda dan semoga Anda berkenan menjawabnya." Pinta Heba.

"Tempo hari. Juu Suh ini sudah bertanya kepada saya dikelas. Apakah masih ada yang ditanya?"

"Saya merasa surprised sekali berjumpa dengan Anda kembali Tuan Fahri. Jawaban kemarin sangat memuaskan saya. Dan bayangan kelam tentang Islam perlahan mulai pudar, terlebih setelah berinteraksi langsung setiap hari dengan Heba dan teman-teman Muslim lainnya. Ternyata mereka tidak seperti yang diberitakan di media-media Barat. Namun saya masih punya beberapa hal yang mengganjal," kata gadis Cina.

"Silakan. Semoga saya bisa membantu," jawab Fahri.

"Puji Tuhan, saya telah belajar bahasa Arab sejak kuliah di Beijing, tepatnya di Department of Arabic, Beijing Foreign Studies University. Saya sempat memperdalam bahasa Arab intensif empat bulan di Beirut. Dan sekarang saya sedang mengambil master kajian Arab di sini. Puji Tuhan, saya bisa memahami tulisan Arab yang saya baca, juga memahami orang Arab bicara termasuk ketika mereka khutbah Jum‘at. Ada beberapa hal yang ingin saya klarifikasi atas pemahaman dari apa yang saya dengar langsung. 

Saya pernah mendengar ceramah agama, di situ ustadznya menyampaikan hadits bahwa orang Islam dilarang memberi salam kepada orang yang bukan Islam. Saya tidak hafal persis haditsnya tapi begitu yang saya pahami. Apa benar? Ustadznya mengatakan bahwa haditsnya shahih.

Saya minta penjelasan masalah ini apakah seperti itu Nabi kalian mengajarkan?" ujar gadis Cina itu panjang lebar.

"Itu salah satu yang ditanya-kan kepada saya. Dan saya merasa tidak berkompeten menjawabnya," sahut Heba.

Fahri tersenyum, lalu menjawab,

"Kalau ustadz itu hanya menyampaikan seperti itu, dan berhenti sampai di situ, maka yang ia 
sampaikan kurang tepat, meskipun tidak sepenuhnya salah."

"Maksudnya?" kejar Heba.

"Begini ..."

"Sebentar," gadis dari Cina menyela, 

"Boleh saya rekam?"

"Boleh," jawab Fahri. 

Gadis bermata sipit namun cantik itu mengambil ponselnya dan mengaktifkan 
rekamannya. 

"Sudah siap. Silakan dilanjutkan."

"Sebentar," kata Fahri. Pegawai restoran datang mengantarkan menu pembuka dan minuman. 

Fahri mempersilakan semuanya mencicipi hidangannya masing-masing.

"Sesudah kami mendengarkan penjelasan Anda," ujar gadis beramput pirang.

"Baik. Saya ulangi, jika ustadz itu hanya menyampaikan seperti itu, dan berhenti sampai di situ, maka yang ia sampaikan kurang tepat, meskipun tidak sepenuhnya salah. Di dalam Al-Qur‘an, tepatnya di Surat Az-Zukhruf ayat 89, Nabi Muhammad SAW diperintahkan Allah untuk mengucapkan salam kepada orang-orang yang tidak beriman, maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan ucapkan, salam!‘ Imam Al-Qur-thubi menjelaskan bahwa sebagian orang-orang salaf melakukan hal itu, yakni 
mengucapkan salam kepada non Muslim. Mereka di antaranya adalah sahabat Nabi Ibnu Mas‘ud Ra, Imam Hasan Al-Bashri, Ibrahim An-Nakha‘i. dan Umar bin Abdul Aziz."

"Dalam kitab Fathul Bari. Ibnu Hajar, menulis bahwa Abu Umamah dan Ibnu Uyainah juga melakukan hal tersebut, artinya mengucapkan salam kepada orang yang bukan Muslim. Di situ dijelaskan, bila Abu Umamah pulang ke rumahnya, ia selalu mengucapkan salam kepada orang -orang yang dilaluinya, baik 
itu orang Islam, Kristen, anak kecil, maupun orang tua. Ketika ia ditanya mengenai hal itu, ia menjawab, "Kita diperintahkan untuk menyebarkan salam."

"Salam sendiri artinya adalah kedamaian dan keselamatan. Dan Islam artinya sama dengan salam, yaitu kedamaian dan keselamatan."

"Yang saya kemukakan diatas contoh dari orang-orang yang secara zaman sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Ibrahim An Nakhai, seorang tabi‘in yang agung pernah ditanya mengenai orang Muslim yang berjumpa dengan orang yang bukan Muslim lalu mengucapkan salam, dia menjawab, 

"Jika engkau mengucapkan salam, sesungguhnya orang-orang saleh juga pernah mengucapkan salam. Jika kau meninggalkan salam, orang-orang saleh sebelum kalian ada yang pernah meninggalkannya juga."

" Ketika Umar bin Abdul Aziz ditanya mengenai hal itu, ia menjawab, 'Menurutku kita boleh me-mulai mengucapkan salam kepada mereka.'‘ 

Ia ditanya alasannya, maka ia menjawab, "Karena firman Allah, maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan ucapkan, salam!" 

"Apa yang saya sampaikan ini bukan asal-asalan. Ada dasar dan landasan ilmiahnya. Bisa dirujuk di dalam tafsir Al Qurthubi dan juga kitab Fathul Bari."

"Adapun hadits yang Anda kemukakan itu memang ada dalam kitab shahih Muslim. Bunyinya, "laa tabdau al yahud wa laan-nashara bis salami, janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani.‘ Memahami hadits ini harus hati-hati. Harus memperhatikan situasi seperti apa dan dalam konteks apa hadits ini hadir. Di sini perlu mengumpulkan teks-teks hadits serupa agar 
tahu makna sesungguhnya. Ini disebut jam‘ul ahadits. Mengumpulkan hadits-hadits."

"Jika kita teliti dengan saksama, maka kita akan menemukan riwayat-riwayat lain dengan redaksi yang lebih menjelaskan situasinya. Hadits ini ternyata khusus diberlakukan saat perang. Penjelasannya bisa dilihat, misalnya, pada hadits riwayat Imam Bukhari dalam Adab Al Mufrad, dan Imam An Nasai dari Abu Bashrah, Rasulullah SAW pernah bersabda, 
"Besok aku akan pergi menemui orang Yahudi, janganlah kalian mengucapkan salam kepada mereka."

 "Salam yang dimaksud adalah assalamualaikum, yang dalam salam itu mengandung jaminan keselamatan. Menarik yang dikatakan Rasyid Ridha dalam tafsir Al-Manar-nya mengomentari hadist; 

"janganlah kalian mengucapkan salam kepada mereka.‘ " Disini tampak bahwa Nabi melarang memulai mengucapkan salam kepada mereka, karena salam adalah jaminan keselamatan. 

Beliau tidak mewajibkan umat Islam memberikan jaminan keselamatan kepada mereka, karena mereka sering melanggar perjanjian."

"Apalagi situasinya sedang perang."

"Ibrahim An-Nakhai mangatakan, "Hadist Abu Hurairah; "janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada mereka, itu jika kalian tidak memiliki alasan untuk memulai mengucapkan salam kepada mereka. Baik itu memenuhi penghormatan, hak tetangga atau bepergian. ‘Artinya jika ada hak kekerabatan, persahabatan, tetangga, bepergian dan keperluan, maka boleh mendahului mengucapkan salam. 

Apalagi jika salamnya bukan assalamu'alaikum, misalnya good morning, hai, hello, maka tidak ada masalah sama sekali."

"Semoga yang singkat ini cukup menjelaskan. Silakan hidangannya dinikmati!"

Fahri mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar. Heba tampak tersenyum cerah. Gadis Cina dan gadis berambut pirang bernama Ashley tampak mengangguk-angguk. Fahri menyendok dan menyeruput sup Asparagusnya yang masih hangat. Yang lain ikut menyantap hidangan pembuka yang telah 
dipesannya.

"Kalau menjawab salam orang bukan Islam?" celetuk Heba sambil mengunyah. 

Fahri menyeruput minumannya dan menjawab,

"Kalau bentuk salamnya adalah hello, hai, good morning dan sejenisnya. Maka sama sekali tidak ada dalil yang melarang menjawab dengan serupa. Kalau bentuk salamnya seperti yang diucapkan secara negatif oleh non Muslim kepada Nabi yaitu as-samu 'alaikum yang artinya racun untuk kalian. Maka Nabi mengajari kita untuk tetap menjawab dengan santun "wa‘alaikum‘ yang artinya "dan untuk 
kalian‘."  Adapun jika salamnya adalah Assalamu'alaikum, yang artinya "kedamaian dan kesejahteraan untuk kalian" maka para ulama, diantaranya Ibnu Qayyim mengajarkan agar menjawab yang serupa atau lebih baik. 

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar mengatakan, "Menjawab salam ahli dzimmah adalah wajib, 
sesuai dengan ayat yang menunjukkan makna umum.

(1) "Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas pernah 
mengatakan, Barangsiapa yang mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah. Meskipun ia seorang majusi."
(2) 1. dalam Qs. AnNisa :86. 2. Fathul Bari, Jilid 11. hal. 50.

"Sudah jelas ya?"

"Alhamdulillah" lirih Heba.

"Ada yang lain?" tanya Fahri.

Saat itu dua pegawai restoran datang mengantar menu utama yang dipesan. Fahri melihat jam tangannya.

"Saya masih punya waktu dua belas menit, ada pertanyaan lain?"

"Sebaiknya sementara kita cukupkan sampai di sini. Lain kali bisa dilanjutkan. Waktu yang tersisa biarlah digunakan Tuan Fahri untuk menikmati hidangan," ujar Ashley ramah.

"Setuju," sahut Heba.

"Sehari-hari saya ada di IMES, Islamic and MiddleEastern Studies, The University of Edinburgh, George Square no.19. Kapan-kapan jika ada yang ditanyakan bisa datang ke office saya."

"Terima kasih. Silakan hidangannya dinikmati," ujar Heba. 

Fahri dan Hulusi dengan agak tergesa 
menikmati hidangan yang masih mengepulkan asap itu. Bau ikan Cod itu begitu sedap. Sementara Heba beranjak dari tempat duduknya minta kepada pegawai restoran agar hidangan penutup disegerakan.

"Mendengar jawaban Anda dengan segala referensinya semakin meyakinkan saya, Anda seorang 'alim. 
Ketika tinggal di Seattle dulu, di Masjid kami ada ulama muda yang sangat dalam ilmunya. Ulama itu bahkan bisa mempengaruhi ayah saya untuk kembali ber-Islam dengan benar. Dan istrinya berhasil mengembalikan saya ke jalan yang lurus. Kalau boleh tahu, Anda sebelum ke Edinburgh ini pernah belajar dimana?"

"Di Jerman."

"Di Jerman?"

"lya, benar."

"Ah, saya hampir tidak percaya orang yang belajar di Jerman bisa sedemikian kuat menguasai referensi Islam dan sedemikian kuat hafalan Al-Qur‘an-nya hingga bisa meluruskan bacaan Imam dari Saudi yang 
keliru."

"Dia tidak hanya belajar di Jerman. Di Jerman hanya mengambil Ph.D, namun sebelum itu ia telah matang belajar ilmu agama di sumbernya," sahut Paman Hulusi yang sejak awal tidak bicara sama sekali.

"Ah, teman Anda akan membeberkan yang lebih lengkap. Dimana dia belajar sebelum di Jerman?"

"Dia telah belajar bahasa Arab dan ilmu agama Islam sejak kecil di madrasah di Indonesia. Dia telah hafal Al-Qur‘an sejak di Indonesia. Lalu melanjutkan belajar di Al-Azhar University, Kairo, sampai tingkat master. Dia banyak belajar secara langsung dengan para syaikh di Mesir. Lalu menulis tesisnya di Pakistan. Dan mengambil Ph.D-nya di Freiburg," jelas Paman Hulusi. 

Fahri hanya diam menikmati makanannya.

"Pantas. Ternyata benar jebolan Al-Azhar. sama seperti imam muda di Seattle yang saya ceritakan itu," tukas Heba.

"Sebenarnya saya sudah beritahu Heba, bahwa Anda lulusan Al-Azhar. Tapi Heba tidak percaya," sahut gadis Cina.

"Kalau lulusan Al-Azhar seharusnya jadi imam dan membuka kajian di Edinburgh Central Mosque. Karena tidak jadi imam di Masjid, ya saya kurang percaya."

Fahri menanggapinya dengan tersenyum. Setelah menyelesaikan makannya. Fahri berdiri dan pamit diikuti Paman Hulusi.

"Ini kami bayar sendiri, atau ada yang menanggungnya?" tanya Fahri sambil menatap wajah Heba.

"Saya yang mengundang Anda. saya yang menanggung semuanya, insya Allah." Jawab Heba.

"Serius? lni tidak membebani Anda? Kalau pun kami harus membayar sendiri kami siap."

"Sama sekali tidak. Biar saya yang bayar semuanya."

"Terima kasih. Assalamu‘alaikum."

"Wa‘alaikumussalam."

Fahri dan Paman Hulusi melangkah keluar. Rinai gerimis perlahan turun, padahal matahari bersinar agak terang. Cuaca di Skotlandia memang sering terasa aneh.

"Sekarang langsung ke Newhailes Musselburg atau mau kemana, Hoca?"

"Ozan Akbar mengajak ketemuan di Balmoral Hotel, Paman. Membicarakan pembukaan cabang baru AFO Boutique di Glasgow. Dari Balmoral baru ke Newhailes. Saya sudah SMS Mosa, rapat ditunda dua jam, dan semua karyawan harus menunggu."

"Baik Hoca."

Paman Hulusi membawa mobil SUV itu menuju hotel yang telah menjadi landmark Kota Edinburgh itu. Sampai di The Balmoral Hotel gerimis telah reda. Seorang lelaki muda tampan berwajah Turki menyambut Fahri ditemani perempuan bule berjilbab. Lelaki itu langsung mengajak Fahri berbincang 
diresto hotel.

"Desain interiornya selesai dua hari lalu. Seperti ini bentuknya, lihat, cantik bukan?" kata lelaki muda itu sambil memperlihatkan foto-foto lewat tabletnya. Fahri mengamati dengan saksama. 

"Pekan depan pengisian produk. Izin sudah turun. Dua karyawan sudah selesai training. AFO Boutique yang di Glasgow itu mau Hoca pegang, atau kami pegang?"

"Ozan saja yang pegang. Sementara saya tidak bisa banyak keluar dari Edinburgh. Saya fokus 
mengendalikan lini-lini bisnis yang di Edinburgh saja," jawab Fahri.

"Sebenarnya kami berharap Hoca yang pegang. Kami ingin menyiapkan pembukaan cabang di Bristol," kata Ozan.

"Saya masih harus fokus menyelesaikan beberapa penelitian ilmiah. Mungkin benar bahwa bisnis sepertinya tidak bisa berkawan baik dengan akademik."

"Baru dengar saya ungkapan itu. Tapi rasanya ilu tidak berlaku untuk Hoca. Buktinya Hoca Fahri sukses mengendalikan AFO Boutique cabang Edinburgh, bahkan labanya melebihi cabang Manchester. Selain itu, Hoca Fahri juga berhasil memegang resto dan minimarket Agnina di Musselburgh. Empat hari lalu saya diajak teman menghadiri diskusi politik Islam di SOAS University of London. Teman itu membawa jurnal terbaru terbitan SOAS, saya lihat ada tulisan Hoca Fahri di sana. Artinya bisnis dan akademik bisa berjalan selaras untuk Hoca."

"Doakan saja. Tapi sungguh, biar sementara saya pegang yang di Edinburgh dan sekitarnya saja."

"Baiklah kalau begitu. Akhir pekan depan kita akan adakan seremonial pembukaan, apakah Hoca bisa hadir?" 

"Saya tidak bisa menjanjikan, tapi kalau benar-benar luang, nanti saya usahakan datang. Jadi saya rasa semua hal terkait pembukaan AFO Boutique di Glasgow sudah clear ?"

"Ya..."

"Kalau begitu saya mohon pamit, saya harus memimpin rapat dan memberi arahan seluruh karyawan resto dan minimarket Agnina. Atau kalian mau ikut?"

"Kami ada janji satu jam lagi di sini."

"Jika berkunjung ke Edinburgh seharusnya kalian tidak menginap di hotel. Di rumahku ada dua kamar kosong."

"Claire mau menginap dirumahmu, katanya, kalau kau sudah punya istri Lagi."

"Ah, kalian bersekongkol. Itu saja alasannya. Selalu. Kalian sudah tahu, sangat tidak mudah bagiku melupakan Aisha. Aku masih memiliki harapan Aisha datang lagi."

"Hoca Fahri, kenapa untuk hal yang satu ini kau susah sekali menerima kenyataan?"

"Aku hanya berdoa kau tidak mengalami apa yang aku alami Ozan. Semoga Claire ini selalu ada di sampingmu."

"Amen. Terima kasih doanya, Hoca. Tapi saya rasa Hoca Fahri sudah harus mengambil sikap menata hidup baru. Tawaran dari keluarga Ozan agar Hoca Fahri berkenan menikahi adik Ozan yang tak lain adalah sepupu Aisha selayaknya dipertimbangkan dengan serius." Claire, istri Ozan yang berwajah anglo saxon itu ikut bicara.

"Adikku Hulya, insya Allah shalihah. Dia tidak hafal Al-Qur‘an tapi bagus bacaan Al-Qur‘annya. Dia baru lulus B.A. dari METU. Saya tidak mau membandingkannya dengan Aisha, tapi Hulya menurutku tidak kalah dengan Aisha. Apalagi..."

"Aku tidak mau membicarakan hal itu dulu. Saya harus pergi. Sampai jumpa lagi." Fahri memotong kata-kata Ozan, ia menjabat tangan sepupu Aisha itu lalu beranjak meninggalkan ruangan itu. 

Ozan dan istrinya tidak tahu bahwa Fahri keluar dari hotel itu dengan kedua mata berkaca-kaca. Sepanjang jalan dari tengah Kota Edinburgh menuju Musselburgh air mata Fahri mengalir begitu saja membasahi pipinya.

"La haula wa la quwwata illabillah, La haula wa la quwwata illabillah ..."


                              *****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...