Sebulan menjadi murid tak resmi. Bagian 22
Hubbaibulloh memilih kembali ke kamarnya dan tidur daripada ngurusi orang yang tak jelas juntrungannya. Tapi baru saja dia mau memejamkan matanya suara pintu diketuk dengan keras.
"Tok...tok...! mass kyai.."
Hubbaibulloh keluar dan di pintu ada seorang santri sedang kebingungan,
"Ada apa?" tanya Hubbaibulloh.
"Anu si Rusli ngamuk...!"
"Ngamuk bagaimana maksudmu? Ngabisi nasi?"
"Bukan."
"Nghabiskan sambel?"
"Bukan."
"La ini bukan itu bukan, lalu ngamuknya ngapain?"
"Ya ngamuk dia ngambil bendo mau membunuh dirinya sendiri." kata santri itu sambil ketakutan.
(bendo : alat untuk membelah kayu yang bentuknya melengkung kayak ayam)
"Wah kalau seperti itu ya bahaya. Ayo di mana dia...?"
"Di belakang dapur mas."
Hubbaibulloh pun lari ke dapur disertai santri itu, sementara di dapur Rusli sedang dipegangi oleh santri lain. Tapi para santri semuanya dilempar, ada delapan santri semua kuwalahan, sementara tangan Rusli memegang bendo yang selalu akan dibacokkan ke lehernya sendiri, suasana amat tegang, otot-ototan dan saling tarik ramai terjadi.
"Ambilkan tali." kata Hubbaibulloh.
Seorang santri kecil lari dan datang lagi sambil mebawa tali rafia.
"Lhah ngapa juga tali rafia?' kata Hubbaibulloh.
"Itu tali yang di sebelah pintu, tali tambang." tambahnya.
Maka diambil tali tambang, lalu Rusli diikat dengan tali tambang. Selesai Rusli diikat, maka Hubbaibulloh mengumpulkan para santri yang telah menjadi ustad untuk musyawarah membicarakan soal Rusli.
"Bagaimana menurut kalian soal Rusli ini?" tanya Hubbaibulloh.
"Kalau menurut saya mending dibawa ke paranormal kang, soalnya mengingat kita tak paham soal ilmu seperti itu ditakutkan itu nanti malah menyusahkan kita sendiri, karena tidak paham dan tidak bidangnya." kata Muslih santri dari mangkang.
"Kalau menurutku jangan dulu Kang, soalnya ini menyangkut nama pesantren, apa nantinya kalau kita ini pesantren Tahfidzul qur'an masak masalah kayak gini saja tidak mampu menyelesaikan..., " kata Ibnu santri dari Banyuwangi.
"Gini saja kita upayakan untuk menyelesaikan masalah ini dulu sendiri, lalu kalau kita nantinya ternyata tidak mampu baru kita serahkan pada orang yang sekiranya mampu, bagaimana menurut kalian?" kata Hubbaibulloh mengambil inisiatif.
"Begitu juga baik kang, kami setuju." jawab semuanya dengan serempak.
Ternyata Rusli makin parah saja. Setiap habis sholat magrib terus-terusan kerasukan. Bila sudah kerasukan kadang lari ke kampung sehingga terjadi kejar-kejaran antara santri dengan Rusli yang kerasukan, kadang juga masuk ke kamar santri putri, sehingga santri putri pada menjerit, kadang semalaman di atas genteng pesantren, sehingga genteng pesantren banyak yang hancur karenanya. Yang lebih mengkhawatirkan seringnya travo listrik diambil dan dihancurkan, atau kabel listrik pusat yang telanjang di tiang listrik diputus, sehingga berulang kali harus memanggil petugas PLN.
Selesai magrib semua santri berkumpul di rumah sebelah pesantren yang kosong, dimana Rusli diikat ke empat tiang dengan tambang. Hubbaibulloh punya rencana nanti anak-anak santri akan disuruh mengitari Rusli dengan membaca ayat kursi serempak, sementara yang sudah ustad diminta untuk membuat air isian yang dibacakan surat muawidzatain, dan ayat kursi. Mendekati isya' semua sudah sesuai pada tempatnya dan tugasnya, Rusli terkurung, dan mendekati isya, dia mulai kerasukan dan aneh tambang yang mengikat tubuhnya secara rapat dan ketat, bisa begitu saja dilepas seperti belut lepas dari genggaman, lalu dia mulai mengamuk, menggerung-gerung, yang membaca ayat kursi terus saja membaca tanpa henti.
"Panaaas... panaaassss...!" teriak jin yang ada di tubunya Rusli.
Dan dia berusaha untuk melompati orang yang tengah duduk sambil membaca ayat kursi. Namun ketika tubuhnya melompat dan akan melewati kepala yang membaca ayat kursi maka tubuh Rusli seperti membentur dinding yang tak terlihat, mental balik ke tengah kepungan.
Begitu berulang kali, dan yang membuat air isian pun sudah selesai dan air disiramkan, dan jinnya pun keluar, namun jin lain masuk, begitu terus sampai kalau dihitung ada sampai 180 x kerasukan dan 180 jin yang masuk, sampai ruangan berbau kemenyan yang amat menyengat, jam setengah empat pagi baru selesai, semua orang kelelahan.
"Wah ini bagaimana, kalau terjadi kayak begini terus ya kita bisa susah sendiri, besoknya jelas tak bisa bangun, dan kalau terjadi tiap malam, kan kita sendiri yang akan kerugian, karena kita tidak mengaji, dan hafalan qur'an kita akan terganggu..., bagaimana kalau kita bawa saja kepada orang yang lebih mengerti?" tanya Hubbaibulloh kepada semua santri, dan semua menyetujui.
(Ceritanya berhenti disini dan dari pihak pengarang masih belum ada kelanjutannya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar