Sebulan menjadi murid tak resmi. Bagian 17
"Ayo siapa yang merasa sok jago-jagoan?" kata Sulaiman,
"Sudahlah kang, wong mereka cuma main-main." kata pemuda yang bernama Hubbaibulloh masih dengan ketenangan.
"Sudah-sudah semua bubaran...!" kata Sulaiman membubarkan kerumunan, yang segera mereka melangkah pergi.
"Wah kamu ini bagaimana to bai..., masih sukanya kayak gitu, padahal sejak kecil kamu itu kan orang pesantren, la kok sekarang malah menjadi ketua gank segala." kata Sulaiman setelah semua pergi dan mereka berdua duduk di tengah lapangan.
"Kita itu menjalankan lakon kita masing-masing kang, sampean menjadi ketua karang taruna, dan aku menjadi ketua gank, mungkin jika dipandang secara dzahirnya kita amat berseberangan, kang Sulaiman di bidang yang kelihatannya serba membangun, dan aku di jalur yang merusak, tapi menurutku segala sesuatu itu didasari dari niatnya, bagaimana mungkin aku menyadarkan orang yang suka mabuk, jika aku sendiri tak berpura-pura menjadi seorang yang bisa diterima mereka. Coba kang Sulaiman lihat, dulu di desa sampai masjid digunakan mabuk-mabukan, tapi sekarang malah tak ada seorangpun mabuk-mabukan, dulu sering banyak tawuran, sampai ada yang mati, sekarang kan adem ayem saja, kalau ndak ada yang nyebur sepertiku, dan orang rusak malah dibenci, disalahkan, ya generasi kita bukankah akan makin hancur kang?" jelas Hubbaibulloh panjang lebar.
"Tapi apa yang kamu lakukan itu sangan rentan bergesekan dengan bahaya bay.."
"Wah itu sudah resiko perjuangan kang... ya kalau berjuang cuma maunya tampil ceramah di tivi, dapat order pesanan, memakai tarif kalau dipanggil, wah itu ku kira ndak bakalan ada ruhnya kang, kalau ceramah, sebentar juga akan ditinggalkan, jika sudah bosan, kalau ceramah di mesjid saja, menurutku yang perlu dilanting itu bukan orang yang jelas di masjid kang, tapi orang yang tersesat jalannya. Dan orang yang perlu petunjuk dan bimbingan itu bukan orang yang sudah sadar dan penglihatannya lengkap, tapi orang yang perlu dituntun dan disadarkan itu orang yang dalam kesesatan jalan, dan orang yang buta tidak bisa melihat cahaya kebenaran, buta pengetahuan, sebab mereka menjadi sesat itu kadang kala tidak berarti mereka inginkan, cuma mereka tidak di tempat yang tepat dan tidak ada yang menunjukkan,"
"Tapi apa yang kamu lakukan itu amat berisiko,"
"Ya segala apa di dunia itu yang tidak punya resiko, orang makan saja bisa sliliten, atau tersedak, segala sesuatu kita lakukan saja, kita lakukan mengikuti perintah Alloh, soal bagaimana nantinya hasilnya, itu kita tidak tau, semua terserah Alloh, nilai itu kan tidak tergantung pada hasil, tapi nilai itu terletak pada proses perjuangan, yang mendapat pahala itu kan perbuatan amal kita, bukan hasil yang dicapai, hasil yang dicapai itu kan terserah dalam ketentuan Alloh, seorang Nabi Nuh saja tidak bisa menjadikan sadar anaknya, juga Nabi Lut tidak bisa menyadarkan istrinya, atau Nabi Muhammad tak bisa menyadarkan pamannya Abu Jahal dan Abu Lahab, apalagi saya to kang. Tapi perjuangan bukan berarti lantas berhenti."
"Entahlah, entahlah bai.. aku bingung dengan pola pikirmu.."
"Ya itulah kang, setiap orang itu menjalani terbaik saja apa yang dijalani saja."
"Tapi aku selalu suka bicara denganmu, yang sejak dulu selalu nyeleneh... aneh." kata Sulaiman sambil memegang pundak Hubaibulloh, dan tak terasa air matanya meleleh.
"Ya aku ini ya begini kang, di-cap anak berandalan sama semua orang kampung, ya itu ndak papa, sebab kalau ndak ada yang nyebur kayak diriku ini, ya kasihan to sama anak berandalan, jadi tidak ada yang menyadarkan". kata Hubbaibulloh.
"Ya moga Alloh memberi pahala atas keikhlasanmu."
"Amin... biarlah itu menjadi hak Alloh, kita jalani saja hak sebagai hamba, kayaknya sudah malam banget kang, kita berpisah ya kang...!, terima kasih kang Sulaiman sudah menemaniku di sini."
"Ya sama-sama, kalau butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan meminta padaku, aku siap selalu membantumu, waalaikum salam." jawab Sulaiman melihat Hubbaibulloh naik motornya dan berlalu.
Sulaiman sendirian dan heran dengan tingkah yang dijalani Hubbaibulloh. Diangan-angankannya apa yang dikatakan Hubbaibulloh, tapi tak juga akalnya menggapai, seperti buntu pepet, dia hanya menggeleng-geleng dan berlalu dari lapangan itu.
Manusia itu nyatanya tak bisa membuat pilihan, bisanya hanya menjalani, jika membuat pilihan sendiri dan memaksakan maka terjadinya akan timbul kesulitan, kita diberi kodrat makan pakai mulut, maka jalani itu, jangan membuat pilihan makan pakai telinga, apalagi memaksakan diri, memasukkan makanan ke telinga, maka akan amat menyulitkan diri sendiri, kalau tak percaya silahkan dicoba.
Jadi apapun profesi kita, jika kita jalani dengan ilmunya, dan kita totalitas menjalani, maka keberhasilan itu akan didapat, sekalipun nyangkul, tetap pakailah ilmunya nyangkul, jangan memakai ilmunya menulis untuk menyangkul. Segala sesuatu ada teori dan cara yang benar dan efisien untuk mencapai hasil maksimal dengan mudah dan tak menyulitkan serta banyak resiko.
Selembar surat diterima Hubbaibulloh pagi tadi dari pemimpin sebuah pesantren di daerah Demak Jawa Tengah, yang isinya memintanya untuk membantu mengajar di pesantren itu, suatu pilihan yang sulit, di mana dia masih ingin membetulkan ahlak pemuda desanya, tiba-tiba di depan rumahnya datang Irul sambil tergopoh-gopoh,
"Mas, masjidnya dipakai minum-minum lagi." kata Irul.
"Lhoh apa tidak diusir sama santri,"
"Wah sudah mas, malah Adib yang mengusir, dipukul sampai hidungnya berdarah."
"La yang memimpin dan yang memukul adib siapa?"
"Biasa mas si Bahak.."
"Lagi-lagi anak itu, bukankah dia itu pelatih karate Kera Sakti, kenapa tingkahnya seperti itu???"
"Ndak tau mas."
"Ayo ke masjid sekarang." kata Hubbaibulloh sambil berjalan duluan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar