Sebulan menjadi murid tak resmi. Bagian 16
Jadi menggelikan, semua berebut kabur, tapi si gendut bilang,
"Berhenti.. berhenti..! Kita jangan takut sekalipun dia sakti, kalau dikroyok rame-rame pasti kalah."
Dan yang lain mengiyakan, dan mulai beranjak lagi mendekati lapangan.
Nampak pemuda gondrong itu pun berjalan, dia memakai jaket panjang selutut, di punggungnya bergambar tengkorak, dan kitab kuning. Sebenarnya lelaki itu kira-kira berumur 20an tahunan, tubuhnya agak kurus, wajahnya lumayan ganteng, malah kalau diperhatikan seperti wajah perempuan, tapi segala gerak geriknya tenang, dan ketenangannya kadang seperti menakutkan.
"Ayo mari kita selesaikan yang kalian mau, aku tak pernah sekalipun mengganggu SH kalian, tapi jika kalian menginginkan pertumpahan darah, jika aku tak sanggup menancapkan senjata yang kalian bawa ke tubuh kalian, maka aku berhenti saja menjadi manusia, ayo siapa maju duluan, atau mau maju bareng juga pekerjaan akan cepat selesai, sebab aku tak hanya mengurusi kalian." kata lelaki itu dan semua diucapkan dengan satu persatu, seperti tanpa nafas karena tenangnya, jelas itu membuat semua yang mau menyerang menjadi ragu, jika bukan seorang yang punya simpanan yang diandalkan, maka manusia itu tak akan setenang itu menghadapi pengeroyokan banyak orang yang semua memegang senjata.
Semua tak ada yang beranjak, jelas semua keder, dan memikirkan bukti kata-kata yang diucapkan oleh pemuda itu.
"Aku tak akan mendahului menyerang kalian, karena aku merasa tak punya masalah dengan kalian, tapi jika kalian menyerangku, ya apa boleh buat, tidak salah kan jika aku membela diri kemudian menyebabkan kalian terluka? Nah silahkan dicoba, apa kata-kataku ini benar tidaknya silahkan dibuktikan." kata pemuda gondrong itu tenang.
Tak tau entah pancaran ketenangan atau kewibawaan pemuda itu, sehingga semua tak ada yang beranjak, malah ada yang mulai memasukan pedangnya ke sarungnya.
Semua terdiam dalam ketegangan, mungkin juga di benak mereka menghitung untung rugi. Tiba-tiba pemuda gondrong itu maju... dan serentak semua pemuda yang akan mengeroyoknya itu mundur.
Tiba-tiba di jalan ada yang datang... "He apa-apaan ini? Sedang apa kalian di sini?" kata yang datang itu bernama Sulaiman, Sulaiman adalah ketua karang taruna di desa.
"Kalian ini sedang mau berkelahi? Hai bay.. ada apa? Apa kamu mau dikeroyok?"
"Ah tidak kang, kami cuma main." jawab pemuda gondrong.
"He siapa yang mau bermusuhan dengan Hubbaibulloh, maka dia musuhku, musuh desaku, musuh karang taruna, ayo siapa yang mau bermusuhan?" kata Sulaiman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar