Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 25-02

PANASNYA BUNGA MEKAR : 25-02
Justru karena itu, maka keempat Pangeran itu bagaikan kehilangan akal. Mereka saling berdiam diri dan saling berpandangan. Sehingga karena itu, maka Akuwu Suwelatama itu pun bertanya pula, “Cobalah jelaskan. Barangkali dengan demikian aku akan dapat menanggapinya.”

Pangeran Indrasunu yang berdebar-debar berusaha untuk menjelaskan maksud mereka. Katanya, “Kakangmas Suwelatama. Beberapa saat yang lampau kami telah pernah datang kemari untuk memberitahukan keadaan Kediri dan Singasari yang semakin merosot dipandang dari segi peradabannya. Kebiasaan-kebiasaan buruk semakin berkembang. Sementara orang-orang Kediri sudah melupakan sama sekali kemungkinan untuk tegak sebagai satu bangsa yang besar seperti masa lampau.”

“O.” Pangeran Suwelatama mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Itulah yang kalian maksud. Kalian memang pernah menyatakan kepadaku, bahwa kalian ingin membuat satu kejutan di Kediri dan Singasari.”

“Ya.” berkata Pangeran Indrasunu, “Kita akan merintis satu gerakan untuk membangunkan rakyat Kediri dan sekaligus rakyat Singasari untuk menegakkan peradaban dan menyingkirkan kebiasaan buruk yang kini sedang meracuni rakyat.”

Pangeran Suwelatama itu pun kemudian tersenyum. Katanya, “Adimas. Aku sudah pernah mendengar kalian mengatakannya kepadaku. Tetapi aku tidak pernah menganggap bahwa hal itu akan sungguh-sungguh kalian lakukan. Aku mengira bahwa hal itu kalian katakan kepadaku pada waktu itu, justru kerena hati adimas Indrasunu sedang dibakar oleh satu kekecewaan. Bukankah adimas Pangeran Indrasunu gagal mengambil seorang perempuan yang bernama Ken Padmi dari rumah Mahendra? Justru setelah melewati semacam sayembara tanding, adimas pun telah gagal pula. Bahkan guru Adimas Indrasunu, Wasi Sambuja pun telah tidak berhasil mengalahkan Witantra.”

“Tidak,” bantah Pangeran Indrasunu dengan serta merta, “aku sama sekali tidak melakukannya karena sakit hati atas kegagalan keinginan pribadi. Tetapi justru karena itu aku melihat kekurangan yang terdapat di Singasari dan Kediri.”

“Adimas,” berkata Pangeran Suwelatama, “agaknya jiwa adimas sedang terguncang. Kegagalan adimas telah membuat adimas kehilangan pengamatan diri. Dengan demikian maka adimas melihat orang lain selalu bersalah. Tanpa menyadari keadaan diri sendiri, adimas menganggap bahwa keadaan menjadi semakin buruk.”

“Tidak. Aku yakin akan kebenaran perjuangan ini,” bantah Pangeran Indrasunu, “kakangmas juga sudah membenarkan sikap kami beberapa waktu yang lalu. Tetapi tiba-tiba sikap kakangmas berubah.”

“Bukan berubah,” jawab Akuwu Suwelatama, “tetapi aku saat itu menganggap bahwa adimas tidak bersungguh-sungguh.”

“Aku tidak pernah bermain-main dengan nasib Kediri dan Singasari.” sahut Pangeran Indrasunu.

“Tetapi pada waktu itu adimas benar-benar baru dicengkam oleh kekecewaan.” jawab Pangeran Suwelatama.

“Aku dapat membedakan kepentingan pribadi dengan kepentingan kita dalam keseluruhan, kepentingan Kediri dan Singasari.” jawab Pangeran Indrasunu.

Pangeran Suwelatama menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Adimas Pangeran seluruhnya. Aku mengerti bahwa jiwa kalian memang sedang bergejolak. Tetapi kalian harus dapat memilih sasaran dalam keadaan seperti sekarang ini. Aku juga seorang yang menganggap bahwa keadaan sekarang masih belum seperti yang kita inginkan. Tetapi memperbaiki Keadaan itu tidak selalu harus dilakukan dengan kekerasan seperti yang adimas maksudkan. Bukankah adimas Pangeran berempat ingin mendorong aku untuk memberontak? Atau tegasnya ingin mempergunakan Pakuwon ini sebagai landasan perjuangan kalian. Perjuangan yang dinyalakan sekedar karena kekecewaan pribadi.”

“Tidak. Itu tidak benar,” bantah Pangeran yang bertubuh kecil, “kakangmas menilai persoalan ini semata-mata karena keadaan kakangmas Pangeran Indrasunu. Tetapi kakangmas harus menilai keadaan kami bertiga. Kami sama sekali tidak dikecewakan oleh apapun juga secara pribadi. Tetapi kami pun telah bertekad untuk mengadakan perombakan yang mengakar dari persoalan yang berkembang sekarang ini.”

“Adimas,” berkata Pangeran Suwelatama, “aku belum termasuk golongan orang-orang tua di Kediri. Tetapi aku mempunyai pengalaman lebih banyak dari kalian. Karena itu, aku ingin memperingatkan agar kalian melihat keadaan ini dengan pandangan yang lebih luas. Melihat dasar dari gejolak perasaan kalian yang mencari sebab dari kekecewaan itu.”

“Kami sudah melakukannya, kakangmas,” jawab Pangeran Indrasunu, “dan hasil yang kami ketemukan adalah keputusan untuk melakukan usaha yang akan didukung oleh seluruh rakyat Kediri dan Singasari.”

“Tetapi kalian harus mempunyai rencana yang mendasar. Kalian harus mengerti landasan perjuangan kalian, tujuan yang hendak dicapai, dan penilaian atas usaha itu. Apakah yang akan kalian capai itu lebih baik atau justru lebih buruk dari keadaan sekarang.” berkata Pangeran Suwelatama.

Pangeran-pangeran yang masih muda itu tidak sabar lagi. Seorang di antara mereka pun kemudian berkata, “Kami tidak akan melangkah surut, kakangmas. Tahap pemikiran, penilaian dan rencana sudah kami lalui. Kami telah sampai kepada tahap pelaksanaan. Karena itu, kami mohon kakangmas dapat mengikuti jalan pikiran kami. Kami bukan kanak-kanak yang masih dicengkam oleh perasaan semata-mata. Tetapi kami sudah cukup dewasa untuk berpikir dan bertindak bagi satu kepentingan besar seperti sekarang ini.”

Akuwu Suwelatama menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak muda itu benar-benar sudah sulit untuk diajak bicara. Namun ia masih mencoba untuk meredakan ketegangan di hati para Pangeran muda itu katanya, “Adimas. Jika adimas sudah melewati beberapa tingkatan dalam usaha kalian, maka berilah aku kesempatan untuk berpikir. Mungkin aku memang lamban. Tetapi aku berusaha untuk berhati-hati.”

“Waktu untuk berpikir sudah cukup lama, kakangmas.” jawab Pangeran Indrasunu, “Yang kami harapkan sekarang, kakangmas dapat mulai bergerak. Adalah satu keuntungan bahwa pada saat ini pasukan pengawal Pakuwon ini sedang berlatih. Hal ini akan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.”

“Jangan begitu, adimas,” jawab Pangeran Suwelatama, “latihan untuk merayakan satu kebanggaan di masa lampau akan berbeda dengan latihan-latihan untuk satu kepentingan yang jauh lebih gawat.”

“Kakangmas. Kami tidak mau terlambat.” jawab Pangeran yang bertubuh kecil.

“Tetapi terus terang, aku belum dapat mengatakan apa-apa sekarang ini.” berkata Pangeran Suwelatama.

Wajah para Pangeran itu menjadi merah. Pangeran yang bertubuh kecil itu pun berkata, “Kakangmas telah menyesatkan dugaan kami. Semula kami menyangka bahwa kakangmas sudah menyatakan kesediaan kakangmas untuk bersama-sama dengan kami berjuang bagi Kediri dan Singasari. Tetapi ternyata pada saat kami sudah siap untuk mulai, kakangmas telah mengingkarinya.”

“Kalian salah paham.” jawab Akuwu Suwelatama.

“Tidak. Jika terjadi salah paham, tentu tidak kami berempat seluruhnya.” jawab Pangeran Indrasunu.

“Aku tidak dapat menjelaskan lebih banyak lagi, adimas,” berkata Pangeran Suwelatama, “hanya itulah yang dapat aku katakan. Tetapi dengan sepenuh harapan, bahwa adimas akan dapat mengerti bahwa untuk satu pekerjaan yang besar, diperlukan perhitungan yang sangat cermat.”

“Sudah aku katakan berulang kali, bahwa kami sudah membuat perhitungan sebaik-baiknya. Tidak ada yang salah lagi menurut hitungan kami.” jawab salah seorang dari Pangeran-pangeran muda itu.

“Yang jelas masih ada satu kesalahan.” jawab Akuwu Suwelatama.

“Kesalahan apa?” bertanya Pangeran yang bertubuh kecil.

“Bahwa Pakuwon ini kau anggap sudah siap untuk ikut serta dalam gerakan kalian pada saat ini.” jawab Akuwu Suwelatama.

“Bukan kesalahan. Tetapi keingkaran.” jawab Pangeran Indrasunu tegas.

Terasa kuping Pangeran Suwelatama menjadi panas. Tetapi ia masih tetap menahan diri menghadapi Pangeran-pangeran yang masih muda dan masih mudah digerakkan oleh perasaan semata-mata.

Namun sebenarnyalah bukan kemudaan mereka semata-mata yang telah menyesatkan mereka. Banyak di antara anak-anak muda yang lain yang berbuat jauh lebih baik dari yang telah mereka lakukan.

Tetapi ternyata anak-anak muda yang dihadapinya itu benar-benar telah mengeraskan hatinya untuk satu niat yang bagi Akuwu Suwelatama kurang menguntungkan bagi segala pihak.

Karena itu, maka Akuwu Suwelatama itu pun kemudian berkata, “Adimas Pangeran berempat. Jika demikian, baiklah aku berkata langsung pada pokok persoalannya agar tidak lagi terjadi salah paham. Sebenarnyalah aku tidak akan dapat dilibatkan ke dalam rencana kalian. Justru aku telah berusaha untuk mencegah agar kalian mengurungkan niat kalian, karena jika kalian melakukannya, maka yang akan terjadi adalah goncangan-goncangan yang dahsyat. Yang akan terjadi adalah bencana yang besar yang akan melanda seluruh negeri. Dan yang kemudian akan paling menderita adalah rakyat kecil yang tidak tahu menahu, apakah yang sebenarnya telah terjadi, karena perubahan-perubahan yang tidak mendasar, pada hakekatnya tidak akan memperbaiki keadaan mereka.”

Keempat Pangeran muda itu tidak lagi dapat menahan diri. Jantung mereka bagaikan terbakar. Mereka menganggap bahwa Pangeran Suwelatama telah mengingkari janji.

Karena itu, maka tiba-tiba saja Pangeran Indrasunu yang tidak dapat menahan diri lagi itu pun berkata, “Aku mengerti kakangmas, bahwa kakangmas ingin tampil di paling depan, sehingga kakangmaslah yang kelak akan mendapat julukan sebagai pembebas Tanah ini. Jika demikian halnya, sebenarnyalah kami tidak berkeberatan sama sekali jika kakangmaslah yang akan disebut sebagai pemimpin dari pemberontakan ini. Dan yang kelak, pada saatnya Singasari yang sekarang jatuh, kakangmaslah yang pantas untuk duduk di atas Singgasana.”

“Adimas!” potong Pangeran Suwelatama. Rasanya jantungnya berdenyut semakin cepat.

Namun ia masih tetap berusaha menahan diri. Katanya, “Kalian semakin jauh tersesat. Aku sama sekali tidak ingin mencampuri persoalan kalian. Biarlah aku bersama para pengawal Pakuwon ini berbuat sebaik-baiknya bagi daerah kami yang sempit, jika aku sudah berhasil menyusun kedamaian hati rakyat Pakuwon ini, aku sudah merasa puas dan bahwa hidupku ini punya arti.”

“Baiklah, kakangmas,” sahut Pangeran yang bertubuh kecil, “kami akan menempuh jalan kami masing-masing. Jika kakangmas cemas akan kekuatan kami, besok kakangmas dapat pergi ke Kediri atau ke Singasari untuk melaporkan, bahwa sebentar lagi, akan datang saatnya kebenaran dan keadilan melanda Kediri dan Singasari. Merenggut tanah ini dari runtuhnya peradaban yang sudah kita bangun untuk berabad-abad lamanya.

“Jadi kalian tetap pada pendirian kalian?” bertanya Akuwu Suwelatama.

Ternyata pertanyaan itu cukup mendebarkan. Karena itu keempat Pangeran itu justru terdiam sesaat.

Namun Pangeran Indrasunulah yang kemudian menjawab, “Ya. Kami tidak akan melangkah surut, kakangmas. Kami akan berjalan terus sampai kepada tujuan kami.”

“Bagaimana dengan Wasi Sambuja?” tiba-tiba saja Akuwu Suwelatama bertanya.

“Guru dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Guru dalam keadaan luka parah ketika ia berperang tanding melawan Witantra. Tetapi pada saat guru sembuh, maka ia tentu akan terjun dalam perjuangan ini.”

Pangeran Suwelatama menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Jika demikian, silahkan adimas Pangeran berempat berjalan sendiri. Ternyata aku tidak dapat ikut bersama kalian.”

“Terserah kepada kakangmas. Aku tidak mempunyai pilihan lain.” jawab Pangeran yang bertubuh kecil.

Pangeran Suwelatama menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Tetapi adimas Pangeran. Aku berharap bahwa adimas tidak melupakan kedudukanku. Aku adalah seorang Akuwu. Aku berada di bawah perintah Kediri dan Singasari.”

Wajah keempat Pangeran itu menjadi merah. Mereka menyadari arti dari kata-kata Pangeran Suwelatama itu. Bahkan di telinga mereka mirip suatu tantangan, bahwa pada suatu saat mungkin sekali mereka akan bertemu di medan.

Namun dalam pada itu, Pangeran Suwelatama itu pun berkata, “Tetapi kalian masih mempunyai waktu untuk berpikir. Setidak-tidaknya di perjalanan kembali dari Pakuwon ini. Aku percaya bahwa kalian memang sudah dewasa. Sudah membedakan mana yang buruk dan mana yang baik, serta bersedia mempertanggung jawabkan tingkah laku kalian.”

Sesaat keempat Pangeran itu pun masih saja terdiam. Namun sejenak kemudian Pangeran yang bertubuh kecil itu pun berkata, “Kami mohon diri.”

Pangeran Suwelatama termangu-mangu sejenak. Terbersit perasaan prihatin yang mendalam di dalam dirinya.

Di Kediri beratus ribu anak-anak muda. Tetapi empat orang anak muda ini akan dapat membakar ketenangan yang sudah merambah sampai ke padesaan.

Tetapi Akuwu Suwelatama tidak sempat berbicara panjang. Keempat anak-anak muda itu segera bangkit dan minta diri.

Namun ketika Akuwu mengantar mereka sampai di regol, ia pun masih berkata, “Adimas Pangeran berempat, bukan maksudku unluk menganggap anak-anak muda tidak mampu berbuat apapun juga. Anak-anak muda memang dapat merupakan penggerak yang kuat. Tetapi yang kalian lakukan itu kurang mapan. Cobalah melihat dirimu sendiri, sumber dari segala rencanamu itu, apakah karena pengenalanmu atas keadaan Kediri yang sebenarnya, atau karena oleh perasaan kecewa atau tersinggung oleh kegagalan usaha bagi kepentingan sendiri. Bukan maksudku menuduh, tetapi aku minta kalian sempat merenunginya.”

Keempat Pangeran itu seolah-olah tidak mau mendengarkannya lagi. Dalam pada itu Pangeran Indrasunu berkata, “Kita memang mempunyai sikap yang lain. Baiklah. Kita akan menempuh jalan kita masing-masing.”

Demikianlah keempat Pangeran yang masih muda itu meninggalkan Pakuwon Kabanaran. Mereka masih melihat para pengawal yang sedang berlatih. Bagaimanapun juga, mereka harus mengakui, bahwa Pakuwon itu adalah sebuah Pakuwon yang kuat. Jika benar apa yang dikatakan oleh Akuwu Suwelatama, yang membayangkan kemungkinan mereka akan bertemu pada sisi yang berlawanan dari tempat mereka masing-masing berpijak, maka adalah sangat berat untuk berhadapan dengan Akuwu Suwelatama.

Namun dalam pada itu, Pangeran Indrasunu berkata, “Apapun yang akan kita hadapi, kita tidak akan melangkah surut. Aku mempunyai alasan yang kuat untuk bertindak. Namun karena keingkaran kakangmas Suwelatama maka kita harus membuat perhitungan baru. Bukan untuk menggagalkan rencana ini. Tetapi justru sebaliknya, agar rencana kita dapat berhasil dengan baik.”

“Bagus,” sahut Pangeran yang bertubuh kecil, “pada suatu saat kita justru akan mulai dari Pakuwon Kabanaran ini sendiri. Kakangmas Suwelatama harus tahu, dan kemudian menyesal bahwa ia sudah ingkar janji. Jika Pakuwon ini kemudian tidak aman lagi, maka Akuwu Suwelatama tentu akan dinilai lagi kebijaksanaanya. Baik oleh Kediri maupun oeh Singasari.”

“Ya,” jawab Pangeran Indrasunu, “kita akan mulai dari dua pijakan. Yang pertama kita akan memaksa kakangmas Suwelatama untuk menyadari kesalahannya, dan kedua, kita akan mulai dari Singasari. Khususnya sebuah padukuhan di luar Kota Raja yang dihuni orang oleh seseorang bernama Mahendra.”

Pangeran-pangeran itu mengangguk. Sementara Pangeran Indrasunu pun berkata, “Sementara itu, kita akan menyebarkan penjelasan sikap dan pendirian kita kepada rakyat Kediri dan Singasari, bahwa tujuan kita adalah untuk kepentingan mereka semua.”

“Ya. Jika mereka dapat mengerti maka mereka tentu akan membantu kita.” jawab Pangeran yang lain.

Namun tiba-tiba Pangeran yang seorang lagi bertanya, “Tetapi apa yang akan kita katakan kepada mereka agar mereka mengerti bahwa kita telah berbuat untuk mereka? Apakah yang akan terasa langsung oleh orang-orang Kediri, sehingga hal itu akan mendorong mereka untuk membantu kita?”

Pangeran yang lain pun terdiam. Mereka menjadi termangu-mangu. Pertanyaan itu membuat mereka merenung sejenak. Apa yang mereka lakukan itu? Dan apakah yang dapat sebut menguntungkan bagi Kediri itu?

Namun akhirnya Pangeran Indrasunulah yang mencoba memecahkan teka-teki itu. Katanya, “Kita dapat mempergunakan alasan yang paling baik untuk mengajak mulai berpikir. Terutama orang-orang Kediri.”

“Bagaimana?” bertanya saudara-saudaranya.

“Apapun tujuan akhir yang ingin kita capai, maka untuk membangunkan orang-orang Kediri kita dapat mengajak mereka untuk mengenang kembali masa kejayaan yang pernah dimilikinya. Jika kita dapat membawa mereka kepada satu kenangan bagaimana Ken Arok merampas tanah air ini, maka kita sudah mulai melihat hasil dari usaha ini.” berkata Pangeran Indrasunu.

“Aku mengerti,” salah seorang dari keempat Pangeran itu menyahut, “kita dapat mempengaruhi satu dua orang pemimpin pasukan pengawal di samping kekuatan dari padepokan yang sudah pasti akan menjadi alas perjuangan ini. Guru-guru kami sudah sepakat, kecuali Wasi Sambuja yang keadaanya belum memungkinkan.”

Dengan demikian maka keempat Pangeran itu pun telah kembali membulatkan tekad mereka untuk berbuat sesuatu. Mereka menganggap bahwa sikap orang-orang Singasari yang banyak dipengaruhi oleh pandangan hidup dari keturunan orang-orang kebanyakan telah menggoyahkan peradaban mereka.

Karena itulah, maka ketika mereka kemudian berada di Kediri, maka mereka tidak menunda waktu lagi. Dengan dukungan dari guru-guru mereka, maka mereka telah mempersiapkan kekuatan di padepokan-padepokan. Padepokan yang pada umumnya telah dibeayai oleh Pangeran-pangeran itu karena mereka berguru pada padepokan itu.

Namun padepokan Pangeran yang bertubuh kecil itu agak berbeda. Pemimpin padepokan itu adalah seorang bangsawan pula meskipun bukan tataran pertama. Pemimpin padepokan itu adalah bekas seorang Senopati yang mengasingkan diri. Sebenarnyalah sudah ada bibit di dalam hatinya, bahwa ia tidak dapat menerima kenyataan yang berkepanjangan, bahwa Kediri harus tunduk kepada Singasari.

Karena itu, ketika muridnya menyampaikan hal itu kepadanya, maka dengan serta merta ia telah menerimanya sebagai satu sikap yang terpuji.

“Aku akan berbuat apa saja, agar rencana Pangeran itu akan berhasil. Tetapi sudah barang tentu bahwa kita tidak boleh mengharap hasil yang sebaik-baiknya dalam waktu dekat. Besuk atau lusa, atau sepekan atau sebulan lagi.” berkata gurunya.

“Maksud guru?” bertanya Pangeran yang bertubuh kecil itu.

“Kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Kita tidak boleh tergesa-gesa dan salah hitung. Kesalahan yang kita lakukan pada saat-saat persiapan akan menghancurkan usaha itu di tengah perjalanan.”

Pangeran bertubuh kecil itu mengerutkan keningnya. Tetapi akhirnya mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa gurunya tidak akan berbuat seperti Pangeran Suwelatama. Yang mula-mula seolah-olah ia sudah menentukan sikap. Tetapi yang ternyata kemudian menjadi goyah, bahkan ingkar sama sekali.

Demikianlah, maka persiapan-persiapan pun dilakukan dengan diam-diam. Pangeran Indrasunu sudah mengatakan, bahwa mereka akan melakukan gerakan mereka, tidak langsung menusuk ke jantung. Tetapi sebagaimana mereka makan makanan yang panas, mereka akan memulainya dari pinggir. Semakin lama semakin ke tengah. Sehingga akhirnya, pusat pemerintahan pun akan ditelannya.

Di tiga padepokan persiapan-persiapan itu sudah mulai nampak dilakukan. Dengan beaya dari para Pangeran itu, maka mereka dapat menghimpun anak-anak muda yang bersedia menjadi cantrik yang mempunyai kedudukan agak lain dengan cantrik kebanyakan.

Bersama para cantrik, Putut dan Jejanggan mereka menempa diri. Mereka mendapat latihan kanuragan. Baik secara pribadi maupun dalam kelompok-kelompok pasukan yang lebih besar.

Karena hal itu dilakukan di tempat-tempat yang agak terpencil, maka hal itu tidak segera diketahui oleh para pengawal di Kediri.

Sementara itu, di Singasari, sepeninggal Pangeran Indrasunu, maka Mahisa Bungalan pun merasa, bahwa sudah saatnya baginya untuk mulai dengan satu kehidupan baru. Ia sudah merasa mapan untuk mulai dengan tugas-tugas keprajuritan yang sebenarnya.

Pada saat-saat sebelumnya, meskipun ia belum dengan resmi memasuki tugas-tugas keprajuritan, namun ia sudah menjadi keluarga dari kesatuan prajurit Singasari, sehingga karena itu, maka kehadirannya di lingkungan keprajuritan sama sekali bukannya menjadi masalah baru.

Namun dengan demikian, maka Mahisa Bungalan telah mengikat diri dalam tugas-tugas tertentu. Ia tidak dapat berbuat menuruti keinginannya saja. Jika ia ingin melakukan sesuatu, maka ia harus mendasarkannya kepada perintah Senopatinya.

Sementara itu, maka Ken Padmi masih tetap berada di rumah Mahendra. Ia sudah terbiasa hidup bersama kedua adik Mahisa Bungalan yang nakal, tetapi ternyata mereka adalah anak-anak muda yang baik.

Namun dalam pada itu, Mahendra sama sekali tidak mengetahui, bahwa apa yang terjadi di istana Pangeran Wirapaksi itu masih akan membawa akibat yang panjang. Bahwa Pangeran Indrasunu telah menjadikan padukuhannya menjadi salah satu sasaran pertama dari gerakannya, meskipun padukuhannya itu tidak ada hubungannya dengan usaha Pangeran Indrasunu untuk membangunkan orang-orang Kediri dari kealpaannya.

Karena itu, maka Mahendra merasa, kewajibannya telah menjadi berkurang justru setelah Mahisa Bungalan menempatkan dirinya di dalam lingkungan keprajuritan. Sebagai orang tua maka Mahendra pun telah mengayam angan-angan tentang suatu saat, anaknya hidup dalam lingkungan sebuah keluarga kecil.

Sebenarnyalah keempat Pangeran itu memang harus bersabar. Mereka harus memberikan waktu kepada para pemimpin padepokan, guru-guru mereka untuk mempersiapkan tenaga terlatih. Bahkan dengan diam-diam para Pangeran itu telah mengirimkan para pengawal mereka yang terpilih untuk menerima latihan khusus dalam olah kanuragan, terutama dalam kemampuan mereka secara pribadi.

Dalam pada itu, guru dari Pangeran yang bertubuh kecil, yang menyebut dirinya Resi Damar Pamali, telah benar-benar menyusun kekuatan. Adalah di luar dugaan, bahwa ia mampu menghimpun tenaga yang tidak kalah kemampuannya dengan para pengawal di Pakuwon Kabanaran. Sementara kedua orang guru Pangeran yang lain, kekuatan Resi Damar Pamali rasa-rasanya mampu untuk mengimbangi kekuatan Akuwu Suwelatama.

Sementara itu, Pangeran Suwelatama ternyata menjadi lengah. Pangeran itu menganggap bahwa para Pangeran yang telah datang kepadanya itu pun sempat merenungi diri mereka sendiri, sehingga mereka tidak lagi mempunyai angan-angan yang menyesatkan.

Untuk beberapa hari, bahkan beberapa bulan Pangeran Suwelatama masih tetap bersiaga menghadapi segala kemungkinan, jika para Pangeran yang kecewa itu datang untuk mencoba menghukumnya. Namun setelah bulan pertama lewat, menjelang bulan kedua tanpa ada kabar beritanya, maka Pangeran Suwelatama justru telah bersukur, karena menurut dugaannya, saudara-saudaranya itu telah menyadari kekeliruanya.

Tetapi hal itu memang termasuk diperhitungkan sebaik-baiknya oleh Resi Damar Pamali. Bahkan Resi Damar Pamali sempat mengirimkan petugas sandinya untuk melihat keadaan Pakuwon Kabanaran. Namun menurut keterangan yang diperolehnya, Akuwu Suwelatama justru telah mengendorkan kesiagaannya setelah ia menganggap bahwa Pangeran-pangeran itu telah dengan diam-diam membatalkan niatnya.

“Angger Pangeran,” berkata Resi Damar Pamali kepada muridnya, “nampaknya waktu yang kita tunggu itu hampir tiba. Tetapi kita masih harus tetap bersabar. Kita tidak mau gagal. Sekali pukul, Pakuwon itu harus dapat kita hancurkan.”

“Ya, guru,” jawab Pangeran bertubuh kecil itu, “aku memang merasa sakit hati atas sikap kakangmas Akuwu Suwelatama. Ia menganggap aku dan ketiga saudara-saudaraku sebagai kanak-kanak yang masih belum nalar. Karena itulah agaknya ia menjadi lengah pula dan menganggap kami tidak akan berbuat apa-apa, sebagaimana tingkah laku kanak-kanak, yang merajuk dan patah.”

Gurunya tertawa. Katanya, “Kita harus mulai mempersiapkan pasukan. Kita akan mengumpulkan semua kekuatan yang lelah tersedia di padepokan ini.”

Demikianlah, pada saat-saat yang memungkinkan, ketika Akuwu Suwelatama telah hampir melupakan keempat orang Pangeran itu, maka mulailah mereka justru menghimpun kekuatan. Kekuatan dari tiga padepokan yang besar yang dibiayai oleh para Pangeran serta para pengawal, telah berkumpul di padepokan Resi Damar Pamali.

Ternyata kekuatan Resi Damar Pamali itu benar-benar di luar dugaan para Pangeran itu sendiri.

“Kita mempunyai perhitungan yang cermat,” berkata Resi Damar Pamali, “sudah saatnya kita pergi ke Pakuwon Kabanaran. Pakuwon itu akan kita pecah berkeping-keping. Kita akan mendudukinya dan menghimpun kekuatan diatasnya. Dengan demikian maka kekuatan kita akan diperhitungkan oleh siapapun juga, termasuk Kediri dan Singasari. Sementara itu, kita harus dapat mengambil hati rakyat di Kabanaran dan kemudian harus meluas ke daerah yang lain. Bahkan kota raja Kediri dan Singasari. Jika keadaan sudah masak, kita akan dengan mudah memasuki daerah yang orang-orangnya telah mengerti apa yang kita inginkan.”

Keempat Pangeran itu telah bersepakat untuk membangun satu perjuangan itu, merasa bahwa mereka benar-benar telah siap. Sehingga akhirnya, hari-hari yang mereka yang tunggu-tunggu itu pun datang pula atas persetujuan Resi Damar Pamali.

Dengan didukung oleh Resi Damar Pamali sendiri, dua orang pemimpin padepokan yang berpengaruh, para cantrik dan para pengawal pun telah mempersiapkan diri memasuki Pakuwon Kabanaran. Sementara Pakuwon itu sendiri sama sekali tidak menduga, bahwa hal itu akan terjadi.

Karena itu, setelah Pakuwon itu memperingati hari-hari yang mereka banggakan, maka kesiagaan mereka pun mengendor. Apalagi setelah waktu berjalan terus tanpa ada kesan apapun juga tentang sikap keempat Pangeran itu.

Pada saat yang ditentukan, Pakuwon Kabanaran benar-benar telah dikejutkan oleh serangan yang tiba-tiba memasuki daerahnya. Para pengawal yang tidak siaga sepenuhnya terdesak dengan cepat. Sementara isyarat telah mengumandang merambat dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain mendahului kemajuan pasukan Resi Damar Pamali.

Isyarat yang sampai ke telinga para pengawal di pusat pemerintahan Pakuwon Kabanaran telah terkejut. Dengan apa adanya para pengawal segera mempersiapkan diri. Mereka segera memasang gelar menghadapi penyerang yang merambat mendekati kota. Sebenarnyalah pasukan itu seolah-olah tidak terhambat sama sekali. Pasukan pengawal Pakuwon Kabanaran terdesak dengan cepat. Bahkan dua orang penghubung telah mendahului pasukan pengawal yang berada di luar kota untuk menyampaikan laporan tentang kekuatan pasukan yang menyerbu Pakuwon itu.

“Kekuatan yang sangat besar.” berkata penghubung itu.

Berita itu memang sangat mengejutkan. Dari penghubung itu Akuwu Suwelatama mengetahui bahwa yang datang itu adalah saudara-saudaranya sendiri yang mendendamnya, karena ia tidak mau dengan langsung melibatkan diri pada usaha mereka untuk menumbuhkan perubahan di Kediri dan Singasari.

Tetapi bahwa kekuatan yang datang itu tidak terduga besarnya, memang sangat mengherankannya.

Tetapi penghubung yang datang kepadanya itu dapat menjelaskannya, bahwa sebagian dari mereka adalah pengawal dari para pangeran itu yang nampaknya memang sudah dipersiapkan, dengan kekuatan dari beberapa padepokan.

Akuwu Suwelatama mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Pasukan kita memang tersebar karena kita tidak menduga hal ini akan terjadi.”

“Isyarat ini akan memanggil mereka.” desis seorang Senopati.

“Tetapi memerlukan waktu yang barangkali tidak akan dapat mengimbangi kecepatan laju pasukan empat Pangeran itu.” desis Pangeran Suwelatama.

“Kita akan berusaha, Sang Akuwu.” jawab Senopati itu, “Kita akan mempertahankan Pakuwon ini sampai batas kemampuan terakhir.”

Akuwu Suwelatama mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah ia mulai memperhitungkan keadaan dengan cermat.

Belum lagi Akuwu Suwelatama mengambil keputusan, maka telah datang penghubung berikutnya. Dengan cemas salah seorang dari mereka berkata, “Kekuatan mereka tidak dapat diimbangi. Kami telah melihat pasukan yang memasang gelar di luar gerbang kota. Tetapi kekuatan itu tidak akan seimbang. Yang datang bagaikan banjir bandang, sementara bendungan yang kita pasang tidak lebih dari seonggok dedaunan.”

“Bagaimana pertimbanganmu?” bertanya Pangeran Suwelatama.

“Pasukan kita akan digulung tanpa arti.” jawab penghubung itu.

Pangeran Suwelatama mengangguk-angguk. Sementara ia tidak akan dapat menunggu para pengawal yang tersebar. Yang bahkan sebagian dari mereka, sebagaimana biasanya, secara bergilir diperkenankan kembali ke rumah masing-masing.

Namun dalam pada itu, isyarat yang terdengar di seluruh kota itu telah memanggil beberapa orang pengawal yang sedang tidak bertugas. Dengan bergegas mereka kembali ke pasukan masing-masing. Namun yang jumlahnya memang kurang memadai. Sedangkan pasukan yang tersebar di tempat-tempat yang jauh menghadapi kemungkinan-kemungkinan meluasnya lagi beberapa kelompok perampok, sulit untuk ditunggu kehadirannya dalam waktu dekat.

Karena itu, setelah berbicara dengan beberapa orang Senopati, akhirnya Akuwu Suwelatama telah mengambil satu sikap yang sangat hati-hati.

“Kita tidak mengambil cara yang kasar untuk langsung berhadapan,” berkata Pangeran Suwelatama, “kita harus dapat memperhitungkan keadaan dengan cermat. Jika kita berkeras pada harga diri, maka kita akan tenggelam. Tetapi jika kita memperhitungkan keadaan dengan bijaksana, kita akan tetap menguasai keadaan, meskipun harus melalui jalan yang berliku.”

“Maksud Akuwu?” bertanya penghubung yang menunggu hasil pembicaraan dan keputusan Akuwu dengan hampir tidak sabar.

“Kita akan menarik pasukan kita mundur.” berkata Akuwu Suwelatama, “Kita akan menyusun kekuatan dengan menghubungi pasukan kita yang tersebar. Pada suatu saat, kita akan kembali lagi dengan kekuatan kita seutuhnya.”

Kebijaksanaan itu memang dapat dimengerti. Sudah tentu Akuwu Suwelatama tidak akan dapat memerintahkan para pengawalnya untuk membunuh diri di medan tanpa perhitungan, hanya semata-mata karena harga diri.

Karena itu, maka perintah yang jatuh, para penghubung itu agar segera menyampaikan keputusan Akuwu Suwelatama. Semua pasukan ditarik dan berkumpul di tempat yang sudah ditentukan oleh Akuwu Suwelatama. Sementara itu, Akuwu pun telah memerintahkan beberapa penghubung yang lain untuk menyampaikan perintah penarikan pasukan yang tersebar, justru pada saat para perampok yang datang dari luar daerah mulai menjamah Pakuwon yang tenang itu.

Ternyata kebanggaan mereka yang belum lama mereka kenang, sepuluh tahun yang lalu, sejak berdirinya Pakuwon itu, telah terjadi malapetaka. Sehingga karena itu, maka orang-orang terpenting di kota Kabanaran harus menyingkir bersama pasukan pengawal khusus.

Demikianlah, maka pasukan yang telah memasang gelar di hadapan regol kota telah mendapat perintah untuk menarik diri. Demikian juga para pengawal yang sedang bertempur di medan untuk menghambat kemajuan pasukan lawan.

Ada beberapa orang Senopati yang kecewa mendengar perintah itu. Namun akhirnya mereka pun menyadari, bahwa mereka tidak boleh kehilangan pertimbangan dan perhitungan. Apalagi setelah mereka mendapat gambaran kekuatan pasukan lawan yang menyerang.

Demikianlah kota itu telah dikosongkan. Ketika pasukan keempat Pangeran itu mendekati kota, maka segera mereka mengetahui bahwa para pengawal tidak menghambat kemajuan mereka.

Karena itu, maka dengan mudah mereka memasuki pintu gerbang kota yang terbuka tanpa seorang pengawalpun.

Dengan demikian, maka dengan mudah kota Pakuwon Kabanaran telah mereka kuasai dalam waktu yang termasuk singkat. Perlawanan hanya mereka jumpai sedikit di perbatasan. Kemudian mereka telah mendapatkan kesempatan yang luas untuk maju tanpa hambatan sama sekali.

Tanpa banyak kesulitan maka pasukan Resi Damar Pamali bersama keempat Pangeran itu telah menduduki Pakuwon Kabanaran yang kuat, tetapi tidak bersiaga. Sementara itu, kedua orang guru Pangeran yang lain pun telah berada di antara mereka pula.

Hanya Pangeran Indrasunu sajalah yang tidak didampingi oleh gurunya, justru karena gurunya mengetahui kelemahan dari alas perjuangan Pangeran Indrasunu itu.

Namun bagi Pangeran Indrasunu, Resi Damar Pamali, guru dari Pangeran Bujakerta yang bertubuh kecil itu telah dapat dianggap sebagai ganti gurunya. Justru Resi Damar Pamali itu mempunyai sikap dan pandangan yang sama dengan dirinya sendiri dan ketiga saudaranya.

Kedatangan pasukan yang tiba-tiba itu telah mencemaskan hati orang-orang Kabanaran yang tidak sempat menyingkir. Mereka seakan-akan berdiri di atas bara yang menyala. Mereka yang telah menduduki kota itu tentu dapat berbuat sewenang-wenang atas mereka.

Tetapi dugaan mereka salah. Pangeran Indrasunu dengan persetujuan Resi Damat Pamali telah memerintahkan setiap orang dalam pasukannya untuk berbuat sebaik-baiknya terhadap orang-orang Pakuwon Kabanaran. Mereka harus mengambil hati agar orang-orang Kabanaran yakin bahwa Pangeran Indrasunu tengah berjuang bagi kepentingan mereka.

“Kabar tentang sikap orang-orang kita akan segera memencar ke segenap sudut Pakuwon ini,” berkata Resi Damar Pamali, “hanya kepada para pengawal Pakuwon ini yang tidak mau menyerah kita akan berbuat kasar.”

Demikianlah sejak hari pertama mereka berada di Pakuwon Kabanaran, Pangeran Indrasunu dan Resi Pamali telah mulai dengan rencana mereka untuk menyusun pemerintahan. Bahkan mereka sudah merencanakan untuk menghimpun anak-anak muda yang tersisa untuk memasuki satu lingkungan pasukan pengawal yang baru dengan janji yang dapat mempengaruhi hati mereka.

“Kita adalah anak-anak muda yang bercita-cita,” berkata Pangeran Indrasunu, “meskipun kakangmas Suwelatama masih juga terhitung muda, tetapi ia telah melupakan alas tempat ia berpijak. Ia sudah tenggelam dalam kedudukannya yang dapat memberikan apa saja yang diingininya.”

Sementara itu, Pangeran Suwelatama yang terdesak dari Pakuwon Kabanaran telah menyusun kekuatan agak jauh dari kota. Akuwu Suwelatama telah memilih tempat untuk sementara di sebuah hutan kecil yang dipagari oleh pebukitan. Sambil menyusun kekuatan yang ada, Akuwu Suwelatama juga menunggu pasukannya yang tersebar, yang telah diperintahkan untuk berkumpul di tempat yang sudah ditentukannya.

Tetapi ketika dua orang penghubung kembali menghadap Akuwu Suwelatama, justru telah timbul satu masalah baru yang menambah rumit persoalan yang dihadapinya.

Dengan jantung yang berdebar-debar Akuwu mendengarkan penghubung itu memberikan laporan, “Akuwu, Panglima pasukan pengawal yang berada di hutan perbatasan menunggu perintah. Sebenarnyalah Panglima telah melihat satu gerakan yang kuat dari sekelompok penjahat yang dipimpin oleh Ki Jalatang. Rakyat di belakang hutan sudah menjadi sangat cemas. Jika Ki Jalatang itu memasuki tlatah Pakuwon Kabanaran, maka rakyat di sekitar hutan perbatasan itu akan menjadi sasaran kejahatan yang tidak akan terlawan. Sementara Panglima menyiapkan jebakan dan mudah-mudahan akan berhasil, maka datang perintah Akuwu untuk menarik pasukan itu karena keadaan yang gawat di Pakuwon ini.”

“Bagaimana dengan pasukan di padang Padiangan?” bertanya Akuwu.

“Pasukan di padang Padiangan akan segera menghadap Akuwu. Tidak ada persoalan yang gawat di daerah itu.” jawab penghubung itu. Lalu, “Tetapi pasukan di daerah rawa-rawa Kedung Sertu nampaknya terikat juga oleh satu keadaan yang mirip dengan para pengawal di hutan perbatasan. Agaknya gerombolan yang bergerak di luar perbatasan menghadap ke hutan dan rawa-rawa Kedung Sertu itu mempunyai alas kekuatan yang sama.”

Akuwu Suwelatama menjadi ragu-ragu untuk mengambil keputusan. Namun ia merasa sangat berat untuk menjatuhkan perintah menarik pasukan yang sedang menghadapi kekuatan dari sekelompok penjahat yang akan merusak ketenangan hidup rakyat kecil di perbatasan.

Karena itu, maka perintah Akuwu kemudian kepada para penghubung, “Perintahkan kepada pasukan yang berada di Padiangan untuk secepatnya datang. Kemudian pasukan di hutan perbatasan dan daerah rawa-rawa di Kedung Sertu untuk tetap tinggal. Tetapi sebaiknya mereka tidak menunggu. Mereka harus mengambil sikap lebih cepat. Baru setelah mereka mengatasi keadaan, mereka aku perintahkan untuk mencari hubungan dengan aku. Aku tidak dapat mengorbankan rakyat di perbatasan itu apapun alasannya.”

Penghubung itu pun kemudian meninggalkan Akuwu dengan pasukan yang ada padanya. Namun dengan demikian, maka Akuwu masih harus membuat perhitungan-perhitungan yang cermat untuk mengatasi keadaan.

Tetapi menurut perhitungan Akuwu Suwelatama, pasukan yang ada di padang Padiangan itu tidak akan cukup kuat mengatasi kekuatan keempat Pangeran yang datang dibantu oleh guru-guru mereka dengan seluruh kekuatan di padepokan-padepokan. Apalagi Akuwu itu pun menyadari, bahwa pasukan yang datang itu memang sudah dipersiapkan cukup lama dengan beaya yang disediakan oleh para Pangeran yang kaya itu.

Karena itulah, maka Akuwu Suwelatama harus membuat perhitungan yang cermat menghadapi keadaan. Sehingga dengan demikian maka ia tidak dapat segera mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu.

Dalam keadaan yang sulit itu, maka Akuwu Suwelatama teringat kepada Wasi Sambuja. Barangkali ia dapat minta pertolongannya untuk memperingatkan sekali lagi, agar Pangeran Indrasunu tidak menjadi semakin jauh tersesat.

Karena itu, maka Akuwu Suwelatama pun telah memerintahkan penghubungnya untuk pergi ke padepokan Wasi Sambuja.

“Katakan, bahwa aku sudah terdesak. Karena keadaan yang gawat, aku tidak dapat meninggalkan pasukanku.” pesan Akuwu Suwelatama, “Jika Wasi Sambuja bersedia, aku mohon ia datang ke tempat ini.”

Demikianlah penghubung itu pun segera melakukan perintah Akuwu. Dengan tergesa-gesa ia telah menempuh sebuah perjalanan menuju ke padepokan Wasi Sambuja.

Berita tentang tingkah laku Pangeran Indrasunu telah membuat Wasi Sambuja berprihatin. Ia menyesali tingkah lakunya sendiri pada saat-saat ia masih mengasuh Pangeran yang muda itu. Ia terlalu memanjakannya dan memenuhi segala keinginannya, yang baik maupun yang kurang baik.

Ternyata bahwa kemanjaannya itu telah menumbuhkan persoalan yang gawat bagi satu lingkungan yang besar. Bukan sekedar pada beberapa pribadi tertentu saja.

Gambaran yang diberikan oleh penghubung itu tentang keadaan Akuwu Suwelatama membuatnya menjadi semakin gelisah. Wasi Sambuja memuji kebijaksanaan Akuwu yang tidak mau memanggil pasukannya yang sedang berusaha melindungi rakyat kecil di perbatasan meskipun ia sendiri sangat membutuhkannya.

“Tetapi dengan demikian keadaan Akuwu itu sendiri menjadi gawat.” berkata Wasi Sambuja.

“Ya,” jawab penghubung itu, “pada suatu saat, keempat Pangeran itu dapat saja mendesaknya semakin jauh ke dalam hutan, atau mengepungnya dan menghancurkannya.”

“Tetapi bukankah perintah Akuwu kepada pasukannya, apabila tugas mereka telah selesai, mereka harus datang menghadap?” bertanya Wasi Sambuja.

“Tugas itu masih panjang. Para penjahat itu berpangkal di luar daerah Pakuwon Kabanaran sehingga sulit bagi pasukan kami untuk langsung menusuk ke dalam sarang mereka.” jawab penghubung itu. Lalu, “Sementara itu, kedudukan keempat Pangeran itu akan menjadi semakin kuat. Dengan janji palsu dan hadiah-hadiah yang berharga, mereka akan dapat menghimpun kekuatan di Pakuwon Kabanaran sendiri, sementara mereka dapat mulai dengan hubungan-hubungan baru dengan tetangga di sekitar Pakuwon kami.”

“Tentu hubungan itu tidak akan dapat berlangsung,” sahut Wasi Sambuja, “kedudukan keempat Pangeran itu masih belum diakui.”

“Tetapi jika itu merupakan satu kenyataan, bahwa yang berkuasa adalah mereka, mungkin ada pertimbangan-pertimbangan lain dari Kediri dan Singasari.” sahut penghubung itu.

Wasi Sambuja mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud penghubung itu. Namun baginya sulit dapat membayangkan cara yang paling yang dapat ditempuh oleh Akuwu Suwelatama. Ia sendiri tidak yakin, apakah pengaruhnya masih cukup kuat untuk mempersilahkan Pangeran Indrasunu mengurungkan niatnya yang sudah dimulainya itu.

Karena itu, maka katanya kepada penghubung itu, “Baiklah. Aku akan menghadap Akuwu Suwelatama. Mungkin aku dapat mengatakan serba sedikit pertimbangan-pertimbangan yang akan dapat ditempuh.”

Demikianlah, maka bersama penghubung itu, Wasi Sambuja telah pergi menghadap Akuwu Suwelatama. Sebenarnyalah bahwa Resi Sambuja melihat seperti apa yang dikatakan oleh penghubung yang datang kepadanya, Dengan pasukan yang ada, Akuwu menyusun pertahanannya di sebuah hutan kecil. Namun menurut Akuwu Suwelatama, ia tidak akan mampu bertahan apabila pasukan keempat Pangeran itu mengejarnya lebih jauh.

“Tetapi agaknya mereka sedang menyusun landasan.” berkata Akuwu Suwelatama.

“Tetapi apakah sementara itu pasukan Akuwu yang tersebar sudah dapat ditarik semuanya?” bertanya Wasi Sambuja.

“Aku khawatir bahwa mereka masih belum dapat menyelesaikan tugas mereka. Jika mereka harus aku tarik karena persoalan ini, maka rakyat kecil akan menjadi korban keganasan para penjahat yang sama sekali tidak mau membuat pertimbangan-pertimbangan apapun juga yang menyangkut persoalan yang lebih luas. Mereka tidak peduli apakah Pakuwon ini sedang mengalami kekalutan atau sama sekali tidak ada persoalan. Mereka justru merasa mendapat kesempatan sebaik-baiknya untuk melepaskan ketamakan dan kedengkian mereka. Mereka akan dapat berbuat sewenang-wenang.” jawab Akuwu Suwelatama. Kemudian, “Meskipun aku mengerti, bahwa mempertahankan Pakuwon ini merupakan satu kewajiban penting, namun apakah aku akan dapat mengorbankan rakyat di perbatasan itu?”

Wasi Sambuja mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia pun kemudian bertanya, “Apakah kita dapat mempergunakan pasukan dari Kediri atau Singasari untuk mengusir mereka?”

Akuwu Suwelatama menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku belum memikirkannya. Aku berharap bahwa aku akan dapat mengatasi persoalan ini sendiri. Jika aku menyampaikan persoalan ini kepada Kediri atau Singasari, maka keempat Pangeran itu akan menjadi buruan yang akan berakibat sangat buruk bagi mereka.”

“Tetapi dengan perbuatan mereka itu, maka mereka sudah menumbuhkan satu persoalan yang gawat. Pakuwon ini bukan barang mainan, Dan mereka sudah merebutnya dari tangan yang berhak. Apakah dengan demikian, masih akan ada pertimbangan-pertimbangan yang justru akan menyulitkan penyelesaiannya?”

Akuwu Suwelatama rasa-rasanya memang sedang berdiri di simpang jalan. Apa bila ia membiarkan tingkah laku keempat Pangeran itu, maka mereka tentu akan semakin jauh tersesat. Tetapi justru karena mereka telah bertindak, maka apabila ia melaporkannya kepada para pemimpin di Kediri dan Singasari, maka akibatnya akan sangat gawat bagi keempat Pangeran yang sebenarnya adalah saudara-saudaranya pula.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...