Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 17-02

PANASNYA BUNGA MEKAR : 17-02
Ternyata Ki Benda, Ki Walikat dan Gampar Wungkul telah berbulat tekad. Mereka akan menyerang orang-orang Kediri itu dengan segenap kekuatan yang ada dengan taruhan yang paling mahal yang akan dapat mereka berikan. Jika mereka gagal, maka mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari maut, tetapi jika mereka berhasil maka di samping dendam yang dapat mereka lepaskan, juga isi pedati itu akan sangat menarik perhatian.

“Kita akan mengepung mereka” berkata Ki Benda, “kita akan menyerang dari arah yang berbeda”

“Seperti yang pernah kita lakukan” sahut Ki Walikat.

“Mereka akan kebingungan“ sambung Ki Gampar Wungkul.

“Dan yang pernah kalian lakukan itu ternyata gagal“ potong Ki Dukut.

“Jumlah kami tidak memadai” sahut Macan Wahan, “sekarang. orang-orang yang menyebut dirinya sais itu tidak akan dapat berbuat banyak. Mereka akan kita hadapi, dan mereka akan mati di ujung senjata kami”

“Aku masih tetap ingin mencincang orang yang bernama Mahendra” berkata Ki Benda, “jika saat itu perhatianku tidak terpecah melihat kekalahan pasukanku, maka aku tidak akan melepaskan orang yang bernama Mahendra, yang mengaku sebagai pedagang besi bertuah dan batu-batu berharga itu”

“Siapapun lawanmu, namun sasaran utama adalah Pangeran Kuda Padmadata, isteri dan anak laki-lakinya” berkata Macan Wahan.

“Dendam dan ketamakan” desah Ki Dukut.

“Ki Dukut” berkata Macan Wahan, “yang mendorong kami untuk melakukan hal ini adalah Ki Dukut sendiri. Karena itu, sekarang Ki Dukut jangan menghalangi kami”

“Bukan menghalangi, tetapi aku ingin kalian belajar mempergunakan nalar. Bukan hanya kemampuan tenaga dan kekuatan ilmu kanuragan tanpa nalar” Ki Dukut hampir berteriak.

Tetapi jawab Macan Wahan, “Marilah. Kami sudah terlanjur basah. Tidak sebaiknya kita melangkah kembali”

Ki Dukut hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Dengan, jantung yang serasa berdegup semakin keras, ia mengikuti orang-orang berilmu hitam itu mempersiapkan diri. Mereka kemudian telah membagi diri menjadi empat kelompok. Mereka akan menyerang dari segenap jurusan. Jika jatuh perintah Macan Wahan, maka mereka serentak akan menyerang, termasuk Ki Dukut Pakering.

“Apakah aku juga harus ikut membunuh diri?“ bertanya Ki Dukut kepada diri sendiri. Meskipun ia tidak pasti, bahwa orang-orang yang berilmu hitam itu akan kalah, namun itulah kemungkinan terbesar yang dapat terjadi. Para pengawal Kediri bukan orang-orang yang dipungut begitu saja di pinggir jalan, kemudian diletakkan pedang di lambungnya dan diberi berpakaian seorang pengawal.

Tetapi Macan Wahan, Ki Benda, Ki Walikat dan Gampar Wungkul itu sudah mengambil sikap. Dendam yang menyala di hati mereka, tidak lagi dapat memberikan kesempatan kepada meraka untuk berpikir lebih panjang. Apalagi Macan Wahan sudah merasa dirinya mengetahui dengan pasti persoalan yang dihadapinya. Ia merasa sudah melihat dengan matanya sendiri, bahwa jumlah orang-orang Kediri itu tidak terlalu banyak.

Betapapun juga ia mengusahakan, namun Macan Wahan nampaknya justru sudah memerintahkan kepada kawan-kawannya untuk bersiaga.

“Kita akan segera melakukannya. Bulan sudah melewati puncak langit” berkata Macan Wahan.

Ki Benda, Ki Walikat dan Ki Gampar Wungkul pun segera bersiap. Mereka telah membagi kekuatan yang ada dalam empat kelompok yang akan dipimpin oleh Ki Benda, Ki Walikat, Ki Gampar Wungkul dan Macan Wahan sendiri.

Sementara itu Ki Dukut sudah tidak dapat berbuat sama sekali. Apalagi ketika Macan Wahan berkata, “Ki Dukut. Kami serahkan Pangeran, isteri dan anaknya kepada Ki Dukut. Kami akan menghancurkan semuanya. Sementara Ki Dukut kami persilahkan untuk langsung menusuk sampai ke pusat jantung dari persoalan yang sedang kita hadapinya, sekaligus memberikan satu peringatan kepada para bangsawan Kediri, bahwa mereka harus bangun dari tidur mereka yang nyenyak. Pangeran Kuda Padmadata adalah satu contoh dari seorang bangsawan yang menjilat kekuasaan Singasari atas Kediri”

Ki Dukut tidak dapat berbuat lain kecuali mengangguk-angguk, betapapun keragu-raguan telah mencengkam dadanya.

Debar jantung Ki Dukut menjadi semakin keras, ketika orang-orang berilmu hitam itu mulai bergerak. Mereka sudah mendapat petunjuk, bagaimana mereka harus menyerang.

Beberapa kelompok di antara mereka telah melingkar untuk mengambil jarak. Sementara Macan Wahan sendiri akan memimpin sergapan itu dengan memberikan isyarat, kapan mereka mulai menyerang.

“Ki Dukut” berkata Macan Wahan, “terserahlah kepada Ki Dukut dari mana Ki Dukut akan menyerang. Apakah Ki Dukut akan berada di dalam kelompokku, atau berada di kelompok yang lain”

Ki Dukut merenung sejenak. Kemudian katanya, “Aku akan berada di dalam kelompok Ki Benda”

“Bagus” sahut Ki Benda, “kita akan menyerang mereka dari arah bintang Gubug Penceng”

Demikianlah, maka empat kelompok orang-orang berilmu hitam itu telah mendekati tempat peristirahatan Pangeran Kuda Padmadata dengan para pengawalnya. Mereka telah memperhitungkan waktu yang paling tepat. Beberapa saat, kelompok-kelompok itu telah berada di tempatnya sambil menunggu isyarat dari Macan Wahan.

Dalam pada itu, Ki Dukut memang berada di antara kelompok yang dipimpin oleh Ki Benda. Tetapi nampaknya ia selalu digelisahkan oleh karagu-raguannya. Menurut perhitungannya, sulit bagi orang-orang berilmu hitam itu untuk dapat mengatasi kemampuan para pengawal meskipun mungkin jumlah mereka lebih banyak.

Sementara itu bulan telah mulai turun. Malam menjadi semakin dingin. Sementara perapian di antara para pengawal dari Kediri itu masih tetap menyala. Mereka yang menunggui perapian itu selalu melontarkan kekayuan dan ranting-ranting kering yang mereka dapatkan di sekitar tempat itu ke dalam api.

Sejenak Macan Wahan menunggu untuk meyakinkan bahwa kawan-kawannya telah berada di tempat yang ditentukan Baru setelah ia menunggu sejenak dan yakin, maka ia pun segera melontarkan isyarat bunyi kepada kawan-kawannya.

“Tidak usah dengan bunyi tersamar. Pukul saja kentongan kecil atau berteriak sajalah” berkata Macan Wahan kepada pengikutnya yang terdekat.

Ternyata orang-orang berilmu hitam itu memang sudah menyiapkan sebuah kentongan kecil. Karena itu, maka ia pun kemudian telah memukul kentongan itu sekuat-kuatnya.

Hampir serentak, terdengar orang-orang itu bersorak dan berteriak sekuat-kuatnya. Suaranya meledak seakan-akan memecahkan langit.

Teriakan-teriakan itu benar-benar telah mengejutkan. Namun dengan serentak pula, para pengawal dari Kediri itu pun segera bersiap. Mereka yang sempat tertidur pun segera bangkit. Sambil menyambar senjata masing-masing maka mereka pun segera bersiap menurut kelompok mereka masing-masing.

“Mereka datang dari empat arah“ seorang pengawas telah berteriak.

Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada Pangeran Kuda Padmadata, “Pangeran kembali kepada tugas Pangeran. Tetapi nampaknya mereka datang dengan kekuatan yang lebih besar. Karena itu, biarlah mahisa Bungalan berada bersama Pangeran dengan kedua adik-adiknya beserta seorang pengawal.

Mahisa Bungalan yang diberi tahu kemudian tidak membantah. Iapun segera minta kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Murti untuk bersamanya menjaga Pangeran Kuda Padmadata bersama isterinya, ditambah dengan seorang pengawal yang pilih tanding.

Mahisa Agni, Mahendra, Witantra dan Ki Wastupun segera menempatkan dirinya. Mereka telah berada di dalam kelompok-kelompok yang akan menghadapi serangan lawan yang datang dari empat arah.

“Mereka memang sudah memperkuat diri“ gumam Mahisa Agni kepada seorang pengawal yang berdiri di sisinya.

“Ya, jumlah itu tidak susut. Justru telah bertambah” berkata pengawal itu yang kebetulan adalah pengawal yang mengikuti Pangeran Kuda Padmadata sejak dari Kediri, ke Singasari dan kembali lagi ke Kediri.

Dalam pada itu, Witantra, Mahendra dan mereka yang telah mengikuti iring-iringan itu dari Kediri telah melihat, bahwa orang-orang berilmu hitam itu memang menjadi semakin kuat. Karena itu, maka mereka pun telah memperingatkan para pengawal, agar mereka menjadi semakin berhati-hati.

“Kita tidak boleh kehilangan mereka lagi” berkata Witantra kepada para pengawal yang bersamanya, “demikian kita kehilangan mereka, maka mereka datang lagi dengan kekuatan yang lebih besar”

Para Pengawalnya mengangguk-angguk. Yang tidak melihat orang-orang berilmu hitam itu pada serangan pertama, mencoba membayangkan, apa yang teriah” terjadi. Sementara mereka yang mengetahui serangan sebelumnya, memang dapat melihat, bahwa jumlah lawan nampaknya semakin kuat.

Karena itulah, maka mereka pun menjadi semakin berhati-hati.

Namun dalam pada itu, ternyata Pangeran Kuda Padmadata yang berada di pusat lingkaran itu pun mempunyai perhitungan seperti Witantra. Karena itu, maka iapun segera meneriakkan perintah kepada para pengawalnya, “Jangan sampai mereka terlepas. Yang menyerah kalian tangkap, yang melawan terpaksa kalian selesaikan”

Perintah itu telah memberikan kemantapan kepada para pengawal. Mereka mengerti sepenuhnya, apa yang harus mereka lakukan menghadapi orang-orang berilmu hitam itu.

Sejenak kemudian maka para pengawal Kediri itu pun maju menyongsong orang-orang berilmu hitam itu. Pada benturan pertama, ternyata kedua pasukan itu merasakan bahwa mereka tidak dapat mengabaikan kekuatan lawan.

Pertempuran yang sengit pun segera terjadi. Ki Benda yang kebetulan harus bertemu dengan Witantra berteriak, “He, dimana pedagang besi karatan yang mengaku bernama Mahendra itu he? Yang terkenal di Kediri sebagai pedagang barang berharga, tetapi sama sekali tidak berharga itu?“

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kenapa kau mencari Mahendra? Kau di sini bertemu dengan aku”

“Aku tidak peduli. Panggil Mahendra” bentak Ki Benda.

Tetapi Witantra tidak menghiraukannya. Ia pun bertempur semakin cepat, agar lawannya tidak terpancang kepada orang lain, meskipun dengan demikian ia akan lengah. Namun Witantra tidak ingin berbuat licik.

Karena Witantra bertempur semakin cepat itulah, maka Ki Benda terpaksa memperhatikan lawannya. Ternyata ia pun kemudian mulai meyakini bahwa lawannya yang inipun memiliki kemampuan yang tinggi.

“Ki Sanak” berkata Witantra, “mungkin Mahendra terlalu baik hati sehingga ia telah melepaskan para benturan yang pertama jika kau sudah ikut pula. Tetapi sekarang aku akan berbuat lain. Aku tidak akan melapaskanmu, karena perintah yang aku terima adalah, menangkap kalian semuanya, karena kalian telah berbuat kesalahan sampai dua kali”

“Persetan” geram Ki Benda, “aku akan membunuhmu, kemudian aku akan mencincang pedagang besi tua itu sampai lumat dengan kerisku ini”

Witantra sama sekali tidak menjawab, karena ia mengerti bahwa jawabannya itu tidak akan ada gunanya sama sekali. Namun dalam pada itu. iapun segera meningkatkan ilmunya sehingga Ki Benda mulai terdesak karenanya.

“Anak iblis” berkata Ki Benda di dalam hatinya, “aku kehilangan Mahendra, justru mendapat lawan yang semakin gila”

Sebenarnyalah bahwa Witantra memang ingin untuk tidak melepaskan lawannya seperti yang dimaksud oleh Pangeran Kuda Padmadata. Karena jika mereka terlepas, ada kemungkinan bahwa mereka akan datang lagi dengan kekuatan yang lebih besar.

Demikianlah pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin seru. Macan Wahan tiba-tiba saja telah berhadapan dengan Mahisa Agni, dan Ki Gampar Wungkul lah yang berada di arena melawan Mahendra. Sementara Ki Walikat bertempur mempertaruhkan nyawanya melawan Ki Wastu.

Mahisa Bungalan hanya dapat menggeram ketika ia menyaksikan pertempuran berlangsung dengan sengitnya. Ia tidak dapat meninggalkan Pangeran Kuda Padmadata hanya dengan adik-adiknya saja. Setiap saat, orang yang tidak terduga kemampuannya dapat saja menyusup untuk sengaja membunuh isteri Pangeran Kuda Padmadata dan anak laki-lakinya itu.

Namun dalam pada itu, ternyata tidak ada seorang pun yang menyusup pertahanan para pengawal. Pertempuran masih tetap berlangsung dalam lingkaran yang menjadi bulat, karena mereka yang datang dan mereka yang bertahan telah menebar.

Sementara itu, Macan Wahan bertempur dengan garangnya. Ia mencoba untuk memaksa lawannya terdesak pada benturan-benturan pertama. Namun ketika pertempuran itu berlangsung beberapa saat, maka mulailah Macan Wahan merasa, bahwa yang dihadapi itu tentu salah seorang dari sais yang pernah ditatokan oleh ketiga orang kawannya yang terdahulu.

Karena itu, maka iapun menjadi semakin berhati-hati. Ia meningkatkan kemampuannya selapis demi selapis.

Namun ternyata bahwa ia tidak mempunyai kesempatan untuk mendesaknya. Meskipun ia sudah sampai kepada tataran tertinggi dari ilmunya, namun lawannya masih tetap bertahan.

“Gila” geram Macan Wahan, “namun jika setitik darahnya sempat membasahi senjataku dan kuku ibu jariku, maka akan berarti sekali bagi peningkatan tuah senjata dan kemampuanku”

Karena itu, maka Macan Wahan pun mulai berusaha untuk dapat melukai Mahisa Agni dan kemudian menggoreskan darah orang itu pada jari-jarinya, sesuai dengan kepercayaan hitamnya.

Sementara itu Gampar Wungkul pun telah bertemu dengan Ki Wastu yang menyongsongnya. Ternyata bahwa keduanya segera terlibat kedalam satu pertempuran yang seru. Masing-masing langsung mengerahkan kemampuan mereka, karena masing-masing ingin segera menyelesaikan pertempuran itu. Tetapi ternyata bahwa keduanya harus mengakui, bahwa mereka telah membentur kekuatan yang seimbang.

Dalam hiruk pikuknya pertempuran itu. ternyata Ki Dukut masih lagi ikut bersama-sama orang hitam itu menyerang. Keragu-raguannya benar-benar telah mencengkam jantung. Bahkan menurut perhitungannya, orang-orang dari lingkungan hitam itu tidak akan dapat memenangkan pertempuran.

Sejenak Ki Dukut itu memandangi pertempuran yang menjadi semakin dahsyat. Di tengah-tengah lingkaran pertempuran itu masih terdapat perapian yang menyala, sehingga di depan api yang menyala itu seakan-akan ia melihat bayangan-bayangan hitam yang sedang menarikan tarian maut dengan sangat mengerikan.

Untuk beberapa saat Ki Dukut benar-benar dicengkam oleh keragu-raguan. Kadang-kadang ia pun menganggap bahwa orang-orang berilmu hitam itu tentu akan menang. Pemimpin-pemimpinnya akan segera dapat mengalahkan lawan-lawannya. Jika seorang melawan seorang, mereka ternyata tidak mampu berbuat apa-apa seperti yang sudah terjadi, maka bersama-sama dengan satu dua orang pengikutnya, mereka akan segera dapat membunuh lawannya.

“Jika aku ikut pula tampil di arena, maka pekerjaan itu akan dipercepat. Apa artinya pengawal-pengawal yang lain, jika salah seorang diantara kami sudah berhasil melepaskan diri dari lawan yang memiliki kemampuan seimbang” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.

Namun demikian ia tidak bergerak. Ia tidak berlari nenyusul orang berilmu hitam itu dan langsung menusuk sampai kepusat lingkaran pertempuran.

Sebenarnyalah bahwa perhitungan Ki Dukut itu memang memiliki kebenaran. Ketika benturan itu berlangsung semakin lama, maka semakin jelas, bahwa para pengawal dari Kediri yang jumlahnya lebih sedikit itu telah berhasil mendesak lawannya. Para perwira dari para pengawal ternyata dengan cepat telah menyapu lawan-lawannya. Meskipun mereka bukannya pembunuh-pembunuh yang tidak berjantung, namun di dalam hiruk pikuknya pertempuran, akan segera terjadi benturan kekerasan yang mungkin akan memaksa seseorang untuk menjadi pembunuh.

Ki Dukut yang mencoba mendekati pertempuran itupun kemudian melihat, sebenarnyalah bahwa orang-orang berilmu hitam itu tidak cukup kuat untuk melawan orang-orang Kediri. Bahkan kemudian ia pun mendapatkan satu kesimpulan, seandainya ia sendiri ikut pula di dalam pertempuran itu, maka akibatnya tidak akan jauh berbeda, karena orang Kediri itupun memiliki pemimpin-pemimpin yang dapat dibanggakan.

Karena itu, maka Ki Dukut pun akhir memutuskan, bahwa ia lebih baik menghindar saja dari pertempuran itu. la masih merasa segan untuk menyerahkan lehernya kepada orang-orang Kediri. Khususnya kepada Pangeran Kuda Padmadata, bekas muridnya yang pernah menjadi Y sasaran ketamakan dan nafsunya.

Dengan demikian, maka yang dilakukannya kemudian malah justru sekedar melihat pertempuran itu. Kadang-kadang ia berhasil melihat satu dua orang berilmu hitam jatuh terbanting di tanah. Nampaknya hanya orang-orang berilmu hitam sajalah yang terluka dan terbunuh. Seolah-olah orang-orang Kediri itu sama sekali tidak berkurang satu pun meskipun ada diantara mereka yang telah tergores senjata.

Dalam pada itu, pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin seru. Tidak seorangpun dari antara orang-orang berilmu hitam itu yang sempat bertanya meski kepada diri sendiri, apakah Ki Dukut telah melibatkan riri ke dalam pertempuran itu.

Sementara itu, para pengawal dari Kediri termasuk Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan Ki Wastu, telah mendapat perintah untuk melakukan segala usaha, agar orang-orang berilmu hitam itu tidak sempat melarikan diri seperti yang pernah terjadi. Jika terjadi demikian, maka mereka akan menjadi semakin berbahaya, karena mereka mendapat pengalaman yang lebih banyak dalam menghadapi orang-orang Kediri. Mereka akan datang dalam jumlah yang berlipat ganda untuk menjamin bahwa mereka tidak akan mengalami kegagalan lagi.

Dengan demikian, maka para pengawal yang sedang bertempur itu pun telah mengambil langkah-langkah agar mereka dapat menguasai seluruh medan, sehingga bukan saja melumpuhkan perlawanan lawan, namun juga agar lawan mereka tidak sempat melarikan diri.

Beberapa orang pengawal justru telah menyusup di antara lawan mereka dan berusaha mencapai lingkaran di luar lingkar pertempuran itu. Dengan demikian, maka orang-orang berilmu hitam itu telah bertempur menghadap dua arah. Di dalam lingkaran dan di luar lingkaran.

Kebingungan mulai membayang di wajah orang-orang berilmu hitam. Meskipun jumlah mereka lebih banyak, namun mereka sama sekali tidak mampu berbuat banyak menghadapi para pengawal. Apalagi para pengawal itu telah mengambil langkah-langkah untuk berusaha menahan mereka melepaskan diri dari arena.

Sementara itu, Ki Benda, Ki Walikat, Ki Gampar Wungkul dan Macan Wahan pun segera merasa, betapa beratnya tekanan para pengawal.

“Gila” berkata Macan Wahan di dalam hatinya, “ternyata perhitungan Ki Dukut mendekati kebenaran. Kita tidak akan dapat mengalahkan para pengawal dari Kediri itu, meskipun jumlah kita jauh lebih besar”

Sementara itu. setiap orang di lingkungan ilmu hitam itu menduga, bahwa Ki Dukut telah terlibat pertempuran melawan bekas muridnya.

Tidak seorang pun yang mengetahui, banwa sebenarnya Ki Dukut masih saja berada di tempatnya sambil mengamati pertempuran. Ia telah mengambil keputusan untuk tidak menampakkan dirinya sama sekali.

Karena itulah, maka Ki Dukut Pakering itu pun telah melepaskan orang-orang berilmu hitam itu. Mereka tidak mendengarkan nasehat yang telah diberikan. Dan hal itu harus mereka tebus dengan harga yang sangat mahal.

Ki Benda yang mendendam Mahendra sampai ke ujung rambut, tetap tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan orang yang dikenalnya sebagai pedagang besi-besi bertuah itu.

Dalam pada itu, di antara orang-orang yang berada didalam iring-iringan orang-orang Kediri itupun sebenarnya telah mengamati keadaan dengan saksama. Mereka sebenarnya menunggu, apakah di antara lawan-lawannya terdapat seorang yang bernama Ki Dukut Pakering.

Ki Wastu yang mempunyai persoalan yang mendalam dengan Ki Dukut itu justru telah mencarinya di antara pertempuran itu. Bahkan ia telah meninggalkan lawannya dan menyongsong lawannya yang lain. Ia percaya bahwa dua tiga orang prajurit dipimpin oleh seorang perwira Kediri akan berhasil membatasi gerak lawannya. Ia telah mendekati lingkaran pertempuran yang lain, sementara ia mengambil seorang dari antara orang berilmu hitam itu dari lawannya.

Ketika ia mengambil Gampar Wungkul dari lawannya setelah ia menyerahkan Ki Walikat kepada sekelompok pengawal, maka iapun berusaha untuk mendapat keterang an dari lawannya itu tentang Ki Dukut. Sementara Mahendra harus berganti lawan.

“Kenapa tidak aku temukan seorang berkeris itu lagi” berkata Mahendra di dalam hatinya.

Namun yang dijumpainya kemudian adalah Ki Walikat.

“Dalam pada itu, maka ki Wastu pun mencoba untuk mendengar, apakah dalam keadaan yang demikian Gampar Wungkul bersedia menyebut Ki Dukut Pakering.

Namun ternyata Gampar Wungkul pun tidak mengatakan apa-apa Bahkan sambil tertawa ia berkata, “Bersiap-siaplah untuk mati. Jangan bertanya tentang sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan perkelahian ini“

Ki Wastu menggeram. Tetapi ia tidak puas dengan lawannya. Meskipun untuk beberapa saat ia harus bertampur dengan segenap ilmunya, namun iapun mulai diusik lagi oleh keinginannya untuk bertemu dengan Ki Dukut Pakering. menurut perhitungannya, orang itu adalah sumber dari setiap usaha untuk memusnahkan anak perempuannya yang telah menjadi isteri Pangeran Kuda Padmadata itu.

Sejenak kemudian, maka Ki Wastu pun telah meninggalkan lawannya pula dan menyerahkannya kepada sekelompok prajurit yang telah kehilangan lawannya, karena orang-orang berilmu hitam itupun semakin lama menjadi semakin berkurang.

Betapapun juga, maka akhir dari pertempuran itu sudah membayang. Para pengawal Kediri benar-benar berusaha, agar tidak seorang pun dari orang-orang berilmu hitam itu yang dapat terlepas dari kepungan mereka.

Sementara itu, Ki Wastu telah bergeser ke tempat lain. Ketika ia melihat benturan yang seru melampaui para pengawal yang lain, iapun mendekatinya. Ternyata Ki Wastu telah menjumpai Macan Wahan yang sedang bertempur melawan Mahisa Agni.

“Lepaskan orang ini” berkata Ki Wastu, “aku ingin bertanya kepadanya menjelang saat matinya, apakah ia tahu serba sedikit tentang Ki Dukut Pakering”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Namun iapun kemudian memberikan kesempatan kepada Ki Wastu sambil berkata, “Berhati-hatilah orang ini sangat berbahaya”

“Kenapa tidak kalian berdua sajalah yang menghadapi aku” teriak Macan Wahan.

Tetapi Mahisa Agni tidak menghiraukannya. Ia pun kemudian meninggalkan Macan Wahan yang kemudian berhadapan dengan Ki Wastu.

“Dimana Ki Dukut Pakering?“ tiba-tiba saja Ki Wastu bertanya.

“Kenapa kau cari orang itu” bertanya Macan Wahan.

“Aku mempunyai persoalan pribadi. Ialah tentu orangnya yang menggerakkan kalian menyerang iring-iringan ini. Berapa kalian diupah untuk membunuh Pangeran Kuda Padmadata bersama anak isterinya”

“Gila” teriak Macan Wahan semakin keras.

“Sebut jika kau tahu, dimana Ki Dukut” bertanya Ki Wastu.

Macan Wahan menjadi heran mendengar pertanyaan itu. Karena itu iapun menjawab, “Ia berada di pertempuran ini. Mungkin kini ia sedang membantai Pangeran Kuda Padmadata, isteri dan anaknya itu”

“Jangan mengigau. Bersama Pangeran Kuda Padmadata adalah seorang anak muda yang tidak terkalahkan, di samping kedua orang adiknya dan seorang pengawal pilihan” jawab Ki Wastu, “cepat, sebut dimana Ki Dukut”

Macan Wahan menjadi termangu-mangu. Ia mulai curiga, bahwa Ki Dukut memang tidak ada di pertempuran itu. Namun untuk sesaat ia mencoba menghapus kesan kecurigaannya itu.

Sementara itu, Mahisa Agni pun telah berganti lawan. Lingkaran pertempuran itu menjadi semakin sempit. Bukan karena orang berilmu hitam itulah yang mendesak. Tetapi justru para pengawal berusaha untuk mempersempit gerak mereka.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang kehilangan lawan telah menemukan Gampar Wungkul yang bertempur melawan tiga orang pengawal terpilih

Demikian Mahisa Agni hadir dan menghadapi Gampar Wungkul, maka keadaan orang-orang berilmu hitam di sekitarnya menjadi semakin sulit.

Dalam pada itu, pertahanan para pengawal ternyata cukup rapat. Tidak ada orang yang dapat manyusup seperti yang pernah terjadi. Karena itu, orang-orang yang berada di pusat lingkaran itupun masih saja berdiri menunggu dengan kesiagaan sepenuhnya.

Isteri dan anak laki-laki Pangeran Kuda Padmadata benar-benar menjadi ketakutan. Mereka tidak habis berpikir kenapa peristiwa seperti itu harus terulang dan seselalu terulang kembali.

Ki Wastu yang menganggap bahwa sumber dari peristiwa itu adalah Ki Dukut, masih belum puas jika ia masih belum berhasil menemukannya dan membuat perhitungan. Betapa tinggi ilmu Ki Dukut, namun dengan jantan akan dihadapinya, justru karena sikap Ki Dukut terhadap anak perempuannya.

Pertempuran yang menjadi semakin sempit itu semakin tidak menguntungkan bagi orang-orang berilmu hitam. Sementara itu, Ki Wastu masih saja mengitari pertempuran itu. Ketika ia meninggalkan Macan Wahan, maka ia memberi isyarat kepada beberapa orang pengawal untuk membatasi geraknya sebelum orang lain yang dapat mengimbanginya datang kepadanya.

Sepeninggal Ki Wastu, Macan Wahan mulai berpikir tentang Ki Dukut. Agaknya Ki Wastu tidak bermain-main atau sekedar mempengaruhi perasaannya. Karena itu, maka tiba-tiba saja Macan Wahan itupun berteriak, “Temukan Ki Dukut”

Perintah itu pun segera mengumandang. Ki Benda, Ki Walikat dan Ki Gampar Wungkulpun akhirnya mendengar pula pertanyaan yang dilontarkan oleh Macan Wahan itu. Namun tidak seorang pun di antara mereka yang dapat menemukan Ki Dukut dipertempuran itu. Bahkan hampir setiap orang dari antara mereka yang berilmu hitam itupun saling bertanya, “Dimanakah Ki Dukut?”

Ternyata Ki Dukut memang tidak ada di pertempuran itu.

Orang-orang berilmu hitam itu mengumpat-umpat, te tapi mereka sudah terlambat. Betapapun kemarahan mereka mencengkam jantung, namun mereka sudah terlanjur berada di dalam kepungan yang ketat, bahkan seolah-olah berada di dalam satu lapisan kulit lingkaran yang dibatasi diluar dan di dalam.

Ki Wastu yang kemudian tidak menemukan Ki Dukutpun menjadi sangat kecewa. Ia tidak ingin merampas lagi lawan dari siapapun juga. Dengan tergesa-gesa, menyusup diantara pertempuran, ia kembali kepada Macan Wahan.

Namun ternyata Macan Wahan sudah tidak berada di tempatnya.

Macan Wahan yang dibakar oleh kemarahannya karena ia tidak melihat Ki Dukut, maka ia pun telah menyusup pula di antara orang-orangnya mencari di seluruh arena untuk meyakinkan apakah Ki Dukut ada di pertempuran itu atau tidak.

Ketika ia yakin bahwa Ki Dukut memang tidak ada, maka darahnya bagaikan mendidih. Meskipun ia sadar, bahwa sejak semula Ki Dukut sudah mencegahnya, tetapi tingkah lakunya itu benar-benar merupakan suatu pengkhianatan, karena sampai saat terakhir ia tidak mengatakan, bahwa ia menolak untuk ikut serta memasuki arena pertempuran.

Karena itu, maka kemarahan itu telah mempengaruhi nalar Macan Wahan. Ia tidak lagi berusaha kembali ke tempatnya. Ketika ia melihat bahwa Gampar Wungkul sedang bertempur melawan seseorang, maka tiba-tiba saja telah timbul niatnya untuk bertempur bersamanya. Jika mereka berdua dengan cepat dapat membunuh orang itu, maka Gampar Wungkul dan dirinya sendiri akan melakukan hal yang serupa lagi terhadap orang yang lain. Dengan demikian, maka orang-orang yang dianggap pemimpin didalam lingkungan pengawal dari Kediri itu akan segera dihabisinya.

Karena itulah, maka sejenak kemudian Macan Wahan telah bertempur berpasangan bersama Gampar Wungkul.

Dalam pada itu, yang dihadapinya ternyata adalah Mahisa Agni. Mendapat dua orang, lawan yang berilmu tinggi dalam jenis ilmu hitam itu, Mahisa Agni pun segera merasakan tekanan yang berat. Namun dalam pada itu, Mahisa Agni tidak lagi berusaha mengekang dirinya dalam batas-batas tertentu dari ilmunya. Sebenarnyalah Mahisa Agni masih selalu membatasi diri untuk tidak menjadi pembunuh yang kejam di peperangan. Ia masih selalu membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Namun ketika ia harus melawan dua orang sekaligus, maka Mahisa Agni pun mulai mempertimbangkan segala keadaan.

Namun dalam pada itu, sebelum Mahisa Agni sampai kepada ilmu Pamungkasnya, maka tiba-tiba saja Ki Wastu telah mendekatinya. Demikian ia melihat Mahisa Agni bertempur melawan dua orang pada tataran tertinggi dari golongan hitam itu, iapun segera mendekatinya.

Tetapi yang kemudian menyongsong Ki Wastu bukan Macan Wahan namun Ki Gampar Wungkul lah yang telah meninggalkan Mahisa Agni langsung menghadapi Ki Wastu.

Dalam pada tu, ternyata pertempuran itu sudah mendekati akhirnya. Para pengawal orang-orang berilmu hitam Seperti yang diperintahkan Pangeran Kuda Padmadata, maka para pengawalnya itu pun berusaha agar tidak seorang pun di antara mereka yang dapat melarikan diri.

“Semua harus ditangkap“ terdengar peringatan ulang. Lalu, “jika tidak dapat ditangkap hidup, tangkap mati”

Perintah itu sudah tegas. Dan para pengawal pun akan melakukan perintah itu sebaik-baiknya. Karena jika mereka terlepas, malapetaka masih akan selalu mengikutinya.

Namun dalam pada itu, orang-orang berilmu hitam yang tersisa itupun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka berusaha untuk memecahkan kepungan. Namun, jika hal itu tidak mungkin, maka mereka menganggap bahwa lebih baik mereka hancur sama sekali.

Karena itulah, maka para pemimpin dari orang-orang berilmu hitam itu pun segera telah mengerahkan kemampuannya pula. Kekecewaan dan kemarahan yang menggelegak dihatinya telah terungkap dalam tingkah mereka di saat-saat terakhir dari perlawanan mereka itu.

Ternyata tidak seorang pun di antara orang-orang berilmu hitam itu yang sempat meninggalkan arena. Para pengawal telah mengepung mereka dengan rapat. Jika seseorang berusaha menembus kepungan itu, maka akhirnya ia harus terkapar tidak bernyawa lagi.

Demikian pula bagi para pemimpin mereka. Masing-masing tidak akan dapat terlepas dari tangan lawannya.

Macan Wahan yang dibakar oleh kemarahannya kepada orang-orang Kediri dan terutama kepada Ki Dukut itu telah mengamuk seperti seekor harimau lapar. Tangannya yang sebelah menggenggam senjatanya erat-erat. sementara yang lain jari-jarinya telah mengembang dan siap menerkam lawannya.

Mahisa Agni yang melawannya, melihat betapa kemarahan menghentak jantung lawannya. Kemarahan, namun juga putus asa membayang pada wajahnya. Sekali-kali terdengar Macan Wahan menggeram. Namun kemudian iapun mengumpat dengan kasalnya.

Dalam keadaan yang demikian, maka Mahisa Bungalan yang seolah-olah tidak berbuat apa-apa, merasa tidak terikat lagi dengan tugasnya, la sadar, bahwa sisa orang-orang berilmu hitam itu tidak akan mampu lagi menyusup dan berbuat sesuatu atas Pangeran Kuda Padmadata serta isteri dan anaknya. Seandainya ada juga satu dua yang berbuat demikian, maka mereka sama sekali tidak akan berbahaya lagi bagi Pangeran itu.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian bergeser ke arena pertempuran. Ternyata ia mempercepat panyelesaian pertempuran itu.

Orang-orang berilmu hitam yang tersisa itu, ternyata tidak bersedia untuk menyerah. Mahisa Agni yang bertempur melawan Macan Wahan berkata sambil menahan serangan-serangan lawannya itu, “Kau tidak mempunyai kesempatan lagi. Kenapa kau tidak menyerah saja?“

Macan Wahan menggeram. Katanya, “Persetan dengan kalian”

“Nampaknya kau sudah dijerumuskan dengan licik oleh orang yang bernama Ki Dukut” berkata Mahisa Agni kemudian, “menyerahlah. Kita akan berbicara tentang orang yang bernama Ki Dukut Pakering agar kau tidak mendapat gambaran yang salah dari keadaannya yang sebenarnya”

“Persetan” geram Macan Wahan, “apapun yang terjadi, tetapi kami, tidak sudi menyerah kepada siapapun juga. Apalagi kepada orang-orang Kediri yang telah kehilangan harga dirinya”

Mahisa Agni terkejut mendengar jawaban itu. Apalagi ketika Macan Wahan melanjutkan, “Orang-orang Kediri yang sudah terbius oleh kepentingan dirinya sendiri untuk mendapatkan kemurahan dan belas kasihan dari orang-orang Singasari. He, orang-orang Kediri, kenapa kau telah merendahkan dirimu, menjilat telapak kaki orang-orang Singasari yang telah merampas kebesaran martabat nenek moyangmu”

Terasa jantung Mahisa Agni berdebaran mendengarnya. Dengan nada datar ia bertanya, “Siapakah yang mengajarimu berkata demikian?“

“Aku adalah orang Kediri yang tahu akan harga diriku” berkata Macan Wahan sambil menyerang.

Mahisa Agni mengelak. Ternyata kata-kata itu sangat menarik perhatiannya.

Namun dalam pada itu, di bagian lain lagi pertempuran itu. beberapa orang pemimpin dari orang-orang berilmu hitam itu sudah tidak mampu bertahan lagi. Namun ternyata merekapun telah menjadi berputus asa. Mereka menganggap bahwa menyerah kepada orang-orang Kediri itu adalah satu penderitaan yang akan berkepanjangan seolah-olah tanpa akhir. Meskipun demikian akhirnya merekapun akan mati juga dalam keadaan yang paling menyedihkan.

Karena itulah, maka mati di peperangan dengan pedang di tangan adalah cara untuk mati yang paling terhormat yang dapat mereka jangkau pada saat-saat yang demikian. Karena itulah, meskipun mereka merasa diperlakukan tidak sewajarnya oleh orang yang bernama Ki Dukut, namun mereka pantang untuk menyerah.

Ki Wastu yang juga dibakar oleh kekecewaan karena ia tidak berhasil menemukan Ki Dukut di antara lawannya, telah berusaha mendesak lawannya. Ternyata bahwa lawannya tidak sempat berbuat banyak. Ketika ia surut beberapa langkah, maka ia telah melampaui garis kepungan para pengawal. Seolah-olah tanpa sengaja, pengawal yang terdekat, telah menahannya dengan senjatanya. Meskipun senjata pengawal yang mematuk pemimpin dari orang-orang berilmu hitam itu dapat dihindari, namun perhatiannya yang sesaat tertuju kepada pengawal itu, telah membuatnya lengah.

Dalam pertempuran yang riuh itu, agaknya telah membuat masing-masing tidak lagi menghiraukan, apakah sebenarnya mereka sedang bertempur seorang melawan seorang atau terlibat kedalam perang brubuh. Demikian pula yang terjadi atas Ki Wastu yang tidak sempat lagi menghiraukan apakah lawannya sedang terganggu oleh serangan seorang pengawal.

Karena itulah, maka tiba-tiba saja telah terdengar salah seorang pemimpin dari orang-orang berilmu hitam itu mengaduh. Ternyata Ki Wastu yang marah itu tidak lagi mengendalikan dirinya.

Sesaat Ki Wastu melihat lawannya menggeliat. Namun kemudian orang berilmu hitam itupun telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Kematian itu benar-benar telah menggunakan kawan-kawannya. Mereka menjadi semakin berputus asa dan bertempur tidak menentu.

Meskipun demikian, para pemimpin orang-orang berilmu hitam itu tidak menyerah. Mereka bertempur sampai kemampuan mereka terkuras habis. Satu-satu mereka tidak dapat lagi mempertahankan dirinya. Ki Gampar Wungkul yang telah mati itu segera disusul oleh Ki Benda yang mengamuk seperti orang gila. Ki Walikat dan yang kemudian adalah Macan Wahan. Untuk beberapa saat ia masih bertahan. Namun akhirnya ia tidak lagi dapat menghindarkan dirinya. Sementara itu, ia benar-benar tidak mau menyerah. Ia memilih mati dengan pedang di tangan daripada hidup untuk melepaskan senjatanya.

Karena itulah, maka pertempuran itu pun perlahan-lahan telah terhenti. Orang-orang berilmu hitam itu sama sekali tidak berdaya ketika mereka sudah kehilangan para pemimpinnya.

Namun dalam pada itu, betapapun rapatnya kepungan para pengawal dari Kediri, namun ternyata ada juga dua orang dari antara orang-orang berilmu hitam itu yang berhasil lolos. Dengan sekuat tenaga mereka melarikan diri menjauhi pertempuran yang baginya seperti neraka itu. Kawannya telah terbunuh. Bahkan para pemimpinya telah terbunuh pula.

Namun demikian kedua orang itu berlari melingkari segerumbul perdu, keduanya terkejut. Tiba-tiba saja mereka sudah berhadapan dengan seseorang.

Tetapi keduanya pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Yang ada dihadapannya saat itu adalah Ki Dukut Pakering.

“Ki Dukut” berkata salah seorang dari kedua orang itu, “semua kawan-kawan mencari Ki Dukut”

Ki Dukut mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Akupun mengerti. Kenapa Ki Dukut tidak hadir di dalam pertempuran itu?“ bertanya salah seorang dari mereka.

“Aku tidak mau membunuh diri” jawab Ki Dukut Aku sudah memperingatkan kepada kawan-kawanmu, bahwa sangat berbahaya untuk menyerang orang-orang Kediri itu. Aku susah melihat bahwa mereka terlalu kuat. macan Wahan pun telah melihatnya pula. Namun kawan-kawanmu yang gila itu sama sekali tidak menghiraukan peringatanku”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Sekali mereka berpaling. Namun nampaknya para pengawal dari Kediri itu tidak sempat mengejarnya, karena mereka harus mengawasi dan mungkin menangkapi orang-orang yang tersisa.

Dalam pada itu, salah seorang dari kedua orang yang berhasil melarikan diri itupun bertanya, “Tetapi bukankah dalam keadaan yang gawat itu Ki Dukut dapat membantu kami?“

“Buat apa?“ bertanya Ki Dukut, “semuanya sudah tidak ada artinya. Pemimpin-pemimpinmu ternyata orang-orang dungu yang tidak berotak. Mereka didorong saja oleh perasaan. Tetapi nalar mereka membeku seperti batu padas”

Kedua orang berilmu hitam itu termangu-mangu.

“Aku akan kembali ke padepokan” desis Ki Dukut.

“Dan meninggalkan kawan-kawan kita mati dan tertangkap?“ bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Lalu apa yang harus aku kerjakan?“ bertanya Ki Dukut.

“Itu tidak semestinya“ yang lain menyahut, “apakah kita masih mungkin mencari kawan untuk membebaskan mereka yang tertangkap?”

“Itu pikiran lebih gila lagi. Kau akan semakin banyak menyeret kawan-kawanmu kedalam tangkapan maut” jawab Ki Dukut.

“Namun kematian yang demikian akan lebih baik” jawab salah seorang dari keduanya.

“Jika demikian, kenapa kalian lari? Kenapa kalian tidak membunuh diri saja bersama kawan-kawanmu” bertanya Ki Dukut.

“Aku mendapat kesempatan hidup. Aku akan mencari kesempatan untuk berbuat sesuatu atas kawan-kawan kami itu” jawab orang itu.

“Itu adalah pikiran gila yang sangat kerdil” geram Ki Dukut, “bagaimana mungkin kau dapat melepaskan kawan-kawanmu ditangan orang-orang terbaik dari Kediri. Bahkan hidup kalian berduapun sama sekali sudah tidak berarti lagi“

Kedua orang itu terkejut. Salah seorang dari mereka bertanya dengan serta merta, “apa maksudmu”

“Kenapa kalian berdua tidak mati saja?“ bertanya Ki Dukut

“Kami mendapat kesempatan untuk melepaskan diri. Kesempatan itu aku pergunakan sebaik-baiknya” jawab yang seorang, “mungkin dengan demikian kami akan mendapat kesempatan berbuat sesuatu. Kami akan segera kembali ke tempat tinggal kami. Selain keempat orang pemimpin kami dari empat padepokan itu terbunuh, kami masih akan dapat menghubungi beberapa orang lagi yang mungkin mempunyai kekuatan yang seimbang”

Bukan kau yang harus melakukannya” sahut Ki Dukut.

“Maksudmu?“ bertanya orang yang berhasil membebaskan dirinya itu.

“Akulah yang akan datang kepada mereka untuk kepentingan itu” geram Ki Dukut.

Kedua orang itu termangu-mangu. Sekilas mereka saling berpandangan. Namun kemudian salah seorang berkata, “Apa maksud Ki Dukut?”

Ki Dukut memandang, kedua orang berilmu hitam dengan sorot mata yang membara. Sejenak ia tidak berkata sesuatu. Namun wajah Ki Dukut itu menjadi aneh bagi kedua orang berilmu hitam itu.

Orang-orang yang menyadap ilmu hitam itu adalah orang-orang yang kasar. Orang-orang yang sama sekali tidak mengindahkan lagi martabat kemanusiaan mereka. Bahkan kadang-kadang mereka tidak mengerti lagi arti tentang diri mereka sendiri bagi sesamanya. Karena justru dari sesamanya mereka mencari landasan bagi ilmunya, dalam arti yang sangat buruk. Mereka telah mengorbankan orang lain bagi kepentingan keyakinan mereka untuk menyadap ilmu mereka.

Namun demikian, berhadapan dengan Ki Dukut yang memandang kedua orang itu dengan tatapan mata yang bagaikan menyala itu terasa kedua orang itu menjadi berdebar-debar.

“Orang-orang dungu” geram Ki Dukut, “kalian memang seharusnya mati bersama-sama dengan kawan-kawanmu. Kalian ternyata tidak mempunyai setia kawan sama sekali. Jika kawan-kawanmu mati dan tertangkap, kenapa kau justru melarikan diri?”

Kedua orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang kemudian berusaha menjawab, “Sudah aku katakan. Aku akan berusaha melepaskan kawan-kawanku itu, atau setidak-tidaknya membalas dendam akan kematian mereka”

“Aku yang akan melakukannya semua itu” geram Ki Dukut, “kalian berdua sudah tidak ada artinya lagi”

“Aku tidak mengerti” desis salah seorang dari keduanya.

“Kalian memang terlalu bodoh” geram Ki Dukut, “dengarlah. Kalian harus mati. Jika kalian tidak mati di medan pertempuran itu, maka akulah yang akan membunuh kalian berdua”

Kedua orang itu terkejut. Selangkah mereka surut. Seorang di antara meraka bertanya, “Apakah kau sudah gila? Apakah artinya kematian yang demikian. Jika aku tetap hidup, maka aku masih akan mempunyai arti. Mungkin aku masih akan dapat membalas dendam”

“Sudah aku katakan, akulah yang akan melakukannya” geram Ki Dukut.

“Kau dapat melakukan, dan aku dapat pula melakukannya” sahut salah seorang dari kedua orang itu.

“Itu tidak perlu” jawab Ki Dukut, “satu orang saja di antara kalian tetap hidup, maka kalian akan dapat memfitnah aku dihadapan kawan-kawan Macan Wahan, atau Ki Benda, Ki Walikat dan Ki Gampar Wungkul, bahwa aku telah mengkhianatinya. Padahal aku berusaha untuk mencegah mereka dari kemusnahan”

Wajah kedua orang itu menegang. Salah seorang kemudian berkata, “Jangan bodoh Ki Dukut. Aku tahu kau adalah orang yang luar biasa. Tetapi kau bagiku tidak lebih dari manusia biasa. Karena itu jangan berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirimu sendiri”

“Persetan” geram Ki Dukut, “bersiaplah untuk mati, agar tidak seorang pun yang akan dapat memfitnah aku”

Kedua orang berilmu hitam itu nampaknya memang sudah tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka keduanya pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Salah seorang dari keduanya pun kemudian berkata, “Aku sekarang mengerti Ki Dukut. Ternyata kau sengaja menjerumuskan kami, pemimpin-pemimpin kami ke dalam kematian. Kemudian kau akan dapat membuat ceritera tentang apa saja yang akan dapat mengangkat namamu di antara kawan-kawan kami yang masih hidup”

Ki Dukut tertawa. Katanya, “Setan alas. Apapun yang kau igaukan tidak berarti apa-apa. Katakan yang ingin kau katakan sebelum kalian akan mati”

Kedua orang itu tidak menjawab. Namun kemudian keduanya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Nampaknya Ki Dukut benar-benar akan membunuh keduanya. Sejenak kemudian ia pun bergeser selangkah siap untuk menyerang.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...