Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 23-01

PANASNYA BUNGA MEKAR : 23-01
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni dan Witantra tak mau mengalami kelambatan. Mereka pun bertindak cepat untuk mengurangi jumlah pasukan lawan. Apa bila keduanya lambat, maka padepokan kecil itu tidak akan tertolong lagi.

Untuk sementara yang dilakukan oleh Mahisa Agni dan Witantra itu tidak dapat diketahui oleh Ki Dukut yang terlalu yakin akan kekuatan pasukan kedua anak muda yang jumlahnya cukup banyak. Sementara itu, ia masih melihat Ki Watu Kendeng dan Ki Selabajra yang agaknya pemimpin tertinggi dari padepokan itu masih berdiri termangu-mangu di hadapannya. Demikian pula Mahisa Bungalan dan Ken Padmi.

Dalam pada itu, maka Ki Dukut itu pun berkata, “Ki Selabajra, sebenarnya tidak ada gunanya lagi kalian melawan. Pada akhirnya padepokan ini akan hancur menjadi debu”

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia memandang berkeliling. Pertempuran sudah berlangsung. Semakin lama menjadi semakin sengit.

“Ki Dukut” berkata Ki Selabajra, “apapun yang akan terjadi, aku akan bersikap sebagai seorang laki-laki. Jika aku, dan seisi padepokan ini harus mati, kami akan mati sebagai laki-laki”

“Kau memang keras kepala” berkata Ki Dukut, “tetapi baiklah. Aku ingin memberi kesempatan kau melihat apa yang terjadi. Dan aku pun tidak akan segera berbuat sesuatu. Aku pun untuk sementara ingin melihat, api membakar padepokan ini sambil menunggui pemimpin padepokan ini agar tidak melarikan diri”

Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng termangu-mangu. Ketika ia berpaling, ia melihat beberapa orang mulai manjamah tangga pendapa padepokan.

Ki Dukut tertawa sambil berkata, “Kau lihat, anak gadis dan bakal menantumu itu pun harus bertempur melawan jumlah yang tidak memadai. Betapapun tinggi ilmu mereka, namun mereka akan kehilangan keseimbangan pula”

“Mungkin. Tetapi dengan demikian, maka kematian mereka adalah kematian yang pantas bagi penghuni padepokan ini” jawab Ki Selabajra.

“Kau memang keras kepala. Tetapi tidak apa. Kau akhirnya akan menyesal, atau menjadi gila sebelian aku mencabut nyawamu. Kau akan melihat anak gadismu itu dicincang sampai lumat, dan bakal menantumu itu akan diseret sepanjang halaman ini sampai terkelupas untuk menjadi pangewan-ewan. Namun yang akhirnya akan mengalami nasib seperti anak gadismu iln pula.

Ki Selabajra menjadi tegang. Ketika ia berpaling, dilihatnya Mahisa Bungalan dan Ken Padmi memang sudah terlibat dalam pertempuran. Beberapa orang cantrik padepokan itu berusaha untuk membantunya melawan jumlah lawan yang cukup banyak.

Namun ternyata Ki Dukut harus mengerutkan keningnya. Ternyata Mahisa Bungalan itu benar-benar mengejutkannya. Dengan garangnya ia berloncatan diantara beberapa orang lawan. Senjatanya berputaran di sela-sela senjata lawanya. Namun dalam pada itu, pada gerakan pertama, telah terdengar keluhan tertahan. Seorang lawan telah terlempar dari lingkaran pertempuran.

“Luar biasa” desis Ki Dukut, “menyenangkan sekali melihat bakal menantumu itu bertempur”

Ki Selabajra tidak menyahut. Ia pun melihat dengan jantung yang berdebaran. Betapa dahsyatnya ilmu Mahisa Bungalan dalam pertempuran yang sebenarnya. Jika ia melihat kemampuannya di arena sayembara tanding, maka yang dilihatnya itu bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang dilakukannya menghadapi musuh yang sebenarnya.

Ken Padmi pun menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia sempat merasa malu, bahwa ia telah turun di arena menghadapi Mahisa Bungalan.

Tetapi sementara itu, Ken Padmi pun harus sudah memutar senjatanya pula. Ternyata ia pun merupakan gadis yang pilih tanding. Dalam keadaan yang sulit, ia masih mampu mempertahankan dirinya. Betapapun beratnya tekanan lawan, namun di samping Mahisa Bungalan Ken Padmi merasa seolah-olah ia mendapat perlindungan yang rapat.

Sebenarnyalah, bahwa Mahisa Bungalan telah menggetarkan setiap orang yang bertempur melawannya. Meskipun jumlah mereka cukup banyak, tetapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa di hadapan Mahisa Bungalan yang bertempur bersama Ken Padmi dan beberapa orang cantrik. Dengan sanjata berputaran, ia berloncatan menembus kepungan lawan. Sambaran senjatanya yang berdesingan membuat hati lawan-lawannya menjadi kecut.

Dalam pada itu, Marwantaka dan Wiranata yang mendendamnya sampai ke ubun-ubun, telah mendekati Mahisa Bungalan. Namun keduanya menjadi ragu-ragu melihat, bagaimana Mahisa Bungalan bertempur melawan sejumlah lawan yang lebih banyak.

Namun dalam pada itu terdengar Ki Dukut tertawa berkepanjangan. Dengan nada tinggi ia berkata, “He, anak-anak muda. Bukankah kalian mendendam terhadap bakal menantu Ki Selabajra itu? kenapa kalian justru berdiam diri. Mumpung kawan-kawan kalian masih banyak, lakukanlah. Cincang orang itu seperti yang kalian rencanakan, termasuk Ken Padmi itu sendiri”

Marwantaka dan Wiranata masih saja ragu-ragu. Namun akhirnya mereka pun melangkah maju dengan pedang di tangan. Seperti dikatakan oleh Ki Dukut. Mumpung mereka mempunyai kawan yang cukup banyak.

Demikianlah keduanya telah melibatkan diri dalam pertempuran melawan Mahisa Bungalan. Bagaimanapun juga, keduanya memiliki bekal jauh lebih baik dari para pengikutnya. Meskipun ada juga satu dua orang patut dari padepokan lain yang berada di dalam pasukannya, serta satu dua orang kawan-kawannya, tetapi ternyata menghadapi Mahisa Bungalan benar benar mendebarkan.

Namun, akhirnya Marwantaka dan Wiranata melibatkan diri mereka melawan Mahisa Bungalan. Dengan mengambil arah yang berbeda keduanya mendekat.

Meskipun semula keduanya ragu-ragu, namun setelah mereka malai menggerakkan senjata mereka, maka keduanya pun nampak menjadi garang.

Beberapa orang cantrik padepokan Kenanga berusaha untuk mengurangi lawan Mahisa Bungalan. Tetapi mereka tidak menyentuh kedua orang anak muda itu. Sehingga dengan demikian, maka baik Marwantaka maupun Wiranata mendapat kesempatan yang luas untuk bertempur melawan Mahisa Bungalan.

Tetapi mereka tidak hanya berdua. Masih ada beberapa orang kawan mereka mendekat bersama-sama.

Meskipun demikian, Mahisa Bungalan yang bertekad untuk mempertahankan padepokan itu. telah bertempur dengan garangnya. Sementara itu beberapa langkah dari padanya, Ken Padmi pun bertempur dengan tangkas dan cepat. Senjatanya berputaran, sehingga lawannya sulit untuk menembusnya.

Ki Dukut masih memperhatikan, bagaimana Marwantaka dan Wiranata bertempur melawan Mahisa Bungalan. Sambil mengerutkan keningnya ia bergumam, “Bakal menantumu itu memang seorang yang pilih tanding Ki Selabajra”

Ki Selabajra tidak menyahut.

“Marwantaka dan Wiranata seharusnya dapat menguasainya” desis Ki Dukut kemudian, “tetapi ternyata mereka tidak dapat berbuat banyak”

Ki Selabajra masih tetap berdiam diri.

“Baiklah. Kita tunggu apakah hasil terakhir dari pertempuran itu. Tetapi menilik jumlah lawan, bakal menantumu itu tidak akan dapat mengelakkan diri dari kematian. Sementara kau dan kawanmu ini harus tetap tinggal bersamaku” gumam Ki Dukut kemudian.

Betapa gejolak jantung Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng. Tetapi mereka tetap berada di tempatnya. Agaknya lebih baik bagi mereka untuk tetap berdiam diri bersama Ki Dukut. Karena jika Ki Dukut mulai bergerak dan terjun ke arena, maka padepokan itu benar-benar akari segera musnah. Namun jika Ki Dukut masih tetap berdiam diri, Ki Selabajra masih berharap bahwa kedua orang, paman Mahisa Bungalan itu akan dapat membantu para, cantrik untuk bertahan.

Yang luput dari perhatian Ki Dukut adalah Mahisa Agni dan Witantra. Ki Dukut kurang memperhatikan para, pengikut Marwantaka dan Wiranata yang bertempur di halaman samping. Demikian cepatnya jumlah mereka susut. Selain mereka harus bertempur melawan para cantrik yang menyambut mereka dengan anak panah, mereka pun harus menghadapi seorang cantrik tua yang memiliki ilmu diluar jangkauan nalar mereka. Meskipun sentuhan tangan cantrik tua itu tidak mematikan, tetapi mereka yang menghadapinya menjadi seolah-olah telah lumpuh dan tidak mampu untuk melawan lagi. Senjata kedua orang itu hanya sekedar untuk menangkis dan sekali-sekali melemparkan sanjata lawan. Namun kemudian tangan merekalah yang terjulur menyentuh lambung, pundak atau bahkan punggung.

Namun karena perhatian Ki Dukut tertuju kepada Mahisa Bungalan, dan ia sama sekali tidak menyangka bahwa ada juga orang-orang yang berada di dalam lingkungan para cantrik dan juga berpakaian seperti cantrik itu, yang mempunyai kemampuan yang sangat tinggi.

Namun, akhirnya Ki Dukut itu tidak telaten. Marwantaka dan Wiranata tidak segera dapat menguasai lawannya. Bahkan agaknya Mahisa Bungalan akan mampu mengalahkan mereka, meskipun mereka masih juga dibantu oleh beberapa orang pengikutnya.

Karena itu, maka katanya kemudian, “Ki Selabajra, menurut pendapatmu, mana yang lebih baik aku hancurkan. Kau atau bakal menantumu dan anakmu. Aku tidak sabar lagi melihat kelambanan mereka”

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Meskipun hal itu dikatakannya dengan seolah-olah. tidak menghiraukannya, namun karena yang mengucapkannya adalah Ki Dukut. maka hal itu akan dapal berakibat gawat.

Diluar sadarnya Ki Selabajra memandang ke samping pendapa padepokan. Seolah-olah ia berusaha menari Mahisa Agni dan Witantra. Namun ia tidak berhasil menemukannya di antara hiruk pikuknya pertempuran. Tetapi Ki Selabajra melihat, bahwa jumlah lawan telah susut dengan cepatnya. Meskipun pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya, tetapi nampaknya cantrik di padepokan itu tidak lagi mengalami banyak kesulitan.

Dalam pada itu, maka Ki Selabajra harus mengambil Keputusan. Ia harus menjawab pertanyaan Ki Dukut yang nampaknya mulai bersungguh-sungguh.

“Cepat jawab” bentak Ki Dukut, “siapakah yang akan aku bunuh lebih dahulu. Kau berdua atau anak dan bakal menantumu itu”

Ki Selabajra harus segera menjawab. Karena itu maka katanya, “Ki Dukut, apapun yang terjadi, aku akan bertahan sampai kemungkinan yang terakhir. Kau tidak akan dapat menyentuh anak dan bakal menantuku, jika aku masih sempat menyaksikannya”

“Bagus” desis Ki Dukut, “kau memang seorang laki-laki. Itulah agaknya kau telah berani mengkhianati kesediaanmu bekerja bersamaku, pada saat kita akan menghancurkan padepokan Ki Kasang Jati, musuh bebuyutanku itu”

“Apapun yang dapat kau katakan Ki Dukut” jawab Selabajra, “aku sudah bersedia menghadapinya”

Ki Dukut itu pun menggeram. Tetapi ia pun kemudian-melangkah surut sambil berkata, “Bersiaplah. Aku ingin menghitung, sampai bilangan ke berapa kalian dapat bertahan”

Ki Selabajra tidak dapat berbuat lain. Ia tidak dapat memanggil Mahisa Bungalan dan Ken Padmi untuk membantunya. Dan ia pun tidak dapat memanggil Mahisa Agni dan Witantra yang berada di antara para cantrik. Jika keduanya harus membantunya melawan Ki Dukut, maka para cantrik itu pun akan mengalami nasib yang sangat buruk.

Karena itu, maka berdua dengan Ki Watu Kendeng ia bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang mengetahui keadaan itu pun sempat memikirkan, apa yang harus dilakukan. Ia mendengar Ki Dukut mengancam Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng. Sebenarnyalah bahwa Ki Selabajra dan Ki W a Lu Kendeng tidak akan mampu menghadapinya.

Karena itu, maka tiba-tiba saja Mahisa Agni telah memperberat serangan-serangannya terhadap lawan yang bertebaran. Dengan loncatan-loncatan panjang ia menyusup di antara lawan. Sementara cantrik padepokan Kenanga pun bertempur dengan gigihnya pula.

Dengan demikian, maka jumlah lawan itu semakin cepat susut. Seolah-olah, mereka telah dilibat oleh angin pusaran dan terhisap ke pusatnya. Di saat mereka terlempar kembali keluar dari pusaran itu, mereka seolah-olah telah tidak bertenaga lagi.

Nampaknya Witantra melihat sikap Mahisa Agni. Ternyata ia menanggapi pula keadaan yang gawat itu. Karena itu, maka ia pun berbuat serupa. Meskipun seperti juga Mahisa Agni, ia tidak membunuh lawannya, tetapi bersama-sama para cantrik padepokan Kenanga yang jumlahnya tidak begitu banyak, Witantra telah mengurangi jumlah lawannya dengan cepat. Witantra pun tahu, bahwa dengan demikian Mahisa Agni bermaksud untuk menarik perhatian Ki Selabajra sebelum ia bertindak lebih jauh terhadap Ki Selabajra.

Dalam pada itu, sebuah pekik kesakitan memang telah menarik perhatian Ki Dukut Pakering. Ketika ia sudah siap untuk menyerang kedua orang yang baginya akan dapat diselesaikannya dengan mudah itu, tiba-tiba saja ia melihat seorang pengikut Marwantaka telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah. Belum lagi pekik itu lenyap, seorang yang lain telah terlempar pula dan jatuh berguling. Demikian kerasnya mereka terjatuh, sehingga mereka tidak lagi dapat segera bangkit. Tulang-tulang mereka rasa-rasanya berpatahan.

Yang terjadi itu tidak dapat terlepas begitu saja dari pengamatan Ki Dukut. Justru karena itu, maka ia pun mulai memperhatikan pertempuran yang terjadi di sebelah menyebelah pendapa padepokan itu.

Hampir diluar sadarnya, Ki Dukut bertanya, “He, siapa yang berada di halaman sebelah?”

“Cantrik-cantrik dari padepokan Kenanga yang masing-masing dipimpin oleh seorang cantrik tua yang barangkali kurang menarik bagimu Ki Dukut”

Ki Dukut mengerutkan keningnya. Namun pengamatannya yang tajam atas peristiwa di halaman samping itu membuatnya berdebar-debar. Agaknya ada satu orang yang memiliki ilmu melampaui para cantrik yang lain.

“Tetapi dalam keadaan yang paling gawat bagi Ki Selabajra, kenapa mereka tidak mengambil sikap apapun juga?” bertanya Ki Dukut di dalam dirinya.

Karena itu, maka niatnya untuk menghabisi Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng telah tertunda. Ia memerlukan memperhatikan keadaan yang baginya diluar dugaan.

Justru karena Ki Dukut telah mulai terlarik perhatiannya itulah, maka Mahisa Agni dan Witantra telah berbuat lebih jauh lagi. Dengan sengaja ia menunjukkan betapa kemampuannya berhasil menyibakkan perlawanan para pengikut Marwantaka dan Wiranata yang jumlahnya jauh lebih besar dari para cantrik di padepokan Kenanga itu sendiri.

“Gila” geram Ki Dukut, “ada yang tidak wajar terjadi. Tidak mungkin para cantrik padepokan ini mampu melawan kekuatan yang datang, meskipun pada benturan pertama mereka sempat mengurangi jumlah lawan dengan anak panah, busur dan lembing-lembing bambu”

“Apa yang tidak wajar manurut pertimbanganmu Ki Dukut?” bertanya Ki Selabajra.

“Anak iblis. Aku bunuh kau secepatnya, agar aku sempat berbuat sesuatu atas orang yang masih harus aku ketemukan itu” geram Ki Dukut.

“Sebentar lagi mereka akan binasa di padepokan ini” desis Ki Selabajra, “mungkin kau dapat membunuh aku dan Ki Watu Kendeng. Tetapi semua orang yang memasuki padepokan ini pun akan binasa pula. Kemudian betapapun tinggi ilmumu, namun kau akan mati di rajam oleh para cantrik. Mereka akan melemparimu dengan lembing dan bahkan dengan batu-batu. Kau akan terkapar mati dibawah timbunan batu dan senjata, sementara orang-orang yang menyerang padepokan ini tanpa mengerti arti dari tingkah lakunya itu akan dihidupi meskipun mereka sudah dilumpuhkan”

Ki Dukut itu pun menggeram. Namun akhirnya ia yakin, bahwa ada kekuatan lain kecuali dua orang pemimpin padepokan itu yang harus diperhatikannya. Bahkan semakin lama semakin nyata pada Ki Dukut bahwa orang itu harus dihadapinya pula bersama Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng.

“Baik” geram Ki Dukut, “aku mengerti sekarang. Tentu ada kekuatan yang dapat membantumu. Tetapi apakah mereka sempat menyelamatkan nyawamu”

Ki Dukut pun segera bersiap menghadapi Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng. Keduanya harus segera dibinasakan, karena ia sadar, bahwa dengan membunuh kedua orang itu tugasnya masih belum selesai.

Namun sebelum Ki Dukut mulai dengan serangannya, ia masih sempat meneriakkan satu pesan kepada semua orang yang datang bersamanya menyerbu padepokan Kenanga itu. Katanya, “Sebentar lagi matahari akan semakin turun. Kita harus segera menyelesaikan tugas kita. Demikian gelap turun, kita akan membuat obor yang maha besar. Padepokan ini akan menjadi karang abang”

Semua orang yang berada di padepokan itu mendengarnya. Bahkan ketika Ki Dukut mengulangi pesannya, rasa-rasanya setiap jantung di dalam dada, telah rontok karenanya. Agaknya Ki Dukut tidak sekedar berteriak begitu saja. Namun ia telah berusaha mempengaruhi seluruh medan itu dengan suaranya”

Mahisa Bungalan pun merasakan getaran yang menghentak di dadanya lewat suara Ki Dukut Karena itu, ia pun segera menyadari, bahwa Ki Dukut benar-benar seorang yang pilih tanding.

Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun menjadi heran, kenapa kedua pamannya masih belum nampak hadir menghadapi Ki Dukut yang menjadi semakin marah melihat kenyataan, bahwa para pengikut Marwantaka dan Wiranata tidak seperti yang diharapkannya.

Ketika Mahisa Bungalan mengangkat wajahnya, ia melihat, matahari memang menjadi semakin rendah. Sebentar lagi, senja akan segera turun.

“Berapa lama pertempuran ini sudah berlangsung?” bertanya Mahisa Bungalan kepada diri sendiri.

Dalam pada itu, Ki Dukut masih berkata lantang, “Kita sudah terlalu banyak membuang waktu. Kita telah menyia-nyiakan waktu di luar padepokan. Kita sudah kehilangan banyak waktu untuk mencari pelindung dari serangan anak panah. Kemudian kita kehilangan waktu pula dengan tingkah laku yang menjemukan dari orang-orang yang tidak berarti sama sekali, yang merasa dirinya mampu menghancurkan padepokan ini. Bahkan Marwantaka dan Wiranata pun tidak mampu berbuat apa-apa menghadapi anak muda itu. Aku kira aku akan dapat menjadi penonton sampai saatnya api akan menyala, karena aku ingin membunuh orang-orang ini justru pada saat terakhir. Tetapi ternyata aku menunggu dengan sia-sia. Karena itu, aku akan berbaat sendiri, sesuai dengan keinginanku”

Kata-kata itu memang mendebarkan. Agaknya Ki Dukut sudah benar-benar kehilangan kesabaran.

Namun dalam pada itu, ketika Ki Dukut sudah siap menyerang kedua orang pemimpin padepokan itu, ia sekali lagi tertegun. Sekali lagi ia mendengar keluhan tertahan. Ternyata yang terlempar dari arena adalah justru Marwantaka sendiri. Dari pundaknya mengalir darah.

“Gila” langkah Ki Dukut terhenti lagi, “apa artinya segala yang pernah kau katakan dengan mulutmu yang besar. Berdua dengan Wiranata kau tidak mampu membunuh anak itu.

Tetapi belum lagi terdengar jawaban, jantung Ki Dukut bagaikan meledak ketika ia melihat Wiranata lah yang jatuh terguling sambil mengaduh. Lambungnya ternyata telah tersayat senjata Mahisa Bungalan.

Sementara itu, para pengikutnya menjadi gelisah. Seorang kawan Marwantaka, yang merasa dirinya memiliki kemampuan setingkat dengan anak muda itu, telah membawa dua orang pengikutnya untuk menghadapi Mahisa Bungalan. Tetapi ternyata beberapa saat kemudian, mereka harus sudah berloncatan surut, karena tekanan Mahisa Bungalan yang tidak terlawan.

Matahari sudah menjadi semakin rendah. Sementara itu Witantra tidak tahu, kenapa Mahisa Agni masih belum nampak mendekati Ki Dukut yang tentu akan sangat berbahaya bagi Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng.

Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian Ki Dukut yang sudah tidak mau lagi menjadi penonton yang meliat pertunjukan yang semakin memuakkan, telah bergeser maju. Ia sama sekali tidak mempergunakan senjata apapun. Namun ketika tangannya telah terkembang, terasa jantung Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng berhenti berdetak.

Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan yang telah berhasil menyingkirkan lawan-lawannya yang terpenting, telah berlari mendekati Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng yang telah bersiap dengan senjata masing-masing.

“O” berkata Ki Dukut, “kau pun akan mati bersama dengan kedua tikus ini”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Namun ia sadar, bahwa Ki Dukut justru memusatkan perhatiannya kepadanya, karena Ki Dukut mengetahui bahwa yang terkuat diantara mereka adalah Mahisa Bungalan.

Ternyata Witantra lah yang tidak sampai hati membiarkan segalanya terjadi. Ketika Ki Dukut benar-benar telah mulai bergeser, Witantra sudah berada tidak terlalu jauh dari padanya.

Namun ternyata pada saat itu, Mahisa Agni pun telah berada di antara dua orang cantrik yang lain yang masih bertempur melawan orang-orang yang menyerang padepokan itu.

Pada serangan pertama, Ki Dukut nampaknya masih belum bersungguh-sungguh. Ia sekedar menggerakkan tangannya mengarah ke kening Mahisa Bungalan. Namun Mahisa Bungalan bergeser surut sambil menebas kearah tangan Ki Dukut itu.

Gerak Mahisa Bungalan cukup cepat. sehingga Ki Dukut yang menarik tangannya itu bergumam, “Bagus. Gerakmu cukup cepat. Tetapi kematianmu pun akan cepat.

Belum lagi Ki Dukut melanjutkan rencananya untuk membunuh, Ken Padmi telah berada di sebelah ayahnya. Katanya, “Kita hampir selesai ayah. Semua lawan telah hampir tumpas”

Kata-kata itu memang terpengaruh terhadap Ki Dukut. Namun ia berkata, “Kalian pun akan segera tumpas. Kau lihat, masih ada beberapa tikus clurut yang bertempur.

Ken Padmi tidak menjawab. Namun ketika Ki Dukut tiba-tiba saja menyerangnya, ia pun masih sempat meloncat surut.

Sementara itu, Mahisa Bungalan tidak tinggal diam. Jika Ki Dukut melangkah dengan serangan berikutnya, mungkin sekali Ken Padmi akan mengalami kesulitan. Karena itu, maka Mahisa Bungalan lah yang kemudian menyerang Ki Dukut dengan senjatanya yang terjulur lurus ke arah dadanya.

Ki Dukut terkejut melihat kecepatan gerak Mahisa Bungalan. Ia mengerti bahwa anak muda itu mempunyai kelebihan. Tetapi ia tidak mengira bahwa ia sempat bergerak secepat itu.

Sebenarnyalah Mahisa Bungalan yang telah mendapat tuntunan ilmu dari Mahisa Agni, dari Witantra selain ayahnya sendiri, ia pun mendapat beberapa petunjuk yang dapat mengungkit kemampuannya lebih tinggi lagi dari Ki Wastu. Ki Wastu lah yang membuat tubuhnya menjadi sangat ringan dalam gerak-gerak tertentu, sehingga seolah-olah tidak mempunyai bobot lagi. Dengan demikian maka ia mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi jika dikehendaki.

Ki Dukut yang memang ingin memburu Ken Padmi itu pun harus mengurungkan niatnya. Ia harus menghindari serangan Mahisa Bungalan yang demikian cepatnya.
per
Sikap Mahisa Bungalan itu seolah-olah telah membangunkan Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng yang berdiri termangu-mangu. Mereka pun segera bergeser, menempatkan diri dalam kesiagaan sepenuhnya menghadapi Ki Dukut Pakering.

Ki Dukut yang marah itu, memusatkan perhatiannya kepada Mahisa Bungalan. Ia menganggap bahwa anak muda itu akan dapat menjadi penghambat untuk melakukan rencananya. Dengan atau tidak dengan Marwantaka dan Wiranata, Ki Dukut ingin membakar padepokan itu menjadi abu.

“Dalam gelapnya malam, api akan nampak semakin garang” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.

Sementara itu, Marwantaka dan Wiranata yang terluka, tidak lagi mampu berbuat apa-apa. Mereka hanya dapat melihat, apa yang akan dilakukan oleh Ki Dukut.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Ki Dukut melawan keempat lawannya itu pun menjadi semakin seru. Bersama Mahisa Bungalan, maka Ki Selabajra, Ki Watu Kendeng dan Ken Padmi ternyata merupakan lawan yang tidak dapat dianggap sekedar angin yang lewat, menyentuh kulit dan hilang tidak berbekas. Tetapi keempatnya ternyata telah memaksa Ki Dukut untuk meningkatkan ilmunya. Bahkan semakin lama rasa-rasanya Mahisa Bungalan menjadi semakin garang. Anak muda itu bergerak semakin cepat, sedangkan kekuatannya pun menjadi semakin meningkat pula.

Sebenarnyalah menghadapi Ki Dukut, Mahisa Bungalan telah mengerahkan segenap ilmunya, ia telah benar-benar bertempur dalam tataran kemampuannya yang tertinggi. Ia tidak lagi berada di arena melawan Ken Padmi. Tidak pula melawan para cantrik dan bahkan lawannya bukan Marwantaka dan Wiranata.

Dalam tataran tertinggi dari ilmunya, maka Mahisa Bungalan lelah menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Meskipun ia berhadapan dengan Ki Dukut Pakering yang ditakuti itu, namun Mahisa Bungalan masih juga mampu menunjukkan bahwa ia memiliki ilmu yang tinggi pula.

Pada saat ia bertempur melawan muridnya yang muda, adik Pangeran Kudu Padmadata. ia berhasil mengalahkannya. Namun pada saal itu, bukau berarti bahwa ia akan dapat menghadapi gurunya.

Tetapi pada saat-saat berikutnya, ia mendapat bekal dari orang-orang yang dianggapnya sebagai gurunya untuk menyempurnakan ilmunya, bahwa Ki Wastu lelah pula mewariskan kemampuannya pula, sehingga ilmu Mahisa Bungalan pun telah meningkat pula. Karena itulah, maka ia telah berhasil menempatkan dirinya sebagai lawan Ki Dukut yang harus diperhitungkan.

Dalam pada itu, pada saat-saat permulaan dari pertempuran itu, Ki Selabajra, Ki Watu Kendeng dan Ken Padmi masih dapat membantunya. Namun dalam langkah-langkah selanjutnya, mereka bertiga menjadi bingung, sehingga justru karena itu, mereka pun telah bergeser dari arena.

Witantra yang berdiri tidak terlalu jauh dari arena itu menarik nafas dalam-dalem. Baru ia tahu maksud sebenarnya dari Mahisa Agni. Ia nampaknya sengaja membiarkan Mahisa Bungalan bertempur melawan Ki Dukut Pakering. Agaknya Mahisa Agni yakin, bahwa Mahisa Bungalan akan turun jika Mahisa Agni dan Witantra tidak segera menempatkan diri sebagai lawan Ki Dukut Pakering.

Agaknya Mahisa Agni memang ingin menunjukkan kepada orang-orang padepokan Kenanga dan Watu Kendang, kemampuan anak muda itu yang sebenarnya. Mahisa Bungalan tidak sekedar mampu mengalahkan Ken Padmi di arena. Bahkan malahan ada yang menyangka, bahwa Ken Padmi yang memang sudah menaruh hati kepada Mahisa Bungalan, telah dengan sengaja membiarkan dirinya kalah. Meskipun ia berpura-pura tidak dapat menahan perasaannya dengan menarik pedang, tetapi sebenarnyalah bahwa ia telah dengan sengaja mengalah.

Ternyata pertempuran antara Mahisa Bungalan dan Ki Dukut itu telah menghapus segala kesan yang kurang baik atas Mahisa Bungalan. Kecuali ia berhasil mengalahkan Marwantaka dan Wiranata sekaligus, ia pun dapat menempatkan dirinya sebagai lawan yang harus diperhitungkan oleh Ki Dukut Pakering, yang dikenal sebagai hantu yang memiliki ilmu tidak ada batasnya.

Pertempuran itu semakin lama manjadi semakin sengit. Dalam pada itu, langit pun menjadi semakin buram, karena matahari telah hampir tenggelam di balik cakrawala.

Ken Padmi yang kemudian berdiri di luar arena menjadi berdebar-debar. Namun ia pun dapat berbangga, bahwa orang yang telah mengalahkannya adalah benar-benar orang berilmu tinggi.

Dalam pada itu, matahari pun menjadi semakin rendah, sehingga akhirnya hilang dibalik cakrawala. Langit yang buram itu pun menjadi hitam.

Perlahan-lahan padepokan Kenanga itu pun menjadi-gelap. Namun pertempuran antara Ki Dukut dan Mahisa Bungalan itu pun semakin lama menjadi semakin sengit.
Namun ketika Ki Dukut sampai ke puncak ilmunya, ternyata bahwa Mahisa Bungalan masih belum dapat mengimbanginya. Semakin lama menjadi semakin nampak, terutama di mata Mahisa Agni dan Witantra, bahwa Mahisa Bungalan menjadi semakin terdesak.

Apalagi karena Ki Dukut yang marah itu melihat satu kenyataan, bahwa para pengikut Marwantaka dan Wiranata sama sekali sudah tidak berdaya lagi. Mereka telah menyerah dan sama sekali tidak mampu berbuat sesuatu di hadapan para cantrik dari padepokan Kenanga yang menjaga mereka dengan seksama.

“Kalian akan menyesal” geram Ki Dukut sambil menekan Mahisa Bungalan semakin tajam. Bahkan akhirnya Ki Dukut itu pun berkata, “Kau memang tidak tahu diri. Kau sangka kau akan mampu menahan ilmu pamungkasku”

Dengan demikian kedudukan Mahisa Bungalan benar-benar menjadi gawat. Meskipun Mahisa Bungalan mampu melawan Ki Dukut dengan kecepatan ilmu pedangnya. Namun jika Ki Dukut benar-benar melepaskan ilmu pamungkasnya, maka senjata di tangan Mahisa Bungalan itu pun tidak akan berarti sama sekali.

Namun dalam pada itu, ketika keadaan manjadi semakin gawat, tiba-tiba saja Mahisa Agni telah berada di pinggir arena perkelahian itu. Katanya, “Ki Dukut. Semua orang-orangmu telah menyerah. Apakah kau tidak akan menyerah?”

Gelapnya malam teiah menyelubungi seluruh padepokan. Yang nampak pada Ki Dukut adalah seorang cantrik tua yang telah berani menghinanya. Karena itu, maka tanpa menjawabnya, ia bermaksud membunuh cantrik itu dengan sekali sentuh.

Sebenarnyalah bahwa jika yang dihadapi oleh Ki Dukut itu benar-benar seorang cantrik padepokan Kenanga, maka ia akan mati tersentuh tangan Ki Dukut Pakering. Karena tiba-tiba saja Ki Dukut yang marah itu bergeser dengan kecepatan yang tidak dapat diketahui oleh tatapan mata wadag sambil mengayunkan tangannya mengarah ke leher cantrik tua itu. Jari-jari Ki Dukut itu akan dapat menembus lehernya sehingga sentuhan itu akan berakibat kematian

Tetapi sekali lagi Ki Dukut terkejut. Tangannya itu sama sekali tidak manyentuh sesuatu. Cantrik itu yang oleh mata wadag tidak nampak bergerak sama sekali itu, ternyata mampu menghindari serangannya yang tiba-tiba itu.

Bahkan jantung Ki Dukut itu pun akan meledak ketika ia mendengar seorang cantrik tua yang lain tertawa sambil berkata, “Apa yang kau lakukan Ki Dukut. Apakah kau kira kau dapat manangkap angin?”

Kemarahan Ki Dukut tidak terkendali lagi. Sekali lagi ia meloncat dengan kecepatan yang tidak dapat dilihat oleh mereka yang menyaksikan pertempuran itu. Tangannya menebas ke arah cantrik tua yang mentertawakannya itu, langsung kearah dada.

Tetapi dada itu tidak menjadi remuk karenanya, dan tulang-tulang iga itu tidak berpatahan, karena tangan ki Dukut sama sekali tidak menyentuh apapun.

Ki Dukut pun sadar, dengan siapa sebenarnya ia berhadapan. Ternyata ada beberapa orang yang memiliki ilmu yang luar biasa berada di padepokan Kenanga. Agaknya karena itu pula maka para pengikut Marwantaka dan Wiranata sama sekali tidak berdaya menghadapi cantrik-cantrik padepokan Kenanga, karena di antara para cantrik itu terdapat orang-orang yang sebenarnya pasti bukan cantrik yang sewajarnya.

Dalam pada itu, terdengar cantrik tua yang pertama itu pun berkata, “Sudahlah Ki Dukut. Menyerah sajalah. Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng tentu tidak akan menghukum kalian, karena mereka memang tidak berwenang. Yang dapat mereka lakukan adalah menyerahkan kau kepada orang yang paling berkepentingan dengan kau. Pangeran Kuda Padmadata”

“Gila, siapa kau sebenarnya?” bertanya Ki Dukut

“Sudah kenal atau belum kenal, baiklah aku menyebut namaku, Mahisa Agni” jawab Mahisa Agni.

“Dan kau?” bertanya Ki Dukut kepada cantrik yang lain.

“Witantra” jawab Witantra, “Deberapa kali kita bersentuhan. Langsung atau tidak langsung”

“Persetan” geram Ki Dukut, “apa hubungan kalian dengan Kuda Padmadata?”

“Bukan apa-apa. Tetapi menangkapmu adalah kewajibanku. Kami berdua adalah prajurit Singasan” jawab Mahisa Agni. Ia langsung menyebut tentang dirinya agar dapat mempengaruhi jalan pikiran Ki Dukut, sehingga mungkin Ki Dukdut akan mengambil satu kebijaksanaan. Setidak-tidaknya, Ki Dukut tidak akan terlalu merasa terhina jika ia harus melawan. Bukan sekedar seorang cantrik tua, tetapi seorang prajurit Singasari.

Sebenarnyalah, Ki Dukut mulai memperhatikan kedua orang cantrik tua itu. Ada semacam perasaan lain setelah ia mengetahui bahwa kedua orang itu sebenarnya adalah prajurit Singasari.

Yang menjadi berdebar-debar bukan hanya Ki Dukut sendiri, karena ternyata orang-orang yang berdiri di sekitar arena itu pun menjadi berdebar-debar pula. Ternyata kedua orang itu adalah prajurit Singasari. Tentu bukan dari tataran yang rendah.

Sejenak arena pertempuran itu dicengkam oleh ketegangan. Dengan demikian halaman padepokan Kenanga yang hiruk pikuk itu telah menjadi hening. Seolah-olah suasananya telah menjadi beku.

Namun sejenak kemudian terdengar Ki Dukut Pakering itu tertawa menggelegar mengguncang udara diseputarnya.

Terasa betapa suara tertawa Ki Dukut itu mencengkam jantung. Setiap orang merasa seolah-olah dada mereka telah dihantam oleh batu sebesar gunung

Mahisa Agni dan Witantra merasakan pula getaran itu menyentuh dinding dadanya Tetapi bagi keduanya getaran itu tidak berarti apa-apa karena daya tahan mereka. Sementara itu Mahisa Bungalan masih juga harus menangkis serangan itu dengan kekuatan dar dalam dirinya, agar jantungnya tidak terguncang karenanya.

Ki Selabajra, Ki Watu Kendeng, bahkan Ken Padmi dan apalagi para cantrik dari padepokan Kenanga, harus menekan dada mereka dengan telapak tangan mereka, agar dada mereka tidak pecah karenanya.

Dalam pada itu, Mahisa Agni pun bergeser setapak sambil berkata, “Jangan menjadi putus asa Ki Dukut. Kau berusaha untuk membunuh seisi padepokan ini dengan cara yang sangat mengerikan ilu”

Disela-sela suara tertawanya terdengar Ki Dukut itu berkata, “Matilah kalian semuanya. Aku tidak peduli, apakah kalian orang-orang padepokan Kenanga atau orang-orang yang justru sedang menyerang padepokan ini. Mayat kalian akan memenuhi halaman padepokan ini. Namun, sebentar lagi, padepokan ini akan menjadi lautan api. Sisa mayat kalian pun akan berbaur dengan bara dan abu dari bangunan-bangunan yang ada di padepokan ini”

“Kau dapat berbuat demikian jika orang-orang yang ada di sini telah menjadi putus asa seperti kau sendiri” desis Witantra, “tetapi aku masih ada di sini. Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan masih di sini pula. Adalah menjadi kewajiban kami untuk mengakhiri permainanmu yang kasar itu”

Ki Dukut masih tertawa. Suaranya masih menggetarkan udara di sekitarnya. Bahkan setiap jantung bagaikan berhenti ketika Ki Dukut itu berteriak, “Aku akan membunuh semua orang dengan cara yang menarik ini. Bersedialah untuk mati”

“Kau kira kami adalah anak-anak dungu yang tidak tahu diri” sahut Mahisa Agni sambil bergeser mendekat. Lalu, “ Bukankah aku dapat langsung membungkam sumber dari suara yang kasar dan buas ini?”

Ki Dukut pun menyadari. Tetapi ia ingin mendahuluiuya. Karena itu justru suaranya menghentak semakir dahsyat. Bahkan beberapa orang yang mendengar suart itu menjadi semakin lemah, dan satu dua di antara mereka menjadi pingsan.

Tetapi Mahisa Agni tidak membiarkannya. Jika Ki Dukut itu masih mendapat kesempatan lebih lama lagi. orang-orang yang berada di halaman itu akan menjadi pingsan semuanya. Bahkan Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng pun tidak akan dapat bertahan.

Karena itu, maka Mahisa Agni itu pun bergeser semakin mendekat. Ki Dukut adalah orang yang sudah lama diburu bukan saja oleh muridnya Pangeran Kuda Padmadata, tetapi ia sendiri sependapat bahwa orang itu harus ditangkap, dalam keadaan yang bagaimana pun juga.

Bahkan telah banyak terbuang waktu dan korban selama masa perburuan itu berlangsung. Karena itu, adalah satu kesempatan, bahwa Ki Dukut itu telah datang dengan sendirinya untuk menemuinya.

“Ki Dukut” berkata Mahisa Agni, “aku mohon kau menyadari keadaanmu. Aku tahu bahwa selama ini kau mengalami goncangan-goncangan perasaan, sehingga kau seolah-olah telah berubah dari kenyataanmu sebelumnya. Kau menjadi orang lain dari Ki Dukut Pakering yang pernah menjadi guru Pangeran Kuda Padmadata. Karena itu, pada saat-saat terakhir seperti ini, aku berharap bahwa Ki Dukut masih sempat untuk mengerti tentang diri sendiri”

Tetapi suara Ki Dukut itu justru semakin menghentak-hentak. Beberapa orang cantrik lagi telah jatuh pingsan.

Karena itu, agaknya tidak ada jalan lain lagi yang dapat ditempuh oleh Mahisa Agni kecuali dengan menghentikan sumber bunyi yang mengandung kekuatan yang dahsyat itu.

“Ki Dukut” gumam Mahisa Agni kemudian, “aku sudah siap untuk melawanmu. Jangan bangga karena kau dapat menidurkan beberapa orang cantrik kecil. Tetapi pandanglah aku yang mengemban tugas dari Singasari untuk menangkapmu atas laporan dari Pangeran Kuda Padmadata di Keiliri, bahwa kau teler membahayakan ketenangan hidup orang banyak. Dan sekarang aku telah melihat sendiri, bahwa kau adalah benar-benar orang yang berbahaya”

Ki Dukut tidak menghiraukan. Ia benar-benar ingin meneriakkan lagu maut itu sampai tuntas.

Namun Mahisa Agni tidak membiarkannya lebih lama lagi ia berteriak dan tertawa. Karena itu, maka tiba-tiba saja Mahisa Agni telah meloncat maju. Tangannya terjulur lurus mengarah ke dada orang itu. Ia memang tidak ingin langsung menghancurkan tulang-tulang iga Ki Dukut yang bagaikan gila itu. Namun ia ingin mempengaruhinya untuk menghentikan suara tertawa dan teriakan-teriakannya yang mampu membuat orang lain menjadi pingsan.

Dalam pada itu, Ki Dukut yang semula menganggap bahwa Mahisa Agni hanya sekedar menakut-nakutinya itu terpaksa bergeser pula. Telapi kemarahan yang sudah memuncak, telah mendorongnya untuk langsung berbuat sesuatu atas Mahisa Agni.

Meskipun ia tidak dapat melakukan kedua serangan bersama-sama atas Mahisa Agni dan atas orang-orang yang berada di halaman itu dengan suara tertawa dan teriakan-teriakannya, namun ia memperhitungkan, bahwa apabila Mahisa Agni telah dilumpuhkan, maka orang-orang lain tidak akan berarti apa-apa lagi baginya.

Karena itu, maka perhatian selanjutnya diarahkannya kepada Mahisa Agni, dan ia pun tidak boleh lengah atas orang yang menyebut dirinya Witantra di samping Mahisa Bungalan.
Dengan garangnya maka Ki Dukut pun segera menyerang Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni lelah bersiaga sepenuhnya. Karena itu, maka serangan pertama Ki Dukut itu sama sekali tidak menyentuh sasarannya.

Namun Ki Dukut pun lelah menyerang pula untuk kedua kalinya. Lebih cepat dan lebih mapan.

Meskipun demikian, serangannya itu pun sama sekali tidak menyentuh sasarannya. Mahisa Agni meloncat ke samping selangkah. Namun Ki Dukut pun memburunya. Dengan ilmunya yang tinggi tangannya telah terayun meng arah ke pundak lawannya.

Sekali lagi Mahisa Agni harus menghindar. Tetapi ia tidak mau. sekedar harus menghindar dan meloncat menjauh. Karena itu, maka sambil menghindari serangan lawan, maka ia pun telah menyerangnya pula.

Demikian tangan Ki Dukut menyambar pundaknya, maka Mahisa Agni pun memiringkan tubuhnya sambil menarik sebelah kakinya. Namun yang tiba-tiba saja ia telah meloncat dan menyerang perut lawannya dengan kakinya.

Tetapi Ki Dukut pun mampu bergerak secepat Mahisa Agni. Karena itu, maka kaki Mahisa Agni itu pun tidak mengenainya.

Perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin cepat dan keras. Ki Dukut semakin bernafsu untuk segera mengalahkan lawannya. Apalagi ketika ia sadar, bahwa agaknya kawan-kawan Mahisa Agni tidak ingin membantunya, sehingga yang terjadi itu pun seolah-olah adalah perang tanding.

Sebenarnyalah, mereka yang tidak sedang mengawasi orang-orang yang sudah dilumpuhkan dan menyerah, menyaksikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebar-debar. Bahkan Mahisa Bungalan pun menjadi tegang. Ia melihat keduanya semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga semakin sulit untuk diikuti.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang telah bertempur seorang melawan seorang dengan Ki Dukut itu, agaknya tidak hanya akan mempergunakan tenaga wadagnya saja. Demikian halnya dengan Ki Dukut yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Bukan saja pada kekuatan wadag, tetapi juga kekuatan yang terpancar dengan kekuatan getar di dalam dirinya yang mampu melontarkan tenaga dengan kekuatan wadag yang sangat besar, di samping sentuhan-sentuhan langsung pada pusat-pusat syaraf lawannya, dengan rabaan wadag atau bukan wadag.

Dengan demikian, maka pertempuran itu menjadi semakin keruh dan membingungkan. Kadang-kadang gerak mereka menjadi sangat lamban. Namun terasa, lontaran-lontaran tenaga yang tidak kasat mata sedang bertarung dengan dahsyatnya.

Witantra menyaksikan pertempuran itu dengan seksama. Ia pun melihat, betapa tingginya ilmu Ki Dukut Pakering. Sementara itu Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng sudah tidak mampu lagi menilai pertempuran yaug sedang berlangsung itu.

“Apa yang akan terjadi dengan kita berdua jika kita benar-benar harus melawannya” desis Ki Selabajra ditelinga Ki Watu Kendeng.

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Ki Dukut benar-benar orang yang memiliki kemampuan seperti yang pernah didengarnya. Ia seolah-olah mempunyai kekuatan diluar jangkauan nalar manusia, sehingga ada yang menyebutnya, bahwa ia mempunyai landasan kekuatan dari mahluk-mahluk yang tidak kasat mata.

Tetapi dalam pada itu, ternyata Mahisa Agni itu pun mampu mengimbanginya. Orang yang datang bersama Mahisa Bungalan dan disebutnya sebagai pamannya itu ternyata seorang yang memiliki kemampuan setingkat dengan Ki Dukut.

Namun Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng pun menjadi khawatir. Apakah orang yang bernama Mahisa Agni dan mengaku prajurit Singasari itu yakin bahwa dirinya akan menang, sehingga dengan demikian, kawannya, Witantra, tidak ikut membantunya sama sekali. Jika Mahisa Agni itu dapat dikalahkan oleh Ki Dukut, apakah Witantra akan dapat mengimbanginya.

Tetapi Ki Selabajra tidak bertanya. Jika keduanya sudah mengaku prajurit Singasari, maka yang mereka lakukan itu tentu akan dapat dipertanggung jawabkan terhadap Maharaja di Singasari.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung semakin seru. Namun dalam pada itu, arena pertempuran itu pun telah menjadi berserakan. Pepohonan yang tersentuh kekuatan kedua orang itu berpatahan.

Ken Padmi menyaksikan pertempuran itu dengan tanpa berkedip. Ketika Mahisa Agni itu memperlihatkan beberapa kelebihan, ia sudah menjadi keheranan sebelum ia bersedia dibimbing oleh Mahisa Agni itu dalam olah kanuragan, sehingga ia dapat mengalahkan Marwantaka dan Wiranata. Namun kini ia melihat Mahisa Agni itu seutuhnya. Melihat ilmunya yang maha dahsyat. Bukan saja seperti permainan anak-anak yang tidak berarti, di saat-saat terjadinya sayembara tanding.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...