35
AGAMA CINTA
Malam sebelum debat Fahri telah sampai di Oxford. Malam itu Fahri menginap di Oxford Thames Four Pillars Hotel. Sebuah hotel yang berada di tepi sungai Thames. Fahri memilih kamar terbaik. ltu adalah kamar yang rencananya akan ia gunakan menginap nanti setelah akad dan pesta pemikahan.
Keluarga besar Hulya nanti juga akan menginap di hotel itu. Paman Hulusi dan Misbah juga terdaftar menginap di hotel itu.
Acara debat di Oxford Union dilaksanakan sore hari. Dari jam 16.00 sampai 18.30.
Pagi hari sampai menjelang debat bisa digunakan untuk melihat-lihat tempat yang akan digunakan untuk akad dan walimah.
Paman Akbar, Ozan dan Hulya dan bertiga ke hotel saat Fahri sarapan. Mereka langsung
bergabung sarapan. Selesai sarapan mereka menuju Central Oxford Mosque, Manzil Way, Oxford.
Masjid utama di kota Oxford itu berwarna kemerahan. Imam masjidnya berasal dari Pakistan. Sangat ramah dan baik. Mereka dijamu minum teh di ruang Sang Imam.
"Jadi Anda murid Syaikh Utsman yang memberi sanad di Central Mosque London?"
"lya imam, saya murid Syaikh Utsman."
"Berarti Anda juga yang sekarang menggantikan beliau sesekali mengajar di Central Mosque London?"
"Insya Allah iya."
"Alhamdulillah. Saat Syaikh Ustman datang saya sedang di lslamabad. Tetapi anak saya ikut mengambil sanad. Anak saya berapa kali ikut belajar qira'ah Warasy padamu."
"Oh siapa dia kalau boleh tahu?"
“Omar Afzal Khan imam masjid di Warwick."
"Oh iya."
"Jadi yang nanti akan berdebat di Oxford Union juga Anda?"
"Insya Allah."
"Semoga Allah memberi taufik-Nya."
"Amin."
Imam masjid minta izin untuk mengumumkan ihwal akad nikah Fahri yang akan dilaksanakan di masjid, agar yang menjadi saksi dan yang mendoakan banyak. Fahri mengizinkan.
Setelah berjumpa dengan Sang Imam, Fahri jadi berpikir bahwa walimah akan dilaksanakan dua kali.
Pertama di masjid itu langsung setelah akad nikah. Sebab sebagai orang Jawa, ia merasa akan tidak nyaman jika para jamaah yang menghadiri akad nikahnya tidak diberi makan dan minum sama sekali.
Sekalian dibuatkan pesta akad nikah yang sesuai dengan kondisi masjid. Kedua, pesta walimatul ursy di Magdalen College, University of Oxford. Paman Akbar Ali langsung menyetujui apa yang dipikirkan Fahri.
Dari Central Oxford Mosque, mereka bergerak ke Magdalen College. Hulya beberapa kali
mengungkapkan rasa kagumnya melihat keindahan college itu. Mereka melihat hall utama yang juga sering dijadikan tempat menikah, terutama ala nasrani.
Beberapa titik yang biasa dijadikan tempat
pesta pernikahan disisir dengan saksama.
Hulya akhirnya menentukan sebuah titik, di sebuah lapangan rumput yang hijau di pinggir sungai.
Latar belakangnya adalah gedung-gedung tua Magdalen College yang bergaya gothic dan victorian. Tak jauh dari situ tampak lapangan hijau yang luas dan indah dengan ratusan rusa bertebaran di sana.
"Ini sangat romantis. Ada rumput. Ada pepohonan. Ada sungai. Ada gedung-gedung tua. Dan ada rusa. Nanti pestanya di sini saja." Kedua mata Hulya tampak berbinar-binar.
"Ya ini bagus sekali. Menara Magdalen College itu dari sini juga tampak menawan." Fahri mengamini apa yang diinginkan calon istrinya.
"Masih ada waktu empat jam sebelum Hoca. Fahri berdebat ke Oxford Union, kita mau ke mana sekarang?" Tanya Ozan setelah melihat jam tangannya.
"Saya ikut kalian saja." Sahut Fahri.
"Kita cari makan siang, lalu ke Blackwell's Bookstore. Itu toko buku yang sangat terkenal di Oxford.
Saya penasaran sekali. Katanya di toko buku itu ada ruangan bernama Norrington yang tercatat di Guinness Book of Records sebagai ruangan tunggal terbesar di dunia yang menjual buku.
Panjang rak bukunya, katanya, totalnya 5 kilometer. Saya mau lihat. Habis dari toko buku kita kembali dulu ke hotel sebelum ke Oxford Union." Kata Hulya bersemangat.
"Subhanallah sebenarnya saya juga mau usul makan siang terus ke Blackwell's Bookstore. Bisa sama ya pikirannya?" Sahut Fahri.
"Itu tandanya sudah benar-benar bertemu hati dan jiwa." Tukas Paman Akbar sambil tersenyum. Muka Hulya berseri-seri bahagia.
Angin berhembus pelan. Segerombolan rusa berjalan-jalan. Segerombolan lain sedang makan. Di pinggir kanan padang rumput dua ekor rusa berkejaran. Kadang berlari cepat, kadang melambat.
Sambil berjalan Fahri mengamati tingkah dua rusa yang sedang bermesraan itu. Hulya memperhatikan apa yang diperhatikan oleh Fahri. Awalnya Fahri tidak menyadari bahwa Hulya memperhatikannya, akhirnya ia menyadari.
Fahri tersenyum pada Hulya, calon istrinya itu menunduk malu sambil tersenyum. Keduanya mengikuti Paman Akbar dan Ozan melangkah meninggalkan Magdalen College.
*****
Penampilan Fahri untuk debat di Oxford Union sore itu tidak main-main. la memakai pakaian resmi aristokrat lnggris. Sebenarnya dalam penampilan sehari-hari Fahri suka yang sederhana. Ketika mengajar di kampus ia lebih suka memakai jas yang kasual.
Beberapa profesor yang berdebat di Oxford Union juga ada yang memakai pakaian kasual seperti Profesor Tariq Ramadhan. Namun Fahri tahu bahwa Oxford Union adalah forum resmi yang bergensi di Inggris. Maka ia memilik memakai pakaian standar para bangsawan lnggris.
Sore itu ia memakai suit atau jas, di dalamnya ada waistcost atau rompi untuk jas, kemeja double cuff, kemudian cufflink dan dasi. Untuk celana ia memakai celana bahan woolblend. Dan sepatu yang ia pilih adalah jenis sepatu broque.
Fahri tidak mau setengah-setengah. Bahan pakaian yang ia pakai bisa disebut bahan-bahan kelas satu.
Jas yang ia pakai berwarna hitam dengan satu kancing. Itu pun ia biarkan terbuka tidak ia kancingkan, sebab di dalamnya ia memakai waistcost. Penampilan Fahri tampak mewah dengan kemeja doublecuff dengan culfflink.
Cuff maknanya manset. Disebut double cuff karena mansetnya panjang, dan dilipat kemeja jenis ini bisa menunjukan status sosial di masyarakat eropa.
Yang membedakan kemeja double cuff ini dengan kemeja yang lain ada di mansetnya. Ia tidak mempunyai kancing, tapi ada 4 lubang di dalam dan luarnya. Lalu di antara lubang itu dikunci dengan Cufflink.
Untuk cufflink sendiri ada ribuan jenis, bahan dan desain. Ada yang berbahan metal biasa dengan corak huruf, atau bahkan polos. Tapi ada juga yang berharga puluhan juta karena dihiasi berlian.
Keluarga-keluarga bangsawan Inggris, biasanya memakai cufflink berlogo crest atau symbol keluarga.
Fahri sendiri saat itu memakai cufflink dengan symbol The University of Edinburgh. Untuk sepatu Fahri juga tidak sembarangan memakai sepatu. Sekali lagi, Fahri memang tidak mau
berpenampilan biasa-biasa. Selain detail argumentasi yang akan di bawa dalam debat itu, detail berpakaian pun ia suguhkan di Oxford Union. Ada banyak sepatu resmi, tetapi Fahri memilih jenis kalangan resmi kelas atas. Fahri memilih jenis Brogue. Ini jenis sepatu kulit yang corak. Bagian depannya tidak lurus, tapi melengkung. Konon, jenis brogue ini berasal dari Ireland.
Fahri melangkah ke lobi Oxford Thames Four Pillars Hotel dengan tenang. Beberapa orang yang berpapasan menoleh melihat penampilannya yang mengesankan. Dengan postur 175, Fahri kelihatan gagah dan menawan.
Ozan tersenyum kagum melihat penampilan Fahri sore itu. Dalam hati ia mengatakan bahwa adiknya tidak salah mendapatkan suami orang Indonesia yang ada di hadapannya itu. Hulya tidak kalah terpesona.
Penampilan Fahri sore itu diluar ekspetasinya. Paman Akbar seorang konglomerat yang
memiliki pabrik tekstil dan karpet di Turki langsung tahu bahwa Fahri sangat mengerti etika berpakaian kalangan atas Inggris.
Mereka berempat langsung menuju mobil mewah Ozan yang telah siap di depan lobi hotel. Fahri duduk di kursi tengah bersama Paman Akbar. Sementara Hulya duduk di depan di samping Ozan yang memegang kemudi.
Sudah beberapa kali Fahri ke Oxford, dan ia merasa tidak pernah bosan melihat pemandangan gedung-gedung yang klasik dan suasana keilmuan yang hangat. Di mana-mana mahasiswa lalu lalang. Seolah penduduk kota kecil itu seluruhnya adalah pelajar terpilih dari berbagai negara dan bangsa.
Ozan membawa mobilnya menelusuri kota itu Cornmarket Street. Toko-toko terkenal kelas dunia terpajang di kanan kiri. Oxford tidak bisa menghindarkan diri dari serbuan kapitalis.
Setelah melewati Burger King di sebelah kanan, mobil itu sampai perempatan. Di pojok sebelah kiri perempatan itu ada toko Austin Reed Oxford yang berhadapan depan Virgin Media. St Michael's Street membelah dua toko
itu. Ozan membawa mobilnya pelan-pelan memasuki St Michael's Street. Di depan di ujung jalan tampak bangunan tinggi meruncing. Itu bukan The Oxford Union.
Setelah melewati beberapa restoran; Makan La, Mission Burrito, dan Bill's, mobil itu berhenti. Tepat di depan Bill's care berdiri bangunan klasik dari batu kehitaman. Itulah bangunan The Oxford Union yang di dirikan 1823 sebagai forum diskusi civitas akademika Oxford.
Ozan memarkir mobilnya di depan Bill's Cafe. Mereka berempat memasuki kawasan The Oxford Union melalui gerbang kecil. Di halaman Oxford Union beberapa orang tampak sedang duduk-duduk di kursi dan berdiskusi.
Seorang lelaki bule memakai jas resmi datang menyongsong dari bangunan sebelah kanan. Langkahnya tergesa.
"Anda Dr. Fahri, iya?"
Tanyanya kepada Fahri sambil mengulurkan tangannya.
"Iya saya Fahri." Jawab Fahri sambil menjabat tangan lelaki itu.
"Senang berjumpa Anda. Saya Frank Steyn. Saya yang mengorganisir debat sore ini."
"Saya juga senang bertemu Anda. Maaf apakah saya terlambat?"
"Oh tidak, Anda datang tepat waktu. Lima menit lagi debat dimulai. Profesor Mona Bravmann dari Chicago dan Prof. Alex Horten dari London telah datang. Keduanya lawan debat Anda. Mari silakan masuk!"
"Mereka bertiga tamu spesial saya."
"Boleh. Mari!"
Mereka berempat mengikuti Frank Steyn memasuki ruang debat The Oxford Union yang legendaris.
Ruangan bernuansa kayu klasik yang tidak terlalu besar itu telah penuh manusia. Fahri dipersilakan duduk di samping Prof. Bravmann dan Prof. Horten. Sementara Hulya, Ozan dan Paman Akbar dipersilakan duduk di barisan pendengar.
Wibawa keangkeran ruang debat itu langsung dirasakan oleh Fahri. Ia jadi teringat tokoh–tokoh dunia yang pernah berbicara dan berdebat di situ. Beberapa presiden Amerika pernah berdebat di situ;
Richard Nixon, Jimmy Carter, Ronald Reagan.
Beberapa Perdana Menteri Inggris juga pernah berdebat di situ; Winston Churcill, David Lloyd George, Edward Heath, John Major, David Cameron.
Tokoh-tokoh terkemuka kelas dunia dalam berbagai bidang dan profesi yang pernah berdebat di situ misalnya:
Dalai Lama, Mother Teresa, Yasser Arafat, Gerry Adam, Syeikh Hasina, Jon Bon Jovi, Lang Lang, Barry White, Dizze Rascal, Sir Roger Bannister, Sven Goran Eriksson, Gianfranco Zola, Sepp Blatter, John Terry, Albert Einstein, Stephen Hawking, Lord Robert Winston, Jane Godall, Morgan Freeman, Pierce Brosnan, Ben Affleck, Michael Douglas, Natalie Portman, Emma Watson, Ziauddin Sardar, Antony Horowitz, Jung Chang, dan lain sebagainya.
Bisa jadi Fahri adalah orang Indonesia pertama yang berdebat di situ. la langsung berhadapan dengan dua orang professor kelas dunia.
Di barisan tamu-tamu terhormat tampak Prof. Charlotte, Prof. Ted Stevens, Prof. Omar Sandler, juga guru-guru besar Oxford.
Ternyata moderator debat itu adalah juga frank Steyn. Dia memperkenalkan diri sebagai dosen antropologi di Oxford sekaligus wakil presiden The Oxford Union. Frank Steyn yang beraksen Swedia itu membuka debat sore itu.
"Tiga pembicara kita sore ini adalah para pakar dan cendekiawan dengan reputasi tinggi di bidangnya.
Profesor Mona Bravmann pakar kajian timur dekat dari Chicago, Prof. Alex Horten pakar sosiologi agama dari King's College London dan Dr. Fabri Abdullah, pakar studi Islam dari University of Edinburgh!"
Tepuk tangan membahana. Ketiga pembicara berdiri memberi hormat kepada pendengar. Mereka lalu berjalan dan duduk di kursi pembicara.
"Tema-tema yang hangat, tema-tema yang rumit, tema-tema yang penting dalam kehidupan umat manusia, juga tema-tema yang dianggap kontroversial adalah pembahasan paling menggairahkan dan
sering menjadi fokus diskusi dan debat di The Oxford Union.
Kali ini kita akan membahas seorang tokoh
yang kontroversial dalam dunia pemikiran. Khususnya dalam dunia pemikiran Islam dan teologi secara umum. Banyak cendekiawan saat ini menyerukan bahwa sesungguhnya semua agama itu sama. Dan tokoh ini dianggap sebagai cendekiawan klasik yang jauh-jauh hari telah menyampaikan pemikiran itu.
Tokoh kontroversial itu adalah Ibn Arabi. Mari kita dengarkan pemaparan dari ketiga pakar. Jika ada ketidaksamaan pendapat di antara mereka, kita dengarkan perdebatan mereka. Silakan Profesor Mona Bravmann. Waktu untuk Anda!"
"Saya Mona Bravmann. Saya kecil dan remaja di Mesir. Keluarga saya Muslim. Awalnya saya Muslim. Kini saya bisa dikatakan mempercayai semua agama. Karena bagi saya semua agama sama. Saya sering juga ikut ritual suami saya Albert Bravmann yang Yahudi.
Saya menemaninya puasa Yom Kippur. Saya juga ke gereja bersama tetangga saya di Chicago, saya panjatkan doa kepada Yesus Kristus. Saya satu hari bisa jadi Muslim, yahudi dan kristiani. Saya merasa bahagia. Saya menikmatinya.
Agama-agama yang ada adalah jalan-jalan Tuhan, semuanya mengalir pada muara yang sama. Misalnya kita mau ke Manchester dari Oxford ini. Ada ribuan jalan untuk sampai ke sana. Ribuan jalan itu adalah agama. Dan tujuannya adalah sama yaitu Tuhan.
Jadi semua sama saja. Ini yang saya yakini saat ini. Dan saya sangat yakin keyakinan saya ini benar. Jujur, saya bukan yang pertama meyakini hal ini.
Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, tokoh yang jauh-jauh hari memiliki Pandangan seperti ini adalah Ibn 'Arabi. Atau nama lengkapnya Muhyiddin Abu Abdillah ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdillah al-Hatimi at-Tha'i. Ada puisi Ibn 'Arabi yang sangat terkenal yang menjelaskan konsep ini.Tolong simak baik-baik!"
Perempuan setengah baya berparas Arab dan tidak berkerudung itu kemudian melantukan tiga bait puisi Ibn 'Arabi dalam bahasa Arab.
“Laqad shara qalbi kulla Shuratin, fa mar' a li ghazlaanin wa dairun li ruhbanin, wa baitun li
autsaanin. wa ka'abu thaifin wa alwahu tauratin wa mushhafu Qur'anin, adinu bi diinil hubbi anni tawajjahtu rakaibahu faddinu dini wa imani.” Selesai melantunkan puisi itu perempuan setengah baya itu tersenyum.
"Artinya indah sekali, gumamnya."
'Hatiku menerima segala bentuk rupa, ia adalah padang rumput bagi rusa, biara bagi rahib, kuil berhala, ka'bah tempat orang thawaf, batu tulis untuk taurat dan mushaf bagi Al Qur'an.
Aku beragama dengan agama cinta, yang selalu kuikut langkah-langkahnya, itulah agamaku dan keimananku! '
Di dalam puisinya itu Ibn Arabi memandang semua agama sama muaranya. Jalan-jalan yang diturunkan Tuhan kepada umat manusia akan mengantarkan pada puncak yang sama.
Pemahaman seperti ini yang harus dikembangkan di realitas modern yang penuh benturan agama dan ideologi.
Pemahaman bahwa semua agama sama, itu adalah puncak cinta sebenarnya. Sekian!"
Tepuk tangan membahana. Fahri menghela napas, ia merasa berhadapan dengan jebakan-jebakan beracun dan mematikan untuk manusia dan kemanusiaan dipasang oleh saudaranya sendiri.
la jadi teringat pesan gurunya, Syaikh Utsman,
"Ada kalanya diam itu baik, bahkan terbaik, diam itu emas. Itu adalah diam di saat yang memang kita harus diam. Dan diam kita bukan sebuah kemungkaran baru, tapi diam kita justru kebaikan. Tapi ada kalanya diam berarti kita jadi setan yang bisu. ltu adalah jika seharusnya kita angkat suara dan bicara demi menjelaskan mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi kita diam saja. Kita diam saja di saat kita harus bicara tentang kebenaran adalah bentuk setan bisu. Kau harus tahu kapan saatnya kau diam dan kapan kau harus bicara, bahkan tidak boleh diam sekejap pun."
"Sekarang kita dengarkan Profesor Alex Horten dari King's College London. Silakan!"
Seorang lelaki tua gemuk dan botak berdiri dan mengambil tempat di mimbar.
"Terima kasih moderator Dari tiga pembicara ini, saya yakin secara umur saya paling tua. Berarti saya paling banyak menghirup udara kehidupan. Sudah puluhan tahun saya meneliti agama-agama.
Kepakaran saya di bidang Sosiologi agama. Saya berterus terang saja, sebenarnya saya mau ketawa mendengar pernyataan Mona Bravmann, yang nama aslinya saya tahu Mona bint Farag Kasban. Dia asli Mesir, dia tinggal di Chicago. Dia inferior memakai nama ayah dan keluarga besarnya, maka dia pakai nama suaminya yang Yahudi. Jadilah Mona Bravmann. Maaf jangan tersinggung Nyonya Bravmann. lni ulasan sosiologi.
Setengah umur saya ini, saya curahkan untuk sosiologi. Saya teliti gejala-gejala sosial, kondisi-kondisi sosial, juga perubahan-perubahan sosial. Saya menemukan satu fakta bahwa agama itu sumber masalah social!
Contoh paling rasional dan paling dekat adalah apa yang menimpa Nyonya Bravmann. Dia
mengatakan bahagia, tetapi sesungguhnya sengsara. Dan lbn Arabi hanya dia gunakan tameng saja.
Padahal Ibn Arabi juga sama sengsaranya. Silakan baca karya-karya lbn Arabi, dia ilmuwan yang gamang dan bingung.
Apa yang dilakukan Nyonya Bravmann yang mengganti nama keluarganya dengan nama suaminya yang Yahudi itu adalah jenis kemunafikan sosial. Dia lakukan itu sebagai strategi untuk merasa aman ketika tinggal di Chicago. Ini murni prilaku sosial. Dan ini menggelikan. Penyebabnya adalah agama.
Nyonya Bravmann, adalah jenis yang tidak percaya diri untuk menampilkan sosoknya sebagai Muslim sejati."
Profesor Mona Bravmann angkat tangan dengan muka merah dan rahang mengeras,
"Saya protes moderator! Apa yang di sampaikan Profesor Horten adalah serangan kepada privasi saya!"
"Profesor Horten, harap memperhatikan protes Profesor Bravmann!"
Profesor Horten tertawa dan melanjutkan pembicaraannya,
"Sekali lagi saya katakana jangan tersinggung Nyonya Bravmann! Ini bukan serangan kepada privasi Anda. Ini contob satu problem sosial
karena agama.
Anda nanti boleh membantahnya. Saya lanjutkan. Jujur, saya tidak bisa membayangkan, Nyonya Mona Bravmann yang nama aslinya adalah Mona bint Farag Kasban atau Mona Kasban akan mengganti namanya seperti sekarang seandainya dia hidup di Mesir sana. Misalnya dia sebagai pengajar di Cairo University bukan di Chicago, akankah ia mengganti namanya? Saya jamin seratus persen tidak.
Sebab jika dia mengajar di Cairo University dan mengganti nama keluarganya yaitu Kasban menjadi nama keluarga Yahudi yaitu Bravmann, maka itu akan jadi masalah besar baginya.
Jadi saya ingin menyampaikan justru yang berkebalikan dari apa yang disampaikan Nyonya Bravmann.
Kalau dia mengatakan semua agama itu sama saja. Saya justru menyampaikan, marilah kita mulai hidup di alam ultra modern ini dengan niragama. Kita tiadakan agama. Kalau tidak ada Islam, tidak ada Kristen, tidak ada Yahudi, tidak ada Hindu, tidak ada Budha dan ribuan agama dan kepercayaan lainnya, dunia ini akan terasa damai. Sebab manusia sudah otomatis dihilangkan untuk saling membedakan.
Tidak perlu ada masjid, gereja, sinagog, kuil, candi, dan sejenisnya.
Kalau tidak ada agama Nyonya Mona tidak perlu membuang nama keluarganya dan tidak perlu inferior menjadi guru besar di Chicago dengan nama aslinya! Ini baru masalah kecil, masalah besar lainnya banyak sekali! Contoh masalah besar misalnya, kenapa Yahudi diburu oleh Nazi? Adalah karna keyahudiannya. Coba kalau tidak ada Yahudi, tidak ada Katolik, dan lain sebagainya, mungkin tidak akan ada peristiwa holocaust! Jadi mari kita hilangkan agama dalam kehidupan modern ini! Sekian!
Sebagian hadirin bertepuk tangan. Sebagian tidak.
Fahri berhadapan dengan dua kutub pemikiran ekstrem yang membahayakan umat manusia. Pemikiran yang pertama menganggap semua agama sama, melarutkan semua agama.
Agama yang tauhid dan agama yang musyrik dianggap sama dan akan sampai pada puncak yang sama. Religio perennis!
Pemikiran yang kedua menir-kan agama. Mengajak meniadakan agama. Atheisme!
Tidak tanggung-tanggung, yang menyampaikan dua pemikiran ekstrem itu adalah dua orang guru besar dari perguruan tinggi terkemuka di dunia. la jadi ingat pesan Syaikh Utsman,
"Jika saatnya bicara maka harus bicara, tidak boleh diam saja. Jika diam melihat yang tidak benar, itu adalah setan bisu!"
la juga tidak perlu merasa canggung berhadapan dengan pendapat dua guru besar itu. Ketika ia diundang sebagai pembicara oleh Oxford Union, berarti ia memang layak untuk bicara dan berpendapat.
Riwayat pendidikannya tidak kalah dengan kedua guru besar itu. la selesai S1 di Al Azhar,
bahkan hamper selesai S2 di Al Azhar, tetapi ia selesaikan di Pakistan, lalu S3 ia selesaikan di Freiburg University, Jerman. la menempuh pendidikan di timur dan barat. Dan ia masih diakui sebagai dosen di The University of Edinburgh, salah satu universitas terbaik di dunia.
Meskipun ia paling muda, ia berharap tidak kalah bacaan dan penelitian dibanding dua guru besar tersebut.
"Kita mendengar pemaparan dua pembicara yang sangat menarik dan hangat. Dan saya yakin debat kali ini bakal seru, sengit dan penuh kejutan. Sekarang kita dengar seorang intelektual muda yang sangat produktif menulis di banyak jurnal bergengsi. Pakar filologi dan studi Islam, berasal dari Indonesia, dan kini mengajar di The University of Edinburgh. Dr. Fahri Abdullah. Silakan, waktu secukupnya milik Anda!"
Fahri berdiri dan melangkah menuju mimbar yang baru saja ditinggalkan Profesor Horten.
Fahri diam sejenak dan memandang ke seantero hadirin di ruangan itu. Di bagian belakang ternyata ada Heba dan Tuan Taher. Beberapa orang Indonesia juga hadir. Ada Mas Rahmat yang sedang menyelesaikan PhD di
Oxford, ada Mas Mukhlason yang sedang nyantri di Nottingham, dan tampaknya ada juga Ketua Umum KIBAR.
Keheningan menyelimuti ruangan itu sesaat. Semua mata tertuju pada wajah Fahri. Semua telinga ingin mendengarkan apa yang akan ia sampaikan.
"Bismillah. Alhamdulillah. Wash shalatu was salamu 'ala Rasulillah. Wa ba'd. Selamat sore hadirin semua. Salam damai dan cinta dari saya untuk Anda semua. Dan ... assalamu'alaikum wa rahmatullah... "
Beberapa orang menjawab,
"Wa 'alaikumussalam wa rahmatullah."
"Profesor Mona Bravmann dan Profesor Alex Horten sudah menyampaikan pendapat mereka. Dan mereka begitu berterus terang tanpa basa-basi. Dengan segala penghormatan saya kepada Profesor Mona Bravmann dan Profesor Alex Horten, perkenankan saya menyampaikan ketidaksetujuan saya dengan mendapat mereka berdua.
Dilihat dari fakta-fakta ilmiah dan penalaran ilmiah, apa yang disampaikan Profesor Mona Bravmann dan Profesor Alex Horten sama sekali tidak ada nilainya. Maaf!
Saya akan jelaskan dan urai satu persatu. Kebetulan kajian saya adalah filologi sangat terbiasa melihat teks dengan detail. Saya juga pernah belajar sosiologi pada Prof. Dr. Hans Joas, saya pernah melakukan penelitian sosiologi agama di Max Weber Centre, University of Erfurt.
Saya mulai apa dari yang disampaikan Profesor Mona Bravmann. Menurut saya jika pernyataan itu mutlak bahwa semua agama itu sama dan akan sampai pada puncak yang sama, itu sebuah pernyataan yang tidak berdasarkan fakta ilmiah.
Sekarang ini kira-kira ada Sembilan ribu lebih agama dan aliran kepercayaan di atas muka bumi ini. Yang paling besar pemeluknya adalah lima agama utama; Islam, Kristen, Yudaisme, Hindu dan Buddha. Kita perhatikan lima agama itu. Jika dikatakan sama saja, dan akan sampai pada Tuhan yang sama, tentu kita akan mendapati adanya banyak kesamaan untuk hal-hal yang paling mendasar. Misalnya tentang penggambaran Tuhan.
Faktanya bagaimana? Apakah mereka sama dalam memahami dan menghayati Tuhan yang disembah?
Ternyata tidak! Sama sekali tidak sama!
Menurut Islam, Tuhan yang berhak disembah hanya satu yaitu Allah. Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Tuhan yang menciptakan kita semua dan memberi rizki kita semua. Tuhan yang menghidupkan dan mematikan. Tuhan yang Maha Kuasa yang tidak perlu bantuan siapa pun. Tuhan yang wujud-Nya tidak memerlukan bantuan siapa pun, tidak tergantung apa pun. Dia tempat
bergantung. Tuhan yang berbeda dengan semua makhluk dalam segala sifat dan dzat-Nya, maka dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.
Tuhan yang telah ada sebelum semua yang ada di semesta ini ada, bahkan sebelum kata ada itu ada. Tuhan Yang Maha Adil, Maha Kaya, Maha Pengasih dan Penyayang. Dia tidak boleh disekutukan dengan apa pun juga. Itulah Tuhan dalam pandangan Islam.
Agama Yahudi juga mempercayai satu Tuhan. Namun dalam pandangan Yahudi, Tuhan itu bisa saja memiliki sifat seperti manusia, misalnya Tuhan itu perlu istirahat dan berhenti pada hari ke-7 dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya.[1]
lni berbeda dengan konsep Islam, Allah itu mukhalafatu lil hawa ditsi, berbeda dengan semua makhluk.
Allah tidak perlu istirahat. Allah tidak mengantuk, tidak tidur, tidak lelah, tidak letih, tidak bosan!
Sedangkan Kristen ada sebagian gereja yang mengakui keEsaan Tuhan, tetapi sebagian besar mengakui bahwa Allah itu Tritunggal.
Yesus diangkat jadi Tuhan sebagai anak Tuhan dan diberi surat keputusan pengangkatan Tuhan oleh Kaisar Konstantinus, pada tahun 325 M dalam konsili yang didukung 220 uskup
di Nicea.
Sementara Hindu menyembah banyak dewa. Adapun Buddha tidak mengenal ajaran Tuhan dalam pemahaman sebagai Penguasa, Pengatur alam semesta yang berkepribadian yang dipercaya memiliki kekuatan Maha.
Nama-nama Tuhan di dalam agama-agama itu juga berbeda. Setiap agama memiliki penyebutan yang khas. Dalam bahasa lbrani, Bahasa kitab suci agama Yahudi dan Nasrani, disebut Yahwe. Dalam Al Qur'an disebut Allah, nanti Al Qur'an menjelaskan Allah memiliki asmaul husna, nama-nama yang mulia.
Dalam agama Hindu disebut Trimurti. Apakah Tuhan dari agama-agama tersebut mengacu pada Tuhan yang sama? Jawabnya sangat jelas, tidak. Karena setiap agama memiliki konsep yang berbeda dan perbedaan itu sangat signifikan.
Ketika seorang Muslim shalat, yang dia bayangkan tentang Tuhan yang dia sembah sangat berbeda dengan Tuhan yang disembah orang Hindu. Tata cara penyembahannya pun berbeda.
Orang Muslim menganggap yang disembah orang Hindu itu salah dan sebaliknya. Orang Kristen melihat orang Muslim, orang Hindu, orang Budha dan lain sebagainya sebagai domba-domba yang sesat. Mereka semua meskipun ahli ibadah dalam agama masing-masing masih juga sesat karena tidak menyembah Yesus Kristus, tidak mengakui ketuhanan Yesus Kristus.
Ini fakta riilnya. Dalam konsep tentang Tuhan yang sangat mendasar sangat berbeda satu sama lain.
Juga konsep-konsep lainnya, tentang tata cara beribadah, konsep hidup setelah mati dan lain
sebagainya sangat berbeda. Jadi apakah melihat fakta ini, kita masih mau mengatakan semua agama sama? Jika kita tetap mengatakan semua agama adalah sama dan akan sampai pada puncak yang sama, maka kita telah melakukan sebuah pembodohan!
Kita juga harus jujur, kalau dalam beberapa konsep hubungan antara manusia, agama-agama utama memiliki beberapa kesamaan.
Misalnya, sama-sama melarang perzinahan, pembunuhan, pencurian, dan kedustaan. Sama-sama mengajarkan untuk hormat kepada kedua orang tua serta mengasihi yang lebih muda dan anak-anak. Meskipun dalam beberapa konsep banyak juga bedanya.
Misalnya, Islam melarang riba sementara Yahudi membolehkannya. Dalam Islam babi itu haram di makan, dalam agama yang lain boleh dimakan. Dalam agama Hindu, sapi itu sangat dikuduskan, sementara dalam agama yang lain tidak, bahkan boleh dikonsumsi. Saat ini daging paling dikonsumsi di dunia mungkin adalah sapi.
Sekali lagi ini fakta riilnya. Kita tidak bisa mengatakan semua agama adalah sama.
Adapun syair Ibn Arabi yang dibacakan oleh Profesor Mona Bravmann yang artinya,
"Hatiku menerima segala bentuk rupa, ia adalab padang rumput bagi rusa, biara bagi rahib, kuil berhala, ka'bah tempat orang thawaf, batu tulis untuk taurat dan mushaf bagi Al-Qur'an. Aku beragama dengan agama cinta,
yang selalu kuikut langkah-langkahnya, itulah agamaku dan keimananku!"
Maksud Ibn Arabi sama sekali tidak seperti yang disampaikan Profesor Mona Bravmann. Saya melihat yang dilakukan Profesor Mona Bravmann itu sebagai pemerkosaan makna.
Saya heran, apakah Profesor Mona Bravmann tidak membaca dengan detail apa yang ditulis oleb lbn Arabi? Ataukah sebenarnya telah membaca dengan detail tapi sengaja tidak menjelaskan maksud lbn Arabi sebenaranya?
Dua-duanya adalah tindakan yang kurang terpuji bagi seorang guru besar. Profesor Mona Bravmann silakan membaca Dzakhair al-A'laq syarh Turjuman Al Asywaq. Di sana Ibn Arabi menjelaskan, yang dimaksud dengan 'agama cinta' adalah agama Nabi Muhammad Saw. Itu
merujuk kepada Ali Imran ayat 31,
"Katakanlah (hai Muhammad), jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian."
Dalam Al Futuhat al-Makiyyah, bab Fi maqam al mahabbah, Ibn Arabi juga menjelaskan pengertian cinta dalam ayat tersebut.
Menurutnya ada empat jenis cinta. Cinta kepada Tuhan (hubb ilahi), cinta spiritual (hubb ruhani), cinta kodrati (hubb thabi'i) dan cinta material (hubb unshuri). Setelah itu lbn Arabi menegaskan bahwa cinta kepada Tuhan harus dibuktikan dengan mengikuti syariat dan sunnah Rasul-Nya.
Jadi jelaslah 'agama cinta' yang dimaksud Ibn Arabi adalah agama Islam. Agama yang
berdasarkan syariat, dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Sama sekali bukan seperti yang difahami oleh Prof. Bravmann.
Saya mengerti bahwa maksud Prof. Bravmann dan orang-orang sejenisnya seperti Schuon, Hossein Nasr, dan Chittick adalah agar tercipta keharmonisan antara pemeluk agama, kemudian bisa tercipta perdamaian dan keharmonisan sesama manusia.
Saya mengerti tujuannya-tujuannya bagus, tapi cara, metodologi dan kesimpulannya tidak benar!
Menganggap sama semua agama justru sangat membahayakan umat manusia. Sebab pada dasarnya agama-agama itu memang berbeda. Biarkanlah apa adanya, secara natural memang berbeda. Dan kedamaian serta keharmonisan tetap bisa kita perjuangkan dan kita hadirkan dalam perbedaan-perbedaan itu. Justru itu akan terasa sangat indah.
Kita tidak perlu memperkosa agama-agama itu untuk disama-samakan. Tidak perlu. Yang penting dan perlu untuk kita perjuangkan bersama adalah kedewasaan dalam beragama.
Para pemeluk- pemeluk agama harus menghayati ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh, sereligius-religiusnya, sedekat-dekatnya mereka dengan Tuhan mereka. Sehingga jiwa mereka menjadi bersih.
Lalu mereka hendaknya beragama secara dewasa dan memandang agama orang lain juga secara dewasa!
Dari situ akan tercipta toleransi yang hakiki, toleransi yang anggun!
"Maaf Saudara Fahri, saya potong pembicaraan Anda. Izinkan saya bicara, Moderator! Saudara Fahri kata-kata Anda terlalu teoritis dan normatif! Apa yang disampaikan Profesor Mona Bravmann itu benar, semua agama itu sama, semua agama benar, sehingga tidak perlu diributkan mau beragama apa.
Usulanmu agar para pemeluk agama semakin religius sama sekali tidak menjamin terciptanya toleransi.
Penelitian beberapa sarjana, termasuk Kurzman justru semakin religius seorang Muslim, ia akan semakin radikal. Ini berbahaya! tunjukkan kepada saya mana orang Muslim yang religius dan bisa bertoleransi dengan hakiki dan anggun! Mana?"
Seorang laki-laki bule berkaca mata dan berkepala botak berbicara berapi-api memotong perkataan Fahri. Moderator membiarkan saja, karena laki-laki itu tampak ngotot harus bicara.
"Maaf Anda siapa, dari mana dan profesi Anda apa ?"Tanya Fahri.
"Saya Richard, dari London, saya Wartawan media online."
"Baik Saudara Richard. Kalimat-kalimat Anda itu kontradiktif. Di awal Anda bilang semua agama benar tidak perlu meributkan seseorang itu mau beragama apa. Tetapi kemudian Anda mempermasalahkan kalau seorang Muslim itu semakin religius dia semakin radikal. Itu berbahaya! Pertanyaan saya, kenapa yang Anda persoalkan adalah seorang Muslim?
Seolah-olah Anda mau mengatakan, bahwa manusia tidak perlu diributkan mau beragama apa, asal bukan Islam? Pernyataan Anda itu sangat stereotif dan diskriminatif!
Kalau Anda sebagai wartawan berpikiran seperti itu, justru yang berbahaya bagi
kemanusiaan adalah wartawan seperti Anda.
Saudara Richard, sebagai wartawan, tolong Anda baca sejarah, Anda baca literatur; Anda buka mata dan telinga Anda lebar-lebar. Jika ada informasi dari seorang sarjana seperti Kurzman yang Anda jadikan dalil, atau juga termasuk informasi dari saya, Anda harus membandingkannya dengan informasi
dari sumber lain. Agar seimbang.
Kesimpulan Kurzman itu tergesa-gesa dan maaf sembrono dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Itu kesimpulan yang cenderung menyesatkan. Ada ribuan bahkan jutaan contoh dalam sejarah, bahwa ketika seorang Muslim itu memahami ajaran agama Islam dengan benar, dan menghayatinya dengan sungguh-sungguh, serta mengamalkannya secara konsekuen, ia akan menjadi pribadi paling penuh kasih sayang, pribadi yang kuat memegang ajaran agamanya sekaligus toleran kepada yang lain.
Saya contohkan beberapa saja. Misalnya Umar bin Khattab ra, yang menurut Michael H. Hart termasuk 100 tokoh paling berpengaruh dalam sejarah ummat manusia, dia adalah sosok yang sangat religius sekaligus sangat humanis dan toleran.
Di dalam Islam, Umar bin Khattab bisa disebut tokoh paling berpengaruh nomor tiga setelah Nabi Muhammad Saw. dan Abu Bakar Ash Shiddiq ra. Sejarah mencatat, tahun 637 M, pasukan Islam datang ke Jerusalem untuk membebaskan kota suci itu dari penjajahan Bizantium Penduduk kota menyambut dengan gegap gempita. Saat itu Yerusalem di bawah tanggung jawab Uskup Sophronius sebagai kepala wali gereja Yerusalem dan perwakilan Bizantium.
Uskup Sophronius hanya mau menyerahkan kunci Yerusalem langsung kepada Sang Khalifah yaitu Umar bin Khattab ra. Kisah kedatangan Umar bin Khattab ra ke Yerusalem ini sangat terkenal. Umar datang dengan pakaian sederhana dan hanya ditemani seorang pengawal. Uskup Sophronius menyerahkan kunci Yerusalem kepada Umar.
Lalu mengajak Umar mengelilingi Yerusalem, termasuk mengunjungi Gereja Makam Suci.
Ketika datang waktu shalat, Uskup Sophronius mempersilakan Umar untuk shalat di gereja.
Tetapi Umar menolak. Umar khawatir kalau ia mau shalat di gereja itu, nanti umat Islam akan merubah paksa gereja itu menjadi masjid dengan dalih Umar pernah shalat di situ sehingga menzalimi umat Nasrani.
Umar lalu shalat di luar gereja. Di tempat Umar shalat itulah dibangun masjid Umar. Umar juga membuat perjanjian dengan Uskup Sophronius. Yang inti surat penjanjian yang
ditandatangani Umar dan Sophronius adalah Umar menjamin keamanan penduduk Yerusalem. Umar memberi jaminan terhadap jiwa mereka, harta, gereja-gereja, salib-salib, orang-orang yang lemah, dan mereka tidak dipaksa meninggalkan agama mereka. Tidak seorang pun dari mereka akan diancam
diusir dari Yerusalem.
Coba bandingkan, dengan keadaan kira- kira 23 tahun sebelumnya, ketika Persia menaklukkan
Yerusalem. Tentara Persia melakukan pembantaian tanpa ampun kepada penduduk Yerusalem. Atau bandingkan beberapa ratus tahun kemudian, ketika pasukan salib pada tahun 1099 M memasuki Yerusalem dan menguasainya dari umat Islam. Ketika itu pasukan salib melakukan pembantaian luar
biasa kejam. Kota Yerusalem banjir darah.
ltu contoh pertama. Sejarah mencatat, seorang Muslim yang sangat religius terbukti sangat humanis, penuh kasih saying sekaligus sangat toleran. Dan kasih sayang yang terbit dari iman adalah kasih sayang yang sangat kokoh dan kuat. Kasih sayang yang suci dan tulus. Umar bin Khattab ra. telah mencontohkannya. Dan Umar bin Khattab ra. itu mencontoh dari perilaku junjungannya yaitu Nabi Muhammad Saw.
Contoh kedua, juga ditulis dengan tinta emas oleh sejarah. Imam Abdullah bin Mubarak al Hanzhali al-Marwarzi yang tinggal di Bagdad.
Imam besar yang kaya dan shaleh ini bertetangga dengan seorang Yahudi. Suatu waktu Yahudi itu memerlukan uang maka ia bermaksud menjual rumahnya.
Ketika datang calon pembeli dan menanyakan harganya, Yahudi itu memberi harga rumahnya dua kali lipat dari harga rumah pada umumnya di situ. Calon pembeli menanyakan kenapa bisa begitu. Yahudi itu menjawab, kenapa dua kali lipat harganya karena harga pertama adalah harga rumah itu dan harga yang kedua harga bertetangga dengan Imam Abdullah bin Mubarak.
Ketika Abdullah bin Mubarak mengetahui hal itu, ia panggil tetangganya yang Yahudi itu. Abdullah bin Mubarak memberi uang kepada tetangganya seharga rumah itu dan minta agar ia tidak menjual rumahnya.
Lihat bagaimana Imam Abdullah bin Mubarak membantu tetangganya yang Yahudi. Jujurlah perbuatan Abdullah bin Mubarak itu termasuk jenis yang radikal atau yang toleran?
Contoh ketiga, ini di Indonesia. Sekali lagi di Indonesia, negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia. Di Kudus, sebuah kota santri yang terletak kira-kira 500 km sebelah timur Jakarta, umat Islam tidak menyembelih sapi untuk kurban Idul Adha. Mereka menggantinya dengan menyembelih kerbau.
Kenapa? lni adalah karena jiwa toleransi Sunan Kudus, seorang ulama besar yang berdakwah di Kudus pada masa awal-awal Islam masuk ke Jawa. Sunan Kudus sangat menghargai umat Hindu yang menghormati Sapi.
Demi tidak menyinggung umat Hindu, maka ummat Islam diminta tidak menyembelih sapi, tetapi kerbau. Dan itu terus menjadi semacam tradisi hingga sekarang. Menjadi salah satu bukti tak terbantahkan akan toleransi umat Islam. Dan harus dicatat, toleransi itu terbit karena kedalaman ilmu agama Sunan Kudus dan karena kedalaman imannya.
Semakin faham Islam, semakin dalam iman, akan semakin subur kasih sayang dan toleran dalam jiwa seseorang.
Contoh keempat, masih di Indonesia. Tahun 1948, PKI atau Partai Komunis Indonesia melakukan Pemberontakan di Madiun. Ratusan ulama, kyai, dan santri dibunuh dengan sangat kejam. Kemudian para pemberontak itu bisa ditumpas oleh tentara. Sebagian pemberontak komunis itu mati meninggalkan anak yang masih kecil.
Dan sejarah mencatat, banyak pesantren, yang kyainya dibunuh oleh pemberontak komunis, justru pesantren itu yang mengasuh anak-anak yatim para pemberontak itu.
Tidak ada dendam. Justru kasih sayang. Demikian juga pada tahun 1964 - 1965 PKI kembali memberontak, di daerah-daerah banyak kyai yang diculik dan dibunuh PKl.
Tetapi ketika nanti PKI di tumpas, anak-anak PKI itu justru banyak diasuh, dididik dan dibesarkan oleh para kyai, yang sebagian
keluarga kyai itu jadi korban keganasan PKI.
Masih kurang toleran apa, para kyai, para ulama itu? Dan mereka adalah tokoh-tokoh Muslim yang berada di garis depan?
Masih ada banyak contoh yang tak terhitung jumlahnya, yang jika disampaikan maka mungkin saya berdiri di sini satu tahun tidak juga habis contoh itu. lni bukan melebih-lebihkan. lni adalah kenyataan."
Seluruh hadirin di ruangan itu diam terkesima mendengar pemaparan Fahri.
"Sekarang perkenankan saya menjawab pendapat yang tadi dilontarkan Profesor Alex Horten.
Apa yang disampaikan Profesor Horten yang ingin meniadakan agama, agar dunia damai. lni tampaknya tampaknya manis, tapi sebenarnya adalah racun yang mematikan. Profesor Horten mengatakan, 'Kalau tidak ada Islam, tidak ada Kristen, tidak ada Yahudi, tidak ada Hindu, tidak ada Budha dan ribuan agama dan kepercayaan lainnya, dunia ini akan terasa damai. Sebab manusia sudah otomatis dihilangkan untuk saling membedakan.
Tidak perlu ada masjid, gereja, sinagog, kuil, candi, dan sejenisnya !'
Meminjam bahasa Al Qur'an, kalimat Profesor Horten itu dhahiruhu rahmah wa min qibalihil adzab!
Tampaknya penuh rahmat tapi disebaliknya berisi adzab yang pedih. Meniadakan agama, adalah meniadakan Tuhan. Atheisme!
Ini cara pandangan yang sangat kuno. Dasarnya filsafat materialisme. Atheisme kuno mengatakan, kita ini tidaklah mati kecuali karena waktu. Kita ada dengan sendirinya dan mati dengan sendirinya. Saya tidak akan membahas sisi-sisi bagaimana filasafat materialisme ini dikembangkan oleh Friedrich Engels, Karl Marx, dan Darwin hingga menjadi gerakan komunis. Sampai nanti Lenin, Stalin, Mao Zedong dan tokoh-tokoh komunis lainnya mengembangkan system kekuasaan berdasarkan atheisme. Atau meniadakan agama, meniadakan Tuhan.
Saya ingin mengajak hadirin semua melihat sejarah. Bagaimana jika sistem yang meniadakan agama dan Tuhan dianut umat manusia. Ternyata sangat mengerikan!
Sebelum masuk ke data-data sejarah. Cobalah Anda bayangkan, kota London yang metropolis itu.
Dengan sistem transportasi yang sangat teratur. Kereta bawah tanah juga sangat teratur. Kenapa sangat teratur? Karena diatur dan ada yang mengatur. Lalu lintas di London juga diatur oleh peraturan lalu lintas. Meskipun demikian, seringkali London masih macet juga.
Kalau London masih macet, jangan lantas bilang 'Buang saja aturan lalu lintas, biarkan semua kendaraan berjalan alami tanpa perbedaan !
'Coba bayangkan kalau London tanpa aturan lalu lintas, dan tidak ada polisi lalu lintas yang mengatur, apa yang akan terjadi? Chaos!
Kesemrawutan yang luar biasa! Kemacetan yang mungkin tidak akan bisa terurai sebab tidak ada yang mengurai! Bahkan serentetan kecelakaan yang tak terelakkan.
Anda bayangkan jika kereta-kerata bawah tanah di London tidak ada yang mengaturnya? Masing-masing dibiarkan berjalan sesukannya. Sangat berbahaya!
Demikian juga adanya agama, adalah untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia.
Menjadi aturan, hukum, dan norma bagi kehidupan umat manusia. Agar satu-sama lain tidak bertabrakan. Agar satu sama lain bisa benar-benar hidup sebagai manusia, bukan hidup sebagai binatang di rimba raya.
Ketika agama ditiadakan, tragedi kemanusiaan tak terelakkan terjadi. Sejarah mencatat itu. Zaman Babilonia kuno, ketika manusia diperintah Namrud, seorang raja yang Atheis.
Namrud tidak mengakui adanya Tuhan bahkan dia mengaku sebagai Tuhan. Ketika itu manusia hidup dalam penindasan Namrud
yang semena-mena. Di Mesir kuno, ada satu Fase di mana Fir'aun tidak mengakui adanya Tuhan bahkan dia mengaku sebagai Tuhan.
Maka tragedi kemanusiaan terjadi. Fir'aun seenaknya saja membuat peraturan, seenaknya memperbudak manusia lain dan membunuhnya. Bani Israel jadi korban, mereka
diperbudak di Mesir. Tidak hanya itu, Fir'aun bahkan memerintahkan membunuh semua bayi Bani israel.
Lihat, bahkan bayi yang tak berdosa apa-apa dibunuh oleh Fir'aun. Kenapa? Karena ia merasa sebagai Tuhan. Ia merasa yang punya hukum. Ia tidak terikat dan takut oleh peraturan-peraturan Tuhan, yang kita kenal sebagai agama. Yang terjadi adalah hukum rimba, siapa kuat dia menang dan berhak berbuat apa saja.
Itu contoh yang terjadi di zaman kuno. Saya langsung lompat ke zaman modern saja. Apa yang terjadi ketika orang yang berpikir agama tidak perlu ada, bahkan tidak boleh ada, Tuhan itu tidak ada, itu menjadi penguasa dan menerapkan apa yang ada dalam pikirannya itu kepada rakyat banyak?
Sejarah mencatat ketika orang-orang atheis-komunis memegang palu kekuasaan maka yang terjadi adalah bencana kemanusiaan yang luar biasa mengerikan.
Dalam buku The Black Book of Communism Crimes, Terror; Repression yang ditulis oleh 6 pakar sejarah politik dunia dan dieditoriali oleh Stephane Courtois, terpapar data-data yang sangat mencengangkan. Dalam buku yang diterbitkan oleh Harvard University Press itu, sejarah mencatat hanya dalam waktu 70 tahun rezim atheis-komunis membantai lebih dari seratus juta ummat manusia di berbagai tempat di belahan dunia ini.
Atheis-komunis itu yang mengatakan agama adalah candu yang harus dibuang dari kehidupan umat manusia.
Angka-angka pembantaian itu sedikit lebih detailnya seperti ini; dari tahun 1917 hingga 1923 Lenin yang komunis-atheis itu membantai 500.000 rakyat Rusia.
Pada tahun 1929, dalam waktu satu tahun saja Stalin, penerus Lenin, membantai 6 juta petani Rusia. Dalam rentang waktu antara 1925 hingga 1953, Stalin membantai tak kurang dari 40 juta rakyat Rusia.
Itu yang terjadi ketika Rusia dikuasai oleh manusia yang membuang aturan agama, manusia yang tidak mengakui adanya Tuhan. Yang terjadi di belahan dunia lain juga sama.
Kita lihat apa yang terjadi di China ketika rezim atheis-komunis yang berkuasa?
Catat, 50 juta rakyat China mati mengenaskan dibantai oleh Mao Tsetung yang atheis-komunis dalam kurun waktu 1947-1976!
Di Kamboja tak kalah mengerikan ketika rezim anti agama dan anti-Tuhan beraksi, tak kurang dari 2,5 juta rakyat Kamboja dibantai oleh Pol Pot dari tahun 1975-1979. Silakan datang ke Kamboja, Anda semua masih bisa melihat bekas-bekas kekejaman manusia atheis-komunis bernama Pol Pot. Dan Anda semua akan tercengang kaget jika membaca sejarah hidup Pol Pot. Bagaimana dahsyatnya pikiran anti-Tuhan itu sedemikian merusak.
Pol Pot dulunya adalah seorang guru yang penuh kasih sayang, begitu ia meninggalkan akal sehatnya, ia jadi komunis, ia jadi atheis, ia berubah menjadi manusia yang bengis.
Ia sama sekali tidak takut kepada Tuhan, cahaya kasih sayang dalam dirinya sirna dan hilang!
Di Eropa Timur, 1 juta nyawa manusia melayang dibantai rezim komunis di sana yang dibantu rezim komunis Rusia. Itu terjadi dari tahun 1950-an hingga 1980-an. Dalam kurun waktu yang sama di Amerika Latin, 150.000 manusia mati mengerikan juga dibantai rezim komunis-atheis dan 1,7 juta manusia dihabisi di berbagai negara Afrika.
Sejarah juga mencatat, 1,5 juta rakyat Afganistan tewas ditangan rezim komunis Najibullah dari tahun 1978 hingga 1987.
Beberapa negara lain nyaris mengalami hal yang sama namun selamat karena masih ada tokoh-tokoh agama yang berada di garis depan menyadarkan rakyatnya dari bahaya atheis-komunis.
Negara-negara yang nyaris juga bernasib tragis itu misalnya adalah Indonesia, Mesir, dan Suriah.
Stephen Courtois dalam The Black Book of Communism - Crimes, Terror, Repression menyebut angka korban pembantaian atheis-komunis itu sampai 120 juta. Sementara peneliti lain, James Nihan dalam The Marxist Empire, korban pembantaian itu 105 juta umat manusia. Adapun menurut R.J. Rummel dalam Religion and Society Report yang diterbitkan oleh University of Hawaii, korbannya mencapai 95,2 juta jiwa.
Itu pembantaian dalam kurun 74 tahun di 76 negara. Angkanya sangat fantastis. Katakanlah kita ambil tengah-tengah, dikisaran 100 juta, maka rata-rata 1.350.000 orang dibantai dalam setahun, 3.702 sehari, 154 orang perjam, dan 2,5 orang per menit, setiap 24 satu orang mati dibantai.
Memang sejarah juga mencatat, terjadi beberapa kali perang agama dalam sejarah umat manusia.
ltupun kalau kita teliti nanti faktornya juga tidak murni agama. Jika kita bandingkan jumlah korban perang agama dengan korban pembantaian rezim atheis-komunis sangat jauh sekali.
Terkadang, kita bertanya kenapa orang-orang atheis-komunis bisa sedemikian kejam?
Jawabnya karena mereka tidak kenal Tuhan, dan tentu tidak takut kepada Tuhan. Mereka tidak punya aturan, yang jadi aturan adalah
nafsu mereka. Siapa yang kuat maka dia berhak mengatur sesukanya, termasuk membunuh. Hukum rimba tercipta!
Dan tadi Profesor Horten mengatakan begini, "Contoh masalah besar misalnya, kenapa Yahudi diburu oleh Nazi? Adalah karena ke-yahudi-annya. Coba kalau tidak ada Yahudi, tidak ada Katolik, dan lain sebagainya, mungkin tidak akan ada peristiwa holocaust!‘'
Jujur saja saya nyaris tidak percaya itu dikatakan oleh seorang profesor. Menurut saya sangat dangkal analisisnya. Analisis orang yang tidak memahami sejarah.
Profesor Horten, tanpa mengurangi rasa
hormat saya, fakta ini ada baiknya disimak baik-baik, penyebab awal terjadinya peristiwa pembantaian orang-orang Yahudi di Jerman oleh Nazi adalah pikiran atheis, pikiran meniadakan Tuhan, yang dilontarkan dan dipropagandakan oleh ilmuwan-ilmuwan atheis. Dari situlah tragedi kemanusiaan itu
terjadi, dari situlah tragedy holocaust itu terjadi!
Pada tanggal 24 November 1859, seorang ilmuwan atheis bernama Charles Darwin merilis bukunya On the Origin of Species by Means of Natural Selection, Or the Preservation of Favoured Races in the
Struggle for Life. Sebuah buku yang memperkenalkan teori evolusi. Sebuah teori yang menentang teori penciptaan menurut kepercayaan agama.
Dalam teori evolusi, Tuhan ditiadakan. Alam semesta ini ada dengan sendirinya, dan menjadi seperti sekarang ini karena evolusi.
Manusia dan binatang yang ada sekarang ini wujud dari evolusi dari generasi ke generasi. Lewat seleksi alam, yang bisa bertahan maka
masih ada sampai sekarang. Sementara yang tidak bisa bertahan maka punah.
Yang bisa bertahan akan mewariskan gen kepada keturunannya. Tidak ada campur tangan Sang Pencipta dalam wujud makhluk
yang sekarang ada. Yang ada adalah seleksi alam. Lebih vulgarnya adalah hukum rimba!
Dan Hitler sangat terinspirasi oleh teori ini. Dia ingin Jerman menjadi yang paling hebat dan kuat. Dan ras bangsa Jerman yaitu ras Arya adalah yang paling hebat. Ras Arya ini yang harus menguasai Jerman dan menguasai dunia. Ras lain harus ditundukkan. Ras-ras lemah harus dibuang, bahkan ras Arya yang cacat juga harus dimusnahkan.
Silakan anda baca Mein Kampt yang ditulis Hitler, ia menyamakan ras non-Eropa, ras bukan Arya sebagai kera. Bagi Hitler, bangsa Yahudi adalah penyakit dan parasit yang mengganggu kemajuan evolusi Jerman, maka harus dimusnahkan!
Ya Hitler mungkin saja mengaku beragama, tapi inspirasi dari tindakan Hitler yang mengerikan itu ternyata adalah dari pikiran ilmuwan yang atheis!
Buah pikiran ilmuwan atheis menjadi bencana kemanusiaan luar biasa di abad modern' Dan yang sungguh tragis, ternyata Charles Darwin itu keturunan Yahudi. Tetapi dia atheis.
Kalau bicara tentang janji Tuhan kepada Abraham di Taurat, Charles Darwin bisa disebut Bani Israel yang tidak memegang
sumpah kepada Tuhan untuk setia kepada Tuhan, maka akibatnya adalah kutukan Tuhan dan malapetaka.
Dan yang paling kena petaka adalah bangsa Yahudi itu sendiri. Yang dibantai orang Yahudi, yang menjadi otak pembantai yaitu Hitler ternyata, konon, neneknya adalah Yahudi.
Jadi sekali lagi menyingkirkan agama, dan meniadakan Tuhan, adalah bencana terbesar bagi umat manusia.
Sejarah telah mencatatnya. Hanya keledai yang terus masuk ke lubang yang sama berulang-
ulang kali. Saya akhiri ulasan saya dengan kata-kata Francis Bacon,
"Tahu sedikit filsafat cenderung membawa pikiran manusia kepada Atheisme, namun pemahaman yang dalam tentang filsafat
menghantarkan pikiran manusia berpikir tentang Allah."
"Sekian. Terima kasih."
Seketika tepuk tangan bergemuruh di ruangan itu. Hampir semua hadirin di situ berdiri menghormati Fahri yang turun dari podium menuju tempat duduknya.
Perdebatan selanjutnya berlangsung sangat sengit. Profesor Mona menyerang balik Profesor Alex, Horten dan Fahri. Demikian juga Profesor Horten ketika dapat waktu bicara, jika sebelumnya ia menyerang Profesor Mona Bravmann, kali ini yang ia serang adalah Fahri.
Dalam debat itu Fahri seumpama Thio Boe Ki atau Zhang Wuji pendekar muda sakti yang memiliki kekuatan Tenaga 9 Matahari dan menguasai Ilmu Menaklukkan Langit dan Bumi dalam cerita silat Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga karya Jin Yong.
Dengan kesaktiannya ltu Thio Boe Ki mampu
mengalahkan para pendekar hebat di zamannya.
Debut Fahri berdebat di Oxford Union berakhir dengan sangat lndah. Fahri mendapat apresiasi luar biasa dari para cendekiawan dan mahasiswa yang hadir sore itu. Spesial lagi, Hulya mendekatinya dan memberikan ucapan selamat kepadanya. Calon istrinya itu berbisik kepadanya,
"Seandainya sudah halal, pasti kau aku beri hadiah ciuman di hadapan semua hadirin di ruangan ini. Kau sangat membanggakan!"
Untung saja ucapan Hulya itu tidak ada yang mendengar kecuali dirinya. Jika orang-orang bule itu mendengar, mungkin akan bersorak meminta Hulya menciumnya.
*****
______________________________________________
[1] Lihat Kejadian 2 : 2 · 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar