28
PESTA KEMENANGAN
Wajah Nyonya Suzan dan Madam Varenka tampak begitu berseri-seri ketika berjumpa dengan Fahri.
Tepat satu hari setelah mereka kembali dari Italia mereka meminta waktu kepada Fahri untuk berjumpa. Nyonya Suzan dan Madam Varenka mengatur pertemuan di sebuah restoran tak jauh dari Royal Miles. Odine Restaurant namanya.
Sebuah restoran terkemuka di kota Edinburgh yang terkenal lengkap menu seafoodnya.
Mereka telah duduk di pojok restoran itu. Fahri dan Paman Hulusi duduk di depan mereka. Tepat di hadapan Fahri ada segelas lemon honey hangat. Dihadapan paman Hulusi secangkir teh panas yang masih mengepulkan asap.
Sementara Nyonya Suzan dan Madam Varenka memilih jus apel.
"Apakah Keira dan Hulya menikmati keberadaan mereka di Italia?" Tanya Fahri kepada Nyonya Suzan dan Madam Varenka.
"Saya lihat keduanya sangat menikmati. Bagaimana menurut Madam Varenka?" Tanya Nyonya Suzan.
"Yah, keduanya sangat menikmati. Terutama Keira. Berkali-kali ia merasa seperti bermimpi bisa sampai Italia dan ikut kompetisi tingkat dunia. Kalau Hulya saya lihat juga senang dan menikmatiperjalanannya ke Italia, tetapi tidak seheboh Keira.
Hulya tampaknya sudah pernah ke Italia dan negara-negara Eropa lainnya. Dalam banyak hal, Hulya justru banyak membimbing Keira." Terang Madam Varenka.
"Jadi kabar gembira apa yang akan disampaikan kepada saya?" Sahut Fahri sambil tersenyum.
"Silakan Nyonya Varenka!"
"Baiklah." Ucap Nyonya Varenka mengikuti permintaan Madam Suzan,
"seperti yang saya sampaikan saat kita membuat kesepakatan, saya memberi semacam garansi bahwa Keira akan masuk tiga terbaik dalam sebuah kompetisi tingkat dunia.
Puji Tuhan, hasil kompetisi di Cremona, Italia sangat memuaskan. Dua orang berbakat yang saya asuh memenangkan kompetisi bergengsi tersebut.
Hulya meraih runner up, pemenang kedua. Dan Keira, pemenang ketiga. Kemampuan Hulya dan Keira sesungguhnya sama. Mungkin jujur, Keira bisa dikatakan sedikit lebih baik. Namun dalam ketenangan dan pembawaan emosi serta penghayatan Hulya lebih baik.
Ditambah, satu faktor yang saya lihat
membuat penampilan Hulya bisa tampak lebih baik dari Keira adalah faktor biola yang dipakai Hulya.
Kualitas biola yang dipakai Hulya lebih baik dibanding yang dipakai Keira. Ternyata Hulya meminjam biola Tuan Fahri yang memang mahal. Ini yang bisa saya sampaikan.
Jadi saya telah menunaikan tugas
seperti yang saya janjikan dan seperti yang Tuan Fahri minta."
Fahri mengangguk-angguk mendengar penjelasan Madam Varenka.
"Saya sudah menduga Keira menang. Sebab saya kemarin melihat dia pulang dengan wajah sangat bergembira dan banyak membawa oleh-oleh untuk ibu dan adik lelakinya. Adiknya yang bernama Jonson membagi cokelat dari ltalia kepada saya. Dia bilang Keira menang.
Kalau Hulya apakah dia juga ikut kembali ke Edinburgh? Dia belum memberi kabar kepada saya?"
"Hulya minta ijin terbang ke Istanbul. Katanya mau merayakan kemenangannya dengan keluarga besarnya di Turki. Ia tidak sabar untuk memberitahukan kabar kemenangannya kepada ayah dan ibunya." Jawab Madam Varenka.
"Apakah dia menitipkan biola kepada Madam Varenka?"
"Tidak. Dia membawa serta biola itu terbang ke Turki."
"Oh begitu. Tidak masalah. Saya sangat senang mendengar kabar ini, dan saya berterima kasih kepada Madam Suzan dan Madam Varenka sudah membantu saya.
Dan saya tetap meminta agar nama saya dirahasiakan.
Saya tidak mau Keira ataupun Hulya tahu saya ada dibalik kemenangan mereka. Bisa
dimengerti?"
"Iya Tuan, kami mengerti." Jawab Madan Suzan dan Madam Varenka hampir bersamaan.
"Tapi saya belum benar-benar puas."
"Apa maksud Tuan?" Tanya Madam Varenka.
"Ya, saya senang Keira menjadi terbaik nomor tiga di dunia dalam kompetisi di Cremona. Dan Hulya nomor dua. Saya senang sekali. Tetapi saya akan lebih puas jika Keira bisa menjadi pemenang pertama dalam sebuah kompetisi tingkat dunia."
"Kalau Tuan menginginkan hal itu, saya bisa usahakan agar Keira menang seperti harapan Tuan. Tak lama lagi ada kompetisi tingkat dunia di London. Asal Keira menggunakan biola sekaliber yang digunakan Hulya atau lebih baik. Saya yakin itu." Kata Madam Varenka meyakinkan.
"Baik, tolong daftarkan Keira di kompetisi itu. Dan tolong gembleng dia. Jika dia nanti tidak bisa membeli biola yang bagus dengan uang hadiah kemenangannya di Italia, biar nanti saya pinjami biola yang bagus."
"Hulya didaftarkan juga?" Tanya Madam Suzan.
"Tidak usah. Kecuali dia mau daftar sendiri."
"Baik Tuan."
Seorang pelayan restoran datang dengan meja dorong membawa menu yang dipesan. Tampak Smoked Salmon, Fish and a Shellfish Soup, Mixed Beetroot & Goats Curd Salad, Brown Crab, dan Newhaven Lobster.
"Banyak sekali yang dipesan." Fahri tersenyum.
"Ini pesta saya. Saya bahagia sekali dua orang yang saya bimbing memenangkan kompetisi. Saya yang pesan dan traktir. Berharap apa yang saya pesan ada yang cocok bagi Tuan Fahri."
"Terima kasih Madam Varenka. Kalau seafood saya banyak cocoknya. Ayo Paman Hulusi kita makan."
"Iya Hoca. Baunya saja sudah membangkitkan selera makan." Nyonya Suzan dan Madam Varenka tersenyum mendengar komentar Paman Hulusi.
Sementara itu, disatu sudut restoran Balmoral Hotel Edinburgh, Keira juga sedang merayakan
kemenangannya dengan ibu dan adiknya, Jason.
"Malam ini, kita bertiga menginap di hotel paling legendaris di kota Edinburgh ini. Selama ini kita hanya bisa melihat dari luar. Sekarang kita bisa merasakan bagaimana makan di restorannya dan kita tidur didalamnya.
Dengan hanya menjadi pemenang ketiga saja, sudah cukup banyak bonus yang Keira dapat. Beberapa panggilan untuk tampil di tempat dan acara bergengsi sudah mulai berdatangan. Keira bisa bayangkan jika bisa menjadi pemenang pertama. Tentu akan lebih baik lagi." Rona kebahagiaan memancar dari wajah Keira.
"Sekali lagi selamat Keira. Ini kali ketiga saya mengucapkan selamat kepadamu. Aku tahu kau tidak akan puas sebelum menjadi pemenang pertama sebuah kompetisi tingkat dunia. Kulihat jalan itu terbuka lebar. Sekarang dengan menjadi pemenang ketigapun, jalan kesuksesanmu sebagai pemain biola profesional terpampang di depan mata." Sahut Jason.
"Puji Tuhan, roda itu berputar. Dan kita sekarang merangkak naik setelah kemarin berada putaran bawah. Kehidupan kita kini benar-benar membaik. Tuhan begitu sayang kepada kita. Rumah kita sudah terlunasi dan ibu kini bekerja ditempat yang nyaman. Jason sudah menjadi pemain sepakbola yunior di
Club terbaik di kota ini. Ini semua selain karena kasih Tuhan, juga karena kebaikan tetangga kita, Tuan Fahri.
Tidak hanya itu, Tuhan melimpahkan kasihNya begitu besar dengan mengirim orang untuk
menyelamatkanmu Keira. Kenikmatan dan kebahagiaan yang kini kau rasakan, jangan lupa, adalah karena jasa seseorang yang menyelamatkan dirimu.
Jika tidak ada uluran tangan orang itu, mungkin kehidupanmu kini berada di lembah prostitusi. Jadi kau benar-benar harus berterima kasih padanya." Kata Nyonya Janet.
"Benar Ma. Sejak masih di Italia saya sudah tanyakan kepada Nyonya Suzan, siapa orang yang menolong Keira dan mengeluarkan banyak biaya hingga saya bisa juara dunia nomor tiga di Cremona? Namun Nyonya Suzan bilang bahwa orang itu tidak diketahui nama dan identitasnya."
"Tetapi kau tidak boleh menyerah begitu saja Keira. Kau harus tahu orang itu, untuk menyampaikan ucapan terima kasih." Tukas Jason.
"Tentu saja Jason."
Tiba-tiba ponsel Keira berdering. Keira melihat layar ponselnya. Melihat nama yang ada di layar ponsel Keira berteriak kecil bahagia,
"Dari Nyonya Suzan." Keira mengangkat panggilan itu.
"Halo. Iya Nyonya Suzan."
"lni saya bersama dengan Tuan Dermawan yang menolongmu. Dia menyampaikan ucapan selamat. Dan sebagai hadiah atas prestasimu di Cremona, Italia, dia sudah menyiapkan paket untukmu agar mengikuti kompetisi tingkat Internasional di London. Nyonya Varenka masih akan mendampingimu.
Katanya, dia akan benar-benar puas jika kau menjadi pemenang pertama tingkat dunia. Dan beliau sangat berharap prestasimu meningkat di London. Ini kabar gembira yang ingin saya sampaikan."
"Terima kasih Nyonya Suzan, dan sampaikan rasa terima kasih tiada terkira dari saya untuknya.
Bolehkah sebelum kompetisi di London saya berjumpa dengannya untuk menambah semangat saya."
"Dia bilang tidak perlu. Dia hanya berpesan agar ketenaran dan kesuksesanmu nanti benar-benardigunakan untuk hidup dijalan yang baik, dan untuk membantu sesama sebisanya. Dia juga berpesan, sebentar lagi kau pasti perlu seorang manajer yang membantumu, dia minta agar kau menjadikan
mamamu sebagai manajermu. Itu saja pesannya. Bye."
"Bye."
Keira menutup ponselnya, airmata keharuan tampak di pelupuk matanya.
"Tampaknya orang itu memberi hadiah yang sangat mahal sekali alas prestasi Keira." Lirih Jason.
"Benar. Dia ingin aku juara dunia. Menjadi pemenang pertama pada kompetisi tingkat dunia. Dan dia sudah menyiapkan semuanya agar aku ikut kompetisi di London. Dia benar-benar baik."
"Dia sepertinya jenis orang yang senang melihat anak-anak yang berbakat bisa mencapai prestasi tertingginya sesuai bakatnya. Dan dia sepertinya benar-benar kaya."
"Dia pasti kaya raya dan yang pasti dia sangat dermawan. Bayangkan berangkat ke Italia berempat. Semua biaya dan semua keperluan dia yang tanggung."
"Kalau misal kau berjumpa dengannya kira-kira apa yang akan kau lakukan, Keira?" Tanya Jason.
"Apa ya? Rasanya aku ingin mencium kakinya. Mungkin terasa primitif. Tapi dia telah menyelamatkan diriku. Kalau aku diberi kesempatan bertemu dengannya aku akan ciumi kakinya sebagai tanda terima kasih dan hormat."
"Benarkah?"
"Benar. Kau jadi saksinya."
*****
Suasana di Stoneyhill Grove kini sedikit berubah. Kebahagiaan seperti memancar dari setiap rumahnya.
Terutama rumah Keira. Rumah yang dulu penuh kesedihan dan tangis keputusasaan, kini penuh senyum dan tawa riang. Keira seperti menemukan dunia baru, dunia yang sejak lama ia damba. Demikian juga Jason.
Nyonya Janet merasa bisa hidup jauh lebih nyaman dan tenang, sebab tidak lagi harus
memikirkan cicilan kredit rumahnya lagi.
Kebahagiaan sepertinya juga menghampiri rumah Brenda. Sejak sering berbincang dengan Sabina, ada cara baru dalam memaknai hidup yang dirasakan oleh Brenda. Ia merasa lebih bisa mengatur dirinya, mensyukuri segala karunia Tuhan untuknya, dan pelan-pelan merasa mulai menemukan tujuan hidupnya.
Yang pasti, ia merasa lebih optimis dalam menjalani kehidupan. Ia juga lebih bisa
menghayati untuk apa ia berempati kepada orang lain. Karenanya, mengurus nenek Catarina menjadi kebahagiaan barunya. Dan ia banyak belajar dari Sabina, sesungguhnya.
Nenek Catarina tidak kalah merasa bahagia. Ia semakin menyadari bahwa ia masih memiliki orang-orang yang begitu memperhatikannya. Jauh lebih perhatian daripada keluarganya.
Dan penjelasan Fahri tentang Amalek yang selama ini mengganjal di hatinya, semakin melengkapi kebahagiaannya. Kini ia merasa tidak ada sekat lagi dengan Fahri dan orang-orang yang begitu memperhatikannya. Ia merasa bahwa Fahri lebih memahami ajaran-ajaran terbaik dalam kitab sucinya daripada orang-orang yang mengaku hamba pilihan Tuhan seperti Baruch. Bahkan, lebih baik dari para rabinik seperti Rabi Benyamin sekalipun.
Fahri juga merasakan kebahagiaan. Ada rasa bahagia menyusup ketika ia melihat perubahan pada wajah-wajah tetangganya. Wajah-wajah itu kini tampak lebih cerah dan jauh lebih akrab dan ramah kepadanya daripada awal-awal ia ada didaerah itu. Ia bahagia Jason kini sangat jauh berubah.
Jason tumbuh menjadi remaja yang haus prestasi di lapangan hijau. Ia menjadi striker paling produktif untuk para pemain yunior.
Brother Mosa Abdulkerim yang ia minta mengurus Jason bercerita bahwa sudah ada
beberapa klub besar yang meminang Jason.
Para pencari bakat sudah banyak yang melirik Jason. Tetapi Brother Mosa memberikan saran kepada Jason agar sedikit bersabar dan hanya mau memberikan tanda tangan kepada klub yang berlaga di Liga Primer Inggris.
"Kalau kau ingin berkarir level dunia, sebaiknya kau berlaga di Liga Primer, jangan di Liga Skotlandia!"
Begitu Saran Brother Mosa Abdelkerim kepada Jason. Dan anak itu sepenuhnya patuh pada apa yang dikatakan Brother Mosa.
Pagi itu Fahri duduk di sofa ruang tamu sambil mempelajari proposal bisnis baru yang diajukan Ozan yang ingin membuka cabang AFO Boutique di Los Angeles. Ozan selalu memiliki data dan hitungan yang sangat presisi.
"Islam berkembang di California dengan sangat subur, sesubur pohon-pohon kurma yang tumbuh di sana. Tidak hanya tumbuh subur, pohon kurma itu juga berbuah lebat dan lezat di California.
Selain pangsa muslim, AFO Boutique juga menyasar pangsa wisatawan yang mengalir sepanjang tahun ke Los Angeles. Terutama ke Hollywood." Begitu salah satu kesimpulan yang ditulis Ozan.
Proposal bisnis itu sangat detil, bahkan cadangan SDM yang akan mengelola di sana juga dijelaskan dengan detil.
Ozan mencalonkan sepupu istrinya yang selama ini menjadi tangan kanan istrinya untuk dikirim ke Los Angeles. Fahri merasa tidak bisa menolak proposal yang sangat menjanjikan itu. Jika AFO Boutique Los Angeles sukses, ia sudah punya pandangan akan mengajak orang-orang IMSA' membuka
cabang di beberapa kota yang lainnya.
Paman Hulusi menghidangkan teh asli Turki dan sepiring Sambosa yang baru saja dihangatkan di oven.
Fahri melirih teh yang masih mengepulkan asal. IMSA = Indonesian Muslim Society in America
"Teh asli Indonesia tidak ada Paman?"
"Sudah habis, Hoca."
"Oh begitu, saya akan minta Misbah untuk mencari."
"Mencari apa Mas Fahri?" Tanya Misbah yang saat itu nongol di pintu depan.
Misbah baru saja dari tempat nenek Catarina melihat keadaannya.
"Mencari teh asli Indonesia."
"Oh, saya coba telpon Bu Rosi di Birmingham atau Pak Luqyan di Glasgow mungkin mereka masih punya stok. Kalau tidak punya, kita pesan dari Amsterdam saja."
Kata Misbah sambil masuk dan duduk di hadapan Fahri.
"Terserah kamu, bagaimana caranya untuk segera dapat teh asli Indonesia."
"Baik Mas."
"Bagaimana keadaan nenek Catarina?"
"Wajahnya tampak lebih cerah pagi ini, hanya saja ia mengeluh sesak nafas. Terkadang katanya terasa susah dan berat bernafas.
Brenda tadi juga disana mengantar sup tomat. Brenda membujuk nenek Catarina agar dibawa ke klinik, tetapi nenek itu tidak mau."
"Nanti biar aku yang membujuknya."
"Kalau Mas Fahri yang membujuknya mungkin dia mau."
"Good Morning!"
Tiba-tiba terdengar orang menyapa dari arah pintu. Semua menatap ke pintu dan menjawab sapaan itu. Ternyata yang datang Jason.
"Masuk saja Jason!" Seru Fahri.
Jason masuk dan duduk dekat Misbah.
"Mau teh?" Tanya Fahri.
"Mau."
"Paman, minta tolong teh untuk Jason dan Misbah sekalian."
"Baik Hoca."
"Kau tampak gembira sekali Jason."
"Ada banyak kegembiraan dan kabar baik yang ingin kuberitahukan padamu."
"Oh ya? Apa saja itu? Kami sangat senang mendengarnya."
"Pertama, Keira sudah teken kontrak dengan sebuah studio untuk rekaman membuat album musik instrumental.
Kedua, besok malam Keira akan tampil bersama seniman-seniman musik terkemuka Skotlandia di Edinburgh Castle.
Kalian semua diundang untuk hadir menyaksikan. Ini saya bawakan undangannya untuk ditunjukkan dipintu gerbang Edinburgh Castle.
Ketiga, pekan depan saya akan tes kesehatan di markas West Ham. Tim pencari bakat West Ham tertarik mengontrak saya setelah melihat
prestasi saya. Ini kesempatan saya membuktikan kepada dunia bahwa saya adalah salah satu pemain terbaik didunia. Itu beritanya." Kata Jason dengan sangat antusias.
Kedua mata anak remaja itu begitu berbinar-binar. Fahri mendengarkan dengan penuh perhatian dan tersenyum penuh apresiasi. Paman Hulusi meletakkan dua gelas teh di atas meja.
"Congratulation untukmu Jason. Aku senang kau akan bermain di salah satu klub ternama di London.
Kau akan memakai seragam merah silver dan bermain di Stadion Boleyn Ground. Aku sangat yakin, tak lama lagi jika kau sungguh-sungguh bekerja keras dan menjaga sportifitas kau akan memakai seragam Manchester United, Chelsea, Liverpool, atau bahkan mungkin Bayer Munchen, Real Madrid atau Barcelona.
Aku yakin sekali tak lama lagi kau akan memakai seragam salah satu klub papan atas dunia itu!"
"Terima kasih Fahri, kau banyak tahu dunia sepakbola juga."
"Dulu saat masih belajar di Cairo, bermain sepak bola itu menjadi salah satu kegemaranku."
"O ya? Berarti kapan-kapan kita bisa bermain sepak bola bersama?"
"Boleh saja."
"Untuk undangan Keira bagaimana, bisa hadir? "
"Congratulation juga untuk Keira ya. Untuk undangan di Edinburgh Castle itu sayang sekali saya tidak bisa hadir. Itu bertepatan jadwal saya meeting di London. Nanti biar Misbah dan Paman Hulusi yang datang ya. Paman Hulusi akan bawa handycam kalau diijinkan, supaya bisa merekam. Nanti saya tonton rekamannya saja."
"Oh begitu, sayang sekali."
"Urusan saya di London tidak bisa dibatalkan atau ditunda, maaf."
'Aku mengerti."
"Terima kasih atas pengertianmu."
"Oh ya ini aku bawakan koran-koran yang memberitakan Keira dan satu majalah yang mengulas kemenangan Keira di Cremona, Italia." Jason mengulurkan lembaran koran dan majalah kepada Fahri.
Fahri menerima dan mencermati isi koran itu dengan seksama. Keira ditulis disitu sebagai pemain biola berbakat dari Musselburgh. Keira diprediksi akan menjadi salah satu pemain biola kenamaan dunia.
"Tapi aku agak jengkel sama Keira." Lirih Jason.
"Kenapa?"
"Dia sudah pesan mobil baru! Dia tidak bisa bersabar. Uang muka kontrak rekaman itu dia jadikan uang muka mobil baru itu. Saya tidak suka dengan cara hidup boros tidak tahu diri seperti itu!" Fahri tersenyum.
"Kau tahu mobil apa yang akan ia pesan?"
Fahri menggeleng.
"Sedan Ferrari merah terbaru! Apa itu tidak gila! Dia baru saja mau naik daun sudah seperti itu gayahidupnya. Bagaimana kalau sudah lebih terkenal nanti? Ini baru jadi pemenang ketiga, bagaimana kalau jadi pemenang pertama?
Apakah kau tahu, biaya untuk mencicil kredit mobil itu perbulannya dua kali lebih mahal dari biaya yang dulu digunakan mama untuk mencicil rumah. Apa yang dilakukan Keira itu
bukan tindakan gila?"
"Bagaimana tanggapan mama kamu?"
"Mama sudah mengingatkan Keira. Tapi Keira keras kepala!" Fahri tersenyum.
"Bolehkah aku beritahu Keira siapa sebenarnya orang yang menolongnya, orang yang paling berjasa membuatnya bisa seperti sekarang ini, agar dia tahu dan dia bisa hidup lebih sederhana.
Kalau dia tahu yang menolong dia adalah engkau, dan cara hidupmu boleh dikatakan sederhana untuk ukuran seorang konglomerat yang memiliki banyak boutik dan minimarket, mungkin dia akan bisa mengambil pelajaran."
"Jangan Jason! Itu tidak perlu! Jangan kau lakukan itu, berjanjilah padaku jangan kau lakukan itu!"
"Baiklah. Sebenarnya ada satu hal yang sangat penting yang ingin aku sampaikan. Namun aku agak ragu untuk menyampaikannya."
"Apa itu? Sampaikan saja tidak perlu ragu. Bukankah kau sudah menganggap kami sebagai teman baikmu?" Jason mengangguk.
"Tak usah ragu. Jika yang kau sampaikan ini rahasia, kami akan menjaganya. Jika itu aib kami akan menutupnya rapat-rapat."
"Sudah satu pekan ini aku punya keinginan yang terus bergemuruh dalam dada."
"Keinginan apa itu?"
"Aku ingin pindah agama."
"Pindah agama !?"
Tanya Fahri kaget. Misbah dan Paman Hulusi juga tampak kaget mendengar perkataan Jason.
"Pindah agama apa?"
"Aku ingin pindah agama Islam."
"Kau serius, Jason?"
"Aku serius."
Fahri menarik nafas dan kembali menatap wajah Jason lekat-lekat.
"Kau sudah bicarakan ini dengan mamamu?" Jason menggeleng,
"Aku takut mama marah."
"Sebaiknya kau jangan tergesa-gesa, Jason."
"Maksudmu?"
"Pikirkan lagi baik-baik, lalu bicarakan hal ini baik-baik dengan ibumu, bicarakan juga dengan Keira. Pindah agama itu bukan perkara ringan."
"Bukankah aku merdeka menentukan pilihanku?"
"Benar, maka pikirkanlah baik-baik. Dan bicarakan dengan keluargamu. Jika kau benar-benar yakin dan mantab, kau akan bahagia dengan pilihan yang kau ambil."
"Baiklah. Saya harus pulang, saya masih ada pekerjaan dirumah."
"Silakan. Sekali lagi congratulation untuk prestasimu dan prestasi Keira."
"Terima kasih."
Jason pun pergi meninggalkan rumah itu. Begitu anak remaja itu hilang dari pandangan, Paman Hulusi protes kepada Fahri,
"Apa Hoca tidak keliru? Seharusnya biarkan dia pindah agama saat ini juga. Seharusnya dia tidak keluar dari rumah ini kecuali telah mengucapkan dua kalimat syahadat."
"Apa yang dikatakan Paman Hulusi benar, Mas Fahri. Seharusnya Jason sudah menjadi muslim. Apa yang Mas Fahri lakukan tidak tepat. Jika ternyata dia nanti mikir-mikir lagi dan berubah pikiran, apa bukan berarti Mas Fahri telah menghalang-halangi Jason mendapat hidayah !?"
"Kalian tentu tahu, Jason itu sedang berada dalam masa remaja. Masa-masa yang labil. Meskipun kalau kita lihat dari sudut pandang syari'at Islam, Jason pasti sudah bisa disebut akil baligh.
Saya hanya tidak ingin dia mengambil keputusan yang tidak matang. Sekarang pindah ke Islam, terus nanti tidak lama balik lagi atau pindah ke yang lain. Saya ingin dia berpikir jernih dan matang.
Saya juga ingin tahu seteguh apa keinginannya? Apakah cuma keinginan sesaat? Saya tidak mau orang bermain-main dengan
syahadat.
Kalau memang hidayah telah masuk ke dalam dadanya, tidak ada yang perlu kita
khawatirkan." Jelas Fahri.
"Kalau nanti setelah dia berpikir ulang dia tidak jadi masuk Islam bagaimana?" Paman Hulusi masih protes.
"Ya berarti dia belum dapat hidayah. Laa ikraha fid diin. Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam. Sudahlah Paman segera bersiap dan panasi mesin mobil, saya harus ke kampus. Dari kampus antar saya ke bandara, saya harus terbang ke London."
"Baik Hoca."
"Tesis PhDmu bagaimana perkembangannya Bah?"
"Alhamdulillah sudah selesai, sekarang sedang dikoreksi pembimbing."
" Syukur alhamdulillah."
"Oh ya Mas, kemarin saya dibel Pak Zen, ketua pengajian KIBAR [1] Manchester. Saya diminta
menanyakan apa Mas Fahri bisa mengisi pengajian di Manchester dua pekan yang akan datang?"
"Insya Allah bisa, asal kau mau menemani ke Manchester."
"Dengan senang hati Mas. Segera saya sampaikan Pak Zen."
"Sampaikan salamku buat beliau ya. Dulu saat aku dan Aisha berkunjung ke Amerika, sempat berjumpa dengan beliau dan keluarganya di Philadelpia."
"Iya Mas."
*****
Dari jendela pesawat Fahri melihat keindahan semesta. Semburat sinar mentari menembus awan putih yang menghampar bergulung-gulung. Pemandangan itu begitu indah,menjadi satu tanda kebesaran Sang Pencipta Yang Maha Agung. Fahri melihat jam tangannya, sepuluh menit lagi waktu Ashar habis diganti
waktu Maghrib. Awak pesawat mengumumkan tak lama lagi pesawat akan mendarat di London.
Fahri mulai melantunkan dzikir sore dan menghayatinya sepenuh hati.
Amsaina wa amsal mulku lillah walhamdulillah laa syarikalah laa ilaaha illa huwa wa ilaihil mashiir.
Setelah terbang selama satu jam dua puluh menit, pesawat British Airways yang ditumpangi dari Edinburgh itu mendarat dengan mulus di bandara Heathrow, London.
Fahri turun dari pesawat dan berjalan keluar bandara sambil menyeret tas koper kecil. Ozan Akbar telah menunggu tak jauh dari pintu kedatangan.
"Sendiri saja? Claire dan si kecil Laila tidak diajak?" Tanya Fahri begitu berjumpa Ozan.
"Tidak, Claire harus bawa si kecil Laila ke dokter. Nanti dia akan nyusul ke tempat makan."
"Laila kenapa? Sakit?"
"Tidak apa-apa. Dia hanya merasa tenggorokannya agak sakit kalau menelan sesuatu. Claire khawatir amandel. Maka perlu dibawa ke dokter."
"Semoga dia tidak apa-apa. Kita langsung ke mobil?"
"Sebentar, mari kita ke sana, ke kedatangan internasional."
"Siapa yang datang?"
"Adikku, Hulya.''
"Oh Hulya datang dari Istanbul?"
"Iya. kali ini ditemani ayah dan ibu. Mereka mau nengok cucunya dan jalan-jalan di London."
"Akan berapa lama mereka di London?"
"Mungkin satu bulan, kira-kira."
"Wah Laila pasti senang ditunggui kakek dan neneknya."
Ozan tersenyum sambil berjalan diikuti Fahri. Setelah menunggu seperempat jam di dekat pintu kedatangan internasional, Hulya dan kedua orang tuanya keluar.
Meskipun tampak lelah setelah menempuh perjalanan cukup jauh, Hulya tetap tampak cantik dan anggun. Itu sekilas yang dilihat
Fahri. Selain menyeret koper, Hulya tampak menenteng dua tas biola.Dengan penuh takzim Fahri mencium tangan ayah Ozan dan Hulya yaitu Paman Akbar Ali.
Fahri telah menganggapnya seperti orang tuanya sendiri, sebagaimana Aisha menganggap pamannya itu sebagai orangtuanya.
Paman Akbar Ali langsung menanyakan istri dan anak Ozan. Dan Ozan pun memberi penjelasan seperti yang disampaikan kepada Fahri. Setelah naik mobil, Ozan membawa rombongan itu meninggalkan bandara Heatrow menuju Kervan Sofrasi. Itu adalah restaurant Turki yang ada di jalan Hertford, London.
Claire dan Laila ternyata telah menunggu di Kervan Sofrasi. Begitu melihat sang kakek dan nenek, Laila langsung lari menghambur ke pelukan kakeknya. Gadis berusia empat tahun itu langsung digendong Paman Akbar Ali. Lalu beralih ke gendongan sang nenek yang wajahnya tampak belum tua dan masih
mengguratkan kecantikan.
Makan malam di Kervan Sofrasi itu adalah pesta kemenangan Hulya di London. Itu bahkan baru pesta kecilnya.
Ozan telah menyiapkan pesta besar, besok malam di tempat yang sama. Restoran itu disewa sepenuhnya sejak sore sampai malam Komunitas Turki di Inggris Raya di undang termasuk duta besar Turki di London.
Teman-teman dan kolega Ozan dari pelbagai negara juga diundang semuanya.
"Besok di sini Hulya akan menunjukkan bakat terbaiknya sebagai salah satu pemain biola terbaik di dunia saat ini. Supaya orang-orang Inggris dan dunia tahu, Islam sangat mencintai seni, keindahan, dan kedamaian.
Kita tidak usah banyak bicara. Cukuplah sayatan biola Hulya yang nanti berbicara." Kata Ozan Akbar lalu mengambil dolma[2] dengan garpu dan menyantapnya.
"Besok saya ingin ada satu momen tampil bertiga dengan ayah dan Hoca Fahri." Ujar Hulya sambil tersenyum.
"Jangan, ayah sudah tidak bisa lagi menggesek biola. Itu dulu sekali saat masih muda dan itupun hanya bisa sedikit saja, belum benar-benar bisa. Nanti ayah malah mengacaukan acara, apalagi duta besar
hadir. Jangan, ayah tidak mau!" Wajah Paman Ali Akbar tampak serius.
"Duet sama Hoca Fahri saja!"
"Saya juga tidak cakap main biola sebenarnya." Sahut Fahri.
"Satu lagu saja. Yang seperti saat tampil di The Royal Mile, Edinburgh saja. Please!" Desak Hulya.
"lya Hoca, satu lagu saja, saya juga penasaran seperti apa Hoca Fahri kalau memainkan biola. Apa bisa betul? Beberapa waktu lalu itu Hulya cerita heboh sekali." Sambung Claire, istri Ozan.
"Hoca Fahri, bisa memakai biola Aisha. Terima kasih, dengan biola itu Hulya memenangkan kompetisi di Cremona, ltalia. Ayah sudah memberiku hadiah dengan membelikan aku biola paling mahal di Istanbul. Itu yang akan Hulya gunakan tampil besok malam." Sahut Hulya. Fahri diam sesaat lamanya.
"Diam tanda setuju. Deal!" Kata Ozan sambil mengetuk meja tiga kali dengan tangan kanannya.
Fahri kaget, ia menggelengkan kepala tanda tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan tersenyum.
Usai makan, Fahri diantar Ozan menuju Landmark London Hotel. Itu adalah hotel di mana ia menginap saat ada Syeikh Utsman. Ia meminta menginap disitu sebab besok harus shalat shubuh di Central Mosque London.
Setelah shalat shubuh ia akan mengajarkan qira‘ah sab‘ah kepada beberapa orang yang memintanya, dan lewat takmir masjid ia mengundang mereka untuk datang setelah shalat shubuh.
Keberadaan Fahri di London benar-benar sibuk dan padat. Setelah mengajar qira 'ah sab‘ah, Fahri diminta untuk memberikan kuliah di SOAS London. Dan sore hari usai shalat Ashar, Fahri disibukkan dengan rapat bersama Ozan dan beberapa orang penting dalam manajemen AFO Boutique. Fahri menyetujui pendirian AFO Boutique di Los Angeles.
Dan malam harinya, meskipun lelah, Fahri terpaksa duet dengan Hulya memainkan satu lagu dalam malam syukuran kemenangan Hulya. Acara itu dikemas dengan sangat apik oleh Ozan sebagai bentuk soft diplomacy yang mengesankan. Seluruh lagu yang dimainkan Hulya dengan gesekan biolanya adalah lagu-lagu khas Turki dan dunia Islam.
Hulya membuka dengan lagu klasik Kurdi Namam Namam Namam Zor Jwana, lalu Hoga Tumse Praya Kon yang dimasyhurkan oleh seniman besar dari Pakistan Saleem Shareef.
Lalu lagu Ya Musafir Wahdak yang pernah dibawakan Jihad Akl dari Lebanon.
Hulya lalu berhenti sejenak dan memberikan pidato singkat bahwa nada-nada berikutnya adalah sebuah lagu untuk anak-anak kecil yang sekarat di Gaza Palestina.
"Dulu Nazi pernah melakukan kekejaman membunuhi banyak manusia tak berdosa dengan kamp-kamp kematian. Dan Gaza adalah sebuah kamp pembantaian terbesar di dunia modern ini. Ribuan anak-anak tak berdosa jadi korban. Ada yang mati karena bom dan peluru. Ada yang mati karena kelaparan. Ada yang mati karena sakit tak ada obat karena diembargo. Dan dunia modern sepertinya tuli, buta dan bisu. Inilah Air Mata Gaza!"
Dengan mata berkaca-kaca, Hulya mulai menggesek biolanya. Suasana sahdu dan sedih menyelimuti seluruh ruangan Kervan Sofrasi. Tetamu seluruhnya diam dicekam kesedihan. Gesekan biola Hulya seperti meremas-remas batin dan nurani mereka.
Delapan menit lebih sembilan detik Hulya menggesek biolanya dengan derai air mata. Ketika ia menyudahi lagu itu seluruh ruangan berdiri dan bertepuk tangan dengan kedua mata berkaca-kaca. Hulya lalu memanggil Fahri umuk berduet dengannya. Fahri maju sambil menenteng biola.
"Addiinu Lana, ya?" Lirih Fahri pada Hulya.
Gadis itu mengangguk.
"Hoca yang mulai, nanti saya sambung."
"Baik."
Fahri memasang biolanya dipundak dan mulai menggesek biolanya. Ia menggesekkan biolanya sambil melantunkan bait-bait Addiinu Lana. Hulya menyambung dengan sayatan biola yang jernih.
Duet itu benar-benar padu dan harmoni. Nada-nada yang tercipta mengalunkan kedamaian dan keteduhan.
Semua yang mendengar seperti dibawa ke sebuah hamparan sawah yang hijau. Pucuk-pucuk daun padi meneteskan butir-butir air sehabis hujan. Semilir angin begitu sejuk. Dan seorang hamba Allah sujud menghadap kiblat dalam gubug di tengah sawah. Lalu hujan deras kembali turun, dan hamba Allah itu tetap sembahyang mengagungkan Sang Maha Pencipta. Badai datang dan nyaris merobohkan gubuk itu, namun hamba Allah itu tetap tegak berdiri dalam shalatnya.
Pertunjukan malam itu sukses besar. Hulya mendapat banyak pujian. Fahri juga mendapat apresiasi sangat hangat. Jam satu malam, Fahri bersiap tidur setelah shalat witir, ponselnya bergetar. Ia lihat. Sebuah pesan masuk. Dari nomor tak dikenal. Ia buka ternyata dari Hulya.
"Kenapa sunnah Nabi terhalang oleh sebuah kerinduan tak jelas yang berlebihan? Bukankah berlebih-lebihan itu tidak baik dalam ajaran agama kita? Maafkan jika pesan ini mengganggu. Hulya."
Fahri meraba-raba, apa maksud sms Hulya itu? Ada getaran halus menyusup ke dalam hatinya. Cepat-cepat ia mengusirnya dengan membaca muawwidzatain. Ia lalu memejamkan mata dan terlelap dalam dzikir kepada Tuhan Sang Pemilik siang dan malam.
*****
______________________________________________
[1] KIBAR = Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya
[2] Dolma makanan khas Turki dan semenanjung Balkan, terbuat dari campuran nasi, daging cincang, dan sayuran yang dimasak dengan dibungkus daun anggur atau kol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar