PANASNYA BUNGA MEKAR : 26-01
Ketika Pangeran Suwelatama sampai di tempat persembunyiannya, maka keadaannya masih belum berubah. Tapi para pengawalnya mulai memperingatkan bahwa persediaan makanan akan menjadi semakin tipis di hari-hari mendatang.
“Apabila keadaan tidak segera dapat diatasi, maka kemungkinan kita akan kehabisan persediaan makanan.” lapor seorang petugas.
Pangeran Suwelatama mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan dalam waktu dekat, kita akan dapat kembali ke kota Pakuwon kita. ”
“Berapa hari lagi kita akan menunggu?” bertanya seorang Senopati.
“Dua hari lagi pasukan Singasari itu akan datang,” jawab Pangeran Suwelatama, “dua hari satu malam. Mereka datang tidak untuk menumpas pemberontakan. Tetapi mereka akan berusaha mengusir para penjahat yang telah berani mengganggu ketenangan Pakuwon Kabanaran.”
Para Senopati itu pun mengerti, bahwa Pangeran Suwelatama masih belum sanggup menyebut adik-adiknya itu sebagai pemberontak yang harus dibinasakan sebagai pengkhianat.
Dua hari adalah waktu yang terasa terlalu panjang. Namun pada hari pertama menjelang kedatangan pasukan Singasari, pasukan dari padang Padiangan telah datang lebih dahulu.
Senopati yang memimpin pasukan itu dengan serta merta menghadap Akuwu Suwelatama dan mohon diperintahkan untuk merebut kembali kota Pakuwon Kabanaran.
“Kami sanggup melakukannya, Sang Akuwu.” Senopati itu menjelaskan.
Tetapi Akuwu Suwelatama menggeleng. Katanya, “Kau belum melihat kekuatan mereka. Memang sangat mengejutkan. Menurut perhitungan kami, kalian tidak akan sanggup merebut kembali meskipun kalian akan membawa pasukan yang tersisa di sini. Pasukan di daerah perbatasan masih belum dapat meninggalkan tugas mereka, demikian pula pasukan yang berada di sekitar Kedung Sertu.”
Senopati itu menjadi kecewa. Namun ia masih bertanya, “Apakah kekuatan mereka demikian besarnya?”
“Ya. Kekuatan mereka cukup besar. Apalagi mereka kini sempat membujuk anak-anak muda dengan janji yang manis dan dengan pemberian yang dapat menyenangkan hati mereka, sehingga mereka bersedia untuk memperkuat pasukan Pangeran Indrasunu dan Resi Damar Pamali.”
“Resi Damar Pamali?” ulang Senopati itu.
“Ya. Kau dapat membayangkan kemampuan Resi Damar Pamali dan dua orang pemimpin padepokan lainnya. Sementara itu, ampat orang Pangeran telah menyediakan beaya untuk tingkah laku mereka yang membosankan itu.”
“Jadi, apakah kita hanya akan menunggu?” bertanya Senopati itu.
“Tidak. Aku sudah mendapat persetujuan dari Senopati di Singasari. Tetapi mereka akan datang bukan untuk membinasakan sebuah pemberontakan. Aku masih berusaha menjaga nama baik keempat Pangeran yang masih muda itu. Pasukan Singasari datang untuk membersihkan Pakuwon ini dari tindak kejahatan.”
“Tetapi bukankah dengan demikian, seolah-olah Pakuwon ini tidak dapat mengatasi kesulitannya sendiri?” bertanya Senopati itu.
“Sebenarnyalah aku dalam kesulitan. Aku tidak sampai hati menarik pasukanku yang berada di daerah yang rakyatnya terancam langsung oleh kejahatan itu.” jawab Akuwu, “Karena itu, aku mohon sepasukan kecil prajurit Singasari dan sekelompok kecil pula pasukan pengawal kakangmas Wirapaksi. Selanjutnya bersama dengan kalian, mereka akan merebut kembali kota Pakuwon yang kini diduduki oleh Pangeran Indrasunu dan saudara-saudaranya.”
Senopati itu mengangguk-angguk. Tetapi menunggu sampai keesokan harinya adalah pekerjaan yang sangat membosankan.
Namun kehadiran mereka membuat Akuwu menjadi semakin tenang. Jika Pangeran Indrasunu mengetahui persembunyian mereka, maka dengan kekuatan yang ada, pasukan Akuwu tidak akan dengan mudah dibinasakan. Meskipun dengan pasukan yang ada itu, mereka masih belum mungkin untuk merebut kota kembali.
Betapapun mereka menahan diri, namun akhirnya pasukan yang mereka tunggu itu pun datang. Pasukan itu memang tidak begitu besar, dipimpin oleh Mahisa Bungalan, yang didalamnya terdapat Mahisa Agni dan Witantra. Sementara itu pasukan lain yang lebih kecil lagi, dipimpin oleh Pangeran Wirapaksi sendiri berada pula bersama dengan pasukan Singasari itu.
“Pasukan kami memang tidak terlalu besar,” berkata Mahisa Bungalan ketika ia menghadap Pangeran Suwelatama, “tetapi kami berharap bahwa kami akan dapat membantu.”
“Terima kasih,” jawab Pangeran Suwelatama, ”meskipun pasukan itu tidak terlalu besar, tetapi kami mengerti, nilai kemampuan pasukan itu.”
Mahisa Bungalan tersenyum. Katanya, “Tidak terlalu baik. Tetapi aku akan mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya sehingga segalanya akan cepat berakhir.”
Demikianlah maka Mahisa Bungalan pun kemudian mengadakan pembicaraan-pembicaraan khusus dengan Akuwu Suwelatama dan para pemimpin dari Pakuwon Kabanaran, di antaranya Senopati yang memimpin pasukan Pakuwon itu ke padang Padiangan.
“Apakah kita akan memasuki kota itu besok?” bertanya Senopati yang tidak sabar lagi itu.
“Segalanya terserah kepada Akuwu,” jawab Mahisa Bungalan, “aku kurang menguasai medan, sehingga aku memerlukan banyak keterangan dan petunjuk sehingga pasukanku akan dapat menempatkan diri sebaik-baiknya. Kami pun memerlukan waktu untuk mengenal siapakah kawan-kawan kami di dalam pertempuran yang bakal terjadi, agar pada saat-saat yang gawat tidak akan terjadi salah paham.”
“Baiklah,” berkata Akuwu, “kita akan menentukan segalanya. Kita akan menunjukkan siapakah yang akan berada di pasukan ini dengan ciri-ciri yang dapat segera dikenal.”
“Dengan demikian, maka kita akan dengan rancak merebut kembali daerah yang sudah diduduki oleh Pangeran Indrasunu.” berkata Mahisa Bungalan.
Karena itulah, maka mereka tidak segera dapat menuju ke medan pada hari berikutnya. Pangeran Suwelatama masih harus mempersiapkan pasukannya sebaik-baiknya untuk saling mengenal dengan pasukan yang datang dari Singasari dengan ciri-ciri yang tidak akan dapat menimbulkan salah paham. Mereka pun telah memperkenalkan cara yang akan mereka pergunakan bagi masing-masing bagian dari pasukan itu dan gelar yang akan mereka pilih
Akhirnya Pangeran Suwelatama telah menentukan, bahwa mereka akan mempergunakan gelar yang melebar apabila mereka mendekati kota. Mereka akan berusaha memancing pertempuran di luar kota, agar tidak terlalu banyak menimbulkan kerusakan.
“Gelar Cakra Byuha,” berkata Pangeran Suwelatama, “aku sendiri akan berada di pusat gelar. Dan aku berharap bahwa para Senopati dari pasukan Singasari pun akan berada bersamaku. Terutama Mahisa Bungalan dan Wasi Sambuja.”
Mahisa Bungalan mengangguk sambil menjawab, “Baiklah, Pangeran. Aku akan berada bersama Pangeran. Aku berharap dapat bertemu dengan Pangeran Indrasunu.”
“Baik. Sementara itu, aku berharap bahwa Wasi Sambuja akan dapat menahan pemimpin padepokan yang nampaknya telah dibekali dengan ketidakpuasan sejak ia sebelum mengasingkan diri. Resi Damar Pamali.”
Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah, Pangeran. Aku akan menemui orang tua yang hatinya patah itu. Aku akan berusaha untuk mencegahnya berbuat terlalu banyak. Mudah-mudahan aku dapat menemuinya di medan.”
Sementara itu, Pangeran Suwelatama telah menunjuk Mahisa Agni dan Witantra untuk berada di sayap pasukannya. Sementara itu ia berharap agar pasukan Pangeran Wirapaksi dapat berada di induk pasukan bersama sebagian dari pasukan pengawal Akuwu sendiri. Pasukan terpilih yang tidak terpisah daripadanya. Sedangkan pasukannya yang lain telah dibagi di kedua sayap, sebagaimana pasukan Singasari yang terbagi pula. Dua orang Senopati telah mendapat perintah dari Akuwu untuk berada bersama Mahisa Agni dan Witantra masing-masing di sayap kiri dan kanan.
Demikianlah ketika gambaran gelar itu sudah siap dan mantap, maka bersiaplah pasukan Akuwu Suwelatama untuk merebut kembali kota Pakuwon yang telah berada di tangan Pangeran Indrasunu bersama tiga orang Pangeran yang lain dibantu oleh Resi Damar Pamali.
Namun sekali lagi Pangeran Suwelatama mengharap agar pasukan Singasari tidak menganggap Pangeran-Pangeran muda itu sebagai pemberontak. Mereka masih dapat diarahkan sesuai dengan umur mereka yang masih muda.
Baru pada hari berikutnya, maka pasukan Akuwu Suwelatama itu mulai bergerak. Dengan sengaja Akuwu telah memerintahkan sepasukan kecil mendahului pasukan induknya, agar dengan demikian, petugas sandi yang melihat kedatangan pasukan itu, akan memberikan laporan dan memancing pasukan lawan untuk menyongsong pasukannya di luar kota.
Ternyata bahwa usaha Akuwu itu berhasil. Beberapa orang pengawas melihat sepasukan kecil menelusuri jalan setapak menuju ke gerbang kota. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa laporan pun segera sampai kepada para petugas di pintu gerbang.
Sejenak kemudian, maka telah terdengar isyarat yang mengumandang di seluruh kota.
Isyarat itu memang telah mengejutkan Pangeran Indrasunu dan ketiga saudaranya. Bahkan Resi Damar Pamali menjadi ragu-ragu, apakah isyarat itu benar sebagaimana didengarnya.
Namun akhirnya telah datang menghadap seorang petugas sandi yang melaporkan bahwa pasukan Akuwu Suwelatama telah mendekati gerbang kota.
Pangeran Indrasunu yang kurang mempercayainya itu pun segera bertanya, “Apakah pasukan itu cukup kuat untuk melawan pasukan kita?”
Petugas itu menggeleng. Katanya, “Menurut laporan, pasukan itu tidak terlalu kuat. Bahkan terlalu kecil. Tetapi apakah pasukan itu sudah merupakan pasukan dalam keseluruhan, atau sekedar sebagian dari pasukan yang lebih besar, masih belum diketahui.”
Resi Damar Pamali pun kemudian berkata, “Kita jangan terjebak. Mungkin pasukan itu nampaknya adalah pasukan yang tidak terlalu kuat. Namun apabila kita menyongsong dengan kekuatan seimbang, mereka akan menjebak kita.”
“Jadi, apakah yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya Pangeran Indrasunu.
“Kita siapkan pasukan untuk menahan mereka, namun pasukan yang kuat pun harus dipersiapkan pula.” jawab Resi Damar Pamali.
Dengan demikian maka para pemimpin laskar yang telah menduduki Kabanaran itu pun segera mempersiapkan pasukan masing-masing. Sebagian dari mereka harus lebih dahulu keluar pintu gerbang kota untuk menahan pasukan yang telah menyerang.
Ternyata bahwa pasukan Pangeran Suwelatama itu tidak langsung mendekati pintu gerbang. Mereka menunggu beberapa ratus tonggak dari batas kota.
Sebagaimana diharapkan, maka pasukan Pangeran Indrasunu pun telah keluar dari kota. Ternyata bahwa yang menyongsong pasukan kecil itu hanya pasukan yang seimbang dengan kekuatan yang datang.
“Mereka memang sombong.” berkata Senopati yang memimpin pasukan kecil itu.
“Tetapi kita harus berhati-hati,” jawab Senopati pembantunya, “mungkin di belakang pasukan itu telah disiapkan pasukan yang lebih besar, namun untuk itu diperlukan waktu, sehingga untuk sementara mereka mengirimkan pasukan yang dapat mereka siapkan dalam sekejap dengan imbangan kekuatan yang tidak terpaut banyak. Baru kemudian yang lain akan datang dan menumpas kita.”
Senopati yang memimpin pasukan kecil itu mengangguk-angguk. Namun tugas mereka adalah memancing pertempuran di luar kota. Karena itu, maka setelah pertempuran terjadi, maka kekuatan induk pasukan Akuwu Suwelatama itu pun akan segera datang.
Demikianlah, maka pasukan kecil itu pun segera terlibat dalam pertempuran. Pasukan Pangeran Suwelatama adalah pasukan pengawal yang terlatih, sehingga dalam banyak hal nampak mereka memiliki kelebihan dari lawan-lawannya. Meskipun demikian bukan berarti bahwa pasukan yang keluar dari gerbang kota itu tidak memiliki orang-orang yang berilmu tinggi. Beberapa orang ternyata mampu membuat para pengawal menjadi kebingungan, sehingga mereka harus berpasangan menghadapinya.
Seorang putut ternyata telah mengacaukan beberapa orang pengawal di dalam pasukan Pangeran Suwelatama. Sehingga dengan demikian, maka Senopati pasukan kecil itu harus mengambil langkah khusus untuk menghadapinya.
Dalam pada itu, pasukan Pangeran Suwelatama dalam, gelar Cakra Byuha telah mendekati arena. Seorang penghubung telah melaporkan, bahwa pasukan kecil yang memancing pasukan lawan keluar dari gerbang kota telah terlibat dalam pertempuran. Tetapi lawan mereka pun tidak terlalu banyak, sehingga kedua pasukan itu pun nampaknya seimbang.
Karena itu, maka Pangeran Suwelatama merasa perlu untuk mengejutkan lawannya. Beberapa orang pengawal telah diminta untuk membunyikan sangkakala. Dengan demikian, maka kedatangan induk pasukan Pangeran Suwelatama itu akan mempunyai pengaruh yang besar pada ketahanan perasaan lawan.
Suara Sangkakala itu benar-benar telah mempengaruhi perasaan pasukan Pangeran Indrasunu. Rasa-rasanya bulu-bulu mereka telah meremang. Seakan-akan sudah terbayang kedatangan satu pasukan yang sangat besar.
Karena itu, maka dua orang penghubung dengan tergesa-gesa telah memasuki gerbang kota dan melaporkan, bahwa pasukan yang lebih besar telah datang.
Ternyata Resi Damar Pamali pun sudah siap. Dengan kekuatan yang besar, ia memimpin pasukannya keluar dari gerbang kota.
“Apakah lawan yang datang telah memasang gelar?” bertanya Resi Damar Pamali
“Nampaknya mereka menebar.” jawab penghubung itu.
“Kita akan membuat gelar yang serupa untuk mengimbangi mereka. Kita akan membuat gelar yang menebar. Garuda Nglayang.” berkata Resi Damar Pamali.
Resi Damar Pamali sendiri akan berada di paruh pasukannya. Kemudian dua Pangeran akan bersamanya sebagai Senopati Pengapit. Sementara dua orang Pangeran yang lain bersama guru mereka akan berada di sayap. Mereka akan memimpin sayap kiri dan sayap kanan.
“Kita akan melihat, gelar apakah yang mereka pergunakan,” berkata Resi Damar Pamali, “jika perlu kita akan merubah gelar ini untuk menyesuaikan diri.”
Demikianlah pasukan itu pun berjalan mendekati arena. Mereka tidak menghiraukan lagi sawah yang sedang ditumbuhi oleh batang padi yang hijau. Mereka maju dalam gelar yang sudah siap untuk bertempur.
“Kita akan menarik pasukan kecil itu untuk memasuki gelar,” berkata Resi Damar Pamali, “sayap kiri akan terbuka, dan pasukan itu akan memasuki gelar ini, langsung berada di induk pasukan. Jika ada lawan yang berusaha mengejar, biarlah mereka memasuki pintu sayap itu pula. Kita akan membaurkan gelar ini dengan gelar jurang grawah. Lawan yang memasuki gelar ini, akan terhisap dan hancur berserakkan. Pasukan yang ada di dalam gelar harus membinasakan mereka.”
Para Senopati pun mengerti apa yang harus mereka lakukan. Karena itu, maka mereka pun telah siap dengan tugas masing-masing.
Sejenak kemudian telah terdengar tanda dari induk Pasukan yang dipimpin olah Resi Damar Pamali. Seperti yang telah direncanakan, maka tanda itu telah menarik pasukan kecil yang telah bertempur itu mulai menarik diri. Meskipun mereka terpaksa mengorbankan beberapa orang yang tidak mampu mempertahankan hidup mereka, namun mereka akan melakukan satu gerakan dalam hubungan dengan gelar dalam keseluruhan.
Sayap kiri dari gelar yang dipimpin oleh Resi Damar Pamali itu telah terbuka, sehingga pasukan kecil yang menarik diri itu langsung menuju ke pintu di sayap yang terbuka itu.
“Bukan main,” desis Senopati yang memimpin pasukan kecil yang mendahului pasukan Akuwu Suwelatama, “ternyata mereka memiliki kemampuan yang tinggi. Gelar itu dapat dilakukan dengan hampir sempurna. Mereka dapat menarik pasukan kecil yang telah dilontarkan lebih dahulu, dan kemudian menyatu dalam gelar yang besar.”
Tetapi Senopati itu pun tidak terlalu bodoh untuk mengejarnya dan membenturkan diri dengan kekuatan yang tidak imbang. Bahkan pasukan kecil itu pun segera mengundurkan diri pula dan membenamkan diri ke dalam satu gelar yang meluas, yang dipimpin langsung oleh Akuwu Suwelatama.
Dengan demikian maka dua gelar yang kuat itu pun telah saling mendekati.
Resi Damar Pamali dan para Pangeran itu pun terkejut ketika mereka melihat kekuatan Pangeran Suwelatama. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa Pangeran Suwelatama sempat menghimpun kekuatan yang demikian besarnya. Dengan tanda kebesaran Pakuwon Kabanaran, panji-panji, rontek, serta tunggul-tunggul, dan diiringi oleh sangkakala, pasukan itu pun maju semakin mendekat.
“Gila,” geram Pangeran Indrasunu, “ternyata masih juga banyak orang-orang dungu yang berpihak kepadanya.”
“Jangan cemas,” sahut Resi Damar Pamali, “Akuwu Suwelatama tentu telah mengumpulkan orang-orang yang tidak berarti dan dipaksanya untuk memasuki tugas keprajuritan. Jika pertempuran ini nanti mulai menyala, akan segera kelihatan, bahwa yang ada di hadapan kita hanyalah jumlah. Tetapi mereka sama sekali tidak berkemampuan.”
Berbeda dengan tanggapan Pangeran Indrasunu dan para Senapatinya, maka Pangeran Suwelatama telah mengagumi gelar pasukan lawannya.
“Mereka terlatih dengan baik,” berkata Akuwu Suwelatama, “ternyata mereka benar-benar telah mempersiapkan diri pada saat mereka melakukan rencana mereka.”
Justru dengan demikian, maka setiap orang di dalam pasukan Akuwu Suwelatama menjadi berhati-hati menghadapi lawan mereka, karena menilik gelar yang mereka hadapi, maka lawan mereka memiliki kemampuan sebagaimana kemampuan para prajurit.
Demikianlah, beberapa saat kemudian kedua gelar itu saling mendekati. Ternyata bahwa ujung pasukan Pangeran Suwelatama dalam gelar Cakra Byuha tidak selebar pasukan Resi Damar Pamali yang mempergunakan gelar Garuda Nglayang. Karena gelar yang dipergunakan Akuwu Suwelatama memusatkan kekuatannya pada pusat dari induk pasukannya. Kemudian pada tebaran yang merupakan sayap pasukannya akan segera berkisar bila benturan telah terjadi. Gelar Cakra Byuha akan menjadi semacam sebuah lingkaran yang bergigi, yang akan langsung menghantam pusat pertahanan lawan.
Karena itu, maka Resi Damar Pamali pun menganggap bahwa gelarnya tidak sesuai dengan gelar lawan yang tidak seperti yang diduganya. Karena itu, maka Resi Damar Pamali segera memberikan isyarat kepada petugas penghubungnya untuk memberikan tanda agar gelar itu dirubah menjadi gelar Sapit Urang.
“Kita akan menyerang gelar lawan dari tiga jurusan.” berkata Resi Damar Pamali. “Induk pasukan akan menghadapi gelar Cakra Byuha itu. Kemudian sapit kiri akan menyerang dari arah kiri dan sapit kanan akan menyerang dari arah kanan.”
Sementara itu Akuwu Suwelatama telah menyempurnakan gelarnya. Masih gelar Cakra Byuha. Kedua Senopati pengapitnya berada pada ujung-ujung gerigi dekat dengan pusat pimpinan gelar, sementara pada gerigi yang lain Mahisa Agni dan Witantra yang akan menghadapi sayap pasukan lawan yang telah berubah menjadi sapit kanan dan sapit kiri. Sementara gerigi di paling belakang dipimpin oleh kedua orang Senopati dari pasukan pengawal Pangeran Suwelatama.
Dengan demikian maka tebaran gelar Cakra Byuha itu menjadi semakin menyempit, namun semakin padat, dengan tujuh ujung gerigi yang siap menghadapi lawan.
Namun dalam pada itu, ternyata Pangeran Indrasunu menjadi berdebar-debar. Semakin dekat kedua gelar itu, maka Pangeran Indrasunu pun mulai melihat orang-orang yang berada di pusat gelar lawan. Di antara mereka terdapat dua orang yang mendebarkan jantungnya selain Pangeran Suwelatama sendiri. Ternyata di pusat gelar lawan itu terdapat Mahisa Bungalan dan Wasi Sambuja.
“Gila!” Pangeran Indrasunu itu hampir berteriak.
Resi Damar Pamali yang mendengar pengapitnya berkata lantang itu pun berpaling. Ia melihat kecemasan membayang di wajah Pangeran Indrasunu.
“Kenapa?” bertanya Resi Damar Pamali.
Pangeran Indrasunu telah meninggalkan tempatnya sejenak mendekati Resi Damar Pamali dan mengatakan siapakah kedua orang itu.
“Ya. Aku mengenal Wasi Sambuja,” berkata Damar Pamali, “kenapa kau menjadi cemas? Aku akan menghadapinya.”
Pangeran Indrasunu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ia adalah guruku.”
“Aku sudah tahu. Pangeran pernah mengatakan bahwa Wasi Sambuja tidak dapat ikut bersama Pangeran karena keadaannya. Ia terluka di dalam perang tanding melawan Witantra. Namun ternyata bahwa ia berada di pihak lawan.” jawab Resi Damar Pamali. Lalu, “Tetapi itu tidak apa-apa. Bukankah dengan demikian sudah menjadi jelas, bahwa ia telah melawan Angger Pangeran. Karena itu, ia harus dibinasakan. Aku mengerti, ia memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi justru aku mengenalnya maka aku tahu bahwa ilmunya tidak terlalu tinggi seperti yang angger duga. Bukankah di Singasari ia dikalahkan oleh Witantra?”
“Ya.” jawab Pangeran Indrasunu. “Apakah Resi mengenal Witantra?”
“Tentu aku mengenalnya. Tetapi aku belum melihat bukti kelebihannya.” jawab Resi Damar Pamali.
Pangeran Indrasunu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berdesis, “Anak muda itu bernama Mahisa Bungalan. Orang itulah yang telah mengalahkan aku.”
Resi Damar Pamali tersenyum. Katanya, “Dua orang Putut dari padepokan ada di samping Pangeran. Mereka akan menyelesaikan semua persoalan. Sementara dua orang Pututku yang lain ada di sisi Pangeran itu. Ia akan menghadapi Pangeran Suwelatama, sementara aku akan berhadapan dengan orang yang kau sebut guru itu.”
Pangeran Indrasunu mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa dua orang murid terpercaya Resi Damar Pamali ada di sampingnya. Karena itu, maka ia pun menjadi lebih mantap menghadapi medan, meskipun ia melihat Mahisa Bungalan ada di antara pasukan lawan.
Sebenarnyalah bahwa jumlah prajurit Singasari dan para pengawal Kabanaran lebih kecil dibanding dengan pasukan Pangeran Indrasunu. Namun kemauan yang menyala di hati Pangeran Suwelatama dan para pengawalnya, telah mendorong pasukan yang lebih kecil jumlahnya itu menghadapi lawan dengan dada tengadah.
“Jika aku tidak berhasil,” berkata Pangeran Suwelatama kepada diri sendiri, “maka akan segera terlibat pasukan Singasari yang sebenarnya. Adimas Pangeran yang ampat itu tidak akan dapat mengelakkan diri lagi dari satu tuduhan pemberontakan sehingga nasibnya pun akan menjadi sangat buruk.”
Demikianlah gelar Cakra Byuha yang tidak melebar sebagaimana yang diduga sebelumnya, telah dihadapi dengan gelar yang mapan dengan jumlah orang yang lebih banyak, Sapit urang. Ujung-ujung gerigi di sisi akan dihadapi oleh pasukan yang akan datang dari arah samping sebelah menyebelah. Sementara di hadapan gelar Cakra Byuha itu telah menunggu pasukan induk dengan jumlah pasukan yang besar dan kuat.
Meskipun para Senopati yang akan memimpin induk pasukan dan sapit di sebelah menyebelah tidak imbang dengan para Senapati dari gelar Cakra Byuha yang bergerigi itu, namun pasukan yang besar pun akan ikut menentukan.
Demikianlah Pangeran Suwelatama yang menyadari jumlah pasukannya yang lebih kecil telah mempersempit gelarnya. Kekuatannya harus terpusat, dan dengan demikian akan mempunyai arti menghadapi lawannya.
Pangeran itu pun percaya, bahwa gerigi gelar di sisi terdapat Witantra dan Mahisa Agni di samping para Senopatinya. Kedua orang itu memiliki kemampuan dan pengetahuan melampaui setiap orang yang ada di kedua gelar itu. Melampaui dirinya sendiri.
Beberapa saat, menjelang kedua pasukan itu bertemu, maka Pangeran Suwelatama telah menghentikan gerak gelarnya. Dengan lantang ia berkata, “Adimas Pangeran Indrasunu, kita masih mempunyai kesempatan untuk berbicara. Apakah adimas benar-benar sudah kehilangan nalar yang bening?”
Tetapi jawaban Pangeran Indrasunu, “Apakah kau cemas melihat kekuatan kami? Jika demikian, sebaiknya kakangmas menyerah saja. Kami tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi dengan demikian kakangmas tidak akan berarti apa-apa lagi di Pakuwon ini, yang kemudian akan menjadi pacatan langkah-langkah kami selanjutnya.”
“Jangan berkata begitu, adimas. Di sini ada sekelompok kecil pasukan Singasari yang sebenarnya bertugas untuk mengamankan satu daerah dari para penjahat, para perampok dan brandal. Mereka berada di sini dengan satu tugas mengatasi kekalutan yang terjadi di sini. Kalian masih dianggap sebagai orang-orang yang sekedar membuat kekacauan. Belum dianggap sebagai sekelompok orang yang memberontak. Jika kalian tidak menyerah saat ini, sikap Singasari akan berubah menghadapi kalian. Jika pada suatu saat, Singasari menganggap kalian sebagai pemberontak, maka kalian akan menyesal.”
Pangeran Indrasunu menjadi termangu-mangu. Jika perkembangan keadaan berlangsung begitu cepat, maka apakah ia akan sempat menyusun kekuatan untuk melawan Singasari.
Namun dalam pada itu, Resi Damar Pamali lah yang menjawab, “Kita sudah berhadapan di medan perang. Mulailah. Jika besok pasukan Singasari datang dan menganggap kami sebagai pemberontak, maka sebenarnyalah kekuatan kami telah tersusun rapi, dan dengan mudah kami akan dapat mengimbangi kekuatan Singasari. Tidak tedeng aling-aling, kami memang akan menumbangkan kekuasaan Singasari yang serakah dan tamak. He, pengikut Singasari, bersiaplah untuk berlutut di bawah telapak kaki para Pangeran yang masih sempat berpikir bening. Wasi Sambuja yang mengkhianati muridnya sendiri, kau masih mempunyai kesempatan untuk menikmati kejayaan Kediri setelah Singasari runtuh apabila kau menyadari kesalahanmu sekarang.”
Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Sebuah pertanyaan telah terlontar dari mulutnya, “Siapakah yang sebenarnya telah berkhianat?”
Pertanyaan Wasi Sambuja itu memang menggetarkan jantung Pangeran Indrasunu. Tetapi agaknya sikapnya memang sudah benar-benar dikaburkan oleh gejolak di dalam jiwanya, yang dimulainya dari perasaan kecewa semata, namun yang kemudian berkembang menjadi gejolak yang menggetarkan Kediri.
Namun dalam pada itu, Resi Damar Pamali sudah tidak sabar lagi. Karena itu, maka katanya kemudian, “Kita tidak datang ke tempat ini untuk banyak berbicara. Kami tidak akan mempunyai belas kasihan lagi jika pertempuran sudah dimulai. Pasukan kami yang lebih banyak serta kemampuan kami yang lebih tinggi akan segera menghancurkan kalian. Kami mengerti, bahwa kalian lelah memilih gelar yang memungkinkan kalian memusatkan kekuatan kalian yang kecil. Tetapi dengan gelar kami, maka kami akan menghancurkan kalian dari tiga arah dengan kekuatan yang tidak akan dapat kalian lawan.”
Wasi Sambuja tidak menjawab lagi. Ketika ia berpaling ke arah Pangeran Suwelatama, maka Pangeran itu pun sedang memandanginya.
Wasi Sambuja itu pun mengangguk kecil sebagai satu isyarat, bahwa memang tidak ada jalan lain kecuali jalan kekerasan.
Pangeran Suwelatama menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun menyadari, bahwa satu-satunya jalan adalah kekerasan. Karena itu maka ia pun kemudian memberikan isyarat kepada Mahisa Bungalan untuk bersiap. Dan sejenak kemudian, maka terdengarlah Pangeran Suwelatama itu memberikan perintah kepada para Senapati di dalam pasukannya untuk mulai bergerak.
Perintah itu pun segera menjalar sampai kepada orang yang berada di paling jauh dari pasukan lawan. Di gerigi yang paling belakang, para pengawal dan prajurit Singasari merupakan tenaga yang akan memukul di saat terakhir. Pada keadaan tertentu, mungkin sekali Panglima pasukan akan memutar gelar, sehingga terjadi pergeseran Senopati. Terutama jika kekuatan lawan tidak seimbang dengan kemampuan gelar Cakra Byuha itu pada sisi-sisi tertentu.
Demikianlah, maka gelar itu pun mulai bergerak maju. Sementara itu, Resi Damar Pamali pun telah memerintahkan gelarnya bergerak pula. Bagaikan seekor udang raksasa dengan sapitnya yang kuat bergerak dari arah yang berlawanan seolah-olah akan menjepit gelar lawannya, sementara induk pasukannya pun telah bergerak maju di bawah pimpinan langsung Panglimanya dan dua orang Senopati Pengapit. Sementara itu, masih ada pasukan cadangan di bagian ekor gelar yang pada setiap saat akan dapat bertindak untuk kepentingan yang khusus.
Gelar Cakra Byuha yang dipimpin oleh Pangeran Suwelatama itu memang menyempitkan diri untuk memusatkan segenap kekuatan. Namun dengan demikian, maka yang bertemu di medan itu seolah-olah seekor udang raksasa tengah berusaha menerkam sebuah lingkaran untuk diremas dan dihancurkan.
Kedua sapit di kiri dan di kanan itu pun bergerak semakin dekat, sementara induk pasukan Resi Damar Pamali pun maju pula menyongsong gelar Cakra Byuha yang mendekat pula.
Ternyata yang menyentuh gelar pasukan Pangeran Suwelatama bukannya induk pasukannya. Tetapi sapit kiri dari gelar Sapit Urang itu telah mulai dengan sergapannya langsung menusuk ke lambung gelar Cakra Byuha.
Namun dalam pada itu, pasukan Singasari yang tidak terlalu banyak, ditambah dengan para pengawal Pangeran Wirapaksi dan pengawal Pakuwon Kabanaran sendiri, telah menyongsong pasukan lawan.
Ternyata dalam benturan pertama itu telah terasa, bahwa kekuatan Resi Damar Pamali memang cukup besar. Tetapi hanya dalam jumlah. Ternyata bahwa secara pribadi, maka prajurit Singasari dan para pengawal masih mempunyai beberapa kelebihan. Ketika satu dua orang putut menunjukkan kelebihannya, maka mereka pun segera tertahan oleh para prajurit Singasari yang terlatih baik. Di dalam perang gelar, maupun ditilik dari kemampuan mereka orang seorang.
Selebihnya di bagian kiri dari gelar Cakra Byuha itu terdapat Mahisa Agni. Karena itu, maka dengan cermat Mahisa Agni pun mengikuti perkembangan pertempuran itu selanjutnya.
Dalam pada itu, induk pasukan dalam gelar Sapit Urang itu pun telah mulai membentur pasukan Pangeran Suwelatama. Dalam jumlah yang lebih besar, maka untuk sesaat pasukan induk gelar Sapit Urang itu berhasil mendorong beberapa langkah gelar Cakra Byuha itu surut.
Tetapi di saat kemudian keadaan pun segera berubah. Para Senopati pun kemudian telah terikat dalam pertempuran di antara mereka. Wasi Sambuja memang sudah bersedia bertemu dengan Resi Damar Pamali, sementara Mahisa Bungalan ingin mengulangi perang tanding yang pernah terjadi. Sedangkan Pangeran Wirapaksi telah berhadapan dengan seorang Pangeran muda yang lain yang berada di dalam gelar lawan, sebagai Senopati pengapit. Sementara itu Pangeran Suwelatama sendiri langsung memimpin seluruh pasukannya. Bahkan ia pun telah bertempur di antara para prajurit di induk pasukan.
Tetapi justru karena Pangeran Suwelatama tidak terikat di dalam pertempuran Senopati, maka ia mampu memberikan penilaian selengkapnya atas benturan yang telah terjadi itu.
Sentuhan yang terakhir terjadi di sayap kanan. Sapit dalam gelar Cakra Byuha itu agaknya lebih lamban di banding dengan sapit kirinya. Namun ternyata bahwa Senopatinya mempunyai perhitungan yang cermat. Senopati di sapit kanan yang terdiri dari salah seorang Pangeran saudara Pangeran Indrasunu itu telah membuka gelar sapitnya melebar. Karena itu maka khususnya di sapit kanan itu, telah terjadi pertempuran yang memancing lawan untuk membuka ajang perang lebih luas.
Tetapi yang berada di hadapan sapit kanan gelar Sapit Urang itu adalah Witantra. Ia memiliki pengalaman yang luas dan mapan menghadapi segala jenis medan. Karena itu, maka ia tidak menjadi bingung menghadapi sapit yang tiba-tiba telah menganga dan siap menjepit gelar lawannya.
Witantra tidak membuka gerigi gelarnya. Dengan demikian maka akan terjadi kekosongan dan merupakan lubang yang dapat diselusupi oleh lawannya, tetapi Witantra justru memerintahkan lewat Senopati yang berada di gerigi sebelahnya untuk merapat. Meskipun gelar itu sendiri tidak berputar, tetapi dua ujung gerigi yang menghadapi sapit kanan gelar Sapit Urang itu merupakan dua ujung yang siap melawan bagaikan sepasang tanduk yang tajam runcing. Benturan yang terjadi memang sangat mengejutkan. Sapit yang meluas itu ternyata justru menipis. Karena itu, maka ujung gerigi Cakra Byuha itu seolah-olah telah menusuk menembus gelar lawan, sehingga tembus.
Namun tangkai sapit pada gelar lawan itu pun segera mengambil bagian. Mereka langsung menyerang ujung gerigi yang berhasil menembus gelar Sapit Urang itu.
Meskipun demikian usaha itu tidak berhasil. Gerigi gelar Cakra Byuha yang menyempit itu justru menjadi sangat kuat dan berbahaya.
Mahisa Agni di sisi yang lain pun segera mengusai keadaan. Ujung-ujung gerigi yang terisi oleh para Senopati dari tataran masing-masing, telah membingungkan lawan, apalagi bagian yang berhadapan dengan sapit kiri itu.
Mahisa Agni pun segera telah membingungkan lawannya. Seorang Pangeran yang bingung menghadapinya telah bergeser oleh kehadiran seorang tua yang nampaknya memiliki ilmu yang tinggi.
“Sebaiknya kau jangan menakuti anak-anak,” berkata orang tua itu, “marilah. Barangkali yang tua-tua ini pun masih ingin juga bermain-main.”
“Siapa kau?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku adalah gurunya.” jawab orang tua itu, “Pangeran itu memang masih terlalu muda untuk melawanmu. He, siapakah kau sebenarnya?”
“Namaku Mahisa Agni.” jawab Mahisa Agni. Wajah orang itu tiba-tiba menegang. Dengan suara sarat ia bertanya, “Aku pernah mendengar namamu. Apakah kau pernah berada di Kediri?”
“Ya. Aku pernah berada di Kediri meskipun tidak terlalu lama.” jawab Mahisa Agni.
Orang tua itu pun termangu-mangu sejenak, sementara pertempuran pun berlangsung dengan sengitnya.
“Jadi kaulah yang bernama Mahisa Agni, yang atas nama kekuasaan Singasari berada di Kediri. Dan kau jugalah yang agaknya telah mengalahkan Wasi Sambuja.” geram orang tua itu.
Mahisa Agni mengangguk. Kataknya, “Aku memang pernah berada di Kediri. Tetapi bukan aku yang mengalahkan Wasi Sambuja, tetapi orang lain yang juga pernah berada di Kediri sebagaimana aku lakukan. Namanya Witantra.”
Orang itu menggeram. Katanya, “Jika kau belum dapat mengalahkan Wasi Sambuja, maka kau tidak akan berarti apa-apa bagiku. Seandainya kau mampu mengalahkannya, kau masih harus melihat kenyataan, bahwa kemampuan Wasi Sambuja berada jauh di bawah lapisan ilmuku.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin memang begitu, tetapi sebaiknya kita akan mencoba, siapakah yang akan dapat keluar dari pertempuran ini.”
“Persetan!” geram orang itu. Lalu, “Kau jangan terlalu sombong. Apakah kau tidak berpikir untuk memilih jalan yang paling baik? Berpihak kepada Pangeran Indrasunu dan Resi Damar Pamali?”
Mahisa Agni tertawa pendek. Katanya, “Perang telah berkobar. Lihat, pasukanku yang lebih kecil telah mendesak pasukanmu yang jumlahnya jauh lebih banyak tetapi tanpa kemampuan pribadi untuk mengatasi kekalutan yang timbul.”
Orang itu menjadi semakin marah. Maka tiba-tiba saja ia menggeram sambil berkata, “Kau akan menyesal. Pakailah senjata apa saja yang kau miliki. Tumpahkan segala jenis ilmu dan pasukanmu. Maka kau bagiku hanyalah debu yang tidak berarti apa-apa.”
Mahisa Agni masih sempat tertawa, meskipun ia berusaha untuk menahannya. Namun bukan berarti bahwa ia mengabaikan lawannya. Ia pun yakin, bahwa lawannya bukannya bohong sepenuhnya. Ia tentu memiliki ilmu yang dapat diandalkannya di samping usahanya untuk menggertak dan menguncupkan hati lawan.
Sejenak kemudian, di antara pertempuran yang riuh, Mahisa Agni telah bertempur dengan guru salah seorang dari keempat Pangeran yang telah sepakat untuk mengadakan perubahan dalam tatanan pemerintahan di Kediri dan kemudian di Singasari.
Ternyata bahwa ia memang memiliki ilmu yang tinggi. Namun betapapun juga orang itu tidak dapat mengimbangi kemampuan Mahisa Agni. Sehingga beberapa saat kemudian, maka orang itu telah terdesak pula. Ternyata meskipun jumlahnya cukup banyak, tetapi sebagian dari mereka adalah orang-orang yang baru yang masih belum mempunyai pengalaman sama sekali, sehingga ketika mereka benar-benar berada di medan perang, maka mereka pun telah menggigil ketakutan. Apalagi ketika mereka melihat darah yang mengalir dari tubuh seseorang.
Bagi mereka, pertempuran ternyata bukan sesuatu yang menarik seperti yang mereka duga semula, tetapi ternyata adalah sesuatu yang sangat mengerikan dan mendebarkan jantung, sehingga rasa-rasanya mereka akan membeku karenanya.
Pada saat mereka datang ke Pakuwon Kabanaran, mereka dengan tidak banyak kesulitan berhasil mendesak para pengawal Pakuwon. Mereka seolah-olah tidak mengalami perlawanan yang berarti karena Akuwu Suwelatama telah menarik diri dan bersembunyi di tempat yang tidak diketahui.
Dengan demikian, mereka menyangka, bahwa perang yang demikian adalah menyenangkan sekali dan memberikan kebanggaan bagi mereka, tanpa berbuat apa-apa mereka berderap memasuki kota dengan senjata telanjang di tangan. Dengan garang mereka menakuti penduduk yang bersembunyi di rumah masing-masing. Seperti menghalau binatang liar mereka mengejar orang-orang yang mengungsi.
Tetapi yang dijumpainya kemudian adalah berbeda sekali dengan apa yang terjadi terdahulu. Yang kemudian dihadapinya adalah prajurit yang tidak meninggalkan medan sebelum bertempur seperti yang dilakukan oleh pengawal Pakuwon itu sebenarnya.
Karena itu ketika mereka melihat, bagaimana para prajurit Singasari bertempur, serta para pengawal yang tidak lagi mendapat perintah untuk mundur dan bahkan para pengawal yang datang dari padang Padiangan dengan kemarahan yang membakar jantung, maka mereka yang mencoba untuk ikut serta dalam peperangan itu pun menjadi ngeri.
Tetapi di antara pasukan Pangeran Indrasunu terdapat juga orang-orang yang memiliki kemampuan pribadi yang mengagumkan. Beberapa orang cantrik, jejanggan dan putut yang ada di antara mereka, mampu mengimbangi para prajurit Singasari dan para pengawal pangeran Wirapaksi dan para pengawal Pakuwon Kabanaran. Namun jumlah mereka tidak terlalu banyak.
Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin lama semakin sengit. Ternyata bahwa jumlah yang lebih banyak itu pun berpengaruh pula. Ternyata bahwa pasukan Pangeran Indrasunu masih tetap bertahan. Serangan-serangan mereka masih juga terasa di kedua sapit kanan dan kiri, sementara induk pasukan mereka pun menekan pusat gelar Cakra Byuha semakin kuat.
Tetapi perlawanan dari gelar yang lebih memusat itu pun telah mendebarkan Resi Damar Pamali yang kemudian bertempur melawan Wasi Sambuja. Dua orang pemimpin padepokan yang memiliki bekal ilmu yang cukup tinggi, namun yang ternyata berbeda sikap dan pendirian.
Sementara itu, Pangeran Indrasunu tidak bertempur seorang diri. Ia merasa bahwa ia tidak akan dapat menandingi Mahisa Bungalan yang memimpin sepasukan kecil prajurit Singasari. Karena itu, maka ia pun telah bertempur bersama seorang putut, murid Resi Damar Pamali yang sudah mendapat kepercayaan untuk membantunya menuntun para cantrik yang baru datang.
Karena jumlah mereka memang terlalu banyak, maka Mahisa Bungalan pun harus menerima kehadiran kedua lawannya yang bertempur berpasangan. Tetapi karena keduanya berasal dari sumber yang berbeda, maka mereka masih harus berusaha untuk menyesuaikan diri.
Mahisa Bungalan menyadari, bahwa ia harus memeras tenaganya untuk melawan keduanya jika keduanya berhasil saling mengisi. Karena itu, maka justru sebelum mereka sempat menempatkan diri masing-masing dalam pasangan yang serasi, maka Mahisa Bungalan telah mengerahkan segenap ilmunya untuk menyerang mereka.
Pangeran Indrasunu memang pernah membenturkan ilmunya melawan Mahisa Bungalan. Dan ia merasa bahwa ia tidak mampu mengimbanginya. Namun dalam pertempuran itu, bersama seorang putut ia telah melawan Mahisa Bungalan dengan ilmu pedangnya yang mapan.
Tetapi ternyata Mahisa Bungalan pun memiliki ilmu pedang yang tinggi. Selagi kedua orang lawannya berusaha saling mengisi, maka serangan Mahisa Bungalan datang bagaikan banjir bandang.
Karena itulah, maka kedua orang itu justru mengalami kesulitan pada benturan pertama. Mahisa Bungalan benar-benar memanfaatkan keadaan itu. Senjatanya berputaran seperti baling-baling, sementara kakinya berloncatan seperti kaki kijang di padang rumput luas.
Dalam pada itu, justru sebelum Pangeran Indrasunu dan putut dari padepokan Resi Damar Pamali itu sempat menyesuaikan diri, maka ternyata bahwa ujung pedang Mahisa Bungalan telah berhasil menyentuh lengan putut itu, justru lengannya sebelah kanan.
Dengan demikian, maka sentuhan itu langsung mempengaruhi ilmu pedang putut itu.
Namun ternyata bahwa kedua tangan putut itu dapat dipergunakannya dengan tataran yang hampir sama. Karena tangan kanannya terluka, maka pedang di tangan kirinya, hampir tidak berbeda sebagaimana ketrampilan tangan kanannya.
Meskipun demikian, luka itu telah memberikan satu kesan kelebihan ilmu Mahisa Bungalan. Sementara itu, Pangeran Indrasunu perlahan-lahan telah berhasil menyesuaikan dirinya. Meskipun kawannya bertempur dengan tangan kirinya, namun kedua orang yang berhasil saling mengisi itu menjadi berbahaya bagi Mahisa Bungalan.
Semakin lama keduanya menjadi semakin mapan. Pangeran Indrasunu mempergunakan kekuatannya untuk menekan Mahisa Bungalan, sementara lawannya yang memegang pedang di tangan kiri, berusaha mengimbangi kecepatan gerak Mahisa Bungalan. Sehingga demikian, maka Mahisa Bungalan harus mengimbangi keduanya.
Dalam pada itu, pertempuran antara dua gelar itu pun menjadi semakin sengit. Tenaga cadangan pada gelar Sapit Urang itu pun telah mulai bergerak maju.
Di sisi lain pada pasukan pengapit, Pangeran Wirapaksi memimpin langsung beberapa orang pengawalnya. Seorang Pangeran yang kemudian menghadapinya telah mencacinya sebagai penjilat yang tahu diri.
“Kakangmas Wirapaksi tidak pantas disebut dalam deretan para bangsawan di Kediri. Agaknya bagi kakangmas Singasari telah memberikan kesenangan yang melimpah.” berkata Pangeran itu.
Tetapi Pangeran wirapaksi tidak cepat kehilangan kesabarannya meskipun ia sudah betempur. Katanya, “Sebaiknya kalian melihat ke dalam diri kalian sendiri. Apakah yang kalian lakukan ini menguntungkan bagi Kediri atau justru sebaliknya.”
Lawannya tidak menjawab. Tetapi ia bertempur semakin sengit. Namun ternyata bahwa Pangeran Wirapaksi memang mempunyai kelebihan, sehingga Pangeran itu tidak dapat segera mendesaknya. Apalagi seorang putut yang berada di sayap pengapit itu tidak dapat membantunya dan bertempur berpasangan sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Indrasunu, karena demikian putut itu berusaha menempatkan dirinya di samping Pangeran itu, seorang pengawal pilihan Pangeran Wirapaksi telah dengan langsung melawannya.
Dalam pada itu, meskipun jumlah lawan lebih banyak, tetapi seperti di bagian lain dari medan pertempuran itu, maka para pengawal Pangeran Wirapaksi mempunyai beberapa kelebihan, sehingga karena itu, maka jumlah yang banyak itu sulit untuk dapat mendesak.
Secara keseluruhan pertempuran itu menjadi semakin seru. Namun ketika para prajurit Singasari itu sudah mulai basah oleh keringat, maka seolah-olah tandang mereka mulai berubah. Wajah mereka menjadi berkerut, dan tatapan mereka menjadi semakin tajam. Karena itulah maka senjata di tangan mereka itu pun menjadi berbahaya.....
Bersambung...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar