Rabu, 17 Februari 2021

AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 17

17


TEH PANAS YANG MENGGETARKAN


"Tidak masalah. Saya setuju. Besok saya transfer."

"Anda serius Tuan Fahri. Tiga puluh lima ribu poundsterling itu tidak sedikit."

"Saya serius. Yang penting ada semacam jaminan hasil. Bahwa dia bisa juara dunia atau sejenisnya."

"Madam Varenka sudah bertemu Keira dan mengujinya. Dia bilang kepada saya Keira punya bakat dan kecerdasan musik. Dengan latihan intensif yang akan ia siapkan, Keira bisa masuk finalis kompetisi tingkat dunia. Ia tidak bisa menjamin sebagai juara. Sebab menjadi juara selain karena kualitas terkadang juga itu masalah anugerah dari Tuhan, katanya. Madam Varenka hanya bisa menjamin dia 
bisa meraih lima terbaik tingkat Inggris Raya. Jika tidak masuk lima terbaik se inggris Raya, Madam Varenka bersedia mengganti semua ongkos yang telah dikeluarkan."

"Baik. Lima terbaik seInggris Raya. Ya itu minimal. Semoga bisa maksimal, yaitu juara dunia. Atau tiga terbaik dunia. Dan dengan prestasinya itu semoga ia tidak terpikir lagi untuk menjual dirinya, tapi terpikir untuk berprestasi dan bekerja mulia secara profesional."

"Semoga Tuhan menyayangi Anda, Tuan Fahri."

"Semoga menyayangi Anda juga, Nyonya Suzan."

"Saya sudah mempertemukan Keira dengan ibunya, dan mulai besok Keira akan kembali kerumahnya. 
Untuk mendapatkan beasiswa ini, saya mesyaratkan Keira dan ibunya harus berbaikan kembali."

"Saya serahkan kepadamu untuk mengolahnya Nyonya Suzan. Saya percaya Anda karena Anda taat beragama."

"Terima kasih, Tuan Fahri, atas kepercayaannya.".

Fahri menghela nafas. Ia menyandarkan tubuh dan kepalanya ke sofa. Dialognya dengan Nyonya Suzan itu masih berputar di kepalanya. Ya, tiga puluh lima ribu poundsterling itu tidak sedikit. Dan ia telah menyanggupinya. Keira bukan siapa-siapanya. 

Tak ada yang ia harapkan dari gadis tetangganya itu. Ia juga tidak ada rasa jatuh cinta sama sekali kepadanya. Kalau pun ia jatuh cinta, belum tentu gadis itu cocok untuknya, dan juga belum tentu gadis itu jatuh cinta padanya. Lalu untuk apa ia harus keluarkan uang sebanyak itu?

Bukankah untuk membantu mahasiswa-mahasiswa Indonesia di UK yang sebagian masih macet beasiswanya akan lebih baik? 

Atau dana sebesar itu dikirim kepelosok desa di Indonesia bisa untuk membuat satu masjid? Atau ia kirim ke panti asuhan, sudah bisa memberi makan ratusan anak yatim? 

Atau ia kirimkan ke Gaza untuk menolong bayi-bayi Palestina yang kekurangan obat-obatan dan susu, ia akan lebih jelas kebajikannya?

Ia teringat coretan-coretan Keira di kaca mobilnya. Kata-katanya begitu menusuk hatinya. Tetapi ia ingin membuktikan bahwa coretan-coretan Keira itu tidak benar. Bisa jadi untuk membuktikan itu biayanya sangat mahal. 

Tetapi keikhlasan dan harga diri sebagai muslim jauh lebih mahal dari tiga puluh lima ribu poundsterling. Ia tidak mengharap apa-apa dari apa yang ia keluarkan. Ia tidak 
mengharap pujian.Ia tidak mengharap Keira dan keluarganya kemudian simpati dan suka padanya. 

Bukan hal yang remeh temeh seperti itu yang ia harapkan, Ia hanya mengharapkan bahwa Allah kelak tersenyum padanya. ltu saja. Dan semoga jika ijtihadnya ini salah, Allah mengampuninya.

"Tuan!"

Fahri tergagap, ia terhenyak dari lamunannya. Ia duduk tegap dan langsung melihat ke asal suara serak itu. Sabina berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.

"Ada apa, Sabina?"

"Maaf, apa Tuan mau saya buatkan minum?"

"Biar Paman Hulusi saja yang membuatkan.".

"Tampaknya Paman Hulusi kelelahan, sekilas saya lihat dia sudah tertidur di kamarnya."

Fahri melihat ke arah kamar Pama Hulusi yang terbuka. Dan benar, Paman Hulusi sudah tertidur dan mendengkur. Orang tua itu cepat sekali tidurnya.

"Hmm.. boleh buatkan minum, kalau tidak merepotkanmu."

"Baik Tuan. Mau teh, kopi,atau yang lainnya?"

"Terserah, yang penting panas dan segar. Oh ya sedikit manis, gulanya satu sendok setengah."

"Baik Tuan."

Fahri kembali merebahkan punggung dan kepalanya ke sofa. Mulutnya berkomat-kamit melantunkan dzikir senja. Subhanallah wa bihamdihi 'adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata 'arsyihi wa midada kalimatihi. 
Di dapur, Sabina sibuk menyiapkan minuman. Terdengar suara sendok beradu dengan gelas 
karena mengaduk minuman. Sejurus kemudian Sabina telah datang membawa nampan berisi segelas teh dan sepiring kecil kue cake cokelat.

"Silakan Tuan." Serak Sabina sembari meletakkan isi nampan diatas meja di depan Fahri.

"Terima kasih, Sabina." Lirih Fahri tanpa melihat wajah Sabina. Perempuan bermuka buruk itu lalu bergegas pelan meninggalkan Fahri.

Fahri menegakkan punggungnya dan meraih gelas berisi teh itu. Ia menyerup tehnya. Ia sedikit kaget. 

Teh itu terasa nikmat. Rasa teh itu begitu berbeda. Beberapa tahun yang lalu ia pernah merasakan jenis teh seperti itu. Hatinya bergetar.

"Sabina, sebentar!"

"Iya Tuan."

"lni teh apa? Dari mana kau dapatkan?"

"ltu teh Turki yang ada di dapur Tuan. Paman Hulusi yang beli."

"Rasanya berbeda dari biasanya. Ini bukan teh Turki biasanya itu?"

"Maaf Tuan, itu teh Turki biasanya itu, lalu saya tambahi madu dan jeruk nipis. Keluarga kami biasa membuat seperti itu. Diminum dalam kondisi hangat dan panas bisa lebih menyegarkan. Apa rasanya tidak cocok Tuan? Mohon maaf kalau saya lancang membuatkan teh seperti itu."

"Ah tidak Sabina, tidak masalah. lni enak. Saya suka. Oh ya, mana nenek Catarina?"

"Dia tidur di dalam kamarnya Tuan."

"Sudah minum obat dia?"

"Sudah Tuan."

"Kasihan nenek itu, tolong rawat dia dengan baik Sabina."

"Baik Tuan. Ada lagi yang bisa saya bantu Tuan?"

"Sudah, terima kasih Sabina."

Sabina melangkah ke tangga dan turun ke kamarnya yang ada di lantai paling dasar. Fahri menyeruput kembali teh itu. Setiap kali teh itu menyentuh bibirnya, lidahnya, tenggorokannya dan menghangatkan dadanya, la merasakan getaran hangat. Entah kenapa ia merasakan kehangatan seperti yang beberapa tahun lalu ia rasakan. Kehangatan ketika dibuatkan teh yang mirip seperti itu oleh Aisha, istrinya 
tercinta. Ia kembali menyeruput teh itu, dan kali ini dengan kedua mata berkaca-kaca.

"Jika Aisha masih hidup, apakah ia juga sedang menyeruput teh senikmat ini? Ya Allah, jagalah isteriku itu jika ia masih hidup, dan rizkikan kepada kami bisa bertemu kembali. Jika Aisha sudah mati, ya Allah berilah dia minuman di kuburnya yang lebih nikmat dari teh ini. Allahummagh fir laha warhamha 
warhamha warhamha ya Allah."

Selesai shalat maghrib berjamaah dengan Paman Hulusi, Fahri naik ke atas. Ia langsung duduk di depan meja kerjanya disamping jendela kamarnya. Ia menyalakan laptopnya dan membuka email. Ia teringat Ju Se tadi menelpon dirinya, bahwa ia telah mengirimkan paper ilmiah yang akan dikirim ke JAIS atau 
Journal of Arabic and Islamic Studies yang diterbitkan secara online oleh Lancaster University dan University of Oslo. Itu adalah salah satu jurnal akademik dengan reputasi internasional yang diakui.

Ju Se minta agar Fahri berkenan memberikan masukan atas paper ilmiahnya tersebut. Ju Se juga mengatakan jika berkenan Ju Se akan memasang nama Fahri juga sebagai penulis bersamanya. 

Fahri menjawab ia akan membacanya. Fahri juga mengerti maksud Ju Se dengan memasang dirinya sebagai penulis paper itu bersama Ju Se. Itu maksudnya agar Fahri berkenan mengedit, memperbaiki dan 
memberikan masukan. Sebab Ju Se yakin Fahri tidak akan membiarkan sebuah tulisan yang tidak berkualitas dikirim ke jurnal internasional atas nama dirinya. Usaha Ju Se itu sangat brilian. 

Dan itu adalah hal yang biasa, seorang mahasiswa peneliti menulis di jurnal internasional berkolaborasi dengan pembimbing penelitiannya. 

Fahri dulu juga pernah melakukan hal yang sama ketika menjadi mahasiswa Ph.D di Uni-Freiburgh, Jerman.
Fahri membaca dengan saksama paper yang ditulis mahasiswi China itu. Ia membaca dengan cepat untuk menilai kualitas tulisan itu. Tampak Ju Se telah berusaha semaksimal yang ia mampu untuk membuat paper itu. 

Setelah Fahri merasa tulisan itu cukup berkualitas untuk diterbitkan di jurnal 
internasional, maka Fahri membaca sekali lagi dengan detil. Fahri langsung mengedit, menambah dan mempertajam analisis dan kesimpulan paper itu. Setelah selesai, Fahri membaca kali ketika dan masih melakukan editing berupa penghalusan bahasa dibeberapa tempat. 

Setelah Fahri yakin dengan kualitas 
isi dan performance paper itu, ia mengirim hasil suntingannya itu ke Ju Se dan minta kepada Ju Se agarmemperhatikan perubahan-perubahan yang telah ia lakukan. Fahri juga menyampaikan kepada Ju Se bahwa biar dia saja yang mengirim ke redaktur JAIS.

Rupanya Ju Se sedang online. Ju Se langsung membalas email Fahri dengan ucapan jutaan terima kasih tiada tara. Fahri membalas dengan mengapresiasi usaha Ju Se mengirim paper ke jurnal internasional, tetapi Fahri mengingatkan bahwa Ju Se harus segera menyelesaikan tesisnya.

Fahri mendengar bunyi mobil berhenti dihalamannya. Fahri melongok ke jendela. Ada dua mobil sedang berhenti. Salah satunya, ia hafal mobil itu. Itu adalah mobil sedan Peugeot putih milik Nyonya Suzan dan didepannya yang berhenti di depan rumah Keira adalah mobil taksi besar. Nyonya Suzan keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah rumah Keira. Dari taksi besar itu tampak Keira turun bersama seorang 
perempuan berambut pirang setengah baya. Keira menenteng Biola, demikian juga perempuan berambut pirang itu. Jason dan Nyonya Janet keluar dari rumah menyambut Keira.

Keira tambah menghambur memeluk Nyonya Janet, ibunya. Keduanya berpelukan agak lama. Tampaknya sang ibu menangis, demikian juga Keira. Nyonya Janet berulang kali minta maaf kepada Keira, namun Keira bilang ibunya tidak harus minta maaf kepadanya sebab ia juga merasa bersalah. 

Jason menyaksikan adegan itu dengan hati luluh, ia berdehem mengingatkan agar segera masuk ke dalam rumah. Keira melepas pelukannya dan buru-buru memperkenalkan Nyonya Suzan kepada ibunya dan Jason, juga memperkenalkan perempuan berambut pirang setengah baya itu.

"Mama, ini Madam Varenka yang akan melatih Keira secara intensif. Madam Varenka ini pernah mengajar di The Juilliard School, sekolah musik paling hebat di Amerika." Terang Keira dengan sangat antusias dan bangga.

Nyonya Janet menyalami Madam Varenka dengan penuh hormat, lalu menyuruh semuanya masuk ke dalam rumah. 

"Kita lanjutkan bincang-bincangnya didalam sambil minum teh. Lebih nyaman." Fahri melihat adegan itu dari jendela kamarnya. 

Fahri merasa bahagia melihat ibu dan anaknya itu kembali bersatu dan damai. Ada kebahagiaan yang susah diucapkan dengan kata-kata yang menyusup begitu saja ke dalam lubuk hatinya, setiap kali ia melihat orang lain bahagia atau bisa membantu orang 
lain bahagia.

Jika Baginda Nabi menjelaskan bahwa 'memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang mukmin adalah sedekah,' maka ia berharap memasukkan kebahagiaan ke dalam hati semua anak manusia juga sedekah. 

Bukankah memasukkan kebahagiaan dalam diri seekor anjing saja bisa menurunkan ampunan dari Allah?
Fahri melihat jam dinding. Sudah masuk waktu Isya‘, ia hendak beranjak dari tempat duduknya, namun urung. Sebuah taksi besar datang dan berhenti dibelakang mobil Nyonya Suzan. 

Tampak Misbah keluar dari taksi dan mengeluarkan dua koper besar. Dan beberapa kardus. Fahri turun ke bawah dan mengajak Paman Hulusi membantu Misbah membawa masuk mobilnya.

"Maaf Mas, uangku habis. Boleh pinjam untuk bayar taksi?"

"Nggak usah pinjam Bah, biar aku bayar."

"Matur nuwun Mas."

Fahri mengeluarkan tiga puluh poundsterling dan memberikan kepada sopir.

"Ambil saja kembaliannya." Kata Fahri kepada sopir taksi. Pria bule gempal pendek dan botak itu mengucapkan terima kasih dengan senyum lebar.

Paman Hulusi meletakkan koper dan barang-barang Misbah dikamarnya.

"Kenapa tidak diletakkan dikamar saya Paman?" Heran Misbah.

"Sementara kamarmu dipakai Nenek Catarina." Sahut Fahri.

"Nenek Catarina tinggal disini? Bagaimana ceritanya?"

"Nanti biar Paman Hulusi yang cerita. Ayo duduk dulu Bah, kau pasti letih. Paman tolong buatkan teh !"

"Baik Hoca."

"Maaf Paman, biar saya saja yang membuatkan." Terdengar suara serak menyahut.

Misbah agak kaget. Ia langsung menengok ke asal suara.

"Dia juga tinggal di sini? Siapa dia?"

"Namanya Sabina. Nanti biar Paman Hulusi juga yang cerita. Kau rehat dulu."

Tiba-tiba Nenek Catarina keluar dari kamar Misbah, ia membuka pintu pelan-pelan dan melangkah dengan tertatih memakai krek. Fahri langsung menghambur memegangi dan membantu Nenek Catarina.

"Nenek jangan banyak gerak dulu. Pesan dokter Nenek harus hati-hati berjalan, jangan sampai jatuh. 
Jika jatuh dengan posisi yang salah itu retak tulang bisa jadi patah. Kalau ada apa-apa nenek panggil kami saja."

"Aku bosan di kamar terus, Fahri. Eh ini siapa yang baru datang temanmu yang satu itu ya? Dari mana saja?"

"Saya baru datang dari Bangor, nenek Catarina."

"Namamu siapa?"

"Misbah."

"Mari silakan minum." Sabina meletakkan nampan berisi tiga gelas teh dan sepiring cake cokelat.

"Untuk saya mana, Sabina?" Gumam nenek Catarina.

"Oh ya sebentar, Nek."

Fahri menolong nenek Catarina duduk. Misbah sudah menyeruput tehnya. Paman Hulusi mencomot sepotong cake dan memamahnya dengan lahap.

"Kapan kita makan malam? Saya sudah lapar."

"Sebentar Nek. Tadi Paman Hulusi beli pizza. Mungkin sudah agak dingin, biar dipanaskan di oven dulu."

"Sepertinya saya agak kurang berselera makan pizza. Saya ingin jenis sup. Saya seperti ingin melahap paysanne soup."

"Nenek makanlah yang ada!" Sahut Paman Hulusi agak keras.

"Paman." Fahri mengingatkan agar Paman Hulusi memperhalus cara bicaranya.

"Saya tidak maksa, saya hanya menyampaikan kurang selera makan pizza. Kalau saja saya masih menempati rumah sendiri, saya bisa masak sendiri menu yang saya inginkan." Seloroh nenek Catarina. 

Paman Hulusi tampak semakin kurang suka dengan nenek Catarina.

"Nenek, bahan untuk membuat paysanne soup sedang tidak ada, tapi untuk membuat tomato soup ada. Apa mau saya buatkan? Ini minumnya Nek." kata Sabina.

"Boleh, tomato soup juga boleh. Saya ingin yang segar-segar."

"Tunggu ya Nek, saya buatkan."

Tiba-tiba bel berdentang. Misbah yang berada paling dekat dengan pintu beranjak membuka pintu.

"Hai, eh Fahri mana?"

Brenda tampak begitu anggun malam itu. Ia memakai gaun malam merah. Parfumnya yang wangi seketika menyeruak ke seluruh ruangan itu. Fahri mendekat.. 

"Hei ada apa Brenda?"

"Kau lupa ya? Ini waktunya kita ke Royal Pub & Cafe."

"Kau serius?"

"Serius."

"Tapi kau belum jawab pertanyaan terakhirku."

"Pertanyaan apa?"

"Ah kau belum baca. Coba kau lihat sms terakhirku?"

Brenda membuka ponselnya dan membaca.

"O my God. benar aku belum baca. Bagaimana bisa terjadi ini"

"Karena kau tidak jawab, ya aku pikir kau tidak setuju. Jadi aku pikir sama sekali tidak jadi ke Royal Pub & Cafe."

"Okay aku setuju. Kau dan seluruh orang dirumah ini boleh ikut serta, dan nanti menunya saya pesankan yang vegetarian. Kalau begitu bersiaplah."

"Jadi tetap malam ini kita kesana?"

"Mau kapan lagi? Aku sudah siap ini, lihat!"

"Baik.".

"Nanti pakai mobilmu ya?"

"Boleh."

Fahri lalu meminta Misbah dan Paman Hulusi bersiap. Fahri menawari Nenek Catarina kalau mau ikut pergi keluar ditraktir oleh Brenda.

"Kamu ini bagaimana, katanya saya harus hati-hati bergerak. Tidak, saya tidak ikut, saya di rumah saja." Jawab nenek Catarina.

Sabina tampak sedang menyalakan kompor untuk membuat tomato soup.

"Sabina!"

"Iya Nek."

"Kau ikut saja dengan mereka. Biar kau merasakan juga makan malam di Royal Cafe."

"Tapi soupnya?"

"Tidak perlu. Biar aku makan pizza saja."

"Tapi ..."

"Kau ajak dia juga kan Fahri?"

Fahri memandang Sabina sekilas. 

"Eh iya, jika Sabina mau?"

"Kau harus ikut Sabina! Sana cepat ganti pakaian!" Hardik nenek Catarina.


                                *****


"Kenapa Paman cemberut terus begitu?"

"Aku sebel, Hoca!"

"Sebel apa?"

"Nenek Yahudi itu."

" Nenek Catarina?"

"Iya siapa lagi?"

"Kenapa dengan nenek Catarina?"

"Kenapa jadi dia yang ngatur-ngatur? Bukan dia yang punya rumah, seenaknya saja ngatur-ngatur! Makan dikasih pizza tidak mau, maunya soup! Lagi dia ngatur-ngatur supaya Sabina ikut! Memangnya siapa dia? Dasar Yahudi!"

"Hei, jangan berkata begitu Paman. Itu bukan karena Yahudinya. Orang kalau sudah tua, sudah nenek-nenek memang suka begitu. Orang itu kalau sudah tua dan semakin tua terkadang kembali seperti anak kecil lagi. Sering manja, sering merajuk, sering mengatur seenaknya. Ya kayak anak kecil. Jangan 
dimasukkan dalam hati.".

Paman Hulusi mengangguk, ia memacu mobil SUV BMW itu dengan kecepatan tinggi menuju Edinburgh.Ia dan Fahri berbincang dengan bahasa Turki.

"Hei kalian bicara pakai bahasa apa? Saya tidak paham, pakai bahasa Inggris please!"
Gerutu Brenda yang duduk dibagian belakang bersama Sabina dan Misbah.

"Iya, sorry Brenda. Kau bisa berbicang-bincang dengan Misbah atau Sabina kalau kami pas lagi berdialog dengan bahasa Turki. Maafkan atas ketidaknyamanan ini."

Mobil terus melaju di jalur A1 memasuki pusat kota Edinburgh. Beberapa menit kemudian mobil SUV mewah itu sudah meluncur diatas aspal Princess Street.

"Belok kanan menuju West Register Street, Paman." Sabina memberi aba-aba.

"Terlambat memberi tahu, seharusnya belokan tadi kekanan."

"Maaf Paman."

Paman Hulusi lalu belok kanan menyusuri St.David Street, lalu belok kanan dan akhirnya sampai di West Register Street..

"Bangunan depan itu paman, nomor 21, ada tulisannya Royal Pub & Cafe."

"Baik, Brenda, aku sudah lihat."

Cafe itu menempati bangunan klasik gaya Victorian nan gagah. Brenda memimpin rombongan memasuki cafe itu. Fahri dan Paman Hulusi tampak tidak canggung sedikit pun. Misbah tampak sedikit canggung. 

Sementara Sabina terus menunduk. Satu-satunya meja dengan lima tempat duduk yang kosong ada di dekat kasir. Tak jauh dari meja itu tampak empat orang pria berambut pirang bertubuh kekar sedang minum wisky dan tertawa terbahak-bahak. Fahri mengamati mereka sekilas. Ia kaget. Salah satu dari pria itu adalah Baruch, anak Nenek Catarina. Dalam hati Fahri bersyukur nenek Catarina tidak ikut, jika ikut ia tidak tahu apa yang akan terjadi. 

Brenda duduk diikuti Fahri dan yang lain. Fahri kembali melirik ke arah Baruch, pada saat yang sama Baruch sedang melihat ke arah Fahri. Pandangan keduanya bertemu. Fahri seperti melihat mata srigala. Jantungnya berdesir dan tidak nyaman. Fahri menarik pandangannya.

Tiba-tiba terdengar suara tawa terkekeh-kekeh dari empat lelaki itu.

"Mereka itu katanya pintar-pintar. Katanya nabi mereka bilang, orang beriman itu tidak akan masuk dalam lubang dua kali. Katanya begitu, tapi lihat, mereka masuk ke dalam lubang yang sama berkali-kali. Bahkan mungkin setiap hari mereka jalan dan masuk di lubang yang sama. Keledai saja tidak akan setragis dan sebodoh itu. Tapi itu nyata terjadi pada mereka. Wajar kan kalau kita katakan mereka lebih bodoh dari keledai. Memang derajat mereka tidak lebih mulia dari keledai. Jadi dengan kebodohan seperti itu mereka mau mengalahkan kita? Ha ha ha, tidak mungkin itu terjadi. Dan tugas 
kita adalah membuat mereka terus bodoh!" Ucap salah seorang dari mereka.

"Awas Samuel ini wartawan, dia koresponden koran Arab. Hati-hati Benyamin perkataanmu nanti ditulis sama dia!" Sahut Baruch.

"Tidak usah khawatir. Tulis saja semua yang kau dengar Samuel. Tulis saja di koran-koran Arab dan koran-koran dunia lslam semuanya. Aku tidak pernah khawatir sedikit pun. Sama sekali tidak khawatir!" Sahut pria satunya.

"Apa maksudmu tidak khawatir?!" Tanya Baruch.

"Apa yang dikhawatirkan? Semua rahasia kita ditulis dikoran-koran Arab tidak masalah, tidak ada yang perlu kita takutkan. Sebab mereka tetaplah lebih bodoh dari keledai. Pertama, kalau pun ditulis di koran-koran mereka, maka mereka tidak akan membacanya. Mereka malas baca."

"Kedua, kalaupun membaca, mereka lebih bodoh dari keledai, mereka tidak akan paham isinya. Sebab yang ada dibenak mereka saat ini adalah bagaimana mereka tetap bisa kenyang perutnya. Itu saja. 
Tidak ada lagi pikiran tentang memerdekakan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia, seperti dihayati para pendahulu mereka." 

"Ketiga, kalaupun mereka membaca dan paham isinya, maka tenang saja, kepintaran dan kepahaman mereka itu justru akan membuat mereka saling adu mulut dan 
tengkar tiada habis-habisnya. Lihat itu, ulama-ulama mereka saling serang dengan dalil-dalil agama. 
Ulama satu menjatuhkan ulama yang lain dan meminta pengikutnya agar tidak mendengar kata-kata ulama lain selain dirinya. Begitu pula sebaliknya. Mufti satu negara mencaci mufti lainnya. Kalau pun ada yang benar-benar paham dan sadar, maka tenanglah kalian akan ada intelektual dari kalangan mereka yang membela kita habis-habisan, sebab mereka telah kita suapi susu, keju, roti hingga 
kenyang. Ada budi kita dalam darah dan daging mereka maka mereka akan membela kita mati-matian dengan pelbagai cara! Begitu, jelas!"

"Kau bener Benyamin. Ya seperti itulah mereka! Keledai-keledai bodoh yang hanya menyesaki isi dunia saja ha ha ha..." Baruch terbahak-bahak diikuti keempat temannya.

"Aku tidak akan menuliskannya, sudah banyak yang menuliskannya di koran-koran mereka tapi mereka memang seperti kata kitab suci mereka sendiri yaitu summun bukmun, umyun !" Sahut Samuel, si wartawan.

"Ayo minum lagi Barukh ata Adonai Eloheinu melekh ha-olam...!‘ (Doa kaum Yahudi artinya 'Terpujilah engkau, tuhan elohim, tuhan kita, raja semesta...) " 

Gumam Benyamin Fahri menyeruput teh panas yang telah dihidangkan dihadapannya. Semua pembicaraan Baruch dan teman temannya itu telah ia dengar dengan seksama, dan ia tahu persis maksudnya. Dadanya mendidih. Keledai bodoh itu seperti ditudingkan pada dirinya. Ia menyeruput teh itu dengan dada gemuruh menahan emosi. Namun air matanya juga meleleh. la sangat sedih. Sebab sebagian yang dikatakan orang-orang itu ada benarnya.

“Rabbana wa la tuhammilnaa man laa thooqatha lana bih, wa'fu anna waghfir lana warhamna Anta maulaana fansurna 'alal qaumil kaafiriin.” (Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya, maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. 
Engkaulah pelindung kami maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.(QS. Al Baqarah: 286).

Hanya itu yang bisa ia ucapkan dalam hati dengan hati perih.



                           *****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...