PANASNYA BUNGA MEKAR : 24-01
Keributan ternyata telah didengar oleh Mahisa Pukat dan Mahisa Murti. Karena itu, maka mereka pun telah mengintip dari balik seketheng.
Bahkan Ken Padmi pun telah mendengarnya pula. Perlahan-lahan ia beringsut mendekat sambil bertanya, “Apa yang terjadi?”
“Ayah akan berkelahi. Meskipun ayah sudah semakin tua, tetapi ia masih saja berkelahi.” desis Mahisa Murti.
“Ia membela diri.” sahut Mahisa Pukat, “Apakah orang-orang tua harus membiarkan dirinya dipukuli?”
“Tentu tidak.” jawab Mahisa Murti, “Nampaknya ayah pun tidak mau dipukuli. Baginya lebih baik pukul-pukulan dari pada dipukuli saja.”
“Ssst!” Ken Padmi berdesis. Namun agaknya gadis itu dapat menerka apa yang telah terjadi. Ketika sekali ia mendengar namanya disebut oleh Pangeran muda yang masih saja membentak-bentak itu, maka tahulah Ken Padmi, apa yang telah terjadi.
Dalam pada itu, ternyata Pangeran Indrasunu itu pun masih membentak orang bertubuh raksasa itu, “Hancurkan orang itu. Ia lebih sayang kepada Ken Padmi itu daripada nyawanya sendiri.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mulai menduga-duga, apakah sebenarnya yang telah terjadi. Namun mereka sama sekali tidak menyebut apa pun juga selain memperhatikan keadaan itu dengan seksama.
“Jika ada orang lain yang melibatkan diri, aku pun akan turun.” desis Mahisa Pukat.
“Tentu,” sahut Mahisa Murti, “tetapi biarlah kita tunggu apa yang terjadi.”
Ken Padmi sendiri tidak mengatakan sesuatu. Namun debar jantungnya serasa menjadi semakin cepat. Tiba-tiba saja ia pun teringat apa yang telah terjadi di padepokannya sejak ia meningkat dewasa. Dan ia pun mulai menilai kepergiannya dari padepokan kecilnya. Ia meninggalkan padepokannya untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang buruk yang dapat terjadi atas dirinya. Tiba-tiba di tempat ini pun telah terjadi pula hal yang serupa.
Bahkan ia bertanya di dalam hati, “Apakah ayah Mahisa Bungalan itu akan mampu bertahan? Ia sudah melihat kemampuan Mahisa Bungalan sendiri, Mahisa Agni dan Witantra. Tetapi bagaimana dengan Mahendra?”
Sejenak kemudian ia melihat, Mahendra mulai bergeser menghindar ketika lawannya yang bertubuh raksasa itu menyerang. Namun lawannya itu pun telah memburunya, sehingga Mahendra harus berkisar sekali lagi.
Rasa-rasanya Ken Padmi ingin meloncat turun ke halaman. Namun karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berada di balik seketheng, maka ia pun masih tetap berdiri termangu-mangu.
Dalam pada itu, di halaman telah terjadi pertempuran antara Mahendra melawan orang bertubuh raksasa itu. Atas perintah Pangeran Indrasunu, seseorang telah menutup pintu regol agar tidak seorang pun dapat masuk.
Orang bertubuh raksasa itu pun kemudian menyerang Mahendra semakin cepat. Terasa betapa kekuatannya menghentak-hentak pada ayunan tangan dan kakinya.
Mahendra ternyata masih saja selalu menghindar. Ia berloncatan mengimbangi kecepatan gerak lawannya. Dengan demikian serangan-serangan beruntun dari orang bertubuh raksasa itu sama sekali tidak mengenainya.
Orang bertubuh raksasa itu bukan orang yang kasar. Sebenarnya ia masih mempunyai beberapa pertimbangan untuk dengan langsung menghukum lawannya yang menurut pendapatnya memang tidak bersalah. Namun setelah serangannya beberapa kali gagal, maka di luar sadarnya, ia pun bergerak semakin cepat pula.
Tetapi orang bertubuh raksasa itu masih belum mempergunakan kekuatan sepenuh tenaganya. Ia masih ingin mengenai lawannya untuk sekedar menjajagi daya tahannya. Namun ternyata bahwa Mahendra tidak dapat dikenainya.
Orang bertubuh raksasa itu mulai menilai lawannya. Apalagi ketika beberapa lama mereka berkelahi, ia masih belum berhasil menyentuh lawannya, maka Pangeran Indrasunu mulai berteriak membentak-bentak.
“Apakah kau tidak mampu melakukannya, he?” teriak Pangeran yang masih muda itu.
Orang bertubuh raksasa itu mulai gelisah. Sementara Mahendra pun ternyata dapat mengerti, bahwa orang bertubuh raksasa itu bukan orang yang kasar sebagaimana nampak pada tubuhnya.
Namun karena bentakan-bentakan Pangeran Indrasunu sajalah maka orang bertubuh raksasa itu menjadi semakin garang. Ia mulai mengerahkan kemampuannya. Dengan demikian maka geraknya pun menjadi semakin cepat, dan sambaran angin pada ayunan tangannya pun menjadi semakin deras.
Karena dengan demikian, maka Mahendra masih belum juga dapat disentuhnya, maka orang bertubuh raksasa itu akhirnya sampai juga ke puncak ilmunya.
“Bukan niatku mencelakaimu, apalagi membunuhmu, Ki Sanak. Tetapi aku menjalankan perintah Pangeran Indrasunu.” desis orang itu.
“Aku mengerti.” jawab Mahendra, “Meskipun demikian, adalah kewajibanku untuk mempertahankan diriku.”
Orang bertubuh raksasa itu tidak ingin mendapat penilaian yang buruk dari Pangeran Indrasunu. Karena itu, maka dengan segenap kemampuannya ia pun menyerang Mahendra semakin lama semakin cepat. Akhirnya, orang bertubuh raksasa yang telah sampai ke puncak kemampuannya itu, bertempur bagaikan badai.
Itulah yang ditunggu oleh Mahendra. Dengan demikian ia dapat menentukan takaran perlawanannya, karena sebenarnyalah kemampuan orang bertubuh raksasa itu, bukannya imbangan ilmunya. Dengan demikian, sebelum ia mendapat gambaran tingkat kemampuan lawannya, Mahendra masih mencari-cari agar ia tidak dengan serta merta mecelakai orang itu. Apalagi sebenarnyalah orang bertubuh raksasa itu menurut penilaiannya bukannya seorang yang jahat. Yang dilakukannya itu adalah sekedar menjalankan perintah semata-mata.
Namun sementara itu, orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu pun menjadi berdebar-debar. Mereka melihat bahwa orang bertubuh raksasa itu telah sampai ke puncak ilmunya. Pangeran Indrasunu pun mengerti, bahwa orang bertubuh raksasa itu telah mengerahkan segenap kemampuannya.
Karena itu, maka menurut penilaiannya, sebentar lagi maka Mahendra pun akan segera jatuh terkapar di tanah.
Berdasar atas perhitungan itu, maka tiba-tiba saja Pangeran Indrasunu itu telah menjatuhkan perintah kepada pengawalnya yang lain, “Cari gadis itu, dan bawa ia kemari.”
Dua orang pengawal pun segera meninggalkan halaman naik ke pendapa. Mereka langsung memasuki ruang dalam untuk mencari Ken Padmi yang mereka sangka ada di dalam rumah itu.
Ken Padmi melihat kedua orang yang naik ke pendapa itu dari balik pintu seketheng. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun melihat pula. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun berkata, “Biarlah mereka mencarimu kemari. Kami berdua akan menyongsong mereka untuk mengucapkan selamat datang.”
Ken Padmi termangu-mangu. Tetapi karena ia tidak siap dalam pakaian tempurnya, maka ia pun tidak menjawab.
Sebenarnyalah kedua orang pengawal itu telah memasuki rumah Mahendra sampai ke longkangan dan kemudian ke bagian belakang rumah yang cukup besar itu. Mereka memasuki dapur dan ruangan-ruangan yang lain.
Beberapa orang yang berada di rumah itu menjadi gelisah. Namun seorang pelayan laki-laki kemudian berdesis di antara kawan-kawannya di belakang dapur, “Ki Mahendra sedang bertempur di halaman.”
Dua orang itu menjelajahi setiap bilik yang ada. Akhirnya mereka turun ke longkangan gandok.
Langkah mereka tertegun ketika mereka melihat tiga orang anak-anak muda berada di belakang pintu seketheng. Seorang di antara mereka adalah Ken Padmi.
“Jangan bersembunyi!” geram salah seorang dari kedua pengawal itu.
Namun jawab Mahisa Murti telah mengejutkan kedua pengawal itu. Katanya, “Kami sedang mengintip permainan yang asyik di halaman. He, apakah kau juga ingin bermain-main seperti itu? Nampaknya kau dapat menjadi kawan bermain yang baik.”
Kedua pengawal itu menegang. Mereka justru berhenti beberapa langkah dari ketiga anak-anak muda itu.
Dalam pada itu, justru Mahisa Murti lah yang melangkah mendekat sambil bertanya, “Siapa yang kalian cari?”
“Aku akan mengambil gadis itu. Pangeran Indrasunu menghendakinya.” sahut salah seorang pengawal itu.
Mahisa Murti tertawa pendek. Katanya, “Jangan ganggu kakakku. Ia belum lama berada di rumah ini.”
“Minggir anak bengal!” bentak pengawal yang lain, “Aku akan menjalankan tugasku.”
“Jangan tergesa-gesa,” jawab Mahisa Murti, “kalian harus mendengarkan keteranganku. Gadis itu adalah kakakku. Aku berdua tentu bertanggung jawab atasnya. Karena itu, jangan kau lakukan perintah Pangeran Indrasunu itu. Kembalilah, dan katakan bahwa Ken Padmi tidak mau keluar dari persembunyiannya.”
“Anak iblis!” bentak pengawal itu, “Aku tidak punya waktu untuk menyaksikan kau melucu seperti itu.”
“Aku tidak melucu. Sama sekali tidak. Aku berkata sebenarnya. Karena itu, pergilah. Jangan menunggu aku mengusirmu dengan kekerasan.”
Wajah kedua pengawal itu menjadi merah membara. Karena itu salah seorang di antara keduanya maju sambil membentak, “Cukup. Aku hanya memerlukan Ken Padmi yang dikehendaki oleh Pangeran Indrasunu.”
“He, mudah sekali menurut dugaanmu. Dikehendaki oleh siapa pun, tetapi kalau orang yang berkepentingan tidak mau, kau tidak dapat memaksa.” bentak Mahisa Pukat yang tidak sabar.
Kedua pengawal itu pun menjadi, semakin marah. Yang seorang membentak pula, “Belum tentu kalau gadis itu tidak mau. Yang kami perlukan bukan kau.”
“Jika ia mau, ia tidak akan bersembunyi.” sahut Mahisa Pukat, “Ia tentu sudah berlari turun ke halaman dan memeluk kaki Pangeran itu. Tetapi ia tidak berbuat demikian.”
“Persetan!” kedua pengawal itu sudah kehabisan kesabaran. Selangkah mereka maju sambil bersiap menghadapi segala kemungkinan, sementara salah seorang dari keduanya berkata, “Marilah Ken Padmi, jangan kau korbankan orang-orang di sekitarmu. Jika kau mendengar perintah Pangeran Indrasunu, maka saudara-saudaramu akan selamat semuanya.”
Ken Padmi memandang kedua pengawal itu. Ia pun sebenarnya ingin menyelesaikan persoalan itu langsung dengan kedua pengawal itu. Namun agaknya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun sudah siap pula.
“Keduanya adalah adik Mahisa Bungalan,” berkata Ken Padmi di dalam hatinya, “tentu keduanya pun memiliki ilmu yang cukup. Bahkan mungkin jauh lebih baik dari aku sendiri.”
Karena itu, maka Ken Padmi pun tidak beringsut dari tempatnya. Dibiarkannya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyelesaikannya.
Sebenarnyalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, maka keduanya pun melangkah mendekat. Sementara Mahisa Pukat akhirnya kehilangan kesabaran dan berkata, “Sebaiknya kalian kembali kepada Pangeran itu. Katakan, Ken Padmi tidak mau datang kepadanya.”
“Persetan!” geram salah seorang pengawal, “Tutup mulutmu atau aku robek sampai ke telinga.”
“Jangan hanya berbicara saja. Lakukan jika kalian mampu!” geram Mahisa Murti.
Ternyata pengawal yang seorang itu pun tidak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menerkam dengan garangnya.
Tetapi Mahisa Murti sempat mengelak. Bahkan ketika pengawal itu menggenggam senjata di tangan, Mahisa Murti pun telah menarik pisau belati panjangnya.
Dalam pada itu Mahisa Pukat pun telah bersiap pula. Seperti Mahisa Murti ia memegang sebuah belati panjang. Sementara itu lawannya mempergunakan sebilah pedang.
Namun demikian, ketika mereka kemudian terlibat dalam pertempuran, pisau belati panjang di tangan kedua anak muda itu mampu mengimbangi pedang yang lebih besar dan lebih panjang.
Demikianlah maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah bertempur pula. Agaknya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sengaja ingin bertempur terpisah, sehingga keduanya pun telah bergeser saling menjauhi.
Dalam pada itu, agaknya Mahendra dapat mengetahui apa yang terjadi. Sambil bertempur ia dapat mendengar meskipun tidak jelas, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah terlibat dalam perselisihan dengan pengawal Pangeran itu. Dan Mahendra pun sudah dapat menerka bahwa mereka tentu akan bertempur.
Ketika benturan-benturan senjata kemudian terjadi, maka kedua pengawal itu telah menjadi berdebar-debar. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kedua anak-anak muda itu mempunyai kekuatan yang cukup besar dan kecepatan bergerak yang mendebarkan.
Justru karena itu, maka kedua pengawal itu pun menjadi semakin mengerahkan segenap kemampuannya. Pedang mereka pun berputaran semakin cepat. Namun dalam pada itu, kedua pengawal itu semakin jelas melihat kenyataan, bahwa kedua anak muda itu memiliki ilmu yang cukup tinggi.
Dalam pada itu, di halaman Mahendra bertempur dengan sengitnya pula. Bukan karena ilmu keduanya seimbang, tetapi Mahendra sengaja sekedar mengimbangi tingkat kemampuan lawannya, sehingga dengan demikian seolah-olah kedua orang itu memiliki kemampuan setingkat.
Pangeran Indrasunu menyaksikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Pangeran muda itu pun melihat, seolah-olah kemampuan Mahendra dengan orang yang bertubuh raksasa itu memang seimbang. Pangeran muda itu sama sekali tidak menyangka, bahwa sebenarnya Mahendra hanya sekedar mengimbangi kemampuan lawannya saja. Apalagi Mahendra mengetahui bahwa sebenarnya lawannya bukan orang yang terlalu jahat. Orang itu sudah mencoba menghindari pertengkaran. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk mengelakkannya. Sehingga karena itu, maka ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali bertempur.
Mahendra pun sadar, jika orang bertubuh raksasa itu dapat dikalahkannya, maka ia tentu akan menerima hukuman. Mungkin Pangeran Indrasunu akan mengangkat orang lain untuk mengawalnya dan melemparkan saja orang bertubuh raksasa itu. Sedangkan orang bertubuh raksasa itu sendiri sama sekali tidak bersalah.
Karena itu, Mahendra telah memilih jalan yang mungkin tidak akan menyebabkan orang bertubuh raksasa itu mendapat celaan yang berlebihan. Mahendra akan bertempur dengan kemampuan yang disesuaikan dengan kemampuan orang itu setingkat demi setingkat, apabila orang bertubuh raksasa itu masih mampu meningkatkan ilmunya.
Sebenarnyalah, maka lawan Mahendra itupun merasa heran, bahwa setelah ia sampai ke puncak kemampuannya, maka ia tidak berhasil menguasai lawannya. Lawannya pun mampu mengimbanginya dalam tingkat ilmunya yang tertinggi.
“Orang ini luar biasa.” berkata orang bertubuh raksasa itu di dalam hatinya.
Bahkan kemudian, justru karena ia merasa heran atas kemampuan lawannya, maka ia pun berusaha menilainya secermat-cermatnya. Bahkan sekali-sekali ia dengan sengaja memberikan kesempatan bagi lawannya. Tetapi lawannya tidak mempergunakan.
“Orang ini aneh sekali.” berkata orang itu di dalam hatinya. Justru karena ia berkelahi dengan alas yang berbeda dengan orang-orang yang dibakar oleh dendam dan kebencian, maka orang bertubuh raksasa itu dapat memandang lawannya dengan pandangan mata hatinya yang jernih.
Lambat laun orang itu memang merasa curiga. Jika ia menghentakkan ilmunya dengan tiba-tiba, atau dengan kejutan yang tentu tidak disangka-sangka oleh lawannya, maka lawannya itu masih saja dapat menghindar. Tetapi lawannya itu, sama sekali tidak pernah berusaha mendesaknya atau sekali-sekali dengan penuh tenaga menyerangnya pada saat-saat ia berada dalam kesulitan.
“Mungkin orang ini sengaja memancing kelemahanku.” berkata orang itu di dalam hati, lalu, “Seolah-olah ia tidak sempat melihat kesempatan-kesempatan yang terbuka. Namun pada suatu saat, ia tentu akan menerkam aku seperti seekor harimau menerkam seekor kancil yang lemah.”
Namun ternyata bahwa lawannya itu tidak pernah berbuat seperti yang diduganya itu. Bahkan menurut pengamatannya, lawannya itu jarang sekali menyerangnya.
Semakin lama, pengamatannya yang cermat itu pun dapat mengambil satu kesimpulan, bahwa Mahendra tidak bertempur dengan kemampuannya yang tertinggi.
Meskipun demikian, orang bertubuh raksasa itu tidak mau melepaskan setiap kemungkinan karena ia sendiri tidak yakin akan pengenalannya itu. Sehingga dengan demikian, maka perkelahian di halaman itu masih saja berlangsung dengan serunya.
Berbeda dengan Mahendra, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun telah bertempur dengan tangkasnya melawan lawannya yang bersenjata. Dengan pisau belati panjang, kedua anak muda itu telah berhasil mendesak lawannya. Meskipun senjatanya tidak sepanjang senjata lawan, namun keduanya mampu bertempur dengan cepat.
Kedua pengawal Pangeran Indrasunu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Senjata mereka berputaran, menebas dan mematuk. Tetapi serangan-serangan mereka itu tidak pernah berhasil menyentuh kulit kedua anak muda itu.
Bahkan Mahisa Pukat yang garang telah berhasil mendesaknya sehingga pengawal itu hampir saja kehilangan nyawanya. Demikian ia menusuk tubuh Mahisa Pukat, maka Mahisa Pukat sempat memukul serangan itu ke samping. Namun dengan serta merta, pedang itu berputar dan terayun mendatar setinggi dada. Tetapi Mahisa Pukat dapat menangkisnya pula dengan sentuhan ke atas. Namun, dengan cepat lawan Mahisa Pukat itu memutar pedangnya, dan dengan cepat mematuk dengan derasnya ke arah jantung.
Sekali lagi Mahisa Pukat harus menangkis serangan itu. Demikian pedang itu terjulur lurus, maka Mahisa Pukat telah memukul pedang itu sekeras-kerasnya, sehingga pedang itu pun tergetar. Hampir saja pedang itu terlepas dari genggaman. Namun untunglah bahwa lawannya masih sempat memperbaiki genggaman tangannya itu, meskipun betapa jari-jarinya merasa pedih.
Tetapi adalah mengejutkan sekali. Sebelum ia benar-benar sempat memperbaiki pegangan itu Mahisa Pukat lah yang kemudian-menyerangnya. Pisau belatinya diangkatnya tinggi-tinggi. Kemudian berputar dan menukik menyerang lambung.
Dengan serta merta lawannya meloncat ke samping. Ia masih berusaha untuk tidak membenturkan senjatanya. Namun tiba-tiba senjata itu terayun mengejar tubuh yang sedang mengelak itu.
Tidak ada kemungkinan lain daripada menangkis senjata itu dengan senjatanya agar pisau belati lawannya itu tidak menyentuh tubuhnya. Karena itu, maka ia pun telah menyilangkan pedangnya melawan ayunan pisau belati panjang itu.
Sekali lagi telah terjadi benturan antara pedang pengawal itu dengar pisau belati panjang Mahisa Pukat. Meskipun pisau belati itu lebih pendek dan lebih kecil, namun ternyata tenaga Mahisa Pukat jauh lebih kuat dan lebih besar dari tenaga lawannya sehingga ketika benturan itu terjadi, Mahisa Pukat telah mengungkit senjata lawannya dengan hentakan yang keras dan cepat.
Ternyata senjata lawannya itu tidak dapat diselamatkan lagi. Hentakan itu benar-benar telah melemparkan senjata pengawal Pangeran Indrasunu itu.
Pengawal itu tergetar. Bukan saja tangannya, tetapi juga jantungnya. Jari-jarinya merasa pedih. Tetapi yang lebih pedih lagi adalah hatinya.
Tetapi ternyata bahwa Mahisa Murti telah bertindak lebih jauh lagi. Meskipun ia memang tidak berniat untuk membunuh namun ketika putaran senjatanya membingungkan lawannya, maka serangannya berhasil menyusup langsung menyentuh lambung lawannya.
Terdengar keluhan tertahan. Pengawal yang terluka itu meloncat beberapa langkah surut. Sekilas ia memandang kawannya, seolah-olah ia ingin mendapat bantuannya.
Tetapi sekali lagi jantungnya tergetar. Ternyata kawannya itu baru saja kehilangan senjatanya. Dengan termangu-mangu kawannya itu berdiri tegak, seolah-olah ia telah pasrah kepada maut di ujung belati lawannya yang masih muda itu.
Tetapi ternyata baik Mahisa Pukat maupun Mahisa Murti tidak menghunjamkan pisatu belati mereka ke jantung lawannya. Demikian lawan-lawan mereka kehilangan kemampuan untuk melawan, maka anak-anak muda itupun menghentikan serangan mereka.
“Apa katamu?” bertanya Mahisa Pukat kepada lawannya, “Apakah kau ingin menyelesaikan persoalan ini dengan pertaruhan nyawamu, atau kau mempunyai sikap lain?”
Lawan Mahisa Pukat tidak menjawab, sementara Mahisa Murti membentak lawannya, “Pergi ke Pangeran itu. Katakan kepadanya bahwa gadis yang bernama Ken Padmi itu tidak mau dibawanya. Jika Pangeran itu tidak percaya, biarlah ia bertemu langsung. Dan jika Pangeran itu akan memaksanya, biarlah ia mencoba mengalahkan gadis yang bernama Ken Padmi itu.”
“Ah” desis Ken Padmi.
Mahisa Pukat tertawa. Katanya, “Jangan dikira bahwa gadis itu dapat dipermainkan. Jika ia dapat mengalahkan gadis itu maka ia akan dapat membawanya.”
“Tidak,” desis Ken Padmi, “aku tidak mau apapun yang dapat dilakukannya.”
Tetapi Mahisa Murtilah yang kemudian menyahut, “Yang benar, jika Pangeran itu dapat mengalahkan kakang Mahisa Bungalan, maka ia akan dapat membawa Ken Padmi.”
“Ah” sekali lagi Ken Padmi berdesis.
Tetapi ternyata yang dikatakan oleh kedua anak-anak muda itu tidak sekedar masuk ke telinga kiri dan lenyap lewat telinga kanan. Kedua anak-anak muda itu dianggap benar-benar telah melontarkan tantangan bagi Pangeran Indrasunu.
Karena itu, maka salah seorang dari kedua pengawal itu kemudian bertanya, “Apakah aku dapat mengatakan tantangan itu kepada Pangeran Indrasunu?”
“Katakan. Jika ia dapat mengalahkan kakang Mahisa Bungalan.” jawab Mahisa Pukat.
Kedua orang pengawal itu termangu-mangu. Sementara itu, Mahisa Murti membentak, “Sekarang, cepat pergi. Atau aku harus melubangi jantungmu.”
Kedua pengawal itu melangkah surut. Kemudian dengan tergesa-gesa keduanya meninggalkan longkangan itu ketika Mahisa Murti membentaknya, “Cepat, sebelum kami mengambil keputusan lain.”
Demikian pengawal itu turun ke halaman, maka Pangeran Indrasunu pun terkejut. Ia melihat seorang pengawalnya telah berlumuran darah. Sementara orang bertubuh tinggi besar itu masih belum berhasil mengalahkan Mahendra. Bahkan semakin lama semakin nampak, orang bertubuh raksasa itu menjadi semakin letih, sehingga kemampuannya pun menjadi semakin menurun.
Dengan wajah tegang Pangeran Indrasunu pun dengan tergesa-gesa mendekati pengawalnya yang terluka sambil bertanya, “Kenapa? Siapakah yang telah melukaimu?”
Kedua pengawal yang telah dikalahkan oleh anak-anak muda dilongkangan di belakang seketheng itu pun ragu-ragu sejenak. Namun dalam pada itu, Pangeran Indrasunu membentaknya, “Cepat. Katakan.”
“Di dalam belakang seketheng ada dua orang anak muda yang mengawal gadis yang Pangeran maksudkan.” jawab pengawal itu.
“Siapa?” bertanya Pangeran itu dengan marah.
“Kami tidak mengetahuinya. Tetapi nampaknya mereka adalah adik atau barangkali saudara sepupu gadis itu.” Pangeran itu membentaknya semakin keras.
“Tidak.” suara kedua pengawal itu semakin lambat. Bahkan pengawal yang terluka itu mulai menjadi gemetar karena darah yang semakin mangalir dari lukanya.
Sementara itu, Mahendra yang bertempur sambil mengimbangi kemampuan lawannya sempat berkata, “Luka itu harus diobati, agar darahnya menjadi pampat.”
Peringatan Mahendra itu memang menarik perhatian. Pangeran Indrasunu berpaling kepadanya. Namun ia pun membentak, “Tutup mulutmu.”
Namun Mahendra menjawab, “Aku berkata sebenarnya. Jika ia tidak segera mendapat pertolongan, justru karena darahnya yang mengalir semakin banyak itu, nyawanya akan terancam. Padahal korban itu tidak perlu, karena lukanya sebenarnya tidak terlalu berbahaya. Tetapi jika ia kehabisan darah, maka sebab kematiannya adalah justru karena darahnya menjadi kering.”
“Tutup mulut orang itu!” perintah Pangeran Indrasunu kepada pengawalnya yang bertubuh raksasa, “Kenapa kau tidak segera melakukannya?”
Orang bertubuh raksasa itu semakin heran melihat lawannya. Ia pun berusaha semakin banyak mengenalinya. Apakah sebenarnya yang akan dilakukannya.
Namun dalam pada itu, ia masih harus bertempur dalam puncak kemampuannya, karena lawannya yang bernama Mahendra itu pun bertempur pada tataran yang setingkat dengan puncak kemampuannya itu.
Dalam pada itu, ternyata orang yang terluka itu menjadi semakin lemah. Darahnya masih saja mengalir tanpa terbendung. Meskipun luka itu sendiri tidak terlalu parah.
Pangeran Indrasunu ternyata sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan ia masih saja membentak orang bertubuh raksasa itu, “Cepat selesaikan orang itu. Kemudian dua orang yang telah melukai pengawal-pengawalku.”
Tetapi Pangeran Indrasunu tidak memerintahkan kepada pengawalnya yang lain untuk mengambil Ken Padmi, karena pengawal yang lain itu pun akan dapat mengalami nasib seperti yang dialami oleh pengawal yang terluka itu.
Namun yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh Pangeran Indrasunu adalah, bahwa Mahisa Murti dengan tiba-tiba saja telah berlari mendekati pengawal yang terluka itu. Sejenak kedatangannya telah menimbulkan kejutan bagi para pengawal yang lain. Beberapa orang telah bersiaga. Bahkan pengawal yang terluka itu sendiri, berusaha untuk bersiap-siap.
Tetapi ternyata bahwa Mahisa Murti itu datang dengan sebumbung kecil obat di tangannya.
Katanya, “Obat ini akan memampatkan darahmu.”
“Gila!” geram Pangeran Indrasunu.
“Maaf, Pangeran. Aku tidak berniat membunuhnya. Jika ia terlambat mengobati lukanya, maka ia akan mati. Dan aku akan menyesal bahwa aku telah membunuh orang yang sebenarnya tidak pantas untuk dibunuh.” jawab Mahisa Murti.
“Jadi kau yang telah melukai pengawalku?” bertanya Pangeran Indrasunu.
“Ya.” jawab Mahisa Murti.
“Bagus. Kau telah datang untuk membunuh dirimu.” Lalu katanya kepada para pengawal, “Tangkap anak ini.”
Para pengawal yang sudah siap itu pun mulai bergerak. Tetapi Mahisa Murti seolah-olah tidak menghiraukannya. Bahkan katanya, “Sabarlah sedikit. Kalian dapat menangkap aku setelah aku menyerahkan obat ini kepada kawanmu yang terluka itu.”
Para pengawal itu pun menjadi termangu-mangu. Sementara Mahisa Murti tanpa menghiraukan mereka, telah berjongkok di samping pengawal yang terluka, yang karena kelemahan tubuhnya telah terduduk di pinggir halaman.
Dengan tenang Mahisa Murti membuka bumbung kecil itu dan kemudian berkata kepada pengawal itu, “Berbaringlah, agar aku dapat menaburkan obat ini pada lambungmu.”
Seperti kehilangan dirinya sendiri, pengawal itu menurut saja. Ia pun kemudian berbaring agak miring, sementara Mahisa Murti pun telah menaburkan obat yang dibawanya itu pada luka yang masih berdarah.
Pengawal itu menyeringai menahan pedih yang menusuk. Namun Mahisa Murti berkata, “Memang agak pedih. Tetapi obat ini bekerja cepat, sehingga lukamu akan segera menjadi sembuh.”
Sebenarnyalah luka itu terasa pedih dan nyeri. Bahkan seakan-akan telah menjalar ke seluruh tubuh. Namun dalam pada itu darah di lambung itu pun berangsur-angsur menjadi pampat.
“Jangan bangkit sampai darah itu benar-benar berhenti. Setelah itu pun kau harus menjaga, agar kau tidak terlalu banyak bergerak sehingga darahmu benar-benar tidak akan mengalir lagi.”
Seolah-olah di luar sadarnya pengawal itu mengangguk.
Dalam pada itu, Pangeran Indrasunu telah terpukau oleh sikap Mahisa Murti. Bahkan mereka yang sedang bertempur itu pun berusaha untuk melihat apa yang telah terjadi.
“Anak itu adalah anakku.” desis Mahendra.
“O” orang bertubuh raksasa itu mengangguk-angguk. Namun orang itu masih tetap menyerangnya.
“Kau tidak akan berhasil,” akhirnya Mahendra berkata, “sebenarnya aku dapat berbuat lebih banyak. Jika para pengawal itu benar-benar akan menangkapnya, maka aku akan bertindak lebih jauh.”
“Apa yang dapat kau lakukan?” bertanya orang bertubuh raksasa itu.
“Melawan kalian semuanya dan mengalahkannya.” jawab Mahendra.
Ternyata jawab orang bertubuh raksasa itu mengejutkan Mahendra. Katanya, “Aku percaya. Sejak semula aku menganggap bahwa caramu bertempur tidak wajar.”
“Kalau begitu berhentilah.” desis Mahendra.
“Jangan aku yang berhenti. Tetapi tolong, hentikan perlawananku. Jika aku pingsan, maka tidak akan ada tuduhan pengkhianatan.” desis orang bertubuh raksasa itu.
Mahendra justru termangu-mangu. Ternyata orang bertubuh raksasa itu tahu akan keadaannya. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu yang akan dapat mencelakainya. Jika ia menyerah atau menghentikan perlawanan, maka ia akan dapat dituduh berkhianat.
Mahendra memaklumi sepenuhnya akan hal itu. Karena itu, maka katanya kemudian, “Maaf, apakah aku harus benar-benar melakukannya?”
“Ya. Tetapi aku pun mengharap, jangan bunuh aku.” berkata orang bertubuh raksasa itu.
Demikianlah, maka pertempuran itu pun nampaknya menjadi semakin sengit. Sementara itu, Pangeran Indrasunu menjadi semakin marah melihat keadaan para pengawalnya. Namun tiba-tiba sekali lagi ia berteriak, “Tangkap anak itu.”
Para pengawal pun telah bergerak pula. Selangkah mereka maju mendekati Mahisa Murti yang masih sibuk. Namun sekali lagi para pengawal itu termangu-mangu, justru karena Mahisa Murti seolah-olah tidak menghiraukan mereka.
Namun Pangeran yang masih muda itu berteriak lebih keras lagi, “Cepat tangkap orang itu dan aku akan mengadilinya karena ia sudah melukai pengawalku.”
Para pengawal nampaknya tidak dapat berbuat lain. Ketika mereka bergerak, maka Mahisa Murti pun telah bangkit berdiri, sehingga para pengawal itu pun tertegun karenanya.
“Baiklah,” berkata Mahisa Murti, lalu, “aku sudah selesai. Apakah kalian benar-benar akan menangkapku?”
“Tutup mulutmu!” bentak Pangeran Indrasunu, “Kau tidak akan diampuni.”
“Aku tidak akan minta ampun.” jawab Mahisa Murti. Namun dalam pada itu, para pengawal itu pun terkejut ketika mereka mendengar seorang lagi berteriak dari tangga seketheng, “Jangan ampuni anak itu.”
Ternyata Mahisa Pukat berdiri tegak sambil membawa sebatang tombak pendek. Di tangannya yang lain ia membawa sebilah pedang. Sambil mengacukan pedang itu ia berkata, “Mahisa Murti, sebaiknya kau bersenjata pedang jika lawanmu cukup banyak. Aku pun akan melawan mereka dengan tombak pendek ini. Sementara itu, seorang lagi di antara kita akan bertempur dengan pedang rangkap.”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Ia tahu, yang dimaksud tentu Ken Padmi.
Namun tiba-tiba saja Mahendra berteriak, “Tidak. Tidak ada yang akan bertempur dengan pedang rangkap. Kalian pun tidak akan bertempur. Aku akan melawan mereka semuanya.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi termangu-mangu. Namun tiba-tiba tata gerak ayah mereka itu menjadi semakin cepat. Bagaikan amukan prahara ia menyerang orang bertubuh raksasa itu.
Tidak ada orang yang tahu, apa yang telah terjadi. Namun tiba-tiba saja orang bertubuh raksasa itu telah terlempar dan jatuh terbanting di tanah.
Pangeran Indrasunu terkejut bukan buatan. Dengan tergesa-gesa ia pun berlari-lari mendekati orang bertubuh raksasa itu. Namun ternyata ia telah pingsan.
Mahendra masih berdiri tegak di tempatnya. Kemudian dengan suara lantang ia berkata, “Nah, orang itu sudah aku kalahkan. Sekarang, siapa yang akan menangkap anakku itu? Ia sendiri akan dapat membela dirinya bersama saudara-saudaranya. Tetapi aku adalah ayahnya. Aku akan bertindak lebih jauh dari apa yang sudah aku lakukan.”
Pangeran Indrasunu menggeretakkan giginya. Dengan lantang ia berkata, “Aku sendiri akan membunuhmu.”
Mahendra mengerutkan keningnya. Namun semuanya berpaling ketika tiba-tiba saja Mahisa Pukat yang masih berada di tangga seketheng berteriak, “Tidak usah ayah berbuat apa-apa. Sebenarnya persoalannya sudah jelas. Ken Padmi akan melihat apakah Pangeran Indrasunu itu benar-benar seorang laki-laki. Jika ia dapat mengalahkan Mahisa Bungalan, maka semuanya akan dipertimbangkannya.”
“Mahisa Pukat!” potong Mahendra. Tetapi anak itu sudah terlanjur mengatakannya. Bahkan Mahisa Murti pun menyambung, “Sebuah sayembara tanding yang menarik. Tentu Pangeran Indrasunu tidak sempat mengikuti sayembara tanding di padepokan Kenanga. Karena itu, maka ia akan mengikutinya di sini, jika ia benar-benar memerlukan Ken Padmi.”
“Mahisa Pukat!” desis Ken Padmi dari balik seketheng. “Aku tidak mau. Itu saja.”
Tetapi Mahisa Pukat yang nakal itu tidak menghiraukannya. Bahkan ia pun kemudian melangkah turun ke halaman sambil berkata, “Kedua pengawal itulah yang seharusnya menyampaikan tantangan ini.”
Mehendra tidak dapat mencegahnya lagi. Kedua anaknya itu memang nakal sekali.
Namun demikian, seandainya hal itu yang harus terjadi, maka Mahendra pun tidak berkeberatan. Menurut perhitungannya, Pangeran itu tidak akan dapat mengalahkan Mahisa Bungalan. Namun demikian, Mahisa Bungalan tidak akan dapat mengabaikannya. Meskipun Pangeran itu nampak tidak banyak bertindak langsung karena pengawal-pengawalnya, bukan berarti bahwa ia tidak memiliki ilmu yang cukup.
Mahendra menjadi berdebar-debar ketika Pangeran Indrasunu itu menyahut “Aku terima tantangan Mahisa Bungalan. Jika aku menang, aku berhak mengambil Ken Padmi. Tetapi aku menjadi muak terhadap gadis itu, sehingga setelah aku mempunyai hak atasnya maka aku akan memberikannya kepada pengemis kudisan.”
Tetapi sikap Mahisa Murti memang menjengkelkan. Katanya, “Ken Padmi berhak pula mencekiknya sampai mati.”
Kemarahan Pangeran Indrasunu sudah memuncak sampai ke kepala. Tetapi ia tidak dapat mengabaikan kenyataan. Orang yang paling dipercaya telah dikalahkan oleh Mahendra, sehingga pingsan. Sementara salah seorang pengawalnya malahan sudah dilukai oleh Mahisa Murti.
Karena itu, maka Pangeran Indrasunu itu pun kemudian menggeram, “Aku akan mengurungkan niatku kali ini. Tetapi itu bukan berarti bahwa persoalanku sudah selesai, tantangan untuk berperang tanding itu akan aku layani. Aku akan membunuh Mahisa Bungalan di arena. Kemudian mengambil Ken Padmi dan menyeretnya seperti seekor lembu untuk aku serahkan kepada pengemis seperti yang sudah aku katakan.”
Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi ia tertawa pendek.
Sangat menyakitkan hati. Tetapi Pangeran Indrasunu tidak dapat berbuat apa-apa.
Sejenak kemudian, maka Pangeran Indrasunu itu pun tekah memerintahkan para pengawalnya bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu. Yang pingsan itu pun perlahan-lahan telah sadar kembali. Namun tubuhnya menjadi sangat lemah, sehingga ia perlu dibantu oleh seorang pengawal yang lain.
“Kalian telah berkhianat!” geram Pangeran Indrasunu, “Semuanya ini akan sampai ketelinga kakangmas Wirapaksi.”
Sekali lagi Mahisa Pukat tertawa. Bahkan Mahisa Murti pun tertawa pula sambil berkata, “Sebaiknya memang demikian. Jika Pangeran Indrasunu melaporkannya kepada Pangeran Wirapaksi, maka Pangeran Wirapaksi akan menghukummu. Di Singasari adat seperti yang Pangeran lakukan itu tidak berlaku lagi. He, apakah Pangeran juga masih dapat menyaksikannya di Kediri? Pangeran Kuda Padmadata adalah seorang Pangeran yang berpengaruh. Tetapi ia bersikap sangat baik dan ramah kepada siapapun.”
“Persetan!” geram Pangeran Indrasunu, “Apa yang kau ketahui tentang Pangeran Kuda Padmadata.”
Kedua anak Mahendra itu tidak menjawab lagi. Rasa-rasanya mereka memang ingin mengusir Pangeran itu agar segera meninggalkan halaman rumahnya.
Sejenak kemudian, maka Pangeran itu benar-benar telah pergi. Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun mendekati ayahnya sambil tersenyum.
“Pangeran itu memang memerlukan sedikit pelajaran.” berkata Mahisa Murti.
“Ia tentu akan menyampaikan persoalan ini kepada Pangeran Wirapaksi.” desis Mahendra.
“Aku kira ada baiknya,” sahut Mahisa Pukat, “bukankah ayah mengenal Pangeran Wirapaksi dengan baik?”
“Aku mengenal Pangeran Wirapaksi dengan baik. Tetapi Pangeran Indrasunu adalah adik iparnya.” jawab ayahnya.
“Apakah mungkin hal itu akan sangat berpengaruh? Mungkin Pangeran Wirapaksi akan dapat mempertimbangkannya sebaik-baiknya.” desis Mahisa Murti.
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita menunggu perkembangan keadaan. Mungkin Pangeran Indrasunu akan dapat mengatakan yang tidak sebenarnya. Yang putih dikatakan hitam, yang hitam dikatakan putih. Tetapi Mahisa Agni dan Witantra tentu akan didengar pula keterangannya.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab lagi. Mereka pun kemudian mengikuti ayahnya ke seketheng, karena mereka mengira bahwa Ken Padmi masih berada di longkangan.
Namun demikian mereka memasuki seketheng, mereka terkejut karena mereka melihat Ken Padmi menangis di serambi.
“Ken Padmi,” Mahendra mendekatinya dengan tergesa-gesa, “kenapa kau menangis? Segalanya telah selesai. Pangeran itu telah pergi.”
Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Ia mengira bahwa Ken Padmi marah kepadanya, karena ia telah mengatakan bahwa Ken Padmi menuntut sayembara tanding.
“Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu,” desis Mahisa Pukat, “aku justru ingin bergurau dengan Pangeran itu.”
“Jika kau menolak sayembara tanding seperti yang dikatakan oleh Mahisa Pukat, Ken Padmi. Akulah yang akan mengurusnya. Jika pimpinan pemerintahan di Singasari melarang, maka hal itu tidak akan dapat dilangsungkan.”
Tetapi Ken Padmi menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Bukan karena sayembara tanding itu.”
“Lalu, kenapa kau menangis?” bertanya Mahendra.
Di antara isaknya Ken Padmi berkata, “Ternyata nasibku terlalu buruk. Di padepokan Kenanga, aku telah menimbulkan persoalan sehingga jatuh korban jiwa. Beberapa orang terbunuh karena persoalanku langsung atau tidak langsung. Kemudian aku telah menyingkir, betapa pun hatiku terasa pahit. Sebagai seorang gadis aku telah mengikuti seorang laki-laki yang belum mempunyai satu ikatan apa pun juga. Namun dengan satu harapan, bahwa aku akan hidup tenang dan tidak membuat persoalan bagi orang lain. Tetapi ternyata bahwa di sini pun telah terjadi persoalan karena aku. Agaknya aku adalah manusia yang paling terkutuk, yang di mana-mana akan dapat menimbulkan bencana.”
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara lembut ia berkata, “Sudahlah, Ken Padmi. Jangan terlalu kau pikirkan. Serahkan segalanya kepadaku.”
“Tetapi segalanya itu terjadi karena nasibku yang buruk.” desis Ken Padmi.
“Ken Padmi,” berkata Mahendra kemudian, “jangan menyesali nasib yang sudah digariskan olen Yang Maha Agung. Segala yang terjadi, tentu bukannya tanpa maksud. Hal yang terasa pahit, mungkin akan dapat memberikan kebahagiaan di hari kemudian. Karena itu, berdoa sajalah agar kau mendapat petunjuk di hatimu, apakah yang sebaiknya harus kau lakukan.”
Ken Padmi memandang Mahendra sekilas. Kemudian ia pun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dengan suara lirih ia berkata, “Semoga Yang Maha Agung memberikan petunjuknya. Bukan maksudku untuk menyesali garis yang tergores di sepanjang jalan hidupku. Namun jika harus terjadi akibat dari sebab yang tidak aku mengerti, atau yang telah terjadi pada masa lalu, mudah-mudahan aku lekas mendapatkan pengampunan.”
“Sudahlah,” berkata Mahendra kemudian, “masuklah. Cobalah beristirahat. Aku akan menyelesaikan persoalan ini sebaik-baiknya. Karena itu, hari ini juga aku akan pergi ke Singasari menyusul Mahisa Agni dan Witantra. Sebaiknya ia mendengar persoalan ini dari mulutku. Bukan dari Pangeran Indrasunu atau orang lain yang ditugaskan oleh Pangeran itu. Karena aku yakin bahwa Pangeran Indrasunu akan segera menyampaikan persoalannya kepada Pangeran Wirapaksi.”
Ken Padmi hanya dapat mengangguk saja, sementara Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun kemudian membimbingnya masuk ke ruang dalam.
Sementara itu, Mahendra pun segera berkemas. Ia akan segera menyusul Mahisa Agni dan Witantra. Bahkan ia pun harus segera memberitahukan kepada Mahisa Bungalan bahwa sudah terloncat kata-kata dari mulut adik-adiknya, bahwa untuk mendapatkan Ken Padmi Pangeran Indrasunu harus perang tanding. Namun agaknya Pangeran Indrasunu telah tersinggung. Untuk mendapatkan seorang gadis padepokan ia harus melakukan sayembara tanding. Karena itu, maka ia pun ingin menghina keluarga Ken Padmi pula, dengan mengatakan bahwa apabila ia memenangkan sayembara, maka gadis itu akan dilemparkannya dengan hina.
Mahendra pun sadar, bahwa penghinaan itu tentu akan membakar darah Mahisa Bungalan. Tetapi ia pun berharap bahwa Mahisa Agni dan Witantra akan dapat memberikan pertimbangan.
Sementara itu, Pangeran Indrasunu yang meninggalkan rumah Mahendra itu pun telah memacu kuda menuju ke istana Pangeran Wirapaksi.
Ia harus memberitahukan kepada Pangeran Wirapaksi bahwa seorang pidak pedarakan telah berani menolak keinginannya, seorang Pangeran. Seandainya orang Singasari tidak menghormatinya sebagai seorang bangsawan Kediri, maka mereka pun harus menghormati Pangeran Wirapaksi yang meskipun juga berdarah Kediri, tetapi ia sudah berada di Singasari.
Kedatangan Pangeran Indrasunu yang tergesa-gesa, serta keadaan para pengawalnya telah mengejutkan para pengawal istana Pangeran Wirapaksi. Namun Pangeran Indrasunu yang marah itu, tidak mengatakan sesuatu, selain sambil membentak-bentak ia menyerahkan kudanya kepada para pengawal.
Kedatangan Pangeran Indrasunu yang tergesa-gesa itu memang membuat Pangeran Wirapaksi terkejut. Sebelum Pangeran Wirapaksi bertanya, maka Pangeran Indrasunu telah berkata, “Orang-orang Singasari perlu mendapat pelajaran, bagaimana mereka harus bersikap terhadap bangsawan dan para penguasa.”
Pangeran Wirapaksi terkejut melihat sikap adik iparnya. Karena itu, maka katanya, “Duduklah. Kita berbicara dengan tenang.”
Pangeran Indrasunu dan Pangeran Wirapaksi itu pun kemudian duduk di serambi. Dengan sabar Pangeran Wirapaksi bertanya, “Apakah yang sudah terjadi?”
“Orang-orang Singasari ternyata adalah orang-orang yang tidak tahu diri. Bodoh dan sombong.” geram Pangeran Indrasunu.
“Apa yang telah terjadi?” desak Pangeran Wirapaksi.
Pangeran Indrasunu kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi di rumah seorang yang bernama Mahendra.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar