Kamis, 04 Februari 2021

KYAI CILIK SUKMA SEJATI BAGIAN 2

CAHAYA SEJATI bagian 2


Siang mulai beranjak, matahari hampir di atas kepala, dan panas sedikit terik, di pematang sawah bekas panen, perbatasan desa Cigandu, mang Hasan berhenti di bawah pohon mlinjo tua, pandangannya nanar, sementara yang lain bimbang menunggu keputusan yang akan diambilnya, sementara di batas sungai kecil dan jembatan bambu, perbatasan desa Cigandu, entah ada berapa puluh orang juga menanti, nampak kelebatan kilau golok tertimpa sinar matahari, kalau dihitung banyak, jelas rombongan dari Cipacung akan dibantai jika berani maju, sebab pemuda dari Cigandu rupanya lebih mempersiapkan diri, jika tawuran jelas pemuda Cipacung akan kalah, dan bisa jadi akan mati mengenaskan,

"Bagaimana mang...?" suara Mun gemetar, dan keringat menetes dari jidatnya, sementara Bagus Cilik masih enak-enakan tidur di punggungnya.

Mang Hasan diam, tentu baginya ini keputusan sulit, jika memaksa maju, dia berpikir tentu semua temannya akan mati, padahal jika ditarik permasalahan ke belakang, pertikaian antar desa ini tak jelas juntrung masalahnya, kadang karena soal penggilingan, kadang soal hinaan, tapi seandainya diitung-itung, rasanya belum pantas untuk ditebus dengan taruhan nyawa.

"Aku tak tau..." kata mang Hasan sambil melirik ke arah Bagus Cilik yang ada di gendongan Mun.

"Coba bangunkan Bagus Cilik, apa keputusan dia, maka kita ambil." tambah mang Hasan sambil meraba gagang goloknya.

Semua kemudian berusaha membangunkan anak umur 4 tahun yang masih lelap tidurnya... tapi Bagus Cilik, sulit dibangunkan, dia seperti merasa nyaman di gendongan Mun.

"Bagus..., celaka ini Bagus.., kita akan tawuran, musuh terlalu banyak, bagaimana baiknya..?" kata Mun sambil menggoyang-goyang punggungnya, berharap anak kecil yang ada di punggungnya terbangun, sampai tubuh Bagus melorot, Bagus malah memanjat dan membetulkan tubuhnya... lalu menguap.

"Diajak saja adu kekebalan, jadi tidak ada jatuh korban." kata bagus, lalu menguap dan tertidur lagi.

Semua mata saling pandang, semua menggeleng.., bukan apa-apa semua tak punya ilmu kebal, bagaimana mau adu kekebalan?

"Siapa yang pernah diisi ilmu kebal sama kyai Sepuh?" mang Hasan bertanya, tapi semua menggeleng.

"Tapi Bagus kan sudah bilang seperti itu, baiklah aku yang maju.." kata mang Hasan mantap. Dia melangkah ke jalan menuju jembatan bambu, lalu berteriak.

"Bagaimana kalau kita adu ilmu untuk menyelesaikan masalah ini !!?"

"Bagaimana caranya?" sahut dari pemuda Cigandu.

"Kita adu kekebalan, seseorang boleh membacok diriku sekali, dan aku juga membacok dirinya sekali, bagaimana?" kata Mang Hasan.

"Lalu siapa yang akan membacok duluan?" kata pemuda kampung bernama Akri, yang berbadan dempal, dia adalah pelatih silat di desa Cigandu, dan paling disegani, badannya dempal berotot.

"Bagaimana kalau ditentukan dengan suwit?" kata mang Hasan, kalau didengar jadi terdengar lucu, masak mau numpahkan darah dengan didahului suwit. Tapi semua nyatanya tak ada yang tertawa, bahkan berwajah tegang.

Kelihatan kelompok pemuda dari Cigandu berembuk.

"Siapa yang akan mewakili dari Cipacung?" kata pemuda dari Cigandu.

"Aku, yang pertama mewakili, silahkan maju siapa yang mewakili pemuda Cigandu, tapi jika nanti ada yang terluka atau mati, maka siapa pun tidak boleh menuntut, atau meneruskan dendam ini, kita selesaikan masalah ini sampai di sini." jelas mang Hasan.

Dan semua orang terdiam, nampak salah seorang maju, dari gerombolan pemuda Cigandu. Nampak pemuda ini tak dikenal oleh mang Hasan. Perawakannya tinggi, kekar, dan wajahnya bekas jerawat batu, dia mencabut goloknya dan mulai menyebrangi jembatan bambu, langkahnya mantap, tapi wajahnya menyimpan senyuman licik, seperti seorang yang banyak akal dan menakutkan, setidaknya untuk menakuti anak kecil yang rewel pasti manjur.

Suasana makin tegang... angin panas menerbangkan debu, seperti membawa bau anyir darah, dan tangis kehilangan keluarga yang ditinggal anaknya mati.

Waktu serasa berjalan amat lambat, ketika pemuda tinggi itu sampai di depan mang Hasan, serasa waktu telah beranjak berbulan-bulan.

"Siapa namamu? Agar jika aku mati di tangan orang, aku mati dengan merem, karena tau namanya." kata mang Hasan tabah.

"Aku mang Keli, legakan hatimu, aku akan menebasmu dengan sekali tebas, agar kau mati dengan cepat." kata pemuda seumuran 35an tahun itu dengan wajah disertai senyum sinis.

"Mari kita suwit," kata mang Hasan.

Dan memang si mang Keli itu amat licik, sengaja dia waktu mau suwit, pas jarinya diangkat ke belakang, seakan dia mau mengeluarkan jari telunjuknya, sehingga mang Hasan mengeluarkan jari jempolnya, mang Keli mengeluarkan jari kelingkingnya, jelas mang Hasan kalah.

Ketika Mang Keli mengangkat kedua tangannya tanda menang suwit, maka semua pemuda Cigandu bersorak ramai sekali, sementara pemuda Cipacung lemes.

Membias warna pucat di wajah mang Hasan, tapi dia pasrah. Dan tiba-tiba dengan cepat mang Keli mencabut goloknya, dan dengan cepat pula golok berkelebat, menyambar ke leher mang Hasan yang belum siap sama sekali, mang Hasan hanya sempat melirik, golok telah menghantam telak ke lehernya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...