Jumat, 05 Februari 2021

KYAI CILIK SUKMA SEJATI BAGIAN 7

CAHAYA SEJATI bagian 7


Sejak saat itu Kyai Sepuh dibantu santri dan orang kampung, mencari dan mendatangkan orang-orang yang dianggap bisa mengobati, dari Dokter, Ajengan, Kyai, Tabib, Abuya, Dukun, Jawara, setiap di mana ada kabar orang yang bisa mengobati, maka diusahakan didatangkan, tapi Bagus Cilik tetap dalam keadaan sakit, tubuhnya panas, malah jika dikeluarkan dari air, akan tampak uap asap keluar dari tubuh Bagus Cilik, dan jika dimasukan ke air, maka air akan mendidih.

Tapi anehnya, Bagus Cilik sama sekali tak pernah sekalipun mengeluh, hanya matanya yang sayu, dan tubuhnya kelihatan lemah tiada daya, berbulan-bulan berlalu tubuh Bagus Cilik makin kurus, dan penyakit panasnya tak kunjung sembuh.

Sampai pada suatu hari jauh di desa Lebak Lepen, di rumah Kyai Sanusi, Abah Sakri sedang bertamu, Abah Sakri adalah seorang dukun yang biasa mengobati penyakit yang disebabkan teluh atau santet, sedang Kyai Sanusi adalah orang yang mengobati dengan ilmu hikmah, keduanya sedang duduk di ruang tamu Kyai Sanusi.

"Kang, kau ikut diundang tidak mengobati anaknya Kyai Sepuh?" tanya Abah Sakri, sambil menyulut rokok menyannya.

"Iya kang, aku ikut diundang, tapi menurutku penyakitnya terlalu aneh, telah aku usahakan berbagai cara yang ku miliki, tapi sama sekali tak ada perubahan, kasihan anak kecil itu." jelas Kyai Sanusi panjang lebar.

"Apa tak mungkin kena guna-guna kang?"

"Kalau terkena guna-guna atau santet, aku kan bidangnya to kang, tapi nyatanya setelah ku obati juga tak ada perkembangannya sama sekali, malah ku coba dengan media telur, aku malah jadi heran."

"La heran kenapa to kang Sakri?"

"Ya heran, masak telornya jadi malah mateng, bisa dimakan, apa ndak aneh itu, seumur-umur aku baru sekali ini menemui penyakit seperti itu."

"Tapi kan..., apa sampean tak merasakan keanehan yang lain?"

"Maksud kang Sakri?" tatap Kyai Sanusi heran.

"Ya keanehan kang, maksudku, setelah aku mengobati anaknya Kyai Sepuh, perasaan aku seperti tak manjur lagi mengobati orang, ya maksudku seperti ilmuku hilang."

"Lhoh yang bener kang?" tanya Kyai Sanusi sambil matanya menatap serius kepada Abah Sakri.

"Lha apa sampean ndak percaya?" timpal Abah Sakri merasa tak enak ditatap aneh oleh Kyai Sanusi.

"Bukannya aku tak percaya kang, tapi kayaknya aku juga mengalami hal yang sama,"

"Maksute sampean kang?"

"Ya maksudku aku juga kayak semua ilmuku semua hilang, tanpa bekas, malah kemaren ku coba memukul batu dengan braja musti dan bandung bondowoso, biasanya batu hancur, la kok batunya ndak hancur, ee malah tanganku yang luka." kata Kyai Sanusi, sambil menunjukkan tangannya yang lecet, dan mengembung, matang biru,

"Wah kalau begitu ndak beres kang." sela Abah Sakri.

"Soalnya aku kemaren ketemu tabib Kaldun, dari Hadramaut itu katanya ilmunya juga semua hilang, juga aku bertemu aki Sompal yang paranormal itu, dia juga mengatakan kalau sekarang ilmunya semua hilang, setelah mengobati anaknya Kyai Sepuh."

"Wah kalau memang semua ilmu orang kesedot sama anaknya Kyai Sepuh itu, ini bisa berbahaya kang." kata kyai Sanusi resah.

"Ya kalau semua kesedot, bocah itu tentu jadi sakti mandraguna, " jawab Abah Sakri.

"Maksudku bukan itu kang, maksudku jika yang ada di tubuh bocah cilik itu jika adalah jin jahat, apa dunia akan hancur?" jelas Kyai Sanusi.

"Wah iya juga kang, benar pendapatmu,"

"La baiknya bagaimana kang?"

"Ya mungkin kita musyawarahkan dengan semua teman, baiknya bagaimana." jawab Kyai Sanusi, sambil meminum teh pahitnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...