PANASNYA BUNGA MEKAR : 30-02
Kelima orang itu pun kemudian duduk menunggu di tempat mereka bersembunyi. Mereka yakin bahwa sejenak kemudian, seisi rumah itu tentu akan tertidur nyenyak, sehingga dengan demikian mereka tidak perlu terlalu banyak melepaskan tenaga. Mereka akan dengan mudah membinasakan lawan-lawan mereka.
Namun dalam pada itu, yang terjadi di dalam rumah itu berbeda dengan yang diharapkan oleh kelima orang itu. Di ruang dalam, Mahendra duduk berdua dengan Witantra sambil berbincang tentang banyak hal setelah mereka makan malam.
Ketika Mahisa Murti melintasi di ruang itu dan mengatakan bahwa ia akan pergi ke biliknya, kedua orang itu tidak banyak menghiraukannya.
Mereka masih saja bercakap-cakap perlahan-lahan. Namun mereka terkejut ketika mereka mendengar sebuah mangkuk yang terjatuh dan pecah berserakan. Mahendra yang kemudian berdiri sambil berdesis, “Ken Padmi pasti kurang berhati-hati. Ia adalah seorang gadis yang cepat, sebagaimana ia bergerak di sanggar. Tetapi kadang-kadang ia kurang memperhitungkan barang-barang yang dipeganginya. Tangannya kadang-kadang menyentuh mangkuk yang sedang dicucinya.”
Witantra tersenyum. Katanya, “Mungkin ia tergesa-gesa. Biasanya ia selalu pergi ke sanggar.”
Mahendra pun kemudian melangkah ke ruang belakang. Namun ia menjadi sangat terkejut ketika ia melihat Ken Padmi duduk di amben bambu. Wajahnya pucat dan nampak keringat dingin membasahi keningnya.
“Kau kenapa?” bertanya Mahendra.
“Entahlah paman,” desis Ken Padmi, “tubuhku tiba-tiba terasa lemah sekali. Mataku seolah-olah telah melekat oleh perasaan ngantuk. Aku telah kehilangan pengamatan tanganku ketika aku sedang mengemasi mangkuk-mangkuk itu.”
Mahendra mengerutkan keningnya. Ia pun merasakan udara yang agak lain dari biasanya. Malam terasa sangat sepi. Sehingga karena itu, maka katanya, “Marilah. Kita akan membicarakan keadaan udara di malam ini. Tinggalkan saja mangkuk-mangkuk itu. Agaknya memang ada yang harus kita bicarakan.”
Ken Padmi pun kemudian mengikuti Mahendra masuk ke ruang dalam. Ketika ia duduk di sebelah Witantra, maka terasa ngantuk itu bagaikan tidak dapat dihindarinya.
“Apakah kau merasakan sesuatu yang tidak wajar?” bertanya Mahendra kepada Witantra.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baru saja aku akan bertanya kepadamu. Ternyata bahwa perasaan kita sama. Aku juga merasa bahwa ada sesuatu yang kurang wajar malam ini.”
Mahendra memandang Ken Padmi yang berkeringat. Agaknya ia berusaha untuk melawan ngantuknya, tetapi dengan cara yang kurang mapan. Karena itu, maka Mahendra pun kemudian berbisik, “Ken Padmi. Dengarlah. Sadari dirimu, bahwa kau telah terkena pengaruh sirep. Kau mendengar?”
Ken Padmi mengangguk.
“Karena itu, cobalah bertahan. Kau tidak dapat dengan cara sewajarnya melawan ngantuk sebagaimana kau lakukan pada saat-saat lain yang terjadi karena kau memang sedang mengantuk. Untuk melawan ilmu seperti sekarang ini, kau harus memusatkan daya tahanmu berdasarkan ilmu.”
Ken Padmi ternyata merasa seolah-olah telah terbangun dari cengkaman ngantuknya. Dengan serta merta, ia pun kemudian duduk dengan tegak sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Dengan landasan daya tahan berdasarkan ilmunya ia berusaha melawan ilmu sirep yang mencengkam rumah itu.
Sementara itu, maka Mahendra pun telah mencari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mahisa Murti terdapat telah tertidur di dalam biliknya. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa ia telah terkena pengaruh sirep, sehingga ia sama sekali tidak berusaha untuk melawannya.
Dengan hati-hati Mahendra membangunkannya. Disentuhnya tubuh anaknya sambil berdesis di telinganya, “Bangunlah. Kau dalam ancaman bahaya.”
Beberapa kali Mahendra mengulangi kata-katanya Baru beberapa saat kemudian Mahisa Murti terbangun. Sambil menggeliat ia berkisar. Namun matanya telah terpejam kembali.
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian di pijitnya ibu jari kaki Mahisa Murti sambil diguncangnya perlahan-lahan.
Akhirnya Mahisa Murti berhasil dibangunkannya. Dengan kemampuan ilmunya Mahendra berbisik sekali lagi di telinga anak laki-lakinya. Namun Mahisa Murti terkejut karenanya. Suara Mahendra yang perlahan-lahan, namun dilambari ilmunya yang mapan, terdengar bagaikan guruh di telinga Mahendra Murti.
“Bangunlah. Kau terancam bahaya.” berkata Mahendra.
Mahisa Murti berusaha untuk menguasai kesadarannya sepenuhnya. Dengan gagap ia bertanya lirih, “Ada apa, ayah.”
“Marilah. Duduklah di ruang tengah.” ajak Mahendra.
Mahisa Murti pun kemudian mengikuti ayahnya duduk di ruang tengah. Kemudian ia pun mendapat penjelasan tentang keadaan malam itu, sehingga ia pun segera berusaha untuk menghindarkan diri dari ilmu sirep itu seperti yang dilakukan olah Ken Padmi.
Dalam pada itu, Mahendra pun kemudian mencari pula Mahisa Pukat yang tertidur di amben bambu di ruang sebelah. Seperti yang dilakukannya atas Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat pun kemudian telah terbangun pula.
Sejenak kemudian, kelima orang itu pun telah duduk di ruang tengah. Masing-masing telah berusaha untuk melawan ilmu sirep yang mencengkam rumah itu. Semakin lama ilmu itu terasa semakin mencengkam. Namun kelima orang itu pun telah berhasil membentengi diri mereka dengan ilmu pula.
Dalam pada itu, Mahendra pun kemudian berkata, “Anak-anak, sirep ini telah memberitahukan kepada kita, bahwa tentu ada sesuatu yang kurang wajar telah terjadi. Jika tidak ada persoalan apapun juga yang akan terjadi malam ini, tentu tidak akan ada orang yang melepaskan ilmu sirep. Ilmu yang dapat dipergunakan dengan tujuan yang kurang baik dan dengan sikap yang licik. Karena itu, kita harus berhati-hati.”
Ketiga anak-anak muda itu mengangguk. Sementara Witantra berkata perlahan-lahan, “Kita akan menunggu. Biarlah orang yang bermaksud buruk itu mengira bahwa kita sudah tertidur nyenyak.”
Sekali lagi anak-anak muda itu mengangguk. Tetapi mereka pun mengerti apa yang seharusnya mereka lakukan.
Karena itu, dengan hati-hati anak-anak itu mempersiapkan diri. Bukan saja membenahi pakaiannya, tetapi mereka telah mengambil senjata masing-masing.
Sebagaimana dikatakan oleh Mahendra dan Witantra, bukan mustahil bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak mereka harapkan. Karena mereka pun sependapat, bahwa tidak akan ada seseorang yang melepaskan ilmu sirep jika mereka tidak mempunyai niat yang tidak sewajarnya.
Dengan demikian maka untuk beberapa saat lamanya, kelima orang itu pun duduk dengan diam. Namun sebenarnyalah bahwa mereka telah dicengkam oleh ketegangan. Mereka menunggu apa yang akan terjadi kemudian.
Dalam pada itu, lima orang pula duduk di dalam gelapnya malam di halaman. Mereka pun sedang menunggu perkembangan ilmu sirep mereka. Baru kemudian Wangkot berkata, “Kita akan melihat, apakah usaha kita berhasil.”
“Ya,” jawab Mendu, “kita mengelilingi rumah ini.”
Demikianlah, Wangkot dan Pangeran Indrasunu telah mengelilingi rumah itu dengan putaran ke kanan, sementara Mendu dan kedua orang Pangeran yang lain memutari rumah itu dengan arah ke kiri.
Dengan hati-hati mereka melangkah hampir menyusuri dinding. Bahkan kadang-kadang mereka naik ke serambi untuk mendengarkan, apa masih ada orang yang terbangun di dalam rumah itu.
Ternyata bahwa rumah itu benar-benar telah sepi. Di ruang belakang mereka mendengar dengkur yang keras. Agaknya salah seorang pembantu rumah Mahendra itu sedang tidur mendekur.
Di bagian lain, pembantu yang lain pun telah tertidur nyenyak pula. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang yang berada di luar rumah itu menganggap bahwa tidak seorang pun lagi yang dapat lolos dari pengaruh sirepnya. Di ruang depan, ruang tengah dan ruang belakang bahkan di sebelah menyebelah longkangan tidak lagi terdengar suara seseorang.
Meskipun demikian, kelima orang yang sudah mengelilingi rumah itu pun masih juga menunggu untuk meyakinkan diri, bahwa semua orang sudah tertidur.
Mahisa Murti hampir tidak sabar menunggu dengan duduk berdiam diri untuk waktu yang terlalu lama. Tetapi ketika ia beringsut, ayahnya memandanginya sambil menggeleng, sehingga akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk bangkit.
Namun akhirnya mereka saling berpandangan ketika mereka mendengar desir langkah beberapa orang di seputar rumah itu. Dengan demikian, maka mereka pun menjadi semakin yakin, bahwa memang akan terjadi sesuatu di rumah itu.
Setelah menunggu sejenak dengan kejemuan yang hampir tidak tertahankan, akhirnya Mahisa Murti pun yakin, bahwa yang paling baik dilakukan adalah duduk sambil berdiam diri. Mereka pun kemudian mendengar beberapa orang naik ke pendapa.
“Sudah waktunya,” berkata Wangkot, “kita pecahkan pintu. Tetapi berhati-hatilah, agar suaranya tidak membangunkan orang-orang tua di rumah ini. Setidak-tidaknya Mahendra akan dapat dengan cepat menguasai diri.”
“Jika ia berada di rumah.” sahut Pangeran Indrasunu.
Wangkot mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Aku akan membuka pintu ini.”
Sejenak kemudian ia mulai menjajagi kekuatan selarak pintu pringgitan itu. Baru kemudian, ia mulai mengerahkan kekuatannya. Meskipun ia berbuat dengan hati-hati. Didorongnya pintu kayu itu tanpa menghentakkannya, agar suara yang timbul kemudian tidak terlalu keras dan dapat membangunkan orang-orang yang sedang tertidur nyenyak.
Terdengar selarak pintu itu patah. Kemudian kayu yang patah itu pun terjatuh di lantai.
Derak kayu yang terjatuh itu tidak terlalu keras. Tetapi kelima orang yang berada di pendapa itu tidak berbuat dengan tergesa-gesa. Mereka menunggu sesaat. Jika masih ada orang yang terbangun, maka orang itu tentu akan berbuat sesuatu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir saja meloncat berdiri. Tetapi sekali lagi Mahendra menggelengkan kepalanya, sehingga dengan sorot mata kurang mengerti keduanya tetap duduk di tempatnya.
Tetapi mereka pun kemudian menyadari maksud ayahnya. Mereka akan menunggu sampai orang-orang itu datang ke ruang dalam dan melihat bahwa mereka masih tetap duduk.
Setelah menunggu sesaat, maka akhirnya Wangkot diikuti oleh Mendu dan ketiga orang Pangeran itu, memasuki ruang depan. Dengan hati-hati mereka memperhatikan suasana yang terasa sangat sepi, sehingga dengan demikian mereka pun menjadi semakin yakin, bahwa semuanya memang sudah tertidur.
Wangkot dan Mendu pun kemudian yakin bahwa tugas mereka ternyata tidak seberat yang mereka bayangkan sebelumnya. Karena itu maka Wangkot pun kemudian berkata kepada Pangeran Indrasunu, “Pangeran. Pekerjaan ini sangat menyenangkan. Hadiah yang Pangeran janjikan akan dapat aku terima tanpa menitikkan keringat sama sekali. Kita akan memasuki setiap ruangan. Membunuh penghuni rumah ini, kemudian membawa gadis itu pergi. Bukankah satu pekerjaan yang sangat mudah?”
“Ya,” jawab Pangeran Indrasunu, “tetapi yang mudah itu pun belum kita lakukan.”
Wangkot tertawa. Yang menyahut kemudian adalah Mendu, “Marilah. Kita akan menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat.”
Orang-orang itu pun kemudian memperhatikan keadaan. Mereka melihat pintu di tengah-tengah ruangan. Namun di sebelah menyebelah, masih ada dua pintu lagi yang menuju ke ruangan dalam di belakang senthong tengah, dengan serambi di sebelah menyebelah pula.
“Kita lihat di ruang sebelah.” berkata Wangkot yang melihat bahwa senthong tengah itu ternyata kosong, karena pintunya yang terbuka. Yang terdapat di dalam senthong itu hanyalah perhiasan pembaringan saja.
Lewat pintu samping mereka memasuki sebuah ruang lain. Ruang dalam yang diantarai oleh ruang belakang dan sebuah longkangan kecil berhadapan dengan sebuah bilik lain. Dapur.
Namun demikian mereka melangkahi tlundak pintu ruang dalam, kelima orang itu terkejut bukan kepalang. Ternyata mereka di atas sehelai tikar pandan yang putih bergaris-garis biru.
“Marilah, Ki Sanak.” terdengar suara Mahendra dalam nada yang berat.
Wangkot dan Mendu yang berdiri di paling depan, seolah-olah justru menjadi terbungkam. Sejenak mereka berdiri dengan gigi gemeretak menahan kemarahan yang menghentak-hentak. Mereka merasa, bahwa mereka seolah-olah telah dipermainkan oleh penghuni rumah itu.
“Silahkan, Ki Sanak,” Mahendra mengulang, “mungkin Ki Sanak mempunyai keperluan yang penting, sehingga Ki Sanak telah datang ke pondok kami pada waktu yang kurang pada tempatnya dan dengan cara yang tidak sewajarnya.”
“Persetan,” geram Wangkot, “aku sudah tahu. Ini tentu satu tantangan.”
“Sebenarnya kami mempersilahkan kalian duduk. Nampaknya aku sudah mengenal salah seorang di antara kalian. Pangeran Indrasunu.” berkata Mahendra kemudian.
“Kau tidak usah berbasa-basi,” tiba-tiba Pangeran Indrasunu membentak, “aku sudah mengenal kalian. Kalian pun tentu sudah tahu maksud kedatangan kami. Karena itu, sebaiknya aku berbicara langsung pada pokok persoalannya. Berikan Ken Padmi kepadaku. Semuanya akan cepat selesai.”
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Persoalan itu lagi. Apakah Pangeran masih belum jemu dengan persoalan yang itu-itu saja? Apakah tidak ada persoalan yang lebih penting daripada persoalan Ken Padmi?”
Wajah Ken Padmi menjadi merah. Kepalanya tertunduk dalam-dalam.
“Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin menyentuh namanya, apalagi kulitnya. Tetapi Mahisa Bungalan telah menyakiti hatiku. Jika aku sekarang datang untuk mengambil Ken Padmi, bukan karena aku memerlukannya. Tetapi aku ingin melihat Mahisa Bungalan menderita seumur hidupnya karena Ken Padmi yang disimpannya di rumahnya, akhirnya tidak dapat diambilnya menjadi seorang isteri yang baik.” berkata memotong Pangeran Indrasunu.
“Cukup!” tiba-tiba saja Ken Padmi memotong hampir berteriak. Namun justru karena gejolak perasaannya, suaranya menjadi gemetar dan gagap, “Aku bukan seonggok barang yang dapat diperlakukan semena-mena.”
Tetapi Pangeran Indrasunu tertawa. Katanya, “Kau tidak mempunyai pilihan. Semua orang akan dibunuh. Dan kau akan aku bawa ke tempat yang tidak kau ketahui. Pada saatnya kau memang akan aku kembalikan kepada Mahisa Bungalan. Tetapi ia tidak akan menerimanya lagi. Sementara itu hatinya akan terpecah seumur hidupnya.”
Ken Padmi hampir saja berteriak. Tetapi yang lebih dahulu terdengar justru Mahisa Murti tertawa. Senada dengan suara tertawa Pangeran Indrasunu sendiri. Katanya, “Pangeran memang senang bergurau.”
Sikap dan jawaban Mahisa Murti ternyata sangat menarik perhatian, sehingga justru karena itu, maka Pangeran Indrasunu telah berhenti tertawa. Dengan nada datar ia bertanya, “Kenapa kau tertawa?”
“Seperti Pangeran.” jawab Mahisa Murti, “Asal saja tertawa. Jika mungkin membangkitkan kemarahan pihak lain.”
“Gila,” geram Pangeran Indrasunu, “kau jangan sombong, anak muda. Kali ini aku datang dengan Sepasang Serigala dari padang Geneng. Jika kau berbuat yang aneh-aneh dan membangkitkan kemarahannya, maka nasibmu akan menjadi sangat buruk.”
Tetapi Mahisa Murti masih saja tertawa. Katanya, ”Nasib apapun yang akan menimpa diriku, aku tidak peduli. Tetapi sebagaimana kau ketahui, bahwa kami bukan orang-orang yang dengan pasrah membiarkan diri kami dicerca, dihina dan apalagi dibunuh. Kau sudah tahu itu.”
Kemarahan yang memuncak telah mencengkam jantung Pangeran Indrasunu. Namun yang tidak kalah marahnya adalah Wangkot dan Mendu yang merasa dipermainkan oleh orang-orang itu, justru karena sirepnya tidak dapat melumpuhkan mereka.
Tetapi agaknya keduanya tidak ingin banyak bicara lagi. Mereka ingin segera menyelesaikan pekerjaan mereka yang ternyata tidak semudah yang mereka sangka.
Karena itu, maka Wangkot dan Mendu itu pun kemudian telah bersiaga sepenuhnya. Sambil bergeser maju Wangkot berkata, “Bersiaplah untuk mati.”
Tetapi nampaknya kelima orang yang duduk itu masih saja duduk di tempatnya. Menanggapi sikap Wangkot itu, Mahendra kemudian berkata, “Aku kira kurang menyenangkan untuk bertempur di sini. Ruangan ini tentu terasa terlalu sempit. Karena itu, kami persilahkan kalian keluar. Kita akan bertempur di halaman.”
Wajah Wangkot dan Mendu menjadi sangat tegang. Namun sebelum, keduanya menyahut, Pangeran Indrasunu telah berteriak, “Kami tunggu kalian di halaman.”
Tidak seorang pun yang menjawab. Mereka memperhatikan Pangeran Indrasunu yang melangkah keluar di ikuti oleh kedua orang Pangeran yang lain, sementara Wangkot dan Mendu pun kemudian melangkah juga ke luar betapapun beratnya.
Mahendra dan Witantra kemudian bangkit berdiri diikuti oleh anak-anak muda itu. Dengan nada dalam Witantra berkata, “Berhati-hatilah. Mereka tentu orang-orang berilmu. Pangeran Indrasunu pun cukup berilmu.”
“Aku akan melawannya.” tiba-tiba saja Ken Padmi berdesis.
Mahendra termangu-mangu sejenak. Meskipun kemampuan Ken Padmi maju dengan cepat, namun tentu ia belum sampai pada tataran kemampuan Mahisa Bungalan. Pada puncak ilmunya, Pangeran Indrasunu telah menggetarkan pertahanan Mahisa Bungalan meskipun akhirnya Pangeran Indrasunu harus mengakui kelebihan Mahisa Bungalan.
Karena itu, agar tidak terjadi kesan perang tanding di antara mereka, maka Witantra pun berkata, “Kalian bertiga. Sementara lawan kalian pun bertiga. Aku nasehatkan kepada kalian, bahwa lawan kalian itu pun tentu orang-orang berilmu. Jangan berperang tanding. Mungkin ilmu kalian belum dapat mengimbangi ilmu Pangeran Indrasunu. Tetapi mungkin kemampuan kalian melampaui kemampuan kedua orang anak muda yang lain. Karena itu, biarlah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdua menghadapi Pangeran Indrasunu. Sementara itu, dengan hati-hati Ken Padmi harus memancing dua orang lainnya untuk bertempur menghadapinya. Aku tidak tahu, apakah Ken Padmi memiliki kemampuan mengimbangi keduanya. Jika tidak, maka apakah Mahisa Murti atau Mahisa Pukat harus segera membantu Ken Padmi dengan mengambil salah seorang dari keduanya menjadi lawannya.”
Ken Padmi mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia ingin sekali mencoba menempatkan diri melawan Pangeran Indrasunu. Namun ia pun tidak berani membantah petunjuk Witantra yang berusaha untuk menghindarkan anak-anak muda itu dari kesan berperang tanding, karena Witantra mengetahui bahwa Pangeran Indrasunu itu bukannya orang yang tidak berilmu.
Dengan tidak menimbulkan kesan perang tanding bagi masing-masing anak muda itu, maka kemungkinan pergeseran akan dapat terjadi. Jika mereka terlibat dalam perang tanding, maka mereka akan terikat oleh harga diri, sehingga yang terjadi adalah, membunuh atau dibunuh.
Dalam pada itu, maka Mahendra pun kemudian mengisyaratkan agar mereka menyusul kelima orang itu turun ke halaman.
Demikian mereka keluar dan turun ke halaman, maka kelima orang lawan mereka pun telah bersiap menyongsongnya. Wangkot dan Mendu telah melihat dua orang tua di antara kelima orang penghuni rumah itu. Agaknya mereka harus menghadapi orang-orang itu. Sementara Pangeran Indrasunu pun telah bersiap pula, siapa pun yang harus dihadapinya.
Betapa kecewanya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan keputusan Witantra itu. Mereka berdua harus bertempur berpasangan. Sementara itu Ken Padmi akan mendapat kesempatan untuk bertempur melawan dua orang Pangeran yang lain.
Namun mereka pun tidak dapat membantah. Witantra adalah orang yang memiliki wibawa seperti ayahnya sendiri. Apalagi dalam pada itu, ayah mereka sendiri itu pun sama sekali tidak memberikan petunjuk lain.
“Cepat sedikit,” geram Wangkot, “apakah kalian masih segan untuk mati?”
Mahendra yang mendekatinya menjawab, “Aku sudah tua. Namun untuk mati rasa-rasanya memang masih segan. Apalagi mati oleh tanganmu yang kasar dan liar.”
Wangkot menjadi semakin marah. Dengan serta merta ia pun segera menerkam lawannya, sebagaimana seekor serigala menerkam mangsanya.
Tetapi Mahendra bukannya seekor kelinci di hadapan seekor serigala. Karena itu, maka ia pun segera mengelak dan bahkan sempat menyerang kembali.
Wangkot yang marah itu pun segera bertempur dengan kasarnya sebagaimana orang menyebutnya Serigala dari padang Geneng.
Di bagian lain, Mendu pun telah mulai bertempur melawan Witantra. Namun agaknya Witantra masih sempat memperhatikan anak-anak muda itu. Apakah mereka akan memperhatikan nasehatnya atau tidak.
Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mematuhinya. Dengan serta merta keduanya mendekati Pangeran Indrasunu sementara Mahisa Pukat berkata, “Kami berdua akan bertempur berpasangan. Bukan karena kami tidak berani bertempur seorang lawan seorang, tetapi sementara memberi kesempatan kepada Ken Padmi untuk melawan kedua orang anak muda itu.”
“Persetan!” geram Pangeran Indrasunu. Kemudian Pangeran itu pun berkata, “Adimas Pangeran. Jangan ragu-ragu. Gadis itulah yang akan kalian bawa.”
Kedua Pangeran itu pun menjadi temangu-mangu justru karena Ken Padmi pun telah bersiap menghadapi mereka berdua. Namun keduanya mengakui, bahwa gadis itu memang sangat cantik.
Meskipun demikian, kedua Pangeran itu menjadi heran, seolah-olah gadis itu dengan sengaja telah dihadapkan kepada mereka untuk dengan segera dapat mereka tangkap dan mereka bawa.
“Aku kurang mengerti,” desis salah seorang dari kedua orang Pangeran itu, “apakah yang sebenarnya dikehendaki oleh gadis ini.”
“Apakah ia memang dengan sengaja menyerahkan dirinya?” desis yang lain.
Wajah Ken Padmi menjadi merah padam. Namun demikian ia masih sempat menjawab, “Kita bertemu di arena pertempuran. Kita mempunyai kesempatan yang sama untuk membunuh atau dibunuh.”
“Tetapi kami berdua tidak ingin membunuh.” sahut salah seorang dari kedua orang Pangeran itu. “Kami datang untuk mengambilmu. Sekarang tanpa kami mengerti alasannya, kau sengaja menghadapi kami berdua.”
“Kita akan bertempur.” jawab Ken Padmi.
Tetapi Pangeran itu tertawa. Katanya, “Kami merasa aneh. Kedua orang anak muda itu telah menghadapi kakangmas Pangeran Indrasunu berpasangan. Bagaimana mungkin kau, seorang gadis, harus menghadapi kami berdua. Bukankah ini satu pertanda bahwa kau memang sudah diserahkan kepada kami?”
Kemarahan yang menghentak jantung Ken Padmi rasa-rasanya akan meledakkan dadanya. Justru karena itu, maka tubuhnya pun telah menjadi gemetar.
Mahendra dapat melihat kegelisahan gadis itu. Dan ia pun dapat mendengarkan kata-kata yang dilontarkan oleh kedua Pangeran itu, sehingga ia pun dapat menangkap kegelisahan Ken Padmi. Karena itu, maka katanya, “Ken Padmi. Kau harus tabah menghadapi anak-anak muda yang licik itu. Mereka justru berusaha untuk membuat kau marah dan gelisah sehingga kau kehilangan pengamatan diri menghadapi keduanya dalam pertempuran. Cobalah menilai, betapa liciknya kedua orang anak muda itu.”
“Persetan,” potong salah seorang dari kedua Pangeran itu, “gadis itu sendiri yang menjadi gelisah. Mungkin ia memang berminat untuk menyerahkan diri saja setelah melihat kami berdua.”
“Nah kau dengar,” potong Mahendra, “bukankah mereka lebih banyak bertempur dengan akalnya yang licik.”
“Cukup!” bentak Wangkot yang bertempur melawan Mahendra sambil menyerang dengan garangnya.
Tetapi Mahendra masih sempat meloncat menjauh sambil berkata, “Hati-hatilah, Ken Padmi. Bukan karena senjata lawan. Tetapi karena kata-katanya.”
Wangkot menjadi semakin marah. Ia bergerak lebih cepat dan lebih cepat. Namun Mahendra pun telah menghadapinya sepenuhnya.
Sementara itu, Ken Padmi telah bersiap sepenuhnya. Ia bertekad untuk tidak mau mendengar lagi, apapun yang akan dikatakan oleh kedua orang lawannya. Namun demikian, kedua orang lawannya itu memang sebenarnya menjadi heran menghadapi cara perlawanan seisi rumah itu. Justru karena mereka berdua dihadapkan langsung kepada gadis yang akan mereka ambil. Sesuatu hal yang sama sekali tidak mereka sangka sebelumnya. Apalagi gadis itu langsung menghadapi mereka berdua dalam satu pertempuran.
Sementara itu, ternyata Wangkot telah menyerang Mahendra dengan garangnya. Mendu pun telah terlibat dalam satu pertempuran yang sengit melawan Witantra. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mulai menyerang pula.
“Semuanya sudah bertempur,” berkata salah seorang Pangeran itu, “apakah kita juga akan bertempur?”
Tetapi sebelum Pangeran yang seorang lagi menjawab, maka Ken Padmilah yang telah mulai menyerang mereka.
Serangan pertama Ken Padmi itu ternyata sangat mengejutkan kedua orang Pangeran itu. Ternyata serangan itu datang secepat kilat. Namun agaknya Ken Padmi sendiri masih ragu dengan serangan pertamanya itu, sehingga serangan itu sama sekali tidak mengenai sasaran.
Meskipun demikian, serangan itu merupakan satu peringatan bagi kedua orang Pangeran itu, bahwa Ken Padmi bukan saja seorang gadis yang sangat cantik. Tetapi ternyata ia juga seorang gadis yang berbahaya.
Namun demikian seorang di antara kedua Pangeran itu masih berkata, “Kita bertemu dengan sekuntum bunga mawar. Cantiknya dan harum. Tetapi berduri.”
“Tutup mulutmu!” Ken Padmi hampir berteriak.
Suara Ken Padmi itu mencemaskan Mahendra dan Witantra. Jika Ken Padmi tenggelam dalam kemarahannya, maka ia akan kehilangan pengamatan diri sehingga ia akan bertempur dengan dorongan perasaannya saja.
Namun ternyata kemudian, bahwa Ken Padmi yang marah itu masih tetap menyadari dirinya dalam pertempuran yang terjadi kemudian. Ia dengan mantap menghadapi kedua Pangeran itu.
Ternyata seperti perhitungan Witantra dan Mahendra, maka kemampuan kedua orang Pangeran yang datang bersama Pangeran Indrasunu itu tidak terlalu menggetarkan. Kemampuan mereka tidak setinggi kemampuan Pangeran Indrasunu sendiri.
Tetapi yang lebih penting bahwa mereka tidak terlibat dalam perang tanding yang akan mengikat mengikat mereka meskipun mereka tidak bersetuju lebih dahulu. Harga diri yang berlebihan akan memaksa masing-masing untuk bertempur tanpa mengakui kenyataan seandainya salah seorang di antara mereka sudah menyadari, bahwa ilmunya tidak seimbang.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah meningkatkan ilmu mereka sebaik-baiknya, telah mulai berusaha untuk dengan cepat mengalahkan lawannya. Mereka berusaha untuk memecahkan perhatian dengan serangan-serangan dari arah yang berlawanan. Namun, Pangeran Indrasunu pun masih berusaha untuk mengatasi serangan-serangan itu. Ia memang mampu bergerak cepat, meskipun ia mulai merasa betapa beratnya menghadapi kedua adik Mahisa Bungalan itu.
Tetapi sementara itu, Ken Padmi pun harus memeras kemampuannya. Apalagi ketika kedua orang Pangeran itu mulai bersungguh-sungguh setelah mereka menyadari bahwa gadis itu memang mampu bertempur dengan cepatnya.
Pertempuran di halaman rumah Mahendra itu pun semakin lama menjadi semakin seru. Tetapi tidak seorang pun dari tetangganya yang mendengar keributan itu. Pengaruh sirep di rumah Mahendra itu ternyata telah merembet ke rumah tetangganya, sehingga mereka pun menjadi lelap. Apalagi mereka yang sama sekali tidak mempunyai lambaran ilmu, sehingga dengan demikian rasa-rasanya tidur mereka menjadi sangat lelap seperti pingsan.
Dalam pada itu, Wangkot dan Mendu yang merasa dirinya orang-orang yang tidak terlawan, dengan marah berusaha untuk secepatnya mengakhiri pertempuran. Namun ternyata bahwa mereka telah bertemu dengan orang yang juga memiliki ilmu yang tinggi.
Wangkot yang merasa dirinya mempunyai kekuatan yang sangat besar, telah dengan kasarnya menyerang Mahendra, tanpa memperhatikan perlawanan lawannya. Ia sama sekali tidak pernah merasa perlu untuk menghindari serangan lawannya, karena ia merasa mempunyai daya tahan yang sangat besar. Bahkan beberapa orang yang pernah bertempur melawannya menganggapnya mempunyai ilmu kebal.
Sementara itu Mahendra masih berusaha untuk menjajagi kemampuan lawannya sampai pada tingkat tertinggi. Karena itu, maka ia masih berusaha untuk menyesuaikan tingkat ilmunya mengikuti perkembangan tingkat ilmu lawannya. Tetapi karena Wangkot memang berusaha untuk segera mengakhiri perlawanan Mahendra, maka Wangkot itu pun segera sampai ke puncak ilmunya.
Namun demikian, Mahendra masih ragu-ragu. Ia menduga, bahwa mungkin sekali Wangkot masih mempunyai selapis ilmu lebih tinggi, yang akan dipergunakan pada saat-saat terakhir dari pertempuran itu, apabila waktunya sudah tiba. Karena itu, Mahendra masih selalu berhati-hati agar ia tidak terjebak dalam kelengahannya sendiri.
Namun akhirnya Mahendra menjadi semakin jelas, bahwa lawannya memang sudah sampai ke puncak ilmunya. Ketika Mahendra kemudian menekannya, Wangkot ternyata tidak mampu lagi meningkatkan ilmunya, kecuali ia menjadi semakin kasar dan liar.
Meskipun demikian, namun Mahendra masih harus tetap memperhitungkan segala kemungkinan. Meskipun demikian, ia tidak ingin membiarkan pertempuran itu menjadi semakin berlarut-larut, apalagi ia merasa bertanggung jawab pula atas Ken Padmi.
Witantra ternyata berbuat serupa dengan Mahendra. Dengan demikian Witantra juga selalu memperhatikan Ken Padmi sebagaimana dilakukan oleh Mahendra.
Ternyata Ken Padmi memang merasa terlalu berat untuk bertempur melawan kedua orang Pangeran itu. Tetapi ternyata Ken Padmi cukup cerdik betapapun kemarahan menghentak-hentak dadanya. Ia tidak ingin terlibat dalam kesulitan yang lebih parah. Karena itu, maka sebelum lawannya mempergunakan senjata, Ken Padmi tidak mencabut senjatanya. Karena ia sadar, ia akan mengalami kesulitan yang lebih besar jika ia harus bertempur melawan kedua orang Pangeran itu dengan olah senjata.
Ternyata kedua orang Pangeran itu mempunyai harga diri juga. Justru karena Ken Padmi masih belum mempergunakan senjata, mereka pun merasa segan untuk menarik pedang, meskipun mereka sadar, bahwa bertempur dengan senjata akan lebih menguntungkan bagi mereka.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang memiliki ilmu yang semakin mapan, ternyata harus mengakui, bahwa Pangeran Indrasunu adalah seorang anak muda yang bernilai cukup tinggi. Meskipun Pangeran Indrasunu tidak dapat mengimbangi ilmu Mahisa Bungalan, tetapi melawan kedua adiknya, ia masih sempat juga membalas serangan dengan serangan.
Namun kedua adik Mahisa Bungalan itu telah menerima dasar ilmu sepenuhnya dari jalur ilmu ayahnya, sebagaimana telah diterima oleh Mahisa Bungalan. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum sempat mengembangkannya sebagaimana di lakukan oleh Mahisa Bungalan, serta pengalaman mereka yang masih ketinggalan dari kakaknya.
Meskipun demikian, dengan bertempur berpasangan, maka mereka berdua dapat memadukan ilmu mereka, sehingga dengan demikian, maka kemudian terasa bahwa kedua anak muda adik Mahisa Bungalan itu berhasil menekan lawannya.
Agaknya kedua anak muda itu tidak merasa terikat oleh harga diri sebagaimana kedua Pangeran yang bertempur melawan Ken Padmi, karena lawan kedua adik Mahisa Bungalan itu bukan seorang gadis. Apalagi dalam keadaan yang mendesak, justru Pangeran Indrasunulah yang lebih dahulu menarik pedangnya dari sarungnya.
Dengan demikian maka Pangeran Indrasunu telah mempergunakan ilmu pedangnya untuk melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun ternyata bahwa justru karena ia bersenjata, maka keadaan menjadi gawat. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang memencar, telah mempergunakan setiap kesempatan untuk saling mengisi. Tidak sekedar mempergunakan tangan. Tetapi mereka telah mempergunakan senjata. Kelengahan kecil akan dapat berakibat gawat bagi Pangeran Indrasunu. Dalam pada itu Wangkot menjadi semakin liar. ia masih belum melihat kenyataan tentang dirinya di hadapan Mahendra. Bahwa sebenarnya Mahendra akan mampu mengimbangi apapun yang akan dilakukannya.
Dengan garangnya sambil meloncat. Kemudian kedua tangannya itu terjulur lurus ke depan, seperti seekor serigala yang sedang menerkam mangsanya.
Tetapi yang ditekankan adalah Mahendra. Dengan tangkas Mahendra bergeser menghindar. Namun kemudian dengan kecepatan yang tidak diduga tangannya telah terayun menghantam punggung lawannya yang terdorong oleh kekuatannya sendiri.
Sebenarnyalah bahwa Wangkot memang mempunyai daya tahan yang luar biasa. Namun demikian dorongan tangan Mahendra itu mampu melontarkannya beberapa langkah lebih jauh dari dorongan kekuatannya sendiri, sehingga hampir saja ia telah kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab.
Namun ternyata Wangkot masih berhasil menguasai dirinya. Ia tidak terjatuh, meskipun ia harus mengumpat-umpat. Ternyata bahwa punggungnya juga terasa sakit oleh sentuhan tangan Mahendra. Tetapi sejenak kemudian, sambil menggeram Wakot itu pun sudah siap pula untuk bertempur dengan garangnya.
Dalam pada itu, Mendu pun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Seperti Wangkot, ia tidak menduga, bahwa ia telah dihadapkan kepada seorang yang mumpuni. Yang memiliki ilmu yang tinggi dan bahkan mampu mengimbanginya.
Dengan buas Mendu melibat lawannya ke dalam pertempuran yang kasar. Namun Witantra adalah seorang yang memiliki pengalaman yang sangat luas. Ia telah mengalami benturan ilmu dengan orang-orang yang mempunyai dasar kemampuan yang berbeda-beda. Juga melawan orang-orang kasar seperti Mendu itu. Sehingga dengan demikian, maka Witantra tidak menjadi kebingungan menghadapi lawannya itu.
Pertempuran di antara keduanya pun menjadi semakin dahsyat. Mendu yang kasar dan liar, ternyata membentur kekuatan dan ilmu Witantra yang tangguh dan mapan. Bahkan kekuatan jasmaniah serigala dari padang Geneng itu pun kadang-kadang telah dilawan oleh Witantra dengan benturan kekuatan pula.
Mendu hampir tidak percaya bahwa ada seseorang yang memiliki kekuatan yang melampaui kekuatannya. Tetapi ketika sekali lagi ia meloncat menyerang Witantra, maka dengan sengaja Witantra tidak menghindar, tetapi ia telah membenturkan kekuatannya melawan serangan Mendu itu.
Barulah kemudian Mendu yakin, bahwa Witantra memiliki kekuatan yang luar biasa setelah ia terdorong beberapa langkah surut, dan bahkan hampir saja ia kehilangan keseimbangan, sementara Witantra masih tetap berdiri tegak di tempatnya.
“Anak iblis,” Mendu menggeram, “kau sangka bahwa dengan demikian, kau sudah menang?”
“Aku tidak menyangka begitu.” jawab Witantra.
“Lihat, sebentar lagi kau akan aku koyak menjadi sayatan kulit dan daging.” geram Mendu sambil menarik sebuah pedang yang mempunyai bentuk khusus. Pada punggung pedang itu terdapat semacam duri pandan yang dapat mengait kulit dan daging. Meskipun duri baja itu lembut, tetapi jika menyentuh kulit, maka akibatnya akan menjadi sangat parah.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya lawannya tidak hanya membawa satu jenis senjata. Mungkin dalam keadaan yang berbeda ia akan mempergunakan jenis senjatanya yang lain, karena Witantra melihat beberapa pucuk paser kecil pada ikat pinggang lawannya. Yang tentu saja paser-paser itu diberinya beracun.
Justru karena itu, maka Witantra pun tidak ingin mengalami kesulitan. Ia memang sudah memperhitungkan, bahwa di antara mereka yang telah memasang sirep itu termasuk orang-orang yang berkemampuan. Karena itu, maka ia pun telah bersiap dengan senjatanya. Bukan senjata khusus. Senjata apa saja yang dapat diketemukannya.
Sejenak kemudian, Witantra sudah bersenjata pedang untuk menghadapi senjata lawannya yang mempunyai kekhususan yang mendebarkan itu.
Sejenak kemudian, maka Mendu dan Witantra sudah terlihat dalam perang bersenjata. Dengan garangnya Mendu memutar pedangnya dan melibat lawannya dalam serangan-serangan yang cepat dan keras.
Tetapi ternyata Mendu telah membentur kemampuan ilmu pedang Witantra yang luar biasa, yaitu justru membuat Mendu semakin sulit menghadapinya.
Tetapi Serigala itu sama sekali tidak mengurangi keliarannya. Semakin lama justru menjadi semakin keras dan kasar. Ia berusaha untuk pada suatu saat, melampaui kemampuan perlawanan Witantra terhadap kekasarannya.
Namun demikian, Witantra seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh oleh kekasaran lawannya. Bahkan dengan tenang, Witantra berhasil mendesak lawannya. Ujung pedangnya sekali-sekali berhasil menyusup di antara putaran pedang Mendu, dan bahkan telah menyentuh kulitnya.
“Gila!” geram Mendu yang ternyata bahwa kulitnyalah yang telah berdarah lebih dahulu. Bukan kulit Witantra.
Namun dalam pada itu, ternyata Ken Padmi benar-benar mengalami kesulitan. Meskipun ia masih tetap bertahan untuk tidak bertempur mempergunakan senjatanya, tetapi kedua orang lawannya telah mendesaknya. Benturan-benturan yang semakin sering terjadi, mulai terasa sakit pada kulitnya. Lengannya, pundaknya dan bahkan tengkuknya, telah disentuh tangan lawan-lawannya. Untunglah bahwa kecepatannya bergerak telah dapat membebaskannya dari pengaruh yang lebih parah.
Tetapi jika gadis itu harus bertahan terlalu lama, maka akhirnya ia akan benar-benar dikuasai oleh lawannya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bertempur semakin cepat. Mereka berusaha untuk berpacu dengan waktu yang diperlukan oleh kedua Pangeran yang bertempur melawan Ken Padmi untuk mengalahkan gadis itu.
Sebenarnyalah kedua anak muda adik Mahisa Bungalan itu mempunyai kesempatan yang baik, Namun dalam ilmu tertinggi yang tersalur ke dalam ilmu pedangnya, maka Pangeran Indrasunu memang seorang yang sangat berbahaya. Namun demikian, kedua adik Mahisa Bungalan itu pun telah mengerahkan ilmu puncak mereka, sehingga dengan demikian, maka kerja sama yang sangat rapi dalam ilmu puncak masing-masing, benar-benar membuat Pangeran Indrasunu kehilangan kesempatan untuk menyerang. Kedua anak muda itu dengan tangkasnya berloncatan di seputarnya. Bahkan kadang-kadang saling bertukar arah dan dengan tiba-tiba saja menyambar lawannya.
Betapa Pangeran Indrasunu semakin merasa sulit menghadapi kedua adik Mahisa Bungalan itu. Sehingga dengan demikian, maka Pangeran Indrasunu itu pun semakin lama menjadi semakin terdorong dan terpisah dari arena dalam keseluruhan.
Tetapi Ken Padmi pun telah mengalami nasib yang serupa dengan Pangeran Indrasunu yang mengalami kesulitan itu.
Keadaan Ken Padmi itulah yang kemudian mendorong Mahendra untuk meningkatkan ilmunya. Lawannya, Wangkot telah melihat Mahendra dengan perang senjata pula. Tekanan-tekanan Mahendra terasa terlalu sulit untuk dihindari. Sehingga Wangkot mengharap bahwa ia akan memiliki kelebihan dalam kecepatan menggerakkan senjata. Tetapi Mahendra ternyata seorang yang memiliki ilmu yang mumpuni. Ketika Wangkot mempergunakan goloknya yang besar dan berat, maka Mahendra pun telah menarik pedangnya.
Namun seperti Witantra, dalam keremangan cahaya lampu minyak di pendapa dan di serambi, maka Mahendra melihat sesuatu terselip diikat pinggang lawannya. Dan ia pun menduga, bahwa Wangkot memiliki senjata lontar yang berbahaya.
“Mungkin paser-paser kecil.” desis Mahendra pada saat Ken Padmi dalam keadaan yang sangat berbahaya, maka Mahendra maupun Witantra telah mengerahkan segenap kemampuannya. Mereka tidak lagi berusaha menahan diri. Jika mereka terlambat, maka akibatnya akan parah bagi Ken Padmi. sementara Pangeran Indrasunu masih berusaha untuk bertahan melawan kedua orang lawannya.
Betapapun Mahendra dan Witantra berusaha bertempur dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, namun keliaran lawan mereka telah memaksa keduanya untuk berbuat lebih banyak lagi. Bahkan mereka tidak dapat menghindarkan diri dari usaha untuk melumpuhkan lawannya. Sehingga dengan demikian, maka senjata mereka pun menjadi semakin sering melukai lawan dan bahkan luka yang lebih dalam.
Wangkotlah yang lebih dahulu kehilangan pengamatan. Kemarahannya yang menghentak-hentak dadanya, telah membuatnya benar-benar buas. Karena itu, maka tiba-tiba senjatanya telah berada di tangan kirinya.
Dengan cepat, Mahendra dapat mengerti bahwa lawannya tentu akan mempergunakan senjata lontarnya. Karena itu, maka ia pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan ia telah berusaha untuk bertempur pada jarak yang pendek, sehingga lawannya tidak mendapat kesempatan untuk melontarkan paser-pasernya.
Tetapi Wangkot sempat meloncat menjauh. Terlalu cepat untuk diburu. Bahkan Mahendra pun telah meloncat menjauh pula, ketika ia melihat lawannya telah memungut senjata-senjata lontarnya.
Sejenak kemudian, Wangkot benar-benar telah melemparkan paser-paser kecilnya. Demikian cepatnya sehingga paser-paser itu telah terbang beruntun.
Tetapi Mahendra telah bersiap. Dengan tangkasnya ia meloncat menghindarkan diri dari sambaran paser-paser itu.
Namun Wangkot tidak memberinya waktu. Tangannya dengan cepat terayun. Beberapa paser telah dilontarkannya menyusul paser-paser yang terdahulu.
Mahendra terkejut melihat serangan beruntun itu. Karena itu, maka ia pun harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghindari serangan-serangan itu. Dengan tangkas ia berloncatan dan dengan langkah-langkah panjang.
Namun demikian, paser-paser kecil itu seolah-olah selalu mengejarnya. Hampir saja Mahendra kehilangan kesempatan ketika sebuah paser menyambar dadanya. Dengan cepat ia membungkukkan badannya, namun tiba-tiba sebuah paser yang lain telah menyambar keningnya justru pada saat ia membungkuk.
Tetapi Mahendra tidak mau menjadi sasaran tanpa berbuat sesuatu. Pada saat yang gawat itu, Mahendra justru menjatuhkan dirinya berguling dengan cepatnya mendekat.
Pada saat lawannya sekali lagi memungut paser di ikat pinggangnya, dan siap menggunakannya, tiba-tiba saja Mahendra melenting dengan cepat. Kakinya telah menyambar tangan orang itu, sehingga pasernya terlepas dari tangannya.
Mahendra tidak mau kehilangan kesempatan. Pada saat orang itu sedang menggapai ikat pinggangnya, maka pedang Mahendra telah terayun menyambarnya.
Kemarahan Mahendra nampaknya telah membakar jantungnya. Itulah sebabnya, maka pedangnya telah langsung menyambar pundak lawannya.
Namun Wangkot masih berusaha untuk menghindar. Ia meloncat ke samping, sementara tangannya telah sempat memungut sebuah dari paser-paser yang tersiksa.
Tetapi ternyata Mahendra lebih cepat. Ketika tangan itu terangkat untuk melontarkan pasernya, pedang Mahendra telah terjulur lurus menghujam ke dada orang itu. Yang terdengar adalah keluhan tertahan. Demikian pedang itu ditarik dari dadanya, maka Wangkot pun telah terhuyung-huyung jatuh tertelungkup.
Namun Mahendra tidak sempat menyaksikan apa yang akan terjadi atas lawannya. Pada saat yang demikian, Ken Padmi telah kehilangan kesempatan untuk melawan. Kedua Pangeran yang menghadapinya itu telah berhasil mematahkan perlawanannya. Meskipun Ken Padmi telah bertempur dengan segenap ilmunya, namun menghadapi kedua orang lawan yang tangguh, ternyata ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi.
Pada saat yang gawat dan menggelisahkan itulah, Ken Padmi tidak dapat bertahan lebih lama tanpa mempergunakan senjata. Meskipun ia sadar, bahwa senjata akan menambah bahaya baginya, tetapi akhirnya ia memilih bertempur dengan senjata, meskipun dapat berakibat maut. Baginya lebih baik mati dari pada disentuh oleh ke dua Pangeran yang ternyata mempunyai maksud tertentu itu.
Demikian Ken Padmi menarik pedangnya, maka kedua Pangeran itu tertegun sejenak. Tetapi mereka tidak sempat berpikir lebih lama, karena Ken Padmilah yang kemudian menyerang dengan geramnya.
Tidak ada pilihan lain bagi kedua orang Pangeran itu, selain mempergunakan senjatanya pula. Karena itulah, maka mereka pun segera menarik pedang mereka untuk menghadapi serangan-serangan Ken Padmi.
Ternyata seperti yang diperhitungkan oleh Ken Padmi, justru karena ia telah melihat lawannya dalam perang bersenjata, maka ia telah berada dalam keadaan bahaya yang sebenarnya mengancam jiwanya.
Dari arah yang berlawanan, kedua lawannya telah siap menyerang bersama-sama.
Namun pada saat yang menegangkan itu, mereka telah dikejutkan oleh geram yang patah. Kemudian mereka mendengar rintihan yang dalam.
Di luar sadar, mereka telah berpaling. Ternyata mereka melihat beberapa langkah dari mereka, di arena yang terpisah, mereka melihat Witantra meninggalkan lawannya yang tergolek diam. Suara rintihan itu pun telah terputus pula seperti nafas orang yang terbaring itu.
Kedua orang Pangeran yang bertempur bersama melawan Ken Padmi itu menjadi berdebar-debar. Pada saat itu Mahendra dan Witantra telah kehilangan lawan-lawan mereka. Keduanya hampir bersamaan telah mendekati arena pertempuran antara Ken Padmi melawan dua orang Pangeran itu dari arah yang berbeda.
Ternyata jantung kedua Pangeran itu telah berguncang. Mahendra dan Witantra, telah mampu melampaui kemampuan dan ilmu kedua orang yang menggemparkan tlatah padang Geneng itu.
Dan ternyata kedua orang itu telah melangkah mendekati mereka.
Kedua orang Pangeran itu termangu-mangu. Sementara itu Ken Padmi pun seolah-olah telah membeku pula. Ia tidak ingin berbuat licik meskipun ia merasa kemampuannya tidak akan dapat mengimbangi kedua orang Pangeran itu. Tetapi ia tidak akan mencuri serangan selagi kedua orang Pangeran itu dalam kegelisahan sambil memperhatikan kehadiran Mahendra dan Witantra.
“Pangeran,” berkata Mahendra kemudian, “bukankah kalian berdua juga Pangeran seperti Pangeran Indrasunu?”
Keduanya tidak menjawab. Tetapi terdengar suara Mahisa Murti, “Ya. Pangeran Indrasunu memanggil keduanya dengan sebutan Pangeran pula.”
“Nah, sekarang kalian dapat membuat pertimbangan yang bening,” berkata Mahendra kemudian, “kedua orang yang mungkin kalian anggap akan dapat mengakhiri mimpi kalian, sehingga akan menjadi kenyataan itu ternyata telah kehilangan kesempatan untuk memaksakan kehendaknya atas kami. Ilmu sirepnya telah gagal, dan kemudian ilmunya pun tidak mampu mendukung keliaran dan kebuasannya.”
Kedua orang itu termangu-mangu.
Namun sementara itu terdengar Pangeran Indrasunu berteriak, “Kita bukan pengecut!”
Kedua Pangeran itu menjadi sangat ragu-ragu. Namun suara Pangeran Indrasunu itu telah menghentakkan mereka, sehingga seolah-olah mereka telah mendapatkan keberanian baru.
Namun dalam pada itu, selagi mereka sudah siap untuk menyerang, Mahendra dan Witantra sudah berdiri di pinggir arena, sehingga perhatian kedua Pangeran itu justru kepada Ken Padmi.
Meskipun demikian, Ken Padmi itu masih belum mempergunakan kesempatan itu untuk menyerang. Ia masih berdiri termangu-mangu. Bahkan ia pun telah memperhatikan Mahendra dan Witantra yang berdiri beberapa langkah dari padanya.
“Pangeran,” berkata Witantra kemudian, “kami mohon Pangeran mengerti, apa yang telah terjadi. Mungkin Pangeran adalah salah seorang di antara mereka yang ikut menyerang Kabanaran pada waktu itu. Jika demikian maka kita memang pernah bertemu, setidak-tidaknya pernah berada dalam satu lingkungan.”
Kedua Pangeran itu termangu-mangu. Kembali mereka menjadi ragu-ragu.....
Bersambung..!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar