Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 29-01

PANASNYA BUNGA MEKAR : 29-01
Namun para pengawal itu tidak sekedar melindungi di tempat mereka berhenti. Tetapi dengan berani pasukan berperisai itu justru telah maju sambil melindungi diri mereka, mendekati para pengawal di lapisan pertama yang bersenjata anak panah itu, diikuti oleh para pengawal yang berada di lambung pasukan.

“Luar biasa,” desis Mahisa Bungalan, “mereka adalah pengawal yang berani.”

Namun sementara itu, Mahisa Bungalan tidak tergesa-gesa menarik diri. Pasukan di lapis pertama itu masih tetap menyerang. Mahisa Bungalan mengharap bahwa seorang Senopati di induk pasukan akan dapat mengambil sikap yang cepat dan tepat.

Ternyata bahwa pasukan di lapis berikutnya melihat bahwa ujung pasukan lawan telah menyimpang dari garis serangan untuk mendekati pasukan pengawal yang bersenjata anak panah itu.

Karena itulah, maka ia harus cepat mengambil sikap sebelum pasukan di lapis pertama itu mengalami kesulitan. Apalagi para pengawal di Watu Mas, benar-benar telah dibakar oleh kemarahan karena pada sentuhan pertama, beberapa orang di antara mereka telah menjadi korban.

Senopati itu pun segera memerintahkan pasukan yang ada di padukuhan yang menjadi sasaran itu untuk bergerak dalam gelar yang sudah ditentukan. Gelar yang tidak terlalu lebar, karena jumlah mereka memang tidak terlalu banyak. Namun dengan para pengawal dari padukuhan-padukuhan sebelah menyebelah yang masih akan datang kemudian, Senopati itu berharap akan dapat menghadapi pasukan dari Watu Mas itu.

Tanpa menghubungi Mahisa Bungalan lebih dahulu, maka Senopati dari Kabanaran itu telah memerintahkan pasukannya dengan cepat bergerak maju. Sehingga dengan demikian, maka perhatian lawan pun mulai terpecah.

Tetapi Senopati yang memimpin pasukan dari Watu Mas itu ternyata tidak menarik kembali pasukannya yang dengan sengaja mendekati pasukan di lapis pertama. Mereka mulai mendaki gumuk-gumuk dengan perisai di tangan, sementara yang lain telah mendekati tanggul-tanggul. Sementara itu, justru lambung pasukannyalah yang kemudian bergeser dalam kesatuan gelar untuk menyongsong pasukan dari Kabanaran yang datang menyerang.

Mahisa Bungalan tidak dapat mengambil kebijaksanaan lain. Dengan tegas ia menjatuhkan perintah pada pasukan berpanah itu, “Lepaskan sejauh dapat kalian lepaskan anak panah yang kalian bawa. Kalian akan bertempur dengan pedang di jarak jangkau senjata pendek itu.”

Seperti yang dipesankan itulah, maka para pengawal itu telah menghamburkan anak panah mereka semakin banyak. Tidak saja terarah kepada orang-orang berperisai yang mendekat, tetapi juga melampaui pasukan itu menghujani lambung pasukannya yang sudah siap menghadapi serangan para pengawal di Kabanaran. Sementara itu, para pengawal yang bersenjata panah itu pun tidak menyerang membabi buta. Mereka membidik bagian tubuh lawan yang nampak disela-sela perisai mereka. Bahkan mereka sempat membidik kaki lawan yang dengan demikian dapat membuat mereka menjadi lumpuh.

Namun, meskipun demikian, beberapa orang di antara mereka teringat akan pesan Mahisa Bungalan, bahwa mereka benar-benar harus menarik pedangnya dan bertempur pada jarak jangkau senjata jarak pendek itu.

is serangan, pasukan pengawal Watu Mas. Benturan kedua pasukan itu benar-benar menggetarkan. Bukan saja di lapis pertama, tetapi induk pasukan Kabanaran pun telah membentur induk pasukan pengawal dari Watu Mas.

Dengan demikian, pertempuran di antara kedua pasukan pengawal itu pun telah berkobar. Kedua belah pihak adalah pengawal- pengawal yang terlatih. Sehingga dengan demikian maka pertempuran itu pun segera meningkat menjadi semakin sengit.

Dalam pada itu, jumlah pasukan pengawal dari Kabanaran tidak cukup banyak untuk mengimbangi pasukan dari Watu Mas. Karena itu, maka gelar dari pasukan pengawal dari Kabanaran itu pun segera telah terdesak mundur.

Namun dalam pada itu, mereka yang bertempur melawan pasukan pengawal di lapis pertama, ternyata telah terkejut mengalami perlawanan yang sangat berat. Pasukan itu adalah pasukan yang telah dibentuk oleh Mahisa Bungalan untuk menamakan diri mereka perampok dari perbatasan yang sering memasuki Pakuwon di Watu Mas. Karena itu, mereka adalah para pengawal yang telah mendapat latihan-latihan khusus untuk meningkatkan kemampuan mereka.

Karena itulah, maka keterampilan bermain senjata dari para pengawal di lapis pertama itu telah melampaui kemampuan lawan-lawannya.

Di bawah pimpinan Mahisa Bungalan sendiri, mereka telah melawan para pengawal dari Watu Mas dengan sepenuh kemampuan. Mereka telah meletakkan busur di tangan, dan menggantinya dengan pedang dan yang lain dengan tombak-tombak pendek.

Karena itulah, maka pertempuran menjadi semakin lama semakin dahsyat. Bahkan Mahisa Bungalan yang ikut langsung dalam pertempuran itu telah berhasil mendesak lawannya.

Tetapi sementara itu, induk pasukan pengawal Watu Mas ternyata telah menguasai medan. Pasukan pengawal dari Kabanaran yang jumlahnya tidak sebanyak lawannya telah terdesak.

Namun dalam pada itu, pasukan Mahisa Bungalan yang mendesak lawannya telah mendorong mereka kembali ke induk pasukan. Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan dan pasukannya telah berhasil mengganggu pasukan lawan dari arah lambung, sehingga dengan demikian, pasukan Mahisa Bungalan itu telah menghambat laju pasukan Watu Mas.

“Cegah mereka,” berkata Senopati dari Watu Mas, “dan hancurkan mereka lebih dahulu agar mereka tidak mengganggu laju pasukan kita. Kita akan segera memasuki padukuhan-padukuhan itu. Kita akan menjadikan padukuhan- padukuhan itu karang abang. Baru kemudian kita kembali ke Watu Mas, setelah kita menghancurkan landasan pertahanan dan landasan para pengawal yang merampok ke Pakuwon Watu Mas.”

Beberapa orang pemimpin kelompok dari para pengawal di Watu Mas telah memerintahkan pasukannya untuk berada di lambung. Mereka pun segera memperkuat diri untuk menghancurkan Mahisa Bungalan dan pasukannya.

Sebenarnyalah jumlah yang lebih banyak itu ikut menentukan. Namun para pemimpin dari Kabanaran telah meneriakkan aba-aba, ”Tanah ini adalah tanah kalian. Jangan biarkan orang lain menginjak- injaknya.”

Teriakan itu telah membakar jantung setiap pengawal dari Kabanaran. Mereka pun kemudian mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk menghalau orang-orang Watu Mas yang telah memasuki tlatah mereka.

Tetapi bagaimanapun juga, kemampuan mereka sangat terbatas. Jumlah orang-orang Watu Mas masih terlalu banyak.

Namun dalam pada itu, ternyata pasukan pengawal Kabanaran masih juga mengalir dari padukuhan-padukuhan di sekitarnya. Mereka yang bergegas datang dari tempat yang agak jauh ternyata memerlukan waktu yang agak panjang. Sehingga karena itu, maka mereka tidak dapat datang bersama dengan para pengawal dari padukuhan yang lebih dekat.

Kehadiran para pengawal itu telah menumbuhkan nyala baru di dalam hati para pengawal di Kabanaran yang telah terdesak. Jika mereka terlambat datang, maka korban sudah akan berhamburan.

Ketika terdengar sorak para pengawal yang memasuki arena itu terdengar, maka rasa-rasanya pasukan Kabanaran menjadi segar kembali. Mereka yang telah merasa bahwa tidak ada lagi kesempatan untuk bertahan, telah bangkit dengan harapan baru.

Kehadiran para pengawal itu telah merubah keseimbangan. Meskipun jumlah pasukan pengawal dari Watu Mas masih lebih banyak, tetapi selisih yang sedikit itu tidak terlalu terasa menekan. Dengan gelora perjuangan yang tinggi, maka perbedaan itu seolah-olah telah dapat terurai. Apalagi ketika pada gelombang berikutnya, meskipun hanya sepasukan kecil pengawal di Kabanaran yang datang memasuki arena. Sorak yang membahana benar-benar telah menumbangkan suasana yang berbeda.

Senopati dari Watu Mas yang melihat kehadiran para pengawal di Kabanaran yang bergelombang itu pun menjadi cemas. Jika gelombang itu masih saja berdatangan maka akhirnya jumlah mereka akan menjadi terlalu banyak untuk dilawan.

Meskipun demikian Senopati itu tidak segera mengalami keputusan. Ia masih melihat kemungkinan untuk mendesak pasukan pengawal di Kabanaran.

Dalam pada itu, pasukan dari Watu Mas tidak lagi mempunyai banyak kesempatan untuk menghancurkan pasukan yang menyerang lambung. Mereka harus menghadapi pasukan yang membentur dari depan dengan gelar yang semakin lama menjadi semakin besar.

Mahisa Bungalan yang melihat keadaan itu telah berusaha untuk memanfaatkan keadaan. Dengan pasukannya yang memiliki beberapa kelebihan, Mahisa Bungalan telah menekan lambung.

Semakin lama terasa semakin kuat, sehingga induk pasukan Watu Mas itu tidak dapat mengabaikan lagi.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun menjadi semakin seru. Ternyata pasukan Watu Mas tidak segera dapat mengatasi lawannya.

Bahkan semakin lama, justru karena pasukan Kabanaran menjadi semakin kuat, maka pasukan Watu Mas itu pun mulai merasa betapa membentur pertahanan yang semakin kuat.

Senopati dari Watu Mas telah berusaha dengan kemampuannya. Setiap kali ia meneriakkan aba-aba untuk menambah dorongan gairah perjuangan para pengawal dari Watu Mas. Namun setiap kali para pemimpin pasukan dari Kabanaran pun berbuat serupa pula.

Tetapi betapapun juga, akhirnya ternyata bahwa para pengawal di Kabanaran telah mencapai jumlah yang seimbang. Dengan demikian maka pasukan Watu Mas tidak lagi dapat mendesak seperti yang telah terjadi. Bahkan pertempuran itu mulai berubah ketika pasukan Kabanaran justru berhasil mendesak lawannya.

Mahisa Bungalan yang menyerang lambung pun menekan semakin kuat. Mahisa Bungalan sendiri, dengan kemampuannya yang melampaui kemampuan setiap orang di dalam lingkungan pasukan lawan, telah berada di ujung pasukannya.

Senopati dari Watu Mas mengumpat sejadi-jadinya. Ia tidak memperhitungkan kemungkinan yang demikian. Ia merasa sudah membawa pasukan yang sangat kuat dalam jumlah yang besar. Namun ternyata pasukan Kabanaran telah berhasil menghimpun pengawal dalam jumlah yang mampu mengimbangi, meskipun berangsur-angsur.

“Jika semakin lama jumlah mereka menjadi semakin banyak, maka kami akan mengalami kesulitan.” berkata Senopati itu kepada diri sendiri.

Meskipun demikian Senopati itu masih meyakinkan, bahwa pasukannya akan dapat menekan pasukan Kabanaran.

Tetapi ia tidak berhasil. Pasukan Kabanaran mampu bertahan dan bahkan mendesak pasukan Watu Mas semakin surut.

Senopati dari Watu Mas itu tidak dapat mengabaikan kenyataan itu. Karena itu, ia tidak ingin mengorbankan orang-orangnya lebih banyak lagi. Kegagalan sudah membayang dalam pengamatannya yang tajam atas pertempuran itu dalam keseluruhan.

Karena itu, maka Senopati itu tidak mempunyai pilihan lain. Ia pun segera memberikan isyarat untuk menarik pasukannya, selagi mereka belum terpecah bercerai berai sehingga korban tidak akan jatuh lebih banyak lagi.

Ternyata bahwa pasukan pengawal Watu Mas juga memiliki ikatan yang kuat. Isyarat itu tidak memecah pasukan Watu Mas untuk meninggalkan medan mencari hidup sendiri-sendiri. Tetapi mereka mundur dalam kesatuan yang utuh.

Para pengawal dari Kabanaran berusaha untuk mendesak dan memecah mereka. Tetapi tidak berhasil. Pasukan Watu Mas tetap merupakan kesatuan yang justru telah menyempit sambil menarik diri.

Akhirnya, Mahisa Bungalan yang membicarakannya dengan pemimpin pengawal dari Kabanaran berpendapat bahwa pasukan pengawal dari Kabanaran tidak perlu mengejarnya terus. Mereka pun akhirnya melepaskan pasukan Watu Mas itu menghilang ke dalam hutan dengan meninggalkan beberapa orang korban yang terbunuh dan terluka parah.

Sebagaimana pasukan yang memiliki paugeran yang kuat, maka para pengawal di Kabanaran tidak berbuat sekehendak mereka sendiri terhadap orang-orang Watu Mas. Yang terluka pun telah mendapat perawatan. Sedang yang terbunuh telah diselenggarakan sebagaimana seharusnya.

Namun dalam pada itu, yang terjadi merupakan satu pengalaman. Para pengawal yang berpencar, kadang-kadang menimbulkan kesulitan pula. Pada saat-saat yang gawat, jika terjadi sedikit kelambatan akan berarti kehancuran.

“Kita harus meninjau lagi cara-cara yang ditempuh Kabanaran untuk menjaga perbatasan.” berkata Mahisa Bungalan kepada Senopati dari Kabanaran.

“Kita akan melaporkannya kepada Akuwu.” berkata Senopati itu.

Namun dalam pada itu, penghubung-penghubung berkuda pun telah menebar. Mereka memberikan laporan kepada para Senopati yang berada di perbatasan. Bahwa perang yang sebenarnya sudah dimulai. Pasukan Watu Mas benar-benar telah mulai menyerang Kabanaran.

Para penghubung itu pun telah memberikan laporan terperinci mengenai jalannya pertempuran, sehingga dengan demikian maka para penghubung itu telah menyampaikan pesan, bahwa pasukan Kabanaran harus bersiap-siap melawan pasukan Watu Mas yang datang dalam jumlah yang besar.

“Serangan pertama itu telah mengejutkan kami,” pesan Senopati Kabanaran itu kepada para Senopati yang lain, “untunglah bahwa pasukan kami pun akhirnya mencapai jumlah yang seimbang. Tetapi jika terjadi kelambatan, maka akan binasa.”

Dengan demikian, maka para Senopati itu telah mendapat gambaran, apa yang telah terjadi. Apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Watu Mas.

“Mereka memang bersungguh-sungguh.” berkata salah seorang Senopati kepada para pengawalnya. “Karena itu, maka kita pun harus bersungguh-sungguh pula.”

Dalam pada itu, pasukan Watu Mas yang mundur pun ternyata telah membuat laporan terperinci kepada Akuwu di Watu Mas. Mereka menggambarkan, bahwa semua pasukan di perbatasan, telah dipenuhi dengan para pengawal dari Kabanaran.

“Mereka mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.” berkata Senopati yang memimpin pasukan Watu Mas menyerbu Kabanaran. Lalu, “Untuk selanjutnya kita harus memperhitungkan keadaan sebaik-baiknya.”

Dengan demikian, maka Akuwu di Watu Mas dan Akuwu di Kabanaran telah mendapat gambaran tentang benturan pertama antara pasukan Watu Mas dan pasukan Kabanaran. Mereka mulai menilai apa yang terjadi sebenarnya antara kedua Pakuwon yang bertentangan itu.

Dalam keadaan yang demikian, maka Akuwu di Kabanaran telah datang langsung ke perbatasan. Dipanggilnya para Senopati untuk membicarakan persoalan yang mereka hadapi.

Dalam pertemuan itu hadir juga Mahisa Bungalan yang meskipun bukan seorang Senopati dari Pakuwon Kabanaran, namun ia telah banyak memberikan bantuan yang sangat besar sejak pergolakan yang terjadi di Pakuwon itu.

“Kita harus menilai keadaan dengan sungguh-sungguh.” berkata Akuwu Suwelatama.

Ternyata bahwa para Senopati telah bertekad untuk mempertahankan Pakuwon Kabanaran dengan segenap kemampuan yang ada. Jika pergolakan itu bermula dari tingkah laku para pengawal Pakuwon Watu Mas yang melindungi para perampok yang datang dari Watu Mas dan melakukan kejahatan di Kabanaran, maka yang berkembang selanjutnya adalah permusuhan yang benar-benar antara kedua Pakuwon itu.

“Akuwu di Watu Mas sama sekali tidak bersedia dan melihat persoalannya dengan sungguh-sungguh,” berkata Akuwu Suwelatama, “karena itu, persoalannya tidak dapat dibatasi pada persoalan yang sebenarnya. Tetapi kita sudah bertekad bahwa Kabanaran tidak akan membiarkan daerahnya menjadi sasaran kejahatan dan pemerasan oleh para penjahat yang mendapat perlindungan di Watu Mas.”

“Nampaknya Pangeran Indrasunu juga harus ikut dipersoalkan.” berkata salah seorang Senopati.

Akuwu Suwelatama menarik nafas panjang. Dipandanginya Mahisa Bungalan sekilas. Namun nampaknya Mahisa Bungalan hanya menundukkan kepalanya saja.

Agaknya kekecewaan dan dendam yang membara di hati Pangeran yang masih muda itu, telah menghentak-hentaknya sehingga ia akan memanfaatkan peristiwa yang manapun juga untuk sekedar melepaskan sakit hatinya tanpa memilih sasaran. Ia telah berbuat tanpa tujuan tertentu, selain menimbulkan kegelisahan, bahkan benturan-benturan kekuatan dan kekacauan di mana-mana.

“Tetapi kita tidak akan membiarkan bumi kita menjadi sasaran dendamnya,” berkata seorang Senopati, “kita sudah pernah menjadi korbannya. Kabanaran pernah dikacaukannya sehingga Akuwu harus meninggalkan istana Pakuwon Kabanaran. Apakah kita masih akan membiarkan hal yang serupa itu terulang lagi?”

”Kini ia memperalat Akuwu di Watu Mas,” sahut Senopati yang lain, “tetapi Watu Mas sendiri memang telah ditumbuhi perasaan dengki atas perkembangan Kabanaran.”

Akuwu Suwelatama yang mendengarkan setiap pendapat Senopatinya dengan sungguh-sungguh dapat mengambil kesimpulan, bahwa pasukan pengawal Pakuwon Kabanaran benar-benar telah siap menghadapi segala kemungkinan. Mereka bersedia berbuat apa saja bagi kepentingan Pakuwon mereka, bahkan sampai mengorbankan hidup mereka.

Karena itu, maka akhirnya Akuwu berkata, “Aku mengucapkan terima kasih. Kita akan mempertahankan kampung halaman ini dengan segenap kemampuan yang ada pada kita.”

“Akuwu,” berkata salah seorang Senopati, “kita tidak terikat oleh segala macam paugeran yang menyangkut hubungan antara kedua Pakuwon ini justru karena Watu Mas sudah menyerang Kabanaran. Karena itu, jika perlu, kita akan dapat menghancurkan Watu Mas di sarang mereka sendiri, agar mereka tidak lagi mampu menyerang Kabanaran.”

“Kita akan melihat segala macam perkembangan keadaan,” berkata Akuwu Suwelatama, “tetapi apabila perlu dan memungkinkan, kita akan melakukannya.”

Dengan demikian, maka sikap Kabanaran telah tegas. Mereka akan bertempur. Bahkan jika perlu merekalah yang akan memasuki Watu Mas. Bukan hanya sekedar menunggu serangan dari Watu Mas.

Dalam pada itu, Akuwu Watu Mas pun telah menilai keadaan. Serangan mereka yang pertama, yang tidak memberikan gambaran yang cerah bagi kelebihan Watu Mas, membuat Akuwu di Watu Mas menjadi sangat kecewa.

”Seharusnya kalian membuat perhitungan yang lebih cermat.” berkata Akuwu di Watu Mas kepada Senopati yang memimpin serangan itu.

“Kami terjerat karena kami tidak mengamati setiap padukuhan di sebelah hutan di perbatasan itu.” jawab Senopati yang memimpin serangan itu.

“Orang-orang Kabanaran merasa dirinya mendapat kemenangan. Karena itu, pada suatu saat yang pendek, kalian harus dapat menebus kekalahan itu.” berkata Akuwu lebih lanjut.

“Sebenarnya kami tidak kalah,” jawab Senopatinya, “tetapi dalam keseimbangan yang demikian, mereka akan mendapat kesempatan lebih banyak untuk mendapatkan bantuan. Karena itu, maka kami pun menarik diri. Kami tidak terpecah dan lari bercerai berai. Tetapi kami memang mengundurkan diri.”

“Bukankah kalian mengakui, bahwa persiapan orang-orang Kabanaran cukup baik? Dan kalian berpendirian bahwa untuk selanjutnya kalian harus memperhitungkan keadaan sebaik-baiknya?” bertanya Akuwu di Watu Mas.

Senopati itu mengangguk sambil menjawab, “Ya, Akuwu.”

“Bukankah itu merupakan satu pengakuan, bahwa yang kalian lakukan sebelumnya untuk memperhitungkan keadaan masih kurang?” bertanya Akuwu pula.

Senopati dari Watu Mas itu mengangguk lagi sambil menjawab, ”Ya, Akuwu.”

“Nah, jika demikian, maka kita harus memperhitungkan segala-galanya.” berkata Akuwu di Watu Mas.

Dalam pada itu, maka pada waktu-waktu berikutnya, kedua belah pihak telah mempersiapkan diri semakin ketat. Pasukan Kabanaran dan pasukan Watu Mas menjadi se makin banyak berada di perbatasan.

Namun yang terjadi kemudian adalah sekedar persiapan-persiapan. Sekali-sekali terjadi pertempuran-pertempuran kecil antara para peronda dari Watu Mas dengan para peronda dari Kabanaran.

Sementara itu, Akuwu dari Watu Mas telah membuat rencana yang lebih terperinci untuk memasuki daerah Kabanaran. Mereka memusatkan pasukannya pada sisi yang lain dari garis serangannya yang pertama. Pasukannya yang terbaik telah dikumpulkan dipimpin oleh para Senopati yang terbaik pula.

Dan di antara mereka terdapat Pangeran Indrasunu.

“Pasukan Watu Mas terlalu kuat bagi Kabanaran,” berkata Pangeran Indrasunu, “kami pernah memasuki Kabanaran dan mendudukinya. Tetapi kami sama sekali tidak bermaksud apa-apa kecuali sekedar memperingatkan Akuwu di Kabanaran agar menyadari dirinya. Setelah kami melihat dan meyakini bahwa Akuwu di Kabanaran telah melihat kenyataan dirinya, betapa kecilnya Kabanaran, sehingga tidak akan mungkin menunjukkan kesombongannya lagi, kami telah meninggalkan kota Pakuwon itu.” Pangeran Indrasunu berhenti sejenak, lalu, “Aku tidak menyangka sama sekali bahwa Akuwu di Kabanaran akan dijangkiti lagi oleh penyakitnya yang lama. Kesombongannya itulah yang pada suatu saat tentu akan menghancurkan dirinya sendiri.”

“Kami sudah berusaha menahan diri.” berkata Akuwu di Watu Mas.

“Ya, tentu,” jawab Pangeran Indrasunu, “semua orang mengerti, bahwa Kabanaran telah berusaha menghancurkan Watu Mas dengan caranya yang licik, seolah-olah Watu Mas telah dilanda oleh kejahatan.”

“Kami tidak dapat tinggal diam.” berkata Akuwu di Watu Mas.

“Itu adalah sikap jantan. Karena itu, aku membawa pasukan yang meskipun tidak cukup banyak, tetapi akan dapat membantu memberikan kesadaran sedalam-dalamnya kepada Akuwu di Kabanaran. Kita tidak boleh mengulangi kesalahan yang pernah aku lakukan, seolah-olah sikap Akuwu di Kabanaran telah berubah. Ternyata bahwa aku telah dijebak oleh sikapnya yang pura-pura.” berkata Pangeran Indrasunu.

Akuwu di Watu Mas mengangguk-angguk. Senopati yang mendengar pembicaraan itu pun mengangguk-angguk pula.

Namun sebenarnyalah ada di antara mereka yang tidak memahami pembicaraan itu. Mereka sama sekali tidak melihat kesombongan Akuwu di Kabanaran. Beberapa orang Senopati melihat, bahwa Akuwu di Watu Maslah yang menolak untuk berbicara, meskipun Akuwu di Kabanaran dengan rendah hati sudah bersedia datang.

Selebihnya, ada juga satu dua orang Senopati yang dengan tajam mengamati beberapa orang kawannya yang berada di perbatasan telah bekerja sama dengan segerombolan perampok yang sering memasuki daerah Kabanaran. Bahkan perampok-perampok itu telah membuat Kabanaran menjadi bingung dan kehilangan pegangan menghadapinya. Para pengawal di Kabanaran tidak diperkenankan menumpas perampok itu langsung ke sarangnya yang berada di daerah Watu Mas. Sementara itu, para pengawal di Watu Mas ikut menikmati hasil kejahatan yang didapat oleh para perampok itu.

Tetapi mereka terikat pada janji setia kepada Akuwu dan Pakuwon di Watu Mas, sehingga apapun juga yang dikatakan oleh Akuwu akan mereka lakukan sebaik-baiknya. Demikian juga mereka tidak akan ingkar apabila mereka mendapat perintah untuk menyerang Kabanaran.

Dengan demikian, maka persiapan untuk menyerang dengan pasukan yang besar itu pun dilaksanakan dengan teliti. Beberapa orang petugas sandi telah berusaha untuk melihat padukuhan-padukuhan di belakang hutan perbatasan. Mereka memang menemukan padukuhan-padukuhan itu hampir kosong. Yang ada di padukuhan-padukuhan itu adalah para pengawal.

Dengan cermat, para petugas sandi dari Pakuwon Watu Mas itu berusaha untuk mengetahui jumlah para pengawal yang berada di padukuhan di belakang garis perbatasan itu. Mereka memperhitungkan waktu yang diperlukan oleh para pengawal itu untuk berkumpul dalam satu gelar yang memadai untuk melawan gelar pasukan pengawal di Watu Mas.

Dengan dasar perhitungan-perhitungan itulah maka Akuwu di Watu Mas telah menentukan, bahwa serangan berikutnya akan dilakukan dari landasan yang telah ditentukan itu. Pasukan Watu Mas akan dibantu oleh pasukan yang dipimpin langsung oleh Pangeran Indrasunu. Meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, tetapi para cantrik dari padepokan itu memiliki bekal ilmu yang lebih baik dari para pengawal, karena cantrik-cantrik itu memang dipersiapkan untuk menjadi seorang yang berilmu tinggi.

Hari-hari yang merambat terus, ditandai oleh persiapan yang semakin mapan. Bahkan akhirnya Akuwu di Watu Mas yang melihat sendiri persiapan itu berkata, “Berdasarkan pengamatan para petugas sandi dan perhitungan para Senopati, maka pasukan ini akan dapat melakukan tugasnya. Menghancurkan satu kubu pertahanan Pakuwon Kabanaran. Kemudian kembali ke pangkalan.”

Saat yang demikian itulah yang telah ditunggu-tunggu oleh para pengawal. Mereka sudah mempersiapkan diri beberapa lama serta mendapat keterangan tentang kedengkian orang-orang Kabanaran sehingga kebencian mereka telah memuncak. Apalagi karena mereka telah mendapat keterangan pula tentang kekalahan yang pernah dialami oleh para pengawal dari Watu Mas sehingga mereka terpaksa kembali membawa kegagalan pada saat mereka menyerang Kabanaran.

Demikianlah, maka segala sesuatunya sudah dipersiapkan. Pemusatan pasukan dan persiapan-persiapan yang lain telah diperiksa dengan teliti sehingga tidak akan ada yang mengecewakan lagi. Beberapa pedati telah membawa peralatan perang untuk mengganti apabila peralatan mereka rusak. Sementara yang lain membawa perbekalan apabila mereka perlukan. Karena Akuwu memerintahkan menghancurkan satu kubu pertahanan, sehingga perlawanan mereka berhenti sama sekali. Mungkin sehari, tetapi mungkin dua atau tiga hari.

“Serangan ini adalah serangan yang sebenarnya. Dengan demikian kami akan menunjukkan kemampuan Watu Mas. Untuk selanjutnya Kabanaran tidak akan berani menyombongkan diri lagi.” berkata Akuwu di Watu Mas.

Dalam pada itu, maka Akuwu di Watu Mas dan para Senopati telah menentukan bahwa dua hari lagi mereka akan berangkat melewati perbatasan dan memecahkan kubu pertahanan orang-orang Kabanaran. Selanjutnya mereka akan menarik diri kembali ke pangkalan.

“Kami masih belum akan menduduki satu jengkal tanah pun di Kabanaran,” berkata Akuwu Watu Mas, ”jika saatnya datang, kami akan memasuki Kabanaran dan menduduki kota Pakuwon serta istana Akuwu Kabanaran yang sombong itu.”

Namun dalam pada itu, betapapun orang-orang Watu Mas merahasiakan rencana serangan mereka, namun para petugas sandi dari Kabanaran dapat mencium pula persiapan-persiapan besar-besaran yang telah mereka lakukan. Dengan berani beberapa petugas sandi dari Kabanaran telah berhasil melihat beberapa pedati yang dipersiapkan. Sementara itu mereka pun telah melihat pasukan yang kuat di perbatasan.

Karena itulah, maka mereka pun segera melaporkan ha itu kepada para Senopati di Kabanaran. Sehingga dengan demikian maka para Senopati di Kabanaran segera bertindak dengan cepat.

Menurut perhitungan para Senopati di Kabanaran, maka padukuhan yang menjadi sasaran serangan itu adalah padukuhan yang dipergunakan untuk mengendalikan kekuatan dari Pakuwon Kabanaran untuk daerah yang panjang di perbatasan. Dengan menghancurkan tempat itu, maka pasukan di Watu Mas akan dapat menguasai padukuhan yang penting di perbatasan.

Dengan demikian, maka Kabanaran pun telah mempersiapkan diri menghadapi arus banjir bandang yang akan menimpa pasukannya.

Akuwu yang langsung memimpin persiapan itu telah memerintahkan untuk menilik semua pasukan di perbatasan. Mungkin persiapan itu hanya sekedar untuk memancing perhatian yang kemudian akan dilakukan sergapan lewat bagian yang lain. Namun ternyata bahwa di tempat lain, tidak nampak persiapan yang dapat menumbuhkan kecurigaan apapun.

Dengan demikian maka Akuwu dan para Senopati berpendapat bahwa pertahanan terkuat akan diletakkan di padukuhan yang terpenting itu.

Beberapa Senopati pilihan telah ditarik dari daerah pertahanan dan diletakkan di sekitar padukuhan terpenting itu termasuk Mahisa Bungalan, yang meskipun bukan seorang Senopati dari Pakuwon Kabanaran, namun ia ternyata memiliki kemampuan melampaui para Senopati.

Demikianlah, dua kekuatan yang besar telah berhadap-hadapan. Kabanaran yang berhasil menduga jumlah pasukan lawan, telah mempersiapkan sejumlah itu pula. Bahkan Akuwu Kabanaran telah menghimpun pasukan cadangan, karena daerah perbatasan itu tidak akan dapat menarik semua pengawal yang ada di Kabanaran. Daerah perbatasan yang panjang masih tetap memerlukan pengawasan, sementara di seluruh Pakuwon keamanan dan perlindungan masih tetap diselenggarakan sebaik-baiknya.

Karena itu, maka anak-anak muda yang telah mengikuti latihan singkat namun mencukupi, telah dipersiapkan pula. Mereka tidak akan langsung dilibatkan dalam pertempuran. Namun pada saat tertentu, jika keadaan memaksa, mereka pun akan terlibat pula.

Karena itulah, maka dalam kesempatan yang sempit itu, pasukan cadangan itu pun, telah mempergunakan waktu mereka untuk memperdalam olah kanuragan.

Dalam pada itu, ternyata pasukan Kabanaran berhasil mengumpulkan pasukan pengawal sejumlah yang diperlukan. Bahkan mereka telah menempatkan para pengawal itu di padukuhan yang akan menjadi sasaran, siap untuk menyusun gelar.

Demikianlah pada hari yang sudah ditentukan, maka pasukan Watu Mas pun telah mempersiapkan diri. Pada tengah malam, pasukan segelar sepapan telah menyusun barisan. Mereka akan memasuki hutan perbatasan dan muncul di daerah Kabanaran pada saat matahari mulai memanjat langit.

Dengan obor pasukan Watu Mas memasuki hutan di perbatasan. Namun karena hutan itu bukan hutan yang pepat dan padat, maka mereka tidak banyak mengalami kesulitan di perjalanan. Bahkan menelusuri jalan setapak, pedati-pedati mereka dapat menyusup di antara pepohonan.

Dengan gempita pasukan itu sama sekali tidak mencemaskan,bahwa kehadirannya akan mengalami perlawanan yang memadai. Mereka menganggap bahwa pasukan Kabanaran di perbatasan tidak akan dapat mengimbangi jumlah mereka, meskipun orang Kabanaran mengetahuinya.

Bahkan menurut rencana mereka, pasukan dari Watu Mas itu akan berhenti sejenak, di seberang hutan perbatasan. Mengatur diri dalam gelar perang yang sempurna. Kemudian menempatkan beberapa bagian orang orang mereka untuk mempersiapkan perbekalan dalam satu perkemahan. Sementara pasukan yang lain akan maju memasuki padukuhan-padukuhan terpenting di daerah Kabanaran.

“Kita siapkan tenaga cadangan sebaik-baiknya,” berkata Senopati yang memimpin serangan itu, “kita tidak boleh kehilangan kekuatan justru setelah kita mengerahkannya pada benturan yang pertama. Tenaga cadangan itu harus dapat digerakkan setiap saat diperlukan.”

Iring-iringan dari Watu Mas dengan diterangi oleh berpuluh-puluh obor itu ternyata telah menggemparkan penghuni-penghuni hutan. Binatang-binatang salang tunjang. Burung-burung di pepohonan menjadi kebingungan.

Namun api-api obor itu sama sekali tidak mengganggu, binatang-binatang yang ketakutan itu.

Menjelang fajar, iring-iringan itu benar-benar telah keluar dari hutan perbatasan. Seperti yang mereka rencanakan, maka mereka pun segera membangun perkemahan. Pedati-pedati yang mereka bawa segera mereka tempatkan pada sisi sebelah menyebelah. Sekelompok dari antara para pengawal yang ditunjuk menjadi pasukan cadangan itu pun akan menjaga perkemahan. Selain tugasnya itu, maka pada saat tertentu jika diperlukan, maka pasukan cadangan ini pun akan turun ke arena.

Ternyata obor-obor yang muncul dari dalam hutan itu telah dilihat oleh para pengawas dari Kabanaran. Mereka pun segera melaporkan, bahwa pasukan lawan telah menyeberangi hutan perbatasan.

“Mereka kini bersiap-siap di pinggir hutan. Mereka telah membuat perkemahan dengan beberapa buah pedati yang mengangkut perbekalan dan senjata.” berkata pengawas itu.

“Mereka siap untuk melakukan perang berjangka.” berkata Senopati dari Kabanaran. Lalu, “Baiklah. Kita harus mengimbangi. Dalam pada itu, pasukan cadangan kita pun harus mendapat tempaan yang sebaik-baiknya. Lahir dan batin.”

Menjelang fajar, pasukan Kabanaran pun telah disiapkan pula dalam gelar. Jumlah mereka cukup memadai. Jika kedua pasukan itu bertemu, maka keduanya akan memiliki kekuatan yang seimbang.

Namun dalam pada itu, selagi semua perhatian dari Watu Mas dan Kabanaran ditujukan kepada pertempuran besar-besaran itu, maka Akuwu di Kabanaran pun telah bertindak cepat. Ia tidak melupakan sumber pertikaian.

Dengan cepat ia menghimpun para pengawal di sisi yang lain yang berhadapan dengan hutan perbatasan yang menyimpan sarang para perampok yang sering memasuki daerah Kabanaran.

Menurut perhitungan para pengamat, jumlah perampok itu sebenarnya tidak begitu banyak, sehingga mereka akan dapat dengan segara diselesaikan.

Karena itu, dengan jumlah yang tidak terlalu banyak, Akuwu sendiri akan memimpin pasukan itu, sementara ia menyerahkan kepada seorang Senopati tua untuk menampung segala persoalan yang timbul. Juga persoalan yang timbul di daerah pertempuran melawan orang-orang Watu Mas.

“Siapkan sekelompok penghubung berkuda,” berkata Akuwu, “mereka akan menghubungi aku setiap saat di daerah perbatasan. Aku akan selalu memberikan keterangan tentang pasukanku.”

Demikianlah, Kabanaran telah membuka dua garis pertempuran. Namun agaknya menurut perhitungan Akuwu Suwelatama, segalanya akan diselesaikan sebaik-baiknya.

Pada saat yang bersamaan dengan gerakan pasukan Watu Mas, Akuwu Suwelatama memasuki hutan perbatasan langsung menuju ke sarang perampok yang mendapat perlindungan dari para pengawal. Namun agaknya para pengawal dari Watu Mas sedang memusatkan perhatiannya kepada pertempuran yang bakal pecah karena pasukan Watu Mas telah menusuk langsung ke dalam daerah Kabanaran dibantu oleh Pangeran Indrasunu yang masih saja selalu dibakar oleh dendam dan kecewa.

Pada saat yang hampir bersamaan pula, kedua pasukan itu memasuki garis perang meskipun dalam ujud yang berbeda. Pasukan Watu Mas yang segelar sepapan telah mendekati pusat pertahanan pasukan Kabanaran dalam gelar yang utuh. Mereka telah membuka gelar Garuda Nglayang dengan rangkaian kebesaran. Umbul-umbul, rontek dan panji-panji kebesaran Pakuwon Watu Mas telah dipasang di induk pasukannya. Sementara pada sayap gelar, Senopati pengapit telah mengibarkan panji-panji dengan tunggul masing-masing pasukan.

Para pengawas dari Kabanaran yang selalu mengikuti gerak pasukan Watu Mas itu pun selalu memberikan laporan terperinci. Sementara itu, pasukan Kabanaran pun telah turun dengan tanda-tanda kebesarannya pula, karena para Senopati sadar, tanda-tanda kebesaran itu akan memberikan pengaruh jiwani kepada para pengawal.

Demikianlah, kedua belah pihak menjadi berdebar-debar. Ketika matahari mulai memanjat langit, maka mereka pun mulai melihat dengan jelas, pasukan yang akan dihadapi.

Pasukan Kabanaran telah membuka gelar Sapit Urang untuk mengimbangi gelar lawannya yang melebar. Tetapi Kabanaran meletakkan sayap pasukannya agak ke depan. Kabanaran cukup percaya kepada para pengawal yang dipimpin oleh para Senopati pengapit.

Dalam pada itu, di induk pasukan Kabanaran terdapat pula Mahisa Bungalan.

Yang terdengar kemudian adalah gempitanya pasukan kedua belah pihak yang bersorak menjelang benturan kedua kekuatan itu. Para Senopati dan para pengawal telah menggenggam senjata masing-masing dan siap untuk bertempur.

Pada saat yang demikian itulah, Akuwu Suwelatama yang memimpin sendiri pasukannya yang tidak begitu besar, tetapi yakin dan percaya akan kemampuan diri sendiri, telah mendekati sarang para perampok yang memang sudah diketahui sebelumnya. Namun karena sarang perampok itu terletak di Pakuwon Watu Mas dan selalu mendapat pengawasan dari para pengawal di Watu Mas, maka para pengawal dari Kabanaran tidak dapat mencapainya, karena Kabanaran masih selalu menjaga diri, menghindari benturan kekuatan dengan Watu Mas. Namun karena persoalannya sudah semakin menjalar, maka Kabanaran tidak lagi merasa wajib untuk mengekang diri.

Sebenarnyalah sebagian besar para pengawal perbatasan Watu Mas telah ditarik dan dihimpun di dalam satu barisan yang besar. Pengawal yang tersisa, sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan gerakan pasukan pengawal Kabanaran memasuki Watu Mas di bagian lain dari perbatasan itu, dan langsung menusuk ke sarang para perampok yang untuk beberapa lamanya selalu mendapat perlindungan mereka para perampok itu selalu memberikan sebagian dari hasil mereka kepada para pengawal perbatasan yang mencegah pasukan pengawal Kabanaran mengejar mereka.

Namun pada saat itu, para perampok itu tidak berada di bawah perlindungan para pengawal yang sedang sibuk. Pengawal yang tersisa tidak terlalu banyak dan tidak menduga sama sekali bahwa Akuwu Suwelatama sendiri telah memasuki daerah Watu Mas.

Kehadiran para pengawal dari Kabanaran itu benar-benar telah mengejutkan para perampok yang merasa dirinya tidak dapat diganggu gugat. Bahkan para perampok itu pun mengerti, bahwa di bagian lain di perbatasan itu telah terjadi pertempuran yang besar antara pasukan pengawal perbatasan Watu Mas melawan pasukan perbatasan Kabanaran. Bahkan pemimpin perampok itu telah menghitung kemungkinan untuk memancing di air keruh. Selagi para pengawal terlibat dalam pertempuran besar, yang menurut perhitungannya tidak akan dapat diselesaikan dalam waktu dua tiga hari, maka ia akan dapat membawa para pengikutnya untuk memasuki Kabanaran dan merampok tanpa rintangan.

Namun tiba-tiba saja, selagi para perampok itu beristirahat tanpa memikirkan apapun juga, seorang di antara mereka yang kebetulan berada di luar sarang mereka, telah berlari-lari menemui pemimpinnya.

“Ada apa?” bertanya pemimpinnya.

“Pasukan pengawal Kabanaran.” jawabnya hampir berteriak.

“Jangan gila. Pasukan pengawal Kabanaran sebagian besar ditarik ke dalam perang yang besar itu.” jawab pemimpinnya.

“Tetapi pasukan itu menuju kemari.” orang menjelaskan.

Pemimpin perampok itu termangu-mangu. Beberapa orang yang mendengar laporan itu pun kemudian mengerumuninya.

“Aku bersumpah. Pasukan itu akan datang.” katanya gagap.

Pemimpin perampok itu tidak berpikir lebih panjang lagi. Pengikutnya itu tentu tidak akan membohonginya. Karena itu, maka ia pun segera berteriak, “Bersiaplah. Kita akan menghadapi lawan.”

Para perampok itu pun segera berlari-larian mengambil senjata mereka. Beberapa orang yang telah bersiap lebih dahulu, telah berlari ke pintu gerbang sarang mereka.

Sebenarnyalah, pada saat itu telah muncul sepasukan pengawal dari Kabanaran yang dipimpin langsung oleh Akuwu Suwelatama.

Ketika Akuwu melihat para perampok sudah siap menunggu, maka ia pun segera memerintahkan pasukannya memencar. Akuwu tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan isyarat ia pun langsung memerintahkan pasukannya untuk menyerbu.

Para pengawal pun bergerak cukup cepat. Mereka mengerti apa yang harus mereka lakukan. Para pengawal yang berada di barisan paling depan langsung menyerbu para perampok yang keluar dari regol, sementara yang lain telah menebar dan memasuki sarang para perampok itu dengan meloncati dinding kayu di seputar barak mereka.

Serangan itu benar-benar tidak terduga pula. Karena itulah, maka beberapa saat kemudian, beberapa orang pengawal telah berloncatan memasuki sarang para perampok itu dari segala arah.

Para perampok yang tidak bersiap sama sekali menghadapi serangan itu, dan cara yang telah dilakukan oleh para pengawal itu menjadi bingung. Beberapa orang di antara mereka tidak tahu, apa yang sebaiknya dilakukan.

Tetapi sesaat kemudian, maka mereka pun mulai menyadari keadaan yang terjadi. Dengan senjata teracu maka mereka pun segera menyongsong pasukan pengawal Kabanaran yang terdekat.

Sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang bertebaran di seluruh barak. Di longkangan-longkangan para pengawal telah bertempur dengan para perampok yang kebingungan.

Dengan demikian maka pada benturan pertama, para perampok telah melepaskan beberapa orang korban. Sementara para pengawal telah memasuki sarang para perampok itu sampai ke segala sudut.

Tidak seorang pun dari antara para perampok itu yang sempat melarikan diri. Semuanya terjebak ke dalam pertempuran yang sengit. Seorang lawan seorang di segala tempat di dalam sarang itu.

Ternyata bahwa kemampuan para pengawal memang melampaui kemampuan para perampok. Meskipun ada juga satu dua orang perampok yang mampu mendesak lawannya, namun sebagian terbesar dari para perampok itu tidak mampu bertahan.

Sebagaimana pesan Akuwu Suwelatama, maka para pengawal tidak boleh berbuat menurut kata hati mereka masing-masing.

Mereka datang tidak untuk melepaskan dendam dan membunuh tanpa pertimbangan. Tetapi mereka dengan satu tujuan tertentu. Menghancurkan gerombolan perampok itu. Dan menghancurkan mereka tidak berarti menumpas mereka semua.

Meskipun demikian, dalam pertempuran yang keras, maka tidak mudah untuk menahan diri dan kobaran nyala api di dalam dada yang membara. Para pengawal Kabanaran yang harus bertempur dengan sepenuh kemampuan itu kadang-kadang memang tidak lagi dapat memperhitungkan, seberapa dalam ia harus menghunjamkan pedangnya.

Karena itu, maka korban demi korban pun berjatuhan. Para perampok yang lengah sekejap, telah tertebas oleh tajamnya pedang para pengawal di Kabanaran yang dipimpin langsung oleh Akuwu Suwelatama.

Apalagi pertempuran itu berlangsung menebar. Karena itu, maka agak sulit bagi para pengawal untuk mengendalikan diri mereka masing-masing.

Pemimpin perampok yang berada di regol bersama sebagian besar orang-orangnya melihat, betapa para pengikutnya mengalami kesulitan. Ketika ia sendiri mengamuk dengan canggah di tangan, maka ia telah berhadapan langsung dengan Akuwu Suwelatama.

“Nampaknya kau adalah pemimpin gerombolan perampok ini?” bertanya Akuwu.

“Aku tidak ingkar. Siapa kau?” bertanya pemimpin perampok itu.

“Suwelatama.” jawab Akuwu dari Kabanaran itu.

“Kaukah Akuwu Suwelatama?” bertanya pemimpin perampok itu pula.

“Ya.” jawab Akuwu itu.

Tiba-tiba pemimpin perampok itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Bagus. Ternyata kau adalah Akuwu yang berani. Kau tidak berada di medan perang yang terjadi karena serangan para pengawal dari Watu Mas. Tetapi kau justru berada di sini. Kau menghindarkan diri dari peperangan yang besar, dan lebih senang memasuki hutan perbatasan yang tidak siap menerima kedatanganmu ini. Tetapi kau salah, Akuwu. Agaknya justru di sini kau akan mengalami nasib buruk.”

Akuwu tidak menjawab. Tetapi ia sudah mengacukan senjatanya. Ketika selangkah ia maju, maka pemimpin perampok itulah yang justru telah menyerangnya dengan canggahnya.

Tetapi Akuwu sudah siap melawannya. Karena itu, maka serangan tidak sempat menyentuhnya. Bahkan pemimpin perampok itu harus meloncat menjauh karena Akuwulah yang kemudian telah menyerangnya dengan cepat.

Sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Keduanya memiliki bekal ilmu kanuragan yang tinggi.

Sementara itu, di bagian lain dari sarang para perampok itu, pengawal dari Kabanaran telah berhasil mengusai sebagian besar dari mereka. Beberapa orang perampok yang tidak mampu lagi melawan, telah meletakkan senjata mereka, selain yang terluka parah.

Karena itu, maka para pengawal yang telah menyelesaikan tugasnya itu pun telah bergeser ke halaman depan dari sarang itu, sehingga mereka, kecuali yang menjaga para lawanan, telah bergabung dengan para pengawal yang masih bertempur melawan para perampok.

Namun dalam pada itu, pemimpin perampok yang bertempur langsung melawan Akuwu itu pun tidak banyak dapat berbuat sesuatu. Bahkan semakin lama, ia pun menjadi semakin terdesak dan kehilangan kesempatan. Canggahnya yang garang, tidak mampu mendesak Akuwu Suwelatama. Bahkan kadang-kadang senjata Akuwu telah terasa tergores di tubuhnya.

Apalagi ketika lawan para perampok di halaman itu seolah-olah menjadi semakin banyak, karena sebagian para pengawal yang semula menebar telah berkumpul. Sehingga karena itu, maka agaknya sudah tidak ada harapan lagi untuk dapat bertahan lebih lama lagi.

Karena itulah, maka pemimpin perampok itu pun kemudian tidak dapat mengingkari kenyataan. Dengan serta merta ia telah melemparkan senjatanya sambil berteriak nyaring, “Aku menyerah.”

Suara pemimpin perampok itu sekaligus menjadi pertanda dan perintah terhadap para pengikutnya. Mereka pun telah berloncatan menjauhi lawannya dan melepaskan senjata masing-masing.

Dengan demikian maka pertempuran itu telah berakhir. Jauh lebih cepat dari pertempuran yang terjadi di bagian lain dari perbatasan antara Watu Mas dan Kabanaran.

Dalam pada itu, Akuwu pun segera mengumpulkan para perampok yang telah menyerah. Mengumpulkan senjata mereka dan menugaskan sebagian dari mereka merawat kawan-kawan mereka yang terluka.

“Kawan-kawan kalian yang terbunuh, harus kalian selenggarakan pemakamannya. Selanjutnya kalian akan ikut bersama kami ke Pakuwon Kabanaran.” berkata Akuwu Suwelatama, “Namun sebelumnya kalian harus menunjukkan, di mana kalian menyimpan harta benda hasil rampokan kalian di tlatah Kabanaran selama ini.”

Pemimpin perampok mengerutkan keningnya. Namun Akuwu pun berkata, “Aku dapat berbuat baik terhadap kalian, tetapi aku pun dapat berbuat kasar. Sebenarnya kami sudah kehilangan pertimbangan-pertimbangan bening selama ini. Namun kami masih akan berusaha jika kalian membantu.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Sementara Akuwu berkata, ”Tetapi itu akan kami pikirkan nanti. Yang penting, rawatlah kawan-kawan kalian yang sakit dan selenggarakanlah kawan-kawan kalian yang terbunuh. Tetapi jika seorang saja di antara kalian yang berbuat aneh-aneh, maka kalian seluruhnya akan binasa.”

Demikianlah maka para perampok itu pun kemudian telah mengumpulkan dan merawat kawan-kawan mereka yang terluka, sementara mereka pun telah mengubur kawan-kawan mereka yang terbunuh di bawah pengawasan para pengawal dari Kabanaran.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...