SINOPSIS AYAT-AYAT CINTA 2
Fahri masih tak lelah untuk mencari Aisha, istrinya. Kepergian Aisha bersama salah seorang sahabatnya ke Palestina, terus digali informasinya oleh Fahri. Sayangnya, info yang didapatkan justru mengabarkan bahwa Aisha tewas bersama rekannya itu akibat serangan tentara Israel. Jenazah rekannya berhasil diidentifikasi, sementara belum ada bukti jasad Aisha.
Di saat-saat mencari dan terus mencari informasi, ia bertemu dengan sosok Keira tetangga rumahnya di Stoneyhill Grove, dan pandai bermain biola. Caranya bermain mengingatkannya pada Aisha.
Di saat bersamaan, ia juga bertemu dengan Hulya, adik perempuan dari teman Fahri yang bernama Ozan. Hulya juga pandai bermain biola. Kolaborasi antara Heira dan Hulya, membuat Fahri seolah menyaksikan Aisha ada di dekatnya.
Tapi, Fahri tak mudah menaklukkan hati Keira yang keras. Keira bahkan menuduh Fahri dan umat Islam sebagai pembunuh ayahnya yang tewas akibat bom London. Akibat kematian ayahnya itu, cita-cita Keira untuk menjadi seorang pemain biola terkenal menemui rintangan.
Ujian tak berhenti di situ. Jason, adik Keira, juga turut mendukung sikap kakaknya yang menuduh umat Islam sebagai pelaku terorisme. Cita-citanya untuk menjadi pemain bola seperti Gary Lineker, bisa membuatnya gagal.
Karena itu, Jason mencuri sejumlah barang milik Fahri yang ada di minimarket Agnina. Namun, ia tertangkap basah oleh Fahri.
Reaksi negatif kepada Fahri, terus berlanjut. Baruch, anak tiri dari Nenek Catarina yang beragama Yahudi, selalu merongrongnya. Ia menuduh Fahri dan umat Islam sebagai kaum amalek, yakni orang-orang bodoh seperti keledai.
Fahri pun ditantang untuk berduel, baik secara fisik maupun melalui debat terbuka. Di saat bersamaan, Fahri juga harus mempersiapkan dirinya untuk melayani debat orang-orang pintar di Oxford Debating Union, sebuah forum debat terbuka yang digelar di Oxford of University.
Fahri yang memerlukan seorang pendamping untuk mengisi hari-harinya dalam balutan kasih, mendapat dukungan positif dari Syaikh Utsman, gurunya sewaktu di Mesir. Syaikh Utsman pun menawarkan cucunya yang bernama Yasmin kepada Fahri untuk diperistri.
Selain hafal Al-Qur’an, Yasmin juga cantik dan cerdas. Ia bahkan telah menyelesaikan sekolah pascasarjana. Kecantikannya, sikapnya, dan kecerdasannya membuat Fahri merindukan Aisha.
Ia pun terus mencari Aisha. Tapi ia belum menemukan keberadaannya. Di saat dirinya dan umat Islam di Edinburgh sedang bersemangat menggelorakan semangat Islam, Fahri dihadapkan pada kenyataan. Umat Islam dituding sebagai kelompok miskin dan menjadi peminta-minta. Hal itu dimuat di sejumlah harian di Inggris dan Skotlandia.
Ia pun mencari sosok pengemis miskin dengan wajah buruknya yang menjadi headline di sejumlah media setempat.
Pengemis wanita bernama Sabina yang berwajah buruk dan selalu ditutupi dengan cadar itu benar-benar membuat Fahri bekerja ekstra keras untuk menunjukkan wajah Islam yang toleran, damai, dan penyayang.
Sayangnya, Sabina tak punya tanda identitas diri. Jari-jari tangannya pun melepuh akibat kebakaran kompor yang terjadi di rumah Fahri. Kondisi itu menambah sulit bagi Fahri untuk memintanya melakukan tes sidik jari. Dan ketika tangan Sabina sudah mulai membaik, ia justru pergi lagi dari rumah Fahri.
Ke mana Sabina pergi? Siapa dan dari mana dia berasal? Kenapa wajahnya yang buruk itu selalu ditutupi cadar? Akankah ia jadi menikah dengan Paman Hulusi, sopir pribadi Fahri? Bagaimana nasib Jason, akankah ia sukses menjadi pemain sepak bola ternama? Dan akankah Keira sukses memenangkan kompetisi biola di Italia?
Lalu bagaimana pula dengan Fahri? Akankah ia bertemu dengan Aisha, istrinya? Mampukah ia mengungkap jati diri Sabina? Apakah Fahri berhasil memenangkan debat di forum Oxford Debating Union?
Banyak romantisme, perjuangan, dan konflik. Fahri benar-benar tertantang untuk menunjukkan wajah Islam yang lembut, damai, penuh kasih, toleran, dan rahmatan lil alamin. Novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) 2 ini benar-benar mengaduk-aduk perasaan.
01
Bayang-Bayang Maria, Puisi Aisha dan Gesekan Biola Keira
Matahari redup di petala langit. Awan abu-abu kehitaman menggelayut. Salju telah mencair. Habis tak tersisa. Angin masih dingin menggigit. Musim semi belum benar-benar tiba, namun salju sepertinya tidak akan lagi datang. Rerumputan di area The Meadows, tepat di sebelah selatan kampus utama The University of Edinburgh seperti mulai bernafas.
Pepohonan bagai bangkit dari kematian,
Kehidupan Kota Edinburgh terasa lebih bergairah setiap kali musim semi di ambang merekah.
Suara khas bigpipe menggema dari Plaza Saint Giles Cathedral yang berdiri anggun menawan. Seorang lelaki tua berkumis pirang berpakaian tradisional Skotlandia tampak begitu khusyuk meniup alat musik bangsa Scots yang legendaris itu. Pakaian yang ia kenakan sangat khas.memakai bawahan seperti rok yang disebut kilt berornamen tartan kotak-kotak merah hitam. Atasan jas hitam khas Skotlandia. Juga dengan topi yang khas.
Terkadang ia tampak begitu bersemangat, seperti sedang menggerakkan ribuan
tentara di medan perang dengan terompet bigpipe itu.
Dua turis perempuan dari Jepang memperhatikan dengan saksama lelaki itu dan menikmati instrumen bigpipe yang terasa magis. Beberapa turis yang sedang menelusuri jalur The Royal Mile menikmati bunyi bigpipe sesaat. Lalu melempar koin ke dalam kotak yang diletakkan didepan lelaki tua itu.
Semilir angin dingin seolah membawa suara bigpipe mengema keseantero kota tua Edinburgh yang berdiri di atas tujuh bukit.
Bangunan-bangunan kunonya yang berarsitektur Georgia, tetap terjaga rapi dan megah. Kota itu akan menyedot siapa saja yang memasukinya ke dalam pusaran abad Medieval.
Panoramanya seumpama postcard hidup. Edinburgh Castle, Palace of Holyroodhouse, The Scott Monument, Gladstone's Land, The Balmoral Hotel, Writers‘ Museum, Mary King‘s Close, McEwan Hall, dun The University of Edinburgh adalah sebagian bangunan dari tangan-tangan manusia terampil yang
membuat indah kota tua itu.
Jalanan tampak basah. Namun salju sama sekali tidak ditemukan lagi. Orang-orang berjalan tetap memakai jaket atau jas penghangat tubuh, namun tidak lagi memakai jaket sangat tebal seperti saat musim dingin. Hanya ada satu dua yang tetap memakai jaket wool tebal. Satu dua gadis malah ada yang sudah mulai memakai rok mini dengan stocking tipis menutupi seluruh kakinya dan hanya memakai sweeter modis yang tidak tebal.
Dua orang lelaki keluar dari lobi The Balmoral Hotel. Sama-sama masih muda. Yang satu berwajah Asia Tenggara memakai jas cokelat muda dan dasi, sehingga tampak rapi dan serasi. Yang satu berwajah turki memakai jas sweeter biru muda dan celana jeans yang membuatnya tampak santai namun cerah.
Sebuah SUV BMW putih datang dan berhenti tak jauh dari mereka berdua. Keduanya tertawa, berjabat tangan, saling merangkul lalu berpisah. Lelaki yang memakai jas itu masuk kedalam mobil dan melambaikan tangan pada temannya yang tak lama kemudian kembali masuk ke dalam hotel.
"La haula wa Ia quwwata illa billah, La haula wa la quwwata illa billah ...." Lelaki itu bergumam
mengulang-ulang zikirnya.
Mobil itu memasuki Princes St. dan bergerak ke barat. Setelah melewati Prince Mall Shopping Centre belok kiri memasuki Waverley Bridge yang melintasi stasiun kereta Waverley.
Mobil itu terus meluncur menyusuri Cockburn St, melintasi The Royal Mile, lalu menyusuri A7 menuju selatan.
"Cepat sedikit, Paman, jangan sampai saya terlambat!" kata lelaki itu pelan dalam bahasa turki.
"Baik, Hoca," jawab sang sopir.
"La haula wa la quwwata illa billah, La haula wa la quwwata illa billah ..."
Mobil itu melaju lebih cepat,melewati Nicolson Square Garden di sebelah kanan dan terus melaju ke selatan. Beberapa jurus kemudian belok kanan memasuki W. Nicolson St. dan terus melaju hingga memasuki kawasan kampus utama The University of Edinburgh yang berada di George Square yang legendaris.
Di dekat gedung klasik nomor 19, mobil itu berhenti. Lelaki itu turun sambil menjinjing
tasnya. La melihat jam tangannya. Jalannya cepat dan tangkas, tidak seperli rata-rata orang Asia Tenggara. Beberapa orang yang berpapasan menyapanya dengan ramah penuh hormat.
Lelaki itu kembali melihat jam tangannya. Dua belas dua puluh.
"Alhamdulillah tidak terlambat" gumamnya dalam bati.
"La haula wa la quwwata illa billah ..."
Ia mempercepat langkahnya menuju ruang diskusi mahasiswa pascasarjana. Lalu membuka ruang itu.
Lima belas orang yang telah duduk rapi seketika memerhatikan dirinya dengan saksama. Ia menyapa semua yang ada di ruangan itu dengan ramah lalu duduk di kursi yang biasa diduduki Professor Charlotte Brewster.
"Kalian mungkin terkejut yang duduk di kursi ini saat ini adalah saya, dan bukan Professor Charlotte. Dan kalian mungkin bertanya-tanya siapa saya ini? Tadi pagi Professor Charlotte menelepon saya, ia harus ke rumah sakit. Beliau harus cuci darah. Dan tidak boleh terlambat. Sudah lima belas tahun beliau harus cuci darah. Kita doakan beliau tetap sehat, berumur panjang dan bisa memberikan
sumbangan ilmunya yang sangat diperlukan dunia.Perkenalkan saya Fahri Abdullah. Sebut saja, saya peneliti tamu disini, kawan baik Professor Charlotte. Saya menyelesaikan Ph.D saya di bidang philology di Albert-Ludwigs Universitat Freiburg, Jerman. Bidang yang semestinya diajarkan Professor Charlotte kepada kalian hari ini."
Fahri membuka tasnya dan mengeluarkan dua buah buku.
"Profesor Charlotte mengatakan kepada saya, kalian telah diberi tugas untuk membaca tuntas karya James Turner yaitu Philology: The Forgotten Origins of the Modern Humanities. Dan buku On Philology yang dieditori oleh Profesor Charlotte sendiri. Benar?"
"Ya, benar."
Fahrii tersenyum. la memandangi para mahasiswa dari berbagai negara itu. Ada yang jelas berwajah Cina, berwajah India, berwajah Arab, juga berwajah Eropa.
"Ah. ini mungkin akan sedikit terasa seperti saat kita ada di sekolah dasar, tapi saya harus
menanyakannya, sebab ini amanat. Apakah di antara kalian ada yang belum membaca dengan tuntas dua buku itu?"
"Ada. Saya. Maaf." Seorang perempuan cantik berwajah oriental, bermata sipit angkat tangan.
"Siapa nama Anda?"
"Juu suh."
"Juu suh?" Fahri mengulang jawaban perempuan itu untuk meyakinkan ia tidak salah dengar.
"Aye.Juu suh."
Suasana jadi terasa sedikit tegang, meskipun Fahri menanyakan sambil tersenyum.
"Ah, kenapa jadi ada interogasi. seperti anak kecil saja?" gumam lelaki berkumis berwajah India.
Fahri tersenyum mendengarnya.
"Kan saya sudah berterus terang akan sedikit terasa saat kita ada di sekolah dasar." sahut Fahri.
"Jadi Juu Suh, saya diminta Professor Charlotte untuk mangeluarkan siapa saja yang ikut mata kuliah ini dan belum menuntaskan membaca dua buku itu. Saya harus menjaga amanat. Juu Suh, silakan Anda keluar dari ruangan ini."
"Tapi...?"
"Tidak ada tapi, dan tidak ada alasan apapun. Maaf!" tegas Fahri.
Wajah Juu Suh memerah. Ia mengambil tasnya dan beranjak melangkah keluar dan menutup pintu.
Setelah Juu Suh keluar, Fahri beranjak membuka pintu dan memanggil gadis bermata sipit itu. Gadis itu mendekat dengan wajah bingung.
"Ada apa lagi?"
"Silakan masuk, kau boleh ikut kuliah ini jika kau mau."
"Anda tidak sedang mempermainkan saya?"
"Sama sekali tidak. Saya tidak mungkin mempertaruhkan kredibilitas saya dengan bersikap naif."
Mahasiswi itu kembali masuk dan duduk di tempatnya semula. Para mahasiswa saling memandang, agak sedikit heran.
"Sebelum kita diskusi panjang lebar tentang philology. Satu hal yang harus kalian catat, hal pertama yang harus dimiliki seorang philologist adalah amanah. Saya diminta oleh Professor Charlotte untuk mengeluarkan dari kelas ini siapa saja yang belum membaca dua buku itu. Tanpa pandang bulu. Maka saya harus amanah. Tadi Juu Suh sudah saya keluarkan dari kelas. Dan selanjutnya, adalah kewenangan saya untuk memberinya kesempatan masuk kembali ke dalam kelas. Amanah Professor Charlotte sudah saya laksanakan. Dan prinsip saya untuk tidak menolak siapa saja yang mau belajar bersama saya, juga saya lakukan."
"Ah oke, ini bukan sekolah dasar lagi" sela mahasiswa dari India itu sambil berdiri dan bertepuk tangan diikuti yang lain.
" Sudah, sudah silakan duduk! Saya berharap, apa pun yang diminta Profesor kalian yang berkaitan dengan pematangan keilmuan kalian, penuhilah dengan baik. jika kalian nanti sudah menulis thesis Kata-kata supervisor kalian ibarat titah Raja yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh dan dituruti, jika kalian ingin hasil terbaik"
Fahri kemudian membimbing para mahasiswa itu untuk memasuki diskusi serius tentang philology.
Penguasaan Fahri akan materi dan manajemen kelas, membuat diskusi yang seharusnya berat itu terasa hangat dan ringan. Tidak terasa telah satu jam Fahri berdiskusi. Fahri melihat jam tangannya. Sudah jam satu lebih dua puluh menit. Zhuhur di Edinburgh telah masuk enam menit yang lalu.
"Maaf, bagi saya ini sudah tiba waktunya untuk ibadah. Apakah kalian terganggu jika saya shalat di sini?
Jika kalian terganggu, saya akan shalat di office saya, lalu balik ke sini. Atau kalian merasa cukup maka akan saya sudahi kelas ini."
"Perlu berapa lama Anda ibadah?" tanya mahasiswi dari Cina.
"Kira -kira lima menit."
"Kalau begitu Anda ibadah di sini saja, kami tidak masalah."
"Baik. Saya shalat dulu. Diantara kalian, ada yang Muslim selain saya, boleh ikut."
Fahri melirik mahasiswa berambut keriting berwajah Arab. Tetapi dia biasa-biasa saja dan tidak bergerak dari tempat duduknya. Fahri memaklumi mungkin meskipun berwajah Arab tapi dia bukan Muslim, atau dia Muslim tapi mau shalat nanti selesai kuliah.
Fahri kemudian shalat dipojok ruangan itu menghadap kiblat. Sebagian mahasiswa terutama dua orang mahasiswa bule dan mahasiswi bermata sipit itu memerhatikan gerakan Fahri dengan saksama. Selesai shalat, Fahri kembali memimpin diskusi.
Fahri membuat seluruh mahasiswa menyampaikan pendapatnya. Fungsi utamanya sebagai pakar pengganti Profesor Charlotte ia jalankan dengan baik.
Simpul-simpul yang rumit tentang ilmu philology ia uraikan dengan bahasa sederhana yang tuntas.
Diskusi itu telah melewati batas waktu yang semestinya, para mahasiswa seakan tidak mau bergeser dari tempat duduknya dan ingin lebih lama lagi menyerap ilmu dari pakar philology jebolan Universitas Al Azhar Mesir dan Uni-Freiburg Jerman itu.
Fahri melihat jam tangannya.
"Sorry, time is over," kata Fahri sambil memasukkan dua buku ke dalam tasnya.
Gadis bermata sipit angkat tangan.
"Yup."
"Satu pertanyaan terakhir, kalau diperbolehkan."
"Silakan."
"Ini di luar tema pembahasan.Tapi saya penasaran ingin menanyakannya kepada Anda."
"Semoga saya bisa membantu."
"Dari cara ritual tadi, saya bisa pastikan anda seorang Muslim."
"Benar. Saya seorang Muslim. Dan kita saat ini ada di gedung IMES, Islamic and Middle Eastern Studies, The University of Edinburgh," kata Fahri tanpa ragu.
"Satu pertanyaan saya, kenapa orang Muslim suka bom bunuh diri?"
Fahri agak kaget mendengar pertanyaan itu. Ia sama sekali tidak mengira akan ditanya seperti itu.
Sebuah pertanyaan yang sangat jauh dari tema kuliah siang itu. Dan itu bukan kali pertama ia seperti diadili sebagai seorang Muslim dengan pertanyaan seperti itu.
Ketika ia tinggal di Jerman, menyelesaikan doktornya dan menjadi salah satu imam di Islamische Zentrum Freiburg e. Freiburg, ia
pun kerap mendapat pertanyaan-pertanyaan serupa.
Tidak semua orang mendapat informasi yang
benar dan jujur tentang Islam. Dan ia merasa tidak boleh bosan atau lelah untuk menjawab segala pertanyaan demi menyampaikan informasi yang jujur.
"Waktu saya sangat terbatas Juu Suh. Saya tidak akan menjawab panjang lebar. Kalimat pertanyaanmu itu tidak benar dan bernada menghakimi. Itu tidak fair. Saya Muslim dan saya sangat tidak suka dengan bom bunuh diri. Saya belajar teologi Islam di Universitas Al Azhar. Hampir tujuh tahun saya disana.Selama itu tidak sekalipun saya mendapatkan adanya ajaran bom bunuh diri. Saya mengambil master di Pakistan, juga tidak menemukan ajaran itu."
"Lalu saya menyelesaikan Ph.D di Freiburg, saya mengkaji manuskrip Arab Islam abad pertengahan Sebuah manuskrip Tafsir Al-Qur‘an karya Quthbuddin Asy Syirazy yang bernama Fath at-Mannan. Dalam mengkaji manuskrip itu, saya harus menyelesaikan dan membaca tak kurang dari sepuluh kitab tafsir
dari awal sampai akhir. Khatam dan tuntas Dan saya tidak menemukan Al-Qur‘an memuat ajaran bom bunuh diri. Silakan ditulis, justru Al-Qur‘an melarang membunuh dan Al-Qur‘an justru menyuruh menjaga kehidupan.
Membunuh satu orang sama saja membunuh seluruh umat manusia. Dan membiarkan hidup
satu orang sama saja menghidupkan seluruh umat manusia. Ada di dalam Al-Qur‘an, Surat Al Maidah ayat 32. Al-Quran juga melarang orang beriman berbuat kerusakan, dan melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri."
"Kalau Al-Qur‘an mengajarkan yang sedemikian baiknya, kenapa masih ada orang Islam yang melakukan bom bunuh diri?" tanya Juu Suh.
"Jawaban secara antropologis, sosiologis, juga politis, silakan dicari sendiri. Saya ada analogi
sederhana. Jika kalian punya pohon apel atau mangga yang sedang berbuah. dan kau sudah merawat sebaik-baiknya. Bisakah kalian pastikan seluruh buahnya baik? Tidak ada satu pun yang busuk? Tidak ada yang jauh dari pohonnya sebelum matang?"
Mahasiswi dari Cina spontan menjawab,
"Tidak bisa. Selalu ada satu dua dari pohon itu yang buahnya tumbuh tidak yang diharapkan. Satu ada yang busuk. Tidak bisa semua buahnya sempurna."
"Kalau kau punya pohon apel hanya satu dua saja buahnya yang busuk, apakah fair mengatakan seluruh pohon apel itu busuk?"
Gadis berwajah oriental dan para mahasiswa pascasarjana itu mengangguk-angguk. Fahri mengakhiri kuliahnya dan langsung bergegas masuk ke ruangan office-nya.
Fahri menghela nafas. la hidupkan lampu office dan pemanas ruangan. Ia tanggal kan jasnya dan melepas dasinya. Ruangan itu rapi. Separoh ruangan nyaris berisi buku-buku dalam bahasa Arab, lnggris, dan Jerman.
Diatas meja kerja tampak beberapa buku berserak. Tampak kalau buku-buku itu sedang dibaca atau diperlukan.
Di sebuah dinding tergantung lukisan karikatur dari crayon. Itu karikatur dirinya dan istrinya, Aisha, dengan latar belakang Candi Borobudur.
Meskipun berbentuk karikatur yang lucu, baginya Aisha dalam gambar itu tetap cantik. Memandangnya selalu menghangatkan jiwa Fahri. Karikatur itu selalu mengingatkan masa-masa indahnya yang singkat bersama Aisha selama di Indonesia. Karikatur itu sendiri dibuat oleh seniman Malioboro, Yogyakarta.
Fahri memandangi foto Aisha. Kedua matanya berkaca-kaca. Ia lalu memejamkan kedua matanya dan memanjatkan doa kepada Allah, agar Allah terus mengasihi istrinya, baik ia masih hidup ataukah telah tiada. Sejurus kemudian ia tersadar, ia tidak boleh terus terbawa perasaan melankolis. Pertanyaan
mahasiswi bermata sipit itu adalah kenyataan bahwa tantangan dakwah begitu besar. Dan ia merasa harus mengerahkan segenap kemampuan yang diberikan oleh Allah untuk ikut berperan menghadapinya.
Fahri menghela nafas. Ia lalu duduk di depan meja kerjanya dan menyalakan komputer. Riset postdoc-nya tentang karya ulama asal Yaman yang ia temukan salinan tulisan tangannya di Solo sudah selesai, hanya tinggal perbaikan saja.
Ia melakukan kajian tahqiq dan ta‘liq secara ilmiah atas kumpulan wasiat Al Allamah Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahr berjudul Majmu‘ Washaya yang manuskripnya ia temukan di perpustakaan pribadi Habib Assegaf Solo, Indonesia.
Sebelum masuk tahqiq dan ta‘liq, ia meneliti sejarah bagaimana kumpulan wasiat itu sampai di Solo, lebih tepatnya ia mengurai jaringan ulama Yaman dalam berdakwah di
Indonesia.
Profesor Charlotte adalah supervisor postdoc-nya, Meskipun ada sedikit perbedaan antara supervisor postdoc dan supevisor doctoral. Supervisor doctoral dan master, hubungannya lebih pada atas dan bawah. Sementara supenvisor postdoc hubungannya lebih terasa setara. Profesor Charlotte sendiri tidak mau dipanggil supervisornya. ia memilih dianggap sebagai teman diskusi. Fahri mulai membaca
teks- teks yang ia tahqiq. Sesaat ia terhenyak oleh teks wasiat Habib Hasan Al Bahr.
"Menghadaplah kepada Allah dengan hati luluh. Hindarkan dirimu dari sikap ujub dan angkuh.
Pergaulilah manusia yang jahat dengan baik, karena pada hakikatnya kamu sedang bermuamalah dengan Allah yang Mahabesar.
Ulurkan tanganmu kepada orang-orang fakir dengan sesuatu yang dikaruniakan Allah kepadamu. Lalu bayangkanlah, bahwa Allah-lah yang pertama kali menerima pemberianmu itu, sebagaimana dituturkan dalam berbagai ayat Al-Qur‘an dan Hadits Nabi. Kelak kamu
akan merasa sangat senang dan bahagia dengan Allah."
"Allah, beri hamba taufik untuk bisa mengamalkan wasiat yang baik ini," doa Fahri dalam hati.
Fahri kembali membaca teks demi teks. Jika ada hadits ia mencoba meneliti ulang takhrij hadiisnya.
Jika ada kalimat yang musykil, ia mencoba mengurai kemusykilan itu dari beberapa sudut pandang dengan rujukan yang ilmiah sesuai disiplin ilmu philology yang ia kuasai.
Pintu office-nya diketuk. Ia bangkit membukanya. Seorang perempuan muda berambut pirang sebahu berdiri di depan pintu membawa paket.
"Oh, Miss Rachel."
"Hai, sorry Doktor Fahri, Anda mendapat kiriman tiga paket hari ini. Ini."
Fahri menerima tiga paket itu.
"Ada yang harus saya tandatangani Miss Rachel?"
"Semestinya iya, tapi sudah saya wakili menandatanganinya tadi."
"Terima kasih Miss Rachel."
"Terima kasih kembali."
Perempuan itu kembali ke ruang kerjanya sebagai staf administrasi. Fahri menutup pintu office-nya dan membuka satu per satu paket itu. Semuanya buku. Yang satu buku yang ia pesan dari Amazon. Satu dari Profesor Turgut Dikinciler dari Jerman. Dan yang terakhir sebuah jurnal yang dikirim oleh Profesor Omar Sandler dari SOAS London.
Jurnal itu yang membuatnya sangat penasaran. Ia lihat dengan saksama. Ia tersenyum dan bersyukur kepada Allah dari lubuk hati paling dalam, satu artikel ilmiahnya bersama Profesor Charlotte dimuat dalam jurnal bergengsi itu.
"Ditunggu artikel ilmiah berikutnya yang sangat berbobot" tulis Profesor Sandler dalam surat pengantar yang menyertai paket itu.
Di luar, langit Edinburgh menurunkan gerimis. Orang-orang di jalanan mempercepat langkahnya.
Sebagian sudah membuka payungnya. Pohon-pohon Mapel yang berbaris ditatanan The Meadows di selatan kampus bergoyang-goyang tertiup angin disertai gerimis. Mereka seperti mengungkapkan kegirangannya. Sebab gerimis-gerimis itu bagian dari penanda berakhirnya musim dingin.
Ponsel Fahri berdenyit. Ia lihat dilayar, SMS dari Paman Hulusi.
"Saya sudah di parkiran Buccleuch."
"Paman merapat ke sini, tempat tadi turun. Bawa kemari koper kosong di bagasi mobil, bantu saya bawa buku-buku."
"Baik."
Fahri mengambil data dikomputernya dalam sebuah flashdisk, lalu menutup komputernya. Ia rapikan buku- buku di atas meja itu. Ia melihat rak bukunya, beberapa buku ia ambil. Gerimis di luar semakin kencang.
Pintu diketuk. Fahri membuka. Paman Hulusi berjalan memasuki ruangan menyeret koper berukuran sedang dengan kaki sedikit pincang. Tanpa diminta, Paman Hulusi membuka koper. Fahri memasukkan beberapa buku, beberapa berkas, juga buku dan jurnal yang baru saja ia terima ke dalam koper.
"Paman ada wudhu?"
Paman Hulusi mengangguk.
"Sudah masuk waktunya Ashar. Sebelum pulang, kita shalat berjamaah dulu di sini."
Fahri mengambil dua sajadah yang ia letakkan dalam laci paling bawah meja kerjanya. Mereka berdua lalu tengelam dalam kekhusyukan munajat kepada Allah saat hujan mengguyur Edinburgh dan lonceng dari St. Giles Cathedral berdentang-dentang.
* * * * *
"Kita lewat ke utara saja Paman. Lewat North Bridge lalu belok kanan ke timur lewat A1 saja."
"Baik, Hoca."
Lelaki setengah baya itu memanggil Fahri dengan kata- kata Hoca. Sebuah panggilan yang digunakan orang Turki untuk guru dan ulama yang dimuliakan. Fahri mengiringi laju mobil dengan dzikir.
"La haula wa la quwwata illa billah.. La haula wa la quwwata illa billah.."
Paman Hulusi memacu mobil SUV putih itu meninggalkan pelataran George Square menuju rute yang diminta Fahri. Hujan masih turun rintik-rintik. Dalam perjalanan pulang kali ini, Fahri kembali ingin refreshing menikmati keindahan Kota Edinburgh. Fahri merasa ia berada di dalam museum hidup yang seperti tidak pernah membosankan. Yang ia rasakan suasana Edinburgh ini kurang satu hal, yaitu alunan suara adzan. Jika adzan mengalun di kota ini "seperti di Kairo yang bersahutan dari pucuk-pucuk bangunan klasik yang runcing itu saat salju turun atau hujan menyapa seperti ini maka inilah salah satu hamparan surga di atas muka bumi ini."
Fahri yang duduk di samping sopir benar-benar menikmati perjalanan sore itu.
Kota ini memiliki pesonanya sendiri. Kairo juga memiliki keindahan yang berbeda. Dan kampung kelahirannya di Indonesia juga memiliki sihir tiada duanya. Ah, dunia memang indah. Begitu mempesona. Tba- tiba ia seperti diingatkan oleh kesadarannya,
wa lal-akhiratu khairun laka -minal ula.
Dan akhirat itu lebih baik bagimu dari dunia.
Mobil itu melaju menapaki North Bridge yang melintas di atas stasiun Waverley. Di sebelah kiri, panorama indah gedung-gedung kuno dan Edinburgh Castle menghampar, di sebelah kanan tampak Palace of Holyroodhouse. Dan di hadapannya, tepat di kiri jalan, tampak berdiri megah salah satu hotel yang menjadi ikon Kota Edinburgh, The Balmoral Hotel.
Fahri memandang ke depan sebelah kiri. Resto Pep & Fodder, lalu Harlow Rhodes, dan mobil terus melaju.
Tiba-tiba pandangan Fahri menangkap seorang gadis bule yang sepertinya ia kenal.
"Paman menepi, bukankah itu tetangga kita?"
"Yang mana?"
"Gadis bersweeter merah jambu itu? Yang berdiri menenteng tas biola itu?"
"Benar. Itu Keira, tetangga samping rumah kita."
"Tampaknya ia terjebak hujan, mungkin tidak bawa payung. Dan halte agak jauh dari tempat ia berdiri."
"Itu kan restoran, kenapa dia tidak masuk saja ke dalam restoran?"
"Tak tahu, tolong menepi dan tawari dia tumpangan kalau dia memang mau pulang, Paman."
"Baik, Hoca."
Mobil itu parkir di depan restoran Elliot ‘s. Tepat di depan gadis bersweeter merah jambu berdiri yang berlindung dari hujan. Paman Hulusi mengambil payung lipat di bawah bangku kedua. Ia menyiapkan payung dan segera membukanya ketika pintu mobil terbuka. Sedikit kena hujan, tapi Paman Hulusi
berhasil berjalan dengan memakai payung mendekati gadis itu. Fahri melihat dari mobil. Awalnya gadis itu ragu. Tapi Paman Hulusi berhasil meyakinkan gadis itu sehingga ia akhirnya mau ikut menumpang.
Paman Hulusi memayungi gadis itu menuju mobil. Gadis itu pun masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kedua.
"Hai Keira, apa kabar? Namamu Keira kan!?" sapa Fahri.
"Baik. Ya saya Keira."
"Kami tetangga samping rumahmu."
"Ya, saya tahu. Terima kasih tumpangannya."
Fahri menunggu Keira balik bertanya siapa namanya, ternyata diam saja.
"Saya Fahri."
"Terima kasih."
Fahri melirik tas yang membungkus biola. Ia tahu itu biola, sebab Aisha pernah mengajaknya membeli biola untuk kawan lamanya. Banderol harga masih menempel pada tas itu.
"Biola baru, ya?" tanya Fahri mencoba menghangatkan suasana.
"Maaf, bukan urusan Anda."
Fahri kaget mendengar jawaban Keira yang ketus itu. Paman Hulusi pun sedikit kaget.
'Maaf kalau pertanyaan itu membuat Anda tidak berkenan."
"Sudahlah."
Fahri merasakan cara berinteraksi Keira begitu dingin. Tidak seperti Miss Rachel yang ia kenal, Prof Charlotte, Doktor Kim. dan lainnya yang terasa hangat. Maka Fahri kemudian diam saja dan menjaga diri dari terlalu banyak tanya, apalagi sok akrab. Demikian juga Paman Hulusi. Keira pun diam memandang ke kiri.
Mobil itu melaju ke timur ke arah Musselburgh. Sepanjang perjalanan hanya
keheningan yang dipecah oleh suara halus mesin mobil yang mengiringi.
Sampai di Musselburgh hujan telah berhenti. Mobil itu terus melaju memasuki Clayknowes lalu belok kiri memasuki kawasan Stoneyhill. Paman Hulusi mengarahkan mobil memasuki komplek Stoneyhill Grove, sebuah kompleks kecil berisi hanya sebelas rumah di kawasan Stoneyhill.
Ada banyak kompleks yang berisi rumah lebih banyak seperti Stoneyhill Garden, Stoneyhill Rise, Stoneyhill Wynd, Stoneyhill Cress, dan lain sebagainya.
Mobil berhenti di depan rumah Fahri yang bercat merah tua kecokelatan dan putih. Fahri keluar dari mobil, demikian juga Keira. Gadis itu menyampaikan terima kasih dengan dingin dan langsung mengeloyor ke rumahnya yang berdampingan dengan garasi rumah Fahri.
Keira dan keluarganya bisa dibilang tetangga yang rumahnya paling dekat. Melihat sikap dingin itu, Fahri bersikap biasa saja. Baginya itu hal yang tak harus dipersoalkan. Gadis itu mungkin merasa Fahri masih orang asing meskipun bertetangga. Dan tentu saja banyak orang yang tidak mudah akrab atau hangat dengan orang asing. Ia pernah mengalaminya di Jerman. Perlu waktu lama untuk bisa lebih
hangat dan tidak terlalu berjarak. Ia hanya menunaikan kewajibannya sebagai tetangga dengan sebaik-baiknya. Itu saja.
Fahri masuk ke rumah, sementara Paman Hulusi memarkir mobilnya di garasi. Fahri langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya untuk menyegarkan tubuh dengan mandi air
hangat. Setelah itu ia duduk di sofa ruang kerjanya untuk memuraja‘ah hafalan Al-Qur‘an- nya.
Kali ini, ia melantunkan pelan menggunakan qira‘ah warasy yang pernah ia pelajari dari Syaikh Utsman di Mesir. Di rumah Syaikh Utsman itulah ia bertemu dengan istrinya, Aisha. Ia membaca Surat Maryam. Seketika ia teringat Maria, gadis koptik, tetangganya di Hadayek Helwan,Kairo.
Gadis Mesir yang mencintainya sampai sakit itu menikah dengannya dan wafat setelah bersyahadat. Tak ada kenangan berumah tangga dengan Maria. Namun kehangatan cinta Maria yang ia baca lewat buku hariannya memiliki tempat khusus dalam hatinya. Ia masih ingat, bahwa Aisha pun cemburu kepada Maria yang sudah wafat.
Maria yang hanya bisa ia cium secara halal dalam kondisi sakit. Maria sangat bangga telah menghafalkan Surat Maryam.
Setiap kali membaca Surat Maryam ayat 27 sampai 31, Fahri selalu menangis.
Ada dua hal yang membuatnya menangis. Pertama adalah isi ayat itu. Kedua, hal itu selalu mengingatkannya pada Maria saat membacanya dalam keadaan tidak sadar menjelang ajalnya datang. Seolah suara Maria masih ia dengar melantunkan ayat-ayat itu. Wajah Maria yang tirus jelita dengan mata terpejam dan air mata meleleh di pipi saat membacanya, terbayang di pelupuk matanya. Ia merasa, malaikat pun akan luluh jiwanya, bergetar hatinya, dan meneteskan air mata mendengar ayat itu dibaca oleh Maria.
Dan setiap kali merampungkan Surat Maryam, lalu membaca basmalah dan memulai Surat Thaha. pasti tangisnya pecah tak tertahan. Itu Surat yang menggetarkan seorang Umar bin Khattab yang masih jahiliyah sehingga akhirnya masuk Islam. Itu juga Surat yang dibaca Maria menjelang ia wafat.
Innama ilahukumullahul ladzi la ilaha illa huwa wasia‟ kulla syai in ilma.
(Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, pengetahuannya meliputi segala sesuatu).
Itulah ayat yang bergetar di bibir Maria, beberapa saat sebelum ia bersyahadat lalu menghembuskan nafas terakhir dengan senyum merekah di bibirnya.
Fahri lalu mengirim doa untuk Maria. Kemudian terisak-isak mengingat Aisha. Apakah Aisha telah menyusul Maria ? Ia tidak tahu harus seperti apa mendoakan Aisha. Ia terus berdoa kepada Allah agar Allah terus mengasihi istrinya. dan terus menyelimutinya dengan selimut rahmat dan taufik, baik ia
masih hidup ataukah telah tiada. Fahri lalu melanjutkan bacaannya dan menuntaskan hingga selesai juz tujuh belas.
Paman Hulusi naik ke ruang kerja Fahri, sambil membawa nampan berisi segelas susu cokelat hangat dan dua keping roti bakar. Paman Hulusi tampak lebih segar. Pakaiannya pun telah berganti. Paman Hulusi meletak kan nampan itu di meja yang ada di depan sofa.
"Saya dengar tadi Hoca terisak menangis." lirih Paman Hulusi sambil duduk di sofa di samping Fahri.
Fahri diam saja tidak menjawab. Ia meraih gelas itu dan menyeruput susu cokelat hangat yang menyegarkan.
'Meski pun sambil membaca Al-Qur‘an. saya yakin pasti ada hubungannya dengan Aisha."
Fahri masih diam saja. Ia mengambil sekeping roti dan mulai memakannya. Suasana hening tercipta sesaat.
Roti di tangan kanannya itu habis, Fahri kembali menyeruput susu cokelatnya.
''Terima kasih Paman Hulusi atas susu hangat dan roti bakarnya. Terima kasih atas kesetiaan dan segala kebaikan Paman Hulusi."
"Sayalah yang harus berterima kasih kepada Hoca. Tanpa kebaikan Hoca, mungkin hidup saya masih seperti sampah yang tiada gunanya."
"Segala yang baik hanya milik Allah."
"Maaf Hoca. apakah Hoca tidak terpikir untuk menikah lagi ? Hoca masih muda."
Fahri menghela nafas dan diam.
Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara indah nada biola digesek. Nadanya indah, riang, ceria, dan gembira. Suara itu berasal dari rumah Keira. Fahri mendengarkan dengan saksama nada itu. Itu nada lagu gembira Viva La Vida. Kegembiraan mendalam hingga terasa meremas- remas hati. Ada suasana
kegembiraan menyusup, namun diiringi kesedihan yang seperti menyayat relung hatinya. Air matanya meleleh.
"Hoca, pasti teringat Aisha Hanem. Dulu di rumah villa di Freiburg, saya sering mendengar nada seperti itu," lirih Paman Hulusi.
Fahri mengisyaratkan agar Paman Hulusi pergi dan turun. Lelaki tua yang berasal dari Adana Turki itu pergi meninggalkan Fahri. Sejurus kemudian Fahri terisak-isak.
"Oh Aisha, belahan jiwaku! Ya Allah, aku mohon pertolongan-Mu. Jangan kau binasakan dunia dan akhiratku karena merana mengenang Aisha. Ya Allah ya Rabbi, ya Rahman ya Rahim, rahmat -Mu ya Allah!"
Malam itu, salju tipis turun di Freiburg. Fahri sedang tenggelam membaca Tafsir Ruhul Ma‘ani untuk membandingkannya dengan manuskrip yang sedang ia teliti untuk disertasi doktornya. Sayup-sayup Fahri mendengar nada biola digesek. Semakin lama semakin jelas. Semakin dekat. Ketika ia melihat ke pintu ruang kerjanya. tampak Aisha mengenakan gaun malam yang anggun. Ia menggesek biola
dengan piawainya. Nada gembira ia mainkan. Aisha mengerlingkan mata kanannya menggoda.
Fahri menutup kitab tafsirnya. Ia bangkit dan mendekati Aisha. Aisha mundur. Fahri mendekat dan Aisha berjalan pelan sambil terus menggesek biolanya. Aisha menuju kamar tidurnya lalu duduk di bibir ranjang sambil tetap menggesek biola. Tiba-tiba nadanya berubah menjadi romantis. Fahri duduk di sampingnya. Aisha begitu wangi parfumnya, membuat Fahri mabuk. Sementara Aisha terus menyelesaikan lagunya. Fahri telah memeluk istrinya penuh cinta.
Aisha menyudahi nadanya, ketika Fahri sampai pada puncak mabuknya. Seperti biasa, sama seperti saat malam pertama di Kairo, Aisha membacakan puisinya,
"agar dapat melukiskan hasratku, kekasih,
taruh bibirmu seperti bintang di langit kata-katamu,
ciuman dalam malam yang hidup,
dan deras lenganmu memeluk daku
seperti suatu nyala bertanda kemenangan
mimpiku pun berada dalam benderang dan abadi"
Aisha luar biasa romantisnya.
"Ya Allah, bagaimana mungkin aku bisa melupakannya. Ampuni hamba-Mu kalau sampai cintaku padanya menutupi cintaku kepada-Mu ya Allah!"
lirih Fahri begitu tersadar dari sepotong kenangan mesranya dengan Aisha.
Dan nada biola itu, nada biola yang dimainkan Keira itu, adalah nada Viva La Vida yang hangat, mirip yang dimainkan Aisha pada malam ketika salju turun di Freiburg. Hanya saja, Fahri tidak bisa lagi membalas puisi itu dengan puisi yang selalu membuat pipi Aisha merona merah.
Alangkah manis bidadariku ini
bukan main elok pesonanya
matanya berbinar-binar
alangkah indahnya bibirnya,
mawar merekah di taman surga
Ia ingin kembali mengucap-kan puisinya itu kepada Aisha, bidadarinya, belahan jiwanya. Tapi,..
"Ya Allah mungkinkah itu terjadi lagi?"
Air mata Fahri terus meleleh. Bibir dan hatinya menggetarkan tasbih Nabi Yunus ketika berada di perut ikan paus.
”La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin.”
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar