PANASNYA BUNGA MEKAR : 27-03
Tetapi rasa-rasanya tidak mungkin lagi untuk membuka lubang itu. Betapa dahsyat kekuatan Mahisa Agni dan Witantra, namun kekuatan itu tidak akan dapat dipergunakannya untuk menyingkirkan reruntuhan batu-batu padas yang tertimbun di mulut goa itu.
“Apakah ular itu akan kembali?” bertanya Akuwu.
“Agaknya tidak,” jawab orang tertua, “suara itu jauh sekali. Agaknya ular itu masih marah karena kedua ekor yang lain telah berkelahi.”
Akuwu mengangguk-angguk. Ia pun sependapat, bahwa suara itu terdengar cukup jauh. Meskipun demikian, suara itu telah membuat setiap jantung berdebar-debar.
Untuk beberapa saat lamanya Akuwu Suwelatama dan Mahisa Agni masih sibuk mencari kemungkinan untuk memasuki goa itu. Tetapi mereka tidak melihat kesempatan untuk berbuat demikian, satu-satunya jalan adalah jalan yang mereka lalui untuk keluar. Lewat jalan itu, mereka tidak akan dapat membawa apa pun juga, karena untuk badan mereka sendiri dan selembar senjata, terasa sulit sekali.
Di tempat terpisah Akuwu Suwelatama telah berbicara dengan Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan. Ternyata mereka tidak mungkin untuk membawa barang-barang itu pada saat itu juga.
”Tetapi, apakah pada saat yang lain kita akan dapat melakukannya?” bertanya Akuwu.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Tidak mudah untuk melakukannya. Di saat lain kita harus mengadakan kesempatan khusus untuk datang lagi ke tempat itu. Mungkin kita akan bertemu lagi dengan ketiga ekor ular itu. Atau bertemu dengan kesulitan-kesulitan lain yang tidak kita duga.”
“Tetapi untuk membawa sekarang, juga tidak mungkin.” sahut Witantra, “Kita tidak akan dapat mengambilnya dari goa itu.”
Akuwu termangu-mangu. Namun akhirnya Mahisa Bungalan berkata, “Kita tinggalkan barang-barang itu. Kita sudah tahu, bahwa barang-barang itu tersimpan di bukit kapur. Jika pada suatu saat ada kesempatan untuk mengambilnya, biarlah Akuwu mengambilnya bagi kesejahteraan Pakuwonnya. Uang yang dirampas dari tangan rakyat Pakuwon Kabanaran itu biarlah dipergunakan bagi rakyat Kabanaran. Tetapi apabila hal itu tidak mungkin, maka perampok di tempat ini telah dapat ditundukan sampai tuntas. Itu sudah merupakan hasil yang sangat besar. Sementara harta benda itu akan tinggal menjadi harta karun di dalam tanah di bawah bukit itu.”
Akuwu Suwelatama mengangguk-angguk. Namun ia tidak dapat menunda-nunda lagi. Tiba-tiba saja mereka mendengar sekali lagi ular raksasa itu menguak. Lebih keras dari semula.
“Kedengarannya menjadi semakin dekat.” desis Akuwu.
“Kita tinggalkan tempat ini.” berkata Mahisa Bungalan.
Akuwu segera kembali kepada pengawal-pengawalnya yang menjaga para perampok yang tertawan. Katanya kemudian, “Kita akan segera meninggalkan tempat ini. Biarlah harta benda itu tertimbun di dalam tanah. Itu lebih baik daripada kita akan hangus dibakar oleh hembusan api dari mulut ular raksasa itu.”
“Ular agaknya menjadi semakin dekat,” berkata orang tertua di antara para perampok, “mungkin perhitunganku keliru.”
Akuwu pun segera mempersiapkan orang-orangnya. Sejenak kemudian mereka pun telah siap untuk meninggalkan tempat yang mengerikan itu.
Ketika mereka mendengar ular itu sekali lagi menguak, maka Akuwu pun segera memerintahkan para pengawalnya membawa para perampok meninggalkan tempat itu. Mereka menelusuri jalan setapak yang semakin lama menjadi semakin basah.
“Apakah jalan lewat air lebih mudah dari jalan lewat darat ini?” bertanya Akuwu.
“Ya.” jawab orang tertua di antara para perampok.
“Apakah kita akan menempuh jalan air?” bertanya Mahisa Bungalan.
Akuwu masih nampak berpikir. Agaknya ia masih belum dapat mempercayai orang itu sepenuhnya. Orang itu telah mencoba merahasiakan lubang di bawah bukit karang berkapur itu. Seandainya saat itu tidak ada dua ekor ular naga yang bertempur itu, mungkin orang tertua itu masih tetap ingkar.
Meskipun demikian, Akuwu itu pun bertanya Jika kita akan melalui jalan air di rawa-rawa itu, di mana kita akan turun?”
“Sebentar lagi kita akan sampai,” jawab orang tertua itu, “di sela-sela pepohonan air itu terdapat beberapa buah rakit. Sebagian besar dari rakit kita sedang dipergunakan oleh sekelompok yang besar yang pergi ke padukuhan.”
“Sudah aku katakan,” jawab Akuwu, “mereka sudah kami tangkap.”
Orang tertua itu tidak menjawab lagi. Tetapi nampaknya ia memang membawa iring-iringan itu ke tempat yang dikatakannya.
Dalam pada itu, sekali lagi terdengar kuak ular yang menjadi semakin keras. Agaknya ular yang berkepala merah itu benar-benar akan kembali ke bukit karang. Mungkin masih tercium bau darah, atau ada sesuatu yang menarik perhatiannya dan membuatnya marah.
Namun orang tertua itu terkejut ketika ia melihat sesuatu di dalam air di rawa-rawa itu. Air yang biasanya tenang itu pun nampak bergejolak. Seakan-akan telah terdapat pusaran air yang memutar isi rawa itu.
Ketika sekali nampak gelombang yang besar beriak di wajah rawa itu, maka orang-orang yang berada di tepi rawa-rawa itu pun melihat seekor ular raksasa berwarna hitam sedang menggeliat. Kemudian nampak warna merah mengambang di wajah rawa-rawa itu.
“Ular itu.” geram orang tertua di antara para perampok.
Orang-orang itu pun segera melangkah surut. Namun sejenak kemudian muncullah kepala ular bertanduk itu ke atas permukaan.
“Matilah kita sekarang.” desis orang tertua.
“Cepat, menyingkir!” desis Mahisa Agni.
Ternyata ular itu sedang sibuk dengan dirinya sendiri. Di kepalanya yang bertanduk itu sedang meleleh darah bercampur air lumpur. Agaknya ular itu masih sedang mengatasi perasaan sakit setelah bertempur melawan ular berwarna kehijau-hijauan itu.
Karena itu, maka ular berwarna hitam lekam dan bertanduk di kepalanya itu sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang berada di pinggir rawa-rawa itu.
“Kita tidak dapat mengikuti jalan melalui air.” berkata orang tertua sambil dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu.
Iring-iringan itu pun kemudian menelusuri jalan setapak, yang mereka lalui pada saat mereka pergi ke bukit karang iju. Mereka telah memutuskan untuk tidak mencoba melalui jalan air. Ular hitam yang kesakitan itu agaknya akan menjadi sangat berbahaya bagi mereka. Pada saat-saat lain, ular itu memang tidak pernah mengganggu mereka. Sekali kepala ular itu muncul di sebelah pohon raksasa itu, memandangi iring-iringan rakit yang kebetulan lewat. Kemudian hilang lagi ke dalam air. Namun meski pun ular itu tidak dengan sengaja mengganggu mereka, tetapi dalam keadaan kesakitan itu, sentuhan tubuhnya akan dapat menghancurkan rakit-rakit yang lewat.
Dengan tergesa-gesa iring-iringan itu pun kemudian meninggalkan tempat itu semakin jauh. Mereka melalui hutan yang basah oleh air yang meluap dari rawa-rawa di sebelah. Meskipun mereka tidak akan bertemu dengan ular bertanduk itu, namun mereka pun harus berhati-hati terhadap ular-ular kecil yang berkeliaran di tempat yang basah. Ular air yang sebesar jari pun akan dapat membunuh mereka karena bisanya yang tajam.
Beberapa saat kemudian, ternyata mereka tertegun sejenak ketika mereka melihat hutan yang rusak. Pepohonan yang tumbang malang melintang, menjelujur panjang menuju ke ujung lain dari rawa-rawa itu.
“Nampaknya ular hijau yang kesakitan itu.” desis orang tertua di antara para perampok itu.
Sebenarnyalah ular yang berwarna hijau ke coklat-coklatan itu pun telah berusaha untuk menyingkir. Namun oleh perasaan sakitnya, nampaknya ular itu telah merusak hutan yang dilaluinya.
Dalam pada itu, terdengar sekali lagi ular berkepala merah itu menguak. Tidak terlalu dekat. Nampaknya ular itu berhenti di suatu tempat.
Semakin lama iring-iringan itu pun menjadi semakin jauh. Namun demikian, mereka terkejut ketika mereka melihat api yang menjilat ke udara. Meskipun agak jauh, namun darah mereka rasa-rasanya memang membeku di dalam jantung.
“Kenapa ular itu marah lagi?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Entahlah,” jawab orang tertua itu, “agaknya ia masih mencium bau darah. Atau mungkin karena sebab-sebab yang lain.”
Tetapi orang-orang itu tidak menghiraukannya lagi. Mereka justru berjalan lebih cepat menyusup pepohonan. Orang tertua di antara para perampok itu, seperti juga anak muda yang bersama para pengawal sebagai penunjuk jalan ketika mereka datang, nampaknya telah mengenal jalan itu sebaik-baiknya.
Dengan demikian, maka mereka pun semakin lama menjadi semakin jauh dari bukit karang berkapur itu, sehingga mereka pun menjadi semakin jauh pula dari ular-ular raksasa yang membuat mereka menjadi sangat ngeri.
Ketika mereka kemudian berpapasan dengan seekor ular yang besarnya melampaui betis kaki, maka mereka sama sekali tidak terkejut. Ketika ular itu berhenti dan mengangkat kepalanya memandangi orang-orang yang Lewat itu, maka mereka tidak menghiraukannya. Karena ular sebesar betis sudah terlalu sering mereka jumpai.
Meskipun demikian, justru ular-ular yang jauh lebih kecillah yang mendapat perhatian. Ular yang tidak segera dapat mereka lihat, bahkan mungkin akan dapat terinjak kaki di atas tanah basah berlumpur di antara semak-semak dan ilalang yang liar.
Ternyata bahwa mereka tidak dapat berjalan terlalu jauh, karena malam segera mulai turun menyelimuti hutan berawa-rawa itu. Seperti ketika mereka berangkat, maka mereka pun berusaha mencari tempat untuk beristirahat pada dahan pepohonan.
Beberapa orang di antara para perampok yang sudah menyerah itu kadang-kadang telah diusik pula oleh satu keinginan untuk melarikan diri. Namun ternyata mereka tidak akan mendapat kesempatan. Mereka menyadari, bahwa para pengawal yang datang ke sarang mereka adalah para pengawal terpilih yang tidak dapat mereka anggap telah lengah pada saat-saat mereka beristirahat.
Karena itu, ketika fajar menyingsing, dan pasukan itu siap untuk melanjutkan perjalanan, tidak seorang pun di antara mereka yang kurang.
Akhirnya, mereka pun telah sampai ke padukuhan di sebelah rawa-rawa yang disebut Kedung Sertu. Mereka segera dikumpulkan dengan kawan-kawan mereka. Dengan demikian mereka tidak dapat lagi menganggap bahwa para pengawal, termasuk Akuwu Suwelatama itu hanya sekedar menipu mereka, dengan mengatakan bahwa pemimpin mereka telah tertangkap.
“Temuilah mereka.” berkata Akuwu Suwelatama kepada para perampok yang dibawanya dari bukit karang berkapur itu.
Orang tertua di antara para perampok itu pun segera menemui pemimpinnya. Mereka sempat saling menceriterakan, bagaimana mereka dapat tertangkap oleh Akuwu Suwelatama.
“Akuwu itu memang cerdik.” desis perampok itu.
“Tetapi kami hampir saja dibinasakan oleh ular-ular raksasa itu,” berkata orang tertua di antara para perampok yang tinggal, “karena itu, aku tidak dapat merahasiakan lagi lubang yang memasuki goa di bawah tanah itu.”
Wajah pemimpin perampok itu menjadi merah. Katanya, “Kau sudah berkhianat.”
“Tidak,” jawab orang tertua itu, “aku tidak mempunyai pilihan lain. Jika pada waktu itu kami tidak memasuki lubang itu, maka kami akan dilumatkan oleh pertarungan antara ular-ular raksasa itu.”
”Dan kau sempat membuka penutup lubang itu? Bukankah untuk membuka bongkahan batu sumbat itu diperlukan waktu?” bertanya pemimpin perampok itu.
“Itulah yang mendebarkan jantung,” berkata orang tertua di antara para perampok yang menunggui sarangnya, “dua orang di antara para pengawal itu ternyata memiliki ilmu iblis. Mereka dapat memecah batu penyumbat itu dengan tangannya.”
“Jangan mengigau. Apakah kau sudah menjadi gila karena kau melihat ular itu bertempur?” geram pemimpinnya.
“Sebaiknya kau melihat sendiri. Ia akan dapat memecahkan kepala seseorang dengan sentuhan tangannya. Tidak usah dengan mengerahkan segenap kemampuannya.” berkata orang tertua itu.
“Tetapi ia tidak melakukannya. Ketika kami bertempur, tidak seorang pun yang kepalanya pecah. Yang terbunuh, adalah karena dadanya koyak oleh pedang, atau lambungnya robek oleh ujung tombak.” berkata pemimpin perampok itu
“Nampaknya orang itu tidak ingin berbuat demikian. Ketika kami bertempur, orang itu pun tidak menunjukkan kelebihannya itu. Tetapi dalam keadaan memaksa, maka dua di antara mereka telah memecahkan batu padas yang menyumbat lubang goa itu.” sahut orang tertua itu, “Dengan demikian kami dapat menyelamatkan diri dari kepunahan. Tetapi dengan demikian orang-orang itu melihat isi goa di bawah tanah itu.”
“Apakah mereka membawanya?” bertanya pemimpin perampok itu.
Orang tertua itu dapat menceriterakan, segala sesuatunya yang terjadi, sehingga semua barang-barang masih tetap berada di dalam goa.
“Entahlah, jika ular berkepala merah itu akan menghancurkan batu karang itu. Ketika kami pergi, ular itu telah marah lagi tanpa sebab.” berkata orang tertua itu.
Pemimpin perampok itu mengangguk-angguk. Memang tidak dapat diingkari, bahwa orang tertua itu, tidak mempunyai pilihan lain.
Namun dalam pada itu, pemimpin perampok itu merasa agak lega dan masih berpengharapan, bahwa pada suatu saat ia akan dapat kembali ke bukit karang berkapur itu untuk mengambil barang-barang yang disimpannya. Meskipun ia tidak mempunyai gambaran, bagaimana ia akan mengambil barang-barang itu dari bawah bukit karang itu.
Apalagi jika ketiga ekor ular raksasa itu masih saja berkeliaran di sekitar bukit itu atau di rawa-rawa di sebelah bukit. Bagaimana juga, ular-ular raksasa itu memang harus diperhitungkan, karena ular-ular itu akan dapat berbuat banyak terhadap siapa pun juga yang mendekati bukit karang itu.
Tetapi selain ular-ular raksasa itu, maka pemimpin perampok itu pun harus berfikir, sampai kapan ia akan berada di tangan Akuwu Suwelatama. Bahkan mungkin ia tidak akan pernah dilepaskan lagi, atau bahkan demikian mereka berada di Pakuwon Kabanaran, para perampok itu akan digantung di alun-alun.
Namun menilik sifat beberapa orang pemimpin dalam pasukan para pengawal itu, pemimpin perampok itu masih mempunyai harapan untuk hidup dan menikmati kekayaan yang berlimpah-limpah yang disembunyikannya di bawah bukit.
Tetapi kecemasan lain mulai membayang. Jika ada satu dua orang yang telah mendapat kepercayaannya memasuki goa itu ternyata kemudian mendapatkan kebebasannya lebih dahulu, maka orang itulah yang akan mengambil harta benda yang tidak ternilai harganya itu.
Dengan demikian, maka dalam keadaannya itu, pemimpin perampok itu dibayangi oleh berbagai macam bayangan yang muram. Bahkan ia mulai membayangkan, bagaimana ia akan saling memburu dengan kawan-kawannya beberapa tahun mendatang. Mungkin sekali, kawanan perampok itu akan justru saling menyingkirkan kawan-kawannya. Saling memburu dan saling membunuh.
“Persetan!” pemimpin perampok itu menggeram, “itu akan terjadi beberapa tahun mendatang. Sekarang aku menghadapi hukuman yang berat karena perbuatanku itu. Bahkan mungkin hukuman mati.”
Dalam pada itu, untuk beberapa hari mereka masih tetap berada di Padukuhan di sekitar Kedung Sertu. Namun sementara itu Akuwu telah menyiapkan para pengawalnya untuk membawa tawanan mereka kembali ke Pakuwon. Tidak mudah untuk menggiring para perampok yang jumlahnya cukup banyak itu. Meskipun mereka sudah menyerah dan tidak bersenjata, tetapi dalam keadaan yang khusus, mungkin sekali mereka akan melarikan diri.
Tetapi Akuwu tidak mau mengalami kesulitan seperti itu di perjalanan yang panjang. Jumlah yang terlalu banyak dan dendam yang mungkin masih bergejolak di dalam dada para perampok yang tertangkap itu.
Karena itu, maka Akuwu telah mengambil keputusan, untuk memanggil sepasukan pengawal lagi dari Pakuwon Kabanaran, sehingga akan terdapat cukup banyak pengawal yang akan membawa para perampok yang jumlahnya lebih besar dari pengawal yang ada itu.
Demikianlah, Akuwu telah menugaskan tiga orang pengawal untuk pergi ke Pakuwon. Dengan kuda-kuda yang cukup tegar mereka berpacu menuju ke Pakuwon Kabanaran.
Para Senopati yang memimpin pemerintahan selama Akuwu tidak ada, telah mendapat laporan dari ketiga orang pengawal itu. Karena itu, maka mereka pun segera menyiapkan sepasukan pengawal untuk menjemput Akuwu Suwelatama.
Meskipun demikian, para Senopati itu tidak mengabaikan peristiwa yang belum lama telah menimpa Pakuwon Kabanaran. Ketika pasukan beberapa orang Pangeran telah melanda Pakuwon itu seperti banjir, sehingga Akuwu Suwelatama terpaksa menyingkir untuk beberapa saat. Jika saat itu pasukan pengawal dari Kedung Sertu masih belum dapat meninggalkan tugasnya, maka para pengawal itu tidak dapat ikut mempertahankan Pakuwonnya.
“Para Pangeran itu untuk beberapa saat tidak akan berbuat apa-apa.” berkata salah seorang Senopati yang ikut mempertahankan kota Pakuwon pada waktu itu.
“Tetapi mungkin sekali mereka mempunyai perhitungan lain,” jawab kawannya, “justru mereka pun sadar, bahwa kita menganggap mereka tidak akan kembali dalam waktu singkat.”
“Memang perhitungan itu mungkin sekali,” jawab Senopati yang pertama, “tetapi mereka tidak sempat untuk mengumpulkan pasukan yang cukup. Beberapa orang terpenting di antara mereka telah terbunuh. Bahkan salah seorang yang paling diharapkan untuk ikut serta dalam gerakan mereka, ternyata telah berpihak kepada Akuwu Suwelatama.”
Namun dalam pada itu, seorang Senopati yang lebih tua berkata, “Memang kemungkinan bagi para Pangeran itu untuk melakukan gerakan yang besar seperti yang pernah dilakukan adalah kecil sekali. Meskipun demikian, apa salahnya kita berhati-hati. Kadang-kadang kita memang dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak terduga-duga. Memang mungkin para Pangeran itu dapat menghimpun orang-orang yang kurang mengetahui persoalannya dari padepokan-padepokan. Sementara mereka mendapat pengetahuan dan ilmu olah kanuragan dari para pemimpin padepokan itu. Namun kemungkinan yang demikian memang kecil sekali.”
Para Senopati itu pun mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa mereka harus bersiap menghadapi segala kemungkinan dari pihak manapun juga.
Demikianlah, setelah diperhitungkan dengan saksama, maka di bawah pimpinan seorang Senopati, sepasukan pengawal telah meninggalkan kota Pakuwon menuju ke daerah berawa-rawa di Kedung Sertu.
Perjalanan itu sendiri bukannya perjalanan yang sulit. Tidak ada hambatan apa pun di perjalanan. Memang agak berbeda dengan perjalanan dari padukuhan di sekitar rawa-rawa di Kedung Sertu itu menuju ke bukit karang berkapur sarang para perampok itu. Dibanding dengan perjalanan menuju ke bukit karang, maka perjalanan para pengawal dari Pakuwon Kabanaran itu tidak imbang sama sekali. Perjalanan dari kota Pakuwon itu bagaikan perjalanan tamasya yang mengasyikkan.
Meskipun demikian, ketika para pengawal yang menjemput mereka menceriterakan pengalamannya ke sarang para perampok itu, maka kawan-kawannya sulit dapat membayangkannya. Bahkan mereka menganggap kawannya itu sedang bergurau atau membual.
Tetapi ketika para pengawal di bawah Seorang Senopati itu sampai ke padukuhan di daerah Kedung Sertu, maka setiap orang pengawal yang pernah mengikuti sergapan yang mengerikan ke sarang perampok di bukit karang berkapur itu telah menceriterakan hal yang serupa.
“Jadi hal itu benar-benar telah terjadi?” bertanya seorang pengawal.
“Kau kira aku berbohong?” desis kawannya yang ikufmemasuki sarang perampok itu.
“Jadi ular-ular raksasa itu benar-benar ada?” bertanya pengawal itu.
“Ya. Dan mereka benar-benar bertempur di antara mereka.” jawab kawannya, “Jadi selama ini kau anggap kami sekedar membual.”
“Aku kira demikian,” jawab pengawal itu, “tetapi aku dengar Akuwu pun mengatakannya pula. Bahkan Mahisa Bungalan juga berceritera tentang ular-ular raksasa itu.”
“Anak setan,” geram pengawal yang ikut memasuki sarang perampok itu, “selama ini kau anggap kami berbohong atau sekedar mengungkapkan sebuah dongeng menjelang tidur.”
Pengawal itu tertawa. “Aku minta maaf. Tetapi dengan demikian maka kalian telah melakukan satu tugas yang mengerikan.”
“Ya. Pada saatnya akan datang giliranmu.” berkata kawannya pula.
“Tidak. Lebih baik aku tidak mendapat tugas memasuki daerah neraka berawa-rawa itu.” jawabnya.
“Pada suatu saat, Akuwu tentu akan kembali ke tempat itu. Di dalam goa, di bawah bukit karang berkapur itu terdapat harta benda yang tidak ternilai harganya. Harta benda yang telah dikumpulkan oleh para perampok itu bertahun-tahun lamanya. Barang-barang yang terbuat dari emas dengan permata intan berlian. Pendok, timang dan bahkan terdapat sepasang patung emas murni.”
“Dari mana kau tahu bahwa patung itu terbuat dari emas murni?” bertanya kawannya.
“Nampaknya memang demikian,” jawab pengawal yang ikut serta memasuki sarang perampok itu, “tetapi aku tidak tahu, apakah benar patung itu terbuat dari emas murni.”
Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia mulai membayangkan, bahwa memang mungkin pada suatu saat, ia akan ditunjuk untuk ikut serta memasuki neraka yang mengerikan itu. Ia tidak akan gentar menghadapi sepasukan prajurit pilihan. Namun menghadapi ular-ular naga raksasa itu, tentu tengkuknya akan meremang. Ular hitam legam bertanduk seperti seekor kerbau. Ular berwarna hijau kecoklat-coklatan dan seekor lagi berwarna merah membara dengan jamang dan sumping di telinganya dan api yang menyembur dari mulutnya,
Tetapi jika perintah itu benar-benar datang kepadanya, maka ia tidak akan mengelak. Apalagi Akuwu sendiri ikut pula dalam pasukan yang bakal disusun untuk kepentingan tersebut.
Dalam pada itu, maka ketika pasukan pengawal itu telah berada di padukuhan tempat para perampok itu ditahan, maka Akuwu segera menyusun pasukannya. Dengan teliti ia memperhitungkan keadaan. Mereka harus kembali sampai ke kota Pakuwon dengan utuh. Juga para tawanan itu harus mereka bawa seluruhnya tanpa seorang pun yang dapat melepaskan diri.
”Jika seorang saja di antara mereka terlepas, maka orang itu tentu akan berusaha untuk kembali ke sarangnya dan menemukan kembali harta benda yang tersimpan.” berkata Akuwu, “Sedangkan harta benda itu akan sangat penting artinya bagi rakyat Pakuwon Kabanaran. Dengan harta benda yang tidak ternilai jumlahnya itu akan dapat dibangun kepentingan rakyat Pakuwon Kabanaran. Tetapi jika harta benda itu jatuh kembali ke tangan para perampok, maka harta benda itu tidak akan mempunyai nilai dan tidak mempunyai arti sama sekali bagi rakyat Pakuwon ini.”
Dengan demikian, maka segala sesuatunya memang harus diperhitungkan dengan cermat. Sementara itu, Akuwu dan para pengawal pun mengetahui, bahwa para perampok itu sudah terbiasa hidup dalam tantangan keadaan yang sangat berat, sehingga mereka akan dapat berbuat sesuatu yang tidak diduga sama sekali.
Setelah segalanya dipersiapkan sebaik-baiknya, maka Akuwu Suwelatama itu pun telah minta diri kepada rakyat di padukuhan di sekitar Kedung Sertu. Sementara rakyat di daerah itu pun mengucapkan terima kasih atas hasil yang telah dicapai oleh Akuwu serta para pengawalnya di daerah itu. Dengan demikian maka mereka akan dapat hidup dengan tenang, tanpa gangguan dari para perampok yang untuk waktu yang cukup lama telah membayangi ketenangan hidup rakyat di daerah di sekitar Kedung Sertu. Bahkan sampai ke padukuhan-padukuhan yang agak jauh.
Seperti yang pernah dilakukan oleh rakyat di daerah Kedung Sertu, mereka mengadakan keramaian yang meriah. Jika beberapa saat yang lalu hal itu dilakukan untuk memancing para perampok agar menganggap bahwa para pengawal telah meninggalkan padukuhan-padukuhan itu, maka yang diselenggarakan kemudian itu benar-benar tumbuh dari satu ungkapan terima kasih terhadap Akuwu Suwelatama dengan para pengawal yang telah membebaskan mereka dari ketakutan dan kegelisahan.
Pemimpin perampok itu mengumpat di dalam hati. Dengan wajah membara ia mengumpat-umpat di dalam bilik tahanannya ketika ia mendengar keramaian di padukuhan itu.
“Aku terjebak oleh suasana seperti ini,” geram pemimpin perampok itu, “jika saat itu aku menyadari, aku tidak akan dikurung di dalam bilik pengab seperti ini.”
Tetapi segalanya telah terjadi. Dan pemimpin perampok itu tidak dapat mengingkari kenyataan itu.
Dengan demikian, maka para perampok itu, termasuk pemimpinnya tidak dapat mengelak, ketika di hari berikutnya, mereka digiring oleh para pengawal menuju ke kota Pakuwon Kabanaran. Karena mereka tidak berkuda, maka perjalanan mereka itu pun menjadi bertambah panjang.
Namun demikian mereka memasuki kota Pakuwon, maka rakyat telah menyambut kedatangan para pengawal dengan meriah. Mereka berdiri memagari jalan menuju ke istana Akuwu Suwelatama. Sambil bersorak-sorak mereka mengangkat tangan mereka melihat hasil yang gemilang dari tugas yang berat yang dipimpin oleh Akuwu suwelatama sendiri.
Sementara itu, para perampok yang merasa dirinya menjadi tontonan itu telah mengumpat-umpat. Bukan saja di dalam hati, tetapi ada di antara mereka yang tidak dapat menahan hati sehingga kemarahannya telah meledak.
“Jika saja tanganku tidak terikat.” geramnya.
Kawannya yang berjalan di sampingnya memandanginya. Tetapi ia tidak berkata apapun juga, meskipun di dalam hati ia bertanya, “Ketika kita menyerah, bukankah tangan kami juga belum terikat?”
Demikianlah, maka satu tugas yang berat telah terselesaikan. Akuwu tidak dapat menutup kenyataan, bahwa yang telah banyak memberikan bantuan, pikiran dan kemampuannya adalah Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra. Karena itu, maka secara khusus Akuwu pun telah menyampaikan ucapan terima kasih kepada mereka.
Namun dalam pada itu, Akuwu itu pun berkata, “Masih ada satu tugas yang sama beratnya. Menyelesaikan persoalan yang serupa di hutan perbatasan.”
“Ya. Tetapi aku kira kekuatan Pakuwon ini telah terkumpul. Semua kekuatan akan dapat dipusatkan di hutan perbatasan.” jawab Mahisa Bungalan, “Sementara itu, agaknya Pangeran Indrasunu masih belum mungkin untuk bergerak.”
“Aku kira memang demikian,” sahut Akuwu, “tentu kami tidak akan dapat menahan kalian terlalu lama di sini. Tetapi apa yang pernah kita lakukan di Kedung Sertu akan merupakan pelajaran yang sangat berharga. Meskipun mungkin para perampok di hutan perbatasan itu sudah mendengar pula tentang apa yang terjadi, sehingga mereka akan lebih berhati-hati.”
“Mungkin demikian,” berkata Mahisa Agni, “mungkin mereka tidak akan dapat terpancing lagi dengan cara yang kita lakukan di Kedung Sertu.”
“Harus dicari cara yang lain,” sambung Witantra, “tetapi aku yakin, Akuwu tidak akan kekurangan akal. Meskipun di hutan perbatasan itu Akuwu akan bersentuhan dengan Pakuwon tetangga.”
“Ya. Aku memang harus memperhitungkan kemungkinan itu.” berkata Akuwu Suwelatama.
Karena itulah, maka Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra telah menganggap bantuan yang mereka berikan telah cukup. Mereka akan menyerahkan penyelesaian masalah para perampok di hutan perbatasan kepada Akuwu Suwelatama yang kekuatan para pengawalnya telah dapat dikumpulkan. Pengawalnya yang berada di daerah-daerah yang tersebar telah dapat ditarik, selain pasukan yang berada di hutan perbatasan itu sendiri, sehingga apabila diperlukan, maka seluruh kekuatan pasukan pengawal Pakuwon Kabanaran akan dapat berada di hutan perbatasan.
Tetapi ada kesulitan tersendiri di hutan perbatasan itu. Sarang para perampok tidak berada di tlatah Pakuwon Kabanaran itu sendiri, sehingga apabila mereka ingin langsung memasuki sarang para perampok, maka mereka harus memasuki daerah tetangga. Hal itulah yang akan dapat menumbuhkan kesulitan tersendiri.
“Sebenarnya kami masih sangat memerlukan bantuan kalian,” berkata Akuwu, “tetapi apa boleh buat. Kami sudah cukup membuat kalian mengalami banyak kesulitan. Dan selebihnya, kami harus mengakui, tanpa kalian, segala usaha kami telah gagal.”
”Tentu tidak,” jawab Mahisa Agni, “sebenarnya kami juga ingin ikut serta menyelesaikan segala masalah yang timbul. Tetapi kami sudah terlalu lama meninggalkan Singasari.”
“Baiklah,” berkata Akuwu, “menurut perhitunganku, penyelesaian masalah para perampok di hutan perbatasan perlahan-lahan akan dapat kami selesaikan. Kami akan menjajagi kemungkinan dengan mempergunakan cara yang sama seperti yang kita rencanakan sejak semula. Bahkan kita sudah pernah mempertimbangkan kemungkinan untuk melakukannya atas hutan perbatasan itu lebih dahulu, sebelum Kedung Sertu. Tetapi akhirnya kita memutuskan untuk memasuki daerah rawa-rawa itu lebih dahulu.”
“Mungkin Akuwu dapat menempuh jalan lain,” berkata Mahisa Agni kemudian, “mungkin Akuwu dapat mempersoalkannya dengan Akuwu di Pakuwon seberang hutan perbatasan. Bukan sekedar pemimpin pasukan pengawal yang ada di daerah itu. Jika perlu Akuwu dapat memohon bantuan dari para pemimpin di Kediri untuk menyelesaikan masalah ini.”
Akuwu Suwelatama mengangguk-angguk. Katanya, “Segala jalan akan aku tempuh. Mudah-mudahan aku berhasil. Bahkan aku akan mencoba membujuk Akuwu di seberang hutan perbatasan, bahwa mereka akan berhak memiliki harta benda yang tersimpan di daerah mereka yang akan dapat di pergunakan bagi kepentingan rakyat banyak.”
“Mungkin hal itu akan menarik pula, Akuwu.” sahut Witantra, “Akuwu akan dapat memberikan contoh apa yang terdapat di dalam goa itu. Sayang harta benda yang tidak ternilai harganya itu belum dapat kita angkat keluar.”
Namun dalam pada itu, selagi Mahisa Bungalan, Witantra dan Mahisa Agni telah bersiap-siap untuk kembali ke Singasari, seorang utusan dari daerah hutan perbatasan telah datang menghadap Akuwu Suwelatama.
“Apakah ada yang penting yang akan kau laporkan?” bertanya Akuwu Suwelatama.
“Ampun Akuwu,” jawab penghubung itu, “ternyata bahwa para perampok yang memang mendapat perlindungan dari para pengawal di Pakuwon Watu Mas.”
“Kenapa kau berkata demikian?” bertanya Akuwu.
“Ketika para pengawal dari Kabanaran mengejar beberapa orang perampok sampai ke perbatasan, maka tiba-tiba saja kami sudah berhadapan dengan para pengawal dari Pakuwon Watu Mas.” jawab penghubung itu.
“Mungkin para pengawal dari Pakuwon sebelah belum mengerti, apa yang sedang kalian lakukan?” bertanya Akuwu Suwelatama.
“Kami sudah mengatakan, Sang Akuwu, bahwa kami sedang mengejar sekelompok perampok,” jawab penghubung itu, “tetapi pimimpin pengawal dari Watu Mas justru menuduh kami menyebarkan ketakutan dan kekalutan di daerah Pakuwon Watu Mas.”
“Mungkin terjadi salah paham,” berkata Akuwu Suwelatama, “karena itu, sampaikan perintahku. Agar untuk sementara semua kegiatan dilakukan di Pakuwon kita sendiri. Kita tidak akan memasuki Pakuwon sebelah sebelum aku dapat menemui Akuwu di Watu Mas.”
“Tetapi setiap kali kesempatan yang sudah ada di hadapan hidung kita terpaksa terlepas lagi, Sang Akuwu. Mereka selalu melarikan diri ke daerah seberang perbatasan.” jawab penghubung itu, “Seandainya Akuwu dari Pakuwon Watu Mas tidak dengan sengaja melindungi mereka, maka kami tentu akan dapat menangkap mereka. Setidak-tidaknya sebagian dari mereka. Atau justru pasukan pengawal dari Watu Mas menahan agar para perampok itu tidak memasuki wilayahnya untuk memberi kesempatan kami dapat menangkap mereka.”
“Sudahlah,” berkata Akuwu, “sampaikan saja perintahku.”
Penghubung itu termangu-mangu. Namun ia tidak akan dapat membantah lagi.
Meskipun demikian, tiba-tiba saja ia berkata, “Sang Akuwu. Kami mohon ampun, bahwa kami telah melakukan sesuatu mendahului perintah tuanku.”
“Apa yang sudah kalian lakukan?” bertanya Akuwu.
“Karena sebagian dari kami tidak dapat mengendalikan perasaan lagi, maka kami telah menugaskan dua orang petugas sandi untuk memasuki wilayah Pakuwon Watu Mas. Menurut pengamatan para petugas sandi, sebenarnyalah bahwa para perampok itu mendapat perlindungan dari para pengawal di Watu Mas. Para pengawal di Watu Mas itu ternyata mendapat sebagian dari hasil kejahatan para perampok itu.”
“Apakah Akuwu di Watu Mas mengetahuinya?” bertanya Akuwu Suwelatama.
“Semula Akuwu di Watu Mas itu memang tidak mengetahui. Kami masih berpengharapan bahwa pada suatu saat, apabila Akuwu di Watt Mas mengetahui perbuatan sebagian dari para pengawalnya itu, ia akan mengambil satu tindakan.” jawab penghubung itu, “Namun ternyata sesuatu perkembangan baru telah terjadi. Seorang Pangeran dari Kediri telah datang ke Pakuwon Watu Mas. Nampaknya sebelum terjadi hubungan antara Pangeran itu dengan Akuwu di Watu Mas, Pangeran itu telah lebih dahulu berhubungan dengan para pemimpin pengawal di perbatasan.”
“Siapakah nama Pangeran itu?” bertanya Akuwu Suwelatama.
“Pangeran Indrasunu.” jawab penghubung itu.
“Adimas Indrasunu.” desis Akuwu Suwelatama. Sementara itu Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra yang kemudian mendengar berita itu pula dari Akuwu telah menggeleng-gelengkan kepalanya.
Laporan itu memang sangat menarik perhatian. Ternyata api yang menyala di dalam dada Pangeran Indrasunu itu masih belum padam.
“Dari mana ia mendengar pertentangan yang terjadi di perbatasan itu?” desis Mahisa Agni.
“Ia mencari segala cara untuk mencari kepuasan dengan melepaskan dendamnya.” berkata Akuwu Suwelatama.
Karena peristiwa yang berkembang itulah, maka Akuwu tidak dapat menganggap bahwa penyelesaian dengan para perampok itu akan dapat diselesaikan sebagaimana mereka menyelesaikan para perampok di Kedung Sertu. Meskipun di Kedung Sertu mereka mengalami satu peristiwa yang sangat mengerikan, namun yang mereka hadapi waktu itu bukanlah hubungan dengan seseorang. Ular-ular raksasa itu tidak akan menganggap perkembangan persoalan yang terjadi akan menjadi semakin meluas. Yang sudah terjadi itu bukan merupakan persoalan lagi bagi ular-ular raksasa itu dengan Pakuwon Kabanaran. Tetapi tentu tidak demikian dengan Pakuwon Watu Mas yang telah berhubungan dengan Pangeran Indrasunu.
“Akuwu harus segera memberikan penjelasan.” berkata Mahisa Bungalan.
“Ya. Ternyata aku terlambat. Aku berusaha menyelesaikan persoalan yang berkembang di Kedung Sertu, karena aku tidak menduga sama sekali, bahwa adimas Indrasunu masih meneruskan pemanjaan dendamnya.” berkata Akuwu Suwelatama.
“Apakah Akuwu akan pergi ke Pakuwon Watu Mas?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Ya. Secepatnya. Sementara aku memerintahkan agar para pengawal tetap menjaga diri dan menahan perasaan mereka.” berkata Akuwu Suwelatama.
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah ia mulai memikirkan perkembangan baru yang terjadi. Sementara itu tiba-tiba saja Mahisa Bungalan berkata, “Paman, jika paman berdua berkenan, biarlah aku tinggal di sini, sementara paman berdua dapat kembali ke Singasari.”
Mahisa Agni memandangi Witantra sekilas. Dalam pada itu, Witantra itu pun berkata, “Bukankah kita tidak berkeberatan?”
Mahisa Agni mengangguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan dapat melaporkannya, bahwa terjadi satu perkembangan baru sehingga Mahisa Bungalan masih akan tinggal barang satu dua pekan di Pakuwon ini.”
“Aku akan sangat berterima kasih,” berkata Akuwu Suwelatama, “dengan demikian, aku akan mendapat kawan untuk berbincang tentang Pangeran Indresunu. Bakankah pangkal dari persoalan yang terjadi dengan Pangeran Indrasunu menyangkut juga Mahisa Bungalan.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Karena itu aku akan tinggal.”
Demikianlah, maka Mahisa Bungalan telah menggagalkan niatnya untuk kembali ke Singasari. Ia masih ingin untuk melibatkan diri dalam kegiatan Akuwu Suwelatama dalam hubungannya dengan Pakuwon tetangganya, yang ternyata telah disentuh pula oleh Pangeran Indrasunu.
Ketika di hari berikutnya Mahisa Agni dan Witantra siap untuk meninggalkan Pakuwon, maka Mahisa Bungalan dan Akuwu Suwelatama telah melepaskannya di regol istana Akuwu. Berkali-kali Akuwu mengucapkan terima kasih. Sementara Mahisa Agni danWitantra pun berpesan, agar Mahisa Bungalan tidak terlalu lama berada di Pakuwon itu.
“Jika persoalannya menjadi terang, kau harus segera kembali.” pesan Mahisa Agni.
“Ya, Paman,” jawab Mahisa Bungalan, “aku akan segera kembali.”
“Ada masalah yang menunggumu,” berkata Witantra, “bukan saja dalam hubungannya dengan kedudukanmu sebagai calon Senopati. Tetapi juga dalam hubungan dengan hidupmu sendiri.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang Ken Padmi di rongga matanya. Namun yang akan dihadapinya itu pun semula bersumber pada persoalan Ken Padmi itu pula.
Sementara itu, Mahisa Agni dan Witantra pun kemudian meninggalkan Pakuwon Kabanaran. Dua orang yang sudah menjadi semakin tua. Namun sebagai orang yang terbiasa menempa hidupnya dengan berbagai macam persoalan,maka keduanya masih nampak segar.
Sementara itu, Mahisa Bungalan dan Akuwu Suwelatama pun telah mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Akuwu di Watu Mas. Mereka ingin menjelaskan persoalan yang sebernarnya. Jika mungkin, maka persoalan itu akan diselesaikan sebaik-baiknya tanpa kekerasan. Persoalan akan dikembalikan kepada masalah yang sebenarnya. Persoalan para perampok di perbatasan.
Dalam pada itu, sebelum Akuwu Suwelatama mengunjungi Akuwu di Watu Mas, maka ia telah memerintahkan dua orang penghubungnya untuk menghadap dan menyampaikan pesannya, bahwa Akuwu Suwelatama ingin bertemu dan berbincang tentang masalah yang berkembang antara kedua Pakuwon yang bertetangga itu.
Namun ternyata bahwa jawaban Akuwu di Watu Mas telah menggetarkan jantung Akuwu Suwelatama.
“Menurut Akuwu di Watu Mas,” berkata penghubungannya, “kedatangan Akuwu Suwelatama ke Watu Mas tidak akan ada gunanya. Tidak ada masalah yang perlu diperbincangkan, karena antara Kabanaran dan Watu Mas tidak ada persoalan apa-apa. Tetapi jika Akuwu di Kabanaran akan berkunjung ke Watu Mas, maka akan diterima dengan senang hati.”
Akuwu Suwelatama menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Akuwu di Watu Mas tidak bersedia untuk berbicara. Tetapi, bagaimanapun juga ia ingin bertemu langsung. Bagaimanapun juga, maka kesempatan untuk bertemu itu harus dipergunakan sebaik-baiknya.
“Bagaimana mungkin Akuwu di Watu Mas itu menganggap tidak ada persoalan antara Kabanaran dan Watu Mas?” berkata Mahisa Bungalan.
”Akuwu di Watu Mas akan mempertahankan keadaan seperti sekarang ini. Dan itu berarti kesulitan bagi kita untuk menghapus kejahatan itu sampai ke akarnya.” berkata Akuwu Suwelatama. Lalu, ”Tetapi kesediaannya untuk menerima kedatangan kita, sudah pantas untuk hargai.”
Pada hari yang ditentukan,maka Akuwu telah berangkat ke Watu Mas bersama Mahisa Bungalan dan ampat orang pengawal. Mereka telah mempersiapkan beberapa masalah yang akan mereka bicarakan dengan Akuwu di Watu Mas dengan tidak langsung, karena Akuwu di Watu Mas sudah mengatakan bahwa ia tidak merasa perlu untuk berbicara tentang apa pun juga dengan Akuwu Suwelatama.
Dalam pada itu, sebenarnyalah penerimaan Akuwu di Watu Mas terhadap kehadiran Akuwu Suwelatama terasa sangat sepi. Seoalah-olah yang datang itu bukanlah seorang Akuwu dari Pakuwon tetangga. Akuwu di Watu Mas menerima kehadiran Akuwu Suwelatama tidak dalam satu upacara penerimaan sebagaimana biasanya. Tetapi, Akuwu menerimanya sebagai salah seorang tamu biasa, bahkan mirip dengan keluarganya.
“Kakangmas Akuwu Suwelatama sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri.” berkata Akuwu di Watu Mas.
Nampaknya sikap itu memang sangat akrab. Tetapi Akuwu Suwelatama mengerti, bahwa Akuwu di Watu Mas benar-benar tidak ingin berbicara tentang persoalan-persoalan yang menyangkut hubungan antara kedua Pakuwon itu.
Tetapi Akuwu Suwelatama mampu menempatkan dirinya sebagai seorang pemimpin. Bukan saja di medan peperangan, tetapi dalam hubungan antara pemimpin-pemimpin pemerintahan.
Karena itu, maka ia tetap tersenyum, betapapun hatinya merasa tersinggung. Bahkan katanya kemudian, “Aku tidak mengira, bahwa aku akan disambut demikian akrabnya. Karena itu sewajarnya aku mengucapkan beribu terima kasih.”
Dalam pada itu, Akuwu di Watu Mas menyambut tamu-tamunya tidak dengan para pemimpin pemerintahan Pakuwon Watu Mas. Tetapi yang menyambut Akuwu Suwelatama adalah anggauta keluarganya. Isterinya, anak-anaknya.
“Pamanmu Pangeran Suwelatama yang memegang kekuasaan di Pakuwon Kabanaran.” berkata Akuwu di Watu Mas kepada anak-anaknya. Lalu, “Yang lain adalah para pengawalnya. Bagaimanapun juga, seorang Akuwu memang memerlukan pengawalan yang sebaik-baiknya.”
Jantung Mahisa Bungalan berdegup semakin cepat. Namun demikian Akuwu Suwelatama masih juga tersenyum sambil menyahut, “Pamanmu memang seorang yang kurang lumrah. Baru kali ini pamanmu sempat datang kemari. Aku bertemu dengan ayahandamu justru pada saat-saat kami menghadap ke Kediri. Hampir setengah tahun sekali. Dalam pasowanan Agung. Karena pada saat-saat pasowanan yang lain, mungkin waktu kami tidak bersamaan. Dan di samping itu setahun sekali kami bertemu di Singasari.”
Anak-anak Akuwu di Watu Mas itu mengangguk-angguk.
Namun dalam pada itu, Akuwu Suwelatama tidak segera kehilangan akal. Meskipun satu dua patah kata, ia masih ingin berbicara tentang para perampok di hutan perbatasan.
Dalam pembicaraan yang seolah-olah benar-benar akrab, maka Akuwu Suwelatama sempat bertanya tentang musim di Watu Mas.
“Musim kering kali ini, agaknya memang terlalu panjang.” jawab Akuwu di Watu Mas.
“Apakah hal itu tidak mempengaruhi kehidupan para petani?” bertanya Akuwu Suwelatama.
“Tentu, kakangmas,” jawab Akuwu di Watu Mas, ”hasil sawah tahun ini memang agak turun.”
“O,” Akuwu Suwelatama mengangguk-angguk, “apakah adimas tidak berusaha untuk berbuat sesuatu bagi kepentingan para petani?”
“Yang dapat kami usahakan adalah menghemat air, memperbaiki bendungan dan mengatur penggunaan air itu.” jawab Akuwu di Watu Mas.
Akuwu Suwelatama mengangguk. Lalu katanya, “Memang menjadi kewajiban kita. Setiap kesulitan yang diderita oleh rakyat kita, adalah kesulitan kita. Setiap keluhan rasa-rasanya jantung kitalah yang telah berdesir. Hal yang serupa telah aku rasakan pula. Musim kering ini memang terlalu panjang. Apalagi di daerah Kabanaran arus sungai-sungai pun menjadi semakin kecil.”
Bersambung.... !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar