08
Hilang Tanpa Jejak
Dari sinagog, Fahri mampir Resto Agnina untuk mengambil sarapan. Ia tidak makan disitu sebab teringat Paman Hulusi yang sendirian di rumah. Misbah jadi tahu di Edinburgh, Fahri punya usaha minimarket dan resto halal.
"Apakah kau dengar perkataan orang-orang Yahudi tadi tentang kita?" tanya Fahri sambil
mengemudikan mobil menuju arah selatan Musselburgh.
"Ya, dengar. Tapi aku sama sekali tidak paham. Tampaknya bukan bahasa Inggris. Bukan pula aksen Skotlandia.
"Yang mereka pakai tadi itu bahasa Ibrani. Aku juga tidak paham. Tapi ada satu kosakata yang aku dengar jelas dari mereka dan aku mengerti artinya."
"Apa itu?"
"Ada kata amalek keluar dari mulut mereka."
"Apa itu artinya?"
"Itu sebutan dalam kitab suci mereka untuk sebuah bangsa yang membenci dan ingin menghancurkan Bani Israel. Lalu sering oleh sebagian mereka, terutama Yahudi yang ortodoks dan ekstrem untuk menyebut orang selain Yahudi sebagai amalek, terutama Muslim."
"Penyebutan amalek itu berarti sangat negatif ya, mas?"
"Saya tidak tahu apakah tadi mereka menyebut kita sebagai amalek atau bagaimana? Tapi saya mendengar mereka mengucapkan kata itu sambil melihat bahkan mengisyaratkan kepada kita.
Penyebutan amalek itu sangat merendahkan. Saya pernah membaca pembahasan masalah ini. Menurut ajaran mereka, di dalam Kitab Ester dalam Tanakh, Haman seorang wazir jahat musuh Yahudi digambarkan sebagai bangsa keturunan amalek. Yaitu sebuah bangsa yang digambarkan sangat membenci dan sangat ingin menghancurkan Bani Israel setelah mereka eksodus dari Mesir. Lha, di
dalam Taurat mereka, Tuhan memberi perintah kepada mereka agar memusnahkan semua orang amalek sepanjang sejarah, sampai tidak ada orang Amalek yang hidup.
Celakanya, pada abad modern beberapa kalangan Yahudi ekstrem manganggap bangsa Palestina, Arab dan bahkan Muslim itu sebagai amalek. Atau sama dengan Amalek. Atau wujud amalek modern."
"Itu serius. mas?"
"Sangat serius. Saya tidak mengkhayal. Saya punya data-data ilmiahnya. Seorang Rabi Yahudi dari New York bernama Rabi Marc Scheneier juga mangakui bahwa ada kalangan Yahudi ekstrem yang menganggap bangsa Palestina, Arab dan Muslim sebagai amalek."
"Yang berarti mereka merasa harus menjalankan perintah Tuhan untuk membasminya?"
"ltulah gawatnya. Kau ingat pembantaian di Masjid Hebron tanggal 25 Februari 1994 yang dilakukan oleh Baruch Goldstein?"
"Ya ingat, itu awal-awal saya datang ke Mesir. Saya masih belajar bahasa Arab di Fajar sabelum masuk Al-Azhar. Orang-orang Mesir sangat marah dan mengutuk tindakan pembantaian itu. Masjid Hebron bermandi darah, 29 orang Palestina tewas ditempat, 125 lainnya terluka."
"Goldstein itu jenis Yahudi ortodoks yang ekstrem yang memegang kuat ajaran Tauratnya bahwa amalek harus dibasmi, dan bangsa Palestina, bangsa Arab dan orang Muslim dianggap sebagai amalek.
Goldstein sangat dipengaruhi ajaran-ajaran rasis Meir Kahane. Ini masalah serius di dunia modern. Sebab orang Yahudi yang rasis dan ekstrem seperti Goldstein tidak sedikit."
"Oh ya?"
"Silakan kau buka di internet. Tindakan Baruch Goldstein ternyata mendapat sambutan positif dari tokoh-tokoh Yahudi ekstrem. Membantai orang Muslim yang sedang shalat itu dianggap sebagai aksi kepahlawanan. Rabi Samuel Hacohen seorang pengajar di Jerusalem College menyanjung Goldstein sebagai "the greatest Jew alive, not in one way but in every way‘," ia bahkan menganggap Goldstein
adalah "the only one who could do it, the only one who was 100 percent perfect."
"Uedan!"
"Itu realita. Peristiwa pembantaian yang dilakukan oleh Goldstein itu dirayakan oleh kelompok Yahudi ekstrem. Mereka mengatakan, membunuh orang-orang Palestina itu dibenarkan oleh Taurat. Rabi Dov
Lior memuji Goldstein setinggi langit dengan mengatakan, holier than all the martyrs of the Holocoust.
Orang-orang Yahudi ekstrem itu masih sering memperingati peristiwa itu dengan perayaan yang memuji-muji Goldstein, "Dr. Goldstein there is none other like you in the world. Dr. Goldstein, we all love you...‘ Itu mereka dendangkan dengan suka cita."
"Apakah Yahudi-yahudi yang tadi mengucapkan kata amalek itu juga kelompok ortodoks seperti Goldstein, mas?"
"Saya tidak tahu. Kita akan tahu kalau berinteraksi dengan mereka, melihat sikap mereka secara nyata dan berdialog dengan mereka. Tapi kita tetap harus adil dan obyektif bahwa tidak semua Yahudi seperti itu. Juga tidak semua Yahudi menyetujui tindakan Zionis Israel, meskipun bisa saya katakan sembilan puluh delapan persen orang Yahudi meyakini bahwa mendirikan negara di Yerusalem yang
mereka sebut Israel itu adalah perintah agama mereka.
Rabi yang moderat sekalipun meyakini itu.
Meyakini bahwa mereka harus memiliki negara di tanah suci Yerusalem, dimana dulu ada Sinagog Agung. Itu masuk dalam ajaran ideologi mereka."
"Jadi bukan semata-mata politik?"
"Ya bukan semata-mata politik. Rabi Mach Schneier, pemuka Yahudi yang moderat dari Park East Synagogue di New York pun dengan tegas mengatakan bahwa 'Negara Israel merupakan intisari teologi Yahudi. Sejak dulu, Negara Israel telah menjadi perhatian kami, obsesi besar kami, selama lebih dari tiga ribu tahun. Namun, sayangnya, persoalan ini seolah-olah diperlakukan sebagai satu-satunya buah dari gerakan politik zaman modern.‘"
"Jadi, kalau ada pengamat mengatakan persoalan Palestina Israel hanya persoalan politik di Timur Tengah dan minta jangan membawanya sebagai persoalan teologi atau agama, itu pembodohan, mas?"
"Benar, itu pembodohan. Pengamat itu bisa jadi bodoh alias tidak tahu, sebab kurang bacaannya, atau dia telah tahu tapi karena motif tertentu dia sengaja menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya.
Sebab pemuka Yahudi seperti Mach Schneier sendiri menolak dengan tegas jika masalah Negara Israel dianggap hanya sebagai aspirasi politik umat Yahudi yang berusia sekian puluh tahun.
Dia tegas mengatakan Negara Israel itu intisari teologi Yahudi. Ia memberikan penjelasan panjang lebar. Dan mengatakan bahwa Yahudi sejati meyakini Tanah Israel merupakan konsep religius dengan makna yang sangat besar."
"Pantas, ketika mereka diberi tempat lain mereka menolak."
"Benar. Ketika Theodore Herzl membangkitkan gerakan Zionis dan mengajukan proposal agar orang-orang Yahudi dianjurkan untuk tinggal di Uganda. Seketika proposal itu ditolak dalam Kongres Zionis.
Proposal Uganda itu dianggap sebagai penghinaan terhadap keyakinan-keyakinan Yahudi. Semua orang Yahudi selalu mengakhiri penjamuan seder Paskah dengan doa,
"Tahun depan di Yerussalem"
Misbah mengangguk-angguk dan bergumam,
"Wah, pesat sekali perkembangan ilmu muqaranatul adyan(1), Mas Fahri."
"Selama di Jerman mengambil doktor saya punya beberapa teman Yahudi. Untungnya mereka tidak ekstrem seperti Baruch Goldstein. Mereka jenis yang agak moderat, yang enak diajak diskusi. Bahkan mereka tidak sepakat dengan kebijakan-kebijakan politik pemerintah Israel. Mereka tetap berpendapat, Negara Israel harus berdiri, namun warga Palestina harus diberi hak merdeka dan hidup
layak."
"Tapi kalau masalah di Palestina dikaitkan dengan ideologi, apa tidak semakin membuat rumit, mas, malah akan memicu perang agama."
"Kita tentu tidak menginginkan perang agama. Karena pada kenyataannya, perang agama tidak membuat sebuah agama itu musnah, yang musnah adalah umat manusianya yang berperang. Masalah Palestina, masalah Israel, harus dilihat secara jujur. Orang Yahudi sendiri sudah begitu jujur dan terang-terangan mengatakan itu bagian tak terpisah dari teologi dan ideologi mereka. Kenapa yang bukan Yahudi mencoba menutup-nutupinya? Orang Yahudi dan seluruh dunia juga harus tahu,
bagaimana umat Islam, Palestina dengan Masjidil Aqsa-nya juga bagian tak terpisah dari agama. Itu tempat suci bagi umat Islam. Tak perlu ditutup-tutupi. Begitulah adanya. Barulah semua pihak duduk bareng, jika seperti itu bagaimana solusinya? Jangan orang Yahudi ngotot dengan teologinya, terus umat Islam diminta minggir begitu saja, diminta mengalah dan dibohongi bahwa itu masalah politik. ltu
hanya masalah bagaimana Amerika dan negara-negara Barat menguasai minyak di Timur Téngah dan lain sebagainya. Unsur itu ada, tapi pada kenyataannya teologi dan ideologi sangat kuat menjadi latar belakang masalah itu. Dan itu dunia harus tahu dan jujur mencari solusi."
Tak terasa mereka sudah memasuki kawasan Stoneyhill. Sejurus kemudian rumah Fahri sudah tampak ketika mobil itu belok kiri. Di halaman rumah Fahri, tampak sebuah mobil sedan Porsche 911 merah
terparkir.
"Tampaknya Mas Fahri kedatangan tamu. Lihat sedan merah itu!"
"Iya, itu tampaknya mobil yang tadi pagi ada di rumah Tuan Taher."
"Jangan-jangan anak perempuannya yang datang, mas."
"Mungkin saja.".
Fahri memarkir mobil SUV digarasi. Ia keluar dari mobil dan masuk rumah sambil membawa bungkusan makanan diikuti Misbah. Dan benar, di ruang tamu tampak Heba, putri Tuan Taher. Di atas meja telah terhidang Bridie dan Scotch Pie.
"Assalamu'alaiki, Heba," sapa Fahri
"Alaikassalam wa rahmatullah," jawab Heba.
"Sudah lama?"
"Belum lima menit."
"Sendirian? Ada yang bisa saya bantu?"
"Ya. Sendiri. Ayah ada janji bertemu koleganya. Saya diminta ayah menyampaikan maaf jika ada yang tidak berkenan."
"Oh, tidak ada yang perlu dimaafkan. Tidak ada yang salah."
"Sekalian mengantar Bridie dan Scotch Pie. Lupa membungkuskan."
"Terlalu merepotkan."
"Tidak."
" Sudah sarapan?"
"Sudah, sarapan dengan Bridie dan Scotch Pie."
"Kami bawa nasi Biryani Lamb. Mau sarapan bersama kami?"
Heba melihat jam tangannya dan berpikir sejenak.
"Boleh."
"Paman Hulusi, minta tolong disiapkan empat piring."
"Baik, Hoca. Tehnya mau dipanaskan atau membuat yang baru?"
"Dipanaskan saja, biar tidak mubadzir."
"Baik Hoca."
Paman Hulusi beranjak ke dapur, menyiapkan segala yang diminta Fahri. Misbah duduk mendampingi Fahri. Heba melihat-lihat ruang tamu Fahri dengan saksama. Ruang tamu itu terasa lapang, hangat, anggun dan sedikit minimalis. Tidak banyak hiasan dan aksesoris yang dipasang. Fahri memasang sebuah lukisan kaligrafi agak besar, lalu lukisan menara Masjid Aya Sofia, lukisan lengkungan-lengkungan dalam Masjid Cordoba dan lukisan Menara Kudus. Semuanya lukisan cat di atas kanvas dan sangat indah.
"Itu lukisan sendiri?" gumam Heba sambil manggut manggut.
"Tidak. Kaligrafi itu yang melukis seorang teman dari Nigeria. Beberapa bulan lalu dia pameran di Masjid Sultania Nottingham. Saya beli disana. Masjid Aya Sofia dan interior Masjid Cordoba itu dilukis oleh seniman jalanan Edinburgh sini. Saya bawakan fotonya saya minta dia melukis. Begitu."
"Yang itu, apa?"
"Oh ya, itu namanya Menara Kudus. Itu menara sebuah Masjid di Kota Kudus, salah satu Masjid tertua di Pulau Jawa. Menara itu unik, bentuknya seperti Pura agama Hindu. Itu menjadi salah satu bukti asimilasi dan akulturasi budaya yang cantik di Indonesia. Itu juga dilukis seniman jalanan sini."
"Teman Anda itu tadi sempat berkata kepada saya mengenai ketidaksukaannya atas sikap Anda yang terlalu memerhatikan nenek-nenek Yahudi sampai mengantarnya ke tempat ibadah."
Fahri tersenyum, "Nanti akan saya jelaskan ke dia."
"Semuanya sudah jelas, tidak perlu Hoca jelaskan. Saya tidak mengerti apa yang Hoca pikirkan? Apa Hoca tidak berempati sama sekali kira-kira apa yang akan dirasakan Aisha Hanem kalau beliau tahu
Hoca sedemikian menyanjung nenek-nenek Yahudi. Sementara Aisha Hanem sampai sekarang tidak ketahuan nasibnya. Kemungkinan besar dia sudah mati ditangan tentara Zionis Israel!" Paman Hulusi datang membawa piring dan sendok dengan sedikit emosi. Fahri agak kaget. Heba dan Misbah juga tampak sedikit kaget.
"Jadi, Aisha hilang di Israel?" tanya Misbah.
Muka Fahri seketika berubah. Kedua matanya berkaca-kaca.
"Ya, hilang di Israel sejak beberapa tahun yang lalu. Sampai sekarang tidak ketahuan beritanya. Kalau hidup di mana? Kalau, misalnya, di penjara oleh tentara Israel, penjara mana? Kalau sudah mati, dimana mayat dan kuburnya?! Tidak ketahuan. 'Tapi, temannya bernama Alicia yang berangkat bersama Aisha Hanem sudah ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan dipinggir Hebron, tiga bulan sejak mereka masuk Israel," tukas Paman Hulusi sambil duduk.
"Inna lillah," lirih Misbah.
"Kesimpulan yang masuk akal, kemungkinan besar Aisha Hanem juga mengalami nasib yang tidak jauh berbeda," gumam Paman Hulusi.
"Maka saya tidak habis pikir, Hoca Fahri bisa bermesraan dengan nenek-nenek Yahudi itu!" lanjut Paman Hulusi dengan sedikit keras.
"Paman Hulusi, tolong jaga ucapanmu, paman! Tolong mengertilah! Aku paling mengerti Aisha. Aku paling mencintai Aisha setelah ibunya. Aku paman! Dan aku tidak bermesraan dengan nenek-nenek Yahudi. Jangan melihat Yahudi-nya, jangan kait-kaitkan nenek-nenek itu dengan nasib yang dialami Aisha. Nenek-nenek itu tidak ada hubungannya, tidak tahu apa-apa. Itu tetangga terdekat kita. Dia kesusahan. Kita wajib membantunya. Itu saja, paman. Kita diminta Rasulullah Saw. untuk memuliakan
tetangga kita. Paman jangan memvonis diriku dengan begitu kejam! Aku sangat mencintai Aisha, paman," Fahri angkat bicara dengan air mata meleleh di pipi.
Heba mengambil tisu di meja dan mengulurkan kepada Fahri. Paman Hulusi diam menunduk. Fahri menerima tisu itu dan mengusapkan ke wajahnya.
"Bagaimana Aisha bisa hilang di Israel? Ada urusan apa dia di sana? Apakah dari Mesir itu Aisha langsung masuk Israel? Bukankah dari Mesir dulu itu pamitnya umrah, terus pulang ke Indonesia? Terus, kenapa Mas Fahri tidak ikut? Apakah habis umrah pisah, Aisha ke Israel dan Mas Fahri ke Indonesia? Dan bagaimana Mas Fahri bisa disini?" tanya Misbah penasaran.
Fahri masih diam.
Heba berkata pelan, "Ayah saya sebagai pakar physiotherapy pernah memberikan seminar di Tel Aviv. Mungkin saja ayah ada kenalan disana yang bisa dimintai tolong melacak keberadaannya. Saya rasa, jangan menutup kemungkinan dia masih hidup dan bisa ditemukan."
"Persis seperti yang Anda katakan Sister Heba, entah kenapa saya tetap memiliki harapan bahwa suatu ketika Aisha akan ditemukan. Saya hanya berharap saat dia ditemukan masih dalam keadaan baik dan sehat," ujar Fahri sambil menyeka linangan air matanya.
"Amin."
Fahri menarik nafas panjang. Ia menata dirinya.
"Baiklah, Bah, saya ceritakan.Tapi saya mohon ini tidak untuk diceritakan kepada siapa pun. Cukup kalian yang tahu."
"Insya Allah, mas."
"Setelah mengalami cobaan yang berat itu, kau masih ingat tentunya, cobaan yang nyaris membuat diriku mati di tiang gantungan di Mesir, alhamdulillah, dengan pertolongan Allah, pada bulan Januari 2003 aku selamat dan divonis bebas, tidak bersalah sama sekali.
Cobaan berikutnya datang, namun tidak banyak yang tahu, sebab aku dan Aisha tidak mau membuat banyak orang ikut repot. Yaitu janin yang dikandung Aisha keguguran. Tapi alhamdulillah, Aisha bisa diselamatkan oleh pihak Rumah Sakit Ma'adi, atas izin Allah. Itu membuat Aisha trauma dengan Mesir. Jadi, ketika awal Maret 2003, Al-Azhar memulihkan statusku sebagai mahasiswa S2, Aisha sudah tidak mau tinggal di Mesir. Ia minta keluar
dari Mesir. Sudah tujuh tahun lebih aku belajar di Mesir tanpa pulang sama sekali ke Tanah Air. Maka aku putuskan untuk pulang kampung ke Indonesia dengan terlebih dahulu melaksanakan ibadah umrah. Di Tanah Suci, itu adalah masa-masa indah bagi kami.
Masa-masa kami menyembuhkan luka-luka jiwa dan mengembalikan ruhiyah. Lha, sebelum meninggalkan Mesir itu, aku sempat berkonsultasi dengan Prof. Dr. Abdul Ghafur, pembimbing tesisku di Al-Azhar tentang baiknya aku bagaimana jika tidak melanjutkan sampai selesai di Al-Azhar, tapi tetap ingin selesai master tafsirnya. Prof. Abdul Ghafur memberi tazkiyah untuk melanjutkan ke University of Sind, Jamshoro, Pakistan. Disana ada teman Prof. Abdul Ghafur yang menjabat kepala jurusan studi Islam, namanya Prof. Safiyullah Omer.
Sebelum meninggalkan Mesir, aku sempat kirimkan berkas ke Pakistan, lengkap dengan surat Prof. Abdul Ghafur, juga draf tesis yang telah dibimbing Prof. Abdul Ghafur.
Pada akhir April 2003, aku dan Aisha sudah sampai di Indonesia. Kami di Indonesia hampir satu tahun. Selama itu, kami sempat mengajak ayah dan ibu untuk umrah ke Tanah Suci.
Sempat ngurus proses administrasi di Pakistan. Profesor Safiyullah langsung menjadi pembimbing dan tidak banyak mengubah
apa yang digariskan Prof. Abdul Ghafur. Sehingga pada bulan April tahun berikutnya, aku sudah menyelesaikan master di Pakistan.
Kami langsung terbang ke Jerman. Karena Aisha harus menyelesaikan S1-nya yang tertunda. Awalnya, kami tinggal di Munchen sambil Aisha menyelesaikan urusan keluarganya setelah kematian ayahnya.
Saya langsung intensif memperdalam bahasa Jerman, meskipun sejak hidup bersama Aisha sudah langsung praktik bicara bahasa Jerman dan Turki. Suatu hari, Aisha mendapat info dari seorang brother Turki bahwa Albert Ludwigs Universitat Freiburg mencari orang yang memiliki kemampuan kuat dalam kajian Arab klasik dan Islam untuk diberi beasiswa full program Ph.D. Aku didesak untuk mendaftar
oleh Aisha. Aku buat proposal tesis Ph.D dalam bahasa Inggris, sekuat kemampuanku.
Judulnya, Commentary and Editing of Imam al-Ghazali's Qanun al-Ta'wil. Ternyata diterima.
Maka sejak Oktober 2004, aku mulai serius merampungkan Ph.D. di Uni-Freiburg. Aisha kemudian pindah ke Freiburg dan menyelesaikan S1-nya bidang psikologi sosial.
Diakhir tahun 2006, aku dan Aisha keliling UK dan berkunjung ke Edinburgh.
Tujuan utamanya adalah untuk mencari peluang mengembangkan bisnis di UK. Di Edinburgh ini, Aisha berjumpa dengan Alicia yang sedang menyelesaikan S2-nya. Aisha tertarik untuk melanjutkan S2 disini. Selain itu Aisha ingin menulis novel tentang anak-anak Palestine.
Aisha dan Alicia sepakat untuk pergi ke Palestina awal November 2007. Awalnya aku didesak untuk ikut, tetapi akhir Oktober tahun itu aku sedang sibuk-sibuknya menyiapkan sidang munaqasah Ph.D. Dan setelah itu, biasanya harus menyiapkan revisi agar hasil tesis itu bisa diterbitkan. Maka dengan berat hati, aku tidak bisa ikut. Dan itu adalah keputusan yang sangat aku sesali sampai sekarang. Seharusnya aku ikut. Aku akan ada disisi Aisha dalam kondisi apapun juga."
Fahri terisak.
Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara biola digesek. Sayatannya begitu mengiris. Paman Hulusi terbatuk dan memecah keheningan.
"Seingat saya, Aisha Hanem terbang ke Amman melalui bandara Muenchen pada sore 2 November 2007. Saya dan Hoca Fahri mengantarnya. Saya merasa ada sesuatu yang aneh ketika Aisha Hanem mau berpisah dengan Hoca Fahri."
"Apa itu?"
"Aisha Hanem sudah masuk ke dalam bandara. Sudah melewati alat sensor. Tiba-tiba ia keluar lagi sambil berlinang airmata. la memeluk Hoca Fahri dan melepas cincin pernikahannya dan memberikannya kepada Hoca Fahri untuk disimpan. Saya dengar Hoca Fahri tanya kenapa? Aisha Hanem menjawab khawatir terjadi apa-apa dengan cincin nanti ketika pemeriksaan di Israel. Hoca Fahri bertanya apa Aisha Hanem yakin tetap berangkat. Dia jawab yakin Maka Hoca Fahri tetap minta cincin
itu dibawa Aisha. ltulah terakhir kali saya melihat Aisha Hanem. Dan tentu itu terakhir kalinya HocaFahri melihat wajah istrinya secara langsung."
"Hari berikutnya tanggal 3 November, Hoca Fahri bercerita kepada saya dalam perjalanan menuju Uni-Freiburg bahwa Aisha Hanem baru saja kirim kabar sedang istirahat di sebuah hotel di Kota Amman, Yordania. Besoknya, tanggal 4 akan masuk Palestina dan minta didoakan. Ternyata itu adalah kabar terakhir yang ia terima dari Aisha."
"Hoca Fahri, hari berikutnya mencoba kontak nomor Aisha Hanem tidak bisa. Kirim email tidak ada balasan. Begitu juga tanggal 6, 7, 8, 9. Lost contact! Satu minggu setelah itu tidak ada kabar juga.
Hoca Fahri mengontak keluarga di Turki, menanyakan apakah diantara mereka ada yang dikontak Aisha? Ternyata tidak ada. Semua cemas. Hoca Fahri juga mengontak keluarga Alicia di Amerika. Mereka juga sama cemasnya, sebab tidak ada kabar dari Alicia. Satu bulan tidak ada kabar. Hoca Fahri dan Iqbal, pamannya Aisha Hanem, terbang ke Amman untuk cari info tentang Aisha dan Alicia. Hasilnya nihil.
Mereka nekad masuk Yerusalem, bahkan tinggal di Yerussalem dua minggu. Hasilnya juga nihil. Upaya diplomatik ia usahakan, tapi juga nihil. Aisha dan Alicia seperti hilang di telan bumi. Hilang tanpa jejak sama sekali.
Hoca Fahri seperti kehilangan gairah hidup. Makan dan minum susah. Tidur susah. Tubuhnya kurus sekali. Kalau tidur ia mengigau hafalan Al-Qur‘annya atau menyebut nama Aisha."
"Pada tanggal 29 Januari 2008 sebuah kabar mengejutkan datang dari keluarga Alicia bahwa Alicia telah ditemukan menjadi mayat dipinggir daerah Hebron, Israel dengan kondisi yang mengenaskan.
Tubuhnya sudah membusuk, nyaris tidak bisa dikenali. Bentuk gigi Alicia-lah yang menjelaskan bahwa itu adalah Alicia."
"Hoca Fahri sangat tertekan mendengar kenyataan itu. Ia berharap bahwa Aisha masih hidup tapi ia tampaknya sangat menyadari itu kecil. Sebab Alicia pergi bersama Aisha. Hoca Fahri kembali pergi ke Yerussalem kali ini bersama seorang pengacara Jerman yang juga seorang Yahudi. Tapi hasilnya nihil.
Hoca Fahri pulang ke Indonesia minta doa kepada keluarga di Indonesia. Lalu kembali ke Jerman dan Hoca Fahri langsung masuk rumah sakit karena kesehatannya buruk. Iqbal Hakan Erbakan dan beberapa keluarga dari Turki datang untuk memberikan daya semangat pada Fahri. Iqbal mengingatkan kepada Hoca Fahri tentang perbaikan tesisnya. Hoca Fahri lalu tenggelam dalam kerja ilmiah."
"Tiba-tiba pada tanggal 25 Septembar, Hoca Fahri kembali mencari Aisha ke Palestina. Sebab tanggal 27 September adalah pernikahan mereka. Hasilnya kembali nihil. Iqbal datang bersama seorang syaikh dari Mesir menemui Fahri. Syaikh itu menyarankan Fahri menikah lagi, atau kalau tidak pergi sementara waktu meninggalkan Jerman agar bisa menata hidup dan tidak terus dibayangi kesedihan mengingat Aisha. Hoca Fahri akhirnya setuju. Suatu hari mengajak saya berangkat ke sini. Hoca Fahri diterima program postdoc di sini. Meskipun disini Hoca Fahri menenggelamkan diri dalam riset dan riset,
membaca dan membaca, juga mengurus bisnis. Tapi saya tahu sendiri, saya sering memergoki dia malam-malam Hoca Fahri menangis. Sepertinya teringat istrinya. Begitulah ceritanya."
Mendengar apa yang disampaikan Paman Hulusi, tak terasa kedua mata Heba berkaca-kaca.
"Saya sangat khawatir, kalau seandainya Aisha itu masih hidup ternyata berada di sebuah penjara di Israel, yang kita tidak tahu itu dimana. Saya membaca banyak laporan, penjara-penjara di Israel untuk orang-orang Palestina sangat tidak manusiawi. Termasuk penjara untuk kaum perempuannya," lirih
Heba.
"Ya Allah, mugi-mugi Aisha, Panjenengan paringi selamet.'"
Doa Misbah pelan nyaris tak terdengar dengan kepala menunduk.
"Apakah dia lebih banyak sedihnya, banyak menangisnya? Hari ini aku lihat dia sedih sudah dua kali.
Tapi pertama kali berjumpa di The Kitchin tampak segar dia."
"Hoca Fahri sesungguhnya orang yang sangat optimis, humbel, dan sangat profesional. Dia hanya sedih kalau memang ada sesuatu yang membawanya mengingat Aisha. Dia sangat mencintainya, dan sangat menyesal kenapa tidak menemaninya pergi ke Palestina."
Heba menganguk-angguk.
"Oh ya ini, mari kita sarapan." Paman Hulusi teringat bungkusan nasi biryani di atas meja.
"Fahri tidak diajak sarapan sekalian, paman?" gumam Misbah.
"Hoca di kamarnya pasti sedang menenangkan dirinya dengan shalat dan baca dzikir. Biarkan saja. Kalau dia sudah tenang dia akan turun."
Suara biola telah berhenti.
Paman Hulusi mengambil nasi biryani dan memasukkan kedalam piring, juga dua kerat daging domba, lalu memberikan kepada Heba. Heba menolak. Ia ingin mengambil sendiri. Yang diambilkan Paman Hulusi menurutnya terlalu banyak. Mereka bertiga lalu menikmati sarapan. Menjelang mereka selesai makan, Fahri turun dari kamarnya dengan wajah lebih cerah dan bergabung ikut sarapan.
Tema yang dibincangkan tidak lagibmenyangkut tentang Aisha. Dengan sangat asyik, Heba mengajak bicara tentang perkembangan Islam di UK, khususnya Edinburgh. Heba begitu optimis bahwa cahaya
kebenaran tak bisa dibendung siapa saja. Namun umat Islam diminta oleh Allah dan Rasul-Nya untuk sungguh-sungguh menyampaikan cahaya itu, meskipun cuma satu ayat.
"Saya tidak muluk-muluk, saya mulai dari yang kecil saja. Saya ingin menyampaikan satu ayat kepada dua teman saya. Namun pemahaman saya akan Islam masih dangkal. Saya benar-benar akan banyak minta bantuan dalam rangka menjelaskan Islam kepada dua teman saya itu. Juu Suh dari Cina dan Ashley dari Wales. Saya hanya berikhtiar agar mereka melihat sudut yang benar tentang agama penuh cinta dan rahmat ini. Juu Suh, saya lihat punya potensi besar akan menjadi seorang pengajar di universitas jika dia kembali ke Beijing. Sementara Ashley sudah dua bulan ini kerja part time sebagai penyiar radio. Saya melihat dari wajah dan timbre suaranya, dia bisa jadi presenter terkenal suatu saat
nanti. Saya bukan peramal, hanya melihat potensi mereka."
"Dengan senang hati saya akan membantu semampu saya."
"Terima kasih. Cukup lama saya di sini. Sudah saatnya saya pulang."
"Silakan tehnya dihabiskan dulu."
Heba menyeruput tehnya hingga habis, lalu meninggalkan rumah itu.
*****
______________________________________________
1. perbandingan agama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar