26
CINTA YANG MURNI
Fahri agak terkejut melihat menu sarapan pagi yang dihidangkan oleh Sabina, Nasi goreng sea food dengan telur ceplok mata sapi. Lalapan berupa potongan mentimun dan potongan tomat yang segar dan rapi. Daging sapi goreng yang empuk seperti empal. Dan kerupuk udang yang digoreng dengan pas tidak ada yang gosong.
Untuk nasi goreng Fahri merasa bumbunya cukup pas, hanya sedikit kurang pedas. Sedangkan daging sapi gorengnya nyaris tanpa bumbu. Hanya rasa asin yang terasa. Tetapi itu menurutnya sudah sangat istimewa.
Dari mana Sabina bisa tahu cara membuat nasi goreng yang lumayan enak itu? Juga cara
menggoreng kerupuk udang? Bagi orang Indonesia itu mudah, tapi bagi orang di luar Indonesia yang tidak terbiasa tentu tidak mudah. Perlu latihan dan pembiasaan sekian lama.
Fahri menikmati nasi goreng itu dengan sedikit penasaran.
Sementara Misbah dan Paman Hulusi makan dengan lapan dan penuh semangat. Di dapur Sabina tampak sedang menyiapkan teh panas. Sejurus kemudian Sabina sudah siap membawa nampan berisi tiga cangkir berisi teh panas yang uapnya masih mengepul.
Dengan halus perempuan bermuka buruk itu
meletakkan teh itu di meja yang ada di hadapan Fahri, Misbah dan Paman Hulusi. Ketika Sabina hendak kembali ke dapur, Fahri menahannya,
"Sebentar Sabina, sarapan yang kau hidangkan pagi ini istimewa. Kau membuat nasi goreng sea food. Bumbunya boleh dikatakan pas."
"Alhamdulillah kalau bumbunya pas." Jawab Sabina sambil menundukkan kepala.
"Dari mana kau belajar membuat nasi goreng khas Indonesia ini?"
"Dari Misbah."
Mendengar namanya disebut, Misbah langsung mendongakkan kepalanya.
"Bener Bah, kau mengajari Sabina membuat nasi goreng!"
"Saya hanya memberitahu bumbunya dan cara membuatnya. Begitu saja dengan sekilas. Tidak mengajarinya dengan praktik. Berarti Sabina ini sangat berbakat memasak." Jelas Misbah.Fahri mengangguk.
"Kalau begitu, jika nanti Sabina sudah mendapatkan legalitas keberadaanya di sini, kita bisa membuat restaurant baru yang khusus dan khas masakan Indonesia dan Malaysia.
Jika cuma dijelaskan bumbunya dan cara membuatnya dengan sekilas saja bisa membuat makanan yang nyaris sama dengan orang Indonesia, pasti menu yang lain juga akan sama mudahnya."
"Bener sekali, Sabina sangat berbakat. Jujur saya sebenarnya agak kaget Sabina bisa membuat nasi goreng nyaris sempurna rasanya. Sangat lezat."
"Terima kasih atas pujiannya." Lirih Sabina.
"Sabina silakan kau nikmati sarapanmu juga."
"Iya Tuan."
Sabina melangkah ke dapur. Baru tiga langkah Paman Hulusi gantian memanggilnya,
"Sabina."
"Iya." Sabina membalikkan badan.
"Selesai sarapan aku harap kau kemari. Aku ingin bicara padamu, biar semuanya jelas dan disaksikan oleh Hoca Fahri dan Misbah."
Muka Sabina seketika berubah agak pucat. Hanya saja guratan buruk itu membuat perubahan itu tidak kentara. Jantung Sabina berdegup kencang. Tubuhnya gemetar. Sabina berusaha menguasai dirinya.
"Iya Paman."
Sabina membalikkan badan dan berjalan ke dapur. Di meja kecil yang ada di dapur, Sabina menikmati sarapan paginya, dengan menu yang sama. Hanya saja untuk minumnya ia lebih memilih lemon hangat.
Tadi saat ia memasak nasi goreng itu dan sempat mencicipinya nafsu makannya begitu menggelora.
Apalagi ketika mendapat pujian dari Fahri dan Misbah, ia ingin segera menikmati nasi goreng buatannya itu.
Namun ketika Paman Hulusi memintanya untuk berbincang setelah sarapan, tiba-tiba nafsu makannya hilang seketika. Nasi goreng itu terasa hambar dan minuman lemon hangat yang biasanya segar terasa pahit di tenggorokan.
Menit-menit berlalu, namun degup jantung dan rasa gemetar dalam diri Sabina tidak juga mau berlalu.
"Tampaknya ada hal yang serius yang mau Paman Hulusi bicarakan, masalah apa Paman?" Sabina mendengar suara Misbah bertanya kepada Paman Hulusi. Tampaknya mereka sudah selesai sarapan.
"Seperti yang kemarin sudah saya sampaikan, saya ingin membangun hidup baru, saya ingin
membangun rumah tangga di sisa umur saya. Saya ingin menikah lagi, biar jika nanti saya dipanggil Allah saya dipanggil dalam keadaan menyempurnakan separo agama, saya telah menikah lagi punya istri.
Dan saya telah meminang Sabina. Namun sampai pagi ini Sabina belum memberi jawaban. Saya ingin mendengar jawabannya disaksikan oleh Hoca Fahri dan Misbah." Jawab Paman Hulusi.
Kata-kata itu didengar dengan sangat jelas oleh Sabina. Airmata Sabina tiba-tiba meleleh. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa tidak mungkin menerima Paman Hulusi, namun berterus terang menolaknya juga berat rasanya.
"Sabina kalau sudah selesai silakan kemari, Paman Hulusi sudah menunggu dan saya juga harus segera ke kampus." Ucap Fahri.
Kata-kata Fahri tidak keras namun Sabina mendengarnya dengan jelas.
"Baik Hoca."
Sabina meninggalkan mejanya dan bergegas duduk di sofa kosong di hadapan Fahri.
"Silakan Paman, dimulai." Fahri menepuk pelan lengan Paman Hulusi yang duduk disamping kanannya.
"lya Hoca. Baiklah. Jadi begini Sabina, hari ini saya ingin mendengarkan jawabanmu. Dan jujur saja saya sangat berharap jawabanmu adalah jawaban yang menggembirakan untuk saya dan semuanya.
Hoca Fahri sangat mendukung jika saya menikahi dirimu, iya kan Hoca?"
"Iya." Lirih Fahri. Air mata Sabina meleleh.
"Jadi apa jawabannya Sabina?" Sabina tidak kuasa menahan isak tangisnya.
Fahri sekilas menatap pipi Sabina yang basah oleh air mata. Paman Hulusi diam menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Sabina.
Paman Hulusi sangat yakin bahwa isak tangis Sabina adalah isak tangis kebahagiaan. Tiba-tiba ada perasaan haru menyusup kedalam hatinya, ia merasa haru bisa membuat Sabina sampai terisak menangis bahagia.
Perempuan peminta-minta berwajah buruk dan berstatus ilegal dan gelandangan itu pasti sangat bahagia ada lelaki normal yang mau memperistrinya.
Hati Sabina pasti sedang penuh disesaki rasa bahagia sehingga ia sampai terisak-isak haru.
Sesaat yang terdengar hanya suara isak Sabina. Paman Hulusi, Fahri dan Misbah diam menunggu jawaban Sabina. Suara isak tangis Sabina itu membuat Fahri berpikir, apakah semua perempuan memiliki isak tangis yang sama? Ia tidak tahu tangis Sabina itu karena sedih atau karena bahagia.
Namun mendengar isak tangis perempuan Fahri selalu iba dan luluh. Itu mungkin salah satu kelemahan terbesar dalam hidupnya.
Dulu, saat di Mesir, ia pernah menolong Noura karena tidak tega pada isak tangisnya ditengah malam.
Dan itu menjadi awal drama mencekam dalam sejarah perjalanan hidupnya. Isak tangis Aisha lah yang membuatnya luluh akhirnya mau menikahi Maria. Dan isak tangis Aisha jugalah yang mengisi banyak lembaran kenangan tak terlupa dalam hidupnya.
Apakah semua perempuan memiliki isak tangis yang sama? Suara isak tangis Sabina yang serak itupun ia rasa ada miripnya dengan suara isak tangis Aisha. Atau malah mirip suara isak tangis Maria?
Sabina tampak berusaha menguasai dirinya. Ia mencoba memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Dan yang pertama ia tatap justru wajah Fahri, bukan Paman Hulusi. Sabina menyeka air matanya.
"Sebelum saya jawab, perkenankan saya bertanya kepada Hoca Fahri." Serak Sabina. Fahri menengok melihat Paman Hulusi yang pada saat yang sama menoleh melihat Fahri.
"Silakan." Fahri menghela nafas.
"Apakah Hoca Fahri ikhlas Paman Hulusi menikahi saya?"
"Maksudnya?"
"Apakah Hoca Fahri tidak bisa mencarikan perempuan lain yang lebih baik dari saya untuk Paman Hulusi?
"Adalah hak Paman Hulusi sepenuhnya untuk memilih calon istrinya. Jika dia memilih kamu maka itu pasti sudah dia pertimbangkan dengan masak-masak. Dan pasti kau telah dianggap yang terbaik untuknya karena itu kau dipilih."
"Saya merasa, saya tidak pantas untuk Paman Hulusi. Apakah Hoca Fahri melihat saya pantas untuknya?"
"Selama iman dan akidahnya sama, saya rasa pantas-pantas saja." Jawab Fahri dengan suara pelan.
"Kalau begitu celakalah saya!" Suara Sabina sedikit keras lalu terisak.
"Celaka bagaimana, Sabina? Apa maksudnya?" Tanya Paman Hulusi penasaran.
"Sungguh celaka diriku ini. Diriku yang gelandangan ini, yang hina ini. Hendak diangkat derajatnya namun diriku tak bisa melakukannya.
Maafkan diriku yang hina Paman, aku tidak bisa menerimanya.
Aku telah terikat pada sumpahku, bahwa aku tidak akan menikah lagi. Cukuplah menikah sekali saja dalam hidupku."
"Dalam bahasa lebih jelasnya, kau menolak lamaranku? Kau menolak menikah denganku, begitu?!"
Tanya Paman Hulusi dengan nada agak keras. Lelaki setengah baya itu mukanya memerah, ia tampak tersinggung.
"Mohon Paman bisa memahami yang aku sampaikan, aku terikat sumpah tidak akan menikah lagi."
Jawab Sabina dengan pandangan menunduk.
"Itu hanya alasan yang kau buat-buat saja !"
"Demi Allah, tidak paman. Aku sungguh telah bersumpah tidak akan menikah Iagi!"
Fahri menghela nafas, ia tampak memahami kekecewaan Paman Hulusi.
Lelaki yang setia mengikutinyaitu sudah sedemikian merendahkan diri untuk melamar seorang perempuan gelandangan bermuka buruk dengan niat yang mulia. Tapi lamarannya ditolak. Fahri sangat berempati kepada Paman Hulusi.
"Sebentar Sabina, dengarkan kata-kata saya baik-baik. Sumpahmu itu boleh dikatakan tidak pada tempatnya. Kau tidak perlu bersumpah untuk tidak menikah lagi. Nikah adalah sunah para Nabi. Nikah itu baik, terpuji dan halal. Tidak perlu menjauhi kebaikan. Kau bisa membatalkan sumpahmu itu.
Apalagi saya tahu persis, niat Paman Hulusi itu tulus dan murni. Dia ingin menikahimu semata-mata berharap ridha Allah. Bukan yang lain."
Sabina mendengarkan kata-kata Fahri dengan dada bergemuruh. Ia ingin meledakkan kembali tangisnya tapi ia tahan sekuat tenaga.
"Menasehati orang lain itu mudah Hoca, tetapi mengamalkan pada diri sendiri tidak mudah. Kenapa Hoca tidak menikah lagi? Kalau Hoca katakan menikah itu baik, terpuji dan halal. Dan tidak perlu menjauhi kebaikan. Kenapa Hoca tidak menikah lagi?!"
Jawaban Sabina dengan suara serak bagai menusuk-nusuk dada Fahri. Tiba-tiba ia merasa malu pada dirinya sendiri. Sungguh benar kata-kata Sabina itu, menasehati orang lain itu mudah tetapi mengamalkan pada diri sendiri tidak mudah.
Mulut Fahri seperti terkunci, ia tidak bisa mendebat kata-kata Sabina.
"Adalah hak saya untuk tidak menikah lagi. Saya bukan seorang gadis lagi, saya berhak menentukan nasib saya. Terserah saya mau menikah lagi atau tidak. Wali saya bahkan tidak punya hak memaksa saya sama sekali.
Yang jelas saya tidak anti menikah, saya sudah pernah menikah, dan saya sudah merasa cukup saya tidak mau menikah lagi. Tidak perlu saya menjelaskan panjang lebar kenapa saya tidak mau menikah lagi. Saya sangat menghormati Paman Hulusi. Saya sangat tahu Paman Hulusi sudah sedemikian baik dan sedemikian rendah hatinya sampai berkenan melamar perempuan gembel seperti saya. Tapi mohon dimaafkan kelancangan saya menolak lamaran Paman Hulusi. Sekali lagi mohon
maafkan saya."
"Perempuan sombong! Tidak tahu diri dan tidak mengaca!"
Sahut Paman Hulusi sambil bangkit dan
bergegas meninggalkan ruangan itu. Paman Hulusi tampak kecewa dan emosi.
Misbah bangkit hendak mengejar Paman Hulusi tapi Fahri memberi isyarat agar membiarkan Paman Hulusi pergi. Fahri kembali menghela nafas.
"Kau pasti tahu Sabina, Paman Hulusi sangat kecewa. Sebenarnya aku juga kecewa. Tetapi dalam hal ini tidak ada paksaan. Dalam beragama saja tidak ada paksaan apalagi dalam pernikahan.
Kau boleh bersikap dengan sangat merdeka. Kalau kau bisa merubah pendirianmu dan bisa menerima Paman Hulusi aku akan sangat lega. Adapun sumpah itu bisa kau bayar dengan kafarat."
"Maafkan saya telah mengecewakan semuanya. Tapi saya tidak bisa mengubah pendirian saya. Maafkan saya."
"Silakan kau tinggalkan tempat ini dan kembali ke kamarmu!" Ucap Fahri sambil memejamkan mata.
"Iya Hoca. Sekali lagi maafkan saya."
Sabina beranjak pergi menuju kamarnya di basement. Sampai di kamarnya, Sabina mengunci pintu kamarnya lalu menyungsepkan wajahnya ke bantalnya.
Perempuan berwajah buruk itu menangis
terisak-isak. Entah kenapa, semua kata-kata Fahri membuat hatinya terasa perih, sakit dan kecewa. Ia tidak bisa menjelaskan kepada siapapun kenapa itu sangat menyakitinya.
Dan lebih sakit lagi, Fahri sama sekali tidak tahu bahwa itu sangat menyakiti hatinya. Lebih dalam lagi sakitnya adalah ketika ia merasa bahwa sesungguhnya Fahri tidak berdosa sama sekali, ia sendiri yang menyebabkan hatinya sakit.
Semua rasa sakit itu muncul begitu saja ketika gelora kemurnian cinta tidak mendapatkan wadah untuk menjelaskannya. Gelora itu menyesak dan hampir-hampir meledakkan jiwanya.
Tidak ada yang salah, dia sendiri yang salah. Dan ia sangat mengetahui hal itu. Dan itulah yang membuatnya semakin merasa sakit dan perih.
*****
Sudah tiga hari Sabina pergi. Perempuan itu hanya meninggalkan sepucuk surat untuk Fahri, bahwa kepergiannya adalah yang terbaik untuk semuanya. Dan ia minta agar tidak dicari.
Paman Hulusi seperti menyukai Sabina pergi. Sejak lamarannya ditolak lelaki setengah baya itu memang bersikap ketus kepada Sabina.
Fahri beberapa kali mengingatkan agar Paman Hulusi berlapang dada. Tetapi harga diri
Paman Hulusi seperti tercabik-cabik oleh penolakan itu.
Dalam surat itu Sabina mengucapkan terima kasih kepada Fahri dan Paman Hulusi sekaligus meminta maaf atas segala khilaf. Sabina secara khusus mengatakan bahwa ia sama sekali tidak bermaksud merendahkan Paman Hulusi.
Awalnya Fahri merasa kepergian Sabina bukanlah sebuah masalah. Ia merasa kalau memang itu jalan yang dipilih Sabina mau apa lagi. Sabina memiliki kebebasan penuh memilih jalan hidupnya. Yang penting ia telah berusaha menolong muslimah itu sebaik yang ia mampu. Termasuk mengusahakan agar
muslimah bernama Sabina itu mendapatkan legalitas atas keberadaannya di kota Edinburgh itu.
Semua proses telah dijalani, tinggal ambil sidik jari dan sedikit wawancara ternyata perempuan itu kedua tangannya terbakar. Dan sekarang sudah sembuh, ternyata ia malah pergi.
Awal memang Fahri tidak menganggap kepergian Sabina sebagai masalah, namun ketika dua hari ini nenek Catarina terus menanyakan Sabina, maka ia merasa keberadaan Sabina di situ diperlukan.
Khususnya oleh nenek Catarina. Sejak ia mempercayakan Sabina agar merawat dan memenuhi segala keperluan nenek Catarina, maka sejak itu pula sang nenek merasa mendapatkan teman yang sangat setia dan baik. Sang nenek bahkan menganggap Sabina seumpama anak perempuannya sendiri.
"Aku mendapatkan teman yang baik dan halus budi pada diri Sabina. Kenapa ia tega pergi
meninggalkan diriku? Apa ia sudah tidak peduli lagi padaku? Kenapa ia juga tidak pamit padaku?" Tanya nenek Catarina ketika dikunjungi Fahri sore itu.
"Saya tidak bisa memaksanya terus tinggal di sini Nek. Biarkan Sabina memilih jalan hidupnya." Jawab Fahri.
"Aku merasa usiaku tinggal seujung kuku. Tak lama lagi aku akan mati. Dan aku sedikit merasa bahagia ketika diujung senja usiaku aku bisa bidup tentram karena kebaikanmu Fahri. Kau begitu perhatian kepadaku melebihi anak angkatku yang aku pelihara sejak kecil.
Aku tahu Sabina datang dan menemaniku karena arahanmu. Tetapi kau juga tahu bahwa Sabina begitu tulus memperhatikan aku. Ia
memperlakukan aku penuh ketulusan. Aku benar-benar memiliki seorang teman yang enak diajak bicara. Kini temanku itu pergi."
"Apa aku tidak enak diajak bicara Nek?"
"Tentu saja kau enak diajak bicara. Tetapi ada hal-hal yang lebih nyaman dibicarakan dengan sesama kaum perempuan.
Dan aku mendapatkan tempat yang aman dan nyaman untuk diajak bicara, yaitu Sabina. Dan apakah kau tahu Fahri, walaupun dia seorang gelandangan. Dia ngakunya gelandangan.
Tapi aku merasa dia perempuan yang sangat cerdas. Cerdas dan sesungguhnya penyayang.
Hanya saja aku merasa dia menghadapi sebuah peristiwa dalam kehidupannya yang tidak mudah. Berkali-kali aku mencoba menanyakan kenapa ia sampai seperti itu wajahnya, ia hanya menjawab, sudah begitu
takdirnya dan tidak perlu diceritakan. Kalau boleh aku minta kepadamu dan aku sudah terlalu banyak meminta kepadamu, tolong carilah Sabina dan ajaklah pulang kembali ke rumahmu.
Perempuan yang ramah dan penyayang seperti dia akan membawa banyak keberuntungan. Tolonglah, aku ingin temanku kembali."
Fahri menghela nafas. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Sesungguhnya ia setuju saja untuk mencari Sabina dan memintanya kembali ke Stoneyhill Grove. Namun, apakah Sabina mau? Jelas sekali dalam surat yang ditulis dengan bahasa lnggris halus itu Sabina meminta agar tidak dicari.
"Kau tahu Fahri, Sabina sering bisa membuatku tersenyum dan tertawa. Aku ingin banyak tersenyum dan tertawa diujung usiaku. Tolonglah Fahri!"
"Saya akan mencoba Nek. Tapi saya tidak bisa menjanjikan akan membawa Sabina kembali. Sebab dia sesungguhnya sudah berpesan agar tidak dicari."
"Cobalah temukan dia dan mintalah. Aku yakin ia tidak akan menolak permintaan orang sebaik dirimu. Asal kau memintanya dengan sungguh-sungguh."
"Aku akan mencobanya Nek."
"Terima kasih Fahri, semoga Elohim memberkahimu. Ameen."
Fahri mengamini dalam hati doa nenek Catarina, ia memohon agar Allah merahmatiNya dan merahmati semua ummat Muhammad Saw., dan memberi petunjuk kepada seluruh ummat manusia yang belum
mendapatkan petunjuk.
Tentu saja Paman Hulusi kurang senang Fahri mengajak dan memintanya mencari Sabina. Dengan penuh kesabaran Fahri menjelaskan kepada Paman Hulusi agar tidak kehilangan keikhlasan dalam kondisi apapun.
"Terkadang apa yang tidak kita sukai bisa jadi itu justru baik bagi kita Paman. Dan apa yang kita sukai bisa jadi justru sebenarnya tidak baik bagi kita Paman.
Penolakan Sabina membuat Paman tidak suka, bisa jadi itu yang terbaik bagi Paman. Jika Paman bersabar, saya doakan Paman akan dapat yang lebih baik dari Sabina. Paman sudah tua, jangan bersikap seperti anak remaja yang sentimentil dan emosionil begitu.
Ayolah Paman! Jadilah Paman Hulusi yang beberapa waktu yang lalu sudah sampai tingkatan orang tua yang matang! Jujur aku suka pada Paman Hulusi yang matang itu."
Kata-kata Fahri itu seperti menyentil kesadaran Paman Hulusi. Ada denyar kebahagiaan ketika Fahri memujinya bahwa beberapa waktu yang lalu ia sampai pada tingkatan orang tua yang matang. Ia suka pujian majikan yang sangat dihormatinya itu. Baru kali itu ia mendengar dipuji sebagai orang tua yang matang.
Manusia mana yang tidak suka dipuji dengan penuh tulus? Kata-kata Fahri itu sekaligus
mengingatkan sikapnya yang kekanak-kanakan itu sementara menutupi kematangannya.
''Kalau memang itu yang terbaik untuk semua, baiklah Hoca, mari kita cari Sabina." Gumam Paman Hulusi.
"Nanti setelah shalat maghrib kita jemput Misbah di kampusnya lalu sama-sama mencari Sabina."
"Baik Hoca."
Malam itu seluruh penjuru Edinburgh ditapisi, tempat-tempat yang disangka Sabina berada dilihat dengan seksama. Namun hasilnya nihil. Sampai jam dua malam mereka mencari Sabina namun tidak juga ditemukan.
"Apa mungkin Sabina telah pergi meninggalkan Edinburgh?" Tanya Misbah.
"Mungkin saja. Apalagi ia ada biaya untuk itu. Ia punya sedikit tabungan dari gaji yang aku berikan padanya tiap bulan." Jawab Fahri.
"Kalau itu yang terjadi maka pencarian kita untuk menemukan Sabina tidak lagi mudah. Kita tidak tahu ke mana dia pergi kira-kira? Jika ia pergi ke Glasgow saja kita tidak menemukan Sabina di kota yang cukup besar itu. Apalagi jika ia pergi ke Manchester, Birmingham atau London." Sahut Misbah.
"Malam ini kita cukupkan sampai disini pencarian kita. Besok kalau ada waktu kita lanjutkan. Jika nanti di Edinburgh tidak kita temukan setelah sekian lama kita mencarinya, maka kita coba ke Glasgow. Yang penting kita ikhtiar.Kalau Allah mau mempertemukan lagi dengannya bukan hal yang susah." Fahri
menghela nafas.
"Apakah kita perlu lapor polisi untuk menemukan Sabina?" Paman Hulusi tampaknya sudah tidak lagi mengingat penolakan Sabina.
"Sementara tidak perlu Paman. Mari kita pulang. Nanti shubuh keburu datang."
Mereka melangkah menyusuri jalanan Waverley Bridge. Mereka menuju parkiran Stasiun Waverley Tempat dimana mobil Fahri diparkir. Sampai di rumah Fahri tidak tidur, ia memilih menunggu waktu shubuh tiba. Ia khawatir jika tertidur akan kehilangan shalat shubuh tepat pada waktunya.
Pagi itu Fahri shalat shubuh berjama‘ah di rumah bersama Misbah dan Paman Hulusi. Dan entah bagaimana nama Sabina tersebut begitu saja dalam doa Fahri ketika sedang sujud.
Fahri sempat mendoakan agar Sabina dijaga Allah dan dikembalikan lagi ke Stoneyhill Grove.
Ternyata yang merasa kehilangan atas kepergian Sabina tidak hanya nenek Catarina saja. Brenda dan Nyonya Janet ternyata juga merasa kehilangan. Mereka berdua juga menanyakan keberadaan Sabina.
Secara jujur, Brenda mengatakan bahwa Sabina telah menjadi teman berbincangnya akhir-akhir ini. Ia dan Sabina bergantian mengurus dan memperhatikan nenek Catarina.
"Jika saya tidak ada kerjaan, saya biasanya datang menemui Sabina. Lalu saya akan larut dalam pembicaraan panjang kemana-mana. Itu biasanya jika kalian bertiga tidak ada di rumah.
Saya masih penasaran dengan masa lalu Sabina. Sesungguhnya dia itu dulu kerjaannya apa? Sebab ia bisa nyambung banyak hal jika diajak bicara. Ia juga kelihatan seperti menguasai psikologi komunikasi.
Banyak masalah komunikasi saya yang buruk dengan teman-teman sekantor, lalu jadi baik setelah saya cerita kepada Sabina dan ia memberi beberapa saran ringan. Saya benar-benar kehilangan teman berdiskusi yang tidak berjarak." Cerita Brenda kepada Fahri, Paman Hulusi dan Misbah.
"Sabina memiliki kepercayaan diri luar biasa. Meskipun tampaknya ia seorang gelandangan. Dan ia jujur bercerita kepada saya bahwa dia seorang gelandangan di kota ini, tetapi ia bukan jenis orang yang inferior.
Saya tahu itu. Keteguhan imannya akan adanya Tuhan yang menyertainya setiap saat luar
biasa kuatnya. Ia pernah bilang kepada saya bahwa tinggal di rumah yang sangat mewah, tinggal di hotel berbintang, tinggal dirumah reot, tinggal di emperan toko tanpa rumah, bahkan tinggal di dalam penjara, itu semua rasanya sama jika di dalam dada ada Tuhan.
Yang tinggal di rumah mewah tanpa memiliki Tuhan yang penuh kasih sayang ia tidak akan merasa arti bahagia yang sesungguhnya. Yang
memiliki Tuhan dan disertai Tuhan ia akan terus merasa bahagia. Tak ada cemas, tak ada khawatir tak ada rasa takut."
"Apa yang perlu ditakuti jika yang menemaninya setiap saat adalah Tuhan? Adakah yang lebih setia dari Tuhan? Adakah yang lebih bisa memberikan rasa aman dari Tuhan?" Tutur Nyonya Janet, ibunda Keira.
"Sejak bertemu Sabina, saya semakin tenang menghadapi hidup ini. Beberapa bulan berteman dengan Sabina ternyata lebih saya rasakan manfaatnya daripada pergaulan saya bertahun-tahun dengan teman saya sesama orang Skotlandia selama ini.
Sabina seperti mendorong diriku lebih dekat kepada Tuhan. Perempuan sebaik itu tidak layak jadi gelandangan di jalan. Ia layak hidup mulia seperti para biarawati atau apalah namanya kalau di dalam Islam.
Perempuan-perempuan suci yang bisa membantu sesamanya menemukan jalan yang baik." Lanjut Nyonya Janet.
Tak ayal, pencarian keberadaan Sabina kini melibatkan Brenda, Nyonya Janet dibantu anaknya Jason.
Para tetangga yang lain di komplek Stoneyhill Grove juga membantu mencari Sabina. Mereka telah diberi pesan untuk tidak lapor kepada polisi dahulu. Dua hari penuh Fahri mencari Sabina dengan menyusuri lorong-lorong kota Edinburgh secara lebih detil dan tapis. Namun hasilnya nihil.
Demikian juga hasil pencarian Brenda, Nyonya Janet dan para tetangga.
Sore itu Fahri duduk di Kafe Italiano di jalur The Royal Mile, alunan Bigpipe mengalunkan lagu
kesedihan. Fahri menyeruput Cappucinonya. Paman Hulusi dan Misbah juga menyeruput minumannya.
Masing-masing asyik dengan gelas minumannya dan saling diam. Fahri tidak tahu lagi harus mencari Sabina kemana Fahri menghela nafas, sedetik kemudian ponselnya berdering. Ia angkat dari Profesor Charlotte
memberitahukan bahwa besok adalah debat terbuka tentang Amalek dengan dua pemuka Yahudi di kota Edinburgh.
Tempatnya dipindah ke auditorium Faculty of Divinity, Fahri terhenyak. Untung Profesor Charlotte menelponnya. Jika tidak mungkin saja ia lupa bahwa besok adalah hari H debat
terbuka.
Kesibukan mencari Sabina telah menyita begitu besar waktu dan tenaganya. Sejurus kemudian ponsel Fahri kembali berdering. Kali ini dari Nyonya Suzan yang sedang berada di
Italia. Nyonya Suzan dan Madam Varenka sedang mengawal Keira dan Hulya yang tengah berkompetisi di Italia.
"Puji Tuhan, Keira dan Hulya masuk final. Besok mereka berdua akan final. Doakan keduanya bisa masuk tiga terbaik dunia."
Nada suara Nyonya Suzan begitu bahagia dan optimis. Fahri senang mendengar kabar itu.
Seketika itu juga ia panjatkan doa agar Keira dan Hulya diberi tempat yang paling baik menurut Allah SWT. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Hulya juga masuk final. Hulya yang ikut berangkat demi menemani
Keira, ternyata bisa masuk final. Terlintas sekelebat bayangan Hulya memainkan biola di suatu senja di Stirling itu. Beberapa gesturnya mirip Aisha. Hulya mau tidak mau selalu mengingatkannya kepada Aisha.
Apalagi saat ini biola yang dipakai Hulya untuk bertanding di Italia adalah milik Aisha. Fahri kembali menyeruput Cappucinonya. Ponselnya berdering untuk ketiga kalinya. Kali ini dari Brenda.
"Kau ada di mana Fahri?"
"Di Royal Miles. Ada apa Brenda?"
"Cepat pulang ke Stoneyhill Grove. Nenek Catarina sakit. Ia aku temukan pingsan di beranda rumahnya. Ini aku masih di rumahnya. Cepat ke sini, ia harus dibawa ke rumah sakit."
"Panggil saja ambulan. Kita ketemu di rumah sakit."
"Tidak. Aku lebih nyaman jika kita bawa dia bersama ke rumah sakit."
"Aku khawatir dia ada apa-apa yang perlu penanganan dokter segera. Sudahlah cepat panggil ambulan!"
"Karena itu kau jangan banyak bicara, cepat pulang dan kita bawa nenek Catarina ke rumah sakit!"
Fahri langsung mengajak Misbah den Paman Hulusi untuk pulang. Dalam perjalanan Fahri berpikir, kenapa Brenda harus menunggu dirinya.
Biasanya orang Bule berpikir praktis saja. Mestinya Brenda langsung memanggil gawat darurat untuk membawa nenek Catarina mendapatkan pertolongan medis. Kenapa malah menelpon dirinya? Ia hanya merasa menolong nenek Catarina yang Yahudi itu seperti menolong neneknya atau bahkan
ibunya sendiri. Sama-sama orang tua yang harus dihormati dan ditolong. Niatnya ibadah kepada Allah, semoga Allah menerimanya.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar