Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 19-01

PANASNYA BUNGA MEKAR : 19-01
Ternyata kehadiran ketiga orang di medan pertempuran itu telah mempengaruhi keadaan dengan cepat. Sementara itu, para perampok yang mengalami sentuhan senjata orang-orang yang tidak dikenal itu manjadi bingung. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa di dalam lingkungan padukuhan itu, ada satu dua orang yang memiliki kemampuan tidak ada taranya.

Dalam pada itu, pertempuran itu pun makin lama menjadi semakin sengit. Para perampok menjadi semakin garang. Mereka bertempur sambil berteriak dengan kasar.

Beberapa orang padukuhan itu hatinya menjadi kecut. Mereka yang melihat kegarangan para perampok itu pun berusaha untuk menyingkir. Mereka menarik diri menjauh dan bahkan ada yang dengan sengaja berlindung di kelamnya malam. Perlahan-lahan mereka beringsut dan hilang di balik pagar, regol atau bahkan longkangan rumah terdekat.

Namun ada juga beberapa orang yang ternyata cukup berani menghadapi para perampok itu. Apalagi ketika mereka melihat sesuatu yang sangat menarik perhatian. Rasa-rasanya mereka telah mendapat bantuan secara ajaib untuk melawan para perampok itu.

Akhirnya orang-orang padukuhan yang sedang bertempur melawan para perampok itu pun menyadari, bahwa memang ada orang yang memiliki ilmu yang tinggi yang telah membantu mereka. Tanpa bantuan itu, maka orang-orang padukuhan itu tentu akan mangalami kesulitan. Bahkan seperti yang diinginkan oleh para perampok itu, korban akan berjatuhan.

Meskipun dalam pertempuran itu, jatuh juga korban di antara para penghuni padukuhan itu, namun dengan hadirnya orang-orang yang tidak mereka kenal itu, benar-benar telah menyalakan tekad mereka untuk bertempur terus. Namun sementara itu, masih ada juga di antara mereka yang beringsut surut dengan diam-diam diam dan bersembunyi di balik kandang atau di belakang pakiwan.

Pemimpin perampok yang melihat keadaan yang timpang itu pun kemudian berteriak nyaring “Jangan ragu-ragu. Aku sudah memerintahkan kepada kalian untuk membunuh saja orang-orang dungu itu”

Namun dengan demikian, Mahisa Bungalan pun mengetahui, bahwa orang itu adalah pemimpin dari para perampok. Karena itulah, maka Mahisa Bungalan pun kemudian telah menyusup di antara pertempuran itu langsung mendekati pemimpin perampok yang sedang mengamuk melawan sekelompok orang-orang yang memiliki keberanian untuk bertempur.

“Lepaskan orang itu” geram Mahisa Bungalan.

Orang-orang yang sedang bertempur melawan pemimpin perampok itu heran sesaat. Namun seorang laki-laki berkumis lebat menggeram “Siapa Kau”

“Siapapun aku” jawab Mahisa Bungalan “biarlah aku menyelesaikan orang ini sebelum satu dua orang di antara kalian akan dibantai oleh orang ini”

Orang-orang padukuhan itu seolah-olah telah terpesona oleh kata-kata Mahisa Bungalan. Bahkan sebelum mereka menarik diri, Mahisa Bungalan telah mengacukan senjatanya dan dengan satu putaran, mendesak pemimpin perampok itu beberapa langkah surut.

“Siapa kau” geram pemimpin perampok itu.

“Siapapun aku tidak ada bedanya bagimu” Jawab Mahisa Bungalan, “aku adalah orang yang sedang mencari seorang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk”

“Gila, siapa kau he?” suara perampok itu menjadi semakin tinggi.

“Kita akan bertempur” berkata Mahisa Bungalan “tetapi, kau masih mempunyai kesempatan untuk menyerah”

“Aku bunuh kau” geram pemimpin perampok itu.

Mahisa Bungalan tidak menjawab lagi. Keduanya pun kemudian bertempur dengan sengitnya. Masing-masing memiliki ilmu yang dapat diandalkan.

Orang-orang padukuhan itu melihat pertempuran itu dengan heran. Sebagian dari mereka harus bertempur melawan perampok-perampok yang lain, namun sebagian masih sempat mengagumi, bagaimana Mahisa Bungalan berhasil mendesak lawannya.

Dibagian lain dari pertempuran itu, Mahisa Agni dan Witantra telah melakukan sesuatu yang tidak masuk dalam pertimbangan nalar orang-orang padukuhan itu. Dengan tangkas mereka bertempur sambil berloncatan. Mereka tidak bertempur melawan seorang lawan saja. Tetapi, mereka berloncatan dari satu lawan kepada lawan yang lain. Namun demikian, orang-orang yang aneh itu dapat membuat lawan-lawan mereka menjadi bingung.

Para perampok itu pun tidak lagi dapat berbuat banyak. Jika mereka lengah, maka merekalah yang tentu akan terkapar di tanah. Orang yang tidak dikenal itu bertempur bagaikan burung elang. Melayang-layang dan kemudian menukik menyambar korbannya.

Sementara itu, Mahisa Bungalan telah menguasai pemimpin perampok itu. Seolah pemimpin perampok itu tidak lagi dapat bergerak. Kemana ia meloncat, senjata Mahisa Bungalan sudah teracu kearahnya.

“Menyerahlah” geram Mahisa Bungalan.

Tetapi nampaknya pemimpin perampok itu masih belum melihat kenyataan yang dihadapinya. Karena itu. ia masih mencoba untuk bertempur dengan sekuat tenaganya.

Namun kemampuannya memang terbatas. Betapapun juga ia berusaha, namun ia tidak akan dapat memaksa diri. melawan Mahisa Bungalan, kecuali jika ia memang menyongsong kematian.

Dalam pada itu, para penghuni padukuhan itu pun telah memperketat kepungan mereka. Demikian mereka melihat kehadiran orang-orang yang tidak dikenal sehingga para perampok itu menjadi kebingungan, maka mereka pun berusaha agar tidak seorang pun dari para perampok itu melarikan diri.

Namun demikian, bagaimanapun juga, dalam benturan senjata itu, sulit untuk menghindarkan korban di kedua belah pihak. Ternyata bahwa ada juga satu dua orang penghuni padepokan itu .yang terluka oleh senjata. Seorang laki-laki yang bertubuh gemuk telah berteriak nyaring sambil mengumpat-umpat ketika lengannya tersayat oleh senjata seorang perampok. Namun seorang perampok yang lain telah mengaduh tertahan, karena ujung tombak lawannya telah tergores di punggungnya.

Pertempuran itu masih juga berlangsung dengan sengitnya. Namun, tiba-tiba seorang laki-laki yang bertubuh kecil berdesis sambil menunjuk kepada Witantra yang kebetulan sedang bertempur tidak terlalu jauh dari sebuah obor, “Orang itu yang telah membawa Genuk kepada ayahnya.”

Yang lain memperhatikan orang itu dengan seksama. Kemudian katanya “Ya. Orang itulah yang telah menyerahkan Genuk. Ternyata ia mempunyai kemampuan tidak ada bandingnya”

“Untunglah, ia tidak marah ketika ayah Genuk mencurigainya dan, he, bukankah tiga orang telah mendapat tugas untuk mengawasi tiga orang yang dicurigai. Kemana mereka?” bertanya orang yang lain.

“Bukankah mereka semula berada di gardu sebelah?” bertanya orang yang lain

Tetapi mereka tidak menghiraukan lagi ketiga orang kawannya yang tidak nampak diantara orang-orang padukuhan yang sedang mengepung para penjahat. Karena selain tiga orang itu, masih banyak orang-orang lain yang dengan sengaja menyembunyikan diri.

Pertempuran di padukuhan itu masih berlangsung dengan sengitnya. Namun para perampok yang semula dengan dada tengadah berniat untuk membunuh orang-orang yang telah membuat mereka menjadi marah itu, ternyata telah terdesak semakin berat. Rasa-rasanya mereka tidak melihat lagi kemungkinan untuk dapat membebaskan diri dari kemarahan orang-orang padukuhan itu.

Ternyata bahwa hadirnya tiga orang yang tidak dikenal, baik oleh para perampok, maupun oleh penghuni padukuhan itu. telah membuat akhir yang berbeda sekali dari peristiwa yang menggemparkan.

Semakin lama, para perempok itu pun menjadi semakin terdesak. Mahisa Agni dan Witantra benar-benar merupakan hantu yang menakutkan bagi para perampok. Tiba-tiba saja kedua orang itu muncul di tempat yang tidak terduga-duga. Mendesak dan bahkan melumpuhkan perlawanan beberapa orang perampok dengan membenturkan senjata mereka, sehingga senjata para perampok itu terlepas. Dengan demikian, maka kegarangan para perampok yang tidak bersenjata lagi itu tidak lagi sangat berbahaya.

Dalam pada itu, Mahisa Bungalan yang telah berhasil mendesak pemimpin perampok itupun telah memaksanya untuk mengerahkan kemampuan terakhirnya. Namun pada benturan-benturan yang terjadi di antara senjata merek, maka pemimpin perampok itu tidak dapat bertahan lagi. Ketika Mahisa Bungelan memutar senjatanya dalam satu patukan yang seru, pemimpin perampok itu berusaha untuk menangkisnya. Namun senjatanya seolah-olah telah direnggut oleh putaran senjata Mahisa Bungalan.

Demikian senjata orang itu terlempar, maka dengan satu loncatan pendek, Mahisa Bungalan mengacukan senjatanya tepat di dada lawannya.

“Apakah kau masih akan melawan?” Mahisa Bungalan bertanya.

Pemimpin perampok itu menggeram.

“Menyerahlah” bentak Mahisa Bungalan

Pemimpin perampok itu masih termangu-mangu. Wajahnya masih dibayangi oleh dendam dan kemarahan. Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Satu tekanan jari mahisa Bungalan, akan dapat berarti dadanya akan berlubang.

“Menyerahlah” sekali lagi Muhisa Bungalan membentak sambil menekankan ujung pedangnya di dada lawannya.

“Aku menyerah” geram pemimpin perampok itu.

“Berikan aba-aba kepada orang-orangmu. Perintahkan mereka menyerah dan melepaskan senjata mereka”

Pemimpin perampok itu ragu-ragu. Namun ketika senjata Mahisa Bungalan menekan di dadanya semakin keras, ia berkata “Akuakan memerintahkannya”

Mahisa Bungalan menunggu sesaat. Dibiarkannya pemimpin perampok itu mengatasi gejolak perasaannya. Hanya ujung senjatanya sajalah yang menekan tubuh pemimpin perampok itu semakin keras.

Namun akhirnya, pemimpin perampok yang tidak mempunyai pilihan lainnya itupun kemudian berteriak nyaring. Diperintahkannya orang-orangnya untuk menghentikan perlawanan.

Bagaimanapun juga, para perampok itupun tidak dapat ingkar lagi. Mereka tidak banyak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu, apalagi membunuh orang-orang padukuhan itu. Sebagian dari mereka sudah tidak bersenjata lagi. Senjata mereka terlepas dalam setiap benturan dengan orang-orang yang tidak dikenal.

Mahisa Agni dan Witantra pun mendengar, bahwa pemimpin perampok itu telah memerintahkan kepada orang-orangnya untuk menyerah. Karena itu, maka merekapun telah menghentikan perlawanan mereka. Bahkan, ketika orang-orang pedukuhan itu masih juga ingin berbuat sesuatu terhadap para perampok yang telah menyerah itu, Mahisa Agni dan Witantra telah berusaha untuk mencegahnya.

Demikian pula ketika seseorang yang selama pertempuran itu hanya sekedar bersembunyi, namun ketika mendengar aba-aba dari pemimpin perampok bagi orang-orangnya untuk menyerah, yang dengan serta merta tampil dengan garangnya, maka Mahisa Agni yang melihat segera berusaha mencegahnya.

“Apa pedulimu?” bentak orang yang tidak mengerti apa yang telah terjadi di pertempuran itu.

“Mereka telah menyerah” berkata Mahisa Agni.

“Aku tidak peduli. Mereka telah membuat pedukuhan ini menjadi kisruh, dicengkam oleh ketakutan dan berbagai kerugian lainnya” jawab orang itu dengan kasar “aku wajib memberikan sedikit pelajaran kepadanya”

“Tidak perlu” jawab Mahisa Agni.

Tetapi orang itu justru menjadi marah dan membentak “Minggir. He, siapa kau?”

Kawan-kawan orang itupun menjadi heran. Namun mereka yang mengetahui, bahwa orang itu baru muncul dari persembunyiannya dan berlagak sebagai seorang pemberani mendekatinya sambil berkata “Sudahlah. Jangan membiarkan perasaanmu berbicara”

“Aku tidak dapat menahan diri lagi. He, siapakah orang ini dan apa kerjanya di sini?” bertanya orang itu.

“Ia salah seorang dari perampok-perampok itu” berkata kawannya “tetapi ia memiliki kelebihan sehingga kami tidak berani memaksanya untuk meletakkan senjata seperti perampok-perampok yang lain”

Orang yang baru muncul setelah para perampok itu menyerah itupun menjadi bimbang. Namun kemudian katanya “Jangan bergurau. Bukan saatnya bergurau sekarang. Aku berkepentingan untuk bertindak terhadap para perampok. Jika mereka dibiarkan tanpa ditindak, maka mereka akan merasa bebas untuk melakukan kejahatan”

Namun tiba-tiba seseorang bertanya kepada orang itu “He, dimana kau selama ini”

“Aku berada di ujung lain dari daerah pertempuran ini” jawab orang itu.

“Dan kau sekarang tiba-tiba saja berada di sini? Apakah di ujung lain tidak lagi terjadi apa-apa sekarang?” bertanya kawannya yang lain pula.

Orang itu menjadi semakin bingung. Nampaknya, kawan-kawannya mengetahui apa yang dilakukan selama kawan-kawannya berkelahi.

Dalam pada itu, kawannya yang lain mendekatinya. Sambil menggamitnya ia berkata “Cobalah, kau tangkap orang ini”

Orang itu menjadi semakin bingung. Sementara itu, terdengar suara di arah lain “Kumpulkan mereka dan senjata-senjata mereka”

Beberapa orang pun kemudian mengumpulkan para perampok yang menyerah. Nampaknya dendam masih membara di hati para penghuni padukuhanan itu. Namun, Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan minta para penghuni padukuhan itu tidak melakukan kekerasan.

Namun sulit bagi mereka untuk menahan diri jika mereka melihat beberapa orang kawan mereka telah terluka. Bahkan, ada di antara mereka yang parah, meskipun tidak seorang pun yang telah meninggal karena luka-lukanya.

Namun di antara para perampok itu pun terdapat pula orang-orang yang terluka. Bahkan beberapa orang sedang terancam jiwanya.

Ayah Genuk yang mengetahui segala peristiwa yang telah terjadi itupun kemudian mendekati Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan. Ia tidak merasa malu untuk mohon maaf kepada ketiga orang yang ternyata bukan orang kebanyakan itu.

“Aku bersedia menerima hukuman apa saja” Berkata ayah Gemuk.

“Sudahlah” berkata Witantra “sekarang kita menghadapi persoalan yang cukup gawat. Orang-orang itu harus mendapat perhatian sepenuhnya.”

“Lalu, apakah yang baik kami lakukan terhadap mereka?” bertanya orang yang dianggap mewakili Ki Buyut.

“Biarlah mereka dikumpulkan di suatu tempat yang dapat diawasi dengan baik. Tetapi tidak ada jeleknya, jika kalian bertindak dengan berhati-hati. Tidak ada salahnya pula jika mereka ditempatkan di satu tempat dengan tangan terikat. Dengan demikian kalian yakin, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi” berkata Mahisa Bungalan.

“Kemudian” Mahisa Agni meneruskan “laporkan hal ini kepada Ki Buyut yang tinggal di padukuhan yang lain. Biarlah ia datang melihat para perampok, atau biarlah, para perampok yang terikat itu dibawa kepadanya. Aku masih juga berkepentingan dengan para perampok itu, karena mereka telah menyebut-nyebut nama Rajawali Penakluk”

“Siapakah Rajawali Penakluk itu?” bertanya salah seorang penghuni padukuhan itu.

“Kalian tentu belum mengetahuinya” jawab Mahisa Agni “tetapi belum tentu bahwa mereka benar-benar mempunyai hubungan dengan Rajawali Penakluk itu”

Orang-orang padukuhan itupun kemudian mengumpulkan para perampok dan mengikat tangan mereka. Meskipun mereka sudah tidak bersenjata, namun mereka masih tetap orang-orang yang berbahaya.

Dalam pada itu, terdengar seseorang mengumpat-umpat. Sambil menunjuk ke gardu di sebelah ia berkata, “Tiga orang malas itu justru tidur nyenyak di gardu itu. Mereka adalah orang-orang yang harus mengawasi tiga orang yang semula curigai itu, namun yang ternyata kitalah yang salah menilai”

“Apakah kau tidak membangunkannya?” bertanya seorang kawannya.

“Mereka tidak mau bangun” jawab yang ditanya. Dalam pada itu, sebelum orang lain berbicara, Mahisa Agni telah mendahuluinya. Katanya “Baiklah aku mencoba membangunkannya”

Beberapa orang mengikutinya tanpa mengerti maksudnya. Namun kemudian dengan sentuhan-sentuhan kecil, maka ketiga orang itupun menggeliat.

“Bangun pemalas” bentak orang-orang padukuhan itu.

Ketiga orang itu tergagap. Kemudian merekapun segera bangkit. Dengan nada tinggi mereka hampir bersamaan berteriak “Dimana ketiga orang perampok itu?”

“Perampok yang mana?” bertanya kawan-kawannya.

“Yang kami bawa ke gardu ini” jawab salah seorang dari ketiga orang yang tertidur itu.

Namun tiba-tiba saja mereka melihat Mahisa Agni yang berdiri termangu-mangu. Dengan nada tinggi salah seorang dari mereka menunjuk sambil berteriak “Inilah orang itu. Mana yang dua orang lainnya”

Tetapi hampir meledak kawan-kawannya tertawa. Seorang yang berkumis tipis maju selangkah sambil berkata, “Bangunlah. Kau agaknya telah bermimpi”

“Aku tidak bermimpi. Tiga orang perampok telah kami bawa ke gardu ini. Seorang di antara mereka adalah orang ini” orang itu bertahan.

Tetapi kawan-kawannya tetap tertawa. Yang seorang di antara mereka yang tertawa itu bertanya “Siapa yang kau bawa kemari? Tiga orang? Jika demikian, kenapa mereka kalian tinggal tidur saja dengan nyenyaknya?”

Ketiga orang itu menjadi bingung. Bahkan mereka mulai menilai, apakah mereka tidak sedang bermimpi

“Cobalah” berkata seorang di antara orang-orang padukuhan itu ingat-ingatlah apa yang telah terjadi”

“Kami menangkap tiga orang perampok, atau kawan-kawan perampok itu. Kami bertiga harus membawa mereka ke gardu ini dan menjaganya” jawab salah seorang dari ketiga orang itu.

“Kalian bermimpi. Tidak ada apa-apa disini. Kami memang meronda. Tetapi tidak ada perampok, tidak ada orang-orang yang kau maksud dan kau memang tidur sejak sore” berkata salah seorang dari orang-rang yang kemudian berkerumun.

Ketiga orang itu saling berpandangan. Mengingat-ingat apa yang telah mereka lakukan. Namun seolah-olah telah terjadi yang sebenarnya. Bukan sekedar mimpi. Jika mereka sekedar bermimpi, kenapa tiga orang dapat bermimpi dengan peristiwa yang sama.

Dalam keragu-raguan itu, maka kawan-kawannyapun berkata “Marilah. Kita tinggalkan gardu ini”

Ketiga orang itu masih bingung. Salah seorang di antara mereka pun bertanya kepada kawan-kawannya “Siapakah orang ini”

Kawan-kawannya memandang Mahisa Agni. Tiba-tiba saja, seorang diantara mereka menjawab “Mereka adalah tamu kita. Kita mempunyai tiga orang tamu”

“Tiga orang? Maksudmu tiga orang dari kawanan perampok itu?” bertanya orang itu dengan serta merta.

“Kawanan yang mana? Mereka adalah tamu kita. Tamu yang harus kita hormati” jawab seseorang.

Ketiga orang itu menjadi bingung. Namun mereka pun menyesali diri mereka sendiri. Kenapa mereka telah tertidur nyenyak sekali sehingga mereka tidak tahu apa yang telah terjadi sebenarnya. Bahkan mereka merasa, bahwa kawan-kawannya telah memperolok-olokan mereka.

Namun dalam pada itu, ketika ketiga orang itu sampai ke dalam lingkungan mereka yang sedang menjaga para perampok yang telah menyerah itu, mereka menjadi semakin bingung. Mereka bertiga melihat tiga orang yang harus mereka awasi di gardu sebelah. Namun, tampaknya ketiga orang itu sama sekali tidak mendapat perlakuan seperti yang terbayang di dalam peristiwa disebut seperti mimpi itu.

“Aku tidak bermimpi” berkata salah seorang kepada kawannya yang lainpun menyahut “Tidak. Akupun merasa itu bukan satu mimpi”

Tetapi orang ketiga berkata “Tetapi kita benar-benar telah tertidur. Bagaimana mungkin kita tertidur. Rasa-rasanya kami memang sedang mengawasi ketiga orang itu. Mereka akan mendekati para. perampok yang berada di kebun kosong itu. Kami melarangnya. Dan menurut ingatanku, mereka telah menyerang kami”

“Ya. Tepat. Aku ingat sekarang apa yang telah terjadi” desis yang pertama.

“Tetapi, kenapa kita justru tertidur?” gumam yang lain, “apakah benar semuanya itu terjadi di dalam mimpi. Tetapi perampok-perampok itu benar-benar ada, dan mereka telah tertangkap”

Namun agaknya mereka tetap tidak tahu, apakah yang sebenarnya telah terjadi, dan kenapa mereka telah tertidur nyenyak.

Tetapi ketiga orang itu tidak mau memikirkannya lagi. Mereka kemudian menghadapi para perampok itu yang ternyata telah menyerah dan tiga orang yang disebut sebagai tamu itu, siapapun mereka. Dan mereka pun kemudian tahu, bahwa kawan-kawannya berniat untuk menyampaikan keadaan yang mereka hadapi itu kepada Ki Buyut.

Ternyata bahwa orang-orang padukuhan itu telah memilih untuk mengikat para perampok itu. Tidak saja diikat tangannya, tetapi mereka kemudian diikat tangan dan kakinya pada pepohonan.

“Gila” geram laki-laki kasar yang masih bermimpi untuk menangkap Genuk “kami tidak mau diperlakukan seperti seekor lembu”

Namun seorang di antara penghuni padukuhan itu menyahut “Kalian memang bukan seekor sapi. Tetapi justru karena itu, rasa-rasanya ikatan tangan dan kakinya semakin kuat.

Dalam pada itu, maka beberapa orang telah pergi ke rumah Ki Buyut di padukuhan yang lain di dalam Kebuyutan itu. Ketika mereka memasuki halaman rumahnya, tiga orang peronda di rumah itu terkejut. Dengan tergopoh-gopoh mereka menyongsongnya sambil bertanya “Malam-malam begini kau datang ke rumah Ki Buyut. Tentu ada yang penting. Kami memang mendengar suara kentongan lamat-lamat. Tetapi kami memang menunggu. Jika ada persoalan yang gawat, tentu akan ada utusan datang kemari”

“Kami akan menghadap Ki Buyut” berkata orang yang dianggap mewakili Ki Buyut di padukuhannya.

“Baiklah” jawab peronda itu, “Ki Buyut tentu belum tidur. Ia pun mendengar suara kentongan itu. Beberapa lama ia berada di antara kami, baru saja Ki Buyut masuk ke ruang dalam”

“Tolong sampaikan kepada Ki Buyut bahwa kami akan menghadap” berkata orang yang dianggap mewakili Ki Buyut di padukuhan itu.

Dalam pada itu, seorang peronda telah mendekati pintu butulan. Iapun kemudian mengetuk dinding dua kali berulang tiga kali sebagaimana pesan Ki Buyut kepada para penjaga. Hanya dengan tanda itu sajalah, Ki Buyut akan menanggapi.

Sebenarnyalah bahwa Ki Buyut memang belum tidur. Setelah beberapa lamanya ia berada di antara para peronda, dan tidak ada seorang pun yang datang memberikan laporan, maka iapun kemudian masuk ke ruang dalam, apalagi ketika suara kentongan semakin lama menjadi semakin reda.

Namun Ki Buyut masih berpesan kepada para peronda di regol halamannya “Berhati-hatilah. Dua orang di antara kalian harus lebih sering mengelilingi padukah ini, sementara tiga orang lainnya tetap berada di regol. Bawa alat isyarat. Cepat beri isyarat jika kalian melihat sesuatu yang mencurihakan.”

Ketika Ki Buyut kemudian mendengar ketukan seperti yang sudah dipesankan kepada para peronda itu, maka ia pun segera bangkit. Diraihnya pedang yang tergantung di dinding, di sebelah pembaringannya. Kemudian dengan tangan di hulu pedang, ia pun mendekati pintu butulan. Perlahan-lahan ia membuka pintu butulan itu sambil bertanya “Ada apa?”

Peronda yang berada di sebelah pintu itu pun menjawab, “Ada orang padukuhan sebelah ujung Kabuyutan ini ingin bertemu”

“Padukuhan di arah suara kentongan itu?” bertanya Ki Buyut.

Peronda itu mengangguk. Jawabnya, “Nampaknya memang begitu”

Ki Buyut pun kemudian dengan tergesa-gesa turun ke halaman mendekati beberapa orang yang telah berada di halaman.

“Kalian ingin bertemu dengan aku?” bertanya Ki Buyut.

“Ya Ki Buyut” jawab orang-yang mewakilinya di padukuhannya.

“Marilah. Naiklah ke pendapa. Aku juga mendengar suara kentongan lamat-lamat dari arah padukuhanmu. Tetapi, aku menunggu keterangan. Karena tidak ada seorangpun yang memberitahukan kepadaku, maka akupun memutuskan untuk tidur saja”

“Ki Buyut sedang tidur?” bertanya salah seorang dari mereka yang datang.

“Belum. Aku belum sempat tidur” jawab Ki Buyut Lalu, sekali lagi ia mempersilahkan “Naiklah ke pendapa”

“Terima kasih Ki Buyut” jawab orang yang datang itu, “kami tergesa-gesa”

“O, ada apa? Apakah kalian memerlukan bantuan? Biarlah para peronda memukul kentongan. Maka dalam sekejap akan berkumpul orang-orang yang akan dapat membantumu. Mungkin mereka pun masih belum tidur di rumah masing-masing, karena mereka mendengar juga suara kentongan lamat-lamat. Tetapi merekapun agaknya menunggu seperti aku”

Dalam pada itu, dua orang peronda yang mengelilingi padukuhan melihat tetangga-tetangganya dari padukuhan sebelah telah berada di halaman rumah Ki Buyut.

Sebelum orang-orang yang datang itu menjawab, kedua orang itu pun hampir berbareng bertanya pula dengan nada sama seperti pertanyaan Ki Buyut.

“Ada peristiwa yang gawat telah terjadi” jawab salah seorang dari mereka yang datang itu.

“Kami sudah menduga” jawab salah seorang dari kedua orang peronda yang berkeliling padukuhan ini nampaknya kesiagaan telah meningkat. Di gardu-gardu para pengawal sudah siap menghadapi segala kemungkinan, meski pun sebagian yang lain, masih terdapat juga laki-laki yang lebih senang berada di dalam rumahnya”

Orang yang mewakili Ki Buyut itu pun segera menceriterakan apa yang telah terjadi. Mereka juga menceriterakan hadirnya tiga orang yang tidak mereka kenal, yang semula mereka curigai, namun yang ternyata telah memberikan banyak pertolongan kepada mereka.

“Tanpa ketiga orang itu, kami sudah akan membunyikan tanda bahaya ganda untuk minta bantuan kepada padukuhan-padukuhan yang lain yang telah mendengarnya” berkata salah seorang dari mereka yang datang di halaman rumah Ki Buyut itu.

“Lalu, bagaimana sekarang dengan mereka?” bertanya Ki Buyut.

Orang-orang yang datang dari padukuhan yang baru saja terguncang itu pun segera menceriterakan lebih jelas lagi, khususnya mengenai Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan.

“Aneh” desis Ki Buyut “ada juga orang yang memiliki kelebihan itu di daerah ini. Tetapi, aku kira mereka tentu pendatang yang entah karena sesuatu yang tidak diketahui orang lain, telah merantau ke daerah ini”

“Kami mohon Ki Buyut untuk melihat para tawanan itu. Mereka telah kami ikat pada pepohonan” berkata salah seorang di antara mereka yang datang dari padukuhan yang sedang kacau itu.

“Aku akan datang” berkata Ki Buyut “Tunggulah, aku akan berkemas sebantar”

Ki Buyut pun kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya. Kemudian setelah membenahi pakainnya, senjatanya dan segala keperluannya, maka ia pun kemudian turun ke halaman.

“Dua orang diantara kalian, ikut aku. Yang lain, jaga rumah ini baik-baik. Jika perlu, cepat bunyikan isyarat. Jangan terlambat, agar kawan-kawanmu di gardu-gardu lain dapat segera membantu”

Demikianlah, maka Ki Buyutpun segera meninggalkan halaman rumahnya bersama kedua orang pengawalnya. Sekali lagi ia berpesan agar para pengawal itu berhati-hati.

“Kami sudah siap menghadapi segala kemungkinan” jawab para pangawal, “kantongan yang kami dengar lamat-lamat itu merupakan peringatan yang paling baik bagi para peronda malam ini”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Lalu iapun pergi dengan langkah panjang bersama orang-orang padukuhan yang mendatanginya.

Ketika Ki Buyut sampai di tempat peristiwa itu terjadi, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat bekas dari arena pertempuran yang seru.

“Luar biasa” berkata Ki Buyut, “perampok yang jumlahnya demikian banyaknya berhasil kalian tangkap”

“Kami mendapat bantuan dari tiga orang yang tidak kami kenal sebelumnya” berkata orang-orang di padukuhan itu.

Mereka pun kemudian memperkenalkan Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan kepada Ki Buyut yang mengaguminya.

“Luar biasa Ki Sanak, berkata Ki Buyut “aku sudah mendapat laporan, apa yang telah terjadi di sini. Tetapi aku tidak membayangkan, bahwa jumlah perampok itu sedemikian banyaknya dan menilik orang-orangnya dan jenis senjatanya, mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Namun ternyata mereka dapat kalian tangkap dan bahkan telah kalian ikat”

“Bukan kami bertiga” jawab Mahisa Agni “tetapi kami semua yang telah terlibat kedalam pertempuran melawan perampok itu. Kami hanya tiga orang di antara sekian banyak laki-laki dari padukuhan ini”

“Tetapi setiap orang mengatakan, tanpa kalian bertiga, maka orang-orang di padukuhan ini tidak berarti apa-apa. Bahkan mungkin mereka akan dibantai oleh para, perampok yang garang itu, karena nampaknya para perampok telah berniat untuk mambunuh sebanyak-banyaknya.

Mahisa Agni tersenyum. Katanya “Agak berlebih-lebihan. Namun sebenarnyalah, bahwa kami hanya sekedar membantu. Bantuan yang betapapun kecilnya memang terasa sangat berarti dalam keadaan yang gawat.

Ki Buyut mengangguk-angguk. Namun nampaknya ketiga orang itu memang sangat meyakinkan. Dua orang yang sudah menjelang hari tuanya, sementara yang seorang adalah seorang anak muda yang perkasa.

“Apapun yang telah terjadi” berkata Ki Buyut “kalian adalah orang-orang yang pantas dihormati. Kami ingin mempersilahkan kalian tinggal di rumah kami untuk berapa lamanya”

“Terima kasih Ki Buyut” jawab Mahisa Agni. Namun semantara itu, ia berkata pula “mungkin Ki Buyut tertarik pula untuk memperhatikan para perampok itu”

“Ya. Aku ingin membawa pemimpinnya ke rumahku. Aku ingin berbicara dengan orang itu” sahut Ki Buyut.

“Ki Buyut” berkata Mahisa Agni “jika Ki Buyut tidak berkeberatan, aku ingin mendapat kesempatan untuk berbicara dengan mereka, khususnya dengan pemimpinnya”

“Tentu, kenapa aku berkeberatan?” jawab Ki Buyut, “kami akan membawa pemimpin perampok ini ke rumah kami, sementara kamipun akan mempersilahkan kalian bertiga untuk tinggal di rumah kami.”

Tetapi Mahisa Agni menjawab “Terima kasih Ki Buyut. Tetapi kami tidak dapat mengikut Ki Buyut sekarang. Besok, kami akan datang ke rumah Ki Buyut yang tentu tidak terlalu sulit untuk mencarinya. Setiap orang di Kabuyutan ini tentu tahu, di mana rumah Ki Buyut.”

“Kenapa besok?” bertanya Ki Buyut.

Mahisa Agni termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya “Kami tidak dapat mengatakan, kenapa Ki Buyut. Tetapi masih ada kewajiban yang harus kami lakukan”

“Malam ini?” desak Ki Buy

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya “Kami mohon maaf. Besok kami akan datang kepada Ki Buyut. Sekarang kami justru akan mohon diri”

“Tunggu,” beberapa orang hampir berbareng mencegahnya “jangan pergi”

“Aku tidak pergi. Besok aku akan berada di sini lagi. Mungkin di kedai di pinggir jalan itu. Tetapi yang jelas, aku akan berada di rumah Ki Buyut untuk berbicara dengan pemimpin perampok itu” jawab Mahisa Agni.

Orang-orang itu tidak dapat mencegah lagi. Karena itu, maka ketika ketiga orang itu memaksa meninggalkan padukuhan, laki-laki yang hampir saja kehilangan anak perempuannya itu sekali lagi datang kepada mereka untuk mohon maaf dan sekali lagi mengucapkan terima kasih.

Witantra tersenyum sambil menjawab “Jaga anakmu baik-baik “

Orang-orang padukuhan itu kemudian melepaskan Witantra dengan perasaan yang aneh. Hampir saja terjadi salah paham. Namun untunglah bahwa ketiga orang itu cukup sabar menghadapi mereka, sehingga ketiga orang itu tidak justru memusuhi mereka. Meskipun yang paling muda di antara ketiga orang itu hampir kehilangan kesabaran, namun kedua orang yang lebih tua itu berbasil mencegahnya.

Dalam pada itu, maka Ki Buyut pun memerintahkan membawa pemimpin perampok itu ke rumahnya, sementara para perampok yang lain diserahkan untuk sementara kepada orang-orang padukuha itu. Pada saatnya, merekapun akan diambil oleh Ki Buyut dan persoalan mereka akan diselasaikan pula.

Dalam pada itu, Witantra, Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan pun berada kembali di tempat mereka berlindung. Mereka kembali ke tempat kuda-kuda mereka disembunyikan.

“Besok kita pergi ke rumah Ki Buyut” berkata Mahisa Bungalan.

“Ya. Besok kita akan sempat bertanya kepada pemimpin perampok itu. Apakah hubungan mereka dengary Rajawali Penakluk sahut Witantra.

Namun artinya tidak akan menentukan apa-apa lagi” berkata Mahisa Agni “nampaknya meraka adalah bekas para pengikut Rajawali Penakluk yang sudah ditinggalkannya. Agaknya Ki Dukut tidak akan kembali kepada mereka, setelah Ki Dukut berhubungan dengan orang-orang berilmu hitam. Semula, ia masih mempertimbangkan banyak kemungkinan, dan ia menganggap bahwa para perampok masih lebih baik daripada orang-orang berilmu hitam yang pada umumnya juga perampok besar, yang dibekali sifat-sifat yang agak lain dari kebanyakan orang”

Witantra mengangguk-angguk. Katanya “Kau benar. Kita tidak akan mendapatkan bahan apapun juga dari mereka. Tetapi tidak ada salahnya pula jika kita menemuinya besok”

Demikianlah, mereka bersepakat di pagi hari berikutnya, mereka akan datang ke rumah Ki Buyut untuk bertemu dengan pemimpin perampok yang sudah tertangkap itu.

Sementara itu, menjelang dini hari, pemimpin perampok yang terikat tangan dan kakinya itu sudah berada di rumah Ki Buyut. Untuk menjaga agar orang itu tidak melarikan diri, maka Ki Buyut memrintahkan para pengawalnya untuk mengikat di dalam gandok sebelah kiri. Bukan saja tangannya, tetapi juga kakinya.

Namun dalam pada itu. Ki Buyut itu berkata kepada orang-orang yang mengawal pemimpin perampok itu, “Jangan takut bahwa ia akan melarikan diri. Tali itu adalah janget rangkep tiga. Tidak seorangpun yang akan dapat memutuskannya. Sementara tangannya dan kakinya terikat pada tiang. Jika tiang itulah yang berhasil diangkatnya, maka gandok itu akan roboh dan menimpa kepalanya. Kematiannya tidak akan dapat dipersalahkan kepada kita”

Para pengawal itu termangu-mangu. Namun Ki Buyut berkata “Tinggalkan orang itu.

Orang-orang yang menunggui pemimpin perampok itu pun kemudian meninggalkan gandok. Sementara Ki Buyut berkata “Tetapi jangan tinggalkan rumah ini. Kalian dapat berada digardu atau di pendapa. Bagaimanapun juga, orang ini tetap berbahaya. Mungkin kawan-kawannya yang kebetulan tidak ikut dalam perampokan ini mengetahui nasibnya dan berusaha untuk membebaskannya.

Orang-orang padukuhan itu pun mengangguk hormat. Seorang di antara mereka menjawab “Baiklah Ki Buyut. Kami akan berada di pendapa.”

Sejenak kemudian, orang-orang itu telah berada di pendapa dan yang lain berada di regol. Bukan hanya mereka yang bertugas meronda, tetapi beberapa orang lain telah datang pula di rumah Ki Buyut demikian mereka mengetahui bahwa pemimpin perampok yang tertangkap telah dibawa kurumah Ki Buyut.

Dalam pada itu, demikian orang-orang itu pergi, Ki Buyut telah menggeram “Kau memang dungu. Kenapa kau berbuat gila seperti itu?”

“Orang-orangmulah yang gila. He. kenapa kau panggil lagi orang itu? Kau sengaja menjebak kami he?” pemimpin perampok itu menggeram pula.

“Kau benar-benar akan membantai orang padukuhan ini?” bertanya Ki Buyut.

“Mereka membuat kami menjadi marah. Mereka ingin munangkap kami dan memperlakukan kami seperti ini” jawab pemimpin perampok itu “jika orang-orang dungu di padukuhan itu tidak memukul tanda bahaya, maka kamipun akan memperhitungkan tingkah laku kami. Tetapi, mereka telah memukul tanda bahaya, dan mereka telah berusaha mengepung kami. Itu sangat menyakitkan hati. Dan bukankah tidak ada satu perjanjian pun, bahwa kami tidak mudah membunuh?”

“Memang tidak ada perjanjian. Tetapi aku mengira, bahwa kalian bukan binatang sebuas itu. Jika kalian berhasil memiliki semua kekayaan orang yang kau rampok, itu sudah cukup. Kau tinggal memberikan hasil rampokan itu sebagian kepadaku”

“Kau gila. Kau tidak ikut berbuat apapun juga” geram pemimpin perampok itu.

“Aku sudah berusaha untuk mencegah orang-orangku di padukuhan ini untuk keluar dari regol dan membantu padukuhan yang telah memukul tanda bahaya itu. Mereka memang siap” berkata Ki Buyut.

“Tetapi orang-orang padukuhan itu merasa mampu untuk melakukannya, sehingga mereka tidak memukul tanda bahaya ganda. Jika demikian, kami akan semakin banyak membunuh orang dan meninggalkan bangkai terbujur lintang” jawab pemimpin perampok itu.

“Omong kosong. Sebelum mereka memukul isyarat bahaya ganda dan lagi-laki dari padukuhan ini datang membantu kau sudah berhasil ditangkap dan sekarang kau terikat disini”

“Persetan” geram Ki Buyut “kaulah yang bodoh sehingga kau lebih senang berusaha membunuh daripada menyelamatkan diri”

Pemimpin perampok itu menggeram. Tetapi ia tidak menjawab, sementara Ki Buyut itu berkata pula, “Sebenarnya akhir dari peristiwa ini dapat berbeda jika kau sedikit mempunyai otak dan dapat mengendalikan nafsumu yang gila. He, apakah orang-orangmu juga mengetahui hubungan kita?”

“Pertanyaan itulah yang gila” geram pemimpin perampok itu “betapapun bodohnya aku, tetapi aku tidak akan berbuat begitu dungunya”

“Tidak seorang pun yang mengetahui?” desak Ki Buyut.

“Tentu tidak” jawab pemimpin perampok itu.

Ki Buyut pun mengangguk-angguk. Lalu katanya “Tidak boleh seorang pun yang mangetahui rahasia ini. Terakhir kita bekerja bersama kira-kira setahun yang lalu. Orang-orang sudah melupakannya, karena yang kita lakukan kemudian sama sekali tidak menyangkut Kabuyutanku sendiri. Sekarang, di saat aku mengisyaratkan kepadamu, bahwa kerja sama ini dapat dilakukan lagi, kau telah berbuat begitu bodohnya”

“Lepaskan aku. Aku akan berbuat lebih baik di hari kemudian” pinta pemimpin perampok itu.

“Gila. jika ketiga orang itu datang kepadaku, apa kataku jika kau aku lepaskan” Ki Buyut itulah yang menggeram.

“Kau pun ternyata terlalu bodoh. Kau dapat mengatakan bahwa aku berhasil malarikan diri. Aku akan dapat membuat bekas-bekas seperti itu. Aku akan memutuskan tali pengikatku, dan aku akan dapat memecah dinding ruangan ini” sahut pemimpin perampok itu “kemudian aku akan melarikan diri tanpa dapat dikejar oleh siapapun, meskipun hari telah terang. Bukankah ketiga orang itu tidak ada di sini? Jika mereka ada, aku memang tidak akan berhasil berbuat apa-apa.”

Ki Buyut merenungi permintaan pemimpin perampok itu. Kemudian katanya “Kau benar-benar dapat memutuskan tali pengikat tangan dan kakimu itu?”

“Ya. Aku dapat melakukannya. Aku masih mempunyai alat untuk berbuat demikian”

“Apa?” bertanya Ki Buyut.

“Ambil dan taruhlah di tanganku yang terikat itu, sebilah pisau kecil di ikat pinggangku” berkata pemimpin perampok itu.

“O, kau memang benar-benar bodoh. Jika tali itu putus dan terdapat bekas pisau, apakah hal itu tidak akan dapat menumbuhkan kecurigaan seseorang kepadaku?” jawab Ki Buyut.

“Aku akan meninggalkan pisau kecil itu. Semua orang akan sependapat, bahwa aku berhasil melepaskan diri karena aku berhasil mengambil pisau itu dari tempat aku menyembunyikannya pada bagian tubuhku”

Ki Buyut termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Bagaimana dengan para pengawal”

“Aku tidak berkeberatan sama sekali, jika dimuka pintu bilik ini dijaga oleh orang-orangmu yang bodoh dan tidak tahu sama sekali tentang apa yang mereka lakukan. Kemudian kau akan dapat membebankan tanggung jawab kepada mereka”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Nampaknya rencana itu memang dapat dapat dilakukan. Jika pemimpin perampok itu tetap ada di rumahnya sebagai tawanan, sementara ketiga orang itu akan ikut serta memeriksanya, maka tidak mustahil bahwa pada suatu saat rahasia itu akan dapat terbongkar.

Karena itu, rencana pemimpin perampok itu nampaknya dapat memberikan jalan kepadanya untuk menghindar. Yang dapat dituduhkan kepadanya, adalah sekedar kelengahan, sehingga pemimpin perampok yang terikat itu masih dapat meraih senjata kecilnya untuk memutuskan tali pengikat tangan dan kakinya.

“Cepat putuskan sebelum siang” geram pemimpin perampok itu.

Ki Buyutpun kemudian dengan ragu-ragu mendekati perampok itu. Namun akhirnya ia pun mengambil sikap seperti yang diusulkan tawanannya. Dengan hati-hati ia pun mengambil pisau kecil dari ikat pinggang tawanan itu dengan meletakkan pisau kecil itu dalam genggaman tangan pemimpin perampok itu.

“Panggil orang-orangmu dan suruhlah mereka menjaga aku” gumam pemimpin perampk itu.

Ki Buyut pun kemudian keluar dari bilik itu dan memanggil beberapa orangnya yang masih berada di pendapa dan regol.

“Aku sudah selesai dengan orang itu, jagalah baik-baik. Bagaimanapun juga orang itu adalah orangyang sangat licik. Nanti, tiga orang yang telah membantu menangkap perampok-perampok itu akan datang. Mereka akan bertanya langsung kepada perampok itu tentang beberapa hal yang tidak aku mengerti”

“Baik Ki Buyut” jawab salah seorang dari mereka.

“Ia masih terikat. Tetapi, jika orang itu melarikan diri, maka kalianlah yang akan menjadi gantinya” pesan Ki Buyut kemudian.

“Bukankah tali pengikatnya adalah janget?” Bertanya salah seorang pula.

“Ya, Tetapi jangan lengah” bentak Ki Buyut.

Orang-orang itu tidak berani membantah lagi. Ketika Ki Buyut melangkah pergi, ia masih berkata “Jagalah di muka pintu. Biar ia berada di dalam bilik yang pintunya kalian selarak dari luar”

Orang-orang itu pun melakukan seperti yang dikatakan oleh Ki Buyut. Beberapa orang sempat menjengukkan kepalanya di pintu dan melihat orang itu masih terikat pada tiang. Nampaknya orang itu tidak akan dapat melepaskan dirinya. Jika ia memiliki kekuatan untuk mengangkat tiang itu, maka atap rumah itu akan roboh menimpanya.

Sejenak kemudian, maka pintu gandok itupun telah di tutup dan diselarak dari luar. Para peronda yang menganggap bahwa tawanan itu tidak akan sempat melarikan diri telah menjaganya dengan kurang berhati-hati. Di antaranya telah berbaring diamben bambu di serambi gandok itu, sementara yang lain duduk terkantuk-kantuk.

Tawanan yang terikat di dalam bilik di gandok itu tersenyum. Di dalam hatinya mereka berkata “Orang-orang dungu. Sebentar lagi aku akan bebas”

Dalam pada itu, ketika pemimpin perampok itu tidak mendengar suara orang-orang yang menjaganya di pintu bilik, maka iapun mulai berusaha untuk memotong tali yang mengikat tangannya. Demikian tajamnya pisau kecilnya, sehingga usahanya tidak banyak menemui kesulitan.

Tidak seorang pun yang mendengar, apa yang dilakukan oleh pemimpin perampok itu. Beberapa orang yang menjaganya. terkantuk-kantuk di luar, sementara yang lain berusaha mengisi waktunya dengan berkelakar dan beberapa diantara mereka berjalan-jalan di halaman.

Sementara itu langitpun mulai terang. Burung-burung liar mulai berkicau bersahut-sahutan. Demikian riangnya menyambut pagi yang datang.

Beberapa orang yang berada di rumah Ki Buyut itu justru ada yang telah tertidur di gardu dan di pendapa. Namun hal itu sama sekali tidak dihiraukan oleh kawan-kawannya, Meskipun ada di antara mereka yang tertidur nyenyak, namun bagi mereka yang masih tetap berjaga-jaga, sama sekali tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.

“Nampaknya Ki Buyut merasa letih sekali” berkata salah seorang dari para penjaga itu “biasanya ia bangun pagi-pagi”

“Kau aneh” desis yang lain “belum lama ia masuk ke dalam rumahnya. Barangkali baru sekejap ia tertidur sekarang ini”

“Meskipun baru sekejap, tetapi ia tidak pernah bangun sampai matahari terbit” jawab kawannya.

“Matahari belum terbit” jawab yang lain.

Namun sebenarnyalah, sebelum matahari terbit, Ki Buyut yang belum lama masuk ke dalam rumahnya, telah membuka pintu pringgitan. Ketika ia turun ke pendapa, dilihatnya beberapa orang masih tertidur nyenyak.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...