Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 21-03

PANASNYA BUNGA MEKAR : 21-03
Dalam pada itu, maka Ki Watu Kendeng itu pun berkata, “Angger Mahisa Bungalan. Jika angger masih mempunyai sisa-sisa kenangan masa-masa yang pernah angger alami di daerah ini. Aku ingin mohon agar angger dan kedua paman angger ini untuk tinggal di Watu Kendeng barang satu dua hari. Mungkin dalam waktu satu dua hari itu, akan datang kabar dari padepokan Kenanga yang sudah dibayangi bleh keadaan yang gawat itu”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia memandangi kedua pamannya yang duduk termangu-mangu.

Witantra yang melihat kegelisahan di wajah Mahisa Bungalan itu pun berkata, “Ki Watu Kendeng. Agaknya kami tidak berkeberatan untuk memenuhi permintaan itu. Mudah-mudahan segalanya justru akan menjadi baik, dan tidak sebaliknya”

”Ya, ya Ki Sanak” desis Ki Watu Kendeng, “namun nampaknya kedua orang anak muda itu bagaikan telah kehilangan akal dan pertimbangan. Nama-nama lain pun segera menghindar ketika keduanya tidak lagi bersikap wajar. Kedua belah pihak telah berhubungan dengan orang-orang terkuat pada masa sekarang. Yang satu lewat hubungan perguruan, sedangkan yang lain karena-uangnya yang melimpah, sehingga dengan uang itu, ia akan berusaha untuk berbuat apa saja”

“Baiklah” sahut Mahisa Agni pula, “kami akan tinggal satu atau dua malam di sini. Agaknya memang lebih baik kami berada disini, daripada kami langsung berada di Padepokan Kenanga”

“Ya, ya Ki Sanak” jawab Ki Watu Kendeng dengan serta merta, “padepokan ini memang pernah juga mempunyai hubungan khusus dengan padepokan Kenanga. Aku tidak tahu, bahwa justru padepokan inilah yang akan menemukan jalan pemecahan”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia hanya menundukkan kepalanya saja.

“Jika demikian Ki Sanak” berkata Ki Watu Kendeng kemudian, “aku ingin mampersilahkan Ki Sanak untuk berada di padepokan ini sebagaimana Ki Sanak berada di rumah sendiri. Kami akan menyediakan bilik Ki Sanak bertiga, karena agaknya Ki Sanak juga memerlukan waktu untuk beristirahat”

Dengan demikian, maka Mahisa Agni Witantra dan Mahisa Bungalan telah singgah di padepokan Watu Kendeng itu untuk beberapa hari. Dengan gelisah Mahisa Bungalan menunggu berita terakhir dari padepokan Kenanga. Jika keadaan menjadi semakin buruk, maka ia harus cepat bertindak. Ia tidak menghiraukan lagi, bagaimanakah tanggapan Ken Padmi kemudian. Namun gadis itu harus diselamatkan dari keserakahan kedua orang anak muda yang tidak tahu diri itu.

Dalam pada itu, dihari berikutnya, padepokan itu telah dikejutkan oleh kehadiran beberapa orang berkuda. Seperti saat-saat Mahisa Bungalan dan kedua pamannya datang, maka para penjaga di regol padepokan telah menghentikan orang-orang berkuda itu sambil mengacukan senjata mereka.

“Jangan gila” bentak pemimpin orang-orang berkuda itu, “aku akan bertemu dengan Ki Watu Kandeng”

“Siapakan kalian?“ bertanya cantrik yang menjaga gerbang itu.

“Minggir. Aku akan bertemu dengan Ki Watu Kendeng“ sekali lagi orang itu membentak.

“Tetapi sebut, siapakah kalian dan apakah kepentingan kalian“ cantrik itu masih bertanya.

“Jangan banyak bicara“ orang itu semakin marah, “kami dapat memenggal leher kalian dalam satu ayunan pedang. Aku akan bertemu dengan Ki Watu Kendeng. Kau dengar”

Para cantrik itu termangu-mangu. Namun dalam pada itu, Ki Watu Kendeng yang duduk di pendapa bersama Mahisa Aghi. Witantra dan Mahisa Bungalan pun telah berdiri pula. Sementara itu Mahisa Agni berdesis, “Terima sajalah. Mungkin ada persoalan yang dapat melengkapi gambaran kita tentang persoalan yang sadang dihadapi oleh padepokan Kananga”

Ki Watu Kandeng pun mengangguk. Kemudian ia pun bertepuk tiga Kali.

Para cantrik di regol itu sudah terbiasa. Ki Watu Kendeng telah memberikan isyarat agar mereka dibiarkan masuk. Karena itu, maka para cantrik itu pun segera menyibak. Tanpa turun dari kudanya, orang-orang itu pun memasuki halaman. Dengan nada kasar orang yang memimpin iring-iringan itu bertanya lantang, “Siapakah di antara kalian yang bernama Ki Watu Kendeng”

Ki Watu Kandeng pun melangkah maju. Dengan nada datar ia berkata, “Marilah Ki Sanak. Aku ingin mempersilahkan Ki Sanak untuk duduk barang sebentar. Kita akan dapat berbicara dengan baik dan tidak tergesa-gesa”

“Aku memang tergesa-gesa” jawab orang berkuda itu, “kaukah yang bernama Ki Watu Kendeng?”

“Ya Ki Sanak” jawab Ki Watu Kendeng.

“Baiklah. Aku tidak perlu duduk. Aku hanya ingin menyampaikan pesan angger Wiranata” berkata orang berkuda itu.

“Angger Wiranata?“ Ki Watu Kendeng mengulangi.

“Ya” sahut orang berkuda itu, “dalam persoalan yang timbul antara angger Wiranata, Marwantaka dan Ki Selabajra, padepokan ini jangan turut campur. Aku mendengar, bahwa Ki Selabajra telah menghubungi kalian untuk membantu melindungi Ken Padmi. Itu tidak perlu sama sekali, karena angger Wiranata sanggup melakukan sendiri”

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “jadi Ki Sanak ini utusan angger Wiranata?”

Wajah orang-orang itu menegang. Nampaknya Ki Watu Kendeng masih tetap tenang. Karena itu, maka pemimpin mereka itu pun sekali lagi mambentak ”Sudah aku katakan. Kami adalah utusan angger Wiranata. Kami adalah utusan-utusan yang memiliki kekuasaan atas namanya. Kami mendapat wewenang untuk berbuat apa saja bagi kepentingan angger Wiranata”

Tetapi Ki Watu Kendeng masih tetap tenang. Apalagi di padepokan itu ada Mahisa Bungalan dan kedua pamannya, yang agaknya juga memiliki kemampuan seperti Mahisa Bungalan.

Bahkan katanya kemudian, “Jangan mengancam Ki Sanak. Jika Ki Sanak memang utusan dari angger Wiranata, maka pesannya yang disampaikan lewat Ki Sanak sudah kami terima. Itu saja”

“Jangan sombong” berkata orang itu, “kau tidak hanya menarima pesannya. Tetapi kau harus mamatuhinya. Jika kau melanggar pesan itu, berarti bahwa kau telah menentang angger Wiranata. Dangan demikian maka angger Wiranata akan dapat melakukan apa saja yang dianggapnya baik”

“Terserahlah” berkata Ki Watu Kendeng ”Kami akan manentukan sikap sesuai dengan kapentingan kami. Mungkin sekali nanti, atau besok atau kapan pun. angger Marwantaka pun akan mengirimkan utusan pula kemari, Mengancam dan menakut-nakuti seperti yang Ki Sanak lakukan. Justru karena itu, kami akan menentukan sikap menurut kepentingan kami sendiri”

“Persetan” geram orang itu, “kau jangan sombong Ki Watu Kendeng. Apakah arti padepokan kecilmu ini. Dengan sekali renggut, maka padepokan ini tidak akan dapat kalian kenali lagi. Kami dapat membuatnya menjadi karang abang”

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang mudah untuk melakukannya. Merusak memang jauh lebih mudah dari saat-saat membuatnya. Tetapi ingat, bahwa kami akan mempertahankan milik kami dengan segenap kekuatan yang ada pada kami. Jika padepokan ini lumat menjadi debu, maka seisinya pun akan hancur pula menjadi debu”

“Persetan“ orang itu hampir berteriak, “jadi kalian tidak mau mendengar pesan ini?“

“Kami sudah mendengarnya” jawab Ki Watu Kendeng, “tetapi selanjutnya tergantung kepada kami”

“Kalian akan menyesal. Sayang, aku sekarang tidak diperkenankan untuk menghancurkan padepokan ini. Angger Wiranata masih mempertimbangkan banyak hal atas kemuliaan hatinya” berkata orang itu dengan lantang.

Namun Ki Watu Kendeng menjawab, “Bukankah kau utusan angger Wiranata dengan membuat kuasa atas namanya untuk berbuat apa saja?”

“Tetapi masih dalam batas-batas belas kasihannya” bentak orang itu. Namun kemudian, “Tetapi kalian terlalu sombong. Kalian akan menyesal pada saatnya”

Ki Watu Kendeng tidak sempat menjawab. Orang itu pun. kemudian memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk meninggalkan padepokan itu. Namun orang itu masih sempat berkata dan mengancam, “Kami akan datang lagi dengan kuasa yang lebih lengkap. Padepokan ini akan menjadi abu”

Ki Watu Kendeng tidak menjawab. Dipandanginya saja orang itu meninggalkan halaman padepokannya.

Demikian orang-orang itu hilang di balik regol, maka seorang cantrik telah menutup regol itu meskipun tidak menyelaraknya. Sementara Ki Watu Kendeng menarik nafas. sambil berkata, “Nah, angger Mahisa Bungalan. Kau sudah melihat sendiri, betapa panasnya bunga yang sedang mekar di padepokan Kenanga itu”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya suasana akan menjadi samakin panas”

“Ya. Dan Ki Selabajra akan menjadi Semakin cemas menghadapi ancaman dari kedua belah pihak” jawab Ki Watu Kendeng, “sebagaimana kau lihat, padepokan ini yang tidak tersangkut langsung telah mendapat ancaman-ancaman yang mendebarkan. Apalagi padepokan Kenanga yang langsung menyimpan bunga yang sedang mekar itu sendiri”

“Jika perlu, kami akan melihatnya” berkata Witantra, “mungkin padepokan itu memang memerlukan, bantuan betapapun kecilnya”

“Ya Ki Sanak. Tetapi aku masih akan menunggu sampai besok. Jika Ki Selabajra tidak mengirimkan utusan, karena mungkin setiap orang yang keluar dari padepokan itu telah dihalangi, maka kamilah yang akan mengirimkan isyarat” berkata Ki Watu Kendeng.

Karena itu, maka Mahisa Agni. Witantra dan Mahis Bungalan merasa perlu untuk tetap tinggal di padepokan ifu sambil menunggu perkembangan keadaan.

Demikianlah, ternyata seperti yang diperhitungkan oleh Ki Watu Kendeng. Dihari berikutnya, telah datang dua orang cantrik dari padepokan Kenanga. Mereka membawa pesan dari Ki Selabajra tentang keadaan padepokan Kenanga.

Namun seperti yang dikehendaki oleh Mahisa Bunga Bungalan sendiri, maka Ki Waltu Kendeng sama sekali tidak mengatakan kepada utusan padepokan Kenanga itu, bahwa Mahisa Bungalan dan kedua orang pamannya berada di Watu Kendeng.

“Keadaan memang sudah gawat sekali Ki Watu Kendeng” berkata utusan itu, “bahkan dari kedua belah pihak telah timbul ancaman, jika Ki Selabajra menyerahkan Ken Padmi kepada pihak yang lain, maka padepokan Kenanga akan menjadi debu. Bahkan di saat-saat terakhir, agaknya kedua belah pihak sudah bersiap untuk mengambil Ken Padmi dengan kekerasan”

“Jadi, apakah Ki Selabajra minta agar kami datang ke padepokan kecil itu?“ bertanya Ki Watu Kendeng.

Utusan Ki Selabajra itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya dengan nada rendah, “Ki Selabajra menjadi bimbang menghadapi keadaan. Sebenarnyalah bahwa kehadiran Ki Watu Kendeng akan sedikit memberikan ketenangan. Tetapi jika demikian, Ki Watu Kendeng akan terlibat langsung dalam persoalan ini, sehingga KiWatu Kendeng akan dimusuhi oleh kedua belah pihak itu. Akibatnya akan dapat merugikan padepokan ini”

“Tetapi bukankah sudah sewajarnya jika kami Saling menolong. Akibat itu adalah wajar sekali. Namun sudah barang tentu kami tidak akan dapat tinggal diam jika kami mengetahui, bahwa keadaan Ki Selabajra menjadi sangat gawat” berkata Ki Watu Kendeng.

“Demikianlah Ki Watu Kendeng. Ki Selabajra pun berpesan, bahkan segala sesuatu pun terserah kepada Ki Watu Kendeng. Kami memang menyampaikan keluhan kepada Ki Watu Kendeng, namun segalanya memang harus dipertimbangkan dengan kemungkinan yang akan dapat terjadi atas padepokan ini sendiri”

Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk. Katanya, “Sudahlah. Aku mengerti maksud Ki Selabajra. Ia memang tidak ingin merugikan orang lain. Namun sudah barang tentu bahwa kami akan membuat pertimbangan-pertimbangan tersendiri”

“Segalanya terserah kepada Ki Watu Kendeng. Selanjutnya kami mendapat pesan untuk segera kembali, karena setiap orang diperlukan di padepokan Kenanga pada saat ini” berkata utusan itu.

Ki Watu Kendeng tidak menahannya. Namun ia berpesan, bahwa ia akan mengatur padepokannya sebaik-baiknya. Mungkin ia akan mengambil keputusan untuk datang kepadepokan Kenanga. Namun ia memang harus membuat perhitungan tentang padepokannya sendiri.

Demikianlah maka utusan itu pun segera minta diri. Seperti pesan Ki Selabajra bahwa ia harus segera berada di padepokan Kenanga kembali, karena keadaan yang menjadi semakin gawat.

Sepeninggal utusan itu, maka Ki Watu Kendeng pun segera berbicara dengan Mahisa Bungalan, Witantra dan Mahisa Agni. Apakah yang sebaiknya dilakukan.

“Persoalan ini memang berat bagi Ki Watu Kendeng. Jika Ki Watu Kendeng pergi, maka padepokan ini akan dapat menjadi sasaran kemarahan mereka justru pada saat-saat Ki Watu Kendeng tidak berada di padepokan” berkata Mahisa Agni.

“Tetapi aku juga tidak sampai hati untuk membiarkan padepokan Kenanga menjadi karang abang. Aku mengerti bahwa kekuatan padepokan Kenanga sendiri atau Watu Kendeng sendiri, tidak akan mampu membendung kekuatan salah satu pihak yang sedang bermusuhan itu” jawab Ki Watu Kendeng

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Bungalan. bertanya, “Ki Watu Kendeng, apakah salah orang dari kedua anak-anak muda itu memiliki kelebihan? Aku pernah bertemu dengan anak muda-yang bernama Marwantaka. Tetapi aku belum pernah mengenal Wiranata”

Ki Watu Kendeng mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Keduanya sebenarnya bukan anak muda yang dapat dibanggakan dalam olah kanuragan. Mereka memang memiliki ilmu, tetapi tidak terlalu tinggi, sebagaimana anak-anak padepokan yang lain”

“Apakah kedua anak-anak muda itu memiliki ilmu yang seimbang?“ bertanya Mahisa Bungalan.

“Kira-kira memang demikian. Tetapi aku kira Marwantaka mempunyai pengalaman yang lebih luas” jawab Ki Watu Kendeng.

“Dan bagaimana dengan Ken Padmi sendiri?” bertanya Mahisa Bungalan pula, “meskipun ia seorang gadis, tetapi bukankah ia juga mempelajari ilmu kanuragan dari ayahnya sendiri?”

“Ya. Tetapi apa artinya Ken Padmi sendiri. Pada saat-saat terakhir, justru ketika perasaan kecewa menggigit jantungnya semakin pedih, ia telah menenggelamkan diri ke dalam sanggarnya. Kadang-kadang justru di luar pengamatan ayahnya. Menurut pendengaranku, ilmunya meningkat dengan pesat, karena ia menumpahkan segenap kekesalan, kekecewaan dan harapan kepada ilmunya” berkata Ki Watu Kendeng.

“Bagus, “ desis Mahisa Bungalan tiba-tiba.

“Kenapa?“ bertanya Ki Watu Kendeng, “betapa tinggi ilmu Ken Padmi itu sendiri, ia tidak akan mampu, melawan kekuatan yang akan melanda padepokannya. Baik Marwantaka maupun Wiranata akan datang dengan kekuatan yang tidak akan dapat diimbangi oleh padepokan Kenanga sendiri. Jumlah orang yang lebih banyak akan ikut menentukan. Apalagi di antara mereka tentu terdapat orang-orang yang lebih kuat dari kedua anak muda itu sendiri, sehingga kemampuan Ken Padmi bahkan Ki Selabajra sendiri, tidak akan memadai”

“Maksudku bukan demikian“ berkata Mahisa Bungalan, “Ki Watu Kendeng dapat memberikan saran kepada Ken Padmi untuk mengambil jalan tersendiri. Jalan yang barangkali akan dapat menyelamatkan padepokan Kenanga dan juga padepokan Watu Kendeng, karena untuk selanjutnya tidak akan terjadi pertentangan yang akan dapat menimbulkan peperangan”

“Apakah yang kau maksud?“ justru Mahisa Agni lah yang bertanya.

“Paman” berkata Mahisa Bungalan, “Ken Padmi dapat menempuh satu cara. Sayembara tanding. Siapa yang dapat mengalahkan gadis itu, maka ialah yang akan menjadi suaminya”

“Ah” itu berbahaya sekali” jawab Ki Watu Kedeng dengan serta merta.

“Maksudku, hanya diantara keduanya. Marwantaka dan. Wiranata” jawab Mahisa Bungalan, “aku pernah mengukur kemampuan Marwantaka. Ia, tidak terlalu berbahaya meskipun ia keras kepala”

“Namun nampaknya. Ki Watu Kendeng masih belum dapat mengerti maksud yang sebenarnya dari Mahisa Bungalan. Sehingga karena itu maka Mahisa Bungalan pun berkata“ Ki Watu Kendeng. Aku pernah menjajagi kemampuan Marwantaka. Aku mencoba untuk menundukkannya tanpa menyakitinya saat itu. Aku berusaha memeras tenaganya sehingga ia kelelahan. Tetapi ia memang teras kepala. Namun demikian, aku kira Ken Padmi akan dapat mengimbangi kemampuannya. Apalagi jika Wiranata itu tidak lebih baik dari Marwantaka”

Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Tetapi itu mengandung kemungkinan yang sangat berbahaya ngger. Jika Ken Padmi kalah?”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia bertanya, “Baiklah Ki Watu Kendeng berusaha mencari keterangan, apakah selama ini Marwantaka meningkatkan ilmunya. Jika tidak ada usaha itu, maka aku yakin, Ken Padmi akan dapat menang. Tetapi masih, ada satu syarat, sayembara tanding itu di selenggarakan barang satu bulan lagi”

“Satu bulan lagi? Jika terjadi sesuatu sebelum satu bulan? Satu bulan adalah waktu yang lama bagi Marwantaka dan Wiranata” jawab Ki Watu Kendeng.

Mahisa Agni dan Witantra yang juga kurang mengetahui maksud Mahisa Bungalan hanya dapat mendengarkannya saja. Sementara Mahisa Bungalan meneruskan, “Mereka akan menunggu, asal ada kepastian waktu. Satu bulan lagi, akan diadakan sayembara tanding, khusus bagi Marwantaka dan Wiranata. Siapa yang dapat mengalahkan Ken Padmi, akan dapat di terima menjadi suaminya. Tetapi sudah barang tentu, hal itu tidak perlu diberitahukan kepada keduanya, kecuali kepastian waktunya saja”

“Aku kurang mengerti” desis Ki Watu Kendeng.

“Jika keduanya mengetahui bahwa akan diadakan sayembara tanding, maka keduanya pun akan meningkatkan ilmunya” berkata Mahisa Bungalan, “yang diberitahukan kepadanya, adalah, bahwa satu bulan lagi, Ken Padmi akan menentukan sikapnya terhadap keduanya”

Ki Watu Kendeng termangu-mangu. Namun kemudian-ia. berkata, “Aku akan pergi kepadepokan Kenanga Aku akan menyampaikannya kepada Ki Selabajra. Jika ia sependapat, dan kemudian kedua anak muda itu dapat bersabar menunggu, mungkin hal itu akan dapat ditrapkan. Tetapi sudah tentu bahwa akan timbul kecurigaan, mungkin kedua anak muda itu menganggap, bahwa selama satu bulan itu, Ki Selabajra akan mencari perlindungan kepada pihak yang lain”

“Ki Watu Kencleng dapat mencobanya” sahut Mahisa Bungalan aku kira, kedua pamanku tidak akan berkeberatan untuk ikut bersama Ki Watu Kendeng kepadepokan Kenanga, sementara aku akan menjaga padepokan Watu Kendeng”

“Rencanamu rumit Mahisa Bungalan” desis Mahisa Agni.

“Tidak paman. Rencanaku sederhana sekali“ jawab Mahisa Bungalan, “tegasnya, Ki Selabajra minta waktu berpikir sebulan lagi agar Ken Padmi dapat menentukan pilihan. Kemudian setelah satu bulan diumumkan sayembara tanding. Dan kenapa aku mohon paman berdua untuk pergi ke padepokan Kenanga tanpa aku? paman berdua seolah-olah tidak mengenal aku sebelumnya. Dan paman berdua akan membentuk gadis itu, agar gadis itu benar-benar tidak akan dapat dikalahkan oleh Marwantaka maupun Wiranata. Satu bulan adalah waktu yang sangat sempit. Tetapi ia sudah memiliki dasar, sehingga aku yakin ia akan dapat mangatasi keduanya. Dan selama itu, maka biarlah, tidak seorang pun yang memberitahukan bahwa aku berada disini”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, sementara Witantra mengangguk-angguk sambil berguman, “Aku mengerti maksudmu Mahisa Bungalan. Namun yang harus kami lakukan berdua adalah satu tugas yang berat. Jika pada saatnya Ken Padmi tidak dapat mengalahkan keduanya, atau karena sesuatu hal ia telah dengan sengaja mengalah kepada salah seorang dari keduanya, karena ia memang berniat demikian, maka kau tentu akan menyalahkan kami”

“Tidak, tentu tidak” jawab Mahisa Bungalan dengan serta merta, “aku yakin paman aku dapat membentuknya menjadi seorang gadis yang pilih tanding. Tetapi jika ia memang sengaja mengalah, itu adalah persoalannya. Aku tidak akan mempedulikannya lagi, apa yang akan terjadi dengan gadis itu dan dengan seisi padepokan Kenanga”

Namun Witantra dan Mahisa Agni justru tersenyum. Dengan nada datar Mahisa Agni berkata, “Jangan cepat marah anak muda. Segala usaha akan kami lakukan”

Mahisa Bungalan memandang pamannya sekilas. Namun Kemudian ia menundukkan kepalanya. Rasa-rasanya wajahnya menjadi panas. Ia sudah terlanjur disengat oleh perasaannya, sehingga pamannya tentu dapat membaca apa yang sebenarnya bergejolak di dalam hatinya.

Bahkan kemudian ternyata Ki Watu Kendeng yang akhirnya dapat mengerti juga persoalannya, telah tertawa pula, meskipun ia tidak mengatakan sesuatu. Ia takut, jika yang dikatakannya justru akan menyinggung perasaan, anak muda itu.

Demikianlah, maka mereka pun memutuskan untuk segera berbuat sesuatu seperti yang di direncanakan oleh Mahisa Bungalan. Bahkan mereka tidak akan memperpanjang waktu. Di keesokan harinya, Ki Watu Kendeng akan pergi ke padepokan Kenanga bersama Mahisa Agni dan Witantra, yang mengemban tugas yang cukup berat.

Dalam pada itu, Ki Watu Kendeng pun telah mangatur padepokannya menjelang keberangkatannya. Diserahkannya segalanya kepada Mahisa Bungalan. Ki Watu Kendeng. Ia tahu benar, bahwa Mahisa Bungalan adalah seseorang yang memiliki kemampuan yang tinggi, melampaui kemampuannya.

Pada saatnya, maka Ki Watu Kendeng bersama Mahisa Agni dan Witantra telah pergi ke padepokan Kenanga. Mereka ingin mencoba memenuhi permintaan Mahisa Bungalan, kecuali jika kedua anak muda itu tidak sabar lagi dan mengambil sikap tersendiri.

Namun ternyata perjalanan mereka terganggu Ketika mereka mendekati padepokan Kenanga, maka beberapa orang berkuda telah mencegat mereka.

“Ki Watu Kendeng” berkata salah seorang dari mereka, “apakah Ki Watu Kendeng akan pergi ke padepokan Kenanga?”

Ki Watu Kendeng mengerutkan keningnya Ia mencoba mengenali orang itu. Tetapi rasa-rasanya ia memang belum mengenalnya meskipun agaknya orang itu mengenalnya dengan baik.

Namun dalam pada itu, Ki Watu Kendeng itu pun menjawab ”Ya Ki Sanak. Aku memang akan pergi ke padepokaan Kenanga”

“Untuk apa?“ bertanya orang itu, “apakah Ki Watu Kendeng akan melibatkan diri ke dalam persoalan yang kini sedang kemelut di padepokan Kenanga itu?“

Ki Watu Kendeng menggeleng. Jawabnya, “Aku hanya bertiga. Tentu aku dan kedua orang cantrik tua ini tidak akan dapat berbuat apa-apa. Yang ingin aku lakukan hanya sekedar memberikan sedikit pertimbangan jika diperlukan oleh Ki Selabajra. Kami adalah dua orang sahabat yang baik. Karena itu, ketika, aku mendengar, bahwa padepokan Kenanga sedang mengalami kebingungan, aku memerlukan untuk sekedar menengoknya”

Orang-orang berkuda itu memandang Mahisa Agni dan Witantra yang disebutnya sebagai dua orang cantrik tua. Karena keduanya tidak berbuat apa-apa maka mereka fidak memperhatikannya lagi.

Namun sementara itu, Ki Watu Kendeng sempat bertanya, “Tetapi siapakah Ki Sanak ini?“

“Kami adalah kawan-kawan Marwantaka” jawab orang itu, “kami merasa wajib untuk berbuat sebagai seorang kawan yang baik dalam persoalannya menghadapi anak gila yang menganggap bahwa ia, dengan kekayaannya akan dapat membeli segalanya yang diinginkannya. Termasuk gadis yang sudah mengikat janji dengan Marwantaka itu. Tetapi kami ingin membuktikan, bahwa kesetia-kawanan kami nilainya lebih tinggi dari uang yang betapapun banyaknya yang telah dikeluarkan oleh Wiranata untuk mengupah penjahat-penjahat kecil yang tidak berarti ana-apa itu”

Ki Watu Kendeng hanya dapat mengangguk-angguk saja. Namun kemudian ia pun segera minta diri untuk melanjutkan perjalanannya. Katanya, “Sebagaimana yang aku katakan, aku hanya akan berusaha untuk meringankan beban perasaannya”

“Katakan kepadanya” berkata orang itu, “jika dengan cepat ia menentukan sikap, segalanya akan selesai, Marwantaka akan sanggup melindungi anak gadisnya, karena kami sudah berjanji dalam kesetia-kawanan kami terhadapnya. Bahkan kami telah bersedia untuk melakukan apa saja sampai batas hidup kami”

Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah. Aku dapat menyampaikannya. Tetapi segala keputusan terakhir ada padanya”

Ki Watu Kendeng, Mahisa Agni dan Witantra segera melanjutkan perjalanan menuju ke padepokan Kenanga.

Kedatangan mereka ke padepokan itu, ternyata telah dlsambut dengan kegembiraan. Bahkan rasa-rasanya seisi padepokan telah mendapat angin yang segar setelah untuk beberapa lamanya mereka tercekik dalam kegelisahan.

“Marilah, silahkah” berkata Ki Selabajra dengan gegap oleh getar perasaannya.

Demikianlah maka kedatangan Ki Watu Kendeng telah membawa udara baru di padepokan itu. Ken Padmi yang kemudian menyuguhkan hidangan nampak agak pucat dan kurus. Namun sekilas Mahisa Agni dan Witantra melihat gadis itu. mereka pun berkata di dalam hatinya, “Tidak mustahil bahwa Mahisa Bungalan telah tertarik kepadanya. Gadis itu memang cantik sekali. Seperti yang dikatakan oleh Ki Watu Kendeng, ibarat bunga, maka bunga itu sedang mekar. Dan agaknya justru telah membakar udara di sekitarnya”

Untuk beberapa saat lamanya mereka saling berbicara tentang keselamatan mereka. Sebagaimana pesan Mahisa Bungalan, maka Ki Watu Kendeng tidak memperkenalkan kedua orang yang menyertainya itu sebagai paman Mahisa Bungalan. Tetapi mereka adalah cantrik-cantrik tertua di padepokan Watu Kendeng.

Namun ketika pembicaraan mereka sampai kepada masalah terpenting bagi padepokan Kenanga, maka Ki Watu Kendeng pun minta waktu untuk dapat berbicara khusus dengan Ki Selabajra.

“Tidak perlu sekarang” desis Ki Watu Kendeng, “mungkin nanti sore atau malam hari”

Demikianlah, ketika tiba saatnya, maka Ki Watu Kendeng pun telah berbicara langsung khusus dengan Ki Selabajra di ruang dalam menjelang tehgah malam. Di saat padepokan itu telah tertidur nyenyak, “Ki Watu Kendeng telah menyampaikan rencana yang dibuat oleh Mahisa Bungalan. Tetapi ternyata bahwa atas persetujuan Mahisa Agni dan Witantra, Ki Watu Kendeng telah merubah sedikit pesan Mahisa Bungalan. Kepada Ki Selabajra Ki Watu Kendeng mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Ia tidak merahasiakan bahwa Mahisa Bungalan, sudah berada di padepokan Watu Kendeng, sementara kedua orang yang menyertainya itu adalah pamannya. Namun Ki Watu Kendeng mohon agar Ken Padmi tidak mengetahui akan hal itu, agar gadis itu tidak dengan tergesa-gesa mengambil sikap, justru karena harga dirinya.

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada dalam, “Terima kasih. Nampaknya pada saat yang paling gelap, aku telah mendapatkan sepercik, sinar yang dapat menuntun aku mencari jalan keluar”

Ternyata Ki Selabajra sama sekali tidak berkeberatan dengan usul Mahisa Bungalan itu. Meskipun ia belum yakin apakah kedua orang anak muda itu bersedia menunggu keputusan Ken Padmi yang masih akan diberikan sebulan lagi.

“Tetapi jika aku memberikan batasan waktu, aku kira mereka akan menunggu” berkata Ki Selabajra., “selama ini mereka condong untuk mengambil sikap sendiri-sendiri, karena masih belum ada kepastian apapun juga yang dapat aku berikan kepada mereka”

“Kecuali jika mereka menolak” berkata Ki Watu. Kendeng.

“Itu soal lain berkata Ki Selabajra, “jika demikian, kita tentu akan mempertahankan apa saja”

“Kita wajib mencobanya“ berkata Mahisa Agni.

“Besok aku akan menghubungi keduanya setelah aku mendapat kepastian kesanggupan Ken Padmi” berkata Ki Selabajra.

Demikianlah. Maka pagi-pagi benar, Ki Selabajra sudah memanggil Ken Padmi untuk berbicara langsung dengan Ki Watu kendeng. Mahisa Agni dan Witantra yang hadir juga, telah disebut oleh Ki Watu Kendeng sebagai cantriknya yang tertua.

“Ken Padmi“ berkata Ki Watu Kendeng, “kau bagiku sudah tidak ubahnya seperti anakku sendiri. Aku memang pernah termimpi, bahwa kau akan menjadi anakku. Namun aku mohon, bahwa kau pun tidak berkeberatan “jika aku tetap menganggapmu sebagai anak sendiri” Ki Watu Kendeng berhenti sejenak, sementara Ken Padmi bagaimana dihadapkan kepada satu teka-teki. Kemudian Ki Watu Kendeng melanjutkannya, “Karena itu, kegelisahan yang sekarang ini sedang menyelimuti padepokan Kenanga adalah sama dengan kegelisahanku sendiri. Karena itu, maka jika kau tidak berkeberatan Ken Padmi, aku ingin memberikan beberapa pendapat, mudah-mudahan akan dapat membantu menjernihkan keadaan”

Ken Padmi hanya menundukkan wajahnya saja.

Ki Watu Kendeng pun kemudian menyampaikan rencana yang dipesankan oleh Mahisa Bungalan, agar dalam waktu satu bulan lagi ia bersedia menyelenggarakan sayembara tanding.

Ken Padmi mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya wajah ayahnya. Rasa-rasanya ada sesuatu yang ingin dikatakannya, namun ia tidak dapat mengucapkannya.

“Ken Padmi” berkata Ki Selabajra, “apakah kau berkeberatan? Apakah kau memang sudah memilih salah seorang di antara keduanya? Atau satu keputusan yang lain”

“Tidak ayah“ jawabnya dengan serta merta, “aku tidak dapat menerima keduanya. Karena itu, apakah kau. dapat meyakini diriku sendiri, bahwa aku akan dapat mengalahkan keduanya?”

Ki Watu Kendeng pun menjelaskan, kenapa Ken Padmi memerlukan waktu satu bulan lagi. Sementara itu ia akan dapat mematangkan ilmunya, sedangkan kedua anak muda itu tidak mengetahui rencana itu, sehingga mereka tidak mempersiapkan diri mereka.

“Tetapi mereka sudah memiliki ilmu Itu” jawab Ken Padmi

“Ilmunya sekarang tidak lebih baik dari ilmu yang kau miliki” jawab Ki Watu Kendeng, “bukankah selama ini, kau mengisi waktumu untuk melupakan kegelisahanmu dengan menempa diri di dalam sanggar”

“Tetapi apakah itu dapat dijadikan pegangan, bahwa aku akan dapat melawan Keduanya?“ bertanya Ken Padmi ragu-ragu.

“Ken Padmi” berkata Ki Watu Kendeng ”aku memang ingin membantumu. Aku telah mengajak kedua orang cantrikku yang tertua. Mereka akan dapat membantumu dalam sebulan ini, sehingga kau akan dapat meyakinkan, dirimu”

Ken Padmi mengerutkan keningnya Dipandanginya kedua orang tua itu berganti-ganti. Mereka hanyalah seorang cantrik. Apa artinya bagi perkembangan ilmunya?. Sedangkan Ken Padmi tahu, bahwa Ki Watu Kendeng adalah seorang yang tidak lebih baik dari ayahnya sendiri. Ki Selabajra.

Namun untuk menanyakannya, ia segan bahwa hal itu akan dapat menyinggung perasaan kedua orang cantrik itu.

Tetapi sementara ia termangu-mangu, maka Ki Selabajra lah yang berbicara, “Cobalah Ken Padmi. Cobalah barang satu dua hari. Baru kemudian kau memutuskannya”

Ken Padmi menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Baiklah ayah. Aku akan mencoba satu dua hari. Baru kemudian aku akan memberikan jawaban”

Demikian, maka untuk satu dua hari Ki Watu Kendeng akan berada di padepokan Kenanga, sementara Mahisa Agni dan Witantra akan berusaha untuk meningkatkan ilmu gadis yang sedang dibayangi oleh kegelisahan itu. Sehingga tubuhnya menjadi kian kurus dan wajahnya kian menjadi pucat.

Di hari pertama Ken Padmi berada di sanggar bersama-dengan Mahisa Agni dan Witantra, ia telah dikejutkan melihat kemampuan kedua, orang itu. Dengan sengaja Mahisa Agni dan Witantra menunjukkan sesuatu yang dapat mengejutkan gadis itu, agar ia percaya bahwa kedua orang itu akan dapat membentuknya menjadi seorang gadis yang akan mampu menghadapi kedua orang anak muda yang membuatnya selalu gelisah dan cemas.

Meskipun yang ditunjukkan oleh Mahisa Agni dan Witantra itu hanya sebagian kecil saja dari seluruh kemampuannnya, namun jantung Ken Padmi telah benar-benar tergetar.

Karena itulah, maka ia pun telah bertekad untuk melakukan rencana seperti yang disampaikan oleh Ki Watu Kendeng. Ia akan menempa diri dalam waktu sebulan, kemudian menantang kedua ajak muda itu dalam sayembara tanding.

Sejak hari yang pertama, maka Ken Padmi telah menenggelamkan diri ke dalam latihan-latihan yang lebih berat. Ketika di hari ketiga Mahisa Agni dan Witantra mengantar Ki Watu Kendeng kembali ke padepokannya, rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu.

Tetapi Mahisa Agni dan Witantra telah berjanji kembali, ke padepokan Kenanga meskipun sampai jauh malam. Mereka tidak sampai hati melepaskan Ki Watu Kendeng kembali seorang sendiri. Segala kemungkinan dapat terjadi disepanjang jalan.

Namun ternyata bahwa mereka tidak mengalami sesuatu di perjalanan. Pada saat mereka kembali ki Watu Kendeng, dan pada saat Mahisa Agni dan Witantra kembali lagi ke Padepokan Kenanga.

Sementara itu, Ken Padmi sama sekali tidak membuang waktunya sama sekali. Demikian kedua orang cantrik tua itu datang, maka ia pun telah siap beralih di sanggarnya.

“Marilah paman” ajak Ken Padmi, “waktuku sudah terbuang sehari penuh selama paman berdua mengantar paman Watu Kendeng”

Mahisa Agni tersenyum ketika Ki Selabajra menyahut, “Biarlah kedua pamanmu itu beristirahat. Kau masih mempunyai banyak waktu”

Ken Padmi masih akan membantah, tetapi ayahnya berkata, “Kedua pamanmu akan makan lebih dahulu. Kemudian beristirahat sebentar. Baru, kau akan mulai dengan latihan-latihanmu”

Demikianlah setelah beristirahat sebentar setelah makan, maka Mahisa Agni dan Witantra telah mengajak Ken Padmi masuk ke dalam sanggar.

Ki Selabajra yang ingin melihat kemajuan anak gadisnya itu pun lelah mengikutinya pula.

Tetapi nampaknya Mahisa Agni mulai dengan cara yang agak berbeda dari cara yang sudah dilakukannya sejak tiga hari yang lalu. Ketika Ken Padmi sudah siap, maka Mahisa Agni pun berkata, “Ken Padmi. Untuk berlatih kanuragan, kita sebenarnya tidak harus selalu memeras tenaga, Kita dapat berlatih dengan cara yang sedikit berbeda. Kali ini kita akan mulai dengan latihan ketrampilan dan kecepatan bergerak”

Ken Padmi mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti maksud Mahisa Agni yang kemudian berkata kepada Ki Selabajra, “Apakah ada sebuah amben bambu yang dapat kami pinjam?”

“Untuk apa?“ bertanya Ki Selabajra.

“Untuk Ken Padmi” jawab Mahisa Agni.

“O” Selabaira pun mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menyuruh dua orang cantrik untuk membawa sebuah amben bambu ke dalam sanggar, tanpa mengetahui gunanya sama sekali.

Malam itu. Ken Padmi berlatih di atas sebuah amben bambu. Mula-mula ia ragu-ragu. Dengan hati-hati ia berdiri di atas amben itu. Kemudian dengan hati-hati pula ia mulai bergerak. Ketika amben itu berderit maka Ken Padmi manghentikan geraknya.

Ternyata latihan yang dilakukan itu membuatnya lebih cepat letih meskipun ia bergerak jauh lebih lamban dari letihan-latihan sebelumnya. Dengan tuntunan Mahisa Agni dan Witantra, Ken Padmi mulai berusaha untuk mengatur langkah dan tata geraknya, sehingga seolah-olah ia menjadi lebih ringan karenanya.

Dalam pada itu, sepeninggal Ki Watu Kendeng, maka Ki Selabajra benar-benar telah mengubungi kedua anak muda yang ingin mengambil Ken Padmi. Dengan hati-hati, ia mencoba menjelaskan permintaan Ken Padmi untuk menunggu sampai sebulan lagi.

Ketika ia berada di padepokan anak muda yang bernama Marwantaka, maka Ki Selabajra hampir saja tidak dapat menguasai diri. Di Padepokan itu ternyata terdapat beberapa orang bukan saja anak-anak muda dari padepokan-padepokan lain, tetapi juga orang-orang tua yang merasa memiliki ilmu yang cukup.

“Jangan mempermainkan aku” geram Marwantaka apakah Ki Selabajra masih bermimpi untuk mendapat menantu anak gila yang merasa dirinya mempunyai ketrampilan yang tiada terlawan itu?”

“Jangan begitu ngger” jawab Ki Selabajra, “marilah kita berbicara menurut keadaan yang kita hadapi sekarang”

Apakah dalam waktu sebulan ini Ki Watu Kendeng berniat untuk pergi ke padepokan Ki Kasang Jati?“ bertanya anak muda itu.

“Tidak. Aku tidak akan pergi kemana-mana” jawab Ki Watu Kendeng, “aku ingin menunggui anak gadisku. Mudah-mudahan dalam waktu satu bulan ini, keheningan budinya dapat menuntunnya kepada pilihan yang benar”

”Sebenarnya tidak ada gunanya” jawab Marwantaka, aku tidak ingin menunggu Ken Padmi memilih agar aku tidak perlu berbuat sesuatu dengan kasar”“

“Jadi maksudmu?“ bertanya Ki Selabajra.

“Tidak ada pilihan lain” jawab Marwantaka.

“Ketahuilah” berkata Ki Selabajra, “Wiranata juga bersikap seperti itu”

Aku tidak peduli. Tetapi jika Ki Selabajra merasa tidak mampu melawannya, serahkan kepadaku. Jika Ken Padmi telah berada ditanganku. maka aku akan sanggup melindunginya”

Jantungnya Ki Selabajra rasa-rasanya berdetak semakin cepat. Tetapi ia masih menahan dirinya, katanya, “Sudahlah. Aku hanya akan menyampaikan pesan itu saja. Ken Padmi berharap kau menunggu satu bulan saja. Ia akan memberikan kepastian”

“Jika aku kemudian menunggu, semata-mata karena aku menghormatinya. Tetapi aku tidak akan mengorbankan kepentingan” berkata Marwantaka.

Betapa jantung Ki Selabajra bergejolak, tetapi ia harus menelan kepahitan itu, karena ia yakin, bahwa rencana anaknya dengan satu bulan lagi akan segera terjadi.

Dalam pada itu, Wiranata hampir bersikap serupa. Tetapi nampaknya anak muda ini lebih yakin akan berhasil.

Sementara itu, Ken Padmi dengan gelisah menunggu Mahisa Agni dan Witantra yang rasa-rasanya telah meninggalkannya hampir satu bulan. Dicobanya untuk mengisi waktunya dengan berlatih sendiri, tetapi ia pun segera. menjadi jemu oleh kegelisahan.

Dalam pada itu, semakin lama Ken Padmi menjadi semakin mapan, ia mulai merasa, bahwa loncatan-loncatannya menjadi semakin cepat sementara tubuhnya rasa-rasanya menjadi semakin ringan.

“Jangan ragu-ragu” desis Witantra, “gerak kakimu bertumpu pada pergelangan kaki dan lutut. Amben itu sudah tidak berderik lagi”

Ken Padmi menjadi semakin mantap. Karena itu maka ia pun bergerak semakin cepat.

Ia mempergunakan beberapa malam untuk melakukan latihan-latihan yang demikian. Disiang hari ia berlatih dengan cara yang lain. Mahisa Agni dan Witantra memberikan tuntunan untuk memperkaya unsur gerak yang dimilikinya tanpa merusak pegangannya atas ilmu dasarnya. Ilmu yang dipelajarinya dari ayahnya sendiri.

Setelah mengamati beberapa saat, kemampuan dasar Ken Padmi, maka Mahisa Agni dan Witantra telah berusaha mengembangkannya, sehingga gadis itu menjadi semakin kaya akan unsur-unsur garak dan tanggapan atas sikap lawan. Disamping kecepatan geraknya yang menjadi semakin meningkat karena dengan latihan-latihan yang. berat, maka tubuhnya rasa-rasanya memang menjadi semakin ringan apabila ia sudah mulai berloncatan.

Di pekan berikutnya, ternyata Mahisa Agni dan Witantra telah mempergunakan cara yang berbeda pula. Di dalam sanggar itu telah ditanam beberapa batang tonggak bambu petung yang dipotong tepat pada ruas-ruasnya setinggi tubuh Ken Padmi sendiri.

Ken Padmi sudah menduga, apa yang harus dilakukannya kemudian. Dengan dasar kemampuan yang ada, maka ia haras berlatih di atas tonggak-tonggak bambu itu. Seperti saat-saat ia latihan untuk pertama kali di atas amben, maka geraknya pun menjadi sangat lamban. Tetapi semakin lama langkahnya pun menjadi semakin mantap.

Setelah tiga hari ia melakukannya, maka pada hari berikutnya, ia harus berlatih bertempur melawan Mahisa Agni. Kemudian melawan dua orang sekaligus.

Latihan-latihan yang berat dan tidak mengenal letih, itu benar-benar telah menempa Ken Padmi menjadi seorang gadis yang memiliki ilmu yang semakin matang. Dengan dasar ilmu yang ada padanya, maka kemampuannya telah berkembang sangat pesat. Karena waktu yang sempit, maka Mahisa Agni dan Witantra tidak menitik beratkan latihan-latihan Ken Padmi pada peningkatan kekuatannya, tetapi pada kecepatan gerak dan ketrampilan, serta kekayaan unsur-unsur gerak. Kecerdasan gadis itu ternyata sangat membantu. Sehingga dalam latihan-latihannya kemudian, Ken Padmi telah berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan dari serangan yang tiba-tiba dan tidak terduga-duga.

Pada pekan ketiga, maka Ken Padmi tenggelam dalam latihan-latihan yang semakin berat, la harus berlatih dalam perkelahian yang seolah-olah bersungguh-sungguh.

Bahkan pada saat-saat terakhir ia harus bertempur melawan Mahisa Agni dan Witantra sekaligus.

Latihan-latihan yang demikian memberi kesempatan kepada Ken Padmi untuk menyesuaikan ilmunya dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapinya jika benar-benar harus berkelahi melawan kedua orang anak muda yang ingin mengambilnya itu. Bahkan Mahisa Agni dan Witantra telah mengembangkan pula kemampuan. Ken Padmi mempergunakan tenaga cadangannya, sehingga meskipun tidak secara khusus, karena kesempitan waktu, Mahisa Agni dan Witantra telah berhasil meningkatkan kemampuan gadis itu membangunkan tenaga cadangannya yang dengan sendirinya seolah-olah kekuatan Ken Padmi pun menjadi semakin berkembang pula.

Untuk melatih daya tahan gadis itu, maka pada saat-saat tertentu, baik Mahisa Agni maupun Witantra telah benar-benar menyentuh tubuh gadis itu dalam serangan-serangan yang cepat dan tidak terelakkan. Meskipun sekali-sekali Ken Padmi harus menyeringai menahan sakit, namun ia sadar sepenuhnya, bahwa di dalam perkelahian yang sesungguhnya ia pun akan mungkin sekali dikenai oleh lawannya.

Demikianlah, kemampuan Ken Padmi telah benar-benar berkembang. Ki Selabajra merasa, bahwa cara yang telah dipergunakan telah jauh ketinggalan dari cara-cara yang dipergunakan oleh Mahisa Agni dan Witantra, yang hanya dalam waktu yang singkat telah mampu meningkatkan ilmu anak gadisnya berlipat panda.

Ken Padmi menjadi semakin kaya akan unsur-unsur gerak. Ia pun menjadi lebih cepat menanggapi keadaan. Nalurinya pun menjadi bertambah tajam. Dan kekuatannya pun seakan-akan menjadi berlipat karena kesanggupannya mempergunakan tenaga cadangannya. Sementara daya tahannya pun menjadi semakin kuat.

Pada pekan terakhir, rasa-rasanya Ken Padmi sudah menjadi seorang yang lain dari saat-saat ia mulai berlatih di bawah bimbingan kedua orang yang disebutnya sebagai cantrik-cantrik tua itu. Atas persetujuan Ki Selabajra, maka di saat-saat padepokan itu telah menjadi sepi, maka Ken Padmi berlatih di halaman belakang padepokannya. Sanggar itu rasa-rasanya menjadi sempit Sehingga ia memerlukan tempat yang lain.

Mahisa Agni dan Witantra. sengaja menuntun Ken Padmi di arena yang luas. Dengan demikian, maka Ken Padmi akan dengan mudah ditunjukkan, bagaimana ia harus mengembalikan tenaga dan pernafasannya. Karena arena yang luas akan lebih banyak memerlukan tenaga dan kekuatannya.

“Meskipun tidak akan dipergunakan” berkata Mahisa Agni pada suatu malam, “ada baiknya kau berlatih mempergunakan senjata pada sebagian waktumu”

Sudah barang tentu Ken Padmi tidak menolak. Ia pun sudah mempunyai dasar ilmu pedang dan jenis-jenis senjata yang lain, sehingga Mahisa Agni dan Witantra pun tinggal mengembangkannya.

Menjelang akhir dari pekan keempat, Mahisa Agni dan Witantra masih sempat menyempurnakan semua yang pernah diberikan kepada Ken Padmi. Kecepatan dan ketrampilan bergerak, mengenali kembali sifat dan watak unsur-unsur gerak, mengembangkan tenaga cadangan dan ketahanan tubuhnya. Juga ketrampilan mempergunakan senjata dan kemampuan menanggapi keadaan serta mengambil keputusan yang cepat dan tepat dalam keadaan yang tidak terduga.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...