Senin, 15 Februari 2021

AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 9

09


Hujan dan Roti Bagel



Hujan mengguyur Stoneyhill Grove. Hujan itu tipis, namun lebih tebal dari gerimis. Tidak seperti hujan yang mengguyur Indonesia yang sangat deras dengan kilat dan halilintar yang menyambar-nyambar. 

Namun hujan itu cukup membuat seseorang basar kuyup dan kedinginan jika tidak membawa payung. 

Jika itu terjadi di puncak musim hujan itu menjadi salju yang turun bagai kapas beterbangan dan memulihkan alam.

Setelah Heba pulang, Fahri menuntaskan satu pekerjaannya di kamar kerja. Yaitu membaca proposal tesis mahasiswa tingkat master dari Cina. Ia merasa sangat mampu untuk menjadi pembimbing mahasiswa itu. Setelah itu, ia membuka inbox emailnya. Hampir setiap hari ia mengirim email ke alamat email Aisha. 

Meskipun satu baris atau dua baris ia kirim kabar kepada Aisha. Ia tetap menyimpan harapan Aisha masih hidup. Dan ia berharap jika Aisha bisa membuka emailnya, ia akan 
tahu bahwa ia sangat mencintai dan merindukannya.

“Aisha bidadariku
di manapun kau berada,
semoga Allah melindungimu.
Amin.

Assalamu‟laikum,
Aishaku, ini kukirim dari rumah kita di Stoneyhill Grove, Musselburgh. Aku baru saja membaca proposal thesis mahasiswa dari Cina. Ia hendak mengkaji gaya bahasa Arab yang ditulis Syaikh Ihsan Jampes. Seorang ulama dari Indonesia. Aku telah membacanya dengan teliti, dan kurasa aku akan mampu membimbingnya. Bagaimana menurutmu, sayang? Apakah aku terima saja permintaan Prof Stevens agar aku jadi supervisor mahasiswa itu, atau bagaimana? Tampaknya aku akan menerima permintaan itu.

Segeralah pulang. Aku khawatir, aku keburu mati dalam cekaman kerinduan kepadamu.
Wassalam,

Suamimu yang belum baik,
Fahri Abdullah


Ketika hujan mengguyur Stoneyhill Grove.
Selalu ada kepuasaan yang tidak bisa diungkapkan setiap kali ia selesai menulis surat kepada Aisha. Ia membayangkan Aisha membacanya, di sebuah tempat disebuah rumah di Palestina, bersama keluarga 
Palestina yang baik. Mungkin di Gaza. Aisha harus tinggal disana karena harus menolong mereka. 

Dan Aisha membacanya dengan wajah berbinar-binar. Hanya saja Aisha bisa membaca emailnya tapi tidak bisa membalasnya, entah karena apa. Ia puas namun air matanya meleleh.

Fahri melihat ke jendela. Ia melihat halaman rumahnya yang basah. Rerumputan yang basah. Pohon Mapel yang basah. Dan seluruh kawasan Stoneyhill yang basah. Fahri tersenyum ketika melihat dua ekor burung gereja berkejaran dan hinggap di atap rumah Brenda. Burung itu mengingatkan masa kecilnya ketika hujan-hujanan bersama teman-temannya di halaman Masjid. 

Fahri mengamati sepasang burung 
itu dengan saksama.

 "Hai ini belum musim semi, kenapa kalian tidak sabar sedikit?" kata Fahri dalam hati. 

la jadi teringat dirinya sendiri. Kalau Aisha ada disisinya ia juga sering tidak sabar untuk 
mengajaknya beribadah dalam selimut sakinah, mawaddah war rahmah.

Di ujung jalan masuk kompleks Stoneyhill Grove, Fahri melihat seorang anak remaja berjalan dengan santai menembus hujan. Tanpa payung. Memakai jaket yang berpenutup kepala, tampaknya waterprof. 
Anak itu adalah Jason, tetangga samping rumahnya. Di jalan depan rumah Fahri, Jason sempat memandang jendela kamar Fahri. Jason berjalan pelan sambil menatap Fahri. 

Dengan dingin anak remaja itu kembali memberi isyarat kepada Fahri: Fuck You!
Fahri membalas isyarat itu dengan senyum, meskipun dalam hati ia beristighiar. Ia merasa harus mempercepat untuk mengambil tindakan mendidik anak remaja itu, agar menjadi pribadi yang lebih sopan dan beradab.

"Hoca, sepuluh menit lagi adzan Zhuhur. Mau shalat di Masjid atau di rumah saja?" Paman Hulusi berdiri didekat tangga.

"Hujan, paman, kita boleh shalat jamaah di rumah. Siapkan saja sajadahnya di ruang tamu."

"Baik Hoca."

Fahri lalu bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Waktu sepuluh menit ia gunakan untuk membaca Al-Qur'an. Ketika waktu Zhuhur sudah masuk, ia shalat dua rakaat lalu turun kebawah. Dan shalat berjamaah bersama Paman Hulusi dan Misbah.

"Mas, Profesor Adeib supervisor kirim SMS. Dia memberikan waktu untuk ketemu sore di officenya di Heriot-Watt University. Tapi kondisi sedang hujan begini. Bagaimana ya, mas?"

Fahri tersenyum mendengar cara Misbah minta tolong kepadanya. Masih khas cara orang Jawa. la tidak langsung bilang, bisakah aku diantar ke Heriot-Watt University? Sejak di Kairo dulu, cara dia minta tolong juga begitu. Ia mengajukan satu permasalahan yang solusinya ada ditangan Fahri, atau Fahri bisa 
pecahkan permasalahan itu.

Begitu juga kali ini, solusi itu paling mudah ada di tangan Fahri. Yaitu Fahri punya mobil untuk 
mengantarkannya ke Heriot-Watt University. Hujan bukan masalah jika pergi kesana dengan mobil. Yang mengantar bisa langsung Fahri atau Paman Hulusi. Kalau ia sendiri harus datang kesana agak repot. Pertama, belum tahu rutenya bagaimana? Naik bus apa? Bisa jadi kehujanan jika menunggu di halte yang agak minim atapnya. Atau ia bisa naik taksi, memanggil taksi, pasti itu menurutnya sebagai 
mahasiswa yang nyaris sudah tidak punya apa-apa lagi, sangatlah mahal. Itu bukan solusi yang diharapkan.

"Kok hanya tersenyum, mas?"

"Aku senang, caramu berbahasa itu tidak berubah."

"Ah, Mas Fahri bisa saja."

Tiba-tiba Paman Hulusi menyela,

"Tolong kalau kalian berbicara, pakailah bahasa lnggris agar aku mengerti. Atau bahasa Turki. Atau bahasa Jerman. Tiga bahasa itu aku mengerti. Jangan bahasa yang lain, jadi patung aku disini!"

Tentu Paman Hulusi menyela dengan bahasa Inggris.Fahri tersenyum, 

"Baik, paman. Maafkan kami. Ini terlalu senangnya bertemu kawan lama, jadi pakai 
bahasa Indonesia. Sampai lupa kalau ada paman."

"Hoca, kita mau makan siang apa? Mau saya masakkan apa?"

"Kita keluar saja, paman. Sekalian mengantar Misbah menemui profesornya di Heriot-Watt University."

"Baik, Hoca."

"Matur nuwun, mas."

"Bahasa apalagi itu?" gumam Paman Hulusi.

Fahri dan Misbah tertawa. 

"ltu artinya tesekkur, paman."

"Ok"

"Kita siap-siap dan langsung berangkat, paman."

"Baik, Hoca."

"Bah, itu garapan tesismu yang akan kau setor ke supervisormu sudah kau print?"

"Belum, mas. Lupa."

"Di-print dulu saja."

"lya, mas Sekalian akan saya kirim soft file-nya ke email Prof. Adeib."

Di luar hujan masih turun dengan ajegnya. Tak hanya Stoneyhill Grove, hujan juga menghampiri semua kawasan Musselburgh. Musim dingin belum benar-benar pergi sepenuhnya. Sisa-sisanya masih terasa.



                                *****


Mobil itu melaju pelan menembus hujan meninggalkan Stoneyhill Grove. Beberapa jurus kemudian mobil itu melewati halte bus Clayknowes. Halte itu sepi. Tak ada bus yang parkir menunggu penumpang. Juga tak ada yang tampak datang. Mungkin bus telah pergi beberapa menit yang lalu dan para penumpang telah meninggalkan halte. Hanya satu orang tua tampak duduk sendirian di halte itu 
berlindung dari terpaan hujan. Fahri terkesiap. ltu Nenek Catarina.

"Paman, tolong hampiri Nenek Catarina itu!" pinta Fahri.

"Baik, Hoca."

Paman Hulusi membawa mobil itu sedikit maju lalu putar balik menghampiri halte di mana Nenek Catarina duduk seorang diri. Fahri mengambil payung dan keluar dari mobil menghampiri Nenek Catarina.

"Nenek kenapa di sini? Mau pulang, atau nenek sedang menunggu bus mau pergi?" sapa Fahri halus.

Muka Nenek Catalina tampak pucat.

"Saya mau pulang. Menunggu hujan reda. Tadi tidak bawa payung"

"Kaki nenek kan tadi sakit. Apa sudah sembuh? "

"Masih sakit."

"Katanya tadi mau diantar sama dua anak muda itu?"

"lya mau diantar, tapi mereka minta saya menunggu sampai pukul lima sore. Katanya mereka masih ada kerjaan di Sinagog. Saya tidak bisa. Masak saya harus menunggu selama itu."

"Kenapa tidak pakai taksi saja, nenek bisa langsung sampai depan rumah?"

"Saya sudah telepon taksi. Ongkosnya terlalu mahal. Saya naik bus saja meskipun kaki ini sakit sekali buat jalan."

"Kami antar pulang ke rumah ya, nek. Dari halte ini ke rumah jauh."

"Iya. Saya juga bingung harus bagaimana jika tidak kuat jalan sampai rumah. Saya minta kepada sopir bus agar membawa saya sampai depan rumah, dia tertawa. Dia jawab, ini bus bukan taksi."

"Mari, nek, naik ke mobil pelan-pelan."

Nenek Catarina berdiri dari duduknya. Fahri memapah Nenek Catarina. Misbah dan Paman Hulusi mau turun membantu dilarang oleh Fahri, sebab hujan masih turun meskipun tidak terlalu deras. Akhirnya Nenek Catarina masuk ke dalam mobil. Paman Hulusi mengarahkan mobil itu kembali ke Stoneyhill Grove. Fahri mengantar Nenek Catarina sampai membukakan pintu rumahnya dan mendudukkan Nenek Catarina di sofa ruang tamunya.

"Kau sungguh baik, nak. Kalau tak ada dirimu, mungkin aku masih di halte sampai hari telah gelap. 
Semoga kau diberkahi Elohim. Amin." Doa Nenek Catarina ketika Fahri minta pamit. 

Kedua mata Nenek Catarina berkaca-kaca.

"Amin," jawab Fahri lalu pergi masuk mobil.
"Kadang, melihat orang-orang renta disini kasihan ya,mas?"

"lya. Banyak yang kesepian. Itu fenomena hampir di semua negara yang dianggap maju, yang tidak ada sentuhan ajaran Islam. Kalau di tempat kita yang mayoritasnya Muslim, berbakti kepada orang tua sangat penting. Di lndonesia, di desa-desa, nenek-nenek dan kakek-kakek hidup tenteram bersama 
anak-anak dan cucu-cucunya yang penuh perhatian. Kalau sakit, satu kampung menjenguk semua #karena masih saudara. Itu fenomena yang tidak kita temukan secara umum di Eropa, Amerika, Australia, Selandia Baru, Jepang,Taiwan dan Hong Kong."

"Benar, mas. Tetangga apartemen saya di Bangor, ada yang sudah pensiun meskipun belum tua banget. Ia tampak lebih sayang pada anjingnya daripada anaknya."

"Itu benar. Di negara-negara maju, banyak orang lebih suka pada anjingnya, karena anjing dianggap setia menungguinya dan menemaninya sampai tua. Kalau anak sendiri, ketika ibu atau ayahnya sudah tua, banyak yang diletakkan dipanti jompo agar tidak merepotkan."

"Tapi orang-orang Turki yang berimigrasi ke Eropa tetap membawa tradisi kekeluargaannya yang kental. Tradisi berbakti pada orang tua masih dipertahankan. Meskipun mulai terkikis oleh budaya Eropa yang individualis," sahut Paman Hulusi ikut nimbrung.

"Yang berasal dari tradisi Islam biasanya sangat kuat dalam hal birrul walidain dan ikatan kekeluargaan. Tidak hanya Turki, masyarakat Indonesia, Malaysia, India, Pakistan, Bangladesh, Mesir, Maroko dan lain sebagainya, meskipun di Eropa, ikatan kekeluargaannya lebih terasa dibandingkan yang asli Eropa." timpal Fahri.

"Budaya cuek dan tidak perhatian terhadap orang tua itu salah satu budaya Eropa yang tidak layak kita bawa ke Indonesia. Khususnya ketika orangtua sudah jompo."

"Benar, Bah. Meskipun secara umum, secara hati nurani seorang anak itu, dan bangsa apa pun dia, ya sayang sama ibunya. Hanya kalau di Barat. sayang sama ibu itu ya memasukkan ibu ke panti jompo. Itu bentuk praktik budaya yang beda sama kita. Kalau kita sayang sama ibu, ya kita perhatikan, kita temani, kita rawat,sampai akhir hayat sepenuh cinta".

"Ada banyak hal di Inggris Raya ini yang membuat aku kagum, mas. Terasa sangat Islami. Disiplinnnya, bersihnya, keteraturannya, penghargaan pada sejarahnya, penghargaan pada ilmu pengetahuan, budaya baca yang luar biasa, jaminan sosialnya, kalau sakit gratis berobat, dan lain sebagainya. 
Sangat-sangat baguslah pokoknya. Namun terkadang juga menemui sesuatu yang membuatku terkaget-kaget karena jauh dari nilai Islami. Misalnya kalau pas party. Inna lillah, minuman keras pasti ada, sering juga berlanjut zina."

"Ya intinya, ambil yang baik, buang yang tidak baik! Ambil yang sesuai ajaran Islam yang hanif, buang yang tidak sesuai ajaran Islam!"

“Allahumma waffiqna ya Allah!” (1) 

"Amin. Hujan-hujan begini mau makan apa, Bah?"

"Kalau di Indonesia, hujan-hujan enaknya bakso atau mie ayam."

"Nggak ada di sini. Itu harus buat sendiri."

"Saya ikut saja, mas."

"Mau yang ada kuah panasnya?"

"Boleh itu, mas."

"Paman, kita cari sop ikan."

"Ada beberapa pilihan tempat. Yang mana, Hoca?"

"Pierre Victoire saja. Ada sop ikan di sana. Pilihan menu seafoodnya juga lumayan banyak."

"Restoran Prancis yang di Eyre Place New Towm?"

"Ya."

"Baik, kita ke sana, Hoca."



-----------------------------------------------------------------------



Siang itu, usai makan siang di Pierre Victoire, Fahri mengantar Misbah ke Heriot-Watt University. 
Sementara Misbah menjumpai supervisornya, Fahri mengajak Paman Hulusi menjenguk Prof. Charlotte Brewster supervisor program postdocnya yang ternyata masih di Western General Hospital, Edinburgh.

Prof. Charlotte merasa sangat surprised dikunjuugi Fahri. Apalagi Fahri mengabarkan bahwa tulisan ilmiahnya untuk postdoc sudah selesai. Fahri juga mengabarkan semua amanah Prof.Charlotte sudah ia tunaikan termasuk mengajar kelas philology.

"Terima kasih, saya senang sekali mendengarnya. Bagaimana dengan tawaran Prof. Stevens?"

Saya sudah baca proposal mahasiswa itu. Saya rasa, bisa saya terima."

"Bagus. Semoga besok sore saya sudah boleh meninggalkan rumah sakit ini. Dan Senin, saya akan buat surat resmi kepada yang berwenang agar mengangkatmu sebagai pengajar resmi. Kau mau kan?"

"Saya coba satu tahun dulu."

"Jangan satu tahun. Dua tahun."

"Boleh."

Fahri melihat jam tangannya,

"Saya harus pamit. Saya masih harus menjemput seorang teman."

"Terima kasih. Kau satu-satunya sahabat yang menjengukku."

"Segera sembuh. Amin."

"Amin."

Dari Western General Hospital, Fahri mengajak Paman Hulusi untuk membeli CCTV.

"Mau dipasang di mana?" tanya Paman Hulusi.

"Di rumah kita. Tolong nanti paman yang pasang, jangan sampai diketahui orang. Saya yakin, tangan jahil yang mencoret-coret kaca mobil dan membuat tulisan penghinaan masih akan melancarkan aksinya lagi. Saya ingin tahu orangnya."

"Saya sangat yakin itu pasti ulah si nakal, Jason."

"Ya. makanya kita perlu bukti basahnya agar bisa mendidik anak itu, kalau anak itu pelakunya."

"Kita pasang tiga kamera, Hoca."

"Terserah paman. Saya serahkan hal itu sama paman."

"Beli yang nirkabel saja. Yang pakai wireless. jadi mudah pasangnya, dan kameranya mudah 
disembunyikan."

"Térserah paman, mana baiknya saja."

"Kalau sudah ada bukti kuat, apa Hoca mau memproses anak itu secara hukum?"

"Paman tenang saja. Urusan mendidik anak itu biar jadi urusan saya, paman. Dia masih sangat muda. Kita harus memperIakukannya dengan kasih sayang, paman."

"Hoca terlalu halus dan lemah."

"Lemah?"

"Iya."

"Paman tidak ingat bagaimana paman diselamatkan oleh Allah. Sudah lupa rupanya?"
Seketika Paman Hulusi tersentak mendengar kata-kata Fahri. Ia langsung ingat bahwa dirinya masih hidup memang diselamatkan oleh Allah, tetapi wasilahnya karena ditolong Fahri saat dikeroyok teman-temannya sendiri sesama bandit Kota Muenchen. 

Fahri mempertaruhkan nyawanya, karena mendengar dirinya bertakbir saat nyaris tewas. Fahri sendiri kena satu tusukan di pinggang. Nyawanya tertolong. Biaya rumah sakit pun Fahri yang bayar. Setelah itu ia insaf dan ikut Fahri. Ia memenuhi semua persyaratan Fahri agar taat aturan Islam. la merasa nyawanya adalah nyawa tambahan, ia akan gunakan untuk ibadah. Ketika Fahri dan Aisha pindah ke Freiburg, ia pun ikut. Demikian juga ketika 
Fahri pindah ke Edinburgh.

"Saya minta maaf atas kelancangan ucapan saya, Hoca."

"Paman, lembut dan keras itu sifat yang harus dimiliki oleh umat manusia secara proporsional. Kita tidak bisa keras terus, juga tidak bisa lembut terus. Ada saatnya sebuah kondisi menuntut kita bersikap lemah lembut. Ketika itu, kita jangan bersikap keras. Ada saatnya sebuah kondisi mengharuskan kita 
bersikap keras, kita tidak tepat jika bersikap lemah lembut. Dihadapan musuh yang jelas mau membunuh kita, tak bisa kita lemah lembut. Kita akan mati konyol! Di hadapan bara api yang membakar kita jangan nyalakan sumbu dinamit. Hancur semua akibatnya. Di hadapan bara api kita gunakan air dingin."

"lya, Hoca."

"Ada satu hal yang harus kita ingat selalu, paman!"

"Apa itu, Hoca?"

"Dalam catatan sejarah, orang yang masuk Islam karena kelembutan budi itu jauh lebih banyak dibandingkan karena peperangan. 
Terbukanya Kota Makkah dan berbondong-bondongnya penduduk Makkah masuk Islam itu karena halus budinya Rasulullah Saw. Tidak ada adu pedang dalam penaklukan Kota Makkah yang sangat bersejarah tersebut. Itu adalah penaklukan dengan kebesaran jiwa dan akhlak Rasulullah Saw."

"Allohumma shalli 'alaih."

Setelah mendapatkan perlengkapan CCTV, mereka shalat Ashar di Edinburgh Central Mosque, lalu menjemput Misbah di Heriot-Watt University. Mereka tiba kembali di Stoneyhill Grove kira-kira beberapa menit setelah masuk waktu shalat Maghrib dan langsung shalat jamaah di ruang tamu. 

Hujan turun agak awet. Gerimis masih terasa sampai malam tiba. Paman Hulusi dengan gerakan yang cepat berhasil memasang kamera wireless CCTV berukuran sangat imut namun canggih di tiga tempat. 

Kamera itu dilengkapi teknologi mampu merekam gambar di daerah kurang cahaya dan dihubungkan ke receivernya dengan gelombang radio 1,2 GHz yang mampu menembus tembok.

"CCTV sudah terpasang baik, Hoca. Tinggal kita tunggu penjahatnya datang," lapor Paman Hulusi kepada Fahri yang sedang mendengarkan cerita Misbah bagaimana perjalanan hidupnya setelah lulus dari Al-Azhar.

"Paman, saya teringat sesuatu."

"Apa itu?"

"Nenek Catarina."

"Mengapa Hoca mengingat nenek itu lagi?"

"Paman, saya punya ibu yang juga sudah tua meskipun tidak setua Nenek Catarina. Dan meskipun ibu saya tinggal bersama adik perempuan saya, melihat Nenek Catarina itu saya kasihan. Kakinya kan sedang sakit. Dia sudah makan siang belum ya? Sudah makan malam belum, Dia kan hidup sendirian."

"Tapi dia Yahudi."

"Kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada siapa saja. Pada anjing sekalipun kita diminta berbuat baik."

"Apa yang Hoca inginkan, saya ikut."

"Di dapur kita masih punya apa, paman?"

"Masih punya roti tawar, roti bagel, dan kuah kari kambing dari Resto Agnina yang bisa kita 
hangatkan."

"Mantap, paman. Kita makan malam dengan roti bagel pakai kuah kari kambing panas. Tolong paman, siapkan tiga roti bagel dan kuahnya untuk Nenek Catarina, biar saya antar ke rumahnya."

"Baik, Hoca."

Pukul delapan lebih sedikit, Fahri sudah berdiri di depan pintu rumah Nenek Catarina. Hujan mulai reda. Dengan tertatih, Nenek Catarina membuka pintu. Nenek itu tampak senang melihat wajah Fahri.

"Nenek belum tidur? Maaf kalau mengganggu."

"Tidak apa. Saya tidak bisa tidur. lngin tidur, tapi tidak bisa tidur. Ayo masuk."

"Kenapa tidak bisa tidur, nek?" 

tanya Fahri setelah ia masuk sambil tangan kirinya menuntun Nenek Catarina untuk duduk di sofa. Sementara tangan kanannya memegang tas plastik berisi roti bagel dan kuah kari.

"Pertama, kakiku terasa sakit,terasa ngilu. Kedua, perutku juga sakit," jawab Nenek Catarina sembari duduk. 

"Itu apa yang kau bawa?"

"Sedikit untuk makan malam nenek. Roti bagel dan kuah kari. Siapa tahu nenek belum makan malam."

"Oh, Elohim, terima kasih kau utus malaikat-Mu.... hiks hiks hiks," Nenek Catarina terharu.

"Perutku sakit. Sejak siang, aku belum makan sampai malam ini. Terakhir makan saat jamuan sabat di Sinagog. 
Itu saya masih punya makaroni pasta untuk buat spaghetti, tapi cuma itu. Bumbu yang lainnya habis. Saya mau keluar pergi ke minimarket, kaki sakit."

"Sebenarnya bisa pesan ke minimarket minta barangnya diantar, dibayar di rumah. Hanya nambah sedikit ongkos kirim. Sebagian malah tanpa ongkos kirim."

"Itulah, aku sudah terlalu tua. Kadang ingat, kadang lupa. Iya, sebenarnya bisa pesan seperti itu. Diantar ke sini. Tapi itu tak pernah aku lakukan."

"Nenek, saya siapkan makannya ya. Boleh saya ambilkan piring di dapur."

"Boleh. Jadi merepotkan kamu."

"Tidak, nek."

Fahri mengambil dua piring di dapur Nenek Catarina. Dapur itu sedikit kotor. Ada beberapa gelas dan piring di wastafel yang belum dicuci. Tapi Fahri bisa menemukan piring-piring bersih di rak. Fahri mengambil satu piring dan satu mangkok dan membawanya ke depan. Fahri meletakkan tiga biji roti bagel itu pada sebuah piring, dan menuangkan kuah kari yang dibungkus plastik oleh Paman Hulusi ke 
dalam mangkok.

"Silakan dicicipi, nek. Maaf, adanya ini. Malam ini kami makan dengan ini."

Nenek Catarina mengambil roti bagel dan menyobeknya, lalu mencelupkan ke dalam kuah kari dan memakannya dengan lahap.

"Enak sekali. Tubuhku langsung terasa hangat."

"Nenek mau saya buatkan teh?"

"Tidak usah. Biar nanti aku buat sendiri."

"Nek, teman saya yang agak tua itu bisa memijat urat kaki yang salah. Kalau nenek mau, besok kaki nenek biar dipijat sama dia. Bagaimana, nek?"

"Tidak usah. Nanti biar sembuh sendiri."

"Saya boleh pamit ya, nek."

"Ya, terima kasih atas segala kebaikanmu, anakku."

Fahri kembali ke rumah.

"Bagaimana Hoca, kenapa lama di sana?"

"Kalau saja kita tidak antarkan roti itu ke rumah Nenek Catarina, maka malam ini kita melakukan sebuah dosa."

"Memangnya kenapa, Hoca?"

"Nenek Catarina sejak siang belum makan. Perutnya sampai sakit. Ia tidak bisa keluar ke minimarket atau supermarket karena kakinya sakit. Kita berarti membiarkan tetangga kita perutnya sakit karena lapar, sementara kita tidur kenyang. Itu sebuah dosa sosial. Nabi Muhammad Saw sangat tidak menyukainya."

"Astaghfirullah."

"Rabbuna yaftah'alaik, mas."

"Amiin."



                                     *****



______________________________________________

1.Ya Alloh beri kami taufik, Ya Alloh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...