Kamis, 04 Februari 2021

KYAI CILIK SUKMA SEJATI BAGIAN 4

CAHAYA SEJATI bagian 4



Perlahan tapi pasti dua kelompok berjalan saling mendekat, dan tiba-tiba kedua kelompok berlarian sambil menangis, lalu bertubrukan, saling memeluk erat, lebih erat dari dua tangan yang saling berpelukan ketika dingin menyerang badan, mereka saling meminta maaf sambil tak henti menangis, ada sesuatu yang ditinggalkan oleh kakek yang bernama Tubagus Qodim itu, sesuatu yang tak tau apa itu, tapi membuat semua hati seakan satu, saling memiliki, saling mencintai, mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti satu badan, jika salah satu badan tersakiti maka badan yang lain akan ikut merasakan sakitnya, perasaan itu seperti terhirup dari udara, rasa cinta menggebu-gebu, kedua kelompok yang sebelumnya bertikai itu saling menangis saling meminta maaf, saling berpelukan erat, penyesalan seperti mengiris hati sanubari, sehingga perbatasan desa Cigandu itu dipenuhi suara tangis yang ramai.

Sementara itu, jauh di kedalaman hutan Perawan, Ujung Kulon, hutan yang amat lebat yang jarang dimasuki manusia, berjuta misteri masih banyak tersimpan di hutan itu, bahkan di hutan itu ada kapal besar zaman penjajahan Belanda yang tersangkut di atas pohon, di antara celah jurang, konon kapal itu dihempaskan ombak ketika tsunami melanda laut Sunda, saat gunung Krakatau meletus, dan di dalam Kapal itu tersimpan aneka harta benda emas berlian, tapi anehnya orang yang masuk hutan Ujung Kulon tidak semua akan bisa menemukan kapal tersebut, kecuali yang berjodoh.

Di dekat kapal itu, di ujung manggar pohon kelapa, nampak seorang lelaki berjubah sedang berdiri dan di punggungnya anak kecil digendong, dengan tubuhnya diikat dengan surban ke tubuh lelaki tua itu, lelaki itu tak lain adalah Tubagus Qodim, dan anak kecil itu tak lain adalah Bagus Cilik, lelaki itu hanya sekejap melihat ke arah kapal dan sesaat kemudian tubuhnya telah melesat lagi, melayang seperti burung elang, dan sekali waktu kakinya menginjak ke daun dan kemudian melesat lagi.

"Kita mau kemana ki?" tanya Bagus.

"Kita akan melihat daerah-daerah yang akan menjadi kekuasaanmu, di alam gaib dan alam nyata." jawab Tubagus Qodim.

Dan tubuh Tubagus sepertinya melesat ke arah laut, sampai di pantai, tubuhnya tetap melaju dari pucuk daun kelapa langsung melesat ke tengah laut, dan dengan ilmu meringankan tubuh Tapak Sancang, Tubagus Qodim begitu entengnya berlarian di atas laut.

"Kenapa ke laut ki?" tanya Bagus yang ada di punggung Tubagus.

"Karena angger akan ku bai'at dan ku talkin," jelas Tubagus sambil menghentikan langkahnya saat sampai di dekat perahu kecil lalu melangkah pelan di atas air dan masuk ke atas perahu kecil itu kemudian duduk.

"Bai'at dan ditalkin itu diapakan ki?" tanya Bagus lagi.

"Bai'at dan talkin itu dimasukkan menjadi murid toreqoh," jawab Tubagus sambil mengambil dayung, dan Bagus masih terikat di tubuhnya, dilepas lalu disuruh membelakanginya, mereka adu punggung.

"Saya harus bagaimana ki, dan kenapa di atas perahu?" tanya Bagus lagi ingin tau.

"Angger Bagus nanti ikuti saja ucapan aki, kenapa di perahu, agar tidak di dengar oleh mahluk lain, seperti saat Sunan Kalijaga dibai'at oleh Sunan Bonang, jadi kita juga meniru mereka."

Sebentar kemudian bai'at dan talkin telah selesai, Tubagus Qodim memberi wejangan panjang lebar pada Bagus, tapi tiba-tiba dia berhenti, karena di dekat mereka berdua berdiri seorang wanita cantik, wanita itu berdiri di air dengan kaki telanjang, diiringi empat orang dayang, yang berdiri di kanan kiri wanita anggun itu, sampai di dekat Tubagus Qodim, perempuan itu semua berhenti dan bersimpuh di atas air, seakan air itu daratan saja, pakaian mereka anehnya sama sekali tidak basah oleh air, jika dikatakan ilmu meringankan tubuh, maka entah itu tataran yang bagaimana.

"Assalamualaikum." kata perempuan itu setelah sempurna duduknya.

"Waalaikum salam, siapakah sebenarnya anda ini nyai?" tanya Tubagus dengan suara lemah lembut.

"Salam ta'dzim dan sungkem saya kyai..., aku ini penguasa laut Pasundan dan tlatah sekitarnya, namaku Mayang Sari, sudilah kiranya kyai mampir ke rumahku, dan hamba akan menjamu dengan sebaik-baiknya." kata perempuan cantik itu.

"Hehehehe... aku tau kau tak menginginkan aku, tapi menginginkan Bagus Cilik..." jawab Tubagus Qodim.

"Maaf kyai..., saya hanya akan menunjukan tempat kekuasaannya."

"Ya... ya... ndak apa-apa, bagaimana Bagus? Angger mau tidak mengikuti bunda Mayang Sari?" kata Tubagus pada Bagus Cilik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...