PANASNYA BUNGA MEKAR : 18-01
Akan tetapi keinginan Mahisa Bungalan untuk pergi ke padepokan kecil itu rasa-rasanya menjadi sangat mendesak. Karena itu, ketika kemudian Mahisa Agni memutuskan untuk kembali ke Singasari, sepercik kegembiraan telah menyentuh hatinya. Dengan demikian, ia tidak akan melihat lagi puteri yang cantik itu setiap saat, dan ia pun akan mendapat kesempatan untuk mencari jalan agar dapat bertemu dengan seorang gadis padepokan yang bernama Ken Padmi itu dengan dalih yang lain, mencari orang yang bernama Ki Dukut Pakering.
Namun Mahisa Bungalanpun harus menyadari, bahwa Ki Dukut Pakering adalah seorang yang pilih tanding. Seorang yang memiliki kelebihan dari kebanyakan orang. Sementara ia pun harus mengakui, bahwa ilmunya masih belum setingkat dengan orang yang bernama Ki Dukut Pakering itu, meskipun ilmunya sendiri sudah maju pesat.
Tetapi kemudaannyalah yang kemudian mendorongnya. Katanya di dalam hati,, “Seandainya harus terjadi, maka aku pun memiliki bekal untuk melawannya. Mungkin ia memiliki kelebihan, tetapi aku harap, bahwa kemudaanku akan dapat bertahan atas waktu jika aku harus bertempur melawannya”
Demikianlah, maka ketika mereka merasa telah berada di Kediri untuk waktu yang cukup, maka merekapun segera minta diri untuk kembali ke Singasari.
Sebenarnya Pangeran Kuda Padmadata merasa berat untuk melepaskan mereka yang telah berbuat terlalu banyak bagi dirinya dan bagi isteri dan anaknya. Namun ia pun merasa, bahwa ia tidak akan dapat menehan mereka terus-menerus.
Ketika saat itu tiba, maka dengan berat hati Pangeran Kuda Padmadata telah melepaskan tamu-tamunya kembali ke Singasari. Bukan tamu seperti kebanyakan tamu, tetapi mereka adalah justru orang-orang yang telah menyelamatkannya.
Di perjalanan kembali ke Singasari, Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan anak-anaknya tidak lagi membawa pedatinya. Tetapi mereka telah mendapat kuda yang tegar yang akan dapat mambawa mereka kembali ke Singasari.
Berkali-kali Pangeran Kuda Padmadata, isteri dan anaknya mengucapkan terima kasih yang tiada taranya kepada Mahisa Bungalan. Ialah yang mula-mula telah melibatkan diri ke dalam persoalannya, dan tidak akan dapat diingkari, tanpa langkah-langkah cepat dan berani dari Mahisa Bungalan, maka akhir dari peristiwa itu tentu akan menjadi sangat berlainan.
“Kami sangat mengharap, kalian datang lagi ke rumah ini” minta Pangeran Kuda Padmadata.
“Tentu” jawab Mahisa Agni, “kami akan selalu teringat kepada istana ini dan akan mengunjunginya sekali-sekali”
Ketika iring-iringan itu sudah siap meninggalkan regol, ternyata Ki Wastu yang tua itu tidak dapat menahan getar di dalam jantungnya. Meskipun tidak banyak orang yang memperhatikannya, namun ia telah mengusap matanya beberapa kali. Terasa mata itu menjadi basah dan panas. Apalagi jika ia mengenang, apa yang telah dilakukan oleh Mahisa Bungalan.
“Aku harus membalas budinya” berkata Ki Wastu kepada diri sendiri,, “karena yang aku miliki hanyalah ilmu yang tidak banyak berarti, namun aku ingin menuangkan seluruhnya kepada angger Mahisa Bungalan. Mudah-mudahan akan berarti baginya, setidak-tidaknya untuk melengkapi apa yang sudah dimilikinya”
Karena itu, ketika Mahisa Bungalan sudah berada di punggung kudanya, ia sempat berbisik,, “Datanglah secepatnya. Ada sesuatu yang dapat aku berikan kepadamu”
“Apa maksud Ki Wastu?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Ilmu. Aku dapat memberikan kepadamu sementara aku tidak akan kehilangan apapun juga. Karena hanya itulah yang aku punya” desisnya.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya,, “Terima kasih. Aku akan segera datang”
Namun Ki Wastu itupun kemudian berdesis,, “Tetapi aku sadar sepenuhnya, bahwa angger telah memiliki ilmu dasar yang melampaui ilmu dasar yang aku miliki. Jika aku mengharap angger datang, mudah-mudahan aku akan dapat memberikan kelangkapan sehingga ilmu dasar yang lebih baik dari yang ada padaku itu akan dapat berkembang sempurna. Karena sebenarnyalah, bahwa angger Mahisa Bungalan memiliki sumber ilmu yang tidak ada taranya, dan yang jauh melampaui kemampuanku sandiri”
“Ki Wastu selalu merendahkan diri” desis Mahisa Bungalan.
“Tidak. Aku berkata sebenarnya” jawab Ki Wastu.
Namun mereka tidak sempat berbicara lebih panjang. Iring-iringan itupun kemudian mulai bergerak meninggalkan istana Pangeran Kuda Padmadata, menuju ke Singasari.
Beberapa orang berpaling juga memperhatikan iring-iringan itu. Namun mereka tidak heran atau terkejut karenanya. Mereka mengetahui, bahwa beberapa orang Singasari sedang berada di istana Pangeran Kuda Padmadata. Karena itu. maka merekapun tahu bahwa orang-orang Singasari itu akan segera kambali ke kota Raja.
Dengan demikian, maka perjalanan itupun tidak mendapat hambatan apapun juga ketika mereka meninggalkan kota. Para pengawal yang sedang meronda pun mengetahuinya, sehingga mereka tidak merasa perlu untuk menegurnya. Bahkan diam-diam mereka berusaha untuk memperhatikan, orang-orang yang terdapat di dalam iring-iringan itu, karena dari para pengawal yang ikut bersama Pangeran Kuda Padmadata telah menceriterakan serba sedikit tentang orang-orang Singasari yang pilih tanding.
Demikianlah, iring-iringan itu kaluar dari gerbang, maka kuda-kuda itu pun berderap semakin cepat. Perjalanan kembali ke Singasari itu ternyata jauh lebih cepat dari perjalanan mereka dari Singasari ke Kediri.
Tidak seperti saat mereka berangkat, maka saat iring-iringan itu kembali ke Singasari, tidak ada seorangpun yang datang mengganggu. Ki Dukut Pakering sama sekali tidak berbuat sesuatu. Namun dengan demikian, orang-orang yang berada di dalam iring-iringan itu masih saja bertanya-tanya di dalam hati,, “Apakah Pangeran Kuda Padmadata juga tidak akan diganggu oleh Ki Dukut Pakering itu?”
Namun di istana itu sudah ada Ki Wastu. Bagaimanapun juga, maka orang tua itu akan dapat menghalang-halangi jika Ki Dukut masih ingin melepaskan dendamnya kepada Pangeran Kuda Padmadata bersama anak istermya. Apalagi Pangeran Kuda Padmadata telah menempatkan beberapa orang pangawal terpilih di istananya, sehingga isteri dan anaknya akan dapat merasa aman berada di dalam istana itu. Meskipun demikian, Pangeran Kuda Padmadata masih selalu bertindak hati-hati. Anak dan isterinya tidak diperbolehkannya langsung borhubungan dengan siapapun juga di luar anggauta keluarga istana itu. Jika ada orang lain yang berniat untuk hiirliubungan dengan anak dan isteri Pangeran itu, harus dilakukan melalui Pangeran Kuda Padmadata sendiri atau Ki Wastu. Karena masih mungkin sekali ada orang-orang yang dipinjam tangannya oleh Ki Dukut untuk mencelakai keluarganya.
Dalam pada itu, ketika iring-iringan Mahisa Agni telah sampai ke Singasari, maka mereka tidak segera berpisah. Mereka masih memerlukan untuk berkumpul dan membicarakan kemungkinan yang masih mereka hadapi Ki Dukut Pakering.
“Sebenarnya kita tidak perlu tergesa-gesa lagi” berkata Mahisa Agni,, “nampaknya Ki Dukut tidak lagi berusaha melepaskan dendamnya kepada siapapun juga yang dianggapnya pernah bersalah kepadanya. Mungkin ia lebih memusatkan perhatiannya kepada Pangeran Kuda Padmadata anak dan isteri”
“Tetapi kegagalan demi kegagalan itu akan dapat mengungkit kembali kemarahan dan kebenciannya kepada orang-orang yang tidak bersalah” desis Mahisa Bungalan.
“Memang mungkin” desis Mahisa Agni. Ia pun kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya atas dua orang berilmu hitam yang sebenarnya telah berhasil melarikan diri. Namun malang bagi mereka, karena mereka telah bertemu dengan Ki Dukut yang sedang mendendam. Hampir saja mereka telah menjadi korban api dendam yang
menyala di hati Ki Dukut dan tidak mendapat penyaluran seperti yang dikehendakinya.
“Jika demikian, bukankah kemungkinan-kemungkinan yang buruk itu akan dapat terjadi di padepokan-padepokan kecil yang terpencar itu?” bertanya Mahisa Bungalan. Lalu katanya salanjutnya,, “Mungkin Ki Dukut juga tidak ingin atau tidak sengaja mendatangi padepokan itu. Tetapi jika tiba-tiba saja ia dibakar oleh dendamnya yang kambuh selagi ia berada di dekat padepokan-padepokan kecil itu, maka akan dapat dibayangkan, akibat apakah yang akan dapat timbul”
“Aku mengerti” jawab Witantra, “tetapi menurut pengalaman, berburu di padang perburuan yang terlalu luas itu ternyata terlalu mahal”
“Maksud paman?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Berpikirlah jernih” potong ayahnya,, “pamanmu tentu sedang memperhitungkan segala kemungkinan yang-dapat ditempuh”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam.
“Atau, barangkali kau mempunyai satu pikiran yang berguna bagi usaha ini?” bertanya Mahisa Agni.
“Paman” berkata Mahisa Bungalan,, “aku mengerti bahwa berburu seperti yang pernah kita lakukan, hampirlah sia-sia. Tetapi kita juga tidak boleh tinggal diam. Menurut pikiranku, biarlah aku mengulangi pengembaraanku”
“Ada semacam untung-untungan” sahut ayahnya,, “mungkin bertemu dengan Ki Dukut, mungkin pula tidak”
Mahisa Bungalan menundukkan kepalanya. Yang dikatakan oleh ayahnya itu memang tepat. Namun sebenarnyalah ada sepercik keinginannya yang lain. Pengembaraannya tentu akan sampai ke sebuah padepokan kecil yang menyimpan seorang gadis yang bernama Ken Padmi.
Namun dalam pada itu, Mahisa Agni telah memperingatkan Mahisa Bungalan atas kesanggupan yang pernah dikatakannya kepada Maharaja di Singasari, Ranggawuni. yang bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana dan Ratu Angabhaya yang bergelar Narasingamurti, bahwa Mahisa Bungalan akan bersedia untuk memasuki dunia Keprajuritan di Singasari.
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia memang pernah berjanji. Dan janji itu tidak pernah dilupakannya. Namun jika ingatannya menyentuh seorang gadis padepok an yang bernama Ken Padmi, maka hatinya menjadi berdebar-debar.
Bahwa Pangeran Kuda Padmadata telah menemukan kembali kebahagiaan hidup berkeluarga. benar-benar telah menyentuh perasaan anak muda itu. Rasa-rasanya ia pun ingin memasuki satu dunia yang lain dari dunianya yang sedang dijalaninya. Bahkan rasa-rasanya ia akan segera berhenti bertualang, jika ada seorang sisihan di rumah yang akan dapat memberikan ketenteraman hidup.
Dalam pada itu, Witantra yang mendengar peringatan Mahisa Agni itupun kemudian berkata, “Mahisa Bungalan, Apakah waktunya masih belum tiba? Jika kau masih selalu dibayangi oleh jiwa pangembaraanmu, maka aku kira kau tidak akan berhenti mengembara dengan alasan apapun juga. Karena itu, biarlah kami yang tua-tau sajalah yang akan mencari jejak Ki Dukut Pakering, meskipun juga tidak dengan menyelenggarakan waktu yang khusus, sementara itu, kau dapat mempergunakan waktumu untuk merintis jalan ke masa depanmu yang lebih baik”
Mahisa Bungalan menundukkan kepalanya. Ia mengerti petunjuk-petunjuk itu akan sangat bermanfaat baginya. Tetapi ia tidak dapat melupakan padepokan kecil itu, Padepokan Kenanga.
Ketika Mahisa Bungalan kemudian terdesak, dan tidak dapat mengelak lagi, maka ia pun kemudian berterus terang, bahwa ia ingin pergi ke padepokan kecil itu. Dan bahkan ketika Ketika orang-orang tua itu masih mendesaknya lagi, maka iapun kemudian telah mengatakan serba sedikit tentang padepokan Kenanga yang dihuni oleh Ki Selabajra dan anak gadisnya Ken Padmi.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengerti, bagaimana perasaan seorang anak muda yang sedang diguncang oleh angan-angan tentang seorang gadis.
Karena itulah, maka Mahisa Agnipun berkata,, “Baiklah Mahisa Bungalan. Biarlah aku menghadap Sri Mahaprabu Jaya Wisnuwardhana untuk menyampaikan perasaanmu kepadanya. Aku kira, kau akan mendapat persetujuan meskipun untuk waktu yang terbatas. Terutama bagi kepentinganmu sendiri”
Mahisa Bungalan hanya dapat menundukkan kepalanya.
“Sementara itu” berkata Mahisa Agni, biarlah aku mengawanimu dalam pengembaraan yang mendatang. Pada saat gawat aku akan dapat menjadi kawan menghadapi kesulitan, tetapi dalam kesulitan yang lain, mungkin aku kau perlukan untuk mewakili ayahmu”
“Ah” Mahisa Bungalan hanya berdesah. Tetapi ia tidak membantah.
Mahendra pun ternyata tidak berkeberatan. Bahkan ia berterima kasih kepada Mahisa Agni yang bersedia mengikuti perjalanan Mahisa Bungalan.
“Aku tidak mempunyai tanggungan apa-apa” berkata Mahisa Agni,, “aku kira ada baiknya pula untuk mengisi hari tuaku. Sementara kau masih harus berbuat banyak bagi keluargamu”
Mahendra tertawa. Katanya, “Anakku pun telah dewasa semuanya. Tetapi aku memang masih mempunyai banyak tanggungan. Karena itu, aku sangat berterima kasih”
Witantra pun tersenyum pula. Katanya, “Sebenarnya aku pun tidak berkeberatan untuk mengikuti pengembaraan itu. Aku kira aku pun memerlukan kesibukan untuk mengisi kekosonganku di hari tua agar aku tidak terlalu cepat mendekati masa akhir”
“Ah” desis Mahendra, “jangan berkata begitu”
“Sebenarnyalah” jawab Witantra,, “orang yang terlalu banyak merenung tanpa kerja yang berarti, ia akan cepat mengakhiri hidupnya sendiri. Karena itu, aku juga ingin mengisi waktuku dengan kesibukan-kesibukan. Berjalan-jalan adalah kesibukan yang paling baik bagi orang tua-tua”
“Berjalan di setiap pagi memang baik” jawab Mahendra,, “tetapi berjalan-jalan melintasi padang-padang yang luas dan liar, menyusup hutan dan menghadapi kemungkinan bertemu dengan Ki Dukut dengan pengikut-pengikutnya yang baru, sebenarnyalah bukan merupakan perjalanan seperti menghirup segarnya udara pagi”
Witantra tertawa. Katanya,, “Tentu tidak akan seberat itu. Kami akan menempuh satu perjalanan yang menyenangkan. Jika kita dapat bertemu dengan Ki Dukut, itu berarti bahwa perjalanan ini akan mendapat hasil yang menggembirakan di samping untuk mangisi kekosongan”
Mahendra dan Mahisa Agnipun tertawa. Tetapi Mahisa Bungalan masih tetap menundukkan kepalanya.
Dalam pada itu, maka mereka pun segera mengatur waktu. Mereka tidak akan tergesa-gesa meninggalkan Singasari. Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan Mahisa Bungalan akan mohon mendapat kesempatan menghadap untuk menyampaikan persoalan Mahisa Bungalan yang masih akan mohon sekedar waktu.
Sebenarnyalah, bahwa Ranggawuni yang bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana itu merasa kecewa, bahwa Mahisa Bungalan masih mohon waktu untuk pengembaraannya. Namun Maharaja yang muda itupun mengerti perasaan Mahisa Bungalan, sehingga ia pun tidak merasa berkeberatan untuk melepaskannya. Apalagi ketika kepadanya diberitahukan serba sedikit tentang peristiwa yang menimpa Pangeran Kuda Padmadata karena tingkah laku gurunya.
“Kalian akan mencarinya?” bertanya Sri Jaya Wisnuwardhana.
“Mudah-mudahan kami berhasil mendapatkan jejaknya” jawab Mahisa Agni.
“Tetapi kami mengharap, kalian akan segera kembali” pesan Ranggawuni.
“Hamba tuanku” jawab Mahisa Agni,, “hamba akan melakukannya”
Demikianlah, dengan ijin Maharaja di Singasari, maka Mahisa Bungalan sekali lagi melakukan pengembaraan sekaligus menunda lagi kesanggupannya untuk memasuki lingkungan keprajuritan di Singasari. Bersama Mahjsa Agni dan Witantra, Mahisa Bungalan telah bersiap-siap meninggalkan Kota Raja untuk menempuh perjalanan yang tidak dibatasi waktu. Namun merekapun sadar, bahwa mereka tidak akan melakukan perjalanan terlalu lama, seperti yang dipesankan oleh Ranggawuni sebagai Maharaja di Singasari yang bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana.
Ketika segala persiapan telah cukup, maka pada suatu pagi yang cerah, tiga orang berkuda telah meninggalkan gerbang Singasari. Mereka adalah Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan. Seperti biasanya mereka mengenakan pakaian orang kebanyakan dalam pengembaraan mereka.
“Pada suatu saat kuda-kuda ini akan kami tinggalkan” berkata Mahisa Bungalan.
Mahisa Agni berpaling kepadanya sambil bertanya,, “Dan kita akan berjalan menjelajahi daerah yang sangat luas”
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Sementara Witantra bertanya,, “Atau yang kau maksudkan, kita akan menuju ke suatu tempat, kemudian menitipkan kuda kita di tempat itu sementara kita akan berjalan ke segenap penjuru, uamun kita akan mempergunakan tempat itu sebagai tempat pemberhentian”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Bukankah kita akan singgah ke Kediri seperti yang pernah aku katakan? Ki Wastu minta aku datang kepadanya. Ada sesuatu yang akan diberikan kepadaku”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya,, “Bagiku tidak akan ada bedanya. Apakah kita akan singgah ke Kediri atau tidak. Tetapi jika kau ingin bertemu Ki Wastu sebelum pengembaraan, aku sama sekali tidak berkeberatan. Apapun yang akan kau terima, itu berarti akan memperkaya perbendaharaan ilmumu”
Mahisa Bungalan hanya mengangguk-angguk. Sementara Witantra pun sama sekali tidak berkeberatan pula.
Demikianlah, maka perjalanan yang mereka lakukan seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya, adalah perjalanan yang merupakan mula dari satu pengembaraan baru. Seperti yang dikehendaki oleh Mahisa Bungalan, maka mereka pun singgah ke Kediri memenuhi permintaan Ki Wastu, yang ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Mahisa Bungalan
Kedatangan mereka di istana Pangeran Kuda Padmadata telah diterima oleh Pangeran itu dengan senang hati. Demikian pula ternyata Ki Wastu menyambut mereka dengan sangat gembira.
Kepada Mahisa Agni dan Witantra, Ki Wastu berkata,, “Aku ingin menumpang untuk ikut berbangga mempunyai seorang murid seperti angger Mahisa Bungalan. Karena itu, meskipun tidak berarti apa-apa, aku ingin disebut sebagai salah seorang gurunya yang barangkali justru harus menyadap ilmu dari muridnya”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Ki Wastu selalu merendahkan diri”
Ki Wastu menjawab dengan bersungguh-sungguh,, “Tidak. Aku berkata sebenarnya. Dan lebih dari itu, aku ingin menempatkan Pangeran Kuda Padmadata yang memerlukan bimbinganku selanjutnya untuk menyempurnakun ilmunya sebagai saudara seperguruan dengan angger Mahisa Bungalan”
Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa yang sebenarnya dihendaki oleh Ki Wastu adalah demikian. Dan sebenarnyalah bahwa Ki Wastu merasa, bahwa ilmunya tidak akan dapat melampaui tingkat ilmu Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra, yang pernah menjadi guru Mahisa Bungalan sebelumnya.
Karena itu, maka Witantra pun kemudian berkata, “Kami merasa sangat gembira Ki Wastu, bahwa Pangeran Kuda Padmadata bersedia manganggap Mahisa Bungalan sebagai saudara seperguruannya”
Demikianlah, maka untuk beberapa lamanya Mahisa Agni dan Witantra berada di Kediri menunggui Mahisa Bungalan yang menerima warisan ilmu dari Ki Wastu. Memang dalam beberapa hal tingkat dan tataran ilmu Ki Wastu tidak setinggi ilmu Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra. Namun beberapa kemungkinan baru telah membuka hati Mahisa Bunglan. Dengan dasar ilmu yang diberikan oleh Ki Wastu, seperti yang sebagian pernah diterimanya sebelumnya, ternyata Mahisa Bungalan mempunyai ruang gerak yang lebih luas bagi ilmu yang memang pernah dimilikinya sebelumnya.
Demikian pula pada Pangeran Kuda Padmadata yang sebelumnya telah menerima dasar-dasar ilmu dari Ki Dukut Pakering. Seperti Mahisa Bungalan, maka ilmu yang diterima dari Ki Wastu itupun telah membuka kemungkinan-kemungkinan baru padanya untuk mengembangkan dasar ilmu yang memang sudah dimilikinya.
Karena itu, maka apa yang diberikan oleh Ki Wastu itu bukannya tidak berarti bagi keduanya, karena dengan demikian dalam keseluruhan, ilmu merekapun telah meningkat. Sementara mereka telah melihat jalan yang terbuka untuk memperkembangkan selanjutnya sesuai dengan pengalaman masing-masing.
Ketika Ki Wastu sudah merasa puas, serta ia sudah merasa membalas kebaikan budi Mahisa Bungalan, maka iapun berkata kepada anak muda itu, “Segalanya telah aku lakukan ngger. Terserah kepada angger kamudian, apakah angger menganggap hal itu berguna atau tidak”
“Tentu Ki Wastu. Aku merasa sangat berterima kasih. Seperti yang terdahulu, maka yang Ki Wastu berikan telah mengangkat kemampuanku dalam keseluruhan dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi perkembangan selanjutnya”
Dengan demikian, maka waktu yang diperlukan Mahisa Bungalan telah cukup. Karena itu, maka ia pun segera minta diri untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Sementara ia sudah diangkat menjadi saudara seperguruan oleh Pangeran Kuda Padmadata.
Dengan berat, hati Pangeran Kuda Padmadata dan Ki Wastu melepaskan tamu-tamunya meninggalkan istananya. Mereka mengerti, apa yang akan dilakukan oleh ketiga orang itu. Mereka akan menempuh satu perjalanan yang berat dan tidak berketentuan untuk mencari seseorang yang telah berusaha berbuat jahat kepadanya. Kepada Pangeran Kuda Padmadata beserta keluarganya. Sementara orang itu adalah gurunya sendiri.
Namun apa yang dilakukan oleh ketiga orang itu memang sudah mereka kehendaki. Karena itu, maka baik Pangeran Kuda Padmadata, maupun Ki Wastu tidak dapat menahan mereka lagi.
Demikianlah, maka pada hari yang sudah ditentukan, ketiga orang itupun telah meninggalkan Kediri. Dengan wajah tengadah Mahisa Bungalan yang berkuda di depan memandang jalan yang terbujur panjang membelah tanah persawahan. Meskipun ia tidak terbiasa melalui jalan itu, tetapi ia masih dapat mengenalinya. Sebagai orang pengembara, maka Mahisa Bungalan mempunyai ingatan yang kuat terhadap tempat-tempat yang memiliki ciri-ciri yang tersendiri meskipun tidak begitu jelas bagi orang lain.
Demikianlah, maka Mahisa Bungalan yang berkuda di paling depan telah membawa kedua orang yang tidak bedanya dengan orang tua sendiri itu, menuju kedaerah yang pernah dijelajahinya. Bukan pada saat-saat ia mencari Ki Dukut, tetapi ia membawa Mahisa Agni dan Witantra memintas jalan, menuju ke tempat-tempat yang pernah dijelajahinya sebelumnya.
Jaraknya memang tidak terlalu dekat Tetapi akhirnya ia membawa kedua orang pamannya itu menuju ke jalur jalan yang pernah dilaluinya membawa isteri Pangeran Kuda Padmadata dan Ki Wastu ke rumahnya sendiri.
“Kita kembali pulang?” bertanya Witantra yang merasa bahwa mereka menuju ke padukuhan tempat tinggal Mahisa Bungalan.
“Tidak paman” jawab Mahisa Bungalan,, “kita akan melampauinya dan menuju ke tempat yang pernah aku kenal sebagai jalur penjelajahan Ki Wastu selama ia berusaha menyelamatkan anak dan curunya, selagi mereka masih selalu dikejar-kejar oleh orang-orang yang ternyata adalah para pengikut guru dan adik Pangeran Kudapadmadata itu sendiri”
“Apakah kau manduga, bahwa Ki Dukut pun akan menelusuri jalan itu?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku tidak berpikir demikian paman. Tetapi memang ada satu kemungkinan, bahwa Ki Dukut yang untuk sementara kehilangan tujuan dan alas bagi langkah-langkahnya berikutnya, ia berjalan diluar kehendaknya melalui tempat tempat yang pernah dikenalnya. Meskipun mungkin hanya berdasarkan atas laporan-laporan pengikutnya saja” jawab Mahisa Bungalan.
Mahisa Agni dan Witantra tidak menyahut lagi. Tetapi ia mengerti, bahwa Mahisa Bungalan sendiri nampaknya telah dikendalikan oleh satu kenangan tersendiri pada saat ia berusaha menolong isteri dan anak Pangeran Kuda Padmadata itu.
Karena itu, keduanya mengikuti saja, jalan manakah yang dipilih oleh Mehisa Bungalan.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Bungalan telah dipengaruhi oleh kenangannya atas masa yang tidak dapat dilupakannya itu. Masa-masa yang tegang dan penuh dengan bahaya. Namun, yang lewat jalur kenangan itu, pada suatu saat ia akan sampai pada suatu tempat yang dikenalnya dengan baik. Padepokan Kenanga.
Tetapi rasa-rasanya ada keseganan untuk langsung menuju ke padepokan itu. Karena itu, maka ia pun telah memilih jalan seperti jalan yang pernah ditempuhnya, dengan arah yang berlawanan. Melingkar-lingkar, tetapi yang pada akhirnya akan sampai pula ke padepokan kecil itu.
Jalan yang sudah lama tidak pernah dilalui setelah ia melintasinya pada saat ia menyelamatkan isteri dan anak Pangeran Kuda Padmadata itu rasa-rasanya masih dikenalnya dengan baik seperti baru kemarin ia lewat di jalan itu pula. Jalan yang jika diikutinya dengan arah yang seperti ditempuhnya pada saat itu justru akan membawanya kembali kepadukuhannya di dekat Kota Raja. Sebenar nyalah waktu itu Mahisa Bungalan sudah tidak mempunyai gambaran yang lain untuk menyelamatkan isteri dan anak Pangeran Kuda Padmadata itu kecuali di rumahnya sendiri
Ketiga orang itu seolah-olah tidak merasa betapa matahari menyengat kulit. Bagaimana mereka kemudian mulai dibayangi oleh cahaya kemerah-merahan, ketika mata hari menjadi semakin rendah.
Sekali mereka berhenti disebuah kedai di dekat sudut padukuhan. Mereka melepaskan haus dan lapar. Tanpa menarik perhatian orang-orang yang berada di dalam kedai itu juga, maka mereka pun sempat berbicara tentang perjalanan Mahisa Bungalan pada masa yang lewat itu.
“Menegangkan sekali” desis Mahisa Bungalan tiba-tiba.
Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk. Agaknya Mahisa Bungalan telah menempuh satu perjalanan yang sangat berbahaya dan dengan mempertaruhkan nyawanya pula.
Namun dalam pada itu, rasa-rasanya Mahisa Agni pun telah terdorong untuk mengenang satu masa yang jauh lewat di belakang jalan hidupnya. Iapun telah menempuh pengembaraan hidup lahir dan batin yang penuh dengan bahaya dan dengan mempertaruhkan nyawanya pula. Meskipun dalam keadaan yang berbeda, tetapi ada pula beberapa kesamaan pengalamannya dengan pengalaman Mahisa Bungalan.
“Tetapi, anak itu tidak boleh menjadi putus asa seperti aku dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang laki-laki” berkata Mahisa Agni kepada diri sendiri,, “Mahisa Bungalan harus menemukan kesempurnaan hidup sebagai seorang laki-laki yang wajar. Ia akan dapat menjadi seorang ayah yang baik bagi anak-anaknya dan seorang suami yang baik pula bagi isterinya.
Tetapi Mahisa Agni tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Bahkan kemudian iapun telah berusaha untuk melepaskan kenangan tentang masa lampaunya itu.
Ketika langit menjadi semakin buram, maka pemilik kedai itupun segera bersiap-siap untuk menutup kedainya. Dengan demikian maka Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalanpun harus segera meninggalkan kedai itu pula.
“Demikian matahari terbenam, demikian kedai ini ditutup desis Mahisa Agni.
“Ya Ki Sanak” jawab pemilik kedai itu, “tidak akan ada seorang pun yang membelinya jika hari sudah gelap. Agaknya memang agak berbeda dengan keadaan di kota-kota jika Ki Sanak sering pergi ke Kota Raja”
“Tidak banyak berbeda” jawab Mahisa Agni.
“Tetapi ada juga kedai yang tetap dibuka meskipun sudah malam” sahut pemilik kedai itu, “aku pernah tinggal di Kota Raja hampir tiga pekan pada saudaraku yang tinggal di Kota Raja”
“O” Mahisa Agnilah yang kemudian mengangguk-angguk, “agaknya kamilah yang tidak terbiasa pergi ke Kota Raja”
Demikianlah setelah mereka membayar, maka bertiga mereka meninggalkan kedai itu. Namun mereka mendapat kesan bahwa daerah itu termasuk daerah yang tenang dan tidak banyak mendapat gangguan apupun juga. Sehingga karena itu, maka di tempat itu, mereka tidak akan dapat mendengar apapun juga tentang orang-orang yang melakukan kejahatan. Apalagi orang yang bernama Ki Dukut Pakering.
Dalam keremangan senja, ketiga orang itu masih berkuda terus di sepanjang jalan yang menjadi semakin gelap. Tetapi rasa-rasanya mereka sama sekali tidak menjadi cemas. Agaknya mereka sama sekali tidak menghiraukan seandainya mereka akan kemalaman diperjalanan.
“Kita akan berhenti ditempat yang dekat dengan air” berkata Witantra.
“Ya. Kita akan berhenti di dekat mata air, atau di dekat sebuah sungai” sahut Mahisa Agni.
Seperti yang mereka kehendaki, maka merekapun kemudian berhenti dipinggir sebuah sungai yang tidak begitu besar. Namun agar mereka tidak menarik perhatian orang lain, maka mereka telah menyimpang beberapa puluh langkah dari jalan, sehingga orang-orang yang lewat di jalan itu, tidak akan segera melihat ketiga orang yang bermalam di perjalanan itu.
Dan malam itu pun lewat tanpa terjadi sesuatu. Ketiga orang yang tidur bergantian itu, telah terbangun di dini hari, ketika mereka mendengar bunyi roda pedati yang berjalan di jalan beberapa puluh langkah dari tempat mereka beristirahat.
“Jalan itu ternyata merupakan jalan besar” desis Mahisa Agni.
“Ya” jawab Witantra,, “karena itu, kitapun harus segera bersiap-siap”
“Mereka tidak akan melihat kita disini” desis Mahisa Bungalan yang masih segan untuk bangkit.
Witantra dan Mahisa Agni tersenyum. Sementara itu Witantra pun berkata, “Kau benar Mahisa Bungalan. Kita memang tidak perlu tergesa-gesa. Perjalanan ini bukan perjalanan yang dibatasi oleh waktu, satu atau dua pekan”
Mahisa Bungalan pun menggeliat. Namun iapun kemudian bangkit sambil berdesis,, “Aku akan mandi”
Setelah bergantian mereka mandi disungai dalam dinginnya dini hari, maka rasa-rasanya tubuh mereka menjadi sangat segar. Kuda-kuda mereka pun telah cukup lama beristirahat dan cukup pula mendapatkan rumput yang segar di tepian.
Tetapi mereka tidak segera melanjutkan perjalanan. Jika mereka turun ke jalan, sebelum matahari terbit, justru akan menarik perhatian orang-orang yang dengan pedati membawa hasil bumi mereka ke pasar.
Dengan demikian mereka telah menunggu matahari naik. Baru kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka yang panjang.
Seperti dihari sebelumnya, perjalanan itu berlangsung tanpa terjadi peristiwa apapun juga. Nampaknya tanah yang mereka jelajahi memang termasuk daerah yang tenang.
Namun ketika menjelang senja, mereka singgah di sebuah kedai, ternyata nampak kesan yang berbeda pada pemilik kedai itu. Sebelum matahari merendah, rasa-rasanya pemilik kedai itu pun sudah menjadi gelisah. Sementara sudah tidak ada seorang pembelipun yang berada di kedai itu selain Mahisa Bungalan. Witantra dan Mahisa Agni.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agni yang merasakan kegelisahan itupun bertanya, “Apakah kedai ini sudah akan ditutup?”
“Ya Ki Sanak” jawab pemilik kedai itu.
“Masih terlalu siang begini?” bertanya Witantra.
Pemilik kedai itu termangu-mangu. Namun akhirnya ia pun mengangguk sambil menjawab, “Adalah kebiasaan kami untuk menutup kedai ini sebelum senja”
Mahisa Agni yang juga mengangguk kemudian bertanya,, “Apakah sudah tidak akan ada pembeli lagi setelah matahari turun seperti ini?”
“Tidak. Sudah jarang sekali ada orang yang keluar dari halaman rumahnya di saat terakhir ini” jawab pemilik kedai itu.
Jawaban itu memang menarik perhatian. Sehingga karena itu maka Mahisa Bungalan pun mendesaknya,, “Kenapa?”
Tetapi orang itu justru menjadi semakin gelisah. Tanpa menjawab pertanyaan Mahisa Bungalan ia berkata, “Kami sudah bekerja sepanjang hari. Kami sudah menjadi letih sekali”
Ketiga orang yang berada dikedai itu tidak dapat mendesaknya. Namun terasa, bahwa keadaan di padukuhan itu agak berbeda dengan padukuhan-padukuhan yang pernah mereka lalui.
Dalam pada itu, ketiga orang itu tidak ingin membuat pemilik kedai itu menjadi gelisah atau bahkan ketakutan. Karena itu, maka mereka pun segera meninggalkan kedai itu.
Tetapi, ternyata bahwa Mahisa Bungalan sangat tertarik dengan sikap pemilik kedai itu. Maka katanya kemudian kepada Mahisa Agni dan Witantra pada saat mereka meloncat ke punggung kuda, “ Menarik sekali. Apakah paman sependapat, bahwa kita meluangkan waktu untuk melihat semalam saja daerah yang nampaknya agak lain ini”
Mahisa Agni dan Witantra yang lebih banyak mengikuti saja kehendak Mahisa Bungalan itupun sama sekali tidak berkeberatan. Sambil mengangguk-angguk Witantra berkata,, “Nampaknya memang menarik. Kita akan melihat keseluruhannya”
Demikianlah, maka ketiga orang itupun kemudian mencari tempat untuk menyembunyikan kuda mereka. Sementara ketika hari sudah gelap, mereka merayap mendakati padukuhan yang agaknya sedang dipengaruhi oleh satu keadaan yang kurang baik itu.
Ternyata yang dilihat oleh ketiga orang itu cukup mengejutkan. Beberapa orang laki-laki nampak berada di gerbang padukuhan, sementara yang lain berada di gardu perondan.
“Ada apa?” desis Mahisa Bungalan.
Mahisa Agni menarik nafas dalam. Nampaknya orang orang itu benar-benar dalam kesiagaan sepenuhnya, ternyata mereka membawa beberapa macam senjata yang mereka miliki.
“Agaknya mereka menjadi curiga” berkata Mahisa Agni,, “mungkin pemilik kedai itu berceritera kepada tetangga-tetangganya, bahwa tiga orang berkuda berada di sekitar padukuhan ini”
“Apakah yang mereka maksudkan kita?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Aku hanya menduga Tetapi agaknya memang demikian. Pemilik kedai itu telah melaporkan kehadiran kita dan seisi padukuhan itupun segera bersiap-siap” jawab Witantra.
“Kita akan melihat, apa yang akan terjadi” desis Mahisa Bungalan.
Dengan demikian, maka ketiga orang itupun justru bersembunyi di balik sebatang perdu sambil menunggu perkembangan keadaan. Mereka sempat melihat, beberapa orang di antara mereka yang berada di regol itu meronda mengelilingi padukuhan mereka.
“Nampaknya setiap pintu gerbang di segala penjuru padukuhan ini telah dijaga” berkata Mahisa Bungalan,, “dan setiap gardu telah penuh dengan para penjaga”
Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk. Agaknya memang demikian. Karena itulah, maka mereka pun kemudian justru dengan sabar menunggu. Meskipun demikian, mereka masih juga sempat berbaring di atas rerumputan kering di balik gerumbul di dalam gelapnya malam, sehingga tidak ada orang yang melihat mereka.
Untuk beberapa saat ketiga orang itu menunggu. Malam yang gelap pun menjadi semakin dalam. Meskipun bintang bergayutan di langit, namun mereka tidak dapat melihat pedukuhan yang tidak terlalu jauh itu dengan jelas, kecuali obor di regol dan gardu-gardu.
Tiba-tiba saja Mahisa Bungalan yang tidak puas dengan penglihatan itu berkata,, “Aku akan mendekati regol itu. Mungkin aku dapat mendengar pembicaraan mereka, kenapa mereka bersiap-siap seperti ini. Apakah hal ini dilakukannya setiap hari atau benar-benar karena kehadiran kita bertiga”
“Kita dapat menunggu di sini” berkata Mahisa Agni.
“Aku tidak sabar” desis Mahisa Bungalan.
“Tetapi berhati-hatilah” pesan Witantra,, “janganlah kita yang mulai dengan persoalan yang tidak menentu ini”
Mahisa Bungalan mengangguk. Kemudian ia pun mulai merayap mendekati regol padukuhan.
Sebenarnyalah Mahisa Bungalan memang memiliki kelebihan. Tidak seorang pun yang melihat dan mendengar kehadirannya. Dengan diam-diam ia berhasil berada tidak terlalu jauh dari regol yang dijaga oleh beberapa orang itu.
Beberapa saat lamanya Mahisa Bungalan mendengarkan percakapan orang-orang di regol itu. Meskipun tidak begitu jelas, namun Mahisa Bungalan berhasil menangkap beberapa persoalan, sehingga dari satu pembicaraan ke pembicaraan yang lain, ia pun akhirnya dapat mengambil kesimpulan.
Dengan hati-hati ia pun kemudian meninggalkan regol itu kembali kepada Mahisa Agni dan Witantra yang menunggunya. Kepada mereka iapun berceritera,, “Paman. nampaknya bukan kita saja yang telah mereka curigai. Beberapa hari yeng lalu, seseorang telah di rampok di tengah bulak. Sesudah itu, empat orang perampok telah memasuki rumah seseorang yang dianggap cukup kaya di padukuhan itu. Kemudian siang tadi mereka melihat dua orang berjalan kaki yang mencurigakan, sementara itu, mereka pun mengatakan bahwa tiga orang berkuda dan yang telah berhenti di kedai itupun sangat menarik perhatian mereka.
“Bukankah benar dugaanku” berkata Witantra, “mereka memang mencurigai kita”
“Tetapi ada yang lain. Dua orang pejalan kaki yang mereka sangka adalah kawan-kawan kita juga” sahut Mahisa Bungalan.
“Jika demikian, kita memang harus menunggu. Mungkin menjelang tengah malam kita akan melihat sesuatu” berkata Mahisa Agni.
Mereka bertiga pun kemudian kembali di tempatnya. Mahisa Bungalan telah berbaring di atas rerumputan kering, sementara Mahisa Agni dan Witantra duduk sambil memeluk lutut. Nyamuk yang jarang terdengar berdesing di telinga mereka tanpa henti-hentinya, sementara lamat-lamat di kejauhan terdengar suara kentongan dengan nada dara muluk.
“Tengah malam” desis Mahisa Bungalan,, “begitu cepatnya”
“Kita sudah cukup lama berada di tempat ini” sahut Mahisa Agni,, “namun aku masih juga ingin menunggu sampai cahaya fajar nampak di langit”
Witantra dan Mahisa Bungalan pun sependapat. Mereka akan menunggu sampai menjelang dini hari. Bahkan Mahisa Bungalan pun berkata, “Agaknya jika malam ini tidak terjadi apa-apa, malam besokpun kita akan dapat melihat barang semalam lagi”
Kedua pamannya tidak menjawab. Tetapi agaknya mereka pun sependapat.
Demikianlah mereka bertiga menunggu. Rasa-rasanya memang sangat menjemukan. Apalagi nyamuk menjadi semakin buas disekitar mereka.
Dalam pada itu, selagi Mahisa Bungalan mulai merasa kantuk, tiba-tiba saja mereka telah mendengar desis beberapa orang yang lewat tidak terlalu jauh dari tempat mereka bersembunyi. Karena itu, maka Mahisa Bungalan yang berbaring itu pun segera bangkit dan membenahi dirinya dibalik gerumbul perdu bersama kedua orang pamannya.
“Sekelompok” desis Mahisa Agni,, “tidak hanya dua atau tiga orang”
Witantra mengangguk-angguk. Dalam keremangan malam mereka melihat sekelompok orang lewat menelusuri jalan kecil menuju kepadukuhan disebelah.
Namun tiba-tiba langkah mereka tertegun. Salah seorang di antara mereka berkata, “He. kau lihat obor itu?”
“Ya. Obor yang dipasang di regol. Mungkin digardu” jawab yang lain.
“Dan kau lihat orang yang hilir mudik di regol itu?” bertanya orang yang pertama itu pula.
“Mereka adalah peronda-peronda” jawab yang lain
“Aku kira bukan sekedar peronda-peronda” desis yang lain pula.
Akhirnya merekapun melihat beberapa orang yang berada di regol. Namun seorang di antara mereka berkata,, “Biar sajalah semua orang di padukuhan itu berjaga-jaga. Aku memang sudah menduga. Setelah terjadi satu dua kali peristiwa, maka mereka akan menjadi sangat berhati-hati. Karena itu, maka aku membawa kalian semuanya beserta aku sekarang”
Tidak ada lagi yang menjawab. Tetapi sekelompok orang itu masih tetap berdiri diam sambil memandangi padukuhan yang telalj dijaga oleh setiap orang laki-laki di segala penjuru dan disemua jalan-jalan masuk.
“Lihat” berkata pemimpinnya,, “tetapi hati-hati. Apa yang telah mereka persiapkan. Kita harus membuat perhitungan secukupnya”
Dua orang di antara mereka pun kemudian berjalan mendekati regol. Seperti Mahisa Bungalan, mereka pun merayap dengan diam-diam untuk, “melihat, apa yang telah dilakukan oleh orang-orang di padukuhan itu.
Sementara itu Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan masih harus mengatur diri, agar orang-orang itu tidak mengetahui kehadiran mereka dibalik gerumbul perdu itu.
Sejenak kemudian, maka kedua orang yang melihat-lihat regol itu pun telah kembali kedalam kelompok mereka. Seperti yang diceriterakan oleh Mahisa Bungalan, ternyata mereka pun melihat kesiagaan penghuni padukuhan itu.
“Aku tidak peduli” berkata pemimpinnya. Dan katanya kemudian,, “Kita akan memasuki pedukuhan itu dengan meloncati dinding. Kita tidak akan memasuki regol yang manapun juga. Bahkan kita akan dengan mudah memasuki rumah yang tentu sudah ditinggalkan oleh setiap penghuni laki-lakinya. Kita akan dapat mengambil apa saja yang kita inginkan di rumah itu”
“Bagus” desis yang lain,, “kita akan meloncati dinding padukuhan disebelah Timur yang banyak terlindung oleh rumpun-rumpun bambu yang lebat”
“Kau tahu betul?” bertanya pemimpinnya.
“Siang tadi aku mengelilingi seluruh padukuhan itu” jawab kawannya.
“Nampaknya mereka telah mencurigaimu. Ternyata malam ini seisi padepokan itu telah bersiap-siap” gumam pemimpinnya.
“Tetapi bukankah hal itu tidak penting? Seandainya mereka melihat kita, maka kita akan menghancurkan mereka. Dan kita akan dapat merampok bukan saja seisi rumah, tetapi seisi padukuhan itu”
“Gila. Agaknya hal itu memang mungkin kita lakukan. Tetapi tidak ada gunanya melawan seisi padukuhan itu. Dengan demikian di antara kita pun tentu akan jatuh korban Kecuali jika terpaksa. Itu pun akan kita. lakukan sambil menarik diri” jawab pemimpinnya, yang katanya pula, “Agaknya kita masih harus berpikir untuk memberikan korban terlalu banyak. Jika kita masih cukup mempunyai bekal, tiba-tiba saja Rajawali Penakluk itu datang lagi, maka kita akan kehilangan segala-galanya”
Mahisa Agni yang mendengar kata-kata itu telah menggamit Witantra dan Mahisa Bungalan. Keduanya pun mengangguk kecil. Ternyata mereka sependapat, bahwa orang-orang ilu tentu bekas pengikut Rajawali penakluk yang telah kehilangan ikatan, justru karena Rajawali Penakluk itu telah meninggalkan mereka.
“Mereka semua telah berjanji untuk tidak melakukan kejahatan lagi” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya, “Namun ternyata mereka telah kembali kepada pekerjaan gila itu”
Namun ketiga orang itu masih tetap menunggu. Merekapun kemudian melihat sekelompok perampok itu bersiap-siap untuk memasuki padukuhan itu dengan meloncati dinding padukuhan di sebelah Timur, yang menurut salah seorang dari mereka, dilindungi oleh rimbunnya rumpun bambu yang lebat.
“Kita akan mengikuti mereka” bisik Mahisa Agni
Witantra dan Mahisa Bungalan mengangguk. Mereka pun segera bersiap-siap pula. Ketika kelompok itu mulai bergerak, maka ketiga orang itupun bergerak pula.
Tetapi Mahisa Agni. Witantra dan Mahisa Bungalan harus bertindak dengan sangat berhati-hati. Mereka tidak boleh terjebak dan diketahui oleh orang-orang itu. Dengan demikian, maka persoalannya akan berkisar, dan merekalah yang harus bertempur melawan sekelompok orang yang belum mereka ketahui tingkat kemampuannya
Seperti yang mereka rencanakan, maka sekelompok orang itupun telah menu]u ke bagian Timur padukuhan penghuni-penghuninya yang sibuk menjaga regol-regol padukuhan mereka. Tetapi mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa sekelompok orang telah berusaha memasuki padukuhan itu dengan meloncati dinding.
Ternyata bahwa orang-orang itu berhasil mendekati dinding disebelah Timur padukuhan itu tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang mengawal padukuhan itu. Laki-laki yang hilir mudik di rnuka pintu gerbang di segala penjuru dan mereka yang berada di gardu-gardu tidak mengetahui, sekelompok orang yang dengan hati-hati telah memanjat dinding dan meloncat masuk diantara rumpun-rumpun bambu yang cukup lebat.
“Kitapun akan meloncat masuk” desis Mahisa Agni
“Tetapi tidak tepat pada tempat mereka meloncat” sahut Witantra.
“Ya” jawab Mahisa Agni, “kita meloncat beberapa langkah di sebelahnya”
Dengan hati-hati ketiga orang itu sudah mendekati dinding itu pula. Ketika orang terakhir telah meloncat, maka ketiga orang itu pun telah berusaha untuk meloncat masuk pula.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar