18
PERMINTAAN YANG SUSAH DITOLAK
"Hoca, apakah Hoca membiarkan mereka bicara seenaknya seperti itu?. Ijinkan saya membuat perhitungan dengan mereka, agar mereka tidak seenaknya menyindir dan merendahkan kita."
Paman Hulusi berbicara dengan mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan mulutnya ke telinga Fahri.
"Tahan emosimu Paman. Jika Paman meledakkan kemarahan, maka Paman masuk ke perangkap mereka. Memang itu yang mereka inginkan. Dan itu berarti Paman benar-benar bodoh seperti keledai, persis seperti yang mereka sindirkan itu. Sudah kita pura-pura tidak tahu saja, meskipun kita tahu."
"Jadi kita diam saja tidak melakukan apa-apa atas penghinaan itu? Itu mereka menyindir-nyindir kita, Hoca."
"Kita pasti melakukan sesuatu Paman. Tapi bukan sesuatu yang bodoh seperti yang mereka harapkan."
"Apa itu Hoca?"
"Menyadarkan diri sendiri dan menyadarkan umat ini agar tidak jadi keledai yang bodoh! Sudah paman duduk saja. Mereka biar saya yang urus!"
"Kalian sedang membicarakan apa? Tampaknya serius?" Tanya Brenda yang memperhatikan Fahri dan Paman Hulusi berbincang dengan bahasa Turki. Brenda tampak tidak memahami pembicaraan mereka
berdua. Sementara Sabina hanya diam memperhatikan dengan seksama.
"Ah tidak, sesuatu yang tidak penting. Mari kita teruskan makan minumnya." Sahut Fahri sambil kembali menyeruput teh hangatnya.
Sementara Baruch dan ketiga temannya masih terus membincangkan kebodohan musuh-musuh mereka yang mereka sebut sebagai kaum amalek. Fahri yang sangat tersindir dengan perbincangan mereka berusaha kuat untuk menahan diri.
Tiga puluh menit kemudian, setelah semua selesai makan dan minum, perbincangan juga dirasa cukup.
Brenda bangkit mengajak Fahri pulang. Fahri bangkit hendak keluar, ia berbelok ke meja Baruch. Fahri memperkenalkan dirinya dengan singkat dan memberikan kartu namanya.
"Saya Fahri, pengajar di The University of Edinburgh. Maaf tadi kalian memperbincangkan kaum yang kalian sebut amalek. Mohon maaf, pandangan kalian itu tidak benar, bahkan boleh dikatakan picik.
Saya siap berdiskusi dengan kalian tentang konsep amalek kalian itu kapan saja. Jika kalian berminat bisa kontak saya. Terima kasih."
Baruch dan teman-temannya diam seribu bahasa dan tampak kaget dengan keberanian dan keterusterangan Fahri. Kata-kata Fahri itu seperti tantangan yang dahsyat untuk mereka. Fahri bergegas melangkah menuju pintu keluar.
"Sebentar!" Teriak Baruch.
"Iya." Fahri membalikkan badannya dan memandang Baruch.
"Bukankah kau orang yang menolong Catarina di Stoney Hill itu?"
"Benar, Tuan Baruch. Itu saya."
"Okay, okay. Aku tahu dimana harus menemuimu." Kata Baruch dengan tegas, nadanya mengancam.
"Dengan senang hati, saya menunggu kedatangan Tuan Baruch jika mau mememuiku di Stoney Hill Grove. Ada yang lain Tuan Baruch?
"Tidak."
Fahri lalu berjalan cepat ke pintu. Di pintu Paman Hulusi tampak menunggu dengan waspada.
Pandangan mata Paman Hulusi sempat beradu dengan mata Baruch.
"Sudah Paman, mari pulang!" Lirih Fahri.
"Iya Hoca."
Fahri dan Paman Hulusi hilang dari pandangan Baruch. Anak tiri nenek Catarina itu tampak gusar dan menahan emosi.
"Mereka harus diberi pelajaran! Baruch tidak boleh ditentang!" Rahang Baruch mengeras.
"Dia tampak terdidik. Ya tentu saja pengajar di The University of Edinburgh pasti telah melalui seleksi. Jadi tampaknya dia bukan jenis summun bukmun 'umyun." Gumam Samuel, si wartawan teman Baruch.
"Saya malah penasaran. Apa yang diketahuinya tentang amalek?" Sahut Benyamin.
"Tampaknya dia merasa tersindir ketika kita menyebut keledai-keledai bodoh itu sebagai amalek." Tukas Samuel.
"Dia salah besar memberikan tantangan kepada kita. Aku bersumpah sebentar lagi amalek-amalek itu akan jadi gembel disini." Geram Baruch.
"Aku menunggu apa yang akan terjadi dan siap memberitakannya." Samuel menukas santai sambil menuangkan wisky merah ke dalam gelasnya. Sementara Benyamin dan teman satunya mengangguk-angguk seolah mengamini kata-kata Baruch yang mewakili perasaan mereka.
Saat membuka pintu rumah, Fahri mendapati nenek Catarina tertidur di sofa sambil memeluk sebuah buku. Fahri mendekati nenek Yahudi yang sudah berkeriput itu dan dengan lembut membangunkannya.
Paman Hulusi langsung masuk ke kamarnya. Misbah langsung masuk kekamar kecil menuntaskan hajatnya yang telah ia pendam sepanjang perjalanan. Sementara Sabina berdiri dekat dapur sambil memperhatikan apa yang dilakukan orang yang menolong dan memberikan tumpangan kepadanya.
"Nenek bangun, Nek." Fahri menggugah pelan.
Nenek Catarina membuka kedua matanya.
"Kalian sudah pulang?"
"Iya Nek. Kami baru saja pulang. Nenek sudah makan malam? Sudah diminum obatnya?"
"Oh my God, belum. Saya ketiduran, saya baca novel ini tadi. Eh ketiduran."
"Nenek masih mau makan pizza, atau mau dibuatkan tomato soup?"
"Siapa yang mau membuatkan tomato soup? Kalian semua pasti sudah letih dan ingin segera istirahat."
Fahri melihat ke arah Sabina. Sepertinya Sabina memahami maksud Fahri memandang dirinya. Sabina mendekat.
"Kalau nenek Catarina mau tomato soup, Sabina akan buatkan. Nanti bisa makan dengan roti tawar yang ada itu. Segar Nek." Ucap Sabina dengan suara serak.
"Baiklah, kalau kau tidak lelah Sabina, aku mau tomato soup."
"Baik. nenek tunggu sepuluh menit. Tomato supnya segera siap. Sekalian nenek mau minum apa?"
"Susu cokelat panas ya?"
"Baik Nek, tungggu jangan tidur dulu." Jawab Sabina serak seraya bergegas ke dapur. Fahri mengamati sekilas cara jalan Sabina. Cara jalan itu mengingatkan pada seseorang, tapi cepat-cepat ia tepis dari ingatannya. Fahri melangkah menyusul Sabina.
"Sabina."
"Iya, Tuan."
"Setelah nenek Catarina selesai makan, pastikan minum obatnya. Lalu tanyakan apa keperluannya dan tolong antar dia pelan-pelan untuk tidur di kamarnya. Aku tinggal naik keatas."
"Baik, Tuan." Sabina memandang kedua mata Fahri lalu menunduk. Pandangan mereka berdua beradu sesaat. Bola mata itu membuat Fahri berdesir sesaat namun wajah buruk Sabina itu menghapus segalanya.
Fahri naik ke lantai dua dan memasuki kamarnya untuk istirahat. Setelah mengambil air wudhu ia merebahkan badannya di kasur. Wajah Baruch dan teman-temannya terbayang. Ejekan dan sindiran mereka yang sangat merendahkan umat Islam terngiang-ngiang.
Namun Fahri segera membuang bayangan itu. Terlalu mulia wajah Baruch untuk hinggap lama di dalam benaknya. Ia teringat ia belum
merampungkan wiridnya. Masih kurang satu juz muraja‘ah hafalan Qur‘annya. Di tengah rasa letih yang menderanya, sambil rebahan Fahri mulai melantunkan surat Hud dengan lirih. MenjeIang selesai, Fahri terlelap.
Tiba-tiba ponselnya berdencit-dencit. Fahri terbangun dan meraih ponselnya. Ia lihat dilayar, dari Eqbal Hakan Erbakan. Itu paman Aisha, Eqbal menikah dengan bibi Aisha. Fahri mengangkat panggilan itu.
"Halo."
"Halo. Fahri?"
"Iya ini Fahri, Paman Eqbal."
"Oh alhamdulillah. Assalamu‘alaikum."
"Wa‘alaikumussalam."
"Belum tidur?"
"Tadi sudah. Terbangun oleh panggilan telpon Paman."
"Oh maaf kalau mengganggu."
"Tidak apa. Ada apa Paman?"
"Saya dan Syaikh Utsman ini baru tiba di Glasgow. Kami baru saja keluar dari pesawat. Ini sedang menunggu bagasi."
"Paman sama Syaikh Utsman?"
"Iya."
"Masya Allah. kenapa Paman tidak memberi tahu? Apa saya harus meluncur ke Glasgow sekarang?"
"Tidak usah. Saya sudah pesan hotel di Glasgow. Malam ini kami nginap di Glasgow. Besok kami meluncur ke Edinburgh pakai kereta."
"Ah Paman selalu begitu. Coba Paman beritahu, Fahri akan jemput di bandara. Paman dan Syaikh Utsman bisa naik mobil ke Edinburgh."
"Syaikh Ustman yang minta tidak merepotkan kamu."
" Syaikh Utsman selalu begitu. Beliau kesini dalam rangka apa?"
"Katanya datang khusus ingin menemuimu."
"Datang untuk menemui aku?"
"Iya."
" Masya Allah. Kalau Syaikh Ustman memanggilku ke Mesir untuk menemuinya aku pasti datang Paman. Syaikh Utsman tidak perlu bersusah payah ke sini untuk menemuiku."
"Tapi kenyataannya memang begitu."
"Kenapa beliau ingin menemuiku Paman?"
"Itu yang aku tidak tahu. Besok saat jumpa pasti kau akan tahu."
"Ah jadi penasaran. Besok sampai di Edinburgh jam berapa?"
"lnsya Allah sampai di stasiun Waverly jam 12 siang."
"Baik, besok Fahri jemput. Kita langsung makan siang dan shalat dhuhur di Masjid Pusat Edinburgh."
"Baik, sampai jumpa besok insyaAllah. Selamat istirahat kembali. Mohon maaf jika mengganggu.
Assalamu‘alaikum."
"Wa‘alaikumussalam."
Paman Eqbal menutup panggilannya. Fahri termenung sambil duduk di pinggir kasurnya. Rasa lelah dan rasa ngantuknya seperti hilang seketika. Ia tiba-tiba didera rasa penasaran luar biasa. Kenapa Syaikh Utsman sampai memaksakan diri menempuh perjalanan sedemikian jauh dari Mesir, mungkin ke
Istanbul dulu, baru ke Edinburgh, untuk menemuinya? Ada apa? Seperti apa wajah Syaikh Ustman, setelah sekian tahun tidak berjumpa dengannya? Rasa kerinduan yang luar biasa itu tiba-tiba menyergap.
Bayangan indah dulu di Mesir talaqqi pada Syaikh Ustman seketika terpapar di pelupuk mata. Juga kenangan indah saat pertama kali bertemu Aisha dirumah Syaikh Ustman. Saat pertama kali melihat wajah cantik Aisha yang saat itu begitu bercahaya saat pelan-pelan melepas cadarnya.
"Ya Allah, rahmatilah Syaikh Ustman dan semua guruku ya Allah. Aamiin." Lirih Fahri.
Tiba-tiba samar-samar terdengar suara serak perempuan melantunkan ayat-ayat suci Al Qur‘an. Fahri mendengarkan dengan seksama. Beberapa jurus kemudian, sayup-sayup terdengar suara biola digesek dengan indah menyayat. Fahri langsung bisa memastikan itu adalah Keira. Biasanya Fahri akan menikmati suara biola yang jernih itu, namun kali ini ia merasa terganggu.
Entah kenapa nurani terdalamnya begitu tertarik untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al Qur‘an meskipun dengan suara serak. Namun suara biola itu mengganggu konsentrasinya mendengarkan lantunan tilawah itu.
Fahri bangkit dan mengambil earphone di laci mejanya. Ia menyalakan murattal yang ada diponselnya lalu memasang earphone dan merebahkan tubuhnya sambil mendengarkan suara Syaikh Mahmud Khushori membaca Al Qur‘an. Fahri kembali terlelap.
Mereka hanya bertiga di dalam ruangan hotel itu. Fahri, Eqbal Hakan Erbakan dan Syaikh Utsman. Eqbal Hakan Erbakan telah memesankan presiden suite untuk Syaikh Ustman di The Roxburghe Hotel yang
terletak di Charlotte Square, Edinburgh. Kini mereka ada diruang tamu kamar Syaikh Utsman. Mereka telah makan siang di Restaurant Beirut yang berada di Nicolson Square. Restaurant halal yang menjuluki dirinya, "The best halal food and service ever in Edinburgh!"
Mereka juga telah shalat dhuhur di Edinburgh Central Mosque. Setelah itu mereka ke The Roxburghe.
Dan setelah check in, Syaikh Utsman minta Fahri dan Eqbal ke kamarnya untuk membicarakan hal terpenting dalam kunjungannya ke lnggris Raya.
Fahri menatap wajah gurunya dengan penuh takzim, cinta dan kasih sayang. Wajah yang sudah berkeriput namun memancarkan keteduhan dan kedamaian. Jenggotnya yang telah memutih membuat pemiliknya semakin berwibawa dan anggun.
"Kedatanganku ke negeri ini, untuk memenuhi undangan tiga imam masjid. Pertama imam masjid Edinburgh. Undangannya dua hari lagi. Aku sengaja datang lebih awal dan mengajak Eqbal agar bisa berjumpa denganmu Fahri.
Kedua imam masjid Manchester. Dan ketiga Imam masjid East London. Semuanya terkait dengan Al Qur'an. Namun yang paling penting adalah karena aku ingin menemuimu dan mau meminta sesuatu darimu."
"Apa itu Syaikh? Masya Allah, kalau meminta sesuatu padaku cukuplah perintahkan kepadaku untuk menghadap Syaikh, jika tidak ada halangan, Fahri pasti datang menjumpai Syaikh. Tidak perlu Syaikh yang repot menemuiku. Apa yang bisa Fahri lakukan untuk Syaikh?"
"Aku berharap ini tidak memberatkanmu. Aku sangat berharap kau tidak menolaknya."
"lnsya Allah, Syaikh, jika aku mampu."
"Aku sangat yakin, kamu mampu, hanya saja masalahnya adalah apakah kamu mau."
"Kalau Syaikh melihat aku mampu, insya Allah aku juga mau selama itu baik."
"Baiklah. Dengarkan baik-baik anakku. Aku punya seorang cucu perempuan ..."
Begitu Fahri mendengar Syaikh Ustman mengatakan cucu perempuan, hati Fahri langsung berdesir hebat.
"Dia sangal terjaga akhlak dan agamanya sejak kecil. Dia selalu tiga terbaik di sekolahnya, dan hafal Al Qur‘an sejak usianya 11 tahun. Dia menyelesaikan masternya di Kuliyyatul Banat, jurusan Syariah. Tapi nasibnya kurang beruntung. Empat tahun yang lalu ia menikah dengan seorang pria dari Manoufia. Ternyata pria itu yang awalnya baik, perangainya berubah. Suka berlaku kasar dan semena-mena.
Puncaknya pria itu mematahkan tangan kirinya dalam sebuah pertengkaran. Sejak itu dia minta cerai. Ia merasa tidak bisa bersabar. Ia khawatir jika pernikahannya dilanjutkan maka agamanya akan hilang dalam dirinya. Setelah cerai, cucuku itu menghibur dirinya dengan melanjutkan sekolah. la mengambil Ph.D hukum Islam di Durham University, sejak dua tahun yang lalu. Tiga bulan yang lalu dia pulang ke Mesir untuk liburan dan mengambil data-data risetnya.
Dia minta tolong kepada kedua orang tuanya untuk mencarikan jodoh. Lelaki yang mematahkan tangannya itu kebetulan bukan pilihan orangtuanya, tapi pilihan dirinya sendiri, saudara lelaki seorang temannya. Ia merasa kapok jika harus memilih sendiri. Ia ingin dicarikan dan dipilihkan oleh orang tuanya.
Kedua orang tuanya angkat tangan dan meminta dia datang kepadaku. Dan ia meminta kepadaku dicarikan lelaki yang shalih yang halus budi pekertinya dan bertanggungjawab. Entah kenapa, aku langsung terpikir dirimu. Aku ingin kau mau menikahinya!"
Kata-kata Syaikh Ustman itu, meskipun pelan dan tidak keras, namun membuat Fahri tersentak. Dadanya bergemuruh hebat.
"Tapi Syaikh, aku masih sangat mencintai Aisha dan tidak bisa melupakan Aisha."
"Aku tahu itu. Justru karena itu aku memilihmu. Karena kau setia pada istrimu. Dulu, Rasulullah saw. juga begitu tidak bisa melupakan Khadijah. Bahkan ketika sudah menikah dengan A‘isyah pun beliau tetap memuji-muji kebaikan Khadijah sehingga A‘isyah cemburu.
Namun begitu, Rasulullah saw tetap bisa membangun rumah tangga dengan sangat harmonis bersama A‘isyah dan istri-istrinya yang lain.
Aku sangat yakin, meskipun kau sangat mencintai Aisha dan tidak bisa melupakannya, nanti kau akan bisa mencintai Yasmin. Ya cucuku itu namanya Yasmin. Kalaupun kau tidak bisa mencintai Yasmin seperti kau mencintai Aisha, aku sangat yakin karena agama dalam dadamu kau akan tetap menyayangidan memuliakan Yasmin sebagai istrimu, jika kau menikah dengannya. Aku melihat Yasmin itu kufu denganmu. Dia telah hafal Al Qur‘an, dan kira-kira satu tahun lagi dia akan selesai Ph.Dnya."
"Tapi kelihatannya aku tidak akan hidup di Mesir. Syeikh."
"Aku tahu itu. Aku sudah bicara dengan Yasmin dan dia siap ikut suaminya berdakwah di mana saja. Di tengah hutan sekalipun dia siap mendampingi suaminya berdakwah.
Jika kau pulang ke Indonesia, dia memang belum bisa bahasa Indonesia. Tapi bahasa Inggris dan Arabnya semoga bermanfaat dan menolongnya.
Dia pembelajar yang cepat. Masih muda, lima bulan lagi baru 28 tahun. Dan menurutku, dia adalah cucuku yang paling cantik. Tapi masalah cantik itu relatif. Ini aku bawakan DVD, rekaman saat dia mempertahankan tesis masternya di Kuliyyatul Banat. Kau bisa melihatnya."
Syaikh Ustman mengeluarkan sekeping DVD dari tas kecilnya dan memberikannya kepada Fahri. Tangan Fahri bergetar, ia ragu mengambil DVD itu. Syaikh Utsman memegang tangan kanan Fahri dengan tangan kirinya dan memberikan DVD itu dengan tangan kanannya dengan mantap. Fahri tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Fahri menoleh ke arah Eqbal seolah mencari pendapat. Eqbal malah mengangguk
sambil tersenyum.
"Lihatlah DVD itu dengan seksama. Lalu istikharahlah. Ingat anakku, aku sama sekali tidak memaksamu untuk menerima Yasmin. Kalau kau benar-benar tidak cocok, benar-benar wajahnya, suaranya, dan apa yang ada dalam diri Yasmin tidak bisa kau sukai, maka kau boleh menolaknya. Namun kau juga perlu
ingat, jika lelaki shalih datang melamar seorang gadis dan tidak ada alasan syar‘i untuk menolaknya maka gadis itu tidak boleh menolaknya. Sesungguhnya hadits itu menurutku juga bermakna sebaliknya, jika ada gadis shalihah datang meminta untuk dinikahi dan tidak ada alasan syar‘i untuk menolak maka tidak boleh ditolak. Yasmin memang sudah bukan gadis lagi, tapi aku berharap ia adalah perempuan shalihah yang layak diterima bukan ditolak.
Inilah inti kedatanganku ke Edinburgh ini. Jika kau sudah ada jawaban sebelum pulang maka aku akan lebih senang. Lebih senang lagi jika jawaban itu adalah lampu hijau, sehingga aku bisa mengatur pertemuan kalian. Yasmin saat ini ada di Durham. Dan dia akan menyertaiku saat aku ada di London insya Allah."
Fahri menunduk, kedua matanya berkaca-kaca. Dadanya bergemuruh. Wajah Aisha ada dipelupuk matanya. Dalam hati ia berkata,
"Di mana kau Aisha? Jika kau ada, aku tidak akan mengalami hal rumit seperti ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang, Aisha?"
******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar