PANASNYA BUNGA MEKAR : 19-02
“He, apakah artinya ini?” ia bertanya.
Yang terjagalah yang menjawab “Biarlah mereka tidur Ki Buyut”
“Jadi kalian sama sekali tidak menjaga tawanan itu?” bertanya Ki Buyut pula.
“Ada beberapa orang yang tetap berada di serambi” jawab orang itu.
Ki Buyut berpaling ke serambi. Ia memang melihat tiga orang yang duduk berselimut kain panjang. Nampaknya mereka masih terlalu malas untuk bangkit dari ambennya. Sementara seorang yang lain berjalan hilir mudik di longkangan. Nampaknya mereka mengatur diri untuk bergantian bersiaga sepenuhnya.
“Suruh orang itu berhenti” desis Ki Buyut “sikap itu berlebih-lebihan. Yang harus kalian jaga adalah seorang yang berada di dalam bilik itu, sementara yang lain berjaga-jaga, jika ada kawan-kawannya yang akan berusaha membebaskannya dengan kekerasan.”
Orang-orang yang berada di pendapa itupun hampir bersamaan bangkit. Tetapi Ki Buyut kemudian berkata, “Suruh kawan-kawanmu bangun dan berapa orang yang berjaga-jaga di belakang gandok? Biarlah mereka beristirahat dan orang-orang yang bangun itu harus menggantikan mereka”
“Di belakang gandok?” tiba-tiba seseorang bertanya.
“Ya. Siapa yang berada di belakang gandok itu?” desak Ki Buyut.
“Tidak ada. Tetapi dua orang di antara kami selalu mengelilingi seluruh halaman ini. Tentu saja tidak ketinggalan pengawasan di belakang gandok itu pula” jawab salah seorang dari mereka.
“Bagaimana jika ada kawan-kawannya yang berusaha membebaskan orang itu lewat belakang?” bertanya Ki Buyut.
“Tidak Ki Buyut” jawab orang itu “dua kawan kami berada di regol belakang. Biasanya kami tidak menempatkan orang-orang khusus di regol belakag, selain sekedar diawasi oleh mereka yang meronda berkeliling”
“Ya. Malam ini keadaan menjadi gawat. Apalagi setelah ada seorang tawanan di rumah ini” berkata Ki Buyut. Lalu, “ Baiklah. Aku hanya ingin meyakinkan, bahwa kalian tidak lengah. He, siapakah yang malam ini seharusnya memang bertugas ronda?”
“Diantaranya mereka yang berada di serambi itu Ki Buyut” jawab orang yang ditanya “ termasuk dua orang yang bertugas di regol butulan itu
Ki Buyut mengangguk-angguk. Lalu bertanya, “Sudahlah. Aku akan mandi. Aku bangun kesiangan. Tetapi aku baru dapat tidur sekejap, sementara satu kakiku masih tergantung di bibir amben”
Ki Buyut pun kemudian melangkah kembali ke pintu-pringgitan. Ketika ia hilang di balik pintu, maka orang-orang yang berada di pendapapun bergumam “Ki Buyut terlalu berhati-hati. Apa yang dapat dilakukan oleh seorang yang sudah terikat tangannya pada sebuah tiang?”
“Sudah sewajarnya. Orang yang semakin tua seperti Ki Buyut itu akan menjadi semakin bethati-hati dan selalu kecemasan” jawab kawannya.
Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Namun mereka pun segera membangunkan kawan-kawan mereka yanng tertidur.
“Sebagian dari kita akan pulang. Hari sudah siang. Kita akan mengatur, bagaimana kita akan menjaga orang itu sebelum Ki Buyut mengambil keputusan untuk menghukum orang itu atau menyerahkan kepada Akuwu” berkata salah seorang dari mereka.
“Kita akan tetap pada hari-hari perondaan kita masing-masing” jawab kawannya. Tidak sulit menjaga orang yang terikat kaki dan tangannya”
“Tetapi bukankah pada saat-saat tertentu, orang itu harus makan minum dan mungkin ke pekiwan? Bukankah diperlukan orang-orang khusus untuk menjaganya?” jawab orang yang pertama.
Kawannya mengangguk-angguk. Bahkan iapun kemudian bertanya “Bagaimana dengan kawan-kawannya yang masih kita tinggalkan di padukuhan yang sedang kacau itu?
“Pada saatnya mereka pun akan dibawa kemari setelah pemeriksaan atas pimpinan mereka ini selesai dan Ki Buyut akan dapat mengambil keputusan” jawab yang lain.
Demikianlah orang-orang itupun telah mengatur diri. Pada dasarnya tidak ada perubahan saat-saat parondan seperti yang biasa mereka lakukan. Namun dalam keadaan yang gawat itu, maka setiap malam di halaman rumah Ki Buyut itu akan ditambah dengan empat orang peronda selama tawanan itu masih berada di rumah Ki Buyut siang dan malam.
“Tidak lama. Mungkin hanya selama empat atau lima hari orang itu sudah akan menerima hukumannya. Mungkin di Kabuyutan ini, mungkin dari tempat Akuwu” berkata salah seorang dari mereka.
Dalam pada itu, ketika mereka telah bersepakat maka mereka pun berniat untuk melaporkannya kepada Ki Buyut. Sementara beberapa orang di antara mereka akan mohon diri. Empat orang akan tinggal untuk menjaga tawanan itu. Malam nanti empat orang itu akan diganti oleh empat orang yang lain, selain para peronda seperti biasanya.
Namun sebelum orang-orang itu pergi, rasa-rasanya mereka masih ingin melihat sekali lagi, apakah pemimpin perampok yang terikat tangan dan kakinya itu juga sempat tidur.
“Jangan ganggu orang itu” desis salah seorang dari mereka.
“Aku tidak akan mengganggu” jawab kawannya “aku hanya ingin menengoknya untuk melihat, apakah ia tetap seperti saat kita mengikatnya”
Yang lain tidak mencegahnya. Bahkan ketika orang itu membuka selarak pintu, beberapa orang telah mengerumuninya untuk dapat melihat tawanan itu pula.
Tetapi demikian pintu itu terbuka, beberapa orang terpekik karenanya. Seorang yang berdiri di paling depan bahkan berteriak nyaring “Gila., Orang itu telah melarikan diri”
Teriakan itu terdengar oleh para peronda yang lain, sehingga mereka pun telah berlari-lari kepintu.
Sebenarnyalah bahwa pimpinan perampok itu telah tidak ada lagi di tempatnya.
Ki Buyut yang diberi tahu segera berlari-lari memasuki bilik gandoknya. Sambil menghentakkan kakinya ia menggeram “Anak iblis, bagaimana mungkin ia melarikan diri”
Para peronda itu pun menjadi pucat. Rasa-rasanya mereka akan dibebani oleh pertanggungan jawab atas hilangnya pemimpin perampok itu. Suatu hal yang bagi mereka tidak akan mungkin terjadi, Namun mereka tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa pemimpin perampok itu memang sudah tidak ada di tempatnya.
Sementara itu, Ki Buyut dan para peronda yang melihat keadaan di dalam bilik yang sudah ditinggalkan oleh para perampok itu tinggal dapat menemukan tali yang sudah terputus dan sebilah pisau belati kecil.
“Ia berhasil memutuskan janget dengan pisau yang tajamnya bukan buatan” desis seseorang.
Ki Buyut memungut pisau itu sambil menggeram, “Kalian kurang berhati-hati”
Kata-kata yang singkat itu membuat setiap orang menjadi berdebar-debar. Mereka sadar, bahwa Ki Buyut tidak hanya akan mengatakan hal itu. tanpa ada tindakan berikutnya.
“Bagaimana mungkin ia dapat menggapai pisau ini” geram Ki Buyut kemudian.
Para peronda hanya saling berpandangan. Seorang dari mereka bergumam “Mungkin ikatan itu mengendor, dan jari-jarinya berhasil menggapai pisau kecil yang terlepas dari usaha melucutinya”
Kawannya mengangguk-angguk. Segala macam perkiraan memang dapat disebutkan. Tetapi kenyataannya sudah pasti, orang itu telah melarikan diri.
Namun dalam pada itu. para peronda itu telah dicengkam oleh kecemasan yang luar biasa. Apalagi ketika Ki Buyut kemudian menggeram “Semua berkumpul di pendapa.”
Para peronda itu pun menjadi pucat. Sementara Ki Buyut masih berkata dengan suara bergetar, “Biarkan dinding yang renggang itu. Dengan demikian, akan dapat dilihat oleh siapapun yang ingin mengetahui persoalannya, bahwa pemimpin perampok itu telah berhasil melarikan diri dari hadapan sekian banyak orang dengan merenggangkan dinding kayu tanpa didengar oleh seorang pun setelah ia berhasil memotong tali pengikat tangan dan kakinya”
Sejenak kemudian, para peronda itu telah berkumpul di pendapa. Dihadapan mereka duduk Ki Buyut dengan wayah yang bagaikan membara.
Dengan suara bergetar Ki Buyut berkata, “Pemimpin perampok itu telah mencoreng arang di wajah kita. Dan kalian adalah orang-orang yang tidak tahu diri. Bagaimana aku berusaha memperingatkan kalian, bahwa orang itu adalah orang yang berbahaya.”
Para peronda itu hanya dapat menundukkan kepalanya saja, “Sebentar lagi, tiga orang yang semalam membantu kita menangkap pemimpin perampok itu akan oatang Mereka ingin berbicara dengan pemimpin perampok, ternyata telah melarikan diri itu”
Tidak seorangpun yang berani memandang wajah Ki Buyut “He, siapakah yang dapat mengatakan, apakah jawabku jika orang-orang itu datang?” suara Ki Buyut mulai naik dan semakin keras.
Orang-orang padukuhan itu pun menjadi semakin takut. Mereka mengerti bahwa Ki Buyut adalah orang yang lunak dan bahkan lembut. Tetapi dalam keadaan tertentu ia akan dapat menjadi kasar dan bahkan seperti kehilangan pengamatan diri.
Karena itulah, maka orang-orang yang merasa tersangkut dalam pertanggungan jawab itupun menjadi ketakutan. Sementara Ki Buyut berkata “Kalian tinggal disini sampai ketiga orang itu datang”
Orang-orang yang merasa bersalah itu menjadi pucat. Mereka sama sekali tidak mengerti, apa yang akan terjadi atas mereka. Sementara beberapa diantara mereka telah mendengar, bahwa ketiga orang itu adalah orang-orang yang luar biasa.
Karena itu, maka merekapun benar-benar menjadi sangat cemas. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak berani memaksa untuk meninggalkan rumah Ki Buyut. Sebab dengan demikian, maka kesalahan mereka akan menjadi berganda.
Dengan demikian, maka dengan kepala tunduk mereka harus mendengarkan kemarahan Ki Buyut yang meledak-ledak. Dengan menggeretakkan giginya Ki Buyut berkata geram, “Untunglah, bahwa aku tetap menyadari, bahwa kalian adalah keluargaku sendiri, sehingga aku dapat menahan hati. Tetapi, aku tidak tahu, apa yang akan diperbuat oleh ketiga orang itu. Mereka adalah orang-orang asing bagi kita. Namun mereka adalah orang yang luar biasa, yang memiliki kemampuan diluar jangkauan nalar kita”
Orang-orang yang merasa bersalah itu semakin menunduk. Mereka benar0benar merasa cemas, karena sesuatu akan dapat terjadi atas mereka. Sementara beberapa orang telah menyalahkan diri mereka sendiri, kenapa tawanan yang terikat tangan dan kakinya itu masih dapat melepaskan diri dan bahkan menghilang dari dalam bilik yang dianggap cukup kuat untuk menahannya.
“Bagaimana mungkin ia meraih pisau itu” bertanya orang-orang itu di dalam hatinya.
Namun hal itu memang sudah terjadi.
Meskipun kemudian Ki Buyut meninggalkan orang-orang itu di pendapa, namun tidak seorang pun di antara mereka yang berani meninggalkan rumah dan halaman itu. Bagaimanapun juga. kawan-kawannya tentu akan mengetahuinya, dan mereka akan datang mengambilnya di rumah dan membawa kembali ke pendapa itu.
Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan ingin datang ke rumah Ki Buyut untuk berbicara dengan pemimpin perampok yang telah menyebut nama Rajawali Penakluk. Meskipun mungkin orang itu tidak tahu ke mana Rajawali Penakluk itu bersembunyi, namun mungkin orang itu akan dapat memberikan sedikit keterangan tentang orang yang disebutnya Rajawali Penakluk itu.
Karena itulah, maka setelah mereka mengemasi diri dan membenahi pakaian mereka, maka ketiganya pun telah bersiap untuk pergi ke rumah Ki Buyut ke padukuhan yang telah diberitahukan kepada ketiganya. Agaknya, mencari rumah Ki Buyut adalah pekerjaan yang tidak terlalu sulit. Setiap orang akan dapat menunjukkan, di manakah rumah Ki Buyut itu.
Sejenak kemudian, ketiganyapun telah turun ke jalan menuju ke rumah Ki Buyut. Sekali mereka bertanya di jalan, kepada seorang petani yang berada di sawahnya untuk mengatur air yang mengalir tidak terlalu deras di parit yang membujur di pinggir jalan.
Seperti yang mereka duga, maka merekapun segera menemukan rumah Ki Buyut yang cukup besar dan berhalaman luas.
Namun demikian mereka berbga memasuki regol laman, merekapun terkejut. Di pendapa rumah itu terdapat banyak orang yang duduk dengan wajah yang pucat dan gelisah. Apalagi ketika mereka bertiga memasuki halaman rumah itu.
Kedatangan mereka bertiga itupun segera diketahui oleh Ki Buyut yang kemudian dengan tergesa-gesa menyongsong mereka dan mempersilahkan mereka naik ke pendapa.
Namun keheranan ketiga orang itu justru menjadi semakin bertambah-tambah. Mereka melihat wajah-wajah yang menjadi kebingungan dan sama sekali tidak seorangpun yang berani mengangkat wajahnya untuk memandang ketiga orang yang baru datang itu.
Setelah menambatkan kuda masing-masing, maka ketiganya pun kemudian naik ke pendapa dan duduk di satu sisi menghadap kepada orang-orang yang nampak kecemasan dan gelisah itu.
“Marilah Ki Sanak” berkata Ki Buyut “silahkan melihat orang-orang yang dungu dan tidak tahu diri ini”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun bertanya, “Apa yang telah terjadi Ki Buyut?”
“Bertanyalah kepada mereka. Biarlah mereka berani menyebut apa yang telah mereka lakukan” geram Ki Buyut.
Mahisa Agni memandang orang-orang yang menundukkan kepalanya itu. Sementara Ki Buyut membentak “Ayo katakan, apa yang telah terjadi.”
Tidak seorang pun yang berani mengangkat wajah-wajah mereka dan mengatakan sesuatu, sehingga karena itu, maka Ki Buyutlah yang berkata hampir berteriak, “Mereka telah melakukan kebodohan yang tidak dapat dimaafkan”
“Kenapa?” bertanya Mahisa Agni.
Wajah Ki Buyut telah menjadi semakin tegang. Kemudian dengan suara parau ia berkata “Pemimpin perampok itu melarikan diri”
“He” Mahisa Agni terkejut. Demikian pula Witantra dan Mahisa Bungalan. Sehingga, untuk sejenak mereka hanya dapat saling memandang.
“Itulah yang terjadi Ki Sanak” berkata Ki Buyut “aku menyerahkan satu orang yang telah terikat kaki dan tangannya kepada sekian banyak orang. Tetapi ternyata mereka tidak dapat mengawasinya dengan baik, sehingga orang itu melarikan diri”
Witantra beringsut setapak. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata “Menarik sekali. Tetapi Ki Buyut, bagaimanakah mungkin orang itu melarikan diri? Apakah ia mempunyai satu cara yang luar biasa, bahkan mungkin diluar jangkauan nalar?”
“Marilah Ki Sanak. Aku persilahkan Ki Sanak mengamati apa yang telah terjadi” berkata Ki Buyut.
Ketiga orang itupun kemudian turun ke halaman dan melintas ke gandhok diikuti oleh orang-orang yang telah melakukan kesalahan itu. Di dalam gandok, Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan dapat melihat dinding yang rusak, tali yang terputus dan sebilah pisau belati yang sangat tajam.
Sejenak Ketiganya termangu-mangu. Ki Buyut dan beberapa orang yang ikut memasuki gandok itu mengamat-amati ruang yang tidak terlalu luas iu. Terutama mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan.
Kesan yang mereka dapatkan adalah seperti juga kesan beberapa orang yang lain. Bagaimana mungkin pemimpin perampok itu dapat mengambil pisau kecilnya.
“Aneh sekali” desis Mahisa Bungalan.
“Tetapi memang mungkin” desis Witantra “aku pernah melihat seseorang membawa sebilah pisau kecil seperti ini di pergelangan tanggannya. Ia memakai gelang dari kulit yang tebal dan besar, sehingga ia dapat menyisip kan pisau-pisau kecil itu”
“Tetapi apakah orang yang kita tangkap kemarin memakai gelang kulit di pergelangan tangannya? Bertanya Mahisa Agni.
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak begitu memperhatikannya paman. Namun seandainya demikian, maka apakah mungkin ia dapat menggapai pisau itu”
“Ya. Dengan tangan yang lain yang terikat menjadi satu ia akan dapat mengambil pisau kecil itu dan memutuskan tali pengikatnya” jawab Witantra “namun seandainya tidak di pergelangan, ia mungkin sekali mendapatkan pisau itu di tempat yang memang sudah diperhitungkan, Sehingga pada saat yang gawat ia dapat mengambilnya dan mempergunakannya”
“Agaknya memang begitu” sahut Ki Buyut “agaknya orang itu memang sudah memperhitungkan satu kemungkinan, bahwa ia akan dapat tertangkap dan diikat”
“Ya. Orang itu tentu sudah berpengalaman menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga” jawab Witantra.
Namun dalam pada itu, selagi Witantra kemudian berbincang dengan Ki Buyut, Mahisa Bungalan dan Mahisa Agni melihat-lihat lebih cermat lagi. Tidak ada bekas-bekas yang menunjukkan bahwa orang itu telah bekerja dengan susah payah. Nampaknya semuanya berlangsung dengan mudah.
Witantra dan Ki Buyut yang agaknya mempunyai persesuaian pendapat, telah berbicara dengan asyiknya, sementara Mahisa Bungalan telah keluar dari dalam bilik itu dan berbicara dengan beberapa orang.
“Kami memang lengah” jawab seseorang “kami kurang melihat bagian-bagian lain dari bilik itu, selain pintu depannya saja. Ki Buyut pun sudah memperingatkan, agar kami mengawasi bagian belakang dari gandok itu. Tetapi menurut pendapat kami, orang itu telah terikat kaki dan tangannya”
Mahisa Bungalan tidak bertanya lebih lanjut. Rasa-rasanya tidak banyak keterangan yang danat diberikan kepada orang-orang itu selain pengakuan bahwa mereka memang kurang berhati-hati.
“Terhadap orang-orang ini, kami tidak dapat berbuat apa-apa” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya.
Sementara itu, Witantrapun telah selesai dengan percakapannya. Ternyata tidak ada hal-hal yang menarik perhatiannya, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan saja rumah Ki Buyut itu.
Namun demikian Mahisa Agni masih bertanya, “Bagaimana dengan para perampok yang lain?”
“Mereka akan kami bawa kemari. Ada beberapa kemungkinan. Namun yang paling baik adalah menyerahkan mereka kepada Akuwu” jawab Ki Buyut.
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Agaknya memang tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah itu. Namun ada kemungkinan bahwa Akuwupun akan bertanya, dimanakah pemimpin dari gerombolan perampok itu.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan pun minta diri. Sebenarnya mereka merasa kecewa bahwa mereka tidak dapat bertemu dengan pemimpin perampok itu. Bukan saja mereka tidak dapat bertanya sama sekali, namun agaknya pemimpin perampok itu akan dapat berbuat jauh lebih banyak lagi.
Tetapi demikian ketiga orang itu keluar regol padepokan, maka Mahisa Agni pun berkata, “Kita bertanya kepada tawanan-tawanan yang lain, dimanakah sarang mereka. Mungkin kita akan dapat mengunjunginya”
“Aku sependapat paman” Mahisa Bungalan menyahut dengan serta merta, “orang itu tentu kembali ke sarangnya untuk menyelamatkan apa yang telah mereka miliki. Karena itu, kita harus bertindak cepat.”
“Ya. Secepat dapat kami lakukan” jawab Mahisa Agni. Lalu “Namun kesempatan yang aku dapatkan selama Witantra berbicara dengan asyiknya, maka aku menangkap beberapa hal yang agak menarik perhatian”
“Apa?” bertanya Witantra.
“Ada beberapa kesimpang siuran sikap Ki Buyut” berkata Mahisa Agni. “Aku dengan hati-hati memancing keterangan. Semula Ki Buyut menyuruh orang-orangnya meninggalkan tawanan itu, karena menurut Ki Buyut, orang itu tidak akan dapat melepaskan diri, karena ia terikat dengan janget. Namun kemudian Ki Buyut memanggil mereka dan memberikan beberapa pesan, agar mereka berhati-hati”
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Lalu, “Apakah kita akan mengusutnya?”
“Tidak sekarang” berkata Mahisa Agni, “barang kali kita dapat melacak pemimpin gerombolan yang hilang itu saja. Jika kita dapat menemukannya. Kemudian jika kita dapat menangkap kembali orang itu. kita akan dapat ber| bicara dengannya Namun pekerjaan itu bukannya pekerja an yang mudah”
“Aku mengerti. Tetapi tentu akan sangat menarik” sahut Mahisa Agni.
Karena itulah, maka mereka pun kemudian langsung menuju ke padukuhan, tempat para perampok itu masih disimpan.
Kedatangan Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan disambut oleh orang-orang pedukuhan itu, dan segala yang ingin dilakukannya tidak seorang pun yang menghalanginya.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agni pun minta kepada orang-orang padukuhan itu, agar ia diberi kesempatan untuk berbicara dengan salah seorang di antara para perampok itu.
“Silahkan” berkata orang-orang padukuhan itu “kami tidak akan berkeberatan.”
Demikianlah, di pendapa sebuah rumah di antara rumah-rumah penduduk itu, Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan menghadapi seorang di antara para perampok yang tertangkap itu. Dengan tidak ragu-ragu, Mahisa Agni meminta agar Mahisa Bungalan melepaskan segala ikata tubuh orang itu.
“Duduklah” bertaka Mahisa Agni.
Orang itu pun kemudian duduk dengan jantung yang berdebaran. Apalagi orang itu mengetahui, bahwa ketiga orang yang menghadapinya adalah orang yang luar biasa.
“Aku akan mengajukan pertanyaan” berkata Mahisa Agni, “kau harus menjawab dengan jujur.”
Orang itu tidak menjawab.
“Coba katakan” berkata mahisa Agni, “ dimanakah pemimpinmu sekarang”
Orang itu justru heran. Katanya “Bukankah orang itu telah dibawa oleh Ki Buyut?”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya “Jadi kau mengetahuinya”
“Ya” jawab orang itu.
“Baiklah. Jika demikian aku ingin tahu, dimanakah sarangmu” bertanya Mahisa Agni.
Orang itu menegang. Namun Mahisa Agni berkata, “Tentu kau merasa keberatan. Tetapi aku kira tidak ada gunanya lagi bagimu untuk menyembunyikan, karena untuk selamanya kau tidak akan dapat menikmatinya jika di sarangmu masih tersimpan harta benda hasil rampokanmu. Kawan-kawanmu yang masih tinggal tentu akan memilikinya, atau mungkin justru Rajawali Penakluk itu datang lagi kesarang kalian, mengambil segalanya untuk bekal langkah-langkahnya yang akan dilakukannya kemudian”
“Kau tahu Rajawali penakluk?” bertanya orang itu.
“Aku mengenalnya. Tetapi itu tidak penting. Aku ingin pergi ke sarangmu. Katakan dimana. Lalu aku akan membawamu ke tempat itu. Jika ternyata kau menipuku, maka akibatnya akan sangat buruk bagimu. Aku dapat membuatmu tidak berdaya dengan sentuhan-sentuhan di bagian badanmu” berkata Mahisa Agni.
Orang itu memandangi ketiga orang yang menghadapinya itu berganti-ganti. Namun kemudian ia berkata “Aku tidak dapat mengatakan kepadamu, dimana sarangku. “
Mahisa Agni menerik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Manisa Bungalan “Kau dapat membuatnya tidak berdaya” Mahisa Bungalan mendekati orang itu yang dengan ketakutan bergeser setapak surut. Katanya, “Jangan”
“Tidak akan terasa apa-apa. Tetapi kau akan menjadi lumpuh. Bahkan ia akan dapat membuatmu bukan saja lumpuh dalam keadaan sadar, tetapi kau dapat juga tertidur dengan nyenyaknya dalam waktu yang panjang”
“Jangan” orang itu semakin ketakutan.
“Kau masih beruntung jika kau kami buat pingsan disini” berkata Mahisa Agni “tetapi jika kau tidak mau mengatakan dimana sarangmu, maka aku akan membawamu, Aku akan membuatmu lumpuh dengan kesadaran penuh dan melemparkan di pinggir hutan. Kau tidak akan dapat lari dari kerumunan tikus-tikus liar yang kelaparan.”
“Jangan. Aku tidak mau” jawabnya dengan gemetar.
“Soalnya bukan mau tidak mau. Tetapi kau tidak mempunyai pilihan lain, jika kami ingin berbuat demikian” desis Mahisa Agni.
“Kau kejam sekali. Melampaui orang-orang kami” orang itu semakin ketakutan.
“Kau mempunyai kesempatan untuk membebaskan diri dari kemungkinan itu” berkata Mahisa Agni, “tunjukkan, dimana sarangmu. Tetapi kau tidak akan dapat membohongi kami. Kau akan kami bawa. Jika ternyata kau berbohong, maka nasibmu benar-benar akan sangat buruk. He. apakah kau pernah melihat bagaimana tikus-tukus liar membunuh mangsanya? Jauh lebih mengerikan dari seekor harimau loreng yang paling ganas disegala jenis hutan”
“Kalian masih tetap terikat oleh kemanusiaanmu” orang itu hampir menangis “jangan lakukan itu”
“Kau mengerti juga arti kemanusiaan?” bertanya Mahisa Agni.
“Tetapi jangan perlakukan aku seperti itu” minta orang itu.
“Ada syaratnya. Tunjukkan dengan benar, dimana sarangmu” suara Mahisa Agni menjadi semakin berat.
Tidak ada pilihan lain. Orang itu percaya bahwa ketiga orang itu akan dapat memperlakukannya dengan sesuka hatinya. Karena itu, maka ia tidak dapat lagi mengelak.
Dengan gemetar, maka orang itu pun mulai memberikan petunjuk, jalan yang manakah yang harus ditempuh untuk pergi ke sarangnya yang terletak di antara hutan perdu dan hutan yang cukup lebat agak jauh dari padukuhan itu.
“Apakah aku dapat mempercayaimu?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku tidak berbohong” jawab orang itu.
“Kau ikut kami” Jika kau berbohong, maka kau akan mengalami seperti yang aku katakan” berkata Mahisa Agni.
“Aku tidak berbohong” ulang orang itu.
Mahisa Agnipun kemudian memerintahkan Mahisa Bungalan untuk mengikatnya seperti semula dan mengembalikannya kepada kawan-kawannya.
“Apakah orang itu akan kita bawa?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Tidak. Aku hanya ingin memaksanya untuk berkata sebenarnya” jawab Mahisa Agni.
“Jadi, kita akan pergi ke sarang itu?” desak Mahisa Bungalan yang nampaknya sudah tidak sabar lagi.
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak membantah sikap hati-hati pamannya. Bahkan kemudian, iapun berjalan di sebelah Witantra yang berada di belakang Mahisa Agni.
Ketiganya pun mendekati sepasang pohon cangkring itu dan melewatinya justru di luar batas kedua batang pohon itu. Perlahan-lahan mereka menyibak gerumbul-gerumbul liar yang tumbuh rapat beberapa langkah di sekitar pohon cangkring itu.
Namun tiba-tiba mereka tertegun. Di balik gerumbul-gerumbul liar itu mereka melihat seperti sebuah goa di antara daun-daun perdu menjelujur panjang.
“Sebuah jalan menuju ke sarang itu” desis Mahisa Bungalan, “kita tinggal menelusurinya”
“Ya” jawab Mahisa Agni, “namun justru jalan ini putus menjelang sepasang pohon cangkring itu. Sehingga aku yakin, bahwa orang-orang dari sarang gerombolan itu tidak pernah keluar dan dan masuk sarang mereka melalui pintu gerbang seperti yang dikatakan oleh perampok itu”
“Tetapi nampaknya bahwa sarang mereka terletak di sekitar tempat ini adalah benar” desis Witantra, “aku me lihat bekas kaki”
Mahisa Agni dan Mahisa Bungalanpun kemudian memperhatikan jejak kaki yang dikatakan oleh Witantra itu. Sebenarnyalah mereka melihat jejak baru di atas rerumputan yang patah menuju ke sarang perampok itu.
Meskipun mereka tidak mengatakannya, namun agaknya mereka bersepakat di dalam hati, bahwa jejak itu tentu jejak pemimpin perampok yang baru saja berhasil melepaskan diri dari tangan Ki Buyut yang menahannya dengan memutuskan tali pengikatnya.
“Kita akan mengikutinya” desis Mahisa Agni.
Dengan sangat hati-hati ketiganya merayap semakin dalam memasuki goa dedaunan liar yang nampaknya berhasil dijinakkan oleh gerombolan perampok itu, sehingga merupakan jalur jalan menuju ke sarang mereka.
Beberapa puluh langkah mereka maju. Namun tiba-tiba Mahisa Agni memberikan isyarat agar mereka berhenti sejenak. Katanya “Kita sudah menjadi semakin dekat. Dihadapan kita, pepohonan yang seolah-olah telah dibentuk menjadi goa ini telah tertutup. Tetapi bekas kaki ini tetap menuju ke sana”
“Kita akan mengikutinya” desis Witantra.
Ketiganya berjalan terus. Namun merekapun tiba-tiba telah terhenti di ujung goa yang terbuat dedaunan liar itu.
Namun setelah beberapa saat mereka memperhatikan keadaan di sekitarnya, maka hampir bersamaan Mahisa Agni dan Witantra menunjuk ke sisi sebelah kiri sambil berdesis, “lihatlah”
Mahisa Bungalan memperhatikan arah yang ditunjuk oleh kedua pamannya itu. Sebenarnya ia pun melihat dedaunan bekas disibakkan, betapapun hati-hatinya.
“Kita memasuki daerah yang gawat sekarang” desis Witantra.
“Ya. Mungkin pemimpin perampok itu bukan pemimpin tertinggi dari sarang mereka di sini” desis Mahisa Agni.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Agni yang berada di paling depan mulai menyibakkan dedaunan liar dan menyusup semakin dalam-dalam. Dengan ketajaman penglihatannya, maka ia dapat melihat bekas dan jejak orang yang berjalan mendahului yang nampaknya tergesa-gesa sehingga tidak berhasil menghapus jejaknya dengan baik.
Beberapa langkah mereka maju. Namun tiba-tiba mereka sampai pada ujung jalan yang mereka lalui di antara semak-semak. Pada suatu saat mereka terhenti, karena mereka melihat dihadapan mereka, pohon perdu itu menjadi semakin jarang.
“Kita sudah menembus pintu gerbang kedua” desis Mahisa Agni “kita sudah sampai”
Ketiga orang itu pun segera bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Dengan hati-hati mereka menembus lapisan terakhir dari lobang yang aneh yang mereka lewati.
Sebenarnyalah, dari ujung lorong itu mereka dapat menyibakkan dedaunan sehingga mereka dapat melihat tempat yang cukup lapang di bawah pepohonan besar di dalam hutan itu. Namun nampaknya pohon-pohon perdu dan gerumbul-gerumbul liar di bawah pepohonan itu sudah dibersihkan dan tidak tumbuh lagi karenanya.
Diantara pepohonan itu nampak beberapa barak yang didirikan terpencar dengan jarak yang tidak lebih dari duapuluh langkah dari yang satu dengan yang lain.
“Lihat” desis Mahisa Agni.
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Barak itu nampaknya sepi”
“Sebagian mereka telah tertangkap. Mungkin sebagian besar” jawab Witantra.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Apakah kita akan langsung mendekati barak itu”
“Ya” jawab Mahisa Agni, “tetapi hati-hatilah. Kita akan mendekati dan dengan akibat yang dapat kita perhitungkan. Kita akan berpencar. Dengan pengertian, bahwa apabila kita terdesak dan harus pergi dari tempat ini, kita akan bertemu di luar hutan. Ingat Mahisa Bungalan, rasa-rasanya ada semacam sentuhan perasaan, jangan melalui jalan di antara kedua pohon cangkring yang disebut pintu gerbang pertama itu”
Mahisa Bungalan mengangguk. Jawabnya “Aku mengerti Paman”
“Nah, kita akan mendekati tempat itu dari tiga arah” berkata Mahisa Agni kemudian, “kita akan memakai isyarat suara burung tekukur. Seandainya di daerah ini tidak ada burung tekukur dan dengan demikian, kehadiran kita segera diketahui, maka kita sudah siap untuk menghadapi mereka dalam keadaan yang bagaimanapun juga”
“Baik paman” jawab Mahisa Bungalan pula.
Dalam pada itu, maka ketiga orang itu pun segera membagi arah. Mereka akan mendekati barak itu untuk mengetahui keadaannya. Baru setelah terdengar isyarat dari Mahisa Agni, mereka akan memasuki daerah di antara barak-barak itu”
Demikianlah, dengan hati-hati ketiga orang itu pun mendekati barak dari arah yang berbeda. Mahisa Agni mendekati barak dari arah Selatan. Witantra dan Utara dan Mahisa Bungalan dari arah timur, dari arah mereka datang.
Semakin dekat, maka merekapun mulai melihat seseorang yang lewat di antara longkangan barak yang terpencar itu. Tergesa-gesa melintas. Kemudian hilang di barak sebelah.
Mahisa Agni yang datang dari Selatan melihat, bahwa di antara barak yang berpencaran itu terdapat sebuah di antaranya yang paling besar. Orang yang melintas dengan tergesa-gesa itu keluar dari barak yang paling besar dan hilang di barak sebelah.
Sejenak Mahisa Agni menunggu. Seperti yang diduganya, maka orang yang melintas itu dengan tergesa-gesa kembali ke barak yang paling besar dengan membawa sebuah kampil yang besar.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Harapannya untuk bertemu dengan pemimpin perampok itupun menjadi semakin besar. Meskipun sejalan dengan itu, maka iapun semakin menyadari, bahwa para perampok itu tentu sudah cukup lama tidak bersinggungan dengan orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk.
Menurut dugaan Mahisa Agni, pemimpin perampok itu tentu baru mengumpulkan orang-orangnya yang tersisa dan merencanakan untuk menyingkir, karena ia pun memperhitungkan, bahwa salah seorang dari pengikutnya tentu akan menunjukkan dimanakah sarang mereka. Tetapi, pemimpin perampok itu tidak akan menduga, bahwa orang yang memburunya bergerak cukup cepat.
Dalam pada itu, Mahisa Agni masih melihat beberapa orang yang lain melintas hilir mudik, sehingga Mahisa Agni pun menduga, bahwa jumlah orang di dalam sarang itu masih harus diperhitungkan sebaik-baiknya.
Ketika Mahisa Agni menjadi semakin dekat, maka ia masih melihat dua orang bersenjata telanjang berjalan di seputar barak yang besar itu, kemudian melintas di antara barak-barak yang berserakan. Agaknya masih juga ada dua orang yang mengawasi barak itu dengan cermat.
Dari pengamatan yang sepintas, Mahisa Agni mengetahui bahwa penghuni barak itu memang sudah tidak terlalu banyak. Namun tiga orang dibanding dengan orang-orang yang masih ada di dalam barak itu, memang harus mempergunakan perhitungan yang lebih cermat.
Karena itulah Mahisa Agni mencoba untuk mempergunakan perhitungan lain. Ia tidak segera memberikan isyarat kepada Witantra dan Mahisa Bungalan yang tentu sudah tidak terlalu jauh lagi dari barak-barak itu. Ia masih ingin mengurangi jumlah lawan dengan caranya.
Ketika kedua orang yang meronda barak-barak itu lewat beberapa langkah dihadapannya, tiba-tiba saja Mahisa Agni dengan sengaja menggerakkan ranting di sebelahnya, tempatnya ia bersembunyi.
Ternyata dedaunan yang bergetar itu menarik perhatian kedua orang peronda itu. Sejenak keduanya saling berpandangan. Namun agaknya keduanya bersepakat untuk mendekat dan melihat, apakah yang telah menggerakkan dedaunan itu.
Namun demikian kedua orang itu mendekat, maka dengan serta merta Mahisa Agni telah menarik mereka. Dengan kecepatan yang tidak mereka duga sama sekali, maka keduanya telah tersentuh tangan Mahisa Agni di bagian tengkuknya, sehingga keduanya pun kemudian seolah-olah tertidur nyenyak.
Karena itu, maka keduanyapun kemudian telah dibaringkan oleh Mahisa Agni di belakang gerumbul perdu. Kemudian iapun telah berusaha mencari kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan barak-barak itu. Tetapi agaknya sulit baginya untuk mendapat kesempatan kedua kalinya.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni tidak menunda waktu lagi. Tiba-tiba saja telah terdengar bunyi burung tekukur yang menggeletar keras sekali menurut ukuran burung tekukur yang sebenarnya.
Suara itu ternyata telah menarik perhatian para penghuni barak itu. Karena itu, maka terdengar suara lantang dari dalam barak yang terbesar “Lihat, siapakah mereka. Hancurkan dan lakukanlah segala pesanku bagi kalian”
Dalam pada itu, maka Witantra dan Mahisa Bungalan pun segera berloncatan keluar dari persembunyian mereka. Ternyata bahwa mereka berdua pun menduga, bahwa barak yang paling besar itu telah dipergunakan oleh para perampok untuk menentukan segala-segalanya. Karena itu, maka mereka pun telah mendekati barak itu agar pemimpin perampok itu tidak terlepas dari tangan mereka.
Tetapi ternyata bahwa di barak itu masih terdapat beberapa orang yang berloncatan dari barak-barak itu, termasuk barak yang paling besar. Dengan serta merta mereka pun telah menyongsong kehadiran Witantra dan Mahisa Bungalan, sementara Mahisa Agni telah berusaha merayap sampai kepintu barak terbesar itu.
Tepat pada saat Mahisa Agni sampai di sudut barak, ia melihat seseorang meloncat keluar diikuti oleh tiga orang lainnya. Dalam pada itu, orang itupun berteriak semakin lantang, “Binasakan mereka tanpa belas kasihan”
Namun dalam pada itu, ketika orang itu melihat Mahisa Agni yang berloncatan pula mendekat, wajahnya menjadi pucat. Ternyata pemimpin perampok itu adalah benar-benar orang yang mereka cari, sehingga kehadiran Mahisa Agni membuat pemimpin perampok itu menjadi pucat.
“Orang ini adalah orang-orang yang memiliki kelebihan semalam, sehingga aku dapat ditangkap” berkata pemimpin perampok itu di dalam hatinya.
Namun ia tidak dapat ingkar. Sekarang orang itu telah berada dihadapannya. Bagaimanapun juga ia harus melawannya dengan sepenuh kemampuannya bersama beberapa orang pengawalnya yang tidak ikut tertangkap dalam usaha perampokan yang gagal itu.
Sejenak kemudian, di antara barak-barak yang tersebar itu telah terjadi pertempuran. Beberapa orang diantara para perampok itu telah menyerang Witantra dan Mahisa Bungalan. Sementara pemimpin perampok itu dengan tiga orang pengikutnya siap menghadapi Mahisa Agni.
Ketika ternyata yang datang hanya tiga orang, maka pemimpin perampok itu mulai agak tenang. Bahkan pemimpin perampok itupun kemudian berkata “Ki Sanak. Meskipun kalian bertiga adalah orang-orang yang luar biasa, tetapi disini kalian menemukan lawan yang terlalu banyak bagi jumlah kalian yang hanya tiga orang itu. Di padukuhan itu, kalian bertiga dikawani oleh sejumlah orang yang lebih banyak dari jumlah kelompokku. Karena itu kau berhasil menangkap aku dan kawan-kawanku. Tetapi, di sini keadaannya berbeda. Jumlah kami jauh lebih banyak dari jumlah kalian yang hanya tiga orang itu”
Mahisa Agni menyadari, bahwa jumlah para perampok yang tersisa itu ternyata masih cukup banyak untuk mereka bertiga. Tetapi pertempuran sudah mulai. Bagaimanapun juga, mereka bertiga harus melawan dengan sekuat tenaga.
Mahisa Agni sudah berada di dalam kepungan pemimpin perampok itu bersama tiga orang pengawalnya. Dalam pada itu, Witantra harus menghadapi empat orang juga, sedang sisanya yang berjumlah tiga orang berhadapan dengan Mahisa Bungalan.
“Ternyata masih banyak juga perampok-perampok yang tersisa ini” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya.
Dalam pada itu, maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin seru. Pemimpin perampok dengan tiga orang pengawalnya nampaknya adalah orang-orang terbaik yang tersisa. Pemimpin perampok itu sendiri memiliki kemampuan yang cukup, sementara tiga orang yang bersertanya adalah orang-orang terbaik yang diserahi barak-barak itu selama pemimpin perampok dan beberapa orang pengikutnya pergi merampok, namun gagal.
Karena itu, maka sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni pun merasa tekanan yang cukup berat dari keempat orang itu. Mereka cukup cepat dan tangkas mempermainkan senjata mereka. Dua orang diantara mereka mempergunakan tombak yang tidak terlalu panjang. Yang seorang mempergunakan sepasang bindi sementara pemimpin perampok itu mempergunakan pedang panjang.
Mahisa Agni harus berhati-hati melawan mmereka. Kedua orang bersenjata tombak itu menyerang dari arah berlawanan, sementara pemimpin perampok itu dengan cepatnya bergeser sambil memutar pedangnya. Kadang-kadang menyambar mendatar, kadang-kadang mematuk seperti seekor ular berbisa. Sedangkan sepasang bindi yang cukup besar menyambar berpasangan dan bahkan kadang-kadang kedua bindi itu menyerang bersilang.
Mahisa Agni harus melawan keempat orang itu dengan cepat pula. Ia bergeser dan berloncatan menghindari serangan lawannya. Kadang-kadang ia harus menangkis senjata lawannya dengan senjatanya pula.
Namun dalam pada itu, pada setiap benturan terasa oleh lawannya bahwa Mahisa Agni memiliki kekuatan yang benar-benar luar biasa, sehingga dengan demikian maka mereka berusaha untuk tidak lagi beradu senjata. Jika demikian terjadi beberapa kali, maka senjata mereka akan dapat terlepas dari tangan.
Sementara itu, Mahisa Bungalan telah bertempur dengan garangnya pula. Ia sadar, bahwa lawannya terlalu banyak. Betapapun tinggi kemampuan mereka, namun dihadapan lawan yang berlipat ganda, ia harus berhati-hati. Karena lawan mereka itupun tentu orang-orang yang memilki pengalaman bertempur dalam berbagai keadaan pula.
Apalagi ketika lambat laun lawan Mahisa Bungalan itu pun menjadi semakin garang dan kasar. Mereka mulai berteriak-teriak dan berloncatan dengan liar. Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan tetap menyadari, dibalik keliaran itu, ketiga lawannya memang memiliki kemampuan bertempur dengan tenaga yang cukup kuat.
Yang bertempur melawan Witantrapun segera menyadari, bahwa lawan mereka benar-benar seorang yang pilih tanding. Tetapi Witantra tidak segarang Mahisa Bungalan pada mulanya. Orang tua itu lebih banyak menghindar dan menangkis sambil melihat-lihat seluruh arena. Sekilas ia memperhatikan bagaimana Mahisa Agni melawan pemimpin perampok dengan tiga orang pengawalnya yang terbaik dari sisa-sisa pengikutnya. Namun demikian, ternyata betapa beratnya tugas Mahisa Agni. Senjata lawannya yang menyerang beruntun rasa-rasanya bagaikan angin yang bergulung dari segala penjuru. Namun Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ia percaya, bahwa Mahisa Agni adalah orang yang memiliki pengalaman dan kemampuan yang jarang ada bandingnya. Karena itu, maka ia justru semakin lama semakin mantap menghadapi ujung senjata lawan-lawannya.
Witantra sendiri tidak banyak mengalami kesulitan. Meskipun iapun harus melawan empat orang seperti Mahisa Agni, tetapi tingkat kemampuan lawan-lawannya tidaklah segarang lawan Mahisa Agni. Keempat orang yang bertempur melawannya memang termasuk orang-orang yang kasar dan liar. Tetapi kemampuan ilmu mereka tidak banyak berarti bagi Witantra. Bahkan tiga orang yang bertempur melawan Mahisa Bungalan memiliki ketrampilan yang lebih dari keempat lawannya.
Witantra tersenyum melihat Mahisa Bungalan bertempur dengan sekuat tenaganya. Karena itulah, maka ia pun segera mendesak lawannya. Ia berniat untuk segera mengakhiri pertempuran itu, karena ia tidak tahu pasti, apa yang dapat terjadi atas kedua pamannya yang masing-masing bertempur melawan empat orang.
Karena itu maka Mahisa Bungalan lah orang yang pertama melumpuhkan lawan-lawannya. Ketika seorang diantara para perampok itu menyerang, Mahisa Bungalan tidak berusaha manghindar. Ia justru telah berusaha untuk membenturkan senjatanya dengan senjata lawannya, sehingga seperti yang diperhitungkan, maka senjata lawannya itupun telah terlepas.
Yang terdengar kemudian adalah keluhan tertahan. Ternyata seorang lawan Mahisa Bungalan telah terluka di pundaknya, sementara kawannya kehilangan senjatanya.
Ternyata bahwa Mahisa Bungalan bertindak jauh lebih cepat dari perhitungan lawan-lawannya. Sebelum lawan-lawannya itu menyadari apa yang terjadi, Mahisa Bungalan telah menyerang beruntun, sehingga ketiga orang lawannya telah kehilangan senjatanya. Bahkan ayunan senjatanya yang terakhir berhasil menggores lengan salah seorang dari mereka.
Ketiga lawan Mahisa Bungalan benar-benar telah dilumpuhkan. Mereka tidak berani berbuat sesuatu lagi ketika Mahisa Bungalan mengancam mereka dengan senjatanya.
“Ikat mereka Mahisa Bungalan” berkata Witantra.
Mahisa Bungalan termangu-mangu. Nampaknya ia sedang berpikir, apakah yang dapat dipergunakannya untuk mengikat tangan dan kaki lawannya.
Witantra nampaknya mengetahui apa yang dipikirkan oleh Mahisa Bungalan. Karena itu, maka ia pun berkata pula “Ambil ikat kepala mereka, atau kain panjang, atau ikat pinggang kulit mereka”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Lepaskan ikat kepala kalian”
Para perampok itu tidak dapat membantah. Mereka pun segera melepaskan ikat kepala mereka. Sementara Mahisa Bungalan pun segera memerintahkan mereka supaya saling mengikat tangan dan kaki. Sementara orang terakhir sudah diikat oleh Mahisa Bungalan sendiri sambil melihat-lihat apakah ikatan yang lain cukup kuat pula.....
Bersambung.... !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar