14
BIOLA UNTUK KEIRA
Ia mencoba menyelami cara berpikir calon lawan debatnya. Ia baca tulisan-tulisannya. Ia lihat ceramah-ceramah ilmiahnya, juga wawancara-wawancaranya dengan banyak media. Ia membayangkan lima puluh soal yang biasa maupun yang tidak biasa, yang kira-kira akan diajukan kepadanya.
Setiap soal ia mencoba membayangkan jawaban paling rasional, paling tepat dan telak.
Ia membayangkan gempuran tanggapan calon lawan debatnya. Komentar yang telak menyudutkannya.
Ia berpikir bagaimana lolos dari sergapan opini yang dilempar lawan debatnya untuk melumpuhkan segala argumentasinya.
Perdebatan di panggung Oxford Debating Union ia bayangkan akan sangat seru. Seumpama arena perang tanding para pendekar kungfu dengan kemampuan bela diri paling tinggi. Hanya saja diOxford Debating Union bukan tangan, kaki dan tubuh yang bertanding mempertahankan harga diri, namun jiwa, otak dan lisan yang berperan.
Mental, ilmu, wawasan, kesabaran, kecerdasan dan kepiawaian bersilat argumentasi diadu kehebatannya.
Meskipun itu adalah kali pertama ia akan bertanding dipanggung Oxford Debating Union, namun ia tidak mau datang sebagai pecundang. la harus jadi pemenang.
Sepuluh video yang menayangkan secara lengkap jalannya debat yang diadakan Oxford telah ia tonton dengan seksama. Oxford Debating Union itu bukan forum perdebatan biasa.
Dari yang ia amati, kecerdasan saja tidak bisa menjamin seseorang akan survive di panggung angker itu. Selain kecerdasan, maka kekuatan mental dan kemampuan mengelola emosi mutlak diperlukan untuk menjadi pemenang dalam sebuah perdebatan ilmiah tingkat tinggi. Ia berharap mental berdebatnya yang telah ia dapat sejak masih remaja saat masih menjadi santri di Jawa Timur dan sering mewakili pesantrennya dalam bahtsul masail antar pesantren, bisa menjadi dasar untuk tidak
gentar menghadapi lawan debat siapapun.
Kebiasaannya berdebat ketika di Mesir dengan orang-orang Mesir, semoga juga ikut memperkokoh mentalnya. Debat-debat sengit yang sering ia lakukan dalam skala kecil saat mengambil doktor di Jerman semoga bisa jadi bekal yang mencukupi untuk menguasai
panggung Oxford Debating Union nanti.
Sudah tiga hari ini, setiap kali ada waktu luang, ia gunakan untuk mempersiapkan diri menghadapi laga debat itu. Demikian juga sore itu, usai mengajar satu mata kuliah dan usai menerima Ju Se untuk memberikan bimbingan yang diperlukan, ia rehat di ruang kerjanya menyimak bagaimana Tarek Ramadan berlaga di forum itu.
Ia harus mengakui profesor muda cucu Sang Mujaddid dari Mesir itu memiliki logika berpikir yang tidak biasa dan juga memiliki kemampuan berdebat yang tidak bisa diremehkan sedikitpun oleh para ilmuwan sosial di Barat. Professor studi Islam kontemporer di Oxford itu juga memiliki kelebihan lidah yang fasih mengucapkan ayat-ayat suci Al-Qur‘an dan hadits, fasih berbahasa Arab, fasih berbahasa Perancis, fasih berbahasa Jerman, dan tentu fasih berbahasa Inggris. Empat bahasa penting di dunia itu
seumpama bahasa ibunya sendiri. Berdiri di panggung itu Professor Tarek begitu mempesona. Mimiknya. Intonasi bicaranya. Pilihan diksinya. Jejaring logikanya. Ia seumpama aktor yang begitu menguasai seni perannya, begitu menguasai panggungnya. Ia seumpama Al Pacino yang tidak pernah asal-asalan menggunakan gerak tubuhnya saat memainkan perannya. Atau, ia seumpama Rendra ketika menyatu dengan panggung
teater yang dimainkannya.
Menyaksikan Profesor Tarek berdebat begitu entertaining, segar, dan amazing. Sebuah pertunjukan yang sangat berkelas. Wajar jika Profesor Tarek Ramadan jadi langganan sebagai pembicara di panggung Oxford Debating Union. Dan, ia dengan segala kelemahan dan kekurangannya, ia juga ingin menyuguhkan jurus berdebat kelas dunia. Ia ingin membuktikan, ilmuwan dari Indonesia juga bisa berlaga dengan hebat di panggung
Oxford Debating Union. Dan dunia tidak boleh sedikit pun memandang sebelah mata kepada Indonesia.
"Umat Islam di Indonesia pernah melakukan perbuatan sangat kejam. Dalam data kami, setelah .peristiwa 30 September 1965, umat Islam melakukan pembantaian massal terhadap orang-orang yang dianggap komunis. Korban keganasan itu tak kurang dari satu juta jiwa. Kami memiliki data yang valid
atas hal ini. Apa pendapat Anda?"
Fahri membayangkan calon lawan debatnya akan menyerangnya salah satunya dengan pertanyaan itu.
Ia mengerutkan keningnya. Ia harus bisa memberikan jawaban yang benar sesuai dengan fakta sejarah.
Tidak hanya benar, tapi mampu meyakinkan semua orang yang hadir dan menyaksikan acara debat tingkat tinggi itu.
Saat Fahri sedang merangkai jawaban dari fakta-fakta sejarah yang ia miliki, telepon di mejanya berdering. Miss Rachel memberitahu bahwa ada anak remaja ngotot minta berjumpa dengannya.
"Kelihatannya dia remaja kurang baik." Jelas Miss Rachel.
"Siapa namanya?"
"Dia sebut namanya Jason."
"Oh dia. Tak apa bawa dia ke ruang kerjaku."
"Anda yakin."
"Ya, dia tetangga saya."
"Perlu dikawal sekuriti?"
"Tidak perlu."
"Baik."
Sejurus kemudian Miss Rachel datang mengantar Jason. Rambut Jason tampak awut-awutan.
Mukanya pucat dan kedua matanya memerah. Fahri mempersilakan Jason masuk ke ruang kerjanya sekaligus mengisyaratkan agar Miss Rachel tidak khawatir. Miss Rachel kembali ke tempat kerjanya.
Begitu Fahri menutup pintu ruang kerjanya, Jason menghambur memeluk Fahri. Ia seperti menahan tangisnya. Fahri mengusap rambut Jason dan memintanya untuk duduk dan berbicara dengan hati tenang. Jason duduk di kursi dan berusaha menguasai dirinya.
"Jadi ada apa Jason? Apa yang bisa saya bantu Jason?"
"Ini masalah Keira."
"Ada apa dengan Keira?"
"Dia telah melakukan perbuatan gila. Aku tidak bisa menghentikannya. Juga mama. Dia benar-benar gila. Mungkin kau bisa menolongnya, Fahri. Aku tidak yakin. Tapi mungkin kau bisa menolongnya."
"Menolong bagaimana?"
"Dia telah gila. Dia telah pasang iklan di internet, juga di FB pribadinya."
"Iklan apa?"
"Boleh pinjam laptop saya tunjukkan."
"Mari kita lihat bersama."
Fahri membuka laptopnya dan meminta Jason mencari situs tempat Keira pasang iklan. Beberapa detik kemudian di halaman laptop Fahri terpampang gambar Keira yang tampak anggun dan manis sekali. Di foto itu Keira tersenyum begitu manis. Foto itu tampak sopan, wajar dan tidak erotis. Keira tampak
segar dan cantik.
Yang membuat Fahri kaget dan dadanya bergetar adalah bunyi iklan di bawah foto itu. Keira melelang ke-virgin-annya. Keira membuka angka seratus ribu poundsterling. Keira mengatakan ia melakukan itu demi meraih cita-cita untuk kuliah di sekolah musik terkemuka di Inggris.
Sekilas Fahri melihat komentar-komentar netizen yang ramai membincangkan iklan Keira itu. Ada yang mensumpah serapahi Keira sebagai gadis yang tidak memiliki harga diri. Ada yang melaknat Keira sebagai pelacur perusak moral. Ada yang mencemooh Keira bahwa dia pasti berbohong, tidak mungkin
gadis seusia Keira hidup di Edinburgh masih virgin, kalau masih virgin itu berarti gadis yang idiot ataukolot dan kuno.
Ada yang menghargai usaha Keira yang ingin lanjut kuliah meskipun dengan jalan seperti yang dipilihnya. Ada yang menghargai Keira yang masih bisa menjaga kevirginannya dan
menyarankan Keira tidak meneruskan tindakan bodohnya itu. Dan yang paling banyak adalah yang iseng menawar Keira dengan harga jauh dari yang dimintanya.
Fahri mendesah dan beristighfar dalam hati berkali-kali. Fahri merasa kiamat seperti ada di depan mata. Keira bukanlah gadis yang pertama menjual dirinya secara terang-terangan seperti itu.
Sebelumnya ada ratusan bahkan ribuan gadis yang telah melakukannya. Dan setelah Keira, mungkin, akan ada lagi banyak gadis yang meniru jejak Keira. Yang juga membuat Fahri sangat sedih, apa yang dilakukan Keira itu tersebar ke seantero dunia melalui internet.
Tersebar juga sampai ke kota-kota dan
desa-desa di lndonesia. Tidak sedikit gadis-gadis di Indonesia yang melihat apa yang dilakukan Keira adalah hal yang keren dari
Barat. Meskipun tidak sedikit juga yang masih memiliki benteng moral iman dan rasa malu sehingga memandang apa yang dilakukan Keira itu adalah dosa besar.
Ia jadi teringat hadits riwayat Anas bin Malik ra. yang termaktub dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad saw. menjelaskan diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah merebaknya perzinahan.
Bahkan dalam hadits riwayat Abu Malik Asy‘ari, akan ada kaum yang menghalalkan perzinahan. Ia juga jadi teringat perkataan Imam Al Qurthubi yang dikutip Imam Ibnu
Hajar dalam Fathul Bari, mengomentari hadits Anas bin Malik ra., bahwa dalam hadits itu ada tanda-tanda kenabian, sebab Nabi Muhammad Saw. menjelaskan berbagai peristiwa yang akan terjadi sebagai tanda dekatnya kiamat dan peristiwa itu menurut Imam Al-Qurtubi telah terjadi di zamannya.
Yah, Imam Al-Qurtubi bahkan menganggap merebaknya zina telah terjadi di zamannya, padahal zaman itu adalah zaman dimana orang-orang shalih masih banyak hidup. Dan kemaksiatan tidak menjadi-jadi seperti saat ini.
Fahri menghela nafasnya dan berpikir, apa kira-kira komentar Imam Al-Qurtubi ketika melihat iklan seperti iklan yang dilakukan oleh Keira?
“Allahumma sallimna wa sallim ummati Nabiyyika Muhammadin minal fawakhisyi wa munkaratil akhlaq. Aamiin”
(Ya Allah selamatkan kami dan selamatkan ummat Nabi-Mu Muhammad dari
perbuatan-perbuatan keji dan kemungkaran akhlak. Aamiin.)
Lirih Fahri berdoa dalam hati.
"Apakah kau bisa membantu menyelamatkan Keira, Fahri? Tolong selamatkan dia, aku sudah membujuknya tapi tidak berhasil. Aku tak tahu harus minta tolong siapa, tapi entah kenapa aku merasa kau bisa aku ajak bicara."
"Kenapa tidak bicara dengan ibumu?"
"Tak ada gunanya. Aku sudah memberitahukan masalah ini, ibu malah bilang, kalau itu jalan yang mau ditempuh Keira biarkan saja! Dia mau jadi pelacur biarkan saja! Dia sudah bukan anak-anak lagi. Dia sudah bisa berpikir! Begitu katanya."
Fahri mendesah dan memejamkan mata, ia sangat khawatir pemikiran seperti ibunya Keira itu menular ke banyak ibu di negara-negara muslim di dunia, termasuk Indonesia.
Bibit-bibit adanya pemikiran seperti itu sudah ia baca. Mirip acuh tak acuhnya ibu Keira, banyak ibu-ibu di Indonesia yang terang-
terangan membiarkan anak gadisnya pergi diboncengkan pacar lelakinya dan meridhai begitu saja ketika keduanya pulang larut malam. Lalu tatkala ketahuan anak gadisnya itu telah hamil diluar nikah, sang ibu tidak merasa telah melakukan dosa besar.
Selama pacar lelakinya itu mau menikahi anak gadisnya yang telah hamil itu maka ia menganggap itu semua adalah kejadian yang lumrah saja dan wajar terjadi diantara anak muda. Sang ibu tidak sadar telah meng'halal'kan anak putrinya berbuat zina, atau meng'halal'kan anak putrinya dizinai pacarnya. Astaghfirullohal'adzim.
"Jason, aku tidak tahu persis, sesungguhnya apa yang terjadi dengan Keira. Tolong jelaskanlah! Kenapa ia sampai seperti itu?"
"Semua berawal ketika bom meledak di London, 7 Juli 2005. Bom itu menewaskan Tuan Brad, ayah Keira. Tidak hanya menewaskan ayah Keira, bom itu juga turut menghancurkan jalan Keira meraih mimpi-mimpi besarnya." Jason menyebut Tuan Brad sebagai ayah Keira, tidak menyebut Tuan Brad
sebagai ayah Keira dan dirinya. Fahri mengernyitkan kening.
"Tuan Brad itu juga ayahmu?"
"Bukan. Dia ayah Keira bukan ayahku."
"Jadi kalian bukan kakak beradik?"
"Saya dan Keira memiliki ibu yang sama, tetapi memiliki ayah yang berbeda."
"Oh, I see."
"Mama hidup satu rumah dengan Tuan Brad dan punya anak Keira. Ketika mama meminta Tuan Brad resmi menikahinya, Tuan Brad tidak mau. Alasan Tuan Brad katanya tidak mau hidup terikat.
Kata Mama, Tuan Brad diam-diam suka gonta-ganti pasangan. Mama tidak menyukai itu dan memilih pisah dengan Tuan Brad. Hanya saja kelebihan Tuan Brad adalah orangnya sebenarnya baik dan dermawan.
Karena itu meskipun berpisah, Tuan Brad masih memperhatikan Keira, yang berarti memperhatikan mama. Tuan Brad masih terus mengirim uang untuk Keira. Bahkan ketika mama menikah lagi dengan lelaki yang menjadi ayah kandungku, Tuan Brad masih mengirimi uang untuk Keira. Mama mungkin
adalah perempuan yang sial, suami keduanya yang tak lain adalah ayah kandungku itu meninggalkannya pergi ke Australia dan tidak kembali. Jadilah mama menghidupi kami berdua. Untung Tuan Brad masih terus membantu. Meskipun Tuan Brad sudah punya pasangan baru dan punya anak juga, tapi Tuan Brad sangat menyayangi Keira."
Fahri mendengarkan cerita Jason dengan seksama.
"Keira anak yang cerdas. Aku akui itu. Dia anak yang cerdas. Selain cerdas ia sangat berbakat
memainkan alat musik, terutama biola. Keira bermimpi menjadi pemain biola profesional tingkat dunia. Tuan Brad sangat mendukung cita-cita Keira. Sejak kecil Keira sudah dimasukkan sekolah musik oleh Tuan Brad. Bahkan Keira bisa masuk St.Mary‘s Music School , sekolah musik tingkat high school
terbaik di Edinburgh. Saat itu mimpi Keira melambung. Ia bersumpah akan masuk ke sekolah musik profesional terbaik di Inggris yang masuk dalam jajaran sekolah musik terbaik dunia seperti London's Royal College of Music atau The Yehudi Menuhin School di Surrey. Dua sekolah itu sangat terkenal
melahirkan musikus-musikus kelas dunia. Namun mimpi itu harus ia kubur bersama terkuburnya jenazah Tuan Brad, ayahnya, yang tewas karena Bom London, 7 Juli 2005 itu.
Tragisnya peristiwa itu terjadi ketika Keira bersiap untuk melanjutkan jenjang high schoolnya di St. Mary‘s Music School."
Fahri ikut merasa prihatin mendengarnya. Ia seolah ikut menjadi Keira yang kehilangan ayah yang dicintainya. Jason meIanjutkan ceritanya.
"Dan dunia mengumumkan pelaku pengeboman itu adalah orang Muslim. Sejak itu Keira bersumpah tidak akan memaafkan seluruh orang Muslim. Meskipun didera kesedihan dan kepedihan ditinggal
ayahnya, Keira tetap bisa menyelesaikan sekolahnya di St. Mary‘s Music School. Bahkan ia lulus dengan membawa predikat sebagai lulusan terbaik. Keira minta kepada mama agar bisa kuliah di London's Royal College of Music atau The Yehudi Menuhin School. Mama mempersilakan Keira kuliah disana jika
bisa membayar biayanya. Mama sendiri tidak mampu membayar biayanya yang tinggi.
Sejak itu Keira lebih sering murung. Ia seperti memandang dunia ini dengan kebencian. Foto yang diiklan itu sebenarnya sangat mengejutkan. Bagaimana ia bisa tersenyum semanis itu? Kapan Keira mengambil
foto itu? Siapa yang mengarahkan atau membuatnya bisa tersenyum semanis itu?
Sebenarnya aku sangat suka melihat foto Keira yang tersenyum manis itu, tetapi aku tidak suka ia menjual dirinya."
"Kelihatannya antara Keira dan ibumu ada masalah. Apa yang terjadi diantara mereka?"
"Ya ada sedikit masalah diantara mereka. Keira kecewa karena tidak bisa kuliah di London‘s Royal College of Music atau di The Yehudi Menuhin School. Keira sempat memaksa mama untuk bisa membiayainya kuliah di sekolah musik yang prestisius itu. Mama menolak sebab ia tidak mampu. Mama hanya lulusan sekolah menengah yang bekerja sebagai pelayan salah satu supermarket di kota ini.
Mama menemui kepala sekolah St. Mary‘s Music School meminta tolong agar Keira sebagai lulusan paling berprestasi bisa dibantu untuk bisa kuliah di tempat yang diimpikan Keira. Kepala sekolah menginformasikan ada beasiswa high diploma satu tahun di The lnstitute of Contemporary Music Performance di London. Sama-sama di London, tapi bukan Royal College. Keira terpaksa kuliah di sana.
Karena terpaksa ia lulus diploma dengan prestasi yang pas-pasan dan tidak cemerlang.
Padahal sesungguhnya ia sangat berbakat. Ia lalu pulang ke rumah dan hidup sebagai pengangguran.
Mama menginginkan agar Keira bisa membantunya mencari pemasukan. Sebab gajinya sangat mepet, termasuk juga untuk bayar cicilan angsuran rumah. Berkali-kali mama meminta Keira agar mencari uang dengan bekal kemampuannya bermain biola.
Bisa bergabung dengan sebuah kelompok pemusik, bisa tampil di hotel, atau bermain biola mengamen di jalur The Royal Mile, Edinburgh. Jalur yang ramai dilalui turis. Tetapi Keira tidak mau. Berkali-kali ia mengatakan ia tidak mau jadi pemain biola kacangan seperti itu. Ia ingin seperti Julia Fischer atau Olga Kivaeva yang bermain biola dikonser-konser bermartabat.
Keira menyalahkan mamanya yang tidak berusaha keras memasukkan ke Royal College. Keira juga sering mengingat bom London itu yang ia anggap penyebab musnahnya impian
paling berharganya. Kalau ayahnya masih hidup mungkin ia sudah menjadi lulusan terbaik London's Royal College of Music dan menjuarai salah satu kompetisi memainkan biola paling bergengsi di dunia.
Mama sangat tidak menyukai cara hidup Keira yang terus meratapi hidupnya dan menganggur. Ia memainkan biolanya hanya dikamarnya dengan nada sedih.
Puncak kejengkelan mama tak terbendung
dan akhirnya mama menjual dua barang paling berharga milik Keira yaitu dua biola. Biola lama dan biola yang baru saja dibeli itu dijual mama untuk membayar cicilan rumah. Begitu tahu dua biola itu dijual, Keira marah besar. Keira ngamuk merusak barang-barang yang ada di rumah. Melihat hal itu mama gantian yang marah besar dan mengusir Keira. Dan akhirnya Keira pergi meninggalkan rumah dan tidak mau kembali, lalu muncullah iklan itu."
Fahri mengangguk mendengar penjelasan Jason tentang apa yang terjadi pada Keira yang sangat detil itu. Fahri jadi teringat tulisan-tulisan di kaca mobilnya yang sangat menghina muslim yang ternyata ditulis oleh Keira itu. Fahri jadi tahu kenapa Keira bisa sedemikian benci kepadanya. Tak lain karena
luka batin Keira akibat kematian ayahnya kena bom London. Dan para pelaku bom London diberitakan adalah orang-orang Muslim, Keira pun melampiaskan kebenciannya kepadanya, karena Keira tahu ia seorang muslim. Fahri ingat betul coretan-coretan di kaca mobilnya dan di kertas yang ditempel di daun pintu rumahnya,
"ISLAM = SATANIC !"
"MUSLIM = TERORIST!"
"MUSLIM = MONSTER!"
Fahri menghela nafasnya. Ia memejamkan kedua matanya sambil dalam hati membaca shalawat berulang-ulang.
"Kasihan Keira, jangan sampai dia menjual dirinya. Akan jadi apa dia nanti. Kau bisa menolong Keira, iya kan Fahri? Please!" Kata Jason dengan nada sangat memohon.
Fahri memandangi wajah Jason dengan seksama. Mimik muka anak itu sangat berbeda dengan mimiknya beberapa waktu yang lalu saat Jason belum tahu siapa dirinya. Dulu anak itu begitu memancarkan permusuhan setiap kali berjumpa.
Kali ini anak itu menatapnya dengan wajah penuh harap dan penuh pinta.
"Seandainya mamamu menemui Keira mengajaknya pulang kembali ke rumah dan memintanya mencabut iklan itu, apakah Keira akan menurutinya?"
"Mungkin. Tapi saya tidak yakin."
"Cobalah minta mamamu untuk mengajak Keira pulang ke rumah lagi. Dan agar meminta Keira mencabut iklan itu !"
"Mama sudah tidak peduli. Ini tidak akan berhasil."
"Cobalah sekali lagi dengan sungguh-sungguh. Katakan kepada mamamu apa setega itu dia pada anak kandungnya. Cobalah sekali lagi, jika tidak berhasil datanglah lagi kepadaku. Datang ke rumah saja tidak usah ke sini!"
"Baik akan aku coba. Aku minta maaf, aku datang kemari menganggu. Aku sudah ke rumah tapi tidak ada orang, aku ke minimarket juga tidak menemukanmu, terpaksa aku kemari. Sebab ini masalah sangat panting. Iklan itu terus dibaca ratusan ribu bahkan jutaan orang. Aku khawatir kalau sampai
terjadi deal transaksi antara Keira dan pembelinya."
"Kalau begitu cepatlah kau bergerak temui ibumu. Ini untuk ongkos taksi. Kau pakai taksi saja." Fahri mengulurkan dua lempar dua puluhan poundsterling pada Jason.
"Baik, saya pergi dulu. Terima kasih." Ucap Jason sambil mengambil empat puluh poundsterling itu.
Jason bergegas melangkah cepat meninggalkan ruang kerja Fahri.
"Kalau itu adalah adik perempuanku, kakak perempuanku, anak perempuanku, keponakan
perempuanku, atau kerabat perempuanku, maka aku tidak akan biarkan ia melakukan itu. Aku akan tolong semampu yang bisa aku lakukan untuk menolongnya. Maka tidak ada alasan untuk tidak menolong Keira."
Gumam Fahri dalam hati. Ia tidak mungkin membiarkan ada perempuan melakukan perbuatan nista dihadapannya.
Jika ia mampu menyelamatkannya, apa pun agamanya, ia akan menyelamatkannya.Fahri meraih ponselnya dan mengontak Paman Hulusi.
"Bagaimana kondisinya Paman? Sudah boleh keluar dari sana?"
"Iya Hoca. Sudah baik. Dokter sudah mengizinkan keluar. Dia sedang berkemas. Ini saya sedang membereskan semua administrasi. Setengah jam lagi kami keluar dari klinik. Hoca yakin ia dibawa ke rumah kita, bukan disewakan tempat saja?"
"Bawa ke rumah kita saja Paman. Lantai dasar sudah Paman siapkan kan?"
"Sudah Hoca."
"Bawa dia langsung ke rumah saja, biar menempati kamar dilantai dasar. Paman Hulusi tidak usah menjemput saya. Saya ada urusan yang harus saya bereskan."
"Baik Hoca."
"Oh ya Paman, sebelum sampai rumah, ajak dia ke supermarket agar dia belanja semua keperluan pribadi dia. Mungkin dia perlu pakaian ganti, perlu sabun mandi yang cocok dengan dia dan lain sebagainya."
"Baik Hoca."
*****
Fahri bergegas meninggalkan kampus. Ia merasakan perutnya lapar. Ia berjalan cepat menuju Edinburgh Central Mosque. Selain untuk shalat maghrib, tujuannya adalah juga makan malam di kantin masjid.
Di masjid ia berjumpa dengan Tuan Taher Khan yang memberitahukan kepada Fahri bahwa Heba dilamar oleh imam masjid yang masih muda itu. Imam yang bacaannya pernah diluruskan oleh Fahri itu. Tuan Taher minta pendapat Fahri.
"Dia imam masjid. Masih mau ditanyakan apanya Iagi? Menurut saya tidak ada alasan bagi Heba untuk menolaknya." Jawab Fahri.
"Tapi Heba bilang ia tidak ada feel. Ia sudah beberapa kali lihat imam itu. Baik di jalan, di pelataran masjid, maupun ketika imam itu berkhotbah di mimbar masjid. Heba bilang ia tidak suka. Bagaimana menurut Anda?"
Masalah suka dan tidak suka itu sifatnya sangat pribadi. Saya tidak bisa memberikan pendapat. Saya hanya bisa memberikan pendapat terkait normatif ajaran Islam. Bahwa kalau ada lelaki yang shaleh datang meminang pada seorang perempuan, dan tidak ada alasan yang syar‘i untuk menolak, maka
perempuan itu sebaiknya tidak menolak."
"Alasan syar‘i seperti apa misalnya?"
"Ya misalnya yang melamar itu memiliki penyakit yang Heba tidak bisa menerimanya."
Tuan Taher mengangguk mendengar jawaban Fahri.
"Terkadang apa yang kita tidak sukai ternyata baik di mata Allah, dan terkadang apa yang kita sukai tidak baik di mata Allah. Meskipun yang kita inginkan adalah kita meraih apa yang kita sukai dan sekaligus juga disukai Allah dan baik menurut Allah."
"Iya benar."
Usai shalat dan makan malam di kantin, Fahri mencari taksi dan meluncur menemui salah satu orang kepercayaannya yaitu Suzan Brent di AFO Boutique yang berada di Queen Street, terletak beberapa blok di sebelah utara Princes Street Gardens.
"Nyonya Suzan, kalau boleh saya mau minta sedikit bantuannya?"
"Dengan senang hati."
"Tapi ini tidak ada kaitannya dengan bisnis dan tidak ada kaitannya dengan AFO Boutique."
"Kalau saya bisa bantu, dengan senang hati saya akan bantu. Saya senang Tuan Fahri percaya pada saya."
"Ya saya percaya pada Anda, karena track record Anda yang bisa diandalkan, Anda juga seorang kristiani yang taat."
"Terima kasih."
"Dalam ajaran agama Anda, saya sangat yakin sekali zina itu tidak dibolehkan. Benar?"
"Benar."
"Apa pendapat Anda setelah melihat iklan ini, sebentar saya bukakan."
Fahri membuka tabletnya dan membuka website di mana Keira mengiklankan diri menjual ke-virgin-annya. Fahri menyodorkan kepada Nyonya Suzan. Orang kepercayaan Fahri dalam mengurus AFO Boutique itu melihat foto Keira dan iklan yang tertulis dibawahnya dengan wajah memerah kaget.
"Oh my God!"
"Apa yang akan Nyonya lakukan jika Keira itu adalah anak gadis Nyonya?"
"Oh tidak, jangan sampai itu terjadi."
"Kalau misal terjadi, dia mengiklankan dirinya seperti yang dilakukan Keira apa yang akan Nyonya lakukan?"
"Aku akan cegah dia, akan aku korbankan semua yang aku miliki untuk menyelamatkan dia."
"Sungguh?"
"Demi Yesus, sungguh!"
"Baik. Nyonya Suzan, anggap saja Keira itu putri Anda. Saya ingin Nyonya menolong dia. Sesungguhnya dia adalah tetangga dekat saya."
"Oh ya?"
"Ya rumahnya tepat di samping rumah saya. Saya baru saja dapat informasi detil kenapa dia melakukan itu semua. Ia sedang kecewa, dia juga frustasi, dia punya mimpi besar yang ingin ia raih. Ia ingin jadi pemain biola profesional terkemuka, ia ingin jadi musikus besar, ia ingin menjuarai salah satu kompetisi biola tingkat dunia. Saya ingin Nyonya temui dia. Nyonya katakan padanya bahwa nyonya
sangat simpatik padanya, nyonya ingin membantunya sampai tercapai cita-citanya dan tidak perlu ia menjual kehormatan dirinya. Semua biaya terkait membantu Keira itu biar saya yang tanggung.
Kalau misalnya dia perlu belajar pada seorang maestro biola agar menang kompetisi main biola tingkat dunia, saya siapkan dananya semuanya. Saya ingin Keira meraih mimpinya jadi juara dunia main biola dan dia jadi pemain biola profesional. Saya tidak ada maksud apa-apa, saya murni ingin menyelamatkan seorang gadis yang aslinya baik itu agar tetap terjaga kesuciannya. Apakah Nyonya bisa membantu
saya?"
Kedua mata Nyonya Suzan berkaca-kaca,
"Tentu saja."
"Jangan pernah sebut nama saya. Biarlah Keira tahu yang membantu dia adalah Nyonya. Tidak apa-apa dia tahu Nyonya penanggung jawab AFO Boutique. Saya hanya minta agar Nyonya mensyaratkan kepada Keira, pertama ia kembali bersatu dengan ibu dan adiknya. Kedua, sungguh-sungguh dan berjuang keras
untuk jadi juara dan pemain biola terbaik. Ketiga, jika sudah jadi orang terkenal tetap rendah hati dan mengingat bahwa dibalik suksesnya Tuhan mengirim seorang sahabat yang membantunya."
"Baik Tuan, saya akan lakukan."
"Dan untuk pekerjaan membantu Keira ini, kalau Nyonya Suzan mau menganggap sebagai sebuah kerja profesional tidak apa. Saya akan bayar secara profesional tinggal Nyonya sebut angkanya saja."
"Ah tidak perlu Tuan. Saya bisa ikut menyelamatkan gadis itu bagi saya itu sebuah kehormatan bahwa hidup saya ada sedikit berguna untuk kebaikan."
"Terima kasih Nyonya. Malam ini juga Nyonya bisa langsung mengontak Keira, jangan sampai didahului orang-orang yang berniat buruk."
"Baik Tuan."
*****
Gerimis tipis turun membasahi Stoneyhill Grove. Sebuah taksi hitam berhenti di depan rumah Fahri.
Setelah membayar ongkos taksi, Fahri turun menenteng tas biola. Fahri melangkah memasuki beranda rumahnya sementara taksi balik kanan meluncur meninggalkan Stoneyhill Grove.
Paman Hulusi sedang menyeduh teh Turki ketika Fahri masuk dan mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Paman Hulusi sambil melihat barang yang dibawa Fahri.
"Apa itu Hoca? Biola?"
"Iya, Paman."
"Untuk apa? Rindu main biola seperti saat bersama Aisha Hanem?"
"Rindu pada Aisha tidak hanya main biolanya Paman. Rindu pada semuanya. Tapi biola ini mau saya berikan kepada seseorang."
"Siapa?"
"Keira."
"Keira?"
"Iya."
"Hoca jatuh cinta sama Keira?"
"Hus! Jangan bicara sembarangan Paman. Nanti saya ceritakan."
Tiba-tiba dari tangga yang menuju basement yang berada didekat dapur, muncul perempuan berjilbab hitam bermuka buruk. Fahri sedikit terhenyak. Ia sadar kini ada orang baru ikut menghuni rumah itu, yaitu Sabina.
"Ada apa Sabina?" Tanya Paman Hulusi.
"Maaf kalau mengganggu, saya perlu minum air hangat." Jawab Sabina serak dengan kepala menunduk.
"Oh ya, kebetulan ini saya sedang buat teh. Kau mau minum teh?" Sabina mengangguk.
Paman Hulusi mengambil cangkir keramik dan menuang air teh ke dalamnya lalu memberikannya kepada Sabina.
"Terima kasih." Sabina mengambil cangkir berisi teh itu lalu menuruni tangga menuju kamarnya di basement. Sebelum benar-benar menghilang ditelah anak tangga kebawah, Sabina sempat menengok melihat Fahri sekilas dan menatap barang yang dibawa Fahri.
Paman Hulusi menyeruput tehnya sambil berdiri.
"Duduk Paman."
"Oh iya Hoca, lupa."
la menyambar cangkir teh satunya yang ia siapkan untuk Fahri dengan tangan kirinya lalu berjalan menuju meja kursi diruang tengah yang sekaligus jadi ruang tamu.
Fahri duduk dan menyandarkan biola ke dinding. Paman Hulusi meletakkan cangkir teh di tangan kirinya dihadapan Fahri. Ia lalu duduk dan menyeruput tehnya.
"Boleh saya lihat biolanya, Hoca?"
"Boleh."
Paman Hulusi membuka tas hitam wadah biola dan mengeluarkan biola yang masih baru. Paman Hulusi mengamati dengan seksama. Paman Hulusi membaca merk biola itu.
"Karl Joseph Schneider Stradivari, buatan Jerman. Pasti mahal. Berapa harganya Hoca?"
"875 poundsterling."
"Mahal. Hoca yakin ini mau dihadiahkan buat Keira?"
"Yakin Paman. Ada apa Paman? Tidak seperti biasanya, kali ini Paman seperti aneh."
"Justru Hoca yang aneh. Belum pernah saya dengar Hoca memberi hadiah mahal pada seorang perempuan apalagi gadis. Hanya kepada Aisha Hanem Hoca biasa melakukan itu. Tiba-tiba ini Hoca mau memberi hadiah Keira sebuah biola merk Karl Joseph Schneider. Ini aneh. Ada-apa ini? Coba Hoca
bayangkan, jika Aisha Hanem tahu apa dia cemburu? Jika Aisha Hanem ada disini apa kira-kira Hoca Fahri akan berani memberi hadiah kepada Keira?"
Fahri tersenyum.
"Pikiran Paman Hulusi terlalu jauh. Dengar baik-baik Paman, kalau Aisha masih hidup dan ada di sini dan tahu kondisi Keira, maka ia yang akan mengidekan untuk memberi hadiah biola kepada Keira. Dia bahkan yang akan memaksa untuk menolong Keira."
"Menolong apa?"
"Ceritanya panjang. Istirahat dulu. Besok saya ceritakan."
"Iya, baik Hoca."
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar