PANASNYA BUNGA MEKAR : 28-02
“Kita harus berhati-hati. Orang-orang yang demikian biasanya mempunyai kekuatan di belakangnya untuk menakut-nakuti orang.” berkata Mahisa Bungalan.
“Tetapi apakah kekuatan yang ada padanya perlu dicemaskan?” bertanya seorang pengawal yang menyamar sebagai perampok itu.
“Bagaimanapun juga, kita tidak boleh menjadi lengah,” jawab Mahisa Bungalan, “apalagi mungkin sekali mereka telah berhubungan dengan para pengawal di Watu Mas.”
“Memang mungkin,” jawab pengawal itu, “apalagi setelah mereka mengetahui perampokan yang pertama itu.”
“Kita sudah melakukan dengan baik,” berkata Mahisa Bungalan, “kita tidak membawa barang-barang berharga itu seluruhnya. Justru hanya sebagian kecil, karena yang lain kita tinggalkan di pendapa dan halaman. Tetapi mudah-mudahan barang-barang itu kembali kepada pemiliknya.”
“Menurut pendengaran kami memang demikian.” jawab orang yang dengan laku sandi mendengarkan akibat dari perampokan itu.
Demikianlah pada saat yang ditentukan, Mahisa Bungalan telah mendekati sebuah padukuhan dengan anak buahnya. Di padukuhan itulah saudagar kikir yang akan menjadi sasarannya itu tinggal.
Setelah memperhatikan keadaan sejenak sambil menunggu tengah malam, Mahisa Bungalan dan orang-orangnya itu sempat beristirahat di pategalan yang sepi. Dua orang telah dikirim mendahului perjalanan mereka untuk melihat, apakah di padukuhan itu ada tanda-tanda yang membahayakan.
Ternyata bahwa jalan yang akan mereka lalui cukup lapang. Memang ada beberapa orang peronda di dalam gardu di ujung padukuhan, tetapi mereka akan dapat mencari jalan lain untuk memasuki padukuhan itu.
“Jika mungkin, kita akan menghindari para peronda yang berada di gardu itu.” berkata Mahisa Bungalan, “Dengan demikian kita tidak perlu bertempur. Sebab dengan pertempuran itu, bagaimanapun kita berhati-hati, mungkin sekali senjata kita akan menggores lawan. Bahkan mungkin senjata mereka akan melukai kita. Jika darah telah menitik maka sulitlah bagi kita untuk menahan diri, meskipun aku tetap berpesan, kita bukan perampok yang sebenarnya.”
Orang-orang yang mengikutnya itu pun mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Bungalan berkata, “Kita tidak akan membawa harta bendanya untuk kepentingan kita. Tetapi kita pun tidak akan meninggalkan harta benda itu di halaman. Kita akan meninggalkan sebagian besar dari kekayaannya bertebaran di jalan padukuhan, di bulak-bulak dan di pategalan. Setidak-tidaknya ia harus menyadari, bahwa harta benda yang tertimbun itu akan dapat lenyap dalam sekejap. Alangkah baiknya jika yang bertebaran itu kemudian atau sebagian jatuh ke tangan orang-orang yang memerlukannya.”
“Mereka akan takut memilikinya.” desis seseorang.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia pun sependapat bahwa orang-orang kebanyakan di sekitar saudagar kaya yang kikir itu tentu akan takut memilikinya. Namun demikian, maka ia berkata, “Kita akan menebarkan kekayaannya yang disimpannya di tempat yang tidak pernah tersentuh tangan. Mungkin dalam waktu dekat tidak ada orang yang berani menilainya meskipun mereka menemukannya. Tetapi mungkin setelah beberapa lama, barang-barang yang dapat diketemukan itu akan bermanfaat bagi orang-orang miskin di sekitarnya.”
Namun tiba-tiba salah seorang pemimpin pengawal yang menjadikan diri mereka perampok itu berkata, “Bagaimana kalau kita bawa saja sebagian dari harta benda orang kikir itu? Tidak untuk kita miliki, tetapi pada suatu saat akan kita kembalikan kepada orang-orang di sekitarnya dalam ujud yang lain, yang tidak akan mungkin dituntut oleh orang kaya yang kikir itu.”
Mahisa Bungalan berpikir sejenak. Namun kesempatannya tidak terlalu panjang. Mereka sudah menjadi semakin dekat dengan sasaran.
Karena itu maka Mahisa Bungalan kemudian mengambil keputusan, “Ya. Aku sependapat.”
Keputusan itulah yang kemudian menjalar kepada para perampok yang aneh itu. Mereka pun mendapat wewenang untuk membawa barang-barang dari orang kaya yang kikir itu.
Sebagaimana dikehendaki, maka para pengawal yang menjadikan diri mereka perampok itu berusaha untuk tidak melalui pintu gerbang padukuhan. Dengan hati-hati mereka memilih jalan yang sepi meskipun mereka harus meloncati dinding padukuhan.
Para pengawal itu tidak banyak mengalami kesulitan. Kemampuan mereka yang tinggi, melampaui kemampuan perampok yang sebenarnya telah mempermudah usaha mereka mendekati rumah orang kaya itu tanpa diketahui oleh para peronda.
Ketika mereka mendekati regol halaman rumah saudagar kaya itu, mereka melihat bahwa regol itu tertutup. Dengan hati-hati para pengawal itu pun mendekati dinding halaman dari arah samping, sehingga sebagian dari mereka justru berada di halaman sebelah halaman saudagar kaya itu.
“Lihatlah,” desis Mahisa Bungalan kepada seorang pengawal, “apakah ada seseorang yang menjaga regol itu.”
Pengawal itu segera beringsut. Tetapi ia harus sangat berhati-hati. Menurut perhitungan, maka di rumah itu tentu terdapat penjaga yang dapat melindungi kekayaan saudagar yang kikir itu.
Sebenarnyalah, pengawal yang mengamati regol itu mendengar suara dan orang yang sedang bercakap-cakap. Tiba-tiba saja pengawal itu ingin mendengarkan, apa saja yang mereka percakapkan.
Dari balik pintu ia mendengar seseorang berkata, “Saudagar itu tidak menyetujui meskipun aku sudah mengemukakan alasan-alasan yang seharusnya dapat ia mengerti. Anakku sakit dan keluarga isteriku memerlukan uang untuk membeli benih palawija.”
“Ia memang kikir sekali,” sahut yang lain, “aku sebenarnya sudah jemu bekerja di sini. Tetapi aku tidak akan mendapatkan pekerjaan lain jika aku keluar dari tempat ini. Sementara sawahku yang tandus itu tidak memberikan makan yang cukup bagi keluargaku.”
“Tetapi rasa-rasanya kurang seimbang jika kita perbandingkan antara tugas kita yang bertaruh nyawa itu dengan upah yang kita terima.” berkata yang seorang.
“Apa boleh buat, untuk sementara aku harus bertahan. Mudah-mudahan selama bertahan di sini, kita tidak cepat mati. Para perampok yang tidak sempat merampok ke Pakuwon Kabanaran telah merampok di daerah Watu Mas.” jawab yang lain.
Tiba-tiba saja timbul keinginan pengawal itu untuk melakukan sesuatu yang mungkin akan dapat menghindarkan perkelahian. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berdesis di luar pintu regol, “Kau benar, Ki Sanak. Kami telah datang kemari.”
Kedua penjaga itu serentak meloncat. Dengan geram salah seorang dari keduanya bertanya, “Siapa kau?”
“Sudah kau sebut-sebut dalam pembicaraanmu. Aku tidak datang sendiri. Tetapi sekelompok. Bukalah pintu. Aku akan berbicara dengan baik.” berkata pengawal di luar pintu itu.
“Tidak,” geram penjaga di dalam pintu, “kami bertugas di sini. Kami akan menghalau siapa saja yang berani mengganggu rumah ini.”
“Jangan terlalu garang, Ki Sanak,” berkata pengawal itu, “aku mendengar apa yang kau bicarakan. Kalian mengeluh, bahwa apa yang kalian dapat dari saudagar itu tidak seimbang dengan jerih payah yang kau berikan. Bukankah begitu ? Jika kalian memaksa diri melawan kami, maka akibat yang paling pahit akan kalian alami. Mungkin kalian adalah orang-orang yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Tetapi lawanmu akan terlalu banyak, karena kami datang dalam jumlah yang besar. Sementara itu, orang-orang di sekitar rumah saudagar yang kikir ini tidak akan membantumu.”
“Kami tidak hanya berdua,” jawab penjaga regol itu, “tetapi kami berempat. Dua orang di antara kami tidur di pendapa. Mereka akan segera bangun dan ikut serta menangkap kalian.”
“Apa artinya ampat orang bagi kelompok kami?” jawab pengawal itu, “Berpikirlah. Jika kalian memang berniat untuk mempertaruhkan nyawa kalian untuk upah yang tidak seimbang itu, kami pun tidak berkeberatan, meskipun sebenarnya kami merasa sayang akan keadaanmu sekeluarga. Anak isterimu dan mungkin orang tuamu.”
Penjaga regol itu menjadi heran. Mereka tidak dapat membayangkan bahwa seorang perampok dapat berbicara tentang keluarga, anak dan isteri. Namun demikian, salah seorang dari mereka menjawab, “Kau menakut-nakuti kami? Jangan menyangka bahwa kau dapat berbuat demikian terhadap kami.”
“Tidak, Ki Sanak. Aku tidak menakut-nakuti,” jawab pengawal itu, “tetapi aku mendengar apa yang kalian percakapkan itu. Kalian merasa, bahwa apa yang kalian lakukan tidak sesuai dengan upah yang kalian terima. Karena itu, jangan korbankan dirimu untuk sesuatu yang tidak akan berarti apa-apa bagi hidupmu.”
“Tetapi jika aku kehilangan pekerjaan ini, hidupku akan menjadi semakin sulit.” jawab salah seorang dari mereka.
“Lebih baik kehilangan pekerjaan itu daripada kehilangan nyawamu.” jawab pengawal itu, “Sudahlah. Buka pintunya dan beri kesempatan aku menjelaskan.”
Kedua orang itu menjadi ragu-ragu. Sementara itu pengawal itu berkata, “Atau, kau perlu bukti bahwa kami dapat berbuat seperti yang aku katakan?”
Tiba-tiba saja salah seorang menjawab, “Ya. Buktikan bahwa kau dapat melakukannya.”
Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Baiklah. Kami akan memasuki halaman ini. Tetapi kami tidak berniat untuk bertempur jika kalian tidak mendahului.”
Tidak ada jawaban. Sementara itu pengawal itu pun berkata, “Tunggulah sebentar. Aku akan memberitahukan kepada kawan-kawanku.”
Pengawal itu tidak menunggu jawaban. Sejenak ia merayap meninggalkan regol kembali kepada Mahisa Bungalan. Dengan singkat ia menceriterakan keadaan penjaga regol itu dan percakapannya dengan mereka.
“Baiklah. Kita akan memasuki halaman. Tetapi jangan berbuat sesuatu lebih dahulu.” berkata Mahisa Bungalan.
Pesan itu pun telah merambat dari seorang ke orang lain sehingga seluruh kelompok itu mengerti maksudnya.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Bungalan memberikan isyarat bunyi sebagai perintah kepada para pengawal untuk dengan serentak meloncati dinding dan memasuki halaman.
Kehadiran mereka benar-benar mengejutkan dua orang penjaga regol yang masih berada di tempatnya. Keduanya menyangka, bahwa sekelompok perampok akan merusak pintu regol. Karena itu, dengan senjata telanjang keduanya menunggui pintu itu, sementara kedua kawannya telah terbangun pula, meskipun mereka masih berada di pendapa.
Sebelum keempat orang penjaga itu berbuat sesuatu, pengawal yang menyebut diri mereka perampok itu telah memenuhi halaman. Sementara pengawal yang telah berbicara dengan dua orang pengawal itu maju mendekati keduanya yang termangu-mangu.
“Nah, bukankah aku berkata sebenarnya.” desis pengawal itu.
Kedua orang penjaga itu tertegun. Mereka melihat sekelompok orang yang disangkanya benar-benar perampok telah berada di depan hidungnya. Tetapi seperti yang dikatakan oleh salah seorang di antara mereka, bahwa jumlah mereka terlalu banyak.
“Apakah kalian berempat akan melawan?” bertanya pengawal itu.
Keempat orang yang terpisah itu ragu-ragu. Mereka yakin bahwa para perampok itu dapat berbuat sangat kasar terhadap mereka. Bahkan membunuhnya.
“Upah yang kalian terima sama sekali tidak seimbang dengan taruhan yang kalian berikan,” berkata pengawal itu, “kau sendiri menyadari. Karena itu, menyerah sajalah. Kami tidak akan mengganggu kalian, kecuali jika kalian melakukan sesuatu yang dapat mengganggu kerja kami.”
Keempat orang itu masih membeku.
“Cepat, menyerahlah,” ulang pengawal itu, “jangan menunggu kami kehabisan kesabaran. Letakkan senjata kalian sebelum jantung kalian terbelah.”
Keempat penjaga itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Yang ada di halaman itu adalah perampok-perampok yang garang dan mempunyai pengalaman yang luas tentang benturan kekerasan.
Karena itu, maka ketika seorang di antara mereka meletakkan senjatanya, maka yang lain pun segera melakukannya pula.
“Ternyata kalian cukup bijaksana,” berkata pengawal itu, “kalian tidak mau mengorbankan diri untuk upah yang tidak memadai. Silahkan kalian duduk di sudut pendapa. Biarlah dua orang kawan kami mengawasi kalian, sementara kami akan melakukan tugas kami.”
Keempat orang itu pun kemudian duduk di pendapa. Namun salah seorang dari mereka bedesis, “Ikat kami. Agar tidak mendapat tuduhan yang dapat menjerat leher kami. Seolah-olah kami telah memberikan jalan kepada sekelompok perampok untuk merampok di rumah ini.”
Pengawal itu memandang Mahisa Bungalan sejenak. Ketika kemudian Mahisa Bungalan mengangguk, maka keempat orang itu pun kemudian diikat dengan ikat kepala mereka masing-masing.
Dalam pada itu, keributan yang terjadi di pendapa itu ternyata telah membangunkan saudagar kaya yang kikir itu. Sesaat ia mencoba mendengarkan, apa yang telah terjadi di luar. Dengan hati-hati ia mendekati pintu pringgitan. Namun ia tidak berani membuka dan mengintip keluar.
Tetapi suara-suara yang didengarnya telah meyakinkannya, bahwa sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.
Tetapi saudagar kaya yang kikir itu sama sekali tidak mendengar perkelahian terjadi. Karena itu, ia menjadi ragu-ragu. Yang didengarnya hanyalah percakapan yang tidak jelas.
Namun ia terkejut bahwa tiba-tiba pintu pringgitan di hadapannya itu diketuk keras-keras. Hampir saja ia terlonjak dan berteriak. Namun ia berhasil menguasai diri. Karena itu, ia hanya bergeser saja surut beberapa langkah.
“Buka pintu!” terdengar suara garang di luar. Saudagar itu menjadi sangat berdebar-debar. Agaknya telah datang sekelompok perampok yang telah berhasil menguasai para penjaganya.
“Buka pintu!” sekali lagi terdengar suara itu.
Saudagar kaya itu termangu-mangu. Namun di luar terdengar suara, “Rumahmu sudah dikepung. Jangan mencoba lari lewat pintu-pintu butulan. Tidak ada gunanya. Bahkan mungkin hanya akan mencelakakan saja. Keempat orang upahanmu telah kami tangkap dan kami ikat, karena mereka tidak akan mampu melawan kami dalam jumlah yang lima kali lipat.”
Saudagar itu menjadi gemetar. Nampaknya memang tidak ada harapan lagi. Yang datang lima kali lipat dari jumlah orang-orangnya.
Meskipun demikian ia mencoba menjawab, “Kalian berbohong.”
“Jangan bodoh. Kami dapat membakar rumahmu dengan segala isinya.” bentak pengawal di luar pintu. “Cepat, buka pintu! Kami bukan tamu yang mengenal sopan santun dan unggah-ungguh. Tetapi kami adalah orang-orang kasar yang tidak punya kesabaran.”
Saudagar di dalam rumahnya itu menjadi semakin gelisah. Agaknya orang-orang yang di luar itu benar-benar bukan orang yang mengenal ungguh-ungguh. Ternyata bahwa sejenak kemudian mereka telah mengetuk pintu semakin keras.
“Apakah kau menunggu rumahmu menjadi abu?” bentak orang yang mengetuk pintu itu.
Saudagar itu menjadi gemetar. Karena itu, maka ia tidak mempunyai pilihan lain. Kepercayaannya agaknya sudah tidak berdaya lagi, karena yang datang terlalu banyak.
Karena itu, maka dengan tangan gemetar itu pun telah membuka pintu pringgitan. Demikian pintu itu terbuka, maka dua orang yang berdiri di depan pintu telah mengacungkan pedangnya ke dadanya.
“Kau akan melawan?” bertanya salah seorang. Sebenarnyalah yang datang memang terlalu banyak. Apalagi menurut orang yang mengetuk pintunya, rumah itu sudah dikepung.
Karena itu, maka ia pun tidak dapat berbuat apa-apa sama sekali. Apalagi ketika kemudian ia melihat keempat orang penjaga rumahnya sudah terikat.
“Jangan membuat gaduh,” berkata salah seorang pengawal, “kumpulkan semua keluargamu, isteri dan anak-anakmu, pelayan-pelayanmu dan siapa saja yang berada di rumah ini.”
Saudagar itu tidak dapat membantah lagi. Semua keluarganya pun dikumpulkannya. Mereka terpaksa duduk diam dijaga oleh tiga orang berwajah garang dan berpakaian serba hitam. Seorang di antara anak saudagar kaya itu, menangis tidak henti-hentinya. Betapapun para perampok itu membentaknya, namun anak itu masih tetap menangis saja.
“Biarkan saja.” desis Mahisa Bungalan yang juga berpakaian seperti kawan-kawannya.
Seorang pengawal pun kemudian bertanya kepada saudagar kaya itu, “Tunjukkan, di mana harta bendamu kau simpan!”
Saudagar itu menjadi gemetar. Tetapi ia menjawab, “Aku tidak mempunyai harta benda berlebih-lebihan, selain yang nampak di ruangan-ruangan ini.”
“Jangan bohong!” orang yang bertanya itu membentak.
Saudagar itu terkejut. Sementara anaknya menangis semakin keras. Tetapi orang-orang kasar itu tidak menghiraukannya. Bahkan salah seorang berkata, “Nah, kau tahu. Menangis terlalu lama tidak baik bagi anak-anak. Mungkin ia akan menjadi sesak nafas. Mungkin menjadi lemas. Mungkin masih akan dapat timbul akibat-akibat yang lain.”
Saudagar itu termangu-mangu. Sementara orang kasar itu berkata lagi, “Tetapi lebih parah lagi jika kamilah yang kehilangan kesabaran. Akibat yang timbul akan lebih parah dari sekedar sesak nafas, lemas atau akibat-akibat yang lain dari tangisnya.”
“Jangan. Jangan ganggu anakku.” tangis isteri saudagar itu.
“Terserah kepada kalian,” berkata orang kasar itu, “apakah kalian lebih sayang akan harta bendamu, atau kalian lebih sayang kepada anakmu.”
“Kedua-duanya.” desis saudagar itu.
“Aku hanya memberimu kesempatan memiliki salah satu.” geram orang kasar itu.
“Jangan ganggu anakku.” tangis isteri saudagar itu semakin memelas.
“Berkatalah kepada suamimu.” berkata perampok yang garang itu.
Isteri saudagar itu memandang suaminya sejenak. Lalu katanya, “Berikan. Berikan semuanya yang diminta. Tetapi jangan anakku.”
Saudagar itu termangu-mangu. Ia adalah orang yang sangat kikir. Orang yang seluruh hidupnya diabdikannya kepada harta benda yang dikumpulkannya dengan sangat tekun.
Karena itu, maka ia harus berpikir berulang kali untuk mengambil keputusan.
Tetapi isterinyalah yang menangis, “Berikan. Berikan. Aku memerlukan anak ini lebih dari segala-galanya.”
Saudagar yang kikir itu menjadi sangat bingung. Ia sayang kepada anak-anaknya. Tetapi ia pun sayang sekali kepada harta bendanya.
“Cepat ambil keputusan!” bentak perampok itu.
Saudagar itu menjadi semakin bingung. Hampir menangis ia berkata, “Jangan sudutkan aku ke dalam kesulitan semacam ini.”
“Baiklah,” berkata perampok itu, “jika demikian, aku akan membakar rumah ini bersama segala isinya. Kau, isteri dan anak-anakmu.”
“Jangan anak-anakku,” tangis isterinya, “bakar aku dan isi rumah ini. Harta benda terkutuk itu. Tetapi selamatkan anak-anakku.”
Saudagar itu bahkan menangis lebih keras lagi, “Aku menjadi bingung sekali.”
Tetapi tangisnya terputus ketika ujung belati menyentuh lehernya, “Aku dapat memutuskan lehermu dan menghentikan tangismu yang gila ini. Bukankah kau seorang laki-laki? Bukankah kau seorang yang sangat kikir? Yang sampai hati melihat saudara sepupumu kelaparan dan telanjang? Kenapa kau begitu cengeng dan menangis seperi kanak – kanak?”
Dada saudagar itu menjadi sesak. Namun akhirnya ia berkata, “Jangan bunuh aku.”
“Nah, jika demikian, di mana kau menyimpan harta bendamu, yang kau kumpulkan dengan cara yang sangat licik. Kau hisap tetangga-tetanggamu dengan segala macam cara. Kau timbuni dirimu dengan keuntungan yang melimpah ruah. Kau biarkan orang lain menjadi miskin karena pokalmu.” berkata perampok yang kasar itu, “Sekarang, tunjukkan. Di mana harta bendamu.”
Orang itu tidak dapat menolak lagi. Dengan sendat ia berkata, “Aku menyimpannya di bawah pembaringan.”
Perampok itu tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun kemudian mendorong saudagar itu sambil membentak, “Tunjukkan aku, di mana pembaringanmu.”
Saudagar yang ketakutan itu pun kemudian pergi ke sentong kiri. Cahaya lampu yang redup membuat ruangan itu tidak cukup terang. Tetapi seorang perampok yang lain telah membawa lampu yang lebih besar memasuki ruangan itu.
“Di kolong pembaringan ini?” bertanya perampok.
“Di bawah kolong.” desis saudagar itu.
“Cepat, ambil!” bentak perampok yang kasar itu.
Saudagar itu pun kemudian membuka pembaringannya. Di ambilnya galar ambennya satu demi satu. Baru kemudian nampak di sudut kolong pembaringannya terdapat sehelai kepang bambu terbentang di atas lantai batu.
Sejenak saudagar itu ragu-ragu. Tetapi perampok yang kasar itu telah mendorongnya dengan ujung pisau belati.
Demikianlah, maka akhirnya saudagar itu terpaksa mengangkat dua buah peti dibantu oleh dua orang perampok yang selalu mengancamnya. Dengan wajah pucat dan tangan gemetar saudagar itu meletakkan kedua peti itu di depan pintu sentongnya.
“Terima kasih,” berkata para perampok itu, “aku akan melihat, apakah isi petimu ini.”
Kedua peti kayu itu pun kemudian telah dibuka. Isinya memang menggetarkan. Saudagar itu benar-benar seorang kaya raya, meskipun pada sisi luar dari kehidupannya sehari-hari tidak terlalu nampak.
“Ki sanak,” berkata perampok yang kasar itu, “ternyata aku memang memerlukan barang-barang ini. Tetapi kami bukannya orang yang tidak berjantung. Kami akan membawa satu saja dari kedua petimu ini.”
“Jangan.” tangis saudagar kaya itu.
“O, jika demikian aku akan membawa kedua-duanya.” berkata perampok itu kemudian.
“Jangan, jangan.” saudagar itu menangis lagi.
“Karena itu, katakan. Yang manakah yang harus aku bawa. Satu, atau dua atau seisi rumahmu ini?” perampok itu mulai membentak, sementara pisau belatinya mulai menyentuh tubuh saudagar itu lagi. Katanya pula, “Jika kau tidak mau melepaskan kedua-duanya, maka nyawamulah yang akan terlepas. Akhirnya aku akan memiliki kedua petimu itu pula.”
Saudagar itu benar-benar tidak berdaya. Para perampok itu pun telah memilih satu dari kedua petinya dan siap untuk membawanya, sementara saudagar itu hampir menjadi pingsan karenanya.
Beberapa orang kawan perampok itu pun kemudian menggotong peti yang telah dipilih berisi barang-barang yang sangat berharga, meskipun peti yang ditinggalkan itu pun berisi barang-barang berharga pula.
“Terima kasih, Ki Sanak,” berkata perampok itu, “kami akan segera meninggalkan tempat ini. Mudah-mudahan anakmu segera berhenti menangis. Dan kau sendiri juga berhenti menangis. Kau tidak perlu kecewa karena barang-barangmu ini kami bawa, karena tidak ada gunanya.”
Saudagar itu tidak mampu untuk menjawab. Jantungnya bagaikan berhenti berdetak ketika para perampok itu kemudian meninggalkan rumahnya dengan mengusung satu di antara kedua petinya.
Ketika para perampok itu sudah berada di halaman, maka salah seorang dari mereka masih berpesan, “Dengar, Ki Sanak. Jangan membuat gaduh, agar kami tidak kembali untuk mengambil petimu yang satu lagi.”
Saudagar itu tidak menjawab. Ia hanya dapat memandangi saja para perampok itu hilang di balik pintu regol.
Namun dalam pada itu, demikian para perampok itu pergi, tiba-tiba saja saudagar itu telah melompat ke arah keempat orang penjaga rumahnya sambil berteriak, “Bunyikan kentongan. Cepat!”
Keempat orang penjaga rumah saudagar itu saling berpandangan. Tetapi mereka masih belum bergerak sama sekali.
“Cepat. Bunyikan kentongan!” berkata saudagar itu hampir berteriak.
“Kami terikat.” sahut salah seorang dari para penjaga rumahnya.
Saudagar itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian dengan tergesa-gesa ia melepas ikatan orang-orangnya yang membelenggu tangan mereka.
“Cepat!” saudagar itu sudah berteriak.
“Apakah ada artinya?” bertanya salah seorang penjaganya.
“Biar orang-orang seluruh padukuhan ini terbangun.” jawab saudagar itu.
“Tetapi perampok itu sudah jauh.” jawab orangnya yang lain.
“Tidak peduli. Cepat lakukan.” bentak saudagar itu.
Salah seorang dari para penjaga itu pun kemudian dengan segan pergi ke regol. Sejenak kemudian terdengar suara kentongan di regol halaman saudagar kaya itu memecah sepinya malam.
Ternyata suara kentongan itu telah mengejutkan orang-orang yang mendengarnya. Satu dua orang yang tidak mengerti apa yang terjadi telah menyambung dengan bunyi kentongan pula.
Sejenak kemudian padukuhan itu telah dipenuhi suara titir. Beberapa orang telah berlari-larian keluar rumahnya. Namun ketika mereka mendengar, bahwa rumah saudagar kaya yang kikir itulah yang dirampok, maka seorang demi seorang telah masuk kembali ke dalam rumahnya. Suara kentongan pun semakin lama menjadi semakin jarang, sehingga akhirnya hanya beberapa kentongan sajalah yang masih berbunyi.
“Biar sajalah,” desis seseorang, “saudagar kaya itu sekali-sekali memang memerlukan pelajaran.”
“Orang itu sangat kikir,” sahut yang lain, “aku tidak mau mempertaruhkan diri untuk melawan para perampok bagi saudagar kikir itu.”
“Tetapi jika kita tidak berbuat apa-apa, maka para perampok itu akan mengulangi lagi perbuatannya di padukuhan ini, seolah-olah kami semuanya adalah pengecut.” berkata seseorang.
“Jika pada saat lain terjadi pada orang lain, kita akan bertindak.” sahut seorang anak muda.
Ternyata tidak seorang pun yang menaruh perhatian terhadap peristiwa yang baru saja terjadi. Karena itu, justru suara kentongan pun menjadi lenyap, kecuali suara kentongan di regol saudagar kaya itu sendiri.
Tetapi, justru di padukuhan saudagar kaya itu suara kentongan berhenti, di padukuhan-padukuhan lain, suara itu sudah menjalar, padukuhan terdekat yang mendengar suara kentongan itu, telah menyambutnya dan mengembangkannya. Demikian sahut-menyahut sehingga di beberapa padukuhan suara kentongan itu masih bergema.
Dalam pada itu, sekelompok pengawal Pakuwon Kabanaran yang telah mendapat tempaan khusus itu sama sekali tidak menghiraukan suara kentongan itu. Seandainya laki-laki dari beberapa padukuhan akan mengejarnya, maka mereka tidak akan menjadi gentar.
Namun demikian Mahisa Bungalan memperingatkan, “Ingat. Jika kalian harus berhadapan dengan sekelompok orang Pakuwon Watu Mas, kalian tidak boleh bertindak semena-mena. Kalian memang mempunyai kelebihan dari mereka, tetapi tidak sepantasnya kalian kehilangan pengamatan diri dan berbuat benar-benar seperti segerombolan perampok.”
Para pengawal itu mengangguk-angguk.
Namun selagi orang-orang dari padukuhan tetangga mencari keterangan, maka para pengawal yang merampok itu pun menjadi semakin jauh.
Dalam pada itu, saudagar kaya yang kikir itu menjadi heran, bahwa tidak ada seorang pun yang datang kepadanya untuk membantu. Para penjaga regolnya pun melihat bahwa orang-orang padukuhan itu tidak menghiraukannya sama sekali. Bahkan mereka pun telah kembali masuk ke dalam rumah masing-masing.
“Kenapa mereka berbuat begitu gila?” teriak saudagar kaya yang kikir itu.
“Aku tidak tahu.” jawab penjaganya.
“Mereka sama sekali tidak mengenal terima kasih,” geram saudagar kikir itu, “tanpa aku, mereka akan mati kelaparan di musim paceklik. Aku adalah orang yang memberi pinjaman kepada mereka sehingga anak-anak mereka tidak mati kelaparan. Namun dalam keadaan begini mereka sama sekali tidak bersedia membantu aku.”
Para penjaga rumah saudagar itu sama sekali tidak menyahut. Tetapi mereka mengerti, bahwa sebenarnyalah saudagar itu adalah orang yang sangat kikir. Jika saudagar itu bersedia memberikan pinjaman, maka pada saatnya, tetangga-tetangganya harus mengembalikan berlipat ganda. Tanpa kemungkinan itu, maka saudagar itu akan sampai hati menolak permintaan pinjam seseorang untuk membeli obat bagi keluarganya yang sakit keras.
Namun dalam pada itu, peristiwa itu adalah satu peringatan yang sangat keras bagi saudagar yang kaya tetapi sangat kikir itu. Ia sudah kehilangan sebagian dari simpanannya. Sementara tetangga-tetangganya sama sekali tidak menghiraukannya ketika rumahnya dirampok oleh segerombolan orang.
Bagaimanapun juga ia harus menilai keadaannya. Meskipun sulit baginya untuk merubah perangainya itu.
Sementara itu, maka Mahisa Bungalan dan para pengawal dari Pakuwon Kabanaran yang telah menjadi sekelompok perampok itu telah menuju ke perbatasan. Sejenak kemudian mereka pun telah memasuki hutan kecil yang memisahkan Pakuwon Kabanaran dan Pakuwon Watu Mas, sambil membawa satu peti harta benda saudagar yang sangat kikir itu.
Perampokan itu pun segera tersebar ke padukuhan-padukuhan di perbatasan. Para Pengawal di Pakuwon Watu Mas yang mendengar hal itu pun segera berdatangan. Seperti perampokan yang pernah terjadi, maka peristiwa itu pun telah membuat pemimpin pengawal menjadi marah.
Tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian para pengawal. Pada peristiwa yang pertama, sebagian dari harta benda yang dirampok telah bertebaran di pendapa dan halaman rumah, sehingga pemiliknya masih sempat mengumpulkannya. Sementara itu pada peristiwa yang kedua, para perampok itu hanya membawa satu dari dua peti yang seolah-olah sudah tersedia.
“Menarik sekali,” berkata pemimpin perampok, “aku kira hal ini jarang sekali terjadi. Para perampok itu tidak akan berbelas kasihan meninggalkan satu peti dari dua peti yang sudah diketemukannya. Mereka juga tidak akan menyebar perhiasan di halaman seperti yang pernah terjadi.”
Para pengawal hanya dapat mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka sama sekali tidak dapat membayangkan apa yang telah terjadi.
Ketika sekali lagi pemimpin pengawal itu menemui para perampok yang bersarang di hutan-hutan di tlatah Watu Mas, maka mereka pun mendapat jawaban serupa sebagaimana pernah dikatakan oleh pemimpin perampok itu.
“Tidak mungkin terjadi,” berkata pemimpin perampok itu, “orang-orangku bukan orang-orang gila. Meskipun mereka orang-orang kasar, tetapi mereka memegang teguh janji. Kami tidak akan melakukannya di daerah Watu Mas sendiri.”
“Jika demikian, aku minta kalian membantu kami,” berkata pengawal itu, “mau tidak mau. Jika kalian tidak bersedia, maka kami akan tetap menuduh kalian terlibat ke dalam perampokan yang aneh itu.”
Pemimpin perampok itu tidak dapat membantah. Ia sadar, untuk mengatasi kejahatan, maka para pengawal terbiasa mempergunakan orang-orang dari lingkungan yang sama. Karena itu maka katanya, “Kami akan membantu. Tetapi kalian harus mempercayai kami. Tanda-tanda dari perampokan itu pun jauh berbeda dari yang kami lakukan. Kami tidak akan pernah menyisakan barang-barang yang telah kami dapatkan di rumah itu, atau sebutir permata pun yang jatuh dari tangan kami.”
“Kalian tidak perlu bertindak sebagaimana kami lakukan. Tetapi bantu kami mengawasi daerah ini. Beri laporan kepada kami apa yang kalian ketahui kemudian. Kamilah yang akan bertindak atas para perampok itu.” berkata pemimpin pengawal itu.
“Tetapi jangan curigai kami dalam hal ini.” berkata pemimpin perampok itu.
Demikianlah, untuk menghilangkan segala kecurigaan, maka para perampok itu terpaksa bekerja keras untuk ikut serta memecahkan teka-teki tentang perampokan itu.
Sementara itu, kegelisahan mulai merayapi hati rakyat Watu Mas. Mereka mulai dibayangi oleh ketakutan di malam hari. Lebih-lebih orang-orang yang memiliki sedikit kekayaan di perbatasan.
Namun dalam pada itu, ternyata Akuwu di Watu Mas memiliki perhitungan yang cermat. Meskipun ia belum menyatakan dengan terbuka, tetapi ia sudah berbuat dengan beberapa orang pemimpin di Pakuwon itu.
“Orang-orang Pakuwon Kabanaran telah mendendam kita,” berkata Akuwu itu, “tidak mustahil bahwa mereka telah melakukan sesuatu untuk membalas dendam.”
“Mungkin sekali,” sahut seorang Senopati, “karena itu, maka pengawalan di daerah yang rawan itu harus diperkuat.”
“Bagaimana sikap Pangeran Indrasunu?” bertanya seorang Senopati yang lain.
“Masih belum jelas. Tetapi ia sudah bersedia melibatkan diri dengan pengikut-pengikutnya yang terdiri dari beberapa padepokan yang besar. Apabila terjadi perselisihan terbuka, maka ia mempunyai kekuatan untuk ikut serta menghancurkan Kabanaran. Pangeran Indrasunu pernah menduduki kota Pakuwon untuk beberapa lamanya. Tetapi karena ia memang tidak ingin merebut kekerasan, selain sekedar memberikan peringatan saja kepada Akuwu Suwelatama.” jawab Akuwu di Watu Mas. Namun kemudian, “Tetapi kita tidak tergantung kepada Pangeran Indrasunu. Kita mempunyai sikap dan kekuatan. Menghadapi Kabanaran, Watu Mas sama sekali tidak gentar. Bahkan kita akan mempunyai alasan untuk menentukan sikap atas perbatasan di kemudian hari jika perang terjadi. Kami yakin akan dapat mengalahkan Kabanaran. Sementara itu kita pun akan dapat mempertahankan kebenaran sikap kita, seandainya kita harus mempertanggungjawabkannya di hadapan para penguasa di Kediri, bahkan Singasari sekalipun.”
Para Senopati mengangguk-angguk. Watu Mas memang cukup kuat. Sementara para pemimpin di perbatasan menganggap bahwa para pengawal di Kabanaran sudah gelisah dan kehabisan akal menghadapi sekelompok perampok. Apalagi jika mereka benar-benar berhadapan dengan Watu Mas.
Namun dalam pada itu, Akuwu Suwelatama yang menyetujui sikap Mahisa Bungalan untuk mengadakan balasan atas sikap Akuwu di Watu Mas tentang perbatasan, telah memperhitungkan pula segala kemungkinan yang terjadi. Karena itu, maka dengan sungguh-sungguh para pengawal di Kabanaran telah meningkatkan kemampuan mereka. Bahkan Akuwu Suwelatama telah memanggil anak-anak-muda yang bersedia untuk ikut serta menjadi pengawal Pakuwon. Mereka yang menyatakan dirinya bersedia, telah dimasukkan ke dalam sebuah barak untuk ditempa menjadi seorang pengawal yang tangguh.
Sementara itu, Mahisa Bungalan telah membuat kebijaksanaan tantang rencananya. Harta benda yang didapatnya dari perampokan itu, sebagaimana pernah dibicarakan, akan ditukarnya dalam ujud yang lain. Kemudian harta benda itu akan dikembalikannya kepada orang-orang di sekitar saudagar yang kikir itu.
Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun tidak menolak pendapat, bahwa sebagian dari harta benda yang akan dijual itu akan dipergunakan untuk membeayai tugas-tugas mereka di perbatasan, jika Akuwu Suwelatama menyetujui.
Ketika seorang penghubung menghadap, ternyata Akuwu tidak berkeberatan. Namun Akuwu berpesan, bahwa hal itu tidak akan menenggelamkan tugas pokok mereka.
Beberapa orang dalam tugas sandi telah memasuki daerah Watu Mas untuk menjual perhiasan-perhiasan itu. Meskipun mereka harus berhati-hati, namun para petugas sandi itu dapat melakukan tugas mereka dengan baik. Mereka berhasil menghubungi saudagar-saudagar emas dan permata yang dengan gelap mengusahakan keuntungan yang sebesar-besarnya. Mereka tidak segan-segan merupakan bentuk perhitungan-perhitungan yang dibelinya di luar pengamatan para pengawal, karena mereka pun tahu, bahwa barang-barang itu adalah barang-barang yang didapat dari tindakan terlarang.
Dengan ujud yang berbeda, maka mereka dapat menjual barang-barang berharga itu dengan bebas.
Hasil perjuangan itulah yang kemudian dipergunakan oleh tara pengawal dari Kabanaran untuk menolong orang-orang yang terlalu miskin yang hidup di sekitar saudagar kaya yang telah terlalu miskin yang hidup di sekitar saudagar kaya yang telah dirampok. Meskipun tidak dengan semata-mata. Namun ada juga yang dengan terus-terang memberikan uang kepada orang kesrakat karena mereka telah terlibat hutang terlalu besar.
Betapapun juga hal itu dilakukan dengan diam-diam, namun akhir tercium juga oleh bebahu padukuhan. Karena itu, maka mereka pun telah mendatangi beberapa orang yang telah mendapat uang dari orang-orang yang tidak dikenal itu.
“Siapa mereka?” bertanya bebahu padukuhan itu. Orang-orang itu hanya menggeleng saja. Seorang ibu tua berkata, “Mereka datang dengan tiba-tiba. Mereka mengetahui kesulitan hidup yang aku derita dengan dua orang anak-anakku. Tanpa aku minta, mereka memberikan sejumlah uang agar aku menebus hasil sawahku yang sudah aku gadaikan untuk menyambung hidup.”
Sementara orang-orang lain berkata, “Orang-orang itu berpesan untuk mengikhlaskan saja hasil sawah satu panenan yang sudah tergadai. Mereka memberi uang untuk bekal hidupku menjelang panen berikutnya, tetapi dengan pesan, agar aku tidak menggadaikannya lagi.”
“Aneh,” berkata bebahu padukuhan itu, “siapakah sebenarnya mereka? Teka-teki tentang perampokan itu belum terpecahkan. Kemudian timbul teka-teki yang lain lagi.”
Tetapi tidak seorang pun yang dapat menjawab pertanyaan itu. Meskipun demikian, para bebahu itu sama sekali tidak mengganggu orang-orang yang telah mendapat uang oleh pihak yang tidak mereka ketahui. Nampaknya ada hubungannya dengan sikap belas kasihan, karena pemerasan yang telah dilakukan oleh saudagar yang kaya dan kikir itu.
Setelah perampokan terjadi, maka ia justru menjadi semakin garang. Ia berusaha untuk mendapat ganti harta bendanya yang telah dibawa oleh para perampok.
Namun bahwa ada pihak tertentu yang telah membagikan uang kepada orang-orang miskin, maka usaha saudagar kaya itu tidak sepenuhnya berhasil. Orang-orang yang sudah mendapat uang dari orang yang tidak dikenal itu, ternyata tidak memerlukan lagi pinjaman yang menjerat dari saudagar kaya itu.
Sikap saudagar kaya itu telah menimbulkan akibat pula pada penjaga rumahnya. Karena tidak tahan lagi melihat sikap saudagar itu, maka mereka pun berniat untuk meninggalkan pekerjaannya. Apalagi ketika datang orang yang tidak dikenalnya dan memberi sekedar uang untuk modal berusaha kecil-kecilan.
“Kau dapat membuka kedai,” berkata orang yang tidak dikenal itu, “atau barangkali usaha lain yang lebih baik dari mempertaruhkan nyawa.”
Namun peristiwa-peristiwa itu sama sekali tidak memberikan kesadaran kepada saudagar kaya yang kikir itu. Bahkan ketika isterinya yang tidak betah lagi meninggalkannya dengan anak-anaknya, maka ia pun tidak berubah pendirian. Dibiarkannya isteri dan anak-anaknya pergi tanpa bekal sama sekali.
Tetapi aneh, bahwa seseorang yang tidak dikenal telah datang ke rumah isteri dan anak-anak saudagar kaya yang kembali ke orang tuanya itu. Orang itu telah memberikan uang dalam jumlah yang cukup besar untuk beaya hidup isteri dan anak-anak saudagar kaya itu.
Namun akhirnya, saudagar kaya itu tidak dapat mempertahankan keseimbangan jiwanya. Dalam kekalutan itu, sekali lagi datang kepadanya beberapa orang perampok. Mereka telah mengambil sebagian besar dari harta bendanya yang tersisa. Lebih dari separo isi peti yang satu lagi telah dibawa oleh perampok itu.
Saudagar itu menangis meraung-raung seperti kanak-kanak. Beberapa orang tetangga telah datang ke rumahnya. Betapapun juga mereka tidak sampai hati melihat tingkah laku saudagar itu. Orang yang kikir itu menangis sampai tengah hari berikutnya.
Dengan pedih isterinya akhirnya kembali kepadanya, justru karena saudagar itu terganggu jiwanya. Namun karena kesabaran dan kesetiaan isterinya, akhirnya saudagar itu berangsur sembuh. Bahkan kemudian seolah-olah ia telah memandang wajahnya di depan wajah air yang tenang bening. Dilihatnya cacat dan celanya, sehingga akhirnya ia telah berubah sama sekali.
Yang terjadi itu adalah satu dari berbagai peristiwa yang menggelisahkan di perbatasan Pakuwon Watu Mas. Pada saat-saat itu, ternyata telah terjadi pula peristiwa-peristiwa yang lain. Perampokan masih saja terjadi, sementara ada orang-orang yang mendapatkan belas kasihan dari orang-orang yang tidak dikenal.
Namun betapapun cermatnya usaha orang-orang Kabanaran dalam pekerjaannya, namun pada suatu saat, kelompok itu dapat dilihat oleh seorang dari gerombolan perampok yang tinggal di hutan perbatasan.
Orang yang mengetahui bahwa para pengawal di Watu Mas telah mencurigai kawan-kawannya dan bahkan telah minta agar mereka membantu mengamati perampok-perampok yang berkeliaran di daerah Pakuwon Watu Mas itu pun segera melaporkan kepada pemimpinnya.
“Gila,” berkata pemimpin perampok itu, “para pengawal Watu Mas yang malas itu lebih senang tidur mendekur di baraknya, sementara perampokan terjadi semakin sering. Mereka lebih senang menuduh kita melakukannya dan memaksa kita untuk membuktikan bahwa kita tidak bersalah daripada bekerja keras untuk menangkap para perampok itu.”
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” bertanya orang yang melihat sekelompok perampok di Pakuwon Watu Mas itu.
“Kita akan menangkap mereka. Meskipun seandainya hanya seorang saja yang dapat kita tangkap, namun segalanya akan menjadi terang. Yang seorang itu tentu akan dapat diperas untuk berbicara tentang dirinya dan kelompoknya.” berkata pemimpin perampok itu. Lalu, “Sekaligus kita akan dapat menunjukkan ke depan hidung para pengawal apa yang telah terjadi sebenarnya. Dengan demikian mereka tidak akan selalu mencurigai kita lagi.”
Pemimpin perampok itu pun kemudian menyiapkan orang-orangnya yang terbaik. Dengan jumlah yang memadai, bahkan lebih banyak dari kelompok yang telah dilihat oleh seorang di antara mereka, maka para perampok itu berusaha untuk dapat membersihkan namanya di tlatah Pakuwon Watu Mas. Jika kemudian kedua gerombolan itu bertemu, mereka tidak sedang memperebutkan daerah jelajah mereka, tetapi mereka akan mempertahankan sikap mereka masing-masing. Sekelompok yang sedang melakukan perampokan dan sekelompok yang lain berusaha membersihkan nama mereka dari segala tuduhan.
Meskipun seorang di antara perampok itu tidak melihat arah yang pasti dari sekelompok perampok yang kebetulan dijumpainya, namun mereka sudah dapat memperhitungkan. Di arah perjalanan sekelompok perampok itu terdapat seorang pedagang batu permata yang kaya raya. Tentu sekelompok perampok itu akan pergi ke pedagang batu permata itu.
Perhitungan itu memang tidak salah. Sebenarnyalah Mahisa Bungalan dan kawan-kawannya telah pergi ke rumah seorang saudagar permata yang kaya raya, tetapi juga memiliki sifat yang kurang terpuji. Orang itu sombong dan merasa dirinya orang yang paling baik di seluruh Pakuwon Watu Mas.
“Kita akan mengambil kekayaannya,” berkata Mahisa Bungalan, “bukan barang-barang dagangannya.”
“Bagaimana kita dapat membedakan?” bertanya seorang pengawal.
“Memang sulit,” jawab Mahisa Bungalan, “tetapi menilik caranya menyimpan, kita akan dapat melihat, apakah barang barang itu termasuk barang yang diperdagangkan, atau barang-barang yang sudah dimilikinya sendiri.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka tidak terlalu memperhatikannya. Seandainya keliru pun tidak akan terlalu salah bagi mereka.
Demikianlah, sekelompok penjahat yang kasar itu telah mendekati regol saudagar kaya itu. Seperti di rumah orang-orang kaya yang lain, maka tentu ada para penjaga regol dan bahkan penjaga seluruh isi rumahnya.
Ternyata para penjaga di rumah pedagang permata itu tidak dapat ditakut-takuti. Mereka sama sekali tidak mau menyerah. Di muka regol mereka siap menunggu dengan senjata telanjang.
“Lima orang,” desis seorang pengawal yang menjenguk sambil memanjat dinding di sebelah regol itu, “hampir saja kepalaku disentuh ujung tombak.”
“Mereka keras hati.” desis yang lain.
“Baiklah,” berkata Mahisa Bungalan, “sebagian dari kita tetap di muka regol. Sementara yang lain akan memasuki halaman rumah itu lewat dinding samping. Kita akan bersama-sama melompat dan memasuki halaman. Mudah-mudahan para penjaga itu dapat melihat satu kenyataan.”
Dengan isyarat, maka para pengawal yang menjadi perampok itu menebar. Kemudian ketika terdengar aba-aba maka serentak mereka pun berloncatan naik ke atas dinding, sementara orang-orang yang berada di regol masih tetap ditempatnya.
“Kalian melihat, bahwa kalian sudah dikepung oleh jumlah yang jauh lebih besar dari jumlah kalian?” bertanya yang berdiri di luar regol.
“Persetan,” geram salah seorang penjaga itu, “kami akan membunuh kalian semua. Kami, murid-murid perguruan Sangkak tidak akan menyerah melawan perampok-perampok kecil seperti kalian.”
Jawaban itu membuat para pengawal di depan regol itu marah. Tetapi Mahisa Bungalan berdesis, “Jangan cepat marah. Biarlah kita mencoba menakut-nakutinya agar mereka tidak terlalu garang.”
“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya salah seorang pengawal.
“Aku akan memecah pintu kayu itu.” jawab Mahisa Bungalan.
Para pengawal yang menyatakan diri mereka sebagai perampok itu termangu-mangu. Namun mereka percaya bahwa Mahisa Bungalan adalah seorang anak muda yang mempunyai kelebihan. Karena itu maka mereka pun kemudian menyibak.
Dalam pada itu, beberapa orang pengawal yang telah memasuki halaman itu telah mendekati penjaga regol yang berjumlah lima orang, yang kemudian telah berkumpul di belakang regol yang masih tertutup itu.
“Jangan berbangga dengan jumlah kalian yang banyak.” berkata orang tertua di antara para penjaga regol itu.
“Bagaimanapun juga jumlah kami yang banyak akan ikut menentukan. Seandainya lima orang di antara kami terbunuh, dan kalian berlima mati seluruhnya, maka sisa di antara kami cukup banyak untuk mengangkut semua harta benda pedagang kaya ini.”
“Kalian sudah gila,” geram penjaga itu, “kami setiap orang akan dapat membunuh sepuluh orang di antara kalian. Sementara itu jangan kau sangka bahwa pedagang kaya itu akan mampu membunuh sepuluh orang pula di antara kalian.”
“Kalian memang berani,” terdengar suara di balik pintu, “tetapi bukalah pintu regolmu. Jika benar kalian ingin bertempur melawan kami semuanya.”
“Persetan!” geram penjaga itu.
“Jika kalian tidak mau membuka, maka kami yang masih berada di luar akan memecahkan pintu ini meskipun kami dapat memasuki halaman dengan memanjat seperti kanak-kanak kami.”
“Jangan mengigau,” teriak penjaga itu, “hanya iblis yang dapat mencegah pintu regol itu.”
Para pengawal yang sudah memasuki halaman itu pun tertegun. Namun sebagian dari mereka pun tahu maksud kawan-kawannya yang berada di luar. Mereka ingin menggerakkan para penjaga itu, agar mereka tidak perlu bertempur berkepanjangan, apalagi jika terjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam bermain-main dengan senjata.
Sebenarnyalah, Mahisa Bungalan pun kemudian berkata, “Baiklah para penjaga yang setia. Kami akan mencoba memecah pintu. Namun dengan demikian kalian harus membuat perhitungan yang cermat. Jika kami berhasil memecah pintumu, itu berarti bahwa kami dapat berbuat jauh lebih banyak lagi. Apalagi hanya menghadapi lima orang, bahkan seandainya pedagang kaya itu pun akan ikut bertempur pula.”
“Tutup mulutmu!” bentak menjaga regol itu.
Mahisa Bungalan menghela nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian telah bersiap. Dengan ilmunya ia mengerahkan segenap kekuatannya.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar