Minggu, 21 Februari 2021

AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 24

24


JIWA PAHLAWAN


Tiga kali ia ke kota itu. dan ia merasa selalu terkesan. Ia selalu terkesan melihat kota-kota kuno dengan bangunan-bangunan klasik yang terawat. Kota itu adalah salah satu kota yang mempesona di belahan utara Inggris Raya. 

Kota yang pernah menjadi ibukota Skotlandia. Bangunan-bangunan di kota itu banyak yang khas arsitektur abad ke12. Itu kali ketiga Fahri duduk di kafe itu. Kafe yang berada ditengah kota Stirling. Tepatnya kafe yang berada di dalam Stirling Castle atau Benteng Stirling. 

Ada nuansa berbeda setiap kali ia memasuki 
benteng itu. Aura kepahlawanan menyergap begitu saja. Ia langsung terbayang bagaimana William Wallace, pahlawan rakyat Skotlandia pada waktu itu memimpin pertempuran dahsyat melawan pasukan lnggris. 

Pertempuran bersejarah itu dikenal sebagai 'The Battle of Stirling Bridge‘. Itu adalah perang pertama menuntut kemerdekaan untuk bumi Skotlandia. Pertempuran itu terjadi pada tanggal 11 September 1297. William Wallace berhasil memimpin 'The Highlanders‘ dan rakyat Skotlandia mengalahkan tentara Inggris.

Stirling Castle berada tepat di jantung Kota Stirling, menjulang berwibawa pada sebuah bukit. Dari atas benteng yang dibangun oleh Raja David I tahun 1130 M itu, panorama kota Stirling dapat dinikmati. 

Sungai Fort memanjang di satu sisi kota itu.
Kota-kota yang indah selalu dialiri oleh sungai. Dan sungai yang terjaga kebersihannya selalu 
mempercantik sebuah kota. Demikian juga sungai Fort. Jika wajah sebuah kota diumpamakan wajah sebuah gadis, maka sungai adalah bibir yang mempesona bagi seorang gadis. Kota tanpa sungai yang indah, adalah gadis tanpa bibir yang mempesona. 

Kairo cantik dan mempesona karena sungai Nile-nya. Baghdad pernah digambarkan begitu legendaris sebagai negeri seribu satu malam yang mempesona, adalah karena kecantikan sungai Eufrat dan Tigris yang legendaris, Paris mengesankan karena sungai Seine-nya. 

Pesona London menjadi sempurna karena sungai Thames-nya. Frankfurt menarik karena 
sungai Mainz-nya. Palembang hidup karena sungai Musi-nya, tanpa sungai Musi Palembang adalah gadis yang tidak hanya tanpa bibir yang mempesona tapi juga tanpa alis mata.

Fahri duduk di kursi yang berada di bagian luar kafe. Ia menyeruput teh panasnya sambil menikmati keindahan bangunan-bangunan di dalam Benteng Stirling itu. Benteng ibarat kota kecil yang rapat terlindungi. Di dalamnya berdiri bangunan-bangunan yang mampu memenuhi hajat ribuan orang. 

Tiba-tiba Fahri teringat kedahsyatan Benteng Shalahuddin Al Ayyubi yang ada disamping Jabal Muqattam, Kairo. Di dalam benteng Shalahuddin ada masjid, ada istana sultan, istana para pejabat dan pangeran, ada barak-barak militer, ada bangunan-bangunan untuk penduduk, ada gudang senjata, gudang
makanan, ada sekolah, ada penjara. Benteng itu telah dirancang sebagai tempat perlindungan akhir yang kokoh, bahkan ketika dikepung sanggup untuk bertahan hidup berbulan-bulan.

Demikian juga karakter benteng di daratan Eropa, tak terkecuali di daratan Skotlandia, seperti Stirling Castle itu. Didalam benteng yang legendaris bagi rakyat Skotlandia itu ada The King's Old Building yang menjadi tertinggi di benteng itu yang didirikan James IV pada tahun 1496. Ada The Great Hall, yang dibangun oleh Raja James IV antara tahun 1501 dan 1504. Ada bangunan istana yang dibangun oleh Raja James V sejak tahun 1538 sampai selesai setelah dia meninggal tahun 1542. 

Selain itu Royal Chaple, dan bangunan lainnya. Kini di dalam lokasi benteng itu telah berdiri kafe dan toko-toko souvenir.

Fahri melihat jam tangannya. Seharusnya Nyonya Suzan dan Madam Varenka sudah sampai. Mereka sudah terlambat tiga menit dari waktu yang disepakati. Fahri mengambil tasnya dan mengeluarkan laptopnya. Ia bersiap membuka laptop dan membaca bab akhir dari tesis Ju Se, sehingga waktunya tidak terbuang percuma. Ketika ia sudah menyalakan laptopnya Nyonya Suzan muncul dan menyapa 
dari kejauhan diikuti Madam Varenka. Fahri melambaikan tangan sambil tersenyum.

"Maaf sedikit terlambat." Kata Nyonya Suzan.

"Masih dalam batas bisa ditoleransi. Hanya terlambat tiga menit." Sahut Fahri tersenyum. 

"Silakan duduk!"

Nyonya Suzan dan Madam Varenka duduk di hadapan Fahri. Petugas kafe datang, keduanya memesan minuman. Nyonya Suzan memesan cappuchino, sementara Madam Varenka memesan jus apel.

"Jadi apa yang bisa Nyonya Suzan dan Madam Varenka laporkan? Kenapa sebelum bertanding di Cremona, Italia, Keira harus ke Stirling!" Tanya Fahri.

"Madam Varenka yang tepat untuk menjelaskan." 

Sahut Nyonya Suzan sambil menengok menatap Madam Varenka yang ada di sampingnya. Wanita pirang setengah baya yang masih tampak cantik itu menata tempat duduknya lalu menjelaskan,

"Ini memang ide saya Tuan Fahri. Ini bagian dari strategi psikologis untuk mendekatkan Keira pada kemenangan dikompetisi kelas dunia seperti di Cremona. Untuk menjadi pemenang tingkat dunia, maka mentalnya harus dikokohkan jadi mental kelas dunia. Sengaja saya bawa dia ke sini, karena dia merasa sangat Scottish.

"Ia merasa darah, syaraf dan tulang belulangnya adalah orang Skotlandia. Ia sangat mencintai Skotlandia. Tempat di mana ia dilahirkan dan besar. Dan ia sangat mengagumi William Wallace sebagai 
pahlawan rakyat Skotlandia. Saya ajak dia ke sini untuk menghayati bagaimana pahlawan yang dia kagumi itu berjuang dan bertarung. Bagaimana William Wallace bisa memimpin rakyat Skotlandia memenangkan sebuah pertempuran bersejarah. 

Saya bahkan meminta seorang dosen sejarah dari Universitas Stirling yang pakar tentang sejarah William Wallace untuk menemani Keira mengunjungi National Wallace Monument. 

Saat ini Keira ditemani Hulya sedang tapak tilas sejarah William Wallace di monumen itu. Saya ingin jiwa dan mental William Wallace membara dalam dirinya. Mental pahlawan. Mental menang. Dia harus bersaing di Cremona dengan jiwa membara untuk menang. 

Dia harus mengeluarkan yang terbaik yang ia miliki, seperti William Wallace mencurahkan segala yang dimilikinya untuk memerdekakan bangsanya. Itu tujuan saya. Tidak ada artinya dia punya keahlian kalau mental untuk menangnya redup atau padam."

Fahri mengangguk. Ia mengerti maksud dan tujuan Madam Varenka.

"Agar ia menghayati jiwa kepahlawanan pahlawan yang dikaguminya." Gumam Fahri.

"Tepat sekali. Setiap bangsa pasti punya pahlawan. Hanya mereka yang bisa menjiwai mental para pahlawannya yang akan meraih prestasi-prestasi gemilang." Lanjut Madam Varenka.

"Itu alasan pertama dan yang paling ulama. Alasan kedua, agar Keira sedikit rileks. Sudah berbelas hari ini dia saya gembleng bersama Hulya. Saya senang Keira ada teman berlatih yaitu Hulya yang juga berbakat. Bahkan saya minta Hulya untuk ikut bersaing di Cremona."

"Hulya ikut bertanding di Cremona?"

"Ya benar. Saya sudah bicara dengannya, dia suka. Dan itu tidak menganggu rencana belajarnya di Edinburgh. Hulya perlu ikut agar Keira ada teman, pembanding, dan kompetitor. Sebelum menemukan kompetitor berat kelas dunia, Keira harus bertemu kompetitor yang tidak kalah bobotnya agar dia maju."
Fahri mengangguk.

"Kembali ke alasan kedua. Saya ingin Keira rileks dan tidak tegang menjelang berangkat ke Italia. Maka dia perlu penyegaran. Bahkan nanti malam sudah kita siapkan panggung pertunjukan untuk Keira dan Hulya ditengah kota Stirling. Satu spot cantik di pinggir sungai Fort. Mereka akan memainkan biola untuk santai dan bersenang-senang. Saya ingin mereka ke Cremona dengan hati senang, optimis, dan bermental pahlawan." Fahri kembali mengangguk-angguk,

"Baiklah, saya sangat setuju. Dan jujur saya malah juga banyak belajar dari Anda, Madam Varenka. Semoga nanti hasilnya seperti yang kita inginkan."

"Lima belas menit lagi Keira dan Hulya akan sampai di sini. Apakah Tuan Fahri mau menemui mereka?" Tanya Nyonya Suzan.

"Tidak usah. Kalau begitu saya pamit. Nanti malam pertunjukan mereka pukul berapa?"

"Pukul 20.00."

"Saya usahakan datang lihat penampilan mereka. Nyonya Suzan, bilnya tolong diselesaikan."

"Baik Tuan."

Fahri berdiri dan melangkah menuju gerbang Stirling Castle. Majikan Nyonya Suzan itu berjalan tenang menuju tempat parkir mobil di mana Paman Hulusi dengan setia menunggu di dalam mobil.

"Kita menginap di Stirling apa pulang ke Edinburgh, Hoca?" Tanya Paman Hulusi.

"Malam ini, kita menginap disini saja Paman. Saya mau lihat penampilan Keira dan Hulya."

"Baik, Hoca. Berarti kite cari hotel."

"Ayo."

"Tidak jauh dari sini, tadi kita melewati hotel."

"Benar ayo kita coba ke sana."

Paman Hulusi menyalakan mesin mobil SUV itu dan pelan-pelan mengendarainya meninggalkan Stirling Castle. Akhirnya mereka sampai di Stirling Highland Hotel. Fahri menyukai bangunan hotel yang antik itu, berasa kuno dan cantik. Fahri memesan dua kamar yang berdampingan. Begitu masuk ke dalam kamar, Fahri langsung shalat lalu istirahat. Ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang yang nyaman. 

Penjelasan Madam Varenka itu masih terngiang di telinganya, 

"...Hanya mereka yang bisa menjiwai 
mental para pahlawannya yang akan meraih prestasi-prestasi gemilang."

Jadi keteladanan "hero". atau "pahlawan" itu penting. Bahkan orang-orang Eropa dan Amerika sangat memperhatikan hal itu. Museum-museum perjuangan para pahlawan menulis nama-nama pahlawan mereka dan sejarah kepahlawanan mereka dengan detil. Mereka memandang mengetahui sejarah para 
pahlawan mereka itu penting. Dan jiwa kepahlawanan itu harus terus ditumbuhkan dalam dada generasi mereka.

Tiba-tiba Fahri ingat perkataan Imam Abu Hanifah. Imam besar salah satu dari imam empat madzhab fiqih itu pernah menjelaskan bahwa membaca sejarah hidup orang-orang shalih lebih ia sukai daripada belajar ilmu fiqih. 

Sebab membaca sejarah hidup orang-orang shalih selain mendapatkan hikmah-hikmah kehidupan yang berserakan seringkali juga akan mendapatkan ilmu yang berlimpah, termasuk ilmu fiqih. Bahkan fiqih dalam makna seluas-luasnya. 

Fahri jadi ingat, betapa AlQur‘an banyak sekali
menceritakan sejarah para pahlawan. Bukan saja pahlawan bagi sebuah bangsa yang tertentu dan terbatas, akan tetapi pahlawan dan teladan bagi seluruh ummat manusia sepanjang zaman, sampai hari Kiamat. 

Al Qur‘an menceritakan sejarah manusia-manusia paling mulia yang seluruh hidupnya adalah gambaran kepahlawanan dan kesabaran luar biasa.

Al Qur‘an menceritakan manusia-manusia pilihan yang layak mendapat julukan ulul 'azmi, yaitu manusia-manusia yang memiliki keteguhan dan kesabaran luar biasa. 

Mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad Saw.. Selain itu juga para pahlawan lainnya, nabi-nabi yang luar biasa 
sejarah hidupnya. Juga kisah-kisah kepahlawanan yang jika direnungkan dengan sungguh-sungguh akan melahirkan jiwa-jiwa luhur.

Pertempuran Thalut dan Jalut yang melahirkan kepahlawanan Daud yang selalu dikenang sepanjang sejarah umat manusia. 

Al Qur‘an menjelaskan bahwa Daud adalah jenis manusia yang dianugerahi oleh Allah basthatan fil 'ilmi wal jism, kekuatan dalam ilmu pengetahuan dan fisik. Pahlawan dan pemimpin besar harus memiliki dua kekuatan itu. Bangsa ingin unggul seperti Daud mengungguli Jalut harus memiliki dua kekuatan itu; kekuatan ilmu dan kekuatan fisik. Kekuatan kualitas.

Dan bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki banyak teladan luar biasa. Indonesia memiliki pahlawan-pahlawan besar yang patut dibanggakan. Syaikh Yusuf Al Maqasari, Sultan Agung, Sultan Hasanuddin, Kapten Pattimura, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, KH. Zaenal Mustafa, Panglima Besar Jenderal Sudirman, dan lain sebagainya adalah pahlawan-pahlawan besar yang bisa 
menginspirasi bangsa Indonesia sepanjang masa.

Sayangnya, perhatian pemerintah dan rakyat Indonesia kepada pahlawannya tidak seperti perhatian rakyat Scotlandia kepada William Walace. Di kota Yogjakarta memang ada Monumen Jogja Kembali, tetapi bandingkanlah dengan National Wallace Monument, jauh sekali perbedaannya. 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya! Ia ingat betul kata-kata itu. Kata-kata yang sering diucapkan oleh Bapak Guru Wali Kelasnya saat masih di sekolah dasar dulu.

Fahri sempat terlelap dan bangun pukul 18.30 waktu Stirling. Orang Indonesia yang kini mengajar di The University of Edinburgh dan memiliki jaringan bisnis di Jerman dan Inggris itu langsung mandi, ganti pakaian, lalu mengajak Paman Hulusi menikmati pemandangan Stirling di sore hari dengan jalan kaki. 

Langit masih terang benderang sebab itu adalah musim panas. Di Indonesia pukul 18.30 langit sudah gelap gulita dan mendekati waktu Isya', tak ada bedanya musim kemarau atau musim hujan Fahri begitu menikmati salah satu kota bersejarah di Skotlandia itu. 

Nyonya Suzan telah mengirim pesan bahwa pertunjukan Keira dan Hulya diadakan di Lovers Walk, tepat di bibir sungai Fort. Madam Varenka bekerjasama dengan seorang koleganya yang mengajar musik di The University of Stirling mengadakan pertunjukan musik di pinggir sungai Fort. 

Jadi selain Keira dan Hulya, akan ada pertunjukan dari mahasiswa The University of Stirling. Karenanya selain warga kota Stirling, pertunjukan itu akan dinikmati oleh para mahasiswa dari berbagai penjuru dunia yang sedang belajar di Stirling.

Fahri dan Paman Hulusi sampai di Lovers Walk sedikit terlambat. Jalan di bibir sungai Fort itu telah di tutup. Ada tempat menjorok ke sungai yang dijadikan sebagai panggung pertunjukan. Sangat eksotik. 

Sebelah kiri panggung tampak jembatan dengan lengkungan yang indah. Jembatan itu menghadap bundaran dengan tugu jam yang cantik. Sementara disisi kanan tampak jembatan rel kereta menyeberangi sungai. Penonton acara itu sangat banyak. 

Seorang mahasiswa berpakaian khas tradisional Skotlandia sedang unjuk kebolehan menyihir penonton dengan permainan musik big pipenya. Setelah itu Keira menyihir dengan gesekan biolanya yang tajam mengiris. Keira mendapat tepuk tangan sangat meriah ketika ia turun dari panggung. Setelah itu sepasang mahasiswa dan mahasiswi duet memainkan terompet. Iramanya begitu padu dan harmonis. Para pengunjung pun 
bertepuk tangan meriah.

Setelah itu nama Hulya dipanggil. Ia dikenalkan sebagai gadis dari Turki yang sangat berbakat yang sedang kuliah di The University of Edinburgh. Hulya melangkah pelan ke panggung sambil membawa biola. Hulya berdiri begitu anggun dengan jilbabnya yang berkibaran diterpa angin. Hulya memberi 
hormat kepada penonton lalu mulai memainkan biolanya. 

Beberapa jurus kemudian penonton sudah 
tersihir dan larut dalam alunan biola Hulya. Mula-mula Hulya seperti membawa ke alam kegembiraan. 

Wajah-wajah penonton berbinar bahagia. Pelan-pelan gesekan biola Hulya menggiring penonton ke suasana kesedihan. Semakin lama kesedihan itu semakin dalam. Hulya memainkan biolanya dengan memejamkan kedua matanya. Air matanya meleleh. Hulya seperti terhipnotis dengan nada-nadanya 
sendiri.

Tak terasa air mata Fahri meleleh. Ia seperti dibawa ke suasana saat ia harus melepas Aisha di Bandara Muenchen saat akan terbang ke Palestina. Banyak penonton yang air matanya meleleh, teringat pada momen menyedihkan dalam hidupnya masing-masing.
Hulya mengakhiri gesekan biolanya. Ia menyeka kedua matanya. Penontong hening. 

Seorang ibu-ibu setengah baya masih menangis tersedu. Tangis itu kini jadi satu-satunya musik yang terdengar. Hening tercipta di bibir sungai Fort itu. 

Madam Varenka memandangi Hulya sambil mengangguk-angguk dengan mata berkaca-kaca. Hulya mencoba tersenyum, ia lalu hormat kepada seluruh penonton dan turun dari panggung. Saat itulah seorang kakek-kakek bertepuk tangan sambil berdiri. Dan seketika diikuti yang lain. 

Para penonton yang sebagian duduk-duduk, kini berdiri sambil bertepuk tangan dengan meriah.

Hulya tersenyum. Seorang ibu-ibu berambut pirang mendekati Hulya dan memberikan pujian dan ciuman ke pipi Hulya. Gadis Turki itu pasrah. Hulya terus berjalan menuju tempat Fahri dan Paman Hulusi berdiri.

"Hoca Fahri dan Paman Hulusi bagaimana bisa ada disini?"

"Penampilan yang luar biasa Hulya. Hoca Fahri sengaja datang untuk melihat penampilanmu! Benar kan Hoca?"

"Paman, jangan sembarangan bicara. Saya dan Paman Hulusi sedang ingin rehat dan rekreasi di Stirling. Kami jalan-jalan sampai disini. Ada pertunjukan, kami nikmati. Eh, ternyata Hulya dan Keira ikut ngisi pertunjukan. Kebetulan sekali. Benar kata Paman Hulusi, penampilanmu luar biasa! Saya sampai tak 
terasa menangis."

"Hoca terlalu memuji. Tapi aku merasa, gesekan biolaku masih kalah dengan kepiawaian Aisha. Masih kalah halus. Benarkan Hoca?" Fahri sedikit kaget, ia tidak menduga Hulya akan berkata seperti itu.

"Masing-masing punya kelebihan. Aisha memiliki kelebihan yang tidak kau miliki, demikian juga kau memiliki kelebihan yang tidak dimiliki Aisha. Apakah setelah ini kau masih akan tampil lagi?"

"Insya Allah, nanti saya akan duet sama Keira."
Jawab Hulya tersenyum.

"Luar biasa Hulya. Selamat!" Tiba-tiba Nyonya Suzan memberi ucapan selamat kepada Hulya dengan wajah berbinar penuh senyum.

"Saya berterima kasih diberi kesempatan luar biasa ini. Terimakasih Nyonya Suzan yang memberi kesempatan berharga kepada saya untuk dilatih Madam Varenka yang kaliber dunia. Tanpa sentuhan dingin tangan beliau saya tidak akan seberkembang ini. Sungguh saya sangat menikmati." Jawab Hulya.

"Tapi di atas segalanya kau memang sangat berbakat, Hulya. Madam Varenka berkata seperti itu kepadaku."

"Madam Varenka terlalu memuji. Keira lebih berbakat lagi."

"Kalian berdua sama-sama berbakat."

Fahri mendekat,  "Di atas segalanya Allah yang memberi anugerah dan meng karuniakan bakat kepada hamba-hambaNya."

"Benar sekali." Sahut Hulya. Di panggung, seorang pemuda dengan pakaian koboi sedang memainkan gitarnya. Nada dan lagu khas Texas sedang ditampilkannya.

"Fahri, maaf." Kata Hulya sambil menatap Fahri. Sementara yang ditatap hanya menunduk dan menjawab lirih,

 "Iya."

"Boleh saya pinjam biola Aisha? Untuk latihan dan untuk saya bawa bertanding di Italia. Biola ini dipinjami Madam Varenka. Biola seadanya. Biola milik Aisha itu jauh lebih baik kualitasnya, saya akan merasa jauh lebih percaya diri jika bertanding menggunakan biola Aisha."

"Oh. boleh, silakan saja. Kapan saja boleh kau ambil dirumah."

"Terima kasih, Fahri. Saya janji, saya akan menjaga baik-baik biola itu. Kalau sampai rusak atau hilang saya akan ganti tiga kali lipat dari harganya."

"Tak perlu bicara begitu. Silakan digunakan sebaik-baiknya,semoga sukses."

Pemuda koboi itu selesai memainkan gitarnya, pembaca acara memanggil Keira dan Hulya untuk berduet di panggung. Dari sudut lain, tampak Keira dengan sangat percaya diri berjalan ke panggung. 

Hulya juga beranjak ke panggung. Keduanya mendapat sambutan meriah dari penonton.
Keira berdiri di tengah panggung. Gadis tetangga Fahri itu memakai kaos putih lengan panjang dan celana jeans juga berwarna putih. Rambut pirangnya sedikit berkibaran diterpa angin. 

Hulya berdiri tak jauh disamping kiri Keira. Hulya begitu anggun dengan jilbab cokelat berbunga-bunga putihnya. Gadis Turki itu tetap anggun dalam balutan gamis cokelat muda khas Turki. Dua gadis itu memberi senyum 
kepada hadirin.

Hulya memberi kode kepada Keira bahwa dia yang akan memulai. Keira mengangguk. Hulya tersenyum lalu menata biolanya. Bibirnya berdesis membaca basmalah. Sejurus kemudian suara bening dari gesekan biolanya terdengar. Nada sedih dan kerinduan tercipta. 

Fahri yang dibelakang langsung tahu bahwa Hulya memainkan nada-nada yang isinya adalah beberapa bait dari syair-syair Burdahnya Imam Bushiri. Nada-nada itu seperti menyelimuti Fahri dengan kerinduan kepada Baginda Nabi Saw.

Keira mengikuti irama yang dimainkan Hulya. Duet yang dahsyat. Para penonton seperti terhipnotis, perasaan rindu seperti meremas-remas jiwa mereka. Dan mereka tidak tahu, rindu kepada siapa.

Hulya begitu menghayati nada yang dimainkannya. Airmatanya tak terasa meleleh. Fahri mendengarkan alunan nada itu dengan hati bergetar melantunkan shalawat Nabi. 

Aliran sungai Fort dan hembusan angin seolah berhenti ikut menikmati indahnya irama syair Burdah yang mengalun lewat gesekan biola 
Hulya dan Keira.

Fahri memejamkan kedua matanya. Ia begitu menikmati nada-nada yang mengingatkannya akan makna keagungan pribadi Rasulullah Saw. Paman Hulusi memperhatikan dengan seksama apa yang terjadi pada majikannya itu.

Hulya dan Keira menghentikan gesekan biolanya. Seluruh penonton berdiri memberikan tepuk tangan yang sangat panjang dan meriah. Hulya dan Keira memberi hormat tanda terima kasih kepada para penonton. Keira lalu bersiap menggesek biolanya. Para penonton hening. 

Gesekan biola Keira lembut dan jernih. Beberapa ketukan berikutnya Hulya masuk. Keduanya berpadu menciptakan alunan suara 
yang sambung menyambung dan anyam menganyam indah. Semakin lama temponya semakin tinggi. Keduanya larut dalam nada-nada itu dan menggila. Penonton tersihir.

Fahri tersenyum. Ada kebahagiaan tersendiri menyusup kedalam hatinya. Ia bahagia, Keira yang nyaris putus asa itu, kini kembali menemukan gairah hidupnya. Al Qur'an mengajarkan, menjaga hidup satu orang sama saja menjaga hidup seluruh ummat manusia. 

Semoga apa yang ia lakukan pada Keira 
tergolong bagian itu. Semoga nanti tiba saatnya Keira menyadari sesungguhnya anggapan yang bercokol dalam jiwa raganya 
bahwa orang Islam monster yang menakutkan adalah anggapan yang sangat jauh dari benar. Ia tidak mengharapkan apa-apa dengan menolong Keira dan keluarganya, ia hanya mengharap bahwa nurani Keira dan keluarganya kembali lurus dan adil. Itu saja. 

Selebihnya hanya kasih sayang Allah yang ia 
harapkan. Hulya dan Keira masih menyuguhkan duet yang anggun. Fahri mengajak Paman Hulusi untuk pergi 
meninggalkan arena itu.

"Tidak nunggu sampai selesai Hoca?"

"Sudah cukup Paman. Jangan berlebihan! Ayo kita kembali ke hotel, aku masih banyak kerjaan."

"Iya Hoca."

Pelan-pelan keduanya pergi ke belakang, lalu berjalan menjauhi tempat pertunjukan itu. Di ufuk barat matahari mulai tenggelam. Lampu-lampu di jalan mulai menyala terang. Malam tersenyum datang menggantikan siang. Adzan maghrib tidak terdengar, namun Fahri seperti mendengar alunan adzan dalam hati dan pikiran.

Fahri melangkahkan kakinya dengan tenang, Paman Hulusi mengikutinya di belakang. Disebuah taman yang sepi, di sudut kota Stirling Fahri menghentikan langkahnya dan tersenyum. Langit berwarna biru tua kemerahan. Musim panas yang menawan. 

Tak ada yang lebih indah dari kanvas ciptaan Tuhan.

"Masih punya wudhu, Paman."

"Alhamdulillah, masih Hoca."

"Kita shalat maghrib dijamak dengan Isya‘ di sini."

"Di sini? Hoca yakin?"

"Ya, di sini. Muka bumi ini semuanya dihamparkan oleh Allah sebagai masjid. Ayo Paman kumandangkan iqamat, lirih saja."

Paman Hulusi mengikuti perintah majikannya. Iqamat dikumandangkan. Fahri menghadap arah kiblat. 

Dengan melihat arah matahari tenggelam,Fahri bisa memperkirakan arah kiblat ke mana. Arah kiblat yang sama dengan kaum muslimin di Edinburgh. Usai shalat, Fahri mengajak Paman Hulusi mencari resto halal untuk makan malam. Mereka akhirnya makan malam di Umars Tandoori, sebuah restaurant halal di daerah Falkirk. Fahri memilih menu utama Spicy Lamb Calzone, sementara Paman Hulusi 
memilih Chicken Tikka Calzone.

"Rasanya lambnya mantab Paman. Besok tolong Paman ingatkan agar Brother Mosa melakukan survey ke sini bareng tukang masak restaurant kita. Menu ini harus diadakan di restaurant kita."

"Bener Hoca, saya baru saja terpikir begitu. Ini Chicken Tikka Calzonenya juga enak sekali."

Setelah kenyang, mereka kembali ke hotel. Dan di hotel, Fahri menuntaskan dua pekerjaan penting; 

mengoreksi hasil akhir tesis mahasiswi China yang dibimbingnya yaitu Ju Se Zhang, dan mengedit artikel ilmiah yang akan ia kirim ke jurnal ilmiah sebuah universitas Islam di Malaysia. Pukul satu malam, Fahri baru istirahat setelah shalat witir.


                                 *****


Matahari bersinar terang. Cahayanya menerobos tumpukan awan yang setia menaungi langit Skotlandia. 

Paman Hulusi mengendari SUV itu dengan kecepatan sedang. Fahri menikmati panorama pagi hari bumiSkotlandia. Perjalanan darat dari Stirling menuju Edinburgh pagi itu menerbitkan ribuan tasbih dalam hati Fahri. 

Maha suci Allah yang menciptakan ciptaan yang tiada tertandingi keindahan dan kesempurnaannya. Itu adalah hari yang sibuk bagi Fahri. Sampai di Edinburgh ia langsung ke kampus. Ia harus rapat dengan 
seluruh pengurus CASAW, The Centre for the Advanced Study of the Arab World. Setelah itu menerima Ju Se Zhang dan memintanya melakukan perbaikan terakhir sebelum tesisnya dicetak dan diserahkan kepada tim penguji. 

Dari kampus ia langsung ke Musselburgh untuk melihat perkembangan restoran 
minimarket Agnina. Paman Hulusi mengingatkan tentang Spicy Lamb Calzone seketika itu ia minta Brother Mosa Abdulkerim agar survey ke Umars Tandoori di Stirling.

Menjelang senja, Fahri baru sampai di rumahnya di kawasan Stoneyhill Grove. Saat itu Misbah sedang membuat nasi goreng. Bau nasi goreng itu mengingatkan saat-saat dulu masih tinggal di Helwan, Cairo.

"Bikin yang banyak Bah, aku juga mau."

"Beres Mas. Bagaimana semua urusan? Lancar semua?"

"Alhamdulillah. Perkembangan tesis doktormu bagaimana Bah?"

"Sudah bab terakhir Mas. Pekan depan selesai aku tulis, terus aku edit dan aku serahkan ke Professor."

"Alhamdulillah, senang mendengarnya."

"Perempuan itu, Si Sabina itu memang sudah tidak tinggal disini lagi ya Mas?"

"Astaghfirullah, iya, dia masih di hospital ya? Saya lupa menanyakan kepada Brother Mosa."

"Wah saya tidak tahu itu Mas."

"Dia masih di hospital, tadi saya sempat bicara dengan Brother Mosa. Seharusnya sudah boleh keluar dari sana. Kalau saya boleh usul, Sabina tidak usah dibawa ke sini lagi."

"Terus dia harus tinggal dimana, Paman?"

"Ya terserah Sabina."

"Tidak boleh begitu Paman. Dengarkan saya baik-baik Paman. Lihat, itu nenek Catarina duduk di halaman rumahnya sambil membaca buku. Damai sekali dia. Alhamdulillah, kita bisa membantu nenek Yahudi itu menikmati hari tuanya. 

Kalau kepada nenek Yahudi saja, saya bantu sampai keluarkan uang membeli rumah itu untuk ditempati nenek itu, masak kepada saudara sendiri seiman tidak bantu. 

Bagaimana nanti kalau saya ditanya Allah di hari kiamat, Paman "

Paman Hulusi menunduk diam.

"Saya malah punya satu pemikiran Paman?"

"Apa Itu Hoca?"

"Kita harus bantu Sabina supaya dia bisa berkeluarga. Kalau dia punya suami yang punya ijin tinggal yang legal dan sah di sini, yang tentu seiman, itu akan sangat membantu dia."

"Tapi siapa yang mau sama perempuan berwajah buruk begitu Hoca."

"Tapi dia shalihah insya Allah Paman. Kita lihat sendiri kehidupan dia sehari-hari selama di sini. Shalat tepat waktu, rajin baca Al Qur'an, sopan dan menjaga diri."

"Saya tahu dia baik Hoca. Ya memang sebaiknya ia punya keluarga. Rasanya dia masih belum tua. Hoca mungkin bisa bincangkan hal itu bersama Tuan Taher dan Nona Heba."

"Nanti akan saya bincangkan dengan mereka. Berarti kita harus jemput Sabina di hospital, Paman."

"Sudah mau maghrib Hoca."

"Kita shalat maghrib dulu, makan malam dengan nasi goreng khas Indonesia buatan Misbah lalu kita jemput Sabina."


                        *****


Kedua tangan Sabina masih diperban, namun sudah bisa digunakan untuk memegang mushaf Al Qur'an. 
Perempuan bermuka buruk itu membaca mushaf dengan suara sedang, tidak keras dan tidak lirih. Suaranya serak, namun tajwidnya tepat, hanya saja makharijul hurufnya terkadang terganggu oleh serak suaranya itu.

Sabina membaca surat Maryam. Air matanya meleleh. Sabina menangis. Ia tetap membaca surat itu dengan suara serak dan isak tangis. 

Perempuan itu sama sekali tidak menyadari bahwa Fahri, Paman Hulusi dan Misbah mendengarkan bacaannya disamping pintu kamar hospital itu. Fahri mengisyaratkan agar menunggu sampai Sabina selesai menangisnya. 

Khatam membaca surat Maryam, Sabina menyudahi tilawahnya dan menutup mushaf itu. Dengan ujung jilbabnya ia menyeka kedua matanya.

Sabina berniat hendak menutup tirai jendela kamar itu dan mematikan lampu untuk istirahat. Paman Hulusi mengetuk pintu. Sabina beranjak membuka pintu dan agak terkejut ketika mendapati Paman Hulusi, Fahri dan Misbah ada di situ.

"Waktu di hospital sudah habis, Sabina saatnya kembali ke Stoneyhill Grove." Ujar Fahri.

"Ijinkan saya hidup seperti dulu lagi, hidup di jalan berkawan dengan semua makhluk Allah." Jawab Sabina.

"Di Stoneyhill Grove kau juga bisa berkawan dengan semua makhluk Allah, tidak ada yang 
membatasimu. Kami hanya ingin menjaga kehormatanmu sebagai seorang muslimah, tidak lebih." Sahut Fahri.

"Hoca Fahri tidak ingin kau terlantar Sabina. Nenek Catarina yang Yahudi saja ditolongnya agar tidak terlantar, agar hidup tenang. Saya tahu Hoca Fahri akan sangat tersiksa jika tidak bisa menolongmu hidup layak selayaknya manusia pada umumnya di sini. Jadi jangan banyak bicara kemasilah barangmu, sebab semua urusan administrasi sudah selesai."
Sambung Paman Hulusi tegas.

Sabina diam, perempuan itu lalu mengemasi barangnya yang tidak seberapa. Malam itu Sabina kembali ke Stoneyhill Grove, tinggal di basement rumah Fahri. Pagi hari, Sabina hendak menyiapkan makan pagi dan membuat teh, tapi dicegah oleh Misbah. Mahasiswa program doktor di Heriot Watt University itu 
menyiapkan semuanya dibantu Paman Hulusi.

Saat tiba waktu makan pagi, Sabina dipanggil ikut makan. Fahri, Misbah dan Paman Hulusi makan dengan duduk di sofa ruang tamu dengan santai. Sementara Sabina makan duduk di depan meja makan 
mungil dekat dapur.

"Sabina!"

Suara Paman Hulusi membuat perempuan itu mendongakkan kepala.

"Iya, saya."

"Hoca Fahri berpikiran sebaiknya kau menikah, kamu harus berkeluarga. Hoca Fahri dan para brother di Edinburgh ini akan mencoba membantu kamu mendapatkan suami yang baik agar kau hidup layak dan wajar umumnya wanita di sini. Bagaimana menurutmu?"

Sabina kaget mendengar hal itu, ia nyaris tersedak saking kagetnya. Wajahnya berubah pucat, namun perubahan itu tidak ada yang menangkapnya sebab buruknya wajah itu. Sabina tidak berkata-kata. Perempuan itu menunduk dan diam.

"Kenapa diam saja Sabina?" Tanya Paman Hulusi.

Fahri sama sekali tidak menengok ke arah Sabina, ia terus menikmati sarapan paginya dengan lahap.

"Diam itu berarti setuju, Paman." Sahut Misbah.

"Itu kalau perempuan masih gadis, kalau sudah tidak gadis ya lain. Bukan begitu Hoca?"

Fahri mengangguk.Air mata Sabina meleleh.



                               *****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...