36
BINAR-BINAR CINTA
Di musim semi, ayat itu ada pada bunga-bunga dan rerumputan. Di musim gugur, ayat itu ada pada dedaunan.
Tuhan mengecat daun-daun itu dari hijau menjadi kuning, merah dan coklat. Terkadang dari kejauhandedaunan itu seperti emas berkilauan.
Terkadang memerah, seolah rimbunan pepohonan adalah fajar yang baru terbit meskipun itu waktu siang dengan mendung menggantung di langit.
Jajaran pohon-pohon oak, oleander, dan cedar di sepanjang jalan menuju Central Oxford Mosque tampak menyala warna-warni.
Angin dingin berhembus dan gemerisik daun-daun berjatuhan di jalanan terdengar seperti derai doa ucapan barakah.
Fahri di pagi itu, di tengah musim gugur yang keemasan mengikrarkan akad nikah. Paman Akbar sendiri yang mengijabkan Fahri dengan putrinya, Hulya. Rumah yang ada di Stoney Hill Grove menjadi maharnya. Itu sesuai permintaan Hulya.
Misbah menjadi saksi dari pihak Fahri, sementara saksi dari pihak pengantin Perempuan adalah Imam Masjid Central Oxford.
Paman Hulusi, Tuan Taher, Pak Zen dari
Manchester, Mas Rahmat dari Oxford, Pak Junedi dari pengajian Bristol, Pak Dubes, Ketua Kibar, Ketua PPI UK, Ketua PCINU UK, Ketua PCM UK, keluarga besar Hulya, dan ratusan jamaah masjid menghadiri acara akad nikah pagi itu.
Fahri mengenakan kemeja putih, jas putih, celana putih, dan peci hitam bersih khas lndonesia.
Fahri tampak gagah dan tampak jauh lebih muda pagi itu. Sementara Hulya yang duduk di deretan kaum perempuan, mengenakan gaun pengantin juga serba putih. Dengan dibalut jilbab putih bersih, wajah Hulya tampak segar bersinar anggun.
Selesai akad, doa barakah diucapkan untuk kedua mempelai. Semua yang hadir mengucapkan selamat dan doa. Yang lelaki kepada Fahri, yang perempuan kepada Hulya.
Dada Fahri terasa hangat, tak terasa air matanya meleleh. Paman Hulusi tak kuasa menahan isak tangis harunya di pojok masjid.
Lelaki setengah baya yang selama ini mendampingi Fahri tahu persis bagaimana perjuangan majikannya itu menahan derita rindu ditinggal istrinya. Kini majikannya telah membina rumah tangga lagi. Hulya dan
keluarganya menitiskan air mata haru.
“Barakollahu laka Wa baroka 'alaika wa jama'a bainakuma Fii khair.” Demikian ucap jamaah yang menghadiri akad nikah pagi itu kepada Fahri.
Makanan khas Turki dan Asia Selatan dihidangkan untuk pesta walimatul ursy yang pertama di ruang serba guna masjid itu.
Acara itu selesai tepat ketika adzan Dhuhur berkumandang. Usai shalat Dhuhur Fahri dan Hulya diiringi keluarganya langsung bergerak ke Magdalen College, University of Oxford.
Di Magdalen College itulah pesta walimatul ursy yang sesungguhnya akan digelar. Ozan menyewa sebuah kamar di college itu untuk ganti pakaian pengantin.
Hulya dan Fahri dibiarkan masuk ke kamar itu berdua. Fahri menutup pintu kamar. Itu adalah kamar standar untuk mahasiswa yang kuliah di Oxford. Ada beberapa yang masih kosong.
Hulya duduk di bibir tempat tidur dengan kepala menunduk. Dengan dada berdesir Fahri mendekat dan duduk di samping Hulya.
Napas Fahri memburu, jantungnya berdegup lebih kencang. Ada kebahagiaan yang membuncah. Ia kini memiliki istri lagi. la sungguh tidak pernah mengira akan menikah yang ketiga kalinya. Dan yang ia nikahi adalah Hulya.
Ia masih ingat saat awal-awal ia tinggal di Freiburg bersama Aisha, gadis jelita yang kini jadi istrinya itu pernah berlibur ke Jerman dan menginap di rumahnya. Ketika itu Hulya masih
SMA. Saat itu tidak terpikir sama sekali bahwa Hulya akan jadi istrinya.
Fahri memandangi wajah Hulya yang memerah. Wajah itu memerah segar seumpama bunga Middlemist Merah ketika sedang merekah.
Merah peach yang indah. Di ujung kedua mata Hulya seperti ada butiran mutiara yang hendak jatuh.
"Kenapa menangis, Sayang? Apa kau menyesal mendapat suami seperti aku?" Hulya menggelengkan kepalanya.
"Justru aku menangis karena haru dan bahagia."
"Alhamdulillah."
"Ciumlah aku, kita sudah halal kan?"
Fahri tersenyum mendengar kata-kata Hulya.
"Kau masih punya wudhu?"
"Masih."
"Kalau begitu kita shalat dua rakaat dulu, setelah shalat aku akan berdoa seperti yang diajarkan Rasulullah Saw. Barulah setelah itu aku akan menciummu lalu kita ganti pakaian. Waktu kita tidak lama. Pertengahan musim gugur, siang lebih pendek di bandingkan malam."
"Mari kita shalat kalau begitu."
Fahri lalu berdiri menghadap kiblat dan mengucapkan takbiratul ihram. Hulya juga mengucapkan takbiratul ihram bermakmum pada Fahri. Usai shalat dua rakaat, Fahri mengucapkan doa yang ada di dalam hadits seperti diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud.
“Allahumma baarik li fi ahli, wa baarik lahum fiyya. Allahumma ijma' bainana ma jama'ta bi khair, wa farriq bainama idza farraqta ila khair.”[1]
Di belakangnya dengan khusyuk dan khidmah Hulya mengamini. Setelah itu Fahri berbalik menghadap Hulya. Istrinya itu memandang Fahri dengan pandangan penuh cinta. Fahri tahu bahwa binar-binar mata Hulya itu adalah binar-binar cinta. Fahri memegang ubun-ubun istrinya itu dan berdoa seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.,
“Allahumma inni as'aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha, wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha!”[2]
Suasana begitu sakral. Di luar angin musim gugur mendesau. Daun-daun berguguran. Ketika Fahri hendak mencium istrinya ia merasakan ada sesuatu yang menyelinap begitu saja ke dalam dadanya. la agak ragu.
"Kenapa?" Lirih Hulya menangkap perubahan wajah Fahri.
"Ah tidak apa-apa. Aku hanya seperti bermimpi. Aku tidak percaya diberi rizki oleh Allah menikahi gadis secantik dirimu."
Fahri yang sudah pernah punya istri sangat berpengalaman dalam menguasai situasi seperti itu.
Dada Hulya sesak oleh bunga-bunga yang semerbak wangi mendengar kata-kata Fahri.
Dengan tanpa ragu Hulya yang mendaratkan ciumannya ke bibir Fahri. Hanya beberapa detik.
"Aku cinta padamu suamiku. lni adalah kali pertama aku dicium oleh lelaki seperti ini. Ini tidak akan aku lupakan seumur hidupku." Bisik Hulya ditelinga Fahri.
Fahri tiba-tiba teringat, dulu Aisha juga mengucapkan hal seperti itu.
"Yang benar bukan dicium, tapi mencium. Seharusnya kau bilang, 'lni adalah kali pertama aku mencium lelaki seperti ini!'
Aku tidak menciummu tapi kau yang menciumku. Sejarah ini tidak boleh salah narasi nanti ya." Senyum Fahri.
"Ih, kau nakal !" Rajuk Hulya.
*****
Matahari menampakkan sinar ketika pesta walimatul ursy itu mulai berjalan. Mendung yang sejak pagi menggantung tersibak menyingkir pelan-pelan.
Pilihan Hulya mengadakan pesta di taman pinggir sungai dan lapangan sungguh tepat. Pepohonan yang mulai meranggas sedang memamerkan keindahan dedaunannya.
Gedung kuno menjadi panorama yang klasik nan anggun. Padang rerumputan yang hijau membentang, ratusan rusa yang bermesraan dan berkejaran menciptakan suasana alam yang menawan.
Fahri dan Hulya duduk di kursi yang berada di atas panggung kecil bertabur bunga mawar. Tamu-tamu duduk di kursi yang ditata melingkar di depan panggung.
Berbagai jenis makanan khas Turki, khas Arab,
khas Indonesia, dan khas Inggris tersedia bagian kanan dan kiri lingkaran kursi tamu.
Tamu-tamu penting yang diundang di akad nikah juga hadir di acara walimatul ursy itu.
Semua tetangga Fahri di Stoneyhill Grove diundang. Brenda, Nyonya Janet, dan Jason datang. Seluruh staf dan pegawai Fahri di Agnina dan AFO Boutique juga datang. Ju Se Zhang, mahasiswi China yang dibimbing
Fahri dan sudah lulus bahkan sudah pulang ke negaranya menyempatkan datang.
Ratusan orang Turki yang Fahri tidak kenal berdatangan. Orang-orang KBRI juga banyak yang datang. Semua memakai pakaian terbaik dan bermuka bahagia. Semua menyampaikan ucapan selamat dan doa untuk Fahri dan
Hulya.
Tiga mahasiswi berjilbab dengan mengenakan pakaian khas Minang yang merah menyala membawakan Tari Piring dengan sangat memukau di tengah lingkaran di depan panggung pengantin.
Musik khas Minang menggema dan mengalun indah menyihir semua hadirin. Orang-orang bule yang diundang Ozan tampak sibuk mengabadikan tarian itu.
Awalnya Fahri ingin menampilkan satu tarian khas Jawa, tetapi tidak ada mahasiswa yang bisa dan siap. Sementara PPI UK menawarkan membawakan Tari Piring. PPI Birmingham siap. Fahri menyetujui.
Pesta sore itu juga dijadikan ajang memperkenalkan budaya Indonesia. Kalau sudah ada di luar negeri tidak lagi bicara Jawa, Sunda, Makassar, Minang, Medan dan lain sebagainya. Kalau di luar negeri yang dibawa dan dibicarakan adalah Indonesia.
Tiga mahasiswi berjilbab itu meliuk-liuk indah dan berakrobat dengan dua tangan memegang piring.
Penampilan ketiganya begitu padu dan harmoni seiring dengan musik yang mengiringinya. Seluruh tamu undangan tidak ada yang melewatkan setiap gerakan tiga penari piring itu.
Usai pertunjukan Tari Piring, pembawa acara memberi tahu bahwa hiburan berikutnya adalah persembahan khusus dari Madam Varenka bersama enam pemain biola perempuan terkemuka di Britania Raya.
Dari gedung tua, muncul tujuh perempuan bule memakai pakaian ala Timur Tengah dengan jilbab modis melilit di kepala. Madam Varenka paling depan, di belakangnya Keira, lalu pemain-pemain biola lainnya yang masih muda-muda.
Mereka menuju tengah lingkaran. Lalu secara bersama-sama menggesek biola dan menampilkan nada-nada indah yang mengalunkan cinta dan kebahagiaan.
Tiga lagu dibawakan. Lagu terakhir adalah Addiinu lana. Nada-nada yang mengalun membuat Fahri dan Hulya saling meremas tangan, lalu saling menatap dengan mata berkaca-kaca bahagia.
Penampilan pesta pernikahan itu ditutup dengan tarian sema. Sebuah tarian sufi khas kota Konya Turki, tarian sema itu ciptaan Jalaluddin Rumi. Tarian penuh simbol yang dibuka dengan membaca shalawat Nabi dan diiringi musik ney itu pelan-pelan mulai menghipnotis hadirin. Gerakan, pakaian, music dan tempat tarian itu sarat makna.
Turban dervish yang berbentuk batu nisan ala Turki menyimbolkan kematian, yaitu kematian ego atau nafsu. Sebab perjalanan spiritual tidak mungkin bisa dilakukan jika nafsu masih bercokol. Jubah hitam yang dipakai dibagian luar menyimbolkan nafsu itu sendiri. Adapun baju putih didalamnya menyimbolkan kain kafan nafsu. Pada saat akan berputar para dervish akan menanggalkan jubbah
hitam ini yang menandai dimulainya penyucian hati.
Tempat tarian sema atau Semahane yang berbentuk lingkaran menyimbolkan alam semesta. Setengah lingkaran menyimbolkan dunia material sedangkan setengah lainnya menyimbolkan dunia spiritual.
Masing-masing dervish akan menari berputar mengelilingi seluruh lingkaran yang menandakan dimulainya perjalanan spiritual.
Saat menari itu yang berarti sedang melakukan perjalanan spiritual mereka tidak boleh lalai mengingat Sang Pencipta alam semesta.
Tentu saja, berdzikir dengan menari tidak ada di dalam hadits. Tetapi sebagai sebuah budaya, Tarian Sema jauh lebih baik daripada tarian-tarian modern yang kosong makna dan menjadi simbol hura-hura.
Tarian Serna itu boleh dikata sama dengan Tari Saman, Tari Zipin, dan beberapa tarian lainnya yang berkembang di nusantara, yaitu sama-sama diciptakan oleh ulama. Tujuannya baik, dalam kondisi apa pun selalu mengingat Allah, termasuk ketika sedang menari.
Kedua pengantin, keluarga pengantin, teman-teman pengantin, kenalan pengantin, dan semua tamu yang diundang dalam pesta itu semuanya berbinar-binar bahagia, kecuali seorang perempuan berkerudung coklat muda dan bercadar coklat muda.
Di balik cadamya, perempuan itu berjuang untuk mengalahkan kesedihannya. Jiwanya menari ingin membuang nafsu sedihnya, mengiringi para darvish itu menari.
Dan perempuan bercadar itu tak lain dan tak bukan adalah Sabina.
Pesta pernikahan itu berakhir ketika langit di ufuk barat memerah pelan-pelan seperti warna tomat yang memerah pelan-pelan ketika matang. Matahari undur diri memberikan kesempatan kepada malam untuk datang menunaikan titah Tuhan.
Selesai pesta walimatul ursy Fahri dan Hulya menginap di Oxford thames Four Pillars Hotel.
"Kenapa kau memilih aku Hulya? Kenapa kau tidak memilih pemuda Turki, atau pemuda mana saja yang shalih? Kenapa kau mengejar aku?"
"Siapa yang mengejar kamu?"
"Paman Akbar Ali, ayahmu, sudah menceritakan semuanya padaku.
Kau datang ke Edinburgh mau lanjut kuliah, tapi sesungguhnya ingin mengejar aku. ltu ayahmu yang cerita padaku. Kenapa?"
Wajah Hulya memerah.
"Ayah keliru mengambil kesimpulan. Aku ke Edinburgh tidak untuk mengejarmu. Niat utama ingin lanjut kuliah mencari ilmu karena Allah. Memang aku pernah berterus terang kepada ayah, kalau jodohku adalah kau maka itu sesuai yang kuharapkan."
"Yang kau harapkan seperti apa?"
"Punya suami hafal Al Qur'an, ber-Islam dengan kaffah, penyayang, cerdas, dan amanah seperti kamu.
Sejak aku berkunjung ke Freibourg bertahun-tahun yang lalu, dan aku begitu dekat dengan Aisha, aku banyak mendapat cerita dari Aisha tentang kamu. Aku bilang dalam hati, Aisha sungguh beruntung. Lalu aku punya standar, aku kelak ingin suami seperti suaminya Aisha."
Fahri menyimak.
"Awalnya aku tidak berharap akan bersuami kamu. Tetapi ketika Aisha bertahun-tahun tidak kembali, aku berpikir kalau kamu mau menikah lagi, apa salahnya kalau aku yang jadi istrimu."
"Apa kau tidak khawatir aku tidak bisa mencintaimu karena aku tetap tidak bisa melupakan Aisha?"
"Kalaupun itu mungkin terjadi, tapi aku sangat yakin kau tidak akan menzalimiku, kau akan tetap jadi suami dan imamku, akan tetap mengajariku memahami isi Al Qur' an, dan akan tetap menghormati diriku sebagai perempuan. Itu sekaligus akan menjadi pemicu bagiku untuk bisa lebih baik dari Aisha.
Segala kebaikan Aisha yang aku tahu, maka aku akan berusaha untuk bisa lebih baik darinya. Aku akan berlomba dalam kebaikan dengan bayangan Aisha setiap hari."
"Kau letih, Sayang?"
"Tidak. Rasa bahagia yang aku rasakan membuat aku tidak merasa lelah sama sekali."
"Jadi apa yang akan kita lakukan malam ini ?"
"Kau imamnya, aku ikut saja."
"Kalau begitu kita Tahajjud sampai pagi."
"Aku jamin kau tidak akan kuat Tahajjud sampai pagi."
"Kenapa?"
"Karena aku sangat yakin, malam ini aku sangat cantik melebihi bidadari di surga sana."
Hulya tersenyum manja dengan kedua mata berbinar-binar penuh cinta.
*****
______________________________________________
[1] Arti : Ya Allah. barakahilah bagiku dalam keluargaku (istriku), dan berilah barakah mereka Kepadaku. Ya Allah kumpulkanlah
kami selalu dalam kebaikan, dan pisahkanlah kami jika engkau memisahkah menuju kebaikan.
[2] Arti : Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya. Dan aku memohon perlindungan-
Mu dari keburukannya dan keburukan wataknya. (HR. Bukhari, lbnu Majah, Abu Daud dan lbnu Sina)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar