Sebulan menjadi murid tak resmi. Bagian 19
"Kalau sampean pergi ke Demak, lalu urusan pemuda di sini bagaimana mas?" tanya Irul ketika mereka beranjak pulang.
"Ya gak tau Rul, kang Sulaiman ya cuma maunya ngurusi karang taruna, padahal kalau yang suka mabuk dan bikin onar gak diurusi kan ngurusi karang taruna, bikin acara volly juga percuma kan? Oh ya kalau kang Ridwan bagaimana Rul?"
"Maksud sampean kang Ridwan yang ngelatih silat di kampung lor, yang pernah mukul kerbau sampai kepala kerbau pecah, dan otaknya berhamburan, gara-gara sawahnya dimakan kerbau, dan yang angon ditepuk sampai kelojotan itu kang?"
"Iya, siapa lagi?"
"Ya dia mana mau ngurusi orang mabuk segala,"
"Ya belum dicoba diminta." yakin Hubbaibulloh, "Mau kamu entar habis isya nemeni aku ke rumahnya kang Wan?" tanya Hubbaibulloh.
"Mau kang, udah kang aku pulang dulu, ntar malem tak kemari."
"Ya Rul, hati-hati."
Rumah Ridwan, pelatih pencak silat, ada di dalam kampung, mendekati sawah, jalannya gelap, karena tak diberi lampu, di kiri jalan penuh pohon bambu, dan kanan jalan kuburan yang memanjang, jika ingin cepat harus melewati tengah kuburan, ada jalan pintas selebar dua kaki, kiri kanan hanya batu nisan, salah langkah bisa menginjak batu nisan.
Ada salah satu kuburan yang orangnya meninggal karena diacungi pedang cucunya, mungkin jantungan jadinya langsung mati mendadak, warisannya dibuat rebutan, sehingga anak cucunya tak ada yang pernah mengirimi do'a, kuburnya selalu amblas ke tanah sudah diusahakan kuburnya ditutup pakai pasir sampai 1 truk, tapi tetep saja amblas ke dalam, gak tau kenapa seperti itu, dulu sih masa hidupnya suka melebarkan sawah sehingga mencaplok sawah tetangga.
Tapi pernah ada kejadian, semasa meninggalnya 40 harian, ada seorang tukang becak pasar, dipeseni seseorang disuruh mengantar daun pisang ke rumah si orang yang sudah meninggal, sampai di rumah orang yang sudah meninggal itu, waktu perempuan yang mesen daun itu pesen ke tukang becak, bilang kalau untuk selametan 40 hari, tapi sampai dianter ke rumah anak cucunya gak ada yang mau selametan, akhirnya si tukang becak bingung, daun dibawa ke sana kemari, sampai di kerumunan toko dia cerita, soal ada yang pesen daun itu, lalu orang-orang nanya bagaimana ciri-ciri yang pesen daun itu, si tukang becak cerita ciri-cirinya, dan semua orang merinding, soalnya ciri-cirinya itu adalah ciri perempuan tua yang meninggal itu. Lalu orang sama nyuruh nunjukkan uang yang dikasih pada tukang becak sebagai pembayaran becaknya, dan uang dikeluarkan oleh tukang becak, ternyata semua uang cuma daun kering.
Sampai di rumah Kang Ridwan mereka berdua disambut dengan hangat kopi, dan sepiring singkong rebus.
"Wah jan kadingaren, mau main kak..." kata Kang Wan, kak adalah panggilan kakak, atau kang, sifatnya lebih mengakrabkan biasanya untuk memanggilkan anaknya, maklum tradisi di desa.
"Iya ini ada perlu kang., begini, langsung saja, bagaimana kalau kang Wan ini ikut mengawasi anak-anak muda yang suka pada mabuk-mabukan, ya setidaknya memperingatkan gitu kang?" kata Hubbaibulloh.
"Wah aku ndak berani kak." jawab Kang Wan sambil menggeser tubuh kekar berototnya di kursi.
"La siapa to yang sampean takuti, wong sampean punya ilmu tinggi gitu, kerbau saja sampean pukul pakai pukulan Bandung Bondowoso, sampai langsung mati, pasti suara sampean di dengar."
"Bukan masalah takut pada manusia kak, tapi aku sendiri belum bener, bagaimana mau memperingatkan orang lain?"
"La kalau semua orang nunggu bener dirinya, kemudian baru bertindak apa ndak terlambat, misalkan kalau sampai mereka mabuk, terus hilang akal, terus pas anak perempuan sampean lewat, lalu diperkosa, apa sampean akan diam saja?"
"Wah kalau anakku diperkosa, ku pecahkan kepala mereka,"
"La tapi kan mereka mabuk, hilang akal, kan tetep misal mereka sampean pecahkan kepalanya, la anak sampean terlanjur sudah diperkosa, bagaimana?"
"Iya... harus dicegah sebelum terjadi.."
"Makanya itu, kita antisipasi, jangan sudah ada kejadian baru disesali, gimana sampean mau?"
"InsaAlloh kak, saya siap, la kak Hub bukannya selama ini yang mimpin anak-anak suka mabuk-mabukan itu?"
"Bukan, aku hanya mencegah dari dalam..."
"Ooo baru ngerti aku, la sekarang kenapa minta saya yang mengawasi?" tanya kang Wan.
"Aku sendiri ada panggilan di sebuah pesantren untuk mengajar."
"Wah di mana itu, biar anakku si Ahmad ikut jadi muridnya kak Hub.."
"Di daerah Bonang Demak."
"Iya nanti aku susulkan"
"Karena urusannya sudah beres, saya sama Irul mau pamit."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar