32
PELANGI DI BIBIR HULYA
Sudah empat hari keluarga besar Ozan menginap di Stoneyhill Grove. Semua menginap di bekas rumah Nenek Catarina yang telah direnovasi oleh Fahri. Dari luar rumah itu, tampak paling cantik di antara rumah–rumah yang lain. Keharuman catnya tercium sampai halaman.
Rumah itu memiliki tiga kamar. Ozan beserta istri dan anaknya menempati satu kamar. Paman Akbar Ali dan istrinya satu kamar. Dan Hulya menempati kamar yang sebenarnya telah di tempati Sabina.
Akhirnya Sabina mau kembali ke Stoneyhill Grove dan menempati satu kamar di bekas rumah Nenek Catarina itu. Ketika keluarga besar Ozan datang, untuk sementara Sabina menginap di kamar lamanya yang ada di basement rumah Fahri.
Namun hampir setiap saat Sabina selalu siap sedia di bekas rumah Nenek Catarina itu untuk membantu mengerjakan hal-hal yang perlu bantuannya. Apalagi Hulya yang telah akrab dengan Sabina memintanya untuk menemaninya berbincang-bincang.
Pagi itu tampak sebuah kesibukan di dapur bekas rumah Nenek Catarina. Hulya dan ibunya dibantu Sabina sibuk menyiapkan sarapan khas Turki. Hulya sedang mengentaskan Sebze Dolmasi[1] yang sudah matang ke sebuah mangkuk besar.
Sabina sibuk membuat orak-arik telur khas Turki. Sementara, Bibi Melika, ibunda Hulya membuat acar dari mentimun dan tomat untuk lalapan.
Asap berbau gurih dari gorengan orak-arik telur dan Sebze Dolmasi mengepul di dapur. Sebagian menyusup sampai ke ruang
tamu di mana Ozan, Fahri dan Paman Akbar Ali sedang asyik berbincang sambil duduk bersila di atas karpet.
Begitu selesai menyiapkan Sebze Dolmasi, Hulya langsung menyiapkan teh panas. Dan sarapan pagi itu pun siap dihidangkan.
Claire, istri Ozan turun sambil menuntun Laila, anaknya yang masih didera rasa kantuk.
"Kalau masih mengantuk biarkan dia tidur." Ucap Paman Akbar Ali.
"Dia suka sekali dengan Sebze Dolmasi buatan Hulya. Dia akan makan dengan lahap kalau makannya bersama-sama. Kalau dia dibiarkan tidur dan nanti dia bangun yang sudab selesai makan nanti dia marah tidak mau makan." Jelas Claire. Perempuan Muslimah berdarah lnggris itu menyerahkan Laila kepada Ozan.
Gadis cilik berusia empat tahun itu langsung rebah di pangkuan ayahnya. Claire mengambil plastik dan menggelarnya di atas karpet. Ia lalu ke dapur untuk membantu menghidangkan sarapan.
Hulya keluar membawa teko bertingkat khas Turki berisi teh panas dan meletakkan di atas plastik. Sabina keluar membawa nampan berisi sepiring besar orak-arik telur, roti tawar dan buah zaitun. Claire keluar membawa gelas. Bibi Melike, istri Paman Akbar membawa lalapan dan Sebze Dolmasi. Hulya keluar lagi dari dapur sambil membawa sepiring madu dan sepiring buah zaitun.
Menu makan pagi khas Turki yang sangat lengkap telah terhidang. Aromanya begitu mengundang.
0zan membangunkan Laila untuk makan. Biasanya, jika ada tamu, lelaki dan perempuan makan di tempat yang terpisah, atau bergantian makannya.
Namun karena itu adalah keluarga besar dan Fahri sudah dianggap sebagai keluarga sendiri mereka makan bersama-sama. Fahri duduk di samping kanan Ozan yang berhadapan dengan Paman Akbar Ali. Hulya duduk di samping kiri ayahnya, jadi tepat menghadap Fahri. Bibi Melike duduk di samping kanan suaminya, lalu Claire duduk di samping Bibi Melike.
Paman Akbar mengambil roti tawar dan mencuilnya. Cuilan itu lalu digunakan untuk mencomot orak-arik telur sambil membaca basmalah, lalu mengunyahnya. Claire mengambil piring dan menyendokkan Sebze Dolmasi untuk Laila. Piring berisi Sebze Dolmasi itu diberikan kepada Ozan. Dengan penuh kasih Ozan mendulang Laila. Hulya mengambil piring dan hendak mengambil Sebze Dolmasi.
Hulya mengulurkan tangannya hendak meraih sendok besar di wadah Sebze Dolmasi, pada saat yang sama Fahri juga mengulurkan tangannya. Dan tangan Fahri lebih duluan memegang sendok besar itu. Tangan Hulya telah terulur ke sendok itu dan hanya beberapa senti dari tangan Fahri. Spontan Fahri melihat ke arah wajah Hulya demikian juga Hulya melihat ke arah wajah Fahri. Wajah Hulya memerah.
Fahri menarik tangannya dan mempersilakan Hulya mengambilnya. Hulya mempersilakan Fahri.
Dengan santai Fahri mengambil Sebze Dolmasi dengan sendok besar, bukan ia letakkan di piringnya tapi ia letakkan di piring Hulya. Gadis Turki itu agak kaget, Fahri lalu kembali menyendok Sebze Dolmasi dan menawarkan kepada Paman Akbar. Ayah Hulya itu meraih piring dan menyodorkan ke arah Fahri.
Hingga semua mendapatkan Sebze Dolmasi lewat tangan Fahri. Suasana makan pagi itu begitu hangat. Tiba-tiba Fahri teringat sesuatu.
"Kayaknya tadi ada Sabina." Gumam Fahri.
"Oh iya, dia harus makan bersama kita." Sahut Hulya sambil berdiri dan melangkah ke dapur.
Hulya mendapati Sabina sedang membersihkan dan merapikan peralalan dapur. Hulya mengajak Sabina sarapan bersama, tapi Sabina menolak. Hulya memaksa Sabina, hingga akhirnya Sabina mau bergabung
makan bersama.
"Melike, coba kau rasakan orak-arik telur ini baik-baik. Rasakan pelan-pelan. Ada rasa yang berbeda, bumbu yang beda." Kata Paman Akbar Ali kepada istrinya.
Sang istri menurut, ia mengambil orak-arik
telur khas Turki dengan sendok dan mencicipinya.
"Benar"
"Orak-arik telur ini mengingatkan saya pada ibunya Aisha. Persis seperti ini rasanya."
"Iya benar." Kata Bibi Melike sambil kembali menyendok orak-arik telur itu.
"Saya jadi penasaran seperti apa rasanya. Disebut ibunya Aisha jadi membuat saya bergetar." Gumam Fahri sambil mengambil orak-arik telur itu dengan Roti tawarnya.
"Rasanya menurutku biasa saja, sama dengan yang biasa dibuat Aisha dulu."
"Lhaa itu, karena lidahmu bukan lidah turki jadi tidak bisa membedakan dengan detail." Sahut Paman Akbar.
"Tapi dia berkata benar, sama dengan yang biasa dibuat Aisha. Wajar, Aisha belajar memasak dari ibunya." Tukas Bibi Melike.
Ozan tidak mau diam begitu saja. Ia pun angkat bicara,
"Jadi orak-arik ini yang masak siapa ?" Hulya
menunjuk ke arah Sabina yang menunduk.
Semua melihat ke arah Sabina yang tidak berani mengangkat mukanya. Fahri agak tergetar hatinya.
"Dari mana kau belajar memasak orak-arik telur ini Sabina?" Tanya Fahri.
"Dari coba-coba, ini hanya kebetulan saja rasanya seperti itu. Saya tidak bisa konsisten membuat sebuah rasa. Kalau saya masak lagi orak-arik seperti itu rasanya pasti akan lain lagi." Jawab Sabina dengan suara serak, pandangannya tetap menunduk ke lantai.
"Sabina ini terlalu merendah, selama di sini, dan Sabina membantu memasak, bisa saya nilai semua yang disentuh tangannya enak." Bibi Melike tersenyum pada Sabina.
"Bibi terlalu memuji."
"Ini yang senang Hoca Fahri. Jangan-jangan karena ada Sabina yang membantu memasak, Hoca Fahri jadi semakin tidak berpikir menikah lagi. Sudah tidak memerlukan istri seperti Aisha yang pandai memasak." Celetuk Ozan membuat Fahri salah tingkah.
"Bukan begitu Ozan." Sahut Fahri.
"Selama ini yang sering memasak buat Hoca Fahri bukan saya, tetapi Paman Hulusi. Saya hanya kadang-kadang saja. Bahkan cenderung waktu-waktu tertentu saja." Ucap Sabina memberi penjelasan, juga dengan wajah tetap menunduk di karpet.
"Hoca Fahri, boleh saya tanya?" Kali ini Claire, istri Ozan yang bicara.
"Silakan Claire."
"Kira-kira perempuan yang kriterianya seperti apa yang bisa menarik Hoca untuk menikah lagi?" Fahri menunduk diam. Semua diam.
Hening menyelimuti suasana di ruang tamu itu sesaat.
"Saya tidak punya kriteria khusus. Dulu saat menikahi Aisha juga saya tidak punya kriteria khusus. Bahkan saya pertama kali lihat wajah Aisha itu di ruang tamu rumah Syaikh Utsman karena dita'arufkan. Biarlah Allah yang membuka dan menggerakkan hati saya untuk memilih istri lagi, jika begitu takdirnya."
"Saya boleh bertanya Hoca?"
"Oh silakan Hulya."
"Saya tahu Hoca tidak kunjung menikah karena merindu dan menunggu Aisha. Pertanyaan saya sampai kapan? Kenapa sunnah Nabi terhalang oleh sebuah kerinduan tak jelas yang berlebihan? Bukankah berlebih-lebihan itu tidak baik dalam ajaran agama kita?"
Fahri kaget mendengar pertanyaan Hulya. Itu adalah pertanyaan yang pernah di ajukannya lewat sms dan tidak ia jawab.
Dan sekarang pertanyaan itu ia ungkapkan secara terang-terangan di tengah keluarga. Ayah Hulya, Paman Akbar juga kaget. la sampai mendongak dan memperhatikan wajah Fahri. Semua menunggu jawaban Fahri. Sabina yang sejak awal duduk di situ menunduk, kali ini sedikit mengangkat mukanya untuk melihat Fahri.
''Pertanyaanmu itu saya tidak bisa menjawabnya. Saya sendiri setelah menunggu sekian lama, dan setelah berpikir jernih, juga setelah mendengar nasihat dari banyak orang termasuk Syaikh Utsman, guru saya tercinta, saya sempat berpikir untuk menikah lagi.
Tetapi tiba-tiba saya takut kalau saya nanti akan menzalimi istri saya yang baru." Jawab Fahri.
"Menzalimi bagaimana Hoca?" Kejar Hulya.
"Saya khawatir tidak bisa mencintai dia sepenuhnya, seperti saat saya mencintai Aisha. Khawatir itu akan menyakitinya dan membuatnya merasa terzhalimi."
"Kalau ada perempuan yang bisa memahami kondisi Hoca dengan baik, dan dalam kondisi seperti itu dia lapang dada dan tidak merasa dizhalimi, bagaimana Hoca?"
"Kalau ada yang seperti itu dan dia shalihah beritahukan kepadaku."
Hulya mengangguk.
"Siang nanti kita jadi balik ke London, Ayah?" Tanya Ozan pada ayahnya.
"Tadi selepas shalat Shubuh aku sudah berbincang dengan ibumu. Dia masih ingin nambah dua hari lagi di sini." Jawab Paman Akbar.
"Iya, di sini enak. Serasa di rumah sendiri. Edinburgh dan Musselburgh ini indah dan cantik. Aku seperti melihat kartu pos yang hidup."
" Baik. Terus acara kita hari ini mau apa? Edinburgh dan Musselburgh sudah kita tapisi selama tiga hari."
"Aku ingin kita jalan darat ke utara." Jawab Bibi Melike, ibu Ozan.
"Ke mana Bibi ?" Tanya Fahri.
"Ke St. Andrews."
"Yah itu kota kecil yang sangat cantik. Tapi apa yang mama cari di sana ?" Tanya Ozan.
"Aku ingin jatuh cinta lagi."
"Maksud Mama?"
"Katanya kola St. Andrews itu kota yang romantis. Satu dari sepuluh orang yang belajar di sana menemukan jodohnya di sana. Aku mau ke sana, biar aku jatuh cinta lagi sama ayahmu."
Mendengar jawaban Bibi Melike, Paman Akbar langsung mendaratkan ciuman sayang pada istrinya itu tanpa malu. Sebab semua yang ada di ruangan itu adalah orang-orang yang sangat dekat. Melihat adegan itu semuanya tersenyum bahagia.
"Satu lagi." Ucap Bibi Melike,
"Khususnya untuk Fahri, siapa tahu dengan berkunjung ke St. Andrews nanti menemukan jodohnya di sana."
"Ah Mama ada-ada saja. Kalau Hoca fahri tidak akan bertemu jodoh di jalanan seperti itu. Hoca Fahri ditawari Syaikh Utsman untuk menikahi cucunya yang sedang PhD di Durham University saja tidak mau." Sahut Ozan.
"Siapa tahu. ltu bukan hal yang mustahil. Jodoh bisa bertemu di mana saja."
"Bertemu jodoh di mana saja asal itu yang paling baik di mata Allah dan paling mendapatkan ridha Allah, patut disyukuri." Gumam Fahri.
"Alhamdulillah, Fahri ini sudah mulai membuka pintu hatinya." Sahut Paman Akbar.
"Kalau begitu kita segera siap-siap." Tukas Ozan.
"Saya siapkan kendaraannya." Kata Fahri sambil berdiri lalu melangkah keluar rumah itu menuju rumahnya.
"Bibi Melike kalau saya boleh usul." Kata Sabina dengan suara serak setelah melihat Fahri keluar dari rumah itu.
"Iya Sabina. Boleh."
Semua memperhatikan Sabina dan urung bangkit dari duduknya.
"Sebaiknya Hoca Fahri ditemukan jodohnya dengan keluarga Bibi Melike saja. Selama saya ikut Hoca Fahri, saya lihat dia orangnya baik,
pekerja keras, rendah hati, tanggung jawab, dan penyayang.
Tentang kisah Nenek Catarina kan sudah saya sampaikan. Saya merasa, sungguh sayang kalau menikah dengan orang lain. Mohon maaf kalau saya lancang, kenapa tidak dijodobkan dengan Hulya saja?"
Hulya terperanjat mendengar apa yang disampaikan Sabina, mukanya memerah.
"Aku setuju denganmu Sabina." Tegas Claire.
"Aku juga." Sambung Ozan.
"Hmm aku juga setuju." Paman Akbar tersenyum.
"Kalau semuanya setuju, masak aku tidak setuju? Usulmu sangat bagus Sabina. Tergantung Hulya bagaimana, mau apa tidak?"
Kata Bibi Melike sambil melibat Wajah Hulya.
"Mama ini bagaimana, bukan tergantung saya, ya tergantung Hoca Fahrinya bagaimana?"
Hulya menjawab sambil tersipu.
Sabina tersenyum melihat tingkah Hulya yang tersipu, namun pelan-pelan kedua matanya berkaca-kaca dan tidak ada yang menyadarinya.
*****
Keira bangun kesiangan lagi. Ia masih bertahan di hotel itu. Beban itu masih saja mengganjal di kepalanya dan ia belum menemukan cara untuk membuangnya. Ia bahkan belum berani pulang ke Stoneyhill Grove. Ibunya sudah berkali-kali meneleponnya tapi ia menjawab masih punya urusan di
York.
Karena beban itu, penampilannya di Sir Jack Lyons Concert Hall sangat tidak memuaskan.
Ia terpaksa meminjam biola seorang mahasiswi jurusan musik.
Sebuah biola untuk para amatir. Akibatnya penampilannya juga terasa amatir. Beberapa kali ia salah nada karena terus diganggubeban yang mengganjal di kepala.
Biola Madam Varenka yang ia patahkan itu sungguh membuatnya tersiksa.
Mimpi-mimpinya adalah kubangan-kubangan hitam yang menakutkannya. Ia telah membawa biola itu ke sebuah toko penjual biola yang katanya pemiliknya sangat pakar tentang biola.
Sedikit beruntung ia bertemu pakar itu. Ia
bertanya apakah biola yang patah itu bisa di perbaiki? Dan jawaban yang ia terima semakin membuat beban di kepalanya terasa membesar.
"Kayu-kayu yang patah bisa disambung dilem lagi, tapi tidak bisa seperti aslinya. Sayang sekali biola ini rusak seperti ini. Sayang sekali. Ini biola langka. Ini biola Stradivarius asli yang cuma ada beberapa biji saja di dunia ini.
Harganya bisa lebih 1 juta poundsterling. Tidak masuk akal, barang semahal ini bisa retak-retak patah seperti ini. Yang membawa barang ini seharusnya sangat hati-hati"
PenjeLasan lelaki tua pemilik toko biola itu membuat Keira seperti mau kehilangan nyawanya.
Harganya bisa lebih dari 1 juta poundsterling. Dari mana ia akan dapatkan uang sebanyak itu untuk mengganti biola itu? Kalau pun ia dapat uang sebanyak itu, apakah Madam Varenka bisa menerimanya? Ia jadi ingat tindakan bodohnya yang lain.
Ketika Madam Varenka meminjamkan biola itu, Madam Varenka meletakkan biola itu pada tas koper segi empat yang kokoh dari alumunium. Saat itu dalam hati ia berkata,
"Madam Varenka ini orang kuno, tidak praktis !" Tas koper itu agak berat dan terasa besar, sangat tidak modis dibawa ke mana-mana.
Maka ketika ia membawa biola itu ke York, ia pindah biola itu ke dalam tas biolanya. Agar enak dibawa-bawa. Ternyata kini baru ia tahu kenapa Madam Varenka meletakkan biola itu ditas koper alumunium yang kokoh. Ternyata adalah untuk menjaga biola mahal itu dari cedera apa pun.
Siang ini adalah jadwal berjumpa dengan Madam Varenka untuk latihan. Tetapi ia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk bertemu dengan guru yang mengantarkannya memenangi kompetisi di Cremona itu.
Jika ia terlambat hadir, pasti Madam Varenka akan meneleponnya. Maka sebelum guru dan pelatihnya itu meneleponnya, ia mengirim pesan lewat sms bahwa ia berhalangan hadir karena ada urusan sangat penting di York.
Keira mengirim pesan itu, lalu kembali rebah di atas kasur di kamar sebuah hotel murah di York. Air matanya kembali meleleh begitu saja. Dunia ini tiba-tiba terasa sempit dan gelap baginya.
*****
Hati Hulya berbunga-bunga. Sungguh tanpa disengaja, ia kini duduk di kursi depan, di samping Fahri yang mengemudikan SUV BMW putih itu. Awalnya ia duduk di kursi tengah bersama kedua orang tuanya.
Claire dan anaknya Laila duduk di kursi paling belakang. Sementara Ozan duduk di kursi depan bersama Fahri.
Tiba-tiba Laila merengek ingin duduk di tengah bersama kakek dan neneknya. Jadilah car seat Laila dipindah ke tengah. Dan ketika Hulya mau duduk di kursi paling belakang bersama Claire, istri Ozan itu minta Hulya duduk di kursi paling depan saja. Claire minta Hulya bertukar tempat dengan Ozan.
"Aku ingin berdua dengan Ozan." Lirih Claire pada Hulya sambil mengedipkan matanya dan tersenyum. Hulya mengerti. Jadilah ia duduk di kursi paling depan di samping Fahri.
Fahri mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia memberi kesempatan kepada para penumpang yang dibawanya agar bisa menikmati pemandangan kanan dan kiri.
Awal musim gugur datang menghampiri. Pohon-pohon memerah dan menguning sebagian gugur terbawa angin. Bukit-bukit dan lembah punuh warna warni musim gugur. Garis pantai yang sesekali disela bangunan tua khas Skotlandia. Peternakan kuda yang menghampar. Kuda-kuda putih, cokelat dan hitam berkejaran.
Pemandangan begitu prosa dan puitis. Sangat magis.
"Kupaskan ini untuk Hoca" Paman Akbar mengulurkan sebiji pisang Giant Cavendish kepada Hulya.
Saat itu Hulya sendiri sedang menikmati pisang juga. Semua yang ada di dalam mobil itu senang makan pisang sambil menghayati pemandangan. Hanya Fahri yang tidak makan pisang sebab ia konsentrasi mengemudikan mobil.
Hulya menunggu selesai mengunyah pisangnya. Barulah ia mengupaskan pisang itu dan diberikan kepada Fahri.
"Nanti saja !" Lirih Fahri.
Selama ini ia merasa kagok kalau mengendarai mobil hanya menggunakan tangan satu.
"Kau bantu dia makan. Dia pegang kemudi, susah!" Ujar Paman Akbar.
Hulya menuruti perintah ayahnya dan menyodorkan pisang itu ke mulut Fahri. Tentu saja Fahri jadi sangat kikuk. Pelan-pelan Fahri memperlambat laju mobilnya dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti Hoca?" Tanya Paman Akbar.
"Sebentar saya makan dulu pisangnya." Kata Fahri sambil menerima pisang dari tangan Hulya. Ia lalu menikmati pisang itu sampai habis barulah melanjutkan perjalanan.
"Aku tahu kenapa Hoca Fahri tidak mau dibantu Hulya." Kata Claire dari belakang.
"Kenapa?" Tanya Ozan.
"Karena Hulya bukan istrinya. Hoca Fahri tidak mau disuapin yang bukan istrinya. Kalau itu yang menyuapi Aisha pasti mau. Benar kan Hoca?" Fahri hanya tersenyum.
"Hoca Fahri apa tidak rindu makan berdua bersama istri?" Tanya Ozan dengan nada meledek.
"Aduh, kenapa saya yang dijadikan sasaran terus ya? Gantian yang lain biar ramai." Sahut Fahri sambil terus konsentrasi mengemudikan mobilnya.
"Yang lain siapa? Masak mau membahas Laila."
"Ya gantian Hulya misalnya. Setelah menang di Italia terus apa rencananya? Apa mau terus berkarir menjadi pemain biola profesional, atau masih mau lanjut kuliah di Edinburgh?"
"Hulya, dengarkan, itu ditanya sama calon suamimu. Eh, maaf, kok calon suami, maaf. Itu ditanya Hoca. Fahri." Ozan sengaja mengerjai Hulya dan Fahri. Paman Akbar, Bibi Melike, dan Claire tersenyum-senyum.
"Kursi tempat aku duduk jadi terasa panas ini." Sahut Hulya.
"Tidak usah panas, jadi rencanamu terus bagaimana Hulya?" Kali ini Claire yang tanya.
"Sebenarnya saya inginnya menikah, terus juga kuliah. Tapi belum menemukan calon yang pas." Jawab Hulya santai.
"Kalau misal ya. Sekali lagi ini misal saja. Kalau misalnya Hoca Fahri mau menikah denganmu, apa kau mau? Ini misal saja."
Ada hawa hangat menyusup dalam syaraf-syaraf Fahri. Ia tahu dirinya sedang terus dikerjai oleh orang-orang yang ada di belakang.
Sementara jantung Hulya berdegup kencang dan mukannya memerah. Ia sedang berpikir mengatur kata-kata menjawab pertanyaan Claire yang mengerjainya itu.
"Iya Hulya, kalau aku misal meminangmu untuk jadi istriku apa kamu mau? Sekali lagi, ini misal, saya ikut bahasanya Claire. Ini misal." Kata Fahri santai. Fahri berpikir sekalian mengerjai Hulya.
Kata-kata Fahri itu sungguh diluar dugaan semua yang ada di dalam mobil itu. Termasuk Hulya sendiri.
Mulut gadis itu benar-benar terkunci.
Jantungnya berdegup kencang. la tidak tahu apa yang sedang ia rasakan. Mobil yang dikendarai Fahri mulai memasuki kota St. Andrews.
"Seandainya itu bukan misal. tapi sungguhan. Sebagai ayah Hulya, aku sangat bahagia dan merestui." Kata Paman Akbar.
"Sebagai ibu aku merestui."
"Sebagai kakak tertua aku merestui."
"Sebagai ipar aku merestui."
"Restu kedua orang tua dan semua saudara itu penting, tapi yang paling penting adalah yang
bersangkutan mau apa tidak?" Sabut Fahri ringan, tanpa menoleh ke Hulya yang duduk di sampingnya.
Fahri membawa mobil itu ke tengah kota, tepatnya di kawasan St. Mary's Place. Fahri membawapenumpangnya menuju masjid yang letaknya di samping kampus University of St Andrews. Waktu zhuhur telah tiba. Dan sampai semuanya telah turun dari mobil, Hulya masih diam tidak berbicara.
Gadis itu bahkan seperti tidak menyadari bahwa semua penumpang telah turun dari mobil. Ia masih duduk di bangku mobil dengan mata menunduk melibat dasboard. Bibi Melike menyadarkan Hulya untuk turun dan shalat Dzuhur.
Rombongan itu memasuki masjid kecil itu ketika jamaah shalat Dhuhur yang hanya belasan orang telah selesai.
Fahri minta Paman Akbar yang menjadi imam, tapi tidak mau. Paman Akbar bahkan mendorong Fahri untuk mengimami.
Jadilah rombongan itu shalat Dhuhur diimami Fahri usai shalat dan dzikir Fahri berkata sambil memandang kepada Paman Akbar dan Ozan,
"Saya tidak tahu apakah ini karena doa Bibi Melike yang mendoakan agar saya bertemu jodoh di St. Andrew, entah kenapa saya merasa bahwa saya memang harus menikah lagi dan saya harus meminang seseorang."
Kata Fahri itu didengar dengan penuh perhatian oleh Paman Akbar, Ozan, Bibi Melike, Claire dan Hulya.
"Saya senang mendengarnya Hoca. Kau tidak boleh terus larut bertahun-tahun dalam kesedihan. Kita semua sebagai keluarga besar Aisha tahu bahwa kamu sangat setia kepada Aisha. Tapi kamu juga harus menata hidupmu lebih baik." Sahut Paman Akbar.
"Jadi siapa orang yang akan kau pinang itu Hoca. Siapa tahu kami boleh tahu?" Apakah dia tinggal di St Andrews ini? Kuliah di sini? Tadi di jalan aku lihat ada gadis-gadis berjilbab, mereka tampaknya mahasiswi di sini." Tukas Bibi Melike.
"Iya Bibi. Orangnya ada di kota ini, tapi tidak tinggal di sini dan tidak kuliah di sini. Mumpung ada wali dan keluarganya. Paman Akbar, dengan mengucap bismillah, alhamdulillah wash shalatu was salamu
'ala Rasulillah, saya melamar Hulya putri paman."
Semua yang mendengar apa yang diucapkan Fahri terhenyak kaget. Bahkan imam masjid yang masih berdzikir di salah satu sudut masjid itu juga kaget dan menoleh melihat Fahri.
"Hoca. sungguh-sungguh?"
"Saya sudah awali dengan basmalah, hamdalah dan shalawat Paman. Saya sungguh-sungguh."
"Bagi saya lamaran Hoca adalah nikmat dan anugerah. tapi saya bukan penentunya, yang menentukan diterima dan tidaknya tentu adalah Hulya. Kau sudah dengar kan Hulya? Apa jawabanmu, Nak?"
Paman Akbar memandangi wajah putrinya. Bibi Melike, Ozan dan Claire juga memandangi Hulya.
Semua menunggu jawaban Hulya. Gadis itu menunduk, ia berusaha menguasai gemuruh dalam dadanya.
Air mata yang hangat mengambang begitu saja di pelupuk matanya.
"Jadi apa jawabanmu Hulya? Apa kau perlu waktu untuk berpikir?" Tanya Bibi Melike.
Hulya mengangkat mukanya melihat wajah ibu dan ayahnya. Lalu melihat wajah Fahri sekilas.
Pandangan keduanya bertemu. Hulya kembali menunduk.
"Kau menerima lamaran Hoca Fahri, iya kan Hulya?" lirih Bibi Melike.
Hulya mengangguk-angguk pelan.
"Alhamdulillah." Gumam Paman Akbar lega.
"Pernikahannya kita segerakan, kita laksanakan di Edinburgh atau London saja. Bagaimana Hoca setuju?" Fahri mengangguk.
"Kau setuju Hulya?"
Hulya menyeka kedua matanya, lalu mengangkat mukanya dan mengangguk sambil tersenyum.
Fahri melihat senyum Hulya. Seperti ada pelangi di bibir Hulya. Indah sekali.
*****
______________________________________________
[1] Tomat, labu atau paprika isi nasi basmati dengan campuran daging kambing gurih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar