Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 28-01

PANASNYA BUNGA MEKAR : 28-01
“Sehingga karena itu, kami di Kabanaran benar-benar mengalami kesulitan.”

“O. Apakah tidak ada jalan lain untuk mengatasinya?” bertanya Akuwu di Watu Mas.

“Sulit sekali. Apalagi sekarang.” jawab Akuwu Suwelatama.

“Bagaimana dengan sekarang?” bertanya Akuwu di Watu Mas itu pula.

“Di daerah hutan perbatasan terdapat segerombolan perampok yang telah menambah kesulitan kehidupan penduduk di daerah Kabanaran.” jawab Akuwu Suwelatama.

Akuwu di Watu Mas mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Itu adalah beban yang wajar. Kita yang sudah sanggup menjadi pemimpin atas satu kesatuan tempat, maka kita harus berani mempertanggungjawabkan.” Akuwu di Watu Mas itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi sudahlah. Marilah kita berbicara tentang keluarga. Mungkin kita dapat mengenang silsilah kita. Mungkin kakangmas mempunyai keperluan keluarga yang lain yang akan kakangmas bicarakan di sini?”

Akuwu Suwelatama tersenyum. Katanya, “Anak-anakmu sudah memanjat masa remaja.”

“Ya, kakangmas.” jawab Akuwu di Watu Mas.

“Sayang. Di Kabanaran banyak anak-anak remaja menjadi korban keganasan para perampok. Bukan karena mereka dirampok. Tetapi entah karena pengaruh apa sebagian dari mereka berada di dalam lingkungan para perampok.”

“Ah,” potong Akuwu di Watu Mas, “kenapa kakangmas selalu berbicara tentang perampok saja?”

“Maaf. Tetapi persoalan itu sangat menarik bagiku. Justru karena para perampok itu telah mempersatukan persoalan di antara kita.” berkata Akuwu Suwelatama.

“Sudahlah,” jawab Akuwu di Watu Mas, “jangan berbicara tentang hal-hal yang dapat mendirikan bulu-bulu tengkuk. Sekali lagi aku mohon, kakangmas berbicara tentang masalah lain saja.”

“Mungkin kita akan dapat melakukannya, adimas. Kita dapat berbicara tentang sesuatu yang menyenangkan. Tetapi tentu tidak bagi anak-anak yang sedang menjelang remaja. Kekisruhan-kekisruhan yang dapat timbul karena tingkah laku para perampok tentu akan sangat berpengaruh terhadap anak-anak remaja seperti putera-putera adimas ini.” jawab Akuwu Suwelatama.

“Ah, kakangmas berbicara tentang sesuatu yang menggetarkan jantung. Aku mohon kakangmas jangan berbicara tentang perampok.” berkata Akuwu di Watu Mas.

“O,” desis Akuwu Suwelatama, “aku mohon maaf. Tetapi justru karena aku melihat sorot mata putera-putera adimas yang bening dan tidak mengenal dosa,” jawab Akuwu Suwelatama, “sementara itu dosa telah terjadi di mana-mana. Dosa dalam segala bentuknya. Apakah hal itu tidak terasa pada adimas?”

Akuwu di Watu Mas menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah dengan sengaja menerima Akuwu Suwelatama di antara keluarganya. Meskipun terasa agak janggal juga, karena Akuwu Suwelatama datang dengan pengawalnya yang ternyata ikut bersama Akuwu diterima di antara keluarga Akuwu di Watu Mas.

Tetapi agaknya Akuwu Suwelatama yang menyadari cara penerimaan itu tidak mengurungkan niatnya untuk berbicara tentang daerah perbatasan.

Bahkan katanya kemudian, “Adimas. Adalah kebetulan sekali bahwa adimas telah menerima kami dengan sangat akrab karena kami telah adimas anggap sebagai keluarga sendiri. Dengan demikian aku dapat berbicara dengan adimas sebagai seorang saudara tua. Aku ingin memperingatkan, bahwa putera-putera adimas ada dalam bahaya.”

Wajah Akuwu di Watu Mas menjadi merah. Apalagi ketika ia melihat kecemasan membayang di wajah isterinya. Di wajah permaisuri Akuwu di Watu Mas.

“Kakangmas,” tiba-tiba suara Akuwu di Watu Mas itu bergetar, “aku tidak bermaksud berbicara tentang hal-hal yang terjadi di Kabanaran. Karena hal seperti itu tidak terdapat dan tidak akan terjadi di Watu Mas. Marilah kita berbicara tentang persoalan-persoalan lain.”

“Adimas,” berkata Akuwu Suwelatama, “aku datang justru akan merasa, bahwa kita adalah keluarga yang masih dekat bukan saja sesuai dengan jalur keturunan, tetapi letak Pakuwon kita yang berbatasan. Karena itu aku ikut merasa bertanggung jawab terhadap kemanakan-kemanakanku di sini. Meskipun umurku mungkin lebih muda dari adimas, tetapi darah yang mengalir di dalam tubuhku ternyata lebih tua dari adimas. Karena itulah maka aku khusus datang untuk memberitahukan bahwa perampok di hutan perbatasan itu menjadi semakin garang. Pada masa terakhir, sasaran mereka lebih banyak terarah kepada Pakuwon Watu Mas dari pada Pakuwon Kabanaran.”

“Tidak,” potong Akuwu di Watu Mas, “kakangmas jangan menakuti keluargaku. Apalagi anak-anakku.”

“Bukan menakut-nakuti, adimas,” jawab Akuwu Suwelatama, “tetapi untuk waktu yang tidak lama lagi, mereka akan ikut bertanggung jawab atas pemerintahan di Pakuwon Watu Mas ini.”

“Sudahlah, kakangmas.” Akuwu di Watu Mas menjadi marah. Namun di hadapan isteri dan anak-anaknya ia masih berusaha untuk menahan diri. Namun kemudian katanya kepada permaisurinya, “Nampaknya kakangmas Akuwu Suwelatama kurang dapat mengendalikan diri. Karena itu, biarlah aku menerimanya sendiri, agar kau semuanya tidak terpengaruh oleh sikapnya yang sangat berhati-hati. Kecemasannya tentang keadaan yang tidak sesuai sama sekali dengan kenyataan yang telah terjadi, membuat Pakuwon Kabanaran diliputi oleh ketakutan.”

Akuwu Suwelatama mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya kepada permaisuri Akuwu di Watu Mas, “Aku mohon maaf. Orang tua selalu sangat berhati-hati menghadapi keadaan.”

“Tetapi kakangmas lebih muda dari kami.” desis permaisuri itu.

“Kecemasan tidak mengenal kemudaan.” sahut Akuwu di Watu Mas.

Akuwu Suwelatama tidak menjawab lagi. Sejenak kemudian maka permaisuri dan anak-anak Akuwu di Watu Mas itu pun telah meninggalkan pertemuan itu.

“Maaf, adimas,” berkata Akuwu Suwelatama, “aku memang ingin berhadapan dengan adimas.”

Tetapi Akuwu di Watu Mas menjawab, “Tidak ada yang dapat kita bicarakan. Aku sebenarnya ingin mempergunakan cara yang lebih halus untuk menghindarkan pembicaraan ini. Tetapi kakangmas justru bersikap kasar terhadap isteri dan anak-anakku.”

“Aku hanya mengingat kepentingan rakyatku di sekitar hutan perbatasan.” sahut Akuwu Suwelatama, “Semua pembicaraan aku tujukan untuk kepentingan mereka. Tentu adimas mengetahuinya.”

“Aku sudah menerima laporan dari perbatasan,” jawab Akuwu di Watu Mas, “tidak ada apa-apa di sana. Karena itu, jangan memaksa aku untuk berbicara tentang pembatasan. Segala sesuatu yang menyangkut perbatasan telah diatur dalam paugeran-paugeran. Jika kakangmas tidak melanggar paugeran itu, maka tidak akan timbul persoalan.”

“Tetapi dalam hubungan dengan para perampok itu timbul masalah lain adimas,” sahut Akuwu Suwelatama, “para perampok itu berada di daerah Watu Mas.”

“Jangan membuat persoalan.” berkata Akuwu di Watu Mas itu, “Sudahlah. Aku akan menjamu kakangmas dan para pengawal kakangmas itu.”

“Aku memerlukan ketegasan sikapmu, adimas. Aku telah melakukan satu tugas yang sangat berat di Kedung Sertu. Ternyata bahwa di dalam sarang para perampok itu terdapat harta benda yang tidak ternilai harganya. Karena itu, jika adimas bersedia bersikap tegas terhadap para perampok itu, mungkin harta benda yang telah banyak dari yang aku ketemukan di Kedung Sertu itu akan dapat memberikan manfaat bagi Pakuwon ini.”

“Kakangmas memang sering aneh-aneh saja.” jawab Akuwu di Watu Mas. Lalu, “Sudahlah. Aku tidak ingin berbicara. Aku akan dengan senang hati menerima kakangmas sebagai keluarga. Lebih dari itu tidak.”

“Jangan bersikap demikian, adimas,” berkata Akuwu Suwelatama, “seharusnya kita mencari jalan, apa yang dapat kita lakukan untuk kepentingan kita bersama. Jika adimas menutup pintu bagi pembicaraan, maka persoalan kita akan semakin meningkat, bukannya mendapat jalan pemecahan.”

“Tidak ada persoalan yang pantas dibicarakan. Bukankah sudah aku katakan?” jawab Akuwu di Watu Mas.

Akuwu Suwelatama menjadi semakin gelisah menghadapi Akuwu Watu Mas yang keras hati itu. Bahkan seolah-olah telah menutup sama sekali pintu pembicaraan.

Karena itu, maka Akuwu Suwelatama itu pun berkata, “jika demikian, adimas, aku kira tidak ada jalur yang lebih baik untuk memecahkan persoalan ini selain lewat kekuasaan di Kediri, selebihnya Singasari.” Akuwu Suwelatama berhenti sejenak, lalu, “Aku memang tidak mempunyai jalan lain. Jika aku langsung memasuki tlatah Watu Mas untuk menangkap para perampok, maka aku telah melakukan kesalahan. Tetapi jika tidak, maka Watu Mas menjadi pancatan untuk melakukan kejahatan di tlatah Kabanaran.”

“Jangan membuat fitnah seperti itu,” potong Akuwu di Watu Mas, “tetapi adalah licik sekali jika kakangmas pergi ke Kediri dan apalagi ke Singasari. Seperti anak-anak yang tumbak cucukan. Seolah-olah kita tidak dapat menyelesaikan persoalan kita sendiri.”

“Tetapi cara itu adalah cara yang paling aman bagi rakyat kita.” jawab Akuwu Suwelatama.

“Tidak ada gunanya, kakangmas. Kakangmas tidak akan dapat menunjukkan kepada orang-orang Kediri bahwa aku sudah melanggar paugeran. Mungkin orang-orang Singasari yang sekarang berada di Pakuwon Kabanaran itukah yang akan menjadi saksi pelanggaran yang sudah aku lakukan?”

Akuwu Suwelatama memandang Mahisa Bungalan yang berada bersama para pengawalnya. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu kepadanya.

“Kakangmas,” berkata Akuwu di Watu Mas, “aku berpegang teguh kepada sumpah jabatanku sebagai Akuwu di dalam kekuasaan Kediri dan kemudian Singasari. Aku tidak akan melanggar kekuasaan wilayah Pakuwon ku dan apalagi menginjak Pakuwon tetanggaku. Termasuk Pakuwon Kabanaran.”

“Kau berpegang pada paugeran resmi.” jawab Akuwu Suwelatama, “Tetapi apakah bukan satu pelanggaran jika kau membiarkan tanahmu menjadi landasan para perampok yang berbuat jahat di Pakuwonku?”

“Semuanya itu omong kosong,” berkata Akuwu di Watu Mas, “kakangmas akan mencari alasan untuk memiliki seluruh hutan di perbatasan itu, karena hutan itu ternyata menyimpan kayu cendana, kayu beledok dan kayu-kayu yang menghasilkan getah yang mahal lainnya.”

“Adimas,” potong Akuwu Suwelatama, “aku justru tidak mengerti, bahwa di hutan itu terdapat jenis-jenis kayu yang berharga.”

“Sudahlah,” berkata Akuwu di Watu Mas, “tidak ada waktu bagiku untuk berbincang tentang sesuatu yang tidak ada artinya. Karena itu, jika kakangmas masih ingin berada di rumahku, silahkan mengatakan apa saja tetapi tidak menyangkut jabatan kita masing-masing.”

Akuwu Suwelatama menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kedatanganku menyangkut persoalan yang lebih penting dari berbincang tentang makanan dan minuman. Ketahuilah adimas, di antara orang-orang yang aku sebut sebagai pengawalku, memang terdapat seorang yang kau anggap sebagai orang Singasari itu.”

Akuwu di Watu Mas mengerutkan keningnya, sementara Akuwu Suwelatama berkata, “Yang masih muda di antara mereka itu adalah Mahisa Bungalan.”

“O,” Akuwu di Watu Mas mengangguk-angguk, “aku tidak berkeberatan ia berada di sini. Justru ia menyaksikan sendiri, apa yang kakangmas lakukan ini.”

“Kedatanganku memang agak terlambat, adimas,” berkata Akuwu Suwelatama kemudian, “semula aku memilih untuk menyelesaikan persoalan yang timbul di Kedung Sertu. Karena aku menganggap bahwa persoalan di hutan perbatasan itu akan lebih mudah diselesaikan dengan pertolongan adimas. Namun ternyata aku salah. Apalagi setelah hadir di Pakuwon ini Pangeran Indrasunu.”

“Pangeran Indrasunu.” ulang Akuwu di Watu Mas, “Apa salahnya ia berada di sini? Bukankah ia masih keluarga kita? Aku menerimanya seperti aku menerima kakangmas. Tidak lebih dan tidak kurang.”

“Kau tahu persoalan yang timbul antara aku dan Pangeran Indrasunu?” bertanya Akuwu Suwelatama.

“Aku pernah mendengarnya. Tetapi itu bukan persoalanku. Aku tidak akan mencampurinya.” jawab Akuwu di Watu Mas.

“Aku justru berpendapat, bahwa kehadirannya di sini telah memperkeras sikapmu, adimas,” berkata Akuwu Suwelatama, “karena itu, sebaiknya kita berbicara dengan terbuka. Aku memang memerlukan pertolonganmu. Cukup dengan janjimu.”

Akuwu di Watu Mas tertawa. Katanya, “Aku bukan anak-anak yang dapat kau bujuk kakangmas. Ijinku berarti aku menyerahkan hutan itu seluruhnya ke tangan kakangmas.”

“Tuduhan itu terlalu keji. Aku sama sekali tidak ingin melakukannya,” jawab Akuwu Suwelatama, “justru untuk meyakinkan, aku datang kemari. Mungkin memang perlu dibuat satu perjanjian yang pasti.”

Tetapi Akuwu di Watu Mas menggeleng. Katanya, “Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

Wajah Akuwu Suwelatama menjadi tegang. Sekilas dipandanginya Mahisa Bungalan yang menjadi berdebar-debar. Kemudian Akuwu itu pun berkata, “Nampaknya usaha Pangeran Indrasunu berhasil. Baiklah. Aku sudah berusaha untuk memecahkan persoalan ini. Jika pembicaraan ini gagal bukan salahku. Tetapi mungkin justru itulah yang kau kehendaki atas bujukan Pangeran Indrasunu.”

“Jangan mimpi,” potong Akuwu di Watu Mas, “aku mempunyai sikap tersendiri. Aku bukan bayangan Pangeran Indrasunu meskipun aku baik terhadapnya.”

Jantung Mahisa Bungalan menjadi semakin berdegup. Ia mempunyai persoalan tersendiri dengan Pangeran Indrasunu, sehingga karena itu, maka persoalan yang hampir padam itu telah menyala kembali di hatinya.

Tetapi ia tidak ingin ikut serta dalam pembicaraan itu justru karena ia merasa, mungkin sekali ia tidak akan dapat menahan hati lagi.

Dalam pada itu, maka Pangeran Suwelatama berkata, “Adimas. Nampaknya Adimas sudah berkeras pada tekad adimas. Baiklah. Aku mempunyai saksi seorang prajurit Singasari. Jika kemudian pembicaraan ini meningkat ke tataran yang lebih tinggi, maka aku dapat mengatakan, bahwa aku telah berusaha.”

“Apapun yang hendak kakangmas lakukan, aku persilahkan.” jawab Akuwu di Watu Mas. “Yang penting aku tidak melakukan pelanggaran. Dengan demikian aku tidak akan dapat dituduh mendahului persoalan yang mungkin timbul antara Kabanaran dan Watu Mas.”

“Kau memang cerdik,” jawab Akuwu Suwelatama, “tetapi baiklah. Usahaku untuk berbicara nampaknya telah gagal. Tetapi berbicara bukan cara satu-satunya. Sudah aku katakan, mungkin aku dapat meningkatkan persoalan ini ke tataran yang lebih tinggi. Tetapi mungkin aku akan mencari jalan sendiri.”

Tetapi Akuwu di Watu Mas itu tertawa. Katanya, “Kakangmas memang pandai mengancam. Tetapi jangan menyangka bahwa ancaman kakangmas itu akan dapat menggetarkan sehelai bulu rambutku.”

Jantung Akuwu Suwelatama rasa-rasanya hampir meledak. Tetapi ia masih tetap menghormati tatanan yang berlaku. Karena itu, maka ia masih tetap tersenyum. Bahkan katanya, “Sejak semula aku kagum atas ketabahan hati adimas menghadapi segala macam persoalan. Tetapi aku juga mengagumi betapa adimas sama sekali tidak bergetar hatinya melihat penderitaan hidup rakyat di sekitar hutan perbatasan.”

“Kakangmas memang aneh,” berkata Akuwu di Watu Mas, “yang mengalami kesulitan adalah orang-orang di Kabanaran. Bukan orang-orang di Watu Mas. Justru karena kakangmas tidak segera dapat mengatasi keadaan di Kabanaran, kakangmas ingin mencari sumber kesalahan Watu Mas.”

Rasa-rasanya jantung Akuwu Suwelatama tidak dapat bertahan lagi. Justru karena itu, maka agar tidak terjadi sesuatu yang tidak dikehendakinya Akuwu Suwelatama itu pun kemudian berkata, “Baiklah. Tidak ada lagi yang dibicarakan. Sebenarnya kedatanganku ini juga ingin bertemu dengan adimas Indrasunu. Tetapi nampaknya adimas sudah berusaha untuk mencegah pertemuan yang demikian.”

“Kenapa aku harus mencegahnya?” bertanya Akuwu di Watu Mas, “Seandainya sekarang Pangeran Indrasunu ada di sini, maka aku akan mempersilahkannya menemui kakangmas. Tetapi Pangeran Indrasunu tidak ada di Pakuwon Watu Mas sekarang ini.”

Akuwu Suwelatama mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia tertawa sambil berkata, “Jadi, Pangeran Indrasunu sekarang tidak ada di Pakuwon ini?”

“Tidak.” jawab Akuwu di Watu Mas.

“Di mana?” bertanya Akuwu Suwelatama.

“Aku tidak tahu,” jawab Akuwu di Watu Mas, “aku bukan pemomong Pangeran Indrasunu.”

Pangeran Suwelatama tertawa semakin keras. Katanya kemudian, “Jika demikian, akulah yang mengetahuinya.”

Akuwu di Watu Mas mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apa yang kakangmas ketahui?”

“Adimas Pangeran Indrasunu,” sahut Akuwu Suwelatama, “ia tentu berada di hutan perbatasan.”

Wajah Akuwu di Watu Mas merah. Dengan suara gemetar ia menjawab, “Kakangmas terlalu tergesa-gesa. Dari mana kakangmas mengetahuinya bahwa Pangeran Indrasunu berada di hutan perbatasan?”

“Berdasarkan perhitungan,” jawab Akuwu Suwelatama, “adimas Indrasunu telah berusaha menghancurkan Pakuwon Kabanaran sebelumnya. Bahkan dengan cara yang sangat kasar. Aku masih dapat menahan diri untuk mencoba mengatasinya tanpa menarik persoalannya ke lingkungan yang lebih luas. Tetapi menurut pendengaranku, adimas Pangeran Indrasunu sama sekali tidak mau mengerti. Ia tidak menyadari kekeliruannya, justru ia berusaha untuk mengungkit dendam di dalam hatinya dengan cara yang sangat kasar. Lebih kasar dari cara yang telah dipergunakan sebelumnya. Tentu ia telah menggabungkan diri dengan para perampok di hutan perbatasan itu.”

“Kau jangan menuduh demikian kasar,” jawab Akuwu di Watu Mas, “jika Pangeran Indrasunu mendengar tuduhan itu, maka ia tidak akan dapat menahan hati lagi.”

“Tolong, adimas,” justru Akuwu Suwelatama menjawab, “sampaikan kepada adimas Pangeran Indrasunu bahwa aku menganggapnya demikian. Kenapa aku harus takut jika ia menjadi marah? Ia sudah berbuat yang paling buruk terhadap Pakuwon Kabanaran. Buruk dan dengan cara yang rendah dan licik. Nah, itulah wajah adimas Pangeran Indrasunu.”

“Bohong,” bantah Akuwu di Watu Mas, “aku mengenal Pangeran Indrasunu dengan baik. Aku juga mendengar bahwa ia pernah menduduki Pakuwon Kabanaran, justru karena pemerintahan yang goyah di Pakuwon itu. Jika tidak, tentu tidak mungkin Pangeran Indrasunu berhasil.”

“Nah, itu memang satu contoh, bagaimana Pangeran itu memanjakan ketamakannya.” jawab Akuwu Suwelatama, “Tetapi baiklah aku tidak berbicara tentang adimas Indrasunu. Tolong sampaikan saja kepadanya, demikianlah anggapanku atasnya. Dan menurut perhitunganku, adimas Pangeran Indrasunu sekarang berada di perbatasan dan berusaha untuk membantu para perampok mengacaukan Pakuwon Kabanaran untuk melepaskan dendamnya.”

Wajah Akuwu di Watu Mas menjadi merah padam. Tetapi ia pun masih berusaha menahan diri. Meskipun demikian, katanya kemudian, “Kakangmas Akuwu adalah tamuku. Aku mohon kakangmas dapat menjaga diri sebagai seorang tamu yang terhormat.”

Akuwu Suwelatama tertawa pendek. Katanya, “Baiklah. Daripada aku menjadi semakin buruk di mata adimas, maka aku akan mohon diri. Kedatanganku ke Pakuwon ini adalah sia-sia. Tetapi aku sudah mendapat gambaran, siapakah yang sebenarnya aku hadapi di perbatasan.”

“Siapa?” bertanya Akuwu di Watu Mas.

“Tidak ada dua atau tiga. Adimas Indrasunu yang memperalat para perampok untuk membalas sakit hatinya,” jawab Akuwu Suwelatama, “sakit hati yang bermula pada kegagalannya untuk mengganggu seorang gadis. Namun persoalan yang kecil itu telah mekar menjadi satu sikap yang sama sekali tidak terpuji. Bahkan menodai nama baik semua bangsawan keturunan Kediri.”

Akuwu di Watu Mas menggeram. Dengan suara bergetar ia berkata, “Sebelum kakangmas melakukan kesalahan untuk kesekian kalinya, sebaiknya kakangmas menyadarinya.”

“Aku akan mohon diri adimas. Sebenarnya aku masih ingin tinggal di Pakuwon ini lebih lama lagi. Tetapi agaknya kedatanganku kali ini agak kurang menguntungkan.” berkata Akuwu Suwelatama.

“Apapun menurut penilaian kakangmas. Tetapi aku sudah berusaha menerima kedatangan kakangmas sebaik-baiknya.” jawab Akuwu di Watu Mas.

Akuwu Suwelatama pun kemudian minta diri. Mahisa Bungalan yang hampir saja tidak dapat menahan diri bersama para pengawal pun telah meninggalkan rumah Akuwu di Watu Mas.

“Tantangan yang keras sekali.” desis Mahisa Bungalan di perjalanan kembali.

Akuwu Suwelatama mengangguk sambil berdesis, “Nampaknya mereka benar-benar ingin menunjukkan bahwa mereka dalam kedudukan yang kuat. Mereka mencoba untuk memancing persoalan namun tanpa dapat disebut bersalah.”

“Ya. kita harus mengambil cara yang paling baik untuk menanggapi sikap itu.” berkata Mahisa Bungalan.

Dengan jantung yang berdegupan iring-iringan kecil itu pun berpacu meninggalkan Pakuwon Watu Mas kembali ke Kabanaran.

Di sepanjang jalan, tidak banyak lagi yang mereka perbincangkan. Namun mereka masing-masing agaknya telah tenggelam ke dalam angan-angan mereka tentang persoalan yang melilit hubungan antara Kabanaran dan Watu Mas.

Demikian Akuwu sampai ke Pakuwon Kabanaran, maka ia pun segera mengadakan pembicaraan khusus. Persoalan Kabanaran dan Watu Mas nampaknya sulit untuk dapat diselesaikan dengan pembicaraan.

Meskipun demikian, Akuwu Suwelatama masih belum ingin melibatkan Kediri secara langsung, ia masih berusaha untuk dapat memecahkan persoalannya itu sendiri.

“Kita tidak dapat memancing mereka dengan cara yang sama seperti yang kita lakukan di daerah rawa-rawa Kedung Sertu.” berkata Akuwu Suwelatama.

“Kita mempergunakan cara lain,” berkata Mahisa Bungalan, “sementara itu justru kekuatan di daerah itu ditambah. Tersebar di tempat yang lebih luas. Kita harus berusaha menghancurkan setiap kejahatan yang timbul di daerah itu.”

“Ternyata bahwa kejemuan lebih cepat mencekam para pengawal daripada para perampok. Jika para pengawal itu tinggal di padukuhan itu tanpa berbuat sesuatu untuk waktu yang terlalu lama, maka akan kehilangan kedirian mereka sebagai pengawal.” jawab Akuwu Suwelatama.

“Itulah sebabnya, maka para pengawal yang bertugas di daerah itu harus selalu berganti,” berkata Mahisa Bungalan, “dengan demikian mereka tidak sempat dicengkam oleh kejemuan. Kecuali itu, maka tenaga mereka akan tetap segar untuk tugas-tugas yang berat itu. Bukankah selama ini pasukan itu jarang sekali diganti?”

Akuwu Suwelatama mengangguk. Jawabnya, “Pasukan itu pernah diganti pula. Tetapi tidak terlalu sering.”

“Jangan lebih dari tiga bulan. Bukankah menggantikan pasukan di daerah hutan perbatasan itu tidak terlalu sulit dan jaraknya pun tidak terlalu lama?” berkata Mahisa Bungalan.

“Apakah tidak terlalu cepat? Sebelum mereka mengenal medan, maka mereka harus sudah ditarik dan digantikan oleh yang baru yang juga belum mengenal medan sama sekali.”

“Tidak seluruhnya,” berkata Mahisa Bungalan, “setiap pergantian, beberapa orang pemimpin akan tinggal untuk memberikan penjelasan dan pengenalan bagi mereka yang baru datang. Baru kemudian ia dapat meninggalkan tempat itu, setelah yang baru itu memahami medan yang mereka hadapi.”

Akuwu Suwelatama mengangguk-angguk. Meskipun ia sadar, cara demikian akan memerlukan waktu lama. Seolah-olah mereka hanya berlomba siapakah yang lebih tahan menyerap waktu, tanpa berbuat sesuatu. Namun untuk sementara mereka memang tidak mempunyai cara yang lain.

Namun dalam pada itu, di luar pertemuan dengan para pemimpin di Pakuwon Kabanaran, Mahisa Bungalan berkata, “Akuwu, bagaimana pendapat Akuwu jika kita akan mempergunakan cara yang sama?”

“Apa maksudmu?” bertanya Akuwu Suwelatama.

“Kita mengirimkan orang-orang untuk merampok daerah di seberang hutan perbatasan.” jawab Mahisa Bungalan.

“Aku tidak mengerti maksudmu.” jawab Akuwu Suwe latama.

“Perampok-perampok itu harus memberikan kesan, bahwa karena mereka tidak lagi sempat merampok di daerah Kabanaran, maka mereka telah melakukannya di daerah Watu Mas.” jawab Mahisa Bungalan.

Akuwu Suwelatama mengerutkan keningnya. Ia dengan serta-merta menganggap pikiran itu adalah pikiran yang aneh. Namun setelah merenunginya sejenak, maka katanya, “Mungkin juga hal itu dilakukan. Tetapi bagaimana jika salah seorang dari antara kita tertangkap?”

“Namun disusun satu pasukan khusus yang akan melakukan tugas itu. Mereka terdiri dari orang-orang yang kuat dan tabah hati. Berkemampuan tinggi dan setia kepada janji.” berkata Mahisa Bungalan.

“Aku mengerti maksud itu,” berkata Akuwu Suwelatama, “mungkin lebih baik jika aku sendiri yang memimpinnya.”

“Jangan,” potong Mahisa Bungalan, “jika ada satu dua orang yang karena sesuatu hal mengetahui, maka nama Akuwu akan menjadi korban, seolah-olah Akuwu telah menjadi seorang perampok atau dengan kata lain, Akuwu sudah menyerang dan berada di dalam Pakuwon Watu Mas.”

“Jadi bagaimana?” bertanya Akuwu.

“Aku bersedia ikut bersama mereka,” berkata Mahisa Bungalan, “tidak banyak orang yang mengenal aku, bahkan mungkin Akuwu di Watu Mas yang hanya melihat aku Sekilas itu pun tidak akan mengenalku pula. Seandainya Pangeran Indrasunu berada di hutan perbatasan itu pula, aku akan dapat menghindari pengenalannya dengan pakaian dan barangkali sedikit penyamaran di wajah.”

Akuwu Suwelatama menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau terlalu baik. Tetapi dengan demikian kau tentu akan berada di daerah ini terlalu lama. Kedua pamanmu sudah berpesan, agar kau tidak terlalu lama berada di Pakuwon Kabanaran.”

“Pada dasarnya aku adalah seorang pengembara,” jawab Mahisa Bungalan, “aku memang sudah menyatakan kesediaanku menjadi seorang prajurit. Tetapi darah pengembaraanku masih saja mendidih di dalam dada ini.”

Akuwu Suwelatama tidak dapat mencegah. Sebenarnyalah ia memang memerlukannya.

Dalam pada itu, maka Akuwu pun segera menyusun satu pasukan pengawal khusus. Pembentukan yang tidak banyak diketahui orang. Pasukan itu terdiri dari pengawal-pengawal pilihan. Pemimpin-pemimpinnya pun orang-orang terbaik yang ada di Pakuwon Kabanaran.

“Aku serahkan orang-orang ini kepadamu.” berkata Akuwu Kabanaran.

Mahisa Bungalan yang menerima pasukan itu pun kemudian membawa mereka ke hutan perbatasan. Tetapi pada jarak yang cukup dari hutan perbatasan yang diawasi oleh pasukan dari Pakuwon Kabanaran. Hanya para Senapati tertinggi sajalah yang mendapat pesan, bahwa Kabanaran akan melakukan tindakan yang mirip dengan kejadian yang sebenarnya dalam keadaan terbalik. Segerombolan perampok yang bersarang di Kabanaran, tetapi melakukan perampokan di daerah Watu Mas. Namun para perampok itu terdiri dari para pengawal di Pakuwon Kabanaran, justru para pengawal terpilih.

Di hutan perbatasan itu, Mahisa Bungalan telah memanfaatkan waktu yang pendek menjelang tugas-tugas yang akan mereka lakukan, dengan menempa para pengawal itu lahir dan batin. Mereka berlatih dengan berat, sementara setiap sore mereka harus mendengarkan penjelasan-penjelasan tentang pengabdian yang akan mereka lakukan.

“Tugas ini sangat berat. Kesempatan untuk hidup dalam tugas ini sangat kecil. Siapa yang merasa segan untuk melakukannya, dapat mengajukan keberatan. Tidak akan ada hukuman apapun. Mereka hanya akan ditugaskan menjaga barak yang kita buat di sini. Bagiku, keseganan, apalagi ketakutan justru akan mengganggu tugas kawan-kawan yang lain.” bertanya Mahisa Bungalan kepada mereka.

Tetapi tidak seorang pun yang merasa berkeberatan untuk melakukan tugas itu. Bahkan setiap orang berharap untuk dapat melakukannya terlebih dahulu.

Namun Mahisa Bungalan telah memilih orang-orang terbaik dari orang-orang pilihan itu. Baik kemampuannya, maupun kekerasan jiwa serta hasrat pengabdiannya.

Orang-orang itulah yang pertama-tama akan dibawanya memasuki tlatah Watu Mas untuk melakukan perampokan.

Sebelum segalanya dimulai, maka Mahisa Bungalan telah menugaskan beberapa orang pengawal dalam tugas sandi untuk mengamati sasaran. Sehingga apabila mereka benar-benar telah memasuki tlatah Watu Mas, mereka tidak akan terjebak.

“Mungkin kita akan berhadapan dengan para pengawal dari Pakuwon Watu Mas,” berkata Mahisa Bungalan, “karena itu, kita harus bersiap sepenuhnya. Kita tidak boleh berpegang pada paugeran jiwa prajurit yang pantang menyerah. Tetapi bagi seorang perampok, senjata terakhir untuk menyelamatkan diri adalah lari. Karena itu, jangan segan meninggalkan arena karena kalian berjiwa prajurit. Untuk permainan kita ini, kalian justru harus lari tunggang langgang. Tetapi kita tetap berpegang pada kesatuan dan kesetiakawanan. Kita harus saling melindungi. Dalam kesan tunggang-langgang itu kita sebenarnya berada dalam aturan tertentu.”

Para pengawal itu pun mengangguk-angguk. Mereka mengerti apa yang dimaksud oleh Mahisa Bungalan.

Karena itulah, setelah mereka menempa diri di daerah hutan perbatasan untuk beberapa pekan, dan mereka pun sudah mulai membiasakan diri dengan medan yang akan mereka hadapi, maka rencana mereka itu pun siap untuk dilaksanakan.

“Kita harus menyiapkan bukan saja tubuh kita, tetapi juga jiwa kita.” berkata Mahisa Bungalan ketika mereka akan berangkat.

Demikianlah, sebagian dari para pengawal itu pun telah mulai dengan tugas mereka yang aneh. Mereka akan menjadi perampok. Tetapi perampok yang khusus.

Pada saat-saat terakhir itu, Mahisa Bungalan masih sempat memberikan beberapa gambaran tentang sifat-sifat khusus dari para perampok. Mereka harus memahami, meniru dan melakukannya. Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan masih berpesan, “Tetapi karena merampok bukan tujuan kita, maka kita harus tetap memegang teguh dasar-dasar kemanusiaan kita. Jangan membunuh tanpa alasan yang dapat dipertanggung-jawabkan. Jangan merampok harta benda yang dapat melumpuhkan kehidupan seseorang, apalagi menumbuhkan keputusasaan dan kehilangan masa depan mereka.”

Para pengawal itu mengangguk. Namun salah seorang dari mereka berdesis, “Yang kita lakukan tentu lebih sulit dari perampok kebanyakan.”

Mahisa Bungalan tersenyum. Yang lain pun tersenyum pula. Tetapi mereka harus melakukan permainan itu. Bahkan seandainya salah seorang dari mereka mengalami nasib yang sangat buruk, sehingga mereka tertangkap, maka mereka harus mempunyai jiwa yang kuat. Mereka harus menjawab segala pertanyaan sebagaimana sudah mereka sepakati. Bahkan seandainya tubuh mereka diperas sampai darah mereka menjadi kering, mereka tidak akan mengatakan yang lain.

Setelah jiwa dan wadag mereka ditempa sebaik-baiknya, maka mulailah pasukan khusus itu melakukan tugas mereka. Yang pertama mereka lakukan adalah menyeberangi hutan perbatasan, memasuki tlatah Pakuwon Watu Mas.

Pada permainan mereka yang pertama, mereka tidak melakukan perampokan. Tetapi mereka berhasil mengejutkan beberapa orang peronda yang terkantuk-kantuk di dalam gardu mereka.

Ketika kemudian terdengar titir, maka para perampok itu pun berlari-larian. Namun mereka sempat memberikan kesan, bahwa jumlah para perampok itu cukup banyak.

“Perampok.” desis seseorang, “kenapa tiba-tiba saja ada sekelompok perampok memasuki padukuhan ini?”

Orang-orang padukuhan di daerah Watu Mas itu telah keluar semua dari rumah mereka. Karena perampokan itu tidak pernah terjadi di daerah mereka, maka mereka pun kurang menyadari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh para perampok itu. Namun ternyata bahwa para perampok itu telah lari tunggang langgang.

Para bebahu padukuhan pun kemudian berkumpul di mulut lorong induk padukuhan mereka. Adalah aneh sekali bagi mereka, jika padukuhan mereka telah didatangi sekelompok perampok.

“Hari ini mereka lari,” berkata para bebahu, “tetapi pada kesempatan yang lain, mungkin keadaannya akan berbeda.”

“Tetapi mungkin sekali justru mereka tidak akan berani kembali lagi,” jawab salah seorang penghuni padukuhan itu, “mereka telah melihat bagaimana kita selalu siap menghadapi segala kemungkinan, apalagi setelah peristiwa yang pertama ini. Kita selalu bersiaga.”

Para bebahu padukuhan itu mengangguk-angguk. Mereka yakin bahwa para penghuninya akan selalu bersiaga. Justru setelah mereka menyadari, bahwa para perampok mulai menyentuh padukuhan itu.

Meskipun demikian para bebahu padukuhan itu masih saja berbincang. Menurut pendengaran mereka, daerah di seberang perbatasanlah yang banyak sekali di datangi oleh para perampok. Tetapi tidak di daerah Pakuwon Watu Mas.

Di pasar-pasar mereka selalu mendengar berita tentang perampokan. Tetapi pada saat-saat terakhir, para pengawal dari Pakuwon Kabanaran telah berada di perbatasan.

Meskipun demikian, para perampok itu kadang-kadang masih saja berhasil melakukan kegiatannya di daerah Pakuwon Kabanaran.

Namun sementara itu, di samping usaha untuk mengacaukan pertimbangan Akuwu di Watu Mas, sebenarnyalah bahwa kekuatan para pengawal di Pakuwon Kabanaran telah ditambah dan semakin menyebar ke beberapa padukuhan. Mereka tidak berkumpul di dalam satu barak. Tetapi mereka mulai memencar dan tinggal di rumah penduduk padukuhan-padukuhan itu.

Orang-orang yang merasa memiliki sedikit harta dan benda merasa tenang dan bahkan sangat berterima kasih apabila dua atau tiga orang pengawal bersedia tinggal bersama mereka.

Dengan menggantungkan kentongan di ruang dalam rumah mereka, maka mereka akan dapat dengan mudah memberi isyarat kepada para pengawal yang tersebar apabila salah satu dari para penghuni itu mengalami perampokan.

Apalagi ketika Akuwu Suwelatama benar-benar telah mengambil kebijaksanaan, bahwa para pengawal itu bertugas di sesuatu tempat untuk waktu yang tidak terlalu lama. Dengan demikian maka para pengawal itu selalu kelihatan segar, karena mereka tidak sampai dicengkam oleh kejemuan. Meskipun setiap kali mereka harus memperkenalkan diri dengan rakyat di padukuhan-padukuhan yang mereka awasi, apabila terjadi pergantian pasukan.

Ternyata cara itu lebih menguntungkan bagi Pakuwon Kabanaran. Dengan demikian, maka mereka dapat berada di tempat yang lebih luas. Hampir di setiap padukuhan terdapat lima enam orang pengawal atau bahkan lebih. Sementara itu jarak padukuhan yang satu dengan yang lain tidak terlalu jauh, sehingga apabila terdengar isyarat, maka para pengawal di padukuhan sebelah menyebelah akan segara dapat membantu. Sementara itu, para pengawal pun telah mengajari anak-anak muda untuk siap mengamankan padukuhan mereka masing-masing. Setiap malam gardu-gardu menjadi penuh dengan anak-anak muda, sementara satu dua orang pengawal bergiliran berada bersama mereka.

Dalam pada itu, di lain pihak, Mahisa Bungalan telah membuat rencana-rencana khusus yang akan dapat mengganggu ketenangan di Pakuwon Watu Mas.

Dengan demikian, maka Kabanaran telah mengetrapkan cara yang sebagian mirip dengan cara yang ditrapkan di daerah Kedung Serta, namun tanpa memancing para perampok itu, karena mereka menganggap tidak akan banyak gunanya, karena mereka agaknya telah mendengar tentang apa yang dilakukan oleh para pengawal di Kedung Sertu. Namun demikian, penyebaran pasukan ke padukuhan-padukuhan dan cara mereka melibatkan anak-anak muda sebagaimana pernah terjadi di Kedung Sertu, telah menyulitkan para perampok itu.

Sementara itu, justru telah terjadi perampokan-perampokan di daerah Watu Mas sendiri. Ternyata perampok yang dapat diketahui oleh peronda yang terkantuk-kantuk di gardu, dan sempat memukul kentongan itu tidak menjadi jera. Meskipun mereka tidak kembali ke padukuhan itu, namun beberapa hari kemudian, di padukuhan lain telah benar-benar terjadi perampokan.

Para perampok meskipun tidak menyakiti pemilik rumah, tetapi mereka telah mengikat semua penghuni rumah itu pada tiang rumahnya. Mereka telah mengambil sebagian besar dari kekayaan orang yang tidak berdaya itu.

Namun agaknya para perampok itu tergesa-gesa sekali, sehingga sebagian dari hasil rampokan mereka telah berceceran di pendapa dan sebagian justru di halaman.

Ketika para bebahu datang ke rumah itu, tetangga-tetangga telah berdatangan dan berusaha menolong mereka. Yang lain telah mengumpulkan harta benda yang berceceran itu dan menyerahkan kembali kepada pemiliknya.

“Untunglah,” berkata pemilik itu, “seandainya barang-barang itu tidak berceceran, maka aku benar-benar menjadi miskin.”

“Kau memang masih beruntung,” berkata bebahu padukuhan itu, “tetapi hal seperti ini tidak boleh terulang kembali.”

“Memang mengerikan,” desis pemilik rumah yang dirampok itu, “mereka adalah orang-orang yang kasar. Buas dan liar.”

“Apa saja yang mereka lakukan kecuali mengikat kalian?” bertanya bebahu

“Mereka mengancam leherku dengan golok.” jawab orang yang dirampok itu.

“Hanya mengancam?” bertanya orang lain.

“Ya. Dan mereka pun mengatakan bahwa yang dilakukan itu karena mereka tidak lagi dapat berbuat lain. Daerah Kabanaran telah tertutup, sehingga mereka terpaksa merampok di daerah Watu Mas sendiri.” jawab orang yang dirampok itu.

“Benar begitu?” bertanya bebahu padukuhan itu.

“Ya. Semua orang di rumah ini mendengarnya.” jawab orang itu.

Bebahu itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika benar demikian, maka kita harus bersiaga. Di hutan perbatasan itu memang terdapat sarang sekelompok perampok. Tetapi para perampok itu tidak pernah melakukan kejahatan di daerah Watu Mas. Mereka selalu menyeberang ke perbatasan. Sementara itu menurut pendengaranku, para pengawal dari Kabanaran tidak dibenarkan untuk memasuki daerah Watu Mas untuk mengejar para perampok yang melakukan kejahatan di daerah mereka.”

“Lalu kenapa yang terjadi sekarang justru mereka merampok di Pakuwon Watu Mas sendiri?” bertanya seseorang.

“Seperti yang dikatakan,” bebahu itu, “nampaknya orang-orang Kabanaran benar-benar telah bertindak. Dibantu oleh para pengawal, mereka telah berusaha menutup perbatasan, sehingga para perampok itu tidak sempat melakukan kejahatan di Kabanaran.”

“Kita temui pemimpin pengawal yang bertugas di perbatasan.” berkata salah seorang dari mereka.

Demikianlah, bebahu padukuhan itu telah berusaha menemui pemimpin pengawal di perbatasan. Mereka melaporkan bahwa sekelompok yang tidak dapat menyeberangi perbatasan, justru telah merampok di daerah Watu Mas sendiri.

“Omong kosong!” geram pemimpin pengawal di perbatasan itu.

“Silahkan datang ke padukuhan kami.” jawab bebahu itu.

Pemimpin pengawal Pakuwon Watu Mas itu termangu-mangu. Tetapi nampaknya bebahu itu tidak berbohong.

Karena itu maka katanya, “Baiklah. Aku akan melihat keadaan padukuhanmu.”

Seperti yang dikatakannya, maka bersama beberapa orang pengawal pemimpin pengawal itu telah melihat sendiri, apa yang telah terjadi. Dengan saksama ia bertanya kepada orang yang telah dirampok rumahnya. Seluruh keluarganya dikumpulkan, dan satu persatu mereka harus menjawab pertanyaan-pertanyaan.

“Gila,” geram pemimpin pengawal itu, “apakah benar mereka tidak mempunyai jalan lagi ke Kabanaran?”

“Jalan masih mungkin disusupi,” jawab pengawal yang lain, lalu, “tetapi nampaknya pengawal di perbatasan Kabanaran itu benar-benar telah diperkuat. Pekerjaan mereka di Kedung Sertu telah selesai, meskipun dengan sangat mengerikan. Kita pun menjadi tenang. Dengan demikian mereka dapat memusatkan perhatian mereka ke hutan perbatasan ini, sehingga dengan demikian kesempatan para perampok untuk memasuki Pakuwon Kabanaran menjadi semakin sempit.”

“Tetapi adalah gila bahwa mereka telah melakukannya di Pakuwon Watu Mas ini sendiri.” pemimpin pengawal itu menyahut jantang.

Tidak seorang pun yang menjawab. Tetapi perampokan itu sudah terjadi. Untunglah bahwa perampokan itu terjadi dengan tergesa-gesa sehingga sebagian dari harta benda yang dirampok itu dapat diketemukan kembali berceceran di pendapa dan di halaman, sehingga pemiliknya tidak menjadi benar-benar miskin.

Namun peristiwa perampokan itu sendiri telah menjadi persoalan yang menarik perhatian di kalangan para pengawal di Watu Mas. Pemimpin pengawal di Watu Mas yang mempunyai hubungan dengan para perampok, telah berusaha untuk menghubungi para pemimpin perampok itu.

“Kalian telah melanggar perjanjian.” berkata pemimpin pengawal di perbatasan.

“Kenapa?” bertanya pemimpin perampok, “jika aku berhasil, aku selalu memberikan imbalan itu kepada kalian. Tetapi beberapa hari kami tidak berhasil, karena pasukan pengawal di Pakuwon Kabanaran yang ditempatkan di perbatasan, telah mengambil cara yang sulit untuk diatasi. Mereka telah menutup perbatasan dengan rapat. Namun seandainya kami berhasil menyusup, maka kami akan berhadapan dengan pengawalan yang kuat.”

“Aku mengerti. Tetapi dalam keadaan yang demikian, kalian jangan membabi buta.” sahut pemimpin pengawal itu.

“Apa yang kau maksudkan?” bertanya pemimpin perampok itu pula.

“Kau melakukan perampokan di daerah Watu Mas sendiri.” geram pemimpin pengawal itu.

“Siapa yang mengatakannya? Kau jangan membuat persoalan ini menjadi semakin rumit bagi kami. Beberapa saat lamanya kami tidak mendapatkan hasil yang berarti, sekarang kau menuduh kami melakukan sesuatu yang tidak pernah kami lakukan.” jawab pemimpin perampok itu.

“Ikut aku. Kita akan melihat sendiri apa yang telah terjadi.” berkata pemimpin pengawal itu.

Karena pemimpin perampok itu sama, sekali tidak merasa melakukannya, maka ia pun kemudian mengikuti pemimpin pengawal itu menuju ke padukuhan yang telah mengalami perampokan. Padukuhan yang tidak terlalu dekat dengan sarang para perampok itu.

“Kau boleh memenggal leherku jika aku melakukannya.” jawab pemimpin perampok itu.

“Bukan kamu sendiri. Tetapi orang-orangmu.” desis pemimpin pengawal itu.

“Aku tidak pernah memerintahkan, atau mengijinkan,” sahutnya, “tetapi entahlah, jika ada orang-orang yang melakukan di luar pengetahuanku.”

Dalam pada itu, maka pemimpin perampok itu pun kemudian melihat, apa yang telah terjadi. Meskipun ia tidak berterus terang, bahwa ia adalah seorang pemimpin perampok kepada orang yang mengalami nasib buruk itu, namun wajahnya benar-benar menyeramkan, sehingga ia justru telah membuat perbandingan. Para perampok yang datang di rumahnya dengan sikap kasar dan keras itu, namun pandangan matanya tidak menakutkan seperti orang yang datang bersama pemimpin pengawal itu.

Untuk beberapa saat pemimpin perampok itu bertanya-tanya kepada pemilik rumah yang mengalami perampokan itu. Namun ia justru telah membentak-bentaknya. Dengan kasar ia bertanya, “Kau tidak berpura-pura he?”

“Tidak. Kami benar-benar mengalami.” jawab orang itu.

“Jika kau berbohong, maka lehermu akan menjadi taruhan.” geram pemimpin perampok itu.

“Buat apa kami berbohong?” jawab pemilik rumah itu, “kami mengalami bencana itu. Beberapa orang tetangga kami melihat barang-barang kami yang tercecer.”

“Kau dapat saja membohongi tetangga-tetanggamu. Barang-barangmu yang kau jual, atau kalah main judi, atau sebab-sebab yang lain, kau katakan telah hilang kepada tetangga-tetanggamu. Dengan cara yang licik, tetangga-tetanggamu telah kau kelabui seolah-olah kau telah mengalami perampokan. Beberapa barang-barang yang masih ada sengaja kau hamburkan di halaman untuk menghilangkan jejak.” berkata pemimpin perampok itu dengan mata menyala.

Pemilik rumah itu termangu-mangu. Sama sekali tidak terkilas di dalam kepalanya, bahwa hal serupa itu dapat terjadi dan dapat dilakukan oleh seseorang. Karena itu, maka ia pun justru telah terdiam.

“Sudahlah,” berkata pemimpin pengawal sambil menyingkir, “kau harus mempercayainya. Siapa pun yang melakukan, tetapi ia sudah mengalami.”

Pemimpin perampok itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mengusutnya. Tetapi perjanjian di antara kita masih tetap berlaku. Aku pun berjanji, bahwa aku sendiri, dan semua tindakan sepengetahuanku akan kami lakukan di Pakuwon Kabanaran. Tidak di Pakuwon Watu Mas.”

“Bagaimana jika ada sekelompok perampok yang lain?” bertanya pemimpin pengawal itu.

“Itu adalah kewajibanmu,” jawab pemimpin perampok, “kaulah yang harus melindungi rakyatmu dengan pasukan pengawalmu. Tetapi percayalah, meskipun aku seorang perampok, tetapi aku tidak akan mengotori halaman rumah sendiri dengan darah sanak-kadang.”

“Jika yang melakukan itu kelompok yang lain, apakah kau bersedia membantu kami?” bertanya pemimpin pengawal itu.

“Kau aneh. Kau dapat mengerahkan pasukan pengawal di Watu Mas. Kau tidak perlu bantuanku. Untuk hidup pun saat ini terasa sulit. Bahkan kami sudah mengambil barang-barang tabungan kami.” jawab pemimpin perampok itu.

“Kita akan pergi dari tempat ini. Kita akan berbicara lebih panjang.” gumam pemimpin pengawal itu.

Sambil meninggalkan rumah itu, maka keduanya masih saja berunding. Sehingga akhirnya perampok itu berkata, “Aku akan tetap mengusutnya di lingkunganku. Tetapi jika hal itu dilakukan oleh kelompok yang lain, terserahlah kepadamu. Tetapi aku kira kau tidak akan mengalami kesulitan.”

Pemimpin pengawal itu akhirnya mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi kau jangan mempersulit kedudukanku.

“Bukankah Pangeran Indrasunu bersedia membantumu? Bahkan dengan pasukannya meskipun tidak begitu besar?” bertanya pemimpin perampok itu.

“Aku memang mengharapkannya. Ia telah berbicara pula dengan Akuwu. Dengan demikian sikap Pakuwon Watu Mas menghadapi Pakuwon Kabanaran agak menguntungkan kita. Terutama kau, karena Akuwu di Watu Mas sama sekali tidak bersedia berbicara dengan Akuwu Kabanaran tentang daerah perbatasan ini.”

“Agaknya usaha Pangeran Indrasunu telah berhasil. Ia mendendam Akuwu Suwelatama.” desis pemimpin perampok itu.

Demikianlah, maka pemimpin pengawal itu sudah berketetapan bahwa yang melakukan itu tentu segerombolan perampok yang lain dari para perampok di perbatasan. Karena itu, maka ia pun akan dapat mengambil sikap tertentu. Ia akan dapat mengambil sikap yang keras.

Sementara itu, Mahisa Bungalan yang berada di sarangnya tengah membicarakan kerja mereka yang pertama. Ketika dua orang di antara mereka memasuki daerah Watu Mas dengan laku sandi, maka merekapun segera dapat mendengar bahwa peristiwa itu telah menimbulkan persoalan di antara para pengawal. Bahkan telah tersebar kabar di antara penduduk, seolah-olah para perampok di perbatasan tidak lagi sempat melakukan kejahatannya di daerah Kabanaran, sehingga mereka melakukannya di daerah Watu Mas.

Ketika hal itu dilaporkannya kepada Mahisa Bungalan, maka ia pun merasa bahwa usahanya sebagian kecil telah berhasil. Meskipun demikian, Mahisa Bungalan pun telah memperhitungkan, justru karena para pengawal di perbatasan itu telah mengadakan hubungan dengan para perampok, maka para pemimpin pengawal di perbatasan itu pun akan menghubungi para pemimpin perampok untuk membuktikan kebenaran berita itu.

“Tentu akan timbul persoalan,” berkata Mahisa Bungalan, “tetapi kita akan menyusulinya lagi dengan tindakan berikutnya.”

Sebenarnyalah, maka Mahisa Bungalan pun sudah membawa sebagian dari pasukannya menyeberangi perbatasan. Dua petugas sandinya sudah berhasil menemukan sasaran. Seorang saudagar kaya yang dianggap oleh orang-orang di sekitarnya sebagai seorang kaya yang sangat kikir.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...