25
DOA DI UJUNG MALAM
Sejak dipaksa oleh Syaikh Utsman menjadi imam shalat Isya‘ di Central Mosque London dan diperkenalkan sebagai salah satu murid terbaiknya, kesibukan Fahri bertambah.
Beberapa imam masjid di Inggris Raya meminta waktu untuk belajar serius qira‘ah sab‘ah dan mengambil sanad darinya. Dan
Fahri tidak bisa menolak, sebab ia terikat oleh wasiat Syaikh Utsman yang tidak boleh menyembunyikan ilmu.
Imam muda yang mengimami Edinburgh Central Mosque kini bersikap sangat ramah dan hormat kepadanya. Bahkan memintanya untuk menjadi salah satu imam dan membuka pengajaran Al Qur‘an di Edinburgh Central Mosque. Dan lagi-lagi ia tidak bisa menolaknya.
Pagi itu usai mengimami shalat shubuh di Edinburgh Central Mosque, Fahri mengajarkan tahsin membaca Al Qur‘an dengan tartil menurut riwayat Imam Hafs. Pesertanya cukup banyak, ada lima belas orang. Termasuk imam muda, Tuan Taher dan Misbah. Paman Hulusi tidak ikut, tapi terlelap sambil duduk di
pojok masjid. Pengajian itu selesai ketika semburat sinar matahari mulai tampak di ufuk timur.
Fahri menunggu sampai matahari sedikit naik. Ketika sinarnya tampak benderang, Fahri shalat dhuha lalu membangunkan Paman Hulusi untuk diajak pulang.
Sabina telah menyiapkan sarapan pagi dan teh panas ketika Fahri sampai di rumah. Sarapan dan teh itu telah siap dimeja dapur. Sabina sendiri telah turun kembali ke kamarnya di basement. Fahri, Misbah dan Paman Hulusi menikmati sarapan pagi dengan lahap.
"Bagaimana Hoca, sudah ada pandangan? Tuan Taher dan brother-brother lainnya apa sudah ada pandangan?"
"Pandangan apa Paman?"
"Pandangan orang yang mau dan cocok menikahi Sabina."
"Belum, Paman. Tidak mudah ternyata meyakinkan bahwa kecantikan itu sesungguhnya adalah kecantikan batin. Entah kenapa saya kok merasa Sabina itu akhlaknya baik, batinnya cantik. Bacaan Al Qur‘annya meskipun suaranya serak tetapi tampak betul panjang pendek dan tajwidnya betul. Dia dari
dulu pasti dari keluarga atau lingkungan yang dekat dengan pengajian Al Qur‘an. Tapi Paman kan tahu sendiri, hampir semua brother di masjid tahu Sabina dulu biasa minta-minta di masjid. Tak ada yang tertarik."
"Sejak Hoca menyampaikan ide Hoca itu, saya merenung-renung sendiri, entah kenapa saya punya sebuah pandangan Hoca."
"Pandangan bagaimana Paman?"
"Saya merenungi diri saya, saya ini juga kalau boleh di kata seperti sebatang kara. Saya sedikit beruntung bisa ikut Hoca. Saya lalu berpikir, kenapa saya tidak mulai berumah tangga. Dengan orang yang mungkin merasa sebatang kara seperti saya juga. Saya tahu siapa saya sebenarnya. Seperti apa dosa-dosa yang pernah saya lakukan. Maka jika saya dapat perempuan yang baik akhlak dan agamanya saya sungguh beruntung. Tiba-tiba saya berpikir untuk menikahi Sabina. Bagaimana menurut Hoca?"
Fahri dan Misbah agak kaget mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Paman Hulusi.
"Paman sungguh-sungguh?!" Fahri bertanya meyakinkan.
"Saya sungguh-sungguh Hoca. Saya tidak main-main. Saya berpikir untuk menikahi Sabina, saya tidak akan melihat kecantikan fisik tapi akhlak. Saya pun berpendapat sama, Sabina sebenarnya perempuan yang menjaga agamanya. Hanya nasib saja yangmembuatnya sampai harus meminta-minta. Apakah
Hoca setuju kalau saya menikahi Sabina?"
"Subhanallah, setuju sekali Paman. Kalau paman serius mau menikahi Sabina, biar nanti tempat tinggal saya yang carikan. Akan saya carikan rumah untuk dikontrak yang dekat sini. Setuju sekali. Ini kabar yang menggembirakan."
"Iya Paman, saya juga setuju." Sahut Misbah.
"Terus langkah saya selanjutnya bagaimana Hoca?"
"Ah masak Paman tidak tahu? Langkah selanjutnya ya Paman sampaikan keinginan Paman itu kepada Sabina. Atau melamar Sabina. Jika diterima baru dilanjutkan proses akad nikah." Kata Fahri sambil tersenyum.
"Pasti diterima. Seratus persen. Saya yakin sekali!" Tukas Misbah.
"Jadi kapan mau melamar Paman?"
Mendengar kata-kata dan pertanyaan Misbah itu Paman Hulusi tersenyum tersipu.
"Saya akan cari waktu yang tepat."
"Semakin cepat semakin baik. Paman. Iya kan Bah?"
"Betul."
*****
Siang itu setelah mengantar Fahri ke kampus, Paman Hulusi pamit untuk pulang ke Stoneyhill Grove. Fahri mengijinkan. Ia hanya meminta agar Paman Hulusi menjemputnya jam lima sore. Fahri seperti bisa membaca kenapa Paman Hulusi ijin pulang.
Paman Hulusi membawa mobil SUV BMW putih itu memasuki kawasan Stoneyhill Grove dengan hati berdebar. Melewati halaman nenek Catarina, dada Paman Hulusi berdegup kencang. Ia melihat Sabina sedang memotong rumput yang ada di halaman rumah nenek Yahudi itu dengan pemotong rumput mesin.
Entah kenapa Sabina yang berwajah buruk itu kini membuat dada Paman Hulusi berdesir.
Paman Hulusi memarkir mobil itu di garasi rumah Fahri lalu masuk ke dalam rumah. Sebelum masuk ia sempat menengok kearah Sabina. Jilbab biru muda perempuan berwajah buruk itu berkibar diterpa angin.
Paman Hulusi ragu hendak memanggil Sabina. Ia masuk ke dalam rumah dan memilih menunggu Sabina sambil duduk di sofa ruang tamu.Suara mesin pemotong rumput itu masih terdengar. Paman Hulusi tidak tenang duduk, ia berdiri lalu berjalan dan melihat Sabina dari jendela. Kemudian duduk lagi. Menunggu agak lama, Paman Hulusi jengah dan deg-degan. Ia bangkit dan mengambil wudhu. Ia lalu duduk lagi menunggu.
Suara mesin pemotong rumput sudah tidak terdengar. Kini yang terdengar langkah mendekat dan suara pintu yang dibuka. Dada paman Hulusi bergetar.
"Assalamu‘alaikum."
Suara Sabina yang serak lirih terdengar. Sabina masuk dengan menunduk. Paman Hulusi menjawab salam itu lirih juga. Sabina sama sekali tidak melihat Paman Hulusi. Perempuan itu berjalan menuju tangga menuju basement di dekat dapur. Sesaat lidah Paman Hulusi terasa kelu hendak memanggil nama Sabina. Ketika Sabina sudah mendekati tangga, Paman Hulusi memaksa mulutnya bersuara,
"Sabina!"
Yang dipanggil menghentikan langkah dan membalikkan badan.
"lya Paman."
"Saya mau bicara sedikit, bisa?"
"Bisa." Jawab Sabina pelan dengan tubuh tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Kemarilah, duduk di sini!"
Sabina melangkah agak ragu.
"Saya tidak ada maksud buruk. Duduklah!"
Sabina duduk di kursi yang ada dihadapan Paman Hulusi. Perempuan berwajah buruk itu menunduk.
"Sabina, saya ingin berbicara sangat pribadi padamu. Saya sudah izin Hoca Fahri untuk membicarakan ini kepadamu."
Sabina mengangguk.
"Ini melanjutkan ide Hoca Fahri beberapa waktu yang lalu itu. Bahwa sebaiknya kau menikah dan berkeluarga. Ini untuk kebaikanmu.
Saya lalu berpikir, saya sendirian, saya seperti sebatang kara, dan kau juga tidak ada siapa-siapa di kota ini. Saya ingin menyempurnakan separuh agama saya, niat saya ibadah. Saya ingin menikahimu Sabina, apa kau mau?!"
Sabina kaget bagai disengat listrik.
"Paman mau menikahiku?!"
"Benar Sabina."
"Ini gila!"
"Gila? Apanya yang gila?"
"Apa Hoca Fahri yang minta Paman menikahiku?"
"Tidak! Ini murni kemauanku Sabina. Percayalah aku akan menerimamu apa adanya dan aku berharap kau bisa menerimaku apa adanya."
"Ini gila Paman!"
"Tidak, ini tidak gila Sabina."
"Paman sudah tahu kan aku gelandangan. Wajahku seperti ini. Paman belum lihat mulutku seperti apa. Gigi-gigiku tanggal. Lihatlah baik-baik!"
Paman Hulusi melihat mulut Sabina yang ompong bagian depan.
"Paman bisa mendapatkan yang lebih baik dariku."
"Aku menerimamu apa adanya Sabina. Sungguh. Maafkanlah sikapku yang lalu-lalu yang kasar kepadamu.‖? "
"Paman rasanya ini susah dipercaya. Ini gila Paman!"
"Sabina sekali lagi ini bukan gila. Saya ingin menikahimu dengan penuh kesadaran bukan kegilaan. Mungkin kau kaget. Jangan kau jawab sekarang Sabina. Pikirkanlah dalam waktu dua atau tiga hari. Pikirkanlah baik-baik. Dan aku menunggu kabar baiknya. Terima kasih atas waktunya. Aku harus ke resto Agnina menyampaikan pesan Hoca Fahri pada karyawan disana, setelah itu ke kampus Heriot Watt menjemput Misbah lalu menjemput Hoca Fahri."
Paman Hulusi bangkit dari duduknya dengan perasaan lega. Ia melangkah ke pintu dan menuju mobil.
Sabina seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar dan dialaminya. Tak pernah
terbayangkan ia akan dilamar oleh lelaki seperti Paman Hulusi. Pinangan Paman Hulusi semestinya membahagiakan perempuan tuna wisma berwajah buruk sepertinya, tetapi pinangan itu membuat hatinya merasakan kesedihan yang luar biasa.
Air mata Sabina menetes. Begitu mendengar suara mobil lirih menderu meninggalkan halaman rumah, tangis Sabina meledak. Sabina menangis terisak-isak sambil berulang kali istighfar menyebut nama Allah.
Sabina membayangkan ia pernah merasakan hidup normal berlimpah kebahagian, bahkan ketika itu ia merasa menjadi perempuan paling berbahagia diatas muka bumi. Tetapi kini ia merasakan keperihan dalam hidupnya. Ia nyaris putus asa, namun ia kuatkan dirinya memang itulah jalan hidup yang harus ia jalani.
Ia telah mulai menikmati kelegaan dalam hidup yang dijalaninya itu. Meski sedikit tidak bebas.
Namun hidup di rumah Fahri itu ia merasa tenang. Ia bisa beribadah dengan tenang. Ia tidak menginginkan yang lebih dari itu.
Tujuan Fahri dan Paman Hulusi agar dia menikah lagi adalah tujuan mulia. Ia tahu itu. Dan Paman Hulusi melamarnya bukanlah tanpa pengorbanan. Ia tahu bahwa Paman Hulusi pastilah menginginkan perempuan dengan wajah yang baik kalau bisa tenlu yang cantik. Dan wajahnya adalah wajah yang dirinya sendiri sesungguhnya juga tidak menyukainya. Kalau sampai Paman Hulusi melamarnya pastilah tujuannya adalah semata-mata demi menyelamatkan dirinya, agar dirinya hidup normal layaknya
perempuan pada umumnya.
Seharusnya ia senang dan bahagia. Ia justru merasakan kesedihan dan keperihan luar biasa. Hanya Allah dan dirinya yang tahu kenapa ia menangis, kenapa ia merasakan kepedihan hingga ke relung batin paling dalam.
Sabina kembali terisak-isak. Dalam isaknya perempuan berwajah buruk itu menyebut nama Allah dan beristighfar, memohon ampunan kepada Allah.
***
Matahari cerah. Langit Edinburgh biru putih. Fahri keluar dari Edinburgh Central Mosque dengan wajah segar bersih. Pakar filologi yang disegani di The University of Edinburgh itu melewati parkiran dan terus berjalan keluar gerbang. Ia menyeberangi jalan dan melangkah menapaki jalan setapak di tengah square.
Beberapa restaurant tampak berderet. Di sekitar square itu, Profesor Charlotte telah
menunggunya di sebuah restaurant Lebanon.
Fahri memasuki restaurant itu. Ia melihat ke seantero sudut restaurant. Seorang perempuan bule tua berkaca mata, dengan wajah putih sedikit berkeriput tampak sedang menyeruput teh sambil membaca majalah.
Perempuan itu duduk di pojok restaurant di dekat jendela. Fahri menghampiri perempuan itu yang tak lain adalah Profesor Charlotte.
"Hai Prof."
"Hai Fahri duduklah!"
Fahri duduk dan memanggil pegawai restaurant. Fahri memesan jus mangga dan Sambosa.
"Selamat atas produktifitasmu yang luar biasa Fahri."
"Produktifitas yang mana Prof?"
"Setelah karyamu dimuat dijurnalnya SOAS, kemudian karyamu yang lain dimual di Leiden, dan baru-baru ini dimuat sebuah jurnal di Istanbul. Aku sangat mengapresiasi dan bangga padamu."
"Terima kasih Prof."
"Tentang masalahmu yang dilaporkan oknum-oknum Yahudi itu, aku sudah menyelidiki langsung. Aku bahkan sudah berbincang dengan Brenda. Aku sudah diajak Brenda bertemu nenek Catarina. Aku menyimpulkan kau tidak keliru sama sekali. Aku bahkan heran, seorang muslim yang taat seperti kamu
bisa sedemikian dekat dengan nenek-nenek Yahudi bahkan menolong nenek Yahudi.
Brenda telah menceritakan semuanya padaku. Aku tahu kamu taat karena diam-diam aku dapat laporan dari orang-orang setiap tengah hari kau selalu pergi ke Edinburgh Central Mosque, bahkan kau katanya punya kajian disana. Hanya saja aku tetap ada kekhawatiran."
"Khawatir apa Prof?"
"Khawatir jika oknum-oknum itu punya lobi yang kuat. Dan mereka meminta saya untuk mengadakan debat ilmiah tentang Amalek. Sebab katanya kau menantang mereka. Mereka minta diadakan di kampus. Apa kamu siap?"
"Siap Prof."
"Baik. Pekan depan kita adakan debat itu. Dan aku sudah memutuskan sesuatu untuk membelamu."
"Apa itu Prof?"
"Jika mereka sampai mengusirmu dari kampus aku akan mengikutimu keluar dari kampus ini."
"Tidak perlu begitu Prof. Saya tidak harus dibela sampai sedemikian itu. Profesor tenang saja, bumi Tuhan ini luas."
"Tidak. Ini prinsip. Sebab saya yang bawa kamu, saya yang usulkan kamu."
"Terserah Profesor kalau begitu."
"Fahri saya mau tanya. Cara masuk Islam itu bagaimana?"
"Profesor mau masuk Islam?"
"Tidak hanya ingin tahu saja."
"Oh. Maaf kalau saya terlalu cepat menyimpulkan. Caranya mudah sekali Prof. Cukup membaca syahadat. Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Diucapkan di lisan dan diyakini arti dan maknanya maka sudah jadi orang Islam."
"Begitu saja?"
"Iya."
Profesor Charlotte mengangguk-angguk. Minuman dan makanan yang dipesan Fahri datang. Fahri meneguk jus Mangga dengan penuh syukur. Rasanya begitu segar membasahi tenggorokan, namun tetap
saja jus Mangga yang ada di samping kampus Al Azhar University Cairo tiada tertandingi oleh jus Mangga manapun di atas muka bumi.
Sambil menikmati Sambosa, Fahri meraba-raba apa sebenarnya yang diinginkan Profesor Charlotte dengan menanyakan hal itu. Fahri merasa pertanyaan Profesor Charlotte sedikit aneh. Ia sangat yakin sebenarnya Profesor Charlotte telah mengetahui dengan detil apa yang harus dilakukan jika seseorang ingin masuk Islam. Juga apa kewajiban-kewajiban seseorang yang telah masuk Islam. Sebab Profesor Charlotte telah membimbing banyak doktor dalam studi Islam.
Dan Fahri tiba-tiba menertawakan dirinya sendiri. Alangkah naif dan tergesa-gesanya dirinya mengharap Prof Charlotte masuk Islam. Seorang Charlotte yang meraih PhD-nya dalam bidang Arabic dan Islamic Studies dari Exeter University tak perlu lagi ditanya apa mau masuk Islam.
Jika ia mau masuk Islam pasti akan masuk Islam begitu saja, sebab sesungguhnya ia telah banyak tahu tentang Islam. Orang yang tahu Islam tidak serta merta akan mudah masuk Islam. Seseorang masuk Islam dan tidak, seperti yang ia yakini, adalah terkait dengan hidayah dari Allah.
Abu Thalib paman Rasulullah Saw. betapa sangat mengenal Rasulullah Saw. dan sangat mengenal agama yang dibawa keponakannya. Tetapi sampai ajal datang ia tidak juga mau masuk Islam.
Padahal Baginda Rasulullah Saw. sampai menangis meminta agar pamannya itu mau bersyahadat.
Di sisi lain, siapa sangka bahwa Ikrimah anak lelaki Abu Jahal yang sangat memusuhi Islam, akhirnya nanti masuk Islam dan menjadi pembela Islam yang ditulis dengan tinta emas oleh sejarah.
Jika melihat riwayat sedemikian sengitnya permusuhan Abu Jahal dan juga putranya yaitu Ikrimah terhadap Rasulullah saw, seolah-olah itu adalah permusuhan tanpa kedamaian.
Ternyata sejarah berbicara lain, sang ayah membawa permusuhan itu sampai ajal menjemputnya. Sementara putranya yaitu Ikrimahakhirnya menjadi sahabat dan pembela Rasulullah Saw.
Allah Maha Kuasa memberikan hidayah kepada hamba yang dipilih-Nya. Fahri kembali meneguk jus mangganya. Tiba-tiba Fahri nekad bertanya kepada Profesor Charlotte,
"Kalau boleh saya tahu, apa yang menghalangi Profesor memeluk agama Islam?"
Perempuan tua berambut pirang itu terkesiap kaget mendengar pertanyaan Fahri. Tampaknya Profesor Charlotte sama sekali tidak menduga akan ditanya seperti itu. Fahri melihat reaksi Profesor Charlotte dengan seksama. Ia tidak khawatir apapun akan konsekuensi dari pertanyaannya. Kepalang tanggung. Ia sudah terlanjur naif, biarlah dianggap naif jika bertanya seperti itu dianggap naif.
"Belum ada orang yang menanyakan hal seperti itu kepada saya. Hanya kamu yang menanyakan."
"Maafkan saya jika hal itu tidak sopan."
"Tidak masalah. Menurutku semestinya bukan saya yang ditanya apa yang menghalangi diri saya masuk Islam. Lebih tepat seharusnya orang seperti saya yang justru harus bertanya kepada seorang muslim sepertimu, apa menariknya Islam dan kenapa saya harus memeluk Islam?"
"Apakah belum cukup buku, referensi dan literatur yang telah Profesor baca tentang Islam untuk membuat Profesor tertarik memeluk Islam?"
"Orang lain mungkin cukup, tapi saya tidak merasa cukup."
"Saya baca di biodata Profesor. saat master dulu tesis Profesor tentang Tafsir lbnu Katsir?"
"Benar. Dan saya sudah baca Tafsir Ibnu Katsir dari awal sampai akhir."
"Itu tidak juga ada yang menarik Profesor untuk memeluk Islam?"
"Saya membacanya untuk menulis karya Ilmiah bukan untuk masuk Islam."
"Kalau isi Tafsir Ibnu Katsir tidak bisa membuat Anda tertarik kepada Islam, maka saya tidak bisa memberikan penjelasan lebih baik tentang Islam dibandingkan Ibnu Katsir. Saya jujur tidak bisa menjawab pertanyaan Anda itu Prof. Biarlah itu saya catat sebagai kebodohan terbesar dalam hidup saya.
Ternyata saya belum bisa menjawab pertanyaan Anda, apa menariknya Islam dan kenapa saya harus memeluk Islam?"
"Jujur secara konsep teologis, dalam bacaan saya Islam sangat menarik. Bahkan mungkin paling menarik dan paling rasional dari agama-agama yang lain. Sejarah awal Islam juga menakjubkan.
Tapi tingkah laku dan peradaban para pemeluk Islam dewasa ini, mayoritasnya, bagi saya kurang menarik.
Jadi saya belum menemukan alasan kenapa saya harus memeluk Islam. Sebuah alasan yang bisa meyakinkan saya."
Fahri mendengarkan penjelasan Prof. Charlotte dengan seksama. Dalam hati ia banyak istighfar sebab ia tidak bisa memberikan data yang menarik tentang kondisi umat Islam di dunia saat ini. Ia harus mengakui ada kesenjangan serius antara ajaran Islam yang luhur dan sempurna dengan perilaku umat
Islam yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Tiba-tiba ia teringat kisah Syaikh Muhammad Abduh yang menangisi kondisi umat Islam dan keluarlah kalimat yang sangat terkenal dari ulama terkemuka Mesir,
"Al lslamu mahjuubun bil muslimin". Yang artinya, Islam tertutup oleh umat Islam.
Syaikh Muhammad Abduh pernah berdakwah sekian lama di Paris. Bahkan dari Paris Syaikh Muhamad Abduh menerbitkan majalah dakwah.
"Al Urwah Al Wusqa" untuk menyadarkan dan menggerakkan kaum muslimin di seluruh dunia. Di Paris Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan segala keluhuran dan kemuliaan ajaran agama Islam. Di tangannya, tidak sedikit orang-orang Perancis yang masuk Islam.
Mereka masuk Islam karena takjub dengan keindahan dan keluhuran ajaran agama Islam.
Hingga suatu hari Syaikh Muhammad Abduh harus meninggalkan Paris dan kembali ke dunia Arab, lalu kembali ke Mesir.
Syaikh Muhammad Abduh kembali mengajar di Al Azhar University, Cairo. Sekian lama ditinggal Syaikh Muhammad Abduh, murid-murid dan jama‘ah Syaikh Muhammad Abduh di Paris merasakan kerinduan untuk berjumpa dengan gurunya. Diantara mereka ada beberapa orang yang nekad melakukan perjalanan panjang untuk menjumpai sang guru, yaitu Syaikh Muhammad Abduh.
Mereka melakukan perjalanan darat, lalu perjalanan laut menyeberangi lautan Mediterania. Selain ingin berjumpa dengan Syaikh Muhammad Abduh, mereka berharap akan menemukan saudara seiman dengan kualitas hidup yang indah, dalam peradaban yang indah.
Mereka membayangkan bahwa Mesir, tempat sang guru lahir dan besar, tempat Al Azhar berdiri dan ribuan ulama dari waktu ke waktu menebar ilmu dan berdakwah pastilah sebuah negeri dengan cara hidup sangat Islami yang indah. Kebersihannya pasti sangat terjaga melebihi Paris.
Sebab orang-orang Mesir sangat hafal hadits; "Ath thahuru syatrul iman" , kebersihan itu separo dari Iman. Pastilah tidak ada orang yang miskin, sebab semua menunaikan zakat. Dan gambaran-gambaran lainnya yang terbayang indah.
Keindahan itu muncul begitu saja karena penjelasan-penjelasan Syaikh Muhammad
Abduh tentang kesempurnaan ajaran agama Islam.
Tatkala kapal yang mereka tumpangi merapat ke pelabuhan Port Said dan para penumpang satu persatu turun, Mereka juga turun. Murid-murid Syaikh Muhammad Abduh dari Paris itu kaget bukan main menyaksikan pelabuhan Port Said yang semrawut. Orang-orang Mesir yang tidak bisa tertib, kata-kata yang keras dan kasar, dan kebersihan yang tidak dijaga. Dan pengemis ada di mana-mana.
Mereka mencoba menghibur diri. Itu kota pelabuhan bisa dimaklumi. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke Cairo. Sampai di Cairo mereka benar-benar kaget dan kecewa. Gambaran keindahan peradaban Islam seperti yang disampaikan Syaikh Muhammad Abduh tidak mereka jumpai.
Mereka kecewa tak jauh dari Masjid Al Azhar mereka menyaksikan lelaki berjubah kencing dengan berdiri menghadap tembok.
"Mana adab-adab Islami yang indah itu? Bukankah buang air kecil ada adab-adabnya? Apakah orang itu tidak tahu adabnya? Bukankah ia hidup di dekat Al Azhar?"
Mereka juga menyaksikan pengemis yang kumal di area Maydan Husein. "Apakah mereka tidak malu kepada Rasulullah? Bukankah Rasulullah tidak menyukai umatnya jadi peminta-minta? Kenapa mereka meminta-minta? Apakah mereka tidak malu meminta-minta di dekat Al Azhar? Apakah ulama-ulama Al Azhar tidak ada yang mengingatkan? Apakah orang-orang kaya di sini tidak bayar zakat?"
Ribuan pertanyaan berjubel di kepala mereka. Mereka terpukul dan kecewa. Mereka sedih, kenapa mereka mendapati kenyataan yang pahit dan mengenaskan itu? Lezatnya iman yang mereka rasakan selama ini kini dibenturkan dengan kenyataan riil umat Islam yang jauh dari imajinasi keluhuran ajaran
Islam yang mereka imani.
Mereka akhirnya menemukan kantor Syaikh Muhammad Abduh. Dan mereka pun menjumpai Sang Guru yang mereka rindukan. Begitu mereka bertemu dengan Syaikh Muhammad Abduh, mereka protes tentang apa yang mereka lihat sejak turun kapal dan menginjak tanah Mesir hingga sampai di jantung Al Azhar.
Mereka mengungkapkan kekecewaannya kepada Sang Guru.
"Kami berharap mendapatkan contoh Islam yang hidup di Mesir ini, Syaikh. Tapi sungguh jauh dari yang kami harapkan. Kami hampir-hampir tidak menemukan Islam dipraktikkan disini? Mana Islam yang indah, Islam yang luhur seperti yang Syaikh ajarkan kepada kami saat di Paris dulu? Kenapa hanya dalam sepelemparan batu dari masjid Al Azhar ada lelaki berjubah kencing sambil berdiri mengencingi tembok? Kenapa Paris yang tidak mengenal ajaran Islam lebih bersih dan lebih teratur daripada Cairo? Sesungguhnya apa yang terjadi, Syaikh?"
Bibir Syaikh Muhammad Abduh kelu. Ulama besar itu tidak bisa menjawab pertanyaan bernada protes dari murid-murid terkasihnya itu. Kedua mata Syaikh Muhammad Abduh basah. Ada kesedihan luar biasa menyusup ke dalam hatinya.
Dengan menahan isak, Syaikh Muhammad Abduh mengucapkan kalimat yang kemudian sangat terkenal di seantero dunia Islam,
"Al Islamu mahjuubun bilmuslimin". Islam tertutup oleh umat Islam.
Cahaya keindahan Islam tertutupi oleh perilaku buruk ummat Islam. Dan perilaku-perilaku itu sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam.
Tidak juga bagian dari ajaran Islam. Akan tetapi karena dari mulut mereka setiap saat mengaku bahwa mereka adalah umat Islam,
maka wajar jika banyak orang menganggap seperti itulah ajaran Islam. Padahal itu bukan ajaran Islam.
Akibatnya. jika yang dilihat adalah perilaku sebagian umat Islam yang tidak terpuji itu, dan itu yang dijadikan timbangan, maka orang bisa antipati kepada Islam. Tak ayal, cahaya keindahan Islam tertutupi.
Tragisnya yang menutupi cahaya itu justru perilaku pemeluknya yang tidak Islami. Fahri sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak merembes keluar. Kisah Syaikh Muhammad Abduh dan murid-muridnya itu sesungguhnya masih terus terjadi hingga sekarang. Dan kalimat Syaikh Muhammad Abduh masih sangat relevan sampai sekarang.
Pertanyaan dan penyataan Prof Charlotte tak
lain dan tak bukan adalah penegasan atas kata-kata Syaikh Muhammad Abduh itu,
"Al Islamu mahjuubun bil muslimin". Islam tertutup oleh umat Islam.
Dan selama ini ia berjuang semampu yang bisa, agar minimal dirinya sendiri tidak termasuk dalam jenis umat Islam yang menjadi penghalang terpancarnya cahaya Islam. Kalau ia tidak bisa menjadi orang yang memancarkan keindahan cahaya Islam, ia berharap tidak menjadi orang yang menghalangi cahaya Islam.
Betapa banyak manusia masuk Islam karena menemukan keindahan cahaya Islam itu langsung lewat AI Qur‘an, lewat hadits, atau apa yang ditulis para ulama yang ikhlas. Dan mereka lalu bersyukur bahwa mereka telah lebih dahulu mengetahui Islam, mengenal Islam dan mengimani Islam sebelum berjumpa dengan umat Islam di dunia Islam. Sebab terkadang, ada umat Islam yang perilakunya jauh dari Islam dan bisa menjadi penghalang orang bersimpati kepada Islam.
Semoga ia dijauhkan dari perilaku yang
seperti itu. Doanya dalam hati.
"Ada apa Fahri? Kau merenung agak lama?" Suara Prof Charlotte menyadarkan Fahri dari
perenungannya.
"Rasanya saya harus minta maaf kepada Anda Prof."
"Kenapa harus minta maaf? Saya melihat tidak ada yang salah darimu? Kau boleh menanyakan hal yang tadi kau tanyakan kepadaku. Aku tidak merasa itu sebagai masalah sama sekali."
"Saya minta maaf bukan karena hal itu Prof. Saya minta maaf karena kesalahan saya yang lain."
"Kesalahan yang mana?"
"Maafkan saya dan juga umat Islam di seluruh dunia karena kesalahan kami maka cahaya Islam itu tertutupi. Karena perilaku kami yang belum selaras dengan Islam maka peradaban umat Islam modern ini sama sekali tidak bisa dibanggakan. Karena akhlak kami yang mungkin masih jauh dari yang diidealkan oleh tuntunan Al Qur‘an dan Sunnah, maka keindahan Islam jadi kabur.
Kami bukannya membuat orang seperti Anda bersimpati, justru sebaliknya kami membuat orang seperti Anda dan mungkin ada ribuan bahkan jutaan orang seperti Anda mengeryitkan dahi ketika mendengar nama
Islam. Orang seperti Anda menjadi tidak tertarik memeluk Islam bukan karena ajaran Islamnya yang tidak menarik, tapi karena perilaku kami yang tidak menarik. Maafkan kami Prof, kami telah secara tidak sengaja menjadi penghalang cahaya indah itu."
Fahri mengucapkan kalimatnya dengan pelan, kedua matanya berkaca-kaca. Fahri mengucapkan kata-katanya itu dengan penuh ketulusan. Profesor Charlotte terhenyak di tempat duduknya mendengarkan kejujuran Fahri. Ia sama sekali tidak menduga Fahri akan mengucapkan kata-kata seperti yang ia dengar.
Sesaat Profesor Charlotte tidak tahu harus berkata apa. Fahri menyudahi kata-katanya dan menundukkan kepala. Keheningan tercipta sesaat. Prof.Charlotte masih terdiam mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan Fahri. Perempuan berambut pirang itu
menghela nafas.
"Kau terlalu berlebihan, Fahri. Bukan kau dan umat Islam yang salah. Bukan. Aku tahu didalam Islam ada konsep hidayah. Petunjuk yang diturunkan oleh Tuhan kepada siapa yang dikehendakinya.
Janganlah kau merasa bersalah. Jika ikut konsep hidayah itu, mungkin orang semacam aku ini belum dapat hidayah. Jadi dibuat yang mudah saja. Yang paling penting sebagai manusia aku ingin menjadi manusia yang baik, yang berbuat baik kepada sesama.
Dan kau telah melakukan hal itu. Setidaknya dari cerita yang aku dapatkan dari Brenda, tetanggamu itu. Dan memang sejak kenal pertama denganmu dalam seminar di Hamburg beberapa tahun yang lalu itu, aku sudah punya kesan kau seorang muslim
yang baik."
"Anda terlalu memuji saya Prof. Justru saya merasa sebaliknya, semoga Tuhan mengampuni saya."
"Sudahlah, kita bicara tema lain saja. Itu mahasiswi China yang kau bimbing sudah selesai?"
"Oh Ju Se. Tinggal perbaikan akhir. Pekan depan saya minta dia sudah mengumpulkan tesisnya."
"Bagus. Ada seorang mahasiswa program PhD, dia kirim proposal riset kepadaku. Dia pengajar di IIUM Malaysia. Aku tertarik untuk menerimanya, apakah kau mau menjadi co-supervisor? Aku pembimbing pertama, kau pembimbing kedua?"
"Apa tidak terlalu cepat saya menjadi pembimbing mahasiswa program PhD, Prof?"
"Saya melihat kualitasmu. Kau layak. Karya-karyamu diberbagai jurnal internasional dan dedikasimu yang luar biasa."
"Maaf Prof, bukan saya tidak mau atau merasa tidak mampu. Ada baiknya Profesor tawarkan kepada para dosen yang lebih senior. Jika mereka tidak ada yang mengambilnya saya bersedia. Jika ada yang mau mengambilnya, biarkan mereka yang mengambilnya."
"Kalau saya tawarkan pasti mereka berebutan. Sebenarnya aku tawarkan kepadamu karena aku merasa cocok denganmu."
"Profesor pasti tahu saya sesungguhnya tidak menolak, tapi saya merasa ..."
"Aku sudah tahu maksudmu. Baiklah aku hargai. Sikapmu itu khas orang Melayu. Aku beritahu, kali ini kau boleh bersikap seperti itu, sikap menghargai dosen yang lebih senior.
Tetapi lain kali kau harus tahu, ini dunia profesional, kau berada di salah satu kampus terbaik dunia.
Ketika kau diberi sebuah kesempatan, maka itu datang karena prestasi dan kinerjamu, dan kau tidak boleh membuang kesempatan emas itu begitu saja. Catat baik-baik nasehatku ini!"
"Iya Prof."
Profesor Charlotte lalu mangajak Fahri untuk pesan makanan yang lebih serius, bukan sekedar makanan kecil. Mereka berdua lalu pesan menu untuk makan siang, dan berdiskusi tentang banyak hal.
Hikmah adalah barang yang hilang dari orang beriman, dimanapun orang beriman menemukannya maka ia paling berhak mengambilnya. Dalam diskusi dengan Profesor Charlotte siang itu Fahri banyak mengambil hikmah yang sangat berharga. Dari Profesor Charlotte ia bisa belajar tentang kekuatan
fokus.
"Sejak masih remaja, ketika teman-temanku lebih suka belajar menyanyi dan menari aku tidak. Aku tidak ikut-ikutan mereka. Aku sudah punya cita-cita yang jelas. Kukatakan pada diriku, aku harus jadi Profesor di The University of Edinburgh. Aku mulai belajar bahasa asing dengan serius.
Salah satu teman sekolahku ketika itu berasal dari Irak. Dia gadis yang cantik dan baik. Ayahnya pengajar di Baghdad University sedang menyelesaikan PhD bidang Kimia di The University of Edinburgh.
Aku belajar bahasa Arab darinya. Aku belajar cerita seribu satu malam dengan bahasa Arab darinya. Sejak itu saya tertarik dengan dunia Arab. Dan aku fokus mendalaminya. Kini keinginan saya menjadi kenyataan. Kau
lihat Fahri, aku sudah jadi Profesor di The University of Edinburgh."
Hampir dua jam setengah Fahri dan Profesor Charlotte berdiskusi dan berbincang di restaurant Lebanon itu. Fahri pamit ketika Paman Hulusi memberitahu telah menunggu di Edinburgh Central Mosque.
Fahri melangkah meninggalkan restaurant itu dengan hati gerimis penuh harap.
"Alangkah bahagianya jika orang sebaik Profesor Charlotte itu mendapatkan hidayah. Profesor Charlotte itu secara cara hidup
sesungguhnya ia boleh dikata sudah seorang muslimah, kurangnya hanya satu saja yaitu bersyahadat."
*****
Malam mengelus Musselburgh. Semilir angin sejuk berhembus mengibarkan tirai jendela kamar Fahri yang sengaja dibuka. Sementara Fahri sedang menangis dalam sujudnya.
Malam itu Fahri mendoakan semua orang yang ia kenal baik yang bukan muslim agar mendapatkan hidayah dan kebaikan. Ia sebut
nama mereka satu persatu. Yang pertama ia sebut adalah Profesor Charlotte, lalu Nyonya Suzan, nenek Catarina, Brenda, Keira dan keluarganya, Prof Ted Stevens, Ju Se, dan lain sebagainya.
Dulu Umar bin Khattab masuk Islam karena doa Rasulullah Saw. Dan tidak sedikit sahabat Nabi yang masuk Islam karena doa Rasulullah Saw.. Ia merasa tidak punya daya dan kekuatan apa-apa untuk mendakwahi mereka.
Dalam ketidak berdayaannya ia hanya bisa berdoa kepada Allah agar Allah menurunkan hidayahnya kepada orang-orang yang ia kenal itu. Semoga itu kelak bisa menjadi jawaban
jika kelak ia ditanya oleh Allah untuk mempertanggungjawabkan apa saja yang telah ia lakukan di jalan dakwah. Ia telah mendoakan mereka.
Fahri berdoa dengan sungguh-sungguh. Ia berdoa dengan sepenuh jiwa dan cinta. Air matanya meleleh membasahi tempat sujudnya.
“Allahummahdihim ya Allah, Allahumma nawwir qulubahun binuri hidayatika ya Allah.”
Sementara itu, di sebuah kamar di basement, Sabina juga tersungkur dalam sujudnya. Perempuan itu menangis kepada Allah. Ia mengadukan semua kesedihan dan kepiluan hatinya kepada Allah. Ia meminta kepada Allah agar diberi kesabaran dan dijaga oleh Allah dalam semua langkah dan nafasnya.
“Allohummahrusni bi „ainikalladzi la yanam waknufni bikanafikal ladzi la yurom.”
Angin semilir mendengar doa dua insan yang terisak dalam sujudnya itu. Awan berarak menutupi rembulan. Awan itu bagai sekumpulan malaikat yang turun dari langit untuk mengamini doa-doa hamba Allah yang menghiba di penghujung malam.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar